Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang

Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari fenomena hidup parasitis atau


fenomena keparasitan. Parasit berasal dari kata “Parasitus” (Latin) = “Parasitos”
(Grik), yang artinya seseorang yang ikut makan semeja. Mengandung maksud
seseorang yang ikut makan makanan orang lain tanpa seijin orang yang memiliki
makanan tersebut. Jadi Parasit adalah organisme yang selama atau sebagian hayatnya
hidup pada atau didalam tubuh organisme lain, dimana parasit tersebut mendapat
makanan tanpa ada konpensasi apapun untuk hidupnya (Anonim 2. 2009).

Perbedaan sengkenit dan tungauSengkenit (Caplak) mempunyai ukuran


makroskopis,bentuktubuh bulat/oval, dorsoventral, hipostoma ada. Gambaran badan
caput, torax, danabdomen bersatu tanpa segmen. Tubuh sengkenit lebih besar
dibandingkandengan tungau. Tungau (Mites) memiliki ciri ukuran tubuh yang
mikroskopis, tubuh oval bagian dorsal cembung, tidak ada hiptostoma, pedipalpi 3
segmen, celiceralia tersembunyi.

2.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari Ornithodoros moubata ?
2. Bagaimana morfologi Ornithodoros moubata ?
3. Bagaimana siklus hidup Ornithodoros moubata ?
4. Bagaimana epidemiologi Ornithodoros moubata ?
5. Dimana habitat Ornithodoros moubata ?
6. Bagaimana klasifikasi Ornithodoros moubata ?
7. Bagaimana penularan penyakitnya ?
8. Bagaimana patologi dan gejala klinisnya ?
9. Bagaimana penyebaran penyakit dari Ornithodoros moubata ?
10. Upaya pencegahan apa saja yang dapat dilakukan ?

1
2.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan definisi dari Ornithodoros moubata
2. Mendeskripsikan morfologi dari Ornithodoros moubata
3. Mendeskripsikan siklus hidup dari Ornithodoros moubata
4. Mendeskripsikan epidemiologi dari Ornithodoros moubata
5. Mendeskripsikan habitat dari Ornithodoros moubata
6. Mendeskripsikan klasifikasi Ornithodoros moubata
7. Mendeskripsikan penularan penyakit dari Ornithodoros moubata
8. Mendeskripsikan patologi klins dan gejala dari Ornithodoros moubata
9. Mendeskripsikan penyebaran penyakit yang terjadi dari Ornithodoros
moubata
10. Mendeskripsikan pencegahan penularan yang dapat dilakukan dari
Ornithodoros moubata

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Demam babi afrika adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan
oleh virus african swine fever. Virus ini dapat menginfeksi anggota famili Suidae,
baik babi yang diternakkan maupun babi liar. Penyakit dapat menyebar dengan cepat
dengan tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi
yang besar.

Sengkenit, cengkenit, kutu babi atau pirah (bahasa Inggris: tick ) ialah nama
biasa untuk araknid kecil dalam superkeluarga Ixodoidea, bersama dengan hama
lain, membentuk Acarina. Sengkenit ialah ektoparasit (parasit luaran) yang hidup
dengan makan darah pada mamalia, burung, dan kadang-kadang reptilian
dan amfibia.

Sengkenit ialah hewan halus yang menghisap darah, yang berkaitan dengan
hama, laba–laba dan kalajengking. Sengkenit berbentuk bujur. Ia adalah parasit,
hidup pada hewan– hewan lain. Sengkenit dan hama menyebabkan berbagai penyakit
pada manusia dan pada hewan ternak. Sengkenit sering membawa kuman penyakit
tertentu dalam badannya dan memindahkan kuman ini ke dalam darah mangsanya dan
kadangkala gigitan sengkenit adalah beracun.

Tubuh sengkenit terdiri atas kapitulum dan abdomen berupa kantong yang
sebenarnya terbentuk dari bagian kepala,toraks dan abdomen. Metamorfosis tidak
sempurna. Stadium dewasa mempunyai 4 pasang kaki, sedangkan larva dan nimfa
muda mempunyai 3 pasang kaki. Besar sengkenit kira-kira 1 cm, kulitnya kuat dan
berbulu pendek.Bagian mulut dilengkapi dengan hipostoma dan kelisera yang bergigi.

2.2 Morfologi

Ornithodores moubata merupakan sengkenit lunak yang tidak mempunyai


scutum, tubuhnya ditutupi kulit lunak. Capitulum di bagian ventral, tidak terlihat dari
dorsal. Spirakel di samping tubuh, di atas pasangan coxae ke 4. Sulit membedakan

3
jantan dan betina, bahkan pada stadium dewasa, untuk membedakan kelamin
menggunakan anatomi genital, yaitu sengkenit lunak jantan berbentuk nulat atau
bulan sabit, sedangkan betina berbentuk celah melintang.

Ciri-ciri sengkenit adalah; caplak jantan memiliki lempeng adanal yang


menyolok.,tubuh terdiri capitulum abdomen yg berupa kantung,tidak mempunyai
antenna, stadium larva 3 pasang tungkai, stadium dewasa 4 pasang tungkai, ukuran
sampai 1 cm,kulit (penutup tubuh) kuat dan berambut pendek, bagian mulut
mempunyai hipostoma dengan gigi-gigi mengarah ke belakang serta sepasang
chelicera, hidup sebagai ektoparasit pada mamalia, aves, dan reptile, hidup dengan
menghisap darah dan jaringan tubuh hospes, berkembang biak pada permukaan tubuh
hospes, serta dapat menyebabkantrauma mekanik dan paralisis

2.3 Siklus hidup

4
Siklus hidup O. moubata melibatkan beberapa tahap nymphal dan satu tahap
dewasa. Masing-masing tahap ini membutuhkan makanan darah, inang yang cocok
adalah manusia, unggas, dan anggota keluarga babi, Suidae .Ketika nimfa atau
dewasa telah membesar sendiri, nimfa turun dari inangnya dan memasuki keadaan
diam saat darah dicerna. Ketika siap untuk memberi makan lagi, ia menemukan host
lain untuk tujuan ini. Betina dewasa meletakkan sejumlah telur, yang menetas
menjadi larva yang berkembang menjadi tahap nimfa pertama.

Multihost siklus hidup untukk sengkenit. Berbeda dengan Ixodidae,anggota


Argasidae keluarga memiliki dua atau lebih tahap nimfa, masing-masing memerlukan
makan darah. Pola ini disebut sebagai siklus hidup multihost.

Perkawinan dan bertelur biasanya selalu terjadi, dari induk semang didaerah
terlindung (biasanya sarang hewan). Telur menetas menjadi larva (1) berkaki enam di
daerah perlindungan orang tua. Mereka mencari induk semang disekitar daerah
terlindung. Setelah menemukan induk semang yang cocok, merekamakan kapanpun
dari satu sampai beberapa hari, tergantung pada spesies (2).Setelah makan, larva
meninggalkan induk semang dan meranggas ke instarnimfa pertama di daerah
terlindung(3a-3b).Pencarian induk semang dan makankeduanya berlangsung dengan
cepat (4) (biasanya sekitar satu jam) induk semangyang kedua biasanya merupakan
spesies yang sama, dan sering individu yangsama seperti induk semang yang pertama.
Para instar nimfa pertama meninggalkan induk semang dan meranggas ke instar nimfa
berikutnya di daerahterlindung (5a-5b). Siklus ini dapat terus menampung hingga
tujuh instar nimfa,tergantung pada spesies. Setelah nimfa terakhir instar telah makan
(6), iameninggalkan induk semang dan berganti kulit menjadi dewasa (7a-7b) di
daerahterlindung. Pada stadium dewasa dapat terus makan pada induk semang
(8),makan dengan cepat dan berpisah setelah makan darah. Betina dari
beberapaspesies meletakkan sekumpulan telur setelah makan. Manusia biasanya
hanyainduk semang yang tidak disengaja untuk sengkenit lunak dan sengkenit
hanyamakan pada stau tahap.

Ornithodoros turicata, O.parkeri, dan O.hermsi terdapat di Rocky Mountain


dan negara-negara bagian Pantai Pasifik Amerika Serikat dan O.talajedi Kansas,
California, dan Florida ke selatan sampai Argentina. Ornithodoros kadang-kadang
terdapat di rumah-rumah dan terkadang di gubug-gubug kayumusim panas di

5
Amerika Serikat bagian barat dan barat daya. . Betina yang masak berukuran 5-
6 mm x 3-4 mm. Genus ini barangkali lebih penting pada rodensia liar dan manusia
daripada ternak
Yang betina bertelur dari bulan Mei sampai Oktober di celah-celah dan
lekukan-lekukan kandang. Telur ini menetas dalam waktu 15 sampai 21 hari.,
dan beberapa hari kemudian, larva makan beberapa kali, tetap menempel pada induk
semangnya selama 12 sampai 30 menit setiap kali makan. Mereka menyilih kira-kira
dalam waktu 15 hari dan nimfanya makan untuk beberapa hari, menyilih menjadi
nimfa instar kedua, makan lagi, dan menyilih menjadi instar ketiga dalam waktu 10-
32 hari lagi. Nimfa ini kemudian makan dan menyilih menjadi stadium dewasa.
Pembuahan terjadi bila jantan menaruhkan spermanofora pada lubangkelamin
betina.Yang betina mulai bertelur dalam waktu kira-kira sebulan. Siklus mulaidari
telur ke telur berlangsung kira-kira 4 bulan di laboratorium, menunggu berbulan-
bulan sebelum munculnya hewan yang mereka hisap darahnya. Sengkenit dewasa
dapat hidup 7 bulan tanpa makan dan nimfa serta larvanya waktunya lebih singkat.

2.4 Epidemiologi

Sengkenit telah dikenal sebagai vector penyakit sejak tahun 1893, ketika
Smith dan Kilbourne menemukan species Boophilus annulatus sebagai vector penular
“demam Texas” pada lembu.Pada beberapa species tidak saja dapat menularkan
penyakit melalui stadium metamorphosis dari pada sengkenit, tetapi juga melalui
telur, kepada generasi berikutnya. Bila penyakit ini menular diantara binatang
peliharaan akan menyebabkan kerugian keuangan yang besar. Ricketsia merupakan
parasit intrasellular obligate yang mampu hidup di luar jaringan hewan dan dapat
ditularkan di antara hewan oleh Rat fleas, Body lice dan Wood tick adalah vector
arthropoda yang menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan ricketsia.

Sengkenit tersebar di seluruh Indonesia dengan spesies b.ixodes


ricinus Linnaeus pada tahun 1758. Sengkenit ini berhasil dikoleksi dari kambing di
Lhokseumawe, dari babi di Padang Sidempuan, dari anjing di sebagian besar kota-
kota di Jawa, dari sapi di Madura dan Menado, dari sapi dan anjing di Singaraja(Saim
,1992). Didapatkan juga sengkenit ini dari kambing, anjing dan sambar (Cervus
unicolorequinus) di Lampung(Matsimura 1999). Secara umum memang sengkenit
tersebut ditemukan pada anjing tetapi sering juga terdapat pada mamalia lainnya

6
(Audy dkk 2000) menemukan tidak saja dari anjing bahkan dari manusia. (Wilson
N,1980) bahkan menemukan dari satwa yang lebih beraneka ragam yaitu dari sapi
( Bos javanicus) dari kerbau ( Bubalusbubalis), dari sambar (Cervus
unicolorequinus) dan dari ayam.(Munaf H.B.,1978).
Sengkenit dapat menularkan organisme penyebab penyakit dengan 2 cara,
antara lain secara transisional dan transovarian. Transisional yaitu tiap stadium tick
dapat menularkan mikroorganisme penyebab penyakit. Sedangkan transovarian yaitu
tick dewasa betina yang terinfeksi mikroorganisme penyebab penyakit dapat
menularkan pada generasi berikutnya melalui saluran telur yang terinfeksi. Sengkenit
dapat menularkan mikroorganisme penyebab penyakit diantaranya ialah:
 Ricketsia (ex: Dermacentor sp: Penyebab mountain spotter fever)
 Virus: Arbovirus,penyakit Kyasanur Forest disease, Russian Spring summer
encephalitis,
 Bakteri
 Borellia recurensis penyebab penyakit Relapsing fever ditularkan oleh
Ornitoodorus
 Pasteurella pestis
 Protozoa (Anaplomosis ditularkan oleh boophilus).

2.5 Habitat
Habitat sengkenit harus memenuhi dua persyaratan penting untuk
kelangsungan hidupnya. Ini adalah penyediaan kelembaban cukup tinggi untuk
sengkenit untuk menjaga keseimbangan air dan campuran spesies hewan
untuk bertindak sebagai host untuk tiga tahap kutu, larva, nimfa dan dewasa.
Sengkenit rentan terhadap pengeringan selama periode intermiten dari host mencari
(Questing) dan di daerah yang terkena kegiatan seperti itu hanya
mungkin berlangsung beberapa minggu, sedangkan di lingkungan terlindung questing
bias berlanjut selama beberapa bulan. Sengkenit juga rentan terhadap kekeringan
selama fase pengembangan yang panjang, ketika mereka terletak pada atau dekat
permukaan tanah. Di sini mereka mengubah selama periode bulan ke tahap
berikutnya, atau dalam kasus betina dewasa, bertelur. Dalam kedua questing dan
mengembangkan fase kutu dapat memperoleh air dari udara subsaturated dengan

7
mengeluarkan dan kemudian kembali menelan higroskopis cairan yang dihasilkan
oleh kelenjar saliva
Kegiatan ini memungkinkan sengkenit untuk menjaga keseimbangan air yang
stabil selama kelembaban relatif mikro mereka tidak jatuh di bawah 80-85% untuk
waktu yang lama. Sengkenit ini sehingga dapat hanya bertahan di daerah di mana
cover bagus vegetasi dan tikar dari vegetasi yang membusuk terjadi sehingga
kelembaban relatif di dasar vegetasi tetap di atas 80-85% sepanjang tahun terkering
kali, biasanya musim panas. Namun, habitat tersebut juga dapat terlalu basah dan
senkenit tidak akan bertahan hidup di daerah yang terkena banjir untuk waktu yang
lama di musim dingin.
Habitat juga harus mengandung konsentrasi yang cocok dan berbagai host
untuk setiap tahap parasit (larva, anakan dan dewasa betina). Betina dewasa (laki laki
mengambil darah sedikit atau tidak) hanya akan berhasil makan pada hewan besar
seperti rusa, domba, sapi dan anjing (pengecualian adalah landak, Erinaceus
europaeus, meskipun ukuran kecil). Yang belum dewasa dapat parasitis hamper
semua hewan berdarah hangat (termasuk host di atas dan hewan pengerat, burung dan
beberapa reptil), tetapi peri kurang sukses di mamalia kecil daripada larva.
Persyaratan ini berarti bahwa sengkenit terutama berlokasi di hutan yang mengandung
sulung kecil dan mamalia besar, tetapi mereka juga dapat ditemukan di konifer hutan,
asalkan ada vegetasi sampah yang memadai pada tanah dan iklim mikro yang lembab.
Dalam habitat seperti padang rumput tua dan Moorland, dimana curah hujan cukup
tinggi dan cukup padat vegetasi untuk mempertahankan kelembaban yang memadai,
sumber utama makanan darah untuk semua tahap biasanya ternak seperti domba dan
sapi.

Pada Ornithodoros moubata yang merupakan sengkenit lunak rahasia dalam


kebiasaan mereka, makan di malam hari dan menyembunyikan diri pada siang hari di
celah-celah atau retak di dekat sarang bertengger dari tuan rumah. Pada perempuan
mencari makan dan bertelur secara bergantian selama waktu yang relative panjang.
Dengan demikian, kutu lunak tunggal dapat makan, pada host yang berbeda selama satu
periode tertentu, yang tajam meningkatkan pembawa penyakit potensial. Banyak kutu
lunak memakan burung dan reptile, meskipun yang lain lebih suka mamalia sebagi tuan
rumah.

8
2.6 Klasifikasi
Superfilum : Ecdysozoa
Filum : Arthropoda
Upafilum : Chelicerata
Kelas : Arachnida
Upakelas : Acari
Superordo : Parasitiformes
Ordo : Ixodida
Superfamilia : Ixodoidea tambien son conocidos urena y Rua
Familia : Argasidae
Genus : Ornithodoros
Spesies : Ornithodoros moubata

2.7 Penularan Penyakit

Seekor babi yang sehat dapat terinfeksi demam babi afrika melalui rute
penularan secara langsung dan tidak langsung. Penularan langsung terjadi melalui
kontak fisik antara babi terinfeksi dengan babi sehat, sedangkan penularan tidak
langsung terjadi dengan cara:

 Menelan makanan atau sampah yang mengandung partikel virus ASF.


Konsumsi sampah sisa makanan dikenal dengan istilah swill feeding.
Sampah yang dihasilkan dari penerbangan pesawat
udara dan kapal laut yang berlayar antarnegara atau antarwilayah
merupakan salah satu sumber infeksi virus ASF.
 Gigitan caplak yang bertindak sebagai vektor biologis. Virus ASF
dapat hidup dalam tubuh caplak lunak dari genus Ornithodoros,
seperti O. erraticus dan O. moubata.
 Kontak dengan benda mati yang membawa partikel virus,
seperti pakaian, sepatu, dan kendaran.

Demam babi afrika dapat ditularkan baik dengan caplak maupun tanpa adanya
caplak sebagai perantara, bergantung pada siklus epidemiologis penyakit yang
dipengaruhi oleh lokasi geografis dan spesies babi yang terlibat. Cairan hidung dan
mulut, jaringan, darah, urin, dan feses dari hewan terinfeksi, baik hidup maupun mati,

9
merupakan sumber virus. Babi yang telah pulih dari infeksi akut dan kronis dapat
berstatus terinfeksi secara persisten dan berperan sebagai pembawa virus.

2.8 Patologi dan Gejala Klinis

Terdapat variasi tanda klinis dan tingkat kematian akibat ASF, bergantung
pada tingkat virulensi virus dan spesies babi yang terinfeksi. Bentuk penyakit yang
ditemukan yaitu perakut, akut, subakut kronis, dan subklinis. Masa inkubasi biasanya
berlangsung antara 4-19 hari. Pada penyakit bentuk akut, masa inkubasi berlangsung
lebih singkat (3-7 hari), diikuti dengan demam tinggi (hingga 42 °C), dan kematian
dalam 5-10 hari atau dalam 6-13 hari (hingga 20 hari).

Selain demam tinggi, tanda klinis lain yang ditemukan yaitu depresi,
hilangnya nafsu makan, hemoragi pada kulit dan organ dalam, abortus pada babi
bunting, sianosis, muntah, dan diare. Angka kematian dapat mencapai 100%dan
terkadang, kematian terjadi bahkan sebelum tanda klinis dapat diamati.

Pada bentuk subakut dan kronis yang disebabkan oleh virus dengan virulensi
yang rendah, tanda klinis yang muncul lebih ringan dan berlangsung dalam periode
waktu yang lebih lama. Tingkat kematian lebih rendah, berkisar antara 30-
70%. Manifestasi penyakit bentuk kronis di antaranya penurunan berat badan, demam
intermiten atau berkala, gangguan pernapasan, ulser pada kulit, dan radang sendi.
Bentuk ini jarang ditemukan pada wabah penyakit.

Beragam jenis babi memiliki kerentanan yang berbeda terhadap virus ASF.
Babi liar afrika dapat terinfeksi tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang
memungkinkan mereka untuk bertindak sebagai reservoir.

2.9 Penyebaran Penyakit


 Awal mula

Demam babi afrika pertama kali diidentifikasi pada tahun 1921


di Kenya, Afrika Timur walaupun wabahnya telah terjadi sejak tahun 1909. Kasus
penyakit ini tetap terbatas di benua Afrika hingga tahun 1957 pada saat ASF
dilaporkan di Portugal kemudian selanjutnya menyebar ke berbagai negara
di Eropa (Italia, 1967; Spanyol, 1969; Prancis, 1977; Malta, 1978; Belgia, 1985;
dan Belanda, 1986), hingga ke Kepulauan Karibia (Kuba, 1971 dan

10
1980; Republik Dominika, 1978; dan Haiti, 1979) serta Amerika Selatan (Brasil,
1978).

 Asia

Virus ASF ditemukan pada babi liar di Iran pada tahun 2010, tetapi setelah
itu tak ada laporan kasus lagi di wilayah Timur Tengah. Di bulan Agustus
2018, Tiongkok melaporkan wabah demam babi afrika di provinsi Liaoning, di
mana kasus ini merupakan yang pertama di Asia Timur. Kasus ASF pun
menyebar ke negara Asia lainnya, yaitu Mongolia, Korea Utara, dan Korea
Selatan. Beberapa ilmuwan Tiongkok di Universitas Nankai mendeteksi virus
ASF pada Dermacentor, caplak keras pada kambing dan sapi.

 Asia Tenggara

Pada bulan Februari 2019, Vietnam mengonfirmasi kasus demam babi


afrika. Hal ini menjadikannya negara Asia Tenggara pertama yang terinfeksi
penyakit ini. Secara berturut-turut, demam babi afrika juga ditemukan
di Kamboja, Laos, Filipina, Myanmar, dan Timor Leste. Hingga bulan Desember
2019, tujuh negara di Asia Tenggara telah melaporkan kasus ASF.

 Indonesia

Sejak penyakit ASF mulai memasuki benua Asia, pemerintah


Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Di akhir tahun
2019, terjadi wabah kematian babi di Provinsi Sumatra Utara yang membunuh
lebih dari 10 ribu ekor babi. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kematian ini
disebabkan oleh penyakit demam babi klasik dan terindikasi serangan virus ASF.

Pada 12 Desember 2019, Kementerian Pertanian Republik


Indonesia mengonfirmasi adanya wabah ASF melalui situs web Organisasi
Pangan dan Pertanian (FAO). Sementara itu, Organisasi Kesehatan Hewan
Dunia (OIE) menerima laporan kejadian ASF dari pemerintah Indonesia pada 17
Desember 2019. Dalam laporan tersebut, pemerintah menyatakan bahwa sejak 4
September 2019 telah terjadi 392 kali wabah ASF yang menewaskan 28.136 ekor
babi pada 16 kabupaten/kota di Sumatra Utara. Hasil positif didapatkan melalui
uji laboratorium dengan metode PCR waktu nyata. Sumber infeksi belum dapat
disimpulkan, tetapi penilaian risiko yang cepat menunjukkan bahwa transportasi

11
babi hidup dari daerah lain dan kontaminasi virus dari pengurus hewan,
kendaraan, dan pakan berperan dalam infeksi ini.

Pemerintah secara resmi mengumumkan kejadian wabah melalui


Keputusan Menteri Pertanian Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang
Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) pada
Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Daerah yang dinyatakan
sebagai daerah wabah yaitu Kabupaten Dairi, Humbang Hasudutan, Deli
Serdang, Serdang Bedagai, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli
Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun Utara, Pakpak Bharat,
dan Langkat, serta Kota Tebing Tinggi, Pematangsiantar, dan Medan.

2.10 Pencegahan

Belum ada vaksin yang mampu mencegah dan obat yang mampu
menyembuhkan demam babi afrika. Oleh karena itu, cara pencegahan yang bisa
dilakukan adalah mencegah lalu lintas media pembawa virus ASF dan
menerapkan biosekuriti yang baik di negara atau daerah yang belum terinfeksi.
Tindakan yang bisa diambil seperti memastikan limbah makanan dari pesawat, kapal
laut, dan kendaraan yang berasal dari negara terinfeksi ASF dikelola dengan baik dan
tidak dikonsumsi oleh babi, serta mencegah pemasukan ilegal babi hidup dan produk
babi dari negara negara terinfeksi ASF.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2. 2009. Parasit dan gangguannya terhadap inang (hospes).

Soulsby, E.J.L (1982). Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated


Animals. 7th Ed. Bailliere Tindal London

Porsongnern. P, Jamjanya. T, Thangrabeab. M. (2009). Pathogenicity Of


Metarhizium spp. And Paecilomyces Fusmosoroseus to Cattle Tick
(Boohilus mikroplus), Rajamanggala University Of Technology
Lanna, Chang-Mai, Thailand

Anonimous. (2009). Gejala klinis dan dampak umum akibat terkena


caplak.http://duniaveteriner.com/2009/12/gejala-klinis-dan-dampak-umum-akibat-
terkena-caplak/print akses tanggal 29 September 2010.

Bowman, D.D (1999). Georgis’ Parasitology for Veterinery. 8th Ed.


SaundersanImprint of Elsevier Science

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2019). Pedoman Kesiagaan Darurat


Veteriner Indonesia Seri African Swine Fever. Jakarta: Kementerian Pertanian
Republik Indonesia

13