Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SANITASI TRANSPOTASI (PELABUHAN)

DISUSUN OLEH :

CYNTIA AYU LESTARI (16134510..)

DEVI FITRIANI (16134510..)

LUTFI AKBAR (1613451013)

ETY HARDIYANTI (1613451016)

PARASTIKA WIDIYANTI (16134510..)

ANGGI ANGGRAINI (16134510..)

RAFIKA AULIA (16134510..)

MUHAMMAD NAHL (1613451025)

REGULER  SEMESTER V
KEMENTERIAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,

Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,

hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah

tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.

Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu

dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami

dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pelabuhan merupakan titik simpul pertemuan atau aktifitas keluar masuk
kapal, barang dan orang, sekaligus sebagai pintu gerbang transformasi penyebaran
penyakit. Dan merupakan ancaman global terhadap kesehatan masyarakat karena
adanya penyakit karantina, penyakit menular baru (new emerging diseases), maupun
penyakit menular lama yang timbul kembali (re-emerging diseases). Ancaman
penyakit tersebut merupakan dampak negatif dari diberlakukannya pasar bebas atau
era globalisasi, dan dapat menimbulkan kerugian besar baik pada sektor ekonomi,
perdagangan, sosial budaya, maupun politik yang berdampak besar kepada suatu
negara atau daerah.
Menurut WHO (2005), sanitasi kapal merupakan salah satu usaha yang
ditujukan terhadap faktor risiko lingkungan di kapal untuk memutuskan mata rantai
penularan penyakit guna memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan. Sanitasi
kapal mencakup seluruh aspek penilaian kompartemen kapal antara lain dapur, ruang
penyediaan makanan, palka, gudang, kamar anak buah kapal, penyediaan air bersih,
dan penyajian makanan serta pengendalian vektor penular penyakit atau rodent.
Sanitasi kapal yang buruk akan banyak menimbulkan permasalahan baik secara fisik,
kesehatan, estetika dan daya tahan hidup manusia. Sanitasi yang buruk seperti
menumpuknya sampah di dalam kapal akan menjadi tempat berkembangbiaknya
vektor penyakit misalnya tikus, kecoa dan lalat.
Institusi yang terkait dalam hal pemeriksaan sanitasi kapal adalah kantor
kesehatan pelabuhan (KKP). Hal-hal yang berkaitan dengan pengawasan kesehatan
kapal yaitu diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
356/Menkes/Per/Iv/2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja 3 Universitas Sumatera
Utara Kantor Kesehatan Pelabuhan. KKP bertugas melaksanakan pencegahan masuk
dan keluarnya penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah,
kekarantinaan, pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja Pelabuhan/ Bandara dan
Lintas Batas, serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan. Selain itu salah satu
fungsi penting KKP adalah pelaksanaan pengamatan penyakit karantina dan penyakit
menular potensial wabah nasional sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas
internasional, pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan pelaksanaan
pengendalian risiko lingkungan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat (Depkes
RI, 2008).
Pemenuhan kebutuhan sanitasi yang baik diberlakukan di seluruh negara
termasuk di Indonesia, pada lokasi tempat umum seperti pelabuhan. Pelabuhan (dalam
Undang-undang No. 11 tahun 1983) diartikan sebagai lingkungan kerja baik kegiatan
pemerintah maupun non pemerintah, merupakan elemen transportasi laut yang
memainkan peranan sangat penting dalam menunjang dan mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional dan regional. Hal ini disebabkan ± 90 % dari
perdagangan internasional dilakukan melalui laut, selain itu pelabuhan juga berfungsi
sebagai pintu gerbang wilayah, terminal point distribusi barang dan simpul
transportasi inter dan antar moda dan perdagangan.Sebagai elemen transportasi laut,
pelabuhan mempunyai peranan cukup besar untuk mencapai pembangunan
berkelanjutan dan berwasanan lingkungan, karena transportasi laut
menggunakan transport yang efisien, aman dan ramah lingkungan.
Pengelolaan pelabuhan tidak hanya melihat sisi keuntungan ekonomi saja
melainkan berorientasi pada aspek-aspek komponen lingkungan hidup. Pengelolaan
pelabuhan merupakan salah satu contoh dimana aktifitas manusia dan permasalahan
lingkungan seringkali menimbulkan konflik. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan
pelabuhan menuju pada pencapaian keseimbangan antara nilai/biaya lingkungan dan
manfaat ekonomi, sehingga ada harmonisasi aspek komersial/ ekonomi dan
lingkungan dalam menunjang pengelolaan yang berkelanjutan.keadaan tersebut
tentunya tidaklah mudah dalam penataan dan pengelolaannya. Kesehatan masyarakat
di sekitar pelabuhan dapat terganggu melalui berbagai sumber, salah satu sumber
yang cukup signifikan adalah pengelolaan lingkungan dan kondisi fasilitas sanitasi
yang tidak baik, limbah yang berasal dari alat angkut serta terbawanya vektor dan
binatang penular penyakit.
Menurut WHO (2007), pemeriksaan sanitasi kapal dimaksudkan untuk
pengeluaran sertifikat sanitasi guna memperoleh Surat Izin Kesehatan Berlayar
(SIKB). Hasil pemeriksaan dinyatakan berisiko tinggi maka diterbitkan Ship
Sanitation Control Certificate (SSCC) setelah dilakukan tindakan sanitasi dan apabila
faktor risiko rendah diterbitkan Ship Sanitation Exemption Control Certificate
(SSECC), dan pemeriksaan dilakukan dalam waktu enam bulan sekali. Upaya sanitasi
kapal merupakan tanggung jawab pemilik kapal melalui nahkoda kapal dan anak buah
kapal. ABK bertanggung jawab terhadap kebersihan kapal dan sarana lainnya
sedangkan nahkoda kapal berfungsi sebagai pemimpin dan pengendali keseluruhan
dari pelaksanaan sanitasi kapal. Nahkoda juga bertanggung jawab terhadap keamanan
kapal dari sumber penyakit dan melaporkan dalam bentuk form MDH (Maritime
Declaration of Health) kepada otoritas kesehatan pelabuhan setiap masuk wilayah
suatu Negara.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM


- Mahasiswa dapat melakukan penilaian terhadap kondisi sanitasi di Pelabuhan
Bakauheni.

1.3 MANFAAT PRAKTIKUM


- Sebagai pembelajaran praktikum dalam melakukan penilaian Sanitasi Sarana
Transportasi di Pelabuhan Bakauheni.
BAB II
ISI

2.1 PELABUHAN
Pelabuhan Laut yaitu Tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan
batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan ekonomi yang
dipergunakan sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kagiatan ekonomi yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau
bongkar muat barang dan dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran (Permenhub
Nomor 21, 2007)
Pelabuhan sebagai pintu gerbang transformasi penyebaran penyakit juga merupakan
ancaman global terhadap kesehatan masyarakat karena adanya penyakit karantina,
penyakit menular baru (new emerging diseases), maupun penyakit menular lama yang
timbul kembali (re-emerging diseases) juga mempunyai implikasi besar dan faktor risiko
potensial dalam penyebaran penyakit (Sutrisno, 2008).
Selain sarana transportasi darat, masyarakat juga menggunakan sarana transportasi air
untuk berpergian. Sarana tersebut tentunya memerlukan tempat untuk transit atau
singgah, dalam hal ini terminal (pelabuhan). Karena pelabuhan juga menjadi tempat
berkumpulnya orang banyak, sanitasi dan kebersihannya perlu diperhatikan.

2.2 FASILITAS PELABUHAN


Secara umum yang dimaksud sebagai Fasilitas Bangunan Pelabuhan adalah Seluruh
bangunan / konstruksi yang berada dalam daerah kerja suatu pelabuhan baik itu di darat
maupun di laut yang merupakan saran pendukung guna memperlancar jalannya kegiatan
yang ada dalam pelabuhan (Nuryoso, 2012)
Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 61 Tahun 2006 tentang
kepelabuhan dalam bab III pasal 22 merupakan daerah yang digunakan untuk :
a. Fasilitas Pokok Pelabuhan yang meliputi :
1. Alih muat antar kapal
2. Dermaga
3. Terminal penumpang
4. Pergudangan
5. Lapangan penumpukan
6. Terminal peti emas, curah cair, curah kering dan RO-RO
7. Perkantoran untuk kegiatan pemerintahan dan pelayanan jasa
8. Fasilitas bunker
9. Instalasi air, listrik dan telekomonikasi
10. Jaringan jalan dan rel kereta api
11. Fasilitas pemadam kebakaran
12. Tempat tunggu kendaraan bermotor
13. Perairan tempat labuh
14. Kolam labuh
b. Fasilitas penunjang pelabuhan yang meliputi :
1. Kawasan perkantoran untuk mengguna jasa pelabuhan;
2. Sarana umum;
3. Tempat penampungan limbah;
4. Fasilitas pariwisata, pos, dan telekomunikasi;
5. Fasilitas perhotelan dan restoran ;
6. Areal pengembangan pelabuhan;
7. Kawasan perdagangan;
8. Kawasan industri.

2.3 SANITASI LINGKUNGAN PELABUHAN


Sanitasi Lingkungan Pelabuhan merupakan kegiatan menyeluruh dalam Perencanaan,
Pengorganiasasian, Pelaksanaan dan Pengawasan pada aspek sanitasi lingkungan
pelabuhan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya pencegahan penyakit menular
dengan cara meniadakan atau menekan sekecil mungkin faktor lingkungan yang dapat
menimbulkan pengaruh buruk (faktor risiko) di dalam kapal dan wilayah pelabuhan
sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit (Sutrisno, 2008).

2.4 FASILITAS SANITASI PELABUHAN


Fasilitas Sanitasi Pelabuhan merupakan fasilitas fisik bangunan dan perlengkapannya
digunakan untuk mengendalikan faktor-faktor lingkungan yang dapat merugikan
kesehatan manusia, antara lain : sarana air bersih, jamban, peturasan, saluran air limbah,
tempat cuci tangan, bak sampah, kamar mandi, locker, peralatan pencegahan terhadap
serangga dan tikus serta peralatan kebersihan ( Elvionita, 2012).
2.5 ASPEK DALAM UPAYA DAN KEGIATAN DAN PENGAWASANNYA
Lingkungan Pelabuhan merupakan tempat-tempat umum adalah tempat kegiatan bagi
umum yang mempunyai tempat, sarana dan kegiatan tetap, diselenggarakan oleh badan
pemerintah, swasta, dan atau perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat.
Untuk dapat melakukan kegiatan sanitasi tempat-tempat umum secara lengkap harus
ditinjau melalui tiga aspek pendekatan yaitu aspek teknis yang meliputi persyaratan dan
peraturan mengenai tempat umum tersebut dan keterkaitannya dengan fasilitas sanitasi
dasar. Aspek sosial diantaranya adalah ekonomi dan sosial budaya dan aspek
administrasi dan manajemen diantaranya adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen
dengan baik (Sutrisno, 2008)
Pada umumnya di dalam penerapan usaha sanitasi lingkungan pelabuhan dibutuhkan
pendekatan terhadap aspek sosial. Dalam pendekatan aspek sosial diperlukan penguasaan
pengetahuan antara lain tentang kebiasaan hidup, adat istiadat, kebudayaan, keadaan
ekonomi, kepercayaan, komunikasi dan motivasi.
Upaya pelaksanaan pengelolaan sanitasi Pelabuhan dilakukan oleh pengelolahdan
masyarakat pelabuhan dan selalu dipantau serta dilakukan pengawasan oleh PT.(Persero)
Pelindo, KKP dan mayarakat. Dalam penyelenggaraan sanitasi pelabuhan harus
dipertimbangkan fungsi-fungsi manajemen yang meliputi perencanaan (Planning),
pengorganisasian (Organizing), penggerakan (Actuating) serta unsur pengawasan
(Controlling) yang baik. Upaya ini diarahkan pada ruang lingkup dalam pengelolaan
sarana sanitasi lingkungan pelabuhan diantaranya: Penyediaan air bersih, pembuangan
air limbah, kamar mandi/WC dan penyediaan tempat sampah serta sumber pencemaran,
dan pengendalian vektor dan binatang penular penyakit.
Pelabuhan memiliki berbagai kegiatan yang sangat penting. Salah satu hal utama
dalam bidang sosial, pelabuhan bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk memperoleh
akses jalur transportasi dari satu pulau ke pulau yang lainnya maupun dari satu negara ke
negara yang lain. Dapat dimungkinkan dari kegiatan tersebut, lingkungan pelabuhan
akan tercemar dengan mudah baik karena aktifitas manusia maupun karena faktor alam
atau dari lingkungan itu sendiri.
Kondisi lingkungan yang telah tercemar dapat menimbulkan berbagai gangguan
kesehatan terutama kepada masyarakat yang sering mengakses pelabuhan. Apabila hal
ini dibiarkan terus menerus maka akan terjadi permasalahan kesehatan yang cukup serius
dimana wilayah pelabuhan yang merupakan titik awal kegiatan sosial lintas pulau dan
negara akandapat memperluas penyebaran penyakit dari lingkungan pelabuhan itu, baik
dari satu pulau ke pulau, dari satu negara ke negara yang lain maupun dari wilayah
pelabuhan ke daerah daratan di pulau tersebut.

2.6 ASPEK PENILAIAN SANITASI PELABUHAN


Adapun hal-hal atau aspek yang merupakan komponen penting dalam suatu penilaian
pelabuhan yakni sebagai berikut :
1. Hygiene Sanitasi Gedung dan Bangunan Umum Di Pelabuhan

2. Pengawasan Hygiene gedung dan bangunan umum di pelabuhan adalah pengawasan


kondisi dari komponen atau bagian-bagian bangunan serta fasilitas pendukungnya
yang ada dipelabuhan dari kemungkinan timbulnya masalah kesehatan mulai dari
kondisi fisik bangunan gedung dan halamannya, penanganan sampah, sarana
pembuangan air limbah, vektor, prilaku dan lain sebagainya. Pengawasan Hygiene
gedung dan bangunan pelabuhan dilakukan secara rutin setiap satu bulan sekali dan
dilakukan apabila terjadi KLB (Kepmenkes RI Nomor 431, 2007). Faktor Risiko
kesehatan lingkungan yang diawasi meliputi :
a. Kondisi atap dan talang, yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi
perindukan nyamuk dan tikus.
b. Kondisi dinding, dinding yang tidak bersih atau berdebu selain
mengurangi estetika juga berpotensi merangsang timbulnya gangguan pernafasan
lain. Dinding yang lembab dapat mengakibatkan timbulnya jamur dan media
tumbuh kembangnya kuman pathogen.
c. Kondisi lantai yang tidak rata dan licin dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan. Sedangkan lantai yang kotor dapat mengurangi kenyamanan dan
estetika.
d. Kondisi tangga yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan berpotensi
menimbulkan kecelakaan (kemiringan, lebar injakan, tinggi anak tangga, lebar
tangga dan pegangan tangga)
e. Pencahyaan alami ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan mendukung
berkembang biaknya mikroorganisme seperti kuman penyakit dan jamur.
f. Ventilasi diruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menyebabkan
pertukaran udara tidak lancar sehingga menjadi pengap dan lembab
g. Kebisingan, suara bising dapat mengganggu komunikasi sehingga mengurangi
konsentrasi dan dapat menimbulkan stres.
h. Ketersediaan air bersih baik secara kuantitas maupun kualitas mutlak diperlukan
untuk menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
i. Toilet juga beresiko menimbulkan masalah kesehatan
j. Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor penyakit
k. Sarana pembuangan air limbah harus mengalir lancar dan tidak menimbulkan
genangan sehingga tidak menimbulkan bau, gangguan estetika dan tempat
perindukan nyamuk.
l. Bangunan harus bebas dari vektor
m. Kantin yang ada dipelabuhan harus diawasi agar tidak menimbulkan penyakit
bawaan makanan (food borne diseases).

3. Penyediaan Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak
(Permenkes Nomor 416, 1990). Pengawasan penyediaan air bersih adalah
pengawasan terhadap sarana penyediaan air bersih, kualitas air (fisik, kimia,
bakteriologi). Sumber air bersih berasal dari PDAM.
Penyediaan air bersih adalah upaya pemenuhan kebutuhan air didaerah
pelabuhan, dengan cara menampung air dari PDAM ke dalam bak penampungan/
tandon khusus untuk kemudian disupplay dengan sistem perpipaan menuju kapal,
perkantoran, dan keperluan lain dalam kegiatan didaerah pelabuhan. Pengawasan
terhadap sarana penyediaan air minum juga perlu dilakukan mulai dari sumber,
distribusi hingga ke konsumen yang meliputi kondisi, pemeliharaan, perbaikan (bila
tidak memenuhi standar, serta pengawasan dan penyuluhan tentang cara-
carasupplay air minum yang hygienis dan sanitair.

4. Pengendalian Pencemaran
Pengendalian pencemaran adalah upaya pengawasan yang dilakukan terhadap
sumber pencemar yang ada diwilayah pelabuhan. Umumnya jenis dan sumber
sampah dipelabuhan terdiri dari : sampah domestik (domestic waste),sampah
komersil (commercial waste) dan sampah dari aktivitas perkantoran dan sejenisnya.
Sampah yang dihasilkan dari kapal dipisahkan (sampah organik dan non-organik)
didalam kantong plastik untuk kemudian diturunkan di dermaga dan langsung di
angkut dengan gerobak sampah. Bak pengumpulan sampah harus memenuhi
ketentuan persyaratan, sehingga apabila terjadi keterlambatan dalam proses
pengangkutan, maka tidak mengganggu lingkungan maupu kesehatan pada
umumnya.
Pengawasan pengelolaan pada limbah cairnya dilakukan mulai dari sumber,
pengaliran, pengangkutan, penampungan sementara, pengolahan limbah cair. Air
merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Akibat adanya pemakaian air
dipelabuhan dan alat-alat transpor, terjadilah produksi air kotor yang perlu mendapat
penyaluran sebaik-baiknya agar tidak mennganggu pemandangan, tidak
menimbulkan bau busuk, tidak merupakan potential health hazard, tidak menjadi
sarang nyamuk atau vektor lainnya. Di upayakan ada sistem pembuangan air kotor
dan IPAL yang memenuhi syarat.

5. Pengamanan Makanan dan Minuman


Pengaman makanan dan minuman adalah upaya melindungi makanan dan
minuman yang meliputi : pemilihan bahan baku, penyimpanan bahan baku,
pengolahan makanan, penyajian dan pengangkutan, dari kemungkinan tercemar oleh
bahan-bahan kontaminan. Pengolahan makanan dan minuman untuk keperluan
dilingkungan pelabuhan sendiri wajib mendapat perhatian sepenuhnya dari KKP
setempat, karena makanan dan minuman termasuk media lingkungan yang dapat
mengandung berbagai polutan dan kontaminan.
Usaha-usaha sanitasi dalam pengawasan makanan bertujuan untuk mencegah
masuknya zat-zat renik dan/atau bahan-bahan kimia yang dapat membahayakan
kesehatan kedalam makanan serta mencegah berkembang biaknya dan/atau
pembentukan toksin oleh kuman-kuman yang yang telah mencemari makanan.
Pengawasan makanan dilakukan secara rutin, misalnya sekurang-kurangnya 1 kali
sebulan dengan cara mengadakan kunjunganketempat-tempat pengusahaan makanan
untuk menyaksikan secaraon the spot yang artinya melihat langsung keadaan dan
sarana-sarana sanitasi ditempat usaha tersebut, pemeliharaan dan penggunaan sarna-
sarana tersebut, kesehatan para food handler, cara kerja food handler dan lain-lain.

6. Pengolahan Sampah
Pengelolaan sampah yang tidak baik akan menimbulkan dampak lingkungan.
Tempat pembuangan sampah dapat sebagai media untuk perkembangan binatang-
binatang pembawa penyakit seperti lalat, tikus, nyamuk yang dapat menyebabkan
penyakit menular kepada manusia melalui perantara hewan tersebut. Sampah yang
dihasilkan dari kapal dipisahkan ( organik dan an-organik) didalam kantong plastik.
Usahakan sampah di bak/tong/kontainer tidak melebihi tiga hari karena bila
telah melebihi tiga hari akan mengundang lalat dan vektor penyebab penyakit sebagai
perindukan yang baru. Jika sampah yang berada dalam kontainer telah dikumpulkan
dan diangkut ke bak pengumpulan sampah sementara, maka kontainer tersebut harus
dibersihkan atau dicuc. Tujuannya untuk menghilangkan bau bekas sampah.

7. Pengendalian Vektor dan Binatang Penular Penyakit


Pengendalian vektor dan binatang penular penyakit adalah upaya yang dilakukan
petugas sanitasi melalui pengamatan dan pengendalian. Tujuannya untuk menurunkan
populasi atau melenyapkan vektor binatang penular penyakit melalui pengamatan dan
pemberantasan penyakit yang ditularkan oleh vektor dan binatang penular penyakit
didaerah pelabuhan. Jenis pengendalian vektor dan binatang penular penyakit yang
dilakukan dengan pemberantasan nyamuk, pemberantasan tikus dan pinjal,
pemberantasan lalat dan kecoa, dan fumigasi.

2.7 PERSYARATAN MINIMUM SANITASI PELABUHAN


Adapun fasilitas sanitasi dan kebersihan terminal penumpang angkutan air (pelabuhan)
yang harus dipenuhi persyaratannya (Chandra, 2006) antara lain :
1. Bagian Luar (Eksterior)
Untuk bagian luar dari terminal pelabuhan biasanya berupa halaman. Hal yang perlu
diperhatikan mengenai halaman adalah tempat parkir, adanya pembuangan sampah
dan penerangan .
a. Tempat Parkir
Harus bersih, tidak ada sampah berserakan, dan tidak ada genangan air.
b. Pembuangan Sampah
Tersedia tempat penampungan sampah sementara yang tertutup dan kedap air
serta dalam jumlah yang cukup.

c. Penerangan
Penerangan harus cukup dan tidak menyilaukan mata, terutama pada pintu masuk
dan keluar tempat parkir.
2. Bagian Dalam (Interior)
a. Ruang Tunggu
· Ruangan harus bersih
· Tempat duduk harus bersih dan bebas dari kutu busuk
· Pencahayaan harus cukup dan tidak menyilaukan sehingga dapat digunakan
untuk membaca
· Penghawaan harus cukup, minimal 10 persen dari luas lantai
· Lantai tidak licin, kedap air, dan mudah dibersihkan
· Tersedia tempat penampungan sampah sementara yang tertutup,
kedap air, dan dalam jumlah yang cukup.
b. Pembuangan Kotoran (Jamban dan Urinoir)
· Tersedia jamban yang memenuhi syarat (tipe leher angsa) minimal 1 jamban
untuk 100 pengunjung, atau minimal 2 buah jamban.
· Tersedia peturasan yang baik, minimal 1 peturasan untuk 200 pengunjung dan
tersedia pasokan air yang mencukupi.
· Harus ada tanda yang jelas untuk membedakan antara jamban pria dan jamban
wanita.
· Jamban dan paturasan harus dalam keadaan bersih dan tidak berbau.
c. Pembuangan Sampah
· Harus tersedia tempat penampungan sampah sementara yang tertutup, kedap air,
dan dalam jumlah yang cukup.
· Pengangkutan sampah dilakukan setiap hari sehingga tidak ada sampah yang
menumpuk.
d. Pembuangan air limbah
Air limbah dan air hujan di alirkan melalui saluran tertutup dan dibuang
keseptictank atau ke saluran air kotor perkotaan.
e. Tempat cuci tangan
Harus tersedia tempat cuci tangan yang baik, minimal satu, dilengkapi dengan
sabun atau kain serbet.
3. Lain-lain
· Tersedia alat perlengkapan untuk P3K.
· Terdapat alat pemadam kebakaran
· Restoran atau rumah makan yang ada harus memenuhi syarat higiene
dan sanitasi makanan dan minuman.
2.8 Manfaat Penting Dari Pengawasan Pelabuhan
Beberapa manfaat penting dari pengawasan pelabuhan, antara lain:
1. Menjamin kebersihan pelabuhan
2. Melindungi para pengunjung dari faktor lingkungan yang dapat merugikan
kesehatan
3. Mencegah timbulnya berbagai macam penyakit menular dan penyakit akibat kerja
4. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja
5. Mencegah, melindungi dan menanggulangi terhadap penyebaran penyakit antar
negara tanpa pembatasan perjalanan dan perdagangan (IHR, 2005)
6. Mengantisipasi ancaman penyakit global (Kepmenkes RI, 2007)
7. Mencegah penyebaran penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah
8. Membuat wilayah pelabuhan tidak menjadi sumber penularan ataupun habitat yang
subur bagi perkembangbiakkan kuman/vektor penyakit.
2.9 Berbagai Macam Bahaya Kesehatan dan Gangguan Lain yang ditimbulkan
Dari Adanya Aktifitas Pelabuhan
1. faktor kebersihan WC/kamar mandi yang tidak dijaga dengan baik memungkinkan
sebagai sarana penularan penyakit, misalnya penyakit kulit, cacing, perut, hepatitis A,
dan penyakit lain yang ditularkan oleh vektor binatang. Dari segi estetika kebersihan
yang tidak diperhatikan dapat menimbulkan bau yang kurang sedap,
2. pemandangan yang kurang nyaman dan perasaan jijik
3. Tempat cuci tangan yang kurang baik atau tidak tersedia dapat menyebabkan
penyakit diare dan kecacingan
4. Penanganan sampah yang tidak yang tidak memenuhi syarat dan saluran air
kotor atau genangan air yang tidak dikelola dengan baik merupakan tempat
bersarang dan berkembangbiaknya vektor penyakit seperti lalat, tikus, nyamuk,
kecoak dan serangga lainnya. Selain itu dapat menyebabkan pencemaran tanah dan
menimbulkan gangguan kenyamanan dan estetika.
5. Penyakit karantina yaitu Pes, Yellow Fever dan Cholera.
6. Terjadinya Out-Break suatu penyakit perut atau keracunan makanan sebagai akibat
dari toksin kuman-kuman tertentu dan infeksi bakteriil. Kuman-kuman penyebabnya
mungkin sudah terdapat pada bahan makanan yang digunakan atau mencemari makanan
dengan perantara lalat, alat-alat/tangan yang kotor, atau kuman carrier.

Anda mungkin juga menyukai