Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

KEPERAWATAN JIWA II

Konsep Dan Asuhan Keperawatan


Kasus Psikotik Gelandangan

Disusun Oleh:

1. Ayu Anita (1711113576)


2. Riska Apriani (1711113595)
3. Anisa Arrasy Shiddieqy (1711113597)
4. Ayu Lestari (1711113612)
5. Dwi Reskhi Novithasari (1711113633)
6. Aulia Sadeva (1711113637)
7. Putri Dwi Ayuningrum (1711113656)
8. Jhodi Ibrahim (1711113657)
9. Siti Febryza Indra (1711113658)
10. Rezky Rizalti (1711113660)

Kelompok 1
A 2017 3

Dosen Pembimbing:
Ns. Didi Kurniawan, M.Kep.

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT,
karena atas karunia dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Jiwa II dalam tugas seminar kelompok. Dan juga penulis mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu-persatu
yang turut membantu kelancaran penyusunan makalah ini.
Dalam makalah ini disajikan bahasan tentang Konsep Dan Asuhan
Keperawatan Kasus Psikotik Gelandangan. Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan kelemahanya, baik dalam isi maupun
sistematikanya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna dan
memberikan manfaat khususnya mahasiswa dan umumnya bagi pembaca.

Pekanbaru, 1 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Definisi Gelandangan Psikotik 3
B. Jenis-Jenis Gelandangan Psikotik 3
C. Penyebab Gelandangan Psikotik 7
D. Layanan Yang Dibutuhkan Oleh Gelandangan Psikotik 8
E. Penanganan Gelandangan Psikotik 8
F. Langkah-Langkah Rehabilitasi Pada Gelandangan Psikotik 11
G. Asuhan Keperawatan Pada Gelandangan Psikotik 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 23
B. Saran 24
DAFTAR PUSTAKA 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata gelandangan dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki artian
orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal yang tetap.
Mereka hidup dibawah-bawah kolong jembatan dan mereka makan dari
hasil mengemis atau mengais dari sisa-sisa sampah yang bisa untuk
dimakan. Sedangkan kata psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai
dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi dalam
artian seseorang tersebut sudah tidak bisa membedakan antara kenyataan
dan hayalan.
Gelandangan psikotik dapat memiliki arti seseorang yang hidup dalam
keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam
masyarakat, mempunyai tingkah laku yang aneh, suka berpindah-pindah dan
menyimpang dari norma-norma yang ada atau seseorang bekas penderita
penyakit jiwa yang telah mendapatkan pelayanan medis atau yang sedang
mendapatkan pelayanan medis. Sehingga menyebabkan faktor kemiskinan.
Kemiskinan merupakan masalah yang rumit. Demikan peliknya seakan-
akan menjadi persoalan abadi seperti sebuah lingkaran yang tidak ada
ujungnya dan selalu berputar semakin membesar serta berdampak semakin
luas. Dampak yang ditimbulkan sangat berkaitan erat dengan berbagai aspek
kehidupan, seperti aspek psikologi, aspek sosial, budaya, aspek hukum,
sehingga sering di kaitkan dengan ketidakamanan dan ketidaknyamanan
masyarakat. Secara sosial ekonomi kondisi kemiskinan yang menahun di
desa maupun di kota dengan segala sebab dan akibatnya. Sebabnya seperti
kurangnya lapangan pekerjaan, penghasilan yang kurang mencukupi, lahan
yang semakin menyempit, sementara jumlah penduduk desa terus
bertambah yang kemudian menyebabkan sebagian penduduk desa memilih
untuk berpindah menuju ke kota-kota besar dengan harapan mendapatkan
penghidupan yang lebih layak.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang makalah tersebut maka perumusan
masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan gelandangan psikotik?
2. Apa saja jenis-jenis gelandangan psikotik?
3. Apa yang menyebabkan gelandangan psikotik?
4. Apa saja layanan yang dibutuhkan oleh gelandangan psikotik?
5. Bagaimana penanganan gelandangan psikotik?
6. Bagaimana langkah-langkah rehabilitasi pada gelandangan psikotik?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada gelandangan psikotik?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, penulisan makalah
ini bertujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa definisi dari gelandangan psikotik.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis gelandangan psikotik.
3. Untuk mengetahui penyebab gelandangan psikotik.
4. Untuk mengetahui layanan yang dibutuhkan oleh gelandangan psikotik.
5. Untuk mengetahui penanganan gelandangan psikotik.
6. Untuk mengetahui langkah-langkah rehabilitasi pada gelandangan
psikotik.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada gelandangan psikotik.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Gelandangan Psikotik


Gelandangan Psikotik Adalah seseorang yang hidup dalam keadaan
tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat,
mempunyai tingkah laku aneh/menyimpang dari norma-norma yang ada
atau seseorang bekas penderita penyakit jiwa, yang telah mendapat
pelayanan medis dan telah mendapat Surat Keterangan Sembuh dan tidak
mempunyai keluarga/kurang mampu serta perlu mendapat bantuan untuk
hidup. Kriteria gelandangan psikotik: hidup menggelandang di tempat-
tempat umum terutama di kota-kota, kehadirannya tidak diterima keluarga
dan masyarakat sekitarnya, tempat tinggal tidak tetap, seperti beranda toko,
di kolong jembatan, terminal dan lainnya, sering mengamuk dan berbicara
sendiri, penampilannya di bawah sadar atau tidak sesuai dengan norma
dalam masyarakat, misalnya tidak menggunakan pakaian, memakan
makanan dari sisa-sisa di tempat sampah, tidak mempunyai pekerjaan
(Permensos RI No. 8 tahun 2012).

B. Jenis Gelandangan Psikotik


Berikut ini jenis-jenis gangguan psikotik menurut Kurt Schneider,
2019:
1. Skizofrenia
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan
gangguan proses pikir dan emosi. Pada umumnya gejala yang muncul
adalah halusinasi dengar, paranoid atau waham, cara berfikir kacau, dan
disertai disfungsi sosial. Gejala yang muncul biasa dalam usia dewasa
muda, dengan prevalensi global 0,3 % sampai 0,7%. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan pengamatan perilaku danpengalaman yang
dilaporkan.

3
Ciri ciri gangguan:

a. Gangguan proses pikir sehingga pikiran dan pembicaraan tidak


terorganisasi.
b. Kurangnya perhatian: kesulitan memfokuskan perhatian pada
stimulus yang relevan
c. Gangguan persepsional: halusinasi
d. Gangguan emosional: emosi tidak sesuai, emosi datar atau tumpul,
emosi meluap luap penuh amarah, dan lainnya.
e. Gejala lain: bingung tentang identitas diri, hilangnya rasa percaya
diri dan keyakinan, perilaku stupor, gerakan tubuh yang ganjil dan
ekspresi wajah aneh, tidak mampu beradaptasi dalam kehidupan
sosial.
2. Gangguan delusi
Gangguan delusi merupakan kondisi pikiran yang berisi lebih dari
satu delusi. Delusi diartikan sebagai kepercayaan dalam pikiran
seseorang yang dimunculkan dalam bentuk nyata misalnya pikiran
bahwa dirinya dilukai oleh orang dan dia merasa benar- benar ketakutan
dan nyata. Delusi bisa juga terjadi pada skizofrenia namun juga bisa
berdiri sendiri sebagai diagnosis delusi.
Orang dengan delusi benar benar menganggap persepsi pada
pikirannya itu nyata, sehingga orang juga akan mempercayai apa yang
dikatakan melalui ekspresinya yang meyakinkan. Kondisi delusi ini
tidak tampak abnormal dan tampak seperti orang pada umumnya.
Delusi juga bisa muncul akibat kondisi medis dan berlangsung beberapa
waktu saja. Delusi memiliki macam macamnya yaitu:
a. Delusion of erotomaniac: individu yang memiliki kepercayaan
bahwa dirinya sedang memiliki hubungan percintaan dengan
seseorang yang memiliki kedudukan tinggi.
b. Delusion of grandiose: individu memiliki kepercayaan bahwa
dirinya memiliki kekuatan, bakat, insight, atau memiliki hubungan
khusus dengan Tuhan.

4
c. Delusion of jealous: memiliki kepercayaan bahwa pasangannya
berselingkuh.
d. Delusion of persecutory: indiividu merasa dirinya telah ditipu,
diikuti, difitnah oleh orang lain, sehingga tidak bisa mempercayai
siapapun.
e. Delusion of somatic: individu percaya bahwa tubuhnya merasakan
sensasi bahwa tubuhnya tidak dapat berfungsi seperti biasanya.
f. Delusion of control: individu merasa dirinya dikendalikan oleh orang
lain.
g. Delusion of influence: individu merasa dirinya dipengaruhi oleh
kekuatan dari luar.
h. Delusion of passivity: individu berada dalam ketidakberdayaan atau
merasa dirinya paling tidak beruntung di dunia.
i. Delusion of perception: individu merasa memiliki pengalaman
mistik atau mukjizat.
Selain tipe tipe diatas, penderita campuran juga ada yaitu penderita
yang memiliki lebih dari satu jenis delusi diatas. hal itu memungkinkan
gejala yang lebih parah dan perubahan perilaku yang lebih tidak
terkontrol.
Ciri ciri gangguan:
a. Munculnya pikiran pikiran aneh dari refleksi pemikiran tentang
sesuatu yang kemudian muncul di kehidupan nyata dalam waktu 1
bulan atau lebih.
b. Adanya delusi pembauan yang konsistem apabila individu pernah
mengalami skizofrenia sebelumnya.
c. Tidak adanya gangguan perilaku atau gangguan fungsi sosial.
d. Perubahan mood yang fluktuatif, berlangsung singkat selama periode
delusi berlangsung.
3. Gangguan Psikotik Singkat
Gangguan psikotik singkat merupakan gangguan yang berlangsung
singkat yaitu dalam satu hari atau satu bulan saja. Ciri ciri gangguannya
hampir sama yaitu: waham, halusinasi, pembicaraan tidak terorganisasi,

5
perilaku tidak terorganisasi. Penyebab gangguan singkat ini ada
hubungannya dengan faktor stressor yang signifikan bisa satu atau
beberapa misalnya trauma bencana, kehilangan orang yan gdisayangi.
Gangguan ini juga bisa terjadi pada sindrom baby blues atau trauma
setelah melahirkan.
Penanganan gangguan psikotik singkat yaitu melalui psikoterapi
dan mungkin memerlukan obat obatan penekan gejala. Selain itu
dukungan keluarga merupakan faktor penting untuk penderita. Setelah
fase akut teratasi, orang orang disekitar penderita dapat membantu
mengatasi stres, menyelesaikan konflik dan juga meningkatkan harga
diri dan percaya diri dari penderita.
4. Gangguan Skizofreniform
Gangguan skizofreniform merupakan adanya gangguan yang
menyebabkan perilaku abnormal mirip skizofrenia. Gangguan ini
terjadi kurang dari enam bulan dan belum dapat dikategorikan sebagai
skizofrenia. Ciri ciri gangguan skizofreniform ini yaitu pikiran aneh,
ketidakmampuan emosi, pola bicara yang abnormal, halusinasi, delusi,
kesulitan dalam memahami dan berfikir, tidak mampu mengekspresikan
perasaan dan mempertahankan hubungan sosial.
Penyebabnya bisa bermacam macam misalnya faktor biologis,
genetika yaitu adanya keturunan, atau hubungan dengan lingkungan
sosial. Penanganannya bisa dengan terapi psikologis, pengobatan,
konseling, dan juga dukungan dari orang sekitar akan selalu
dibutuhkan.
5. Gangguan Spektrum Skizofrenia
Gangguan spektrum skizofrenia merupakan jenis gangguan
psikotik dimana individu memiliki gangguan mood yang parah dan juga
ciri seperti skizofrenia. Istilah ini mencakup tipe skizofrenia yang
bervariasi tinkat keparahannya mulai dari yang ringan yaitu tipe
skizotipal dan schizoid hingga gangguan kepribadian yang berat seperti
skizofrenia dan skizoafektif.Perbedaan skinofrenia dengan spectrum
skizofrenia dengan pada derajat keparahan dari pada jenisnya.

6
Ciri gangguan spektum skizofrenia bercampur,termasuk ciri
psikotik halusinasi,waham,perubahan mood,depresi,maniak,kesulitan
menetap dan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau kehidupan.
Jenis-jenis gangguan psikotik memiliki penyebab dan cara
penanganannya masing-masing meskipun secara umum gejalanya dan
penanganannya hamper sama.Gangguan psikotik menitik beratkan pada
adanya keabnormalan pada kognitif dan pola pikir,afektif,dan
prilaku.Penyimpangan tersebut kemudian menimbulkan kerusajan
hubungan social dan merugikan.Dukungan positif dari orang terdekat
sangat dibutuhkan untuk mendampingan penderita meningkatkan
perbaikan diri dan menjadi adaptif.Penangan segera perlu dilakukan
apabila anada menemukan gejala-gejala diats pada orang terdekat.

C. PenyebabGelandangan Psikotik
Psikotik dapat disebabkan oleh beberapa faktor,yaitu:

1. Masalah kesehatan mental tertentu,seperti skizofrenia,bipolar,dan


depresi berat.
2. Kurang tidur.
3. Pengalaman traumatis,terlalu cemas,atau stress.
4. Penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol.
5. Efek samping dari obat tertentu.
6. Kondisi fisik atau penyakit yang berhubungan dengan otak,penyakit
Parkinson,tumor otak,dan sebagainya.
7. Beberapa tipe demensia yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer,
HIV,sifilis,beberapa tipe epilepsy (kejang-kejang),dan stroke.
8. Kadar gula dalam tubuh di bawah normal yang sangat rendah
(hipogkemia).
9. Lupus.

7
D. Layanan Yang Dibutuhkan Oleh Gelandangan Psikotik
Berikut ini layanan yang dibutuhkan oleh gelandangan psikotik
menurut Prabowo, 2014:
1. Kebutuhan fisik, meliputi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan
kesehatan.
2. Kebutuhan layanan psikis meliputi terapi medis psikiatris. keperawatan
dan psikologis.
3. Kebutuhan sosial seperti rekreasi, kesenian dan olah raga.
4. Layanan kebutuhan ekonomi meliputi ketrampilan usaha, ketrampilan
kerja dan penempatan dalam masyarakat.
5. Kebutuhan rohani.

E. Penanganan Gelandangan Psikotik


Pembangunan kesejahteraan sosial di era sekarang ini lebih
mengedepankan pembangunan yang menempatkan kota/kabupaten atau
daerah tingkat I/II sebagai titik sentral otonomi daerah. Desentralisasi atau
otonomi adalah menyerahkan kewenangan untuk mengatur dan
menyelenggarakan pemerintah kepada daerah. Pembangunan daerah lebih
berorientasi pada kebutuhan setempat (bottom up oriented) yang sesuai
dengan kemampuan perencanaan disesuaikan dengan kebutuhan bukan
didasarkan pada kemampuan yang menjadi landasan pembangunan daerah
(Widjaya, 200l:21).
Hakekat otonomi daerah adalah meletakkan landasan pembangunan
yang tumbuh berkembang dari rakyat dan dinikmati hasilnya oleh seluruh
rakyat (Somodiningrat, 2001: 163). Bergesernya peran dan fungsi negara
akibat otonomi daerah Membawa konsekuensi terhadap pelaksanaan
pembangunan daerah dan khususnya pembangunan kesejahteraan sosial.
Demikian pula dalam upaya penanganan gelandangan psikotik yang akhir-
akhir ini menjadi pusat perhatian masyarakat dan pemerintah merupakan
permasalahan sosial yang sangot kompleks, karena dipandang telah
meresahkan dan menimbulkan gangguan keamanan ketertiban masyarakat,

8
keindahan lingkungan dan yang lebih spesifik karena menyangkut gangguan
kejiwaan seseorang.
Permasalahan ini merupakan masalah yang multikompleks karena
menyangkut berbagai aspek yaitu sosial, kesehatan, pekerjaa dan,
pendidikan, keamanan, ketertiban dan lain-lain. Dengan demikian
diperlukan pendekatan multidisipliner dan di dalam pelaksanaannya perlu
dijalankan secara kerjasama setiap yang bersifat rujukan, konsultatif, dan
juga kerjasama untuk melaksanakan rehabilitasi terpadu. Mengingat tidak
semua instansi/lembaga pelayanan sosial mampu memberikan semua jenis
pelayanan kepada penyandang masalah. Kesadaran akan keterbatasan
sumberdaya yang dimiliki dan tingginya hasrat untuk memberikan semua
jenis pelayanan yang optimal, maka banyak lembaga –lembaga pelayanan
sosial melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain, baik sesama lembaga
pelayanan sosial maupun dengan lembaga lainnya.
Adanya koordinasi atau kerjasama antar instansi/lembaga terkait
penanganan gelandangan psikotik maka keterbatasan yang dimiliki masing-
masing instansi dapat tertutupi sehingga dipandang dapat memperkuat
kemampuan instansi secara kolektif untuk melaksanakan penanganan
gelandangan psikotik. Fungsi kerjasama digambarkan Charles H Cooley
(dalam Soerjono Soekanto, 1990), sebagai berikut: kerjasama timbul apabila
orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang
sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan
pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-
kepentingan tersebut, kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang
sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam
kerjasama yang berguna. Dalam melaksanakan suatu program penanganan
gelandangan psikotik, tidak dapat berjalan sendiri-sendiri namun dibutuhkan
koordinasi atau kerjasama antara beberapa pihak. Koordinasi dalam suatu
organisasi untuk melaksanakan suatu program mutlak dibutuhkan, karena
pada dasarnya tidak ada organisasi yang mampu menjalankan suatu program
dengan baik tanpa berkoordinasi dengan organisasi lainnya.

9
Koordinasi menurut Sugandha (1988:12) adalah penyatupaduan gerak
dari seluruh potensi dari unit-unit organisasi atau orang-orang yang berbeda
fungsinya agar secara nyata benar-benar mengarah pada sasaran yang sama
guna memudahkan pencapaian dengan efisien. Sedangkan George R Terry
dalam Kortini (2003:29), berpendapat bahwa koordinasi adalah sinkronisasi
yang teratur dari usaha-usaha untuk menciptakan kepantasan kuantitas,
waktu dan tujuan pengarahan pelaksanaan yang menghasilkon keselarasan
dan kesatuan yang telah ditetapkan. Tujuan utama koordinasi adalah
terjadinya sinkronisasi, artinya koordinasi merupakan gejala usaha untuk
menyatukan kegiatan-kegiatan dari berbagai unit kerja yang mempunyai
fungsi yang berbeda dalam rangka terciptanya sinkronisasi dari berbagai
upaya yang dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan bersama.
Berdasarkan ruang lingkupnya, Sugondho (1988:25) menyebutkan
bahwa koordinasi terbagi menjadi 2, yakni koordinasi intern dan koordinasi
ekstern. Koordinasi intern merupakan koordinasi antar pejabat atau antar
unit di dalam organisasi. Sedangkan koordinasi ekstern merupakan
koordinasi antar pejabat dari berbagai organisasi atau antarorganisasi.
Sedangkan berdasar arahnya, menurut Widjaya, HAW, koordinasi terbagi
menjadi 3, yaitu:
1. Koordinasi fungsional, antara dua atau lebih instansi yang mempunyai
program yang berkaitan erat;
2. Koordinosi instonsionol, terhadap beberapa instonsi yang menangani
sotu uruson tertentu yang bersangkutan;
3. Koordinasi teritorial, terhadap duo atou lebih wiloyoh dengon program
tertentu (Widjaya, HAW, 1992:25).
Dengan demikian penanganan gelandangan psikotik, membutuhkan
koordinasi dua atau lebih instansi terkait yang memiliki program yang
berkaitan erat dalam penanganan masalah tersebut sangat dibutuhkan,
keberhasilan suatu program penanganan gelandangan psikotik tidak dapat
dicapai oleh satu instansi/organisasi, namun didukung pula dengan bantuan
dari instansi terkait sebagai pelaksana program penanganan mutlak
diperlukan dalam rangka pencapaian tujuan program baik koordinasi secara

10
intern maupun ekstern . Pelaksanaan penanganan gelandangan psikotik juga
melibatkan berbagai instansi terkait yang meliputi Pemerintah Daerah
tingkat I/II, Dinas Ketertiban dan Keamanan Masyarakat tingkat I/II, Dinas
Kesehatan tingkat I/II, Dinas Sosial tingkat I/II, Kepolisian, Rumah Sakit
Jiwa (RSJ) dan Panti Sosial serta lembaga swasta yang peduli dengan
masalah gelandangan psikotik.

F. Langkah-Langkah Rehabilitasi Pada Gelandangan Psikotik


Dalam Pasal 7 Perda DIY Nomor 1 Tahun 2014 tentang penanganan
gelandangan dan pengemis terdapat upaya-upaya dalam menangani
gelandangan dan pengemis, yaitu:
1. Upaya preventif
Dalam upaya preventif ini para gelandangan dan pengemis diberikan
fasilitas seperti: pelatihan keterampilan, magang dan perluasan
kesempatan kerja, peningkatan derajat kesehatan, fasilitas tempat
tinggal, peningkatan pendidikan, penyuluhan dan edukasi masyarakat,
pemberian informasi melalui baliho di tempat umum, bimbingan sosial
dan bentuan sosial.
2. Upaya koersif
a. Penertiban
Yang dimaksud dengan “penertiban” adalah salah satu cara yang
dilakukan untuk mengatur dan menegakkan aturan hukum dalam
upaya mewujudkan ketertiban dalam kehidupan masyarakat.
Tindakan penertiban dilakukan terhadap setiap orang yang tinggal di
tempat umum, meminta-minta di tempat-tempat umum, pemukiman,
peribadatan dan meminta-minta dengan menggunakan alat. Tindakan
penertiban ini dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
memiliki tugas dan fungsi di bidang penyelenggaraan ketentraman
dan ketertiban umum.
b. Penjangkauan
Yang dimaksud dengan “penjangkauan” adalah tindakan proaktif
yang dilakukan oleh petugas penjangkauan ke wilayah-wulayah yang

11
dijadikan tempat tinggal gelandangan dan pengemis. Penjangkauan
merupakan kontak awal dan proses membina hubungan sosial serta
membangun kepercayaan dengan gelandangan dan pengemis.
Petugas penjangkauan dapat melakukan penyelamatan dan evakuasi
yang dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap
gelandangan dan pengemis dari situasi dan kondisi kehidupan di
jalanan yang membahayakan keselamatan mereka, baik dari aspek
fisik, kesehatan maupun psiko sosialnya. Penjangkauan dilakukan
secara terpadu oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memiliki
tugas dan fungsi di bidang sosial dan lembaga kesejahteraan sosial.
c. Pembinaan di RPS
Yang dimaksud dengan “pembinaan di RPS” adalah serangkaian
kegiatan bimbingan mental sosial yang dilakukan untuk membangun
pemikiran, sikap, perilaku pro sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Pembinaan dapat dilaksanakan melalui bimbingan fisik untuk
melatih kedisiplinan serta bimbingan mental sosial. Pembinaan di
RPS dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memiliki
tugas dan fungsi di bidang sosial.
d. Pelimpahan
Yang dimaksud dengan “pelimpahan” adalah pelimpahan
gelandangan dan pengemis untuk menjalani proses hukum di
pengadilan, pelimpahan pengadilan ditujukan bagi gelandangan dan
pengemis yang sudah sering terjaring razia dan/atau diindikasikan
melakukan tindakan melanggar hukum. Pelimpahan ke pengadilan
merupakan keputusan dalam forum gelar kasus, yang juga sudah
melibatkan aparat kepolisian sebagai penyidik umum, serta
profesional lainnya. Dari hasil gelar kasus tersebut Direktur Kasus
pada RPS mengambil keputusan untuk melimpahkan kepada
pengadilan. Pelimpahan ke pengadilan merupakan upaya terakhir
dan diambil jika gelandangan dan pengemis benar-benar terindikasi
menjadi pelaku tindak kriminal. Pelimpahan ini dilakukan oleh

12
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memiliki tugas dan fungsi di
bidang sosial.
3. Upaya rehabilitasi
a. Motivasi dan diagnosa psikososial
Yang dimaksud dengan “motivasi” adalah kegiatan yang dilakukan
untuk menumbuhkan keinginan gelandangan dan pengemis,
membangun harapan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik
serta mendorong mereka untuk membuat rencana, mengambil
keputusan dan melakukan tindakan yang lebih produktif. Yang
dimaksud dengan “diagnosa psikososial” adalah proses
mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan mental sosial untuk
merumuskan pemecahannya dan digunakan sebagai dasar dalam
menentukan kebutuhan pelayanan.
b. Perawatan dan pengasuhan
Yang dimaksud dengan “perawatan dan pengasuhan” adalah
pemberian pelayanan dan bimbingan terhadap gelandangan dan
pengems selama menjalani rehabilitasi sosial. Perawatan dan
pengasuhan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik sesuai dengan
hasil diagnosa psiko sosial.
c. Pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan
Yang dimaksud dengan “pelatihan Vokasional dan pembinaan
kewirausahaan” adalah serangkaian usaha yang diarahkan kepada
klien gelandangan dan pengemis untuk mengetahui, mendalami dan
menguasai suatu bidang keterampilan kerja tertentu yang
memungkinkan mereka memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang
layak.
d. Bimbingan mental spritual
Yang dimaksud dengan “bimbingan mental” adalah bagian dari
kegiatan rehabilitasi sosial yang diarahkan untuk menangani
gangguan psikososial yang dialami klien gelandangan dan pengemis
non psikotik. Gelandangan psikotik mendapatkan pelayanan
kesehatan jiwa dari rumah sakit jiwa. Rehabilitasi sosial bagi

13
gelandangan psikotik yang belum diketahui asal usuk keluarganya
pasca pelaksanaan kesehatan jiwa dilakukan Unit Pelaksana Teknis
Daerah di bidang sosial. Bimbingan spiritual adalah tindakan
pendampingan terhadap klien gelandangan dan pengemis dalam
melakukan refleks atas perjalanan hidup, menggali keyakinan, nilai-
nilai, filosofi dan pemaknaan atas kehidupannya pada waktu yang
laku, sekarang maupun yang akan datang.
e. Bimbingan fisik
Yang dimaksud dengan “bimbingan fisik” adalah kegiatan
bimbingan atau tuntunan untuk pengenalan dan pembiasaan praktek
cara-cara hidup sehat, secara teratur an disiplin agar kondisi
badan/fisik maupun lingkungan dalam keadaan selalu sehat.
Bimbingan fisik dimaksudkan untuk melatih, membinan dan
memupuk kemampuan dan kemauan klien agar memelihara
kesehatan fisik dan lingkungannya.
f. Bimbingan sosial dan konseling psikososial
Yang dimaksud dengan “bimbingan sosial” adalah kegiatan yang
diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab sosial
serta meningkatkan keterampilan sosial klien. Kegiatan ini dapat
dilaksanakan melalui pelatihan keterampilan berkomunikasi dan
berinteraksi dengan orang lain, dann berorganisasi. Bimbingan sosial
berupaya mendorong klien gelandangan dan pengemis dapat kembali
dalam kehidupan masyarakat secara inklusif. Konseling psikososial
adalah kegiatan yang ditujukan bagi klien gelandangan dan
pengemis untuk membantu mengatasi masalah-masalah emosi dan
sosial guna mencapai kesejahteraan hidupnya.
g. Pelayanan aksesibilitas
Yang dimaksud dengan “pelayanan aksesibilitas” adalah pelayanan
yang dimaksudkan untuk memudahkan gelandangan dan pengemis
dalam mengakses berbagai pelayanan sosial dari lembaga
pemerintahan maupun lembaga lainnya.

14
h. Bantuan dan asistensi sosial
Yang dimaksud dengan “bantuan dan asistensi sosial” adalah
diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar (makanan
pokok, pakaian, tempat tinggal rumah penampungan sementara),
perawatan kesehatan dan obat-obatan, akses pelayanan dasar
(kesehatan dan pendidikan), bimbingan teknis/supervisi, dan
penyediaan pemakaman).
i. Bimbingan resosialisasi
Yang dimaksud dengan “bimbingan resosialisasi” adalah
serangkaian kegiatan bimbingan yang bersifat dua arah, yaitu
pertama, untuk mempersiapkan penerima pelayanan agar dapat
berintegrasi penuh ke dalam kehidupan dan penghidupan
masyarakat, dan kedua untuk mempersiapkan masyarakat khususnya
masyarakat daerah asal atau lingkungan masyarakat dilokasi
penempatan kerja/usaha penerima layanan agar mereka menerima,
memperlakukan dan mengajak serta untuk berintegrasi dengan
kegiatan kemasyarakatan.
j. Bimbingan lanjut
Yang dimaksud dengan “bimbingan lanjut” adalah serangkaian
kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada penerima pelayanan,
keluarga dan masyarakat guna lebih dapat memantapkan,
meningkatkan dan mengembangkan kemandirian penerima
pelayanan dalam kehidupan serta peningkatan kesejahteraan secara
layak.
k. Rujukan
Yang dimaksud dengan “rujukan” adalah proses pengalihan
wewenang kepada pihak lain, untuk menangani lebih lanjut kasus
yang dialami klien karena dinilai masih membutuhkan pelayanan
atau bantuan sosial lanjutan untuk menyelesaikan masalah.

15
G. Asuhan Keperawatan Pada GelandanganPsikotik
1. Pengkajian
a. Faktor predisposisi
 Genetik: Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum
diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh
 Neurobiologis: Penurunan volumeotak dan perubahan sistem
neurotransmiter.
 Teori virusdaninfeksi

b. Faktor presipitasi
 Biologis: Kecelakaan yang menyebabkan kerusakan/gangguan
otak.
 Sosial kultural: Tidak mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungan masyarakat.
 Psikologis: Tekanan-tekanan kehidupan (emosional),
kekecewaan yang tidak pernah terselesaikan.
c. Penilaian terhadap stresor
Rentang respon neurobiologis

Adaptif Maladaptif

 Pemikiran sesekali  Gangguan


 Berpikir logis
tradisional
 Persepsi akurat pemikiran
 Ilusi
 Emosi konsisten (waham/halusinasi)
 Reaksi emosi  Kesulitan
dengan pengalaman
berlebih
 Perilaku seksual pengolahan emosi
 Dan tidak bereaksi  Perilaku kacau dan
 Berhubungan sosial  Perilaku aneh dan isolasi sosial
penarikan tidak
biasa

16
d. Sumberkoping
 Disonasi kognitif (gangguan jiwa aktif)

 Pencapaian wawasan

 Kognitif yangkonstan

 Bergerak menuju prestasi kerja

e. Mekanisme koping
 Regresi (berhubungan dengan masalah dalam proses informasi
dan pengeluaran sejumlah besar tenaga dalam upaya
mengelolaansietas)
 Proyeksi (upaya untuk menjelaskan presepsi yang
membingungkan dengan menetapkan tanggung jawab kepada
orang lain)
 Menarik diri

 Pengingkaran

2. Nursing Care Plan


1. Gangguan Kriteria hasil: Komunikasi: Stimulasi kognisi (4720)
Persepsi penerimaan (0904) Definisi: Peningkatan
Sensori: Defisini:Penerimaan dan kesadaran yang komprehensif
Halusinasi penafsiran pesan verbal terhadap sekeliling (lingkungan
dan/atau nonverbal sekitar) melalui penggunaan
Definisi:
(1= sangat terganggu s/d stimulus yang terencana
Perubahan
5= tidak terganggu) Aktivitas :
persepsi
terhadap
Indikator :  Konsultasikan dengan
Interpretasi bahasa tertulis keluarga dalam rangka
stimulus baik
12345 membangun dasar kognisi
internal maupun
Interpretasi bahasa lisan 1 klien
eksternal yang
disertai dengan
2345  Tawarkan stimulasi
respon yang Mengenali bahasa isyarat lingkungan melalui kontak
berkurang, dengan banyak personil
12345
berlebihan atau  Orientasikan klien terhadap
terdistorsi waktu, tempat dan orang
2. Isolasi Sosial Kriteria hasil: Keparahan Modifikasi perilaku:
(00053) Penderitaan (2003) Keterampilan-keterampilan
Definisi: Definisi: Keparahan tanda sosial (4362)

17
Kesendirian dan gejala kesedihan yang Definisi: Membantu
yang dialami lama karena kejadian, pasienuntuk mengembangkan
oleh individu cedera, atau kehilangan atau meningkatkan
dan dianggap yang membuat berduka keterampilan sosial
timbul karena (1 = berat s/d 5= tidak interpersonal Aktivitas:
orang lain dan ada)  Dukung pasien untuk
sebagai suatu Indikator: verbalisasi perasaannya
pernyataan berkaitan dengan masalah
Depresi 1 2 3 4 5
negatif atau interpersonal
mengancam Ketidakberdayaan1  Bantu pasien untuk
2345 mengidentifikasi langkah-
Ketidakmampuan langkah dalamberperilaku
12345 dalam mencapai
Merasa tidak berharga 1 (kemampuan)
2345 keterampilansosial
Kesendirian 1 2 3 4 5  Sediakan umpan balik bagi
pasien jika pasien mampu
menunjukkan
kemampuanketerampilanso
sial yang ditargetkan
3. Harga diri Kriteria hasil : Tingkat Inspirasi Harapan (5310)
rendah kronik depresi (1208) Definisi: meningkatkan
(00119) Definisi: keparahan kepercayaan mengenai
Definisi: alamperasaan melankolis kapasitas seseorang untuk
Evaluasi dan kehilangan minat pada memulai dan
diri/perasaan peristiwa kehidupan mempertahankan tindakan
negatif terhadap (1 = berat s/d 5 = tidak Aktivitas :
diri sendiri atau ada)  Informasikan
kemampuan diri Indikator : padapasienmengenai
yang Perasaan depresi1 2 3 4 5 apakah situasi yang terjadi
berlangsung Kehilangan minat pada sekarang bersifat
lama sementara
kegiatan1 2 3 4 5
 Demonstrasikan harapan
Peristiwa kehidupan yang
dengan menunjukkan
negatif1 2 3 4 5 bahwa sesuatu dalam diri
Perasaan tidak berharga pasien adalah sesuatu yang
12345 berharga dan memandang
Retardasi psikomotorik bahwa penyakit pasien
adalah hanya satu segi dari
12345
individu
Agitasi psikomotorik  Fasilitasi kaitan antara
12345

18
Kebersihan pribadi yang kehilangan personal pasien
buruk 1 2 3 4 5 dengan gambaran dirinya
 Fasilitasi untuk (bisa)
mengenang dan menikmati
prestasi dan pengalaman
masa lalu
4. Risiko Kriteria hasil Latihan kontrol
perilaku Kontrol diri impuls(4370)
kekerasan terhadapimpuls (1405) Definisi: membantu pasien
terhadap orang Definisi: Menahan diridari untuk mengelola perilaku
lain (00138) terhadap adanya rangsangan
perilaku kompulsif atau
Definisi: Rentan impulsif melalui aplikasi strategi
melakukan pemecahan masalah pada
(1= tidak pernah
perilaku yang situasi sosial dan interpersonal
menunjukkan s/d 5= secara
individu Aktivitas:
konsisten menunjukkan)
menunjukkan
Indikator:  Pilih strategi pemecahan
bahwa ia dapat masalah yang tepat sesuai
Mengidentifikasi perilaku
membahayakan dengan tingkat
impuls yang berbahaya
orang lain perkembangan pasien dan
12345
secara fisik, fungsi kognitif
Mengidentifikasi perasaan
emosional,  Gunakan rencana modifikasi
yang mengarah pada
dan/atau seksual perilaku, sesuai kebutuhan,
tindakan impulsif
12345 untuk mendukung strategi
pemecahan masalah yang
Mengidentifikasi
sudah diajarkan
konsekuensi dari tindakan
 Bantu pasien
impulsif
mengidentifikasi akibat dari
1 2 3 4 5
suatu tindakan serta
Mengontrol impuls
keuntungan/kerugiannya
12345
5.Defisit Kriteria hasil: Perawatan Bantuan perawatan diri:
perawatan diri berpakaian (0300) Berpakaian/Berdandan
diri: Definisi: Definisi:
berpakaian Tindakan seseorang untuk Membantu pasien dalam
(00109) bepakaian secara mandiri berpakaian dan
Definisi : dengan atau tanpa alat bantu berpenampilan
Hambatan (1 = sangat terganggu s/d Aktivitas:
kemampuan 5 = tidak terganggu)  Pertimbangkan budaya
untuk melaku Indikator : pasien saat
kan atau Memilih pakaian1 2 3 4 5 mempromosikan aktivitas
menyelesaikan Mengambil pakaian dalam perawatan diri
akivitas lemari1 2 3 4 5  Pertimbangkan usia pasien

19
berpakaian Memakai pakaian bagian saat mempromosikan
secara mandiri atas1 2 3 4 5 aktivitas perawatan diri
Memakai pakaian bagian  Informasikan pasien
bawah1 2 3 4 5 mengenai ketersediaan
pilihan pakaian
 Sediakan pakaian pribadi
dengan tepat
6. Resiko Menahan Diri dari Pencegahan Bunuh Diri
Perilaku BunuhDiri Defenisi : Menurukan resiko
Kekerasan Defenisi: melukai diri yang
terhadap Diri Tindakan seseorang untuk dimaksudkan untuk
Sendiri menahan diri dari isyarat mengakhiri hidup
Defenisi: dan percobaan bunuh diri Aktivitas:
Rentan (1= tidak pernah  Tentukan resiko bunuh diri
melakukan menunjukkan sampai 5= yang ada dan tingkat resiko
perilaku yang secara konsisten bunuh diri
individu menunjukkan)  Tentukan apakah pasien
menunjukkan Indikator : memiliki alat untuk
bahwa ia dapat Mengekspresikan perasaan melaksanakan rencana
membahayakan 12345 bunuhdirinya
dirinya sendiri Mengekspresikan harapan  Pertimbangkan untuk
secara fisik, 12345 membawa pasien yang
emosional Mempertahankan jalinan memiliki resiko serius untuk
dan/atau seksual hubungan 1 2 3 4 5 melakukan perilaku bunuh
Mendapatkan bantuan sesuai diri agar dapat dirawat di
kebutuhan 1 2 3 4 5 rumahsakit
Verbalisasi ide-ide bunuh  Libatkan pasien dalam
diri1 2 3 4 5 rencana penanganannya,
Mengontrol dorongan diri dengan tepat
12345  Instruksikan
Menahan diri dari pasienmelakukan
kumpulan alat untuk bunuh strategi-strategi koping
diri1 2 3 4 5 (misalnya, latihan asertif,
Menahan diri dari kontrol terhadap impuls,
menimbulkan cedera serius dan relaksasi otot progresif),
12345 dengan tepat
Menyingkap rencana bunuh
 Buat kontrak (verbal atau
diri, jika muncul 1 2 3 4 5
tulis) dengan pasien untuk
Menguatkan kontrak bunuh
tidak “menyakiti diri” dalam
diri 1 2 3 4 5
suatu periode yang spesifik,
Mempertahankan kontrol
kontrak kembali untuk
diri tanpa pengawasan

20
12345 interval waktu khusus,
Menahan diri dari percobaan dengan tepat
bunuh diri 1 2 3 4 5  Implementasikan tindakan
Mendapatkan pengobatan yang diperlukan untuk
untuk depresi 1 2 3 4 5 menurunkan distress
Menggunakan sumber- individu saat melakukan
sumber pencegahan bunuh negosiasi untuk tidak
diri 1 2 3 4 5 membahayakan diri atau
Menggunakan pelayanan melakukan kontrak
kesehatan yang tersedia keamanan
12345  Gunakan pendekatan
Merencanakan masa depan langsung, tidak menghakimi
12345 dalam mendiskusikan
mengenai bunuh diri
 Mulai pencegahan bunuh
diri (misalnya, observasi
dan monitor pasien terus-
menerus, penyediaan
lingkungan yang memberi
perlindungan) untuk pasien
yang memiliki resiko bunuh
diri serius
 Periksa lingkungan secara
rutin dan pindahkan barang
yang berbahaya untuk
memelihara lingkungan
bebas daribahaya
 Batasi akses ke jendela,
kecuali jika terkunci atau
tidak bisa pecah, dengan
tepat
 Batasi pasien menggunakan
senjata potensial (misalnya,
objek yang tajam dan
sepertitali)
 Monitor pasien selama
penggunaan barang yang
potensial bisa menjadi
senjata (misalnya alat
cukur)

21
3. Tindakankeperawatan:

 Sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditemukan.

 Tindakan keperawatan dalam tahap pemeliharaan berfokus ada


pendidikan manajemen dan pengendalian diri dari gejala dan
mengidentifikasi gejala yang berhubungan dengankekambuhan.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gelandangan psikotik merupakan seseorang yang hidup dalam keadaan
tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat,
mempunyai tingkah laku aneh/menyimpang dari norma-norma yang ada
atau seseorang bekas penderita penyakit jiwa, yang telah mendapat
pelayanan medis dan telah mendapat Surat Keterangan Sembuh dan tidak
mempunyai keluarga/kurang mampu serta perlu mendapat bantuan untuk
hidup.
Gelandangan psikotik disebabkan karena beberapa hal seperti masalah
kesehatan mental seperti seperti skizofrenia, bipolar, depresi berat, kurang
tidur, pengalaman traumatis, terlalu cemas atau stress, penyalahgunaan obat-
obatan dan alkohol, dan efek samping dari obat tertentu. Sehingga
gelandangan psikotik ini hidup menggelandang di tempat-tempat umum
terutama di kota-kota, kehadirannya tidak diterima keluarga dan masyarakat
sekitarnya, tempat tinggal tidak tetap, seperti beranda toko, di kolong
jembatan, terminal dan lainnya, sering mengamuk dan berbicara sendiri,
penampilannya di bawah sadar atau tidak sesuai dengan norma dalam
masyarakat, misalnya tidak menggunakan pakaian, memakan makanan dari
sisa-sisa di tempat sampah, tidak mempunyai pekerjaan.
Dari hal tersebut pemerintah bisa melihat dan memberikan pelayanan
yang lebih layak dan baik untuk kehidupan gelandangan psikotik ini agar
masyarakat tidak lagi memandang orang yang menderita gelandangan
psikotik ini sebagai sebuah hal yang negatif bagi masyarakat sekitar.
Layanan yang dibutuhkan antara lain kebutuhan fisik, meliputi kebutuhan
makan, pakaian, perumahan dan kesehatan,kebutuhan layanan psikis
meliputi terapi medis psikiatris, keperawatan dan psikologis, Kebutuhan
sosial seperti rekreasi, kesenian dan olah raga, layanan kebutuhan ekonomi
meliputi keterampilan usaha, keterampilan kerja dan yang terakhir
kebutuhan rohani.

23
B. Saran

Sebaiknya kita sebagai penduduk di Indonesia dan sebagai tenaga


kesehatan harus lebih mengetahui tentang nasib dan psikotik gelandangan,
sehingga dapat mengubah sebuah pola pikir masyarakat yang awalnya
negatif bisa berubah menjadi positif dan bisa menerima keadaan mereka
seperti layaknya manusia normal, dan dari sini kita bisa memberikan
pelayanan, penanganan dan langkah-langkah rehabilitasi pada gelandangan
psikotik.

Dengan adanya penelitian ini penulis dapat mengetahui lebih mendalam


tentang gelandangan psikotik dan segala penyebab, faktor-faktor dan
pelayanan, penanganan, langkah-langkah rehabilitasi serta asuhan
keperawatan pada gelandangan psikotik, serta penulis berharap dengan
adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa, tenaga kesehatan
serta semua pihak yang membaca makalah ini. Melalui makalah ini supaya
penulis dapat memahami lebih mendalam lagi sehingga dapat membentuk
generasi yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat


kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Maka penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak, untuk dapat menulis makalah
yang lebih baik lagi kedepannya.

24
DAFTAR PUSTAKA

Dochteman, J. M., &Bulecheck, G. M. 2004. NursingInterventions Classification

(NIC) (5thed.). America: MosbyElsevier.

Departemen Sosial RI. 1999. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penanganan Masalah


Sosial Penyandang Cacat Mental Eks Psikotik Sistem Ponti. Jakarta:
Direktorat Rehabilitasi Penyandang Cacat. Direktorat Jenderal Bina
Rehabilitasi Sosial.

Moorhead, S., Jhonson, dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification

(NOC)(5thed). United states of America: MosbyElsevier.

Nanda international. 2015. Diagnosekeperawatan:defenisi dan klasifikasi 2015-

2017 (10thed). Jakarta: EGC.

Permensos RI No.8 tahun 2012.

Prabowo, Eko. 2014. Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta: Nuha Medika.

Tateki Yoga Tursilarini, 2009. Stakeholders Dalam Penanganan Gelandangan


Psikotik.

25