Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

POLA ASUH ANAK DAN REMAJA


DENGAN PENUH CINTA DAN KASIH SAYANG
DALAM KELUARGA
(PAAR CINTA KASIH)

Disampaikan Dalam Rangka Penilaian Lomba


PEMBERDAYAAN DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK)
Tingkat Provinsi Tahun 2019

TIM PENGGERAK PKK DESA JAGAMUKTI


KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita senantiasa ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena curahan rahmat
serta karunianya lah kami akhirnya sampai pada tahap menyelesaikan laporan Pelaksanaan
Tugas Kelompok Kerja ( PKK POKJA I ) Desa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten
Sukabumi

Kami sekaligus pula menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk


Ketua Pembina TP PKK Desa Jagamukti beserta Ibu Ketua Pembina TP PKK Desa Sagamukti
, yang telah membimbing Kami dalam Hal Melaksananakan Tugas Pokok dan Fungsi Sebagai
Kader PKK POKJA I didesa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi.

Kami sungguh-sungguh berharap sekali makalah ini bisa berguna pada tujuan untuk
meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait dengan Tugas Pokok dan Fungsi POKJA
I didalam Melaksanakan Kegiatan Pelayanan Kemasyarakat Luas Khususnya Warga Desa
Jagamukti yang Kita cintai
Kami juga sadar bahwa pada Laporan Pelaksanan TugasTP PKK POKJA I Desa
Jagamukti ini tetap ditemukan banyak kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Dengan
demikian, kami benar benar menantinya adanya kritik dan saran untuk perbaikan makalah yang
hendak kami tulis di masa yang selanjutnya, menyadari tidak ada suatu hal yang sempurna tanpa
disertai saran yang konstruktif.

Kami berharap makalah sederhana ini bisa dimengerti oleh setiap pihak terutama untuk
para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada perkataan yang tidak berkenan
di hati.

Jagamukti, Desember 2018


Ketua Pokja I
TP PKK Desa Jagamukti

NY ERNAWATI
PENDAHULUAN

Setiap tahun Tim Penggerak PKK Kecamatan Surade mengadakan agenda rutin kunjungan
ke desa. Melakukan tugas pembinaan kader-kader PKK Desa. Acara rutin tahunan ini yang sudah
familiar kalangan TP. PKK Desa sebagai kegiatan Monitoring dan evaluasi TP. PKK Desa.

Yang harus disiapkan adalah semua administrasi yang dibuat pengurus TP. PKK. Dari mulai
administrasi sekretarian dan empat Pokja. Dan tidak kalah pentingnya untuk menyiapkan laporan
monev PKK. Saya berikan contok laporan monev PKK yang merupakan laporan pelaksanaan
sepuluh program PKK di Desa dalam kurun waktu satu tahun.

A. Latar Belakang
PKK sebagai salah satu kegiatan ibu-ibu bisa mewarnai pembangunan yang dilakukan oleh
pemerintah desa, pemerintah daerah dan pusat. Selain itu PKK juga sebagai awal dari peningkatan
program kesehatan masyarakat yang dilakukan secara nasional oleh pemerintah. Dengan
dilakukannya penilaian 10 Proram PKK , diharapkan PKK Desa dapat lebih maju dan mandiri
dalam keikutsertaannya mewujudkan keluarga sehat, bahagia dan sejahtera.

B. Maksud dan tujuan Melaporkan Kegiatan yang Sudah Dilaksanakan Oleh POKJA I TP PKK
Desa Jagamukti tahun 2018
POKJA I
Melaksanakan dua bidang program :
1. Program Penghayatan dan Pengamalan Pancasila :
o Mengajak Pengurus dan Anggota untuk mengikuti kegiatan Keagamaan seperti
sholawatan ibu-ibu dan pengajian rutin Kuliah Subuh di masjid AL AMIN setiap
hari, dan Pengajian Mingguan di Mesjid AL HIDAYAH setiap Hari Minggu
o Membina dan memberikan penyuluhan kepada para remaja.
o Membina dan memberikan penyuluhan kepada kelompok Lansia.
o Mengadakan Kegiatan Arisan PKK setiap minggu ke dua.
2. Program Gotong-royong :
o Melaksanakan Gerakan Jumsih / Jum at Bersih setiap hari jumat di wiayahnya
masing-masing.
o Melaksanakan Kerja Bakti membantu dalam kegiatan rehabilitasi dan
Pembangunan Madrasah.
KELOMPOK KERJA (POKJA) I

1. KEGIATAN UMUM POKJA I


a. Melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawab Pokja dalam pelaksanaan 10 Program Pokok
PKK
b. Mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan bidang umum Tim Penggerak PKK Desa
Jagamukti Kecamatan Surade
c. Melakukan fungsi koordinasi dengan Pokja II, III dan IV Tim Penggerak PKK Kecamatan
Surade Kabupaten Sukabumi
d. Menyampaikan informasi dan mengembangkan ide-ide penuh inovasi dalam melaksanakan 10
Program Pokok PKK
e. Menjalin kerjasama dengan instansi sektoral terkait dalam melaksanakan kegiatan PKK
f. Mengikuti Pelatihan Kader PKK Pokja I
g. Mengikuti rapat pengurus dan rapat pleno Tim Penggerak PKK Kecamatan PKK yang
dilaksanakan pada setiap bulannya

2. Prioritas Program
a. Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
Menumbuhkan ketahanan keluarga melalui kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
perlu dilaksanakan pemahaman secara terpadu melalui :
1) Pembinaan Kesadaran Bela Negara
2) Penyuluhan Kesadaran Hukum
Untuk pencegahan PKDRT, Trafficking, Perlindungan Anak dan Penyalahgunaan Narkoba
3) Pembinaan Pola Asuh Anak dan Remaja
4) Penyuluhan tentang Life Skill dan Parenting Skill
Kegiatan yang telah dilakukan adalah:
a) Pelatihan Pendidikan Kecakapan Keorangtuaan dalam Kehidupan
b) Pembinaan Motivator Keluarga Sejahtera
5) Pemahaman tertib administrasi dalam rangka meningkatkan dan mewujudkan tertib
administrasi di keluarga melalui :
a) Pembinaan Administrasi PKK Tim Penggerak PKK Desa Jagamukti Kecamatan Surade
Kabupaten Sukabumi
b) Pengadaan jimpitan setiap bulan pada acara pleno Tim Penggerak PKK Kecamatan Surade
b. Program Gotong Royong
1) Menumbuhkan kesadaran, kesetiakawanan sosial, bertenggang rasa dan kebersamaan serta
saling menghormati antar umat beragama melalui kegiatan:
a) Mengikuti kegiatan keagamaan seperti yasinan, tibaan, tahlilan di tingkat RT/RW dan
dasawisma di desa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi

b) Memperingati Hari-hari Besar Islam seperti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’
Mi’raj

c) Ceramah agama yang disampaikan oleh ulama atau tokoh agama pada momentum hari-hari
besar Islam

d) Kegiatan kerja bakti massal “Jum’at Bersih dan Minggu Bersih

2) Memberdayakan Lansia agar dapat menjaga kesehatan fisik dan mental, kebugaran, dan
melatih ketrampilan melalui kegiatan:
a) Senam Sehat
b) Monitoring Posyandu Lansia

3) Berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan Bakti Sosial melalui kegiatan pemberian bantuan
dana sosial kepada anak-anak yatim piatu

Dalam Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi serta Pembinaan Anak dan Remaja ,Kami Membina
serta Memfasiltasi Untuk pencegahan PKDRT, Trafficking, Perlindungan Anak dan
Penyalahgunaan Narkoba KEdalam Kelompok PAAR Ikatan Remaja Jagamukti ( IRJAMU)
Dalam Kesempatan Ini dapat Kami Laporkan Pelaksanaan Kegiatan PAAR.
LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
POLA ASUH ANAK REMAJA
DI DESA JAGAMUKTI KECAMATAN SURADE
KABUPATEN SUKABUMI

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi ini terdapat berbagai dampak pada masyarakat, baik yang positif maupun
yang negatif. Dampak positif globalisasi adalah perkembangan teknologi yang semakin canggih
sehingga mempermudah seseorang untuk memperoleh berbagai informasi yang tidak terbatas.
Informasi dapat berupa hiburan, pengetahuan dan teknologi, yang diperoleh dan berbagai cara
seperti : TV, Video, Film-Film, Internet dan sebagainya. Kemudahan informasi memang
memuaskan keinginan tahu kita serta dapat mengubah nilai dan pola hidup seseorang, termasuk
sikap orang tua terhadap anaknya dan pola asuh yang diterapkan dalam mendidik anak.
Sedangkan dampak negatif yang ditakuti adalah gaya hidup “Barat”, yang sangat
menonjolkan sifat individualistik dan bebas. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak
timbulnya masalah psikososial pada remaja seperti penyalah gunaan narkotika dan obat
terlarang, perilaku seks bebas dan menyimpang, kriminalitas anak, perkelahian masal (tawuran),
sehingga banyak mengakibatkan kegagalan pendidikan, atau kegagalan dibidang lain. Dampak
negatif era globalisasi ini lebih cepat diadopsi oleh anak- anak sehingga mereka sangat rentan
terhadap pengaruh negatif globalisasi tersebut.
Bagaimana semua informasi dan pengaruh asing itu agar tidak berdampak buruk? Sebagai
orang tua tentu berharap mereka dapat menyaring informasi apa yang berguna yang patut
dicontoh dan apa yang dapat merugikan yang harus dijauhinya. Kepandaian anak dan remaja
dalam menyiasati hal tersebut tentu tidak lepas dan peran orang tua dalam memberikan pola asuh
dan pendidikan yang tepat bagi anak- anaknya.
Anak merupakan masa depan keluarga bahkan bangsa oleh sebab itu perlu dipersiapkan agar
kelak menjadi manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berguna bagi dirinya, keluarga dan
bangsanya. Seharusnya perlu dipersiapkan sejak dini agar mereka mendapatkan pola asuh yang
benar saat mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Pola asuh yang baik menjadikan
anak berkepribadian kuat, tak mudah putus asa, dan tangguh menghadapi tekanan hidup. Maka
dari itu kami akan menyusun makalah yang berjudul “Pola Pengasuhan Anak Dalam Keluarga”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari pola asuh anak dalam keluarga?
2. Apa sajakah gaya dari pola asuh anak dalam keluarga?
3. Apa sajakah macam-macam dari pola asuh anak dalam keluarga secara umum?
4. Bagaimanakah fungsi keluarga dalam menerapkan pola asuh terhadap anak dalam keluarga?
5. Bagaimanakah cara mengasuh anak dalam keluarga?
1.3 Tujuan pelaksanaan Kegiatan PAAR
1. Untuk mengetahui pengertian dari pola asuh anak dalam keluarga.
2. Untuk mengetahui gaya dari pola asuh anak dalam keluarga.
3. Untuk mengetahui macam-macam dari pola asuh anak dalam keluarga secara umum.
4. Untuk mengetahui fungsi keluarga dalam menerapkan pola asuh terhadap anak dalam keluarga.
5. Untuk mengetahui cara mengasuh anak dalam keluarga.
1.4 Manfaat Pelaksanaan Kegiatan PAAR
1. Memberikan pemahaman Kepada Para Orangtua yang lebih dalam terkait dengan pola
pengasuhan anak dalam keluarga.
2. Memberikan masukan bagi anak dan Remaja di seluruh Wilayah Desa Jagamukti Kecamatan
Surade
BAB II
Pembahasan
Pola Asuh Anak Dalam Keluarga
2.1 Pengertian Dari Pola Asuh Anak Dalam Keluarga
Pengertian pola asuh anak dalam keluarga bisa ditelusuri dari pedoman yang dikeluarkan
oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995), yakni : usaha orang tua dalam membina anak dan
membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun). Selain itu,
yang dimaksud dengan pola asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku
spesifik yang bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak. Tujuan utama pola
asuh yang normal adalah menciptakan kontrol. Meskipun tiap orang tua berbeda dalam cara
mengasuh anaknya, namun tujuan utama orang tua dalam mengasuh anak adalah sama yaitu
untuk mempengaruhi, mengajari dan mengontrol anak mereka.
2.2 Gaya Dari Pola Asuh Anak Dalam Keluarga.
Gaya pola asuh memiliki 2 elemen penting, yaitu : parental responsiveness (respons
orang tua) dan parental demandingness (tuntutan orang tua).
Parental Responsiveness (respons orang tua)
Respons orang tua adalah orang tua yang secara sengaja dan mengatur dirinya sendiri
untuk sejalan, mendukung dan menghargai kepentingan dan tuntutan anaknya.
Parental demandingness (tuntutan orang tua)
Tuntutan orang tua adalah orang tua menuntut anaknya untuk menjadi bagian dari
keluarga dengan pengawasan, penegakkan disiplin dan tidak segan memberi hukuman jika
anaknya tidak menuruti.
Selain respons dan tuntutan, gaya pola asuh juga ditentukan oleh faktor yang ketiga, yaitu
kontrol psikologis (menyalahkan, kurang menyayangi atau mempermalukan).
2.3 Macam-Macam Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Secara Umum
Secara individual, orang tua memiliki hubungan yang khas dengan anak namun para
peneliti telah mengidentifikasikan 3 macam pola asuh yang umum. Ketiga pola asuh ini telah
terbukti berhubungan dengan perilaku dan kepribadian anak. Pembagian 3 macam pola asuh
secara umum ini dinamakan : Authoritative, Authoritarian, dan Permissive.
1. Pola asuh Authoritative/Demokrasi
Pola asuh ini ditandai dengan orang tua yang memberikan kebebasan yang memadai pada
anaknya tetapi memiliki standar perilaku yang jelas. Mereka memberikan alasan yang jelas dan
mau mendengarkan anaknya tetapi juga tidak segan untuk menetapkan beberapa perilaku dan
tegas dalam menentukan batasan. Mereka cenderung memiliki hubungan yang hangat dengan
anaknya dan sensitive terhadap kebutuhan dan pandangan anaknya. Mereka cepat tanggap
memuji keberhasilan anaknya dan memiliki kejelasan tentang apa yang mereka harapkan dan
anaknya.
Pola asuh yang paling baik adalah jenis Authoritative. Anak yang diasuh dengan pola ini
tampak lebih bahagia, mandiri dan mampu untuk mengatasi stress. Mereka juga cenderung lebih
disukai pada kelompok sebayanya, karena memiliki ketrampilan sosial dan kepercayaan diri
yang baik.
2. Pola asuh Authoritarian/Otoriter
Pola asuh ini cukup ketat dengan apa yang mereka harapkan dan anaknya dan hukuman
dan perilaku anak yang kurang baik juga berat. Peraturan diterapkan secara kaku dan seringkali
tidak dijelaskan secara memadal dan kurang memahami serta mendengarkan kemamuan
anaknya. Penekanan pola asuh ini adalah ketaatan tanpa bertanya dan menghargai tingkat
kekuasaan. Disiplin pada rumah tangga ini cenderung kasar dan banyak hukuman.
Anak dan orang orang tua yang Authoritarian cenderung untuk lebih penurut, taat
perintah dan tidak agresif, tetapi mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan kemampuan
mengontrol dirinya terhadap teman sebayanya. Hubungan dengan orang tua tidak juga dekat.
Pola asuh jenis ini terutama sulit untuk anak laki-laki, mereka cenderung untuk lebih pemarah
dan kehilangan minat pada sekolahnya lebih awal. Anak dengan pola asuh ini jarang mendapat
pujian dan orang tuanya sehingga pada saat mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung untuk
melakukan sesuatu karena adanya imbalan dan hukuman, bukan karena pertimbangan benar atau
salah.
3. Pola asuh Permissive/Permisif
Orang tua pada kelompok ini membiarkan anaknya untuk menampilkan dirinya dan tidak
membuat aturan yang jelas serta kejelasan tentang perilaku yang mereka harapkan. Mereka
seringkali menenima atau tidak peduli dengan perilaku yang buruk. Hubungan mereka dengan
anaknya adalah hangat dan menerima. Pada saat menetukan batasan, mereka mencoba untuk
memeberikan alasan kepada anaknya dan tidak menggunakan kekuasaan untuk mencapai
keinginan mereka.
Hasil pola asuh dan orang tua permisif tidak sebaik hasil pola asuh anak dengan orang tua
Authoritative. Meskipun anak-anak ini terlihat bahagia tetapi mereka kurang dapat mengatasi
stress dan akan marah jika mereka tidak memperoleh apa yang mereka inginkan. Anak-anak ini
cenderung imatur. Mereka dapat menjadi agresif dan dominant pada teman sebayanya dan
cenderung tidak berorientasi pada hasil.
Meskipun hasil penelitian cukup jelas, tetapi perilaku manusia tidaklah hitam putih.
Hampir semua orang tua melakukan ketiga jenis pola asuh ini.

2.4 Fungsi Keluarga Dalam Menerapkan Pola Asuh Terhadap Anak Dalam Keluarga
Pola asuh di atas harus disesuaikan dengan determinasi yang jelas antara hak dan
kewajiban anak; tetapi terutama hak anak. Hak anak yang dimaksud ialah bermain, belajar, kasih
sayang, nama baik, perlindungan, dan perhatian.

Berdasarkan pendekatan sosio-kultural, dalam konteks bermasyarakat, keluarga memiliki fungsi


berikut :
1. Fungsi Biologis. Tempat keluarga memenuhi kebutuhan seksual ( suami - istri ) dan
mendapatkan keturunan (anak); dan selanjutnya menjadi wahana di mana keluarga menjamin
kesempatan hidup bagi setiap anggotanya. Secara biologis, keluarga menjadi tempat untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan dengan syarat-syarat
tertentu. Berkaitan dengan fungsi ini, pola asuh anak di bidang kesehatan juga harus mendapat
perhatian para orangtua. Pola hidup sehat perlu diterapkan di dalam keluarga yang bisa dilakukan
dengan cara :
· Memberitahukan pada anak untuk mengurangi konsumsi makanan instan atau cepat saji.
mengapa hal ini penting ? Kita tahu, bahwa di dalam makanan instan terdapat zat pengawet yang
jika dikonsumsi secara berlebihan akan membahayakan bagi kesehatan,
· Memberitahukan pada anak untuk berolah raga secara rutin.
· Menyediakan sayuran dan buah bagi anak untuk dikonsumsi.
· Memberitahukan pada anak untuk memperbanyak minum air putih.
2. Fungsi Pendidikan. Keluarga diajak untuk mengkondisikan kehidupan keluarga
sebagai “institusi” pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota
keluarga. Dalam situasi ini orangtua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran
anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan,
bimbingan dan pendampingan, dan teladan nyata. Dalam bidang pergaulan pun, anak tetap
dikontrol. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa mereka biasa mengontrol melalui teman si
anak, serta menghubungi ibu/bapak guru melalui HP. Di samping itu, setalah anak pulang
sekolah, para peserta juga memeriksa tas sekolah anak, kalau-kalau si anak membawa sesuatu
yang tidak wajar. Adapun suka-duka para peserta dalam mendidik anak sangat bervariasi.
Sebagian peserta menyatakan sangat senang bila anak-anak mereka menurut terhadap apa yang
mereka sarankan. Namun di sisi lain, peserta merasa sedih bila si anak terkadang membantah
perkataan mereka, ngambek tidak mau belajar, salah pergaulan dan sebagainya.

3. Fungsi Religius. Para orangtua dituntut untuk mengenalkan, membimbing,


memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenal kaidah-kaidah
agama dan perilaku keagamaan. Di sini para orangtua diharuskan menjadi tokoh inti dan panutan
dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya. Berkatian
dengan pola asuh anak di bidang agama, banyak orangtua sepakat bahwa agama adalah solusi
terakhir dan tertinggi bagi setiap persoalan hidup anak-anak mereka. Masalahnya justru terletak
pada tantangan yang mereka hadapi dalam mensosialisasikan ajaran agama dimaksud. Hari-hari
ini ada fenomena bahwa agama seakan-akan tidak lagi menarik perhatian anak-anak. Pesan
moral dari kisah-kisah yang mempesona dari kitab-kitab suci tidak lagi sampai kepada anak-anak
di jaman ini. Memang sih hal ini erat terkait dengan mandegnya progressivitas pihak agama
dalam mencari pola-pola pengajaran terkini. Maka tidak mengherankan bila sebagian besar
orangtua sangat sulit mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Banyak anak justru tidak merasa
nyaman di gereja atau tempat ibadah agamanya. Di titik ini para orangtua harus menyadari
fungsi mereka sebagai teladan atau pemberi contoh terlebih dahulu. Bagaimana anak akan
menurut pada ajakan orangtua bila si orangtua sendiri tidak menjalankannya.

4. Fungsi Perlindungan. Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga


dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul.
Baik dari dalam maupun dari luar kehidupan keluarga. Selama ini dalam mendidik anak, banyak
orangtua mendidik anak-anak mereka dengan sabar dan telaten, agar anak menurut sesuai dengan
yang diinginkan. Namun tidak jarang pula mereka menggunakan cara-cara yang sedikit otoriter,
agar anak tidak bandel dan menurut apa yang kita perintah. Fungsi perlindungan juga
menyangkut pola asuh orangtua di bidang kesehatan. Pola ini bisa dicermati dari kegiatan
keseharian anak, antara lain :
 Selama ini ketika anak pulang dari sekolah langsung pulang ke rumah atau bermain dulu
di tempat temannya. Dalam hal ini juga harus diperhatikan apakah anak tersebut sudah makan
siang atau belum. Artinya kontrol terhadap pola makan anak dijalankan dengan baik. Apabila
anak pulang sampai sore atau malam hari maka orangtua perlu menanyakan kemana saja
seharian anak tersebut.
 Selama ini ketika anak pulang dari sekolah, apakah langsung membantu orangtua atau
bermain. Hal ini ditinjau dari pandangan orangtua jelas tentunya lebih senang ketika anak
langsung membantu orangtua dalam hal pekerjaan di dalam rumah. Lalu bagaimana bila ternyata
anak membantu orangtua dalam arti ikut bekerja mencari uang ? Tentunya hal ini sebaiknya
belum boleh dilakukan oleh anak, mengingat anak masih tumbuh dan berkembang dan
mempunyai hak untuk menikmati dunia bermainnya. Bisa dibayangkan betapa anak nantinya
akan terbebani ketika harus memikirkan pelajaran di sekolah, namun di sisi yang lain masih
harus bekerja mencari uang. Sudah menjadi kewajiban orangtualah untuk membiayai segala
macam keperluan anak sehari-hari termasuk pula dalam hal biaya sekolah.
 Anak dipastikan mandi sehari dua kali. Dalam hal ini orangtua senantiasa mengontrol
apakah anak sudah mandi atau belum.
 Asupan gizi yang dikonsumsi anak juga harus diperhatikan. Apabila anak setiap hari
diberi lauk daging, tentunya tidak bagus. Akan lebih baik bila diimbangi dengan sayur, buah dan
susu. Dalam arti makanan yang dikonsumsi sehari-hari memenuhi 4 sehat 5 sempurna. Sesekali
anak diberi lauk ikan, telur, tempe, tahu dan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar terdapat variasi
menu makanan anak agar anak tidak bosan.
5. Fungsi Sosialisasi. Para orangtua dituntut untuk mempersiapkan anak untuk
menjadi anggota masyarakat yang baik, kalau tidak mau disebut warga negara kelas satu. Dalam
melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak dengan
kehidupan sosial dan norma-norma sosial, sehingga kehidupan di sekitarnya dapat dimengerti
oleh anak, sehingga pada gilirannya anak berpikir dan berbuat positif di dalam dan terhadap
lingkungannya.

6. Fungsi Kasih Sayang. Keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi


lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antara anggotanya, sesuai dengan status dan
peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu. Ikatan batin yang dalam dan kuat
ini, harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Dalam
suasana yang penuh kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan
persoalan hidup.

7. Fungsi Ekonomis. Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan


ekonomis. Aktivitas dalam fungsi ekonomis berkaitan dengan pencarian nafkah, pembinaan
usaha, dan perencanaan anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran biaya keluarga.

8. Fungsi Rekreatif. Suasana Rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga
lainnya apabila dalam kehidupan keluarga itu terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan
batin, dan pada saat-saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari kesibukan sehari-hari.

9. Fungsi Status Keluarga. Fungsi ini dapat dicapai apabila keluarga telah
menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi keluarga ini menunjuk pada kadar kedudukan (status)
keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya. Dalam mengembangkan anak untuk menjadi
sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan persiapan dan perlakuan terhadap anak secara
tepat sesuai dengan kondisi anak. Sebagai manusia, setiap anak mempunyai ciri individual yang
berbeda satu dengan yang lain. Di samping itu setiap anak yang lahir di dunia ini berhak hidup
dan berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Untuk dapat
memberi kesempatan berkembang bagi setiap anak diperlukan pola asuh yang tepat dari
orangtuanya, hal ini mengingat anak adalah menjadi tanggung jawab orangtuanya baik secara
fisik, psikis maupun sosial.

2.5 Cara Mengasuh Anak Dalam Keluarga


Mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan
baik dan ketika dewasa menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengasuh anak
bukanlah dimulai saat anak dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi dilakukan sendiri mungkin
(sejak lahir).
Cara mengasuh anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak yaitu :
a. Sejak lahir sampai 1 tahun
Dalam kandungan, anak hidup serba teratur, hangat, dan penuh penlindungan. Setelah
dilahinkan, anak sepenuhnya bengantung terutama pada ibu atau pengasuhnya. Pada masa ini
anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Pencapaian pada tahap ini untuk
mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bila nasa percaya tak didapat, maka timbul
rasa tak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk
menyampaikan keingmnannya, ia menangis untuk menarik perhatian orang. Tangisannya
menunjukkan bahwa bayi membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan
bayi. Keadaan dimana saat bayi membutuhkan bantuan, dan mendapat respon yang sesuai akan
menimbulkan rasa percaya dan aman pada bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk
bayi. Dengan pemberian ASI seorang bayi akan didekap ke dada sehingga merasakan
kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal
yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akan
menyebabkan terganggunya pembentukan rasa percaya dan rasa aman.
b. Usia 1 – 3 tahun
Pada tahap ini umumnya anak sudah dapat berjalan. Ia mulai menyadari bahwa
gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahap
ini merupakan tahap pembentukan kepercayaan diri.
Pada tahap ini, akan tertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri, makan sendiri,
pakai baju sendiri dll. Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas,
menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain
untuk mengetahui aturan permainan. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan
harga diri di kemudian hari.
c. Usia 3 – 6 tahun (prasekolah)
Tahap ini anak dapat meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk
melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia
sekitarnya.
Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya, dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri
dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tapi tidak
mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin kadang-kadang terpaku
pada alat kelaminnya sendiri.
Pada tahap ini ayah punya peran penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang
pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat
mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki, dll. Ia dapat pula mengalami
perasaan takut dan cemas. Pada masa ini, kerjasama ayah-ibu amat penting artinya.
d. Usia 6 – 12 tahun
Pada usia ini teman sangat penting dan ketrampilan sosial mereka semakin berkembang.
Hubungan mereka menjadi lebih baik dalam berteman, mereka juga mudah untuk mendekati
teman baru dan menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada.
Pada usia ini mereka juga menyukai kegiatan kelompok dan petualangan, keadaan ini
terjadi karena terbentuknya identifikasi peran dan keberanian untuk mengambil risiko. Orang tua
perlu membimbing mereka agar mereka memahami kemampuan mereka yang sebenarnya dan
tidak melakukan tindakan yang berbahaya.
Anak pada usia ini mulai tertarik dengan masalah seks dan bayi, sehingga orang tua perlu
untuk memberikan informasi yang dianggap sensitive ini secara
Dalam perkembangan keterampilan mentalnya, mereka dapat mempertahankan
ketertarikannya dalam waktu yang lama dan kemampuan menulis mereka baik. Anak pada usia
ini seringkali senang membaca buku ilmu pengetahuan atau CD ROM. Mereka menikmati
mencari dan menemukan informasi yang menarik minat mereka.
Anak mulai melawan orang tuanya, mereka menjadi suka berargumentasi dan tidak suka
melakukan pekerjaan rumah. Orang tua perlu secara bijaksana menjelaskann pada mereka tugas
dan tanggung jawabnya. Keberhasiln pada masa kanak akhir terlihat, jika mereka dapat berkarya
dan produktif dikemudian hari.
e. Usia 12 – 18 tahun
Masa remaja bervariasi pada setiap anak, tapi pada umumnya berlangsung antara usia 11
sampai 18 tahun. Di dalam masa remaja pembentukan identitas diri merupakan salah satu tugas
utama, sehingga saat masa remaja selesai sudah terbentuk identitas diri yang mantap.
Pertanyaan yang sering pada masa remaja saat pembentukan identitas diri adalah :
siapakah saya?, serta : kemanakah arah hidup saya? Jika masa remaja telah berakhir dan
pertanyaan itu tidak dapat dijawab dan diselesaikan dengan baik, dapat terjadi apa yang
dinamakan : krisis identitas, pada krisis identitas terjadi dapat menimbulkan
kebingungan/kekacauan identitas dirinya. Unsur-unsur yang memegang peran penting dalam
pembentukan identitas diri adalah : pembentukan suatu rasa kemandirian, peran seksual,
identifikasi gender, dan peran sosial serta perilaku.
Berkembangnya masa remaja terlihat saat Ia mulai mengambil berbagai macam nilai-nilai
etik, baik dan orang tua, remaja lain dan ia menggabungkannya menjadi suatu sistem nilai dan
dirinya sendiri.
Pada masa remaja, numah merupakan landasan dasar (base), sedangkan ‘dunianya”
adalah sekolah maka bagi remaja hubungan yang paling penting selain dengan keluarganya
adalah dengan teman sebaya. Pengertian dari rumah sebagai landasan dasar adalah, anak dalam
kehidupan seahari-hani tampaknya ia seolah-olah sangat bergantung kepada teman sebayanya,
tapi sebenarnya Ia sangat membutuhkan dukungan dan orang tuanya yang sekaligus harus
berfungsi sebagai pelindung di saat ia mengalami krisis, baik dalam dirinya atau karena faktor
lain. Pada masa ini penting sekali sikap keluarga yang dapat berempati, mengerti, mendukung,
dan dapat bersikap komunikatif dua anak dengan sang remaja dalam pembentukan identitas diri
remaja itu.
Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah dalam suatu
identias diri. Keberhasilan yang diperoleh atau kegagalan yang dialami dalam proses pencapaian
kemandirian merupakan pengaruh dari fase-fase perkembangan sebelumnya. Kegagalan keluarga
dalam memberikan bantuan/dukungan itu secara memadai, akan berakibat dalam ketidak
mampuan anak untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan emosinya. Sedangkan
keberhasilan keluarga dalam pembentukan remaja telah mengambil nilai-nilai etik dari orang tua
dan agama, ia mengambil nilai-nilai apa yang terbaik bagi dia dan masyarakat pada umumnya.
Jadi penting bagi orang tua untuk memberi teladan yang baik bagi remaja, dan bukan hanya
menuntut remaja berperilaku baik, tapi orang tua sendiri tidak berbuat demikian.
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN
POLA ASUH ANAK REMAJA

Pengasuhan Anak dan Remaja Bukan Hanya Menjadi Tanggung Jawab Orangtua atau
Keluarganya saja melaikan merupakan tanggung Jawab dan menjadi perhatian dari kita semua
termasuk pula potensi Lingkungan akan berdampak pada tumbuh kembang anak dan Remaja
sehingga kami dapat Menyimpulkan bahwa Pengasuhan akan berdampak Positif Apabila
didukung oleh berbagai Komponen.
Adapun Komponen Pendudkung Kegiatan Pola Asuh Anak dan Remaja di Desa Jagamukti
Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi yaitu :
1. Orang Tua
2. Anak
3. Lingkungan
4. Dukungan Pemerintah
5. Adanya Sistem /Pola Asuh Anak Remaja

Semua Unsur tersebut tentunya harus berjalan secara bersamaan dan harus ada Korelasi
yang baik yang terjalin oleh semua Komponen tersebut.

orangtua

Dukungan
anak
Pemerintah

Adanya
Sistem Pola
lingkungan
Asuh Ank
remaja

Didalam Beberapa Kegiatantelah Kami Laksanakan dalam Manajemen Pola Asuh Anak dan
Remaja yang sudah dilaksanan di Desa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi
,Yaitu :
Proses Kegiatan
Pemberdayaan Bagi Anak dan Remaja
 Pembentukan Forum Anak dan Remaja Desa Jagamukti (IRMATI) Ikatan Remaja Desa
Jagamukti, Komunitas ini mempunyai Program yang salh satunya yaitu: KAWAN
SEJATI yakni berupa Konseling diantara para Remaja itu sendiri.
Kegiatan Konseling aanak dan Remaja ini dilaksanakan di Sekertarian POSKO PAAR atau
pun di Pojok Curhat Remaja yang Sudah Kami Sediakan.
Kegiatan Lainnya yangdilaksanakan oleh para Remaja yang terikat didalam IRMATI ,semua
bergerak didalam kegiatan Bidang Sosial Seperti Bakti Lingkungan dan Kegiatan
Pengumpulan Sumbangan bagi AnakYatim .
Selain itu telah dilaksanaka berbagai macam Pelatihan Kepada seluruh Anggota
IRMATI,Seperti :
a. Pelatihan Tentang IT
b. Pelatihan Berbagai Macam Ketrampilan.
c. Pelatihan tentang Seni Budaya Leluhur
- Pencak Silat
- Degung
- Rampak Gendang
- Wayang Golek
- Calung
d. Pelatihan Tentang Pemangfaatan Barang Bekas Minuman Menjadi Media
Hidrofonik
e. Praktek Memandikan Jenazah.
f. Sholawatan/Nasyid

 Penguatan Kelompok PIK-R Mawar Desa Jagamukti


Desa Jagamukti Sudah Membentuk 2 ( Dua ) Kelompok PIK-R ( Pusat Informasi dan
Konseling Remaja ) Yaitu:
1. Kelompok PIK-R Umum/Masyarakat .Lokasi Kampung Badak Putih RT 05/05 Desa
Jagamukti Kecamatan Surade Yang Beranggotakan 20 Orang.
2. Kelompok PIK-R Sekolah ( SMANSA) Berlokasi di SMAN I KP Cibarehong Desa
Jagamukti.
Kegiatan yang sudah dilaksanakan yaitu:
1. Memberika Penyuluhan secara Kelompok Kepada Pemuda Remaja Mesjid Mengenai 8
Subtansi Genre ( Generasi Berencana)
2. Melakukan Kegiatan Konseling Antar Remaja yang dilakukan oleh Konselor dan
Pendidik Sebaya.
3. Mensosialisasikan di POSKO PAAR Gemar membaca dengan Kegiatan Rumah Baca
Kepada Para Pengunjung yang datang .
Diharapkan agar Remaja mengetahui dan terhindar dari pergaulan bebas, NAFZA serta
Penggunaan Obat Terlarang dan Kegiatan Negatif ( TRIAD KRR)Lainnya.
Diharapkan Remaja memiliki Pengetahuan yang baik dan dapat mempersiapkan masa Depan
yang terencana serta meraih Cita –cita Menjadi Penerus Bangsa yang Kreatif dan Innovatif.

 Pembentukan Sekolah Siaga Kependudukan ( SSK)


Sekolah Mengintegrasikan Pendidikan Kependudukan dan Keluarga Berencana kedalam
Kegiatan Belajar mengajar Siswa siswi.dalam Upaya Pembentukan dan Mempersiapkan
Generasi Berencana.
Diharapkan Siswa dan Siswi Menjadi ( Agen Of Chane) secara Formal diseluruh wilayah
Indonesia.meskipun masih banyak Tantangan serta permasalahan di penyusunan Kurikulum
Pendidikan Kependudukan Kurang Kontektual.yang mana dapat kita temukan didalam Materi
atau Buku Pembelajaran ilmu Kependudukan Masih Memakai Ilustrasi atau Fakta di Luar
Negri.padahal Masalah Kependudukan itu sangat Melekat pada Kehidupan Siswa di Masyarakat.
Alasan Pembentukan SSK makin Kuat mengingat Selama ini Materi Kependudukan
belom terintegrasi sepenuhnya Kedalam Kurikulum. Pembelajaran Tentang Kependudukan
masih bersipat tekstual.
Kita Menyadari bahwa Pembelajaran tentang Kependudukan harus bersifat Aflikatif dan
bisa langsung di aflikasikan Oleh Siswa-siswi di lingkungan sekitar tempat tinggal Siswa-
Siswi.sehingga diharapkan siswa mampu memahami tentang ilmu dasar Kependudukan yang
sangat erat dengan Maslah ,Kelahiran,Kematian serta Mutasi Perpindahan Warga Penduduk.
Pada Saat yang sama ,semua kebijakan Pembangunan berbasis Data Kependudukan ,serta
dissamping itu Saat ini dasar Membuat Kebijakan Pemerintah adalah Hasil Data serta Analisa
Kependudukan.

Tujuan Sekolah Siaga Kependudukan

Secara Umum,
SSK Bertujuan Memberikan Arah dan Pedoman bagi penanggung Jawab dan Pengelola
Pendidikan,Guru Pembina dalam Upaya Melakukan Penggarapan Program Kependudukan ,KB
dan Pemberdayaan Keluarga Sejahtera.

Secara Khusus.
SSK Bertujuan memberikan Wawasan ,Sikap,Pengetahuan dan Ketrampilan tentng
Program KKBPK kepada Peserta Didik.
Selain itu,bertujuan memberikan arah dan bimbingan kepada peserta didik untuk
berprilaku Keluarga Berkualitas, serta memberikan Pengetahuan kepada peserta didik tentang
massalah-masalah kependudukan setempat. Juga meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
penyajian Data –Data Mikro Kependudukan berupa Peta atau Grafik untuk dianalisis secara
sederhana. SSK juga mengemban misi mengurang angka Drop Out 9 DO) dan Kasus-kasus
lainnya yang banyak terjadi di sekolah.

Population Corner
Selain Mengintegrasikan Pendidikan Kependudukan kedalam Mata Pelajaran yansudah
ada ,SSK Juga menggagas Pembentukan Pusat Kajian dengan Nama ( POJOK
KEPENDUDUKAN)
Yang mana didalam pojok kependudukan didalamnya menjadi Sumber daya Informasi
Kependudukan,KB dan Pembangunan Keluarga. ( KKBPK).
Pojok Kependudukan ( Populatian Corner )ini berfungsi menjadi pusat informasi dan
konseling untuk masalah –masalah kependudukan serta Kesehatan Reproduksi Remaja ( KRR)
Karenaitu disetiap sekolah yang sudah mengimplementasikan SSK harus terlebih dahulu berditi
Pusat Informas dan Konseling Remaja ( PIK-R).
Untuk Keperluan tersebut,Population Corber, mempersenjatai diri dengan Aneka sumber
daya informasi dan pendukung lainnya. Informasi itu dibagi ke dalam beberapa Rumpun, seperti
Foto,Famplet,Lembar Balik, Peta,Grafik dan OrnamentKependudukan lainnya.yang mana
informasi serta pesan yang disampaikannya antara lain:
 Reproduksi Remaja
 Nafza
 Seks Bebas
 HIV/AIDS
 Pesan pesan tentang Generasi Berencana.
 Peta Kependudukan
Peta Kependudukan berupa Sebaran penduduk diwilayah kabupaten sukabumi yang
mencakup,Pertumbuhan,Kepadatan,Migrasi,Usia Kawin ,Kesertaan Ber KB,Komposisi
Penduduk,Angka Kematian Ibu dan Anak ,Balita( AKI,AKA,AKB)
SSK Juga Memberikan Warna lain Denga menghadirkan para Teugas PLKB/PKB ke
sekolah sekolah untuk menjadi Nara Sumber,atau Pemateri Tentang Masalah Kependudukan ,KB
dan Pembanguna Keluarga,( KKBPK) Guru dapat Berkoordinasi,dengan UPT Daldiuk Wilayah
Kecamatan dalam rangka mengsinergikan Progran SSK serta Saka Kencana Di Sekolah-Sekolah.

B.SOSIALISASI PROGRAM PAAR ( Pola Asuh Anak dan Remaja )


Dalam Kegiatan ini POKJA I TP PKK desa Jagamukti melakukan kegiatan Sosialisasi
Program PAAR Kepada Seluruh Element Masyarakat , sebagai Upaya memberikan pemahaman
Kepada Masyarakat Luas secara Terus menerus dan berkesinambungan supaya Wawasan dan
Pengetahuan Masyarakat dapat Memahami tentang Konsep serta Pola Pengasuhan Anak dan
Remaja.
Salah Satu Upaya untuk Meng Edukasi Seluruh Lapisan Masyarakat Satgas PAAR
.POKJA I TP PKK Desa Jagamuti melaksanakan Kegiatan Sosialisasi Baik Berupa Penyuluhan
,Simulasi,Bimbingan Teknis,atau Pelatihan Ketrampilan.
Adapun Kegiatan-Kegiatan Satgas PAAR POKJA I desa Jagamukti sudah Melaksanan
Kegiatan Sebagai Berikut:

 Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja ( PAAR)


Sasaran Kegiatan adalah Para Orangtua ( Masyarakat) dalam Upaya
Mensosialisasikan Materi tentang Pola Asuh Anak Remaja ,secara
Berkesinambungan disetiap Dusun ( Jadwal Terlampir)
Mitra Kerja dalam Kegiatan ini adalah ,Penyuluh Lapangam Keluarga Berencana
( PLKB),Kasi Kesejahteraan( Kaur Kesra),

 Sosialisasi HAk anak dan Pencegaha Kekerasan terhadap Anak


Sasaran Keegiatannya adalah Para Orang Tua ( Masyarakat) dalam Upaya
Mensosialisasikan ( UU no 23/2002 dan UUno 35/2016) secara
Berkesinambungan disetiap Dusun ( Jadwal Terlampir)
Mitra Kerja dalam Kegiatan ini adalah , babim kamtibmas, Penyuluh Lapangam
Keluarga Berencana ( PLKB),Kasi Kesejahteraan( Kaur Kesra),

 Sosilaisasi Ketahanan Keluarga ,dengan Sasaran Para Oang Tua ( Masyarakat)


Sasaran Kegiatan adalah Para Orangtua ( Masyarakat) dalam Upaya
Mensosialisasikan Materi tentang Pola Asuh Anak Remaja ,secara
Berkesinambungan disetiap Dusun ( Jadwal Terlampir)
Mitra Kerja dalam Kegiatan ini adalah ,Penyuluh Lapangam Keluarga Berencana
( PLKB),Kasi Kesejahteraan( Kaur Kesra)
 Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja ( Triad KRR)
Sasaran Kegiatan adalah Para Orangtua ( Masyarakat) dalam Upaya
Mensosialisasikan Materi tentang Pola Asuh Anak Remaja ,secara
Berkesinambungan disetiap Dusun ( Jadwal Terlampir)
Mitra Kerja dalam Kegiatan ini adalah ,Penyuluh Lapangam Keluarga Berencana
( PLKB),Kasi Kesejahteraan( Kaur Kesra)

C .KEGIATAN KONSULTASI ( Konseling)

Dalam melaksanakan Program dan Kegiatan,Satgas Pola Asuh anak dan Remaja ( Satgas
PAAR desa Jagamukti ,sering juga melakukan kegatan Kunjungan rumah /konseling dalam
kaitan sosialisasi,koordinasi serta mengadvokasi para tokoh Masyarakat Umumnya menyangkut
permasalahan Pola Asuh yang di alami oleh Masyarakat.
Dalam hal ini kami membuka konseling setiap hari di secretariat Posko Paar desa
Jagamukti yang mana kegiatan yang suddah dilakusanakan adalah:
1. Tentang Perceraian Orant Tua ( Pasangan Muda) yang Berakibatpada Pola asuk
Anak,Karena Menyangkut Haka sub anak.
2. Pernikahan Usia Dini (Dibawah 18 tahun)
3. Putus Sekolah ( Drop Out)
4. Permasalahan ttg Buruh Migran,yang mengakibatkan pola asuh anak tidak menentu
5. Penyalah Gunaan Narkoba.
6. Pengunaan HP/Gadget yang berlebihan

DATA KEGIATAN KONSULTASI WARGA

No Tanggal Jenis Konsultasi Solusi/Penyelesaian Ket


1 Pebruari 2018 Perceraian Keluarga Mediasi Kedua Belah Pihak
2 April 2018 Pernikahan Anak Dinikahkan
3 Mei 2018 Putus Sekolah Kejar paket B/Kursus Ketrampilan
4 Mei 2018 Buruh Migran Kader pendamping/Pendampingan
Keluarga
5 Juni 2018 Penyalahgunaan Narkoba Penyuluhan
6 Juni 2018 Tumbuh Kembang Anak Penyuluhan /Pendampingan
7 Agustus 2018 Penggunaan HP/Gadget Penyuluhan /Pendampingan
8 Agustus 2018 Anak Hilang Pendampingan

D. KEGIATAN KOORDINASI /KEMITRAAN

Dalam Melaksanakan Program Kerja tentunya kami dibantu pihak,baik itu instansi
Pemerintah ,Swasta,Lembaga Kemasyarakatan dan yang lainnya
Bentuk Kerja sama yang telah kami laksanakan diantaranya.
No Pelaksana Kegiatan Mitra Kerja Ket
1 PLKB Desa Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan/konseling
2 Bidan Desa Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan/konseling
3 Petugas Gizi Sosialisasi/Penyuluhan /Kesehatan/konseling
4 BabinkamtibmasUnsur Polisi Sosialisasi/Penyuluhan /konseling
5 Babinsa Sosialisasi/Penyuluhan /konseling
6 Pihak Sekolah Sosialisasi/Penyuluhan
7 Him Paudi/Gugus Paud Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan
8 Kasi Kesejahteraan Desa Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan/konseling
9 Karantaruna Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan/konseling
10 Satgasus Desa Sosialisasi/Penyuluhan /Pendataan/konseling
SUSUNAN PENGURUS POLA ASUH ANAK REMAJA (PAAR)
DESA JAGAMUKTI

PenanggungJawab :APAY SUYATMAN,S.Pd.I (KADES JAGAMUKTI)


Pembina :1. TATI HARYATI,S.IP(PKB )
2. NITA JUWITA, Am. Keb (BIDAN DESA)

Ketua : RONI ANDRIANSYAH, S.T


Sekretaris : M.LAMDAN
Bendahara : RUDI HARTONO
Seksi-seksi :

a. Seksi KIE, Penyuluhan, danKonseling :

Koordinator : ADI
Anggota : 1.TONO
2.ADE RIMAWAN

b. SeksiKepemudaan, Seni, danOlah Raga :

Koordinator : M.FAHMI
Anggota : 1. HERA
2. NURLAELA

c. SeksiOrganisasidanBimbingan Mental Spiritual :

Koordinator : M.IWAN
Anggota : 1. NURAENAH
2. TETI SUHERTI

d. SeksiPengembanganKegiatanEkonomiProduktif :

Koordinator : RESA MEILANI


Anggota : 1. NONONG
2.WIWIN WINTARSIH
RENCANA KEGIATAN SATGAS POLA ASUH ANAK DAN REMANA( PAAR)
NO BIDANG PROGRAM KEGIATAN TUJUAN SASARAN JADWAL KET
KERJA
1 2 3 4 5 6 7 8
1 PENGHAYAT a. Peningkatan - Pengajian Rutin - Meningkatkan - Anggota PKK Sepanjang - BMS
AN DAN Ketaqwaan PKK keimanan & Kab. Lamsel Tahun -
PENGAMALA Kepada ketaqwaan Kemenan
N Tuhan YME kepada Tuhan - TP PKK g
PANCASILA - Pengajian Akbar YME Kec/Desa Menyesuai
dalam rangka kan
PHBI - Sda
- Kader PKK
- Lomba Dakwah Triwulan II
bagi Kader PKK - Meningkatkan
Kemampuan
kader dalam
berdakwah

b. Kadar kum ( - Penyuluhan - Meningkatkan - TP PKK Kab. Triwulan I Kerjasam


Kesadaran - Simulasi PKBN kesadaran Lamsel, & II a dengan
Hukum) dan - Memperbanyak masyarakat dalam Kec/Desa - Bag.
PKBN Beberan Berbangsa dan Warga Hukum
Bernegara Masyarakat - BNNK
- Pol PP

- Penyuluhan - Meningkatkan Sda Triwulan II


- Permainan Pengetahuan & III
Simulasi KDRT, tentang Hukum
Traficking, & Per UU an
Narkoba dll yang berkaitan
dengan
Perempuan, (UU
PKDRT,
Traficking, UU
Narkoba,
Perlindungan
Anak, UU
Pornografi, UU
Perkawinan dll)

d. Lomba - Lomba Peran PKK - Mencegah - Kader desa Triwulan I Untuk di


PKDRT dalam Pencegahan terjadinya KDRT dasa Wisma usulkan
KDRT sedini mungkin di pada
dalam keluarga lomba
Tk. Prov
Trafickin
g
Nasional
e. PAA & R - Sosialisasi PAA & - Meningkatkan - TP PKK Kab, Triwulan I Kerjasa
(Pola Asuh R yang telah peran Orang Tua Kec, Desa & II ma :
Anak & diperbarui Dalam Pola Asuh - Masyarakat - Diknas
Remaja) - Memperbanyak Anak & Remaja -
Beberan Simulasi Keme
PAA & R ntrian
- Orientasi Pola Agam
Asuh Anak & a
Remaja - Bag.
Sosial
- PP &
KB
f. Life Skill & - Penyuluhan - Meningkatkan - TP PKK Kab, Triwulan I Kerjasam
Parenting Tentang Narkoba Pengetahuan Kec, Desa & II a:
Skill - Permainan Orang Tua - Masyarakat - BNN
Tentang Narkoba tentang Bahaya - PP &
- Penyuluhan Narkoba bagi KB
tentang keluarga - Bag.
HIV/AIDS Sosial
- BPMD

g. Tertib -Penyuluhan - Meningkatkan - TP PKK Kab, Setiap saat -


Administrasi Kesadaran warga Kec, Desa Penyuluhan Teruta
kependudukan akan perlu nya ma
KTP, KK, Akte Melalu
Kelahiran, Surat i
Nikah dll kelom
pok
dasa
wisma
- Capil
- Bag.
Sosial
- KUA
II GOTONG a. - Penyuluhan - Menumbuhkan - Warga tertimpa Menyesuai Kerjsama
ROYONG Menumbuh - Tatap Muka rasa Kepedulian musibah kan - Bag.
kan - Pemberian /Kebersamaan - Panti Asuhan Sosial
Kesadaran Bantuan/Santuna antar sesama - Badan
& n kepada korban warga PP
Kesetiakawa musibah
nan Sosial,
dan
Kebersamaa
n

1 2 3 4 5 6 7 8
b. Bhakti Sosial - Penyuluhan - Menumbuhkan Lokasi Menyesuaikan Kerja sama
rasa Kepedulian / TMMD dengan
Kebersamaan - BPMD
- Pemberian antar sesama - - Kodim
Bantuan pada warga -
lokasi TMMD
- Berpartisipasi - Membantu -
pada kegiatan mempersiapkan -
BBGRM lokasi lomba
BBGRM

c. Pemberdayaan - Pendataan - Memberdayakan Lansia Sepanjang Kerja sama


Lansia jumlah Lansia Lansia agar Tahun - Disnaker
- Pembentukan mandiri bisa & - Bag.
Kelompok Usaha Produktif Sosial
Lansia - Senam lansia - DinKes/
- Usaha Ekonomi - Posyandu lansia Pokja IV
Produktif

Tujuan Pelaksanaan Pola asuh anak dan remaja ( PAAR)

a. Bagi orang tua

Kegiatan ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi para orang tua untuk mendapatkan

pengetahuan mengenai pola asuh yang sesuai pada anak. Di samping itu diharapkan orang tua

menyadari posisi anak dalam keluarga yang senantiasa membutuhkan bimbingan.

b. Bagi pemerintah

Kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk perumusan kebijakan terkait dengan

eksploitasi anak oleh orang tua.


Hasil yang diharapkan

a. Pola Asuh

Pengertian pola asuh dalam keluarga bisa ditelusuri dari pedoman yang dikeluarkan oleh Tim

Penggerak PKK Pusat (1995), yakni : usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing

anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun).

Secara garis besar pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya dapat

digolongkan menjadi :

1.) Pola asuh otoriter

Yang dimaksud adalah setiap orang tua dalam mendidik anak mengharuskan setiap anak patuh

tunduk terhadap setiap kehendak orang tua. Anak tidak diberi kesempatan untuk menanyakan

segala sesuatu yang menyangkut tentang tugas, kewajiban dan hak yang diberikan kepada

dirinya.

2.) Pola asuh demokratis

Yang dimaksud adalah sikap orang tua yang mau mendengarkan pendapat anaknya,

kemudian dilakukan musyawarah antara pendapat orang tua dan pendapat anak lalu diambil

suatu kesimpulan secara bersama, tanpa ada yang merasa terpaksa.

3.) Pola asuh permisif

Yang dimaksud dengan sikap orang tua dalam mendidik anak memberikan kebebasan secara

mutlak kepada anak dalam bertindak tanpa ada pengarahan sehingga bagi anak yang
perilakunya menyimpang akan menjadi anak yang tidak diterima di masyarakat karena dia

tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan ( Nuryoto,1998).

b. Keluarga

Secara sosiologis ( Melly dalam Busono, 2005 ), keluarga dituntut berperan dan berfungsi

untuk mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang

bahagia dan sejahtera. Fungsi keluarga perlu diamati sebagai tugas yang harus diperankan oleh

keluarga sebagai lembaga sosial terkecil.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, berdasarkan pendekatan budaya dan sosiologis, fungsi

keluarga adalah sebagai berikut :

1.) Fungsi Biologis

Bagi pasangan suami istri, fungsi ini untuk memenuhi kebutuhan seksual dan mendapatkan

keturunan. Fungsi ini memberi kesempatan hidup bagi setiap anggotanya. Keluarga disini

menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan

dengan syarat-syarat tertentu.

2.) Fungsi Pendidikan

Fungsi pendidikan mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan

keluarga menjadi situasi pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara

anggota keluarga. Dalam situasi ini orang tua menjadi pemegang peran utama dalam proses

pembelajaran anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara

lain melalui asuhan, bimbingan, dan teladan.

3.) Fungsi Beragama

Fungsi beragama berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing,

memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenai kaidah-
kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini mengharuskan orang tua, sebagai

seorang tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam

kehidupan keluarganya.

4.) Fungsi Perlindungan

Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan

anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul. Baik dari dalam

maupun dari luar kehidupan keluarga.

5.) Fungsi Sosialisasi Anak

Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak untuk menjadi anggota

masyarakat yang baik. Dalam melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai

penghubung antara kehidupan anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial,

sehingga kehidupan di sekitarnya dapat dimengerti oleh anak, sehingga pada gilirannya

anak berpikir dan berbuat positif di dalam dan terhadap lingkungannya.

6.) Fungsi Kasih Sayang

Keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin

yang kuat antara anggotanya, sesuai dengan status dan peranan sosial masing-masing

dalam kehidupan keluarga itu. Ikatan batin yang dalam dan kuat ini, harus dapat dirasakan

oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Dalam suasana yang penuh

kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalan

hidup.

7.) Fungsi Ekonomis


Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan ekonomis. Aktivitas dalam

fungsi ekonomis berkaitan dengan pencarian nafkah, pembinaan usaha, dan perencanaan

anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran biaya keluarga.

8.) Fungsi Rekreatif

Suasana Rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga lainnya apabila dalam

kehidupan keluarga itu terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan batin, dan pada saat-

saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari kesibukan sehari-hari.

9.) Fungsi Status Keluarga

Fungsi ini dapat dicapai apabila keluarga telah menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi

keluarga ini menunjuk pada kadar kedudukan (status) keluarga dibandingkan dengan

keluarga lainnya.
Lampiran Kegiatan.Pola Asuh Anak Remaja

1. SK PAAR.

KEPALA DESA JAGAMUKTI


KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI
KEPUTUSAN KEPALA DESA JAGAMUKTI
KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI
Nomor : 19/PEM-DES/I/2019

TENTANG

PEMBENTUKAN POLA ASUH ANAK REMAJA (PAAR)


DESA JAGAMUKTI

KEPALA DESA JAGAMUKTI

Menimbang : a. Bahwadalamrangkaoptimalisasipenyebarluasandanpemberian la
yananinformasikesehatanreproduksiremajadalamupayapeningkat
anpengetahuan, pemahaman,
kesadaransikapdanperilakukehidupanreproduksi yang
bersihdansehatbagimasyarakatmenujuterwujudnyaKeluarga Kecil
Bahagia Sejahtera.
b. Bahwadibutuhkannyasebuahwadahyang
dapatberfungsisebagai pusatlayananinformasidankonseling
yang berbasispendekatankelompoksebaya
Kesehatanreproduksiremaja, makadipandangperlumembentuk
Pola Asuh Anak Remaja di tingkatDesa.
BahwauntukituperluditetapkannyaKeputusanKepala Desa.

Mengingat : 1. Undang-UndangNomor 10 Tahun 1992 tentangkependudukandan


Pembangunan
2. Keluarga Sejahtera. Undang-UndangNomor 32 Tahun 1992
tentangKesehatan.
3. Undang-UndangNomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintah
Daerah.
4. PeraturanpemerintahNomor 38 Tahun 2007
tentangPembagianUrusanPemerintah,Pemerintah Daerah
Propinsi, danPemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
5. PeraturanPemerintahNomor 41 Tahun 2007
tentangOrganisasiPerangkat Daerah.
6. Peraturan Daerah KabupatenSukabumiNomor 19 Tahun 2002
tentangPenataanPembentukanLembagaPerangkat Daerah
KabupatenSukabumi.
7. KeputusanBupatiSukabumiNomor 47 Tahun 2002
tentangOrganisasidan Tata
KerjaBadanPemberdayaanPerempuandanKeluargaBerencanaKa
bupatenSukabumi

Memperhatikan : a. RencanaStrategisDinasPengendalianPendudukdanKeluargaBer
encanaKabupatenSukabumi.
b. Program
KerjaDinasPengendalianPendudukdanKeluargaBerencanaKabu
patenSukabumi.
c. DokumenPelaksanaanAnggaran (DPA)
DinasPengendalianPendudukdanKeluargaBerencanaKabupaten
SukabumiKegiatanPendirianPusatPelayananInformasidanKonse
ling KRR Tahun 2018.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :

PERTAMA : Membentuk Pola Asuh Anak Remaja diDesaJagamukti.

KEDUA : Mengangkatdanmemfungsikansejumlahremaja yang


telahmengikutipelatihanKesehatanReproduksisebagaikaderseba
yadanpenguruskelompokPusatInformasidanKonselingRemajade
ngansusunansebagaimanaterlampirdalamkeputusanini.

KETIGA : AdapuntugaskelompokPusatInformasidanKonselingRemajaseba
gaimanadimaksudpadadiktumPertamakeputusanini,
secaraumumadalahsebagaiwadahkegiatankaderremajadalamup
ayapenyebarluasandanpemberianlayananInformasidanKonselin
gKesehatanReproduksiRemajabagimasyarakatpadaumumnyada
nremajapadakhususnya.

KEEMPAT : Biaya yang


ditimbulkansebagaiakibatdikeluarkannyaKeputusaninidibebanka
npada APBD Kabupaten SukabumidanBantuanDinas / Instansi
yang bersifattidakmengikat.

KELIMA : Keputusaniniberlakusejaktanggalditetapkan,
danapabiladikemudianhariterdapat
kekeliruandalampenetapannyamakaakandilakukanperbaikansep
erlunya.

LampiranSuratKeputusanKepalaDesaJagamukti
Nomor: 19/PEM-DES/I/ 2019
Tentang: Pembentukan Pola Asuh Anak Remaja (PAAR)

SUSUNAN PENGURUS POLA ASUH ANAK REMAJA (PAAR)


DESA JAGAMUKTI

PenanggungJawab :APAY SUYATMAN,S.Pd.I (KADES JAGAMUKTI)

Pembina :1. TATI HARYATI,S.IP(PKB )

2. NITA JUWITA, Am. Keb (BIDAN DESA)

Ketua : RONI ANDRIANSYAH, S.T

Sekretaris : M.LAMDAN

Bendahara : RUDI HARTONO

Seksi-seksi :
a. Seksi KIE, Penyuluhan, danKonseling :

Koordinator : ADI
Anggota : 1.TONO
2.ADE RIMAWAN

b. SeksiKepemudaan, Seni, danOlah Raga :

Koordinator : M.FAHMI
Anggota : 1. HERA
2. NURLAELA
c. SeksiOrganisasidanBimbingan Mental Spiritual :
Koordinator : M.IWAN
Anggota : 1. NURAENAH
2. TETI SUHERTI
d. SeksiPengembanganKegiatanEkonomiProduktif :

Koordinator : RESA MEILANI


Anggota : 1. NONONG
2.WIWIN WINTARSIH

Ditetapkan di : Jagamukti
Pada Tanggal : 15 Januari 2019
Kades Jagamukti,

APAY SUYATMAN,S.Pd.I
Dokumentasi Pelaksanaan POLA ASUH ANAK REMAJA

Pembentukan Satgas PAAR Desa Jagamukti

Paar tentang Keagamaan


Pola Asuh Anak Remaja Tentang Penataan Lingkungan

Tentang Pendidikan Agama


Tentang Perlindungan

Pelatihan Usaha Produktif


Penutup
3.1 Kesimpulan
Dengan apa yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh anak
dalam keluarga adalah usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa
maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun). Selanjutnya, gaya pola asuh memiliki 2
elemen penting, yaitu : parental responsiveness (respons orang tua) dan parental demandingness
(tuntutan orang tua). Adapun macam-macam pola asuh anak dalam keluarga yaitu: pola
demokrasi, pola otoriter, dan pola permisif. Untuk menerapkan macam-macam dari pola asuh
tersebut ada beberapa fungsi keluarga diantaranya: fungsi biologis, fungsi pendidikan, fungsi
religius, fungsi perlindungan, fungsi sosialisasi, fungsi kasih sayang, fungsi ekonomi, fungsi
rekreatif dan fungsi status keluarga. Selain itu, cara mengasuh anak dalam keluarga hendaknya
disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
3.2 Saran
Kami Yakin kepada para orang tua di seluruh wilayah Desa Jagamukti kecamatan Surade
agar lebih memperhatikan terkait dengan masalah pola asuh anak dalam keluarga hal ini
mungkin merupakan PR yang besar bagi semua orang tua karena pada saat ini banyak terjadinya
konflik-konflik serta kurangnya rasa simpati dan empati dari anak dalam pergaulan tersebut
disebabkan oleh pola asuh anak dalam keluarganya.