Anda di halaman 1dari 284

Dengan segala puji syukur, kami persembahkan

buku ini kepada

..........................................................................

dengan ucapan:

..........................................................................

dari:

..........................................................................
Apologetika
Benarkah Yesus Itu Tuhan?
KALIS STEVANUS

Penerbit ANDI - Yogyakarta


Apologetika: Benarkah Yesus Itu Tuhan?
Oleh: Kalis Stevanus
Hak cipta © 2016 pada penulis
Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2016
x + 278 hlm; 15 x 23 cm
1. Apologetika 2. Kristen
DDC. 239

ISBN: 978 979 29 ...............

Penerbit ANDI
(Penerbit Buku dan Majalah Rohani)
Anggota IKAPI
Jl. Beo 38–40 Yogyakarta 55281
Email: editor.pbr@gmail.com
Telp.: 0274-561881, 584858; Fax.: 0274-523160

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk
apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit/penulis sesuai ­Undang-undang
Hak Cipta dan moral kristiani

_____________________________________________________________

PBRA : ................
Peredaksi : Daniel Yudiyanto
Desain sampul : Tri Widyatmaka
Penata Aksara : Parto
Percetakan : Andi Offset Yogyakarta

Cetakan ke : 5 4 3 2 1
Tahun : 20 19 18 17 16

iv
Daftar Isi

Pengantar........................................................................................ vii
Pendahuluan...................................................................................... 1
1. Apa Itu Apologetika?................................................................. 9
2. Sejarah Apologetika.................................................................. 49
3. Logika, Allah, dan Manusia......................................................55
4. Apologetika Eksistensi Allah.................................................... 71
5. Apologetika Otoritas Alkitab................................................. 103
6. Apologetika Kristologi............................................................203
Penutup..........................................................................................255
Daftar Pustaka................................................................................273


Pengantar

S
aya mengetahui sudah ada beberapa buku membicarakan
tentang apologetika. Namun, hal itu tidak berarti cukup.
Saya memberanikan diri menulis buku ini sebagai kontribusi
untuk memperkaya khazanah (perbendaraan) theologia Kristen
di Indonesia, terutama tentang apologetika. Saya yakin buku ini
memiliki tempat dan nilai tersendiri bagi para pembaca (pembaca
akan menemukannya setelah selesai mempelajari keseluruhan isi
buku ini).
Buku ini lahir dari bahan kuliah yang saya ampu di STT
Tawangmangu. Meskipun pertama-tama buku ini disediakan un­
tuk mahasiswa theologi, penyusunan buku ini juga diarahkan
kepada pembaca umum, baik yang sudah maupun belum Kristen
(yang sedang mencari “jalan” kepada kepastian keselamatan).
Dengan demikian, saya menujukan penulisan buku ini kepa­
da dua jenis pembaca. Pertama, buku ini ditujukan untuk menjadi
buku pegangan (textbook) di sekolah theologi atau seminari yang
berusaha menolong orang berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan
filosofis berkaitan dengan klaim kekristenan maupun serangan
yang menyerang atau menyanggah klaim kekristenan tersebut.

vii
Kenyataan dari zaman ke zaman terdapat kritik negatif (baca:
serangan) terhadap klaim kebenaran kekristenan. Sanggahan-
sanggahan yang diajukan untuk melawan kekristenan memang
sangat banyak sehingga tidak mungkin dibahas satu persatu dalam
buku ini. Saya tidak bermaksud untuk menyelesaikan semua po­
kok atau isu-isu yang menyerang klaim kekristenan tersebut, tetapi
saya mencari signifikansi dari lingkup apologetika, yaitu pada tiga
isu utama, Allah, otoritas Alkitab, dan Yesus Kristus sebagai Tuhan
dan Juruselamat (tentu saja, lingkup apologetika lebih dari ketiga
isu ini). Lebih tepat, buku ini ditulis sebagai pengantar pada studi
apologetika.
Akan tetapi, saya juga menulis buku ini untuk pembaca
umum yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pertanyaan-
pertanyaan filosofis tersebut. Itulah sebabnya argumentasi dalam
pembahasan buku ini sengaja saya uraikan secara cermat, ringkas
(tanpa meninggalkan bobot theologinya), dan tepat dengan ba­
hasa yang mudah untuk menjadikan pemaparan topik ini jelas
dan mudah dibaca. Tujuannya adalah materi ini bisa dipahami dan
diterapkan bukan hanya bagi para mahasiswa theologi, melainkan
juga bagi para pembaca pada umumnya (kaum awam) sebagai
introduksi untuk memacu pembaca pada umumnya (kaum awam)
untuk belajar lebih dalam agar kita mengerti pokok-pokok dasar
dari iman Kristen dengan tepat dan mengerti cara memberi
pertanggungjawaban atau menjawab ketika menghadapi kritik
negatif (baca: serangan) terhadap klaim kekristenan.
Daftar pustaka berisi sejumlah buku yang disarankan untuk
mempelajari lebih jauh pokok bahasan ini. Dalam menyusun buku
ini, saya banyak mengambil dari sumber-sumber dalam karangan
ini meskipun tidak dituliskan dalam catatan kaki. Kepada para
penulis buku-buku tersebut, saya menyatakan penghargaan yang
sebesar-besarnya.

viii Apologetika
Saya mengundang para kritikus yang menolak dan atau
orang-orang yang skeptis terhadap klaim kekristenan, maupun
semua orang yang mencari “kebenaran” untuk berdialog dengan
saya demi mewujudkan kebersamaan dalam mencapai kebenaran
absolut pada “jalan” kepastian keselamatan secara akal sehat, jujur,
dan objektif serta suasana damai.
Meskipun saya sudah berusaha menulis buku ini dengan
sebaik-baiknya, tetapi saya menyadari bahwa buku ini masih
memiliki banyak kekurangan. Untuk itu, saya terbuka untuk belajar
dari para pakar atau theolog (yang mencintai Alkitab adalah firman
Allah tanpa salah) dan mengharapkan masukan yang memberi
koreksi untuk terbitan yang akan datang.
Doa dan harapan saya, buku ini membawa berkat bagi
umat Tuhan di Indonesia sehingga memperbesar kasih mereka
akan firman Allah. Pada gilirannya, ia akan membagikan atau
mewartakan firman Allah tersebut dengan kerinduan untuk
membawa jiwa-jiwa kepada Sang Juruselamat, Tuhan Yesus, dan
hidup yang kekal, “Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23).
Kiranya Tuhan memberkati usaha untuk mewartakan fir­
man-Nya dan memasyurkan nama-Nya sehingga buku ini menjadi
berkat bagi banyak orang, “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah
nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari
hari ke hari” (Mzm. 96:2). Haleluyah.

Pendahuluan ix
Pendahuluan

A. Sebuah Fakta
Tidak jarang kita dihadapkan dengan orang yang mempertanyakan
iman dan kepercayaan kita dan alasan kita memercayai hal itu.
Mengapa kita percaya Yesus adalah Tuhan? Mengapa kita percaya
bahwa hanya Yesuslah jalan keselamatan? Mengapa kita berharap
atas langit dan bumi baru? Rasul Petrus mengajarkan agar kita
senantiasa siap memberikan pembelaan mengenai alasan kita bisa
mempunyai pengharapan dalam Kristus dan menyampaikannya
dengan elegan, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu
sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta per­
tanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada pada­
mu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat ...” (1 Ptr.
3:15). Dalam teks aslinya, kata “pertanggungan jawab” berasal dari
kata Yunani apologia yang artinya “pembelaan”. Dari akar kata
inilah kita mengenal istilah apologetika yang berarti pembelaan
iman berdasarkan pola pikir yang sistematis.


Apabila kita memupuk pengenalan dan pengalaman pri­
badi kita dengan Tuhan, kita memiliki kesaksian dalam diri kita
bahwa hal yang kita percayai adalah benar. Namun, tidak cukup
di situ sebab kita harus menjelaskan kepada orang lain yang
mempertanyakan iman dan pengharapan kita.
Berikut ini ilustrasi untuk menggambarkan hubungan antara
orang Kristen dan apologetika:

“Apologetika alkitabiah dapat dibandingkan dengan hubungan


seorang raja dengan jenderal-jenderalnya. Kita mengetahui
bahwa jenderal-jenderal itu bertanggungjawab untuk membela
dan mempertahankan raja mereka seperti halnya apologetika
terhadap Alkitab. Dan kita juga mengetahui bahwa jenderal-
jenderal yang patuh dan terhormat akan membela raja mereka
sesuai dengan perintah atau komando dan petunjuk dari raja
mereka.”

Jadi, pada dasarnya semua orang Kristen “wajib” berapo­


logetika. Orang Kristen tidak bisa dipisahkan dari Alkitab, de­
mikian juga orang Kristen dan apologetika. Alkitab sering kali
dituduh mengandung banyak kesalahan. Alkitab sebagai fir­
man Tuhan adalah fondasi kita membangun pembelaan kita
(apologetika). Ini merupakan salah satu kepercayaan yang harus
kita pertahankan. Apologetika dalam praktiknya harus menaati
secara mutlak prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang
diwahyukan Alkitab. Sering kali, peran orang Kristen untuk ber-
apologetika (membela Alkitab) dilupakan. Sebagai orang Kristen,
kita harus selalu mengingat untuk membangun pembelaan iman
kristiani di atas dasar fondasi yang teguh, yaitu Alkitab.

B. Tujuan Buku Ini


Buku ini memiliki beberapa tujuan, yaitu: pertama, me­nunjukkan
secara ringkas dan sederhana dasar kebenaran yang diklaim

 Apologetika
kekristenan. Kedua, memperlihatkan bahwa esensi kekristenan
adalah rasional sebab sesuatu yang irasional tidaklah patut di­
jadikan sebagai dasar kepercayaan. Sungguh bodohlah yang
me­mercayai irasionalitas. Memercayai sesuatu yang irasional bu­
kanlah ber­pegang pada iman, tetapi kekonyolan (iman yang buta
dan bukan berdasarkan penalaran). Kekristenan adalah rasional, te­
tapi kekristenan berbeda sama sekali dengan rasionalisme. Jadi, se­
seorang tidak perlu menjadi penganut rasionalisme untuk men­ja­di
rasional. Paul Little mengatakan bahwa sesungguhnya kekristenan
adalah rasional atau masuk akal. Iman dalam kekristenan adalah
berdasarkan atas bukti. Iman kekristenan adalah iman yang masuk
akal. Iman dalam pengertian kristiani adalah “melampaui” akal,
bukan bertolak belakang dengan akal budi.
Ketiga, orang-orang akan mulai melihat bahwa pencarian
secara rasional dan penelitian secara empiris berfungsi untuk
mendukung kebenaran yang diklaim kekristenan, bukan meren­
dahkannya. Kekristenan berdasarkan pada lebih dari sekadar
penalaran manusia saja, tetapi tidak juga kurang dari penalaran
manusia. Meskipun wahyu ilahi membawa kita melampaui ba­
tasan perhitungan rasional, tetapi tidak tenggelam di bawah garis
pemahaman rasional.
Dr. Richard Pratt mengungkapkan bahwa sesungguhnya akal
budi manusia dapat merupakan penghalang dan juga penolong
dalam iman kepada Kristus. St. Agustinus mendasarkan, ”Percaya
supaya kamu dapat mengerti.” Untuk meletakkan iman kita pada
pemikiran yang mandiri (terlepas dari Allah) adalah sama dengan
pemberontakan melawan Allah. Akal budi harus berdasarkan
kepada iman kita yang diserahkan kepada Kristus dan iman kita
harus bersandar hanya kepada Allah.


Richard L. Pratt, Menaklukan Segala Pikiran kepada Kristus (Malang:
SAAT, 1994), 108.

Ibid, 109.

Pendahuluan 
Terakhir, apologetika menolong orang-orang Kristen me­
nge­tahui hal yang mereka percayai dan alasan mereka memer­
cayainya.
Buku ini akan menguraikan dasar fondasi alkitabiah me­
ngenai jawaban segala pertanyaan yang meragukan klaim ke­
kristenan, misalnya keontentikan dan otoritas Alkitab, keilahian
Yesus, kelahiran dari perawan Maria, dan kebangkitan Yesus dari
antara orang mati. Setelah Anda membaca buku ini, Anda akan
dibuat heran dan kagum bahwa semua isi Alkitab adalah logis
dan benar-benar terjadi—faktual. Alkitab tidak bertentangan
dengan sains, justru sains (yang objektif) menyingkapkan dan
mengesahkan kebenaran Alkitab. Saya mengharapkan iman Anda
semakin diperteguh. Selanjutnya, Anda tidak perlu terpengaruh
apa pun yang menyerang iman Anda.
Jika Anda belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru­
selamat dan Anda mendapatkan buku ini, saya yakin itu kehendak
Tuhan dan berkat besar bagi hidup Anda. Anda akan menemukan
kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan Anda (dari
kegelapan, kebodohan, kesesatan, dan kebinasaan kekal). Tuhan
Yesus menegaskan, “dan kamu akan mengetahui kebenaran,
dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Anda
menemukan Yesus berarti Anda telah menemukan kebenaran.
Menemukan kebenaran sama artinya menerima hidup yang
kekal sebab hidup yang kekal hanya ada dalam Yesus, “Kata Yesus
kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’”
(Yoh. 14:6).
Di bab penutup, Anda akan dituntun cara menerima Yesus
secara benar dan tinggal dalam Dia.
Jadi, perhatian utama tugas apologetika Kristen ialah pada
menyediakan pembelaan terhadap kebenaran yang diklaim iman
Kristen secara intelektual dan pimpinan Roh Kudus.

 Apologetika
C. Isi Buku Ini
Buku ini sengaja saya batasi untuk berargumentasi mengenai
kepercayaan pada “kekristenan saja”, yaitu pokok-pokok utama
ajaran Kristen yang ditantang oleh orang-orang belum percaya
dewasa ini seperti eksistensi Allah, otoritas atau keabsahan
Alkitab, keilahian dan kebangkitan Kristus, serta memberikan
jawaban terhadap keberatan-keberatan paling kuat dan umum
yang melawan atau menolak klaim kekristenan.
Pertanyaan yang dihadapi apologis Kristen adalah bagaimana
seharusnya kita memulai argumentasi. Sesungguhnya, secara
urutan tidak ada kemutlakan mana yang harus didahulukan. Buku
ini akan menyoroti tiga isu utama dalam apologetika Kristen, yaitu
Allah, Alkitab, dan Yesus Kristus. R.C Sproul mengatakan bahwa
awal yang baik bagi apologetika adalah membahas mengenai
eksistensi Allah, selanjutnya otoritas Alkitab. Apabila Allah dan
Alkitab telah diyakini, yaitu bahwa Allah eksis (ada) dan Dia telah
mewahyukan diri-Nya kepada kita, isu-isu lain yang berkaitan
dengan kekristenan akan menjadi sederhana. Isu-isu mengenai
keilahian Kristus, kebangkitan, surga, dan neraka dapat diatasi
dengan interpretasi Alkitab (hermeneutika) yang teliti dan hati-
hati. Ada juga tokoh lain yang berpendapat bahwa sebaiknya
apologetika dimulai dengan usaha membuktikan keilahian Kristus
melalui sejarah, kemudian baru berargumentasi tentang eksistensi
Allah.
Sesungguhnya, isi atau lingkup pembahasan apologetika
cukup luas berkaitan dengan isu-isu kekristenan, tetapi di sini saya
memprioritaskan pada pembahasan mengenai isu-isu apologetika
yang saya anggap paling krusial seperti disebutkan sebelumnya
(Allah, Alkitab, dan Yesus Kristus). Sebelum memasuki isu-isu


Ibid, 18

Pendahuluan 
apologetika tersebut, saya akan membahas korelasi antara iman
dan akal budi.

D. Bagaimana Memanfaatkan Buku Ini?


Fakta menunjukkan bahwa kekristenan mendapat serangan,
umpatan, dan fitnahan mulai dari kaum awam hingga ilmuwan.
Kekristenan dianggap loncatan dalam kebutaan, iman yang
tidak masuk akal. Musuh-musuh kekristenan telah melantunkan
serangan mereka dalam jangka waktu yang lama. Mereka se­
cara terus-menerus menyerang bahwa kekristenan itu agama
berdasarkan iman yang buta, bukan berdasarkan penalaran.
Inilah pentingnya orang Kristen memahami dengan benar
isi imannya sehingga dapat memberi pertanggungjawaban keti­
ka menghadapi pertanyaan-pertanyaan maupun prasangka-pra­
sangka yang keliru tentang kekristenan. Apologetika adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari prinsip-prinsip dan metode-
metode untuk membela kebenaran Kristen secara intelektual dari
sanggahan-sanggahan, pertanyaan-pertanyaan, kesalahpengerti­
an, prasangka-prasangka, dan pada akhirnya meyakinkan mereka
un­tuk memiliki iman yang sama. Sproul menambahkan bahwa
membela iman dengan kemampuan (intelektual) kita sebaik
mungkin bukanlah hal yang keliru atau sia-sia. Hal ini adalah tugas
yang diberikan pada setiap orang Kristen untuk menyaksikan iman
kita kepada dunia.
Perlu ditegaskan bahwa tugas apologetika bukan hanya
untuk memenangkan argumentasi atau perdebatan, melainkan
memenangkan jiwa. Inilah alasan paling esensi dan mendasar.
Orang Kristen harus mau terlibat dalam apologetika. Dengan
demikian, orang yang belum percaya bisa mendengar kebenaran
Kristus dan diselamatkan (Rm. 10:14). Mempelajari materi dalam

. Ibid, 7

 Apologetika
buku ini secara saksama akan membantu orang-orang percaya
menemukan solusi untuk mengantisipasi bermacam-macam per­
tanyaan atau isu-isu yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
berkaitan dengan klaim oleh kekristenan. Selain itu, orang-orang
percaya akan selalu siap mewartakan Kabar Baik yang meyakinkan
dan rasional.
Pada bagian akhir buku ini, setelah kita memberitakan
Kristus kepada seseorang melalui apologetika dengan menjawab
pertanyaan, keingintahuan, maupun keraguan seseorang terhadap
Kristus, saya akan mengembalikannya pada pokok persoalan
yang paling utama yaitu menghubungkannya dengan Kristus—
bagaimana menerima Yesus sebagai Juruselamat dan mengikuti
Dia sebagai Tuhan. Jadi, buku ini sangat besar manfaatnya bagi
orang percaya. Tidak hanya meneguhkan imannya dalam Kristus,
buku ini juga membekalinya dengan bukti-bukti internal maupun
eksternal yang tidak terbantahkan. Dengan demikian, orang
percaya mampu mewartakan Kabar Baik kepada orang lain dengan
lebih efektif dan berhasil untuk penjangkauan jiwa-jiwa yang
belum terselamatkan bagi Kerajaan Allah.
Ketika memanfaatkan materi-materi ini, kita harus dilandasi
dengan sikap hormat dan lemah lembut serta dengan tujuan
memuliakan dan memasyurkan nama Tuhan—bukan sekadar
untuk memenangkan argumentasi! ***

Pendahuluan 
1

Apa Itu Apologetika?

A. Pengertian Apologetika
Apologetika merupakan kata teknis untuk menggambarkan alasan
dari hal yang kita percayai. Jika kita berbicara tentang Yesus
kepada orang non-Kristen, kita sesungguhnya telah menggunakan
apologetika untuk menjelaskan kepercayaan kita. Hampir di­
pastikan, kita sudah pernah mendengar beberapa sanggahan
terhadap berita kita. Mungkin satu dari pendengar kita mendebat
dengan menyatakan bahwa Alkitab berisi banyak kesalahan.
Pendengar yang lain mungkin bertanya bagaimana Allah yang
penuh kasih bisa mengizinkan tragedi yang besar seperti tsunami.
Pertanyaan-pertanyaan ini memberi kesempatan bagi iman Kristen
untuk memberi penjelasan. Hal itu berarti apologetika.
Menurut Ronald H. Nash, istilah apologetika dapat dimenger­
ti sebagai pembelaan filosofis iman Kristen. Seseorang yang terlibat
dengan apologetika berusaha untuk menunjukkan bahwa kita
(orang percaya) berhak dalam memercayai pokok-pokok esensial


Alex McFarland, Apologetika Volume 4 (Malang : Gandum Mas, 2012),
24


iman Kristen atau bahwa mereka (bukan orang percaya) salah
dalam menolak kepercayaan kita (orang percaya).
Istilah apologetika berasal dari kata Yunani apologia dan
apologeomai (Kis. 22:1, 25:16; 1 Kor. 9:3; 2 Kor. 7:11; Flp. 1:7,16; dan
2 Tim. 4:16) yang artinya pembelaan verbal, pertanggungjawaban,
pembelaan diri atau mempertanggungjawabkan diri. Nats apo­
logetika yang umum adalah 1 Petrus 3:15–16 bahwa apologia adalah
tugas setiap orang Kristen untuk mempertanggungjawabkan iman­
nya kepada mereka yang menuntutnya. Inilah titik tolak dan
sejarah munculnya apologetika yang kemudian dikenal dengan
istilah locus classius (perkataan alkitabiah).

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan


siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan
jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan
jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi
haruslah dengan lemah lembut dan hormat ...” (1 Ptr. 3:15).

Kata “memberi pertanggungan jawab” dalam bahasa Yunani


adalah apologia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi
“defense” dan di bahasa Indonesia menjadi “pertanggungjawaban
atau pembelaan diri atau membela yang” dipakai sebanyak dela­
pan kali (termasuk dalam 1 Ptr. 3:15) dalam Perjanjian Baru.

“Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang


hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri” (Kis. 22:1).
“Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-
orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu
anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang


Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 20

Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang : Gandum Mas, 2002),
19

10 Apologetika
menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap
tuduhan itu” (Kis. 25:16).
“Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku” (1
Kor. 9:3).
“Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut
kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang
besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan,
kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah
membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu”
(2 Kor. 7:11).
“Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu
semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua
turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan
kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada
waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil” (Flp. 1:7).
“Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka
tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil” (Flp. 1:16).

Berapologetika di sini berarti memberikan pembelaan ter­


hadap iman Kristen (pada orang yang memintanya, biasanya
mereka yang belum percaya). Apologi artinya pembelaan yang
diberikan dan apologetika berarti studi yang mempelajari secara
langsung bagaimana menggunakan pembelaan tersebut.
Ronald H. Nash menyatakan bahwa kita perlu membedakan
antara apologetika negatif dan positif. Dalam apologetika negatif,
tujuan utamanya adalah menyingkirkan halangan untuk orang
menjadi percaya. Banyak orang menolak untuk percaya karena
mereka mengalami kesulitan seperti masalah kejahatan, masalah
inkarnasi, atau kebangkitan, dan ketidakmungkinan adanya muk­
jizat. Jadi, dalam apologetika negatif, si apologet memainkan peran
bertahan (defensif). Semua usaha untuk mempertahankan diri dari
semua tantangan terhadap iman Kristen adalah contoh apologetika


Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 20–21.

Apa Itu Apologetika? 11


negatif. Dalam apologetika positif, si apologet mulai berperan
menyerang (ofensif) untuk menawarkan alasan-alasan kepada
orang agar mereka bisa percaya. Semua usaha untuk memberikan
alasan atau argumen untuk mendukung iman Kristen bisa kita
lihat sebagai contoh apologetika positif.
Jadi, apologetika tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga
ofensif, yaitu melayani penginjilan. Stephen Tong berkata, “Apolo­
getika yang hanya bersifat defensif akan berakhir dengan sifat
yang ‘dingin, kering, membosankan, dan tidak menarik’” (Lih.
Filipi 1:7). Hal itu memberikan kita instruksi berkaitan dengan
sifat defensif, sementara 2 Korintus 10:5–6 bernada perintah untuk
ofensif. Apologet dapat dan seharusnya membela alasan-alasan
dari keyakinannya (1 Ptr. 3:15). Namun, ia dapat juga ofensif (2 Kor.
10:5). Tentu saja semua apologi harus dilaksanakan dengan lemah
lembut. Ketika seseorang ingin menjadi apologis positif, ia harus
menerima tantangan untuk membuktikan kepada orang lain bahwa
iman Kristen itu benar, rasional, dan layak dipercaya. Apologetika
negatif dan positif juga dapat dibedakan dengan hal yang disebut
sebagai “beban pembuktian”, yaitu tanggung jawab aktual untuk
menyediakan dukungan terhadap klaim tertentu. Ketiga hal ini
(defensif, ofensif, dan pembuktian), saya bahas secara lengkap
pada aspek apologetika.
Apologetika adalah pekerjaan meyakinkan orang-orang untuk
mengubah pandangan mereka. Hal ini mirip dengan berkhotbah
sebab tujuan utamanya adalah membela dan menghadirkan vali­
ditas serta kebutuhan akan Injil. Sang pengkhotbah atau apologet
berusaha mengajak si pendengar untuk mengubah keyakinan dan
kehidupannya untuk menyesuaikan diri kepada kebenaran Injil.
Dengan demikian, apologetika adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari prinsip-prinsip dan metode-metode untuk membela
kebenaran Kristen secara intelektual dari sanggahan-sanggahan,
pertanyaan-pertanyaan, kesalahmengertian, prasangka-prasangka,
dan pada akhirnya meyakinkan mereka untuk memiliki iman

12 Apologetika
yang sama. Namun, hal yang harus selalu diingat bahwa tujuan
apologetika bukanlah untuk meyakinkan orang untuk menjadi
Kristen di luar kesadaran dan kehendaknya.

B. Landasan Theologis
Membela iman dengan kemampuan kita sebaik mungkin bukan
merupakan hal yang berlebihan dalam intelektual yang sia-sia.
Apologetika adalah tugas yang diberikan kepada setiap orang
Kristen untuk menyaksikan iman kita pada dunia. Pekerjaan apo­
logetika berdasarkan pada perintah, mandat alkitabiah untuk
mempertahankan iman. Ini perintah, mandat, yang setiap orang
Kristen harus memerhatikannya dengan serius (1 Ptr. 3:15–16). Di
sini, Rasul Petrus menasihati agar kita siap sedia dalam segala
waktu untuk memberikan pertanggungjawaban kepada orang
yang bertanya tentang iman dan pengharapan kita sebagai orang
Kristen.
Kita dinasihati untuk mendeklarasikan:
1. Kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan
Pengakuan sejati bahwa Yesus adalah Tuhan merupakan esensi
kesaksian Kristen. Seorang apologis haruslah orang yang percaya
dalam Kristus dan berkomitmen terhadap Ketuhanan Kristus
(Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3; Flp. 2:11). Seseorang tidak dapat menjadi
orang percaya tanpa percaya kepada Yesus sebagai Tuhan. Bagi
Petrus, situasi apologetika adalah situasi tempat kita harus
“menguduskan Kristus sebagai Tuhan”. Tuhan berarti Penguasa
Tertinggi atau Majikan Agung. Apabila kita menguduskan-Nya
sebagai Tuhan, kita tidak hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga
menaati segala kehendak-Nya. Pada gilirannya, kita mendorong
orang lain untuk bertindak serupa. Sebagai Tuhan kita, Kristus
akan memimpin kita pada saat kita melakukan pembelaan
iman. Oleh karena itu, penaklukan terhadap otoritas Kristus

Apa Itu Apologetika? 13


merupakan hal penting dalam melakukan pembelaan yang
benar dan tepat.
Sebagai apologis, kita tidak khawatir kebenaran tersebut
akan ditolak. Petrus sedang mengatakan kepada pembacanya
untuk melakukan hal yang benar, walaupun bertentangan
dengan mereka yang belum percaya (1 Ptr. 3:13–14). Kita harus
menaati firman-Nya secara konsisten untuk menguduskan
Kristus sebagai Tuhan. Bagaimana kita dapat memanggil
Dia “Tuhan” dan tidak melakukan hal yang Dia firmankan,
“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal
kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Luk. 6:46).
Kita percaya bahwa Dia dan firman-Nya adalah kebenaran yang
absolut dan tertinggi. Tidak ada standar lain yang lebih tinggi
dan berotoritas daripada ketuhanan Yesus dan firman-Nya. Para
Rasul telah membuktikan hidup yang konsisten dan konsekuen
(menaati) terhadap hukum dan firman-Nya, “Tetapi Petrus dan
rasul-rasul itu menjawab, katanya: ‘Kita harus lebih taat kepada
Allah daripada kepada manusia’” (Kis. 5:29).
Dengan demikian, orang yang tidak percaya tidak akan
dapat menjadi orang percaya atau beriman terlepas dari
Injil keselamatan. Inilah prinsip apologetika Alkitab, yaitu
argumentasi apologetika harus berdasar pada kebenaran firman
Allah dan ketuhanan Yesus.

2. Kita harus mempelajari firman Tuhan dengan serius


Pada saat kita ber-apologetika, kita mendasari pembelaan kita
atas kebenaran kekristenan dan menjawab orang belum percaya
berdasarkan kebenaran itu. Prosedur yang tepat dimulai dengan
keyakinan teguh bahwa Yesus adalah Tuhan (1 Ptr. 3:15) dan
bahwa firman-Nya adalah benar tanpa salah.

14 Apologetika
Erastus Sabdono mengatakan agar kita bisa berapologetika, kita
harus mengalami pembaruan pikiran terus-menerus sampai
mampu menangkap kebenaran Tuhan. Dengan logika, kita
membuktikan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang benar dan
Alkitab adalah firman-Nya yang benar. Hal ini bukan berarti
Allah bisa dibatasi oleh akal manusia, melainkan pikiran kita
dimampukan untuk memahami-Nya sejauh yang mungkin
dipahami manusia. Dengan pemahaman yang solid mengenai
kebenaran, kita dapat memberikan jawaban yang tepat untuk
pertanyaan yang diajukan orang lain.
Dengan mempelajari firman Tuhan, kita juga akan diperkaya
dengan contoh-contoh cara orang Kristen pada masa lampau
membela iman mereka. Kita bisa mempelajari teladan ini.

3. Kita harus menjawab semua pertanyaan


Kita harus menjawab semua pertanyaan, bahkan kepada orang
yang menganiaya kita, dengan lemah lembut dan hormat
sehingga mereka yang memfitnah orang Kristen akan malu
karena fitnahan mereka. Dalam ayat 16 ini, kita melihat alasan
dan kepentingan terlibat dalam tugas apologetika. John M.
Frame mendefinisikan apologetika sebagai ilmu yang mengajar
orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab
ten­tang pengharapannya.10 Kita sepakat bahwa kepercayaan
Kristen dapat berarti segalanya bagi seseorang atau tidak ada
artinya sama sekali. Itu adalah kepastian paling tinggi atau
kebohongan paling besar. Namun, kalau kepercayaan Kristen
merupakan segalanya bagi orang percaya, penting sekali bagi
setiap orang percaya untuk mampu memberikan alasan yang
benar atas pengharapan yang ada padanya. Hal ini penting


Erastus Sabdono, Renungan Harian TRUTH: edisi 76 (Jakarta: Rehobot
Literature,t.th),16
10
John M. Frame, Op.Cit., 3

Apa Itu Apologetika? 15


karena menyangkut kebenaran abadi iman Kristen. Menerima
kebenaran tanpa memikirkannya atau menerimanya begitu
saja sebagai kepasrahan tidak cukup bagi iman yang stabil dan
berakal budi.
Pada umumnya, kita percaya bahwa tidak ada seorang pun
dapat sampai pada iman dalam Kristus sebelum Roh Kudus
mengubah hati orang yang mendengarkannya. Meskipun
apo­logetika merupakan tugas yang diberikan kepada kita se­
bagai orang Kristen dan kita harus bertanggungjawab dalam
menangani kebenaran yang diklaim kekristenan, apologetika
dapat membantu dalam menanam dan menyiram benih, tetapi
hanya Allah yang bisa “menumbuhkan iman” (1 Kor. 2:6).
Jadi, alasan pertama dan utama bagi orang Kristen untuk
melakukan apologetika karena ketaatan kepada kehendak Allah
yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk memberi
pertanggungjawaban (alasan) bagi mereka yang meminta
penjelasan tentang iman kita (iman Kristen) berarti bentuk
pemberontakan atau ketidaktaatan terhadap kehendak Allah.
Orang Kristen dipanggil, diberi mandat, untuk meyakinkan
orang yang belum percaya dan juga mengajar serta membangun
(iman) orang percaya.

Paul Little mengutip pernyataan John Stott, “Kita tidak


bisa memuaskan arogansi intelektual seseorang, tetapi kita
harus melayani integritas intelektualnya” (dan, kutambahkan,
pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari hati yang tulus yang harus
dijawab).11

11
Josh McDowel, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
20

16 Apologetika
C. Tuntutan bagi Apologet dalam Berapologetika
Saya telah menjelaskan kebenaran 1 Petrus 3:15 bahwa mem­
persiapkan diri untuk pembelaan Injil merupakan tanggung
jawab setiap orang Kristen. Penjelasan tersebut saya anggap sangat
penting sebagai latar belakang untuk membela iman. Namun,
ada hal lain yang perlu dijelaskan juga, yaitu “cara” melakukan
apologetika secara alkitabiah. Pada bab ini, saya akan memusatkan
perhatian pada sikap-sikap dasar dan tindakan penting dalam
berapologetika. Kalau kita memerhatikan 1 Petrus 3:15–16, kita
akan melihat bahwa ayat ini juga mengemukakan bahwa kita tidak
hanya diperintahkan untuk memberi jawab, tetapi juga diberikan
petunjuk dalam hal “cara” kita melakukan apologetika—pembelaan
iman itu.

1. Kehidupan yang Konsisten


Kehidupan yang konsisten dalam diri orang Kristen merupakan
suatu hal yang tidak boleh dihilangkan dalam apologetika
alkitabiah. Sering kali, orang Kristen sangat tertarik untuk
memikirkan cara (teori) berapologetika sehingga mereka lupa
bahwa kehidupan memengaruhi apologetika mereka. Peng­
abaian akan hal ini akan melemahkan apologetika kristiani.
Apologetika menjadi kosong karena tidak disertai kesaksian
yang nyata dari kehidupan yang suci. Menyadari akan hal ini,
Petrus memperingatkan para pembacanya untuk hidup dengan
“hati nurani yang murni sehingga mereka dapat memperlihatkan
“tingkah laku di dalam Kristus” (1 Ptr. 3:16). Orang nonKristen
sering kali menghakimi nilai Injil dengan mengamati konsistensi
kehidupan orang Kristen. Pembelaan akan Injil, baik di gereja,
rumah, atau tempat kerja tidak efektif karena kehidupan kita
yang tidak konsisten.
Mari kita memerhatikan dengan serius tuntutan bagi apo­
loget berdasarkan 1 Petrus 3:16, “dan dengan hati nurani yang

Apa Itu Apologetika? 17


murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu
yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka
itu.” Di sini jelas dikatakan bahwa apologet harus “berhati
nurani yang murni” sehingga mereka yang memfitnahnya
menjadi “malu”. Petrus tidak menuntut apologet untuk cerdas
dan berpengetahuan luas (walaupun kualitas seperti itu sangat
berguna), tetapi untuk mengarahkan secara konsisten pada
kehidupan yang saleh. Dengan menunjukkan kehidupan yang
saleh, orang bisa melihat bahwa kita benar-benar menghidupi
kepercayaan kita. Kita bisa membuktikan bahwa kita sungguh-
sungguh percaya hal yang kita percayai.
John M. Frame mengatakan bahwa komunikasi kita de­
ngan orang yang belum percaya berisi tidak hanya hal yang
kita katakan, tetapi juga cara kita hidup di hadapan mereka.
Jika hidup kita bertentangan dengan hal yang kita katakan
atau ajarkan, apologetika kita akan bersifat pura-pura dan
kehilangan kredibilitasnya. Sebaliknya, jika hidup dan ajaran
kita konsisten, mereka yang mencoba untuk menjadikan kita
tampak buruk akan kehilangan kredibilitasnya. Dengan kata
lain, pada akhirnya mereka menjadi malu.12
Richard Pratt13 menyatakan bahwa satu faktor yang sering
kali menghalangi orang Kristen dari membela iman adalah
kegagalan mereka untuk hidup tidak bercela di hadapan orang-
orang nonKristen. Murid Kristen akan menemukan kesulitan
untuk membela kekristenan di depan kelasnya, kalau pada
hari sebelumnya ia telah didapati menyontek pada waktu
ujian. Di kalangan tetangga kita, keharmonisan keluarga kita,
kebersihan dan kerapihan rumah kita, dan keramahan serta

12
John M. Frame, Apologetika bagi Kemuliaan Allah (Surabaya :
Momentum,2005), 37.
13
Richard L. Pratt, Menaklukkan Segala Pikiran Kepada Kristus (Malang:
SAAT,1994), 94.

18 Apologetika
kesediaan untuk memberikan pertolongan kepada tetangga
memengaruhi kemampuan kita untuk memberikan pem­
belaan yang efektif akan iman kita. Pada saat kehidupan kita
tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, pembelaan kita
akan gagal juga. Nama Kristus akan dipermalukan dan Dia akan
menjadi bahan cemoohan dan hinaan karena sikap dan per­
buatan kita. Kepentingan akan kehidupan orang Kristen yang
berjalan seturut firman Tuhan harus diutamakan. Tanpa itu,
semua usaha kita dalam berapologetika akan menjadi sia-sia.

2. Pendekatan yang Hati-hati.


Dalam 1 Petrus 3:15–16, Petrus juga berbicara mengenai “cara”
pendekatan yang harus kita miliki dalam berapologetika. Sikap
kita dalam berapologetika seharusnya adalah lemah lembut,
“... tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Ptr.
3:15c). Petrus mengingatkan kita bahwa kita harus berhati-hati
apabila berbicara kepada orang yang belum percaya. Bahkan,
kadang-kadang pendekatan berbicara lebih keras daripada
perkataan yang kita sampaikan. Ada banyak contoh orang yang
belum percaya tidak diyakinkan oleh argumentasi, tetapi sikap
si apologet yang berbicara kepada mereka. Ada beberapa bagian
firman Tuhan memberikan petunjuk untuk pendekatan kita, di
antaranya:
Kolose 4:5–6
“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar,
pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu se­
nan­tiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu,
bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Titus 3:1–2
“Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan
orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap

Apa Itu Apologetika? 19


pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah
mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap
lemah lembut terhadap semua orang.”

2 Timotius 2:23–26
“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak.
Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,
sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi
harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar,
sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang
suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan
kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga
mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka
menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah
mengikat mereka pada kehendaknya.”

Membela iman Kristen dengan semangat berdebat akan


menghancurkan diri. Kesenangan dalam berdebat seperti ini
berasal dari kesombongan (Ams. 13:10). Lemah lembut dan
penuh hormat adalah sikap yang bertentangan dengan semangat
suka berdebat. Setiap apologet baik untuk merenungkan nasihat
Petrus tersebut dan juga nasihat Yakobus, “Tetapi hikmat yang
dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai,
peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang
baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri
dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang
mengadakan damai” (Yak. 3:17–18). Paulus juga mengatakan
kepada kita bahwa “pengetahuan” yang tanpa kasih bukanlah
pengetahuan sejati. Pengetahuan yang demikian membuat
orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Apologet
sejati membela iman Kristen dengan firman dan hidup seperti
yang diungkapkan Tuhan Yesus, “Berbahagialah orang yang
membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak
Allah” (Mat. 5:9).

20 Apologetika
Satu hal lagi, hal yang perlu mendapat perhatian kita dalam
berapologetika adalah menghindari perdebatan. Kita harus ber­
siap sedia untuk menjawab pertanyaan dari orang yang be­lum
percaya. Namun, kita harus berhati-hati dengan menghindari
pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan membawa kepada
perdebatan yang tidak ada gunanya. Kita harus mempunyai
tujuan pasti, yaitu memimpin orang yang belum percaya kepada
Kristus. Jangan tertarik untuk memamerkan kemampuan
kita untuk berdebat dan bertengkar. Kita harus memilih
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan
mengarahkan pembicaraan itu kepada masalah yang harus
dikemukakan, yaitu percaya kepada Kristus dan menyerahkan
diri kepada-Nya sebagai Tuhan.
Richard Pratt menjelaskan bahwa lemah lembut tidak ber­
arti kompromi, tetapi berpegang secara teguh kepada kebe­
naran firman Kristus. Kita harus menyampaikan tuntutan Injil
dengan ketegasan kepada orang yang belum percaya untuk
mendorongnya masuk Kerajaan Allah. Kita tidak menyerang
orang yang belum percaya tanpa belas kasihan dengan me­
nembakkan peluru bertubi-tubi karena menganggap diri kita
sebagai pahlawan pemberita Injil yang tidak terkalahkan.
Namun, kita harus juga lembut. Ketegasan yang lembut dan
penuh kasih akan membimbing orang yang belum percaya
kepada Kristus.
Selain dengan lembut, Petrus juga mengatakan bahwa kita
harus membela iman kita dengan “hormat” (1 Ptr. 3:15c) ter­
hadap orang yang belum percaya. Paulus juga berkata bahwa
kita harus “tidak menganggap rendah seorang pun ... perlihatkan
penghargaan kepada setiap orang” (Tit. 3:2). Memang kita harus
menantang orang yang belum percaya untuk meninggalkan
kehidupan yang sia-sia untuk percaya kepada Kristus demi
keselamatan mereka. Namun, kita harus melakukannya dengan
penuh hormat. Tantangan yang disertai rasa hormat adalah

Apa Itu Apologetika? 21


aspek sangat penting dari pendekatan yang berhati-hati dalam
kita berapologetika.
Kita harus dengan lemah lembut dan penuh hormat da­
lam melakukan apologetika, yaitu memperlakukan orang
yang belum percaya sebagai pribadi yang diciptakan serupa
dengan Allah. Hal ini tidak berarti kita mengguruinya, tetapi
mendengarkannya. Kita bukan meremehkannya, melainkan
menanggapi pertanyaan-pertanyaan atau prasangka-prasangka
dan ide-idenya. Mengapa kita harus melakukan demikian? John.
M. Frame menunjukkan garis pembatasnya, yaitu kita harus
mengaitkan perdebatan apologetika dengan Allah dan tujuan-
Nya, bukannya mengizinkan penilaian kita yang emosional
terhadap orang yang belum percaya.14 Tugas apologet adalah
mengabarkan Injil sebagaimana adanya.
Akan tetapi, selain kita harus bersikap lembut dan hor­
mat, kita juga membutuhkan hikmat Roh Kudus dalam ber­
apologetika. Kita mengetahui bahwa tidak ada sistem atau
metode yang akan selalu berhasil diterapkan dalam setiap
situasi. Di sinilah pentingnya kita bergantung pada hikmat
Roh Kudus. Bergantung kepada Roh Kudus tidak berarti tanpa
mempersiapkan atau mempelajari metode sama sekali.
Kebutuhan seorang yang lanjut usia atau sedang mengha­
dapi kematian di tempat tidurnya berbeda dengan kebutuhan
mahasiswa. Pertanyaan mereka akan berbeda dan kita harus
siap untuk memberikan jawab kepada keduanya secara pribadi.
Dengan persiapan yang sungguh-sungguh, apologet akan
dapat menangani orang-orang yang berbeda dan keadaan yang
berbeda-beda dengan cara yang berkenan kepada Kristus dan
berguna bagi sesamanya.

14
Ibid, 41.

22 Apologetika
D. Aspek Apologetika
Kita bisa membedakan tiga aspek apologetika, yaitu: 15
1. Apologetika sebagai pembuktian.
Aspek apologetika ini menyampaikan dasar rasional bagi iman
atau membuktikan kebenaran kekristenan. Tuhan Yesus dan
juga para rasul sering memberikan bukti kepada mereka yang
mempunyai kesulitan untuk percaya bahwa Injil adalah benar
(Yoh. 14:11; 20:24–31; 1 Kor. 15:1–11). Jadi, apologetika sangat
berguna dalam menghadapi ketidakpercayaan, baik dalam
diri orang percaya sebagaimana dalam diri orang yang belum
percaya.
Apologetika (sebagai bukti) mengajukan dasar secara siste­
matis bagi iman atau “membuktikan kekristenan adalah be­
nar”. Contoh: kekristenan didasarkan kepada Kristus. Nilai atau
harganya tidak terletak pada orang yang memercayai-Nya, tetapi
kepada Dia yang dipercayai. Para penulis Perjanjian Baru telah
membuktikan bahwa keyakinan orang percaya itu terbukti dalam
sejarah. Cerita tentang Yesus yang lahir, mati, bangkit, dan naik
ke surga dapat dibuktikan dalam sejarah dan bukan dongeng
yang dikarang manusia. Clark Pinnock mengungkapkan bahwa
fakta yang mendukung pengakuan kristiani bukanlah sejenis
fakta rohani yang khusus saja. Namun, ada fakta kognitif dan
informatif sama seperti semua fakta yang menjadi dasar semua
keputusan sejarah, hukum, dan keputusan umum lainnya.
Para penulis Perjanjian Baru menulis berdasarkan hal yang
dilihatnya atau mencatat kesaksian orang yang melihat. Para
penulis Perjanjian Baru pasti mengetahui perbedaan di antara
mitos, legenda, dan kenyataan.

15
Ibid, 4.

Apa Itu Apologetika? 23


Kesaksian Rasul Petrus
”Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol
manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan
kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami
adalah saksi mata dari kebesaran-Nya” (2 Ptr. 1:16).

“Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai


teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan
mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak”
(1 Ptr. 5:1).

Kesaksian Rasul Yohanes


“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang
telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan
dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman
hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah
dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami
bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal,
yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan
kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami
dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun
beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah
persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus”
(1 Yoh. 1–3).

Kesaksian Lukas
“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun
suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di
antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka,
yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan
seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk
membukukannya dengan teratur bagimu” (Luk. 1:1–3).

”Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang


segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada
hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh
Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka

24 Apologetika
Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan
dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab
selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan
diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis.
1:1–3).

Kesaksian Rasul Paulus


“Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima
ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup
sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian
kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia
menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak
yang lahir sebelum waktunya.” (1 Kor. 15:6–8).

Kesaksian Rasul Yohanes


“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di
depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab
ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya
kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya
kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh.
20:30–31).

Kesaksian Para Rasul


“Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-
Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah
membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus
itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah
berkenan, bahwa Ia menampakkan diri,bukan kepada seluruh
bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah
ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan
minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara
orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada
seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah
menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati”
(Kis. 10:39–42).

Apa Itu Apologetika? 25


“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan
oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”
(Kis. 1:9).


Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat lain yang menyata­
kan bahwa para rasul adalah saksi-saksi hidup Kristus yang
dibangkitkan (Luk. 24:48; Kis. 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 5:32; 10:39;
10:41; 13:31; 22:15; 23:11; 26:16; 1 Kor. 15:4–9; 15:15; 1 Yoh. 1:2).16
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para penulis Perjanjian Baru
mencatat kesaksian para saksi mata mengenai Kristus sehingga
tulisannya dapat dipercaya sebagai kebenaran historis yang
akurat mengenai diri-Nya.

2. Apologetika sebagai pembelaan.


Fokus di sini adalah menjawab keberatan-keberatan dari
ketidakpercayaan. Dalam Filipi 1:7&16, Rasul Paulus menggam­
barkan misinya sebagai “pembelaaan dan penegasan Injil”.
Penegasan dapat mengacu pada pembuktian dan pembelaan
yang berfokus pada pemberian jawaban terhadap keberatan-
keberatan. Paulus banyak berapologetika dalam pengertian
pembelaan ketika menghadapi para penentang. Hal ini tampak
dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Tuhan Yesus pun sering
menangani keberatan-keberatan para pemimpin agama dalam
Injil Yohanes.
Apologetika sebagai pertahanan atau pembelaan (defensif)
menjawab keberatan orang yang belum percaya (Flp. 1:7,16).
Contoh: Jemaat Filipi adalah jemaat pertama yang didirikan
Paulus di Eropa. Filipi terletak di Makedonia, provinsi ke­
kaisaran Roma. Surat Paulus kepada jemaat di Filipi ini ditulis
ketika Paulus berada di penjara. Hatinya pada saat itu cemas
karena ada pekerja-pekerja Kristen yang menentangnya dan

16
Josh McDowel, Apologetika, Vol., 1 (Malang: Gandum Mas, 2002), 28.

26 Apologetika
dalam jemaat itu ada orang yang mengajarkan ajaran sesat.
Meskipun demikian, surat Paulus ini bernada gembira dan
penuh harapan. Mengapa? Tidak lain karena Paulus percaya
sekali kepada Kristus. Paulus menulis surat ini karena pertama-
tama ia mau mengucapkan terima kasih kepada jemaat atas
pemberian yang telah diterimanya dari mereka ketika ia
berada dalam kesukaran. Dalam kesempatan ini pula, ia ingin
memberi dorongan kepada mereka supaya mereka rendah hati
seperti Yesus dan tidak dikuasai oleh perasaan angkuh serta
mementingkan diri sendiri. Ia mengingatkan mereka bahwa
hanya karena rahmat Allah sajalah, Allah membuat mereka
bersatu dengan Kristus berdasarkan percaya mereka kepada-
Nya, bukan karena mereka taat menjalankan upacara agama
yang ditentukan dalam hukum agama Yahudi. Selanjutnya,
Paulus menulis juga tentang kegembiraan dan damai sejahtera
yang diberikan Allah kepada orang yang hidup bersatu dengan
Kristus.

3. Apologetika sebagai penyerangan.


Penyerangan di sini adalah menyerang kebodohan atau kebe­
balan (Mzm. 14:1; 1 Kor. 1:18–2:16) pikiran yang belum percaya.
Tuhan tidak hanya memanggil umat-Nya untuk menjawab
keberatan-keberatan mereka yang belum percaya, tetapi juga
melanjutkannya dengan serangan terhadap kepalsuan.
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mengatakan bahwa apo­
logetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan.
Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama per­
leng­kapan peperangan. Paulus mengatakan, “Memang kami
masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata
duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.

Apa Itu Apologetika? 27


Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap
kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk me­
nentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran
dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Kor. 10:3–5). Namun,
peperangan itu bukan untuk melawan orang yang belum
percaya melainkan untuk melawan ketidakpercayaan. Hal ini
sama seperti insulin yang diperuntukkan bagi penyakit diabetes,
bukannya untuk si penderita diabetes.17
Pemikiran non-Kristen adalah “kebodohan” menurut
Alkitab (1 Kor. 1:18–2:16; 3:18–23). Salah satu fungsi apologetika
adalah menyatakan “kebodohan” itu sebagaimana adanya. Satu
hal yang tidak boleh dilupakan bahwa sasaran apologetika
bukan kemenangan, melainkan kebenaran. Apologetika seba­
gai serangan (ofensif) menyerang kebodohan (Mzm. 14:1; 1
Kor. 1:18–2:16) pemikiran orang yang belum percaya. Contoh:
Surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus ditulis untuk
membahas persoalan-persoalan yang timbul dalam jemaat yang
telah didirikannya. Persoalan-persoalan tersebut mengenai
kehidup­an dan kepercayaan Kristen. Pada waktu itu, Korintus
adalah kota Yunani, ibukota provinsi Akhaya, yang termasuk
wilayah pemerintahan Roma. Kota ini penduduknya terdiri dari
banyak macam bangsa. Kota ini terkenal karena kemajuannya
dalam perdagangan dan kebudayaan. Namun, keadaan
susilanya rendah karena bermacam-macam agama di situ. Hal
terutama yang menjadi pikiran Paulus adalah persoalan tentang
per­pecahan dan kebejatan dalam jemaat, persoalan seks dan
perkawinan, hati nurani, tata tertib dalam jemaat, karunia Roh,
serta kebangkitan orang mati. Dengan pandangan yang dalam,
Paulus menunjukkan bagaimana Kabar Baik dari Allah itu
menyoroti persoalan-persoalan tersebut.

17
Peter Kreefft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung : Kalam Hidup, 1993), 26.

28 Apologetika
Ketiga aspek apologetika itu menurut hemat saya tidak perlu
dipisahkan (atau dipilih salah satunya). Ketiga aspek tersebut
justru saling berhubungan sehingga dapat dipakai secara serentak.
Namun, hal itu akan berguna bagi kita untuk membedakan
ketiga perspektif ini. Ketiganya menunjukkan kepentingan ber­
beda, tetapi saling melengkapi dan menguatkan. Jika kita dapat
melakukan salah satu secara benar, tentu itu juga mencakup
dua aspek lainnya. Dalam buku ini, ketiga aspek tersebut tidak
digunakan secara terpisah, tetapi bersama-sama (digabungkan)
baik untuk pembuktian, pembelaan, sekaligus penyerangan ter­
hadap serangan-serangan dari orang yang belum percaya atau
menolak klaim kekristenan.

E. Seberapa Pentingkah Apologetika?


Apakah penggunaan, tujuan, dan nilai apologetika? Sedemikian
pentingkah apologetika dalam kekristenan itu? Dengan mantap,
saya mengatakan, “Sangat penting!” Ada relasi antara apologetika
dan penginjilan. Hal penting dalam struktur apologetika adalah
relasi apologetika dengan penginjilan. Kita harus tetap seimbang
dalam kedua hal tersebut. Kita harus mengabarkan Injil (Peng­
injilan), tetapi juga “siap-siap memberikan pertanggungjawaban
tentang pengharapan yang ada pada kita (apologetika).”
John M. Frame menjelaskan relasi antara kedaulatan Allah
dan tanggung jawab manusia. Relasi antara apologetika dan
penginjilan dalam kekristenan sama pentingnya seperti relasi
antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Walaupun
Allah berdaulat, ketaatan manusia sangat penting. Allah adalah
pembuat keyakinan—pengubah, tetapi Dia bekerja melalui
kesaksian kita (manusia yang beriman).18

18
Ibid, 20–23, 35.

Apa Itu Apologetika? 29


Penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara
kedaulatan Allah dan ketaatan manusia dalam apologetika. Adam
gagal dalam menyelesaikan tugasnya dan menjerumuskan semua
umat manusia dalam dosa dan penderitaan. Namun, Tuhan Yesus
telah sukses menyelesaikan tugas-Nya dan membawa keselamatan
kekal bagi umat-Nya (Rm. 5:12, 17). Dia akan mengumpulkan umat-
Nya dari segala bangsa dalam gereja-Nya. Hal itu hanya terjadi
melalui usaha manusia, yaitu melalui pemberitaan oleh manusia
yang percaya (Mat. 28:18–20; Rm. 19:13–15). Roh Kudus adalah
Oknum yang mengubah (Yoh. 16:8), tetapi secara normal Dia
bekerja melalui firman. Iman yang dikerjakan Roh Kudus adalah
percaya kepada berita dan janji dari Allah melalui pemberita Injil
(apologet).
Alkitab tegas mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang bisa
menginsafkan seseorang akan dosa (Yoh. 16:8). Hal ini berarti
apologetika tidak mungkin sukses tanpa unsur supernatural, yaitu
kesaksian Roh Kudus. Allah meyakinkan rasio dan hati orang yang
belum percaya. Namun, tetap ada tempat atau peran bagi apologet
Kristen. Apologet Kristen memiliki tempat sebagai pemberita
Injil. Ya, apologis bisa disebut sang pemberita Injil seperti yang
dinyatakan di Roma 10:14, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana
mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar
tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yang memberitakan-Nya?
Apologetika dan penginjilan bukanlah dua hal berbeda.
Penginjilan dan apologetika adalah sama dalam beberapa hal.
Keduanya merupakan tanggung jawab orang-orang Kristen.
Setiap orang Kristen bertanggungjawab untuk memberitakan Injil
Kristus dan membelanya dengan perkataan dan kelakuan mereka.
Keduanya bertujuan untuk membawa orang yang belum percaya
kepada Kristus. Penginjilan adalah apologetika karena penginjilan
mengarahkan keyakinan. Apologetika adalah penginjilan karena

30 Apologetika
ia mengabarkan Injil yang mengarah pada perubahan dan
pengudusan. Namun, hal yang perlu diingat bahwa baik dalam
penginjilan maupun apologetika, orang Kristen berhubungan
dengan mati dan hidupnya seseorang, surga atau neraka!
Hubungan erat antara penginjilan dan apologetika dapat kita
lihat dalam firman Tuhan. Dalam Kisah Para Rasul 26:2, Paulus
menyatakan pembelaannya di hadapan Raja Agripa. Pembelaan
Paulus dihubungkan dengan proklamasi Injil Kristus bahwa
keselamatan dari dosa dan kematian telah datang melalui kematian
dan kebangkitan Yesus, Mesias, Anak Allah yang hidup.

“bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah


yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan
bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan
kepada bangsa-bangsa lain” (Kis. 26:23).

Jadi, sangat jelas bahwa sesungguhnya apologetika merupa­


kan bagian integral dari penginjilan. Apologetika adalah bagian
penginjilan dan dalam penginjilan terdapat apologetika. Apologe­
tika dan penginjilan berkaitan secara perspektif, manfaat keduanya
sama. Namun, kedua aktivitas tersebut memiliki perspektif dan
penekanan yang berbeda. Apologetika menekankan aspek rasional
keyakinan, sedangkan penginjilan menekankan usaha perubahan
ilahi dalam kehidupan manusia.
Penginjilan memimpin seseorang pada perubahan dari
yang sesat dan meneguhkan iman orang percaya, begitu pula
apologetika. Apologetika memberi pemulihan keyakinan pada iman
seperti apologetika menunjukkan dasar pemikiran Alkitab. Dasar
pemikiran itu juga memberi orang Kristen fondasi intelektual,
dasar bagi iman dan kehidupan. Namun, apologetika bukanlah
fondasi tersebut. Apologetika menunjukkan dan menjelaskan
fondasi yang dinyatakan Alkitab.

Apa Itu Apologetika? 31


Richard L. Pratt19 menyamakan secara total antara apologetika
dengan penginjilan sehingga sering kali memimpin pada praktik
dan metode yang tidak alkitabiah. Oleh karena itu, perhatian
harus diberikan untuk membedakan satu dengan lainnya. Penting
sekali kita melihat perbedaan di antara apologetika dan penginjilan
dalam tujuan. Menurut Pratt, penginjilan lebih dimaksudkan
kepada proklamasi penghakiman yang akan datang dan Kabar
Baik keselamatan dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Orang
yang belum percaya diberitahukan dengan istilah yang pasti:

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal,


tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat
hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36).

Apologetika lebih memerhatikan atau bertujuan untuk mem­


benarkan klaim ini. Kita membuat pembelaan “kepada setiap
orang yang bertanya kepada kita untuk memberikan jawaban akan
pengharapan yang ada di dalam kita” (1 Ptr. 3:15). Dalam pengertian
ini, kita dapat mengatakan bahwa penginjilan lebih berhubungan
dengan “apa” yang harus kita percaya dan apologetika lebih ber­
hubungan dengan “mengapa” kita harus percaya.
Sekali lagi, keduanya (apologetika dan penginjilan) banyak
menaruh perhatian yang sama. Dapat dikatakan bahwa apologetika
merupakan kelanjutan penginjilan sebab apologetika berusaha
untuk mempertahankan dan meyakinkan orang yang belum
percaya akan berita penghakiman dan pengharapan yang telah
disajikan dalam Injil. Dengan dasar ini, kita dapat menunjukkan
dengan lebih jelas bagaimana kita harus mulai dan mengakhiri
pembelaan iman Kristen. Pada saat pembelaannya dimulai,
pembelaannya harus berhubungan dengan Injil. Pembelaannya

19
Richard L. Pratt, Menaklukan Segala Pikiran Kepada Kristus (Malang:
SAAT, 1994), 123–124.

32 Apologetika
akan diakhiri dengan tantangan bagi orang yang belum percaya
untuk bertobat dan menyerahkan diri pada Injil Kristus.
Oleh karena itu, orang percaya secara umum mutlak untuk
belajar apologetika, dan secara khusus bagi para hamba Tuhan
atau mahasiswa theologi. Kepentingan belajar apologetika bukan
sekadar kita “mengetahui” apa arti apologetika, tetapi lebih
dari itu, yaitu pengenalan kita akan Allah dan kebenaran-Nya.
Pengenalan akan Allah dan kebenaran-Nya menjadi perlengkapan
kita yang kita bisa aplikasikan dalam penginjilan—mewartakan
Injil kepada setiap orang yang belum percaya demi cinta Tuhan
dan penggenapan Amanat Agung Tuhan Yesus (Rm. 11:36).
Dengan demikian, kita dapat melihat relasi yang erat
bahwa karya Roh Kudus adalah penting, tetapi pemberita Injil—
apologet juga penting. Tugas pemberita Injil, apologet, adalah
mengabarkan Injil. Pemberita Injil tidak hanya membaca Injil,
tetapi memberitakannya—menjelaskan, menerapkan kepada para
pendengarnya, serta menyatakan kebenaran dan kerasionalannya.
Pemberita Injil berusaha untuk memerangi kesan yang salah dari
non-Kristen (orang yang belum percaya) dan mengabarkan kepada
mereka Injil sebagaimana adanya. Saat kita bersaksi, Roh Kudus
juga memberikan kesaksian seperti yang dinyatakan di Kisah Para
Rasul 5:32, “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami
dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang
mentaati Dia.”
Uraian tentang kedaulatan Allah dan tanggung jawab
manusia secara proporsional akan menjawab argumentasi yang
keliru dan bersikeras bahwa Alkitab tidak memerlukan pembelaan.
Hal ini sering kali didasarkan pada alasan Alkitab mampu membela
dirinya, memberikan argumentasi bagi hal yang ia katakan. Se­
baliknya, Alkitab tidak hanya menuntut kita untuk percaya dan
melakukan hal-hal yang pasti, tetapi Alkitab juga menuntut kita
untuk melakukannya dengan alasan-alasan yang pasti. Alkitab

Apa Itu Apologetika? 33


memang berkuasa (Rm. 1:16; Ibr. 4:12–13), tetapi Alkitab meminta
kita menjadi pembelanya (Flp. 1:7,16–17; 2 Tim. 4:2; 1 Ptr. 3:15).
Untuk membela Alkitab, terutama menyatakannya sebagai­
mana adanya, hal itu menyatakan keindahan dan kebenarannya.
John M. Frame20 dengan tegas menyatakan bahwa waktu berita Injil
disampaikan sehingga orang-orang mengerti, Alkitab membela
dirinya. Namun, Alkitab tidak akan membela dirinya kepada me­
reka yang tidak pernah mendengar beritanya. Paulus menyeru­kan,
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktu­nya,
nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala
kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2).
Izinkan saya untuk menggambarkan pengaplikasian apo­
logetika dan penginjilan. Penginjilan adalah bagian integral dari
apologetika. Apologet harus selalu siap sedia untuk mengabarkan
Injil. Seorang apologet tidak boleh terlalu terlibat dalam argu­
mentasi, pembelaan atau pertahanan, pembuktian dan penyerangan
sehingga lalai untuk memberitahukan orang yang belum percaya
hal yang paling dibutuhkannya, yaitu kepastian keselamatan (Yoh.
3:16; 1 Yoh. 5:13). Oleh karena itu, dalam berapologetika, apologetika
dimulai dengan Injil dan diakhiri dengan Injil juga.

F. Persepsi yang Salah tentang Apologetika


Ada persepsi yang keliru mengenai apologetika, bahkan meng­
abaikannya. Hal ini disebabkan beberapa hal:
1. Kesalahpahaman atau kesalahmengertian mereka akan perka­
taan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengatakan, “Apabila mereka
menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana
dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu
akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan
kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan

20
Ibid, 25.

34 Apologetika
berkata-kata di dalam kamu” (Mat. 10:19–20). Kesalahmengertian
yang serius telah timbul berkenaan dengan ayat ini, khususnya
apabila kita membaca terjemahan King James Version yang
menerjemahkan sebagai berikut, “give no thought how or what
ye shall speak” (tidak perlu dipikirkan bagaimana atau apa yang
harus kamu dikatakan). Ayat ini sering ditafsirkan secara salah
bahwa ayat itu mengajarkan kita hanya perlu bersandar secara
mutlak kepada pimpinan Roh Kudus pada saat membela iman
kita; seolah-olah kita tidak perlu berpikir atau mempersiapkan
diri untuk mempelajari mengenai hal yang akan kita katakan
(bagaimana berapologi). Ada juga anggapan bahwa orang yang
mempelajari apologetika memperlihatkan kurang berimannya
seseorang dan ketidaksepenuhhatian dalam penyerahannya
kepada Tuhan. Penafsiran ini tidak dapat dipertanggungjawab­
kan. Penafsiran ini tidak mempertimbangkan pengamatan
secara menyeluruh terhadap konteks ayat tersebut dan firman
Tuhan secara keseluruhan.
Kita perlu memerhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak me­
ngatakan, “... jangan pikirkan tentang apa yang akan kamu ka­
takan”, tetapi sebuah peringatan agar orang-orang percaya jangan
cemas dan khawatir. Dalam ayat sebelumnya, yaitu Matius 10:19,
Tuhan Yesus memperingatkan bahwa para murid-Nya akan di­
serahkan ke hadapan para penguasa. Kenyataan bahwa mereka
akan berhadapan dengan orang-orang penting seperti itu tentu
merupakan pengalaman yang sangat menggentarkan. Oleh
karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat
kepada para murid untuk tidak cemas dan khawatir serta takut.
Segala kekhawatiran dan ketakutan harus lenyap dari mereka
yang membela iman sebab mereka tidak akan pernah berdiri
seorang diri. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus akan
memberikan kepada mereka kekuatan dan hikmat pada saat
mereka membutuhkannya. Hal ini seperti pengalaman Rasul
Paulus, “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang

Apa Itu Apologetika? 35


pun yang membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi
aku dan menguatkan aku ...” (2 Tim. 4:16–17).
Kita harus mengerti bahwa jaminan akan diberikannya
kekuatan dan hikmat Roh Kudus jangan diartikan sebagai
pengganti dari ketekunan dan kesetiaan dalam mempelajari
dan mempersiapkan diri untuk berapologetika. Walaupun kita
dianjurkan untuk tidak khawatir akan makanan dan pakaian
(Mat. 6), kita tetap dianjurkan bekerja untuk mendapatkan se­
muanya itu. Demikian juga halnya dengan berapologetika, kita
harus memenuhi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan
diri. R.C Sproul menyatakan bahwa alasan orang Kristen
tidak terlibat dalam apologetika disebabkan ada sebagian
orang Kristen beranggapan bahwa yang membuat seseorang
bertobat merupakan tugas Roh Kudus, bukan tugas kita
karena pertobatan di luar kemampuan kita, kita tidak perlu
terlibat dalam pembelaan kekristenan. Bila kita memberikan
argumentasi bagi kebenaran kekristenan (alasan bagi iman
kita), kita dianggap meremehkan karya Roh Kudus.21
Rasul Petrus mengatakan bahwa kita harus “selalu bersiap
sedia”. Artinya, kita mempersiapkan diri untuk memberikan
jawab (2 Ptr. 3:15). Jadi, dapat dikatakan bahwa mengabaikan
hal ini berarti tidak menaati secara mutlak ketuhanan Kristus.
Ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan di­
nyatakan dengan mempelajari apologetika secara serius. Ja­
minan akan diberikannya kekuatan dan hikmat Roh Kudus
tidak boleh diartikan sebagai pengganti tanggung jawab dalam
mempelajari dan mempersiapkan diri untuk berapologi.

2. Apologetika dinilai bersifat terlalu intelektual, abstrak, dan


rasional. Mereka mengemukakan bahwa kehidupan, kasih,
moralitas, dan kekudusan itu jauh lebih penting daripada akal.

21
R.C. Sproul, Op.Cit., 20.

36 Apologetika
Mereka yang memiliki pola berpikir demikian memang benar,
tetapi mereka tidak sempat memerhatikan bahwa sebenarnya
mereka pun sedang terlibat dalam proses berpikir. Kita tidak
dapat menghindar dari hal ini. Hal yang dapat kita hindari
adalah melakukan apologetik secara serampangan sehingga
melukai sesama dan melemahkan kesaksian Kristen.
Sejatinya, akal adalah sabahat, bukan musuh iman dan
menjadi sahabat kekudusan sebab akal adalah jalan menuju
kebenaran, dan kekudusan berarti mengasihi Allah yang adalah
Kebenaran. Iman dan kekudusan mengantar seseorang pada
berpikir secara apologetik sebab kekudusan berarti mengasihi
Allah, dan mengasihi Allah berarti menaati kehendak Allah, dan
kehendak Allah bagi orang Kristen adalah mengenal Dia dan
selanjutnya, “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta
pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1
Ptr. 3:15).22
Sebagai orang Kristen, kita harus selalu ingat bahwa pada
saat kita membela iman kita, akal budi tidak boleh diperlakukan
sebagai otoritas akhir atau otoritas tertinggi. Tujuan apologetika
adalah memimpin manusia pada kebergantungan secara mu­
tlak kepada Allah. Firman Tuhan tidak pernah menyatakan
bahwa manusia berhak untuk menjadi hakim akan pernyataan-
pernyataan yang dikemukakan oleh Kristus.
Apologetika harus mengantar seseorang kepada iman dan
ketaatan mutlak pada kehendak Allah dalam Yesus Kristus.
Kehendak Allah bagi kita adalah mengenal Dia dan mem­
pertanggungjawabkan keyakinan kita itu (1 Ptr. 3:15–16).
Apologetika memang tidak sepenting kasih, tetapi bukan

22
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup, 1994), 23.

Apa Itu Apologetika? 37


berarti apologetika tidak penting dalam kehidupan kita.
Fakta kesehatan tidak sepenting ibadah, tetapi bukan berarti
kesehatan itu tidak penting (1 Tim. 4:8).
Argumentasi lain yang lebih dalam mengenai alasan sebagian
orang tidak menyenangi hal berpikir secara apologetika adalah
mereka memutuskan untuk percaya dengan hati mereka
dari­pada kepala mereka. Bahkan, argumentasi yang paling
sempurna pun tidak menggerakkan hati orang seperti emosi,
keinginan, dan pengalaman nyata. Kebanyakan dari kita
mengetahui bahwa hati kita, bukan kepala kita, yang menjadi
pusat kehidupan. Namun, apologetika masuk sampai ke hati
kita melalui kepala kita. Kepala itu sangat penting karena dapat
berfungsi menjadi pintu yang menuju ke hati. Kita akan dapat
semakin mengasihi hal yang kita kenal atau ketahui.23
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli menegaskan bahwa akal
itu minimal memiliki kuasa untuk memveto. Kita tidak dapat
memercayai sesuatu yang kita ketahui tidak benar dan kita
tidak dapat mengasihi sesuatu yang kita percayai tidak nyata.
Argumentasi mungkin tidak akan mengantar seseorang pada
iman dan pasti juga dapat menjauhkan seseorang dari iman
yang salah. Oleh karena itu, kita harus peduli dan ikut serta
dalam peperangan rohani untuk menghancurkan keangkuhan
manusia yang tidak mengenal Allah. Ada ilustrasi yang indah
tentang hal ini: sebenarnya argumentasi-argumentasi dapat
mengantar seseorang kepada iman, sama seperti mobil dapat
mengantar seseorang ke tepi pantai. Seseorang tidak dapat
meloncat ke air apabila ia berada ratusan kilometer dari pantai.
Seseorang, pertama-tama, membutuhkan mobil yang akan
membawanya ke tempat ia dapat membuat loncatan (iman) ke

23
Ibid, 24.

38 Apologetika
air laut. Iman adalah loncatan, tetapi itu bukan loncatan dalam
gelap, tetapi loncatan dalam terang.24
Ada kecaman pedas yang sering dilontarkan kepada orang
Kristen seperti ini, “Kalian orang Kristen memang menyebalkan!
Iman kalian adalah ‘iman buta’.” Di sini tampaknya si penuduh
beranggapan bahwa untuk menjadi seorang Kristen, orang
harus “membunuh” akal budinya. Ketika Yesus dan para rasul
mengimbau orang untuk percaya, yang dimaksudkan bukanlah
“iman buta”, melainkan “iman yang berakal budi”. Rasul Paulus
mengatakan, “Aku tahu kepada siapa aku per­caya” (2 Tim.
1:12). Yesus memerintahkan orang percaya, “Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37). Selanjutnya, Yesus
berkata, “Kamu akan mengetahui (bukannya tidak mengetahui)
kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”
(Yoh. 8:32). Paul Little mengatakan bahwa iman pada ajaran
Kristen didasarkan pada bukti. Ini adalah iman yang bijaksana.
Kepercayaan pada pemikiran Kristen memang melampaui nalar
manusia, tetapi tidak bertentangan dengannya.25

3. Akal budi dianggap menghalangi pekerjaan Roh Kudus. Saya


sering mendengar pernyataan, “Jangan pakai otakmu yang kecil
untuk memahami kebenaran Allah. Pakailah imanmu saja.”
Jangan teracuni oleh pernyataan yang tidak bertanggungjawab
ini. Pernyataan itu jelas keliru sebab menyepelekan akal budi
sebagai anugerah Tuhan, “Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu’” (Mat. 22:37).
Ketidakpahaman hamba-hamba Tuhan zaman sekarang

24
Ibid.
25
Josh McDowel, Apologetika: Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
23

Apa Itu Apologetika? 39


tentang vitalnya penggunaan akal budi untuk keperluan
belajar (theologi) menyebabkan gereja Tuhan menjadi lemah
dan menghasilkan orang-orang Kristen yang dangkal dan
mutunya rendah. Ingat, kualitas iman seseorang ditentukan
oleh pemahaman theologia yang dimilikinya. Bahaya besar
jika hamba-hamba Tuhan anti atau menganggap remeh peran
akal budi dalam perjalanan iman Kristen. Justru akal budi yang
dinonaktifkan (karena beranggapan menghalangi karya Roh
Kudus) akan menimbulkan kebodohan dan kebodohan akan
membuka peluang bagi penyesatan Iblis. Untuk memahami
kebenaran, tentu peran akal budi harus dioptimalkan.26
Saya sangat percaya bahwa Roh Kudus yang dapat mengubah
hati seseorang dan pada akhirnya mengubah pikiran manusia.
Hanya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang pada
pertobatan (percaya Kristus), tetapi apologetika tetap penting
untuk “prapenginjilan” dan juga “pascapenginjilan”. Dalam
prapenginjilan, apologetika mendukung unsur-unsur yang
harus ada dalam iman yang menyelamatkan. Kita dibenarkan
oleh iman, tetapi iman yang membenarkan itu harus memiliki
isi. Pada waktu Injil Kristus diproklamasikan, tentu kita akan
menjelaskan tentang pribadi Kristus dan karya-Nya seperti
bagaimana Dia dilahirkan sesuai penyataan Alkitab—Dia telah
menderita di kayu salib untuk dosa-dosa kita dan dibangkitkan
dari antara orang mati (Luk 24:45–47). Semua itu adalah bagian
dari isi iman Kristen. Sebelum kita mengajak atau meyakinkan
(persuasi) orang pada iman yang menyelamatkan, kita harus
memberikan informasi, isi iman, atau kepercayaan yang kita
ingin agar mereka percayai. Hal ini jelas melibatkan akal budi.
Prapenginjilan melibatkan komunikasi dan informasi yang
orang lain bisa pahami.

26
Kalis Stevanus, Penyesatan Terselubung dalam Gereja Masa Kini
(Yogyakarta: Randa’s Family Press, 2007), 37

40 Apologetika
Sebelum seseorang menyambut Kristus sebagai Juru­
selamatnya, ia terlebih dahulu harus menyadari dan memahami
bahwa ia membutuhkan Juruselamat. Ia harus mengerti bahwa
dirinya adalah orang berdosa. Ia harus memiliki pengertian
tentang dosa. Ia harus yakin bahwa Allah ada dan selanjutnya
menyadari bahwa dirinya terpisah dari Allah dan kelak akan
dihakimi. Jadi, seseorang tidak akan membutuhkan Jurusela­
mat, kecuali terlebih dahulu diyakinkan bahwa ia membutuh­
kan Juruselamat. Semua itu adalah prapenginjilan. Hal itu
mencakup informasi bahwa seseorang harus memprosesnya
dalam pikiran sebelum ia dapat memberi respons tentang hal
itu dalam iman atau menolaknya dalam ketidakpercayaan.
Saya pernah mendengar (dan juga membaca buku) yang
menyatakan, “Saya tidak membutuhkan theologi, tetapi Yesus!”
Pernyataan ini benar-benar menyesatkan umat Tuhan. Memang
ada orang yang mengetahui atau memiliki pengetahuan ten­
tang kekristenan dan tidak mengenal Yesus. Seseorang dapat
mengetahui tentang Yesus dan tidak memiliki hubungan pribadi
dengan Yesus. Saya akan membuktikan bahwa akal budi sangat
terkait dengan iman (hubungan pribadi dengan Yesus). Ketika
kita berbicara kepada orang lain tentang Yesus, yang dengannya
kita memiliki hubungan pribadi, kita membicarakan hal-hal
(informasi atau isi) tentang Dia. Kita tidak dapat memiliki
hubungan pribadi dengan Yesus yang menyelamatkan, kecuali
kita mengetahui pribadi Yesus dan meyakini kebenaran tentang
Yesus bahwa Dia benar-benar mati di atas kayu salib, dalam
kematian-Nya ada penebusan dosa, hal itu adalah benar, dan
Dia telah bangkit dari kubur. Semua pembicaraan tentang iman
kita kepada Yesus melibatkan akal budi yang mengatakan “ya”
pada kebenaran bahwa Dia telah mati dan dibangkitkan dari
kematian. Prasyarat bagi iman yang menyelamatkan adalah
terlebih dahulu mengetahui kebenaran, “Sebab jika kamu
mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan

Apa Itu Apologetika? 41


percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia
dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena
dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut
orang mengaku dan diselamatkan” (Rm. 10:9–10).
Saya mengakui bahwa mengetahui kebenaran (mendapatkan
pemahaman yang benar isi iman Kristen) dan setuju pada
kebenaran itu, tetapi semua itu tidak cukup untuk menyela­
matkan atau menjadikan iman yang menyelamatkan. Namun,
fakta yang tidak bisa dibantah bahwa kita tidak bisa memiliki
iman yang menyelamatkan tanpa akal budi. Maksudnya, tanpa
mengetahui kebenaran (mendapatkan pemahaman yang benar
dari isi iman Kristen), seseorang tidak bisa memiliki iman yang
menyelamatkan. Oleh karena itu, setiap orang Kristen tidak bo­
leh menghindari tanggungjawab untuk menjelaskan kebenaran
kekristenan kepada orang lain. Saya akan mengutip, terutama
Lukas 24:25–27 dan 45–47, di mana Kristus sedang menjelaskan
untuk membuka pikiran para murid yang lamban memahami
kebenaran yang sebelumnya Dia telah memberitahukan kepada
mereka.

“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang bodoh, be­


tapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala
sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus
menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?’
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang
Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan
segala kitab nabi-nabi” (Luk. 24:25–27).

“Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti


Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian:
Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati
pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang
pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada
segala bangsa, mulai dari Yerusalem’” (Luk. 24:45–47).

42 Apologetika
Di sinilah peran atau tugas vital apologetika untuk men­
jelaskan isi iman Kristen dan membela kebenarannya. Apolo­
getika tidak dapat menyebabkan atau menimbulkan iman
yang menyelamatkan. Namun, apologetika memiliki peranan
vital dalam mendukung hal-hal yang harus ada untuk iman
yang menyelamatkan, yaitu pemahaman yang benar tentang
kekristenan. Percaya itu menuntut landasan atau data yang
kuat (objektif). Kekeliruan jika orang Kristen mengatakan,
“Saya tidak perlu memiliki alasan untuk hal yang saya percayai.”
Hal ini adalah iman yang membabi buta dan kosong. Hal ini
adalah iman yang tidak masuk akal.
Sejatinya, iman Kristen adalah iman yang masuk akal, yaitu
iman yang berdasar pada kebenaran yang Allah nyatakan dalam
Alkitab. Tuhan tidak mungkin meminta seseorang untuk
percaya pada hal yang tidak masuk akal. Dengan demikian,
iman Kristen bukanlah loncatan dalam kebutaan, tetapi dalam
terang (ada data atau bukti yang kuat).
Iman Kristen adalah keyakinan dalam hati karena bukti
yang cukup. Paul Little mengatakan bahwa iman pada ajaran
Kristen “didasarkan pada bukti”. Josh McDowell menegaskan
bahwa iman Kristen adalah iman yang objektif. Oleh karena
itu, harus ada suatu objek. Konsep Kristen tentang iman yang
“menyelamatkan” adalah iman yang membangun seorang
de­ngan Yesus Kristus (objek). Apa yang kita percayai sebagai
orang Kristen tidak ada artinya sama sekali karena nilai iman
Kristen tidak terletak pada orang yang memercayainya, tetapi
pada “orang” yang dipercayai, yaitu sang objek. Paulus berkata,
“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor.
15:14). Ayat ini jelas mengatakan bahwa iman Kristen adalah
iman kepada Kristus. Nilai atau harganya tidak terletak pada
orang yang memercayainya, tetapi pada “Dia” yang dipercayai—
bukan pada yang memasrahkan diri, melainkan pada yang

Apa Itu Apologetika? 43


dipasrahi. Jadi, hal yang menjadi masalah bukanlah seberapa
besar iman kita, tetapi siapakah “objek” iman kita. Hal itulah
yang penting bagi kita. Inilah iman yang menyelamatkan
menurut firman Tuhan. Paulus berkata, “Aku tahu kepada
siapa aku percaya” (2 Tim. 1:12). Iman Kristen dipusatkan pada
pribadi Yesus Kristus. Sekali lagi, iman yang menyelamatkan
adalah iman yang membangun hubungan seorang dengan
Yesus Kristus sebagai objek imannya.

4. Alasan lain yang sering kali dipakai untuk mengabaikan


apologetika adalah anggapan tugas pembelaan iman merupa­
kan pekerjaan atau tanggung jawab orang-orang yang terlatih
(lulusan sekolah theologi) dan bukan orang Kristen secara
umum. Padahal, setiap orang Kristen bertanggungjawab untuk
dapat ber-apologetika—menyaksikan imannya kepada dunia
(Flp. 1:7,16).
Memang benar bahwa pendeta atau guru-guru Injil mem­
punyai tanggung jawab yang lebih berat dalam berapologetika
dibandingkan orang Kristen secara umum. Namun, hal ini
tidak berarti bahwa ber-apologetika hanyalah tanggung jawab
para pendeta dan guru Injil. Dalam 1 Petrus 3:15 yang telah
kita pelajari menyatakan bahwa tidak ada kekecualian bagi
orang Kristen dalam ber-apologetika. Setiap orang Kristen
harus siap untuk menderita bagi Kristus. Setiap orang Kristen
harus bersiap sedia untuk memberi jawaban dan membela
pengharapan mereka dalam Kristus. Apologetika bukan hanya
tanggung jawab orang-orang tertentu saja, melainkan tanggung
jawab setiap orang Kristen—pengikut Kristus.

44 Apologetika
G. Mengapa Harus Berapologetika? Apa Perlunya?
Tanpa ragu, apologetika sangat diperlukan oleh orang Kris­­
ten. Orang yang taat pada kehendak Allah harus mem­­per­tang­
gungjawabkan imannya. Kegiatan memper­tanggungjawabkan
iman­nya itu di­sebut apologetika. Hal ini penting untuk meyakinkan
orang lain yang belum percaya dan mengajar serta membangun
orang percaya. Apologetika itu sering juga disebut sebagai pe­
perangan karena iman dan akal memiliki musuh yang sama.
Argumentasi apologetika adalah seumpama perlengkapan
peperangan. Perhatikanlah cara Paulus menjelaskan tentang pe­
pe­rangan rohani di mana apologetika juga terlibat (2 Kor. 10:3–
5). Secara umum, alasan pentingnya memerlukan apologetika
adalah:
1. Kita diperintahkan untuk membela iman kita (1 Ptr. 3:15).
Sebagai orang Kristen, kita harus siap sedia untuk memberi
pertanggungjawaban iman atau pengharapan kita dalam
Kristus. Dengan mempelajari apologetika, orang-orang Kristen
akan diperlengkapi dengan lebih baik lagi untuk melayani
Tuhan dan membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan kepada
Dia dan secara efektif memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.
2. Apologetika membantu orang Kristen mengenali iman mereka.
Tidak sedikit orang Kristen mengalami keraguan. Keraguan
ini sering kali menjadi penyebab orang Kristen kehilangan
kemampuannya untuk melayani Kristus. Mempelajari apolo­
getika secara sungguh-sungguh dapat menguatkan iman
mereka. Orang Kristen yang belum pernah mengalami masalah
keraguan, dengan mempelajari apologetika secara serius akan
membuat ia bertambah teguh dan bersemangat untuk lebih
taat sebagai pengikut Kristus.
3. Apologetika menjawab kesan buruk yang telah diterima ke­
kristenan di media dan budaya.

Apa Itu Apologetika? 45


4. Kemampuan untuk mempertahankan kepercayaan kita akan
membuat penginjilan kita menjadi lebih efektif. Semangat
penginjilan akan bertambah dengan mempelajari apologetika.
Lebih daripada itu, orang yang mendengar Injil sering kali
keraguannya sirna ketika mendengar jawaban yang benar atas
pertanyaan atau keraguan mereka.
5. Membutuhkan apologetika karena banyak pengajaran sesat
bermunculan melanda gereja Tuhan.

Apologetika sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya pada


saat dunia barat sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan
jalan dan berbagai krisis:27
1. Peradaban Barat sedang menghadapi bahaya sekarat. Alasan­
nya bersifat spiritual. Peradabannya sedang kehilangan ke­
hidupannya, jiwanya (jiwa yang dimaksud adalah iman Kristen).
Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme
kemajemukan budaya atau agama dan kepercayaan lain,
melainkan monokulturalisme, sekulerisme, atau ketiadaan
iman. Abad kita ini ditandai oleh “pembasmian” kelompok
orang tertentu, kekacauan seksual, dan penyembahan uang.
Gereja tidak akan pernah mati, tetapi peradaban kita bisa mati.
Kita melakukan apologetika bukan untuk menyelamatkan
gereja, tetapi dunia.
2. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis kultural dan
kemasyarakatan. Kita sedang berada di tengah krisis filosofis
dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah “krisis
kebenaran”. Ide mengenai kebenaran objektif semakin di­
abaikan, ditinggalkan, atau diserang. Serangan bukan hanya
dari sisi praktis, melainkan juga sisi teoritis, secara langsung

27
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup,1994), 28–29.

46 Apologetika
dan terbuka, terutama oleh lembaga pendidikan dan media
yang membentuk pikiran kita.
3. Tingkat terdalam dari krisis yang kita hadapi bukanlah bersifat
kultural atau intelektual, melainkan spiritual. Hal yang di­
pertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia yang baginya Kristus
telah mati. Kita mengetahui dengan pasti bahwa setiap orang
sedang mendekati kematian dan hukuman kekal setiap hari.
Itulah sebabnya kita terpanggil untuk menampakkan terang
Kristus melalui apologetika selama masih ada kesempatan.

H. Bagaimana Berapologi yang Baik?


Berikut cara praktis melakukan apologetika dengan baik:
1. Doa. Tuhanlah yang membuka hati dan pikiran, bukan kita (Kis.
16:14). Oleh karena itu, mintalah kepada Tuhan untuk membuka
pengertian mereka terhadap firman Tuhan (Luk. 24:45).
2. Pentingnya mengingat ayat-ayat Alkitab ketika membela iman
Kristen (2 Tim. 3:16).
3. Lemah lembut dan penguasaan diri.
- Dengarkan hal yang dikatakan kepada kita untuk mene­
mukan kesalahan logika, tujuan, mencobai, dan menanggapi
hal yang dikatakan.
- Jangan menyela atau menginterupsi sebab sekalipun
me­­ngetahui jawaban, tidak berarti kita harus segera me­
nyampaikan sebelum waktunya.
4. Berani, tidak takut menyatakan kebenaran (Kis. 5:29).
5. Antusias, tetapi jangan terlalu ofensif (2 Kor. 10:4–6).
6. Pada akhirnya, mintalah “ia” untuk mengambil keputusan, te­
tapi tanpa paksaan (2 Kor. 5:20; Why. 3:20).

Apa Itu Apologetika? 47


I. Batas Apologet.
Apologet bertugas untuk mengarahkan orang ke jalan yang benar
sehingga mereka dapat menemukan hidup yang kekal seperti
dinyatakan Alkitab. Apologetika yang dilakukan tidak untuk
memenangkan argumentasi logis, tetapi memenangkan jiwa. St.
Agustinus pernah menyatakan bahwa iman dilayani oleh rasio
untuk memahami dan mempertanggungjawabkan isi iman itu.
Stephen Tong memberikan catatan mengenai pelayan apologetik.
Apologet haruslah seorang yang memiliki:
- Hati yang penuh kasih dan hangat, yaitu hati seorang
Evangelis.
- Isi theologis dengan bobot theolog.
- Analisa dengan ketajaman filsuf.
- Jiwa pembela kebenaran dari apologet.

48 Apologetika
2

Sejarah Apologetika

A. Asal Usul Apologetika


Gereja abad permulaan mengalami penganiayaan yang disebabkan
tuduhan-tuduhan yang diberikan bagi orang Kristen pada masa
itu. Berikut adalah tuduhan-tuduhan umum yang dijatuhkan pada
kekristenan:28

1. Berperan serta dalam banyak praktik yang sesat


Bapa-bapa gereja menguasai tugas apologetika ini dengan
sangat baik karena komunitas Kristen pada abad permulaan
dituduh berperan serta dalam banyak praktik yang sesat. Hal itu
mengakibatkan kehancuran Yerusalem pada 70 M. Kekristenan
dipandang oleh kekaisaran Romawi sebagai sekte Yudaisme.
Namun, setelah kehancuran kota Yerusalem dan orang percaya
mengalami diaspora (penyebaran orang Yahudi). Di sini pemisahan
antara kekristenan dengan Yudaisme menjadi semakin jelas. Hal
itu menimbulkan masalah bagi kekristenan. Yudaisme merupakan
agama yang secara legal didukung oleh kekaisaran Romawi

28
R. C. Sproul, Op. Cit. 12–14.

49
sedangkan kekristenan tidak memiliki keistimewaan. Praktik iman
Kristen ilegal dan orang Kristen boleh dianiaya. Para intelektual
Kristen pada zaman itu bangkit untuk menjawab tuduhan-tuduhan
yang dijatuhkan pada kekristenan.

2. Pengkhianat yang merendahkan otoritas kaisar.


Dunia tempat gereja dilahirkan adalah kekaisaran Romawi.
Pada mulanya, negara Romawi menganggap kekristenan sebagai
mazhab atau sekte Yahudi sehingga kekristenan bebas melakukan
aktivitasnya. Namun, ternyata kekristenan itu bukanlah agama
kebangsaan yang diizinkan, melainkan agama baru yang dibentuk
oleh seseorang yang mati disalib oleh pengadilan Romawi. Apologis
seperti Justin Martyr memberikan argumentasi bahwa sebenarnya
orang Kristen merupakan teladan dalam menjalankan kewajiban
terhadap negara. Mereka membayar pajak dan menaati hukum
negara, tetapi tidak mengakui kaisar sebagai “tuhan” karena Yesus
adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Oleh karena itu,
Justin menantang para penguasa supaya tidak mengadili orang
Kristen berdasarkan rumor yang tidak sah.
Dengan demikian, pemerintah Romawi mulai melihat bahwa
orang Kristen itu sangat berbahaya bagi negara. Pada umumnya,
orang-orang yang menjadi Kristen pada waktu itu adalah orang-
orang Yunani dan Romawi. Setelah menjadi Kristen, mereka
menolak untuk menyembah kaisar. Hal ini dilihat sebagai bukti ke­
tidaksetiaan pada negara. Mereka juga tidak lagi ikut mengam­bil
bagian dalam ibadah kepada para dewa. Mereka juga menjauhkan
diri dari persundalan dan arena (gelanggang tempat pertunjukkan
perkelahian antara binatang atau manusia).

3. Melakukan praktik penyimpangan seksual dan kanibal.


Kecurigaan terhadap kekristenan kian bertambah ketika
tersiar kabar bahwa orang Kristen membunuh dan memakan

50 Apologetika
anak-anak kecil (kanibal) dalam perkumpulannya. Mereka
pernah mendengar bahwa orang-orang Kristen “makan daging
dan minum darah Anak Manusia” (Yoh. 6:53). Selain itu ada juga
tuduhan bahwa orang Kristen melakukan pelacuran keluarga sebab
mereka mendengar tentang “cium persaudaraan”, yaitu semacam
ucapan salam satu sama lain dalam ibadah. Termasuk dalam
ibadah khususnya Eukaristi yang dalamnya Perjamuan Kudus
memperlihatkan kesatuan mereka dengan Kristus dan sesama
sehingga timbul rumor bahwa mereka melakukan penyimpangan
seksual di antara saudara sekandung.
Para apologis menjawab tuduhan tersebut dengan menjelas­
kan tentang sakramen dan meminta kepada para penguasa untuk
menyelidiki tuduhan-tuduhan itu sebelum melakukan peng­
aniayaan siapa pun.

4. Sebagai ateisme sebab menolak untuk menyembah dewa-
dewa Romawi
Kekristenan semakin berkembang. Akibatnya, persembahan
di rumah berhala dan membawa kurban kepada kaisar selaku wakil
dewa semakin berkurang. Orang-orang Kristen tetap menolak
untuk menyembah dewa-dewa Romawi. Akhirnya, kekristenan
makin dibenci karena berbeda dengan masyarakat umum. Kisah
Polycarpus, bishop Smirna, yang pada akhir usia ke–80 nya dihukum
mati oleh kaisar Marcus Aurelius dengan tuduhan ateisme adalah
contohnya. Justin Martyr mengadakan pembelaan bahwa orang-
orang Kristen tidak ateis. Orang-orang Kristen adalah orang yang
percaya pada realitas keesaan Allah yang Mahatinggi dan pada saat
yang sama juga menyangkali politeisme yang dipercaya oleh orang-
orang Romawi. Justin Martyr juga dibunuh pada pemerintahan
kaisar Marcus Aurelius.

Sejarah Apologetika 51
Selain tuduhan tersebut, ada tuduhan lain pada waktu itu
bahwa segala bencana alam yang terjadi adalah tanda murka para
dewa atas kedurhakaan orang-orang Kristen. Penganiayaan dan
penghambatan pun tidak bisa dihindarkan lagi. Penghambatan
pertama terjadi di Roma pada 64 M atas perintah kaisar Nero, yang
mengkambing hitamkan orang Kristen atas kebakaran Roma, yang
sebenarnya dibakar Nero. Penganiayaan hebat menimpa orang
Kristen dan menurut tradisi pada masa aniaya hebat inilah Petrus
menjadi martir yang disalibkan dengan kepala di bawah.

B. Tugas Apologet
Kita perlu memahami bahwa gereja menghadapi tugas untuk
mengklarifikasi kebenaran yang diklaimnya dari distorsi terhadap
klaim ini. Studi apologetika tetap hidup karena setiap generasi
tempat kekristenan berkembang akan selalu menghadapi distorsi,
salah interpretasi, terlalu memberi penekanan, dan penipuan
terhadap kebenaran yang diyakininya. Lawan-lawan gereja akan
terus menuduh seperti yang diasumsikan Petrus dalam suratnya,
“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan
siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan
jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan
jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu,
tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati
nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena
hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan
mereka itu” (1 Ptr. 3:15–16).
Itulah sebabnya, para apologis Kristen harus selalu ”siap
sedia” dengan pembelaan untuk menangkis kapan pun tuduhan
palsu itu datang. Seorang apologis harus telah mengetahui hal
yang ia percaya.
Apologetika dapat digunakan untuk memperlihatkan bah­
wa kekristenan adalah benar dan semua wawasan dunia

52 Apologetika
non-Kristen tidak benar. Inilah yang menjadi perhatian studi
apologetika ini. Sangat menyedihkan jika pada zaman kita ini ada
pernyataan mengatakan bahwa kita jangan terlibat dalam usaha
untuk “membuktikan” kebenaran yang diklaim kekristenan.
Mereka beranggapan iman dan pembuktian tidak cocok. Sejatinya,
asumsi mereka keliru.
Mari kita memerhatikan pernyataan Petrus, “... supaya
mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh
dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu”. Petrus
mengharapkan bahwa hasil apologetika adalah mempermalukan
para lawan kekristenan. Lebih dari itu, hal ini bukan sekadar untuk
menghentikan tuduhan-tuduhan atau ocehan mereka, melainkan
untuk mempertobatkan seseorang yang belum percaya berbalik
kepada doktrin Alkitab yang benar. Kesaksian Alkitab bahwa
pikiran orang belum percaya adalah “kebebalan” (Mzm. 14:1).
Gereja bukan hanya menghadapi ketidaktahuan, tetapi musuh
yang memiliki tendensi menolak kebenaran (Rm. 8:7). Tentu ini
hanya karya Roh Kudus, tetapi Roh Kudus tidak pernah meminta
orang untuk percaya pada hal yang tidak benar atau irasional.
Sekali lagi, perlu ditegaskan di sini bahwa tugas apologetika
bukan hanya memenangkan argumentasi atau perdebatan, me­
lainkan memenangkan jiwa. Inilah alasan yang paling esensi
dan mendasar orang Kristen terlibat dalam apologetika, yaitu
bagaimana orang yang belum percaya bisa mendengar kebenaran
Kristus (Rm. 10:14).

C. Apologetika Abad Permulaan


Di bawah pemerintahan Domitianus, kaisar lalim yang memerintah
pada 81–96, kekristenan sangat ditindas di beberapa bagian
kerajaan. Agama Kristen dilarang dengan maklumat-maklumat
kaisar. Di bawah pemerintahan Trayanus (98–117), penganiayaan
berkurang karena ternyata orang-orang Kristen bukanlah penjahat

Sejarah Apologetika 53
yang mengancam keamanan negeri. Sejak saat itu sampai pada 250,
kedudukan gereja Tuhan dalam kerajaan Romawi dicurigai. Namun
pada umumnya mereka dibiarkan saja. Sekalipun demikian, sering
kali berkobar api kebencian sehingga jemaat disiksa dengan kejam.
Orang Kristen dituduh kafir, ditangkap, dan dibawa ke hadapan
hakim. Bila mereka mau menyangkal imannya dengan memberikan
kurban kepada kaisar, mereka akan dibebaskan. Tidak sedikit
orang kafir mulai menyadari kebenaran agama Kristen.
Mengingat di hadapan mahkamah orang-orang Kristen
yang didakwa itu tidak diberi kesempatan untuk membela aga­
manya dengan uraian yang jelas, gereja harus menempuh cara
lain untuk mempertahankan diri terhadap kebencian, umpat,
dan penghinaan kaum kafir itu. Pada awal abad 2, orang-orang
Kristen yang terpelajar mulai menulis surat-surat pembelaan atau
apologia. Para penulisnya kemudian disebut apologet. Apologet
yang terkenal adalah Yustinus Martyr. Ia mati syahid di Roma pada
165. Ada 2 buku yang ditulisnya, yaitu Apologia dan Percakapan
dengan Tryphon, Orang Yahudi.
Pada akhir abad 2, tampillah Tertulianus, ahli hukum yang
saleh, dengan kitab apologianya dalam bahasa Latin. Pada abad-
abad selanjutnya, banyak ahli theologi tampil dan berusaha untuk
membela kebenaran iman Kristen dengan tulisan-tulisan mereka.
***

54 Apologetika
3

Logika, Allah, dan Manusia

S
uatu hal yang muncul dalam diskusi yang memengaruhi
apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam hu­bung­­
an antara Alah dan manusia. Pergumulan antara iman dan
akal budi bukanlah pergumulan baru dalam kekristenan. Terka­
dang, seseorang menjadi skeptis dan kehilangan pengharapan me­
mahami relasi antara keduanya, dan kemudian cenderung ja­tuh
dalam salah satu ekstrem atau mendualisme (memisahkan karena
dianggap keduanya tidak sejalan atau saling bertentangan).
Tujuan pembahasan ini agar kita mendalami relasi antara
iman dan akal budi secara seimbang. Berbicara mengenai peran
akal budi dalam kekristenan pada umumnya, dan secara khusus
dalam tugas apologetika, bukan berarti meniadakan aspek iman
dan melihat kekristenan hanya dari aspek rasional belaka. Saya
dengan tegas mengatakan bahwa iman Kristen tetap harus dimulai
dengan iman. Apabila iman yang kita miliki adalah iman yang
masuk akal (bukan praktik kebohongan), kita bisa menunjukkan
kebenaran yang diklaim kekristenan adalah benar.
Bab ini akan menolong kita mengerti di mana tempat
yang tepat bagi akal budi dalam perjalanan iman Kristen. Iman

55
merupakan sentral kekristenan. Dengan penekanan yang begitu
kuat pada iman, kita bertanya-tanya di mana penalaran (akal budi)
berperan.

A. Pentingnya Logika dalam Apologetika


Sebelum saya melanjutkan pembahasan secara detail tentang relasi
antara iman dan akal budi, saya ingin kita sepakat pada kesimpulan
bahwa iman dan akal bukan musuh, melainkan sahabat. Akal
tidak merampas keutamaan iman, pengharapan, dan kasih. Logika
adalah unsur penting dalam apologetik. Tanpa iman dan akal,
apologetik tidak bisa terlaksana.
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mengungkapkan bahwa
apabila akal dan iman diceraikan, apologetik merupakan hal
yang mustahil dilakukan. Apologetik merupakan upaya untuk
mempertemukan akal dengan iman dan untuk membela iman
dengan senjata-senjata akal.29
Logika sangat penting dalam apologetika. Untuk membela
iman, orang-orang Kristen harus mempergunakan kebenaran,
fakta, dan alasan secara tepat (tanpa meninggalkan kebergantung­
an pada kuasa dan hikmat Roh Kudus). Orang Kristen seharusnya
mendengarkan keberatan-keberatan dan memberikan komentar-
komentar yang meyakinkan dan rasional dalam menanggapi
langsung pokok-pokok persoalan yang muncul.
Penggunaan logika yang tepat dalam apologetika menghi­
langkan rintangan-rintangan intelektual yang menghalangi
se­seorang dari penerimaan Yesus sebagai Tuhan dan Juru­se­
lamatnya. Namun, jangan membiarkan logika menjadi berhala.
Logika sangat terbatas sehingga tidak dapat dijadikan ukuran
bagi penyataan Allah. Akal budi itu bukan hakim atas kebenaran,

29
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli,Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup,1994), 35

56 Apologetika
melainkan Allahlah Hakim atas akal budi manusia. Isi iman
Kristen tidaklah antirasional (bertentangan dengan rasio),
bukan a-rasional (tanpa rasio atau penalaran), ataupun i-rasional
(tidak masuk akal), melainkan trans-rasional (melampaui rasio).
Allah telah menyatakan diri menjadi manusia dalam Kristus.
Dia mendamaikan manusia oleh salib-Nya untuk pengampunan
dosa bagi umat manusia, menciptakan langit dan bumi baru, dan
banyak lagi karya Allah. Hal-hal ini bukan antirasional, a-rasional,
atau i-rasional, melainkan trans-rasional (melampaui akal budi).
Logika bukan jawaban bagi masalah. Logika memiliki keter­
batasannya. Meskipun demikian, logika tetap bernilai dan bisa
dipergunakan dengan penuh kuasa, kasih, dan kelemahlembutan
dalam apologetika. Sebenarnya, akal budi adalah sahabat, bukan
musuh iman. Akal budi menjadi sahabat karena akal adalah jalan
menuju kebenaran.

B. Bahaya Antiintelektual
Kita patut mencermati adanya bahaya antiintelektual yang cukup
menonjol dewasa ini. Dunia modern melahirkan pragmatisme
yang pertanyaan pertamanya mengenai segala sesuatu bukan
“Benarkah itu?”, tetapi “Bergunakah itu?” Kesaksian Paulus tentang
orang Yahudi yang tidak percaya pada zamannya bisa diterapkan
terhadap kekristenan pada masa kini, “Sebab aku dapat memberi
kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat
untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar” (Rm. 10:2).
Sesuai kebenaran ini, ketekunan tanpa pengetahuan sama buruk­
nya dengan pengetahuan tanpa ketekunan. Tujuan Allah adalah
keduanya, yaitu ketekunan diarahkan oleh pengetahuan dan
pengetahuan dikobarkan oleh ketekunan.
Menurut Dr. John Stott, sikap antiintelektual merupakan
salah satu masalah paling serius di mana pengalaman lebih penting
dari doktrin. Mereka menempatkan pengalaman subjektif di atas

Logika, Allah, dan Manusia 57


kebenaran Allah. Mereka percaya bahwa Allah sengaja memberi
manusia penyataan-penyataan yang tidak masuk akal untuk
membuat para cendekiawan sombong menjadi rendah hati. Allah
menentang kesombongan manusia, tetapi Dia tidak mengabaikan
akal budi yang dibuat-Nya. Semua itu merupakan gejala anti­
intelektual, yaitu menghindari tanggung jawab yang diberikan
Allah untuk menggunakan akal budi kita secara kristiani. Pemikir
Kristen dengan pikiran Kristennya tampaknya semakin langka
sekarang ini karena orang Kristen modern telah menyerah pada
sekularisasi.
Ronald H. Nash menyatakan pentingnya kita mendalami relasi
antara iman dan akal budi secara seimbang untuk mengantisipasi
banyaknya theologi modern yang mencoba mengesampingkan
aspek rasio dengan hanya menekankan pada iman yang membabi-
buta.30 Saya setuju dengan Ronald H. Nash. Saya telah melihat
pentingnya rasio dalam studi theologi dan mendalami iman
Kristen. Iman Kristen adalah iman yang rasional, bukan iman yang
antirasio atau irasional
Sebagai orang Kristen, saya suka membagikan iman saya
dan alasan-alasan saya memegang iman tersebut. Saya sangat
menyayangkan orang-orang Kristen yang telah teracuni (baca:
disesatkan) dengan pandangan bahwa akal budi, ilmu pengetahu­
an, atau semua usaha intelektual, tidak bisa sejalan dengan iman
Kristen. Saya juga tidak terlalu respek kepada orang Kristen yang
beranggapan bahwa akal budi merupakan ancaman bagi iman
Kristen.
Lebih lanjut, Ronald H. Nash melihat adanya gejala anti-
intekektual seperti juga yang dilihat John Stott yang menge­
mukakan bahwa pergumulan dan studi mengenai relasi antara
iman dan akal budi menjadi sangat relevan dan penting di tengah

30
Ronald H, Nash, Rasio dan Akal Budi: Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum,2002), 8

58 Apologetika
kekristenan masa kini karena adanya kecenderungan gereja-
gereja untuk tidak lagi mengajak jemaat melakukan studi firman
Tuhan yang mendalam. Akibatnya, iman Kristen lumpuh dalam
menghadapi berbagai tantangan ilmu pengetahuan dunia. Pada
akhirnya, banyak orang mengkotakkan iman Kristen hanya
dalam aspek religius dan tidak lagi menyentuh seluruh aspek
kehidupan manusia seutuhnya. Itulah sebabnya kita perlu kembali
mempelajari dan menggumulkan hal ini bagi kehidupan kita saat
ini.31
Dengan demikian, penting sekali untuk mengoreksi penda­
pat atau pernyataan yang meremehkan akal budi maupun yang
melebih-lebihkan akal budi supaya terjadi keseimbangan yang
alkitabiah dan terhindar dari ekstrem-ekstrem fanatik. Pada
akhirnya, kita bisa menempatkan akal budi pada tempat yang
ditentukan Allah—menunaikan peran yang sudah dipilih Allah.

C. Alasan Orang Kristen Menggunakan Akal Budi

1. Manusia adalah makhluk yang dapat berpikir


Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan
mengembangkan pemikirannya. Hal ini mencerminkan hikmat
Allah Sang Pencipta dan membedakan manusia dengan binatang.
Kita mengetahui bahwa di taman Eden, Adam telah menggunakan
akal budinya dalam kebergantungan-Nya kepada Allah. Dia
membangun pola berpikirnya sesuai petunjuk Allah. Kita tidak
akan menemukan pengetahuan yang benar sebab kebergantungan
kepada Allah adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan
kebenaran. Adam menggunakan logika meskipun dalam bentuk
yang masih sangat sederhana. Ia menggunakannya dalam ke­
taklukannya kepada Allah. Adam tidak pernah mengabaikan

31
Ibid

Logika, Allah, dan Manusia 59


kebergantungannya kepada Allah dengan berpikir logikanya mam­
pu memberikan kepadanya penjelasan dan pengetahuan terpisah
dari Allah. Akibatnya, penggunaan Adam dalam kemampuannya
untuk menggunakan akal budinya selalu tunduk pada keterbatasan
dan pimpinan penyataan Allah. Bagi Adam, Allah selalu dilihat
sebagai dasar kebenaran dan gembala kebenaran karena pada saat
itu Adam masih dalam keadaan manusia yang diciptakan menurut
gambar Allah dan tanpa dosa.
Dengan demikian, penggunaan akal budi dan mengembang­
kan pemikiran bukanlah merupakan sesuatu yang salah dan jahat.
Kekristenan telah mendapat berbagai serangan dari mereka yang
mengklaim bahwa segala sesuatu harus “masuk akal” dan “ilmiah”.
Penggunaan akal budi bukanlah sesuatu yang jahat. Dalam ta­man
Eden, Adam menggunakan akal budinya dan ia mengembangkan
pemikirannya. Bukankah kita mengetahui bahwa Adamlah yang
menamai binatang-binatang dan memelihara taman?

2. Perintah Allah
Allah menciptakan akal budi kita demi kepentingan kemu­
liaan Allah dan kepentingan kita. Kemampuan berpikir adalah
pemberian Allah kepada kita. Kita berhak dan bertanggungjawab
memakainya agar makin mengerti dunia yang Allah ciptakan dan
firman yang Allah nyatakan. Tuhan Yesus menegaskan pentingnya
akal budi kita dalam hukum terutama, “Jawab Yesus kepadanya:
‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu’” (Mat. 22:37).
Lagi pula Dia, dalam kehidupan-Nya dan pengajaran-Nya, mewu­
judnyatakan akal budi yang dikuasai dan diterangi firman Allah.32
David Cupples menegaskan bahwa jelaslah kita dipanggil
untuk memakai akal budi yang diberikan Allah kepada kita secara

32
David Cupples, Beriman dan Berilmu (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1994),
16.

60 Apologetika
bertanggungjawab. Kita harus memandang dunia secara kristiani.
Namun, apabila kita memisahkan iman kita dengan akal budi,
iman kita sangat mungkin hanya menyangkut hal-hal rohani
(agamawi) saja, sedangkan pandangan kita tentang dunia bersifat
sekular dan sama saja dengan orang yang non-Kristen.33
Kesimpulan saya, kekristenan tidak menganut paham “dua­­
lisme” (pemisahan). Hal spiritual tidak terpisah dari hal inte­
lektual. Tentu saja iman melampaui akal budi, tetapi kalau iman
Kristen itu benar, ajarannya harus juga “masuk akal”. Iman dan akal
budi tidak bertentangan. Beriman tidak berarti mudah percaya
tanpa alasan. Iman berarti keterlibatan diri secara penuh dalam
kehidupan yang berdasarkan penyataan Allah. Penyataan itu se­
suai dengan kenyataan dan dengan demikian sungguh masuk akal.
Akal budi dan iman berhubungan erat, bukan dua bagian yang
tidak berhubungan (dualisme). Menggunakan akal budi maupun
menjadi beriman adalah jawaban yang tepat atas penyataan Allah.
Kalau iman dipisahkan dari akal budi, iman menjadi cara untuk
mencapai pengalaman tanpa mempertimbangkan apakah ada
alasan yang logis. Dengan demikian, menjadi beriman bagaikan
melangkah dalam kegelapan, bukan dalam terang. Dengan kata
lain, pemisahan antara iman (kehidupan rohani) dan akal budi
pasti membawa akibat buruk. Sikap dualisme (memisahkan iman
dan ilmu) harus kita tolak.
Hal yang perlu diperhatikan, apabila pemakaian akal budi
dan pengembangan pemikiran manusia dilakukan berdiri sendiri
atau terlepas dari Allah, hal-hal itu akan memimpin kepada
ketidakbenaran dan kesalahan. Namun, apabila kedua hal itu
(iman dan akal budi) dipergunakan dalam kebergantungan pada
penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal
budi dan mengembangkan pemikiran itu tidaklah berlawanan
dengan iman atau kebenaran.

33
Ibid,17.

Logika, Allah, dan Manusia 61


3. Menyaksikan Injil tersebar dan Kristus diakui di seluruh
dunia.
Manusia diciptakan untuk berpikir. Alkitab menciptakan
manusia berdasarkan keserupaan-Nya dengan Allah dan salah
satu bagian paling mulia dari keserupaan adalah kemampuannya
berpikir. Kendati pikiran manusia telah rusak sebagai akibat
kejatuhan dalam dosa, perintah untuk berpikir—menggunakan
pikirannya masih tetap diberikan kepadanya sebagai manusia (Yes.
1:18).
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, mengatakan, “Akal di­
ciptakan dan didesain oleh Allah. Akal merupakan bagian dari
gambar Allah dalam diri kita. Akal adalah hasil karya Allah, bukan
hasil upaya kita.”34 Hal ini juga ditegaskan David Cupples, “Pada
mulanya manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:27),
yakni sebagai makhluk yang dapat berpikir. Kemampuan berpikir
itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain (Mzm.
32:9).”35
Saya setuju pendapat John Stott bahwa penebusan Kristus
membuat pikiran kita diperbarui. Setelah penebusan digenapi,
kini, Dia memberitakannya melalui hamba-hamba-Nya yang
dinyatakan melalui perkataan pada pikiran. Maksud utama Allah
menyebarkan Injil adalah menyelamatkan orang berdosa (1 Kor.
1:21). Walaupun pikiran manusia gelap dan mata manusia buta—
mereka tidak dapat mengerti dan menerima hal-hal rohani, Injil
tetap ditujukan pada pikiran mereka sebab pikiran adalah alat
untuk membuka mata mereka, menerangi pikiran mereka, dan
menyelamatkan mereka.
Penebusan Kristus membawa pembaruan gambar Allah
dalam diri manusia yang telah rusak saat manusia jatuh dalam
dosa, termasuk pikirannya seperti dinyatakan Paulus dalam

34
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op. Cit.. 50
35
David Cupples, Op.Cit. 16

62 Apologetika
Efesus 4:23–24, “... supaya kamu dibaharui di dalam roh dan
pikiranmu,dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan
menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya.” Kini, setiap orang yang percaya kepada Tuhan
Yesus didiami dan dikuasai Roh Kudus serta memiliki kekuatan
baru dalam pengertian-pengertian rohani sebab ia memiliki
“pikiran Kristus” (1 Kor. 2:15–16).
John Stott menegaskan, Allah telah membentuk kita men­
jadi makhluk yang berpikir; Dia telah memperlakukan kita
sedemikian rupa dengan cara berkomunikasi melalui firman-Nya;
Dia telah memperbarui kita dalam Kristus dan Dia akan meminta
pertanggungjawaban kita untuk pengetahuan yang kita miliki itu.
Menyepelekan pikiran atau sikap antiintelektual bisa dianggap
sebagai kejahatan serius. Penolakan atau ketidakpedulian akan
firman Allah menempatkan diri kita di bawah penghakiman Allah.
Menyepelekan pikiran berarti mengecilkan doktrin-doktrin Kristen
yang mendasar. Setelah Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk
yang rasional, akankah kita mengingkari kemanusiaan yang telah
diberikan-Nya? Tuhan telah berbicara kepada kita, akankah kita
mengabaikan firman-Nya? Tuhan telah memperbarui pikiran kita
melalui Kristus, tidak maukah kita memakainya?
Sangat penting untuk memerhatikan peringatan Alkitab
dalam Mazmur 32:8–9, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan
kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi
nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda
atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus
dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan
mendekati engkau”. Tuhan berjanji akan menuntun, mengajar, dan
memerintah kita. Namun, jangan berharap Dia melakukannya
sedemikian rupa seperti kita menuntun kuda dan bagal. Kita adalah
manusia, bukan kuda atau bagal. Kita memiliki akal budi yang
tidak dimiliki oleh kuda dan bagal. Jadi penggunaan pengertian
(akal budi) kita, dengan diterangi Roh Kudus melalui firman-Nya,

Logika, Allah, dan Manusia 63


Dia akan menuntun kita pada pengetahuan tentang kehendak-Nya
bagi kita.
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menegur orang banyak
yang tidak percaya, termasuk orang Farisi dan Saduki. Mereka
mampu mengartikan langit dan meramalkan cuaca, tetapi tidak
dapat mengartikan “tanda-tanda zaman” seperti dinyatakan Matius
16:2–3, “Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah,
kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit
merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu
tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak”. Dengan
kata lain, Tuhan Yesus hendak mengatakan, “Mengapa engkau
tidak memakai akal budi bagi bidang rohani seperti yang engkau
pakai pada hal-hal jasmani?”
Sekarang, kita akan mempertimbangkan tempat akal budi
dalam penginjilan. Dalam Roma 10, Paulus membahas dengan
berapi-api tentang perlunya mengkhotbahkan Injil agar orang lain
menjadi percaya kepada Kristus dan diselamatkan.

Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan,


akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana
mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar
tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika
tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka
dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada
tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa
kabar baik!” (Rm. 10:13–15).

Ayat-ayat tersebut menyatakan dengan jelas bahwa harus


ada isi yang mendalam dalam penyataan penginjilan kita tentang
Yesus Kristus. Itu adalah tanggung jawab kita. Penginjilan yang
benar bukan penampilan emosional dan antiintelektual untuk
memaksakan “keputusan” pendengar yang hanya memiliki sedikit

64 Apologetika
waktu dan penjelasan tentang hal yang harus mereka putuskan
atau alasan demikian.
Para rasul terus-menerus “berdebat” dengan orang-orang
di luar Alkitab. Klaim Paulus yang penuh percaya diri di hadapan
Festus bahwa hal yang ia katakan merupakan “kebenaran dan akal
sehat” (Kis. 26:25). Bagi Paulus, tidak ada kontra—pertentangan
antara apologetika dan penginjilan. Penalaran bukan berarti tidak
percaya akan Roh Kudus. Sebaliknya, Paulus menggambarkan
semua kegiatan penginjilan dan tujuannya dengan kata-kata,
“Kami berusaha meyakinkan orang” (2 Kor. 5:11).
Pekerjaan meyakinkan, yaitu membicarakan, menerangkan,
dan membuktikan, adalah kata-kata yang “intelektual”. Artinya,
penginjilan adalah penyajian Injil yang logis. Hal ini tidak berarti
membesarkan kebanggaan intelektual. Kita harus membedakan
antara membesarkan kesombongan intelektual seseorang (kita
tidak boleh melakukannya) dengan menghormati kemampuan
intelektualnya (yang harus kita lakukan). Injil tidak melihat
tingkat pendidikan (Rm 1:14). Pengajaran Tuhan Yesus, walaupun
sederhana, membuat pendengarnya berpikir (Mat. 13:19). Pe­
nyajian Injil yang logis tidak merebut pekerjaan Roh Kudus.
Mempertentangkan kuasa Roh Kudus dan penyajian Injil yang
logis adalah pertentangan yang salah kaprah. Argumentasi dan
pekerjaan Roh Kudus tidak bersaing satu sama lain. Paulus sangat
bergantung dan memercayai Roh Kudus, tidak berarti Paulus
mengizinkan dirinya berhenti berpikir dan ber-apologetik.

4. Kekristenan adalah agama yang diwahyukan


Kehidupan Kristen berdasar fakta. Dengan berpegang pada
fakta tersebut, kita mengalami hubungan pribadi dengan Allah.
Kehidupan Kristen bukan sesuatu yang melulu intelektual ataupun
emosional, melainkan pengalaman yang berdasar pada kebenaran.
Kebenaran dihubungkan dengan pengalaman oleh iman dan

Logika, Allah, dan Manusia 65


pengertian. Jadi, akal budi harus terlibat. Kemampuan berpikir
adalah pemberian Tuhan kepada kita. Kita bertanggungjawab
memakainya untuk makin mengerti firman Allah.
Ada anggapan bahwa manusia itu fana dan berdosa. Manusia
tidak memiliki kemampuan mencari Allah dengan kepandaiannya.
Allah harus menyatakan diri karena itu pikiran tidaklah penting.
Sebenarnya, anggapan itu tidak benar. Doktrin Kristen tentang
penyataan atau pewahyuan bukannya menjadikan pikiran tidak
penting. Doktrin Kristen menempatkan akal budi pada posisi
yang khusus. Allah telah menyatakan diri dalam bentuk kata-kata
pada pikiran. Penyataan-Nya adalah penyataan rasional kepada
makhluk rasional. Salah satu fungsi termulia pikiran manusia
adalah mendengarkan firman Allah. Dengan demikian, manusia
memiliki potensi untuk mampu membaca pikiran Allah dan
memikirkan pikiran-pikiran Allah sesuai kehendak-Nya, terutama
melalui Alkitab.
Kita harus mengingat bahwa logika hanya merupakan refleksi
hikmat dan pengetahuan Allah. Namun, logika tidak berada di atas
atau sejajar dengan Allah. Logika merupakan bagian dari ciptaan
sehingga logika memiliki keterbatasan. Logika manusia tidak
dapat dipergunakan sebagai hakim untuk menentukan kebenaran
dan ketidakbenaran.
Kekristenan pada hal-hal tertentu dapat dikatakan masuk
akal dan logis, tetapi logika menemui batas kemampuan pada
saat diperhadapkan dengan hal-hal seperti inkarnasi Kristus
dan doktrin Tritunggal. Logika bukanlah Allah dan tidak boleh
diberikan penghormatan yang hanya dimiliki Allah saja. Kebenaran
hanya ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan
logika.
Kesimpulannya sederhana, yaitu panggilan untuk meren­
dahkan hati kita. John Stott dalam bukunya Alkitab Buku untuk
Masa Kini mengatakan bahwa tidak ada musuh lebih hebat

66 Apologetika
terhadap pertumbuhan rohani kita kecuali kesombongan dan
tidak ada yang lebih mendorong pertumbuhan rohani kecuali
kerendahhatian. Kita perlu merendahkan diri kita di hadapan Allah
yang Mahabesar, mengakui keterbatasan akal budi kita (bahwa
tidak mungkin kita menemukan Dia dengan usaha sendiri), dan
mengakui keberdosaan kita (bahwa tidak mungkin kita mencapai
Dia dengan usaha sendiri).
Paulus menegaskan ibadah yang benar adalah ibadah
yang dilakukan secara sadar dan dengan akal sehat; ibadah yang
dilakukan oleh mereka yang mengetahui siapa yang mereka
sembah dan mencintainya dengan segenap akal budi mereka (Kis.
17:23). Dalam 1 Korintus 14:13–15, Paulus menyatakan bahwa ia tidak
bisa merenungkan doa atau penyembahan di mana pikirannya
kosong atau tidak aktif. Ibadah yang benar melibatkan pikiran
secara penuh. Kalau kita tidak menggunakan pikiran yang telah
diberikan Allah, kita akan terperosok dalam kesalahan dan percaya
akan takhayul-takhayul rohani.
Jadi, sangat jelas bagi kita bahwa Dia tidak memandang
rendah akal kita sebab Dia yang memberikannya kepada kita. Dia
menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menggu­
nakan akal. Fungsi akal sebenarnya bukan menghakimi firman
Allah, melainkan merendahkan diri kita di bawah firman Allah,
penuh kerinduan untuk mendengar, mengerti, menerapkannya,
dan menaatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari
dua ekstrem. Di satu pihak, ada manusia yang menolak untuk
menggunakan akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain
pihak, ada manusia yang memberikan logika ruang untuk berdiri
sendiri dan terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai
dengan karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan
sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan pe­
mikirannya, tetapi ia diharapkan untuk menyadari keterbatasan

Logika, Allah, dan Manusia 67


pemikirannya dan kebergantungan akan logikanya kepada Pen­
ciptanya. Karakter manusia sebelum dosa masuk dalam dunia
merupakan dasar untuk tugas berapologetika.

D. Menemukan Dasar Rasional bagi Iman Kristen


Apakah iman itu? Perlukah iman menuntut bukti? John M. Frame
mengatakan: iman bukan hanya pemikiran rasional, melainkan
juga bukan pemikiran irasional. Iman bukanlah percaya dalam
ketiadaan bukti. Iman adalah kepercayaan yang bertumpu pada
bukti yang cukup. Fakta ini adalah bukti dalam Alkitab. Contoh,
kerelaan Abraham untuk mengurbankan anaknya Ishak (Kej.
22) sering disampaikan sebagai contoh iman yang bertentangan
dengan hukum-hukum moral dan rasional. Faktanya, Abraham
memiliki dasar yang kuat untuk melakukan hal yang ia perbuat—
yaitu perintah Allah. Hal yang Allah katakan tidak mungkin tidak
masuk akal dan tidak bermoral karena firman-Nya menjelaskan
kerasionalan dan moralitas kepada kita. Jadi, iman bukan percaya
walaupun tidak ada bukti, tetapi iman menghormati firman Allah
sebagai bukti yang cukup.36
John M. Frame memberi penjelasan bahwa Allah tidak selalu
menyatakan alasan-alasan untuk hal yang Dia katakan atau lakukan.
Sebagai Allah yang bijaksana, benar, dapat dipercaya, dan standar
kerasionalan, Dia selalu mempunyai alasan—tentang hal itu dapat
kita percaya. Allah sering kali membukakan alasan-Nya kepada
kita. Abraham mengetahui bahwa Allah memiliki alasan untuk
memerintahkan ia mengurbankan anaknya, walaupun alasan itu
pada mulanya tersembunyi. Pada akhirnya, ia mengetahui alasan
itu adalah untuk menguji imannya (Kej. 22:16–18).37 Peristiwa

36
John M. Frame, Apologetika bagi Kemuliaan Allah (Surabaya: Momen­
tum, 2005), 75
37
Ibid, 77

68 Apologetika
tersebut bisa menjadi pelajaran yang amat berharga bahwa Allah
sedang mengajar kita untuk mengalami sesuatu dari penderitaan-
Nya, yakni menyerahkan Anak-Nya untuk mati demi kepentingan
kita. Itulah alasan yang lebih lengkap.
John M. Frame dengan jelas menyatakan bahwa menunjuk­
kan alasan-alasan yang alkitabiah bagi kebenaran yang alkitabiah
adalah bagian yang sangat penting dari apologetika. Sebagai
contoh lagi. Seorang yang belum percaya bertanya, “Mengapa
Yesus mengutuk pohon ara dalam Matius 21:18–22?” Hal itu
kelihatan seperti sesuatu yang kejam dan picik untuk dilakukan.
Orang Kristen harus menjawab dengan menunjukkan dari Alkitab
perlambang dari penghakiman yang sudah dekat dan karena itulah
inti dari maksud ajaran Yesus.38

E. Sumber Pembuktian
John M. Frame mengemukakan, tidak berarti bahwa pembuktian
Alkitab secara langsung adalah satu-satunya bukti apologetika
yang Allah izinkan untuk kita gunakan. Alkitab menyuruh kita
untuk mempertimbangkan bukti di luar dirinya (sejauh kita
menggunakannya menurut cara yang dapat diterima oleh Alkitab).
Paulus dalam 1 Korintus 15:1–11, tentang kebangkitan Yesus,
memberikan argumentasi bahwa jika orang-orang itu sangsi
(orang percaya pada abad pertama), mereka dapat menemui para
saksi mata setidaknya 500 orang. Namun, bagi kita sekarang, pem­
buktian yang ultimate adalah firman Allah. Saksi mata penting,
tetapi mereka telah mati dan ingatan mereka lenyap. Hanya jika
kesaksian mereka diabadikan dalam firman Allah yang tertulis,
kesaksian itu terus bernilai sepanjang sejarah dunia. ***

38
Ibid, 78

Logika, Allah, dan Manusia 69


4

Apologetika
Eksistensi Allah

S
etelah kita mempelajari dasar apologetika berdasarkan fir­
man Tuhan, sekarang, dalam bab ini dan dua bab berikut­nya,
kita akan membicarakan beberapa kasus yang sering muncul
dalam percakapan dengan orang yang belum percaya. Harus
diingat bahwa kita akan melihat hanya contoh dari kemungkinan-
kemungkinan tantangan-tantangan dan jawaban-jawaban.
Tuju­­an pokok pembahasan ini adalah memberikan beberapa
saran-saran dasar yang dapat menolong orang Kristen untuk apo­
logetika alkitabiah yang efektif. Bentuk tanggapan-tanggapan
atau jawaban yang ditawarkan bergantung kepada kemampuan
apologet. Hal yang diharapkan adalah ia akan terus belajar untuk
mengembangkan argumentasinya sehingga berpengalaman dalam
pembelaan iman (apologetika).

A. Keberadaan Allah
Dalam bagian ini, saya akan membicarakan mengenai keberadaan
Allah terlebih dahulu. Sangatlah nyata bahwa satu dari kunci per­
masalahan dalam apologetika adalah kebenaran tentang Allah.

71
Sering kali kasus akan kebutuhan untuk berapologetika timbul
oleh karena pertanyaan-pertanyaan mengenai Allah.
Perdebatan di antara orang Kristen dan orang belum percaya
pada dasarnya mengenai keberadaan Allah. Meskipun sanggahan-
sanggahan berkenaan dengan Allah diajukan dalam berbagai ben­
tuk, sesungguhnya akar pertanyaan orang yang belum percaya
adalah “Mengapa saya harus percaya bahwa Allah orang Kristen
itu ada?”
Akan tetapi, saya juga tidak mengabaikan pertanyaan klasik
yang dihadapi manusia di tingkat dasar. Hal ini sering kali terjadi
di tingkat bawah sadar: Apakah Allah ada? Bagaimana saya bisa
mengetahui Allah ada? Bagaimana saya bisa yakin dengan pasti?
Sepanjang zaman-zaman yang telah lampau hingga kini,
orang mencoba membuktikan adanya Allah. Terlebih-lebih pada
zaman sekarang ini di mana ajaran ateistis mengancam kepercaya­
an kepada Allah.
Sebagai orang Kristen, masing-masing kita telah diberi man­
dat bukan sekadar menyampaikan Injil, melainkan juga menjelas­
kan dan mempertahankannya. Allah tidak meninggalkan kita
sendirian. Kita tidak kekurangan jawaban. Alkitab menyatakan
bahwa Allah itu ada (Ibr 11:6) dan Dia tertarik membangun hu­
bungan dengan manusia. Semenjak Allah menciptakan kehidupan,
Dia memiliki ketertarikan dengan hal yang telah diciptakan-Nya.
Alkitab tidak hanya sekadar menegaskan. Alkitab juga menawarkan
undangan untuk mengenal Allah Pencipta secara intim.
Sepanjang sejarah (mungkin terus ada), terdapat orang-
orang yang melakukan penyangkalan mutlak atas keberadaan
Allah (menyangkal bahwa Allah tidak ada) dalam berbagai bentuk.
Kekristenan mengklaim bahwa Allah ada dan ingin menunjukkan
bahwa kepercayaannya kepada Allah itu ada dasar-dasarnya.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada hal yang perlu un­
tuk diperjelas bahwa ketidakpercayaan akan Allah dapat berupa

72 Apologetika
ateisme atau agnostik. Ateis berkata tidak ada Allah, sementara
agnostik percaya bahwa manusia tidak bisa meyakini apakah
Allah ada atau tidak. Ateis sama sekali menyingkirkan Allah;
agnostik mungkin bermaksud lebih “berpikiran terbuka”, hanya
menyingkirkan kemungkinan pengetahuan akan Allah. Keduanya
keliru. Charles H. Spurgeon mengatakan bahwa tidak ada orang
kafir (ateis) di mana pun selain di bumi. Mereka tidak ada di surga,
tidak juga di neraka. Ateisme adalah sebuah istilah yang asing.
Bahkan, Iblis pun tidak pernah jatuh dalam sifat buruk itu karena
“Iblis pun percaya dan gemetar” (Yak 2:19).39 Menurut Alkitab, ateis
dan agnostik adalah orang bebal, “Orang bebal berkata dalam
hatinya, ’Tidak ada Allah” (Mzm. 14:1).
Biasanya, ateis dibedakan dalam dua jenis, yaitu ateis praktis
dan ateis teoritis. Ateis praktis adalah orang yang dalam hidup
sehari-harinya tidak mengindahkan Tuhan atau hidup seolah-
olah Tuhan tidak ada. Ateis teoritis adalah orang yang lebih
bersifat intelektual dan berusaha untuk membenarkan keyakinan
bahwa Allah itu tidak ada dengan argumentasi rasional. Mereka
berpendapat bahwa tidak ada bukti sah tentang keberadaan Allah.
Dengan kata lain, mereka sama sekali menolak adanya keberadaan
Allah. Keberadaan ateis praktis dalam dunia ini tidak perlu
diragukan sebab baik Alkitab maupun pengalaman menyatakan
atau mengakui hal ini. Mazmur 10:4b menyebut bahwa orang fasik
beranggapan: “Tidak ada Allah! Itulah seluruh pikirannya.”
Sekarang ini, pikiran ateis semakin kuat menguasai banyak
manusia. Mereka tidak menghayati bahwa keberadaan mereka
ada yang menciptakan. Dengan pikiran ini, mereka merasa Allah
tidak ada atau tidak perlu ada. Kalau seseorang sudah menyangkal
keberadaan Allah, perbuatan mereka pasti tidak sesuai dengan
kehendak Tuhan (tidak harus atau selalu bejat).

39
Alex McFarland, Apologetika (Malang: Gandum Mas, 2012), 34.

Apologetika Eksistensi Allah 73


Keberadaan orang-orang yang berkategori ateis praktis ini
tidak selalu berkelakuan buruk (secara moral) di mata ma­syara­kat.
Mereka justru tergolong orang-orang baik di mata masyarakat,
walaupun mereka tidak acuh atau peduli ter­hadap hal-hal rohani.
Mungkin sekali mereka sadar akan hu­bungannya dengan Tuhan
tidak harmonis dan mencoba untuk melupakan Tuhan. Mereka
tampaknya secara tersembunyi senang memamerkan keateisan
mereka ketika hidup mereka berjalan lancar, tetapi mereka bertekuk
lutut berdoa (mencari Tuhan) tatkala hidup mereka tiba-tiba
terancam bahaya. Tanpa disadari, sikap seperti ini (meremehkan
Tuhan) bisa terjadi dalam hidup orang Kristen.
Sekarang, kita akan menghadapi beberapa bukti yang men­
demonstrasikan kebenaran mengenai eksistensi Allah. Bukti yang
saya maksudkan di sini adalah bukti internal (argumen theologis)
dan bukti eksternal (argumen filosofis).

1. Argumen Filosofis
Mazmur 19:2 mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan
Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. ”Rasul
Paulus mengatakan, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya,
yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak
kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga
mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20). Dalam pasal berikutnya,
Paulus mengakui bahwa “suara hati” dimiliki oleh semua bangsa,
setiap insan tanpa kecuali (Rm. 2:14–15). Oleh karena itu tidak
mengherankan bahwa sepanjang sejarah gereja, kaum filsuf ber­
usaha untuk membuktikan eksistensi atau keberadaan Allah secara
rasional berdasarkan argumen-argumen lahiriah karena “Ia bukan
tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan” (Kis.
14:17).
Akan tetapi, argumen-argumen tersebut menurut Volkhard
Scheunemann lebih tepat disebut petunjuk atau testimonia

74 Apologetika
(kesaksian) tentang eksistensi Allah dan bukan bukti karena selain
argumen-argumen itu memiliki titik kelemahan dan tidak selalu
persuasif (tidak meyakinkan secara mutlak), kita harus menegaskan
bahwa Allah yang diperuntukkan bagi bukti-bukti bukanlah Allah
sebab pihak yang membuktikan lebih utama daripada apa yang
atau siapa yang akan dibuktikan.
Kalau manusia ingin membuktikan Allah, manusia sudah
mengambil tempat di atas Allah dan keallahan Allah sudah tidak
diakui lagi. Kalau Allah sungguh-sungguh Allah, Dia tidak mung­
kin dibuktikan oleh siapa pun. Oleh karena itu, sebaiknya kita
berbicara tentang petunjuk-petunjuk mengenai eksistensi Allah
dan memakai istilah argumen dalam arti yang demikian. Di sini, saya
tidak akan menjelaskan segala “bukti” yang pernah dikemukakan
banyak theolog maupun filsuf Kristen untuk membuktikan
adanya Allah. Saya mengetahui ada banyak argumen yang menarik
tentang eksistensi Allah. Namun, saya akan membahas beberapa
argumentasi potensial menurut penilaian saya, yaitu etnologis,
kosmologis, teleologis, ontologis, dan etis.

a. Argumen Etnologis
Ada theolog yang menyebut argumen ini sebagai argumen
umum, tetapi saya lebih suka (baca: lebih tepat) memakai istilah
argumen etnologis. Di antara segala bangsa dan suku bangsa,
mereka memiliki gagasan atau ide tentang Allah yang kepada-Nya
manusia bertanggung jawab. Pengertian itu menyatakan diri dalam
pelbagai bentuk ibadah dan upacara seremonial. Paham universal
ini harus berakar dalam tabiat manusia. Hal serupa diungkapkan
Berkhof:

Para mahasiswa Perbandingan Agama dan para pekabar Injil


sering mengakui kenyataan bahwa ide tentang Allah bersifat
universal dalam setiap suku bangsa. Ide tentang Allah ini bahkan

Apologetika Eksistensi Allah 75


ditemukan di dalam bangsa-bangsa dan suku-suku yang paling
tak beradab di dunia ini. Namun, ini tidak berarti bahwa sama
sekali tidak ada orang yang menyangkal keberadaan Allah.40

Jadi, adanya ibadah keagamaan yang ditujukan kepada Allah


yang sudah menciptakan manusia menyatakan kerinduan religius
manusia. Kalau kita bandingkan dengan kesaksian Alkitab bahwa
manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” (Kej. 1:26–
27), kerinduan religius itu dapat dilihat sebagai “benih keagamaan”
yang berhubungan dengan kejadian manusia. Dengan demikian,
argumen etnologis itu bertitik tolak dari kenyataan bahwa manusia
adalah a religious being karena hubungannya dengan a higher
Being (wujud lebih tinggi).41
Hal serupa dinyatakan W. Gary Crampton:42

Semua manusia “bersifat religius”. Para misionaris bersaksi ten­


tang adanya elemen-elemen religius pada semua bangsa-bangsa
penyembah berhala di dunia. Alkitab mengatakan kepada
kita bahwa hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:27).”

GaryCrampton menambahkan bahwameskipun manusiajatuh


dalam dosa dan kemampuan-kemampuan alami manusia sudah
rusak, kemampuan-kemampuan tersebut masih dapat berfungsi,
tetapi bermasalah. Manusia masih merefleksikan gambar dan rupa
Allah (Kej. 9:6; Yak. 3:9) dan hal itu yang menjadikan manusia
tetap “mempunyai sifat religius”. Pada dasarnya, ia memiliki hasrat
untuk mengenal Penciptanya dan memiliki persekutuan dengan-

40
Berkhof, Teologi Sistematika 1 (Doktrin Allah), (Jakarta:LRII), 12.
V. Scheunemann,Op.Cit. 40.
41

42
W. Gary Crampton, Verbum Dei : Alkitab adalah Firman Allah (Surabaya:
Momentum, 2000), 19.

76 Apologetika
Nya. Namun, kelemahan etisnya mengarahkannya kepada allah-
allah yang salah.43
Baik Berkhof, Scheunemaan, maupun Gary Crampton meng­
ungkapkan hal yang sama, yaitu ada bukti yang kuat tentang
adanya ide tentang Allah secara universal dalam pikiran manusia,
bahkan di antara suku-suku bangsa yang masih belum beradab
dan merasakan dampak wahyu khusus (Alkitab). Sebenarnya,
mereka yang menyangkal Allah bertentangan dengan fakta-fakta
yang ada. Fakta “benih agama” yang tertanam dalam diri setiap
orang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah
bukti kuat bahwa tidak ada orang yang dilahirkan sebagai ateis.
Ateis lahir dari keadaan manusia yang telah sesat dan keinginan
manusia untuk menghindari Allah. Hal ini terjadi akibat tindakan
sengaja membutakan diri, menindas insting terdasar diri manusia,
kerinduan terdalam jiwa untuk menggapai eksistensi atau keber­
adaan yang lebih tinggi dari dirinya. Keberadaan yang lebih tinggi
tidak lain adalah Allah. Mereka bukan tidak sadar adanya Allah,
tetapi memilih untuk menindas, baik praktis maupun intelektual
atas “benih agama” dalam dirinya.

b. Argumen Kosmologis (Sebab Akibat)


Nash menyatakan bahwa adanya eksistensi dunia merupakan
fakta yang memerlukan penjelasan. Pemberian penjelasan ter­
sebut adalah tugas dari hal yang disebut argumen kosmologis.44
Menurut Harun Hadiwijono, bukti kosmologis atau kausalitas
dapat dirumuskan demikian, “Segala yang ada memiliki suatu

43
Ibid, 20
44
Istilah kosmologis berasal dari dua kata Yunani. Logos adalah sebuah
kata Yunani yang memiliki banyak arti, salah satunya adalah “alasan.” Kosmos
adalah kata Yunani berarti “dunia” tetapi juga termasuk ide keteraturan. Ketika
orang Yunani menggunakan kata kosmos, mereka maksudkan sebuah dunia yang
teratur dan tidak kacau. Dengan demikian, kata tersebut mengarah pada sesuatu
lebih dari sekadar eksistensi.

Apologetika Eksistensi Allah 77


sebab (dunia ada, jadi dunia atau kosmos memiliki suatu sebab,
yaitu Tuhan Allah). Itulah sebabnya bukti ini juga disebut bukti
kausalitas. Bukti ini dapat dikemukakan dalam bermacam-macam
cara antara lain mengatakan: oleh karena ada gerak, tentu ada yang
menggerakkan, yang dirinya sendiri tidak digerakkan oleh sesuatu
pun. Atau: adanya segala sesuatu yang berubah mengharuskan
orang menyimpulkan hal yang tidak berubah. Jelasnya, adanya
rentetan sebab-musabab menunjukkan kepada adanya sebab
pertama, yaitu Allah.”45
Nash mengatakan bahwa alasan argumen kosmologis kembali
dari eksistensi dunia menuju pada sebuah prinsip atau keberadaan
yang menjelaskan tentang dunia. Keberadaan atau prinsip ini
dalam berbagai versi argumen disebut sebagai Penyebab Pertama.
Argumen kosmologis ini berusaha menunjukkan bahwa Allah itu
adalah Penyebab Pertama alam semesta.46
Setiap akibat ada penyebabnya. Segala sesuatu di dunia
ini memiliki sebab, mengapa ia ada. Ketika J. Leibig ditanya,
“Apakah ia percaya bahwa rumput dan bunga-bunga bertumbuh
dengan kekuatan kimia belaka”, ia menjawab,“ Itu sama halnya
dengan orang berkata bahwa buku-buku yang menguraikan
tentang tumbuh-tumbuhan terjadi dengan sendirinya juga. Tidak
ada bangunan yang ada tanpa ada yang merencanakan dan melak­
sanakannya.” Alkitab berkata, “Sebab setiap rumah dibangun oleh
seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah
Allah” (Ibr 3:4).47
Alasan ilmu pengetahuan menyatakan bahwa setiap aki­
bat ada penyebabnya. Mustahil ada akibat tanpa sebab. Sulit
membayangkan bahwa alam semesta tidak memiliki sumber di

45
Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000),
75–76.
Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
46

Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 182.


47
V. Scheunemann,Op.Cit. 40

78 Apologetika
balik semuanya. Bahkan, orang ateis pun percaya bahwa alam
semesta adalah akibat yang teramat besar.48
Kehadiran teori Big Bang tentang asal mula alam semesta
yang secara sederhana menjelaskan bahwa pada 15–18 miliar tahun
lalu (bisa dilebihi atau dikurangi beberapa miliar), ketika semua
yang eksis dijelaskan sebagai “titik ketunggalan”. Titik ketunggalan
ini melibatkan kesatuan semua materi dan energi dalam alam
semesta. Dengan alasan yang kita tidak ketahui, titik ketunggalan
ini meledak dan dari ledakan itu terjadilah alam semesta yang kita
kenal sekarang.49
Sekarang, pertanyaan penting tentang Big Bang adalah apa
yang menyebabkan itu terjadi? Sebagian orang mengatakan bahwa
kita tidak perlu menjawab pertanyaan itu karena jawabannya
melampaui ilmu pengetahuan. Merupakan kebodohan secara
akademis dan intelektual untuk mengatakan, “Saya tidak akan
masuk ke sana”. Kekristenan memiliki jawaban untuk pertanyaan
itu melalui doktrin penciptaan. Kita memiliki keberadaan yang
eksis secara mandiri dan kekal, yang memiliki kuasa untuk
menggerakkan. Ia memiliki kemampuan untuk menggerakkan
yang tidak bergerak. Aristoteles memahami bahwa harus ada asal
mula dari gerakan itu dan gerakan asal itu harus memiliki kuasa
bergerak pada dirinya seperti halnya ia harus memiliki kuasa
keberadaan pada dirinya. Itulah sebabnya kita menunjukkan
atribut-atribut itu pada Allah. Alkitab mengatakan bahwa di
luar wilayah alam semesta yang diciptakan, ada keberadaan yang
eksis secara mandiri dan kekal, yang kita sebut Allah, yang adalah
Pencipta segala sesuatu, dan dalam Dia segala sesuatu, bergerak,
dan menjadi ada (Kis. 17:28).50

48
Alex McFarland, Apologetika (Malang : Gandum Mas, 2012), 38
49
R.C Sproul, Defending Your Faith : Suatu Introduksi terhadap Apolo­
getika (Malang : SAAT, 2011), 136
50
Ibid, 137–139

Apologetika Eksistensi Allah 79


Jadi, sekarang segala sesuatu, termasuk segala hal yang me­
nyebabkan hal-hal lain menjadi ada, membutuhkan penyebab
untuk menjadi ada. Semua kejadian dalam dunia mempunyai
penyebab. Menolak hal itu sama dengan mengklaim bahwa be­
berapa kejadian terjadi secara tidak rasional.
Akan tetapi, apa yang menyebabkan sesuatu sampai menjadi
ada? Eksistensi dapat disamakan dengan pemberian yang diberikan
dari sebab pada akibat. Apabila setiap orang harus meminjam buku,
tetapi tidak ada orang yang sebenarnya memilikinya, pasti tidak
seorang pun yang akan memerolehnya. Apabila tidak ada Allah
yang memiliki eksistensi melalui sifat-Nya yang kekal, pemberian
eksistensi itu tidak dapat diteruskan pada mata rantai makhluk-
makhluk ciptaan. Kita pun tidak akan memerolehnya. Namun,
kita telah memerolehnya dan sekarang kita ada. Oleh karena itu,
Allah pasti ada, Pribadi yang tidak disebabkan yang tidak harus
menerima eksistensi seperti kita.51
R.C. Sproul meluruskan definisi hukum sebab akibat yang
salah dimengerti (“setiap hal harus memiliki penyebab tidak
tepat”, yang tepat adalah “setiap akibat harus memiliki penyebab”).
Paulus mengutip filsafat Stoik Epimenides, “Di dalam Dia kita
hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:28). Di sini jelas bahwa
tidak ada yang bisa bergerak dalam alam semesta ini bila terpisah
dari providensia Allah. Meskipun kita bisa menyebabkan banyak
peristiwa terjadi, pada akhirnya, semua hal bergerak oleh kuasa
Allah yang tidak kelihatan. Tidak ada gerakan yang terpisah dari
Allah. Oleh karena Allah tidak kelihatan, tidak ada penelitian
yang bisa membuktikan bahwa Allah adalah penyebab pertama
semua peristiwa. Hal ini memperlihatkan bahwa pancaindra kita
tidak pernah bisa menembus wilayah yang tidak kelihatan (yang
sangat signifikan adalah providensia Allah). Namun demikian, hal

51
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup, 1994), 65.

80 Apologetika
ini menuntut kita untuk mengakui hukum sebab akibat sebagai
prinsip formal yang berdasarkan definisi adalah benar, di mana
jika kita pernah bisa mendefinisikan peristiwa sebagai akibat, kita
bisa diyakinkan bahwa peristiwa itu telah disebabkan oleh sesuatu
yang bukan dirinya.52
Kekristenan mengklaim bahwa sumber penggerak itu adalah
Allah. Dengan kata lain, baik ilmu pengetahuan dan Alkitab
mengakui bahwa alam semesta memiliki permulaan. Alam semesta
tidak “ada” tanpa ada kekuatan di baliknya. Penyebab itu adalah
Allah, Penyebab Yang Besar.
Setiap ciptaan memiliki pencipta. Mari kita berpikir
dengan akal sehat. Mustahil sesuatu diciptakan tanpa pencipta.
Sesuatu yang dibuat harus memiliki pembuatnya. Pola kehidupan
secara jelas bukanlah merupakan kejadian yang kebetulan dan
tanpa direncanakan.
Kita menyimpulkan bahwa baik ilmu pengetahuan dan
Alkitab setuju atau mengakui kalau alam semesta memiliki
permu­laan. Apakah permulaan ini disebabkan oleh sesuatu atau
tidak? Kita harus insaf bahwa akibat tanpa penyebab adalah
mustahil—tidak ada (jam tidak memutar dirinya sendiri). Oleh
sebab itu, keberadaan alam semesta disebabkan secara sengaja.
Kita bisa berasumsi “Penyebab” ini pastinya suatu pribadi karena
Dia (Allah) menciptakan manusia yang berpribadi. Jika Allah
bukanlah Allah yang berpribadi, Dia tidak sepintar kita dan kita
(akibat) telah membuat Dia (Penyebab) kurang penting. Hal itu
tidaklah rasional.53
Secara esensial, argumentasi ini dapat diringkas menjadi
pertanyaan,“Dapatkah peristiwa mengakibatkan tujuan? Dapatkah

52
R.C Sproul, Defending Your Faith: Suatu Introduksi terhadap Apo­
logetika (Malang: SAAT, 2011), 54.
53
Alex McFarland, Apologetika Volume 4 (Malang : Gandum Mas, 2012),
43–44

Apologetika Eksistensi Allah 81


yang tidak hidup menciptakan kehidupan? Dapatkah sesuatu
datang dari yang tidak ada?” Dengan kata lain, meski kita percaya
argumen kita telah mendemonstrasikan bahwa dunia memiliki
Seorang Penyebab Pertama54, bagaimana kita mengetahui bahwa
Penyebab Pertama itu kekal? Terlebih lagi, bagaimana kita me­
ngetahui bahwa Penyebab Pertama itu sempurna?
Sebagai orang Kristen, kita meyakini sifat-sifat spesifik Allah.
Satu kata yang tampaknya mewakili karakteristik yang paling
penting ini, yaitu Allah itu sempurna. Seorang filsuf dan theolog
abad pertengahan, St. Anselm, menjelaskan hal ini dengan
mengatakan bahwa Allah adalah keberadaan melebihi keberadaan
yang terbesar yang tidak mampu dipikirkan. Pengetahuan Allah itu
sempurna dalam arti bahwa pengetahuan-Nya tidak terjangkau,
di mana pengetahuan siapa pun tidak bisa melebihinya. Karakter
moral Allah itu sempurna dalam arti tidak dapat dibayangkan yang
secara moral tidak ada moral mana pun yang dapat melampauinya.
Kuasa Allah itu juga sempurna.55
Bagaimana dengan hukum sebab akibat? Apakah hukum itu
bisa ditemukan di Alkitab juga? R. C. Sproul menjelaskan hukum
sebab akibat jelas ada di Alkitab. Setiap mukjizat dibahas di
Alkitab. Hukum sebab akibat menyatakan bahwa “setiap akibat ada
penyebabnya”. Ketika Nikodemus datang pada Yesus dan berkata,
“Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus

54
Prof. Nash menjelaskan kata Pertama dalam arti logis. Jika keberadaan
itu menjadi pertama dalam susunan temporal, berarti ia itu eksis pada
permualaan susunan tersebut. Jika sesuatu menjadi pertama dalam susunan
keberadaan, ia pasti keberadaan yang tertinggi atau paling penting. Ketika istri
presiden digambarkan menjadi first lady, sebutan tersebut tidak dimaksudkan
untuk usianya. Kata pertama menunjuk pada keunggulan posisinya; menunjuk
pada betapa pentingnya dirinya. Sebagai akibatnya, untuk menggambarkan Allah
sebagai Penyebab Pertama yang logis berarti memandang Dia sebagai penyebab
atau persyaratan tertinggi bagi eksisnya segala sesuatu.
55
Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 185.

82 Apologetika
Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-
tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” (Yoh
3:2), Nikodemus secara nalar telah menghubungkan poin-poin
yang ada dan mengakui keberadaan yang supernatural, yang mana
Allahlah yang menjadi penyebab karya Yesus. Jika tidak demikian,
karya itu tidak bisa terjadi. Kalau kita mengatakan bahwa segala
sesuatu dapat menyebabkan segala sesuatu atau peristiwa apa pun
tanpa penyebab, tidak ada mukjizat di Alkitab, dari Penciptaan
sampai pada Kebangkitan, yang memiliki nilai kenyataan.
Jadi jelas, kita percaya bahwa kita tidak sedang menyatakan
dunia itu dicipta oleh keberadaan yang tidak eksis lagi atau oleh
keberadaan yang terbatas. Secara sederhana, jika kita menolak
wahyu khusus (Alkitab) dan berusaha mencari alasan dengan
cara kita dari apa yang kita ketahui tentang dunia pada sebuah
eksistensi, membuat kita jauh dari Allah yang satu-satunya, kekal,
tanpa batas, mengasihi, suci, dan sempurna.
Perhatikan bahwa kita juga tidak sedang menanyakan
menga­pa bagian dunia ini atau itu eksis; sekarang kita sedang
bertanya mengapa semuanya itu eksis. Perhatikan juga bahwa kita
tidak sedang menanyakan apa yang pertama membawa dunia ke
eksistensi. Kita sedang mencari alasan yang cukup, dasar tertinggi,
Penyebab Pertama yang logis, yang tanpanya dunia tidak akan ek­
sis. Mengapa dunia eksis? Apa yang jadi alasan yang cukup?Tentu
ada alasannya atau tujuannya. Kita akan mempelajari ini pada
argumen teleologis berikut ini.

c. Argumen Teleologis (Tujuan)


Argumentasi teleologis merupakan argumentasi berdasarkan
rancangan (telos, dari kata Yunani, yang artinya, “tujuan”). Argu­men
ini dirumuskan demikian, “Oleh karena dalam seluruh kosmos ada
tata-tertib, harmoni, keselarasan dan tujuan, harus ada zat yang
sadar, yang menentukan tujuan itu terlebih dahulu. Bahwa musim

Apologetika Eksistensi Allah 83


datang pada waktunya, tiap makhluk mendapat pemeliharaan
masing-masing dan sebagainya, menunjukkan bahwa ada Allah
yang menjadikan dan mengatur semuanya itu.”56
Sebenarnya, argumen tujuan (teleologis) ini berhubungan
dengan argumen sebab akibat (kosmologis). Hanya, penguraiannya
lebih jauh dijelaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan me­
miliki tujuan tertentu sehingga di balik segala yang ada, pasti ada
perencana Agung. Seperti halnya arloji tidak hanya membuktikan
adanya yang membuatnya, tetapi juga membuktikan perbuatannya
dengan tujuan yang jelas, yaitu menunjukkan waktu.
Adanya kecerdasan, perencanaan, dan ketertiban dalam
semesta menunjuk kepada Sang Pengatur dan Perencana, yaitu
Allah (klaim kekristenan). Alkitab berkata, “Siapakah dia yang
menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak
berpengetahuan? Siapa telah membendung laut dengan pintu,
ketika membual ke luar dari dalam rahim?” (Ayb. 38:2,8). Mazmur
104 bersaksi, “Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan
makanan pada waktunya. Apabila Engkau memberikannya, mereka
memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka
kenyang oleh kebaikan.” Alkitab banyak menyaksikan kekaguman
hikmat Allah dalam karya penciptaan, pemeliharaan, dan
penyelamatan-Nya.

d. Argumen Ontologis (Wujud)


Argumen ontologis (kata depan Yunani, onto berarti “ke­
ber­adaan”) ingin membuktikan bahwa Tuhan ada dengan me­
nunjukkan pada adanya “pengertian tentang Tuhan”. Tiap orang
memiliki “pengertian tentang Tuhan”. Oleh karena tiap orang
memiliki “pengertian tentang Tuhan”, Tuhan tentu ada.

56
Harun Hadiwijono,Op.Cit. 76.

84 Apologetika
Manusia mempunyai gagasan atau ide tentang wujud yang
sempurna dan kekal, yaitu gagasan atau ide tentang sesuatu yang
paling sempurna, yang tidak dapat dipikirkan lebih sempurna lagi.
Dari manakah gagasan atau idea itu? Mungkinkah gagasan atau
ide itu timbul dari manusia yang tak sempurna dan fana? Mustahil.
Dari manakah manusia sadar akan kekurangannya sehingga tidak
puas dalam dirinya? Alkitab menyatakan Allah sebagai Allah yang
kekal, yang tidak terduga pengertian-Nya (Yes. 40:28) terhadap
keputusan-keputusan-Nya yang tidak terselidiki dan jalan-jalan-
Nya yang tidak terselami (Rm. 11:33). Ide atau gagasan yang
demikian itu adalah Allah.

e. Argumen Etis (Moral)


Banyak pengalaman manusia tampaknya menunjuk pada
eksistensi hukum moral atau standar tingkah laku. Kegagalan kita
melakukan sesuatu yang kita yakini membawa kita pada perasaan
bersalah. Kegagalan orang lain untuk menampilkan perilaku
tertentu terhadap kita bisa menimbulkan perasaan marah. Ketika
kita berani menyatakan pada orang lain bahwa perilakunya itu
salah, kita sedang melakukan lebih dari sekadar seruan terhadap
standar moral kita. Kritik moral seperti ini akan tidak masuk akal
kecuali kita percaya bahwa orang lain mengetahui tentang standar
moral yang sama. Jadi, adanya keyakinan akan eksistensi hukum
moral yang objektif dan universal adalah keyakinan yang rasional.
Selanjutnya, kita bertanya, “Apakah sumber dan dasar hukum
moral?” Harun Hadiwijono menjelaskan bahwa pada setiap orang
ada kesadaran tentang kesusilaan, yaitu pengertian mengenai
yang baik dan yang jahat. Dari mana asalnya itu jika tidak ada yang
memberitakannya? Hal ini adalah pekerjaan Allah.
Dalam diri manusia terdapat perasaan tentang baik dan
jahat, bahkan suruhan atau perintah untuk berbuat baik, yang
kita sebut imperatif kategoris, yaitu suruhan atau perintah

Apologetika Eksistensi Allah 85


mutlak, yang tidak dapat ditawar lagi. Kesadaran yang tidak bisa
diabaikan ini mendorong setiap orang untuk berperilaku dalam
cara tertentu. Kesadaran itu “kategoris” karena ia universal. Setiap
orang memiliki pemahaman kategori berkaitan dengan moralitas.
Kesadaran itu “imperatif” karena kategori moral itu mendorong
orang untuk bertindak berdasarkan kesadaran itu dan kesadaran
itu mempresentasikan perintah yang mutlak.57
Dari kenyataan suara yang berbisik dalam hati nurani
manusia, hal itu menuntut eksistensi Pembuat Hukum dan Hakim
yang berwenang atas suara hati nurani manusia, yaitu hukum-
hukum-Nya dalam hati manusia. Alkitab mengenal eksistensi
suara hati dengan kenyataannya, bahwa perasaan dan pikirannya
“saling menuduh atau saling membela” (Rm. 2:14–15). Adanya
suara hati itu menunjuk kepada Dia, yang membuat hukum dan
menghakimi.58
Itulah sebabnya Imanuel Kant mengerti bahwa tanpa standar
perilaku yang objektif, peradaban akan kacau dan jatuh. Apabila
tidak ada Allah, tidak ada dasar tertinggi untuk hal yang disebut
benar. Selanjutnya, Imanuel Kant mengatakan, “Apa yang harus ada
untuk standar moral yang objektif itu bisa berarti?” Hal pertama
yang harus ada untuk etika bisa berarti adalah keadilan. Kalau
kejahatan tidak ada hukumannya, tidak ada alasan praktis untuk
bijak. Secara praktis, kita tidak mempunyai alasan untuk apa pun
kecuali mementingkan diri sendiri. Agar standar moral menjadi
berarti, perilaku yang benar harus diberi upah dan perilaku yang
salah harus dihukum.
Akan tetapi, setelah keadilan ditegakkan, apa yang harus
dilakukan untuk keadilan? Kant mengatakan, oleh karena keadilan
secara nyata tidak bisa dijalankan dengan sempurna dalam
kehidupan ini, keadilan harus dijalankan secara sempurna dalam

57
R.C Sproul, Op.Cit. 159.
58
V. Shceunemann, Op. Cit. 42.

86 Apologetika
kehidupan di luar kehidupan ini. Oleh karena dalam kehidupan ini
orang “tak bersalah” binasa dalam tangan orang jahat, harus ada
kehidupan setelah kematian atau tempat di mana orang jahat akan
mendapatkan hal yang patut diterimanya. Alkitab menunjukkan
cara orang kudus pada waktu lampau bergumul dengan pertanyaan
yang sama, “Berapa lama lagi orang-orang fasik, ya TUHAN, berapa
lama lagi orang-orang fasik beria-ria?” (Mzm. 94:3). Orang jahat
hanya akan ada di tempat di mana keadilan tidak dilaksanakan
secara sempurna. Tidak ada keadilan yang mutlak dalam dunia
ini. Namun, kita mencari keadilan, meskipun keadilan tidak
selalu dijalankan. Kant menegaskan, “Maka harus ada keadilan
yang sempurna di suatu tempat dan suatu tempat itu ada setelah
kehidupan ini.”
Hal lain yang harus ada untuk keadilan yang sempurna terja­
di setelah kehidupan ini adalah hakim yang bermoral sempurna.
Kalau hakim ini menderita kelemahan moral, akhirnya hakim
itu bukan hakim yang benar sebab ia bisa melakukan kesalahan
yang sama, yang kita lakukan di sini, di atas bumi dalam ruang
pengadilan kita. Agar memiliki standar etika, harus ada keadilan
yang sempurna; supaya memiliki keadilan yang sempurna, harus
ada hakim yang sempurna. Hakim itu harus “mahatahu”—yang
bisa mengetahui segala fakta atau situasi dan kondisi secara
lengkap dalam kasus-kasus yang datang kehadapannya sehingga
penghakimannya tanpa salah dan cela. Pertanyaan selanjutnya,
apakah kehadiran hakim yang sempurna secara moral dan
mahatahu bisa menjamin keadilan yang sempurna? Belum ten­
tu. Hakim itu harus mahatahu dan mahakuasa. Penghakiman
yang dijatuhkan bisa tidak dapat dilaksanakan, kecuali hakim
itu memiliki kuasa yang sempurna atau kemampuan untuk
menjalankan setiap penghakiman yang keluar dari mulutnya.
Jadi, akhirnya hakim ini harus mahakuasa, lebih kuat dari kuasa
mana pun yang dihadapinya, yang mungkin bisa menghalangi
pelaksanaan penghakimannya. Ia harus secara sempurna mampu

Apologetika Eksistensi Allah 87


melaksanakan penghakimannya supaya menjamin bahwa keadilan
yang sempurna bisa terjadi. Klaim kekristenan, tidak ada hakim
yang sempurna secara moral, mahatahu, dan mahakuasa selain
Allah, Sang Pencipta. Alkitab berkata, “Langit memberitakan
keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim” (Mzm. 50:6). Selain
itu juga dikatakan, “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim,
yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan” (Yak.
4:12).
Suara hati memuat kesadaran bahwa hal yang disadarinya
sebagai kewajiban mutlak (imperatif kategoris) yang harus kita
lakukan. Hati nurani tidak dapat dihapuskan! Apabila kita berusa­
ha untuk menghapuskan, menyangkali, atau menghindarinya,
hanya perasaan bersalah yang mengikuti, sementara “imperatif
kategoris” itu terus ada. Mengabaikan “imperatif kategoris” ini
tidak akan membuat perasaan bersalah itu hilang. Faktanya, hal
itu malah menghasilkan perasaan bersalah yang lebih besar lagi.
Perasaan bersalah seperti itu datang dari kegagalan mengikuti
“imperatif kategoris”, atau hal-hal yang secara moral kita wajib
atau harus melakukannya.
Dari mana unsur mutlak itu? Klaim kekristenan bahwa
yang mutlak hanya Allah. Hukum Allah ditulis dalam hati kita,
dalam hati setiap umat manusia. Dengan kata lain, setiap orang
mengetahui perbedaan antara yang benar dan yang salah. Kita
mengetahui bagaimana seharusnya bertindak (Rm. 1:28,32), tetapi
kita mengabaikan hal yang seharusnya kita lakukan dan fokus pada
hal yang kita mau lakukan.
Akan tetapi, suara hati itu tidak ada apabila Allah tidak ada.
Suara hati tidak akan berbicara apabila Allah tidak berfirman.
Suara hati menjadi saksi utama melawan kemanusiaan kita
yang jahat. Roh Kudus sering menegur atau menuntun melalui
hati nurani, sama seperti Dia memengaruhi akal, perasaan, atau
kemauannya (Rm 2:14–15). Setiap orang yang datang dalam dunia

88 Apologetika
ini membawa kesadaran tentang Allah, yang ditempatkan oleh
Allah. Manusia diciptakan berdasarkan gambar dan rupa-Nya.
Oleh karena itu, kita membawa kesadaran intuitif bahwa Allah
ada. Gary Crampton menjelaskan hal yang dimaksud dengan
gambar dan rupa Allah adalah terdiri atas aspek-aspek moral atau
etis dari karakter manusia.59
Kesadaran tentang yang ilahi telah ada pada diri setiap
orang sehingga tidak dapat berdalih. Walaupun setelah manusia
berdosa, gambar Allah memang rusak, tetapi tidak pernah di­
angkat oleh Allah dari hati umat manusia bahwa Allah ada dan
karena itu menuntut ucapan syukur mereka. Dengan demikian,
tidak ada orang “yang tidak bersalah” di seluruh sejarah dunia ini
karena semua orang telah menerima wahyu yang jelas tentang
Penciptanya (Rm. 1:18–20). Setiap orang dari mereka telah menindas
pengetahuan ini, menolak untuk mengucap syukur, dan memilih
untuk menyembah apa saja kecuali Allah yang hidup.60
Alkitab menulis bahwa sejak penciptaan dunia ini, Sang
Pencipta telah dengan jelas mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan-
Nya dan melalui hati nurani. Mungkin Paulus bermaksud
mendiamkan orang yang menggerutu dan berdalih, yang akan
berdiri di pengadilan Allah dan berseru bahwa hal itu tidak
adil: “Allah, kalau saja kami telah mengetahui bahwa Engkau
Ada, kami akan menyembah dan memuliakan Engkau.” Namun,
Alkitab menyatakan bahwa Allah tidak akan menanggapi dalih
semacam itu karena semua orang telah mengetahui bahwa Dia
ada. Sesungguhnya, pada waktu mereka tidak mengikuti Dia, hal
itu bukan karena mereka tidak bisa melihat-Nya dalam penyataan
umum melalui ciptaan maupun hati nurani, melainkan mereka
membenci Dia dan menolak berpikir tentang Dia sama sekali.

W. Gary Crampton, Verbum Dei: Alkitab adalah Firman Allah (Surabaya:


59

Momentum, 2001), 19.


60
R.C. Sproul, Op.Cit. 81.

Apologetika Eksistensi Allah 89


Problemnya adalah pengetahuan ini terus-menerus ditindas,
sampai akhirnya kebenaran itu digantikan dengan kebohongan
(Rm. 1:21–23).
Apabila moralitas hendak diberlakukan dengan serius, pe­
ngakuan akan Allah merupakan keharusan yang sangat praktis.
Kita harus hidup seperti memang Allah itu ada. Kalau tidak ada,
kita tidak memiliki pengharapan dalam peradaban dan bagi
komunitas manusia.
Demikianlah beberapa argumen secara rasional dan filosofis
yang bisa kita gunakan untuk berapologi tentang eksistensi Allah
—bahwa Allah itu ada. Kita patut menghargainya dalam batas-
batas tertentu walaupun kekuatan dampaknya tidak seluas dan
sehebat seperti argumen Alkitab (theologis). Sebagai contoh, kita
mengambil dari kitab Ayub di mana kesaksian dunia hewan akan
eksistensi Allah mempermalukan keraguan manusia, yang dengan
segala hikmatnya sudah menjadi bodoh (band. 1 Kor. 1:19–20).

Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan di­


berinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan
diberinya keterangan. Atau bertuturlah kepada bumi, maka
engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan
bercerita kepadamu. Siapa di antara semuanya itu yang tidak
mengetahui, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di
dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas
setiap manusia? Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan!
Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. Bila Ia
membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia
menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya. Bila
Ia membendung air, keringlah semuanya; bila Ia melepaskannya
mengalir, maka tanah dilandanya. Pada Dialah kuasa dan ke­
menangan! Dialah yang menggiring menteri dengan telanjang,
dan para hakim dibodohkan-Nya. Dia yang menggiring dan
menggeledah para imam, dan menggulingkan yang kokoh. Dia
menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, Ia membuat
mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk. (Ayb.
12:7–25).

90 Apologetika
Berkhof mengingatkan kita bahwa argumen-argumen rasio­
nal ini harus selalu diingat pertama kali bahwa orang-orang
percaya tidak membutuhkan argumen-argumen ini. Pengakuan
kita tentang keberadaan Allah tidak tergantung atas argumen-
argumen ini, tetapi penerimaan iman terhadap penyataan Allah
dalam Alkitab.
Akan tetapi, argumen-argumen tersebut bisa berguna bagi
orang percaya. Namun, hal ini lebih tepat disebut sebagai tes­ti­
monia (kesaksian-kesaksian) daripada argumen. Argumen-argu­
men ini dapat dipakai sebagai senjata untuk menghadapi para pe­
nentang, walaupun argumen ini tidak membuktikan keberada­an
Allah melampaui segala keraguan, tetapi penting sebagai tafsiran
atas wahyu Allah yang umum dan sebagai pemaparan tentang
percaya pada Keberadaan yang Ilahi yang bersifat masuk akal
sehingga dapat membungkamkan gonggongan orang-orang yang
belum percaya. Jadi, bagi orang yang telah percaya kepada Allah,
imannya dikuatkan oleh testimonia (kesaksian-kesaksian) tadi,
sedang testimonia (kesaksian-kesaksian) itu tidak menjadikan
orang yang belum percaya menjadi percaya.

2. Argumen Theologis
Berkhof menjelaskan bahwa percakapan tentang pengeta­
huan akan Allah tidak masuk akal, kecuali dapat diandaikan
bahwa Allah ada. Apakah pengandaian ini masuk akal? Jawabnya
tegas: “Ya”. Namun, hal ini tidak berarti keberadaan Allah mampu
dibuktikan secara akal tanpa sedikit pun ruang bagi keraguan,
tetapi artinya ialah sementara kebenaran tentang Allah diterima
dengan iman dan iman ini tidak hanya semata-mata didasarkan
atas informasi (data) yang dapat dipercaya.
Kuyper menegaskan bahwa usaha untuk membuktikan ke­
beradaan Allah tidak berguna dan tidak akan berhasil. Usaha
tersebut tidak berguna apabila si pencari percaya bahwa Allah

Apologetika Eksistensi Allah 91


adalah pemberi pahala kepada mereka yang mencari Dia. Usaha
itu pun tidak akan berhasil bila usaha ini adalah upaya untuk
memaksa seseorang yang tidak mempunyai iman melalui cara-
cara argumentasi sampai tiba kepada pengakuan dalam arti logis.
Ada dua tahap untuk berargumentasi membela keberadaan
Allah.61Pertama, sebagai orang Kristen, kita harus mengakui
bah­wa dasar kepercayaan kita akan keberadaan Allah menurut
pandangan iman Kristen adalah iman kita kepada Kristus. Kedua,
sebagai apologet Kristen (pembela iman), kita harus menyajikan
fakta-fakta dari sudut pandang Kristen untuk membawa orang
percaya akan keberadaan Allah.
Bukti Alkitab, menurut Pratt, disebut argumentasi berda­
sarkan kebenaran. Alkitab menyatakan keberadaan Allah dan be­
ker­ja di atas realitas keberadaan tanpa memberikan penjelasan
panjang lebar mengenai bukti-bukti untuk membuktikan ke­
beradaan Allah (Kej. 1:1). Meskipun tidak ada bukti-bukti dari luar
akan keberadaan Allah, Allah akan tetap eksis atau ada. Dengan
kata lain, keberadaan Allah tidak akan bergantung atau ditentu­
kan oleh bukti-bukti dari luar Alkitab.
Alkitab mengajarkan bahwa hanya orang bodoh yang akan
menyangkal keberadaan Allah (Mzm. 14:1). Fakta bahwa nubuat-
nubuat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah digenapi
dan sedang digenapi menunjukkan kepada kita bahwa Allah
orang Kristen ada dan sedang bekerja dalam segala sesuatu sesuai
kehendak-Nya. Pratt menegaskan: “Tanpa Allah, tidak ada sesuatu
pun yang akan terjadi, bahkan pertanyaan mengenai keberadaan-
Nya pun tidak akan pernah ada.”62 Berkhof mengemukakan bahwa

61
Richard L. Pratt, Menaklukan Segala Pikiran kepada Kristus (Malang:
SAAT, 1994), 147.
62
Ibid, 148.

92 Apologetika
argumentasi tentang keberadaan Allah menurut iman Kristen
dapat dijelaskan sebagai berikut:63

1. Adanya Allah diterima sebagai anugerah dalam Alkitab.


Sejatinya, semua penulis Alkitab tidak seorang pun yang
mencoba membuktikan dan memperbantahkan hal adanya Allah.
Adanya Allah diterima sebagai anugerah dan tidak dipersoalkan
seperti halnya seorang anak tidak mempersoalkan adanya orangtua
karena keberadaannya tidak mungkin dilepaskan dari keberadaan
orangtua. Sebaliknya, adanya anak membuktikan adanya orangtua.
Alkitab mulai dengan Allah, “Pada mulanya Allah” (Kej 1:1). Nama
Allah menunjuk pada keberadaan-Nya, “Aku adalah Aku” (Kej.
3:14), dan Alkitab menutup dengan Allah, “Aku datang dengan
segera” (Why. 22:20). Dia datang dengan sendirinya dan Dia adalah
sumber segala yang hidup (Yoh. 5:26).64
Alkitab sadar bahwa ada manusia yang tidak mengakui adanya
Allah dan menyebut mereka sebagai orang bebal, fasik, dan bejat
(Mzm, 14:1). Ateisme, agnostik, maupun nihilisme (menyangkali
eksistensi Allah) dinilainya sebagai buah akal yang rusak karena
orang “yang berakal budi mencari Allah” (Mzm. 14:2). Alkitab
mengatakan, “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke
atas: ‘Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!’, itulah seluruh
pikirannya.” (Mzm. 10:4). Setan-setan pun percaya akan adanya
Allah dan “gemetar” (Yak. 2:19).
Menurut uraian Roma 1:18–21, semua manusia memiliki
pengetahuan adanya Allah melalui alam. Hal ini tidak dapat di­
pungkiri, semua orang tanpa terkecuali. Inilah berita yang di­
sampaikan Paulus bahwa tidak ada seorang pun yang dapat meng­
klaim bahwa ia tidak mengetahui adanya Allah. Pengetahuan

63
Louis Berkhof, Teologi Sistematika 1 (Doktrin Allah), (Jakarta: Lembaga
Reformed Injili Indonesia, 1993), 10–11.
64
V. Shceunemann, Op. Cit. 37.

Apologetika Eksistensi Allah 93


tentang Tuhan begitu jelas bagi manusia, “Karena apa yang dapat
mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah
telah menyatakannya kepada mereka” (Rm. 1:19). Pengetahuan itu
juga jelas dirasakan, “... sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Sebab mereka mengenal Allah...” (Rm. 1:20–21a). Sebaliknya me­
reka, “...tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap
syukur kepada-Nya” (Rm. 1:21b). Ini sebenarnya anugerah Allah
bagi manusia, tetapi manusia tidak mengakui Dia sebagai Allah
dan memuliakan-Nya. Di sini, ada perbedaan yang nyata antara
mengetahui Allah dan mengakui Dia sebagai Allah.

2. Adanya Allah diterima dengan iman


Orang Kristen menerima kebenaran tentang keberada­
an Allah dengan iman. Namun, iman ini bukanlah iman yang
buta, melainkan iman yang berdasarkan bukti, dan bukti ini
ditemukan pertama-tama dalam Alkitab sebagai firman Allah yang
diinspirasikan (penyataan khusus) dan kedua dalam wahyu Allah
dalam alam semesta (penyataan umum). Kita akan melihat secara
eksplisit dalam Ibrani 11:6, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin
orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling
kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah
memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Jadi, kita harus percaya bahwa Allah ada sebab Dia telah
menyatakan diri-Nya dalam firman-Nya. Selanjutnya, dikatakan
pada kitab paling awal, “Pada mulanya Allah menciptakan langit
dan bumi” (Kej. 1:1). Alkitab adalah bukti yang tidak terbantahkan
bahwa Allah bukan saja Pencipta langit dan bumi, melainkan juga
menopang seluruh ciptaan-Nya dan memerintah atas bangsa-
bangsa. Alkitab (wahyu Allah) ini adalah dasar dari iman kita
tentang keberadaan Allah dan membuat iman tersebut seluruh­nya
masuk akal.

94 Apologetika
Wesley Brill mengatakan bahwa tidak ada penulis Alkitab
yang mencoba membuktikan bahwa Allah ada. Alkitab mulai
de­ngan perkataan, “Pada mulanya Allah” (Kej. 1:1 dan Yoh. 1:1–
3). Manusia di seluruh dunia percaya bahwa Allah ada karena
kepercayaan itu memang diletakkan oleh Allah dalam hati manusia,
“Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah’” (Mzm.
14:1). Hanya orang bebal yang tidak percaya bahwa Allah ada. Bagi
orang Kristen, kenyataan bahwa Allah itu ada diyakinkan dalam
hati kita sebab kita dapat merasakan persekutuan dengan Allah.
Oleh karena itu kita, sebagai orang Kristen, tidak perlu mencari
bukti-bukti yang dari luar. Dengan iman, orang mengetahui
bahwa ibunya adalah sungguh-sungguhnya ibunya. Walaupun
ia tidak dapat membuktikannya, tetapi hal itu dinyatakan dalam
hatinya. Kalau ingin mendapatkan bukti bahwa Allah ada, lebih
baik kita melihat kepada Tuhan Yesus yang berkata, “Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Alkitab juga
membuktikan bahwa Allah ada sebab tanpa pertolongan Allah,
manusia tidak mungkin menulis Alkitab.”65
Allah tidak sama dengan manusia, “Jadi dengan siapa hendak
kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa
dengan Dia? (Yes. 40:18). Selanjutnya dikatakan, “Dapatkah engkau
memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang
Mahakuasa? Tingginya seperti langit—apa yang dapat kaulakukan?
Dalamnya melebihi dunia orang mati—apa yang dapat kauketahui?
(Ayb. 11:7–8). Oleh karena itu, pendekatan kepada Allah haruslah
dengan iman karena Dia melebihi kemampuan akal manusia dan
iman membuktikan segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1).
Selanjutnya, iman yang mengakui eksistensi Allah harus
maju pada iman yang menghayati Allah dan mengalaminya.
Rasul Yohanes menyatakan, “Anak Allah telah datang (penyataan)
dan mengaruniakan pengertian kepada kita (pembaruan rasio),

65
J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup,1998), 31.

Apologetika Eksistensi Allah 95


supaya kita mengenal yang benar ... Dia adalah hidup yang kekal”
(1 Yoh 5:20). Sekali lagi, karena iman kita mengerti” (Ibr 11:3).
Dalam kalimat sederhana ini terungkap relasi yang tepat dan
benar antara iman dan ilmu (pengetahuan), penyataan dan rasio.
Iman mendatangkan pengertian—Aku percaya atau beriman agar
aku mengerti. Iman hidup karena dihubungkan dengan Dia yang
hidup sebagaimana ditegaskan oleh Yesus, “Inilah hidup yang kekal
itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang
benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh.
17:3).66
Hal yang istimewa dalam iman Kristen, yang tidak terdapat
dalam keyakinan lain adalah bukan manusia mencari Allah,
melainkan Allahlah yang mencari manusia—kebalikan dari
kebiasaan dan upaya agama di mana manusia selalu berperan
sebagai subjek dan Allah sebagai objek yang dicari manusia.
Padahal, pribadi yang berperan sebagai subjek kebenaran ialah
Allah, sedangkan manusia sebagai objek yang dicari Allah dan
kebenaran-Nya. Dari halaman pertama Alkitab sampai dengan
yang terakhir, Allah memanggil manusia (Kej. 3:9; Why. 22:17).
Bukan kita, melainkan Allahlah yang mula-mula berinisiatif
(Mat. 18:12–14), mengetok pintu hati (Why. 3:20) dan memilih kita
(Yoh. 15:16), sebagaimana disimpulkan oleh Rasul Paulus, “Tetapi
sekarang, sesudah kami mengenal Allah, atau lebih baik: sesudah
kamu dikenal Allah...” (Gal. 4:9).
Kesimpulan, tidak diragukan lagi manusia merindukan pe­
ngetahuan akan Allah. Hasrat-hasrat agamawi membuktikan hal
itu. Namun, mungkinkah itu? Alkitab menyatakan dua fakta, yaitu
Allah tidak dapat dipahami (Ayb. 11:7; Yes. 40:18) dan sekaligus
Allah dapat diketahui dan dikenal (Yoh. 14:7; 17:3; 1 Yoh. 5:20).
Mengatakan bahwa Allah tidak dapat dipahami menegaskan bahwa
pikiran manusia tidak mampu menguasai pengetahuan tentang

66
Ibid, 38.

96 Apologetika
Dia. Mengatakan bahwa Allah dapat diketahui menyatakan bah­
wa Dia dapat dikenal (sebab Dia telah menyatakan banyak fakta
mengenai Diri-Nya, pertama-tama melalui ciptaan-Nya—alam
semesta).
Seandainya Dia hanya menyatakan fakta-fakta tanpa kita
mungkin mengenal Dia secara pribadi, pengetahuan berdasarkan
fakta semacam itu hanya akan mempunyai kegunaan yang kecil
dan tentunya tidak kekal. Sama seperti hubungan antarmanusia,
hubungan antara Allah dan manusia tidak dapat dimulai tanpa
pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran mengenai Pribadi itu;
kemudian hubungan yang bersifat pribadi itu membangkitkan
kerinduan untuk mengetahui lebih banyak fakta-fakta yang lantas
memperdalam hubungan itu, dan seterusnya. Siklus ini harus
menjadi pengalaman dari setiap orang Kristen yang memercayai
adanya Tuhan, yaitu pengetahuan akan Dia seyogyanya mem­
perdalam hubungan kita dengan Dia yang pada gilirannya
mendorong kerinduan kita untuk lebih mengenal Dia.67
Setelah Anda mengetahui (lebih tepatnya: menyadari)
Allah ada, selanjutnya Anda maju lagi untuk mengenal Dia secara
pribadi dengan pengertian yang lebih utuh melalui Alkitab berarti
Anda telah menemukan hal yang terpenting dalam kehidupan
ini—membina hubungan dengan Allah dan tinggal bersama-Nya
selamanya. Selanjutnya silakan mendalami di buku saya: Jalan
Masuk Kerajaan Surga “Bagaimana Mengetahui bahwa Anda Sudah
Selamat”.
Dengan demikian, Anda dapat membuktikan bahwa Tuhan
Yesus bukan tokoh dongeng. Dia adalah Anak Allah yang mati dan
bangkit. Dia hidup dan berkuasa yang suatu hari nanti akan tampil
sebagai Raja dan Anda akan mendapat legalitas atau sertifikat
yang berbunyi: “Inilah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadanya Aku
berkenan”.

67
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1 (Yogyakarta: Andi, 2001), 35

Apologetika Eksistensi Allah 97


Ingat, tujuan apologetika bukan sekadar memenangkan
argumentasi, melainkan memenangkan jiwa—menuntun orang
untuk memiliki hidup kekal (Yoh. 17:3). “Allah menghendaki
supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan
akan kebenaran”, diselamatkan oleh pengetahuan akan Alkitab dan
Kristus (band. 1 Tim. 2:4).

B. Konsekuensi Menolak Keberadaan Allah


Nihilisme berargumentasi bahwa tidak ada Allah, tidak ada yang
berarti, tidak ada yang signifikan atau tidak ada yang bermakna
bagi keberadaan manusia. Penganut nihilisme hanya berfokus
pada segala sesuatu “di bawah matahari”. Kitab Pengkhotbah secara
menakjubkan mengeksplorasi dengan maksud memperlihatkan
pengalamannya “di bawah matahari” agar pembaca menarik ke­
simpulan yang tepat bahwa hidup tanpa Allah merupakan
kesia-siaan.
Jadi, kita harus takut akan Allah (Pkh. 12:13), bukan menyang­
kalinya seperti nihilisme, ateisme maupun agnostik. Melalui
observasi berdasarkan pengalamannya, Pengkhotbah berusaha
menemukan arti dalam pengalaman-pengalamannya. Ia berusaha
menjadikan hidup ini berarti dengan cara memfokuskan perhatian
pada segala sesuatu “ di bawah matahari”. Apa akhir penemuannya?
“Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang
bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku mengetahui juga
bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua ... Dan, ah, orang
yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh! Oleh sebab itu
aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa
yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah
kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pkh. 2:14,16b–17). Dari
perspektif kaum skeptis, yaitu mereka yang menyangkali atau
tidak percaya bahwa Allah ada, setiap aktivitas manusia adalah sia-

98 Apologetika
sia dan berakhir pada kekacauan. Kondisi manusia adalah usaha
mengejar angin.
Berdasarkan pengalaman ini, penulis Kitab Pengkhotbah
tidak hanya membeberkan segala sesuatu “di bawah matahari”
bahwa kehidupan merupakan lingkaran yang sia-sia, kehidupan
yang sama sekali tanpa tujuan. Namun, ia tidak berhenti di situ.
Pengkhotbah meneruskan pengamatannya melampaui pengamat­
an empirisnya. Ia mulai membuat pernyataan tentang hal-hal
“di atas matahari”. Ia menyebutnya iman kepada Sang Pencipta:
“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-
hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan ...
dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pkh. 12:1a,
7b).
Penganut nihilisme, ateisme maupun agnostik hanya me­
mer­hatikan segala sesuatu yang ada “di bawah matahari” (yang
pandangannya terikat pada keterbatasan dunia ini), tetapi tidak
memerhatikan melampaui matahari itu sendiri. Kitab Pengkhot­
bah mengajak kita menempatkan iman kita pada hikmat Allah yang
agung (Pkh. 8:17); pada kebaikan yang mendalam (Pkh. 8:15); pada
keadilan Allah yang sempurna (Pkh. 8:11–13); dan akhirnya kepada
murka Allah yang kudus yang akan menghukum kemunafikan
(Pkh. 5:1–6).
Paulus mengatakan, “Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus,
... dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang
dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”
(Ef. 2:12). Paulus menekankan lebih jelas lagi dalam suratnya untuk
jemaat Korintus, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-
sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada
Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari
segala manusia” (1 Kor. 15:17–19). Paulus mengatakan bahwa apabila

Apologetika Eksistensi Allah 99


Yesus tetap berada dalam kuburan, orang Kristen adalah orang-
orang yang perlu dikasihani karena mereka telah menyia-nyiakan
hidup mereka dengan mendedikasikan diri pada pengajaran dari
orang mati. Faktanya, Yesus telah bangkit. Ada saksi mata atas
kebangkitan-Nya, lebih dari 500 orang (1 Kor. 15:6). Hal itu berarti
orang-orang Kristen adalah orang-orang yang berpengharapan.
Jadi di sini ada korelasi antara memiliki pengharapan dan memiliki
iman kepada Allah. Apabila seseorang menolak Allah, orang itu
tidak memiliki pengharapan apa pun.
Kita telah melihat Roma pasal 1 bahwa Allah bisa dikenali,
diketahui melalui alam (wahyu umum, yaitu pengetahuan yang
dibawa sejak lahir tentang Allah dalam setiap manusia), tentu saja
bukan dalam arti sampai pada memiliki iman yang menyelamat­
kan, tetapi diketahui sehingga kita, menurut rasul Paulus, “tidak
bisa berdalih” (Rm. 1:19–20). Apa yang jelas dalam argumentasi
Paulus dalam Roma pasal 1 ini adalah masalah utama bagi mereka
yang menyangkali eksistensi Allah (bahwa Allah itu tidak ada)
bukanlah intelektual. Hal itu bukan karena tidak cukup informasi,
atau manifestasi Allah tentang diri-Nya dalam alam tidak jelas.
Masalah ateis bukan karena mereka tidak bisa mengetahui Allah,
melainkan mereka tidak mau mengenal-Nya.
Bagi Paulus, masalah manusia dengan eksistensi Allah bu­
kan­lah masalah intelektual, melainkan masalah moral. “Sebab
murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman
manusia...” (Rm. 1:18). Hal ini membuat Allah semakin menolak
ateis. Sayangnya, banyak ateis menolak untuk mengakui Alkitab
mewahyukan bahwa Allah adalah Allah yang murka. Namun,
Paulus tidak memperhalus perkataannya: Allah dari alam semesta
sangat murka kepada mereka yang: “Menindas kebenaran dengan
ketidakbenaran” (Rm. 1:18b). Murka Allah menyala pada waktu
mereka telah Dia ciptakan menurut gambar-Nya secara sengaja
menyelewengkan wahyu Allah yang jelas dalam alam. Di sini
Paulus secara radikal mendeklarasikan bahwa setiap orang yang

100 Apologetika
pernah hidup mengetahui bahwa Allah itu ada karena Allah
telah menyatakan diri-Nya dalam alam ciptaan-Nya. Murka-Nya
bangkit melawan mereka yang menekan manifestasi yang jelas
itu. Hal yang kita takuti lebih dari alam, yang kita takuti adalah
berhadapan muka dengan muka dengan Allah yang Mahakuasa
yang akan meminta pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang
pernah kita lakukan (Rm. 14:10,12; 1 Kor. 4:5).68
Dengan demikian, semua manusia termasuk kategori me­
ngetahui Allah secara kognitif sehingga mereka tanpa alasan—
tidak dapat berdalih di hadapan Pencipta mereka (Rm. 1:20–21).
Bukan seolah-olah mereka bersalah karena menolak Yesus Kristus
sebagai Juruselamat yang tidak pernah mereka mendengar, tetapi
lebih karena mereka sengaja menolak pengetahuan tentang
Allah yang mereka miliki. Mereka menolak satu-satunya sumber
pertolongan mereka. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa
manusia bersalah dan mengetahui hal itu, termasuk pengetahuan
yang mencakup fakta bahwa kemarahan dan murka-Nya ada atas
mereka.
Izinkan saya sekali lagi menekankan bahwa alam begitu jelas
dalam penyataannya mengenai Tuhan. Tidak ada kesalahan de­ngan
dunia ciptaan Allah. Kesalahan tersebut terdapat pada manusia.
Seperti yang sudah kita lihat, gambar dan rupa dalam manusia
tidak hilang saat kejatuhan, tetapi rusak. Akibatnya, manusia
memandang penyataan umum (anugerah-Nya) melalui alam ini
agak kabur. Hanya Roh Kudus, melalui firman yang diilhamkan,
menjadikan gambaran atau petunjuk tersebut menjadi jelas. Se­mua
manusia perlu mendengar Injil agar diselamatkan (Mat. 28:18–20).
Inilah tugas apologetika yang tidak dapat ditawar. ***

68
R.C Sproul, Op.Cit. 175–177

Apologetika Eksistensi Allah 101


5

Apologetika
Otoritas Alkitab

K
ita sudah mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan eksistensi Allah. Sekarang, waktunya
untuk mengeksplorasi Alkitab yang dapat diandalkan se­
bagai sumber informasi mengenai Allah. John Calvin menulis­kan,
“Kredibilitas doktrin tidak akan terjadi sebelum kita diyakinkan
tanpa keraguan lagi bahwa Allah adalah penulisnya.” Pertanyaan
klasik tentang Alkitab adalah, “Bagaimana saya mengetahui Al­
kitab sungguh-sungguh benar?” atau dengan kata lain, “Alkitab
itu: mitos atau sejarah?” Tidak ada buku yang pernah ditulis yang
telah menghadapi semacam kritikan tajam yang komprehensif
seperti Alkitab.
Pernahkah Anda mendengar pernyataan,“Bukankah Alkitab
terbukti banyak kesalahan? Alkitab berkontradiksi dengan di­
rinya?”Apabila kita sebagai orang Kristen mendengar pernyataan
semacam itu, tanyakan apakah kesalahan Alkitab yang ia ketahui.
Sembilan puluh persen orang yang melontarkan tuduhan ini
ternyata hanya mendengar dari kata orang lain. Ia belum pernah
menyelidikinya. Ia belum memeriksa Alkitab dan sumber material
lain dengan cukup. Akibatnya, ia tidak mengetahui dengan benar

103
bagian Alkitab yang ia pikir berlawanan. Sebenarnya, bagian-bagian
yang dianggap berlawanan di Alkitab disebabkan kerena mereka
hanya melakukan sedikit penelitian. Akibatnya, mereka tidak
dapat melihat bahwa semua itu sebenarnya harmonis. Mereka,
orang belum percaya, belum mempelajari masalah penafsiran
Alkitab (hermeneutika) secara menyeluruh. Mereka juga belum
menyelidiki semua bukti manuscript yang ada sekarang ini. Pada
pembahasan berikutnya, saya akan menunjukkan harmonisasi isi
Alkitab—tidak ada kontradiksi dalam Alkitab dan prinsip-prinsip
hermeneutika.
Apabila orang itu benar-benar tidak bisa menunjukkan
kesalahan Alkitab, jangan menanggapinya dengan perasaan geli
atau lucu. Sebaliknya, bagikanlah kesaksian Anda bagaimana janji
Yesus mengenai kedamaian, pengampunan, dan rasa aman dalam
hidup Anda dapat diandalkan dan terbukti. Yesus berjanji, “Damai
sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh. 14:27), adalah sesuatu
yang terbukti Anda terima sejak Anda menerima dan mengenal-
Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Tidak ada orang yang dapat berdebat dengan kesaksian—
itulah alasan pernyataan bahwa Yesus sanggup mengubah hidup
orang tidak terbantahkan. Bagikanlah perubahan hidup yang
Anda alami semenjak mengenal Yesus, hasil perubahan yang telah
Dia buat dalam hidup Anda semenjak Anda mengenal-Nya.
Alkitab memang memiliki beberapa hal yang tampaknya
saling bertentangan, tetapi juga memiliki jawaban yang memuas­
kan untuk menjelaskannya. Kita dapat meyakini bahwa Roh Kudus
mengajar kita pada saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk mengerti Alkitab. Walaupun kita mungkin tidak jelas dalam
beberapa hal tertentu, banyak bagian lain dalam Alkitab yang telah
dibuat sejelas mungkin oleh Roh Kudus bagi kita.
Kesimpulan Pratt berkenaan dengan hal tersebut mengata­
kan, “Ditinjau dari sudut Kristen yang tampak dari pengajaran

104 Apologetika
Alkitab, disebabkan oleh kesalahmengertian manusia akan dunia,
Alkitab, atau keduanya. Jadi masalahnya bukan terletak pada
Alkitab sendiri.”69 Saya harap buku ini akan membantu Anda.
Untuk berargumentasi tentang otoritas Alkitab sebagai
firman Tuhan, sebaiknya kita fokus pada argumen berdasarkan
kebenaran atau kesaksian internal. Namun, untuk kepentingan
apologetika, saya juga akan mengemukakan argumen eksternal.
Ada dua langkah berargumen tentang otoritas Alkitab sebagai
firman Tuhan, yaitu:
1. Orang Kristen harus mengakui bahwa kepercayaannya
akan Alkitab sebagai firman Tuhan adalah berdasarkan atas
komitmennya kepada Kristus.
2. Bukti Kristiani untuk percaya akan Alkitab sebagai firman
Tuhan harus diberikan.

Untuk meyakinkan akan otentisitas Alkitab, di sini ditun­


jukkan beberapa fakta yang tidak terbantahkan alasan untuk
memercayai bahwa Alkitab bersifat akurat, autentik, dapat di­
mengerti dan masuk akal baik secara internal maupun eksternal.
Bukti-bukti alkitabiah secara internal adalah kesaksian Alkitab
tentang dirinya, mukjizat-mukjizat, penggenapan nubuat tentang
Kristus, dan kesatuan isi Alkitab. Bukti eksternal adalah hasil sains
maupun penemuan-penemuan arkeologi.
Akan tetapi, hal yang harus diingat bahwa fakta-fakta internal
dan eksternal sebagaimana adanya tanpa karya Roh Kudus dalam
hati tidak akan membuat seorang mengakui kebenaran Alkitab.
John Owen berkata bahwa Alkitab merupakan wahyu supernatural.
Tanpa karya Allah yang bersifat supernatural dalamnya, tidak akan
ada pembaca yang mau tunduk kepada Yang Berdaulat (1 Kor. 2:6–
11; Ibr. 11:1, 6). Pembuktian internal dan eksternal memberi kita

69
Richard L. Pratt, Op.Cit. 163–164

Apologetika Otoritas Allah 105


keyakinan rasional tentang hal ini, tetapi Roh Kudus yang diam
dalam kita memberi “kepastian”. Orang Kristen dapat merasa pasti
akan kebenaran Alkitab (Kis. 2:36; Ibr. 6:11).70
Alkitab telah bertahan melawan waktu meskipun ditulis di
atas bahan-bahan yang mudah rusak, disalin dan disalin ulang
selama ratusan tahun sebelum teknik pencetakan ditemukan.
Gaya, ketepatan, dan keberadaannya tetap bertahan meskipun
telah melalui rentang waktu yang sangat panjang. Orang-orang
Yahudi telah melindunginya dengan cara yang lebih baik daripada
perlindungan terhadap naskah mana pun. Ada kelas-kelas khusus
dalam masyarakat mereka yang semata-mata bertugas melindungi
dan menyalin dokumen-dokumen ini dengan ketelitian yang
nyaris sempurna. Mereka mengawasi setiap huruf, suku kata,
dan paragraf. Mereka adalah ahli kitab, ahli Taurat, ahli naskah,
atau masoret. Alkitab juga telah bertahan terhadap penindasan
keji dan kritik dari musuh-musuhnya lebih dari buku mana pun.
Sudah banyak yang berusaha membakarnya, mencekalnya dan
“membasminya sejak zaman kekaisaran Roma hingga hari ini di
banyak negara yang dikuasai komunis.” Voltaire, kafir dari Prancis
yang meninggal dunia pada 1778, mengatakan bahwa dalam seratus
tahun sejak zamannya, agama Kristen akan musnah dari muka
bumi dan hanya menjadi bagian dari sejarah. Namun, apa yang
terjadi? Voltaire telah menjadi sejarah, sedangkan permintaan
akan Alkitab terus meningkat di seluruh penjuru dunia, membawa
berkat ke mana pun Alkitab datang. Pada 303 M, Diocletianus
mengeluarkan maklumat untuk melarang orang Kristen beribadah
dan memusnahkan Alkitab mereka. Surat kaisar disebarkan ke
mana-mana untuk memaklumkan dengan resmi, memerintahkan
bahwa gereja-gereja harus diratakan dengan tanah dan Alkitab
harus dimusnahkan dengan api. Apa yang terjadi? Dua puluh

W. Gary Crampton, Verbum Dei: Alkitab adalah Firman Allah (Surabaya:


70

Momentum,2000), 63.

106 Apologetika
lima tahun kemudian, Kaisar Konstantinus yang menggantikan
Diocletianus memerintahkan agar dibuat lima puluh buah salinan
Alkitab atas biaya pemerintah.71
Selama delapan belas abad orang-orang kafir telah berusaha
menolak dan menumbangkan buku ini (Alkitab). Namun, Alkitab
masih bertahan sampai hari ini seteguh batu karang. Kalau buku
ini tidak berasal dari Allah, buku ini pasti sudah sejak dahulu
berhasil dimusnahkan. Mereka yang berusaha memusnahkannya
mati dan buku ini masih hidup. Bernard Ramm menambahkan
bahwa sudah ribuan kali lonceng kematian Alkitab dibunyikan,
arak-arakan penguburannya diadakan, batu nisannya diukir, dan
pidato pengantar jenazah dibacakan. Namun, entah mengapa
jenazahnya tidak pernah muncul. Tidak pernah ada buku lain yang
telah dirajam, dikoyakkan, diperiksa, diinterogasi, dan dinista
sehebat Alkitab. Sungguh, tidak ada buku klasik maupun modern
yang telah menerima serangan massal sebanyak Alkitab. Terbukti
Alkitab masih dicintai oleh jutaan orang, dibaca oleh jutaan orang,
dan dipelajari oleh jutaan orang.72
Alkitab adalah unik dalam kemampuannya untuk bertahan.
Hal ini tidak membuktikan bahwa Alkitab adalah benar-benar
firman Allah. Namun, hal ini membuktikan bahwa Alkitab berbeda
dari buku-buku lainnya. Setiap orang yang mencari kebenaran
patut mempertimbangkan Alkitab yang mempunyai keunikan-
keunikan seperti itu.73 Menurut Pratt, keunikan-keunikan tersebut
merupakan bukti-bukti dari dunia luar. Teks Perjanjian Lama dan
Baru telah dipelihara sepanjang sejarah dengan ketepatan yang luar
biasa. Tidak pernah dibuktikan bahwa ada kontradiksi di antara
hal yang dinyatakan oleh Alkitab dengan realitas yang didapati di

71
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
47–48.
72
Ibid, 49.
73
Ibid.

Apologetika Otoritas Allah 107


dunia. Bahkan berulang-kali kebenaran Alkitab ditegaskan oleh
penemuan ilmiah.74
Penolakan terhadap kekristenan sering kali tidak bersang­
kutan dengan “otak”, tetapi lebih banyak dengan “kehendak”,
bukannya “aku tidak dapat”, tetapi “aku tidak mau”. Di sini jelas,
persoalannya bukan “mengapa aku tidak dapat memercayainya?”,
tetapi “mengapa aku tidak mau memercayainya?” Sekali lagi,
masalahnya tidak pada “otak atau intelektual”, tetapi “kehendak”
atau dengan kata lain kesombongan.
Berikut ini adalah uraian yang dirancang untuk membantu
Anda memanfaatkan materi ini dengan seefektif mungkin untuk
tugas apologetika bagi kemuliaan Allah. Alkitab dapat dipercaya
dan akan tetap bertahan menghadapi pengujian yang paling berat.
Sering kali, orang belum percaya (non Kristen) memberikan
pertanyaan mengenai otoritas Alkitab kepada orang Kristen:
“Mengapa kamu menerima Alkitab sebagai firman Tuhan dan saya
harus menerimanya?” Orang Kristen harus bersiap sedia untuk
menjawab pertanyaan ini.
Sebagai orang Kristen, kita menerima Alkitab sebagai fir­
man Tuhan yang tidak dapat dihakimi oleh standar apa pun. Kita
akan melihat bahwa firman Tuhan berbicara untuk dirinya sendiri
dan tidak perlu diperiksa kebenarannya oleh yang lain selain oleh
Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

A. Alkitab Mengklaim Dirinya Diilhamkan Allah


1. Kesaksian Alkitab tentang dirinya adalah firman Allah
Bagaimana seseorang dapat menerima Alkitab? John Calvin
memberi jawaban, “Biarlah Alkitab membuktikan dirinya sebagai
firman Allah. Sebagaimana siang mampu membedakan dirinya

74
Richard L. Pratt, Op. Cit. 164.

108 Apologetika
dari malam, terang dari gelap, demikian juga Alkitab mampu
membedakan dirinya dari yang bukan firman Allah.”75
Kita akan melihat alasan yang bersifat kesaksian internal,
yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Alkitab adalah firman
Allah.
Alkitab mengatakan dirinya firman Allah.

“Sebab Firman Tuhan itu benar” (Mzm. 33:4a).

“Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang


teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah”
(Mzm. 12:7).

“Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu,


bahwa satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan
kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi.
Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satu pun yang tidak
dipenuhi” (Yos. 23:14).

Maka: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi


jalanku” (Mzm. 119:105).

Allah mengatakannya—itu sudah cukup! Apabila yang Maha­


kuasa membuka mulut-Nya yang kudus, tidak ada ruang untuk
berdebat dengan Dia. Kalau Alkitab adalah firman Allah yang
diinspirasikan, ia tidak bisa tunduk pada pengadilan yang lebih
tinggi di luar dirinya. Kalau Alkitab diinspirasikan Allah berarti
ada otoritas secara instrinsik dalam dirinya. Alkitab tidak bisa
diuji oleh apa pun karena tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari
Allah.
Sejak lahirnya gerakan injili yang bernama “Evangelical
Alliance” (Perserikatan Injili) di Eropa pada 1846 di London un­
tuk memperlihatkan kesatuan gereja di dunia, hal ini serentak

75
Mangapul Sagala, Otoritas Alkitab: Teori Pengilhaman dan Ketidak­
bersalahan Alkitab (Jakarta: Perkantas,1998), 9–10

Apologetika Otoritas Allah 109


membendung arus theologia liberal yang menyusup masuk ke
gereja. Oleh karena itu, sejak tahun itu sudah dirumuskan bahwa
Alkitab adalah firman Tuhan yang diilhamkan, benar, cukup
dan tidak mungkin salah dalam segala penyataannya. Dengan
demikian, Alkitab memiliki kewibawaan tertinggi (otoritas) bagi
segala persoalan manusia, baik hidup maupun mati.76
Akan tetapi, pertanyaannya tetap ada, “Bagaimana kita bisa
mengetahui bahwa kata-kata dalam Alkitab adalah firman Allah
yang dapat diverifikasi?” Bukankah Alkitab bukan hanya satu-
satunya buku dalam sejarah yang mengklaim dirinya sebagai
firman Allah (diilhamkan oleh Allah) karena ada banyak buku
lain yang membuat klaim yang sama. Josh McDowell mengemuka­
kan perbedaannya, yaitu bahwa Alkitab berisikan bukti yang
tidak dapat dibantah sebagai firman Allah. Di sinilah tepatnya
apologetika memainkan peranannya.
Para penulis Alkitab itu secara eksplisit mengklaim bahwa
kata-kata itu diinspirasikan oleh Allah yang Mahakuasa. Melihat
pusat kekristenan adalah hal supernatural yang benar terjadi,
keandalan dan otoritas Alkitab menjadi lebih perlu diperhatikan
seperti inkarnasi. Allah yang kekal mengambil rupa manusia tanpa
mengesampingkan natur atau sifat ilahi-Nya merupakan pernyata­
an yang mengejutkan (Yoh. 1:1–3; 14; Flp. 2:5–8). Yesus Kristus
tidak berdosa (2 Kor. 5:21), membuat penebusan yang sempurna,
di­bangkitkan dari antara orang mati, dan naik ke surga adalah
artikel-artikel iman yang secara virtual (nyata) dikomunikasikan
dari sumber otoritas yang sempurna. Alkitab mengklaim secara
radikal bahwa eksekusi Yesus merupakan peristiwa penebusan
yang dirancang sebelum dunia dijadikan untuk memulihkan
hubungan makhluk yang telah jatuh dalam dosa dengan Allah yang
adil dan kudus (2 Kor. 5:20; Mat. 26:2; Luk. 24:44–47). Peristiwa

76
V. Scheunemann, Apa Kata Alkitab Tentang Dogma Kristen (Malang:
YPPII,t.th), 102.

110 Apologetika
itu terjadi atau digenapi tepat seperti penyataan Alkitab. Semua
nubuat tergenapi secara sempurna. Catatan nubuat yang digenapi
itu sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup meyakinkan
bagi kebanyakan orang skeptis yang keras hati.
Peristiwa-peristiwa supernatural ini menginformasikan be­
rita sepanjang Perjanjian Baru, dan para penulisnya mengklaim
memberikan berita ini berdasarkan otoritas Allah sendiri. Apabila
mereka (penulis Alkitab) membuat klaim semacam itu, hal itu
berarti bahwa Alkitab yang sakral itu adalah firman Allah.
Banyak cerita Alkitab menjabarkan peristiwa supernatural.
Apabila Alkitab diinspirasikan atau diilhamkan oleh Allah, hal itu
baik bagi semua yang diklaimnya. Contohnya, Alkitab mengklaim
bahwa Allah tidak berdusta (Tit. 1:2); Dia akan selalu setia pada
perjanjian-Nya, “Karena Ia tidak dapat menyangkali diri-Nya sendiri”
(2 Tim. 2:13). Alkitab mengklaim bahwa Pencipta yang Mahakuasa
mengetahui segala sesuatu yang diketahui; Dia Mahatahu, karena
Dia melihat segala sesuatu (Mzm. 33:13–15; Ibr. 4:13). Alkitab
mengklaim bahwa kata-kata Alkitab telah “dinapaskan” oleh Allah
(2 Tim. 3:16). Paulus dalam suratnya kepada Timotius menasihati,
“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaranyang
telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat
orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (2 Tim. 3:14).
Di sini Paulus menjelaskan sumber iman Timotius kepada
Kristus. Ternyata, sumber iman Timotius bukan Paulus maupun
ibunya, melainkan Alkitab, “Ingatlah ... bahwa dari kecil engkau
sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu
dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada
Kristus Yesus” (2 Tim. 3:14b–15). Lalu, Paulus melanjutkan dengan
membuat klaim yang spektakular terhadap sumber tulisan dari
Alkitab: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah...” (2 Tim. 3:16).
Paulus dalam bagian ini tidak memberi ruang bagi ide bahwa
hanya sebagian dari Alkitab yang diinspirasikan oleh Allah, tetapi

Apologetika Otoritas Allah 111


semua yang disebut bagian Alkitab keseluruhannya dinapaskan
(diilhamkan) Allah.77
Pertanyaannya adalah apakah tulisan Paulus termasuk di
dalamnya (bagian dari Alkitab)? Kata Yunani yang diterjemahkan
Alkitab adalah graphe yang secara harfiah berarti “tulisan”. Kata
Alkitab (graphe) pada abad I menunjuk pada Perjanjian Lama
(PL). Namun, berdasarkan konteks bagian ini, kita bisa diyakinkan
bahwa yang dimaksudkan Paulus adalah klaim diinspirasikan oleh
Allah bagi semua kitab sebelum kitab-kitab Perjanjian Baru kita
sekarang. Oleh karena itu, tidak jelas dalam bagian ini bahwa
Paulus memasukkan tulisannya. Petrus dengan jelas mengerti
tulisan Paulus itu berasal dari graphe (Alkitab). Kitab 2 Petrus
3:14–18 menyatakan demikian:

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan


semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak
bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian
dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan
bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita
yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya,
apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-
suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-
orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya,
memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama
seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
Namun, kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah
mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya
kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak
mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang
teguh. Namun, bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam
pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”

77
R.C Sproul Op.Cit. 187–188.

112 Apologetika
Kata “tulisan” di sini menunjukan bahwa Petrus mengakui atau
menyebut tulisan-tulisan Paulus sebagai Alkitab yang berwibawa
atau berotoritas yang diakui dan diterima sejak awal. Meskipun
benar bahwa belum semua kitab Perjanjian Baru dituliskan ketika
Paulus menulis 2 Timotius 3:16, yaitu 2 Petrus, Ibrani, dan Yudas
serta tulisan Yohanes belum ditulis, kitab-kitab itu akhirnya diakui
sebagai bagian kanon Alkitab (Kitab yang diilhamkan). Jadi,
kita boleh menyimpulkan bahwa 2 Timotius 3:16 meliputi ke 66
kitab sebagaimana kita memilikinya sekarang. Segenap Alkitab
diilhamkan oleh Allah.78
Ungkapan “Segala tulisan (pasa graphe) yang diilhamkan
Allah79 (theopneustos)” menunjuk pada “Kitab Suci” (hiera
grammata) dalam ayat 15 sehingga yang dimaksud ialah segala
tulisan yang terdapat dalam Alkitab. Tulisan-tulisan tersebut
dikatakan sudah diilhamkan Allah. Artinya, pengilhaman bukan
hanya makna, berita, atau kata, melainkan sampai pada proses
penulisan. Oleh karena itu, ilham ilahi berlaku sehingga huruf-
huruf itu disebut “suci” (hiera grammata) dan Kitab itu disebut
“suci” (2 Tim. 3:15).80

78
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1 (Yogyakarta: Andi, 2001), 90.
79
Kata “diilhamkan” Allah sama artinya dengan dihembuskan atau
dinapaskan Allah. Memang ada banyak ragam definisi dari diilhamkan oleh
Allah. Diilhamkan artinya si penulis Alkitab digerakkan dan dipimpin oleh Allah
sehingga ia dapat menuliskan kebenaran-kebenaran yang mungkin si penulis itu
sudah mengetahuinya lebih dahulu, tetapi mungkin juga ia belum mengetahuinya
(Pardington). Diilhamkan artinya: Roh Kudus telah memimpin dan menggerakkan
hati para penulis Alkitab sehingga apa yang ditulis oleh mereka itu merupakan
penyataan dari kehendak Allah dan merupakan firman Allah (Wiley). Diilhamkan
berarti Roh Kudus, Penulis Alkitab yang sebenarnya, memampukan para rasul dan
para nabi untuk mencatat wahyu Allah dengan cara yang dapat dipercaya secara
mutlak. Mereka ini dipimpin oleh Roh Kudus sehingga tulisan-tulisan mereka
tidak lebih dan tidak kurang sebagai wahyu Allah yang tanpa kesalahan (W. Gary
Crampton).
80
V. Scheunemann, Op.Cit. 103.

Apologetika Otoritas Allah 113


Ryrie menegaskan bahwa semua tulisan, keseluruhan
Alkitab, diilhamkan dan berfaedah. Itulah lingkup penghilhaman.
Kata “tulisan” (graphe), dalam seluruh Perjanjian Baru tertulis lima
puluh kali dan selalu menunjuk pada bagian Alkitab. Kadang-
kadang kata ini menunjuk pada seluruh Perjanjian Lama (Luk.
24:45; Yoh. 10:35); kadang-kadang menunjuk pada kalimat tertentu
dalam Perjanjian Baru (Luk. 4:21); dan ada kalanya menunjuk pada
sebagian Perjanjian Baru (2 Ptr. 3:16, menunjuk pada tulisan-tulisan
Paulus). Dua contoh ini, 1 Timotius 5:18 dan 2 Petrus 3:16 sangatlah
penting. Dalam 1 Timotius 5:18, Paulus menggabungkan kutipan
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta menyebut keduanya
sebagai Alkitab.81
Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa tulisan Paulus setara
dengan kitab-kitab yang dinapaskan (diilhamkan) oleh Allah
dalam Perjanjian Lama (PL). Paulus menjelaskan pengilhaman
Alkitab oleh Allah (2 Tim. 3:16). Para penulis Alkitab, berdasarkan
bagian ini, berasal dari Allah. Allah adalah sumber tulisan sakral
ini (Alkitab). Para penulis itu tetap diberi kebebasan untuk
menyalurkan keunikannya masing-masing. Paulus mengingatkan
Timotius untuk berpegang teguh pada Alkitab dan untuk meng­
ingat sumbernya: Allah telah menyatakan diri-Nya dalam perkataan
manusia. Tanpa ragu kita mengatakan Alkitab mengklaim sum­
bernya (Allah) dan karena itu dasar otoritasnya.
J. Wesley Brill menyatakan bahwa terjemahan 2 Timotius 3:16,
yang mengatakan “yang diilhamkan”, seakan-akan menimbulkan
pemikiran bahwa ada sebagian Alkitab yang tidak diilhamkan oleh
Allah dan ada sebagian yang diilhamkan oleh Allah. Ada sebagian
pengajaran yang berfaedah dan ada sebagian pengajaran yang
tidak berfaedah. Sesunguhnya, bukan demikian maksud Paulus.
Terjemahan yang sesuai dengan aslinya adalah segenap tulisan
itu diilhamkan Allah. Hal ini merupakan satu hal yang pasti dan

81
Charles C. Ryrie, Op.Cit. 89.

114 Apologetika
tidak perlu diragukan lagi oleh manusia. Hal itu disahkan dan
diakui oleh Bishop Moberly, Bishop Wordsworth, Bishop Trench,
Dean Burgon, Tregelles, dan banyak ahli bahasa Yunani lainnya.
Para penulis Alkitab itu menulis tulisannya dengan benar. Tuhan
menjaga mereka dari kesalahan. Tulisan mereka bersumber dari
Allah. Meskipun sifat para penulis itu berlainan dan berbeda pula
cara penulisannya, kita mengetahui bahwa mereka itu digerakkan
dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga perkataan-perkataan
mereka telah menjadi firman Allah. Kita harus yakin seperti yang
dikatakan Rasul Petrus, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh
kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang
berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:21).82
Ada banyak bukti beberapa nats yang menegaskan bahwa
sesungguhnya Allah dan Roh Kuduslah yang telah berbicara dalam
Alkitab dengan perantaraan nabi. Baik Tuhan Yesus dan para rasul
menyuguhkan hal tersebut.83

“Daud oleh pimpinan Roh Kudus berkata: ....” (Mzm. 101:1; band.
Mrk. 12:36; Mat. 26:43).
“Lagi, Raja Daud menyatakan, Roh Tuhan berbicara dengan
perantaraanku; firman-Nya ada di lidahku” (2 Sam. 23:1–3).
“Haruslah genap nats Kitab Suci yang disampaikan Roh
Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas:...” (Mzm.
69:26; 109:8; band. Kis. 1:16–20).
“Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud
Engkau telah berfirman: ...” (Mzm. 2:1–2; band. Kis. 4:25–26).
“Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi
Yoel: ... (Yl. 2:28–32; band. Kis. 2:16–21).
“Sebab itu, seperti yang dikatakan oleh Roh Kudus: ...” (Mzm.
95:7–11; band. Ibr. 3:7–11).

82
J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup, 1998), 19.
83
V. Scheunemann, Op.Cit. 108.

Apologetika Otoritas Allah 115


“Ia menegur mereka ketika Ia berkata: ...” (Yer. 31:32–34; band.
Ibr. 8:8–12).
“Seperti yang difirmankan-Nya dalam kitab Hosea” (Hos. 2:22;
band. Rm. 9:25–29).
Nabi Yesaya banyak sekali menyertakan frasa, “Sebab mulut
Tuhan telah berbicara” untuk memperingatkan bangsa Israel
(Yes. 51:16).
Yeremia menulis tentang perkataan Allah kepada mereka, “Aku
menaruh firman-Ku ke dalam mulutmu” (Yer. 1:9).
“Allah telah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi dan Ia
telah berbicara dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:1).

Para penulis Perjanjian Lama mengerti bahwa yang mereka


ucapkan kembali adalah perkataan Allah, bukan perkataan
mereka. Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Perjanjian Baru mem­
perhadapkan kita pada kewibawaan para rasul. Menurut Efesus
2:20, para rasul dikhususkan sebagai “dasar” bagi bangunan rumah
Allah, yaitu gereja, bersama dengan para nabi. Manusia yang
merindukan keselamatan harus menempatkan diri di atas dasar
para rasul.84
J. Wesley Brill mendaftarkan sejumlah ayat Alkitab yang
menyatakan para penulis Perjanjian Baru juga mengakui bahwa
tulisan mereka diilhamkan oleh Allah (1 Ptr. 1:10–11; 2 Ptr. 1:20–
21; Kis. 1:16; 28:25; 1 Kor. 2:13; 1 Kor. 14:37; 1 Tes. 2:13; 2 Ptr. 3:1–2;
Mat. 10:20; Luk. 12:12; 21:14–15; Kis. 2:4). Dari ayat-ayat itu, mereka
mengakui dan percaya bahwa perkataan-perkataan mereka itu
diilhamkan oleh Allah dan akal budi mereka dipimpin oleh Roh
Kudus.85
Lukas memulai tulisannya dengan berkata ia menerimanya
“seperti yang disampaikan oleh saksi mata dan pelayan firman”

84
Ibid, 109
85
J. Wesley, Dasar yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup, 1998), 20.

116 Apologetika
menurut peristiwa-peristiwa yang terjadi (Luk. 1:3). Rasul Paulus
menyatakan bahwa perkataannya adalah “demonstrasi kekuatan
Roh” dan “hikmat Allah” (1 Kor. 2:4,7). Selanjutnya, Paulus
menjelaskan bahwa hal yang dikatakannya “bukanlah dalam kata-
kata yang diajarkan dengan hikmat manusia tetapi yang diajarkan
oleh Roh Kudus” (1 Kor. 2:13). Seperti yang telah dikutip di awal,
Paulus menyatakan kepada Timotius bahwa “Segala tulisan yang
diilhamkan Alalh memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan melatih orang
dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16). Sekali lagi, kata Yunani yang
digunakan untuk “diilhamkan Allah” mengingatkan kepada nabi-
nabi Perjanjian Lama yang berarti bahwa perkataan mereka berasal
“dari mulut Allah”. Faktanya, Yesus menggunakan kata dan frasa
yang sama dalam Matius 4:4 ketika Dia berkata bahwa manusia
harus hidup dari “setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Para
penulis Alkitab menggunakan frasa-frasa seperti “Demikianlah
firman Tuhan” atau “Firman yang datang dari Tuhan kepadaku
katanya...” setidaknya 600 kali.86 Mangapul Sagala menyatakan
bahwa kalimat “Demikianlah firman Allah” atau “Allah berfirman”
kita dapati di Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Musa (Kej.
1:3,6,9: Kel. 5:1; 6:1; 7:1; Im. 1:1; 4:1, dan seterusnya), istilah tersebut
terdapat ± 800 kali, dan ± 2000 kali dalam seluruh Perjanjian
Lama.87
Di antara para penulis, ada jarak tahunan—terkadang
berabad-abad. Namun, jelas bahwa setiap penulis mengerti
ilham ilahi di balik kitab-kitab yang lainnya. Perjanjian Baru
secara langsung mengutip Perjanjian Lama lebih dari 320 kali
dan menyinggungnya lebih dari 300 kali. Bahkan, Kitab Kejadian,
salah satu kitab yang paling dicecar di antara kritik Alkitab,

86
Alex McFarland, Apologetika Volume 4 (Malang: Gandum Mas, 2012),
90.
87
Mangapul Sagala, Op. Cit. 11.

Apologetika Otoritas Allah 117


dikutip dalam Perjanjian Baru lebih dari 60 kali.88 Buku-buku yang
diterima dalam Perjanjian Baru harus dapat dibuktikan berasal dari
para rasul atau murid rasul. Yakobus dan Yudas merupakan sanak
saudara Tuhan Yesus (Mrk. 6:3); Markus adalah murid Petrus (1 Ptr.
5:13); dan Lukas adalah murid Paulus (Kol. 4:4; 2 Tim. 11). Mereka
dianggap memenuhi kriteria otoritas kerasulan.
Dalam menentukan bobot nubuat Alkitab, ditegaskan oleh
Petrus, baik nubuat maupun Alkitab sebagai buku nubuat (sebagai
“ho profetikos logos”, yaitu firman yang disampaikan oleh para nabi)
tidak pernah dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi dihasilkan
atau diciptakan oleh Allah, “Yang terutama harus kamu ketahui,
ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan
menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan
oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-
orang berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:20–21).
Dalam 2 Petrus 1:16,18, Petrus menyebut diri “saksi mata”
dan “saksi telinga” yang menjamin kebenaran Injil dan peristiwa-
peristiwa yang berkaitan dengan pemberitaannya. Petrus me­
nunjuk pada Perjanjian Lama sebagai “ho profetikos logos” (yaitu
firman yang disampaikan oleh para nabi)—istilah, yang pada
masa itu dipakai untuk semua tulisan Perjanjian Lama dalam
keseluruhannya).89
Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa Alkitab sendirilah yang
menyatakan bahwa para penulis Alkitab membawa otoritas yang
tidak dapat disanggah dan absolut; otoritas yang sumbernya dari
Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa, tanpa salah (tidak berdus­
ta), jadi tidak akan ada cacatnya. Alkitab mengajarkan bahwa para
penulis Alkitab baik Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB)
tidak berbicara berdasarkan inisiatifnya sendiri, tetapi digerak­
kan oleh Roh Kudus. Mereka disupervisi oleh Roh Kudus, yang

88
Alex McFarland, Op. Cit. 90.
89
V. Scheunemann, Op.Cit. 104.

118 Apologetika
memampukan mereka dan memelihara mereka dari kecenderung­
an kemanusiaan mereka untuk melakukan kesalahan.
Alkitab membuat klaim yang spesifik dan dapat diuji
kebenarannya. Semua itu benar. Oleh sebab itu, setiap orang yang
masih ragu (skeptis) terhadap otentisitas Alkitab, harus bertanya
kepada diri sendiri: Jika setiap klaim yang Alkitab buat benar,
apa dasar saya untuk mengatakan bahwa klaim ini adalah palsu?
Tidak diperlukan iman yang sangat kuat untuk memercayai bahwa
Alkitab adalah firman Allah. Faktanya Alkitab adalah firman Allah.
Allah tidak menulis buku yang penuh dengan berbagai kesalahan.
Firman-Nya tidak berkecenderungan salah. Oleh karena sifat-Nya
yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahabenar, Dia menghasilkan
buku yang benar adanya—tanpa cacat sedikit pun. Hal ini adalah
kebenaran yang tidak bisa disangkal.

2. Pentingnya Alkitab yang Tidak Keliru


Alkitab tidak ada kekeliruan. Artinya, Alkitab mengatakan
yang benar. Sampai di mana pentingnya klaim ini? Mari per­
timbangkan: Kalau Alkitab mengandung kekeliruan, banyak
atau sedikit, bagaimana seseorang bisa merasa pasti bahwa pe­
ngertiannya tentang Kristus adalah benar? Mungkin salah satu
kekeliruan itu mengenai kehidupan Kristus atau ajaran mengenai
Roh Kudus tidak tepat. Hal ini bisa memengaruhi ajaran atau
doktrin pokok mengenai Tritunggal yang selanjutnya dapat juga
memengaruhi terhadap doktrin lainnya. Bila ajaran inneransi90
jatuh atau gugur, ajaran atau doktrin lainnya juga runtuh. Doktrin
ketidaksalahan Alkitab adalah sangat penting, kalau disangkal

90
Inneransi adalah paham bahwa Alkitab itu tanpa kekeliruan. Inneransi
didefinisikan sebagai kualitas bebas dari kesalahan yang dimiliki Alkitab. Doktrin
inneransi mengajarkan bahwa Alkitab bebas dari kesalahan. Firman Allah tidak
dapat salah dan tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan fakta (W.
Gary Crampton).

Apologetika Otoritas Allah 119


akibatnya akan merusak baik dalam bidang doktrin (Iman)
maupun praktika (Kehidupan). Bagaimana kita bisa memercayai
Alkitab? Bagaimanakah Tuhan menegaskan bahwa manusia harus
hidup dengan setiap kata yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4)?
John Wesley, pendiri Methodist, menulis, “Seandainya ada satu
kesalahan dalam Alkitab, mungkin bisa ada seribu. Jikalau ada
satu saja kesalahan dalam Alkitab tentu hal itu tidak datang atau
berasal dari Allah Kebenaran.”91

B. Akurasi Sejarah
Ada sanggahan bahwa Alkitab bertolak belakang dengan sejarah.
Richard L. Pratt mengatakan bahwa tidak ada orang yang belum
percaya atau non Kristen telah menyelidiki arkeologi alkitabiah
dan sejarah dengan tuntas untuk mengetahui dengan pasti
bahwa ia tidak salah mengerti akan riset sejarah atau Alkitab.
Ada banyak contoh riset terdahulu yang menunjukkan adanya
ketidakharmonisan di antara Alkitab dengan kenyataan sejarah.
Namun, sekarang ditemukan ternyata hal itu merupakan suatu
kesalahan dari riset sejarah.92
Apakah Alkitab patut dipercaya? Pertanyaan apakah Alkitab
patut dipercaya secara historis adalah penting untuk membela
Alkitab dan kebenaran-kebenaran yang diklaimnya harus diterima
terlebih dahulu. Kalau ternyata Alkitab tidak bisa dipercaya, tidak
ada alasan untuk melekatkan signifikansinya kepada Yesus dari
Alkitab.
Pada awal 1970-an, para sarjana dan theolog dari seluruh ne­
gara berkumpul. Mereka mengadakan konferensi yang terfokus pada
pembelaan terhadap Alkitab bahwa Alkitab pada dasarnya adalah
dokumen sejarah yang patut dipercaya, tidak harus merupakan

91
Charles C. Ryrie, Op.Cit. 107.
92
Richard L. Pratt, Op.Cit. 165.

120 Apologetika
dokumen yang diinspirasikan, tidak bisa salah pengajarannya, tidak
bisa salah datanya, hanya secara esensial patut dipercaya. Sama
halnya dengan dokumen historis lainnya (mis. karya ahli sejarah
dari Herodotus, Josephus, dll). Penemuan-penemuan arkeologi
secara konstan meneguhkan dasar Alkitab yang patut dipercayai
secara historis. Jika Alkitab itu dokumen yang tidak bisa dipercaya
secara historis, percaya Yesus dari Alkitab adalah suatu tindakan
yang bodoh. Bila “orang percaya” mengklaim iman dalam Yesus
sementara menyangkali bahwa Alkitab patut dipercaya, berarti
iman mereka kosong.93
Ada serangkaian nama, tempat, dan peristiwa naratif dalam
Alkitab yang terbuka untuk diverifikasi dan digugurkan secara
historis. Ada banyak kesaksian para sarjana yang berusaha untuk
menggugurkan fakta sejarah dalam Alkitab dan berakhir dengan
diyakinkan dan bertobat melalui keakuratan dan keandalan
penulis-penulis Alkitab seperti Lukas (yang diakui, bahkan dalam
kalangan non-Kristen, sebagai ahli sejarah kuno yang paling aku­
rat). Tidak ada masa dalam sejarah gereja di mana keandalan historis
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah didokumentasikan
dengan baik sebagaimana halnya pada hari ini. Alkitab sebagai
dokumen yang dapat dipercaya telah diverifikasi dari waktu ke
waktu melalui penggalian arkeologi bahwa Allah berbicara melalui
perkataan manusia (Alkitab). Memang jelas bahwa riset empiris
hanya bisa melakukan sejauh itu. Hal itu bisa memverifikasi atau
menggugurkan data historis, tetapi tidak bisa meneguhkan atau
menyangkali peristiwa-peristiwa supernatural seperti penampilan
malaikat, kecuali satu sayap bisa ditemukan di suatu tempat.94
Mari kita memeriksa beberapa fakta mendasar berkaitan
dengan keontentikan Alkitab. Kitab terakhir Perjanjian Lama,
Maleakhi, dibukukan hampir 400 tahun sebelum Kristus lahir.

93
R.C Sproul, Op. Cit. 193.
94
Ibid, 194–195.

Apologetika Otoritas Allah 121


Penerjemahan kaum Yahudi terhadap seluruh Perjanjian Lama dari
Ibrani ke Yunani sekitar 200 S.M. Sebelum penemuan gulungan-
gulungan Laut Mati, salinan-salinan Perjanjian Lama yang paling
tua dalam bahasa Ibrani telah ada dari sekitar tahun 900 M. Teks
ini, yang dikenal sebagai Teks Masoret, dipelihara dengan sangat
teliti oleh para juru tulis Yahudi (disebut para Masoret) yang
menyalin teks bahasa Ibrani dengan ketelitian yang luar biasa.
Salinan ini lengkap, tidak berubah, dan tersedia bagi kita dalam
bentuk aslinya pada masa kini. Dengan penemuan gulungan
Laut Mati dan diteliti dengan menggunakan naskah tertua yang
ditemukan sebelumnya, para ilmuwan terkesima mendapati tidak
satu kata pun—tidak satu tanda baca pun—yang telah mengalami
perubahan. Gulungan Laut Mati memperkuat kepercayaan orang-
orang Kristen terhadap akurasi Perjanjian Lama.95Josh McDowell
menambahkan:

Kaum Masoret (dari kata massora, “Tradisi”) mengemban tu­


gas yang sangat melelahkan untuk mengedit teks dan men­
standarisasikannya. Kantor pusat mereka berada di Tiberias.
Teks yang digeluti oleh para Masoret itu disebut “Teks Masoret”.
Teks yang dihasilkan menunjukkan penambahan vokal untuk
membantu pengucapan yang benar. Teks Masoret inilah yang
menjadi teks Alkitab Ibrani standar yang sekarang.96

Oleh karena lebih dari 1300 tahun selang waktu antara pe­
nulisan Perjanjian Lama dengan penemuan Teks Masoret, hal
ini menimbulkan keraguan yang mengatakan bahwa Alkitab
telah dirusak dan diubah. Terbukti, Alkitab tidak dapat dipercaya
sebagai firman Allah yang dituliskan. Asumsi dan keraguan ini
gugur dengan adanya penemuan gulungan Laut Mati. Tuhan Yesus

95
Alex McFarland, Apologetika: Volume 4 (Malang: Gandum Mas, 2012),
72–73.
96
Josh McDowell, Apologetika: Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
99.

122 Apologetika
berkata, “Inilah kebenaran yang Kukatakan kepadamu, selama
belum lenyap langit dan bumi ini, tidak satu iota pun, atau satu
titik pun, akan dilenyapkan dari hukum Taurat sampai semuanya
terjadi” (Mat. 5:18, NIV).
F.F. Bruce menyatakan, “Teks konsonan Alkitab Ibrani yang
disunting oleh kaum Masoret telah diturunkan sampai kepada
zaman mereka dengan ketelitian luar biasa selama waktu hampir
seribu tahun”. Wilson juga menegaskan bukti bahwa salinan-salinan
dokumen yang asli telah diturunkan dengan ketepatan luar biasa
selama 2000 tahun tidak dapat disangkal. Bahwa salinan-salinan
yang ada dari 2.000 tahun yang lalu telah diturunkan dengan cara
yang sama dari naskah aslinya.97
Dengan banyaknya data yang menguatkan keontentikan
Perjanjian Lama sebagai tulisan yang patut dipercaya, kekuatannya
terletak pada kualitas keberadaannya yang terpelihara. Bagaimana
dengan Perjanjian Baru? Dokumen Perjanjian Baru muncul bukan
hanya ratusan, melainkan ribuan. Kitab-kitab Perjanjian Baru ini
telah terpelihara dan dibuktikan melalui lebih dari 24.000 naskah
yang ditemukan. Lebih dari 5.000 naskah dalam bahasa Yunani,
menyediakan pengesahan yang cukup untuk isi kitab-kitab dalam
Alkitab.98 Jika kekuatan Perjanjian Lama terletak pada kualitasnya,
Perjanjian Baru berdiri kokoh oleh jumlah manuskripnya. Faktanya
adalah lebih dari 24.000 salinan manuskrip Perjanjian Baru telah
ditemukan.99 Konsili-konsili yang memberikan penegasan kitab-
kitab Perjanjian Baru adalah: Konsili Nicea (327M), Konsili Hipo
(397M), Konsili Khartago (397M)—semuanya mengakui seluruh
kitab dalam Perjanjian Baru. Kemudian, Konsili Khartago yang
kedua (419M) kembali mengakui ke–27 kitab Perjanjian Baru.100

97
Ibid, 101.
98
Alex McFarland, Apologetika: Volume 4 (Malang: Gandum Mas, 2012),
73.
99
Ibid, 75.
100
Ibid, 76

Apologetika Otoritas Allah 123


Seorang ahli arkeologi atas Israel,Nelson Gluek, ber­
komentar:101

Tidak ada penemuan arkeologis yang pernah bertentangan


dengan referensi Alkitab. Angka penemuan arkeologis telah
dibuat secara konfirmatif dalam garis besar yang jelas atau
dengan pernyataan-pernyataan sejarah yang sangat rinci dalam
Alkitab.

Ada orang menilai Alkitab sebagai tidak ilmiah. Hanya orang


bodohlah yang memercayainya. Namun, tuduhan itu tidak ber­
da­sar. Kenyataannya, banyak ilmuwan dan orang-orang pandai
menaruh imannya pada Alkitab. C.S. Lewis (1898–1963), seorang
yang sangat cerdas dan profesor dari Universitas Oxford menegaskan
bahwa tidak ada dokumen yang paling dapat dipercaya dan paling
lengkap dibandingkan dengan Alkitab. W.F. Albright menulis,
“Tidak diragukan lagi bahwa arkeologi telah meneguhkan fakta-
fakta sejarah yang penting dalam tradisi Perjanjian Lama.” Miller
Barrow dari Universitas Yale menegaskan, “Beberapa ahli purbakala
semakin lebih menghargai Alkitab karena pengalaman penggalian
di Palestina dan ilmu purbakala membantah pandangan kritik
modern dalam banyak masalah”. Nelson Glueck menyatakan,
“Tidak ada satu pun penemuan purbakala yang bertentangan
dengan keterangan-keterangan dalam Alkitab.”102
Bagaimana dengan pernyataan umum yang mengatakan
bahwa Alkitab memiliki banyak kesalahan sebab usia Alkitab
begitu tua ... pastilah ada kesalahannya... pastinya ada beberapa
kesalahan setelah mengalami penyalinan dan penerjemahan
selama ribuan tahun. Asumsinya, karena Alkitab adalah buku yang
sudah tua pastilah banyak kesalahan dalamnya.

101
Ibid, 80
102
Mangapul Sagala, Op.Cit. 15–16.

124 Apologetika
Kita harus menanggapi pertanyaan mereka yang mengatakan
Alkitab berisi kesalahan dan meminta mereka menjelaskan
tentang kesalahan yang dimaksudkan. Terbukti, mereka tidak bisa
menunjukkan satu pun. Kebenarannya adalah mereka ini hanya
ikut-ikutan dengan asumsi yang telah didengarnya selama ini.
Namun, jangan lupakan bahwa usia dan isi Alkitab adalah dua
hal berbeda. Isu pertama tentang usia Alkitab telah kita bahas di
atas: otentisitas. Kita telah membuktikan bagaimana kedudukan
Alkitab sebagai teks yang patut dipercaya (otentik).
Sekarang, kita mencoba untuk menggali isi Alkitab. Apakah
seluruhnya benar?Alex McFarland mengakui bahwa Alkitab sesekali
dapat menjadi sebuah buku yang rumit. Ada beberapa bagian yang
memiliki tingkat kesulitan cukup ekstrem di mana membutuhkan
dua atau tiga kali membacanya agar dapat mengerti. Beberapa
bagian bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mem­
pelajarinya agar bisa memahami sepenuhnya. Faktanya, tidak
seorang pun pernah mendapatkan bukti kesalahan dalam Alkitab.
Tidak satu pun! Alkitab benar adanya. Alkitab adalah firman
Allah.
Inilah penyataan Alkitab tentang Dirinya. Allah adalah
kebenaran. Oleh sebab itu, firman-Nya adalah kebenaran. Mazmur
119:160 mendefinisikan Alkitab sebagai kebenaran: “Dasar firman-
Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil
adalah untuk selama-lamanya”. Tuhan Yesus pun memberikan
konfirmasi tentang Alkitab dengan berkata: “Kitab Suci tidak dapat
dibatalkan” (Yoh. 10:35) dan berjanji bahwa “tidak satu iota atau
satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum
semuanya terjadi” (Mat. 5:18). Dengan kata lain, Alkitab diilham­
kan Allah dan itu sebabnya, tidak bisa diubah atau ditambah­kan
oleh manusia. Petrus oleh ilham Roh Kudus berkata bahwa “firman
Tuhan tetap untuk selamanya” (1 Ptr. 2:25).

Apologetika Otoritas Allah 125


Sungguh menyedihkan apabila ada orang Kristen yang
berpotensi memegang mitos bahwa Alkitab berisikan kesalahan-
kesalahan. Kaum skeptis maupun pengritik Alkitab menggunakan
taktik apa saja untuk meruntuhkan keabsahan Alkitab, tetapi
tetap saja usaha mereka menemui kegagalan. Apakah arkeologi
menemukan sesuatu untuk membatalkan keakuratan dan ke­
ontentikan Alkitab. Faktanya, tidak ada satu pun! Tidak ada
satu pun klaim Alkitab yang pernah dibatalkan oleh penemuan
arkeologi. Selain itu, tidak ada nubuat yang telah dibatalkan, dan
malah sebaliknya, nubuat itu telah dibuktikan kebenarannya oleh
sejarah. Klaim terhadap Alkitab dapat dibuktikan dan diuji—
hasilnya teruji dan terbukti benar.

C. Kesaksian Yesus tentang Alkitab


Kita akan melihat dasar keyakinan klaim kekristenan pada otoritas
Alkitab atas dasar otoritas Yesus Kristus. Sebagai orang Kristen,
kita mengakui ketuhanan dari Yesus. Oleh karena itu, kita juga
menerima pengajaran-Nya tentang Alkitab. Dengan kata lain, kita
mendeklarasikan bahwa Alkitab adalah firman Allah berdasarkan
pengajaran dari Yesus. Alkitab pada dasarnya bisa dipercaya seba­
gai dokumen sejarah. Lepas dari apakah Alkitab itu diinspirasi­kan
oleh Allah, isinya bergantung pada kadar keakuratan historis.
Pandangan Yesus tentang Alkitab harus menjadi pandangan
kita juga. Oleh karena Dia memercayai Alkitab, demikian pula
seharusnya kita. Dengan tegas Dia mendukung otoritas Alkitab.
Bagaimana pandangan Yesus tentang Alkitab? Kita akan melihat
relasi antara otoritas Yesus dengan otoritas Alkitab. Kita tidak dapat
memiliki pengetahuan akan Yesus tanpa Alkitab, demikian pula
kita tidak dapat mempertahankan keyakinan kita tentang siapa

126 Apologetika
Dia tanpa Alkitab. Firman Allah dan Firman yang telah menjadi
daging (inkarnasi) saling berkaitan sangat erat.
John Stott103 menjelaskan relasi antara Kristus dan Alkitab.
Yesus mengucapkan dengan jelas, “Kitab-kitab Suci itu memberi
kesaksian tentang Aku.” (Yoh. 5:39). Fungsi utama Alkitab adalah
memberi kesaksian tentang Kristus. Yesus mengajarkan secara
konsisten bahwa Perjanjian Lama adalah firman Allah yang
memberi kesaksian tentang diri-Nya. Misalnya, Dia berkata
“Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku.”
(Yoh. 8:56). Atau dalam Yohanes 5:46, Dia berkata, “Musa ...
menulis tentang Aku.” Pada permulaan pelayanan-Nya di Nazaret,
Dia membaca Yesaya 61 tentang misi Mesias dan pembebasan.
Dia menambahkan, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu
mendengarnya” (Luk. 4:21). Dengan kata lain, “Jika kalian ingin
mengetahui siapa yang ditulis nabi, ia menulis tentang Aku.” Yesus
terus saja mengucapkan hal semacam ini sepanjang pelayanan-
Nya. Bahkan sesudah kebangkitan-Nya, Dia tidak berubah pikiran
karena “Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang
Dia dalam seluruh Kitab Suci.” (Luk. 24:27). Jadi, sejak permulaan
sampai akhir pelayanan-Nya, Yesus menyatakan bahwa seluruh
kesaksian nubuat Perjanjian Lama, memusat pada diri-Nya, “Kitab
Suci memberi kesaksian tentang Aku”. Inilah kunci utama tentang
pengertian Alkitab. Alkitab adalah gambar Allah tentang Yesus.
Alkitab bersaksi tentang Kristus. Hukum Taurat Perjanjian Lama
adalah pendidik yang menuntun kita kepada Kristus (Gal. 3:24).
Bila kita beralih ke Perjanjian Baru, Yesus Kristus jelas dijadi­
kan pusat perhatian. Injil-injil penuh dengan diri-Nya—berbicara
tentang kelahiran-Nya dan pelayanan-Nya, tentang perkataan-
perkataan dan perbuatan-perbuatan-Nya, tentang kematian dan
kebangkitan-Nya, dan tentang kenaikan-Nya ke surga dan karunia-

103
John Stott, Alkitab Buku untuk Masa Kini (Jakarta: Persekutuan Pembaca
Alkitab, 1997), 14–16.

Apologetika Otoritas Allah 127


karunia Roh Kudus. Kitab Kisah Para Rasul mengisahkan tentang
hal yang Yesus terus lakukan dan ajarkan melalui para rasul yang
telah dipilih dan diutus-Nya. Surat-surat para rasul mengisahkan
kemuliaan Yesus dalam eksistensi-Nya yang adalah Allah-manusia
sejati dan dalam karya-karya penyelamat-Nya. Bila kita tiba ke
kitab terakhir (Kitab Wahyu), kitab ini pun penuh dengan Kristus.
Singkatnya, tepatlah apabila kita katakan bahwa setiap bagian
(ayat atau alinea) dalam Alkitab saling kait mengait dengan setiap
bagian keseluruhannya, akhirnya akan menuntun kita kepada
Kristus.104
Christopher Chavasse, mantan uskup Rochester, menjelaskan
dengan indah sekali perihal relasi antara Kristus dan Alkitab
sebagai berikut:

Alkitab adalah potret Tuhan kita Yesus Kristus. Injil-injil adalah


Sosok Yesus dalam potret itu. Perjanjian Lama adalah latar
belakang yang menuju kepada Sosok tubuh tersebut, menunjuk
kepada-Nya dan mutlak diperlukan untuk keserasian komposisi
keseluruhan potret tersebut. Surat-surat kiriman adalah pakaian
dan perlengkapan yang dipakai-Nya untuk memperjelas Sosok
diri-Nya. Lalu tatkala melakukan penggalian Alkitab kita
mempelajari potret tersebut secara keseluruhan, Sosok itu
menjadi hidup dan melangkah ke luar dari kanvas firman tertulis,
Sang Kristus kekal seperti dalam kisah Emaus, kini menjadikan
diri-Nya sendiri guru kita untuk mengerti Alkitab, menafsirkan
untuk kita semua isi Alkitab yang berbicara tentang diri-Nya.105

Untuk menyatakan argumen dalam kulit kacang: pertama,


kita harus memerhatikan bahwa catatan Alkitab secara historis
patut dipercaya, lalu kita harus meneruskan pada deskripsi penulis
Alkitab tentang karakter Yesus yang tidak bercacat. Setelah hal itu

104
John Stott, Alkitab Buku untuk Masa Kini (Jakarta: Persekutuan Pembaca
Alkitab, 1997), 19–20.
105
Ibid, 29.

128 Apologetika
didirikan, kita bisa menilai bahwa klaim-Nya tentang nubuat juga
patut dipercaya karena karakter-Nya bisa dipercaya, sebagaimana
yang disaksikan oleh catatan Alkitab yang bisa dipercaya. Jadi,
keakuratan pengajaran-Nya didirikan, kita bisa dengan mudah
menerima pengajaran-Nya tentang Alkitab, bahwa itu benar-benar
firman Allah.106
Langkah selanjutnya, kita menegakkan dasar keandalan
Alkitab, yaitu membuat penilaian yang masuk akal tentang
pribadi Yesus. Dalam halaman-halaman Alkitab, Yesus mengklaim
keilahian-Nya (bahwa Dia adalah Tuhan). Namun, mari terlebih
dahulu kita berasumsi bahwa Dia hanya mengklaim diri-Nya nabi
(karena kebanyakan agama lain menyetujuinya). Apabila Yesus
adalah nabi, apakah Dia nabi sejati atau palsu? Dalam catatan
Injil, Yesus bernubuat bukan hanya tentang peristiwa-peristiwa
pada masa yang akan datang seperti kehancuran Yerusalem,
tetapi tentang diri-Nya dan pekerjaan-Nya. Apabila Dia nabi
sejati, semua pengajaran-Nya harus diperhitungkan dengan serius
termasuk pengajaran-Nya tentang Kitab Suci (Alkitab). Menurut
Yesus, tulisan-tulisan Alkitab lebih dari sekadar bisa dipercaya.
Tulisan tersebut merupakan perkataan Allah yang absolut, tidak
terpatahkan. Dia bukan hanya mengajarkan bahwa tulisan-tulisan
itu secara verbal (secara lisan) diinspirasikan, Dia mengajarkan
bahwa, “Selama langit dan bumi ini belum lenyap, satu iota atau
satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum
semuanya terjadi” (Mat. 5:18; Luk. 16:17).107
John Stott108 berkata, “Dengan mengatakan bahwa Alkitab
memberi kesaksian tentang diri-Nya, Yesus sedang memberi ke­
saksian tentang Alkitab”. Ketika Yesus menunjuk pada kesaksian

106
R.C Sproul, Op.Cit. 196.
107
Ibid.
108
John Stott, Alkitab Buku untuk Masa Kini (Jakarta: Persekutuan Pembaca
Alkitab, 1997), 20.

Apologetika Otoritas Allah 129


Yohanes Pembaptis, Dia menggolongkannya sebagai kesaksian
manusia (Yoh. 5:33–34) dan menambahkan bahwa kesaksian sah
yang membuktikan kebenaran-Nya bukan kesaksian manusia.
Kesaksian yang dimiliki-Nya jauh lebih besar. Kesaksian tersebut
ialah kesaksian Bapa-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya dan
perkataan-perkataan-Nya (ay. 36,38). Yesus menyatakan dengan
jelas bahwa Alkitab Perjanjian Lama adalah “firman” Bapa, dan
kesaksian ini tidak bersifat manusiawi tetapi ilahi.
Otoritas Alkitab, dalam pemahaman yang tertinggi, ber­
gantung pada kesaksian Yesus. Orang Kristen percaya Alkitab lebih
dari sekadar dapat dipercaya karena sumber yang patut dipercaya.
Orang Kristen percaya Alkitab adalah firman Allah karena Yesus
menyatakan bahwa Alkitab bukan sekadar patut dipercayai,
melainkan juga patut diandalkan karena Alkitab adalah perkataan
Allah.
Sebenarnya, alasan utama kita bersedia takluk kepada oto­
ritas Alkitab karena Yesus memastikan “autentisitas” Alkitab
sebagai pemilik otoritas Allah. Dia bukan saja menyebut Perjanjian
Lama sebagai “firman-Nya” dan “kesaksian” seperti yang sudah kita
bahas tadi. Yesus berkata, “Alkitab tidak dapat dibatalkan.” Pada
permulaan khotbah di Bukit, Dia menyatakan, ”Janganlah kamu
menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota
atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:17–18). Di sini, kita bisa melihat
sikap pribadi-Nya terhadap Perjanjian Lama adalah hormat
(respect) dan takluk sebab Dia percaya firman tertulis. Dia takluk
pada firman Bapa-Nya. Dia percaya akan asal ilahi Alkitab. Dia
menafsirkan misi kemesianisan-Nya dalam terang kesaksian
nubuat Alkitab dan menambahkan bahwa hal-hal itu harus terjadi
sebab Alkitab harus digenapi.

130 Apologetika
Yesus juga menjadikan Alkitab sebagai dasar argumen-
argumen-Nya terhadap para pemimpin agama Yahudi pada zaman-
Nya. Dengan demikian, Yesus sangat meninggikan Alkitab sebagai
firman Bapa-Nya yang harus dipercayai dan ditaati. Sebab hal yang
tertulis dalam Alkitab diterima-Nya sebagai firman Bapa-Nya.
Scheunemann menambahkan demikian:

Di antara kata yang pertama yang diucapkan Yesus pada


permulaan pelayanan-Nya adalah ungkapan singkat: “Ada
tertulis” (Mat. 4:4,7,10). Bagi Yesus, Alkitab tidak hanya me­
rupakan senjata ampuh bagi-Nya untuk melawan Iblis pencoba,
tetapi hidup dan pelayanan Yesus semata-mata diatur oleh
Alkitab. Kedatangan Yesus ke dunia sebenarnya memiliki satu
maksud saja, yaitu untuk menggenapkan isi Alkitab (Mat. 5:17;
Luk. 24:44 seperti yang dikatakan-Nya, “Ia berkata kepada
mereka: ‘Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu
ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa
harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam
kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”
Dalam kitab Ibrani juga dikatakan bahwa Yesus datang untuk
melakukan kehendak Allah, “dalam gulungan kitab ada tertulis
tentang Aku” (Ibr. 10:5–7). Hidup dan pelayanan Yesus sudah
digariskan dalam Alkitab sehingga pada segala peristiwa yang
penting dicatat: “Supaya genap nas Alkitab” (Mrk. 14:49; Mat.
26:54–56; Yoh. 13:18; 19:24,28,36). Terlebih lagi pada masa
penderitaan Mesias berlangsung sesuai dengan nubuat Alkitab
(1 Ptr. 1:10–11): “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala
sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan
digenapi” (Luk. 18:31). Jelaslah bagi Yesus Alkitab merupakan
kewibawaan yang paling tinggi.”109

Oleh sebab itu, Alkitab tidak boleh dan tidak dapat


“ditiadakan” (Mat. 5:19) atau “dibatalkan” (Yoh. 10:35), bahkan
selama langit dan bumi ada, “satu iota atau satu titik pun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”

. V. Scheunemann, Op. Cit. 106.


109

Apologetika Otoritas Allah 131


(Mat. 5:18). Tuhan Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu,
tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mat. 24:35). Hal ini adalah
penegasan Tuhan Yesus terhadap Alkitab bahwa Alkitab adalah
benar, autentik, dan akurat—sebagai perkataan Allah.
Berkaitan dengan peristiwa sejarah di Alkitab, Yesus me­
makai peristiwa-peristiwa sejarah dalam Perjanjian Lama dalam
pemberitaan-Nya dan bahwa Yesus sepenuhnya percaya peristiwa
tersebut sebagai sejarah faktual. Yesus mengakui bahwa Adam
dan Hawa diciptakan oleh Allah dan bahwa mereka adalah dua
orang manusia yang benar-benar hidup (Mat. 19:3–5; Mrk. 10:6–
10). Yesus membenarkan peristiwa air bah pada zaman Nuh yang
membinasakan setiap orang yang tidak ikut dalam bahtera (Mat.
24:38–39; Luk. 17:26–27). Yesus mengesahkan penghancuran
Sodom dan Gomora oleh Allah dan historisitas Lot dan istrinya
(Mat. 10:15; Luk. 17:28–29). Yesus menerima kisah Yunus sebagai
faktual dalam perut ikan (Mat. 12:40); kisah dari Yesaya (Mat. 12:17);
Elia (Mat. 17:11–12); Daniel (Mat. 24:15); Daud (Mat. 22:45); Musa
dan tulisannya (Mat. 8:4, Yoh. 5:46), Abraham, Ishak, dan Yakub
(Mat. 8:11; Yoh. 8:39). Semuanya ini disahkan oleh Yesus sebagai
sejarah yang faktual.110
Mereka yang mengatakan bahwa Yesus telah keliru dalam
pengajaran-Nya tentang Alkitab berargumen bahwa Yesus dalam
natur kemanusiaan-Nya, Dia tidak Mahatahu (tidak memiliki
atribut Ilahi). Isu tersebut dari catatan Markus dan Matius tentang
nubuat Yesus di Bukit Zaitun tentang kedatangan-Nya yang kedua
kali: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu,
malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa
saja” (Mrk. 13:32; Mat. 24:36). Mengejutkan, Yesus mengakui bahwa
Dia tidak mengetahui bilamana Bapa akan bertindak. Menanggapi
kesulitan ini, Thomas Aquinas berargumen bahwa meskipun natur
kemanusiaan dan keilahian Yesus berada dalam kesatuan yang

110
Charles C. Ryrie, Op.Cit., 115.

132 Apologetika
sempurna sehingga apa pun yang natur ilahi-Nya ketahui, diketahui
pula oleh natur manusia-Nya. Dia telah mengakomodasi pendengar
manusia-Nya pada waktu Dia menyatakan hal-hal kepada mereka.
Yesus sebenarnya mengetahui hari dan jam kembali-Nya. Namun,
untuk alasan tidak menyingkapkan, Dia memilih untuk tidak
mengomunikasikannya kepada murid-murid-Nya. Argumen ini
tentu menimbulkan pertanyaan apakah Yesus patut dipercaya
sebagai nabi, apalagi Dia adalah Juruselamat tidak berdosa yang
mengabaikan kebenaran.111
Pernyataan bahwa Yesus bisa keliru dalam pengajaran-Nya
tentang Kitab Suci (Alkitab) karena Dia tidak memiliki atribut
ilahi (tidak mahatahu) bertentangan dengan dokumen klasik di
Konsili Chalcedon pada 451 M yang menekankan relasi antara
natur keilahian dan kemanusiaan dalam Yesus:

Dalam kaitan dengan keilahian-Nya, Dia lahir dari Bapa sebelum


permulaan zaman, tetapi berkaitan dengan kemanusiaan-Nya,
pribadi yang sama dilahirkan pada hari-hari terakhir dari Anak
Dara Maria, Ibu dari Allah, demi kita dan demi keselamatan
kita: Kristus, Putra, Tuhan, Anak Tunggal yang satu dan yang
sama, diakui sebagai yang tidak berbaur, tidak bergantian, tidak
terbagi, tidak terpisah di dalam dua natur, karena itu perbedaan
dari dua natur-Nya tidak dihancurkan karena kesatuan itu,
tetapi sebaliknya, karakter dari setiap natur dipertahankan dan
menjadi satu dalam satu pribadi dan satu hypostasis (substansi),
tidak terbagi atau terpisah menjadi dua pribadi tetapi satu dan
yang sama, yaitu Putra dan Anak Tunggal Allah, Logos, Tuhan
Yesus Kristus.112

Untuk memecahkan pernyataan Yesus bahwa Dia tidak


mengetahui kapan kembali-Nya yang kedua kali, kita perlu mem­
buat perbedaan yang jelas antara pengetahuan supernatural Yesus

111
Ibid, 200.
112
Ibid, 199.

Apologetika Otoritas Allah 133


yang diperlihatkan dengan kemahatahuan-Nya. Meskipun Yesus
memperlihatkan pengetahuan supernatural-Nya, misal ketika
Dia bertemu dengan Natanael, perempuan dari Sikhar (Yoh.
1:46–49; 4:1–45), mengetahui ada uang empat dirham di perut
ikan (Mat. 17:27), hal itu tidak berarti karena itu Dia Mahatahu.
Allah bisa memberikan informasi kepada seseorang tanpa orang
itu menerima seluruh komunikasi dari seluruh pengetahuan
yang Allah miliki. Para nabi sebelum kedatangan Yesus mem­
perlihatkan pengetahuan supernatural seperti itu, tetapi mereka
tidak dianggap mahatahu. Demikian pula dengan Yesus yang
menubuatkan kehancuran Yerusalem (Mat. 24). Hal yang Dia
tidak bisa ketahui dalam kemanusiaan-Nya telah diwahyukan
kepada Dia melalui firman Allah. Yesus menubuatkan masa yang
akan datang tanpa menghancurkan keterbatasan kemanusiaan-
Nya. Allah memberikan pengetahuan kepada para nabi-Nya, tetapi
bukan kemahatahuan.
Guru yang baik tidak akan berbohong kalau ia ditanya satu
pertanyaan yang ia tidak bisa jawab. Ia akan merasa berkewajiban
secara moral untuk mengakui ketidaktahuan dalam subjek itu da­
ripada menyesatkan murid-murid-Nya dengan kehalusan reto­ris.
Namun, Yesus melakukan lebih dari sekadar mengklaim mengeta­
hui kebenaran. Yesus masuk dalam sejarah dan mendeklarasikan:
“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa,
yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk
mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan
Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi
apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang
difirmankan oleh Bapa kepada-Ku” (Yoh. 12:49–50). Lebih tegas lagi,
Yesus bukan hanya dengan benar mengatakan bahwa Dia bersaksi
terhadap kebenaran (Yoh. 8:45), tetapi Dia mengklaim diri-Nya
sebagai Kebenaran, “Akulah kebenaran” (Yoh. 14:6). Yesus juga
mengklaim bahwa pengajaran-Nya benar dan ada yang bersaksi
atas kebenaran-Nya, yaitu Bapa—Allah yang Mahakuasa (Yoh.

134 Apologetika
5:30–47; 8:13–19). Sesungguhnya, Dia Kebenaran. Yesus membuat
klaim tertinggi, klaim yang tidak bisa dibuat oleh seorang guru
mana pun.
Apabila pengajaran-Nya tentang Alkitab adalah keliru, de­ngan
terus terang kita bisa mengatakan bahwa Dia adalah guru palsu.
Apabila memang Yesus keliru tentang apa pun yang Dia ajarkan,
mengapa kita mau meninggikan Dia sebagai nabi, apalagi sebagai
Putra Allah (Yoh. 3:16)? Apakah Yesus memimpin orang pada
kebenaran, atau Dia telah menyesatkan mereka pada kesalahan?
Yesus mengatakan kepada Nikodemus pemimpin agama Yahudi:
“Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang
hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-
kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?” (Yoh. 3:12). Akhirnya,
Nikodemus mengatakan, “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang
sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang
dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah
tidak menyertainya” (Yoh. 3:2).

D. Nubuat yang Digenapi dalam Sejarah


Bukti-bukti lain yang dapat meyakinkan klaim Alkitab diinspi­
rasikan Allah adalah bukti-bukti internal, yaitu nubuat. “Bukti-
bukti” ini cukup untuk membuat pernyataan objektif bagi Alkitab,
tetapi kurang kuat untuk meyakinkan orang-orang yang keras
kepala. Pada waktu para nabi seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel,
dan Daniel memprediksi peristiwa-peristiwa dengan keakuratan
yang luar biasa, spekulasi tentang sumber prediksi itu menunjuk
hanya pada satu arah, yaitu Allah. Dengan lebih dari 200 nubuat
yang spesifik dan rinci tentang kedatangan Mesias, yang dicatat
telah digenapi dalam Yesus. Hal ini membuktikan bahwa Alkitab
adalah perkataan Allah melalui manusia—Alkitab diinspirasikan
oleh Allah (2 Tim. 3:16; 2 Ptr. 1:21).

Apologetika Otoritas Allah 135


John Calvin mengatakan bahwa orang tidak akan bisa
diyakinkan oleh bukti objektif semacam itu, sebelum bukti itu
dikuatkan oleh pelayanan dan pekerjaan supernatural dari Roh
Kudus. Roh Kudus yang akan memampukan kita (orang Kristen)
untuk percaya semua bukti objektif tersebut. Roh Kudus tidak
menggerakkan kita untuk percaya melawan bukti, tetapi untuk
menyerahkan diri pada bukti yang sudah ada. Mereka yang belum
percaya menurut Alkitab adalah musuh Allah (Rm. 8:7).
Jadi, tindakan pertama kita dalam usaha berapologetika ini
adalah memberikan argumentasi yang meyakinkan baik untuk
eksistensi Allah maupun keandalan atau otentifikasi dari Alkitab
dan kemudian membiarkan Roh Kudus bekerja.
Adapun tujuan dari materi tentang nubuat yang tergenapi
terutama adalah untuk melukiskan kuasa Allah melalui ter­
genapinya nubuat-nubuat yang berkaitan langsung dengan pe­
ristiwa-peristiwa kemanusisaan yang tampaknya tidak masuk akal.
Tampak jelas bahwa tangan Allah telah membimbing para nabi
ini ketika mereka menyampaikan firman kepada orang yang mau
mendengarnya. Nubuat merupakan pelajaran praktis dan jelas
tentang kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah kita.113
Sebelum kita meneliti nubuat-nubuat khusus ini, ada
beberapa pengetahuan dasar yang perlu kita pahami terlebih
dahulu.

1. Pengertian Nubuat
Nubuat bisa diartikan pesan atau perkataan, yang diucapkan
dengan perantaraan seorang utusan yang dipilih, yang menyatakan
kehendak Allah bagi siapa nubuat itu ditujukan. Unsur ramalan
yang berupa janji atau ancaman bergantung pada tanggapan

113
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
409.

136 Apologetika
pendengarnya, atau sering kali diberikan sebagai “tanda” dari hal
yang akan terjadi. Pada akhirnya, semuanya akan tunduk pada
rencana kehendak Allah. Nubuat para nabi lebih merupakan
pemberitahuan tentang rencana Allah yang hidup daripada tentang
nasib manusia yang telah ditentukan terlebih dahulu.114
Sedangkan menurut Ralph O. Muncaster, nubuat (oleh para
nabi) adalah ramalan-ramalan yang berdasar pada informasi yang
diterima dari Allah. Ramalan dari para pakar bisa salah. Ramalan-
ramalan yang berdasar pada informasi supernatural yang berasal
dari bukan Tuhan, melainkan oleh dukun-dukun dan lainnya yang
disebut tenungan dilarang oleh Alkitab (Ul. 18:10–13). Ramalan
para nabi tidak pernah keliru. Begitu pentingnya peran nabi-nabi
alkitabiah sehingga mereka dibunuh bila membuat satu kesalahan
dalam sebuah nubuat (Ul. 28:20–22).115

2. Pentingnya nubuat ditekankan dalam Alkitab dengan


perintah untuk:
a. Menguji segala sesuatu, termasuk kitab-kitab suci dan orang-
orang (1 Tes. 5:20).
Apabila sebuah kitab suci hendak dianggap diinspirasikan
oleh Allah, kitab suci itu harus 100% akurat mengenai semua
nubuatnya. Hanya Alkitab yang memerintahkan pembacanya
untuk “menguji segala sesuatu” (1 Tes. 5:21).

b. Menggunakan nubuat untuk menentukan apakah sesuatu


berasal dari Allah.
Adakah hal tertentu yang dapat dipakai untuk menguji palsu
atau tidaknya seorang nabi? Dalam kitab 1 Raja-raja 13:18–

Ibid, 410.
114

Ralph O. Muncaster, Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan (Jakarta:


115

Gospel Press,2002), 1–2.

Apologetika Otoritas Allah 137


22, 1 Raja-raja22, dan Yeremia 28, ada beberapa ciri untuk
menentukan benar atau palsunya seorang nabi. Biasanya,
nabi palsu adalah staf kerajaan yang dibayar sehingga
mereka ini “menubuatkan” apa yang ingin didengar oleh
raja. Ada beberapa kriteria untuk menentukan nabi yang
benar. Pertama, Ulangan 18 menyatakan bahwa seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama
Tuhan perkataan yang tidak Tuhan perintahkan untuk
dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain,
ia adalah nabi palsu. Kita harus waspada bahwa hal yang
terjadi belum tentu (tidak selalu) berasal dari Allah. Jika nabi
palsu membuat pernyataan dan menjadi kenyataan, hal ini
bisa membingungkan umat Tuhan. Ulangan 13 memaparkan
patokan mutlak. Jika nabi itu memakai ilah-ilah atau kuasa
lain, bukan Allah yang benar, nubuat tersebut tidak berasal
dari Allah. Apabila seorang nabi menyampaikan nubuat dan
terjadi, tetapi mengakui norma theologi atau secara theologis
berbeda dengan yang telah ditetapkan Musa, ia adalah nabi
palsu.

Kedua, Yeremia 23 menjelaskan kembali norma dalam Ulangan


13 di mana nabi palsu adalah orang-orang yang tidak bermoral (ay.
10–14). Nabi Palsu membiarkan sikap tidak bermoral orang lain
(ay. 17). Mereka berbicara damai yang palsu. Nabi Allah yang benar
membawa pesan tentang keyakinan dan pertobatan (ay. 29) dan
menghimbau orang kembali kepada kebenaran dan ketaatan (ay.
22). Nabi yang benar tidak hanya memiliki satu pesan—hukuman.
Mengapa para nabi yang benar tidak mulai dengan suatu pesan
damai? Hal ini disebabkan damai Tuhan hanya diperoleh melalui
kekudusan, kebenaran, dan pertobatan. Nabi palsu, menurut
Yeremia, mencuri kemuliaan nama Tuhan, memuliakan namanya,
dan menjalankan kuasanya dengan mengatasnamakan nama
Tuhan (ay. 30–32). Sebaliknya, nabi yang benar diutus oleh Allah

138 Apologetika
berbicara atas nama-Nya dan oleh kuasa-Nya (ay. 18, 21, 22, 28,
32).
Ketiga, Yehezkiel 12:21–14:11 menyebutkan bahwa nabi palsu
mengikuti jalannya sendiri dan bernubuat sesuka hatinya (13:2–3).
Mereka menyesatkan orang-orang dengan memberikan keyakinan
palsu (13:4–7). Mereka memberitakan damai palsu dan optimisme
semu (13:10–16) tanpa membangun kekudusan dan hidup dalam
kebenaran (13:22). Nabi yang benar menantang pendengarnya
untuk memeriksa diri mereka (14:4–5), apakah sudah sesuai dengan
kualitas hidup yang dituntut oleh Tuhan (14:7–8). Nabi yang
benar tanpa malu-malu dengan keberanian dari Allah memimpin
pembebasan, mengulang semangat baru dan segar, serta hidup
dalam kebenaran yang sama dan tidak pernah berubah.
Dalam Yesaya 41:23, kita melihat nabi melontarkan tantangan
kepada dewa-dewa kafir, “Beritahukanlah hal-hal yang akan datang
kemudian, supaya kami mengetahui bahwa kamu ini sungguh allah.”
Allah telah menerima tantangan ini. Allah telah menubuatkan
banyak sekali peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan
datang. Semuanya terjadi tepat seperti yang diramalkan. Kita tidak
mempunyai pilihan lain kecuali percaya bahwa Alkitab sungguh-
sungguh firman Allah.
Ralph O. Muncaster menegaskan sebagai berikut:

Dalam dunia nubuat, apa pun yang tidak 100% akurat tidak
berasal dari Allah (Ul. 18:22; Yes. 41:22–23). Informasi rujukan
silang yang terdapat dalam kitab-kitab Alkitab yang ditulis
selama ratusan tahun oleh penulis-penulis berbeda secara
terpisah dalam situasi-situasi berbeda di bagian-bagian dunia
yang berbeda-beda. Hanya Alkitab yang 100% akurat dalam
ratusan nubuat spesifik.116

Ralph O. Muncaster, Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan (Jakarta:


116

Gospel Press, 2002), 1–2

Apologetika Otoritas Allah 139


Ralph O. Muncaster menyatakan lebih lanjut bahwa lebih
dari 1000 nubuat mengisi Alkitab. Nubuat-nubuat ini tentang
orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa—nubuat-
nubuat tepat seperti yang dinyatakan berabad-abad sebelum
penggenapannya.” Sungguh, nubuat membantu memverifikasi
bahwa Alkitab tidak pernah keliru. Kita sungguh bodoh bila
menyangkalinya.
Ratusan nubuat Alkitab telah digenapi, secara khusus dan
teliti, sering kali lama setelah penulis yang menuliskan nubuat
itu mati. Contohnya, Daniel bernubuat sekitar 538 S.M (Dan.
9:24–27) bahwa Kristus akan datang sebagai Mesias dan Raja yang
dijanjikan bagi bangsa Israel 483 tahun setelah kerajaan Persia
memberikan otoritas kepada bangsa Yahudi untuk membangun
kembali Yerusalem.117 Pada saat dinubuatkan, Yerusalem telah
menjadi reruntuhan. Lebih dari 300 nubuat telah digenapi pada
saat kedatangan Kristus yang pertama.
Alkitab sangat jelas menyatakan bahwa nubuat merupakan
tanda kuasa Allah dan menunjukkan sifat kejaiban perkataan-Nya.
Oleh karena mengungkapkan masa depan, nubuat merupakan
pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Kita
mengetahui bahwa Allah melihat masa depan dan segala sesuatu,
bahkan sebelum hal itu terjadi. Kita harus yakin bahwa tidak ada
sesuatu pun akan terjadi tanpa diketahui sebelumnya oleh Allah.

3. Tujuan Nubuat
Sebelum kita membahas secara rinci nubuat tentang Mesias,
sangat berguna apabila kita memahami terlebih dahulu tujuan
nubuat tentang Mesias itu. Ada beberapa tujuan yang akan kita
perhatikan. Pertama, menunjukkan bahwa Allah adalah satu-
satunya Allah yang benar yang pengetahuannya tidak terbatas

117
Alex McFarland, Apologetika Volume 4 (Malang: Gandum Mas, 2012),
79

140 Apologetika
dan perkataan-Nya tidak pernah salah. Musa dalam Bilangan 23:19
menuliskan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan
anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan
tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”
Kedua, menunjukkan bahwa segala sesuatu tunduk pada
kehendak Allah, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala,
bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan
tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya
hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum
terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala
kehendak-Ku akan Kulaksanakan” (Yes 46. 9–10).
Ketiga, Mesias dikenal dengan tepat. Itulah sebabnya Allah
memberitahukan terlebih dahulu sebelum Mesias itu datang,
firman TUHAN: “Hal-hal yang terjadi di masa yang lampau telah
Kuberitahukan dari sejak dahulu, Aku telah mengucapkannya dan
telah mengabarkannya. Kemudian dengan sekonyong-konyong Aku
melaksanakannya juga dan semuanya itu sudah menjadi kenyataan”
(Yes. 48:3). Selanjutnya dikatakan dalam ayat 5 demikian, “maka
Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal
itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya
jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung
pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.” Rasul
Paulus juga menyatakan hal yang sama tentang Mesias yang telah
diberitakan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, “Injil
itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-
nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut
daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh
kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang
mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus
Tuhan kita” (Rm. 1:2–4).
Yesus pun menjelaskan tentang identitas diri-Nya telah ada
sebelumnya, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis

Apologetika Otoritas Allah 141


tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa
dan segala kitab nabi-nabi. Ia berkata kepada mereka: ‘Inilah
perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih
bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua
yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab
nabi-nabi dan kitab Mazmur’” (Luk. 24:27, 44). Dengan demikian,
Mesias tidak muncul begitu saja—tiba-tiba. Matius berkata, “Akan
tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab
nabi-nabi” (Mat. 26:56). Paulus mengatakan, “Tetapi dengan jalan
demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya
dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias
yang diutus-Nya harus menderita” (Kis. 3:18). “...Inilah Mesias, yaitu
Yesus, yang kuberitakan kepadamu.” (Kis. 17:3).
Keempat, nubuat-nubuat yang tergenapi menegaskan Yesus
adalah Mesias, Kristus, Anak Allah.

4. Keakuratan Nubuat
Berikut kita akan melihat keakuratan nubuat Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Hampir semua kitab dalam Alkitab berisi
nubuat. Enam belas (16) kitab Perjanjian Lama memiliki nubuat
spesifik tentang Kristus. Josh McDowell mengatakan:

Alkitab satu-satunya buku yang pernah ditulis oleh seseorang,


atau sekelompok orang, yang di dalamnya terdapat sejumlah
besar nubuat tentang bangsa-bangsa tertentu, tentang Israel,
tentang semua orang di bumi, tentang kota-kota tertentu, dan
tentang kedatangan Dia yang akan menjadi Mesias. Dunia purba
mengenal berbagai cara untuk melihat ke masa depan, yang
disebut ilmu ramal, tetapi dalam seluruh kesusasteraan Yunani
maupun Latin, meskipun mereka juga memakai kata-kata nabi
dan nubuat, kita tidak pernah menemukan ramalan yang spesifik
tentang suatu peristiwa sejarah besar yang akan terjadi pada

142 Apologetika
masa yang masih jauh ke depan, atau nubuat tentang seorang
Juruselamat yang akan muncul dari antara umat manusia.118

Namun, di sini kita akan melihat ikhtisar nubuat Perjanjian


Lama maupun Perjanjian Baru.119

Nubuat Perjanjian Lama:


1. Kitab Torah (kelima kitab Musa)
Kelima kitab Musa (Torah) berisi sekitar enam puluh nubuat,
sedikitnya lima belas di antaranya merujuk pada Mesias
yang akan datang. Nubuat paling awal dalam Kejadian mem­
peringatkan akan penghakiman Tuhan bahwa makan dari
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat akan
menyebabkan kematian (Kej. 2:16–17). Nubuat kedua merespons
nubuat pertama dengan rujukan tersembunyi pada rencana
penebusan Tuhan (Kej. 3:15). Keturunan si perempuan (Kristus)
pada akhirnya akan “meremukkan kepala” si ular (Iblis). Frasa
alkitabiah “benih perempuan” merujuk pada hal mengandung
secara ilahi. “Benih” merujuk pada unsur reproduksi laki-laki,
yang dalam hal Kristus diberikan kepada Maria oleh Roh Kudus,
bukan oleh laki-laki. “Benih perempuan” mengimplikasikan
kelahiran oleh seorang perawan (Mat. 1:18; Luk. 1:34–35).
Kitab Kejadian berisi sejumlah nubuat penting lainnya yang
mempersiapkan panggung bagi peristiwa-peristiwa terpenting
dalam sejarah:
• Air bah (Kej. 6:7).
• Silsilah nenek moyang Kristus dinubuatkan (Kej. 9:26–27;
10; 12:3; 22:18; 17:16; 21:12; 35:10–12; Bil. 24:17, dari keturunan
Adam, Sem, Abraham, Ishak, Yakub, dan seterusnya).

118
Josh McDowell, Op.Cit. 51.
119
Ralph O. Muncaster, Op. Cit. 16–20.

Apologetika Otoritas Allah 143


• Perjanjian untuk memberkati dunia melalui Abraham (Kej.
12:3).
• Janji akan Palestina kepada Abraham dan keturunannya (Kej.
12:7).
• “Pengurbanan” Ishak—nubuat akan kebangkitan (Kej. 22)
• Identifikasi para nenek moyang Kristus (Kej. 22:18; 49:10–
12).

2. Kitab-kitab Sejarah
Nubuat-nubuat dalam Kitab Yosua mencakup pengulangan
janji akan negeri Kanaan (Yos. 1:1–9), kemenangan atas Yerikho
(Yos. 6:1–50), Ai (Yos. 8:1), bangsa Amori (Yos. 10:7–8), dan raja-
raja utara (Yos. 11:6). Nubuat-nubuat dalam kitab-kitab sejarah
amat spesifik, di antaranya:
• Anak-anak Eli akan mati pada hari yang sama (1 Sam. 2:34).
• Saul akan dipilih sebagai raja (1 Sam. 9:15–16).
• Daud akan membunuh Goliat (1 Sam. 17:45–47).
• Anak Batsyeba akan mati (2 Sam. 12:14).
• Tiga hari penyakit sampar untuk Israel (2 Sam. 24:12–14; 1
Taw. 21:1–13).
• Akan terjadi kekeringan (1 Raj. 17:1).
• Kekeringan itu akan diakhiri dengan hujan yang dijanjikan
akan turun bila Elia meminta kepada Tuhan (1 Raj. 18:41).
• Izebel akan dimakan anjing-anjing (1 Raj. 21:23).
• Gehazi akan ditimpa kusta (2 Raj. 5:27).
• Kelaparan 7 tahun akan melanda Israel (2 Raj. 8:1).
• Kristus keturunan Daud (2 Sam. 7:12–17, band Yer. 23:5).

144 Apologetika
3. Kitab-kitab Syair
Saya akan memfokuskan nubuat dalam Kitab Mazmur merujuk
pada Mesias yang akan datang. Nubuat khas tentang Kristus
dalam kitab Mazmur digenapi secara historis. Berikut ini
beberapa nubuat khas Kitab Mazmur yang digenapi dalam
Kristus di Perjanjian Baru:120

Mazmur Nubuat Penggenapan


Allah akan mendeklarasikan-
2:7 Mat. 3:17
Nya sebagai Anak-Nya
Segala sesuatu akan diletakkan
8:6 Ibr. 2:8
di bawah kaki-Nya
Dia akan dibangkitkan dari
16:10 Mrk. 16:6–7
kematian
Allah akan membiarkan-Nya
22:1 Mat. 27:46
pada saat Dia membutuhkan

22:7–8 Ia akan diejek dan ditertawakan Luk. 23:35

Tangan dan kaki-Nya akan


22:16 Yoh. 20:25, 27
ditusuk
Orang lain akan membuang
22:18 Mat. 27:35, 36
undi atas jubah-Nya
Tulang-Nya tidak ada yang
34:20 Yoh. 19:32, 33, 36
dipatahkan
Dia dituduh dengan kesaksian
35:11 Mrk. 14:57
palsu

35:19 Dia dibenci tanpa alasan Yoh. 15:25

120
Kalis Stevanus, Diktat Kitab Puisi (Karanganyar: STT. Tawangmangu,
2009)

Apologetika Otoritas Allah 145


Dia datang untuk melakukan
40:7–8 Ibr. 10:7
kehendak Bapa

41:9 Dia dikhianati teman-Nya Luk. 22:47

Takhta-Nya untuk selama-


45:6 Ibr. 1:8
lamanya
Dia akan naik ke sebelah kanan
68:18 Mrk. 16:47
Allah
Kerinduan akan rumah Allah
69:9 Yoh. 2:17
menghanguskan-Nya
Dia diberi minum anggur
69:21 Mat. 27:34
campur empedu
Dia berdoa bagi musuh-
109:4 Luk. 23:34
musuh-Nya
Jabatan pengkhianat diganti
109:8 Kis. 1:20
orang lain
Musuh-musuh-Nya menghina
110:1 Mat. 22:44
Dia
Dia menjadi Imam menurut
110:4 Ibr. 5:6
peraturan Melkisedek
Dia menjadi batu penjuru
118:22 Mat. 21:42
utama
Dia akan datang dalam nama
118:22 Mat. 21:9
TUHAN

4. Kitab Para Nabi (Literatur Nubuat)


Sekitar sepertiga jumlah nubuat Alkitab terdapat dalam kitab-
kitab para nabi yang ditulis antara tahun 800 SM sampai 400
SM. Bahkan, kedatangan para nabi ini dinubuatkan oleh Musa
(Ul. 18:15). Kitab-kitab nubuat terawal adalah Yoel, ditulis di
Yehuda sekitar 800 SM, dan Yunus, ditulis di Niniwe pada 770

146 Apologetika
SM. Yunus bernubuat tentang kehancuran Niniwe (yang terjadi
pada 612 SM). Tulah-tulah dinubuatkan dan terjadi pada masa
kehidupan Yoel (ia juga memberikan nubuat tentang akhir
zaman). Yesaya bernubuat terbanyak dan paling mendetail
tentang Kristus:121
• Nubuat tentang Yohanes Pembaptis (Yes. 40:1–5).
• Kelahiran Kristus (Yes. 9:1–7).
• Kelahiran Kristus oleh seorang perawan (Yes. 7:14).
• Kristus akan menjadi Tuhan, bukan seorang manusia biasa.
Dia disebut Immanuel yang berarti “Tuhan beserta kita” (Yes.
7:14).
• Kristus disebutkan menjadi Juruselamat kekal (Yes. 9:6–7).
• Kristus akan menjadi Juruselamat baik bagi orang-orang
Yahudi maupun orang-orang non-Yahudi (Yes. 49:6).
• Kristus akan mengadakan banyak mukjizat, orang yang
tuli mendengar, buta melihat, lumpuh berjalan, dan bisu
berbicara (Yes. 29:18; 35:5–6).
• Kristus akan sangat menderita (Yes. 53).
• Kristus disalibkan karena pelanggaran manusia (Yes. 53:5).
• Kristus akan menanggung dosa banyak orang dan menjadi
perantara (Yes. 53:12).
• Kristus akan ditolak oleh umat-Nya, bangsa Yahudi (Yes. 53:3
band. Mzm 118:22; Mat. 21:42–46).
• Kristus adalah Raja yang menunggang seekor keledai (Zak.
9:9).
• Kristus ditikam dengan sebatang tombak (Zak. 12:10).
• Kristus dijual untuk 30 keping perak (Zak. 11:12–13).

121
Ralph O. Muncaster, Bagaimana Kita Mengerti Bahwa Yesus Adalah
Tuhan? (Jakarta: Gospel Press, 2002), 34–36.

Apologetika Otoritas Allah 147


• Perak itu dilemparkan di lantai bait suci (Zak. 11:13).
• Sebagai tambahan, Mikha menubuatkan kota Betlehem
sebagai tempat kelahiran sang Mesias (Mikha. 5:1–4).

Nabi-nabi terakhir Perjanjian Lama, Hagai, Zakharia, dan
Maleakhi, bernubuat setelah kembali dari pembuangan di
Babel. Kebanyakan nubuat nabi-nabi belakangan ini berkenaan
dengan kedatangan Kristus yang kedua kali dan akhir dunia.122

Nubuat Perjanjian Baru


Kita akan menyoroti kehidupan Kristus yang diberitahukan
terlebih dahulu oleh nubuat. Josh McDowell menyatakan bahwa
dalam seluruh Perjanjian Baru, para Rasul menunjuk dua bidang
dalam kehidupan Yesus untuk menegaskan ke-Mesiasan-Nya.
Yang satu adalah kebangkitan-Nya dan yang kedua adalah nubuat
tentang Mesias yang terpenuhi dalam diri Yesus. Perjanjian Lama,
yang ditulis selama kurun waktu kira-kira seribu tahun, berisi
ratusan rujukan tentang Mesias yang akan datang. Semuanya ini
terpenuhi dalam diri Yesus dan merupakan penegasan yang dapat
diandalkan dari kredibilitas-Nya sebagai Mesias.123
Berikut ini adalah deskripsi Sang Mesias dari nubuat Per­
janjian Lama (hanya sebagian saja).124
Sang Mesias akan diturunkan dari Sem (Kej. 9–10), Abraham
(Kej. 22:18), Ishak (Kej. 26:4), Yakub (Kej. 28:14), Yehuda (Kej. 49:10),
Isai (Yes. 11:1–5), dan Raja Daud (2 Sam. 7:11–16). Bintang cemerlang
(Bil. 24:17) akan muncul ketika Dia dilahirkan di kota Betlehem di

Ralph O. Muncaster, Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan (Jakarta:


122

Gospel Press), 24–25.


123
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
227.
124
Ralph O. Muncaster, Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan (Jakarta:
Gospel Press), 30–32.

148 Apologetika
tanah Efrata (Mi. 5:2). Hal itu akan merupakan kelahiran mukjizat
oleh seorang perawan (Yes. 7:14).
Sang Mesias unik. Dia sudah ada sebelum kelahiran-Nya
(Mi. 5:2). Dia akan mengadakan banyak mukjizat: meneduhkan
laut (Mzm. 107:29), membuat orang buta melihat, tuli mendengar,
lumpuh berjalan, dan bisu berbicara (Yes. 35:4–6). Mesias akan
disebut Allah menyertai kita (Yes. 7:14), penasihat ajaib, Allah yang
perkasa, Bapa yang kekal dan raja damai (Yes. 9:6). Dia akan menjadi
guru besar dan akan menggunakan berbagai perumpamaan (Mzm.
78:2). Suatu hari Dia akan memerintah atas segalanya—semua
bangsa akan sujud bertelut kepada-Nya (Yes. 45:23; Mzm. 22). Mesias
datang untuk menyelamatkan umat manusia (Yes. 53:3–9). Dia
menjadi kurban bagi dosa manusia (Yes. 53:3–9) dan memberikan
diri-Nya kepada Yerusalem sebagai raja yang diurapi(Zak. 9:9),
sekaligus Anak Domba Paskah (Yes. 53:3–9). Hal ini akan terjadi
tepat 173.880 hari setelah dekrit yang dikeluarkan oleh Artahsasta
untuk membangun kembali baik Yerusalem maupun bait suci
(Daniel 9:20–27 meramalkan sampai pada hari masuknya Yesus
ke Yerusalem sebagai raja dengan menunggang seekor keledai).
Jadi, empat hari sebelum Paskah, Sang Mesias akan menghadirkan
diri-Nya kepada Yerusalem yang bersukaria dengan menungang
seekor keledai (Za. 9:9). Namun, Dia akan sangat menderita (Yes.
53:3–9), ditolak oleh banyak orang, termasuk sahabat-sahabat-Nya
(Yes. 53:3–9), dikhianati sahabat (Mzm. 41:9) untuk 30 uang perak
(Za. 11:12–13). Belakangan, uang itu akan dilemparkan ke lantai bait
suci (Za. 11:12–13) dan akhirnya diberikan kepada penuang logam
(Za. 11:12–13). Ketika Dia diadili, Dia tidak membela diri, tidak
mengatakan apa-apa (Yes. 53:3–9), dan Israel akan menolak Dia
(Yes. 8:14).
Sang Mesias akan dibawa ke sebuah puncak bukit yang
diidentifikasi Abraham sebagai “Tuhan menyediakan” (Kej. 21). Di
sana, Dia akan disalibkan dengan tangan dan kaki tertusuk (Mzm.

Apologetika Otoritas Allah 149


22). Musuh-musuh-Nya mengelilingi (Mzm. 22), mengolok-
olok, dan membuang undi untuk pakaian-Nya (Mzm. 22). Dia
akan berseru kepada Tuhan “Allahku,Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?” (Mzm. 22:2). Dia akan diberi cuka dan anggur
(Mzm. 69:20–22). Dia akan mati bersama pencuri (Yes. 53:3–9),
tetapi tidak seperti pencuri-pencuri itu, tidak satu pun tulang-Nya
akan dipatahkan (Mzm. 22). Darah dan air memancar dari tubuh-
Nya (Mzm. 22) ketika Dia ditikam dengan sebatang tombak (Za.
12:10). Dia akan dikuburkan di kuburan seorang kaya (Yes. 53:3–9)
dan dalam tiga hari, Dia akan bangkit dari kematian (Mzm. 22).
Inilah sebagian daftar dari ratusan nubuat yang mengacu
kepada Mesias yang saya kutip dari karya Ralph O. Muncaster dan
Josh McDowell. Daftar ini hanyalah berisi nubuat historis yang
terpilih (nubuat mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali tidak
diturutsertakan).

1500 Tahun Nubuat-nubuat akan Kristus

Nubuat Rujukan Penggenapan


Kristus dilahirkan dari Gal. 4:4;
Kej. 3:15
seorang wanita Mat. 1:20
Kristus dilahirkan dari
Yes. 7:14 Mat. 1:18,24,25
seorang perawan
Kristus (penebus) yang
Kedatangan
kekal hidup, akan datang
Ayb. 19:25–27 Kristus secara
ke bumi, dan akan menang
historis
pada akhirnya
Ramalan metaforis akan
serangan iblis kepada
Kristus “meremukkan Kej. 3:15 Rm. 16:20
tumit” dan kemenangan
puncak Kristus

150 Apologetika
Mat. 1:2–3
Mesias akan berasal dari Kej. 12:2–3;
Luk. 3:23,34;
keturunan Abraham 22:18
Gal. 3:16
Mesias akan berasal dari Kej. 21:12; Mat. 1:2
keturunan Ishak 22:18 Luk. 3:23–37
Kej. 28:14;
Mesias akan berasal dari Mat. 1:2;
35:10–12;
keturunan Yakub Luk. 3:23,34
Bil. 24:17

Mat. 1:2;
Mesias akan berasal dari Kej. 49:10;
Luk. 3:23–37
suku Yehuda Mi. 5:1
Ibr. 7:14

Luk. 3:23,32;
Mesias dari keturunan Isai Yes. 11:1,10
Mat. 1:6
Luk. 3:23,31;
Mesias dari keturunan Yer. 23:5; Mat. 1:1
Daud Mzm. 132:11
Why. 22:16

Mzm. 2:7;
Mat. 3:17
Mesias disebut Anak Allah 1 Taw. 17:11–14;
Mrk. 9:7
2 Sam 7:12–16

Mzm. 110:1; Luk. 2:11


Kristus akan disebut Tuhan
Yer. 23:6 Mat. 22:43–45
Dia akan dinamakan Mat. 1:23; Luk.
Yes. 7:14
Imanuel 7:16
Mat. 2:2;
Sebagai bintang dari garis
Bil. 24:17 Luk. 1:33
keturunan Yakub
Why. 22:16

Apologetika Otoritas Allah 151


Kristus akan ditinggikan Mat. 21:11;
sebagai Nabi besar. Musa Yoh. 4:19; 6:14;
Ul. 18:15–19
diidentifikasi sebagai 7:40
seorang tipe nabi. Kis. 3:22; 7:37

Disebut Imam Mzm. 110:4 Ibr. 3:1; 5:5–6

Yoh. 5:30;
Disebut Hakim Yes. 33:22
2 Tim. 4:1
Mzm. 2:6; Mat. 27:37;
Dia adalah Raja
Zak. 9:9 Yoh. 18:33–38
Yes. 11:2; 42:1; Mat. 3:16–17
Diurapi oleh Roh Kudus
Yes 66:1–2 Luk. 4:18

Cintanya kepada Allah Mzm. 69:10 Yoh. 2:15–16

Pelayanan-Nya akan Yes. 40:3;


Mat. 3:1–2
didahului oleh utusan Mal. 3:1
Pelayanan-Nya dimulai di
Yes. 8:23 Mat. 4:12,13,17
Galelia
Pelayanan-Nya disertai Mat. 9:32,35;
Yes. 35:5–6
mukjizat Yoh. 5:5–9
Mengajar dengan
Mzm. 78:2 Mat. 13:34
perumpamaan
Dia akan masuk ke dalam
Mal. 3:1 Mat. 21:12
bait Allah
Kristus akan digantung
Ul. 21:23 Gal. 3:13
menjadi kutukan bagi kita

Penderitaan di penyaliban: Mat. 27; Mrk. 15;


olok-olok, pembuangan Mzm. 22:19 Luk. 23
undi untuk pakaian Yoh. 19

152 Apologetika
Tidak ada tulang-Nya yang
Kel. 12:46 Yoh. 19:31–36
dipatahkan

Ular ditinggikan di padang


gurun merupakan tipe Bil. 21:8–9 Yoh. 3:14–15
Kristus

Kristus akan mengatakan


“Ke dalam tangan-Mu, Mzm. 31:4–6 Luk. 23:46
kuserahkan nyawaku”
Tidak ada tulang Kristus
Mzm. 34:21 Yoh. 19:36
yang dipatahkan

Kristus dibenci tanpa alasan Mzm. 35:19 Yoh. 15:24–25

Sahabat-sahabat akan Mzm. 38:12 Mat. 27:55;


menjauh Mrk. 15:40
Mat. 26:14–16;
Kristus akan dikhianati oleh 47–50
Mzm. 41:10
seorang sahabat
Mrk. 14:17–21
Kristus akan dicela oleh Mzm.
Rm. 15:3
musuh-musuh-Nya 69:10,20
Dijual seharga 30 keping
Za. 11:12 Mat. 26:15
perak
Kristus adalah keturunan
Salomo dan memerintah 2 Sam. 7:13 Mat. 1
selamanya
Kristus akan berbicara
dalam berbagai Mzm. 78:2 Mat. 13:34–35
perumpamaan
Beberapa orang Yahudi Mat. 21:42;
“Tukang bangunan” akan
Mzm. 118:22 Mrk. 12:10;
menolak Kristus – sang
“batu penjuru” Luk. 20:27

Apologetika Otoritas Allah 153


Kristus adalah keturunan
Mat. 1; Luk.
Daud dan memerintah Mzm. 132:11,12
3:23–37
selamanya
Kristus akan mengadakan
mukjizat-mukjizat:
membuat yang buta
Yes. 35:4–6 Mat. 15:29–31
melihat, yang tuli
mendengar, yang lumpuh
berjalan
Mat. 3:1–3;
Yohanes Pembaptis akan
Mrk. 1:2–4
menjadi pembuka jalan Yes. 40:1–5
bagi Kristus Luk. 1:76–79;
Yoh. 1:23
Mat. 3:17;
Deskripsi Mesias yang akan Mrk. 1:11;
Yes. 42:1–13
datang Mat. 12:18–21;
Kis. 17:24–25

Kristus akan menjadi terang


bagi bangsa-bangsa bukan Yes. 49:6 Luk. 2:32;
Yahudi dan membawa Kis. 13:47
keselamatan ke bumi

Kristus akan taat pada Mat. 27:30–31;


Yes. 50
waktu Dia dihina Luk. 22:63–65

Banyak detail diberitahukan


terlebih dahulu (misal,
hamba yang menderita
Mrk. 15:3–4,27–
akan diam saja, disalibkan Yes. 52:13; 53
32, Luk. 23:1–25
bersama orang-orang jahat,
dikuburkan bersama orang
kaya)

Herodes membunuh anak-


Yer. 31:15 Mat. 2:16
anak

154 Apologetika
Kristus akan dipanggil dari
Hos. 11:1 Mat. 2:14–15
Mesir
Kristus dilahirkan di
Mi. 5:1 Mat. 2:1–6
Betlehem
Keberadaan Mesias sebelum Mi. 5:1; Yes. Kol. 1:17
segala sesuatu 9:6,7 Why. 1:17
Kristus akan masuk
ke Yerusalem 173. 880 Luk. 3:1 +
hari sejak dekrit untuk Dan. 9:24–27 pelayanan Yesus
membangun kembali bait 3 tahun
suci

Dia akan masuk ke


Yerusalem dengan Za. 9:9 Luk. 19:35–37
mengendarai keledai

Dia akan menjadi “batu


Mzm. 118:22;
sandungan” bagi orang 1 Ptr. 2:7
Yes. 8:14
Yahudi
Kristus akan dikhianati Mat. 26:14–15;
Za. 11:12–13
untuk 30 keping perak 27:9
Uang itu dibelikan tanah
Za. 11:13b Mat. 27:7
tukang periuk
Menutup mulut di hadapan
Yes. 53:7 Mat. 27:12
para pendakwa

Kristus akan ditikam Za. 12:10 Yoh. 19:34–37

Dipukuli dan diludahi Yes. 50:6 Mat. 26:67

Diolok-olok Mzm. 22:8–9 Mat. 27:31

Mzm. 22:7 Luk. 23:33


Tangan dan kakinya ditusuk
Zak. 12:10 Yoh. 20:25

Apologetika Otoritas Allah 155


Tubuh Kristus tidak akan Mat. 28; Kis.
Mzm. 16:1–10
binasa 2:25–28; 13:35–37
Disalib bersama-sama
Yes. 53:12 Mat. 27:38
dengan penjahat
Dia berdoa bagi para
Yes. 53:12 Luk. 23:34
pemberontak
Ditolak oleh bangsanya
Yes. 53:3 Yoh. 7:5,48
sendiri
Orang-orang
Mzm. 109:25 Mat. 27:39
menggelengkan kepalanya

Dipandangi Mzm. 22:18 Luk. 23:35

Pakaiannya dibagi-bagi dan


Mzm. 22:19 Yoh. 19:23–24
diundi

Menderita kehausan Mzm. 69:22 Yoh. 19:28

Kristus akan diberi anggur


Mzm. 69:22 Mat. 27:34
asam
Berseru karena merasa
Mzm. 22:2a Mat. 27:46
ditinggalkan
Dia menyerahkan diri-Nya
Mzm. 31:6 Luk. 23:46
kepada Allah
Kegelapan meliputi seluruh
Amos. 8:9 Mat. 27:45
daerah
Dimakamkan di kubur
Yes. 53:9 Mat. 27:57–60
orang kaya
Kis. 2:31; 13:33
Mzm. 16:10;
Dia akan bangkit Mat. 28:6;
41:10
Mrk. 16:6

156 Apologetika
Dia akan naik ke tempat
Mzm. 68:19a Kis. 1:9
tinggi
Dia akan duduk di sebelah Ibr. 1:3;
Mzm. 110:1
kanan Allah Kis. 2:34–35

Tidak ada buku lain, buku kuno atau modern, dengan segala
jenis nubuat yang spesifik dan teruji—yang akhirnya terjadi dan
terbukti benar akurat 100% seperti Alkitab!

Nubuat-nubuat Yesus
Nubuat Yesus mencakup beberapa nubuat yang segera
diverifikasi oleh orang-orang di sekeliling-Nya. Misal, Yesus mem­
beri tahu perwira bahwa hambanya akan sembuh—lihat Matius
8:1–13. Nubuat-nubuat lain merujuk pada penghakiman, surga
atau akhir zaman. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya tentang
kematian dan kebangkitan-Nya. Hal ini dilakukan-Nya untuk
memastikan bahwa ketika peristiwa-peristiwa tersebut terjadi,
mereka akan mengetahui bahwa Dia adalah Sang Mesias (Yoh.
13:19). Bangsa Yahudi menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang
mengetahui masa depan.
Berikut ini adalah nubuat-nubuat Yesus tentang kematian
dan kebangkitan-Nya.125
• Kristus tidak akan minum anggur lagi sampai Dia kembali
untuk mendirikan kerajaan baru (Mat. 26:27–29; Mrk. 14:23–
25; Luk. 22:17–18).
• Salah satu murid-Nya akan mengkhianati Dia (Mat. 26:21;
Mrk. 14:17–21; Luk. 22:21–22).

Ralph O. Muncaster, Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan (Jakarta:


125

Gospel Press, 2002), 40–42.

Apologetika Otoritas Allah 157


• Kristus tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat,
melainkan menggenapinya secara nubuat (Mat. 5:17–20).
• Murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia pada malam hari
raya Paskah (Mat. 26:30–31; Mrk. 14:26–27).
• Petrus akan menyangkal Dia tiga kali (Mat. 26:33–34; Mrk.
14:29–30; Luk. 22:31–34).
• Kristus akan disalib (Mat. 26:2; Yoh. 3:14–16).
• Kristus akan ditinggikan (Yoh. 12:32–34).
• Nubuat pertama tentang kematian dan kebangkitan-Nya
(Mat. 16:21–28; Mrk. 31–9:1; Luk. 9:21–27).
• Nubuat kedua tentang kematian dan kebangkitan-Nya (Mat.
20:17–20; Mrk. 10:32–34; Luk. 18:31–34).
• Nubuat ketiga tentang kematian dan kebangkitan-Nya (Mat.
26:2–5; Mrk. 14:1–9).
• “Tanda” ajaib Yesus adalah “tanda nabi Yunus”—kebangkitan-
Nya setelah tiga hari tiga malam (Mat. 12:39–40).
• Apabila tubuh-Nya dihancurkan, Dia akan membangkitkan-
Nya dalam tiga hari (Yoh. 2:19).

E. Mukjizat-mukjizat yang Tertulis di Alkitab


Indikasi-indikasi internal mendukung otentisitas klaim Alkitab
atas otoritasnya. Seharusnya, indikasi-indikasi internal itu sudah
cukup untuk membungkam mulut orang skeptis dan para pengri­
tik Alkitab.
Dalam Alkitab, Allah dalam berbagai waktu memberikan
penunjukan eksternal dan bukti bahwa perkataan itu berasal dari
Dia. Allah melakukan hal ini melalui mukjizat-mukjizat. Mukjizat-
mukjizat diotentikkan dengan memberikan kredibilitas dari luar,
yaitu bagi mereka yang mengklaim bahwa mereka menyampaikan
firman Allah. Misalnya, Musa dan semak belukar yang terbakar,

158 Apologetika
ia sebagai mediator yang akan datang dari Perjanjian Lama (PL)
mengantisipasi penolakan dari rekan-rekannya: “Bagaimana
jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan per­
kataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri
kepadamu?” (Kel. 4:1). Bagaimana Allah menanggapinya? Kita
membaca ayat 1–7 di mana TUHAN mengubah tongkat Musa
menjadi ular dan menjadikan tangannya terkena kusta lalu sembuh
kembali.126

“Lalu sahut Musa: ‘Bagaimana jika mereka tidak percaya ke­


padaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan ber­
kata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?’ TUHAN
berfirman kepadanya: ‘Apakah yang di tanganmu itu?’ Jawab
Musa: ‘Tongkat.’ Firman TUHAN: ‘Lemparkanlah itu ke tanah.’
Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi
ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman
TUHAN kepada Musa: ‘Ulurkanlah tanganmu dan peganglah
ekornya’—Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular
itu, lalu menjadi tongkat di tangannya—‘supaya mereka percaya
bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham,
Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.’
Lagi firman TUHAN kepadanya: ‘Masukkanlah tanganmu ke
dalam bajumu.’ Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya,
dan setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih
seperti salju. Sesudah itu firman-Nya: ‘Masukkanlah tanganmu
kembali ke dalam bajumu.’ Musa memasukkan tangannya kembali
ke dalam bajunya dan setelah ditariknya ke luar, maka tangan itu
pulih kembali seperti seluruh badannya.”

Apabila hal itu tidak cukup, Allah akan memperlihatkan


kepada orang-orang itu mukjizat yang lebih banyak lagi: mengubah
air menjadi darah (ay. 8–9).

126
R.C. Sproul, Defending your Faith: An introduction to Apologetics
(Malang: SAAT, 2011), 184–185

Apologetika Otoritas Allah 159


“Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan
tanda mukjizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada
tanda mukjizat yang kedua. Dan jika mereka tidak juga percaya
kepada kedua tanda mukjizat ini dan tidak mendengarkan
perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil
dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kau­
ambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.”

Tujuan penyataan mukjizat-mukjizat digenapi, “Harun me­


ngucapkan segala firman yang telah diucapkan TUHAN kepada
Musa, serta membuat di depan bangsa itu tanda-tanda mukjizat
itu. Lalu percayalah bangsa itu” (Kel. 4:30–31).
Sebelum saya mengakhiri topik tentang mukjizat ini, saya
ingin menunjukkan bahwa mukjizat bukan sebagai pelanggaran
hukum alam seperti yang dituduhkan oleh para kaum skeptis.
Sebagai orang Kristen, saya percaya, Allah dapat bertindak dalam
berbagai cara yang terlihat luar biasa (mukjizat). Namun, tindakan
luar biasa tersebut tidak boleh dianggap sebagai pelanggaran
hukum alam. Hukum alam merupakan hukum ilahi sehingga
keliru kalau menganggap mukjizat sebagai pelanggaran atas
hukum Allah. Saya percaya, Allah bukanlah penyebab kekacauan.
Memang mukjizat utamanya bukan merupakan peristiwa yang da­
pat diulang yang mana tidak dapat dijelaskan oleh sains. Mukji­zat
merupakan peristiwa yang yang tidak termasuk dalam jangkauan
pengalaman kita saat ini. Mengapa sains tidak dapat menjelaskan
peristiwa yang luar biasa tersebut karena peristiwa tersebut tidak
termasuk dalam tatanan natural.
Saya ingin Anda mengerti bahwa tujuan utama mukjizat bu­
kan untuk menghibur manusia, melainkan menumbuhkan iman
atau kepercayaan kepada Tuhan dan keinginan untuk menyembah-
Nya. Mukjizat yang sejati selalu mengisi fungsi religius yang
benar.

160 Apologetika
F. Akurasi Ilmu Pengetahuan
Keunggulan menyolok lainnya dari Alkitab adalah banyak prinsip
pengetahuan modern yang tercatat sebagai fakta-fakta alam sudah
dinyatakan oleh Alkitab. Contohnya:127
• Perputaran bumi: bumi bulat (Yes. 40:21–22), bumi berputar
(Luk. 17:24,34–35).
• Tidak terbatas luasnya alam semesta (Yes. 55:9).
• Hukum konservasi energi dan masa (2 Ptr. 3:7).
• Siklus hidrologi (Pkh. 1:7).
• Jumlah bintang yang tidak terbilang (Kej. 15:5; Yer. 33:22).
• Hukum pertambahan usia dan penurunan kondisi energi
dan alam semesta (Mzm. 102:25–27).
• Darah sebagai kebutuhan yang paling penting dalam proses
kehidupan (Im. 17:11).
• Sirkulasi atmosfir (Pkh. 1:6).
• Bidang gravitasi (Ayb. 26:7).

Dari semua hal itu, tidak satu pun disampaikan dalam


istilah teknis sains modern (tentu saja), melainkan dengan istilah-
istilah dunia yang umum melalui observasi atau pengamatan
hidup manusia setiap hari. Misalnya, kita mendengar ungkapan
“matahari terbit”. Hal ini adalah ucapan yang tidak ilmiah, tetapi
kita pun menggunakan bahasa seperti itu. Ketika kita mengatakan
bahwa matahari “terbit”, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa
matahari berputar mengelilingi bumi. Akal sehat kita menyatakan
bahwa kita tidak boleh menafsirkan bahasa sehari-hari sebagai
bahasa ilmiah.
Karl Barth mengakui Alkitab adalah firman Allah, sepenuh­
nya layak dipercaya. Ia menambahkan bahwa bahasa Alkitab

127. Alex McFarland, Apologetika (Malang: Gandum Mas, 2012), 80

Apologetika Otoritas Allah 161


bukanlah bahasa ilmiah. Oleh karena itu, Alkitab tidak boleh
dipaksa untuk menyatakan kebenarannya dengan cara ilmiah,
sama seperti karya sastra tidak boleh dibaca didekati dengan
pendekatan matematik.128
Saya setuju dengan pendapat atau keyakinan bahwa Alkitab
sepenuhnya benar. Sekalipun tujuan utama penulis-penulis Alkitab
bukanlah menyodorkan data-data ilmiah, melainkan dalam hal
sains pun benar. Gary Crampton mengatakan:

Tulisan-tulisan dari Gereja mula-mula dan sejarawan sekuler,


penemuan-penemuan arkeologi, hasil sains di mana saja, jika
diperlakukan secara jujur pasti akan mempertahankan kebenaran
pernyataan-pernyataan Alkitab. Kenyataan ini diakui oleh para
pengritik Kisten dan non-Kristen. Tidak pernah ada bukti yang
dihasilkan (dan tidak akan pernah ada) yang akan menyebabkan
suatu bayangan keragu-raguan mengenai keontetikan wahyu
Allah.129

Sekali lagi, penting untuk kita mengingat bahwa Alkitab bu­


kan teks yang bersifat ilmiah. Alkitab, yang dapat dipahami pada
tingkat yang paling dasar, adalah kisah pekerjaan Allah dan karya
penebusan-Nya demi umat manusia. Dengan kata lain, Alkitab
ditulis fungsi utamanya adalah sebagai buku untuk keselamatan
(Yoh. 20:30–31). Itulah sebabnya, Alkitab tidak menjelaskan
kepada kita semua hal yang kita ketahui tentang dunia yang Allah
ciptakan.
Alkitab lebih bersifat sebuah buku yang dirancang bagi
keselamatan kita, bukan buku sains, tetapi tidak bertentangan
dengan sains. Allah telah membangkitkan arkeolog-arkeolog untuk
menyatakan kebenaran Alkitab. Saya yakin kaum skeptis maupun
pengkritik Alkitab dengan segala taktik yang dilancarkan untuk

128
Mangapul Sagala, Op.Cit. 37–38
129
W. Gary Crampton,Op.Cit. 63

162 Apologetika
menyerang keabsahan Alkitab akan menguap seperti embun yang
terkena sinar matahari; dan akan runtuh seperti tembok Yerikho
yang hancur lebur. Terpujilah Nama Tuhan selamanya.

G. Kesatuan dan Keharmonisan Alkitab


Struktur Alkitab sungguh luar biasa. Sekalipun ini adalah kumpul­
an buku atau kitab dari enam puluh enam kitab, ditulis oleh empat
puluh atau lebih orang berbeda dari semua gaya hidup selama
lebih dari seribu enam ratus tahun, Alkitab memiliki kesatuan dan
konsistensi yang sempurna secara keseluruhannya. Pada waktu
penulisannya, para penulis secara pribadi tidak memiliki bayangan
bahwa pada akhirnya pesan mereka akan dikumpulkan menjadi
buku.130 Scheunemann menambahkan:

Yesus Kristus adalah pusat Alkitab. PB ditulis oleh 9 orang. PL


oleh 30 orang lebih. Para penulis sangat berbeda dari segi latar
belakang, keturunan, pendidikan, dan kedudukannya dalam
masyarakat. Di antaranya kita jumpai raja, menteri, gembala,
pegawai, nelayan, imam, hakim, dan dokter. Tempat penulisan
dan kebangsaanpun berbeda: ada yang menulis di Israel, di Babel,
di Efesus dan Korintus, ada orang Yahudi dan non Yahudi. Waktu
penulisan amat berbeda pula: dari Musa sampai pada Yohanes
yang menulis di Patmos terhitung 1500 tahun. Maka kelestarian
dan keharmonisan Alkitab sungguh mengherankan.”131

Pendapat senada diungkapkan W. Gary Crampton:

Terdapat sekitar 40 orang penulis, dengan 20 pekerjaan, hidup


di 10 negara, masa penulisan lebih dari 1500 tahun, dalam 3
bahasa, dan menghasilkan 66 kitab mencakup banyak pokok
permasalahan—tetapi satu tema yang dituju seluruhnya, yaitu

130
Alex McFarland, Op.Cit. 82.
131
V. Scheunemann, Op.Cit. 129.

Apologetika Otoritas Allah 163


Yesus Kristus. Martin Luther menegaskan bahwa seluruh Alkitab
mengajarkan tentang Kristus.132

Alkitab adalah “unik” (unik artinya satu-satunya, hanya satu,


berbeda dari yang lain, tidak ada padanannya). Hal ini diungkapkan
Josh McDowell tentang Alkitab kita dalam satu kata “unik”, unik
dalam kesinambungannya.133
1. Ditulis selama kurun waktu lebih dari 1500 tahun.
2. Ditulis selama lebih dari 40 generasi.
3. Ditulis lebih dari 40 penulis dari segala lapisan masyarakat
termasuk raja, petani, ahli filsafat, nelayan, pujangga, negara­
wan, dan cendekiawan:
• Musa, pemimpin politik
• Petrus, nelayan
• Amos, gembala
• Yosua, panglima perang
• Nehemia, pembawa minuman raja
• Daniel, perdana menteri
• Lukas, dokter
• Salomo, raja
• Matius, penagih pajak
• Paulus, rabbi
4. Ditulis di berbagai tempat yang berbeda:
• Musa di padang gurun
• Yeremia di rumah tahanan
• Daniel di lereng-lereng gunung dan di istana

132
W. Gary Crampton, Verbum Dei, Alkitab: Firman Allah (Surabaya:
Momentum, 2000), 62.
133
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
42–43.

164 Apologetika
• Paulus di balik tembok penjara
• Lukas dalam perjalanan
• Yohanes di Pulau Patmos
• Yang lainnya di tengah kecamuk peperangan
5. Ditulis pada waktu yang berbeda-beda:
• Daud pada masa perang
• Salomo pada masa perdamaian
6. Ditulis dalam suasana hati yang berbeda. Ada yang ditulis da­
lam puncak sukacita dan ada yang ditulis di tengah penderita­an
yang paling dalam dan keputusasaan
7. Ditulis di tiga benua yang berbeda, Asia, Eropa, dan Afrika.
8. Ditulis dalam tiga bahasa yang berbeda:
• Ibrani: adalah bahasa Perjanjian Lama (dalam 2 Raj. 18:26–
28 disebut “bahasa Yehuda.” dan dalam Yes. 19:18 disebut
“bahasa Kanaan”.
• Aramaik: adalah bahasa “umum” di Timur Dekat sampai
zaman Aleksander Agung (abad ke-6 SM–abad ke-4 SM)
• Yunani: adalah bahasa Perjanjian Baru, bahasa internasional
dalam zaman Kristus.
Sungguh, amat menarik untuk diperhatikan bagaimana
penulis-penulis tersebut dapat saling melengkapi dalam tulisan­
nya. Mereka tidak pernah bertemu dan merundingkan mengenai
hal yang mereka tulis. Mengapa Alkitab tersebut dapat saling
melengkapi dan secara berkesinambungan memberitakan satu
berita yang sama, yaitu Kristus. Pasti ada “pribadi” yang mengatur
semuanya itu sehingga semua tidak saling bertentangan sebalik­
nya saling melengkapi dengan sempurna. Jawabannya, Pribadi
itu adalah Roh Kudus sebagai penulisnya seperti dikatakan oleh
Rasul Petrus, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa
nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut

Apologetika Otoritas Allah 165


kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh
kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-
orang berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:20–21).
Scheunemann menambahkan hal yang merupakan rahasia
bagi kesatuan dan keharmonisan Alkitab. Pertama, meskipun
Alkitab ditulis dalam kurun waktu yang begitu lama dan oleh
penulis yang begitu banyak, Alkitab sebenarnya berasal dari “satu
tangan”, yaitu Roh Kudus. Kedua, Yesus merupakan pusat dan tema
utama Alkitab. Segala sesuatu yang ditulis dalam Perjanjian Lama
menunjuk pada kedatangan-Nya dan kebutuhan manusia akan
Dia. Segala sesuatu yang ditulis dalam PB menjelaskan tentang
makna kedatangan-Nya bagi manusia dan khususnya bagi jemaat-
Nya. Isi Alkitab sudah diatur sedemikian rupa, rapi, dan ajaib oleh
Roh Kudus menuju pusatnya adalah Yesus Kristus (Yoh. 16:14).134
Seharusnya, setiap orang yang mencari kebenaran dengan
tulus, jujur, dan objektif, setidak-tidaknya mau mempertimbang­
kan sebuah buku dengan kualifikasi unik seperti Alkitab. Alki­
tab tidak sekadar kumpulan karya tulis—ada kesatuan yang
mempersatukan semuanya secara harmonis dan konsisten.

H. Bagian-bagian Alkitab yang Dipermasalahkan


Kita telah mendengar usaha untuk menunjukkan bahwa Alkitab
penuh kekeliruan—dan bagaimana kita menjawabnya. Beberapa
teks Alkitab telah memperoleh penyangkalan (bahkan dicemooh)
seperti:
1. Kisah Yunus diselamatkan dalam perut ikan paus.
2. Dalam Perjanjian Lama sering berbeda jumlah perhitungan­
nya dalam bagian-bagian Alkitab lain, sedangkan bagian
Alkitab itu membicarakan peristiwa yang sama.

134
Ibid, 129–130

166 Apologetika
3. Di mana Kain mendapatkan istrinya.
4. Urutan kronologis dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan
Yesus tidak sama laporannya dalam kitab-kitab Injil.
5. Satu laporan mengenai kematian Yudas mengatakan bahwa
ia menggantung dirinya, dan laporan lain mengatakan bahwa
ia jatuh dan terburai isi perutnya.

Memang kita akui bahwa ada bagian-bagian dalam Alkitab


yang mengandung berbagai masalah. Soal ketidakkeliruan
(inneransi: paham bahwa Alkitab tidak mengandung kekeliruan)
tidak meliputi masalah penafsiran atau perdebatan mengenai
jenis naskah terbaik. Namun, masalah-masalah yang menyangkut
ketidakcocokan yang tampaknya begitu, bilangan-bilangan yang
saling bertentangan, perbedaan-perbedaan dalam laporan-laporan
yang sejajar dari kisah yang sama atau pernyataan-pernyataan yang
tidak ilmiah memang termasuk dalam masalah ketidakkeliruan.135
Selanjutnya, Ryrie menyatakan bahwa hanya satu kekeliruan
saja bisa membuat Alkitab juga keliru. Mungkin hanya kekeliruan
yang “kecil”, yang tidak ada akibatnya, satu kekeliruan sejarah atau
doktrin, tetapi kalau ada satu saja, kita berarti memiliki Alkitab
yang keliru.
Pada bagian sebelumnya (poin A–F), saya sudah menjelaskan
bahwa Alkitab dari segi internal maupun eksternal tidak me­
ngandung kekeliruan, nubuat-nubuatnya tergenapi akurat 100%
sebab Allah adalah benar, tidak berdusta, mahatahu, dan maha­
kuasa. Dengan demikian, Dia tidak mungkin menghasilkan buku
atau tulisan yang keliru. Alkitab merupakan buku penuntun bagi
keselamatan manusia.
Jika ada kemungkinan keliru (walaupun kecil), berarti juga
ada kemungkinan kekeliruan yang besar. Jika ada kekeliruan

135
Charles C.Ryrie, Teologi Dasar 1 (Yogyakarta: Andi, 2001), 124

Apologetika Otoritas Allah 167


(walaupun satu saja), doktrin keselamatan tidak bisa ditegakkan.
Hal itu berarti rencana Allah bagi keselamatan umat manusia gagal.
Benarkah? Alkitab dengan gamblang berkata, “bahwa Engkau
sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu
yang gagal” (Ayb. 42:2). Paulus menyuguhkan kesaksian Abraham
sebagai contoh riil bahwa, “Allah berkuasa untuk melaksanakan
apa yang telah Ia janjikan.” (Rm. 4:21) dan faktanya Abraham
memiliki keturunan seperti yang Dia janjikan kepadanya.
Menanggapi masalah tersebut, Ryrie memberikan ilustrasi
demikian:

Bila seorang suami, yang berbahagia dalam pernikahannya,


suatu hari pulang ke rumah, tanpa disangka melihat istrinya
melambaikan tangan kepada seorang pria ganteng yang akan naik
mobil, apa gerangan yang ia pikirkan? Bila ia yakin dan percaya
kepada istrinya secara total berdasarkan pengalamannya sekian
tahun yang menyenangkan, ia pikir pasti istrinya mempunyai
alasan yang benar berkaitan dengan pria tadi. Meskipun mungkin
sangat ingin mengetahui, si suami tidak meragukan kesetiaan
istrinya. Mungkin kemudian baru ia mengerti bahwa pria tadi
yang ia lihat baru mengantar hadiah khusus yang dipesan istrinya
untuknya. Namun, jika kepercayaannya dalam hubungan dengan
istrinya agak goyah, pikirannya akan mengembara ke mana-
mana termasuk mencurigai kesetiaannya. Karena merasa tidak
aman maka istrinya akan selamanya dicap sebagai wanita serong
di matanya.136

Analogi tadi jelas bukan? Jika Anda mendekati Alkitab dengan


keyakinan bahwa kata-katanya diilhamkan oleh Allah (2 Tim. 3:16)
dan sebab itu tanpa kekeliruan dan jika keyakinan tersebut sudah
ditopang pengalaman bertahun-tahun bahwa Alkitab sungguh
bisa dipercaya, Anda tidak akan digoncangkan oleh satu masalah
dan tidak akan menyimpulkan bahwa itu kekeliruan. Namun,
jika Anda berpikir bahwa ada kekeliruan dalam Alkitab, sedikit

136
Ibid, 125.

168 Apologetika
atau banyak, Anda akan menyimpulkan bahwa beberapa masalah
tadi adalah contoh-contoh kekeliruan. Meskipun misalnya hanya
satu kekeliruan dalam Alkitab, berarti Anda memiliki Alkitab
yang keliru.137 Dalam buku ini, saya sengaja hanya menyuguhkan
beberapa contoh bagian-bagian Alkitab yang dipermasalahkan—
dianggap kontradiksi dan beberapa kesimpulan mengenai per­
masalahan ini.

Bagian Perjanjian Lama yang Dipermasalahkan


1. Kisah Yunus diselamatkan dalam perut ikan besar.138
Bisakah Yunus benar-benar diselamatkan dalam perut ikan
besar? Tiga hari tiga malam dalam perut ikan? Mereka yang
meragukan Alkitab (skeptis) mengatakan hal ini tidak pernah
terjadi. Hal itu adalah cerita mitos atau fiksi. Namun, Yunus
memperlihatkan gaya literal layaknya catatan sejarah, bukan
mitos, perumpamaan, atau alegori. Baik Perjanjian Lama
maupun Perjanjian memberikan konfirmasi bahwa kisah itu
benar secara literal. Contohnya, 2 Raja-raja 14:25 mengatakan
bahwa Yunus sebagai nabi orang Yahudi yang nyata. Tuhan
Yesus pun secara pasti mengatakan kisah Yunus itu adalah fakta
sejarah—literal, bukan mitologi (Mat. 12 dan Luk. 11).
Bagaimanapun, bertahannya Yunus dalam perut ikan
selama tiga hari tiga malam adalah kejadian supernatural—
ada campur tangan Tuhan. Yunus 2:10 menunjukkan bahwa
Allah secara ajaib menyebabkan keluarnya sang nabi dari
dalam makhluk itu. Ingat, jika Allah memiliki kuasa untuk
menciptakan alam semesta, sistem tata surya, dan planet bumi,
tidak ada alasan untuk menduga bahwa Dia tidak bisa campur
tangan dalam tatanan yang diciptakan. Sejatinya, keberatan

137
Ibid.
138
Alex McFarland, Apologetika (Malang: Gandum Mas, 2012), 92.

Apologetika Otoritas Allah 169


terhadap kisah Yunus muncul bukan dari permasalahan logis
atau tekstual, melainkan prasangka yang anti-supernatural.

2. Dalam Perjanjian Lama sering berbeda jumlah perhitungannya


dalam bagian-bagian Alkitab lain, sedangkan bagian Alkitab itu
membicarakan peristiwa yang sama.139
Berapa jumlah yang Daud bayar kepada Arauna tampaknya
tidak sesuai dengan laporan satunya. Kitab 2 Samuel 24:24
mengatakan 50 syikal perak sedangkan 1 Tawarikh 21:25
mencatat 600 syikal harganya. Hal ini perbedaan yang banyak
sekali. Penjelasan mencoba memberi penjelasan yang masuk
akal. Apakah terlalu besar jika 50 syikal untuk membayar
tempat pengirikan saja (2 Sam. 24:24) sedangkan 600 syikal
untuk membayar semua milik sekeliling tempat itu?
Bencana yang menimpa Israel akibat penyembahan Baal
dan Peor telah membunuh 24.000 orang menurut Musa (Bil.
25:9). Namun, Paulus mencatat hanya 23.000 orang (1 Kor. 10:8).
Kekeliruan yang nyata? Tidak karena Paulus membatasi angka
23.000 hanya untuk yang mati dalam satu hari. Laporan Bilang­
an 25 mencatat bahwa para hakim dilibatkan untuk melaksana­
kan penghukuman dan bisa termasuk kematian tambahan yang
terjadi hari-hari berikutnya. Dengan kata lain, mereka bisa jadi
belum menyelesaikan tugas mereka yang mengerikan itu dalam
satu hari.
Ketika Allah memberikan pilihan hukuman kepada Daud,
Dia menawarkan sebagai pilihan tujuh tahun kelaparan me­
nurut 2 Samuel 24:13 dan tiga tahun kelaparan menurut Kitab
1 Tawarikh 21:12. Terjemahan Septuaginta (LXX) menyebutkan
tiga tahun sehingga “tampaknya” dalam 2 Samuel tadi ada
kekeliruan penyalin. Meskipun salinan dibuat secara hati-hati,

139
Charles C.Ryrie, Op.Cit. 128

170 Apologetika
kekeliruan bisa terjadi. Hal ini tampaknya satu saja, tetapi
bukanlah kekeliruan dalam naskah aslinya (auto-graphe), tetapi
pada salinan-salinan. Naskah aslinya yang pasti tanpa keliru
ketika dituliskan. Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mengatakan,
“Sejarah-sejarah kuno jarang sekali menyebut sesuatu dengan
menggunakan jumlah angka yang tepat. Perkiraan kasar lazim
dilakukan. Jika demikian bisa saja angka-angka simbolis yang
digunakan, bukannya angka harfiah untuk menjelaskan sesuatu
peristiwa yang nyata.”140

3. Di mana Kain mendapatkan istrinya.


Saya menggangap pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dija­
wab dari mana Kain mendapatkan istrinya (kecuali bagi orang
yang keras kepala menganut paham bahwa Alkitab mengandung
kekeliruan). Mereka berargumen bahwa suku bangsa manusia
lainnya harus lebih dahulu ada di bumi—manusia tidak hanya
keturunan Adam dan Hawa—agar Kain mendapatkan seorang
istri. Dengan kata lain, mereka berasumsi ada manusia lain di
luar Taman Eden selain keluarga Adam dan Hawa di Taman
Eden.
Saya tidak ingin (dan memang tidak tertarik) membahas ini
lebih mendalam di sini tentang adanya “kemungkinan” manusia
lain di luar Taman Eden (yang disebut manusia purba, manusia
tanpa “roh”) selain Adam dan Hawa. Bagi saya, hal itu sekadar
“asumsi” yang sifatnya spekulatif. Itulah sebabnya saya tidak
tertarik membahasnya.
Jawaban yang sudah sangat jelas adalah Alkitab mengajar­
kan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia yang diciptakan
pertama kali. Tuhan Yesus meneguhkan hal ini dalam Matius
19:3–9. Silsilah Kristus ditarik sampai Adam (Luk. 3:38). Kitab

140
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op. Cit. 289.

Apologetika Otoritas Allah 171


Yudas 14 menyebutkan Henokh sebagai keturunan Adam yang
ketujuh. Bukankah Adam dan Hawa, selain memiliki anak:
Kain dan Habel, masih bisa melahirkan anak-anak lain. Kita
mengetahui bahwa Adam dan Hawa mempunyai lagi anak-
anak laki-laki dan perempuan selain Kain, Habel, dan Set,
“Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun,
dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan” (Kej.
5:4). Alex McFarland menyatakan, “Baik teks Alkitab maupun
sejarah Yahudi menyatakan bahwa Adam dan Hawa memiliki
banyak anak.”141
Pada waktu itu hanya ada satu keluarga di bumi. Tentunya,
Kain menikahi salah satu dari saudara perempuannya. Lalu se­
ring muncul pertanyaan, ”Bukankah itu melanggar perintah
Alkitab untuk tidak menikahi seseorang yang masih ada
hubungan darah?” Jawabannya juga sederhana dan jelas,
yaitu tidak. Apakah Allah tidak konsisten dengan hukum itu?
Pernikahan demikian pada mulanya tidaklah berbahaya. Inces
berbahaya sebab mewarisi sel keturunan yang berubah yang
menghasilkan anak-anak yang cacat. Sudah pasti Adam dan Hawa
tidak mempunyai sel-sel demikian. Itu sebabnya pernikahan
antara saudara lelaki dan perempuan atau kemenakan lelaki
dan perempuan dari generasi pertama dan kedua sesudah
Adam dan Hawa tidaklah berbahaya. Lagi pula, larangan Musa
untuk mengawini kerabat dekat belum ada hingga setidaknya
400 tahun kemudian (Im. 18–20). Hal serupa diungkapkan
Alex McFarland, “Dalam tahun-tahun awal sejarah manusia
ketimpangan generasi, yang sering terjadi saat ini, dahulu tidak
pernah ada.”142

141
Alex McFarland, Op.Cit. 91.
142
Ibid.

172 Apologetika
Bagian Perjanjian Baru yang dipermasalahkan
1. Urutan kronologis peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus
tidak sama laporannya dalam kitab-kitab Injil .
Hanya Lukas, yang adalah ilmuwan Yunani (dokter), me­
nyuguhkan tulisannya berdasarkan urutan kronologis yang tepat
(Luk. 1:3). Saya ingin menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan Yesus dalam kitab-kitab Injil tidak disusun
secara sistematis berdasarkan urutan kronologi waktu. Tujuan
utama ditulisnya adalah seperti yang dikatakan oleh Yesus,
“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan
mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu
percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu
oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:30–
31). Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, Alkitab
adalah buku keselamatan, kendati pun dalamnya mengandung
atau ada catatan sejarah, biografi, dan ilmu pengetahuan.
Satu laporan mengenai hari kebangkitan Yesus pada pagi
hari mengatakan bahwa para wanita yang berkunjung ke kubur
Yesus yang telah kosong itu melihat “dua” malaikat (Luk. 24:1–
5), sedangkan laporan lain mengatakan bahwa mereka melihat
“satu” malaikat (Mat. 28:1–6). Mungkin saja wanita yang satu
melihat satu malaikat sedangkan wanita yang lainnya lagi
melihat dua malaikat. Di sini jelas tidak ada kontradiksi sama
sekali. Mereka sama-sama melihat ada malaikat. Matius dan
Markus menyebut satu malaikat, tetapi Lukas dan Yohanes
menyebut dua malaikat yang menampakkan diri. Namun,
Matius dan Markus “tidak pernah” mengatakan “hanya” satu
malaikat yang menampakkan diri. Tidak seorang penulis pun
mengatakan “hanya” ada satu malaikat yang berbicara.
Soal jumlahnya itu adalah latar belakang dari wahyu.
Wahyu-Nya adalah Yesus telah bangkit dan kubur kosong. Para

Apologetika Otoritas Allah 173


wanita itu diingatkan kembali oleh malaikat tentang perkataan
Yesus kepada mereka ketika Dia ada di Galilea. Lukas 24:6–7
mengatakan, “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa
yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,
yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-
orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang
ketiga.” Dan ayat 8 mengatakan, “Maka teringatlah mereka akan
perkataan Yesus itu.”

2. Kematian Yudas
Satu laporan mengenai kematian Yudas mengatakan bahwa ia
menggantung dirinya (Mat. 27:5) dan laporan lain mengatakan
bahwa ia jatuh dan terburai isi perutnya (Kis. 1:18). Tentunya
kedua penjelasan adalah benar. Jawaban sederhana adalah tali
yang digunakan Yudas untuk gantung diri putus. Akibatnya, ia
jatuh dan terburai isi perutnya.

Kesimpulannya: ada bagian-bagian Alkitab tertentu yang


harus diselidiki. Namun, saya tetap berpendapat bahwa Alkitab
patut dipercaya, tidak memiliki kekeliruan. Kita menyimpulkan
bahwa memang ada masalah yang belum bisa dipecahkan, tetapi
itu bukan kekeliruan dan harus diselidiki lagi, ataukah kita akan
me­ngertinya di surga mengenai pemecahannya sehingga kita ti­dak
perlu menyimpulkan bahwa itu adalah kekeliruan. “Mungkin” hal-
hal ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab,
tetapi bukan hal-hal yang membatalkan keabsahan Alkitab.
Alkitab telah memberitahukan kepada kita bahwa, “Hal-hal
yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang
dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-
lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat
ini” (Ul. 29:29). Firman ini cukup jelas memberi tahu kepada kita
bahwa pertanyaan atau masalah di bawah matahari ini tidak selalu

174 Apologetika
ada jawabannya di bumi. Tidak semua rahasia Allah dibukakan
bagi kita—hal itu berarti tetap menjadi misteri Allah saja.
Pemecahan berkaitan dengan perbedaan jumlah perhi­
tungannya, urutan kronologis dari peristiwa-peristiwa yang
sama tetapi tidak sama laporannya, janganlah dianggap itu suatu
kekeliruan. Memang ada perbedaan, tetapi itu bukan kontradiksi.
Menurut hemat saya, hal yang penting dan terutama adalah
kita memerhatikan wahyu-Nya (hal yang dikatakan oleh Allah)
itu terjadi akurat 100%. Perbedaan itu bukan pada wahyu-Nya,
melainkan itu adalah latar belakang dari wahyu. Latar belakang
dari wahyu bisa berbeda (dan memang berbeda) tetapi wahyu-Nya
tidak mungkin bertentangan satu dengan yang lain. Misal, kemati­
an Yudas. Apa wahyu-Nya tentang Yudas? Yudas mengkhianati
Yesus dengan menjualnya 30 keping perak dan belakangan uang
tersebut akan dilemparkan ke lantai bait suci seperti ada tertulis
di Kitab Zakaria 11:11–13 dan peristiwa itu terjadi tepat seperti
dicatat di Kitab Matius 26:14–15; 27:9. Akhirnya Yudas mati dan
jabatannya digantikan oleh orang lain (Matias) yang dicatat di
Kisah Para Rasul 1:15–26; terjadi tepat seperti ada tertulis dalam
Kitab Mazmur: “Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah
tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil
orang lain” (Kis. 1:20 band. Mzm. 69:26; 109:8). Kematian Yudas
yang dilaporkan berbeda, yang satu mengatakan ia tergantung dan
laporan lain bahwa ia jatuh dan terburai isi perutnya adalah latar
belakang wahyu. Sangat logis, kemungkinan tali yang digunakan
oleh Yudas itu putus!

3. Penyembuhan Orang Buta


Matius menulis bahwa Yesus menyembuhkan “dua” orang
ketika akan “meninggalkan” Yerikho (Mat. 20:29–34). Laporan
lainnya menyebut “satu” dan mencatat mukjizat ini dilakukan
ketika mereka “memasuki” Yerikho (Mrk. 10:46–52; Luk. 18:35–
43). Kalau salah satu penulis mengatakan “hanya” satu orang

Apologetika Otoritas Allah 175


buta, tentunya hal ini merupakan kekeliruan. Hal ini pun bisa
dijawab secara sederhana dan logis. Hal ini seperti wartawan
yang meliput peristiwa yang sama dengan laporan terperinci
yang berbeda. Para penulis Alkitab yang sedang meliput
kejadian penyembuhan orang buta oleh Yesus. Penulis yang
satu menuliskan bahwa ada dua orang buta disembuhkan oleh
Yesus, sedangkan penulis yang lain menonjolkan salah satu dari
keduanya, yaitu Bartimeus. Sebenarnya, dua yang disembuh­
kan, tetapi ia tidak menceritakannya. Ia memerhatikan hanya
pada Bartimeus. Hal ini juga laporan yang benar.
Tiap Injil memberikan pandangan yang berbeda, menye­
butkan perincian yang unik—walaupun secara pasti tidak
bersifat bertentangan. Jika tiap penulis memiliki catatan
berisikan hal yang sama persis, para pengritik Alkitab pasti akan
mencela para penulis Injil karena telah bersekongkol dalam
penulisannya.
Akan tetapi, tetap ada masalah. Kapan mukjizat itu terjadi?
Ada dua laporan yang berbeda. Laporan yang satu mengatakan
sebelum memasuki Yerikho dan yang lain mengatakan setelah
keluar Yerikho. Charles C. Ryrie mengemukakan alasan yang
masuk akal. Pertama, bahwa orang-orang itu memohon kepada
Yesus ketika Dia memasuki Yerikho, tetapi disembuhkan sam­pai
Dia meninggalkan Yerikho. Kedua, yaitu karena ada dua Yerikho
(Yerikho lama dan Yerikho baru), penyembuhan itu mungkin
sekali terjadi sesudah rombongan itu meninggalkan Yerikho
lama dan ketika mereka hendak masuk ke Yerikho baru. Matius
menunjuk pada Yerikho lama, sedangkan Markus dan Lukas
menunjuk pada Yerikho baru.143
Ingat, perbedaan antara wahyu dan latar belakang dari
wahyu. Wahyu-Nya Yesus menyembuhkan orang buta. Soal
nama orang buta itu, ada penulis yang menyebutkan namanya

143
Charles C.Ryrie, Op.Cit. 133.

176 Apologetika
(Bartimeus) dan yang lain tidak menyebutkan namanya; dan
apa nama tempat kejadian tersebut—itulah latar belakang dari
wahyu. Jadi, dengan demikian tidak ada rincian yang kontra­
diksi antara satu Injil dengan Injil lainnya. Rincian-rincian yang
kecil itu merupakan potongan-potongan yang melengkapi
gambar yang besar.
Di atas tadi mewakili masalah-masalah yang ada di Alkitab
baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang sering
dipakai untuk menyerang atau membuktikan bahwa Alkitab
ada kekeliruan. Jawaban-jawaban yang masuk akal sudah
dicoba, yang mana saja kita bisa dipakai untuk berapologetika.
Namun, di atas semuanya itu adalah pentingnya bergantung
pada hikmat dari Allah. Janji-Nya pada kita, “Dan jika kamu
digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang
harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan
kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-
kata, melainkan Roh Kudus.” (Mrk. 13:11). Alex McFarland
mengatakan:

Beberapa argumen dari para kaum skeptis maupun pengkritik


Alkitab dapat dipahami, memberikan bagian-bagian tertentu
yang sulit dan sering mengandung makna yang samar. Beberapa
serangan mereka secara sederhana tidak masuk akal dan lahir
dari kedengkian belaka. Namun, pada akhir zaman, semua itu
pada akhirnya menjadi klaim yang kosong. Allah tidak menulis
buku yang penuh dengan berbagai kekeliruan. Firman-Nya tidak
berkecenderungan keliru.

Gereja di sepanjang sejarah—bahkan selama abad pertama,


ketika ada sejumlah saksi mata yang masih hidup dalam banyak
peristiwa yang dicatat dalam Alkitab—memercayai Alkitab benar
adanya. Kalau kesulitan dalam Alkitab tidak dapat dijelaskan, hal
itu tidak berarti terdapat kesalahan. Rasul Petrus pun mengakui
bahwa dalam tulisan rasul Paulus ada hal-hal yang sukar dipahami

Apologetika Otoritas Allah 177


(2 Ptr. 3:16). Namun, Petrus tidak melihat hal itu sebagai kesalahan.
Demikian juga seharusnya sikap kita.
Jadi, kita telah melihat dengan jelas peranan Roh Kudus yang
terlibat aktif dalam diri para penulis Alkitab (2 Ptr. 1:20–21). Fakta
inilah yang memberi jaminan kebenaran Alkitab. Hal ini juga yang
memberi keyakinan kepada kita bahwa Alkitab sepenuhnya dapat
dipercaya dan memiliki otoritas penuh serta final dalam iman dan
kehidupan Kristen kita. Dengan sederhana, Alkitab harus dipercaya
dan diikuti karena Alkitab merupakan firman Allah yang mutlak
atau benar. Alkitab kekal (Mzm. 119:89,160), isinya sempurna
(Mzm. 19:7), suci, benar, dan baik (Rm. 7:12)—menyatakan sifat-
sifat Allah.
Orang yang menolak klaim Alkitab sebagai firman Allah
adalah orang yang bertindak sangat berlawanan dengan semua
bukti yang ada.

I. Menafsir Alkitab (Hermeneutika)


1. Hubungan Doktrin Inneransi dan Hermeneutika
Doktrin inneransi sangat penting mutlak dalam wahyu
khusus. Eksegese alkitabiah dalam penyelidikan Alkitab mengakui
bahwa Alkitab tidak pernah berkontradiksi dengan dirinya.
Kita dapat mempelajari Alkitab dengan jaminan penuh bahwa
kita sedang mempelajari firman Allah yang sempurna. Terlepas
dari doktrin ini (inneransi), bidang studi hermeneutika144 (ilmu
penafsiran Alkitab) akan kehilangan arti pentingnya. Masalah
paling krusial bukan jika kita melakukan kesalahan eksegese145

144
Akar kata hermeneutika ini ditemukan dalam Markus 5:41, yaitu
metherrmeneuo yang artinya menerjemahkan dan dalam 1 Korintus 12:10, her­
meneuo yang artinya menerjemahkan atau menafsirkan.
145
Kata eksegese berasal dari exegeomai (Yoh.1:18) berarti “mengantar
keluar” atau “menjelaskan dari” Alkitab makna teks yang sebenarnya. Eksegese
merupakan lawan dari eisegese yang berarti menambahkan sesuatu dalam teks.

178 Apologetika
dalam memelajari buku yang dapat salah, melainkan melakukan
kesalahan dalam mengeksegese firman Allah yang benar.146
Sebelumnya, kita sudah memelajari bukti-bukti bahwa para
penulis Perjanjian Baru percaya bahwa Roh Kudus memimpin para
penulis Perjanjian Lama (Mat. 22:43; Kis. 28:25). Penting untuk
mengerti bahwa otoritas Perjanjian Lama adalah kekal (Mzm.
119:89; Yes. 40:8). Hal ini juga benar untuk zaman PB (1 Ptr. 1:25;
1 Kor. 10:6,11; Rm. 15:4). Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Alkitab
adalah firman Allah yang sempurna dan bahwa kepentingan dan
otoritas yang dimiliki Alkitab itu kekal (Mat. 6:17–19; Yoh. 10:35).
Alkitab juga mengklaim bahwa ajarannya sempurna (2 Tim. 3:16)—
sebagai firman Allah yang sempurna (infallible), tidak mungkin
ada kesalahannya (inneransi), dan eksegese Kristen menerima
klaim ini.
Terakhir, sebagaimana kita mempelajari dan meyakini dok­
trin inneransi, kita juga harus menyadari bahwa karakter Allah
dipertaruhkan. Alllah mengklaim sebagai Penulis Alkitab dan
Dia menegaskan bahwa firman-Nya adalah kebenaran (Yoh. 17:17;
Mzm. 119:160). Hal yang menjadi masalah, serangan melawan
doktrin infallibilitas firman Allah147 merupakan serangan melawan
karakter Allah. Itulah sebabnya Gary Crampton menyatakan bahwa
menyangkali inneransi berarti menjuluki Allah pembohong, tetapi
Allah tidak dapat berbohong (Tit. 1:2). Rasul Paulus menyimpulkan
hal ini ketika ia mengatakan “Allah adalah benar, dan semua
manusia pembohong” (Rm. 3:4).

Jadi, hermeneutika merupakan teori eksegese dan eksegese merupakan praktik


hermeneutika.
146
W. Gary Crampton, Op.Cit. 64.
147
Gary Crampton mengatakan Infallibilitas adalah paham bahwa otoritas
Alkitab adalah tanpa cacat, mutlak dan mencakup seluruhnya. Alkitab tidak dapat
dikontradiksikan, dilanggar, diabaikan, atau dilawan dengan cara apa pun tanpa
mendapat hukuman. (Menurut hemat saya, sebenarnya infallibilitas memiliki
makna yang sama dengan inneransi).

Apologetika Otoritas Allah 179


2. Hubungan Hermeneutika dan Apologetika
Saya mengetahui pokok ini (menafsir Alkitab) tidak cocok
ditempatkan dalam buku apologetika. Namun, saya merasa pokok
ini tidak dapat dikesampingkan. Saya membahas ini di sini hanya
untuk pengenalan—selayang pandang dan sangat ringkas untuk
menjawab pertanyaan berkaitan dengan mukjizat (dan juga
kebangkitan Kristus secara jasmaniah). Tentang kebangkitan
Kristus, saya akan membahas tersendiri pada bagian lain dalam
buku ini.
Dalam apologetika, Alkitab dan mukjizat (termasuk kebang­
kitan) sangat berkaitan erat satu sama lain. Kita telah membahas
otentisitas Alkitab (poin A-F) baik dari segi usia maupun isinya.
Pembuktian menunjukkan bahwa Alkitab bukan mitos, tetapi
sejarah dan mukjizat adalah benar-benar terjadi secara faktual,
bukan mitos. Seseorang yang tidak percaya akan mukjizat,
termasuk kebangkitan Kristus secara jasmaniah, didasarkan dua
alasan: yaitu (1) mukjizat-mukjizat seperti itu sebenarnya tidak
terjadi dan (2) Alkitab adalah mitos, bukan sejarah.
Kita akan membahas makna istilah mitos ini berkaitan de­
ngan menafsir Alkitab. Hal ini disebabkan istilah mitos diguna­kan
dalam banyak makna yang berbeda-beda oleh berbagai penulis
dalam bidang yang berbeda-beda dan jenis tulisan yang berbeda-
beda, yang sering kali tumpang tindih. Peter Kreeft dan Ronald
K. Tacelli membedakan ada enam makna istilah mitos.148 Namun,
saya hanya akan membedakan atau membagi menjadi dua makna
istilah mitos.
a. Makna populer. Mitos berarti sesuatu yang sebenarnya tidak
terjadi atau sesuatu yang tidak nyata—seperti Sinterklas.
Dalam hal ini, mitos dikontraskan dengan fakta. Inilah makna
yang dikhawatirkan banyak orang mengenai cerita-cerita dalam

Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1


148

(Bandung: Kalam Hidup, 2000), 267–268

180 Apologetika
Alkitab, khususnya cerita-cerita mukjizat sehinggga timbul
pertanyaan-pertanyaan: apakah hal-hal ini benar-benar terjadi
ataukah hal-hal ini hanyalah mitos belaka, yakni cerita khayalan
buatan manusia? Inilah mitos dalam pengertian umum, yaitu
cerita atau dongeng yang tidak faktual (bukan kejadian nyata).

b. Makna mitos yang lebih teknis dan sempit. Hal ini sering
digunakan untuk menjelaskan cerita-cerita dalam Alkitab,
khususnya jenis tulisan yang melibatkan imajinasi seperti bi­
natang-binatang yang dapat berbicara. Hal-hal ini adalah cerita
supernatural yang secara harfiah tidak faktual. Hal ini juga
menunjuk pada cerita-cerita sejenis yang tidak dimaksudkan
oleh penulis Alkitab untuk diartikan secara harfiah, melainkan
berfungsi untuk menjelaskan fakta-fakta natural, melalui fiksi
supernatural (atau natural). Baik cerita supernatural tentang
binatang-binatang yang bisa berbicara maupun cerita-cerita
biasa (natural) seperti perumpamaan-perumpamaan yang
disampaikan Yesus cocok untuk menggambarkan kategori ini.
Pada saat kita membicarakan mengenai penyelidikan Alkitab,
kita harus memahami makna istilah mitos ini secara tepat.

3. Prinsip Dasar Penafsiran Alkitab.


a. Pahamilah bahwa Alkitab memiliki hakikat yang unik, yaitu
sifat insani dan ilahi.149
Kenyataannya, ketika kita membaca Alkitab, kita tidak
hanya melihat unsur manusianya atau insaninya, meskipun
hal itu ada. Namun, ada unsur ilahinya, yaitu keterlibatan
Allah. Misalnya, bagaimanakah Yesaya dapat menuliskan
bahwa bumi ini bulat (Yes. 40:22)? Bagaimanakah Ayub da­pat
menuliskan bahwa bumi ini menggantung pada kehampaan

149
Kalis Stevanus, Diktat Eskatologi (Karanganyar: STT. Tawangmangu,
2010).

Apologetika Otoritas Allah 181


(Ayb. 26:7)? Kalau Yesaya dan Ayub hanya menulis ber­
dasarkan kemampuan manusianya saja, mungkinkah itu?
Semua ini benar karena ada keterlibatan Allah.
Sifat insani berarti Alkitab adalah firman Allah dalam
konteks sejarah tertentu. Maksudnya, Allah memilih untuk
mengekspresikan diri-Nya dalam cara-cara tertentu bagi se­
kelompok orang tertentu pada waktu tertentu. Oleh karena
itu, setiap teks Alkitab merupakan hasil dari keadaan tertentu
yang kini telah berlalu. Masing-masing kitab dibentuk oleh
kultur, pola pemikiran, dan bahasa yang berlaku pada waktu
itu. Oleh karena itu, perhatikan latar belakang Alkitab. Gagal
memerhatikan konteks asal kesejarahan masing-masing
nats berakibat pada penafsiran Alkitab menjadi penerapan
subjektivisme, yaitu makna teks dibentuk sesuai dengan
makna yang “Anda” kehendaki.
Untuk dapat memahami Alkitab, kita juga perlu bersikap
kritis, analitis, dan alkitabiah dengan mengoptimalkan rasio
atau akal budi yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Da­lam
memahami Alkitab, ada dua pasang kata, yaitu hermeneutic
(ilmu menafsir isi Alkitab) dan eksegesis (penggalian Alkitab
yang mendalam untuk mencari pengertian yang tepat teks
Alkitab). Di sinilah peran rasio untuk memahami, yaitu
latar belakang penulisan Alkitab, gaya bahasa, politik,
dan kerangka berpikir pada waktu itu. Jangan menafsir
Alkitab dengan pola pikir modern atau kontemporer lalu
mengabaikan historisnya. Rasio harus diaktifkan, tetapi
jangan dijadikan sandaran. Roh Kudus disebut Roh Hikmat
(Ef. 1:17). Dalam penyelidikan Alkitab, Roh Kudus tidak
membutakan pikiran, justru mencelikkan pikiran (Yes. 11:2)
agar kita cerdik (Mat. 10:16). Hal yang penting bagaimana
menyerahkan pikiran kita untuk memuliakan Dia Sang
Pemberi!

182 Apologetika
Gary Crampton menyatakan demikian:

Baik akal budi maupun pancaindra diciptakan oleh Allah


dan penting untuk sarana kebenaran. Allah telah memberi
tahu kita agar kita menggunakan mata, telinga, dan pikiran
kita untuk mempelajari dan mendengarkan firman-Nya serta
merenungkannya. Rasul Yohanes menegaskan bahwa ia benar-
benar “mendengarkan, “ “melihat, “ dan “memegang” Yesus (1
Yoh. 1:1–2). Mukjizat-mukjizat disaksikan dengan mata oleh
kelompok rasul dan disampaikan kepada kita sebagai wahyu
(Yoh. 20:30–31). Akal budi dan pancaindra harus digunakan
untuk mengerti wahyu umum dan wahyu khusus.”150

Alkitab disebut memiliki sifat ilahi karena Alkitab ada­


lah firman Allah. Allah menyatakan diri-Nya melalui Alki­
tab. Maksudnya, teks-teks Alkitab memiliki relevansi yang
me­lampaui kekhasan kesejarahannya semula. Oleh karena
Alkitab juga bersifat ilahi, tugas kita adalah menerjemahkan
berita Alkitab itu dalam situasi kehidupan kita. Gagal me­
merhatikan relevansi kekal Alkitab membuat pembaca
menganggapnya sekadar buku (sejarah) dari masa lalu.
Untuk memiliki pemahaman yang benar akan wahyu-
Nya, kita harus rela dipimpin Roh Kudus sebab Dialah yang
mewahyukan Alkitab (2 Kor. 2:10–11). Roh Kudus bertindak
sebagai penyingkap kebenaran. Wahyu di sini menunjuk
pada iluminasi proses di mana Roh Kudus menerangi pe­
ngertian kita sehingga mampu menerima wahyu Allah. Kita
sudah tidak menerima wahyu atau inspirasi seperti para
penulis Alkitab, tetapi iluminasi (Yoh. 15.:26; 16:12–13). Inilah
perlunya orang Kristen tekun mempelajari kebenaran atau
wahyu-Nya dan memberi diri dipimpin Roh Kudus agar
pemahaman terhadap kebenaran itu tidak dangkal, tidak

150
W. Gary Crampton,Op. Cit. 24.

Apologetika Otoritas Allah 183


menafsir sembarangan atau dipakai untuk menguatkan
pendapatnya (biblisisme).
Jadi, kita dipanggil untuk mengetahui secara serius hal
yang ingin disampaikan Alkitab pada waktu itu (sifat insani)
dan menerjemahkan apa makna (sifat ilahi) berita itu pada
hari ini. Alkitab adalah firman Allah, diilhamkan Allah. Oleh
karena itu, kita harus membacanya dengan penuh hormat,
kepercayaan, dan ketaatan. Oleh karena Alkitab memiliki
unsur ilahi, Alkitab bersifat supernatural. Jadi, wajar kalau
ada hal-hal dalam Alkitab yang tidak terpahami oleh rasio
kita yang terbatas. Dengan demikian, isi Alkitab tidak saling
kontradiksi, tetapi harmonis dan saling melengkapi.

b. Temukanlah Arti yang Dimaksud Penulis
Prinsip kedua, setelah kita memahami hakikat Alkitab
yang mengandung dua sifat, insani dan ilahi, kita membaca
teks menurut perasaan atau pikiran penulisnya, eksegesis
(“mengeluarkan”), bukan eisegesis (“memasukan”). Jangan
mencoba memahami pikiran penulis Alkitab melalui
kacamata, asumsi, atau prasangka kita.151 Sangat mudah bagi
kita untuk mencampuradukkan ide-ide dan prasangka kita
secara subjektif dengan teks Alkitab.
Akan tetapi, Alkitab juga bersifat insani. Untuk me­
mahami Alkitab, kita harus memahami latar belakang
penulisan Alkitab dan tidak mengartikannya secara modern.
Kita harus mempertimbangkan latar belakang budaya,
politik, dan pola pikir penulis sebagai manusia yang hidup
pada abad S.M atau permulaan Masehi. Pola pikir ini sangat
jelas berbeda dengan pola pikir abad modern sekarang.

Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1


151

(Bandung: Kalam Hidup, 2000), 277.

184 Apologetika
Kita harus mengakui bahwa Alkitab adalah tulisan
dengan pola pikir dan latar belakang budaya manusia pada
waktu itu dan di tempat tertentu, yaitu Palestina, khususnya
budaya Yahudi. Jangan gegabah mengartikan teks kitab
dengan pola pikir modern yang dikaitkan hanya dengan
kejadian-kejadian aktual hari ini yang semuanya hanya bisa
dimengerti oleh kita yang hidup pada era komputer ini.
Ketidakmengertiannya terhadap perikop dan sejarah dunia
akan menghasilkan tafsiran yang “kira-kira” dan merusak
kebenaran. W. Gary Crampton mengatakan, “Salah satu
bahaya dalam hermeneutika adalah mencoba untuk melihat
Alkitab dalam terang budaya abad 20, dan bukannya budaya
abad pertama.”152
Hal yang kita lakukan adalah memeriksa segala sesuatu,
termasuk diri kita sendiri dan pandangan kita, melalui
kacamata penulis kitab itu. Ia (penulis kitab) sedang ber­
usaha mengomunikasikan sesuatu yang baru kepada kita,
sesuatu yang kita belum ketahui sebelumnya. Inilah tugas
kita adalah menerima atau menyambutnya secara utuh,
dengan keterbukaan, dengan jujur dan objektif. Kita ditun­
tut bersikap terbuka atau dapat diajar. Kita ha­rus berusaha
untuk memelajari Alkitab dengan pembacaan teks yang
objektif dan pemahaman latar belakang sejarah pada zaman
itu.
Alkitab yang diilhamkan itu melalui pikiran dan tangan
manusia. Oleh karena itu, kita harus mengerti Alkitab me­
nurut maksud penulisnya. Sebagai contoh, Lukas memiliki
tujuan tertentu ketika ia menulis Injilnya (Luk. 1:3). Oleh

W. Gary Crampton, Verbum Dei, Alkitab: Firman Allah (Surabaya:


152

Momentum, 2000), 109.

Apologetika Otoritas Allah 185


karena itu, penting kita memahami gaya dan cara penekanan
yang khas dari penulis-penulis Alkitab. Contoh:153
• Lukas menekankan kemanusiaan Yesus
• Yohanes menekankan keilahian Yesus
• Nabi Amos menekankan keadilan Allah
• Nabi Hosea menekankan kasih Allah.
Penekanan serta tema para penulis berbeda. Hal ini
berakibat istilahnya pun berbeda juga. Kenyataan, penulis-
penulis Alkitab menggunakan istilah yang sama untuk
maksud yang berbeda. Contoh, kata “hikmat” menurut surat-
surat Paulus tidak selamanya sama dengan kata “hikmat”
menurut Salomo (Kitab Amsal). Di pihak lain, para penulis
menggunakan istilah yang berbeda untuk maksud yang sa­ma.
Bahkan, penulis yang sama dapat menggunakan kata atau
istilah yang sama untuk maksud yang berbeda. Contoh, kata
“daging” pada surat Paulus. Roma 8:3 mengatakan, “... Anak-
Nya sendiri dalam daging....” Dan, Roma 8:8 mengatakan,
“Mereka yang hidup dalam daging ....” Pengertian daging
pada ayat 3 bersifat positif karena menunjuk pada keadaan
Yesus sebagai manusia sejati yang memiliki tubuh manusia
(daging). Pengertian daging pada ayat 8 jelas bersifat negatif,
yaitu menunjuk pada sikap hidup yang berdosa.
Jadi, penting kita melihat kebenaran Alkitab dalam
konteks budaya di mana Alkitab dituliskan dan dimengerti
dalam budaya Alkitab tersebut. Kalau dalam budaya kita
segala sesuatu harus persis demikian, tidak demikian dengan
budaya Alkitab.
Merupakan kesalahan jika kita memahami Alkitab
dengan kacamata yang berbeda dari penulisnya. Apakah

Mangapul Sagala, Petunjuk Praktis Menggali Alkitab (Jakarta: PER­


153

KANTAS, 2001), 24–25.

186 Apologetika
memang maksud penulis Alkitab sampai setepat (sepersis)
itu. Apakah pembaca Alkitab pada zaman itu telah menuntut
ketepatan seperti itu? Hal ini soal gaya bahasa dan bukan
saja soal zaman yang pada masa itu masih primitif. Pada
masa sekarang pun (modern), kita sering membaca laporan
dengan gaya bahasa Alkitab, meskipun kita hidup pada
zaman modern—era internet, yang semua serba ingin
di-ilmiahkan. Contoh, kita membaca laporan Kebaktian
Kebangunan Rohani (KKR). Jemaat yang hadir adalah 3000
orang. Persiskah 3000 orang? Itukah yang dimaksud panitia
KKR? Kalau tidak persis, salahkah laporan itu? Jelas tidak
salah bukan?
Kalau penulis Alkitab menggunakan metode menghi­
tung juru hitung atau kasir (dihitung satu demi satu), hal
tersebut keliru. Namun, kalau penulis Alkitab memakai
metode perkiraan, jumlah tersebut adalah benar juga. Sama
halnya dengan orang yang hadir pada hari Pentakosta.
Ada tiga ribu orang bertobat menerima Kristus (Kis. 2:41).
Persiskah tiga ribu orang? Apakah penulis menghitung
setepat itu (dihitung satu demi satu) atau hanya sekadar
perkiraan saja? Alkitab berkata itu adalah angka perkiraan,
“... Jumlah mereka kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis. 2:41).
Contoh lain, jarak kota Salatiga–Solo adalah 56 Km.
Persiskah 56 Km? Tidak kurang atau lebih sekian meter dan
sekian cm? Menurut hemat saya, hal-hal tersebut bersifat
fenomenal, yaitu memberikan gambaran atau perkiraan.
Jadi, tidak harus persis demikian, kecuali memang penulis
Alkitab tersebut bermaksud memberikan hal yang persis,
bukan perkiraan atau gambaran. Peter Kreeft dan Ronald K.
Tacelli mengatakan:

Sejarah-sejarah kuno jarang sekali menyebut sesuatu dengan


menggunakan jumlah angka yang tepat. Perkiraan kasar

Apologetika Otoritas Allah 187


lazim dilakukan. Jika demikian bisa saja angka-angka simbolis
yang digunakan, bukannya angka harfiah untuk menjelaskan
sesuatu peristiwa yang nyata.154

c. Pisahkan Penafsiran dari Kepercayaan
Penting untuk kita secara jelas membedakan antara
penafsiran dan kepercayaan. Terkadang seseorang menaf­
sirkan kitab berdasarkan kepercayaan yang ia percayai.
Penafsiran itu pada hakikatnya menemukan hal yang di­
maksud atau dinyatakan penulis, bukan hal yang kita mak­sud
atau per­cayai. Interpretasi berarti menafsirkan per­kataan dan
pikiran penulis, bukan perkataan, pikiran, atau kepercayaan
kita, melainkan kepercayaannya (penulis kitab).155

d. Pertimbangkan Alkitab sebagai Karya Sastra


Alkitab harus dipelajari secara kesusastraan. Dengan
kata lain, kita harus mengetahui tipe atau bentuk kesusas­
traan yang sedang digunakan dalam suatu bagian Alkitab.
Kemudian, kita menafsirkan bagian tersebut sesuai gaya
bahasa kesusastraannya. Perumpamaan sebagai perumpa­
maan, metafora sebagai metafora, dan alegori se­bagai
alegori.156
Ada banyak bentuk sastra digunakan dalam Alkitab,
tetapi tidak akan didiskusikan dalam buku ini—fokus buku
ini adalah apologetika, bukan hermeneutika. Hal itu butuh
pembahasan secara khusus dan tersendiri dalam bidang stu­
di hermeneutika. Namun, di sini akan ditunjukkan beberapa
hal yang sangat perlu dipahami oleh seorang apologet
Kristen.

154
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op.Cit. 289.
155
Ibid, 278.
156
W. Gary Crampton,Op.Cit., 117.

188 Apologetika
Saya sudah menyinggung bahwa Alkitab kita ini ada­lah
tulisan dengan pola pikir dan latar belakang budaya manusia
pada waktu itu dan di tempat tertentu, yaitu Pales­tina dengan
khususnya budaya Yahudi. Para penulis adalah orang Yahudi
(dengan perkecualian Lukas). Mereka berbicara dan menulis
sebagai orang Yahudi. Penafsir harus mengerti beberapa dasar
dari bentuk perkataan dan tulisan Ibrani untuk memahami
Alkitab secara tepat.
Gary Crampton mendaftarkan sebagai berikut:157
1) Orang Yahudi sering kali menggunakan hiperbola—
kalimat yang berlebihan untuk maksud tertentu, misal­
nya Lukas 14:26, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia
tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan
nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Mat.
10:37; Ams. 9:13; Yes. 65:17–23).
2) Penggunaan permainan kata. Sebagai contoh dalam
Yohanes 3:8 di mana Yesus mengajar dengan mengguna­
kan permainan kata tentang “angin” (Yunani—Pneuma)
dan “Roh” (Pneuma). Lihat juga Matius 16:18 di mana
Yesus berbicara kepada Petrus (Petros) dan mengatakan
kepadanya bahwa di atas batu karang ini (Petra) Dia akan
mendirikan gereja-Nya.
3) Amsal-amsal dan kalimat-kalimat pepatah digunakan
suatu sarana pengajaran melalui perbandingan antara
kebenaran-kebenaran duniawi dengan masalah-masa­
lah spiritual, misalnya, Matius 7:6, “Jangan kamu
memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan
kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya
jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik
mengoyak kamu.”

157
Ibid, 118

Apologetika Otoritas Allah 189


4) Penggunaan perumpamaan-perumpamaan dan alegori-
alegori
Alegori-alegori (Yoh. 15:1,dst.) mempunyai satu arti

pada masing-masing bagian cerita dan alegori-alegori
tersebut menafsirkan dirinya, misal, “Akulah pokok
anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.”
Perumpamaan (Mat. 13:10,dst.) biasanya hanya mem­

punyai satu arti sentral dan mereka dimaksudkan
untuk mengajarkan kebenaran tentang Kerajaan
Allah (ay. 1) kepada orang percaya. Pada saat yang
sama, mereka menyembunyikan kebenaran Kerajaan
Allah bagi orang yang belum percaya (ay. 11–15).
Perumpamaan (seperti pepatah atau amsal) juga
merupakan sarana pengajaran melalui perbandingan
kebenaran-kebenaran duniawi dan spiritual.
5) Puisi Ibrani ditandai dengan “paralelisme”. Tanpa pema­
haman dasar mengenai paralelisme Ibrani, kita tidak akan
dapat menafsir secara tepat sebagian besar Alkitab (misal,
Kitab Amsal dan Mazmur). Ada tiga jenis:
Sinonim, di mana ayat-ayat atau baris-baris paralel

dalam ayat mengajarkan kebenaran yang sama atau
pemikiran dasar yang sama. Misal, Mazmur 19:2,
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala
memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (band. Ams
19:5). Yesus pun menggunakan seperti itu dalam
Matius 6:13.
Sintesis, di mana bagian pertama ayat memulai

pemikiran dan bagian yang kedua menambahinya.
Misal, Mazmur 90:10, “Sebab, sesungguhnya musuh-
Mu, ya Tuhan, sebab, sesungguhnya musuh-Mu akan
binasa, semua orang yang melakukan kejahatan akan
diceraiberaikan” (band. Luk. 9:48).

190 Apologetika
Antitesis (kontras atau berlawanan): di mana bagian-

bagian paralel dari ayat ditempatkan secara saling
berlawanan satu dengan lainnya. Kebenaran yang
sama biasanya dinyatakan dalam bentuk negatifnya
sebagai kontras. Misal, Ams. 10:4, “Tangan yang lamban
membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan
kaya” (band. Mrk. 8:35).
6) Penggunaan kiasan. Di sini, kata “seperti” atau “sebagai”
digunakan untuk membandingkan. Misal, Matius 10:16,
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-
tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti
ular dan tulus seperti merpati.”
7) Penggunaan metafora. Hal ini merupakan bentuk khot­
bah di mana suatu kata atau frasa yang menunjukkan
sejenis objek digunakan secara analogi dengan sesuatu
yang lain. Misal, “Akulah pintu, barangsiapa masuk
melalui Aku, ia akan selamat”.
8) Bahasa fenomenologis. Hal ini merupakan jenis bahasa
sehari-hari yang menggambarkan hal-hal dengan cara
seperti kita melihatnya, tetapi yang tidak pernah di­
maksudkan untuk akurat secara ilmiah. Hanya karena
para penulis Alkitab berbicara tentang matahari terbit,
hal itu tidak berarti bahwa hal yang mereka maksudkan
adalah deskripsi ilmiah. Misal, Mazmur 19:7, “Dari ujung
langit ia (matahari) terbit, dan ia (matahari) beredar
sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung
dari panas sinarnya.” Hal itu bukan berarti Allah (dan
para penulis Alkitab) tidak mengetahui hal tersebut. Hal
ini digunakan sebagai alat sastra untuk memperhidup
beritanya.
9) Penafsir harus mengerti perbedaan antara hukum apo­
diktik atau konstitusional (misal, Kel. 20—Sepuluh

Apologetika Otoritas Allah 191


Perintah Allah) dan hukum kasus (misal, Kel. 21–23) yang
menafsirkan hukum apodiktik. Jenis yang satu mengajar
melalui aturan (prinsip umum), sedangkan yang lain
mengajar melalui contoh konkret (prinsip praktis).
10) Menggunakan tipologi Alkitab. Penafsir harus dapat
mengenali tipologi Alkitab, misalnya, Yohanes 3:14. Di
sini, contoh atau “model” Perjanjian Lama (ular sebagai
standar, Lihat Bil. 21:9) dipakai untuk menekankan dan
menjelaskan penggenapan model (anti-model atau yang
mengikuti “contoh”), yaitu Kristus di kayu salib.

e. Tafsirkan Sebuah Kitab Berdasarkan Jenis Tulisannya


Kita harus selalu menafsir dengan menggunakan stan­
dar sesuai bentuk atau jenis tulisannya. Oleh karena itu,
kita harus lebih dahulu menentukan bentuk tulisannya,
puisi, perumpamaan, biografi, hukum, sejarah, mitos, atau
legenda.158 Ada tiga kemungkinan di sini, yaitu sejarah har­
fiah, sejarah bukan harfiah, atau fiksi (drama, perumpama­
an, fabel, mitos—beraneka ragam bentuk). Fiksi sama sekali
tidak bersifat historis.
Sebagian cerita Alkitab adalah sejarah harfiah—misalnya
sejarah di istana raja-raja Israel. Sebagian lagi merupakan
sejarah bukan harfiah—misalnya, cerita mengenai Taman
Eden dan Kejatuhan dalam Kejadian 3, dan juga mengenai
cerita penciptaan dalam Kejadian 1 dan 2.

f. Harus Mengetahui Kapan harus Menafsirkan Alkitab Itu


secara Harfiah dan Kapan secara Simbolis
Apakah ada penuntun yang konsisten dan objektif
dalam menentukan penafsiran simbolis atau harfiah? Misal,

158
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op. Cit. 278

192 Apologetika
pernyataan Yesus dalam Matius 5:39, “Tetapi Aku berkata
kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat
jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar
pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Apakah
kita menafsirkan ini secara harfiah atau simbolis? Jelas ini
simbolis. Pada waktu penulis Alkitab mengklaim bahwa ia
melihat sesuatu dengan mata kepalanya sendiri dalam dunia
eksternal ini atau ada orang yang lain yang melihatnya dan
kemudian memberitahukannya, kita harus menafsirkan hal
itu secara harfiah. Sebaliknya, apabila sesuatu tidak terlihat
oleh mata kepala sendiri, kita tidak dapat menafsirkannya
secara harfiah. Berikut ini ada tiga kasus yang dapat
menjelaskan hal ini.159
• Benda yang menjadi permasalahan sering kali memiliki
sifat yang tidak kelihatan seperti Allah atau jiwa.
• Penulis sering kali menyatakan telah “melihat”nya hanya
melalui mata batiniah, dalam visi atau mimpi.
• Penulis sering kali “membuatnya sendiri” dan hal itu
disebut fiksi, seperti perumpamaan.
Garis pemisah antara harfiah dan bukan harfiah bukan­­
sekadar garis antara hal yang natural dan yang supernatural,
atau yang bersifat mukjizat. Di satu pihak, mukjizat-mukjizat
itu dapat terlihat (bukan sesuatu yang tidak kelihatan),
minimal mengenai efeknya, walaupun bukan mengenai
penyebabnya. Namun, di pihak lain, kriteria natural atau
supernatural merupakan kriteria eksternal yang diambil dari
filsafat atau theologi, bukan kriteria internal yang diambil
dari bentuk tulisan dalam ayat-ayat itu sendiri.
Kita mendapati contoh-contoh penting mengenai ba­
hasa simbolis dalam kitab pertama (Kitab Kejadian) dan

159
Ibid, 283

Apologetika Otoritas Allah 193


terakhir (Kitab Wahyu) dalam Alkitab, yaitu tiga pasal
pertama dari kitab Kejadian dan delapan belas pasal terakhir
dari Kitab Wahyu. Kita mendapati contoh-contoh tentang
bahasa harfiah pada cerita-cerita mukjizat dalam Perjanjian
Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Ada orang menafsirkan
demi alasan theologis, bukannya alasan tekstual. Oleh
karena memiliki alasan-alasan theologi, para penafsir sering
kali enggan menafsir Kitab Kejadian secara simbolis. Ada
pula penafsir yang menafsir bagian ini memiliki alasan-
alasan theologis dan enggan menafsir mukjizat-mukjizat
secara harfiah. Kedua ekstrem ini perlu dihindari. Hal ini
bukan penafsiran, melainkan kepercayaan (berbeda antara
penafsiran dan kepercayaan).
Meskipun demikian, kita juga perlu memerhatikan
dimensi lain di mana satu bagian Alkitab dapat ditafsirkan
dengan benar baik secara harfiah maupun simbolis.
Sebagai contoh: Umat Israel melambangkan gereja, Musa
melambangkan Kristus, Laut Merah melambangkan ke­
matian, Tanah Perjanjian melambangkan surga, Mesir
melambangkan dunia, Firaun melambangkan Iblis (Yesus
menyebutnya “Penguasa dunia ini”, dalam Yoh. 12:31; 14:30;
16:11). Namun, kita juga percaya bahwa hal-hal ini benar-
benar terjadi. Hal-hal ini merupakan tanda dan tanda ini
pertama-tama harus ada atau terjadi di dunia yang nyata
ini secara literal untuk dapat menemukan makna kedua
yang menunjukkan hal-hal lain yang melampaui peristiwa-
peristiwa itu.
Kejadian 3 merupakan contoh penting dalam Perjanjian
Lama. Peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa adalah
historis, bukan fiksi, tetapi juga bukan harfiah—alias
mitos (dalam pengertian kedua). Di sini, saya harus hati-hati
sebab selama ini orang berasumsi bahwa peristiwa ini adalah

194 Apologetika
historis dan sekaligus harfiah. Asumsi ini benar sebagian
saja.
Pembahasan ini mungkin asing bahkan bisa menim­
bulkan berbagai macam respons. Bahkan respons negatif
dan perlawanan—penolakan, sebab uraian ini sesuatu yang
sangat kontroversial dan berbeda dibandingkan dengan
uraian-uraian yang sudah ada selama ini. Namun, kebe­
naran harus diungkapkan. Dengan hikmat Tuhan, kita
dapat menguraikannya sebagai kebenaran yang sangat luar
biasa. Kita harus berani melakukan metateologia, yaitu Roh
Kudus memimpin kita untuk mengerti kebenaran dan untuk
mengerti kebenaran dibutuhkan sikap keterbukaan untuk
berani menerima hal-hal yang selama ini terpatok pemikiran
konservatif. Apakah kejadian kejatuhan manusia dalam dosa
dengan memakan buah yang dilarang Tuhan untuk dima­
kan itu fakta historis (demikian adanya), figuratif, atau
semacam mitos?
Sekali lagi, saya mengajak kita semua untuk memahami
kisah Adam dan Hawa menjadi lebih berarti jika kita
mengambil makna terdalamnya, yang terkandung di dalam­
nya bukan hanya sekadar cerita historis sehingga aplikasi
konkritnya bisa dikenakan dalam kehidupan masa kini atau
pada zaman mana pun (ingat, sifat Alkitab ada unsur ilahi-
nya).
Dr. Erastus Sabdono menegaskan bahwa perlunya juga
yang utama kita pahami bahwa Alkitab sebagai tulisan yang
diilhamkan Allah bukan hanya kumpulan cerita, melainkan
tuntunan pada keselamatan oleh iman kepada Tuhan Yesus.
Perdebatan yang timbul di sini tidak menuntun pada
keselamatan.
Saya ingin menegaskan bahwa kisah Adam dan Hawa
adalah fakta historis, bukan fiksi melainkan juga bukan

Apologetika Otoritas Allah 195


harfiah. Kita akan membuktikan bahwa peristiwa ini adalah
historis. Alasan pertama: bila Kejatuhan itu tidak bersifat
historis, akibatnya—penderitaan dan kematian pun tidak
bersifat historis. Bila dosa itu historis dalam akibat-akibat­
nya, penyebabnya pun harus bersifat historis.
Alasan kedua: bila Kejatuhan Adam tidak benar terjadi
apa adanya (historis), berarti keselamatan dari Kristus juga
tidak perlu benar-benar terjadi. Alkitab jelas mengatakan
bahwa Kristus adalah “Adam kedua” (Rm. 5:14; 1 Kor. 15:22
dan 45). Bila “Adam pertama” tidak historis, mengapa “Adam
kedua” harus historis?
Alasan ketiga: bila Kejatuhan tidak benar terjadi dalam
sejarah (historis), berarti Allah-lah yang menjadikan manusia
itu berdosa sejak dari saat pertama diciptakan. Dengan
demikian, bukan manusia yang harus dipersalahkan untuk
dosa, melainkan Allah. Manusia berdosa karena memang di­
ciptakan demikian, bukan karena akibat tindakan manusia.
Hal itu berarti Allah berbuat kekeliruan dengan menyatakan
bahwa segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya itu “baik”
(Kej. 1:31). Hal itu juga berarti bahwa Allah telah berlaku tidak
adil atau curang dengan menuntut manusia untuk memikul
akibat yang tidak disebabkannya atau diperbuatnya.
Apakah Allah yang Mahasuci menciptakan manusia
dalam keadaan berdosa atau ada kesalahan sejak pertama
diciptakan? Jelas, hal itu mustahil. Tidak mungkin Tuhan
Allah menjadi sebab asal muasal dosa atau kejahatan sebab
itu bertentangan dengan hakikat Allah yang Mahasuci dan
Mahabaik. Dalam diri Allah tidak sedikit pun ada kejahatan
atau kesalahan.
Harun Hadiwijono membeberkan bukti alkitabiah bah­
wa Tuhan Allah tidak mungkin menjadi sebab asal dosa
(Ayb.. 34:10; Mzm. 92:16; 136:1; Kel. 23:6–8). Bahwa Tuhan

196 Apologetika
Allah tidak mungkin menjadi asal dosa terang juga dari hal
ini bahwa Tuhan Allah murka terhadap segala dosa (Kel.
23:22; Yes. 63:10; Rat. 2:5–7). Hal yang demikian juga diajarkan
Perjanjian Baru. 1 Yohanes 1:5–6 mengatakan bahwa Allah
adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada
kegelapan. Lebih jelas lagi tampak dalam diri Tuhan Yesus
sebab Dia adalah terang dunia (Yoh. 8:12).160
Berdasarkan bukti-bukti tersebut, cerita itu pasti his­
toris, tetapi tidak selalu harfiah. Misal, dua pohon, buah
yang tidak boleh dimakan dan ular yang dapat berbicara itu
tampaknya bukan harfiah atau jasmaniah, melainkan mitos
(dalam pengertian kedua)—dalam arti figuratif. Hal yang
sama terlihat dalam puisi-puisi penciptaan dalam Kejadian
1 dan 2. Penciptaan memang benar terjadi. Allah benar telah
merancang dan menciptakan alam semesta dan seluruh
yang ada dalamnya. Namun, pasal-pasal ini tampaknya tidak
dapat dipandang sebagai penjelasan-penjelasan saksi mata
harfiah karena memang tidak ada saksi mata sebelum ada
manusia. Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah atau mata
harfiah. Jadi, cerita ini lebih cocok dengan kategori historis,
tetapi tidak harfiah.161
Berikutnya penjelasannya. Mitos dalam pengertian
umum (pengertian pertama) adalah cerita atau dongeng
yang tidak faktual atau bukan kejadian nyata (historis).
Berbicara mengenai mitos, asumsi orang sudah negatif
sebab dikaitkan dengan dongeng-dongeng masyakarat
kuno yang tidak logis. Kitab Kejadian ditulis Musa sekitar
tahun 1440 SM, ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Tentu
sangat sulit menjelaskan kebenaran kepada bangsa yang cara

160
Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000),
228.
161
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op. Cit. 285–286.

Apologetika Otoritas Allah 197


berpikirnya tidak maju atau agak primitif setelah selama
430 tahun tertindas sebagai budak di Mesir. Kisah historis
Adam dan Hawa harus dimitoskan agar mereka memahami
pesan dan makna yang terkandung dalamnya, berhubung
ketidakmampuan mereka memahami kebenaran.
Pesan yang disampaikan Allah yang Mahacerdas di­
bungkus melalui cerita-cerita sederhana, yang sesuai pene­
rimanya. Bila orang Israel pada zaman Musa (3500 tahun
yang lalu) diberi penjelasan secara detail seperti kita pada era
internet sekarang ini, mereka tidak sanggup menerimanya.
Mereka masih berpikiran sederhana. Namun, bagi mereka,
cerita itu sudah cukup mewakili kehendak atau maksud
Tuhan yang harus mereka pahami. Makna historisnya adalah
Tuhan memberikan kehendak bebas untuk mengambil
keputusan, ketaatan mendatangkan berkat sedangkan ke­
tidaktaatan mendatangkan kutuk.
Dalam konteks menganalisa Kejadian 3, sebenarnya
kata mitos juga memiliki pengertian yang lain, yaitu cara
untuk menyatakan kebenaran yang tidak bisa dijelaskan apa
adanya berhubung keterbatasan si penerima kebenaran atau
faktor-faktor tertentu. Misalnya, anak tiga tahun bertanya
kepada orangtuanya dari mana adik berasal? Orangtua akan
memberi jawaban yang “tidak apa adanya”. Orangtua akan
menjelaskan dengan cara lain yang bisa dimengerti oleh
anak. Jawaban yang “tidak apa adanya” ini bisa disebut mitos
(dalam pengertian kedua). Hal tersebut dilakukan tidak
bermaksud untuk berdusta, tetapi menjelaskan fakta dengan
cara atau isi yang berbeda agar maknanya bisa ditangkap.
Jika kisah Adam dan Hawa dalam Kejadian 3 mengenai
kejatuhan manusia dalam dosa dipahami secara harfiah,
Alkitab menjadi buku mitos (dalam pengertian pertama)—
tidak ada makna pentingnya. Mari berpikir logis! Buku ini

198 Apologetika
adalah mengenai apologetika. Apologetika adalah argu­
mentasi-argumentasi yang rasional, logis, dan objektif
yang didasarkan pada data atau fakta di Alkitab, bukan
berdasarkan kepercayaan (Ingatlah, kita harus membedakan
antara penafsiran dan kepercayaan).
Berpikir logis, “bagaimana bisa diterima secara akal
sehat kalau makan buah tersebut maka mata bisa terbuka
dan menyadari ketelanjangan?” Seharusnya, kita memahami
kisah Adam dan Hawa tidak lagi seperti anak-anak Sekolah
Minggu sebab cerita tersebut mempunyai makna atau pela­
jaran yang sangat penting. Mitos pengertian kedua dapat
menjawab kejadian tersebut secara logis sebab dalam kisah
tersebut yang hendak ditekankan bahwa manusia memilih
untuk mengisi jiwanya secara terus-menerus dengan se­
suatu yang tidak bersumber dari Allah—sebagai akibatnya
mereka jatuh dalam dosa. Jadi, dengan dikemukakan mela­
lui cara sederhana atau dimitoskan, kisah tersebut memiliki
dinamisitas yang tinggi, artinya sepanjang masa bisa
diperoleh implikasi dan aplikasinya. Inilah sifat Alkitab yang
ilahi.
Saya kagum uraian dari Dr. Erastus Sabdono mengenai
perihal ini. Ia menjelaskan bahwa di Taman Eden ada 2
jenis buah. Pertama: buah untuk dikonsumsi secara fisik
guna pertumbuhan kebutuhan jasmani (tentu jumlah
sangat banyak dan tidak perlu disebutkan namanya). Kedua:
buah yang dikonsumsi oleh jiwa atau pikiran, yaitu buah
pengetahuan tentang yang baik dan jahat dan buah dari
pohon kehidupan yang ada di tengah taman (perlu disebut­
kan namanya sebab jenisnya berbeda dari buah secara
harfiah).
Buah tersebut merupakan pilihan: apakah manusia
bersedia hidup dalam tuntunan Bapa sehingga mengerti

Apologetika Otoritas Allah 199


hal yang baik dan jahat menurut perspektif Bapa atau tidak!
Sebenarnya, buah pohon pengetahuan tentang yang baik
dan jahat bukanlah buah yang dikonsumsi untuk fisik, teta­
pi buah dalam arti figuratif (gambaran saja), yaitu menun­juk
pengaruh jahat Lusifer yang jatuh (ular).
Sekali lagi, kalau cerita ini tidak dipahami secara benar,
kisah Adam dan Hawa adalah dongeng yang berunsur mitos
dalam pengertian pertama atau umum. Bagaimana mungkin
makan buah bisa mengakibatkan pikirannya terbuka?
Logisnya, kalau makan buah tentu perut menjadi kenyang
bukan pikirannya yang berubah atau terbuka—ini disebut
mistis! Apakah dengan sekali makan buah itu seketika itu
juga pikirannya terbuka atau berubah. Jika Anda menganggap
pikiran manusia berubah sebagai kejadian ajaib atau
sekejap—itu mistis! Hal ini sangat tidak logis sebab faktanya
manusia tidak bisa baik mendadak atau jahat mendadak.
Mata mereka terbuka yang ditunjukkan dengan perasaan
malu atas ketelanjangan mereka, padahal seharusnya bukan
sesuatu yang memalukan. Jadi, kerusakan manusia pada
mulanya bukan pada perubahan fisik, melainkan mata atau
perspektif (cara memandang sesuatu).
Keputusan seseorang ditentukan oleh pertimbangannya
yang terbentuk dari perjalanan panjang hidupnya. Sangat
logis bahwa keputusan pemberontakan manusia pertama
sebuah proses panjang—ini sesuatu yang alami dan logis!
Buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat
menunjuk filosofi yang tidak sesuai kebenaran Tuhan yang
dikonsumsi oleh jiwa atau pikiran. Hal itu membuat pikiran
terbuka terhadap kejahatan, yaitu pemberontakan kepada
Allah seperti yang dilakukan Lusifer. Mengapa tidak disebut
misalnya buah mangga dan sebagainya? Mengapa namanya
begitu panjang? Tentu ini bukan sekadar nama, melainkan
nama itu mengandung pesan untuk ditangkap.

200 Apologetika
Logikanya, nama sebuah buah tentu tidak perlu panjang-
panjang dan cukup menunjuk sebuah identitas (misal buah
apel). Kita tidak mengetahui berapa lama manusia pertama
ini bergumul menghadapi bujukan ular (personifikasi
Lusifer). Kembali kita bertanya, “Apakah kejadian tersebut
hanya sekali peristiwa dan dengan sekejap mengubah
jalan hidup manusia?” Paulus menyingkapkan kebenaran
atau rahasia mengenai fragmen di taman Eden. Sejatinya,
pergumulan manusia pertama adalah pergumulan mengisi
jiwanya atau pikiran dalam perjalanan waktu panjang, bukan
hanya langkah yang salah dalam satu kali kesempatan (2 Kor
11:2–4). Pikirannya disesatkan oleh Lusifer dari kesetiaan
yang sejati kepada Allah Bapa.
Kita pun mengalami pergumulan ini di mana Iblis
berusaha mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang ber­
tentangan dengan pikiran Tuhan seperti Petrus (Mat 16:16–
17). Ingat, Iblis mengetahui persis titik lemah kita. Taman
Eden merupakan taman pergumulan manusia, antara
memilih hal yang baik menurut Tuhan atau baik menurut
yang lain? Adam pertama gagal dalam peperangan tersebut.
Hal ini menentukan nasib manusia dan keturunannya. Lalu,
Adam kedua (Kristus) diutus untuk misi penyelamatan.
Dia memenangkan pergumulan dengan ketaatan-Nya—
mengalahkan Lusifer (Yoh. 19:30).
Selanjutnya, kita sebagai anak-anak Allah kembali me­
neruskan pertarungan melawan kuasa gelap (Ef. 6:12). Orang
yang menang akan menjadi umat pilihan Allah memerintah
bersama Tuhan Yesus!

g. Pentingnya Pertimbangan Theologis
Kita harus menguji semua kitab dengan theologi kesela­
rasan Alkitab. Ingat, firman Allah—Alkitab tidak pernah

Apologetika Otoritas Allah 201


berkontradiksi dengan dirinya (1 Kor. 14:33; Mal. 3:6). Alkitab
adalah penafsir Alkitab terbaik. Oleh karena itu, bagian-
bagian Alkitab yang lebih sulit ditafsirkan oleh bagian yang
lebih jelas. Gary Crampton mengatakan sebagai berikut:

Diperlukan banyak penggalian, tetapi Alkitab menafsirkan


Alkitab (dirinya). Jadi saat kita memelajari Perjanjian Baru kita
harus memahaminya (baik penyelidikan kata-kata maupun
posisi-posisi theologis) berdasarkan pada fondasi kebenaran
Perjanjian Lama yang sudah tidak dapat dipungkiri. Alkitab
adalah “satu” buku dari depan sampai belakang.162

h. Penggunaan Logika
Alkitab merupakan buku yang logis. Alkitab ditulis oleh
Dia yang adalah lawan dari kekacauan dan kebohongan. Dia
tidak pernah berpikir secara tidak logis. Kebenaran tidak
pernah antilogika. Alkitab masuk akal—Alkitab bersifat
rasional, sedangkan setan adalah pencipta kebohongan,
kontradiksi, dan kekacauan. Dengan kata lain—gunakan
akal sehat.163
***

162
W. Gary Crampton,Op. Cit. 114
163
Ibid, 124

202 Apologetika
6

Apologetika Kristologi

Saya mengetahui ada banyak perdebatan berkisar tentang pribadi


dan karya Kristus baik di antara orang Kristen maupun orang
Kristen dengan orang yang belum percaya. Saya tidak membahas
semua persoalan di sini karena akan menyebabkan buku ini terlalu
tebal. Kita hanya akan membicarakan dua hal yang paling sering
dibicarakan, yaitu Ketuhanan Kristus dan Kebangkitan-Nya.

A. Bukti-bukti Keilahian Yesus


Pada zaman ini sangat populer untuk percaya bahwa Yesus hidup
dan mengajar pada masa lampau, tetapi menolak klaim-Nya akan
keilahian-Nya. Mereka hanya mengakui Yesus sebagai manusia
biasa. Klaim kekristenan dicemooh karena orang Kristen berpe­
gang teguh akan kemanusiaan dan keilahian Yesus. Mengapa orang
bisa berbicara tentang Allah dan tidak ada yang terganggu, tetapi
begitu nama Yesus disebut, orang sering berusaha menghentikan
percakapan? Mengapa pria dan wanita dari berbagai zaman ber­
selisih pendapat mengenai pertanyaan, “Siapakah Yesus itu?”

203
Yesus menganggap pendapat manusia tentang “siapakah
Dia” adalah amat penting. Jelaslah bahwa “siapakah Yesus Kristus”
adalah sama pentingnya dengan hal yang Dia lakukan. Hal ini
menimbulkan pertanyaan, “Siapakah Yesus Kristus itu? Apakah
Dia Anak Allah?” Jawaban atas hal ini sangat penting karena
hubungan kita dengan Allah akan bergantung pada hubungan kita
dengan Yesus Kristus di dunia.
Kepercayaan Kristen tradisional, yang dinyatakan dalam
Perjanjian Baru, menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret, walaupun
satu pribadi, dahulu, sekarang, dan selamanya adalah Allah dan
manusia. Namun demikian, doktrin Kristen dasar ini semakin
banyak dikritik, bahkan diingkari.
Siapakah yang dapat mengatakan dengan pasti seperti apa­
kah Allah? Satu-satunya yang dapat mengatakan dengan pasti
adalah Allah. Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Jalan, Kebenaran,
dan Hidup (Yoh. 14:6). Pengakuan seperti itu harus dibuktikan
kebenarannya. Apakah Yesus orang tidak waras, penipu, atau
benar-benar Allah? Marilah kita menjajaki hal ini untuk mengenal
kebenaran tentang keilahian Yesus.
Sebelum membahas mengenai keilahian Yesus, saya mengajak
Anda untuk mengiakan bahwa Yesus adalah manusia nyata (benar-
benar ada dalam sejarah). Selanjutnya, kita akan melihat bukti-
bukti bahwa Yesus adalah Allah dan manusia. Semua kebingungan
tentang eksistensi Yesus dapat diterangkan secara logis dan sains
untuk dipahami.
Dalam mempertimbangkan keilahian Yesus, pokok per­
soalannya bukanlah apakah keilahian Yesus mudah dipercaya
atau dimengerti, melainkan apakah keilahian Yesus dinyatakan
dalam firman Allah. Sebelumnya, kita telah membahas mengenai
otentisitas Alkitab. Klaim kita sebagai orang Kristen, Alkitab seca­
ra mutlak menyatakan bahwa hal yang tertulis dalamnya adalah
firman Allah. Dengan demikian, kita harus memandang Alkitab

204 Apologetika
dapat diandalkan kebenarannya, baik secara historis maupun
sebagai firman Allah kepada kita. Hal ini satu-satunya tolok ukur
yang benar untuk menetapkan apakah Yesus adalah Allah yang
menjelma menjadi manusia atau bukan. Bagi orang Kristen,
setiap buku, tulisan, atau pengajaran yang bertentangan dengan
isi Alkitab harus ditolak. Jika ada sumber-sumber lain yang meng­
klaim sebagai wahyu ilahi, sebagaimana halnya Alkitab, sumber-
sumber itu harus diuji kebenarannya berdasarkan Alkitab. Ingat,
Allah tidak mungkin (lebih tepat: tidak akan pernah) bertentangan
dengan diri-Nya.
John Stott memberikan sebuah catatan tentang berapa kali
Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Allah. Menurut klaim ini, John
Sott menjelaskan bahwa Yesus mengajarkan:

Mengenal Dia berarti mengenal Allah;


Melihat Dia berarti melihat Allah;
Percaya kepada Dia berarti percaya kepada Allah;
Menerima Dia berarti menerima Allah;
Membenci Dia berarti membenci Allah;
Menghormati Dia berarti menghormati Allah

Dengan demikian, sebagaimana akan dibahas dalam bab


ini, memandang Yesus dan mendengarkan Dia sama dengan
memandang serta mendengarkan Allah.
Kita kembali pada pembahasan mengenai bukti-bukti
keilahian Yesus. Permasalahan mengenai identitas Yesus timbul
dari data-data yang ada, yaitu empat Injil yang menjelaskan
kepada kita mengenai pernyataan-pernyataan yang diklaim diri-
Nya sendiri (Yesus menyatakan dalam beberapa kali bahwa Dia
bersifat Ilahi) dan pernyataan-pernyataan yang diklaim oleh orang
lain mengenai pribadi-Nya.

Apologetika Kristologi 205


Sebagaimana kita saksikan, Yesus Kristus sama sekali tidak
dapat disejajarkan dengan pemimpin agama lainnya. Tidak se­
orang pun pemimpin agama yang diakui, seperti Musa (dan para
nabi lainnya), para rasul Yesus Kristus, dan lain-lainnya, yang per­
nah mengaku dirinya sebagai Tuhan (ilahi), selain Yesus Kristus.
Yesus Kristus satu-satunya pemimpin agama yang pernah mengakui
keilahian-Nya bahwa Dia adalah Allah baik secara langsung
maupun tidak langsung. Para pemimpin agama, termasuk nabi
sekalipun, tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Allah seperti
yang dilakukan oleh Yesus!
Salah satu hal yang sering menjadi batu sandungan dan
bahan perdebatan bagi banyak orang Kristen dan non-Kristen
adalah perihal keallahan Yesus. Orang non-Kristen tidak bisa
menerima bahwa Yesus adalah Allah sebab pemahaman mereka
Allah itu Esa, dalam arti matematis berarti satu, bukan dua atau
tiga. Menurut mereka, Yesus hanya manusia yang hebat dan luar
biasa, bisa disebut nabi, tetapi bukan Allah. Bagaimana mungkin
manusia menjadi Allah?
Bagaimana orang Kristen menjawabnya. Ternyata, ada orang
Kristen memiliki konsep yang sama dengan orang pada umumnya,
yaitu Allah itu esa dalam arti matematis. Allah yang esa dalam
arti matematis dianggap lebih rasional dan memberi nilai agung,
memberi kualitas atas diri Allah.
Kita perlu menyadari betapa sulitnya doktrin ini (Yesus
adalah Allah) bagi orang lain. Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
menguraikan kesulitan tersebut. Pertama, adanya keterkejutan
langsung yang bersifat instingtif dan intuitif. Setiap orang yang
berjumpa dengan Yesus terkejut. Tidak ada seorang pun yang
dapat memahaminya—baik para murid-Nya, musuh-Nya, orang
Farisi, orang saleh, orang jahat, dan orang terpelajar maupun
tidak terpelajar. Tidak seorang pun yang pernah berjumpa
dengan seseorang seperti Yesus, “Belum pernah seorang manusia

206 Apologetika
berkata seperti itu!” (Yoh. 7:46). Kedua, pada tingkat reflektif dan
rasional, ada klaim-Nya tampaknya sulit dipahami. Klaim-Nya
datang dari seorang yang lahir dari kandungan seorang wanita,
yang bertumbuh dari keadaan bayi, merasa lapar, lelah, marah,
menderita dan mati. Namun, Dia mengakui diri-Nya sebagai Allah.
Hal ini bukan hanya secara intuitif sangat mengejutkan, melainkan
dari segi logika pun tampak adanya kontradiksi dalam diri-Nya.
Manusia pada hakikatnya adalah fana, terbatas, tidak kekal, dan
dapat berbuat kesalahan; sedangkan Allah pada hakikatnya adalah
kekal, tidak terbatas, tidak mungkin berbuat salah, dan tidak
bisa mati. Bagaimana seseorang dapat memiliki dua hakikat yang
bertentangan?164
Pada bab ini, kita secara khusus akan melihat bukti-bukti
klaim Yesus sebagaimana yang diakui-Nya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, bahwa Dia adalah Allah. Dengan per­
kataan lain, langkah-langkah untuk menyusun bukti-bukti ini
merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk menunjukkan
bahwa Yesus benar-benar Allah dan pembuktian (apologetika) ini
dilakukan melalui argumentasi filosofis yang logis.

1. Pengakuan Langsung
a. Yesus menyebut diri-Nya adalah “Anak Allah” (Luk. 22:70)—
yang berarti Dia memiliki sifat-sifat yang sama dengan Allah.
Seorang anak memiliki sifat yang sama, spesies yang sama,
esensi yang sama dengan ayahnya. Scotchmer menyimpul­
kan bahwa baik murid-murid maupun musuh-Nya mengerti
berdasarkan latar belakang Yahudi mereka bahwa istilah
“Anak Allah” mempunyai arti yang ilahi.165

164
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup, 2000), 200
165
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
167

Apologetika Kristologi 207


“Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar
itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: ‘Apakah Engkau
Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’ Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan
kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang
Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.’
Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata:
‘Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-
Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Lalu dengan
suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum
mati” (Mrk 14:61–64).

Tentang pertanyaan Imam Besar, “Apakah Engkau


Mesias, Anak dari Yang Mahatinggi?”, jawaban Yesus jelas
bahwa Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah dengan
berkata, “Akulah Dia.” Yesus menerima tantangan Imam Besar
dan mengakui bahwa Dia telah menyatakan Diri-Nya sebagai
Mesias, Anak Manusia dan Anak Allah. Mendengar jawaban
Yesus, Imam Besar mengoyakkan pakaiannya. Akhirnya,
Yesus dijatuhi hukuman mati, bukan karena berdasarkan
perkataan para penuduhnya, melainkan pengakuan yang
diucapkan-Nya bahwa Dia telah mengakui keilahian-
Nya yang sesungguhnya di hadapan para hakim. Orang-
orang Yahudi mengerti bahwa jawaban Yesus merupakan
pengakuan diri-Nya sebagai Allah. Jadi, ada dua pilihan yang
harus dihadapi yaitu pernyataan-Nya adalah penghujatan
belaka atau Dia sungguh adalah Allah. Dengan demikian,
kita dapat menarik kesimpulan dengan aman bahwa Yesus
telah mengakui keilahian-Nya dengan cara yang jelas bagi
semua orang. Pengakuan ini dianggap sebagai penghujatan
oleh para pemuka agama sehingga Dia disalibkan karena “Ia
menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah” (Yoh. 19:7).

b. Yesus mengakui atau menyamakan diri-Nya dengan Allah.


Selain Markus 16:61–64, apakah pengakuan Yesus ini ada
dalam Injil yang lain? Yesus menyebut Allah itu sebagai

208 Apologetika
Bapa-Nya, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30) dan
“Barangsiapa melihat Aku telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).
Ketika Yesus mengakui bahwa “Aku dan Bapa adalah satu”,
orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari
Yesus. Orang Yahudi menjawab, “karena Engkau, sekalipun
hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan
Allah” (Yoh. 10:33).
A.T. Robertson mengatakan bahwa kata “satu” bergender
netral, bukan maskulin. Jadi, kata “satu” di sini bukan berarti
satu orang, tetapi satu inti atau satu sifat dasar. Pernyataan
tegas dan mengena ini adalah puncak pengakuan Yesus
tentang hubungan di antara Bapa dan Diri-Nya sendiri
(Anak).166 Dalam Yohanes 5:17–18 dikatakan, “Tetapi Ia
berkata kepada mereka:’ Bapa-Ku berkerja sampai sekarang,
maka Akupun bekerja juga.’ Sebab itu orang-orang Yahudi
lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena
Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan
bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian
menyamakan diri-Nya dengan Allah.”167 Jadi, kelihatan sekali
bahwa tidak ada keraguan sedikit pun di benak orang yang
mendengar pernyataan ini bahwa Yesus mengaku di hadapan
mereka bahwa Dia adalah Allah.

c. Yesus mengakui diri-Nya telah ada sebelum Abraham, “Kata


Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
sebelum Abraham jadi, Aku telah ada’” (Yoh. 8:58). Kita
memahami ungkapan “Aku ada” menurut Perjanjian Lama
hanya mengacu pada YHWH yang abadi dan yang ada sejak
semula sampai selama-lamanya. “Aku ada” sebagai suatu
pernyataan akan keabsolutan keilahian atau ketuhanan

166
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
154.
167
Ibid, 155.

Apologetika Kristologi 209


Yesus. Ketika Yesus memproklamirkan bahwa Dia telah
ada sebelum Abraham jadi, Dia sedang mengacu para
pendengar-Nya pada Kitab Keluaran 3:13–14 di mana Musa
berkata kepada Allah:

“Lalu Musa berkata kepada Allah: ‘Tetapi apabila aku men­


dapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah
nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka
bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya?—apakah
yang harus kujawab kepada mereka?”

Allah menjawab Musa, “AKU ADALAH AKU.” “Lagi


firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu:
AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.’” Dalam
Septuaginta (Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa
Yunani), ungkapan, “AKU ADALAH AKU” atau “AKULAH
AKU” adalah ego eimi.
Josh McDowell menyatakan bahwa menurut Injil
Yohanes, Yesus menggunakan istilah Aku adalah lebih dari
sembilan belas kali sebagai acuan kepada diri-Nya. Setiap
orang Yahudi dengan nyaring dan jelas akan mendengar
tuntutan Yesus atas sifat ketuhanan. Itulah sebabnya orang-
orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus
karena seperti yang mereka katakan, “Engkau, sekalipun
hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan
Allah” (Yoh. 10:33).
Bartson menyatakan bahwa pada zaman Tuhan Yesus,
sebutan “AKULAH AKU” (ego eimi) merupakan padanan
sebutan untuk YHWH. YHWH adalah nama yang dianggap
sakral dan paling dihormati orang Yahudi sehingga mereka
tidak berani mengucapkannya. Sebutan ego eimi yang hanya
dapat dipakai untuk menyebut Allah dipakai oleh Yesus.
Contoh paling jelas adalah, “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku

210 Apologetika
berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku
telah ada (ego eimi).’” Pada kesempatan lain, Yesus memakai
sebutan itu bagi diri-Nya, “... sebab jikalau kamu tidak
percaya, bahwa Akulah Dia (ego eimi), kamu akan mati dalam
dosamu” (Yoh. 8:24). Dalam Yohanes 8:28, Yesus berkata
kepada orang-orangYahudi, “Maka kata Yesus: ‘Apabila kamu
telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa
Akulah Dia (ego eimi), dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa
dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal,
sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.” Hal ini juga tampak
dalam pernyataan Yesus kepada para pasukan yang hendak
menangkap-Nya, “Maka Yesus, yang tahu semua yang akan
menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka:
‘Siapakah yang kamu cari?’ Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’
Kata-Nya kepada mereka: ‘Akulah Dia (ego eimi).’ Yudas yang
mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.
Ketika Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia (ego eimi)’,
mundurlah mereka dan jatuh ke tanah” (Yoh. 18:4–6). Oleh
karena merasa yakin bahwa Yesus adalah Allah, para penulis
Perjanjian Baru dengan jelas menghubungkan Yesus dengan
ayat-ayat Perjanjian Lama yang mengacu kepada YHWH.
Markus mengutip Kitab Yesaya 40:3, “Ada suara yang berseru-
seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN
(YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi
Allah kita!”. Markus menafsirkan bahwa ayat itu digenapi
sewaktu Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan bagi Yesus.
Norman Geisler mengungkapkan bahwa dalam perum­
pamaan-Nya, Yesus menyatakan bahwa Dia mempunyai
fungsi yang hanya diperuntukkan bagi Yahweh di Perjanjian
Lama, seperti menjadi Gembala (Luk. 15), batu (Mat. 7:24–
27), dan Penabur (Mat. 13:24–30). Dengan demikian, tidak
diragukan lagi, para pemimpin agama Yahudi mengetahui
dengan siapa Yesus menyamakan diri-Nya. Jadi, tuduhan

Apologetika Kristologi 211


utama yang dilontarkan para musuh Yesus adalah soal
pengakuan-Nya bahwa Dia adalah Allah.

d. Yesus berkata kepada orang Farisi, “Aku berkata kepadamu:


Di sini ada yang melebihi bait Allah” (Mat. 12:6). Berapa
lebihnya? Kita memerhatikan ayat 8. Yesus menegaskan
sambil mengacu diri-Nya, “Anak Manusia adalah Tuhan atas
hari Sabat.” Secara logis, bagaimana seseorang dapat menjadi
Tuhan atas hari Sabat kecuali Allah yang menetapkan hari
itu? Ini suatu tuntutan langsung atas sifat ketuhanan-Nya.
Jadi, dengan tegas ketika Yesus menyebut diri-Nya sebagai
“Tuhan atas hari Sabat”, hal itu merupakan pernyataan
bahwa Dia Pencipta hari Sabat. Bagi kaum Yahudi, YHWH
(baca: Yahweh) adalah Pencipta dan Tuhan atas hari Sabat
(Kel. 3:13,17). Selain itu, dalam Kisah Para Rasul 18, “Jalan
Tuhan” 9 (ay. 25) sama dengan “Jalan Allah” (ay. 26).

e. Yesus mengklaim memiliki hak dihormati sama seperti


yang diberikan kepada Allah, “Supaya semua orang yang
menghormati Anak sama seperti mereka menghormati
Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak
menghormati Bapa yang mengutus Dia” (Yoh. 5:23). Nats ini
memberikan peringatan kepada mereka yang menuduh-Nya
sebagai penghujat. Yesus mengatakan bahwa dengan men­
caci-maki (tidak menghormati) Diri-Nya, sesungguhnya
mereka telah mencaci-maki Allah. Di sini, Yesus me­
maklumkan hak-Nya untuk diperlakukan sebagai Allah
bahwa melecehkan Yesus sama dengan melecehkan Allah.

f. Yesus meminta dan menerima penyembahan seperti Allah.


Dalam Matius 5:20, 22, 26, 28, Yesus mengajar atas nama-Nya.
Bukan seperti para nabi yang mengatakan, “Demikianlah
firman Tuhan Allah”, Yesus mengatakan, “Sesungguhnya, Aku
berkata kepadamu.” Dalam nats-nats lain, seperti Matius 8:2,

212 Apologetika
“‘Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu
sujud menyembah Dia...’ ‘Ada seorang buta sejak lahir setelah
disembuhkan, orang itu sujud menyembah-Nya’” (Yoh. 9:35–
39).
Kesepuluh murid Yesus bersaksi kepada Tomas bahwa
mereka telah melihat Tuhan (Yoh. 20:25). Maria Magdalena
juga bersaksi bahwa ia telah melihat Tuhan (Yoh. 20:18).
Tomas menyatakan sikap yang lain:

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan se­


belum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan
mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku
tidak akan percaya” (Yoh. 20:25).

Tomas mengajukan tuntutan bukti sebelum memercayai


sesuatu. Sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa orang yang
percaya akan Dia sebagai Tuhan yang bangkit, sekalipun
belum melihat-Nya, adalah orang yang berbahagia. Ketika
menghadapi ketidakpercayaan atau keraguan Tomas terha­
dap kebangkitan-Nya, Dia menyuruh Tomas mencucukkan
jarinya ke telapak tangan-Nya bekas paku itu dan mencucuk­
kan tangannya dalam lambung-Nya. Setelah melihat fakta
fisik kebangkitan ini, Tomas langsung menyembah dan
berkata kepada-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:27–
29). Yesus menegaskan, “karena engkau telah melihat Aku,
maka engkau percaya.”
Faktanya, Yesus tidak menolak, menyangkal, menarik
kembali, atau mengoreksi perkataan Tomas tersebut. Yesus
menegur Tomas karena ketidakpercayaannya, bukan karena
menyembah Dia. Yesus menerima penyembahan Tomas.
Berdasarkan kenyataan ini, Yesus memerintah dan mau
disembah seperti Allah.

Apologetika Kristologi 213


Tidak seorang pun boleh disembah selain Allah,
baik nabi, rasul, maupun malaikat. Rasul Petrus, ketika
Kornelius tersungkur di depan kakinya dan menyembahnya,
menegurnya dengan berkata, “Bangunlah, aku hanya
manusia saja” (Kis. 10:25–26). Ketika Yohanes tersungkur di
depan kaki malaikat yang menyampaikan wahyu Allah dan
menyembahnya, malaikat itu mengatakan bahwa ia adalah
hamba dan berkata kepada Yohanes, “Sembahlah Allah!”
(Why. 19:10).

g. Formulasi dalam perintah baptisan agar kita membaptis


seseorang “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”
(Mat. 28:19). C.S Lewis mengutarakan kebenaran bagi orang
yang meragukan keilahian Yesus. Ia menuturkan, seandainya
Yesus bukan Allah, siapakah Dia? Siapakah “Anak” itu?
Apakah Roh Kudus itu manusia? Kalau bukan, apakah
manusia “mengutus” Dia (Yoh. 15:26)? Paulus dalam Kolose
1:17 dengan tegas menyatakan bahwa Kristus ‘ada terlebih
dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam
Dia’.Orang macam apakah Dia itu? Mengapa Yesus berkata,
“Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana”
(Mat. 23:34)? Siapa gerangan dapat berkata begitu kecuali
Allah atau orang yang tidak waras pikirannya?

h. Terakhir (meskipun masih banyak ayat Alkitab lainnya),


saya akan menunjukkan bukti ini begitu meyakinkan—
Yesus disebut Allah, “Tetapi tentang Anak Ia (Allah) berkata:
”Takh­ta-Mu, ya Allah (Theos), tetap untuk seterusnya dan
selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat ke­
benaran” (Ibr. 1:8).
Kata Yunani untuk Allah yang dipakai beratus-ratus kali
adalah theos. Rasul Petrus menyebut Yesus adalah “Allah”
(Theos). Ia menulis, “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul
Yesus Kristus ... oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat

214 Apologetika
kita, Yesus Kristus” (2 Ptr. 1:1). Kata penghubung Yunani
“dan (kai)” menyatukan kedua kata benda itu. Berarti, Yesus
mengacu kepada Allah dan Juruselamat. Yesus adalah Allah
dan Juruselamat.168
Paulus menulis kepada Titus agar menantikan, “penya­
taan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita
Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Kisah Para Rasul 2:36 mengatakan,
“Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi
Tuhan dan Kristus.” Ayat 39 berbicara tentang Allah sebagai
“Tuhan Allah kita”. Dengan demikian, Kristus adalah Allah
(ay. 36). Kisah Para Rasul 10:36 mengatakan bahwa Yesus
sebagai “Tuhan dari semua orang”.169
Dalam Perjanjian Lama dinyatakan dengan tegas
bahwa Allah sajalah Juruselamat, “Aku, Akulah TUHAN
(YHWH) dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku”
(Yes. 43:11). Dalam Perjanjian Baru dijelaskan bahwa Yesus
adalah Juruselamat, “Dialah benar-benar Juruselamat dunia”
(Yoh. 4:4). Lukas 2:11 berkata, “Hari ini telah lahir bagimu
Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan”.
Sebutan “Tuhan” dipakai dalam Perjanjian Baru maupun
Perjanjian lama untuk mengacu kepada Allah dan Yesus.
Dalam Perjanjian Lama, kata untuk menyebut Tuhan adalah
adonai. Dalam Septuaginta dan Perjanjian Baru, kata yang
diterjemahkan menjadi “Tuhan” adalah kurios. Adonai
maupun kurios dipakai untuk menyebut Allah oleh orang
Yahudi. Kita perlu mengerti bahwa dalam Perjanjian Baru,
kurios memiliki dua arti, yaitu umum dan kudus. Dalam arti
umum, kata ini dipakai berkenaan dengan pemberian salam
yang sopan yang artinya “tuan”. Arti yang kudus menyiratkan

168
Josh McDowell dan Bart Larson, Adakah yang Mustahil bagi Allah: Allah
menjadi Manusia (Bandung: LLB, 2000), 27.
169
Ibid, 28.

Apologetika Kristologi 215


keilahian (Tuhan). Hal ini bukti kuat bahwa jemaat mula-
mula memandang Yesus sebagai Allah.

2. Pengakuan Tidak Langsung


Dalam banyak kesempatan, Yesus mengakui keilahian-Nya
secara tidak langsung, di antaranya:
a. Yesus juga mengklaim diri-Nya tidak berdosa, “Siapakah dari
antara kamu yang menuduh Aku berdosa?” Apabila Yesus
itu hanyalah manusia biasa, Dia dapat berbuat kesalahan.
Sebaliknya, dengan jelas Dia menyatakan diri-Nya dapat
mengampuni dosa—seluruh dosa manusia (Luk. 5:20). Tentu
saja orang-orang Yahudi melancarkan protes terhadap klaim-
Nya dengan mengatakan, “Siapa yang dapat mengampuni
dosa-dosa, selain Allah sendiri?” (Luk. 5:21).
Bagaimana Yesus dapat mengetahui dosa seseorang
(Mrk. 2:1–12), apalagi menawarkan pengampunan—seolah-
olah Dia adalah Allah. Apakah Yesus berlaku sombong? Yesus
tidak berlaku sombong. Dia berkata benar. Inilah buktinya,
“Supaya kamu tahu, bahwa Anak Manusia (Yesus) berkuasa
mengampuni dosa ....” Satu-satunya Pribadi yang memiliki
hak untuk mengampuni dosa adalah Allah. Menurut hukum
Yahudi, hanya Allah yang melakukannya karena hanya Allah
yang dapat mengampuni dosa. Oleh karena perbuatan atau
pengakuan Yesus ini, Dia dituduh telah menghujat Allah
oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus dihukum
mati karena telah mengakui hak prerogatif Allah. Kuasa
Yesus untuk mengampuni orang atas dosanya merupakan
contoh yang sangat menakjubkan bahwa Dia menggunakan
hak yang hanya dimiliki oleh Allah.
b. Yesus mengklaim diri-Nya menyelamatkan kita dari dosa
dan kematian, “Aku adalah kebangkitan dan hidup. Siapa
yang percaya kepada-Ku tidak akan mati” (Yoh. 11:25). Yesus

216 Apologetika
berkata bahwa Dia berasal dari surga, bukan dari dunia. Dia
akan kembali dari surga untuk menghakimi setiap orang.
Sungguh, dalam Dia ada hidup, “Barangsiapa memiliki Anak,
ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak
memiliki hidup” (1 Yoh. 5:11–12).
c. Yesus mengubah nama Simon menjadi Petrus. Dalam
Perjanjian Lama, hanya Allah yang dapat mengubah nama—
Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sarah, Yakub
menjadi Israel. Bagi seorang Yahudi, mengubah nama adalah
sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah.
d. Yesus adalah kekal.
Bart Larson mengatakan hanya Allah sajalah yang
dinyatakan di Alkitab bersifat kekal. Dia melampaui waktu
dan merupakan sumber waktu. Tidak pernah akan ada saat
di mana Dia tidak ada (Kel. 3:14; Hab. 3:6).170 Kekal adalah
sifat Allah yang tidak pernah berubah dan sifat ini dikenakan
kepada Yesus, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin
maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8).
William Barclay memberi komentar tentang sifat Yesus
yang kekal. Ia mengatakan bahwa Yesus tidak dibatasi oleh
waktu. Eksistensi-Nya tidak pernah berawal dan tidak akan
pernah berakhir. Yesus selalu ada. Dalam Yesus, kita melihat
Allah yang tidak dibatasi oleh waktu, yaitu Allah Abraham,
Ishak, dan Yakub—Allah Yang Kekal. Dalam Alkitab juga
dikatakan hanya Allah sajalah yang disebut Alfa (Yang Awal)
dan Omega (Yang Akhir) seperti tertulis dalam Yesaya 48:12.
Dalam Wahyu 1:17–18; 2:8; 22:12–16 dengan tegas dinyatakan
bahwa Yesus disebut Alfa dan Omega. Bukti ini sangat kuat
dan tidak bisa diremehkan.

Josh McDowell dan Bart Larson, Adakah yang Mustahil bagi Allah? Allah
170

menjadi Manusia (Bandung: Literatur Baptis, 2000), 64.

Apologetika Kristologi 217


e. Yesus memiliki sebutan atau gelar YHWH (atau Tuhan).
Menurut Perjanjian Lama sebutan atau gelar ini hanya
patut disandang oleh Allah.Yoel 2:32 menyatakan, “Dan
barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan
diselamatkan ...” Kata TUHAN di sini jelas mengacu pada
YHWH dan Paulus dengan pasti menerjemahkan kata
“TUHAN” tersebut dengan kata “Tuhan” (Kurios) dan hal
ini dikenakan atau diterapkan kepada Yesus. Roma 10:13
menyatakan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama
Tuhan, akan diselamatkan”. Jadi, pengakuan kepada YHWH
sebagai Adonai (TUHAN) di Perjanjian Lama. Hal ini sudah
digenapkan dalam pengakuan kepada Yesus sebagai Kurios
(Tuhan). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan
(dulu YHWH dan kini Yesus) akan diselamatkan. Sangat
je­las yang dimaksud Paulus dengan istilah Tuhan adalah
“Allah” dari Roma 10:13 di mana ia mengutip Yoel 2:32,
TUHAN adalah Allah.
Bart Larson menambahkan bahwa Rasul Paulus me­
ngutip ayat yang sama dari Yoel 2:32, “... barangsiapa yang
berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kis. 2:21).
Kemudian, ketika orang-orang bertanya apakah yang harus
mereka perbuatan agar selamat, Petrus menjawab mereka,
“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi
dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus...” (Kis. 2:38).
Menurut para rasul, berseru kepada nama Tuhan (YHWH)
adalah prasyarat untuk memperoleh keselamatan. Petrus
menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus. Seandainya
Petrus tidak memandang Yesus sebagai Allah, ia akan
menyuruh orang-orang dibaptis dalam nama YHWH (Yah­
weh), yang sesuai dengan kebiasaan dan kepercayaan orang
Yahudi.171

171
Ibid, 24.

218 Apologetika
Oleh karena itu, orang-orang Kristen awal tidak ragu-
ragu menyebut Yesus “Tuhan” dan diri mereka “hamba”.
Mereka melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa
“Tuhan” (Kurios) adalah julukan ilahi yang telah dipakai oleh
mereka yang menerjemahkan Perjanjian Lama ke bahasa
Yunani (Septuaginta) untuk kata Ibrani Yahweh dan yang
diambil oleh kaisar-kaisar Roma ketika mereka menuntut
penghormatan ilahi itu untuk diri mereka. Orang Kristen
mula-mula tidak hanya memberikan julukan Allah Perjanjian
Lama ini. Mereka mentransfer teks—Allah kepada Yesus.
Misalnya, Yahweh telah bersumpah bahwa semua orang
akan “bertekuk lutut” di hadapan-Nya dan “akan bersumpah
setia” dalam nama-Nya (Yes. 45:23). Dalam Perjanjian Baru,
Paulus menuliskan bahwa Allah telah “sangat meninggikan”
Yesus supaya dalam nama Yesus semua bertekut lutut dan
memberikan hormat kepada-Nya (Flp. 2:9–11).
Josh McDowell dan Bill Wilson menyatakan, “Kaum pria
dan wanita Yahudi pada abad pertama ini akhirnya meneri­
ma Yesus sebagai Allah dari iman monoteistis mereka.
Mereka menarik suatu kesimpulan dari fakta-fakta dan
menyadari bahwa Yesus, Anak Manusia itu, adalah Mesias,
bahwa Mesias adalah Anak Allah dan karena itu Yesus tentu
juga Allah.”172 Nama lain untuk Mesias adalah Immanuel
(Yes. 7:14), yang kalau diterjemahkan secara harfiah berarti
“Allah menyertai kita”. Dalam Matius 1:23 sebutan Immanuel
jelas-jelas ditujukan kepada Yesus, “Sesungguhnya, anak
dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak
laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel”—
yang berarti: Allah menyertai kita.” John Stott menegaskan
bahwa transfer julukan—Allah dan teks—Allah dari Yahweh

Josh McDowell dan Bill Wilson, Apologetika Volume 3 (Malang: Gandum


172

Mas, 2004).

Apologetika Kristologi 219


kepada Yesus mengindikasikan Yesus sebagai Allah, yang
bisa menyelamatkan dan yang patut disembah. Menyembah
Yesus, jika Dia bukan Allah, adalah pemujaaan terhadap
berhala; tidak menyembah Dia, jika Dia Allah, adalah
murtad.173 Pendiri agama lain tidak pernah mengerjakan
mukjizat-mukjizat dan tidak bangkit dari kematian. Yesus
menyuguhkan mukjizat-mukjizat-Nya yang banyak itu
dan peristiwa kebangkitan-Nya sebagai bukti yang nyata
terhadap keilahian-Nya. Hal ini akan saya bahas pada poin C
setelah uraian mengenai keunikan Yesus berikut ini.

B. Sekali Lagi tentang Keunikan Yesus


Nash menyatakan bahwa inkarnasi dan kebangkitan adalah muk­
jizat yang memiliki nilai sejarah yang merupakan syarat penting
bagi kebenaran kekristenan. Jika Kristus tidak bangkit dari ke­
matian, klaim-Nya sebagai Anak Allah akan terbukti salah (Rm.
1:4). Jika Yesus bukan benar-benar Anak Allah yang berinkarnasi,
keselamatan orang Kristen tidak akan ada dasarnya. Oleh karena
menurutnya, kedua mukjizat ini ia gunakan sebagai kasus ujian.
Keilahian Kristus adalah doktrin Kristen paling penting dari
semua doktrin lainnya. Perbedaan mendasar di antara semua
agama di dunia ini terletak pada doktrin ini. Alkitab menyatakan
Allah telah menjelma menjadi manusia—inkarnasi (Yoh. 1:1,14).
Nash lebih lanjut menyatakan:

Doktrin inkarnasi merupakan doktrin keyakinan yang men­


jadikan kekristenan unik di antara agama-agama lain di dunia.
Doktrin ini mengekspresikan keyakinan Kristen bahwa ‘Allah
membuat diri-Nya diketahui secara utuh, secara spesifik, dan
secara pribadi, dengan mengambil natur manusia untuk diri-

173
John Stott, Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 1989), 36.

220 Apologetika
Nya, dengan datang di antara kita sebagai manusia biasa, tetapi
tanpa berhenti menjadi Allah yang kekal dan tidak terbatas.174

Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli tentang inkarnasi menulis


demikian:

Apabila Kristus adalah Allah, maka berarti penjelmaan atau


perihal Allah ‘menjadi daging’ itu merupakan peristiwa yang
paling penting dalam sejarah. Peristiwa ini menjadi engsel
pintu sejarah karena mengubah segala sesuatu. Apabila Kristus
adalah Allah, maka pada waktu Ia mati di atas kayu salib, pintu
surga yang tadinya tertutup oleh dosa, menjadi terbuka bagi
umat manusia sejak peristiwa Taman Eden. Tak ada peristiwa
dalam sejarah yang lebih penting bagi setiap manusia daripada
peristiwa itu.175

Kekristenan adalah Kristus. Karena itu, jika keunikan ke­


kristenan adalah keunikan Kristus. Lalu, di mana letak keunikan-
Nya? Berbicara secara historis, keunikan itu dijumpai pada
kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya. Tentang kelahiran-
Nya, Dia lahir dari anak dara Maria. Karena itu, Dia adalah Allah
sekaligus manusia. Tentang kematian-Nya, Dia mati untuk dosa-
dosa kita, sebagai pengganti kita, untuk menjamin keselamatan
kita. Tentang kebangkitan-Nya, Dia mengalahkan kematian dan
memiliki otoritas universal. Untuk mengekspresikan kejadian-
kejadian sejarah ini secara theologis, keunikan Yesus terletak pada
inkarnasi, pendamaian, dan peninggian. Masing-masing tidak
tertandingi.
Tanpa diragukan lagi, klaim Kristen yang menyatakan bahwa
Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia menjadi

174
Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 406–407
175
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup, 2000), 199.

Apologetika Kristologi 221


sulit sekali diterima orang non-Kristen. Mungkinkah Allah
menjelma menjadi manusia(inkarnasi)? Sebelum kita membahas
mengenai keunikan Yesus, terlebih dahulu saya mengajak Anda
untuk melihat petunjuk tentang kemungkinan doktrin “inkar­
nasi” ini. Orang Kristen menggunakan kata inkarnasi untuk
mengekspresikan keyakinannya bahwa lahirnya Yesus menandai
masuknya Anak Allah yang kekal dan ilahi dalam kehidupan
umat manusia. Yesus bukan manusia biasa. Hal yang juga tidak
benar bila mengatakan bahwa Yesus itu mirip Allah. Pengakuan
iman Kristen bahwa Yesus sepenuhnya Allah dan sepenuhnya
manusia.176 John Stott menjelaskan bahwa Yesus adalah Anak Allah
karena keilahian-Nya memang jelas. Kita percaya Dia memiliki
relasi esensial dan kekal dengan Allah yang mana tidak dimiliki
oleh orang lain. Kita tidak menganggap Dia sebagai Allah yang
menyamar, juga bukan sebagai manusia yang mempunyai kualitas
ilahi, tetapi sebagai Allah—manusia.
C.S. Lewis menyebut penjelmaan (inkarnasi) sebagai mitos
yang menjadi fakta. Ada banyak cerita mitos di seluruh dunia pada
zaman dahulu mengenai cerita aneh tentang dewa yang turun dari
surga. Sama seperti cerita Taman Eden dan air bah Nuh yang ada

Ronald Nash menjelaskan bahwa pengakuan iman Nicea atau kredo Nicea,
176

yang merupakan pernyataan theologis kekristenan yang tertua, menempatkan


pertanyaan tentang relasi antara Yesus Kristus, yang adalah Allah Anak, dan Allah
Bapa. Namun, hal yang tidak terjawab adalah relasi antara natur manusia Yesus dan
natur ilahi-Nya. Jika kita katakan, melalui kredo Nicea, bahwa Yesus sepenuhnya
Allah, apa yang harus orang Kristen yakini tentang kemanusiaan Yesus? Apakah
Dia sepenuhnya manusia? Apakah Dia Allah yang menyamar sebagai manusia?
Pertanyaan ini terjawab dalam kredo Kalsedon (451M). Esensi doktrin Kalsedon
adalah bahwa Yesus memiliki dua natur dalam satu pribadi. Meskipun pribadi
Yesus tidak dapat dipisahkan, yang dimiliki pribadi ini, sebagai akibat dari
Inkarnasi, tetapi Dia memiliki dua natur: satu ilahi dan satu manusia. Yesus
sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Ia adalah Allah—manusia. Ketika
berhadapan dengan pribadi Yesus dan natur keilahian dan kemanusiaan-Nya,
kita tidak boleh memisahkan pribadi dari Yesus juga tidak boleh dibingungkan
oleh dua natur ini.

222 Apologetika
dalam banyak kebudayaan yang berbeda, cerita Yesus juga ada. Hal
yang sangat mengherankan, banyak orang berpikir bahwa fakta
ini—yaitu ada banyak persamaan dalam cerita dongeng itu dengan
cerita Alkitab—menunjukkan ketidakbenaran cerita Kristen itu.
Seharusnya, semakin banyak kesaksian yang menceritakan cerita
yang sama, kita berpikir logis kemungkinan bahwa cerita itu benar.
Lebih banyak bayangan yang kita temukan yang mendukung
sesuatu peristiwa, lebih besar kemungkinan bahwa peristiwa itu
akan terjadi.177
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli menambahkan bahwa
ada persamaan dalam bidang kesenian yang menunjuk pada
kemungkinan peristiwa inkarnasi. Hal ini jawaban atas sanggahan
bahwa hal itu mustahil dan terlihat adanya pertentangan dalam diri
sendiri. Andaikan pengarang memasukkan dirinya dalam cerita
yang sedang ditulisnya, ia berperan sebagai salah satu tokohnya.
Tokoh ini akan memiliki dua sifat dan boleh dikatakan ia harus
“turun dari surga”—yaitu surga pikiran pengarang—tetapi ia akan
berperan sebagai tokoh manusia yang berinteraksi dengan tokoh-
tokoh lainnya dalam cerita itu. Hal ini bisa dilakukan, mengapa
Allah tidak bisa melakukannya?178
Selain alasan di atas, ada alasan yang lebih bersifat positif
yang mengantar kita pada argumentasi logis yang sangat se­
derhana. Apabila ada pribadi yang patut disebut sebagai “Allah”,
pribadi itu harus Mahakuasa, yakni sanggup melakukan apa saja
yang secara intrinsik mungkin, segala sesuatu yang bermanfaat
dan tidak berkontradiksi dalam dirinya sendiri. Peristiwa inkarnasi
merupakan mukjizat atau supernatural. Meskipun bersifat mukji­
zat atau supernatural, hal ini bukanlah sesuatu yang mengandung

177
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup,2000), 201
178
Ibid, 203

Apologetika Kristologi 223


pertentangan dalam dirinya. Oleh karena itu, inkarnasi itu adalah
sesuatu hal yang mungkin.
Sekarang, kita beralih dari pembahasan mengenai ke­
mungkinan doktrin inkarnasi pada keuikan-keunikan Yesus, bu­kan
sekadar kemungkinan yang menyangkut keilahian Yesus Kristus.
Apabila Allah menjadi manusia (inkarnasi), Dia tentu memiliki
keunikan yang tidak dimiliki orang lain. Pertama,inkarnasi. Kita
mulai dengan inkarnasi Allah dalam Yesus. Firman kekal atau Putra
Allah “menjadi daging”, mengambil kemanusiaan untuk diri-Nya.
Sebagai seorang manusia, Dia hidup sebentar di bumi. Akibatnya,
manusia melihat kemuliaan-Nya dan dengan melihat Dia, mereka
melihat Bapa (Yoh. 1:14,18; 14:9).
John Stott mengatakan, “melalui Putra-Nya yang berin­
karnasi, Bapa memberikan penyataan historis tentang diri-Nya
kepada dunia.” Orang Yahudi menolak ini, demikian pula agama
lain sebab mereka mempunyai gagasan bahwa Allah tidak beranak
atau mempunyai anak.
Ada gagasan yang hampir sama dengan inkarnasi dalam
kekristenan, yaitu reinkarnasi (konsep Hinduisme). Kedua
konsep ini berbeda secara mendasar. Reinkarnasi berbicara ke­
la­hiran ulang berkali-kali (dan masing-masing kelahiran ber­­
sifat sementara). Kristen menegaskan bahwa dalam Yesus dari
Nazaret, Allah menja­­di manusia (inkarnasi) sekali, untuk se­
mua, dan selamanya. Inkarnasi adalah kejadian historis dan
tidak terulang. Kini, Yesus memerin­tah di sebelah kanan Allah
Bapa—dan sekarang adalah manusia Yesus masih manusia dan
juga ilahi, walaupun kemanusiaan-Nya sekarang telah dimuliakan,
“Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan
melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa
dan datang di atas awan-awan di langit” (Mat. 26:64). Setelah
berinkarnasi menjadi manusia, Dia tidak membuangnya dan tidak
akan pernah membuangnya. Kita akan melihat-Nya, “Pada waktu

224 Apologetika
itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa
di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu
datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan
kemuliaan-Nya” (Mat. 24:30).
Kedua, pendamaian. Tujuan inkarnasi adalah pendamaian,
kelahiran-Nya untuk kematian-Nya. Yesus berkata, “Sama seperti
Anak Manusia datang (Kristus) bukan untuk dilayani, melainkan
untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebus­
an (pendamaian) bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Bahkan nama
Yesus memberikan kesaksian tentang penyelamatan Allah—Dialah
yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat. 1:21). Oleh
karena itu, tepatlah dikatakan bahwa kekristenan adalah agama
penyelamat dalam hakikinya dan penyelamatan itu dilaksanakan
dengan harga yang amat mahal (1 Kor. 6:20; 1 Ptr. 1:18–19).
Ketiga, kebangkitan. Kebangkitan adalah unik. Kebangkitan
Yesus adalah awal dari pemuliaan-Nya sebagai Tuhan (Flp. 2:9).
Dia “di kanan Allah Bapa” adalah simbol tempat kehormatan dan
otoritas tertinggi. Yesus layak disembah sebab otoritas-Nya terting­
gi. Dia mampu menyelamatkan manusia dengan mengampuni
dosa manusia dan menganugerahkan Roh-Nya kepada manusia
(Kis. 2:33,38). Roh Kudus “bersaksi” tentang Kristus sehingga
orang percaya kepada Dia (Yoh. 15:26). Dengan demikian, tidak
ada klaim-klaim sebanding yang dibuat oleh tokoh-tokoh agama
apa pun di dunia ini.
Jadi, inilah ketiga keunikan Yesus. Secara historis, keunikan
terletak pada kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Secara theo­
logis, keunikan-Nya terletak pada inkarnasi, pendamaian, dan
pemuliaan-Nya. Hanya ada satu jalan (Yoh. 14:6), nama (Kis. 4:12),
dan perantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus (1 Tim. 2:5–6).
Hanya Dia yang adalah Allah—manusia yang menyerahkan diri-
Nya sebagai tebusan untuk manusia. Oleh karena itu, Dia menjadi
pengantara antara Allah dan manusia. Inilah keunikan sekaligus

Apologetika Kristologi 225


finalitas Yesus—Tuhan dan Juruselamat kita. Yesus adalah satu-
satunya Juruselamat. Kita berkewajiban memproklamirkan Dia ke
mana-mana (Mat. 28:18–20). Namun, tugas kita lebih dari sekadar
memproklamirkan Dia, tetapi juga meyakinkan orang (2 Kor. 4:5;
5:11). Inilah tugas penginjilan dan apologetika. Seperti halnya para
Rasul mengajarkan, meyakinkan, dan membela kebenaran ini,
Kita pun harus demikian! Alex McFarland menambahkan bahwa
secara umum kita bisa mengatakan bahwa Yesus adalah unik di
atas semua orang berdasarkan lima karakteristik: kedatangan-
Nya yang dinubuatkan, kelahiran-Nya yang bersifat supernatural,
perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, pengajaran-Nya yang ber­
beda, dan tindakan-tindakan-Nya yang dipertegas.
Untuk menjawab pertanyaan ini, “Apabila Allah menjadi
manusia, apakah Dia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh
orang lain? Ada argumentasi filosofis yang harus dijawab. Namun,
kita harus terlebih dahulu menjawab suatu pertanyaan lain, yaitu
mengapa Allah mau menjadi manusia.
Bagaimana manusia yang serba terbatas seperti kita ini
dapat memahami Allah yang tidak terbatas? Sangatlah sulit bagi
kita untuk memahami hal-hal abstrak seperti kebenaran atau
kebaikan kalau kita tidak memiliki contoh yang tampak oleh
mata kita. Bagaimana orang dapat mengerti seperti apa Allah
itu? Sampai tahap tertentu, kita dapat mengenal Allah jika Allah
mewujudkan diri-Nya dalam bentuk yang bisa dipahami manusia
(makhluk yang terbatas), yaitu menjadikan diri-Nya manusia. Kita
perlu memahami bahwa walaupun dalam wujud manusia, Dia
tidak akan dapat menyatakan sifat-Nya yang kekal dan Mahahadir.
Namun, Dia dapat secara kelihatan menyatakan sifat-sifat-Nya.
Inilah berita yang disampaikan Alkitab bahwa dalam Yesus
“berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keallahan” (Kol.
2:9). Yesus menjadi manusia supaya manusia dalam batas-batas
tertentu dapat memperoleh pengertian tentang Allah yang tidak

226 Apologetika
terbatas. Bagaimanakah cara terbaik Allah untuk berkomunikasi
dengan manusia? Hanya dengan menjadi manusia sehingga Dia
dapat berhubungan langsung dengan manusia. Itulah cara terbaik
apabila Allah ingin berkomunikasi dengan manusia. Ini adalah
alasan pertama Allah mau menjadi manusia.
Kedua, menjembatani jurang pemisah antara Allah dan
manusia. Demikianlah argumen filosofis yang diberikan Josh
McDowell dan Bart Larson.179 Seandainya Yesus “hanyalah” seorang
manusia atau makhluk ciptaan, jurang pemisah antara Allah dan
manusia—antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, Pencipta
dan ciptaan, Yang Kudus dan tidak kudus—akan tetap ada. Supaya
manusia dapat mengenal Allah, Allah harus turun ke dunia
(menjadi manusia). Dengan cara itu, Dia membuka jalan supaya
semua orang dapat mengenal Dia.
Setelah kita menjawab pertanyaan alasan Allah mau menjadi
manusia, sekarang, kita dapat mulai menjawab pertanyaan paling
utama. Jika Allah benar-benar menjadi manusia, seperti apakah
Dia.
1. Kelahiran-Nya dengan cara yang luar biasa.
Yesus lahir dari perawan (Maria) dicatat di Injil Matius 1:18,20,23
dan Lukas 1:27,34. Hal itu sesuai nubuat Perjanjian Lama,
yaitu Yesaya 7:14 yang menyatakan, “...Sesungguhnya, seorang
perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang
anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Nubuat
ini sangat spesifik karena menyinggung tentang seorang
perempuan muda (perawan).180
Nubuat kelahiran dari anak dara sudah dikumandangkan
tujuh abad sebelum Kristus lahir. Hal ini sangat cocok dengan

179
Josh McDowell dan Bart Larson, Adakah yang Mustahil bagi Allah?Allah
menjadi Manusia (Bandung: Literatur Baptis, 2000), 19.
180
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002), 182,
192.

Apologetika Kristologi 227


nubuat yang sudah ada sebelumnya. Dalam Kejadian 3:15,
Allah mengatakan bahwa keturunan perempuan itu akan
meremukkan kepala ular, “Aku akan mengadakan permusuhan
antara engkau (ular = Iblis) dan perempuan ini (Hawa), antara
keturunanmu dan keturunannya; keturunannya (benih Hawa)
akan meremukkan kepalamu (ular = Iblis), dan engkau akan
meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Jadi, Sang Juruselamat ber­asal
dari keturunan (benih) wanita, bukan keturunan (benih) pria.
Hal ini tergenapi bahwa benih perempuan akan meremukkan
kepala ular—Iblis benar-benar takluk di bawah kaki Yesus,
“Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia
membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu” (1 Yoh. 3:8b).
Selain itu, kelahiran-Nya merupakan “pertanda” dari “Tuhan
sendiri” (Yes. 7:14). Matius ketika mengutip nubuat Yesaya
7:14 menurutnya telah terpenuhi dalam kelahiran Yesus oleh
perawan. Memang kata perempuan muda bisa memiliki dua
kemungkinan. Pertama, perempuan yang masih gadis dan
belum disentuh laki-laki serta usianya masih muda. Kedua,
perempuan muda bisa berarti perempuan yang sudah bersuami,
tetapi usianya masih muda. Oleh karena sudah bersuami, ia
pasti tidak perawan lagi. Keperawanan dalam bahasa Ibrani
ditunjukkan oleh dua kata, yaitu:181
a. Bethulah—arti sesungguhnya menunjukkan gadis yang
masih perawan (Kej. 26:16; Im. 21:13; Ul. 22:14, 23, 28; Hak.
11:37; 1 Raj. 1:2).
b. Almah (berkerudung)— perempuan muda yang sudah
pantas menikah. Inilah kata yang dipakai dalam Yesaya7:14.
Septuaginta (Alkitab Perjanjian Lama bahasa Ibrani
diterjemahkan ke bahasa Yunani) menerjemahkan kata
almah dalam bahasa Yunani dengan kata parthenos. Da­
lam bahasa Yunani, keperawanan ditunjukkan dengan

181
Ibid, 234.

228 Apologetika
kata parthenos—seorang wanita muda yang sudah pantas
menikah dan masih perawan (Mat. 1:23; 25:1,7; Luk. 1:27; Kis.
21:9; 1 Kor. 7:25,28,33; 2 Kor. 11:2). Jadi, belum pernah menikah
atau masih perawan.
Kita perlu menjernihkan maksud dengan kelahiran dari
perawan. Menurut John Stott, istilah ini menyesatkan sebab
menunjukkan ada sesuatu yang tidak wajar tentang kelahir­
an Yesus, sedangkan kelahiran-Nya sama sekali normal dan
alami. Proses kehamilan bayi Yesuslah yang tidak normal,
memang supernatural sebab Dia dikandung oleh karya
Roh Kudus, tanpa kerjasama ayah manusia.182 Para penulis
Injil, khususnya Matius dan Lukas, menyatakan hal yang
mereka tulis adalah sejarah, bukan legenda. Kedua penulis
ini memberi kesaksian dengan jelas keperawanan Maria.
Faktanya, ketika Maria menjadi hamil, ia bertunangan, tidak
menikah, dengan Yusuf. Ketika Yesus lahir, ia masih tetap
perawan. Setelah Yusuf menikahi Maria, ia adalah ayah Yesus
secara hukum.
Pertanyaan para pengkritik Alkitab berikutnya, “Jika
diakui bahwa Matius dan Lukas memercayai bahwa Maria,
ibu Yesus, adalah perawan, mengapa Markus dan Yohanes
tidak mengatakan demikian?” Markus dan Yohanes tidak
menceritakan apa pun tentang masa kecil Yesus, tetapi kita
tidak bisa menyimpulkan dari hal ini bahwa Yesus tidak
pernah mempunyai masa kanak-kanak. Sejatinya, ada
bukti secara tidak langsung bahwa Yohanes mengetahui
dan percaya kelahiran perawan. Mari kita memerhatikan
pernyataan-pernyataan Yohanes dalam awal Injilnya. Ia
mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam
di antara kita” (Yoh. 1:14), tetapi juga pernyataan yang
berulang-ulang bahwa Yesus “datang dari atas”, “turun dari

182
John Stott, Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 1989), 66

Apologetika Kristologi 229


surga”, “diutus oleh Bapa”, dan “datang ke dunia”. Hal-hal ini
terwujud hanya dengan intervensi supernatural
Kita telah memerhatikan bahwa kelahiran Yesus tidak
ditonjolkan seperti kebangkitan-Nya dalam Perjanjian
Baru. Hal ini disebabkan penampakan kebangkitan-Nya
adalah di depan publik dan mempunyai saksi, sedang
kelahiran perawan pada dasarnya bersifat pribadi dan tidak
disaksikan. Reaksi Maria kepada malaikat itu, ”Bagaimana
hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk.
1:34). Jawaban Maria terhadap pengumuman malaikat itu
membuat kita kagum, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba
Tuhan,“. Lebih lanjut ia berkata, “Jadilah padaku menurut
perkataanmu ini.” Maria mengungkapkan kesediaan totalnya
untuk dipakai menjadi ibu perawan Putra Allah. Hal ini
adalah hak istimewa baginya: “Yang Maha Kuasa telah
melakukan perbuatan-perbuatan besar padaku” (Luk. 1:4a).
Sesungguhnya, kita juga memerlukan keberanian
Maria. Dia merelakan dirinya bagi Allah untuk menggenapi
tujuan-Nya sehingga ia siap menanggung risiko menerima
noda sebagai ibu yang tidak menikah, dianggap pezina, dan
melahirkan anak haram. Maria menyerahkan reputasinya
kepada kehendak Allah. Bagi saya, kerendahhatian dan
keberanian Maria dalam menyerahkan diri pada kelahiran
perawan berbeda jauh dengan sikap kritikus yang meng­
ingkari atau menyangkal mukjizat kelahiran perawan. Allah
memilih melakukan ini dengan kelahiran perawan sesuai
nubuat Perjanjian Lama (khususnya Kej. 3:15 dan Yes. 7:14).
John Stott mengajak kita menanyakan asal-usul ceri­ta
kelahiran perawan. Narasi Matius dan Lukas memiliki inti
yang sama. Mereka memandang kandungan Maria berasal
dari Roh Kudus, bukan Yusuf. Mereka menekankan pada ma­
salah kebingungan yang disebabkan oleh keperawanannya.

230 Apologetika
Narasi mereka berdua independen dan saling melengkapi
(diceritakan dari perspektif yang berbeda). Lukas menuliskan
pengumuman malaikat Gabriel bahwa Maria akan menjadi
ibu Yesus dan kebingungan Maria tentang bagaimana ia bisa
menjadi ibu sedang ia belum menikah. Sebaliknya, Matius
menuliskan bagaimana Yusuf mengetahui kehamilan Maria
dan kebingungannya, keputusannya untuk menceraikan
Maria sebab anak Maria bukan anaknya. Mimpinya menya­
takan bahwa Allah menyuruh ia mengambil Maria sebagai
istrinya. Akhirnya, fakta-fakta itu pasti berasal dari Maria
dan Yusuf, baik dalam bentuk tulisan atau lisan. Bukti
internal menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru, kita
memiliki dua kisah yang asli, awal, terpisah tentang kelahir­
an perawan.183

2. Dia harus tanpa dosa


Yesus bersaksi akan diri-Nya dengan berkata, “Siapakah di
antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” Yesus
menantang mereka yang mendakwa-Nya untuk membuktikan
bahwa Dia tidak berdosa. Selanjutnya, Yesus berkata, “Aku
senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8:29).
Tidak ada satu ayat pun di Alkitab yang menuliskan bahwa
Yesus pernah memohon pengampunan atas dosa-dosa-Nya
karena memang Dia tidak berdosa. Para rasul bersaksi bahwa
Yesus tidak berdosa, “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak
ada dalam mulut-Nya” (1 Ptr. 2:22). Rasul Yohanes mengatakan,
“Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya
Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa” (1
Yoh. 3:5). Yudas pun setelah mengkhianati Yesus menyadari dan
sangat menyesal karena ia telah “menyerahkan darah orang yang
tak bersalah” (Mat. 27:3–4). Paulus juga memberi kesaksian

183
John Stott, Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 1989), 70.

Apologetika Kristologi 231


tentang ketidakberdosaan Yesus, “Dia yang tidak mengenal
dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam
Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Semua musuh-Nya
yang berusaha mengajukan tuduhan agar dapat membuktikan
kesalahan-Nya tidak berhasil (Mrk. 14:55–56).
Muncul pertanyaan, apakah selama rahim Maria me­
ngandung Yesus, ada pertukaran darah Maria dengan darah
Yesus? Firman Tuhan dengan tegas mengatakan:

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam.


Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah
jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia
Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang
karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” (Rm. 5:15)

Jika darah Yesus tercampur dengan darah Maria, hal itu berarti
Yesus mewarisi dosa—pelanggaran Adam. Tegas, tidak ada
pertukaran darah Maria dengan darah Yesus. Darah janin dalam
kandungan ibu tidak bercampur langsung dengan darah ibu.
Hal ini berarti darah Yesus adalah murni dan suci dari Roh
Kudus. Darah Yesus tidak terkait setitik pun dengan darah
Adam.
Saya mengutip hasil penelitian Harold Schrock184 yang
menyatakan bahwa “selama bayi dalam kandungan, yang terjadi
pertukaran adalah zat nutrisi dari ibu ke janinnya. Sedangkan
darah ibu dan darah janin tidak tercampur sedikit pun.” Dari
penjelasan medis ini, kita memahami bahwa darah Yesus tidak
bercampur dengan darah Maria sebab Yesus lahir bukan karena
coitus (persetubuhan). Dia dikandung dari kuasa Roh Kudus
sesuai kesaksian Allah melalui Alkitab.

184
Harold Lolowang, Yesus Nazaret vs Yesus Makam Talpiot (Yogyakarta:
Andi, 2008), 93.

232 Apologetika
3. Kata-kata-Nya penuh kuasa
Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan-
Ku tidak akan berlalu” (Luk. 21:33). Mereka yang mendengar
pengajaran-Nya takjub (Luk. 4:32). Mereka berkata, “Belum
pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh. 7:46).
Nash mengatakan:

Jika Yesus itu Allah, pengajaran-Nya bukanlah tebakan atau


semata-mata hasil spekulasi manusia; perkataan Yesus adalah
Firman Allah. Ini maksudnya bahwa memang benar-benar ada
wahyu khusus ilahi di mana Alah menyatakan kebenaran-Nya
kepada manusia. Selain itu, jika Yesus adalah Allah, kita memiliki
lebih dari sekadar wahyu Allah dalam bahasa manusia. Allah
telah menyatakan diri-Nya—pribadi-Nya, sifat-Nya, karaker-
Nya—dalam cara hidup. Mengenal pengajaran Yesus berarti
mengenal pengajaran Allah; mengenal karakter Yesus berarti
mengenal karakter Allah; percaya kepada Yesus berarti percaya
kepada Allah; mengenal Yesus berarti mengenal Allah!185

4. Dia dapat memuaskan dahaga rohani manusia.


Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku
dan minum!” (Yoh. 7:37) sebab, “Barangsiapa minum air yang
akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-
lamanya” (Yoh. 4:14); “Akulah roti hidup; barangsiapa datang
kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya
kepada-Ku ia tidak akan haus lagi!” (Yoh. 6:35). Itulah sebabnya,
Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat.
11:28). Ia juga berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.
Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Ku­
berikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.
Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

185
Ronald H.Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 413–414.

Apologetika Kristologi 233


5. Dia mempunyai kuasa atas kematian.
Yesus tidak pernah dipaksa untuk menyerahkan nyawa-Nya,
tetapi Dia yang menyerahkan nyawa-Nya sebab Dia mempunyai
kuasa untuk melakukan hal yang Dia mau (Mat. 26:53–54).
Yesus berkata, “...Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa
mengambilnya kembali” (Yoh. 10:18). Yesus bukan hanya me­
nu­buatkan kematian-Nya, tetapi Dia juga menubuatkan ke­
bangkitan tubuh-Nya, “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari
Aku akan mendirikannya kembali.” Di sini, hal yang dimaksud
dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya (Yoh. 2:19). Kebangkitan
tubuh-Nya adalah fakta yang paling baik terbukti dalam sejarah.
Hanya Dia saja, di antara semua orang yang pernah hidup, yang
mengalahkan maut. Yesus telah bersabda, “Akulah kebangkitan
dan hidup”. “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup” (Yoh.
11:25; 14:19). Penulis Ibrani juga mengatakan bahwa Yesus hidup
(Ibr. 13:8).

C. Kebangkitan Yesus
Apakah itu terjadi? Mukjizat terbesar dalam Alkitab adalah ke­
bangkitan. Oleh karena itu, banyak sekali yang mencoba mem­
bantah kenyataan ini. Salah satunya argumen yang menga­takan
bahwa bukan tubuh Yesus sebenarnya yang bangkit, melainkan
hantu. Kalau argumen ini benar, inilah kisah hantu terbesar yang
sanggup mengubah murid-murid pengecut menjadi para rasul
yang berapi-api, bahkan rela menjadi martir. Tidak mungkin para
murid Yesus percaya pada kebangkitan Guru mereka kalau tubuh-
Nya masih tergeletak dalam kubur. Hal ini sama tidak masuk
akalnya bila beranggapan bahwa para murid telah mencuri tubuh-
Nya dan membuat cerita bohong.
Argumen yang lain mengklaim pengakuan bahwa para murid
mengalami halusinasi yang sedemikian parah sehingga menyang­
ka melihat Yesus. Kenyataanya, keadaan murid-murid sedang

234 Apologetika
jauh dari kondisi yang memungkinkan halusinasi. Namun, jika
semua yang dihadapi ini merupakan halusinasi, kita tetap harus
menjelaskan kenyataannya bahwa tubuh Yesus telah ditempatkan
di suatu tempat yang tertutup, tersegel, dan dijaga telah hilang.
Lagipula, halusinasi tidak menular. Kalau hanya satu atau dua
orang yang mengatakan “melihat” Yesus, artinya masih mungkin
untuk mengatakan bahwa “pengalaman” mereka ini halusinasi.
Teori halusinasi gagal menjelaskan hilangnya tubuh Yesus. Ada
beberapa argumen yang menyanggah teori ini, yaitu:
Pertama, tidak hanya satu orang, tetapi banyak orang, telah
melihat Yesus menampakkan diri. Kedua, mereka melihat-Nya
tidak sendiri-sendiri, tetapi secara bersama-sama. Ketiga, mereka
melihat-Nya tidak hanya sekali, tetapi berulang kali. Keempat,
mereka tidak hanya melihat, tetapi mereka juga menyentuh-Nya,
bahkan berbicara dengan Dia.
Berkaitan dengan teori yang menyatakan bahwa para murid
mencuri tubuh Yesus dan kemudian mengarang cerita tentang
kebangkitan, Nash mengatakan demikian:

Teori ini memerlukan sekumpulan orang yang berkemauan keras


untuk mulai merencanakan suatu plot cerita bahkan pada saat
sementara tubuh Yesus sedang akan dikubur. Cerita yang benar
adalah para murid begitu ketakutan dan bingung dari musuh-
musuh mereka. Kematian Yesus melemparkan mereka dalam
keputusasaan yang mendalam.186

Teori yang mengatakan mayat-Nya dicuri oleh murid-Nya atau


musuh-Nya, untuk membuktikan kebohongan-Nya, tidaklah benar.
Kalau demikian, mereka hanya perlu mempertontonkan tubuh-
Nya. Mereka tidak melakukannya karena tidak bisa melakukannya!
Akhirnya, dalam keputusasaan para kritikus menuding para

186
Ronald H.Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 416.

Apologetika Kristologi 235


murid-Nya menyembunyikan mayat-Nya. Percuma, karena me­
reka tidak bisa menjelaskan bagaimana para murid penakut yang
bersembunyi, mendadak beraksi bak jagoan mengalahkan tentara
Romawi penjaga makam, berani merobek segel Kaisar, dan tampil
membuat pernyataan yang menggemparkan seluruh Israel dan
dunia?
Ada juga yang mengatakan bahwa Yesus hanya pingsan atau
kehilangan kesadaran pada waktu di kayu salib. Orang hanya bisa
menganggap alternatif ini sebagai salah satu contoh pemikiran
khayal yang berasal dari sudut pandang orang skeptis. Jelas,
tidak mungkin orang Romawi mengizinkan Yesus yang masih
hidup diturunkan dari kayu salib. Teori pingsan yang sangat
terkenal ini berasumsi bahwa orang Romawi tidak begitu cakap
sehingga mengizinkan Yesus yang masih hidup itu diserahkan
kepada rekannya. Di samping efek-efek yang menyiksa pada saat
penyaliban, yang tidak hanya termasuk luka paku, tetapi juga
terlepasnya tulang-tulang sendi dan akhirnya ketidaksanggupan
untuk menarik napas, Yesus juga menderita luka tusukan tombak
pada lambung-Nya. Meskipun luka ini tidak membunuh Dia, teta­
pi kenyataannya mengatakan bahwa Yesus ternyata sudah mati.
John Stott menganggap teori pingsan ini tidak masuk akal:187

Bahwa setelah kekerasan dan pengadilan yang menyakitkan,


hinaan, deraan, dan penyaliban Dia bisa bertahan hidup tiga
puluh enam jam dalam sebuah kubur dengan tanpa udara yang
hangat tanpa makanan dan tanpa perawatan medis? Bahwa Dia
kemudian dapat cepat menjadi sembuh dan melakukan perbuatan
luar biasa, yaitu memindahkan batu besar yang menutup mulut
kubur, tetapi tanpa mengganggu prajurit Romawi? Bahwa
kemudian, dengan kemelahan, kesakitan, dan kelaparan-Nya,
Dia sanggup menampakkan diri kepada murid-murid-Nya
untuk memberi mereka kesan bahwa Dia telah menaklukan
kematian? Bahwa Dia terus mengklaim bahwa Dia telah mati

187
Ibid, 418.

236 Apologetika
dan bangkit, serta dapat mengutus mereka ke seluruh dunia lalu
berjanji untuk menyertai mereka sampai akhir zaman. Bahwa
Dia hidup di suatu tempat dan bersembunyi selama empat puluh
hari, membuat penampakan yang mengejutkan, dan akhirnya
kemudian menghilang tanpa adanya satu penjelasan?

Semua teori mereka lenyap bagaikan kabut diterpa angin.


Teori-teori mereka hanya akan menimbulkan tanda tanya besar
selama mereka tidak menyerah pada kenyataan sebenarnya, Yesus
sungguh-sungguh bangkit.
Kembali pada pertanyaan di atas: Apakah Yesus “bangkit
dari kematian” sehingga tubuh-Nya diubahkan dan kubur-Nya
dikosongkan? Marvin Pate dan Sheryl Pate mengutip pernyataan
William Lane Craig mengatakan demikian:

Baik orang-orang percaya maupun orang-orang yang belum


percaya memahami bahwa prinsip dasar iman Kristen adalah
kebangkitan Yesus. Tidak ada sikap netral dalam perdebatan ini:
kekristenan berdiri kokoh atau runtuh berdasarkan kebenaran
kebangkitan Yesus. Jika kebangkitan Yesus tidak terjadi, ke­
kristenan tidak berbeda dari agama apa pun.188

Apakah yang dipercayai dan diajarkan oleh para rasul ten­


tang kebangkitan Yesus?John Stott mengatakan demikian:189

Kematian dan kebangkitan Yesus merupakan inti dari pesan para


rasul sehingga baik pemimpin-pemimpin Yahudi di Yerusalem
dan Filsuf Yunani di Athena memahami doktrin khas mereka
menghubungkan “Yesus” dan “kebangkitan” (Kis. 4:2; 17:18).

188
C. Marvin Pate dan Sheryl Pate, Disalibkan oleh Media: Fakta dan Fiksi
tentang Yesus Sejarah (Yogyakarta: Andi, 2010), 194.
189
John Stott, Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 189), 39.

Apologetika Kristologi 237


Selanjutnya, Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mengatakan
demikian:190

Setiap khotbah yang disampaikan oleh setiap orang Kristen


dalam Perjanjian Baru terpusat pada kebangkitan. Injil atau
“kabar baik” pada dasarnya berarti kabar tentang kebangkitan
Kristus.

Nash turut menegaskan tentang Kebangkitan Yesus:191

Kebangkitan merupakan peristiwa sentral dalam Perjanjian Ba­ru.


Kulminasi setiap Injil adalah Kebangkitan; Kebangkitan bukan
hanya merupakan sesuatu yang dilekatkan pada akhir cerita
kehidupan Yesus. Lebih dari itu, kehidupan Yesus dihadirkan
sebagai persiapan kematian-Nya dan diiukuti oleh kebangkitan.
Khotbah Petrus pada hari Pentakosta, hari lahir gereja Kristen,
menekankan berulang-ulang bahwa Yesus yang mati di kayu
salib telah bangkit dari kematian oleh kuasa Allah.

Jelas bahwa kebangkitan Kristus adalah benteng utama


dari iman Kristen. Paulus secara berulang kali menerangkan
keberubahannya pada kekristenan sebagai akibat ia bertemu
dengan kebangkitan Yesus. Paulus berkata, “Jika Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu” (1 Kor. 15:14).
Paulus menjelaskan akibat jika Yesus tidak dibangkitkan, atau jika
Yesus tidak memiliki kuasa atas maut, iman Kristen tidak lebih dari
kekosongan belaka, pengharapan palsu sehingga orang Kristen
tetap terikat dalam keadaannya yang berdosa secara permanen,
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan
kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor. 15:17).

190
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op.Cit. 233.
Ronald H.Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
191

Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 415.

238 Apologetika
Bagi murid-murid-Nya yang pertama, A. M. Ramsey menulis,
“Injil tanpa kebangkitan bagaikan Injil tanpa bab akhirnya; Injil
tanpa kebangkitan bukanlah Injil sama sekali ... Theisme Kristen
adalah theisme kebangkitan.”192John Sott menjelaskan demikian:

Kekristenan adalah Kristus. Pribadi dan karya Kristus merupakan


batu yang di atasnya agama Kristen didirikan. Jika Dia bukan
seseorang yang Dia katakan, dan Dia tidak melakukan hal yang
Dia katakan sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya, dasarnya
pasti rusak dan keseluruhan superstrukturalnya akan runtuh.
Mencabut Kristus dari kekristenan, berarti Anda sedang
mengeluarkan isi perut seseorang; secara praktis tidak ada yang
tersisa. Kristus merupakan inti kekristenan; yang lainnya adalah
kelilingnya.193

Berarti jatuh bangunnya agama Kristen bergantung pada


kebenaran akan kebangkitan. Sebaliknya, jika Yesus sungguh-
sungguh bangkit dari antara orang mati seperti dikatakan Paulus
dalam 1 Korintus 15:12–20, iman Kristen secara khas benar, dosa-
dosa kita diampuni, dan pada suatu hari kita akan dibangkitkan
dari kematian untuk bergabung dengan orang-orang terkasih yang
telah mendahului kita. Semua ini membawa makna kekal dalam
kehidupan kita sekarang ini. Singkatnya, kebangkitan seperti
memiliki sebagian surga di bumi.
Alex McFarland berkata: “Bukti terbesar dari keunikan Yesus
adalah tubuh kebangkitan-Nya.”194 Oleh karena itu, jelas, fakta—
kebenaran akan kebangkitan merupakan sebuah pertanyaan
sentral. Dengan jelas sekali, siapa saja yang ingin menyangkal
kekristenan pasti akan mendiskreditkan kesejarahan peristiwa
ini. Bagi mereka yang menolak kebenaran akan kebangkitan-Nya,

192
Ibid.
193
Ibid, 442.
194
Alex McFarland, Apologetika Volume 4 (Malang: Gandum Mas, 2012),
102.

Apologetika Kristologi 239


mungkin hal ini satu-satunya tiket dalam kesengsaraan kekal yang
tidak terkirakan.
Jadi, pertanyaannya jelas dan taruhannya tinggi, “Apakah
Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati?” Di sini kita
berusaha untuk menjawab pertanyaan itu dengan pernyataan yang
menyetujui yang memberikan bukti umum untuk kebangkitan
jasmaniah Yesus. Tiga bukti umum adalah kubur yang kosong,
penampakan Yesus paska kebangkitan, dan data-data lainnya yang
secara kolektif membuktikan kebangkitan Yesus.

1. Kubur kosong
Yesus berulang kali berkata kepada para murid-Nya bahwa
Dia akan bangkit kembali dari orang mati, pada hari ketiga setelah
disalibkan. Matius 16:21, “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan
kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan
menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam
kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada
hari ketiga” (lihat juga Mat. 17:9,22,23; 20:18–19; Mrk. 9;10; Luk.
9:22–27; Yoh. 2:18–22). Dia pun berkata, “Akan tetapi sesudah Aku
bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea” (Mat. 26:32). Tidak
ada tokoh agama apa pun yang berani mengatakan hal seperti itu!
Josh McDowell mengatakan bahwa Yesus bukan hanya
meramalkan kebangkitan-Nya, tetapi juga menegaskan bahwa
kebangkitan-Nya dari antara orang mati akan menjadi “tanda”
untuk membenarkan pengakuan-Nya sebagai Mesias. John Stott
menyatakan bahwa, “Yesus tidak pernah meramalkan kematian-
Nya tanpa menambahkan bahwa Dia akan bangkit kembali dan
menyebutkan kebangkitan-Nya yang akan terjadi itu sebagai
“tanda”.195

195
Josh McDowell, Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas, 2002),
285.

240 Apologetika
Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah. Pertama,
kesaksian Injil-injil. Cerita mengenai kubur yang kosong ditemu­
kan dalam Matius 28:1–8; Markus 16:1–8; Lukas 24:1–8; Yohanes
20:1–8 dan keterangan Paulus di 1 Korintus 15:3–4. Mengapa kisah-
kisah berikut ini ditulis kalau tubuh Kristus tidak benar-benar
diambil oleh Yusuf dari Arimatea? Matius 27:57–58 mengatakan,
“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea,
yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus
memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya” (lihat juga
Mrk. 15:42–45; Luk. 23:50–52; Yoh. 19:38).
Yesus benar-benar dikuburkan. Keempat Injil menuliskan,
“Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain
lenan yang putih bersih ...” (Mat. 27:59; Mrk. 15:46; Luk. 23:56a; Yoh.
19:38b–40). Mengapa kisah ini ditulis kalau persiapan penguburan
itu tidak dilakukan? Markus 16:1 dikatakan, “Setelah lewat hari
Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome
membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki
Yesus.” Ada saksi-saksi yang melihat ketika Yusuf dari Arimatea
mempersiapkan dan menguburkan mayat Yesus (Luk. 23:55; Mat.
27:61; Mat. 28:1; Mrk. 15:47).
Kedua, ironis bahwa para wanita adalah orang-orang per­
tama yang dijumpai oleh Yesus setelah Dia bangkit karena
pada abad pertama Masehi, para wanita tidak diizinkan untuk
memberi kesaksian hukum. Hal itu akan dipandang sebagai hal
yang memalukan bagi gereja mula-mula bahwa para saksi dari
kubur kosong adalah para wanita—Maria Magdalena, Maria
ibu Yakobusdan Yesus, Salome, yang mungkin merupakan istri
Zebedeus dan ibu Yakobus dan Yohanes. Namun, fakta ini berpe­
ran untuk membuktikan bahwa cerita kubur yang kosong benar-
benar terjadi dalam sejarah karena seandainya gereja mencipta­kan
cerita tersebut, gereja tentu saja akan memilih para pria, terutama

Apologetika Kristologi 241


sekali para murid Yesus, sebagai saksi pertama dari kubur yang
kosong.196
Ketiga, jika kubur Yesus tidak kosong, para pemimpin Yahudi
dan penguasa Romawi dapat dengan mudah membungkam pem­
beritaan Injil yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes pada masa-
masa gereja mula-mula (Kisah Para Rasul 1–7) dengan membawa
semua pihak yang terkait ke tempat Yesus dimakamkan. Tindakan
seperti itu akan membungkam kekristenan seketika itu juga.
Namun, faktanya, para pemimpin Yahudi dan para penguasa
Romawi tidak dapat melakukan hal itu sama sekali karena kubur
tersebut memang kosong.197
Jelas, mengenai kubur yang kosong adalah cerita sederhana
tanpa unsur-unsur legenda berdasarkan keterangan kitab-kitab
Injil dan keterangan Paulus. Origen pada awal abad ketiga Masehi
menyatakan: Orang tidak akan mempertaruhkan hidup mereka
dan mati sebagai martir untuk kebohongan (Kis. 7:60; 12:2).
Dan para murid Yesus tidak akan diubah secara total dari
orang-orang yang ketakutan menjadi martir-martir pemberani
seandainya Yesus tidak bangkit. Hanya pertemuan dengan Juru­
selamat yang telah bangkit dapat menimbulkan perubahan itu.

2. Penampakan Yesus paska kebangkitan-Nya


Peristiwa kebangkitan Yesus tidak ada saksi mata. Maksud­nya,
tidak ada orang yang menunggu di sisi jenazah Yesus dan melihat
langsung Yesus bangkit. Namun, ada peristiwa penampakan dari
Yesus yang sudah bangkit. Penampakan ini disaksikan oleh jemaat
mula-mula dan diwartakan secara lisan maupun tertulis.

C. Marvin Pate dan Sheryl Pate, Disalibkan oleh Media: Fakta dan Fiksi
196

tentang Yesus Sejarah (Yogyakarta: Andi, 2010), 195.


197. Ibid.

242 Apologetika
Bukti kedua setelah kubur yang kosong adalah klaim kitab-
kitab Perjanjian Baru bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati
tiga hari setelah Dia disalibkan dan dimakamkan, yang kemudian
menampakkan diri kepada orang lain. Tentang saksi-saksi ini akan
saya bahas detail berikutnya pada poin D.
Syukurlah, Allah tidak meninggalkan kita orang-orang per­
caya sendirian. Dia mengetahui bahwa kita membutuhkan “bukti”,
itulah sebabnya setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan
diri kepada para murid pada awal Minggu pagi (Mrk. 16:9; Mat.
28:9–10; Luk. 24:13–34). Dia menampakkan diri kepada Maria
Magdalena di dekat kubur di awal Minggu pagi (Mrk. 16:6–11;
Yoh. 20:11–18); dua pelancong di jalan menuju Emaus hari Minggu
tengah hari (Luk. 24:13–32); Petrus di Yerusalem sepanjang Minggu
siang (Luk. 24:34; 1 Kor. 15:5); para murid di ruang atas hari Minggu
malam (Luk. 24:36–43; Yoh. 20:19–25); sebelas murid di loteng
satu minggu kemudian (Yoh. 20:26–31; 1 Kor. 15:5); tujuh murid
yang mencari ikan di danau Galilea (Yoh. 21:1–23); sebelas murid
di gunung Galilea (Mat. 28:16–20); Tomas di mana Tomas berseru
kepada-Nya: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28) sehingga
ia berubah total setelah melihat Tuhan Yesus yang bangkit dari
kubur; Yakobus, saudara Yesus (1 Kor. 15:7); dan terakhir kepada
lebih dari 500 orang bersama-sama, sebagian besar dari mereka
masih hidup dan karena itu bisa memberikan kesaksian (1 Kor.
15:5–6). Selanjutnya, kenaikan-Nya ke surga di bukit Zaitun empat
puluh hari setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:44–49; Kis. 1:3–8).
Tantangan yang masuk akal yang dapat dikemukakan kepada
orang-orang yang skeptis adalah ini: Apabila memang dapat
dibuktikan bahwa Yesus benar bangkit dari kematian, apakah
Anda mau percaya kepada-Nya? Oleh karena apabila Dia benar-
benar bangkit, hal itu membuktikan bahwa pernyataan bahwa Dia
adalah Tuhan (dan bukan sekadar manusia biasa) adalah benar
karena kebangkitan dari kematian itu adalah hal yang melampaui
kekuasaan manusia; dan keilahiannya membuktikan kebenaran

Apologetika Kristologi 243


tentang segala sesuatu yang pernah diucapkan-Nya karena Allah
tidak dapat berdusta.198
Saya mengajak Anda menyimak pernyataan Paulus dalam 1
Korintus 15:3–4 dikatakan sebagai berikut:

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu


apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati
karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,bahwa Ia telah
dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang
ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan
diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.”

Di sini Paulus menjelaskan empat kejadian berturut-turut.


Pertama, “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan
Kitab Suci,” dengan demikian kematian-Nya adalah kejadian histo­
ris seperti telah dikatakan terlebih dahulu oleh Perjanjian Lama.
Kedua, “Dia telah dikuburkan”. Ketiga, “Dia telah dibangkitkan,
pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, “ dengan
demikian kebangkitan-Nya adalah tindakan ilahi (tidak “Ia telah
bangkit” tetapi “ Ia telah dibangkitkan”), “pada hari yang ketiga”
itu menunjuk suatu kejadian sejarah; dan “sesuai dengan Kitab
Suci” berarti telah diberitahukan atau dinubuatkan sebelumnya
dalam Perjanjian Lama. Keempat, “Dia telah menampakkan diri”
dengan kata lain, “Dia telah dilihat”. Paulus menguraikan sebanyak
enam kali peristiwa penampakan kebangkitan resmi yang utama:
tiga kepada para rasul secara perseorangan (Petrus, Yakobus, dan
Paulus), dua kepada kelompok rasul dan satu kepada lebih dari
lima ratus orang pada waktu yang sama. Sebab bila Kristus tidak
dibangkitkan secara objektif, Dia tidak akan bisa dilihat dengan
objektif.

198
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Op. Cit. 234

244 Apologetika
Sungguh, Yesus telah menampakkan diri secara jasmaniah
setelah kematian-Nya. Oleh karena itu, Maria Magdalena me­
nyentuh-Nya (Yoh. 20:11–18), Tomas juga menyentuh-Nya (Yoh.
20:26–31). Yesus makan bersama dengan para murid-Nya (Luk.
24:30,42,43; Yoh. 21:1–15). Para malaikat menjanjikan bahwa
kedatangan Yesus yang kedua kali akan dilakukan dengan cara
yang sama seperti kenaikan-Nya ke surga, yaitu dalam wujud
jasmaniah atau fisik pribadi (Kis. 1:3–8). Lukas 24:38–42, Yesus
meminta para murid-Nya untuk menyentuh-Nya dengan tepat
guna menyingkirkan pemikiran bahwa Dia adalah hantu atau
arwah.199
Berdasarkan uraian tersebut, kebenaran kejadian kebangkit­
an Kristus itu berdata dan berfisik. Kesimpulan apakah yang dapat
kita tarik? Catatan-catatan Injil itu menunjukkan dengan sangat
jelas bahwa mayat Yesus di kubur. Kalau Yesus tidak benar-benar
dikubur dalam kubur Yusuf (Mat. 27:59–60) tentu kisah tentang
kunjungan para wanita ke kubur Yesus itu tidak akan ditulis di
Injil. Termasuk alasan Petrus dan Yohanes pergi melihat kubur
Yesus setelah mendengar laporan para wanita itu (Luk. 24:12; Yoh.
20:3–8). Orang-orang Romawi dan orang-orang Yahudi tidak dapat
memperlihatkan mayat Yesus atau menjelaskan ke mana perginya.
Para serdadu tidak mungkin ketiduran ketika mereka sedang jaga.
A. B. Bruce menulis:

Hukuman yang lazim bagi yang tertidur pada waktu jaga adalah
hukuman mati. Dapatkah para serdadu disuap dengan uang
sebanyak apa pun untuk mengambil risiko sebesar itu?

Nash mengatakan bahwa karena takut dicuri oleh para


murid-Nya, Pontius Pilatus memerintahkan pengawal untuk

199
C. Marvin Pate dan Sheryl Pate, Disalibkan oleh Media: Fakta dan Fiksi
tentang Yesus Sejarah (Yogyakarta: Andi, 2010), 205.

Apologetika Kristologi 245


ditempatkan di sana untuk memastikan bahwa kubur Yesus
tersebut tidak diganggu dan aman. Melalui cara ini, musuh-musuh
Yesus membantu menjamin kredibilitas peristiwa kebangkitan
dengan menjaga kubur tersebut agar tidak seorang pun dapat
mencuri tubuh Yesus. Rasanya sulit dipercaya bahwa sekumpulan
prajurit yang diperintahkan untuk menjaga kubur gagal meriksa
terlebih dahulu kubur tersebut bahwa tubuh Yesus masih ada di
kubur itu.200
Yesus hidup. Dia telah bangkit dan naik ke surga. Memang
kita tidak mengetahui secara pasti cara Yesus dibangkitkan.
Tidak seorang pun yang menyaksikan peristiwa tersebut, hal yang
disaksikan hanyalah akibat-akibatnya (Yesus yang telah bangkit).
Dalam hal ini, kita tidak dapat menjelaskan tentang kebangkitan itu.
Kebangkitan itu tidak dapat diteliti atau diamati secara langsung.
Namun, berdasarkan data yang dapat diamati secara langsung,
kita dapat membedakannya dari mitos atau legenda. Kebangkitan
Yesus bukanlah mitos. Perjanjian Baru dengan jelas membedakan
kebangkitan Yesus ini dengan mitos dan legenda: ”Sebab kami
tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika
kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan
kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari
kebesaran-Nya” (2 Ptr. 1:16).

3. Bukti-bukti lain untuk kebangkitan


Marvin Pate dan Sheryl Pate mendaftar pertimbangan-
pertimbangan lain yang secara kolektif menunjukkan bahwa Yesus
bangkit secara jasmaniah setelah kematian-Nya:201

200
Ronald H.Nash, Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman yang
Rasional (Surabaya: Momentum, 2004), 418.
201
C. Marvin Pate dan Sheryl Pate, Disalibkan oleh Media: Fakta dan Fiksi
tentang Yesus Sejarah (Yogyakarta: Andi, 2010), 213.

246 Apologetika
- Pesan kekristenan menyebar dengan cepat
- Para murid diubahkan dari orang-orang yang patah sema­
ngat dan ketakutan menjadi para saksi yang berani (Mrk.
14:50,66–72; Yoh. 20:19).
- Pertobatan Paulus dari penganiaya jemaat menjadi pemberita
Injil mengasumsikan bahwa Yesus bangkit dari antara orang
mati.
- Para murid mulai merayakan hari pertama dalam satu
minggu, yaitu hari Minggu sebagai hari ibadah dan bukannya
hari Sabat (Sabtu).
- Baik orang Yahudi maupun orang Romawi pernah mem­
berikan bukti yang menyangkal kebangkitan Yesus.
- Orang-orang Kristen mula-mula, yang jauh lebih dekat
dengan peristiwa kebangkitan Yesus, percaya akan kebang­
kitan Yesus secara jasmaniah. Mereka percaya bahwa ke­
bangkitan Yesus adalah perubahan ilahi terhadap amar
putusan manusia.
- Gereja telah ada selama lebih 2.000 tahun

Ketiga fakta besar ini (kubur kosong, penampakan diri Yesus


kepada berbagai saksi mata, dan asal mula iman Kristen)—semua
mengarah pada kesimpulan yang tidak dapat dihindarkan lagi:
Yesus bangkit dari kematian. Asal mula iman Kristen tergantung
pada keyakinan akan peristiwa Kebangkitan.
Kesimpulannya? Yesus benar-benar bangkit dari antara
orang mati. Kekristenan berdiri kokoh atau runtuh berdasarkan
kebangkitan Yesus. Buktinya, bertentangan dengan para pendiri
agama-agama lainnya yang masih tergeletak di kubur mereka;
kekristenan adalah satu-satunya iman yang pendirinya mengalami
jalan hidup yang sama sekali berbeda. Hal ini adalah pemikiran
yang mengagumkan, pemikiran yang dijunjung tinggi oleh orang-

Apologetika Kristologi 247


orang Kristen dan yang memberikan harapan pasti untuk masa
depan.
Manusia tetap tidak mau percaya bukan karena kurangnya
bukti. Bukti-bukti sudah sangat cukup, tetapi mereka tetap
menolak kebangkitan. Dasarnya mereka bebal. Mengabaikan
catatan-catatan itu berarti menolak agama Kristen sebagai agama
historis. Sekarang keputusan terletak di tangan Anda. Bukti-bukti
itu sudah sangat jelas—Kristus benar-benar sudah bangkit. Seperti
yang dikatakan oleh malaikat, “Dia tidak berada di sini; Dia telah
bangkit.”

D. Saksi-saksi
Pengetahuan kita tentang Yesus dari Nazaret hampir semuanya
berasal dari Perjanjian Baru. Pernyataan para Rasul yang
berulang-ulang “kamu telah membunuh Dia, tetapi Allah telah
membangkitkan Dia”, para Rasul secara tetap mempertahankan
“dan kami adalah saksi-saksi”.
Lebih-lebih, oleh karena putusan yang dijatuhkan kepada
Yesus dengan penghukuman dan penyaliban-Nya di depan publik,
pembalikannya oleh kebangkitan-Nya juga harus bersifat publik
juga. Itulah sebabnya setelah Yesus dibangkitkan oleh Allah
Bapa, Dia menampakkan diri. Harus ada saksi-saksi yang bisa
memberi kesaksian, atas dasar bukti objektif bahwa kubur itu
kosong dan Yesus terlihat (menampakkan diri), bahwa Allah telah
membangkitkan Dia dari kematian.

Kisah Para Rasul1:9


“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan
oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.”

248 Apologetika
Kisah Para Rasul1:22
“Yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat
ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan
kami tentang kebangkitan-Nya.”

Kisah Para Rasul2:32


“Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami
semua adalah saksi.”

Kisah Para Rasul3:15


“Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh,
tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati;
dan tentang hal itu kami adalah saksi.”

John Stott202 menjelaskan, pertama, penulis-penulis Injil


mempunyai maksud yang serius, yaitu menjadi saksi. Memang,
tujuan utama seluruh Alkitab adalah menjadi saksi bagi Yesus
Kristus. Allah telah memberi kita (dalam Alkitab) kesaksian-Nya
sendiri tentang Anak-Nya, walaupun Dia memberikannya melalui
saksi-saksi manusia. Perjanjian Lama, kata Yesus, memberi
kesaksian tentang Dia (Yoh. 5:39). Perjanjian Baru mempunyai
tujuan yang sama berisi catatan Yesus yang diberikan oleh saksi-
saksi mata para Rasul dan mereka yang berhubungan dengan para
Rasul dalam masyarakat percaya awal. Apa yang Yohanes tuliskan
tentang Injilnya juga berlaku untuk bagian Perjanjian Baru lainnya.
Kata-kata dan tanda-tanda Yesus yang Yohanes catat adalah
“dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah,
dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-
Nya” (Yoh. 20:31). Setiap penulis Injil memiliki tujuan theologis
yang nyata untuk memenuhi tujuan penginjilan mereka. Matius

202
John Stott, Yesus Auntentik (Jakarta: Logos, 1989), 20–21.

Apologetika Kristologi 249


menyajikan Yesus sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama;
Markus, Yesus sebagai hamba Tuhan yang menderita; Lukas, Yesus
sebagai Juruselamat universal orang berdosa; dan Yohanes, Yesus
sebagai Logos (Firman) yang kekal atau Anak Allah.
Kedua, penulis-penulis Injil tidak hanya saksi, penginjil dan
theolog; mereka juga sejarawan. Perbuatan-perbuatan Allah Allah
yang besar dalam sejarah ini, para nabi dan para rasul menjadi
saksi. Mereka mencatatnya sebagai kejadian-kejadian sejarah.
John Stott menyatakan bahwa “sejarah yang dicatat Alkitab adalah
‘sejarah penyelamatan’ dan penyelamatan yang diproklamirkan itu
dicapai melalui kejadian-kejadian sejarah.”
Lukas memberikan garis besar tujuannya lebih lengkap pada
pendahuluan Injilnya:

“...Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang


peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,seperti yang
disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah
saksi mata dan pelayan Firman.Karena itu, setelah aku menyelidiki
segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku
mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur
bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu
yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk. 1:14).

Kita bisa menelusur keempat tahap yang digariskan oleh


Lukas. Pertama, “peristiwa-peristiwa” yang “telah terjadi di antara
kita”. Hal ini tidak diragukan adalah gambaran kejadian-kejadian
karier Yesus di dunia. Tidak hanya telah terjadi (berbicara secara
historis), tetapi kata kerja yang dipilih Lukas (berarti: digenapi)
menunjukkan bahwa kejadiannya adalah penggenapan dari janji-
janji Perjanjian Lama.
Kedua, peristiwa-peristiwa ini dilihat oleh para “saksi mata”
yang kemudian memberi kesaksian tentang hal yang mereka lihat
dan dengar. Kesaksian mereka tidak terbatas pada masa mereka.
Oleh karena itu mereka “menyampaikan” peristiwa-peristiwa ini

250 Apologetika
(sebagai tradisi) kepada generasi berikutnya, yang mereka sendiri
bukan saksi mata.
Ketiga, tradisi yang timbul dari para saksi mata semula tidak
tetap lisan, tetapi “banyak” telah berusaha “menyusun berita”
tentang hal yang telah terjadi. Ada kisah-kisah tertulis, termasuk
Lukas pun ikut berbuat demikian. Lukas telah “menyelidiki segala
peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya.” Lukas telah
memeriksa dari para saksi mata rasuli dan memeriksa secara
pribadi hal yang telah disampaikan kepadanya.
Keempat, Lukas mengemukakan tujuan penyelidikannya.
Hal itu adalah untuk memberikan manfaat bagi Teofilus, jelas
pejabat tinggi Roma (“Yang Mulia”), tampaknya petobat baru,
yang telah “diajar” tentang Yesus. Lukas menginginkan Teofilus
untuk “mengetahui” dengan pasti tentang hal yang telah diajarkan
kepadanya. Lukas percaya bahwa tulisannya cukup dapat diandal­
kan untuk membawa Teofilus dan yang lain pada kepastian tentang
Yesus. Dengan pasti, bahwa para saksi mata adalah orang-orang
jujur. Mereka bukan penipu. Mereka adalah saksi-saksi dan mereka
mengetahui persyaratan Perjanjian Lama yang keras bahwa para
saksi harus benar, tidak palsu.
Saya kira, tidak ada seorang pun yang lebih fasih daripada
Paulus dalam menyimpulkan konsekuensi menakutkan dari
mengingkari kebangkitan Yesus dalam pengertian historis— fisik.
Paulus memproklamirkan: Jika Kristus tidak dibangkitkan dari
antara orang mati, berarti para rasul itu saksi-saksi palsu, ajaran
mereka dan iman kita sama sia-sianya, kita masih dalam dosa-
dosa kita, orang Kristen yang mati binasa, dan orang Kristen yang
masih hidup harus dikasihani lebih daripada setiap orang lain (1
Kor. 15:14–18).
Itulah sebabnya John Stott mengatakan bahwa gereja mem­
punyai tugas apologetika pada setiap zaman untuk membela dan
mendemonstrasikan keandalan dokumen-dokumen yang menjadi

Apologetika Kristologi 251


fondasinya. Kita bisa menantang zaman kita untuk membaca
Perjanjian Baru.

E. Sanggahan Umum Keallahan Yesus


Di sini kita membahas beberapa saja tentang keberatan yang
umum berkenaan dengan keilahian Yesus yang sering kali kita
dengarkan.203

1. Bapa lebih besar daripada Aku (Yoh. 14:28)


Seolah-olah kedudukan Yesus lebih rendah daripada Allah.
Memang benar sewaktu Yesus mengambil peran sebagai hamba
di dunia, kedudukan-Nya berada di bawah kedudukan Allah
Bapa. Jadi, pernyataan Bapa lebih besar daripada-Nya mengacu
pada kedudukan-Nya yang sementara di dunia ini, bukan pada
keberadaan Yesus yang hakiki—bukan dalam hakikatnya sebab
melihat Yesus sama saja dengan melihat Allah Bapa (Yoh. 12:44–
45; 14:9). Filipi 2:6–8 menjelaskan status-Nya sebagai Pengantara
dan dalam wujud manusia, Dia bertanggungjawab kepada Bapa
yang mengutus-Nya; Dia bertindak demi kemuliaan Bapa dan atas
otoritas dari Bapa; ada perbedaan yang mencolok antara keadaan-
Nya yang sementara itu (mengosongkan diri) dengan keadaan-Nya
yang dipermuliakan (Flp. 2:11). Yesus mengambil status sebagai
Hamba dan memuliakan Bapa yang telah mengutus Dia.

2. Bapa adalah “Kepala” dari Yesus (1 Kor. 11:3)


Kedengarannya sepertinya Bapa lebih tinggi daripada
Yesus. Perbandingan ini berkenaan dengan pola otoritas, bukan

Lebih detail silakan mempelajari buku Josh McDowell dan Bart Larson
203

di dalam bukunya : Adakah yang Mustahil bagi Allah: Allah menjadi Manusia
(Bandung: Literatur Baptis, 2000).

252 Apologetika
menyiratkan siapa yang lebih rendah dan siapa yang lebih tinggi.
Justru untuk menyamakan diri-Nya dengan manusia sementara Dia
berada di bumi ini, Yesus dengan sukarela menempatkan diri-Nya
di bawah kepemimpinan Bapa. Menempatkan diri-Nya di bawah
kepemimpinan Bapa tidak berarti bahwa hakikat pelakunya lebih
rendah. Di sini menunjukkan adanya perbedaan peranan, bukan
berarti ada ketidaksetaraan.

3. Yesus disebut Yang Sulung (Kol. 1:15)


Orang berpikir kata “sulung” berarti “yang pertama-tama
diciptakan”. Kata “sulung” di sini adalah prototokos yang berarti
yang pertama dalam urutan. Seandainya Paulus bermaksud
mengatakan yang pertama-tama diciptakan, ia tentu memakai
kata protoktistos yang artinya “yang pertama diciptakan”.
Jadi, “yang sulung” menunjukkan Yesus adalah yang lebih tua
sehubungan dengan segala yang diciptakan, bukan yang pertama-
tama diciptakan, melainkan yang terdahulu dari segala sesuatu
(Kol. 1:16). Sebagai, yang menciptakan segala sesuatu, jelas tidak
mungkin bila Yesus adalah makhluk yang pertama diciptakan?

4. Yesus terbatas pengetahuan-Nya (Mat 24:36)


Saya sudah menjelaskan bahwa dalam peranan-Nya sebagai
“Hamba”, Yesus memilih untuk menjalani hidup sebagai manusia
sementara berada di bumi dan bersandarkan pada kuasa Bapa,
bukan pada kuasa-Nya (Yoh. 5:19,30; 8:29; 14:10). Jadi, dalam wujud
manusia, Yesus berkata bahwa Dia tidak mengetahui tentang hari
saat kedatangan-Nya kembali, hal itu rupanya disebabkan oleh
keterbatasan yang Dia terapkan kepada diri-Nya sebagai hamba.
Bukan karena Dia tidak setara dengan Allah Bapa, tetapi memilih
untuk tidak mempergunakan semua hak ke-Allah-an-Nya.

Apologetika Kristologi 253


Banyak orang yang menyangkal keilahian Yesus karena
beranggapan bahwa hal-hal seperti Tritunggal atau hakikat Yesus
sebagai manusia sejati dan Allah sejati adalah sesuatu yang mus­tahil
atau tidak masuk akal. Mereka berkata, “Allah tidak mungkin di­
paku di kayu salib: Allah adalah Roh”, atau “Allah tidak dapat dilahir­
kan”, dan sebagainya. Pernyataan-pernyataan itu muncul karena
fakta tentang penjelmaan—inkarnasi tidak dipertimbangkan.
Anaklah yang menyerahkan diri-Nya kepada Bapa: bagi Allah tidak
ada sesuatu pun yang mustahil.
Hendaknya kita tidak membiarkan konsep-konsep tentang
apa yang “masuk akal” atau apa yang “tidak masuk akal” malah
menentang hal yang telah disingkapkan atau dinyatakan oleh
Allah. Bagi kita (orang Kristen), yang penting ialah hal yang
telah difirmankan Allah, bukan apakah kita dapat sepenuhnya
memahami penyataan Allah. ***

254 Apologetika
Penutup

A
pakah pokok persoalan yang sebenarnya di buku ini?
Yesus! Dengan semua persoalan mengenai Yesus yang
diperdebatkan secara sengit pada masa lalu bahkan
hingga masa sekarang, pertanyaan-pertanyaan mendasarnya
sesungguhnya: Siapakah sebenarnya Yesus itu? Seperti apakah Dia
sebenarnya? Pernahkah Yesus hidup sebagaimana yang dikisahkan
dalam kitab-kitab Injil tentang diri-Nya? Apakah keadaan-
Nya benar-benar seperti yang digambarkan Alkitab? Apakah
pernyataan-pernyataan-Nya benar atau salah?
Jika pernyataan-pernyataan-Nya salah, ada dua kemungkin­
an yang muncul. Dia mengetahui pernyataan-pernyataan-Nya salah
dan hal ini berarti Dia seorang penipu, atau Dia tidak mengetahui
bahwa pernyataan-pernyataan-Nya salah, yang berarti Dia adalah
orang yang tidak waras (gila).
Sebaliknya, jika pernyataan-pernyataan-Nya benar, Dia se­
sungguhnya adalah Tuhan atas semua orang, yang meminta ke­
putusan dari setiap manusia. Akankah kita memutuskan untuk
menerima Yesus, dengan memercayakan kehidupan kita kepada-

255
Nya, atau akankah kita berbalik dari-Nya, dan memutuskan untuk
tidak mengikut-Nya?
Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda pikirkan tentang
Yesus? Apakah Anda sekadar beragama atau apakah Anda
mempunyai hubungan pribadi dengan Allah yang hidup melalui
Anak-Nya, Yesus?
Apakah keputusan Anda?

A. Kesimpulan
Buku ini telah menyajikan semua bukti historikal mengagumkan
yang membuktikan bahwa Yesus Kristus dari Nazaret benar-benar
fakta—pernah hidup di muka bumi dan bahwa Dia adalah Tuhan
sebagaimana yang dikatakan-Nya.
Kembali kita mengajukan pertanyaan: Pernahkah Yesus
mengklaim diri-Nya Allah?
John Stott mengatakan demikian:204

Benar bahwa tidak di mana pun tercatat dalam pengajaran-


Nya bahwa Dia menyatakan dengan jelas “Saya adalah Allah”.
Pernyataan eksplisit-Nya yang terdekat mungkin “Aku dan
Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30), yang oleh pengdengar-Nya
di­pandang sebagai penghujatan, dan pengakuan Tomas “Ya
Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28), yang diterima Yesus, adalah
ketidakpercayaan Tomas yang dicela Yesus; Dia menerima dan
tidak mencela penyembahan Tomas.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Erastus Sabdono:

Harus diakui kita tidak menemukan satu ayat pun di Alkitab


di mana Yesus terang-terangan berkata, “Aku-lah Allah!” tetapi
tidak harus demikian. Paling tidak ada dua alasan: karena Yesus

204
John Stott, Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 1989), 34.

256 Apologetika
telah berinkarnasi menjadi manusia sama seperti kita (Flp.
2:7–8), dan karena Allah itu Roh adanya (Yoh 4:24). Roh itu lain
dari daging atau fisik sehingga dalam keberadaan-Nya sebagai
manusia, Yesus tidak membuat pernyataan bahwa Dia adalah
Allah.

Akan tetapi, ada banyak ayat (seperti telah diuraikan sebe­


lumnya baik secara langsung maupun tidak langsung) yang
menunjukkan bahwa Yesus mengklaim diri-Nya adalah Allah dan
orang-orang di sekeliling-Nya yang mendengar-Nya (termasuk
mereka yang memusuhi-Nya)—juga mengerti klaim tersebut.
Pengakuan Yesus bahwa diri-Nya Allah sebenarnya merupakan
alasan orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus. Lihat
respons mereka terhadap pernyataan diri Yesus, “...Engkau meng­
hujat Allah dan karena Engkau, sekalipun seorang manusia saja,
menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:29–32). Dengan me­
nyatakan diri “Aku dan Bapa adalah satu”, hal itu sama saja dengan
mengatakan diri-Nya adalah Allah. Hal yang dimaksud “Bapa”
di sini orang Yahudi mengetahui bahwa itu adalah YHWH, Sang
Pencipta alam semesta”.
Dengan tegas Yesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”
artinya Bapa adalah Allah dan Aku juga Allah—Yesus menyadari
diri-Nya sebagai pribadi yang berbeda, tetapi sehakikat dengan
Bapa. Hal ini menggugurkan doktrin sesat dari Sabelianisme yang
mengajarkan bahwa Bapa dan Anak adalah pribadi yang sama,
tetapi dengan peran yang berbeda.
Apakah Yesus itu Allah? Pertanyaan Yesus kepada para murid-
Nya pada waktu itu, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Pertanyaan
ini juga merupakan pertanyaan bagi banyak orang hari ini. Anda
harus memilih apakah Dia pembohong atau sungguh-sungguh
Allah. Dia mengklaim sebagai Allah. Hanya salah satu kemungkin­
an yang ada: Dia memang benar adalah Allah atau bukan.

Penutup 257
Apakah Yesus mengetahui bahwa pengakuan-Nya salah
atau Dia tidak mengetahui bahwa pengakuan-Nya salah. Jika
pengakuan-Nya salah berarti pembohong atau memberi kesaksian
palsu. Namun jika pengakuan-Nya benar, hanya ada dua pilihan:
menerima atau menolak; mengikut Dia atau tidak.
Apakah alternatif terhadap kesimpulan ini bahwa Yesus
adalah Allah? Yesus mengklaim diri-Nya adalah Allah—mungkin
saja ayat-ayat Alkitab itu berdusta. Mungkin saja kekristenan itu
adalah dongeng belaka.
Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mengemukakan pertanya­
an berikut ini: pertama, bila Injil-injil itu berdusta, siapakah
yang menciptakan dusta itu dan apakah alasannya? Apakah yang
berdusta itu adalah para rasul Kristus? Apakah yang mereka peroleh
dari perbuatan berdusta itu? Mati sebagai martir—tentu saja hal
ini sulit dijadikan sebagai godaan yang menarik bagi mereka.
Bukankah pendusta senantiasa memiliki motif keuntungan
pribadi? Apakah untungnya mati sebagai martir? Kedua, mengapa
ribuan orang rela mengalami aniaya dan kematian demi dusta
itu bila mereka mengetahui bahwa hal yang mereka saksikan itu
adalah dusta? Ketiga, apakah kekuatan yang menyebabkan orang
Kristen dibuang ke kandang-kandang singa sedangkan mereka
tetap menyanyikan puji-pujian? Dusta yang bagaimana yang
pernah memberikan kekuatan moral, damai sejahtera dan sukacita
kepada jutaan orang?
Kita telah mempertimbangkan dan memeriksa bukti-bukti
yang ada (dengan membaca Injil-injil dengan pikiran dan hati
yang terbuka), kita akan tiba pada kesimpulan jelas mendukung
bahwa Yesus adalah Allah. Yesus nyata—fakta itu teruji secara
historis. Namun, Dia bukan sekadar guru moral yang hebat dan
besar dalam sejarah. Alkitab mengklaim bahwa Yesus adalah “jalan
dan kebenaran dan kehidupan” (Yoh. 14:6). Dia adalah Anak Allah
yang sejati, diutus Bapa untuk menebus dan mendamaikan semua

258 Apologetika
manusia, “... Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh
Kristus ...” (2 Kor. 5:19). Dan dengan bukti—petunjuk kuat, kita
bisa mengenal bahwa itulah sesungguhnya kebenaran. Menerima
pernyataan-Nya sebagai “jalan, kebenaran, dan hidup”—atau tidak.
Yesus tidak mengatakan bahwa Dia mengetahui jalan, kebenaran,
dan hidup. Dia menyatakan diri-Nya sebagai jalan, kebenaran, dan
hidup itu sendiri.
Josh McDowell menegaskan bahwa ada orang yang menolak
bukti-bukti yang jelas itu karena masalah moral. Dibutuhkan
kejujuran moral untuk memutuskan apakah Yesus seorang pem­
bohong, gila, atau sungguh-sungguh Tuhan dan Allah.

B. Penerapan
Setelah Anda membaca hal yang dipaparkan tersebut, Anda
harus mengambil keputusan. Anda harus memilih! Ada orang
yang mengatakan “Saya tidak keberatan menerima Yesus sebagai
nabi, guru moral yang hebat, tetapi saya tidak bisa menerima
pengakuan-Nya sebagai Dia adalah Allah.” Sudah sangat gam­
blang, Yesus mengaku Diri-Nya adalah Allah. Dia tidak memberi
pilihan lain (Mrk. 8:29). Yesus keadaan-Nya benar-benar seperti
yang digambarkan Alkitab. Yesus adalah Allah yang menjelma
menjadi manusia, “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur,
yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia,
yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji
sampai selama-lamanya. Amin!“ (Rm. 9:5)
Memutuskan siapakah Yesus bagi Anda bukan sekadar
kegiatan asah otak untuk mengisi waktu luang. “Tetapi”, sebagai­
mana yang dikatakan oleh Rasul Yohanes, “semua yang tercantum
di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias,
Anak Allah, “ dan yang lebih penting daripada itu, “supaya kamu
oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31).

Penutup 259
“... dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki
Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak
memiliki hidup’ (1 Yoh. 5:11–12).
Apakah keputusan Anda Sekarang?

Bagaimana Anda Dapat Memastikan


Hubungan yang Benar dengan Tuhan sehingga
Anda Dapat Pergi ke Surga?
Bagaimana caranya seseorang dapat masuk hidup ke Kerajaan
Surga sehingga memiliki kepastian keselamatan dan memperoleh
hidup kekal? Saya menawarkan kabar baik bagi Anda.
1. Allah mengasihi Anda dan menawarkan rencana indah bagi
hidup Anda. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Yesus berkata,
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup...” (Yoh. 10:10a).
Kata hidup di sini berasal dari kata Yunani adalah zoe, yaitu
hidup yang bermutu atau berarti.
2. Mengapa kebanyakan orang tidak mengalami kasih Allah dan
hidup sejati?
Sebab manusia berdosa dan terpisah dari Allah sehingga
ia tidak dapat memahami dan mengalami kasih Allah bagi
hidupnya. Manusia berdosa, “Karena semua orang telah berbuat
dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Manusia
terpisah dari Allah, “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23).
Maut di sini adalah keterpisahan rohani dari Allah.
3. Yesus Kristus satu-satunya jalan keselamatan yang ditentukan
Allah bagi keampunan dosa manusia. Melalui Yesus saja, Anda
dapat mengenal dan mengalami kasih dan rencana Allah bagi

260 Apologetika
hidup Anda, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada
kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih
berdosa” (Rm. 5:8).
Dia ingin menyucikan Anda dari segala dosa. Dia ingin me­
menuhi hati dan pikiran Anda dengan damai sejahtera, mem­
berikan tujuan untuk kehidupan Anda dan memberikan ke­
pastian bahwa Anda mempunyai rumah di surga bersama Dia.
Apabila Anda belum bertemu dengan Tuhan Yesus yang
membuat kehidupan berubah, sekaranglah waktunya untuk
mengenal Dia. Jangan tunda jika Anda tidak ingin menyesal
pada kemudian hari (2 Kor. 6:1–2).
Tuhan Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang datang
kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Tuhan Yesus­
lah satu-satunya jalan Anda pulang kembali kepada Allah di
Surga. Selanjutnya firman Tuhan berkata, “Dan keselamatan
tidak ada di dalam sia pun juga selain di dalam Dia, sebab di
bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan
kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis.
4:12).
4. Anda harus menerima Kristus oleh iman dengan mengundang-
Nya secara pribadi masuk dan tinggal dalam hidup Anda.
Tuhan Yesus menawarkan kepada Anda hidup kekal sela­
manya bersama Dia di surga. Hidup kekal adalah karunia yang
ditawarkan oleh Allah kepada Anda sekarang ini. Karunia
yang luar biasa ini telah disediakan bagi Anda, bukan karena
hal yang telah Anda lakukan, tetapi karena hal yang telah
dilakukan oleh Allah bagi Anda, “Sebab karena kasih karunia
kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada
orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8–9).
Sekarang, apakah yang akan Anda lakukan dengan Tuhan
Yesus yang begitu mengasihi Anda? Sekaranglah saatnya bagi

Penutup 261
Anda untuk bertobat dari segala dosa dan menyerahkan hidup
Anda kepada Tuhan Yesus Kristus. Bertobat artinya berpaling
dari semua dosa Anda dan semua usaha untuk menyelamatkan
diri Anda. Sebab, “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu
perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamat­
an itu” (2 Kor. 6:2).
Anda dapat menerima Kristus saat ini juga dengan berdoa—
mengundang Dia masuk ke hidup Anda saat ini. Berikut ini
adalah doa untuk kehidupan kekal bersama Tuhan yang bisa
Anda lakukan:

“Tuhan Yesus, aku membutuhkan Engkau. Terima kasih karena


Engkau telah mati di salib untuk mati menebus dosa-dosaku.
Saat ini juga, aku membuka pintu hatiku dan menerima Engkau
sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Ampunilah aku atas dosa-
dosaku. Terima kasih karena Engkau telah mengampuni dosa-
dosaku dan memberikan hidup yang kekal kepadaku. Saat ini
juga, aku mau hidup sesuai kehendak-Mu”. Amin.

Saat ini, di mana pun Anda berada, bersyukurlah bisa membaca


buku ini dan sekarang pun Anda dapat datang kepada Tuhan
Yesus. Ketika Anda menerima Dia, Dia pasti menerima Anda.
Akhirnya dosa-dosa Anda pada masa lalu diampuni. Sekarang
ini juga hidup yang baru akan mulai bagi Anda, “Jadi siapa yang
ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru: yang lama
sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor.
5:17).

262 Apologetika
Janji-janji Tuhan kepada
Orang-orang Percaya

Untuk Masa Kini


Sekarang setelah Anda menerima Kristus, berdasarkan janji-
Nya maka saat ini juga:
1. Kristus masuk dalam hidup Anda (Why. 3:20).
2. Dosa-dosa Anda diampuni (Kol. 1:14).
3. Anda menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12).
4. Anda akan dituntun Roh-Nya untuk hidup sesuai kehendak
Allah (Rm. 8:14)
5. Anda menerima hidup yang kekal (Yoh. 5:24, 1 Yoh. 5:13)

Oleh karena itu, saya mengucapkan selamat kepada Anda!


Kini, Anda telah memiliki hidup kekal (Yoh. 5:24). “Tetapi carilah
dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

Untuk Kekekalan
“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal,
tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat
hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36)

Bagaimana Anda mengetahui bahwa


Kristus ada dalam hidup Anda?
Anda dapat yakin dengan pasti. Apakah ada orang yang dapat
memastikan dirinya telah diselamatkan? Alkitab mengajarkan
kepada kita untuk memiliki kepastian keselamatan. Petrus meme­
rintahkan, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-

Penutup 263
sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab
jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh un­tuk
memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat
kita, Yesus Kristus” (2 Ptr. 1:10–11).
Oleh karena Allah dan firman-Nya dapat dipercaya. Ingatlah
bahwa keyakinan akan kepastian keselamatan Anda terletak
dalam kenyataan bahwa Yesus diam dalam diri Anda. Oleh karena
Anda telah menyerahkan kehidupan Anda kepada Yesus, Alkitab
mengatakan bahwa sekarang Yesus diam dalam hidup Anda. Yesus
telah menjanjikan sesuatu yang luar biasa kepada semua orang
yang menerima Dia. Dia berjanji, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu
dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan
membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku
makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan
Aku” (Why. 3:20).
Sudahkah Anda melakukan hal itu? Sudahkah Anda
membuka pintu kehidupanmu bagi Yesus? Jika sudah, di manakah
Yesus? Dia telah datang untuk diam dalam diri Anda! Itulah janji-
Nya kepada Anda. Yakinlah hal itu! Dia tidak akan menipu Anda.
Yesus benar-benar diam dalam diri Anda oleh Roh-Nya. Ingatlah,
bahwa Yesus tidak menerima Anda berdasarkan hal yang telah
Anda lakukan atau tidak lakukan. Dia menerima Anda berdasarkan
hal yang Dia lakukan di kayu salib bagi Anda. Yesus diam dalam
Anda dan Anda diam dalam Dia. Ketika Anda menerima Yesus
sebagai Tuhan dan Juruselamat, Anda ditempatkan di tempat
yang memberi perlindungan yaitu “di dalam Kristus”. Allah telah
menerima Anda sebab Kristus ada dalam Anda (Ef. 1:6).
Sekali lagi, jangan membiarkan Iblis mengalahkan Anda
dengan keraguan-raguan sebab Allah telah memberikan hidup
kekal bagi Anda (1 Yoh. 5:11–13). Alkitab dengan jelas mengatakan
bahwa Anda telah diselamatkan oleh kasih karunia, ketika Anda

264 Apologetika
menaruh percaya kepada Kristus. Bila Anda tiba di surga, Anda
tidak akan melihat seorang pun membanggakan diri bahwa me­
reka patut masuk surga karena kehidupan baik mereka. Sebalik­nya,
semua orang di surga akan mengetahui bahwa mereka berada di
sana semata-mata karena kasih karunia Allah yang menakjubkan.
Anda akan berterima kasih kepada Allah atas keselamatan-Nya yang
luar biasa dan Anda akan rindu menjalani hidup yang menyukakan
hati-Nya, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua
manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan
kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup
bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit.
2:11–12).
Jika Anda ragu tentang keselamatan Anda, apakah yang
Anda lakukan? Jika Anda diganggu oleh keragu-raguan tentang
kepastian keselamatan Anda dalam Yesus, saya harap Anda
mengikuti langkah berikut ini yang akan mendatangkan kepastian
akan keselamatan Anda.

1. Anda hendaknya menyadari bahwa keselamatan bukanlah


sesuatu yang Anda kerjakan, melainkan hal itu telah dikerjakan
oleh Yesus.
Anda harus yakin seperti Paulus bahwa Yesus benar-benar
mampu untuk melindungi dan memelihara sesuatu yang telah
dibeli oleh-Nya, “ ... karena aku tahu kepada siapa aku percaya
dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang
telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2
Tim 1:12).
Tuhanlah yang menyelamatkan Anda. Oleh karena itu,
keselamatan Anda tidak tergantung pada kekuatan Anda, tetapi
pada kekuatan Tuhan. Keselamatan bukanlah sesuatu yang Anda
lakukan, melainkan hal yang telah dilakukan oleh Tuhan bagi
Anda. Harga keselamatan Anda telah dibayar lunas. Sekarang

Penutup 265
Anda dapat mengetahui bahwa Anda telah diselamatkan, bukan
hanya karena Anda telah menyerahkan hidup Anda kepada
Yesus, melainkan karena Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya
karena Anda.

2. Percayailah janji-janji Allah untuk Anda


Ingat, jalan Allah adalah sempurna. Oleh karena itu, Allah
bukan hanya tidak akan berdusta kepada Anda, tetapi Alkitab
mengatakan bahwa Dia tidak dapat berdusta. Oleh karena iman
Anda kepada Yesus, sekarang Anda memiliki hidup yang kekal
(Tit. 1:2). Tidak pernah ada orang yang dapat dipercayai seperti
Yesus. Yesuslah yang telah berjanji, “Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan
percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup
yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah
dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh. 5:24).
Tidak pernah ada orang yang dapat dipercayai seperti Yesus
Kristus. Yesuslah yang telah berjanji, “dan Aku memberikan
hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan
binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan
merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan
mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang
pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh. 10:28–
29). Sekali lagi, Yesus telah meyakinkan Anda. Oleh karena itu
percayalah kepada Dia yang tidak berdusta dan kepada firman-
Nya yang kekal, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau
dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5)

3. Jangan percaya dan mengandalkan perasaan Anda
Satu hal di dunia ini yang banyak berubah-ubah adalah emosi
manusia. Pada satu saat Saudara berada di puncak gunung

266 Apologetika
kegembiraan, dan pada saat berikutnya Anda berada dalam
lembah keputusasaan. Emosi kita sering tunduk pada keadaan-
keadaan di sekitar kita. Oleh karena itu, alangkah menyedih­
kan, bila pada suatu saat tertentu Anda percaya pada perasaan
Anda dan belum percaya kepada Allah. Ingat, pengharapan
Anda akan hidup yang kekal tidak dapat bergantung pada
perasaan Anda pada saat tertentu, tetapi harus tertanam benar-
benar dalam fakta sejarah yang pasti bahwa Yesus telah mati
karena Anda dan telah bangkit kembali. Saya ingin mengatakan
bahwa Anda tidak dapat mengandalkan perasaan Anda untuk
memperoleh kepastian akan keselamatan. Wewenang yang
Anda pegang adalah janji Allah, bukan perasaan Anda. Anda
harus percaya pada kesetiaan Allah dan firman-Nya.
Jadi, apabila Anda ragu-ragu, usirlah dalam nama Yesus
keraguan Anda dan teruslah percayai janji-janji Allah. Anda
dapat yakin akan keselamatan ini, Anda akan bertumbuh ke arah
Kristus. Demikian juga dengan Anda. Anda telah dihidupkan
dalam Yesus. Oleh karena ada hidup baru dalam diri Anda,
Anda akan bertumbuh, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih
karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat
kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai
selama-lamanya” (2 Ptr 3:18).

Saran-saran untuk
Pertumbuhan Iman Anda
Sekarang, setelah Anda menerima Kristus dan menjadi milik-Nya,
saya mendorong Anda untuk mengambil langkah-langkah penting
berikut ini yang akan membawa kepada kehidupan yang produktif
dan yang memuaskan sementara Anda hidup menurut Tuhan:

Penutup 267
1. Akuilah iman Anda kepada Kristus di depan umum
Pernahkah Anda memerhatikan bahwa peralihan-peralihan
penting dalam hidup selalu dilakukan di depan umum? Contohnya
adalah wisuda adalah peralihan yang dinyatakan di depan umum.
Pernikahan adalah peralihan yang dinyatakan di depan umum.
Bahkan penggabungan perusahaan-perusahaan diberitakan di
depan umum. Namun, meskipun peristiwa-peristiwa ini penting,
hal itu tidak sepenting untuk hidup ini atau hidup yang akan
datang seperti peralihan dari dalam maut ke dalam hidup (Yoh.
5:24) yang terjadi ketika Anda menerima Kristus sebagai Tuhan
dan Juruselamat Anda. Oleh karena itu, keputusan yang terpen­ting
dalam hidup ini sudah tentu harus dinyatakan di depan umum.
Bilamana pun Yesus menantang seseorang untuk meng­ikut
Dia, Dia selalu memanggil orang itu di depan umum. Dengan cara
demikian, Yesus menunjukkan pentingnya komitmen yang pasti
kepada diri-Nya. Dengan menyatakan iman Anda kepada Kristus
di depan umum, Anda mengumumkan atau memproklamasikan
kepada dunia bahwa Anda tidak merasa malu untuk mengakui
Yesus sebagai Tuhan. Dengan berbuat demikian, Anda menyatakan
kemantapan iman Anda bahwa Anda mengabdi kepada Kristus,
sekarang dan selama-lamanya. Selain itu, pengakuan iman Anda di
depan umum ini membantu Anda untuk memateraikan keputusan
Anda untuk menerima Kristus dalam hati dan pikiran Anda, “Karena
yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat. 12:34). Sebagai reaksi
yang wajar, Anda akan mengungkapkan secara lahiriah apa yang
sudah dikerjakan Allah dalam batin Anda. Terakhir, mengakui
Yesus di depan umum itu menjadi bukti bahwa sekali kelak Dia
akan mengakui Anda di depan umum. Yesus berjanji, “Setiap orang
yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya
di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal
Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan
Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 10:32–33).

268 Apologetika
Bila Anda belum melakukannya, lakukanlah tindakan ke­
taatan yang pertama ini dan nyatakanlah iman Anda kepada Kris­
tus di depan umum bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat
Anda.

2. Ikutilah Kristus dalam baptisan air


Sekarang, setelah Anda menjadi milik-Nya, Anda tentu ingin
menaati perintah yang jelas dari Tuhan setelah Anda mengakui
iman Anda kepada Kristus di depan umum, lalu mengikuti
baptisan air. Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku,
kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15); perintah-
Nya, “Karena itu ... baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak
dan Roh Kudus” (Mat. 28:19).
Yesus telah dibaptis dalam air, kita sebagai pengikut-Nya
hendaklah dengan senang hati mengikuti teladan Tuhan kita. Juga,
sepanjang Perjanjian Baru para Rasul memerintahkan agar orang-
orang yang baru percaya dibaptis dalam air, “Lalu ia menyuruh
mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus...” (Kis. 10:48).
Baptisan Anda merupakan pernyataan tentang iman Anda
pada penguburan dan kebangkitan Yesus, “bahwa Kristus telah
mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia
telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang
ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3–4). Baptisan Anda mem­
beri kesaksian tentang iman Anda pada kebangkitan yang akan
datang dari orang-orang mati. Dengan baptisan ini Anda sedang
mengatakan bahwa sekiranya Anda meninggal dunia sebelum
Kristus kembali, Anda yakin bahwa Dia akan membangkitkan
tubuh Anda dalam keadaan tidak dapat binasa ketika Dia datang
kembali.
Baptisan Anda merupakan kesempatan berharga untuk
bersaksi kepada keluarga dan dunia mengenai iman Anda kepada
Kristus. Hal ini juga merupakan kesaksian paling baik yang dapat

Penutup 269
Anda berikan kepada keluarga, yang hendak Anda menangkan
kepada Kristus.

3. Perkenankanlah Roh Kudus memenuhi dan memimpin


hidup Anda
D.L Moody seorang penginjil besar abad ke–19 mengatakan,
“seseorang tidak mungkin dapat bernapas tanpa udara seba­
gaimana seorang Kristen tidak dapat hidup tanpa Roh Kudus”.
Pada waktu Anda menerima Kristus sebagai Tuhan dan Jurusela­mat
Anda, Roh Kudus datang dan diam dalam diri Anda. Roh Kuduslah
yang memberi kuasa kepada Anda untuk menjalani hidup yang
menyukakan hati Allah (Luk. 11:13; Ef. 5:18–21).

4. Tinggalkanlah semua dosa yang Anda ketahui


Ingat, Roh Kudus hanya memenuhi bejana yang bersih.
Berbaliklah dari semua dosa pada masa lampau dan datanglah
kepada Tuhan Yesus serta percayalah bahwa darah-Nya akan
menyucikan Anda dari segala dosa.
Jika Anda telah meninggalkan semua dosa yang Anda ketahui
dan, oleh iman, Anda sekarang menerima Kristus maka sekarang
juga, Anda menerima penyucian dan pengampunan Allah.
Dosa memutuskan persekutuan dengan Allah. Dosa meng­
hilangkan sukacita dari kehidupan Anda. Sekarang setelah Anda
menjadi milik-Nya, Anda memiliki kuasa untuk memperoleh
kemenangan atas pencobaan (Rm. 6:6). Ketika Anda gagal atau
kalah dalam pencobaan, ada cara untuk segera dikembalikan
kepada persekutuan dengan Dia. Sebab Dia mengasihi Anda, Dia
ingin bersekutu dengan Anda. Hal yang memutuskan hubungan
persekutuan Anda dengan Allah adalah dosa. Pengakuan dan
pertobatan—meninggalkan dosa itulah yang memulihkan per­
sekutuan dengan Allah (1 Yoh. 1:9). Oleh karena itu, serahkanlah

270 Apologetika
segenap hidup Anda—tubuh, jiwa, dan roh kepada Allah dan
bukan menyerahkan kepada dosa (Rm. 6:12–13).

5. Bergabunglah dalam gereja setempat yang berdasar pada


Alkitab dan hadirilah gereja itu secara teratur.
Gereja manakah yang harus Anda kunjungi? Pertanyaan
ini, saya sulit menjawab. Allah kita adalah Allah yang menyukai
keanekaragaman. Silakan Anda mencari gereja yang lebih cocok
untuk Anda. Namun, gereja mana pun Anda bergabung, paling
sedikit harus memiliki “tanda” berikut ini. Pertama, gereja itu
mengutamakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bergabung­
lah dengan gereja yang kuat, tempat Yesus diberitakan dan disembah
sebagai Tuhan. Kedua, gereja itu mengutamakan pemberitaan atau
pendalaman Alkitab sebagai firman Tuhan yang dapat dipercayai.
Ketiga, gereja yang leluasa untuk menyembah Tuhan dalam roh
dan kebenaran. Carilah gereja yang menghormati karya Roh
Kudus. Ingatlah: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya
kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah
kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita
saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari
Tuhan yang mendekat” dan juga dikatakan: “Kamu telah menerima
Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di
dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di
atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah
diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan
syukur” ( Kol. 2:6–7).

6. Anda harus menyisihkan waktu setiap hari untuk berdoa


dan merenungkan firman Tuhan secara teratur
Kembangkanlah kehidupan doa yang dinamis. Doa adalah
percakapan yang akrab dengan Allah (Ibr. 10:19–22). Anda harus

Penutup 271
komitmen untuk berdoa. Tidak ada saat yang lebih baik daripada
hari ini untuk memulai kehidupan doa yang dinamis. Mulailah
sekarang ini.
Alkitab terutama menjadi standar hidup bagi orang Kristen,
“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci
yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau
kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan
yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16–17).
Perkenankanlah Alkitab untuk berbicara kepada Anda. Ti­
dak ada yang lebih berharga daripada pengetahuan Anda akan
firman Tuhan—dan pengenalan yang intim akan Allah dari firman
itu. Pada waktu Anda membaca Alkitab, berdoalah supaya Allah
akan membuka mata Anda untuk melihat kebenaran-Nya bagi
Anda. Jangan lupa merenungkan kebenaran-kebenaran Alkitab itu
“siang dan malam.”
Dalam Alkitab, Anda akan menemukan janji-janji Allah.
Janji-janji yang telah diberikan Allah kepada Anda adalah janji
yang luar biasa. Semua janji-Nya kepada Anda dapat dipercayai.
Tidak mungkin Allah berbohong. Allah juga tidak mungkin akan
gagal. Dengan berpegang pada janji-janji ini, Anda dapat mengenal
Allah.

7. Jangkaulah orang lain bagi Yesus. Itulah perintah-Nya bagi


Anda (Mat. 28:19–20).
Yesus telah mewariskan kuasa-Nya kepada Anda untuk me­
lakukan tugas ini (Kis. 1:8). ***

272 Apologetika
Daftar Pustaka

Crampton, W. Gary. Verbum Dei: Alkitab adalah Firman Allah


(Surabaya: Momentum, 2000).
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2000).
Hughes, Selwyn. Buku Pintar Konseling (Jakarta: Betlehem, 2001).
Kreeft, Peter dan Tacelli, K. Ronald, Pedoman Apologetik Kristen 1
(Bandung: Kalam Hidup, 2000).
Lolowang, Harold. Yesus Nazaret VS Yesus Makam Talpiot
(Yogyakarta: Andi, 2008).
McDowell, Josh. Apologetika Volume 1 (Malang: Gandum Mas,
2002).
McDowell, Josh dan Wilson, Bill. Apologetika Volume 3 (Malang:
Gandum Mas, 2004)
McDowell, Josh dan Larson, Bart. Adakah yang Mustahil bagi Allah:
Allah menjadi Manusia (Bandung: Literatur Baptis,2000)
Muncaster, Ralph O. Apakah Alkitab Meramalkan Masa Depan
(Jakarta: Gospel Press, 2002).
Muncaster, Ralph O. Bagaimana Kita Mengerti Bahwa Yesus Adalah
Tuhan? (Jakarta: Gospel Press, 2002).

273
Nash, Ronald H. Iman dan Akal Budi: Suatu Usaha Mencari Iman
yang Rasional (Surabaya: Momentum, 2004).
Pate, C. Marvin dan Pate, Sheryl L. Disalibkan oleh Media: Fakta
dan Fiksi tentang Yesus Sejarah (Yogyakarta: Andi, 2010).
Pratt, Richard L, Menaklukan Setiap Pikiran kepada Kristus
(Malang: SAAT, 1994)
Ryrie, Charles C, Teologi Dasar 1 (Yogyakarta: Andi, 2001).
Sagala, Mangapul. Petunjuk Praktis Menggali Alkitab (Jakarta:
PERKANTAS, 2001).
Stevanus, Kalis. Diktat Kuliah: Eskatologi (Karanganyar: STT
Tawangmangu, 2009).
Stevanus, Kalis. Diktat Kuliah: Kitab Puisi (Karanganyar: STT
Tawangmangu, 2009).
Stevanus, Kalis. Jalan Masuk Kerajaan Surga: Bagaimana Menge­
tahui Bahwa Anda Sudah Selamat (Salatiga: Widya Sari
Press, 2013).
Shibley, David. Sekarang, Setelah Anda Menjadi Milik-Nya (Malang:
Gandum Mas, 1998).
Stott, John. Yesus Autentik (Jakarta: Logos, 1989)
Stott, John. Alkitab Buku untuk Masa Kini (Jakarta: Persekutuan
Pembaca Alkitab, 1997).
Wesley, J. Dasar yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup, 1998)

274 Apologetika