Anda di halaman 1dari 6

Nama : Umi Rahmiati

NIM : 70200118009

MK : Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat

Kesmas A

Kedudukan Manusia Sebagai Subyek Pembangunan di Bidang Kesehatan


Masyarakat

Manusia adalah subjek pembangunan dalam kehidupannya harus


mampu meningkatkan kualitas hidupnya sebagai insan pembangunan.
Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) secara fisik dan mental
mengandung makna peningkatan kapasitas dasar penduduk yang kemudian
akan memperbesar kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam proses
pembangunan. Tujuan dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan bagi
rakyat untuk menikmati hidup sehat, umur panjang dan menjalankan kehidupan
yang produktif. Pemikiran kontemporer mengenai pembangunan juga telah
menempatkan kembali manusia sebagai subyek atau pusat dari proses
pembangunan. Lembaga PBB telah membuat definisi khusus mengenai
pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan- pilihan
bagi manusia. Dalam konsep tersebut manusia ditempatkan sebagai tujuan akhir,
sedangkan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai
tujuan itu. Dengan demikian, pembangunan manusia lebih dari sekedar
pertumbuhan ekonomi, lebih dari sekedar peningkatan pendapatan dan lebih
dari sekedar proses produksi komoditas serta akumulasi modal (Mailendra,
2009).

Pembangunan SDM menempatkan manusia terutama sebagai input dari


proses produksi sebagai suatu sarana bukan tujuan. Pendekatan kesejahteraan
melihat manusia sebagai pemanfaat (beneficiaries) bukan sebagai objek
perubahan. Pendekatan kebutuhan-kebutuhan dasar memfokuskan pada
penyediaan barang dan jasa kebutuhan hidup. Pembangunan Sumber Daya
Manusia juga secara fisik dan mental mengandung makna peningkatan
kapasitas dasar penduduk yang kemudian akan memperbesar kesempatan untuk
dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan. Kapasitas dasar yang
dimaksud yang sekaligus merupakan tiga nilai pokok keberhasilan
pembangunan ekonomi adalah kecukupan, jati diri, serta kebebasan (Mailendra,
2009).

Pembangunan manusia penting dan perlu mendapat perhatian sebab


pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu dapat memecahkan persoalan
kesejahteraan seperti kemiskinan dan taraf hidup masyarakat secara luas,
sehingga keberhasilan pembangunan dewasa ini seringkali dilihat dari
pencapaian kualitas Sumber Daya Manusianya.

Masyarakat adalah subjek sekaligus objek pembangunan ini benar


adanya. Sebagai subjek, masyarakat atau penduduk ditempatkan sebagai pelaku
dari pembangunan tersebut. Sementara sebagai objek, masyarakat atau
penduduk ditempatkan sebagai sasaran dari pembangunan. Manusia sebagai
subjek karena sebagai pelaksana pembangunan untuk mengeloloa lingkungan
hidup. Manusia sebagai objek pembangunan karena hasil pembangunan
tersebut dirancang untuk kepentingan manusiat itu sendiri. Maka, pembangunan
dilaksanakan oleh dan untuk manusia itu sendiri.

Sumber Daya Manusia merupakan faktor penting dalam pelaksanaan


pembangunan pada suatu Negara. Oleh sebab itu, jumlah dan juga kualitas
SDM tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses
pembangunan. SDM yang melimpah adalah penggerak pembangunan. SDM
yang berkualitas adalah penentu berhasil tidaknya suatu pembangunan. Negara
maju dengan pembangunan ekonomi yang luar biasa mutlak memiliki SDM
yang berkualitas, meski jumlah masyarakatnya tergolong sedikit.
Manusia sebagai sumber daya bagi suatu organisasi tidak sama
karakteristiknya dengan sumber daya alam dan finansial. Sumber daya manusia
sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa adalah makhluk yang kompleks dan
keterpaduan tubuh dan jiwanya, yang tidak dapat dilakukan sebagai mana
kedua sumber lainnya dalam kegiatan bisnis. Suatu organisasi harus memiliki
suatu sumber daya manusia yang kompetitif, sehingga tak mengalami
kemunduran. Oleh karena itu, perlu dilakukan salah satu kegiatan secara
berencana dan berkelanjutan untuk mengembangkan sumber daya manusia.
Pengembangan sumber daya manusia ditujukan untuk mewujudkan manusia
pembangunan yang berbudi luhur, tangguh, cerdas dan terampil, mandiri dan
memiliki rasa kesetiakawanan, bekerja keras, produktif, kreatif, dan inovatif,
disiplin dan orientasi ke masa depan untuk menciptakan kehidupan yang lebih
baik. Sehubungan dengan itu, kegiatan pengembangan sumber daya manusia
dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk membentuk para pegawai agar
menguasai berbagai kemampuan yang dibutuhkan organisasi untuk melakukan
pekerjaan secara efektif dan efisien yang berfokus pada usaha untuk
mempertahankan dan meningkatkan eksistensi organiasi (Barthos, 1999).
Selanjutnya, Noatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa pengembangan sumber
daya manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu peningkatan gizi serta
peningkatan aspek non fisik melalui akumulasi bidang pendidikan dan latihan.
Hal yang sama juga ditekankan oleh Prjono (1996: 34), bahwa perlu investasi
pada pegawai melalui program pendidikan pelatihan dan gizi/kesehatan, agar
pegawai dapat bekerja secara efisien dan efektif.

Sangat diperlukan pendidikan dan pelatihan di dalam suatu organisasi,


sebagaimana yang disebut dengan pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses
pengembangan kemampuan ke arah yang diinginkan oleh organisasi
bersangkutan. Sedangkan pelatihan (training) ialah merupakan bagian ari suatu
proses pendidikan, yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau
keterampilan khusus seseorang atau kelompok orang (Notoatmodjo, 2003).
Garis-Garis Besar Haluan Negara telah mengisyaratkan bahwa
perluasan dan pemerataan kesempatan kerja, serta peningkatan mutu dan
perlindungan kerja merupakan kebijaksanaan pokok. Sumber daya manusia
yang bermutu tunggi dan terlindung akan mempunyai kepercayaan diri yang
tinggi. Dan selanjutnya akan mempunyai bantuan yang besar sekali dalam
meningkatkan produksi. Lain dari sumber daya alam yang bermanfaat tidaknya
bergantung kepada pemanfaatan oleh manusia, maka sumber daya manusia
mempunyai keistimewaan sendiri. Pemanfaatan sumber daya manusia tidak
dapat seenaknya diperlakukan oleh orang lain.

Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya dalam


peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat
dan derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan
kemampuan dan kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan
memperkuat sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan (Nurbeti, M.
2009). Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk
menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu
untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Strategi ini tepatnya ditujukan pada
sasaran primer agar berperan serta secara aktif (Supardan, 2013). Bidang
pembangunan biasanya meliputi 3 (tiga) sektor utama, yaitu ekonomi, sosial
(termasuk di dalamnya bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya), dan
bidang lingkungan. Sedangkan masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep
yaitu masyarakat sebagai sebuah tempat bersama, yakni sebuah wilayah
geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di
daerah pertokoan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan (Nurbeti, M. 2009).
Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :

1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-


program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian
masyarakat.
2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam
melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi
terhadap program tersebut

3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat


dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional (Nurbeti, M.
2009).
Daftar Pustaka

Evani. 2016. Masyarakat Harus Menjadi Subjek Pembangunan.


http:/babelprov.go.id/content/masyarakat-harus-menjadi-subjek-
pembangunan. [Diakses 29 Desember 2019]

Nurbeti, M. 2009. Pemberdayaan Masyarakat dalam Konsep “Kepemimpinan


yang Mampu Menjembatani”. Jakarta: Rineka Cipta.

Suroto. 1989. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.