Anda di halaman 1dari 7

Syok anafilaksis

Syok anafilaksis atau syok anafilaktik adalah gejala syok yang terjadi akibat reaksi alergi
(reaksi hipersensitivitas tipe 1), yang dapat memengaruhi berbagai sistem organ. Gejala
yang ditimbulkan antara lain tensi yang rendah (hipotensi), kehilangan kesadaran atau
penyempitan saluran pernapasan. Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat
mengancam nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini dapat terjadi dalam hitungan menit,
bahkan detik sejak penderita terpapar pemicu alergi (alergen).

Di Indonesia, penyebab utama syok anafilaksis adalah gigitan serangan. Sementara itu,
penyebab lainnya adalah zat kontras radiografi serta obat penisilin. Dengan gejala klinis syok
anafilaksis berupa penyempitan saluran pernapasan, penderita dapat mengalami hambatan
dalam pernapasan, yang berakibat fatal. Oleh karena itu, penderita syok anafilaksis
membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Mari kenali reaksi alergi ini lebih lanjut.

Gejala syok anafilaksis biasanya dapat terlihat dalam 5-30 menit sejak terjadinya kontak
dengan alergen. Gejala awal dari syok anafilaksis dapat terlihat seperti umumnya reaksi
alergi biasa, yaitu pilek dan ruam pada kulit. Selanjutnya, setelah 30 menit gejala yang lebih
berat akan muncul pada:

Kulit:

Kemerahan atau kulit menjadi pucat, dingin dan lembap gatal-gatal, kulit menjadi hangat,
pembengkakan (paling sering pada bibir dan lidah), munculnya ruam kulit, biduran
(urtikaria)

Mata:

Pembengkakan kelopak mata, mata merah (injeksi konjungtiva) atau gatal

Pernapasan:

Hidung tersumbat, pilek, bersin, bengkak di tenggorokan sehingga terasa sesak, sesak napas
atau mengi, batuk, suara serak

Jantung:

Tekanan darah yang rendah (hipotensi), pusing, kelemahan, kehilangan kesadaran, nyeri
dada, detak jantung cepat atau tidak teratur (palpitasi)
Pencernaan:

Sulit menelan, mual, muntah, diare, perut kembung, kram

Sistem saraf:

Sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, dan kejang (sangat jarang terjadi dan biasanya
berhubungan dengan penurunan tekanan darah)

Lainnya:

Rasa logam di mulut (metallic taste), tampak bingung dan gelisah

Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun biasanya menghasilkan protein yang dikenal
sebagai antibodi, untuk melawan benda asing seperti virus dan bakteri. Namun pada
beberapa orang, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat yang biasanya
tidak menyebabkan reaksi alergi.

Penyebab syok anafilaksis yang paling umum pada anak-anak adalah alergi terhadap
makanan seperti kacang tanah, kacang-kacangan seperti kacang mede, hazelnut, walnut,
pistachio, almond, pine nuts, ikan, kerang dan susu. Selain alergi terhadap makanan,
penyebab syok anafilaksis pada orang dewasa antara lain:

Obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, aspirin, dan obat penghilang rasa nyeri lainnya
yang dapat dibeli di Apotek, zat kontras radiografi intravena (IV) yang digunakan untuk tes
pencitraan

Sengatan serangga seperti lebah, tawon dan semut api

Lateks

Meskipun jarang terjadi, beberapa orang mengalami syok anafilaksis yang disebabkan oleh
olahraga aerobik, misalnya jogging. Bahkan aktivitas fisik yang ringan, seperti berjalan pun
bisa menjadi penyebab syok tersebut. Mengonsumsi makanan tertentu sebelum
berolahraga atau berolahraga dalam cuaca panas, dingin maupun lembap juga memiliki
keterkaitan dengan kondisi syok anafilaksis pada beberapa orang.

Jika tidak mengetahui pemicu serangan alergi pemeriksaan tertentu dapat membantu
mengidentifikasi alergen. Dalam beberapa kasus, penyebab syok anafilaksis tidak dapat
diidentifikasi (anafilaksis idiopatik).
Tidak banyak faktor risiko yang diketahui dalam syok anafilaksis. Namun, beberapa hal
berikut ini mungkin meningkatkan risiko terhadap kondisi tersebut.

Riwayat syok anafilaksis sebelumnya:

Jika pernah mengalami syok anafilaksis sebelumnya, Anda akan memiliki risiko yang lebih
tinggi untuk mengalami syok anafilaksis berikutnya. Reaksi selanjutnya mungkin lebih berat
daripada reaksi pertama.

Riwayat syok anafilaksis dalam keluarga

Riwayat alergi atau asma

Kondisi tertentu lainnya:

Hal ini termasuk penyakit jantung dan penyakit dengan peningkatan abnormal dari jenis sel
darah putih tertentu (mastositosis).

Syok anafilaksis terutama didiagnosis melalui gejala klinis. Hasil pemeriksaan laboratorium
tidak selalu diperlukan dan jarang membantu. Jika diagnosis tidak jelas, apalagi dengan
gejala yang terus berulang, atau jika penyakit lain perlu disingkirkan, maka beberapa
penelitian di laboratorium dapat dilakukan.

Dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai reaksi alergi sebelumnya, termasuk apakah
riwayat reaksi alergi terhadap makanan khusus, obat-obatan, lateks, atau sengatan
serangga. Kemudian, untuk membantu memastikan diagnosis:

Anda mungkin akan menjalani tes darah untuk mengukur jumlah enzim tertentu (tryptase),
yang dapat meningkat hingga tiga jam setelah syok anafilaksis terjadi

Anda mungkin menjalani pengujian untuk alergi dengan tes kulit maupun tes darah untuk
membantu menentukan pemicu syok anafilaksis. Salah satu metodenya adalah uji tusuk
kulit (skin prick test). Dalam tes ini, dokter akan menempatkan setetes kecil alergen pada
kulit untuk menentukan zat yang menjadi pemicu alergi.

Syok anafilaksis adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan bantuan medis serta
pengobatan segera.
Bagaimana Cara Menangani Seseorang yang Mengalami Gejala Syok Anafilaksis?

Anda bisa menolong penderita syok anafilaksis dengan melakukan langkah-langkah berikut
ini.

Suntikkan adrenalin auto-injector (EpiPen/Jext/Emerade/lainnya):

Beri suntikan di paha atau lengan atas. Pastikan Anda memahami cara penggunaan
suntukan ini.

Hubungi ambulans segera:

Tetap hubungi ambulans, meski penderita telah merasa lebih baik. Laporkan juga tentang
dugaan adanya syok anafilaksis.

Identifikasi dan hentikan kontak dengan potensi alergen:

Jika tersengat lebah, lepaskan sengatan lebah dari kulit secara hati-hati.

Baringkan penderita di atas permukaan datar:

Kecuali jika penderita dalam kondisi hamil, tak sadarkan diri, atau kesulitan bernapas

Berikan suntikan kedua setelah 5-10 menit:

Ulangi suntikan jika gejala tidak membaik, dan apabila adrenalin auto-injector
(EpiPen/Jext/Emerade/lainnya) kedua tersedia.

Jika mengalami syok anafilaksis, Anda pun dapat melakukan langkah-langkah tersebut
sendiri bila dirasa mampu.

Pengaturan Posisi untuk Penderita Syok Anafilaksis

Penderita syok anafilaksis harus berada dalam posisi yang nyaman. Oleh karena itu, pelajari
posisi-posisi ini.

Berbaring secara mendatar.


Wanita hamil harus berbaring di sisi kiri untuk menghindari tekanan berlebih pada
pembuluh darah vena besar yang mengarah ke jantung.

Orang yang mengalami kesulitan bernapas harus segera duduk, untuk mempermudah
bernapas.

Dalam keadaan tidak sadar, penderita harus ditempatkan dalam posisi pemulihan atau
recovery position. Hal ini diperlukan untuk tetap membuka jalan napas. Selain itu, penderita
harus berada pada salah satu posisi ini: di sisi kanan atau kiri. Pastikan penderita ditahan
oleh kaki dan lengan untuk mencegah terguling atau terjatuh. Dengan mengangkat dagu
penderita, jalan napas akan terbuka.

Hindari perubahan postur ke posisi tegak secara mendadak. Misalnya berdiri atau duduk
tiba-tiba. Kondisi ini berpotensi menurunkan tekanan darah, dan tentu saja berbahaya.

Jika pernapasan atau jantung seseorang berhenti, resusitasi jantung paru-paru (RJP) harus
segera dilakukan.

Penanganan di Rumah Sakit

Anda perlu mengunjungi rumah sakit untuk melakukan observasi. Lakukan langkah ini 6-12
jam setelah gejala syok anafilaksis berhasil diatasi. Sebab, gejala ini rentan terjadi lagi dalam
periode tersebut. Penderita syok anafilaksis biasanya menjalani prosedur ini ketika berada
di rumah sakit.

Memakai masker oksigen untuk membantu pernapasan

Mendapatkan cairan infus untuk meningkatkan tekanan darah

Mendapatkan obat tambahan seperti antihistamin dan steroid untuk meredakan gejala

Tes darah untuk mengonfirmasi syok anafilaksis

Pasien biasanya diperbolehkan pulang ketika gejalanya berhasil dikendalikan dan diprediksi
tidak akan berulang dalam waktu singkat. Anda mungkin diizinkan meninggalkan rumah
sakit setelah mendapatkan penanganan selama beberapa jam. Namun bisa jadi Anda
membutuhkan waktu lebih lama di rumah sakit jika mengalami syok anafilaksis yang berat.
Anda seharusnya bisa pulang ketika gejalanya terkendali dan diperkirakan tidak akan
kembali dalam waktu yang singkat. Ini biasanya setelah beberapa jam, tetapi mungkin lebih
lama jika Anda mengalami syok anafilaksis yang berat.

Ada kemungkinan Anda mendapat rujukan ke dokter spesialis alergi. Melalui konsultasi
dengan dokter spesialis alergi, Anda bisa mendapat saran mengenai cara untuk menghindari
syok anafilaksis di masa mendatang. Suntikan adrenalin auto-injector
(EpiPen/Jext/Emerade/lainnya) dapat disiapkan untuk mengantisipasi terjadinya syok
anafilaksis berikutnya.

Riwayat alergi berat atau syok anafilaksis menjadi faktor risiko terhadap syok akibat alergi
tersebut. Tiga langkah di bawah ini dapat dilakukan sebagai pencegahan.

Menjalani tes alergi:

Untuk mengidentifikasi faktor pencetus atau penyebab (alergen).

Menghindari faktor pencetus:

Misalnya dengan memeriksa kandungan bahan-bahan makanan sebelum mengonsumsinya,


menggunakan losion antiserangga untuk mencegah gigitan, atau menghindari konsumsi
obat-obatan tertentu.

Membawa adrenalin auto-injector setiap saat:

Periksa tanggal kedaluwarsanya secara teratur. Segera lakukan penyuntikan jika syok
anafilaksis terjadi.

Segera temui dokter jika Anda mengalami kondisi-kondisi berikut ini.

Gejala awal dari syok anafilaksis berupa pilek, ruam pada kulit dan rasa gelisah

Gejala lanjutan yang lebih berat dari syok anafilaksis

Temuan laboratorium yang menunjukkan hasil positif alergi terhadap sebuah faktor
penyebab syok anafilaksis

Faktor risiko untuk syok anafilaksis. Jika tidak menyadari adanya faktor risiko tersebut, Anda
tetap dapat berkonsultasi untuk menjalani pemeriksaan seperti tes alergi.
Tuliskan setiap gejala, termasuk yang mungkin terlihat tidak berkaitan dengan syok
anafilaksis.

Tuliskan informasi pribadi seputar riwayat medis keluarga, dan riwayat alergi jika ada.

Buat daftar semua obat, vitamin atau suplemen yang Anda konsumsi. Catat dosisnya
masing-masing.

Tuliskan pertanyaan diajukan kepada dokter mengenai kondisi kesehatan Anda.

Dokter Anda mungkin akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Anda. Bersiaplah
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

Apakah Anda mengalami kemerahan atau gatal-gatal pada kulit?

Apakah Anda mengalami kesulitan bernapas?

Apakah Anda mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan?

Kapan Anda pertama kali mengalami gejala tersebut?

Apakah gejala Anda berlangsung terus-menerus atau hilang dan timbul kembali?

Apakah Anda pernah mengalami reaksi alergi sebelumnya? Jika iya, bagaimana kondisinya
dan kapan berlangsungnya? Apakah Anda mengetahui faktor penyebab reaksi alergi
sebelumnya?

Apakah Anda memiliki riwayat reaksi alergi terhadap makanan khusus, obat-obatan, lateks,
atau sengatan serangga?

Apakah Anda baru saja memulai pengobatan baru?