Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

Batuk darah atau hemoptysis adalah salah satu gejala yang paling penting

pada penyakit paru, pertama karena merupakan bahaya potensial adanya

perdarahan yang gawat yang memerlukan tindakan segera dan intensif, dimana

batuk darah masif yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan angka

kematian yang tinggi. Kedua karena batuk darah hampir selalu disebabkan oleh

penyakit bronkopulmonal(Ingbar, 1999).

Pada umumnya penderita batuk darah telah mempunyai penyakit dasar,

tetapi keluhan yang berasal dari penyakit dasar tadi tidak mendorong penderita

untuk pergi berobat. Penderita baru datang berobat ketika timbul batuk darah,

walaupun darah yang keluar hanya sedikit atau berupa dahak yang bergaris-garis

merah, Batuk darah merupakan keadaan yang menakutkan bagi penderita dan

keluarganya. Akibat ketakutan inilah pendenita akan menahan batuknya, hal ini

akan memperburuk keadaan karena akan timbul penyulit seperti penyumbatan

saluran napas atau sufokasi, asfiksi dan eksanguinasi(Ingbar, 1999).

Kejadian klinis batuk darah tak dapat diprediksi, dan sejumlah kecil
darah yang dibatukkan dapat diikuti oleh massif dan potensial fatal
eksanguinasi disebabkan oleh (eksangunisasi) atau lebih sering lagi
asfiksia dari dibanjirinya alveoli oleh darah dan hipoksemia yang refrakter.
Dalam kebanyakan kasus hemoptisis bersifat self limiting, kan tetapi 5%
bersifat masif, yang merupakan kondisi mengancam jiwa. Keadaan asfiksia
sebanyak 50% tingkat kematian karena hemoptysis (Noe et al., 2011)

1
Penyakit yang mendasari timbulnya batuk darah dapat dicari dengan

anamnesis, pemeriksaan fisik dan radiologi. Sering prosedur diagnostik seperti

bronkoskopi, bronkografi dan pulmonary angiography diperlukan untuk diagnostik

definitive(Ingbar, 1999).

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batuk Darah

2.1.1Definisi

Hemoptysis atau batuk darah adalah ekspektorasi darah atau mukus yang

berdarah. Beberapa penulis seperti Johnston dan Obraska berpendapat bahwa

perdarahan yang terjadi harus berasal dari saluran napas bagian bawah (dari glottis

ke bawah), bukan berasal dari saluran napas bagian atas atau saluran pencernaan.

Jadi perlu dibedakan antara batuk darah dan muntah darah(Cahill, 1999).

Berdasarkan jumlah darah yang keluar, Pursel membagi batuk darah menjadi :

Derajat 1 : bloodstreak

2 : 1 - 30 cc

3 : 30 - 150 cc

4 : 150 - 500 cc

Massive : 500 - 1000 cc atau lebih.

Johnson membuat pembagian lain menurut jumlah darah yang keluar menjadi :

1. Single hemoptysis yaitu perdarahan berlangsung kurang dari 7 hari.

2. Repeated hemoptysis yaitu perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari dengan


interval 2 sampai 3 hari.
3. Frank hemoptysis yaitu bila yang keluar darah saja tanpa dahak(Alsagaff, 1995).

2.1.2Etiologi

3
Berdasarkan penyebab batuk darah, Ingbar membagi sebagai berikut:(Ingbar,

1999).

Tabel 1. Etiologi batuk darah menurut prosentasi

Etiologi % insiden % Kasus dengan % Kasus dengan

batuk darah batuk darah masif

Ca Bronkogenik 10-15% 30-50% 10%

Bronkiekstasis 20% 25-45% 30%

TB Paru 25-40% 5-20% 20%

Abses Paru 1-6% 10-15% 25%

Adenoma 1% 40-55% 10%

Bronkial

Eksaserbasi PPOK 10-20% 10% <5%

Kardiovaskuler 1-7% ? ?

AVM 10% 40% 25%

Tabel 2. Penyebab batuk darah


---------------------------------------------------------------------------------------------------
Paru
Bronkiektasis 4
Emboli paru
Kistik fibrosis
Emfisema bulosa
Kardiologi
Mitral stenosis
Trikuspid endokarditis
Penyakit jantung bawaan
Hematologi
Koagulopati
DIC
Trombositopeni
Platelet disfunction
Infeksi
Abses paru
Misetoma
Pneumonia nekTotikan
Parasit
Jamur / tuberkulosa
Virus

Neoplasma
Adenoma bronkial
Karsinoma bronkogcnik
Metastase kanker
Trauma
Cedera dada tajam / tumpul
Ruptur bronkus
Ermboli lemak
Tracheal-innominate
Arteryfistula
Penyakit sistemik
Goodpasteur syndrome
Wegener's granulomatosis
Systemic lupus erythematosus
Vaskulitis
Idinnathir pulmnnarv homosiderosis

(Dikutip dari Ingbar DH. Massive hemoptysis : Assesment and


Management)(Cahill, 1994).

Tabel 3. Berdasarkan usia penderita, Pursel membagi batuk darah menjadi :

5
Usia Penyakit

Anak-anak dan remaja - bronkiektasis

- stenosis mitral

- tuberkulosis

Umur 20 - 40 tahun - tuberkulosis

- bronkiektasis

- stenosis mitral

Umur lebih dari 40 tahun - karsinoma bronkogen

- tuberculosis

- bronkiektasis

I. PATOGENESIS

1. Batuk darah pada tuberculosis pada umumnya terjadi oleh karena :(

a. Adanya Rasmussen's aneurysm yang pecah.


Teori dimana terjadi perdarahan aneurisma dari Rasmussen ini telah lama dianut,

tetapi beberapa laporan otopsi lebih membuktikan terdapat hipervaskularisasi

bronkus yang merupakan percabangan dari arteri bronkialis lebih banyak

merupakan asal dari perdarahan. Setelah berkembangya arteriografi dapat

dibuktikan bahwa pada setiap proses paru terjadi hipervaskularisasi dari cabang-

cabang arteri bronkialis yang berperan memberikan nutrisi pada jaringan paru

6
bila terdapat kegagalan arteri pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya untuk

pertukaran gas. Oleh karena itu terdapatnya Rasmussen aneunisma pada kaverna

tuberkulosis yang merupakan asal perdarahan diragukan.

b. Adanya kekurangan protrombin yang disebabkan oleh toksemia dari baksil

tuberkulosa yang menginfeksi parenkim paru.2

2. Batuk darah pada karsinoma paru.1,7

Terjadi oleh karena erosi permukaan tumor dalam lumen bronkus atau berasal

dari jaringan tumor yang mengalami nekrosis, pecahnya pembuluh darah kecil

pada area tumor atau invasi tumor ke pembuluh darah pulmoner.

3. Batak darah pada bronkiektasis :6

a. Mukosa bronkus yang sembab mengalarni infeksi dan trauma batuk


menyebabkan perdarahan.
b. Terjadi anastomose antara pembuluh darah bronchial dan pulmonal dan juga

terjadi aneurisma, bila pecah teriadi perdarahan.

c. Pecahnya pembuluh darah dari jaringan granulasi pada dinding bronkus yang

mengalami ektasis.

4. Batuk darah pada bronkitis kronis (Santiago, 1991; Thompson, 1992) :

Terjadi oleh karena mukosa yang sembab akibat radang, terobek oleh

mekanisme batuk.

5. Batuk darah pada abses paru : 5,6

7
Pada abses kronik dengan kavitas berdinding tebal yang sukar menutup, maka

pembuluh darah pada dinding tersebut mudah pecah akibat trauma pada saat

batuk.

6. Batuk darah pada mitral stenosis dan gagal jantung kiri akut1:

a. Bila batuk darah ringan, perdarahan terjadi secara perdiapedesis, karena


tekanan dalam vena pulmonalis tinggi menyebabkan ruptur vena pulmonalis atau
distensi kapiler sehingga butir darah merah masuk ke alveoli.
b. Menurut Ferguson, batuk darah terjadi karena pecahnya varises di mukosa

bronkus.

c. Pada otopsi ternyata ada anastomose vena pulmonalis dan vena bronkialis

yang hebat sehingga tampak seperti varises.

7. Batuk darah pada infark paru:1,5

Pada infark paru karena adanya penutupan arteri, maka terjadi anastomose.

Selain itu juga terjadi reflek spasme dari vena di daerah tersebut, akibatnya

terjadi daerah nekrosis dimana butir-butir darah masuk ke alveoli dan terjadi

batuk darah.

8. Batuk darah pada Good Pasture syndrome 1,5 :

Terjadi kelainan pada membrana basalis alveolo kapiler yaltu terbentuknya

antibody to glomerular basement membrane (anti GBM Ab) lebih spesifiknya

kolagen tipe IV pada paru sehingga membuat hilangnya keutuhan membrana

basalis epithelial-endotelial dan memudahkan masuknya sel darah merah dan

netrofil masuk ke dalam alveoli.

9. Batuk darah pada infeksi jamur 1,6

8
Terjadi friksi pada pergerakan mycetoma dan terjadi pelepasan antikoagulan

serta enzym proteolitik yang menyerupai tripsin dari jamur.

10. Batuk darah pada batuk keras 1,5:

Sifat khas bahwa darah terletak di permukaan sputum, jadi tidak bercampur

didalamnya.

a. Kelenjar getah bening yang mengapur, waktu batuk terjadi erosi pada

bronkus yang berdekatan.

b. Mungkin bronkolit yang ada pada saat batuk menggeser lumennya.

c. Batuk yang keras dan berulang-ulang merobek mukosa bronkus.

II. DIAGNOSIS

Diagnosis pada batuk darah meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang seperti pemeriksan dahak, radiologik, bronkoskopi dan

bronkografi 1,8,9

Anamnesis meliputi :

1. Membedakan batuk darah dan muntah darah4

Batuk darah Muntah darah

a. Darah dibatukkan dengan rasa a. Darah dimuntahkan dengan rasa


mual
panas di tenggorokan.

b. Darah berbuih bercampur udara b. Darah bercampur sisa makanan

c. Darah segar berwarna merah muda c. Darah terkena asam

lambung berwama hitam.

d. Darah bersifat alkalis d. Darah bersifat asam

e. Kadang-kadang terjadi anemia e. Sering terjadi anemia

9
f. Tes benzidin negatif f. Tes benzidin positif

2. Bagaimana batuk darahnya?

Misalnya bila batuk darah disertai sputum yang purulen dicurigai penyakit yang

mendasari adalah infeksi paru. Bila batuk darah tanpa pus dicurigai penyakit

yang mendasari adalah tuberkolosis, karsinoma. atau infark paru. Bila batuk

darah berbau busuk dicurigai abses paru dan bila batuk darah berupa frothy

sputum dicurigai edema paru.

3. Pola batuk darah

Pola batuk darah dapat membantu menentukan penyebab batuk darah. Misalnya,

pasien dengan bronkitis atau bronkiektasis biasanya mengalami batuk darah

berulang. Jika batuk darah terjadi setiap bulan yang berhubungan dengan saat

menstruasi, dicurigai sebagal Catamenial hemoptysis.

4. Anamnesis tentang gejala otolaring, jantung dan paru yang dapat membantu

melokalisir sumber perdarahan.

5. Faktor risiko sebagai kondisi penyebab.


Merokok, usia, trauma dada, riwayat bepergian ke daerah endemis parasit, virus,

jamur atau bakteri tertentu.

6. Gejala lain yang menyertai.

Bila terdapat gejala lain seperti penurunan berat badan disertai batuk darah

dicurigai sebagai karsinoma, bila terdapat riwayat keringat malam, demam yang

tidak tinggi dicunigai sebagai tuberkulosis. Bila batuk darah disertai hematuri

dicurigai sebaga Good Pasture Syndrome.

10
Pemeriksaan Fisik

1. Periksa tanda vital.


2. Pemeriksaan pada hidung, mulut, faring posterior dan laring termasuk

pemeriksaan laringoskopi.

3. Pemeriksaan leher, dada, jantung dan paru.

Pemeriksaan Laboratorium.

1. Pemeriksaan darah pada perdarahan masif perlu evaluasi Hb dan faal

hemostasis.

2. Pemeriksaan dahak penting diperiksa sputum BTA pada penderita


tuberkulosa, sitologi sputum pada penderita karsinoma bronkogenik dan kultur
sputum jamur.
3. Pemeriksaan lain tergantung penyakit dasarnya.

Selain pemeriksaan laboratorium, banyak pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk

mendiagnosis batuk darah, antara lain : radiologik, bronkoskopi, bakteriologi,

mikologi dan serologi. Pemeriksaan radiologik meliputi foto thorax PA dan lateral,
10,11
tomografi, bronkografi dan arteriografi . Pemeriksaan radiologik yang cukup

penting adalah foto thorax yang dapat mengungkap 65,2% sumber perdarahan.

Sedangkan sebab perdarahan yang sukar dilihat pada pemeriksaan foto thorax

seperti bronkiektasis, dapat dilihat dengan pemeriksaan bronkografi. Tindakan

bronkoskopi sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti untuk mengetahui

asal perdarahan.

Indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :10,11

1. Bila tidak didapatkan kelainan radiologik


2. Batuk darah yang berulang-ulang.

11
3. Batuk darah yang masif, sebagai tindakan terapeutik yaitu membersihkan
gurnpalan darah yang keluar / penghisapan dan untuk menghentikan perdarahan
dengan cara
- Iced saline lavage

- Instilasi topical agent (epinefrin, trombin, trombin-fibrinogen)

- Endobronkial tarnponade

- Laser fotokoagulasi (Nd YAG Laser= Noodymium Y trium Aluminium

Gernerd Laser atau argon laser).

III. KOMPLIKASI

Kornplikasi yang dapat mengancarn jiwa penderita adalah asfiksia, sufokasi

dan kegagalan sirkulasi akibat kehilangan banyak darah dalarn waktu singkat.

Kornplikasi lain yang mungkin terjadi adalah penyebaran. penyakit ke sisi paru

yang sehat dan atelektasis. Atelektasis dapat terjadi karena surnbatan saluran napas

sehingga paru bagian distal akan mengalarni kolaps dan terjadi atelektasis.1

Tingkat kegawatan dari batuk darah ditentukan oleh 3 faktor :

1. Terjadinya asfiksia karena adanya pernbekuan darah dalarn saluran

pernapasan. Pada dasarnya asfiksia tergantung dari :

a. frekuensi batuk darah

b. jumlah darah yang dikeluarkan

c. kecemasan penderita

d. siklus inspirasi

e. reflek batuk yang buruk

f. posisi penderita

12
2. Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya batuk darah dapat

menimbulkan syok hipovolemik. Bila jumlah perdarahan banyak maka

digolongkan dalam massive hemoptysis. Kriteria massive hemoptysis menurut

Yeoh adalah perdarahan 200 cc dalarn 24 jam sedang menurut Sdeo adalah

perdarahan lebih dari 600 cc dalam 24 jam.

3. Aspirasi pneumonia.

Yaitu infeksi yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari setelah perdarahan.

Aspirasi adalah masuknya bekuan darah ke dalam jaringan paru yang

mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

a. Meliputi bagian yang luas dari paru.


b. Terjadi pada bagian percabangan bronkus yang lebih kecil.

c. Disamping perdarahan dapat pula disebabkan oleh masuknya cairan lambung

ke dalam paru karena penutupan glotis yang tidak sempurna.

d. Dapat diikuti sekunder infeksi.

Aspirasi pneumonia merupakan keadaan berat karena saluran napas dan bagian

fungsional paru tidak dapat berfungsi dengan baik.

IV. PENATALAKSANAAN

Batuk darah yang kurang / tidak masif dapat ditangani secara konservatif sedang

batuk darah masif memerlukan tindakan yang lebih agresif-intensif seperti

bronkoskopi atau. operasi. Tujuan pokok terapi adalah mencegah tersumbatnya

saluran pernapasan oleh bekuan darah, mencegah kemungkinan penyebaran infeksi

dan menghentikan perdarahan 1

13
A. Penatalaksanaan Konservatif

Menenangkan penderita dan memberitahu penderita agar jangan takut- takut untuk
membatukkan darahnya.
1. Penderita diminta berbaring pada posisi bagian paru yang sakit atau sedikit

trendelenburg, terutama bila refleks batuknya tidak adekuat.

2. Jaga agar jalan napas tetap terbuka. Bila terdapat tanda-tanda

surnbatan jalan napas perlu dilakukan pengisapan atau bila diperlukan

dilakukan pemasangan pipa endotrakeal. Pemberian oksigen hanya berarti

bila jalan napas bebas hambatan / sumbatan.

3. Pemasangan IV line atau IVFD untuk penggantian cairan maupun untuk

jalur pemberian obat parenteral.

4. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya pada batuk darah yang

tidak disertai kelainan faal hemostatik.

5. Obat-obat dengan efek sedasi ringan dapat diberikan bila penderita gelisah.

Obat-obat penekan refleks batuk hanya diberikan bila terdapat batuk yang

berlebihan dan merangsang timbulnya perdarahan lebih banyak.

6. Transfusi darah diberikan bila hematrokit turun di bawah nilai 25-30% atau

Hb di bawah 10 gr% sedang perdarahan masih berlangsung.

B. Penatalaksanaan Bedah

Indikasi tindakan bedah menurut Busroh :

1. Batuk darah > 600 cc / 24 jam dan dalam pengamatan batuk darah tidak

berhenti.

14
2. Batuk darah 250 - 600 cc / 24 jam , Hb < 10 gr% dan batuk darah berlangsung

terus.

3. Batuk darah 250 - 600 cc / 24 jam, Hb > 10 gr% dan dalam. pengamatan 48

jam perdarahan tidak berhenti.

Kriteria operasi menurut Amitana :

1. Perhatikan sumber perdarahan

2. Aspirasi berulang

3. Adanya kavitas penyebab terjadinya perdarahan berulang

4. Faal paru yang minimal sehingga setiap perdarahan menyebabkan ancaman

kematian

Tindakan bedah meliputi :

1. Reseksi paru : lobektomi atau pneumonektomi

2. Terapi kolaps : pneumoperitoneum, pneumotoraks artifisial,

torakoplasti,frenikolisis

(membuat paralise n. phrenicus).

3. Lain-lain : embolisasi artifisial.

Ad 1. Reseksi paru ditujukan untuk membuang sisa-sisa kerusakan akibat penyakit

dasarnya. Macam reseksi :

- pneumonektomi : reseksi satu paru seluruhnya

- bilobektomi : reseksi dua lobus

- lobektomi : reseksi satu lobus

- wedge resection : reseksi sebagian kecil jaringan paru.

- enukleasi : bila kelainan patologis kecil dan jinak

15
- segmentektomi : reseksi segmen bronkopulmonal.

Berdasarkan foto thorax dan pemeriksaan faal paru, luasnya operasi dapat

ditentukan sebelum operasi. Prinsipnya adalah mempertahankan sebanyak mungkin

jaringan paru yang dianggap sehat. Luas dan jenis lesi (proses inflamasi, abses atau

kavitas) menentukan jenis reseksi yang akan dilaksanakan.12

Ad 2. Terapi Kolaps

Bertujuan untuk mengistirahatkan bagian paru yang sakit dengan cara

membuat kolaps jaringan paru yang sakit tersebut. Pendapat ini benar untuk

kelainan berbentuk kavitas, tetapi cara ini banyak ditinggalkan karena

komplikasinya banyak.

Prosedur yang termasuk dalarn kelompok terapi kolaps

* Pneumothorax artificial

Yaitu dengan memasukkan udara ke rongga pleura, kemudian secara bertahap

ditambahkan udara sehingga tercapai kolaps pada jaringan paru yang sakit. Bila

paru kolaps maka bagian tersebut dapat istirahat sehingga mempercepat proses

penyembuhan. Bila terdapat adesi dan paru tidak dapat kolaps dilakukan

intrapleural pneumonolysis (operasi Jacoboes) , tetapi sering terjadi

komplikasi perdarahan. Karena sering terjadi empiema setelah pneumotorak

artifisial, tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.

*. Pneumoperitoneum.

Yaitu tindakan memasukkan udara ke rongga peritoneum dengan tujuan

menaikkan

16
diafragma agar terjadi kolaps pada jaringan paru dengan harapan lesi di apikal

akan menyembuh.

* Paralise nervus phrenicus

Dengan anestesi lokal nervus phrenicus dibebaskan dari perlekatannya di m.

scalenus anterior , kemudian saraf dirusak (crushed) sehingga timbul paralise

diafragma. Akibatnya akan terjadi elevasi diafragma dan diharapkan apeks paru

dapat diistirahatkan sehingga, terjadi proses penyembuhan.

* Torakoplasti

Yaitu suatu bentuk operasi dimana kolaps paru terjadi dengan cara

menghilangkan supporting framework-nya,misalkan dengan membuang tulang

iga dari dinding dada. Indikasi torakoplasti :

Dulu : torakoplasti hampir selalu dilakukan setelah lobektomi atau

pneumonektomi dengan tujuan meminimalisasi kemungkinan terjadinya over

distensi parenkim paru yang tersisa selain itu dead space akan segera menutup

(obliterasi) sehingga resiko terbentuknya fistula bronkopleural dan empiema

dapat dikurangi.

Sekarang : Kebutuhan torakoplasti diragukan dan dilakukan bila direncanakan

reseksi lebih dari 1 lobus atau untuk mengatasi komplikasi tindakan reseksi

seperti fistula bronkopleura dan empiema.

Ad. 3 Embolisasi artifisial.2,13

Embolisasi artifisial atau Bronchial Artery Embolization (BAE)

adalah penyuntikan gel-foam atau polivinil alkohol melalui kateterisasi pada

arteri bronkialis. Menurut Ingbar embolisasi berhasil menghentikan perdarahan

17
95% . Dengan meningkatnya penggunaan embolisasi arteriografi, sekarang

penggunaan tindakan pembedahan untuk pengelolaan batuk darah masif mulai

ditinggalkan.

V. PROGNOSIS

Pada batuk darah idiopatik prognosisnya baik, kecuali jika penderita mengalami

batuk darah yang rekuren.

Pada batuk darah sekunder ada beberapa faktor yang menentukan prognosis, yaitu:

1. Derajat batuk darah.

Pada single hemoptysis mempunyai prognosis baik, sedang batuk darah yang

profus dan bergumpal-gumpal prognosisnya jelek.

2. Macam penyakit dasar yang menyebabkan batuk darah.

Pada karsinoma bronkogenik prognosisnya jelek.

3. Kecepatan dalam penatalaksanaan batuk darah masif

Misalnva tindakan trakeostomi, bronkoskopi atau tindakan bedah pada saat yang

tepat.

Menurut Crocco , pasien dengan batuk darah masif ( 600 mL ) dalam waktu:

- kurang dari 4 jam mempunyai mortality rate 71%.

- 4 - 16 jam mempunvai mortality rate 22%.

- 16 - 48 jam mempunyai mortality rate 5%.

18
VI. RINGKASAN

Batuk darah adalah ekspektorasi darah atau mukus yang berdarah.

Perdarahan yang terjadi haruslah berasal dari saluran napas bagian bawah (dari

glotis ke bawah), bukan berasal dari saluran napas bagian atas atau saluran

pencernaan. Jadi harus dibedakan antara batuk darah dan muntah darah.

Batuk darah adalah kondisi umum dengan banyak kausa. yang menjadi

penyebabnya. Penyebab batuk darah dapat dikategorikan menjadi infeksi, tumor

dan kelainan kardiovaskuler. Patogenesis tergantung pada penyakit dasarnya.

Diagnosis batuk darah dibuat dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium (darah, sputum sitologi,

bakteriologi, mikologi dan serologi), bronkoskopi, foto thorax, tomografi,

bronkografi dan arteriografi.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah asfiksia, sufokasi. dan kegagalan

kardiosirkulasi akibat kehilangan banyak darah dalam waktu singkat. Selain itu

dapat terjadi penyebaran penyakit ke sisi paru yang sehat. Atelektasis dapat terjadi

karena sumbatan saluran napas sehingga paru bagian distal mengalami kolaps.

Tingkat kegawatan dari batuk darah ditentukan oleh terjadinya asfiksia, jumlah

darah yang keluar dan aspirasi pneumonia.

Penatalaksanaan batuk darah tergantung pada masif tidaknya batuk darah.

Pada batuk darah yang tidak / kurang masif ditangani secara konservatif sedang

pada batuk darah masif memerlukan usaha yang agresif intensif seperti bronkoskopi

19
atau operasi. Tindakan operasi dapat berupa reseksi paru, terapi kolaps dan

embolisasi arteri bronkialis.

Prognosis baik pada batuk darah idiopatik, kecuali terjadi batuk darah

rekuren sedang pada batuk darah sekunder tergantung dari derajat batuk darah,

macam penyakit dasar yang menyebabkan batuk darah dan kecepatan dalam

bertindak.

20
DAFTAR PUSTAKA

Ingbar DH. Hemoptysis in Medical management ofpulmonary diseases. Ed by


Davis GS. Marcell Decker Inc. New York, 1999; 341-55.
1. Health communities com. Pulmonology channel, Hernoptysis. Feb.27.2002.

2. Cahill BC. Massive hemoptysis: assesment and management. Clin Chest

Med, 1994; 15:147.

3. Alsagaff H, Mukty A. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga

University Press, Surabaya, 1995; 301-5.

Thompson Ab. Pathogenesis, evaluation and therapy for massive hemoptysis. Chn
Chest Med, 1992; 13: 69.
4. Santiago S, Tobias J, Williams AJ. A reappraisal of the causes of

hemoptysis. Arch Intern Med, 199 1; 151: 2449.

5. Miller RR. Mc Gregor DH. Hemorrhage ftom carcinoma of the lung.

Cancer, 1980;46: 200.

6. Haponik EF, Chin R. Hemoptysis: clinicans perspective. Chest 1990; 97:

469.

7. Primack SL, Miller RR, Muller NL. Diffuse pulmonary hemorrhage :

clinical, pathologic and imaging features. AJR, 1995; 164: 295.

8. Mc Guiness G, Beacher JR, Harkin TJ et al. Hernoptysis : prospective high

resolution CT bronchoscopic correlation. Chest, 1994; 105: 1155.

9. Bookstein JJ et al. The role of bronchial arteriography and therapeutic

embolization in hernoptysis. Chest 1977; 72: 658.

10. Gourin A, Garzon AA. Operative treatment of massive hernoptysis. Ann

Thoracic Surgery. 1978; 18: 52.

21
11. Remy J. Treatment of hemoptysis by embolization of bronchial arteries.

Diagnosis Radiol,1977; 122: 33.

22