Anda di halaman 1dari 3

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

SMF PARU
RUMAH SAKIT GRESTELINA
2018 - 2023

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)


(ICD 10 : J 44.1)
1. Pengertian Penyakit yang ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara
kronis dan perubahan patologis pada paru – paru, beberapa memiliki
efek ekstra pulmonal.

2. Anamnesis Sesak napas yang diperberat oleh latihan, batuk – batuk kronis,
sputum yang produktif, faktor resiko (+), PPOK ringan dapat tanpa
keluhan atau gejala.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Pernapasan meningkat >20 kali/menit, bila sesak napas berat :
sianosis (hipoksia berat), retraksi intercostal
2. Pemeriksaan paru : barrel chest : meningkatnya diameter
anteroposterior (merupakan tanda hiperinflasi). Diafragma letak
rendah, suara napas melemah, dapat ditemukan ronki dan
wheezing
3. Suara jantung melemah, pada PPOK berat dapat ditemukan gagal
jantung kanan, kor pulmonal : bunyi jantung kedua meningkat,
distensi vena jugular, kongesti hati, edema mata kaki.

4. Kriteria Diagnosis 1. Stadium I


- PPOK ringan :
- VEP1 / KVP < 70 %
- VEP1 > 80 % Prediksi
- Dengan/ tanpa keluhan kronik (batuk, sputum produktif)

2. Stadium II
- PPOK sedang
- VEP1 / KVP < 70 %
- 30 % ≤ VEP1 ≤ 80 % prediksi
- Dengan keluhan napas pendek terutama pada saat latihan,
terkadang ada keluhan batuk dengan sputum produktif

3. Stadium III
- PPOK berat
- VEP1 / KVP < 70 %
- 30 % ≤ VEP1 ≤ 50 % prediksi
- Keluhan napas pendek bertambah, kemampuan latihan
berkurang, lelah, dan eksaserbasi berulang sehingga
mempengaruhi kualitas hidup pasien

4. Stadium IV
- PPOK sangat berat
- VEP1 / KVP < 70 %
- VEP1 < 30 % prediksi atau VEP1 < 50 % prediksi + gagal
napas kornik
37
- PaO2 < 60 mmHg dengan/ tanpa PaCO2 > 50 mmHg
- Gejala gagal jantung kanan dan atau pulmonal
- Kualitas hidup pasien sangat terganggu, eksaserbasi bisa
menyebabkan kematian.

5. Diagnosis Penyakit paru obstruktif kronik PPOK


6. Diagnosis Banding 1. Asma dapat berbarengan dengan PPOK. Beda asma dan PPOK
dapat dilihat pada asma terjadi peningkatan eosinofil dan
obstruksi saluran napas yang terjadi biasanya reversibel,
sementara pada PPOK tampak peningkatan neutrofil dan obstruksi
saluran napas yang terjadi tidak sepenuhnya reversibel. Akan
tetapi asma yang sudah berlangsung lama dapat saja menyebabkan
terbatasnya aliran udara yang menetap.
2. Bronkiektasis
3. gagal jantung kongestif

7. Pemeriksaan 1. Uji spirometri (standard baku)


Penunjang a. Volume ekspirasi paksa (VEP)1 / Kapasitas Vital Paru (KVP)
atau FEV1 / FVC < 70 %
b. Meningkatnya kapasitas total paru – paru, kapasitas residual
fungsional, dan volume residual
2. Rontgen Thorax : paru hiperinflasi, diafragma mendatar
3. Analisis gas darah
4. Level serum a1 antitripsin sesuai indikasi

8. Tatalaksana 1. Terapi farmakologis


a. Bronkodilator
1) Secara inhalasi (MDI/ metered dose inhalation), kecuali
preparat tak tersedia/ tak terjangkau
2) Rutin (bila gejala menetap, kapasitas fungsional rendah
atau sering kambuh sesak) atau hanya bila diperlukan
(kapasitas fungsional baik dan kambuh kurang dari 2
kali/ tahun)
3) 3 golongan :
- Agonis b-2 : fenopterol, salbutamol, albuterol,
terbutalin, formoterol, salmeterol
- Sntikolinergik : ipratropium bromid, oksitroprium
bromid
- Metilxantin : teofilin lepas lambat, bila kombinasi
agonis b-2 dan steroid belum memuaskan
4) Dianjurkan bronkodilator kombinasi dari pada
meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi.
b. Steroid, pada :
1) PPOK yang menunjukkan respons pada uji steroid
2) PPOK dengan golongan C dan D
3) Eksaserbasi akut
c. Obat – obat tambahan lain
1) Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator); ambroksol,
karbosistein, gliseroliodida
2) Antioksidan: N-Asetil-sistein
3) Imunoregulator (imunostimulator; imunomodulator):
tidak rutin

38
4) Antitusif: tidak rutin
5) Vaksinasi: influenza, pneumokok
2. Terapi Non-Farmakologis
a. Berhenti merokok
b. Rehabilitas : latihan fisik, latihan endurance, latihan
pernapasan, rehabilitasi psikososial.
c. Terapi oksigen jangka panjang ( > 15 jam sehari): pada PPOK
stadium IV
1) PaO2 < 55 mmHg, atau SaO2 ≤ 88 % dengan/ tanpa
hiperkapnia
2) PaO2 55 – 60 mmHg, atau SaO2 ≤ 88 % disertai hipertensi
pulmonal, edema perifer karena gagal jantung,
polisitemia.
d. Nutrisi
e. Pembedahan: bullectomy, transplantasi paru, lung volume
reduction surgery (LVRS).

9. Edukasi 1. Hindari asap rokok


2. Menghindari pencetus
3. Menyesuaikan aktivitas

10. Prognosis Ad Vitam : ad bonam


Ad Fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens I/II/III/IV


12. Tingkat A/B/C
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1. dr. Irawaty Djaharuddin,Sp.P ( K )
2. dr. Arif Santoso, Sp.P, Ph.D

14. Indikator Medis 1. Sesak nafas berkurang


2. Produksi sputum berkurang
3. Ronkhi dan mengi berkurang

15. Kepustakaan 1. Idrus Alwi dkk. 2015. Penatalaksanaan Di Bidang Ilmu Penyakit
Dalam, Panduan Praktek Klinis. Cetakan I. Jakarta: Internal
Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
2. Ikawati. Z. 2011. Penyakit Sistem Pernapasan Dan Tatalaksana
Terapinya. Jogjakarta : Bursa Ilmu

39