Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN: FRAKTUR CALCANEUS

Oleh: Dyan Senja Rachmawati (1406544614)


Profesi Keperawatan Medikal Bedah
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

A. Anatomi dan Fisiologi


Kalkaneus, tulang orheel, adalah tulang tarsal terbesar dan mudah teraba. Ketika berdiri,
panggul mentransmisikan berat badan ke tanah sebagai berikut: as follows: pelvis  femur
 tibia  calcaneus  tanah. Permukaan posterior calcaneus adalah proyeksi kasar yang
menonjol seperti tombol. Ini adalah situs perlekatan untuk tendon kalkanealis (tendon
Achilles) yang berasal dari otot betis yang kuat. Otot-otot ini mengangkat tumit dan
mengangkat telapak kaki dari tanah, seperti ketika berjinjit.

Gambar 1. Struktur Tulang Kaki


Lengkungan kaki menopang dan memindahkan beban tubuh dan beradaptasi dengan
berjalan atau berlari pada permukaan yang tidak rata. Untuk melakukan ini, lengkungan
fleksibel dan berfungsi sebagai pengungkit. Transfer berat terjadi di sepanjang longitudinal
arch kaki. Ligamen dan tendon mempertahankan lengkungan ini dengan "mengikat"
kalkaneus ke bagian distal metatarsal. Bagian lateral, atau kalkanealal dari longitudinal arch
membawa sebagian besar berat tubuh sambil berdiri. Bagian lengkungan ini memiliki
kelengkungan yang kurang dari bagian medial, atau talar dari longitudinal arch. Bagian
medial lebih elastis daripada bagian lateral longitudinal arch. Oleh karena itu, permukaan
medial, plantar (telapak kaki) tetap lebih tinggi, dan otot, saraf, dan pembuluh darah yang
memasok permukaan inferior kaki tidak terjepit di antara metatarsal dan tanah. Elastisitas
1
ini juga menyerap guncangan yang terjadi dengan pergeseran beban berat yang tiba-tiba.
Sebagai contoh, tekanan saat lari atau menari balet ditopang oleh elastisitas bagian medial
longitudinal arch. Perubahan derajat kelengkungan dari medial ke batas lateral kaki adalah
transverse arch.
Ketika berdiri secara normal, berat badan didistribusikan secara merata antara
calcaneus dan ujung distal metatarsal. Jumlah berat yang ditransfer tergantung pada posisi
kaki dan penempatan berat badan Anda. Selama dorsofleksi kaki, seperti ketika "bertumpu
padaa tumit," semua berat badan terletak pada kalkaneus. Selama fleksi plantar, seperti
ketika "berdiri berjinjit," talus dan kalkaneus memindahkan berat ke metatarsal dan falanges
melalui tulang tarsal yang lebih anterior.

Gambar 2. Anatomi Tulang Kaki secara Lateral dan Medial

Gambar 3. Tampilan Permukaan Tulang dan Otot Kaki


B. Definisi, Faktor Risiko, dan Etiologi Penyakit
1. Definisi
Fraktur atau yang biasa disebut dengan patah tulang adalah terjadinya disrupsi atau
rusaknya struktur tulang yang umumnya disebabkan karena trauma dan penyebab lainnya
karena proses penyakit (Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher, & Harding, 2014). Fraktur

2
muncul ketuka adanya benturan keras dari luar tubuh yang sangat kuat dibandingkan
dengan kekuatan tulang sehingga tulang menjadi patah (White, Duncan, & Baumle,
2013).
Fraktur terbagi menjadi lima tipe, yaitu fraktur komplit, fraktur tidak komplit, fraktur
comminuted, fraktur tertutup, dan fraktur terbuka. Fraktur komplit yaitu kerusakan atau
patah yang terjadi di sepanjang bagian tulang sehingga menimbulkan pergeseran atau
perubahan posisi tulang dari posisi normal. Fraktur tidak komplit yaitu patah tulang yang
terjadi hanya di sebagian area tulang, dan biasanya tidak menimbulkan pergeseran posisi
tulang (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010). Fraktur comminuted yaitu fraktur
yang menimbulkan beberapa fragmen tulang, fraktur tertutup yaitu fraktur yang tidak
merusak bagian kulit, dan fraktur terbuka yaitu fraktur yang terjadi ketika patahan tulang
merusak bagian kulit dan terlihat keluar (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
Selain itu, juga terdapat pembagian fraktur menurut anatomi letak fragmennya, yaitu:

1. Avulsion
Avulsion merupakan fraktur dimana fragmen tulang tertarik
keluar dari ligamen atau tendon dan tempat menempelnya
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

2. Comminuted
Comminuted merupakan fraktur dimana tulang pecah menjadi
beberapa fragmen (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

3
3. Compression

Compression merupakan fraktur dimana tulang tertekan (dapat


terlihat pada fraktur vertebra) (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever,
2010).

4. Depressed
Depressed merupakan jenis fraktur yang dimana
fragmennya masuk ke dalam (sering terlihat pada
fraktur tengkorak dan tulang wajah) (Smeltzer, Bare,
Hinkle, & Cheever, 2010).

5. Epiphyseal
Epiphysis merupakan fraktur yang terjadi pada epiphysis (Smeltzer,
Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

6. Greenstick
Greenstick merupakan fraktur yang terjadi pada satu sisi tulang,
sedangkan sisi yang lainnya bengkok (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever,
2010).

4
7. Impacted
Impacted merupakan fraktur dimana fragmen tulang satu, masuk ke
fragmen tulang yang lainnya (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

8. Oblique
Oblique merupakan fraktur yang terjadi melintang pada tulang
(kurang stabil dibandingkan fraktur transverse) (Smeltzer, Bare,
Hinkle, & Cheever, 2010).

9. Open
Open fraktur merupakan suatu keadaan dimana kerusakan tulang juga
melibatkan kulit dan membran mukosa, juga biasa disebut dengan
fraktur compound (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

10. Pathologic
Fraktur pathologic merupakan fraktur yang terjadi pada area tulang
yang sakit (contohnya osteoporosis, metastase tulang, tumor, dll),
dapat terjadi tanpa jatuh atau adanya trauma (Smeltzer, Bare,
Hinkle, & Cheever, 2010).

11. Simple

5
fraktur simple merupakan fraktur yang utuh, dan tanpa merusak area
kulit (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

12. Spiral
fraktur spiral merupakan fraktur yang melimpir (zig zag) di sekitar area tulang
panjang (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

13. Stress
Fraktur stress merupakan fraktur yang terjadi akibat dari berulangnya fraktur
tanpa penyembuhan tulang dan otot (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever,
2010).

14. Transverse
fraktur transverse merupakan fraktur yang memotong lurus pada tulang
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

2. Faktor Risiko
Faktor risiko tinggi fraktur adalah klien yang memiliki kondisi predisposisi pada
tulang seperti metastase atau tumos tulang, osteoporosis, koordinasi yang buruk,
gangguan pada penglihatan, atau kelemahan pada umumnya (White, Duncan, & Baumle,
2013).
3. Etiologi

6
Mayoritas, fraktur terjadi karena kecelakaan. Hal ini merupakan dampak dari
benturanm terkilir, atau kontraksi yang berlebihan pada perkembangan otot. Penyebab
lain dari fraktur adalah karena proses penyakit yang melemahkan tulang yang disebut
juga sebagai tipe fraktur patologis. (White, Duncan, & Baumle, 2013).
C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari fraktur antara lain edema dan bengkak, nyeri tekan, spasme
otot, deformitas, ekimosis, memar, kehilangan fungsi tulang, dan krepitasi (Lewis,
Dirksen, Heitkemper, Bucher, & Harding, 2014). Edema dan bengkak terjadi karena
disrupsi dan masuknya tulang ke area kulit dan otot atau terjadinya perdarahan di area
sekitar jaringan. Nyeri tekan terjadi karena refleks otot, trauma jaringan, peningkatan
tekanan pada saraf, serta pergerakan pada area yang fraktur. Spasme otot terjadi karena
iritasi pada jarungan dan respon protektif terhadap luka serta frakturnya.
Deformitas merupakan posisi abnormal pada bagian tubuh yang fraktur. Ekimosis dan
memar adalah perubahan warna kulit di area sekitar fraktur karena pengeluaran darah di
jaringan subkutan. Kehilangan fungsi tulang merupakan terganggunya fungsi tulang atau
sendi karena fraktur tersebut. Krepitasi merupakan suara-suara yang timbul karena
serpihan tulang yang patah seperti crunching. Pada fraktur, area luka harus di imobilisasi,
karena jika terdapat pergerakan yang tidak diperlukan pada tulang dapat meningkatkan
kerusakan pada jaringan lunak serta dapat merusak sistem neurovaskular di sekitarnya.

7
D. Patofisiologi (WOC/Mindmap)

Awalnya, luka terjadi karena etiologi yang sudah disebutkan sebelumnya, lalu tubuh
merespon terjadinya fraktur dengan melakukan proses penyembuhan pada area yang fraktur
tersebut. Pada luka fraktur, terdapat proses penyembuhan dari luka tersebut yaitu terjadinya
hematoma, granulasi jaringan, pembentukkan kalus, osifikasi, konsolidasi, dan remodeling
(Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher, & Harding, 2014).
Saat terjadi fraktur, perdarahan pada luka menimbulkan hematoma di sekitar fragmen
fraktur yang muncul 72 jam setelah terjadinya luka. Setelah itu, terjadilah fase granulasi
jaringan yaitu saat fagositosis aktif menyerap nekrosis lokal dan hematoma berubah menjadi
jaringan granulasi yang terdiri dari pembuluh darah baru, fibroblas dan osteoblas yang akan
membentuk zat pembentukkan tulang baru yang disebut osteoid pada hari ke 3-14. Kemudian,
mineral seperti kalsium, fosfor, dan magnesium serta susunan tulang yang baru akan terkumpul
di osteoid sehingga membentuk kalus yang muncul pada akhir minggu ke-2 setelah luka yang
dapat dilihat perkembangannya dengan pemeriksaan X-Ray.
Lalu, osifikasi terjadi selama 3 minggu sampai 6 bulan setelah luka dan berlanjut sampai
fase penyembuhan selesai. Pada fase ini, area yang fraktur harus dibatasi pergerakkannya.
Selama perkembangan kalus, jarak antara tulang yang fraktur semakin berkurang yang disebut

8
fase konsolidasi yang terjadi 1 tahun pasca fraktur. Lalu, zat-zat yang berlebih saat
pembentukkan tulang diserap kembali oleh tulang yang baru yang disebut dengan proses
remodeling.

Gambar 1. Proses penyembuhan tulang. A. Perdarahan pada area


fraktur dan membentuk hematoma B. Pembentukan hematoma
menjadi jaringan fibrosa C. Invasi osteoblas, pemanjangan serat
kolagen, dan deposisi kalsium D. Pembentukkan kalus: tulang yang
baru terbentuk dan osteoklas menghancurkan tulang yang sudah mati
E. Remodeling sudah selesai saat terjadinya penyerapan kalus

Lamanya proses penyembuhan luka fraktur bergantung pada area terjadinya fraktur, aliran
darah ke area luka, imobilisasi, dan alat untuk fiksasi tulang. Penyembuhan luka semakin lama
jika usia seseorang semakin menua. Selain itu, faktor lain yang dapat memperlambat
penyembuhan fraktur yaitu merokok, kurangnya asupan nutrisi, dan faktor penyakit lain,

E. Komplikasi
1. Komplikasi cepat
a. Syok
Syok hipovolemik yang berasal dari perdarahan banyak dijumpai pada pasien
dengan trauma atau fraktur bagian pelvis dan pada pasien dengan pergeseran atau
fraktur femoral terbuka yang mana arteri femoralis tersobek oleh fragmen tulang
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
b. Fat embolism syndrome
Setelah terjadi fraktur pada tulang panjang atau pelvis, fat emboli dapat berkembang.
Fas embolism terjadi paling banyak pada laki-laki dewasa berusia kurang dari 40

9
tahun. Hal ini juga sering terjadi pada pasien yang memiliki multiple fraktur
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
c. Compartment syndrome
Compartment syndrome merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut (Smeltzer,
Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
2. Komplikasi lambat
a. Delayed union
Delayed union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi atau patahan tulang
tidak menyambung kembali sesuai waktu yang dibutuhkan tulang untuk pulih
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi
sambungan tulang yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan fraktur namun posisi anatominya tidak tepat
atau tidak normal, misalnya bengkok (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
d. Avascular necrosis of bone
AVN terjadi ketika tulang tidak memiliki suplai darah yang cukup dan mati
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010). Struktur tulang akan kolaps,
mengakibatkan adanya rasa nyeri, kehilangan fungsi sendi dan kerusakan sendi
jangka panjang.
e. Reaksi pada alat fiksasi internal
Masalah yang dapat timbul akibat alat fiksasi internal yaitu kegagalan mekanik
(pemasangan dan stabilisasi yang inadekuat), kegagalan material (kerusakan atau
kesalahan alat), alat yang korosi menyebabkan inflmasi lokal, respon alergi
terhadap bahan metal, dan lain-lain (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
f. Complex regional pain syndrome
CRPS merupakan masalah sistem saraf simpatetik yang menyakitkan. Hal ini jarang
terjadi, namun jika terjadi lebih sering pada bagian atas ekstremitas setelah trauma
dan sering terjadi pada wanita (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
Manifestasi klinis dari CPRS yaitu rasa terbakar yang hebat, edema lokal,
hiperestesia, kekakuan, perubahan warna, perubahan kulit vasomotor, dan

10
perubahan tropik seperti kulit yang mengkilat, dan peningkatan pertumbuhan
rambut dan kulit (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
g. Heterotopic ossification
Heterotopic ossification merupakan formasi yang abnormal dari tulang, dekat
tulang atau otot dalam respon untuk trauma jaringan lunak atau fraktur setelah
trauma kasar atau penggantian sendi total (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever,
2010).
F. Pengkajian
1. Riwayat
a. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
 Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor
presipitasi nyeri.
 Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien.
Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
 Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar
atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
 Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan fungsinya.
 Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Meliputi kronologi terjadinya cedera sehingga bisa ditentukan kekuatan yang
terjadi dan bagian tubuh mana yang cedera.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi
petunjuk berapa lama tulang tersebut akan tersambung kembali. Penyakit-penyakit
tertentu seperti kanker tulang dan diabetes dapat menghambat proses penyembuhan
tulang
d. Riwayat Penyakit Keluarga

11
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu
faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering
terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan
secara genetik
e. Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
f. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
 Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan terjadinya kecacatan dan harus
menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti
penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,
pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan
aktivitas fisik
 Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-
harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit C dan lainnya untuk membantu
proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi
dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar
matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal
terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan
mobilitas klien.
 Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces
pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada
kesulitan atau tidak.
 Pola Tidur dan Istirahat

12
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat
mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
 Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien
menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain.
Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien.
Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur
dibanding pekerjaan yang lain.
 Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena
klien harus menjalani rawat inap.
 Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan
akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body
image).
 Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur,
sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat
fraktur.
 Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual
karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang
dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk
jumlah anak, lama perkawinannya.
 Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan
timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang
ditempuh klien bisa tidak efektif.
 Pola Tata Nilai dan Keyakinan

13
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik
terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien
2. Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan
gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat
melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya
memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a. Gambaran Umum
- Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada
keadaan klien.
(b)Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus
fraktur biasanya akut.
(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
- Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
(a) Sistem Integumen: Terdapat eritema, suhu sekitar daerah trauma meningkat,
bengkak, oedema, nyeri tekan.
(b) Kepala: Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
(c) Leher: Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan
ada.
(d) Muka: Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun
bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
(e) Mata: Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi
perdarahan)
(f) Telinga: Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
nyeri tekan.
(g) Hidung: Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h) Mulut dan Faring: Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
(i) Thoraks: Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
(j) Paru
- Inspeksi : Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat

14
penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
- Palpasi : Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
- Perkusi : Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
- Auskultasi : Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya
seperti stridor dan ronchi.
(k) Jantung
-Inspeksi: Tidak tampak iktus jantung.
-Palpasi: Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
-Auskultasi : Suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.
(l) Abdomen
-Inspeksi: Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
-Palpasi: Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
-Perkusi: Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
-Auskultasi: Peristaltik usus normal  20 kali/menit.
(m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b. Keadaan Lokal
- Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
(b) Cape au lait spot (birth mark).
(c) Fistulae.
(d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa
(abnormal).
(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
- Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi
netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.Yang perlu dicatat adalah:
(a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. CRT <2 detik
(b)Apabila ada pembengkakan, cek fluktuasi atau oedema terutama disekitar

15
persendian.
(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau
distal).
(d)Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di
permukaan atau melekat pada tulang. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan
perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau
permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
- Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan
ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik
0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan gangguan
gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.
3. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar
rontgen (x-ray) untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang
yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Hal yang harus dibaca
pada x-ray:
a. Bayangan jaringan lunak.
b. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga
rotasi.
c. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
d. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khusus, seperti:
a. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup
yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks
dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
b. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang
tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
c. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
d. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari
tulang untuk menemukan struktur tulang yang rusak.

16
Pemeriksaan Laboratorium
a. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
c. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino
Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme
penyebab infeksi.
b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas
tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
c. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
d. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang
berlebihan
G. Masalah Keperawatan dan Diagnosis yang Mungkin Muncul
1. Nyeri akut b.d. spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera pada jaringan,
stress/ansietas. traksi/alat imobilisasi
2. Kerusakan integritas kulit b.d. cedera tusuk; fraktur terbuka; bedah perbaikan;
pemasangan traksi pen, kawat, sekrup; perubahan sensasi, sirkulasi
3. Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan neuromuskular dan skeletal, nyeri,
ketidaknyamanan, terapi restriktif, imobilitas tungkai
4. Risiko infelsi b.d. tidak adekuatnya pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan,
terpajan pada lingkungan, prosedur invasif, traksi tulang
H. Prioritas Diagnosis
Nyeri akut b.d. spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera pada jaringan,
stress/ansietas. traksi/alat imobilisasi
I. Rencana Asuhan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Rencana Tindakan Rasional
1 Nyeri (akut) b.d Nyeri hilang atau Mandiri
 Spasme otot terkontrol a. Pertahankan imobilisasi a. Menghilangkan nyeri dan
 Gerakan fragmen Kriteria evaluasi: bagian yang sakit mencegah kesalahan posisi
tulang, edema, dan  Klien tampak dengan tirah baring, tulang yang cedera
cedera pada jaringan rileks dan santai gips, pembebat, traksi b. Meningkatkan aliran balik
lunak  Klien mau b. Tinggikan dan vena, menurunkan edema dan
 Alat traksi/imobilisasi berpartisipasi dukungan ekstrimitas meneurunkan nyeri
 Stres, ansietas dalam yang terkena c. Dapat meningkatkan
aktivitas/tidus/ c. Hindari penggunaan ketidaknyamanan karena
sprei/bantal plastik

17
istirahat yang dibawah ekstrimitas peningkatan produksi padas
tepat dalm gips dalam gips yang kering
 Klien mampu d. Tinggikan penutup d. Mempertahankan kehangatan
menggunakan tempat tidur, tubuh tanpa ketidaknyamanan
ketrampilan pertahankan linen karena tekanan selimut pada
relaksasi terbuka pada ibu jari bagian yang sakit
 Tanda-tanda vital kaki e. Mempengaruhi pilihan
stabil e. Evaluasi keluhan keefektifan intervensi.
nyeri/ketidaknyamanan, Tingkat intensitas dapat
perhatikan mempengaruhi persepsi
karakteristik, lokasi, reaksi terhadap nyeri
termasuk intensitasnya f. Membantu menghilangkan
(skala 0-10). Perhatikan ansietas. Pasien dapat
petunjuk nyeri non merasakan kebutuhan untuk
verbal (perubahan menghilangkan pengalaman
tanda-tanda vital dan kecelakaan
emosi) g. Mempertahankan
f. Dorong pasien untuk kekuatan/mobilitas otot yang
mendiskusikan masalah sakit dan memudahkan
sehubungan dengan resolusi inflamasi pada
cedera jaringan cedera
g. Lakukan dan awasi h. Meningkatkan sirkulasi
rentang gerak umum, menurunkan area
pasif/aktif tekanan lokal dan kelelahan
h. Berikan alternatif otot
tindakan i. Menfokuskan kembali
ketidakmampuan perhatian, meningkatkan rasa
(pijatan punggung, kontrol kemampuan koping
perubahan posisi) dalam manajemen nyeri
i. Dorong menggunakan untuk periode lebih lama
teknik manajemen stres j. Mencegah kebosanan,
(relaksasi, latihan nafas menurunkan ketegangan dan
dalam, imajinasi dapat meningkatkan
visualisasi, sentuhan kekuatan otot, dapat
terapeutik) meningkatkan harga diri dan
j. Identifikasi aktifitas kemmapuan koping
terapeutik yang tepat k. Dapat menandakan terjadinya
untuk usia pasien, komplikasi
kemampuan fisik dan l. Menurunkan edema/
penampilan pribadi pembentukan hematom,
k. Cek adanya keluhan menurunkan sensasi nyeri
nyeri yang tidak biasa m. Diberikan untuk menurunkan
atau tidak hilang dengan nyeri dan atau spasme otot.
analgesik Penelitia toradol telah
Kolaborasi diperbaiki lebih efektif dalam
l. Lakukan kompres menghilangkan nyeri tulang
dingin 24-48 jam dengan masa kerja lebih lama
pertama/ sesuai indikasi n. Pemberian rutin ADP
m. Berikan obat sesuai mempertahankan kadar
indikasi, narkotik, analgetik darah adekuat,
relaksan otot mencegah fluktuasi dalam
n. Awasi pemberian menghilangkan nyeri
analgetik yang sehubungan dengan tegangan
dikontrol pasien otot/spasme

18
2. Kerusakan integritas Menpertahankan Mandiri:
kulit integritas kulit dan a. Kaji kulit untuk luka a. Memberikan informasi
Berhubungan dengan: mukosa terbuka, benda asing, tentang sirkulasi kulit dan
cedera tusuk; fraktur Kriteria evaluasi: kemerahan, perdarahan, masalah yang mungkin
terbuka; bedah perbaikan;  Integritas kulit perubahan warna pada disebabkan oleh alat dan/atau
pemasangan traksi pen, yang baik dapat kulit. pemasangan gips/bebat atau
kawat, sekrup; perubahan dipertahankan b. Masase kulit dan traksi, atau pembentukan
sensasi, sirkulasi;  Penyembuhan penonjolan tulang. edema yang membutuhkan
luka Pertahankan tempat intervensi medik lanjut.
 Tidak ada tanda- tidur kering dan bebas b. Menurunkan tekanan pada
tanda infeksi kerutan. Tempatkan area yang peka dan risiko
bantalan air/bantalan abrasi/kerusakan kulit.
lain bawah siku/tumit c. Mengurangi tekanan konstan
sesuai indikasi. pada area yang sama dan
c. Ubah posisi dengan meminimalkan risiko
sering. Dorong kerusakan kulit, Penggunaan
penggunaan trapeze bila trapeze dapat menurunkan
mungkin. abrasi pada siku/tumit.
d. Kaji posisi posisi fiksasi d. Posisi yang tak tepat dapat
eksternal menyebabkan cedera
Kolaborasi: kulit/kerusakan.
e. Gunakan tempat tidur e. Karena imobilisasi bagian
busa, bantal apung, atau tubuh, tonjolan tulang lebih
kasur udara sesuai dari area yang sakit oleh
indikasi. fiksasi mungkin sakit karena
penurunan sirkulasi.
3. Gangguan mobilitas fisik Mobilitas fisik Mandiri
b.d meningkat secara a. Kaji derajat mobilitas a. Pasien mungkin dibatasi oleh
 Kerusakan rangka optimal yang dihasikan oleh pandangan diri tentang
neurovaskuler: Kriteria evaluasi: cedera/pengobatan dan keterbatasan fisik aktual,
nyeri/ketidaknyamanan  Kekuatan otot perhatikan persepsi memerlukan informasi untuk
 Terapi restriktif/  Posisi anatomis pasien terhadap meningkatkan kemajuan
imobilisasi tungkai pada ektrimitas imobilisasi kesehatan.
yang cedera b. Instruksikan pasien b. Meningkatkan aliran darah ke
 Mampu untuk/bantu dalam otot dan tulnag untuk
melakukan rentang gerak pasif/aktif meningkatkan tonus otot,
aktivitas/ROM pada ektrimitas yang mempertahankan gerak sendi,
 Tanda vital stabil sakit dan tidak sakit mencegah kontraktur/atropi
 Luka membaik c. Dorong penggunaan dan resorpsi kalsium karena
latihan isometrik mulai tidak digunakan
dengan tungkai yang c. Kontraksi otot isometrik
tidak sakit tanpa menekuk
d. Bantu dorong untuk sendi/menggerakkan tungkai
perawatan diri dan membantu
e. Berikan/bantu dalam mempertahankan kekuatan
mobilisasi dengan kursi dan masa otot. Cat. Kontra
roda, kruk, tongkat indikasi pada perdarahan akut
sesegera mungkin. dan edema
Instruksikan keamanan d. Meningkatkan kekuatan
dalam penggunaan alat otot/sirkulasi, meningkatkan
mobilitas kontrol pasien dalam situasi
f. Awasi TD dengan dan meningkatkan kesehatan
melakukan aktivitas diri langsung
perhatikan keluhan e. Mobilsasi dini menurukan
pusing komplikasi tirah baring dan
g. Ubah posisi secara meningkatkan pengaturan dan
periodik dan dorong normalisasi fungsi organ
untuk latihan f. Hipotensi postural adalah
batuk/nafas dalam masalah umum yang

19
h. Dorong masukan cairan menyertai tirah baring lama
sampai 2000-3000 dan memerlukan intervensi
cc/hari khusus
Kolaborasi g. Mencegah/menurunkan
i. Konsul dengan ahli insiden komplikasi
terapi fisik/okupasi dan kulit/pernapasan
atau rehabilitasi medik h. Mempertahankan hidrasi
j. Lakukan prigram tubh, menurunkan resiko
defikasi (pelunak feses, infeksi urinarius,
enema laksatif) pembentukan batu dan
konstipasi
i. Berguna dalam membuat
aktifitas individual paien
dapat menentukan bantuan
jangka anjang dengan
gerakan, kekuatan dan
aktifitas yang mengandalkan
BB dan juga penggunaan alat
j. Dilakukan untuk
meningkatkan evaluasi usus
4 Resiko infeksi b.d Perluasan/penyebaran Mandiri a. Kemerahan/abrasi dapat
 Tidak adekuatnya infeksi tidak terjadi a. Inspeksi kulit untuk menimbulkan infeksi tulang
pertahanan primer: Kriteria evaluasi: adanya luka b. Dapat mengindikasikan
kerusakan kulit, trauma  Luka membaik, b. Kaji peningkatan timbulnya infeksi
jaringan, terpajan pada pus tidak ada, keluhan nyeri, adanya lokal/nekrosis jaringan yang
lingkungan tidak ada bau dan edema, drainase/bau dapat menimbulkan
 Prosedur invasif adanya tidak enak/asam osteomielitis
 Traksi tulang pertumbuhan c. Berikan perawatan luka c. Dapat mencegah kontaminasi
jaringan/granulasi secra steril sesuai silang dan kemungkinan
 Sekitar luka tidak protokol infeksi
pucat, edema
berkurang
d. Observasi luka untuk d. Tanda perkiraan infeksi gas
pembentukan bula, gangren
 Tidak ada demam
krepitasi, perubahan e. Dapat mengindikasikan
 Tanda vital stabil warna kulit kecoklatan, terjadinya osteomielitis
 Hb 13-16 g/dl bau drainase yang tidak
 Ht 40-48% f. Anemia dapat terjadi pada
enak osteomielitis, leukositosis
 Lekosit 5000- e. Selidiki nyeri tiba- biasanya ada dengan proses
1000 tiba/keterbatasan infeksi, Peningkatan
gerakan dengan edema osteomielitis,
lokal/eritema ektrimitas mengidentifikasi organisme
cedera infeksi
Kolaborasi g. Antibiotik spektrum luas
f. Awasi pemeriksaan dapat digunakan secara
laboratorimum profilaksis/dapat ditunjukkan
- Hitung darah pada mikroorganisme khusus
lengkap h. Debridement
- LED lokal/pembersihan luka
- Kultur menurunkan mikroorganisme
g. Berikan obat sesuai dan insiden infeksi sistemik
indikasi i. Banyak prosedur dilakukan
- Antibiotik pada pengobatan infeksi
h. Berikan irigasi lokal, osteomielitis, gas
luka/tulang gangren
i. Bantu prosedur j. Sequestrektomi/pengangkatan
insisi/drainase, tulang nekrotik perlu untuk
pemasangan drain, membantu penyembuhan dan
terapi O2 hiperbarik mencegah perluasan proses
infeksi

20
j. Siapkan pembedahan
sesuai indikasi

J. Treatment/Pengobatan dan Terapi/Medikasi


1. Metode Konservatif
a. Gips yaitu alat immobilisasi eksternal yang kaku dan dicetak sesuai bentuk tubuh yang
dipasang. Dilakukan pada anak-anak dan remaja dimana masih memungkinkan
terjadinya pertumbuhan tulang panjang. Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah :
- Immobilisasi dan penyangga fraktur
- Istirahatkan dan stabilisasi
- Koreksi deformitas
- Mengurangi aktivitas
- Membuat cetakan tubuh orthotik
b. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Secara umum traksi dilakukan
dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan
disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang
yang patah. Kegunaan pemasangan traksi antara lain:
- Mengurangi nyeri akibat spasme otot
- Memperbaiki dan mencegah deformitas
- Immobilisasi
- Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).
- Mengencangkan pada perlekatannya.
Macam-macam traksi antara lain:
- Traksi Panggul
Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat
puncak iliaka.
- Traksi Ekstension (Buck’s Extention)
Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. Digunakan
untuk imoibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi
spasme otot.
- Traksi Cervikal
Digunakan untuk menahan kepala extensi pada keseleo, kejang dan spasme. Traksi ini
biasa dipasang dengan halter kepala.

21
- Traksi Russell’s
Traksi ini digunakan untuk fraktur batang femur. Kadang-kadang juga digunakan untuk
terapi nyeri punggung bagian bawah. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan.
Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan
vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.
- Traksi khusus untuk anak-anak
Penderita tidur terlentang 1-2 jam, di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen,
dipasang staples pada steiman pen. Paha ditopang dengan thomas splint, sedang tungkai
bawah ditopang atau Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau
lebih, sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Sementara itu otot-otot paha
dapat dilatih secara aktif.

Metode pemasangan traksi antara lain :


2. Metode Pembedahan
a) ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Prosedur pembedahan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan stabilitas dan
mengurangi rasa nyeri pada tulang yang patah yang telah direduksi dengan skrup, paku
dan pin logam. Reduksi terbuka mengindikasikan bahwa suatu insisi bedah dilakukan
untuk mencapai tulang. Adapun fiksasi internal diartikan sebagai penggunaan alat-alat
seperti pin atau plat untuk menahan tulang agar tetap lurus selama penyembuhan.
Fiksasi internal diindikasikan pada:
- Fraktur intraartikular (untuk menstabilkan patahan tulang secara anatomi)
- Memperbaiki pembuluh darah dan nervus (untuk melindungi peredaran darah dan
perbaikan nervus)
- Multiple injuries
- Pasien lansia (untuk menunjang mobilisasi dini)
- Fraktur tulang panjang (tibia, femur, dan humerus)
- Kegagalan management konservatif
- Fraktur patologis
- Unstable fractures
Komplikasi yang mungkin muncul pada fiksasi internal diantaranya adalah infeksi, on-
union, kegagalan implant, dan Refracture

22
b) Fiksasi ekterna
Penanganan fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak dimana garis fraktur
direduksi, disejajarkan dan diimobilisasi dengan sejumlah pin yang dimasukkan ke
dalam fragmen tulang. Terapi ini biasanya dilakukan pada kasus cedera tipe ‘open-book’
dimana ligament sakroiliaka intak. Fiksasi eksternal diindikasikan pada:
- Trauma akut (fraktur terbuka dan tidak stabil)
- Non-union fracture
- Perbaikan pada joint contracture
- Terdapat pengisian pada kerusakan segmen limb (trauma, tumor dan osteomyelitis)
- Pemanjangan limb

Penatalaksanaan keperawatan
1. Pasien dengan fraktur tertutup
Perawat dapat mengajarkan pasien untuk mencegah edema dan nyeri. Perawat juga
dapat mengajarkan pasien untuk mempertahankan fungsi otot dan tulang dengan
menggunakan kruk, walker, dan alat-alat yang dapat membantu lainnya. selain itu,
perawat juga mengajarkan kepada pasien bagaimana menggunakan alat bantu jalan
tersebut secara aman, informasi medikasi yang diberikan pada pasien, monitor
komplikasi yang bisa saja terjadi, dan kebutuhan akan perawatan yang berkelanjutan
(Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
2. Pasien dengan fraktur terbuka
Dalam fraktur terbuka, terdapat risiko osteomyelitis, tetanus, dan gas gangren.
Manajemen keperawatan yang utama pada pasien dengan fraktur terbuka yaitu
pencegahan infeksi pada luka, jaringan lunak, dan tulang dan juga untuk
mempromosikan penyembuhan tulang dan jaringan lunak (Smeltzer, Bare, Hinkle, &
Cheever, 2010). Antibiotik IV diberikan segera setelah pasien masuk bersamaan
dengan suntik tetanus jika dibutuhkan (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).
Dalam fraktur terbuka, penutupan luka primer biasanya tertunda. Luka yang
terkontaminasi berat biasanya dibiarkan tidak dijahit dan dibalut dengan kassa steril
untuk mengeluarkan edema dan drainase luka. Irigasi luka dan debridemen dapat
dilakukan berulang kali menghilangkan jaringan yang terinfeksi dan tidak
tervaskularisasi menjadi ada peningkatan vaskularitas di daerah tersebut (Smeltzer,
Bare, Hinkle, & Cheever, 2010).

23
Referensi
Black, J. M, & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan medikal bedah edisi 8. Singapore: Elsevier.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Murr, A. C. (2010). Nursing care plans: Guidelines for
planning and documenting patient care (8th Ed). Philadelphia: F. A. Davis Company.
Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M. M., Bucher, L. (2014). Medical-surgical nursing :
assessment and management of clinical problems. Missouri: Elsevier.
Martini, F. H., Tallitsch, R. B., & Nath, J. L. (2018). Human anatomy (9th Ed.). Glenview:
Pearson Education
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2010). Brunner & Suddart’s Textbook of medical-surgical
nursing. USA: Lippincott Williams & Wilkins.
White, L., Duncan, G., Baumle, W. (2013). Medical-Surgical Nursing: An Integrated
Approach. Clifton Park: Delmar.

24