Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asma adalah gangguan inflamasi kronik pada jalan napas. Inflamasi
kronik ini dapat menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan napas yang
ditandai dengan wheezing, sulit bernapas, dada terasa berat (dada sesak) dan
batuk, terutama terjadi pada malam hari atau menjelang pagi (Lewis,
Heitkemper, Dirksen, O’brien & Bucher, 2007).
Asma adalah gangguan aliran udara intermiten dan reversibel yang
hanya mempengaruhi jalan napas, tidak sampai pada alveoli. Gangguan aliran
udara terjadi dengan 2 cara yaitu inflamasi (peradangan) dan hiperresponsif
jalan napas. Inflamasi terjadi pada lumen (bagian dalam) jalan napas.
Hiperresponsif jalan napas terjadi karena konstriksi otot bronkial yang lembut
yang menyebabkan penyempitan jalan napas kearah luar. Inflamasi jalan
napas dapat memicu hiperresponsif bronkiola dan banyak orang dengan asma
mempunyai masalah yang sama setiap saat. Obstruksi jalan napas yang makin
parah bisa berakibat fatal. Lebih dari 5000 kematian diakibatkan oleh asma
akut terjadi di USA setiap tahun (Ignatavicius & Workman, 2010).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 100-150 juta
penduduk dunia menderita asma. Bahkan, jumlah ini diperkirakan akan terus
bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun. Sumber lain
menyebutkan bahwa pasien asma sudah mencapai 300 juta orang di seluruh
dunia dan terus meningkat selama 20 tahun belakangan ini. Apabila tidak
dicegah dan ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi
peningkatan prevalensi yang lebih tinggi lagi di masa yang akan datang serta
mengganggu kualitas hidup pasien. WHO melaporkan jumlah kematian
didunia tahun 2008 yang diakibatkan asma sekitar 284.000 jiwa. Jumlah
kematian akibat asma di kawasan Asia Tenggara sekitar 107.000 jiwa. Baik di
dunia maupun di kawasan Asia Tenggara, jumlah kematian lebih banyak pada
laki-laki daripada perempuan (Ditjen PP&PL Depkes RI, 2009).
Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun
hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan
kuisioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children)
tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan tahun 2003 meningkat
menjadi 5,2%. Hasil survey asma pada anak sekolah di beberapa kota di
Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang dan
Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun)
berkisar antara 3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat
sebesar 5,8% tahun 1995 dan tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar 8,6%.
Berdasarkan gambaran tersebut diatas, terlihat bahwa asma telah menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian secara serius
(Ditjen PP&PL Depkes RI, 2009).
Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia-
Tahun 2007, di Indonesia penyakit asma ditemukan sebesar 3,5% (diagnosis
oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan prevalensi berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan adalah 1,9%. Menurut provinsi, prevalensi asma
berkisar antara 1,5% di propinsi Lampung hingga 7,2% di Gorontalo. Terdapat
17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional (Depkes,
2008).
Prevalensi penyakit asma di Indonesia menurut karakteristik responden
dibedakan berdasarkan kelompok umur (tahun), jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan dan tempat tinggal. Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma
meningkat dengan bertambahnya umur yaitu pada umur 75 tahun keatas
dengan jumlah 12,4% (diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala)
dan 6,3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Prevalensi asma tidak
berbeda menurut jenis kelamin dimana prevalensi asma pada laki-laki dan
perempuan jumlahnya sama. Menurut tingkat pendidikan, prevalensi asma
paling tinggi pada kelompok tidak sekolah yaitu 8,3% (diagnosis oleh tenaga
kesehatan atau dengan gejala) dan 4,0% (berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan). Menurut jenis pekerjaan utama, prevalensi penyakit asma tertinggi
terdapat pada kelompok tidak bekerja yaitu 5,4% (diagnosis oleh tenaga
kesehatan atau dengan gejala) dan 2,9% (berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan), disusul kelompok petani/nelayan/buruh yaitu 5,4%
(diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan 2,4%
(berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Prevalensi penyakit asma terendah
pada kelompok responden yang masih sekolah yaitu 2,0 % (diagnosis oleh
tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan 1,2 % (berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan). Prevalensi penyakit asma lebih tinggi di daerah pedesaan yaitu 3,9
% (diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan 2,0 %
(berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan) (Depkes, 2008a).
Penyakit asma ditemukan sebesar 2,9% penduduk DKI Jakarta dan
yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 2,2%. Di Kepulauan Seribu
prevalensi penyakit ini lebih besar dari wilayah lainnya (6,6%) demikian pula
yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan (5,3%). Sementara prevalensi paling
rendah ditemukan di Jakarta Barat (2,4%), demikian pula yang didiagnosis
tenaga kesehatan (1,8%). Prevalensi penyakit asma di Jakarta Timur 3,7%
(diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan prevalensi
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 2,6%. Prevalensi penyakit
asma di Jakarta Pusat 3,2% (diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan
gejala) dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 2,4%.
Prevalensi penyakit asma di Jakarta Selatan 2,7% (diagnosis oleh tenaga
kesehatan atau dengan gejala) dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan adalah 2,1%. Prevalensi penyakit asma di Jakarta Utara 2,7%
(diagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala) dan prevalensi
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1,9% (Depkes, 2008b).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimanakah konsep dasar teori dari Asthma?
1.2.2 Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan dari Asthma?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa
khususnya mahasiswa S1 Keperawatan mengetahui konsep teori dan
konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan Asthma.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyususunan makalah ini adalah agar
mahasiswa lebih mengetahui dan memahami:
1.3.2.1 Konsep dasar teori Asthma.
1.3.2.2 Konsep dasar asuhan keperawatan pada Asthma.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Fisiologi Pernafasan
Fungsi primer dari sistem pernapasan adalah untuk menyediakan
oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida. Untuk mencapai
tujuan ini, pernapasan dapat dibagi menjadi empat peristiwa fungsional
pertama, yaitu ventilasi paru (masuk dan keluarnya udara antara atmosfer
dan alveoli paru), difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan
darah, transport oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh
ke dan dari sel, dan pengaturan ventilasi dan hal-hal lain dari pernapasan
(Putri, 2013).
Ventilasi merupakan suatu proses perpindahan masa udara dari luar
tubuh ke alveoli dan pemerataan distribusi udara kedalam alveoli alveoli.
Proses ini terdiri dari dua tahap yaitu inspirasi dan ekspirasi. Paru-paru
dapat dikembang kempiskan melalui dua cara, yaitu diafragma naik turun
untuk memperbesar atau memperkecil rongga dada, serta depresi dan
elevasi tulang iga untuk memperbesar atau memperkecil diameter
anteroposterior rongga dada.
Ventilasi alveolar adalah salah satu bagian yang penting oleh
karena oksigen pada tingkat alveoli inilah yang mengambil bagian dalam
proses difusi. Besarnya ventilasi alveolar berbanding lurus dengan
banyaknya udara yang masuk atau keluar paru, laju napas, udara dalam
jalan napas serta keadaan metabolik. Setelah alveoli diventilasi dengan
udara segar, langkah selanjutnya dalam proses pernapasan adalah difusi
Oksigen dari alveoli ke pembuluh darah paru dan difusi karbondioksida
dari arah sebaliknya melalui membran tipis antara alveolus dan kapiler
(Putri, 2013).

5
Transport oksigen dan karbondioksida terjadi bila oksigen telah
berdifusi dari alveoli kedalam darah paru. Oksigen terutama ditranspor
dalam bentuk gabungan dengan hemoglobin ke kapiler jaringan dimana
oksigen dilepaskan untuk digunakan oleh sel. Oksigen diangkut ke
jaringan dari paru melalui dua jalan, yaitu secara fisik larut dalam plasma,
kira-kira hanya 3% dan secara kimiawi berikatan dengan hemoglobin (Hb)
sebagai oksihemoglobin, kira-kira 97% oksigen ditranspor melalui cara
ini. Sedangkan transpor CO2 dari jaringan ke paru untuk dibuang
dilakukan dengan tiga cara, yaitu sekitar 10% CO2 secara fisik larut dalam
plasma, 20% berikatan dengan gugus amino pada Hb
(Karbaminohemoglobin) dalam sel darah merah, dan 70 % dalam bentuk
bikarbonat plasma (HCO3-).

2. Definisi Asthma
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran
napas yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga
apabila terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi
tersumbat dan aliran udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan
mukus, dan meningkatnya proses radang (Almazini, 2012).
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang
menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma
dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi

6
umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun
dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011).

3. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Genetik.
b. Faktor Presipitasi
 Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contohnya:
debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan
polusi.
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contohnya: makanan
dan obat-obatan.
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
Contohnya: perhiasan, logam, dan jam tangan.
 Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma.
 Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma.
Stress juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada
 Lingkungan kerja
Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab
terjadinya serangan asma.Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
 Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat.

7
4. Klasifikasi
Berdasarkan etiologinya Asma bronkhial dapat diklasifikasikan
menjadi 3 tipe, yaitu
1. Ekstrinsik (alergik): Ditandai dengan reaksi alergik yang
disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu,
serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin)
dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan
adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi.
2. Intrinsik (non alergik): Ditandai dengan adanya reaksi non alergi
yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak
diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh
adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.
3. Asma gabungan: Bentuk asma yang paling umum. Asma ini
mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergi.
Berdasarkan Keparahan Penyakit:
1. Asma intermiten: Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu.
2. Asma persisten ringan: Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu
tetapi < 1 kali dalam 1 hari.
3. Asma persisten sedang (moderate): Gejala muncul tiap hari,
eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam
hari terjadi >1 kali dalam 1 minggu.
4. Asma persisten berat (severe) : Gejala terus menerus terjadi,
eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam hari sering terjadi,
aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%.

5. Manifestasi Klinis
Secara klinis, asma bermanifestasi sebagai serangan dispnea, batuk dan
mengi (suara bersiul lembut sewaktu ekspirasi) (Robbins, 2007). Gejala
sesak napas sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (‘sine qua
non’). Hal tersebut berarti jika penderita menganggap penyakitnya adalah
asma namun tidak mengeluh sesak napas, maka perawat harus yakin

8
bahwa pasien bukan menderita asma. Gambaran klinis pasien yang
menderita asma:
a. Gambaran objektif yang ditangkap perawat adalah kondisi pasien
dalam keadaan seperti di bawah ini:
1) Sesak napas parah dengan ekspirasi memanjang disertai
wheezing.
2) Dapat disertai batuk dengan sputum kental dan sulit
dikeluarkan.
3) Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan.
4) Sianosis, takikardi, gelisah dan pulsus paradoksus.
5) Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apeks dan
hilus).
b. Gambaran subjektif yang di peroleh perawat adalah pasien
mengeluhkan sukar bernapas, sesak dan anoreksia.
c. Gambaran psikososial yang diketahui perawat adalah cemas, takut,
mudah tersinggung dan kurangnya pengetahuan pasien terhadap
situasi penyakitnya. (Somantri, 2008)

Menurut Smeltzer dan Bare (2006), serangan asma biasanya bermula


mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan
pernapasan lambat, mengi, laborius. Ekspirasi selalu lebih susah dan
panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak
dan menggunakan setiap otot-otot aksesoris pernapasan. Jalan napas yang
tersumbat menyebabkan dispnea. Bentuk pada awalnya susah dan kering
tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum, yang terdiri atas sedikit mukus
mengandung masa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukkan dengan susah
payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder hingga hipoksia
hebat dan gejala-gejala retensi karbon dioksida, termasuk berekeringat,
takikardi dan pelebaran tekanan nadi.

9
6. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang
menyebabkan sukar bernafas.Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang
alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila
reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada respon alergi di saluran nafas, antibodi IgE berikatan dengan
alergen menyebabkan degranulasi sel mast. Akibat degranulasi tersebut,
histamin dilepaskan. Histamin menyebabkan konstriksi otot polos bronkiolus.
Apabila respon histamin berlebihan, maka dapat timbul spasme asmatik.
Karena histamin juga merangsang pembentukan mukkus dan meningkatkan
permiabilitas kapiler, maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan
ruang iterstisium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respon IgE yang
sensitif berlebihan terhadap sesuatu alergen atau sel-sel mast-nya terlalu
mudah mengalami degranulasi. Di manapun letak hipersensitivitas respon
peradangan tersebut, hasil akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan
mukus, edema dan obstruksi aliran udara.

7. Pathway
(Terlampir)

8. Pemeriksaan Penunjang
Asma adalah suatu sindroma klinik jadi tidak ada gold standard
untuk diagosanya. Tidak semua data atau pemeriksaan harus ada atau
dikerjakan untuk menegakkan diagnosa karna dengan beberapa
pemeriksaan, diagnosis sudah dapat ditegakkan (Maranatha, 2011).
Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan pada pasien
Asthma antara lain:

10
1) Pemeriksaan Spirometri
Pemeriksaan spirometri atau kadang-kadang disebut tes fungsi
paru bertujuan untuk menunjukkan adanya penyempitan saluran
napas. Caranya, setelah pasien menghirup udara sebanyak-
banyaknya lalu diminta meniupkan udara dengan cepat sampai
habis ke dalam alat yang disebut spirometer. Spirometer adalah alat
pengukur faal paru, selain penting untuk menegakkan diagnosis
juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan
(Sundaru, 2007).
2) Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan rontgen paru dilakukan untuk menyingkirkan
penyakit yang tidak disebabkan asma (Rengganis, 2008).
Pemeriksaan rontgen untuk asma tidak begitu penting. Pada
sebagian besar menunjukkan normal atau hiperinflasi (Maranatha,
2011). Pemeriksaan rontgen paru hanya sedikit membantu dalam
diagnosis asma, karena pemeriksaan ini tidak dapat menunjukkan
adanya penyempitan saluran napas. Tujuan pemeriksaan rontgen
pada asma adalah untuk melihat adanya penyakit paru lain seperti
tuberkulosis atau komplikasi asma seperti infeksi paru atau
pecahnya alveoli (pneumothoraks). Pemeriksaan rontgen ini cukup
dikerjakan sekali dan baru diulang bila terdapat kecurigaan adanya
penyakit lain atau komplikasi dari asma ( Sundaru, 2007).
3) Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah juga tidak banyak membantu dalam diagnosis
asma. Pemeriksaan ini bertujuan selain untuk melihat adanya
infeksi atau anemi juga melihat adanya tanda-tanda penyakit alergi
yang berhubungan dengan asma seperti pemeriksaan jumlah
eosinofil (jenis sel darah putih tertentu), kadar anti IgE dan kadar
IgE spesifik. Pemeriksaan darah yang penting adalah pada waktu
serangan asma yang berat. Disaat pasien sudah tidak dapat meniup
spirometer karena sudah terlalu sesak, pemeriksaan darah yang

11
dilakukan adalah analisis gas darah (AGD) yang dapat menunjukkan
berat ringannya suatu serangan asma.
4) Tes Kulit
Tes ini bertujuan untuk membantu diagnosis asma khususnya
dalam hal menentukan alergen sebagai pencetus serangan asma (
Sundaru, 2007). Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan
adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Uji tersebut untuk
menyokong anamnesis dan mencari faktor penetus.

9. Penatalaksanaan
1. Pengobatan non farmakologik
1) Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien
tentang penyakit asma
2) Menghindari faktor pencetus
3) Fisioterapi
2. Pengobatan farmakologik
1) Agonis beta.Contohnya: Alupent, metrapel
2) Metil Xantin.Contohnya: Aminophilin dan Teopilin
3) Kortikosteroid.Contohnya: Beclometason Dipropinate dengandosis
800 empat kali semprot tiap hari.
4) Kromolin. Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya
anak-anak . Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
5) Ketotifen. Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg
perhari. Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
6) Iprutropioum bromide (Atroven). Atroven adalah antikolenergik,
diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.
3. Pengobatan selama serangan status asthmatikus
1) Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
2) Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul

12
3) Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20
menit dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit)
dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam.
4) Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
5) Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
6) Antibiotik spektrum luas

10. Komplikasi
Keparahan pada asma akut dapat mengakibatkan komplikasi
seperti fraktur tulang rusuk, pneumothorak, pneumomediastinum,
atelektasis, pneumonia dan status asmatikus. Status asmatikus adalah
serangan asma yang makin parah dan mengancam hidup, memerlukan
perawatan karena pasien berisiko mengalami perkembangan kearah
kegagalan pernafasan. Pasien dengan asma yang dikehendaki untuk
dirawat sekitar 10% karena memerlukan ICU untuk memonitor atau
memerlukan bantuan ventilator untuk status asmatikus (Lewis, et al.
2007).

2.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesis pada pasien. Data-
data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :
A. Identitas Pasien
Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin,
alamat rumah, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan
terakhir, nomor registrasi, pekerjaan pasien, dan nama penanggung jawab.
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering muncul pada pasien dengan penyakit asma
yaitu: sesak nafas biasanya disertai dengan batuk dan nyeri pada
bagian dada.

13
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan penyakit asma biasanya diawali dengan sesak nafas ,
batuk yang timbul secara tiba tiba.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan juga apakah pasien sebelumnya pernah menderita
Asma, tanyakan kepada pasien apakah pasien memiliki alergi terhadap
asap rokok,debu, dan beberapa jenis makanan atau obat. Hal ini perlu
diketahui untuk melihat ada tidaknya faktor predisposisi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama dengan pasien.
C. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
1. Persepsi dan pnangan kesehatan
Pengkajian dilakukan untuk mengtahui persepsi pasien mengenai
kesehatannya. Pentingnya sehat bagi pasien dan apa kiat yang
dilakukan untuk tetap sehat. Kaji penanganan pertama pasie saat sakit.
2. Pola nutrisi dan metabolik
Observasi tipe kualitas, kuantitas, frekuensi makan dan minum.
3. Pola eliminasi
Observasi BAB dan BAK pasien, bagaimana BAB atau BAK nya
normal atau bermasalah, seperti dalam hal warna feses /urine, seberapa
sering, seberapa banyak, cair atau pekat, ada darah tau tidak,dll.
4. Aktivitas dan latihan
Observasi apakah pasien masih mampu bergerak, melakukan aktivitas
atau hanya duduk saja(aktivitas terbatas). Biasanya pasien dengan
anemia mengalami kelemahan pada tubuhnya akibat kurangnya suplai
oksigen ke jaringan tubuh.
5. Tidur dan istirahat
Kaji kebutuhan/kebiasaan tidur pasien apakah nyenyak/sering
terbangun di sela-sela tidurnya.

14
6. Kognitif-persepstual
Kaji gangguan penglihatan, pendengaraan, indera perabaan, kaji nyeri,
lokasi, intensitas, yang memperberat, kaji status kesadaran pasien.
7. Persepsi diri-konsep diri
Kaji bagaimana pasien memandang dirinya, kaji tingkat kecemasan,
ketakutan pasien, minta pasien menggambarkan dirinya.
8. Pola peran-hubungan
Kaji struktur keluarga pasien, cara hidup, teman dekat, tanyakan peran
pasien dikeluarga, sekolah, dan masyarakat, kaji kesulitan pasien
terhadap peran.
9. Seksual-reproduksi
Kaji bagaimana pola seksual pasien.
10. Koping-toleransi
Kaji sumber stress, tanyakan metode koping stress.
11. Kepecayaan
Tanyakan sejauh apa peran agama bagi pasien, bagaimana agama
merefleksikan kedalam dirinya.
D. Pemeriksaan fisik
1) Rambut dan hygene kepala
Warna rambut hitam, tidak berbau, rambut tumbuh subur, dan kulit
kepala bersih.
2) Mata ( kanan/kiri )
Posisi mata simetris, konjungtiva ananemis, skelera putih, dan pupil
isokor, dan respon cahaya baik.
3) Hidung
Simetris kiri dan kanan, tidak ada pembengkakkan, dan berfungsi
dengan baik.
4) Mulut dan tenggorokan
Rongga normal, mukos terlihat pecah-pecah, tonsil tidak ada
pembesaran.
5) Telinga
Simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, dan pendengaran tidak
terganggu.
6) Leher
Kelenjar getah bening, sub mandibula, dan sekitar telinga tidak ada
pembesaran.
7) Dada/ thorak
a. Inspeksi

15
Pada klien dengan asma terlihat adanya peningkatan usaha dan
frekuensi pernapasan serta penggunaan otot bantu napas. Pada
inspeksi, klien biasanya tampak mempunyai bentuk dada barrel
chest (akibat udara yang terperangkap), penipisan massa otot, dan
pernapasan dengan bibir dirapatkan. Pernapasan abnormal tidak efektif
dan penggunaanotot-otot bantu napas(sterno kleidomastoideus). Pada
tahap lanjut, dispnea terjadi saat aktivitas bahkan pada aktivitas
kehidupan sehari-hariseperti makan dan mandi.
b. Palpasi
Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya
menurun.
c. Perkusi
pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan
diafragma menurun.
d. Auskultasi
Sering didapatkan adanya bunyi napas ronkhi dan wheezing sesuai
tingkat beratnya obstruktif pada bronkhiolus. Pada pengkajian lain,
didapatkan kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar
karbondioksida yang tinggi (hiperkapnea) terjadi pada tahap lanjut
penyakit. Pada waktunya, bahkan gerakan ringan sekali pun sepert
imembungkuk untuk mengikatkan tali sepatu, mengakibatkan dispnea
dan keletihan (dispnea eksersional). Paru yang mengalami
emfisematosa tidak berkontraksi saat ekspirasi dan bronkhiolus tidak
dikosongkan secara efektif dari sekresi yang dihasilkan.
8) Kardiovaskular
a. Irama jantung regular; S1, S2 tunggal.
b. Nyeri dada ada, biasanya skala 6 dari 10
c. Akral lembab
d. Saturasi Hb O2 hipoksia
9) Persyarafan
a. Keluhan pusing ada
b. Gangguan tidur ada
10) Perkemihan B4 (bladder)
a. Kebersihan normal
b. Bentuk alat kelamin normal
c. Uretra normal
11) Pencernaan
a. Anoreksi disertai mual
b. Berat badan menurun
12) Muskuloskeletal/integument
a. Berkeringat
b. Massa otot menurun
E. Data Penunjang
1. Analisa gas darah

16
 Pa O2 :rendah (normal 80 – 100 mmHg)
 Pa CO2: tinggi (normal 36 – 44 mmHg).
 Saturasi hemoglobin menurun.
 Eritropoesisbertambah
2. Tes fungsi paru: Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat
obstruksi.
3. Foto sinar X rontgen

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan Asthma menurut
SDKI 2016 yaitu:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan
napas.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi.
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.

3. Intervensi Keperawatan
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan
napas.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam
diharapkan bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria hasil:
a. Tidak ada dispnea
b. Perkusi paru sonor
c. Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
d. Tidak ada batuk produktif
Intervensi:
a. Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada.

17
Rasional: Tachipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak
simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan
dinding dada/atau cairan paru.
b. Auskultasi area paru, catat area penurunan/tidak ada aliran
udara dan bunyi nafas lain.
Rasional: Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi
dengan cairan. Bunyi nafas bronkhial (normal pada bronkhus)
dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels terdengar pada
inspirasi.
c. Atur posisi semi fowler.
Rasional: Posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih
dalam dan lebih kuat.
d. Berikan obat sesuai indikasi: mukolitik,
ekspektoran, bronkodilator, analgetik.
Rasional: Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan
mobilisasi sekret. Analgetik diberikan untuk memperbaiki
batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus
digunakan dengan hati-hati.
e. Berikan cairan tambahan IV atau oksigen.
Rasional: Cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan
(termasuk tak tampak) dan memobilisasikan sekret.
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam,
status respirasi pertukaran gas adekuat.
Kriteria hasil :
- Menunjukkan pertukaran gas efektif
- pH : 7.35 – 7.45
- PaCO2 : 35 – 45 %
- PaO2 : 85 – 100 %
- BE : + 2 s/d – 2 meq/L
- SaO2 : 96-97 %

18
- Tidak ada dyspnea dan sianosis, mampu bernafas dengan mudah
- Menunjukkan ventilasi adekuat, ekspansi dinding dada simetris,
suara nafas bersih, tidak ada : penggunaan otot-otot nafas
tambahan, retraksi dinding dada, nafas cuping hidung, dyspnea,
taktil fremitus
- TTV dalam batas normal
- Menunjukkan orientasi kognitif baik, dan status mental adekuat
- Menunjukkan keseimbangan elektrolit dan asam basa
- Na : 135 – 145 meq/L
- Cl : 100-106 meq /L
- K : 3,5 – 5.5 meq/L
- Mg :1,5 – 2,5 meq / L
- Ca : 8,5- 10,5 meq /L
- BUN : 10-20 mg/dl

Intervensi :
a. Kaji bunyi paru, frekuensi, kedalaman, usaha nafas, dan produksi
sputum.
Rasional : mengetahui pernafasan pasien.
b. Identifikasi kebutuhan insersi jalan nafas, dan siapkan klien untuk
tindakan ventilasi mekanik sesuai indikasi
Rasional : kebutuhan insersi jalan nafas pasien perlu di monitor,
untuk mengetahui apakah pasien memerlukan tindakan
pemesangan ventilator.
c. Monitor vital sign, adanya sianosis, dan efektifitas pemberian
oksigen yang dilembabkan.
Rasional : mengetahui perkembangan kondisi pasien.
d. Monitor tanda-tanda gagal nafas : hasil AGD abnormal, kelelahan.
Rasional : hasil AGD sangat berpengaruh terhadap kondisi pasien,
termasuk dalam kejadian gagal nafas.
e. Monitor status neurologi dan atau neuromuskular : tingkat
kesadaran dan adanya kebingungan, parestesia, kejang

19
Rasional : pada pasien dengan gagal nafas, biasanya mengalami
penurunan kesadaran akibat gangguan pertukaran gas.
f. Pertahankan kepatenan IV line, dan balance cairan
Rasional : Cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan
(termasuk tak tampak).
g. Kolaborasi dgn Tim medis : pemberian O2, obat bronkhodilator,
terapi nebulizer / inhaler, insersi jalan nafas.
Rasional : Pemberian O2 akan membantu memenuhi kebutuhan O2
tubuh.
3) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedra fisiologis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam
diharapkan pasien tidak mengeluh nyeri.
Kriteria hasil :
- Mengungkapkan dan tegang berkurang
- Skala nyeri 0-1 (dari 1-10)
- Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri
- Kooperatif dngan tindakan yang dilakukan
- TTV dalam batas normal. TD: 110-125/60-80 mmHg, Suhu: 36,5-
37,5 0C, Nadi: 60-100 x/menit, RR: 16-20 x/menit.
Intervensi :
a. Kaji sifat dan durasi nyeri
Rasional: menandakan ketepatan pilihan tindakan.
b. Kaji TTV pasien.
Rasional : pada pasien yang mengalami nyeri biasanya terjadi
peningkatan frekuensi nadi dan pernapasan.
c. Instruksikan teknik relaksasi, posisikan senyaman mungkin
gunakan sentuhan terapeutik.
Rasional: dapat membantu dalam reduksi ansietas dan ketegangan
dan meningkatkan kenyamanan.
d. Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional : analgetik dapat meredakan nyeri.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

20
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jan
diharapkan klien toleran terhadap aktivitas
Kriteria hasil:
a. Klien tidak tampak kelemahan
b. Dyspnea berkurang
c. Tidak ada dyspnea saat aktivitas
d. Tidak ada sianosis setelah aktivitas
e. Dapat beraktivitas optimal
Intervensi:
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, catat lapoan dispnea.
Peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital
selama dan setelah aktivitas
Rasional: Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan intervensi.
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas yang sesuai dan
berikan aktivitas yang menyenangkan sesuai dengan
kemampuan dan minat anak.
Rasional: Menurunkan kebutuhan O2.
c. Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung selama
fase akut sesuai indikasi.
Rasional: Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan,
meningkatkan istirahat.
d. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan
perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
Rasional: Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk
menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk
penyembuhan.
e. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
Rasional: Meminimalkan kelelahan dan membantu
keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
5) Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

21
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam
diharapkan pengetahuan pasien bertambah.
Kriteria hasil:
- Klien mengetahui penyebab dan factor yang berkontribusi terhadap
terjadinya penyakit.
- Mengetahui tanda dan gejalan dari penyakit
- Klien mengetahui factor resiko

INTERVENSI

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien.


Rasional: dengan menggali level pengetahuan mengenai penyakit
kepada pasien , perawat dapat melakukan intervesi yang tepat
2. Jelaskan tentang penyakit yang dialami pasien (penyebab, factor
resiko, dampak yang ditimbulkan, gejala dan tanda penyakit).
Rasional: dengan menjelaskan patofisilogi dan manifestasi
klinisnya, diharapkan pasien tidak bingung lagi terhadap
penyakitnya.
3. Jelaskan tentang program pengobatan dan alternative obat
Rasional: mempermudah intervensi
4. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk
mencegah komplikasi
Rasional: mencegah keparahan penyakit
5. Tanyakan kembali pengetahuan pasien tentang penyakit yang
sudah dijelaskan sebelumnya
Rasional: untuk mereview apakah pasien sudah mengetahui
tentang penyakitnya.

4. Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi
yang telah dibuat.

22
5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan
napas.
a. Tidak ada dispnea
b. Perkusi paru sonor
c. Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
d. Tidak ada batuk produktif
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi.
a) Menunjukkan pertukaran gas efektif
 pH : 7.35 – 7.45
 PaCO2 : 35 – 45 %
 PaO2 : 85 – 100 %
 BE : + 2 s/d – 2 meq/L
 SaO2 : 96-97 %
b) Tidak ada dyspnea dan sianosis, mampu bernafas dengan mudah
c) Menunjukkan ventilasi adekuat, ekspansi dinding dada simetris,
suara nafas bersih, tidak ada : penggunaan otot-otot nafas
tambahan, retraksi dinding dada, nafas cuping hidung, dyspnea,
taktil fremitus
d) TTV dalam batas normal. TD: 110-125/60-80 mmHg, Suhu: 36,5-
37,5 0C, Nadi: 60-100 x/menit, RR: 16-20 x/menit
e) Menunjukkan orientasi kognitif baik, dan status mental adekuat
f) Menunjukkan keseimbangan elektrolit dan asam basa
 Na : 135 – 145 meq/L
 Cl : 100-106 meq /L
 K : 3,5 – 5.5 meq/L
 Mg :1,5 – 2,5 meq / L
 Ca : 8,5- 10,5 meq /L
 BUN : 10-20 mg/dl

23
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
- Mengungkapkan dan tegang berkurang
- Skala nyeri 0-1 (dari 1-10)
- Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri
- Kooperatif dngan tindakan yang dilakukan
- TTV dalam batas normal. TD: 110-125/60-80 mmHg, Suhu: 36,5-
37,5 0C, Nadi: 60-100 x/menit, RR: 16-20 x/menit.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
a. Klien tidak tampak kelemahan
b. Dyspnea berkurang
c. Tidak ada dyspnea saat aktivitas
d. Tidak ada sianosis setelah aktivitas
e. Dapat beraktivitas optimal

5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.


a) Klien mengetahui penyebab dan factor yang berkontribusi terhadap
terjadinya penyakit.
b) Mengetahui tanda dan gejalan dari penyakit
c) Klien mengetahui factor resiko

24
BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan

3.2. Saran
Dalam keterbatasan yang penulis miliki, tentunya makalah ini
sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, masukan/saran yang baik
sangat diharapkan guna memperbaiki dan menunjang proses perkuliahan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma


Berat.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. (2009). Pedoman
Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I.

Ignatavicius,D.D. & Workman, M.L. (2010). Medical Surgical Nursing : Critical


Thinking For Coolaborative Care. Sixth Edition. Volume 1. USA :
Saunders Elsevier.

Lewis,S.L., Heitkemper,M.M., Dirksen, S.R., O’brien, P.G. & Bucher,L. (2007).


Medical Surgical Nursing : Assesment and Management of Clinical
Problems. Sevent Edition. Volume 2. Mosby Elsevier.
Maranatha, D.(2010). Asma Bronkial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010.
(2011). Surabaya : Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair – RSUD Dr
Soetomo.

Putri, E. S. 2013. Diagnosis Dan Tatalaksana Gagal Nafas Akut. Jakarta: FK


UPN Veteran pp. 1–37.
Rengganis, I. (2008). Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Majalah
Kedokteran Indonesia, 58 (11), 444-453.Jakarta : Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM.

Robbins, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. Jakarta: EGC.

Saheb, A. 2011.Penyakit Asma. Bandung: CV medika


Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2006. Buku Ajar Medikal-Bedah. Edisi
8.Volume 1. Jakarta: EGC.

Soemantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan


Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Sundaru, H. (2007). Asma : Apa dan Bagaimana Pengobatannya. Edisi VI.


Jakarta : Gaya Baru.

26
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Indikasi dan Indikator Diagnostik Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

27