Anda di halaman 1dari 40

TRAINING OF TRAINER (TOT)

PENGARUH TERAPI ICE MASASE PADA LANSIA NY. P DENGAN


MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI DI
RUANG FLAMBOYAN RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
PUCANG GADING SEMARANG

DISUSUN OLEH:

1. MEIDITYA PARAMITASARI (G3A016079)


2. YAN IMAM FAISZAL (G3A016080)
3. OMI SHOBRINA (G3A016081)
4. DARMA ASIAH (G3A016082)
5. ANINDYARANI FITRI (G3A016083)
6. MIRZA ADHALUL FAHMI (G3A016084)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
TAHUN 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalamn emosional yang


tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan.
(Potter & Perry, 2005).
Low Back Pain (LBP) atau yang sering disebutdengan nyeri punggung bawah
(NPB) merupakankeluhan yang sering dijumpai.LBP untuk selanjutnyaadalah nyeri
yang dirasakan di daerah punggungbawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun
nyeriradikular atau keduanya (Mahadewa & Maliawan,2009).Nyeri ini terasa
diantara sudut iga terbawahdan lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal
ataulumbal-sakral dan sering disertai dengan penjalarannyeri ke arah tungkai dan
kaki.Menurut Sigamani (2007) nyeri adalah pengalaman sensori danemosional yang
tidak menyenangkan yang dapatdisertai dengan kerusakan jaringan akut
ataupotensial.
Keluhan low back pain ini menempati urutankedua tersering setelah nyeri
kepala di AmerikaSerikat dan lebih dari 80% penduduk pernahmengeluh low back
pain.Faktanya LBP merupakanpenyebab umumketidakmampuan ketiga
diAmerikaSerikat (MacCann, 2003).LBPmerupakan penyebabkedua kehilangan
waktu kerja, penyebab kelimauntuk hospitalisasi, dan alasan ketiga prosedur bedah.
Data epidemiologi mengenai nyeri punggungbawah di Indonesia
belumada.Namun diperkirakan40%penduduk Jawa Tengah berusia 65 tahun
pernahmenderita LBP dan prevalansinya pada laki-laki18,2% dan pada wanita
13,6% (Mahadewa &Maliawan, 2009). Dari hasil penelitian secaranasional yang
dilakukan di 14 kota di Indonesia olehkelompok Nyeri Persatuan Dokter Saraf
SeluruhIndonesia/ PERDOSSI (2002, dalam Purba danSusilawaty, 2008) ditemukan
18,13%penderita nyeripunggung bawah dengan rata-rata nilai VAS (VisualAnalog
Scale) sebesar 5,46±2,56 yang berarti nyerisedang sampai berat.
LBP tidak mengenal perbedaan umur, jeniskelamin, pekerjaan, status sosial dan
tingkatpendidikan.Setiap orang bisa terkena LBP.Lebihdari 80% umat manusia
dalam hidupnya pernahmengalami LBP (Sunarto, 2005). LBP dapat diderita oleh
semua kalangan dengan berbagai faktor penyebab misalnya pekerjaan atau aktifitas
yang dilakukan dengan tidak benar, seperti aktifitas mengangkat barang yang berat,
pekerjaan yangmenuntut pekerjanya untuk duduk dalam waktu yang lama, seperti
hasil penelitian yang dilakukan oleh Lizawati (2009) tentang hubungan lama duduk
terhadap terjadinya LBP pada pengemudi antar kota dalam provinsi Riau. Hasil
penelitian itu menunjukkan bahwa dari kelompok yang duduk dalam waktu singkat
hanya 34,4% mengalami LBP sedangkan dari kelompok yang duduk lama 61,4%
mengalami LBP. Berdasarkan uji chi squaredidapatkan hasil bahwa ada hubungan
antara lamaduduk terhadap terjadinya LBP pada pengemudiangkutan antar kota.
Nyeri punggung bawah yang dirasakan initentunya dapat menjadi masalah jika
menggangguaktifitas sehari-hari. Bagi pekerja nyeri ini tentu akanmengganggu
pekerjaannya dan mengurangiproduktifitasnya. Akibat dampak yang dapatdirasakan
oleh penderita LBP,maka perlu dilakukanupaya untuk mengurangi nyeri.
Mengurangi nyeridapat dilakukan menggunakan terapi
farmakologisataupunmenggunakan terapi nonfarmakologis yaitutanpa menggunakan
obat-obatan.Salah satu bentukterapi nonfarmakologis adalah fisioterapi berupaterapi
dingin (cryotherapy) yaitu prosedur yangsederhana dan efektif untukmenurunkan
spasme ototsehingga dapatmengurangi nyeri (Sigamani, 2007).Metode terapi dingin
yang dapat digunakan yaitu icemassage.Ice massageadalah tindakan
pemijatandengan menggunakan es pada area yang sakit.Tindakan ini merupakan hal
sederhana yang dapatdilakukan untukmenghilangkan nyeri. Pemberian
icemassagedilakukan selama 5 sampai 10 menit.

1.2 TUJUAN UMUM


Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang pengaruh terapi ice massaage pada lansia
Ny. p dengan masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri di ruang flamboyan
rumah pelayanan sosial lanjut usia pucang gading semarang.

1.3 TUJUAN KHUSUS


Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang definisi nyeriLow Back Pain, etiologi
nyeri, patofisiologis, manifestasi klinik, pemeriksaan penunjang, danpengaruh terapi
ice massaage pada lansia Ny. p dengan masalah keperawatan gangguan rasa nyaman
nyeri di ruang flamboyan rumah pelayanan sosial lanjut usia pucang gading
semarang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN

Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalamn emosional yang


tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan.
(Potter & Perry, 2005).
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung belakang adalah suatu sindroma
nyeri yang terjadi pada regio punggung bagian bawah yang merupakan akibat dari
berbagai sebab (kelainan tulang punggung/spine sejak lahir, trauma, perubahan
jaringan, pengaruh gaya berat). LBP merupakan keluhan yang sering kita dengar
dari orang usia lanjut, namun tidak tertutup kemungkinan dialami oleh orang usia
muda (Vira, 2009).
LBP atau NPB (Nyeri Pungung Bawah) didefinisikan sebagai nyeri yang
terlokalisasi pada vertebra thorakalis 12 sampai gluteus inferior dengan atau tanpa
nyeri pada bagian kaki dan bukan merupakan suatu penyakit. Sinaki dan Mokri
meyebutkan nyeri punggung bawah mekanik merupakan nyeri punggung
nondiskogenik yang disebabkan oleh aktivitas fisik dan berkurang dengan istirahat.
Nyeri ini berhubungan dengan stress/strain otot-otot punggung, tendon dan ligamen
yang biasanya ada bila melakukan aktivitas sehari-hari berlebihan, duduk atau
berdiri yang terlalu lama juga mengangkat benda berat. Nyeri tidak disertai
hipestesi, parestesi, kelemahan atau defisit neurologi.Selama hidupnya, 50-80%
orang dewasa pernah mengalami LBP dan 90% diantaranya merupakan LBP karena
faktor mekanik.

2.2 ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


Etiologi LBP dapat berupa:13,14
a. LBP Traumatik
Lesi traumatik dapat dimasukkan dalam kategori lesi mekanik.LBP traumatik
dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Trauma pada unsur miofasial
Setiap harinya ribuan orang mendapat trauma miofasial, baik karena
pekerjaan kasar yang menyebabkan pembebanan berkepanjangan pada tulang
lumbosakral, keadaan tubuh yang tidak optimal seperti kegemukan, terlalu
banyak duduk dan terlalu kaku karena tidak mengadakan gerakan untuk
mengendurkan otot-ototnya. Tonus otot yang buruk (otot-otot yang sudah
mengendur karena kurang berolahraga), obesitas, duduk dengan tulang
belakang melengkung, bekerja sambil duduk berjam-jam dan sebagainya
merupakan pembebanan berkepanjangan yang menyebabkan nyeri pada
punggung bawah. Pada umumnya faktor-faktor trauma tersebut mengenai
otot, fasial dan ligamen yang dikenal sebagai LBP Mekanik miofasial.
2) Trauma pada komponen keras
LBP akibat trauma fraktur kompresi di vertebra torakal bawah atau lumbal
atas.Fraktur kompresi juga dapat terjadi pada kondisi tulang patologik karena
trauma ringan, kolumna vertebralis yang sudah osteoporotik, tulang belakang
yang sudah ditempati metastase cenderung mengalami fraktur kompresi
karena trauma sedang.
3) LBP akibat proses degeneratif
Perubahan degeneratif pada vertebra lumbosakralis dapat terjadi pada korpus
vertebra berikut arkus dan prosesus artikularis serta ligament yang
menghubungkan bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain.
Dulu proses degeneratif ini dikenal sebagai osteoartrosis deformans tapi kini
dinamakan spondilosis. Perubahan degeneratif juga dapat terjadi pada
annulusfibrosus diskus intervertebralis yang bila suatu saat terobek dapat
disusul dengan protusio diskus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan
Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering
mengalami proses degeneratif ialah kartilago artikularis yang dikenal sebagai
osteoartritis.
4) LBP akibat proses inflamasi
Sering dijumpai pada usia muda antara 25 sampai 45 tahun.
a) LBP pada artritis rematoid
Artritis rematoid sering timbul sebagai penyakit akut.Apabila nyeri
punggung dirasakan pada sindroma poliartritis yang memperlihatkan ciri
bilateral maka sangat mungkin LBP tersebut disebabkan oleh artritis
rematoid.
b) LBP pada spondilitis angkilopoetika
Keluhan yang paling dini dialami oleh spondilitis angkilopoetika ialah
nyeri punggung dan nyeri pinggang.Sifatnya adalah pegal-kaku dan pada
waktu dingin dan lembab.
c) LBP akibat gangguan metabolisme atau LBP osteoporotik
Nyeri bersifat pegal.Keluhan juga dapat berupa nyeri yang tajam atau
nyeri radikuler.Terdapat fraktur kompresi yang menjadi komplikasi
osteoporosis tulang belakang.Kompresi terjadi pada Th.XII dan L.I.
Daerah nyeri terletak dibawah gibus.Nyeri radikular dirasakan bertolak
dari kedua sisi puncak gibus dan menjalar sebagai nyeri intercostal
Th.XII.

2.3 FAKTOR RISIKO LBP

Faktor risiko dibagi atas dua kelompok utama yaitu faktor risiko
berhubungan dengan pekerjaan dan faktor risiko berhungan dengan pasien.

a. Faktor risiko yang berhubungan dengan pekerjaan, pekerjaan yang kasar dan
berat dianggap sebagai penyebab nyeri pada lebih dari 60 % pasien LBP,
mengangkat, menarik dan mendorong, memuntir, terpeleset, duduk lama, baik
sendiri atau bersama dpat menimbulkan LBP.
b. Faktor risiko yang berhubungan dengan pasien
1) Umur
2) Kemungkinan perkembangan LBP meningkat secara perlahan sampai berumur
± 55 tahun.
3) Jenis kelamin
4) Pria dan wanita mempunyai risiko LBP yang sama sampai umur 60 tahun,
setelah itu wanita mempunyai risiko lebih besar oleh karena terjadi
osteoporosis.
c. Faktor antropometri
Tidak ada hubungan yang erat antara tinggi, berat dan bentuk tubuh dengan
LBP.Bagaimanapun risiko LBP lebih tinggi pada orang obese dan kemungkinan
pada orang tinggi.
d. Faktor postur
Kemungkinan perubahan postur yang berhubungan dengan LBP adalah
skoliosis, kifosis, lordosis lumbal yang berlebihan atau berkurang dan
diskrepansi tungkai.
e. Mobilitas vertebra
Sebagian besar pasien LBP mengalami paling tidak sedikit keterbatasan
lingkup gerak sendi (LGS) vertebra lumbal.
f. Kekuatan otot
Beberapa studi memperlihatkan pada pasien – pasien LBP kekuatan otot
abdominal, spinal menurun.
g. Kebugaran fisik
Penelitian yang dilakukan pada petugas pemadam kebakaran di Los Angeles
memperlihatkan bahwa kebugaran dan kondisi fisik berefek mencegah
terjadinya cedera punggung bawah.

2.4 MANIFESTASI KLINIK


McKenzie mengemukakan tiga gejala utama yang termasuk dalam kelompok
LBP Mekanik :
a. Sindroma Postural
Biasanya dijumpai pada usia dibawah 30 tahun terutama mereka yang
pekerjaannya memerlukan posisi duduk dan kurang berolah raga, nyerinya
bersifat intermiten dan timbul akibat deformasi jaringan lunak, ketika jaringan
lunak sekitar segmen lumbalis dalam posisi teregang dalam waktu yang lama.
Terlihat dalam posisi duduk yang salah termasuk adanya forward head
rounded shoulders dan fleksi berlebihan dari pinggang bawah.
b. Sindroma disfungsi
Biasanya dijumpai pada usia diatas 30 tahun, kecuali jika disebabkan oleh
trauma sering dijumpai adanya postur yang buruk dalam jangka waktu lama
(lebih dari 10 tahun) dan berupa hasil akibat spondylosis , trauma, atau
derangement. Sindroma disfungsi adalah gejala kedua di mana terjadinya
adaptive shorthening dan hilangnya mobilitas yang menyebabkan nyeri
sebelum dapat mencapai gerakan akhir secara penuh.Kondisi ini timbul karena
gerakan yang dihasilkan tidak cukup dilakukan pada saat pemendekan jaringan
lunak berlangsung. Disfungsi ini dinamai berdasarkan gerakan yang hilang
atau dibatasi misalnya disfungsi fleksi akan membatasi kemampuan seorang
individu untuk membungkuk ke depan di daerah tulang belakang.
c. Sindroma derangement
Biasanya dijumpai pada usia antara 20-55 tahun, pasien mempunyai sikap
duduk yang salah. Sindroma derangement adalah situasi di mana posisi
istirahat yang normal dari dua permukaan artikular vertebra yang berdekatan
terganggu sebagai akibat dari perubahan posisi cairan nukleus.Perubahan
posisi nukleus juga dapat mengganggu materi anular. Perubahan dalam sendi
akan mempengaruhi kemampuan permukaan sendi untuk bergerak dalam jalur
normal. Kondisi ini menjadi menyakitkan ketika terjadi intrudes nukleus pada
jaringan lunak yang sensitif terhadap nyeri. Gejala cenderung tersentralisasi
dan akhirnya berkurang sebagai hasil dari relokasi diskus dan deformitas
jaringan sekitarnya berkurang.

2.5 PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan adalah
a. Mengatasi nyeri
b. Meningkatkan lingkup gerak sendi
c. Memperbaiki kekuatan otot
d. Meningkatkan atau mempertahankan fungsi

Ada 2 kategori penatalaksanaan LBP yaitu 18,19


a. Konservatif
1) Tirah baring
Tirah baring berguna untuk mengurangi rasa nyeri mekanik dan tekanan
intradiskal yang dianjurkan pada pasien HNP.
2) Medikamentosa
Obat – obatan yang diberikan dapat berupa analgetik dan NSAID, muscle
relaxant,opioid, kortikosteroid oral maupun analgetik adjuvan.
3) Terapi Modalitas (Ice Massage)
Ice massage sangat tepat digunakan pada anggota tubuh yang datar seperti
punggung, sholder, group otot quadiceps dan group otot hamstring. Dapat
juga diberikan pada derah yang tidak begitu lebar misalnya pada muscle
belly, tendon, bursa, atau trigger poin sebelum dilakukan deep-pressure
massage. Keuntungan ice massage adalah pengaruhnya lebih terlokalisir.
Lama terapi sekitar 5 hingga 10 menit. Bentuk pecahan es yang digunakan
adalah silindris atau kubus, arah gerakan sirkuler atau bisa juga
merupakan garis lurus. Pemberian ice massage dihentikan bila sudah
timbulan aesthesia relatif pada kulit bila kulit dikenai es.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. RIWAYAT KESEHATAN
1. Identitas
a. Nama : Ny. P
b. Agama : Islam
c. Pendidikan terakhir : SKP (Sekolah Kepandaian Putri)
d. Orang yang paling dekat dihubungi : Keponakan
e. Alamat : Tambakloro, Kaligawe, Semarang
f. Telepon :-
g. Usia : 83 Tahun
h. Tanggal masuk ke RPS Pucang Gading : Tahun 2016

2. Alasan Masuk ke RPS


Ny. P mengatakan tahun lalu dibawah oleh ketua RT dan ketua RW di Rumah
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading Semarang karena sering sakit-sakitan
dan hanya tinggal sendiri di rumah tanpa keluarga.

3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan yang lalu
- Ny. Pmengatakan dulu saat masih tinggal sendirian dirinya sangat sering
jatuh, dan pernah setelah jatuh Ny. P pergi ke tukang pijat untuk di urut,
setelah di pijati kaki Ny. P mengalami deformitas dimana kaki kiri lebih
pendek dari kaki kanan sepanjang 5 cm.
- Ny. P mengatakan mempunyai riwayat kesehatan hipertensi
b. Riwayat kesehatan sekarang
- Ny. P mengatakan nyeri pada kaki terutama lutut, nyeri dirasakan seperti
tertusuk-tusuk, skala nyeri 5. Nyeri dirasakan sejak tahun lalu.
- Ny. P juga mengeluh nyeri pada punggung belakang dan kaku pada tengkuk,
nyeriseperti tertimpa beban berat, dirasakan terus menerus. Skala nyeri 5.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. P mengatakan sudah lama tidak bertemu keluarganya, sehingga tidak ingat
lagi dengan riwayat kesehatan keluarganya.
4. Kebiasaan Sehari-hari
a. Biologis
- Pola Makan
Ny. P mengatakan makan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan
malam. Makanan habis 1 porsi. Menu makanan bervariasi sebagaimana
yang telah dijadwalkan oleh panti yakni nasisayur, ikan, ayam, tempe, ikan,
kerupuk, dan buah. Selain itu, selama bulan Ramadhan ini banyak tamu
yang datang berkunjung dan selalu memberikan camilan atau kue, disela-
sela waktu makan dari panti Ny. P juga mengkonsumsi makanan camilan
yang diperolehnya.
- Pola Minum
Ny. P mengatakan kalau pagi saat sarapan, minum ½ gelas dan pada siang
hari minum ½ - 1 gelas air saat makan siang. Dan pada saat makan malam
di sore hari klien minum ½ - 1 gelas air. Selain dari waktu sarapan, klien
sangat jarang minum. Jenis air yang di minum biasanya air putihdan teh,
kadang susu.
- Pola tidur
Ny. P mengatakan tidur pada siang hari± 1 jam, dan pada malam hari 7-8
jam, Ny. P biasanya tidur malam mulai pukul 8 malam.
- Pola eliminasi
BAB : Ny. P mengatakan BAB dalam 2-3 hari dengan konsistensi padat-
lunak, dan terkadang keras dan hanya sedikit saja.
BAK : Ny. Pmengatakan BAK dalam sehari biasanya 3-4 kali. Warna
kuning pekat, dan bau khas urin (amoniak).
- Pola aktivitas dan istrahat
Aktivitas : Ny. P mengatakan untuk beraktivitas dalam sehari-harinya
menggunakan krek untuk bergerak dan berjalan seperti kekamar
mandi untuk toiletting. Untuk aktifitas feeding (makan) klien
dapat melakukan secara mandiri, sedangkan bathing (mandi) Ny.
Pdapat melakukan sendiri dengan menggunakan krek.
Istrahat : klien mengatakan sebagian besar waktunya digunakan untuk
beristirahat di tempat tidur.
- Rekreasi
Ny. P mengatakan sarana rekreasinya adalah dengan mengikuti kegiatan-
kegiatan dari panti bersama teman-teman lansia lainnya, sepert rebanaan.
b. Psikologis
- Keadaan emosi
Kondisi emosional Ny. P saat ini sangat baik. Ketika dilakukan wawancara,
klien sangat ramah dan seluruh pertanyaan dijawab dengan jelas dan baik.
Sesekali klien tampak bercanda. Saat ditanyai tentang perasaan selama
tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading Semarang,
M menjawab bahwa dirinya sangat senang karena disini Ny. P diberi makan
secara teratur dan mendapatkan banyak teman-teman yang juga senasib,
jauh dari keluarga.
c. Hubungan Sosial
- Hubungan dengan anggota kelompok
Klien mengatakan mengenali semua lansia pria yang ada di ruang
Flamboyan, an sering melakukan interaksi dengan yang lainnya.
- Hubungan dengan keluarga
Ny. P mengatakan mempunyai seorang ponakan di Tambakloro, tapi sudah
tua sehingga tidak pernah menjenguk, sedangkan anggota keluarga yang lain
seperti suami dan anaknya sudah meninggal.
d. Spiritual/kultur
- Pelaksanaan Ibadah
Klien mengatakan bahwa ia adalah seorang muslim, tetapi sudah tidak
mampu melakukan ibadah sholat 5 waktu dan puasa lagi.
- Keyakinan terhadap kesehatan
Klien mengatakan bahwa gangguan kesehatan yang ia rasakan saat ini
seperti sakit kepala, susah tidur dan nyeri lutut merupakan pengaruh dari
usianya yang semakin menua.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Tingkat kesadaran : Komposmentis, E:4, V:5, M:6
b. Tanda vital :
- TD : 190/100
- N : 66 x/m
- S : 36º
- RR : 15 x/m
c. Pengukuran BB tan TB
- BB : 38 kg
- TB : 145 cm
d. Pemeriksaan dan kebersihan perorangan
Saat dilakukan pemeriksaan kebersihan diri, kondisi tubuh klien : kulit tangan,
kuku tangan, dada dan punggung tampak bersih. Kuku kaki pendek dan tampak
bersih. Baju dan sarung diganti sekali sehari. Klien mandi sekali sehari yaitu pada
pagi jam 06.00.
e. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum
Secara keluruhan klien tampak baik, tidak menunjukan tanda-tanda
kegelisahan.
- Integumen
Kulit klien tampak keriput, bersih dan teraba lembab. Turgor kulit menurun,
elastisitasnya berkurang.
- Kepala
Rambut beruban, dan pendek seleher. Tidak terdapat benjolan atau lesi dan
nyeri tekan.
- Telinga
Telinga tampak bersih, tidak ada serumen. Pada telinga luar tumbuh rambut
dengan panjang ± 1 cm, tidak ada nyeri pada saat dilakukan penekanan pada
tragus dan saat ditarik daun telinganya kebelakang. Pendengaran klien masih
baik.
- Mata
Terdapat arkus sinilis disekitar kornea mata yang berwarna putih.
Penglihatan masih baik, hanya saja daya akomodasi mulai menurun,
konjungtiva tidak anemis, sklera tampak merah. Mata tampak sayu.
- Mulut dan tenggorokan
Gigi sudah ompong, tersisa enam gigi dibagian bawah. Lidah tampak bersih,
tidak terdapat stomatitis pada bibir ataupun lidah. Tidak ada pembesaran
kelenjar tonsil. Tidak terdapat nyeri tekan pada tenggorokan. Dan tidak
mengalami kesulitan menelan.
- Leher
Saat dilakukan palpasi, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada
nyeri tekan. Tidak ada pembengkakan, masa, atau luka pada leher.
- Payudara
Payudara kiri dan kanan simetris, tidak terdapat massa atau luka.
- Pernapasan
Inspeksi : dada kiri dan kanan tampak simetri, tidak ada luka. Penempakan
tulang rusuk cukup jelas.
Palpasi : pergerakan dinding dada dan skapula saat inspirasi simetris
antara kiri dan kanan tidak ada perbedaan. Tidak terdapat nyeri
tekan.
Perkusi : sonor pada ICS 1-4 kanan dan kiri. Dan redup pada ICS 5-6
kanan dan kiri.
Auskultasi : suara napas bronchial dimana suara napas klien terdengar
keras dan nyaring, hmbusannya lembut. Pada saat ekspirasi
fasenya lebih panjang dibanding saat inspirasi.
- Kardiovaskuler
Inspeksi : ictus kordis tidak tampak
Palapasi : ictus cordis teraba pada ICS 5 midklavikula.
Perkusi : bunyi redup
Auskultasi : Suara jantung S1 dan S2 lup-dup. Irama detakan jantung dan
nadi seirama.
- Perkemihan
Klien mengatakan tidak ada nyeri saat berkemih, tidak ada nyeri tekan pada
area retroperitoneal. Frekuensi BAK 3-4 kali sehari, dengan warna kuning
pekat. Jika merasa ingin BAK klien akan segera ke kamar mandi dengan
menggunakan krek secara mandiri. Tidak sedang menderita dan tidak ada
riwayat infeksi saluran kemih, batu ginjal maupun gagal ginjal.
- Gastrointestinal
Inspeksi : tidak tampak adanya luka atau pembengkakan
Auskultasi : suara bising terdengar
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada keempat kuadran abdomen
Perkusi : suara abdomen tympani
- Genitourinaria
Rambut disekitar genital beruban, tidak ada lesi, lecet, luka, maupun massa.
Pola berkemih normal, tidak ada hesitensi, disuria, hematuria, atau polyuria.
- Muskuluskeletal
Ekstremitas atas : Kedua tangan kiri dan kanan mengalami tremor
tetapi dapat digerakan dengan baik, tidak terdapat luka
atau massa. Sendi pergelangan tangan, jari-jari, siku,
dan bahu masih bisa digerakan. Tidak terdapat nyeri
saat dilakukan ROM.
Ekstermitas bawah : Kaki mengalami kelemahan, tetapi masih bisa
melakukan aktivitas dengan menggunakan krek.
Terdapat nyeri sendi pada lutut dengan skala nyeri 5.
Tidak ada atropi maupun odem dikaki, kaki bisa
diluruskan, hanya saja ukuran panjangnya berbeda kaki
kanan lebih panjang 5 cm dari kaki kiri.
Postur tubuh klien sedikit kifosis. Saat dilakukan pengkajian kekuatan otot
nilai kekuatan otot klien 5, mampu menahan beban dan melawan arah
gravitasi.
- Sistem saraf pusat
Kemampuan kognitif masih baik.
- Sistem endokrin
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid pada klien, tidak ada riwayat DM.
Tidak ada hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut. Serta tidak ada
pembesaran pada payudara.
- Pemeriksaan : psikososial, MMSE, SPSMQ, Barthel Indeks, Indeks Katz
- Laboratorium
Tidak ada
- Informasi penunjang
Tidak ada
- Terapi media
Tidak ada
PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL
1) Psikososial
Ny. P mampu bersosialisasi dengan baik dengan teman-teman sekamarnya. Y. P
mengatakan mengenali dan menghafal semua nama-nama lansia yang seruangan
dengannya. Klien sangat mudah menjalin interaksi, misalnya dengan mahasiswa.
Penilaian klien terhadap diri sendiri baik, seperti mengatakan bahwa klien adalah
orang yang jujur dalam bekerja,sehingga banyak orang yang senang dengan klien,
tidak ada tanda-tanda ketidakberdayaan dan keputusasaan. Klien mengatakan senang
tinggal di lingkungan Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading Semarang.
2) Identifikasi Masalah emosional
Pertanyaan 1 :
- Apakah PM mengatakan kesulitan tidur? Tidak
- Apakah PM sering mengalami kesulitan tidur ? tidak
- Apakah PM mengalami gelisah ? Tidak
- Apakah PM murung dengan menangis sendiri? Tidak
- Apakah PM sering was-was dan kuatir? Tidak
Pernyataan II :
- Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam sebulan ? ya
- Ada atau banyak pikiran ? Tidak
- Ada gangguan atau masalah dengan keluarga lain? Tidak
- Menggunakan obat tidur atau penenang atas anjuran dokter? Tidak
- Cenderung mengurung diri? Tidak
Masalah emosional (+)
3) Spiritual
Ny. P adalah seorang muslim. Akan tetapi Ny. P sudah tidak mampu melakukan
ibadah sholat 5 waktu. Pandangan klien tentang kematian adalah kematian itu pasti
akan datang kapan saja dan kepada siapa saja. Klien mengatakan kapanpun Allah
menjemput nyawanya klien mengaku sudah siap, karena tidak ada yang perlu ditakuti
selama kita selalu taat kepada perintah Allah. Menurut Ny. P saat ini bukan lagi
waktunya berlama-lama menikmati kehidupan dunia, sebab usianya juga sudah sangat
senja.
PENGKAJIAN FUNGSIONAL BARTHEL INDEKS

Kriteria Dengan Mandiri Keterangan


Bantuan
Makan 10 Frekuensi : 3 kali sehari
Jumlah : 1 porsi
Jenis : nasi, sayur, ikan, tempe,
telur, ayam, dan buah
Minum 10 Frekuensi : 3-4 kali sehari
Jumlah : ½ -1 gelas
Jenis : teh, susu, air putih
Berpindah dari kursi 5 Transfering biasanya
roda ke tempat tidur menggunakan krek, kursi roda
atau sebaliknya hanya digunakan sesekali ketika
nyeri di lutut klien membuatnya
sulit berjalan
Personal toilet (cuci 5 Rambut botak, gigi ompong,
muka, menyisisr mampu mencuci muka secara
rambut, gosok gigi) mandiri.
Keluar masuk toilet 5 Pakaian seluruh pasien dicuci
(mencuci pakaian, oleh pramuruti, untuk aktivitas
menyekat tubuh, menyekat tubuh dan menyiram
menyiram) klien dapat melakukannya secara
mandiri
Mandi 5 Klien dapat mandi secara
mandiri
Jalan di permukaan 5 Klien dapat melakukannya secara
datar mandiri dengan menggunakan
krek
Naik turun tangga 5 Kaki klien sedikit kesulitan kalau
diangkat
Mengenakan pakaian 10 Klien dapat mengenakan pakaian
secara mandiri
Kontrol Bowel (BAB) 10 Frekuensi : 1 kali dalam 4-5 hari
Konsistensi : lunak berbentuk,
dan terkadang keras

Kontrol Bladder 10 Frekuensi : 3-4 kali sehari


(BAK)
Warna : kuning pekat

Olahraga / latihan 5 Frekuensi : jarang melakukan


olahraga
Jenis : tidak ada
Rekreasi/pemanfaatan Frekuensi : tidak menentu
waktu 0 Jenis : engikuti rebanaan

Keterangan :
120 : mandiri
65-115 : ketergantungan sebagian
<-60 : ketergantungan total
“Nilai Barthel Indeks klien Ny. P adalah 80, dalam hal ini klien berada pada rentang
nilai 65-115 yang berarti klien ketergantungan sebagian”.
PENGKAJIAN STATUS MENTAL GERONTIK (SPSMQ)

Pertanyaan Benar Salah


Tanggal berapa hari ini? V
Hari apa sekarang? V
Apa nama tempat ini? V
Dimana alamat anda? V
Berapa umur anda? V
Kapan anda lahir? (minimal tahun lahir) V
Siapa presiden Indonesia sekarang? V
Siapa presiden Indonesia sebelumnya? V
Siapa nama ibu anda? V
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan3 dari
V
setiap angka baru, semua secara menurun
Jumlah 10 0

Interpretasi hasil:
Salah 0-3 : Fungsi intelektual utuh
Salah 4-5 : Fungsi intelektual ringan
Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
Salah 9-10 : Kerusakan intelektual berat
“Nilai SPSMQ klien Ny. P adalah 2, dalam hal ini klien berada pada rentang nilai 0-3
yang fungsi intelektual klien utuh”.
PENGKAJIAN ASPEK KOGNITIF
MINI MENTAL STATUS EXAM (MMSE)
Aspek Kognitif Nilai Max Nilai klien Kriteria
Menyebutkan dengan benar :
- Tahun : 2017
- Musim : -
Orientasi 5 3
- Tanggal : -
- Hari : Senin
- Bulan : Juni
Dimana kita sekarang :
- Negara : Indonesia
- Propinsi : -
Orientasi 5 4
- Kota : Semarang
- Panti : pucang Gading
- Ruang : Flamboyan
Sebutkan tiga objek oleh
pemeriksa 1 detik untuk
Registrasi 3 3 mengatak masing-masing objek.
Kemudian tanyakan kepada klien
ketiga objek tadi.
Minta klien untuk memulai dari
Perhatian dan
5 5 angka 100 kemudian dikurangi 7
kalkulasi
sampai 5 kali
Minta klien untuk mengulangi
Mengingat 3 3 tiga objek tadi oada nomor 3
(registrasi)
a. Tujukan pada klien suatu benda
dan tanyakan namanya!
b. Minta klien untuk mengulangi
Bahasa 9 7 kata berikut “tidak ada jika, dan
atau tetapi”
c. Minta klien untuk mengikuti
perintah berikut yang terdiri
dari 3 langkah : “ambil kertas
ditangan anda, lipat dua, taruh
dilantai”
d. Perintahkan kepada klien untuk
hal berikut : tutup mata anda
Perintahkan klien untuk
menulis satu kalimat dan
menyalin gambar.
Jumlah 25

Interpretasi hasil:
>23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik
18-22 : kerusakan aspek fungsi mental ringan
<17 : Terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat
“Nilai MMSE klien Ny. P adalah 25, dalam hal ini klien berada pada rentang nilai >23
yang berarti aspek kognitif dan fungsi mental baik.”
B. ANALISA DATA

No. Data Diagnosa Keperawatan


1. S: Nyeri Kronis
- Ny. P mangatakan nyeri pada punggung
belakang dan tengkuk
o P : nyeri dirasakan terutama saat meluruskan
posisi punggung
o Q : nyeri seperti tertimpa beban berat
o R : nyeri disepanjang punggung belakang
o S : skala nyeri 4
o T : nyeri dirasakan terus menerus
- Klien mengatakan sakit kepala
- Klien mengatakan nyeri pada lutut
o P : nyeri dirasakan saat kaki diluruskan dan
berdiri
o Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
o R : Pada bagian lutut sampai telapak kaki
o S : skala nyeri 6
o T : Nyeri dirasakan sewaktu-waktu
O:
- Klien tampak lebih banyak duduk
- TTV : TD 190/100 mmHg, N 66 x/m, S 36º C,
RR 15 x/m
- Nyeri dirasakan sejak tahun lalu
2 S: Hambatan mobilitas fisik
. - Klien mengatakan nyeri pada lutut
- Ny. P mengatakan dulu saat masih tinggal
sendirian dirinya sangat sering jatuh, dan
pernah setelah jatuh Ny. P pergi ke tukang pijat
untuk di urut, setelah di pijati kaki Ny. P
mengalami deformitas dimana kaki kiri lebih
pendek dari kaki kanan sepanjang 5 cm
- Klien mengeluh sulit berjalan, kecuali dengan
menggunakan krek
O:
- Klien tampak mengalami hambatan dalam
beraktivitas terutama berjalan
- Tangan klien tampak tremor
- Pergerakan tampak lambat
- Mengalami perubahan postur tubuh yaitu
kifosis dan deformitas pada ukuran kaki dimana
kaki kanan lebih panjang 5 cm dari kaki kiri

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri kronis
2. Hambatan mobilitas fisik

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan Tujuan Kriteria Rencana tindakan Ttd


keperawatan umum khusus hasil
1. Nyeri kronis Setelah -Terjadi -Mampu 1.Gunakan teknik
dilakukan penurunan mengenal komunikasi terapeutik
tindakan level nyeri nyeri : untuk mengetahui
keperawat ke skala 3 penyebab pengalaman nyeri
an selama -Terjadi dan cara klien
min. 3x24 peningkata penanganan 2.Lakukan pengkajian
jam nyeri n kontrol - nyeri secara
dapat nyeri Melaporkan komprehensif
berkurang -Terjadi nyeri termasuk lokasi,
peningkata berkurang karakteristik, durasi,
n frekuensi,kualitas dan
kenyaman faktor presipitasi
an 3.Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamanan
4.Ajarkan tentang
teknik nonfarmalogi :
nafas dalam, dan
terapi ice massage
5. Motivasi klien untuk
meningkatkan istrahat
6.Berikan pijat refleksi
2. Hambatan Setelah -Terjadi -Mampu 1. Kaji kemampuan
mobilitas dilakukan peningkata mempertaha klien dalam mobilisasi
fisik keperawat n aktivitas nkan 2. Didampingi dan bantu
an selama fisik keseimbang klien saat mobilisasi
min. 3x24 an tubuh dan bantu penuhi
jam dalam kebutuhan ADLs
aktivitas pengguanaa klien
dapat n alat bantu 3. Monitoring vital sign
bertambah berjalan sebelum/sesudah
omi
- latihan dan lihat
Menunjuka respon pasien saat
n latihan
penggunaan 4. Latih klien untuk
alat bantu menggunakan krek
yang tepat saat berjalan dan
cegah terhadap cedera
5. Ajarkan latihan
rentang gerak (ROM)
E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tanggal & No. Dx Implementasi Respon Klien TTD


Waktu
6 Juni 2017 1 Menggunakan teknik S:
09.30 WIB komunikasi terapeutik - Ny. P mengatakan jika
untuk mengetahui lututnya nyeri selalu di
pengalaman nyeri pijat-pijat
klien : penyebab dan - Ny. P mengatakan jika
cara menangani kepalanya sakit,
biasanya akan
diminumkan obat
warung
O:
- Ny. P tampak
memperagakan
memijat lututnya jika
nyeri
6 Juni 2017 1 Melakukan S:
09.42 WIB pengkajian nyeri - Ny P mengatakan nyeri
secara komprehensif dibagian lutut, dan
termasuk lokasi, kepala, nyeri seperti
karakteristik, durasi, ditimpa beban dan
frekuensi, kualitas tertusuk benda tajam,
dan faktor presipitasi nyeri pada lutut dan
dada dirasakan terus
menerus.
- Ny. P mengatakan jika
kaki di gunakan untuk
berjalan maka lutut
akan nyeri, dan nyeri
pada kepala akan diberi
obat warung
O:
- Klien lebih sering
terlihat duduk dengan
kaki terjuntai ke lantai
6 Juni 2017 1 Mengobservasi reaksi S: -
08. 54 WIB nonverbal dari O:
ketidaknyamanan - Ny. P tampak memijat-
mijat lututnya dan
memegang kepala
6 Juni 2017 1 Mengajarkan tentang S:
09.15 teknik - klien mengatakan
nonfarmakologi : bersedia
nafas dada, terapi ice O:
massage -Ny. P mengikuti
intruksi untuk
melakukan teknik
napas dalam
-Ny. P mau dilakukan
terapi ice massage
6 Juni 2017 1 Memotivasi klien S :
09.35 WIB untuk meningkatkan - Ny. P mengatakan mau
istrahat beristirahat
O:
- klien tampak berbaring
6 Juni 2017 1 Memberikan pijat S:
09.45 WIB relaksasi pada daerah - Ny. P mengatakan
lutut sampai paha, mau dipijat
dan daerah punggung O:
- Ny. P tampak
menikmati saat diberi
pijatan
6 Juni 2017 2 Mengkaji S:
10.15 WIB kemampuan klien - Ny. P mengatakan
dalam mobilisasi mandi dan berjalan
menggunakan krek,
kadang dibantu
pramuruti jika nyeri
dilututnya membuatnya
kesulitan berjalan
O:
- Ny. P tampak mampu
makan dan berpakaian
sendiri
- klien tampak mampu
berjalan sendiri saat ke
kamar mandi dengan
krek
6 Juni 2017 2 Mendampingi dan S:
11.40 WIB membantu PM saat - Ny. P mengatakan
mobilisasi dan bantu bersedia untuk
penuhi kebutuhan didampingi
ADLs klien O:
- Ny. P menunjukan
sikap setuju
6 Juni 2017 2 Melatih klien untuk S:
10.55 menggunakan krek - Ny. P mengatakan
saat berjalan dan bersedia
cegah terhadap cedera O:
- Klien berjalan dari
ranjang ke ruang makan
dengan jarak 5 meter
- Klien tampak berjalan
mengindari lantai yang
basah
- Klien tampak kelelahan
setelah latihan
6 Juni 2017 2 Monitoring vital sign S:
sebelum/sesudah - Ny. P mengatakan
11.15 WIB latihan dan lihat bersedia diukur vital
respon pasien saat sign-nya
latihan O:
- Vital sign sebelum
latihan : TD: 160/80
mmHg, RR : 16 x/m, S:
36ºC, N:66 x/m
- Setelah latihan : TD:
160/80 mmHg, RR: 28
x/m, S: 36,2ºC, N:
72x/m
6 Juni 2017 2 Mengajarkan latihan S:
11.24 WIB rentang gerak (ROM) - Ny. P mengatakan
bersedia
O:
- Klien mengikuti arahan
seperti : melakukan
gerakan fleksi-ekstensi
jari, telapak tangan,
siku, leher, bahu, dan
telapak kaki
7 Juni 2017 1 Melakukan S:
10.02 WIB pengkajian nyeri - Ny. P mengatakan
secara komprehensif nyeri di punggung kaki
termasuk lokasi, bertambah
karakteristik, durasi, - Ny. P mengatakan
frekuensi, kualitas nyeri seperti di tusuk-
dan faktor presipitasi tusuk
O:
- Punggung kaki kiri
tampak bengkak
7 Juni 2017 1 Memberikan kompres S:
11.15 WIB air hangat pada kaki - Ny. P mengatakan
kiri bersedia diberikan
kompres hangat
O:
- Klien tampak menahan
sakit
7 Juni 2017 1 Mengajarkan tentang S:
10.21 WIB teknik - Ny. P mengatakan
nonfarmakologi : bersedia untuk diajari
nafas dada dalam dan teknik napas dalam
distraksi. O:
- Klien tampak
mengikuti instruksi
napas dalam
- Klien tampak
teralihkan nyerinya
dengan berbincang-
bincang
7 Juni 2017 1 Memberikan pijat S:
10.35 WIB relaksasi pada daerah - Klien mengatakan
lutut sampai paha, bersedia dipijat
dan daerah punggung O:
- Klien tampak
menikmati saat di pijat
punggung dan kakinya.
7 Juni 2017 2 Memonitoring vital S:
11.40 WIB sign sebelum/sesudah - Klien mengatakan
latihan dan lihat bersedia diukur vital
respon pasien saat sign-nya
latihan O:
- TTV sebelum latihan,
TD: 180/100 mmHg,
RR: 14 x/m, N: 70x/m,
S:36°C

7 Juni 2017 2 Memberikan tindakan S:


kenyamanan seperti - Klien mengatakan mau
11.55 WIB masase di masase
O:
- Klien tampak nyaman
saat di masase
punggung dan lutut-
pahanya
8 Juni 2017 1 Melakukan S:
10.00 pengkajian nyeri - Klien mengatakan
secara komprehensif nyeri kepala, kaki,
termasuk lokasi, teknik distraksi dan
karakteristik, durasi, saat dilakukan masase
frekuensi,kualitas dan - Klien tampak lebih
faktor presipitasi segar
- Klien tampak mampu
berjalan sendiri ke
kamar mandi
8 Juni 2017 1 Mengajarkan tentang S:
10.14 teknik - Klien mengatakan
nonfarmakologi : bersedia di lakukan
distraksi dan kompres kompres air hangat
hangat O:
- Saat diajak berbincang-
bincang klien tampak
teralihkan perhatiannya
8 Juni 2017 1 Mengajarkan tentang S:
09.40 teknik klien mengatakan
nonfarmakologi : bersedia ajai teknik
kompres hangat kompres hangat
O:
Klien tampak
mengkompres kakinya
dengan menggunak
kompres hangat

F. EVALUASI

Tanggal & No. Evaluasi TTD


Waktu Diagnosa
7 Juni 2017 S :Klien mengatakan nyeri di kaki bertambah,
08.30 terutama dibagian lutut
O :Ny. P lebih banyak duduk
1 A :Tujuan belum tercapai, masalah belum
teratasi
P :Lanjutkan intervensi No. 2, 4, 6, dan berikan
terapi ice massage
7 Juni 2017 S :Klien mengatakan mampu mandi, makan,
berpakaian, dan ke toilet secara mandiri dengan
08.47 menggunakan krek, tapi hari ini kaki klien
sedang sakit sehingga kesulitan berjalan.
2
O :Klien hanya duduk diatas ranjang
A :Tujuan belum teratasi, masalah belum
teratasi
P :Lanjutkan Intervensi No. 2, 3, 4, 5
8 Juni 2017 1 S:
08.27 Ny. P mengatakan nyeri kepala, dan kaki
berkurang, kemarin pada tanggal 7 Juni 2017
Ny. P mendapatkan obat untuk mengurangi
tensi tinggi yaitu amlodipin
O:
- klien tidak mengikuti kegiatan bimbingan
rihani dan memilih istrahat di tempat tidur
- setelah dilakukan terapi ice massageklien
tampak tertidur
A: Tujuan tercapai sebagian, masalah belum
teratasi
P: Lanjutkan intervensi No. 2, 4
8 Juni 2017 2 S:klien mengatakan subuh ini mampu berjalan
08.54 ke toilet dan mandi secara mandiri dengan
menggunakan krek
O:
- TTV : TD : 150/80 mmHg, RR : 20 x/m, N :
77 x/m, S : 36,3ºC
A:Tujuan tercapai, masalah teratasi
P:Pertahankan intervensi No. 3, 4, 5
9 Juni 2017 1 S:klien mengatakan nyeri berkurang dengan
09.08 WIB skala nyeri 2
O:
- Klien tidak menunjukan ekspresi menahan
nyeri
- Klien tampak mengusap-usap kakinya
A:Tujuan tercapai, masalah teratasi
P:Pertahankan intervensiNo. 4
BAB IV
PENGARUH TERAPI ICE MASSAGE TERHADAP NYERI
PADA LANSIA NY. P

1. Pengertian terapi Ice Massage


Terapi Ice Massage disebut juga dengan cryotherapy. Cryotherapy adalah
pemanfaatan dingin untuk mengobati nyeri atau gangguan kesehatan lainnya
(Arovah, 2010). Terapi Ice Massage adalah penerapan bahan atau alat yang dingin
pada bagian tubuh yang mengalami nyeri yang selanjutnya dilakukan pinjatan pada
area nyeri. Terapi Ice Massage merupakan terapi yang sederhana dan merupakan
salah satu metode penyembuhan non farmakologi yang penting untuk mengatasi
nyeri (Demir, 2012).
2. Efek fisiologis terapi Ice massage
Menurut Canadian Physiotherapy Association (2008) terapi Ice Massage dapat
membantu mengurangi rasa sakit, membantu penyembuhan jaringan, mengontrol
pembengkakan, dan meningkatkan fleksibilitas.
Ice massage menyebabkan vasokonstriksi lokal dan viskositas darah meningkat.
Aliran darah menurun dan metabolisme yang lebih lambat menumpulkan respon
inflamasi, membatasi pembengkakan, mengurangi konsumsi oksigen, dan
mengontrol perdarahan (Metules, 2007). Inti dari terapi dingin adalah menyerap
kalori area lokal cedera sehingga terjadi penurunan suhu. Semakin lama waktu
terapi, penetrasi dingin semakin dalam. Pada umumnya terapi dingin pada suhu 3,5
°C selama 10 menit dapat mempengaruhi suhu sampai dengan 4 cm dibawah kulit.
Jaringan otot dengan kandungan air yang tinggi merupakan konduktor yang baik
sedangkan jaringan lemak merupakan isolator suhu sehingga menghambat penetrasi
dingin (Ganong, 2009). Pada terapi dingin, digunakan modalitas terapi yang dapat
menyerap suhu jaringan sehingga terjadi penurunan suhu jaringan melewati
mekanisme konduksi. Efek pendinginan yang terjadi tergantung jenis aplikasi terapi
dingin, lama terapi dan konduktivitas. Pada dasarnya agar terapi dapat efektif, lokal
cedera harus dapat diturunkan suhunya dalam jangka waktu yang mencukupi
(Arovah, 2010).
3. Efek terapi Ice massage
Menurut Arovah (2010), efek dari terapi dingin diantaranya adalah:
a. Mengurangi suhu daerah yang sakit, membatasi aliran darah dan mencegah cairan
masuk ke jaringan di sekitar luka. Hal ini akan mengurangi nyeri dan
pembengkakan.
b. Mengurangi sensitivitas dari akhiran syaraf yang berakibat terjadinya peningkatan
ambang batas rasa nyeri.
c. Mengurangi kerusakan jaringan dengan jalan mengurangi metabolisme lokal
sehingga kebutuhan oksigen jaringan menurun.
d. Mengurangi tingkat metabolisme sel sehingga limbah metabolisme menjadi
berkurang. Penurunan limbah metabolisme pada akhirnya dapat menurunkan
spasme otot. Selain itu menurut D‟Archy (2007) terapi dingin bekerja dengan
cara menurunkan konduksi saraf, menghambat iritasi kulit, vasokonstriksi
pembuluh darah, merelaksasi otot pada area yang sakit serta mengurangi aktivitas
metabolik baik secara sistemik maupun lokal

4. Pengaruh Terapi Ice Massage Terhadap Penurunan Nyeri


Cryotherapy (terapi dingin) adalah pemanfaatan dingin untuk mengoati nyeri
atau gangguan kesehatan lainnya. Terapi dingin dapat dipakai dapat dipakai dengan
beberapa cara, seperti menggunakan es atau Cold Baths. Terapi ini dipakai pada saat
respon peradangan masih sangat nyata (cedera akut). Secara fisiologis, pada 15
menit pertama setelah pemberian aplikasi dingin (suhu 10 derajat celcius) terjadi
vasokontriksi arteriola dan venula secara lokal. Vasokontriksi disebabkan oleh aksi
reflek dari otot polos yang timbul akibat stimulasi sistem syaraf otonom dan
pelepasan epinephrine dan norepinephrine. Namun, jika terapi dingin terus
dilakukan hingga 15 sampai 30 menit akan menimbulkan respon hunting. Respon
hunting merupakan fase terjadinya vasodilatasi selama 4 sampai 6 menit. Respon
hunting terjadi untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan akibat dari jaringan
mengalami anoxia jaringan, selain menimbulkan vasokontriksi, sensasi dingin juga
menurunkan eksitabilitas akhiran saraf bebas sehingga menurunkan kepekaan
terhadap rangsang nyeri. Aplikasi dingin juga dapat mengurangi tingkat
metabolisme sel sehingga limbah metabolisme menjadi berkurang. Penurunan
limbah metabolisme pada akhirnya dapat menurunkan spasme otot.
Secara teoritis menurut Kozier et al (2002) efekefek fisiologis yang ditimbulkan
oleh terapi dingin ini adalah vasoconstriction, merilekskan otot pada otot yang
mengalami spasme, menurunkan nyeri, memperlambat perjalanan impuls nyeri dan
meningkatkan ambang nyeri, dan memberikan efek anastesi lokal. Diperkirakan
90% low back pain didasari oleh faktor mekanik dan sekitar 60%-70% penyebabnya
adalah strain (Mahadewa & Maliawan, 2009). Strain ini merupakan penegangan
pada otot akibat akibat sikap tubuh yang salah dan otot yang adekuat. Nyeri yang
dirasakan bersifat lokal tanpa penjalaran. Pemberian terapi dingin berupa ice
massage ini dapat merilekskan otot pada otot yang spasme dan memberikan efek
anastesi lokalsehingga dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengurangi
nyeri. Sesuai dengan keluhan yang dirasakan responden dengan low back pain akibat
mekanik, responden merasakan nyeri lokal dan otot terasa pegal disekitar punggung
bawah.
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Secara teoritis menurut Kozier et al (2002) efekefek fisiologis yang
ditimbulkan oleh terapi dingin ini adalah vasoconstriction, merilekskan otot
pada otot yang mengalami spasme, menurunkan nyeri, memperlambat
perjalanan impuls nyeri dan meningkatkan ambang nyeri, dan memberikan
efek anastesi lokal. Diperkirakan 90% low back pain didasari oleh faktor
mekanik dan sekitar 60%-70% penyebabnya adalah strain (Mahadewa &
Maliawan, 2009). Strain ini merupakan penegangan pada otot akibat akibat
sikap tubuh yang salah dan otot yang adekuat. Nyeri yang dirasakan bersifat
lokal tanpa penjalaran. Pemberian terapi dingin berupa ice massage ini dapat
merilekskan otot pada otot yang spasme dan memberikan efek anastesi
lokalsehingga dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk mengurangi
nyeri. Sesuai dengan keluhan yang dirasakan responden dengan low back pain
akibat mekanik, responden merasakan nyeri lokal dan otot terasa pegal
disekitar punggung bawah.
Setelah dilakukan terapi ice massage pada Ny. P, ia mengungkapkan
bahwa terjadi pendurunan intensitas skala nyeri menjadi 2. Dengan ini dapat
dikatakan bahwa terdapat pengaru terapi ice massage pada penurunan nyeri.
2. Saran
Terapi ice massage ini dapat diaplikasikan pula pada lansia lain yang ada di
rumah pelayanan sosial lanjut usia Pucang Gading yang mengalami nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

Arovah, Novita Intan. (2010). Dasar-Dasar Fisioterapi pada Cedera Olahraga.


Yogyakarta: Pustaka Ilmu
Kozier, B. et al. (2002). Kozier & Erb’s techniquesin clinical nursing. (5th ed).
Newjersey: Prenticehall
Miller, Carol A.1999.Nursing Care of Older Adults: Theory and Practice.Philadepia:
Lippincott
Mahadewa, T. G. B., & Maliawan, S. (2009).Diagnosis dan tatalaksana kegawat
daruratantulang belakang. Jakarta: Sagung seto.
McCann, J. A. S. (2003). Pain management madeincredibly easy. Springhouse:
LippincottWilliams & Wilkins.
Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC.
Hlm 1502-1533
Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare. 2006.Buku Ajar Keperawatan Gerontik,
ed 2. Jakarta:EGC
Toni Setiabudhi dan Hardiwinoto. (1999).Panduan Gerontologi Tinjauan dari
Berbagai Aspek.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Tamher, Noorkasiani.2009.Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC.
Vira, S. 2009. Pengaruh Ergonomi Terhadap Timbulnya Kejadian Low Back Pain I
(LBP) pada Pekerja Komputer di Kelurahan Gedong Meneng Bandar
Lampung Tahun 2009. Skripsi. Bandar Lampung.
DOKUMENTASI