Anda di halaman 1dari 34

FUNGSI PEMBANGKIT BIASA DAN EKSPONENSIAL SERTA

APLIKASINYA
Dosen pengampu: Dr. Rochmad, M.Si.
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Diskrit

Oleh:
Kelompok 1 Rombel A2
Azwida Maulida Rosanna 0401517034
Suryandaru Prasetyo Jati 0401517041
Ignasia Santi Kumala Swari 0401517043
Yoshida Agung Ramadan 0401517059

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
FUNGSI PEMBANGKIT BIASA DAN APLIKASINYA

A. Deskripsi Singkat
Pada makalah ini akan dibahas tentang fungsi pembangkit biasa dan aplikasinya. Fungsi
pembangkit biasa terdiri dari deret kuasa, definisi fungsi pembangkit biasa, dan sifat-sifat
fungsi pembangkit. Selanjutnya, aplikasi dari fungsi pembangkit biasa meliputi menghitung
koefisien fungsi pembangkit, menyelesaikan masalah pada fungsi aljabar, dan fungsi
pembangkit biasa untuk kombinasi.

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini meliputi.
(1) Dapat memahami deret kuasa sebagai prasyarat belajar fungsi pembangkit
(2) Dapat memahami definisi fungsi pembangkit biasa
(3) Dapat memahami sifat-sifat fungsi pembangkit
(4) Dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan fungsi pembangkit biasa
(5) Dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan aplikasi fungsi pembangkit biasa

C. Materi
1. Deret Kuasa
 Deret kuasa didefinisikan sebagai deret tak hingga yang berbentuk

∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛
𝑛=0

Deret tak hingga ini selalu konvergen untuk |𝑥| < 𝑅, untuk suatu bilangan positif R. R
dalam hal ini disebut radius konvergensi dari deret kuasa diatas.
 Deret kuasa yang hanya menekankan kepada koefisien-koefisien dari 𝑥 𝑛 𝑑isebut dengan
deret kuasa formal
 Bermula dari deret Taylor fungsi 𝑓(𝑥) disekitar 𝑥 = 0 mempunyai bentuk sebagai
berikut.

1 (𝑛)
𝑓(𝑥) = ∑ 𝑓 (0) 𝑥 𝑛
𝑛!
𝑛=0

1
1 ′′ 1
= 𝑓(0) + 𝑓 ′ (0)𝑥 + 𝑓 (0)𝑥 2 + 𝑓 ′′′ (0)𝑥 3 + ⋯
2! 3!
Dari formula tersebut, kita peroleh rumus-rumus dasar deret kuasa berikut.

(1) Untuk semua bilangan riil |𝑥| < ∞ berlaku



𝑥
1 𝑛 1 1
𝑒 =∑ 𝑥 = 1 + 𝑥 + 𝑥2 + 𝑥3 + ⋯
𝑛! 2! 3!
𝑛=0

(2) Untuk bilangan riil 𝑥 dengan |𝑥| < 1 berlaku



1
= ∑ 𝑥𝑛 = 1 + 𝑥 + 𝑥2 + 𝑥3 + ⋯
1−𝑥
𝑛=0

(3) Untuk bilangan riil 𝑥 dengan |𝑥| < 1 berlaku



1
= ∑ 𝑛𝑥 𝑛−1 = 1 + 2𝑥 + 3𝑥 2 + 4𝑥 3 + ⋯
(1 − 𝑥)2
𝑛=0

(4) Perumuman Teorema binomial


Untuk bilangan riil 𝑢, bilangan bulat non negatif 𝑘, dan |𝑥| < 1 berlaku

𝑢
(1 + 𝑥) = ∑ ( ) 𝑥 𝑘
𝑢
𝑘
𝑘=0

Dimana

𝑢 𝑢(𝑢 − 1)(𝑢 − 2) … (𝑢 − 𝑘 + 1)
( )={ 𝑘!
𝑘
1

2. Definisi Fungsi Pembangkit Biasa (Ordinary Generating Function)


Misal (𝑎𝑛 ) = (𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … ) adalah suatu barisan bilangan. Fungsi pembangkit biasa
(Ordinary Generating Function) dari barisan {𝑎𝑛 }∞
𝑛=0 didefinisikan sebagai berikut.

𝑃(𝑥) = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 + ⋯
𝑛=0

CONTOH 1
𝑥2 𝑥3
Diketahui 𝑃(𝑥) = 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 2!
+ 3!
+⋯

Tentukan barisannya jika 𝑒 𝑥 dipandang sebagai fungsi pembangkit biasa.

2
Selesaian:
𝑥2 𝑥3
Dengan mengubah 𝑃(𝑥) = 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + + + ⋯ sesuai dengan definisi fungsi
2! 3!

pembangkit biasa, maka


𝑃(𝑥) = ∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 + ⋯
𝑛=0
1 2 1 3
= 1+𝑥+ 𝑥 + 𝑥 +⋯
2! 3!
1 1
Jadi, 𝑃(𝑥) adalah fungsi pembangkit biasa dari barisan (1,1, 2! , 3! , … )

Bila diberikan suatu barisan, maka kita sering diminta untuk menuliskan fungsi
pembangkit dari barisan tersebut dalam bentuk sesederhana mungkin. Seperti contoh
berikut.

CONTOH 2
Tulis bentuk sederhana fungsi pembangkit biasa dari barisan
1 1 1
(a) (0,0, 2! , 3! , 4! , … )

(b) (0,2,4,6, … ,2𝑛, … )


Selesaian:
(a) Fungsi pembangkit biasa yang dimaksud adalah
1 2 1 3 1 4
𝑃(𝑥) = 0 + 0𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 +⋯
2! 3! 4!
1 1 1
= 𝑥2 + 𝑥3 + 𝑥4 + ⋯
2! 3! 4!
1 1 1
= (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ ) − 𝑥 − 1
2! 3! 4!
= 𝑒𝑥 − 𝑥 − 1 (Deret kuasa nomor (1))
(b) Fungsi pembangkit biasa yang dimaksud adalah
𝑃(𝑥) = 0 + 2𝑥 + 4𝑥 2 + 6𝑥 3 + ⋯ + 2𝑛𝑥 𝑛 + ⋯
= 2𝑥 + 4𝑥 2 + 6𝑥 3 + ⋯ + 2𝑛𝑥 𝑛 + ⋯
= 2𝑥(1 + 2𝑥 + 3𝑥 2 + ⋯ + 𝑛𝑥 𝑛−1 + ⋯ )
1
= 2𝑥 ((1−𝑥)2 ) untuk |𝑥| < 1 (Deret kuasa nomor (3))

3
2𝑥
=
(1 − 𝑥)2

3. Sifat-sifat Fungsi Pembangkit


Misalkan 𝑃(𝑥) = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + ⋯ adalah fungsi pembangkit, maka
3.1 𝑥𝑃(𝑥) = 𝑎0 𝑥 + 𝑎1 𝑥 2 + 𝑎2 𝑥 3 + 𝑎3 𝑥 4 … + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛+1 + ⋯ . Hal ini mengindikasikan
bahwa jika 𝑃(𝑥) fungsi pembangkit untuk barisan (𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ) maka 𝑥𝑃(𝑥)
juga fungsi pembangkit untuk barisan (0, 𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ). Sama halnya jika
𝑥 2 𝑃(𝑥) fungsi pembangkit untuk barisan (0,0, 𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ).
Secara umum, 𝑥 𝑘 𝑃(𝑥) = 𝑎0 𝑥 𝑘 + 𝑎1 𝑥 𝑘+1 + 𝑎2 𝑥 𝑘+2 + 𝑎3 𝑥 𝑘+3 + ⋯ merupakan fungsi
pembangkit barisan (0,0, … ,0, 𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ) dimana ada sebanyak k bilangan 0
sebelum 𝑎0
3.2 𝑃(𝑥) − 𝑎0 = 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + ⋯ . Hal ini mengindikasikan bahwa jika
𝑃(𝑥) fungsi pembangkit untuk barisan (𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ) maka 𝑃(𝑥) − 𝑎0 juga
merupakan fungsi pembangkit barisan (0, 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ). Sama halnya,
𝑃(𝑥) − 𝑎0 −𝑎1 𝑥 fungsi pembangkit untuk barisan (0,0, 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ).
Secara umum, 𝑃(𝑥) − 𝑎0 −𝑎1 𝑥 − ⋯ − 𝑎𝑘−1 𝑥 𝑘−1 fungsi pembangkit untuk barisan
(0,0, … , 0, 𝑎𝑘 , 𝑎𝑘+1 , 𝑎𝑘+2 , … ) dimana ada sebanyak k bilangan 0 sebelum ak
𝑃(𝑥)−𝑎0
3.3 = 𝑎1 + 𝑎2 𝑥 + 𝑎3 𝑥 2 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛−1 + ⋯. Hal ini mengindikasikan bahwa jika
𝑥
𝑃(𝑥)−𝑎0
𝑃(𝑥) fungsi pembangkit untuk barisan (𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ), maka fungsi
𝑥
𝑃(𝑥)−𝑎0 −𝑎1 𝑥
pembangkit untuk(𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 , … ). Sama halnya dengan fungsi
𝑥2
𝑃(𝑥)−(𝑎0 −𝑎1 𝑥+𝑎𝑘−1 𝑥 𝑘−1 )
pembangkit untuk barisan (𝑎2 , 𝑎3 , … , 𝑎𝑛 , … ). Secara umum, =
𝑥𝑘
𝑎0 +𝑎1 𝑥+𝑎2 𝑥 2 +𝑎𝑘 𝑥 𝑘 +⋯+(𝑎0 +𝑎1 𝑥+⋯+𝑎𝑘−1 𝑥 𝑘−1 )
merupakan fungsi pembangkit barisan
𝑥𝑘

(𝑎𝑘 , 𝑎𝑘−1 , … , 𝑎𝑘+2 , … ) untuk k ≥ 1.

4. Penjumlahan, Pengurangan, dan Perkalian Dua Fungsi Pembangkit


Penjumlahan, pengurangan maupun perkalian dua fungsi pembangkit atau lebih,
dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti halnya menjumlah, mengurangkan

4
maupun mengalikan dua polinomial atau lebih. Dengan demikian, diperoleh pernyataan
berikut.
 
Jika A( x)   a n x n dan B( x)   bn x n , maka
n0 n 0

𝐴(𝑥) ± 𝐵(𝑥) = ∑( 𝑎𝑛 ± 𝑏𝑛 )𝑥 𝑛
𝑛=0

CONTOH 3
𝐴(𝑥) = 2 + 3𝑥 + 5𝑥 2 dan 𝐵(𝑥) = 4 + 6𝑥 + 8𝑥 2
Maka 𝐴(𝑥) + 𝐵(𝑥) = (2 + 4) + (3 + 6)𝑥 + (5 + 8)𝑥 2 = 6 + 9𝑥 + 13𝑥 2
Selanjutnya, perkalian antara 𝐴(𝑥) dan 𝐵(𝑥) diperoleh
𝐴(𝑥). 𝐵(𝑥) = (𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + ⋯ )
(𝑏0 + 𝑏1 𝑥 + 𝑏2 𝑥 2 + 𝑏3 𝑥 3 + ⋯ + 𝑏𝑛 𝑥 𝑛 + ⋯ )
= 𝑎0 𝑏0 + (𝑎0 𝑏1 + 𝑎1 𝑏0 )𝑥 + (𝑎0 𝑏2 + 𝑎1 𝑏1 + 𝑎2 𝑏0 )𝑥 2 + ⋯
+ (𝑎0 𝑏𝑛 + 𝑎1 𝑏𝑛−1 + ⋯ + 𝑎𝑘 𝑏𝑛−𝑘 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑏0 )𝑥 𝑛 + ⋯
∞ 𝑛

= ∑ (∑ 𝑎𝑘 𝑏𝑛−𝑘 ) 𝑥 𝑛
𝑛=0 𝑘=0

Dengan demikian diperoleh formula berikut.


∞ ∞ ∞ 𝑛

(∑ 𝑎𝑛 𝑥 ) (∑ 𝑏𝑛 𝑥 ) = ∑ (∑ 𝑎𝑘 𝑏𝑛−𝑘 ) 𝑥 𝑛 … … … … … … … … … … … … (5)
𝑛 𝑛

𝑛=0 𝑘=0 𝑛=0 𝑘=0

CONTOH 4
𝐴(𝑥) = 2 + 3𝑥 + 5𝑥 2 dan 𝐵(𝑥) = 4 + 6𝑥 + 8𝑥 2
Maka 𝐴(𝑥). 𝐵(𝑥) = 8 + 24𝑥 + 54𝑥 2 + 54𝑥 3 + 40𝑥 4

Jika (𝑎𝑛 ), (𝑏𝑛 ) dan (𝑐𝑛 ) adalah barisan-barisan bilangan riil sedemikian hingga

c n   a k bn  k maka kita katakan (𝑐𝑛 ) adalah konvolusi dari (𝑎𝑛 ) dan (𝑏𝑛 ), yang ditulis
n 0

sebagai berikut.
(𝑐𝑛 ) = (𝑎𝑛 ) ∗ (𝑏𝑛 )

5
CONTOH 5
Cari barisan (𝑐𝑛 ) dengan fungsi pembangkit biasa
𝑥5 + 𝑥6
𝑃(𝑥) =
1−𝑥
Selesaian:
n
Misal 𝑃(𝑥) = (𝑥 5 + 𝑥 6 )(1 − 𝑥)−1 =  c n x n
nn

Jelas bahwa 𝑥 5 + 𝑥 6 = 0 + 0𝑥 + 0𝑥 2 + 0𝑥 3 + 0𝑥 4 + 𝑥 5 + 𝑥 6 + ⋯ adalah fungsi


pembangkit biasa dari barisan (𝑎𝑛 ) = (0,0,0,0,0,1,1,0,0, … ). Selanjutnya dari deret kuasa
nomor (2) dan definisi fungsi pembangkit kita ketahui bahwa,
1
(1 − 𝑥)−1 = = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + ⋯ adalah fungsi pembangkit biasa dari barisan
1−𝑥

(𝑏𝑛 ) = (1,1,1, … ). Sehingga dari persamaan (5), diperoleh :


𝑛

𝑐𝑛 = ∑ 𝑎𝑛 𝑏𝑛−𝑘
𝑘=0
𝑛

= ∑ 𝑎𝑛 (karena bi = 1, untuk setiap i)


𝑘=0

Dengan demikian (𝑐𝑛 ) = (0,0,0,0,0,1,2,2, … ,2, … ), atau


0, 0 ≤ 𝑛 ≤ 4
𝑐𝑛 {1, 𝑛=5
2, 𝑛≥6

CONTOH 6
n
Cari barisan bilangan riil (𝑎0 = 1, 𝑎1 , 𝑎2 , 𝑎3 , … ) yang memenuhi a
k 0
n a n  k  1 , untuk

semua 𝑛 ∈ {0,1,2,3, … }.
Penyelesaian:
Misal 𝑃(𝑥) = ∑∞ 𝑛
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥 adalah fungsi pembangkit biasa barisan (𝑎𝑛 ). Dengan

mengkuadratkan 𝑃(𝑥), diperoleh


∞ ∞

[𝑃(𝑥)]2 = (∑ 𝑎𝑛 𝑥 ) (∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 )
𝑛

𝑛=0 𝑛=0

6
∞ 𝑛

= ∑ (∑ 𝑎𝑘 𝑎𝑛−𝑘 ) 𝑥 𝑛 (dari persamaan (5))


𝑛=0 𝑘=0
∞ 𝑛
𝑛
= ∑𝑥 (karena ∑ 𝑎𝑘 𝑎𝑘−1 = 1)
𝑛=0 𝑘=0
1
= , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 |𝑥| < 1 (dari deret kuasa nomor (2))
1−𝑥
Dengan demikian,
1
𝑃(𝑥) = (1 − 𝑥)−2
∞1
−2
= ∑ ( ) (−1)𝑛 𝑥 𝑛 (dari deret kuasa nomor (4))
𝑛
𝑛=0

Jadi barisan yang dimaksud adalah (𝑎𝑛 ), dengan


1
−2 𝑛
𝑎𝑛 = (−1) ( )
𝑛

1 ,𝑛 = 0
1 3 5 2𝑛 − 1
={ (− 2) (− 2) (− 2) … (− 2 )
(−1)𝑛 ,𝑛 > 0
𝑛!
1 ,𝑛 = 0
= {1.3.5. … (2𝑛 − 1)
,𝑛 > 0
2𝑛 . 𝑛!

5. Aplikasi fungsi pembangkit biasa


Fungsi pembangkit merupakan alat untuk menangani masalah-masalah pemilihan
dan penyusunan dengan pengulangan. Fungsi seperti ini diperlukan untuk menyelesaikan
masalah yang tidak memperhatikan urutan.
5.1 Menghitung Koefisien pada Fungsi Pembangkit
Kita akan mengembangkan teknik-teknik aljabar untuk menghitung koefisisen
fungsi pembangkit. Teknik-teknik tersebut adalah dengan mereduksi fungsi pembangkit
yang diberikan menjadi fungsi pembangkit dalam tipe binomial atau hasil kali dari fungsi
pembangkit dengan tipe binomial. Berikut ini adalah semua identitas polinom dan
ekspansi polinom yang dipergunakan.

7
1  x n 1
(1) = 1 + 𝑥 + 𝑥2 + ⋯ + 𝑥𝑛
1 x
1
(2) = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯, untuk bilangan riil 𝑥 dengan |𝑥| < 1
1−𝑥
𝑛 𝑛 𝑛 𝑛
(3) (1 + 𝑥)𝑛 = 1 + ( ) 𝑥 + ( ) 𝑥 2 + ⋯ + ( ) 𝑥 𝑟 + ⋯ + ( ) 𝑥 𝑛
1 2 𝑟 𝑛
𝑛 𝑛 𝑛 𝑛
(4) (1 − 𝑥 𝑚 )𝑛 = 1 − ( ) 𝑥 𝑚 + ( ) 𝑥 2𝑚 + ⋯ + (−1)𝑟 ( ) 𝑥 𝑟𝑚 + ⋯ + (−1)𝑛 ( ) 𝑥 𝑛𝑚
1 2 𝑟 𝑛
1 𝑛 ∞ 𝑛+𝑖−1
(5) (1−𝑥)𝑛
= ( ∑∞ 𝑖
𝑛 𝑥 ) = ∑𝑛 ( 𝑖 ) 𝑥
𝑖

(6) Jika ℎ(𝑥) = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥), dimana 𝑓(𝑥) = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + ⋯ dan


𝑔(𝑥) = 𝑏0 + 𝑏1 𝑥 + 𝑏2 𝑥 2 + ⋯
Maka ℎ(𝑥) = 𝑎0 𝑏0 + (𝑎1 𝑏0 + 𝑎0 𝑏1 )𝑥 + (𝑎2 𝑏0 + 𝑎1 𝑏1 + 𝑎2 𝑏2 )𝑥 2 + ⋯ +
(𝑎𝑟 𝑏0 + 𝑎𝑟−1 𝑏1 + 𝑎𝑟−2 𝑏2 + ⋯ + 𝑎0 𝑏𝑟 )𝑥 𝑟 + ⋯
(7) Koefisien 𝑥 𝑟 pada (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )𝑛 adalah 𝐶(𝑟 + 𝑛 − 1, 𝑟) = (𝑟+𝑛−1
𝑟
)

CONTOH 7
Misalkan kita ingin menghitung koefisien 𝑥 4 pada (1 + 𝑥)3 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 )2
Mencari koefisien 𝑥 4 berarti menentukan koefisien jumlah perkalian formal yang jumlah
pangkat 𝑥 nya adalah 4. Menentukan koefisien ini sama saja dengan menghitung
banyaknya solusi bilangan bulat bagi persamaan berikut ini.
Koefisien 𝑥 4 pada (1 + 𝑥)3 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 )2 adalah banyaknya solusi bilangan bulat
𝑒1 + 𝑒2 + 𝑒3 + 𝑒4 + 𝑒5 = 4
Dengan 0 ≤ 𝑒1 , 𝑒2 , 𝑒3 ≤ 1 dan 0 ≤ 𝑒4 , 𝑒5 ≤ 2. Peubah 𝑒𝑖 merupakan pangkat suku ke−𝑖
dalam perkalian formalnya.
Masalah ini ekuivalen dengan masalah memilih 4 objek dari suatu himpunan yang terdiri
atas 5 tipe objek, dimana tipe 1,2,dan 3 masing-masing 1 objek, dan tipe 4 dan 5 masing-
masing 2 objek. Masalah ini ekuivalen juga dengan masalah distribusi 4 objek yang sama
ke dalam 5 kotak berbeda, dimana kotak 1,2, dan 3 paling banyak 1, kotak 4 dan 5 paling
banyak 2.
Secara umum, koefisien 𝑥 𝑟 pada (1 + 𝑥)3 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 )2 adalah menghitung banyaknya
solusi bilangan bulat bagi persamaan
𝑒1 + 𝑒2 + 𝑒3 + 𝑒4 + 𝑒5 = 𝑟

8
dengan 0 ≤ 𝑒1 , 𝑒2 , 𝑒3 ≤ 1 dan 0 ≤ 𝑒4 , 𝑒5 ≤ 2.

CONTOH 8
Misalkan kita ingin menentukan fungsi pembangit untuk 𝑎𝑟 , yaitu banyaknya cara
memilih 𝑟 bola dari setumpuk bola yang terdiri atas tiga bola hijau, tiga bola putih, tiga
bola biru, dan tiga bola emas.
Masalah ini dapat dimodelkan sebagai banyaknya solusi bilangan bulat
𝑒1 + 𝑒2 + 𝑒3 + 𝑒4 = 𝑟, 0 ≤ 𝑒𝑖 ≤ 3
Disini 𝑒1 mempresentasikan jumlah bola hijau yang dipilih, 𝑒2 jumlah bola putih yang
dipilih, 𝑒3 jumlah bola biru yang dipilih, 𝑒4 jumlah bola emas yang dipilih. Pada faktor
perkalian formal, 𝑥 berpangkat dari 0 sampai dengan 3.
Jadi, fungsi pembangkitnya (𝑥 0 + 𝑥1 + 𝑥 2 + 𝑥 3 )4 = (1 + 𝑥1 + 𝑥 2 + 𝑥 3 )4

CONTOH 9
Misalkan kita akan menacari koefisien 𝑥16 pada (𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ )5 .
Langkah pertama bentuk tersebut diubah dahulu sebagai berikut.
(𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ )5 = [𝑥 2 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )]5
= 𝑥10 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )5

10
1 5 1
=𝑥 ( ) = 𝑥10
1−𝑥 (1 − 𝑥)5
Karena 𝑥16 = 𝑥10 𝑥 6 berarti mencari koefisien 𝑥16 pada (𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ )5 sama

1  5  6  1 10 
dengan mencari koefisien 𝑥 6 pada yaitu       210 .
(1  x) 5 6  6 
Jadi, koefisien 𝑥16 pada (𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ )5 adaah 210.

CONTOH 10
Banyak cara untuk memilih 25 mainan dari 7 tipe mainan dimana tiap tipe antara 2 dan 6,
sama dengan mencari koefisien 𝑥 25 dari fungsi pembangkit.
(𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + 𝑥 5 + 𝑥 6 )7
Fungsi pembangkit tersebut diubah sebagai berikut.
(𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + 𝑥 5 + 𝑥 6 )7 = [𝑥 2 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 )]7

9
= 𝑥14 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 )7
Sekarang tinggal mencari koefisien 𝑥11 pada (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 )7
Dengan menggunakan identitas (1) diperoleh
7
4 )7
1 − 𝑥5
(1 + 𝑥 + ⋯ + 𝑥 =( ) = (1 − 𝑥)−7 (1 − 𝑥 5 )7
1−𝑥
Misalkan 𝑓(𝑥) = (1 − 𝑥)−7 dan 𝑔(𝑥) = (1 − 𝑥 5 )7 . Dengan menggunakan ekspansi (5)
dan (4) diperoleh
7+1−1 7+2−1 2 7+𝑟−1 𝑟
𝑓(𝑥) = (1 − 𝑥)−7 = 1 + ( )𝑥 + ( )𝑥 + ⋯+ ( )𝑥 + ⋯
1 2 𝑟
7 7 7 7
𝑔(𝑥) = (1 − 𝑥 5 )7 = 1 − ( ) 𝑥 5 + ( ) 𝑥10 − ⋯ − (−1)𝑟 ( ) 𝑥 5𝑟 − ⋯ − ( ) 𝑥 35
1 2 𝑟 7
Untuk mencari koefisien 𝑥11 pada ℎ(𝑥) = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) kita hanya membutuhkan bentuk
𝑎11−𝑖 𝑏𝑖 dalam identitas polinom (6). Bentuk 𝑎11−𝑖 𝑏𝑖 yang mungkin yaitu.
𝑎11 𝑏0 , 𝑎10 𝑏1 , 𝑎9 𝑏2 , 𝑎8 𝑏3 , 𝑎7 𝑏4 , 𝑎6 𝑏5 , 𝑎5 𝑏6 , 𝑎4 𝑏7 , 𝑎3 𝑏8 , 𝑎2 𝑏9 , 𝑎1 𝑏10 , dan 𝑎0 𝑏11
𝑎11 𝑏0 , 𝑎6 𝑏5 , 𝑎1 𝑏10 dibutuhkan untuk mencari koefisien 𝑥11 pada ℎ(𝑥) = 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)
karena 𝑏0 , 𝑏5 , dan 𝑏10 adalah kelipatan 5 (lihat 𝑔(𝑥)). Sehingga diperoleh.
7 + 11 − 1 7+6−1 7 7+1−1 7
𝑎11 𝑏0 + 𝑎6 𝑏5 + 𝑎1 𝑏10 = ( ).1 + ( ) . (− ( )) + ( ).( )
11 6 1 1 2
= 12376 + (924)(−7) + (7)(21)
= 12376 + (−644) + 147
= 11879
Hasil terakhir ini merupakan koefisien 𝑥11 . Jadi koefisien 𝑥 25 = 𝑥 14 𝑥11 adalah 1 ×
11879 = 11879.
5.2 Menyelesaikan Masalah Fungsi Aljabar (Invers Fungsi)
Fungsi pembangkit dapat pula digunakan untuk memanipulasi bentuk-bentuk fungsi
aljabar tanpa harus menggunakan konsep yang biasa digunakan dalam aljabar. Misalnya
sebuah fungsi yang mempunyai invers, dapat ditentukan invers perkaliannya dengan
pendekatan fungsi pembangkit.
Sebuah fungsi 𝐴(𝑥) yang dinyatakan dalam deret kuasa 𝐴(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥
𝑛

Mempunyai sebuah invers perkalian jika terdapat sebuah deret kuasa 𝐵(𝑥) sedemikian
sehingga 𝐴(𝑥). 𝐵(𝑥) = 1.

10
CONTOH 11
Misalkan kita akan mencari invers dari 𝐴(𝑥) = 1 − 𝑥. Kita misalkan bahwa

B( x)   bi x i adalah invers bagi 𝐴(𝑥).
i 0

Perkalian antara 𝐴(𝑥) dan 𝐵(𝑥) menghasilkan



𝐴(𝑥). 𝐵(𝑥) = (1 − 𝑥) b x
i 0
i
i
1

Yang memberikan persamaan


∞ ∞

∑ 𝑏𝑖 𝑥 𝑖 − ∑ 𝑏𝑖 𝑥 𝑖+1 = 1
𝑖=0 𝑖=0

Sekarang bandingkan koefisien dari 𝑥 𝑖 pada kedua ruas persamaan tersebut.


Dapat dilihat bahwa
𝑏𝑜 = 1, 𝑏1 − 𝑏𝑜 = 0
𝑏2 − 𝑏1 = 0
...
𝑏𝑛 − 𝑏𝑛−1 = 0
Dengan demikian kita peroleh 𝑏𝑖 = 1 untuk setiap 𝑖.
Hasil-hasil ini memperlihatkan bahwa invers dari 𝐴(𝑥) = 1 − 𝑥 adalah
1 + 𝑥 + 𝑥2 + 𝑥3 + ⋯
Dalam proses penentuan invers dari 𝐴(𝑥) diatas, kita pun memperoleh rumus

1
= 1 + 𝑥 + 𝑥2 + ⋯ = ∑ 𝑥𝑖
1−𝑥
𝑖=0

5.3 Fungsi Pembangkit untuk Kombinasi


Misalkan terdapat tiga macam obyek berbeda 𝑎, 𝑏, dan 𝑐. Kita diperkenankan memilih 0,
1, atau 2 obyek 𝑎, 0 atau 1 obyek 𝑏, dan 0 atau 1 obyek 𝑐.
Pertanyaan : ada berapa cara memilih 𝑘 obyek?
Untuk menjawab pertanyaan ini, akan diterapkan fungsi pembangkit. Misalkan 𝑡𝑘
menyatakan banyaknya cara memilih 𝑘 obyek. Kita coba menyelesaikan dengan fungsi
pembangkit biasa 𝑃(𝑥) = ∑ 𝑡𝑘 𝑥 𝑘

11
Karena obyek 𝑎 dapat dipilih 0, 1, atau 2 kali; dan obyek 𝑏 dapat dipilih 0 atau 1 kali; dan
obyek 𝑐 dapat dipilih 0 atau 1 kali, maka ekspresi yang dapat dipakai adalah:
[(𝑎𝑥)0 + (𝑎𝑥)1 + (𝑎𝑥)2 ][(𝑏𝑥)0 + (𝑏𝑥)1 ][(𝑐𝑥)0 (𝑐𝑥)1 ] … … … … … . . (𝟓. 𝟑. 𝟏)
(𝑎𝑥)0 mengindikasikan bahwa obyek 𝑎 tidak terpilih, (𝑎𝑥)1 mengindikasikan bahwa
obyek 𝑎 terpilih satu kali, dan (𝑎𝑥)2 mengindikasikan bahwa obyek 𝑎 terpilih dua kali,
demikian pula (𝑏𝑥)0 mengindikasikan bahwa obyek 𝑏 tidak terpilih, dan seterusnya.
Sehingga ekspresi di atas dapat di sederhanakan menjadi:
(1 + 𝑎𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 )(1 + 𝑏𝑥)(1 + 𝑐𝑥)
Dan setelah dijabarkan diperoleh
1 + (𝑎 + 𝑏 + 𝑐)𝑥 + (𝑎𝑏 + 𝑏𝑐 + 𝑎𝑐 + 𝑎2 )𝑥 2 + (𝑎𝑏𝑐 + 𝑎2 𝑏 + 𝑎2 𝑐)𝑥 3 + 𝑎2 𝑏𝑐𝑥 4
… (𝟓. 𝟑. 𝟐)
Perhatikan, koefisien 𝑥 3 memberikan kemungkinan memilih 3 obyek (dengan syarat yang
diperkenankan) yaitu 𝑎, 𝑏, dan 𝑐 atau 𝑎, 𝑎, dan 𝑏 atau 𝑎, 𝑎, dan 𝑐. Demikian pula
koefisien dari 𝑥 2 memberikan semua kemungkinan memilih dua obyek yaitu 𝑎 dan 𝑏;
atau 𝑏 dan 𝑐; atau 𝑎 dan 𝑐; atau 𝑎 dan 𝑎. Hal yang sama berlaku untuk koefisien-
koefisien yang lain. Setiap suku dari koefisien 𝑥 3 berkorespondensi dengan satu cara
memilih 3 obyek. Sehingga, banyak cara memilih 3 obyek sama dengan banyak suku dari
koefisien 𝑥 3 . Agar setiap suku tersebut bernilai 1, salah satu cara yang mudah adalah
dengan mensubstitusikan nilai 𝑎, 𝑏 dan 𝑐 masing-masing dengan 1. Jika 𝑎, 𝑏 dan 𝑐 dalam
(5.3.2) masing-masing disubstitusikan dengan 1, diperoleh ekspresi berikut
𝑃(𝑥) = 1 + 3𝑥 + 4𝑥 2 + 3𝑥 3 + 𝑥 4
= (1 + 𝑥 + 𝑥 2 )(1 + 𝑥)(1 + 𝑥)
Selanjutnya, 𝑃(𝑥) disebut fungsi pembangkit dari permasalahan menentukan banyaknya
cara memilih 𝑘 obyek dari 3 macam obyek yang berbeda, dimana obyek pertama (obyek
𝑎) bisa dipilih sebanyak-banyaknya 2; obyek kedua (obyek 𝑏) bisa dipilih sebanyak-
banyaknya1 dan obyek ketiga (obyek 𝑐) bisa dipilih tidak lebih dari 1. Perhatikan bahwa
banyak cara memilih 3 obyek sama dengan koefisien 𝑥 3 yaitu 3. Begitu juga, banyak cara
memilih 2 obyek sama dengan koefisien 𝑥 2 yaitu 4. Tampak bahwa, koefisien 𝑥 𝑘 dalam
𝑃(𝑥), menyatakan banyak cara memilih 𝑘 obyek dengan syarat yang ada.
Secara umum diperoleh.

12
Misalkan terdapat 𝑝 tipe obyek berbeda, dan terdapat 𝑛1 obyek tipe 1, 𝑛2 obyek tipe 2, …
, 𝑛𝑝 obyek tipe 𝑝. Misalkan 𝑡𝑘 menyatakan banyaknya cara mengambil 𝑘 obyek dimana
diperbolehkan mengambil sebarang banyak obyek tiap tipe. Fungsi pembangkit untuk 𝑡𝑘
dengan
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ + 𝑥 𝑛1 )(1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ + 𝑥 𝑛2 ) … (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ + 𝑥 𝑛𝑝 )
Bilangan 𝑡𝑘 diberikan oleh koefisien 𝑥 𝑘 dalam 𝑃(𝑥).

CONTOH 12
Tentukan banyak cara memilih 𝑟 obyek dari 𝑛 obyek berbeda, dimana pengulangan tidak
diperbolehkan.
Penyelesaian :
Terdapat 𝑛 obyek berbeda. Karena pengulangan tidak diperkenankan, maka setiap obyek
dapat dipilih 0 atau 1 kali saja.
Sehimgga fungsi pembangkit dari permasalahan tersebut adalah:
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥)(1 + 𝑥) … (1 + 𝑥)
n factor
𝑛
𝑛
= (1 + 𝑥) = ∑ ( ) 𝑥 𝑟
𝑛
𝑟
𝑟=0

Banyak cara memilih (tanpa pengulangan) 𝑟 obyek dari 𝑛 obyek berbeda adalah koefisien
𝑛
𝑥 𝑟 dalam 𝑃(𝑥) yaitu ( ) dengan 0 ≤ 𝑟 ≤ 𝑛.
𝑟

CONTOH 13
Tentukan banyaknya cara memilih 𝑟 obyek dari 𝑛 obyek berbeda, dimana pengulangan
diperbolehkan !
Selesaian :
Misalkan 𝑡𝑟 menyatakan banyaknya cara memilih 𝑟 obyek. Karena ada 𝑛 macam obyek
berbeda dan tiap obyek dapat dipilih berulang (tanpa batas), maka fungsi pembangkit
untuk 𝑡𝑟 ialah:
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )(1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )(1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )
n factor

13
= (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )𝑛
1
Karena untuk |𝑥| < 1, 1−𝑥 = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ (Lihat deret kuasa nomor (2))

Maka,
1 𝑛
𝑃(𝑥) = ( )
1−𝑥
= (1 − 𝑥)−𝑛

−𝑛
= ∑( ) (−1)𝑟 𝑥 𝑟 (Teorema Binomial)
𝑟
𝑟=0

Untuk 𝑟 > 0, koefisien 𝑥 𝑟 dalam 𝑃(𝑥) adalah:


−1 (−𝑛)(−𝑛 − 1) … (−1 − 𝑟 + 1)
( ) (−1)𝑟 = (−1)𝑟
𝑟 𝑟!
𝑛(𝑛 + 1) … (𝑛 + 𝑟 − 1)
=
𝑟!
(𝑛 + 𝑟 − 1)(𝑛 + 𝑟 − 2) … (𝑛 − 1)𝑛
=
𝑟!
(𝑛 + 𝑟 − 1)!
=
𝑟! (𝑛 − 1)!
𝑛+𝑟−1
=( )
𝑟
Untuk 𝑟 = 0, koefisien 𝑥 𝑟 dalam 𝑃(𝑥) adalah:
−𝑛 𝑛+0−1
( ) (−1)0 = ( )
0 0
Sehingga, untuk 𝑟 ≥ 0,
−𝑛 𝑛+𝑟−1
( ) (−1)𝑟 = ( )
𝑟 𝑟
Dengan demikian,

𝑛+𝑟−1 𝑟
𝑃(𝑥) = ∑ ( )𝑥
𝑟
𝑟=0

Jadi banyaknya cara memilih 𝑟 obyek dari 𝑛 macam obyek berbeda dimana pengulangan
diperkenankan, sama dengan koefisien 𝑥 𝑟 dalam 𝑃(𝑥) yaitu:
𝑛+𝑟−1
𝑡𝑟 = ( )
𝑟
CATATAN:
i. Dari penyelesaian soal di atas, diperoleh bahwa untuk bilangan bulat positif 𝑛 berlaku

14

1 𝑛 𝑛+𝑟−1 𝑟
( ) = ∑( )𝑥 … (5.3.3)
1−𝑥 𝑟
𝑟=0

ii. Jika 𝑛 bilangan bulat non negatif dan 𝑥 ≠ 1, mudah ditunjukkan identitas berikut
1 − 𝑥 𝑛+1
= 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3+ … + 𝑥 𝑛 … (5.3.4)
1−𝑥

CONTOH 14
Ada beberapa cara mengambil 𝑘 huruf dari huruf-huruf pembentuk kata SURABAYA
sedemikian hingga setiap konsonan terpilih paling sedikit satu dan setiap vocal terpilih
paling banyak 10?
Selesaian :
Perhatikan bahwa dalam kata SURABAYA terdapat enam huruf yang berbeda; yaitu 4
konsonan: S, R, B, Y, dan 2 vokal: U dan A. Karena setiap konsonan terpilih paling
sedikit satu maka setiap konsonan tersebut berasosiasi dengan sebuah factor (𝑥 + 𝑥 2 +
𝑥 3 + 𝑥 4 + 𝑥 5 + ⋯ ) dalam fungsi pembangkit. Selanjutnya, karena setiap vocal dapat
dipilih sebanyak-banyaknya 10, maka setiap vokal tersebut berasosiasi dengan sebuah
factor (𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ + 𝑥10 ). Dengan demikian fungsi pembangkit dari permasalahan di
atas adalah:
𝑃(𝑥) = (𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + 𝑥 5 + ⋯ )4 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ + 𝑥10 )2
4 2
1 1 − 𝑥11
=( − 1) ( ) (dari deret kuasa nomor (2)dan (5.3.4)
1−𝑥 1−𝑥
= 𝑥 4 (1 − 𝑥 11 )2 (1 − 𝑥)6
= (𝑥 4 − 2𝑥 15 + 𝑥 26 )(1 − 𝑥)6

6+𝑟−1 𝑟
= (𝑥 4 − 2𝑥 15 + 𝑥 26 ) ∑ ( )𝑥 (dari 5.3.1)
𝑟
𝑟=0
∞ ∞ ∞
6 + 𝑟 − 1 𝑟+4 6 + 𝑟 − 1 𝑟+15 6 + 𝑟 − 1 𝑟+26
= ∑( )𝑥 − 2∑( )𝑥 + ∑( )𝑥
𝑟 𝑟 𝑟
𝑟=0 𝑟=0 𝑟=0

15
∞ ∞ ∞
𝑟+1 𝑟 𝑟 − 10 𝑟 𝑟 − 21 𝑟
= ∑( )𝑥 − 2∑( )𝑥 +∑( )𝑥
𝑟−4 𝑟 − 15 𝑟 − 26
𝑟=0 𝑟=0 𝑟=0

Banyak cara yang dimaksud = koefisien 𝑥 𝑘 dalam 𝑃(𝑥)


0, , jika 𝑘 < 4

𝑘+1
( ) jika 4 ≤ 𝑘 ≤ 14
𝑘−4
𝑘+1 𝑘 − 10
( ) − 2( ) , jika 15 ≤ 𝑘 ≤ 26
𝑘−4 𝑘 − 15
𝑘+1 𝑘 − 10 𝑘 − 21
( ) − 2( )+( ) , jika 𝑘 ≥ 26
𝑘−4 𝑘 − 15 𝑘 − 26

CATATAN:
Dari contoh 13,14, dan 15 di atas, kita lihat bahwa fungsi pembangkit tidak tergantung
dari banyaknya obyek yang diambil secara keseluruhan, tetapi hanya tergantung pada
syarat-syarat banyak tiap obyek boleh diambil.
Fungsi Pembangkit Biasa dapat digunakan untuk memecahkan masalah pendistribusian
(penempatan) obyek-obyek yang identic ke dalam sel-sel (kotak-kotak) yang berbeda.

CONTOH 15
Dengan berapa cara 60 obyek yang identik dapat ditempatkan didalam 4 sel (kotak) yang
berbeda sedemikian hingga:
(i) Setiap kotak mendapat paling sedikit satu obyek?
(ii) Setiap sel (kotak) mendapat paling sedikit 10 obyek dan tak lebih dari 20 obyek?
Selesaian:
(i) Karena ada 4 kotak dan setiap kotak mendapat paling sedikit satu obyek, maka fungsi
pembangkit untuk permasalahan tersebut adalah
𝑃(𝑥) = (𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + ⋯ + ⋯ )4
1
= 𝑥4( )4 , untuk │x│˂ 1, (dari deret kuasa nomor (2))
1−𝑥

16

4 4+𝑟−1 4
= 𝑥 ∑( ) (dari 5.3.1 )
𝑟
𝑟=0

3 + 𝑟 𝑟+4
= ∑( )𝑥
𝑟
𝑟=0

Jadi banyaknya cara menempatkan 60 obyek yang identik kedalam 4 kotak yang
berbeda sedemikian hingga tiap kotak mendapat paling sedikit satu obyek adalah
 56  3   59 
koefisien 𝑥 60 dalam 𝑃(𝑥),yaitu       32.509 .
 56   56 
(ii) Karena ada 4 sel berbeda dan setiap sel mendapat paling sedikit 10 obyek dan tak
lebih dari 20 obyek, maka fungsi pembangkit untuk persoalan tersebut adalah.
𝑃(𝑥) = (𝑥10 + 𝑥11 + . . . + 𝑥 20 )4
4
40
1 − 𝑥11
=𝑥 ( )
1−𝑥
= 𝑥 40 ( 1 − 𝑥11 )4 ( 1 – x )−4
4 ∞
40
4 𝑟+3 𝑟
=𝑥 ∑ ( ) (−1 )𝑠 𝑥11𝑠 ∑ ( ) 𝑥
𝑠 𝑟
𝑠=0 𝑟=0

Kita tertarik dengan koefisien 𝑥 60 dalam 𝑃(𝑥). Untuk itu kita cari bilangan bulat 𝑠
dan 𝑟, sedemikian hingga;
40 + 11s + r = 60 , 0 ≤ s ≤ 4 , r ≥ 0
Nilai 𝑠 dan 𝑟 yang memenuhi adalah
𝑠 = 1 dan 𝑟 = 9; atau 𝑠 = 0 dan 𝑟 = 20
Sehingga, banyaknya cara yang dimaksud adalah koefisien dari 𝑥 60 dalam 𝑃(𝑥),
yaitu
4 20 + 3 4 9+2
( )( ) + (−1) ( ) ( ) = 1771 − 880 = 891.
0 20 1 9
Fungsi pembangkit biasa juga digunakan untuk menentukan banyaknya
penyelesaian (solusi) bulat dari suatu persamaan linear beberapa peubah dengan
syarat tertentu.

17
D. Rangkuman

(1) Deret kuasa didefinisikan sebagai deret tak hingga yang berbentuk a
n 0
n xn

(2) Pandang (𝑎𝑛 ) = (𝑎0 , 𝑎1 , 𝑎2 , … ) adalah suatu barisan. Fungsi pembangkit biasa dari
barisan (𝑎𝑛 ) didefinisikan sebagai.

∑ 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 + ⋯
𝑛=0

(3) Aplikasi fungsi pembangkit biasa antara lain menghitung koefisien fungsi pembangkit,
menyelesaikan masalah pada fungsi aljabar, dan fungsi pembangkit biasa untuk
kombinasi.

E. Soal Latihan
1. Tulis Fungsi Pembangkit Biasa dari barisan (0,0,0,1,1,1,1, … ) dan sederhanakan jika
mungkin!
2
2. 𝑃(𝑥) = 1−𝑥 + 3𝑥 2 + 6𝑥 + 1 adalah Fungsi Pembangkit Biasa dari (𝑎𝑛 ). Tentukan 𝑎𝑛 !

3. Ada berapa cara untuk menempatkan 50 koin yang sama ke dalam 5 kotak berbeda
sedemikian hingga tidak ada kotak yang kosong?

18
F. Lampiran
Kunci jawaban soal latihan
1. Diketahui barisan (0,0,0,1,1,1,1, … )
Fungsi Pembangkit Biasa yang dimaksud adalah
𝑃(𝑥) = 0 + 0 + 0 + 1. 𝑥 3 + 1. 𝑥 4 + 1. 𝑥 5 + 1. 𝑥 6 + ⋯
= 𝑥3 + 𝑥4 + 𝑥5 + 𝑥6 + ⋯
= (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + 𝑥 5 + 𝑥 6 + ⋯ ) − 1 − 𝑥 − 𝑥 2
1
= − 1 − 𝑥 − 𝑥2 (dari deret kuasa nomor (2))
1−𝑥
1
= = 𝑥2 − 𝑥 − 1
1−𝑥
2
2. 𝑃(𝑥) = 1−𝑥 + 3𝑥 2 + 6𝑥 + 1
1
= 2 (1−𝑥) + 3𝑥 2 + 6𝑥 + 1

= 2(1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ ) + 3𝑥 2 + 6𝑥 + 1
= (2 + 2𝑥 + 2𝑥 2 + 2𝑥 3 + 2𝑥 4 + ⋯ ) + 3𝑥 2 + 6𝑥 + 1
= 3 + 8𝑥 + 5𝑥 2 + 2𝑥 3 + 2𝑥 4 + ⋯
(sifat penjumlahan dua fungsi pembangkit)
Jadi barisannya adalah (3,8,5,2,2, … )
3. 𝑃(𝑥) = (𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + ⋯ )5
= (𝑥(1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ ))5
= 𝑥 5 (1 + 𝑥 + 𝑥 2 + ⋯ )5
1
= 𝑥5
(1 − 𝑥)5

5 5+𝑘−1 𝑘
= 𝑥 ∑( )𝑥
𝑘
𝑘=0

5 𝑘+4 𝑘
= 𝑥 ∑( )𝑥
𝑘
𝑘=0

𝑛−1 𝑛
= ∑( )𝑥
𝑛−𝑘
𝑛=𝑘

19
50 − 1
𝑃(50) = ( )
50 − 5
49
=( )
45
= 211876
Jadi, banyaknya cara untuk menempatkan 50 koin yang sama ke dalam 5 kotak berbeda
sedemikian hingga tidak ada kotak yang kosong ada 211876 cara.

20
FUNGSI PEMBANGKIT EKSPONENSIAL DAN APLIKASINYA

A. Deskripsi Singkat Makalah


Makalah ini berisi tentang materi fungsi pembangkit eksponensial dan aplikasinya.
𝑥𝑛
Fungsi pembangkit eksponensial dari (𝑎𝑛 ) didefinisikan sebagai 𝑃(𝑥) = ∑∞
𝑛=0 𝑎𝑛 = 𝑎0 +
𝑛!
𝑥2 𝑥3
𝑎1 𝑥 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯. Fungsi pembangkit eksponensial dapat diterapkan untuk
2! 3!

memecahkan masalah-masalah umum yang melibatkan permutasi atau pendistribusian


objek-objek yang berbeda ke dalam sel-sel yang berbeda. Dalam makalah ini, dijelaskan
beberapa proposisi serta contoh masalah-masalah yang berkaitan dengan aplikasi fungsi
pembangkit eksponensial.

B. Tujuan Makalah
Tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut.
A. Memahami konsep fungsi pembangkit eksponensial.
B. Mengetahui cara menentukan fungsi pembangkit eksponensial dari suatu barisan.
C. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan penerapan fungsi pembangkit
eksponensial.

C. Materi
A. Fungsi Pembangkit Eksponensial
Fungsi Pembangkit Eksponensial (FPE) dari (𝑎𝑛 ) didefinisikan sebagai berikut.

𝑥𝑛 𝑥2 𝑥3
𝑃(𝑥) = ∑ 𝑎𝑛 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯
𝑛! 2! 3!
𝑛=0
𝑥2 𝑥3
Misalnya, 𝑃(𝑥) = 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + + + ⋯ adalah fungsi pembangkit biasa dari
2! 3!
1 1
barisan (1, 1, 2! , 3! , … ), atau fungsi pembangkit eksponensial dari barisan (1, 1, 1, 1, … ).

Bila diberikan suatu barisan, maka kita sering diminta untuk menuliskan fungsi
pembangkit dari barisan tersebut dalam bentuk sesederhana mungkin.

21
Contoh 1
Jika 𝑎𝑛 = 𝑛, untuk 𝑛 ≥ 0, tentukan fungsi pembangkit eksponensial barisan (𝑎𝑛 ).
Penyelesaian:
𝑥𝑛 𝑥2 𝑥3
Ingat bahwa 𝑒 𝑥 = ∑∞
𝑛=0 𝑛! = 1 + 𝑥 + + + ⋯.
2! 3!

Fungsi pembangkit eksponensial dari barisan (𝑎𝑛 ) = (𝑛) adalah


𝑥𝑛 𝑥 𝑛−1 𝑥 𝑛−1
𝑃(𝑥) = ∑∞ ∞ ∞ 𝑥
𝑛=0 𝑛 𝑛! = 𝑥 ∑𝑛=1 𝑛 (𝑛−1)!𝑛 = 𝑥 ∑𝑛=1 (𝑛−1)! = 𝑥𝑒 .

Contoh 2
𝑒 3𝑥
Jika 𝑃(𝑥) = 1+5𝑥 adalah fungsi pembangkit eksponensial barisan (𝑎𝑛 ), tentukan nilai 𝑎𝑛 .

Penyelesaian:
𝑥𝑛
Karena 𝑃(𝑥) fungsi pembangkit eksponensial barisan (𝑎𝑛 ), maka 𝑃(𝑥) = ∑𝑛𝑛=0 𝑎𝑛 .
𝑛!
𝑥𝑛
Sehingga 𝑎𝑛 adalah koefisien dari dalam 𝑃(𝑥).
𝑛!
𝑒 3𝑥
𝑃(𝑥) = 1+5𝑥
1
= 𝑒 3𝑥
1+5𝑥
𝑥𝑛
= (∑𝑛𝑛=0(3)𝑛 ) (∑𝑛𝑛=0(−5)𝑛 𝑥 𝑛 )
𝑛!

𝑛 3𝑘
= ∑∞
𝑛=0 (∑𝑘=0 𝑘! (−5)
𝑛−𝑘
) 𝑥𝑛

𝑛 3𝑘 𝑥𝑛
= ∑∞
𝑛=0 (∑𝑘=0 𝑘! (−5)
𝑛−𝑘
) 𝑛! 𝑛!

Dengan demikian,
3𝑘
𝑎𝑛 = (∑𝑛𝑘=0 𝑘! (−5)𝑛−𝑘 ) 𝑛! , 𝑛 ≥ 0.

B. Fungsi Pembangkit Untuk Permutasi


Proposisi 1
Misalkan terdapat 𝑘1 objek tipe satu, 𝑘2 objek tipe dua, ...., dan 𝑘𝑛 objek tipe 𝑛. Jika
semua objek tersebut dipermutasi, maka banyak permutasi yang mungkin adalah
(∑𝑛𝑖=1 𝑘𝑖 )!
𝑘1 ! 𝑘2 ! … 𝑘𝑛 !
Bukti:

22
Jika semua objek berbeda, maka terdapat (∑𝑛𝑖=1 𝑘𝑖 )! jajaran (permutasi). Tapi objek-objek
tersebut tidak semuanya berbeda, sehingga bilangan ini terlalu besar. Pikirkan sebuah
jajaran dari terdapat ∑𝑛𝑖=1 𝑘𝑖 objek yang berbeda. Jika kita ganti 𝑘𝑖 objek tipe 𝑖 yang
berbeda dengan 𝑘𝑖 objek yang identik, maka 𝑘𝑖 ! jajaran akan sama. Karena 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑛,
kita harus membagi bilangan total penjajaran yang mungkin dengan 𝑘1 !, 𝑘2 !, … , 𝑘𝑛 !.

Contoh 3
Banyaknya cara mengajar (banyaknya permutasi) dari unsur-unsur {𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑏, 𝑏} atau
5!
banyak permutasi dari {𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑏, 𝑏} adalah = 10, yaitu 𝑎𝑎𝑎𝑏𝑏, 𝑎𝑎𝑏𝑎𝑏, 𝑎𝑏𝑎𝑎𝑏,
3!2!

𝑏𝑎𝑎𝑎𝑏, 𝑏𝑎𝑎𝑏𝑎, 𝑏𝑎𝑏𝑎𝑎, 𝑏𝑏𝑎𝑎𝑎, 𝑎𝑎𝑏𝑏𝑎, 𝑎𝑏𝑏𝑎𝑎, 𝑎𝑏𝑎𝑏𝑎. Mudah diselidiki bahwa hanya
5!
terdapat 1!2!2! = 30 permutasi dari {𝑎, 𝑏, 𝑏, 𝑐, 𝑐}.

Selanjutnya mari kita tinjau permasalahan pada Contoh 4 berikut.

Contoh 4
Berapakah banyak kata sandi dengan panjang 𝑘 yang dibentuk dari tiga huruf yang
berbeda yaitu 𝑎, 𝑏, dan 𝑐 dengan syarat setiap kata sandi memuat paling banyak satu 𝑏,
paling banyak satu 𝑐, dan sampai tiga 𝑎?
Yang dimaksud dengan panjang suatu kata sandi adalah banyaknya huruf dalam kata
sandi tersebut. Perhatikan bahwa urutan huruf-huruf dalam kata sandi diperhatikan,
sehingga kita lebih tertarik dengan perhitungan permutasi daripada kombinasi. Walau
begitu, kita mulai dengan perhitungan kombinasi, banyaknya cara untuk mendapatkan 𝑘
huruf bila diperkenankan mengambil paling banyak satu 𝑏, paling banyak satu 𝑐, dan
paling banyak tiga 𝑎. Untuk itu seperti telah dibahas sebelumnya, fungsi pembangkit dari
permasalahan menentukan banyak cara memilih k huruf (dengan syarat yang ditentukan)
adalah:
(1 + 𝑎𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 )(1 + 𝑏𝑥)(1 + 𝑐𝑥)
Setelah dijabarkan dan disederhanakan diperoleh,
1 + (𝑎 + 𝑏 + 𝑐)𝑥 + (𝑎2 + 𝑎𝑏 + 𝑎𝑐 + 𝑏𝑐)𝑥 2 + (𝑎3 + 𝑎𝑏𝑐 + 𝑎2 𝑏 + 𝑎2 𝑐)𝑥 3 +
(𝑎2 𝑏𝑐 + 𝑎3 𝑏 + 𝑎3 𝑐)𝑥 4 + 𝑎3 𝑏𝑐𝑥 5

23
Koefisien 𝑥 𝑘 menginformasikan semua cara yang mungkin untuk mendapatkan 𝑘 huruf.
Misalnya, terdapat tiga cara memilih 4 huruf yaitu : {𝑎, 𝑎, 𝑏, 𝑐}; atau {𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑏} atau
{𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑐}.
4!
Menurut Proposisi 1 jika dipilih {𝑎, 𝑎, 𝑏, 𝑐} terdapat = 12 permutasi yang
2!1!1!

bersesuaian yaitu:
𝑎𝑎𝑏𝑐, 𝑎𝑎𝑐𝑏, 𝑎𝑏𝑎𝑐, 𝑎𝑏𝑐𝑎, 𝑎𝑐𝑎𝑏, 𝑎𝑐𝑏𝑎
𝑏𝑐𝑎𝑎, 𝑏𝑎𝑎𝑐, 𝑏𝑎𝑐𝑎, 𝑐𝑏𝑎𝑎, 𝑐𝑎𝑎𝑏, 𝑐𝑎𝑏𝑎
4!
Jika dipilih {𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑏}, terdapat = 4 permutasi yang bersesuaian yaitu 𝑎𝑎𝑎𝑐, 𝑎𝑎𝑏𝑎,
3!1!

𝑎𝑏𝑎𝑎, dan 𝑏𝑎𝑎𝑎.


4!
Dan untuk {𝑎, 𝑎, 𝑎, 𝑐} , terdapat = 4 permutasi yang bersesuaian yaitu 𝑎𝑎𝑎𝑐, 𝑎𝑎𝑐𝑎,
3!1!

𝑎𝑐𝑎𝑎, dan 𝑐𝑎𝑎𝑎.


Dengan demikian banyak kata sandi dengan panjang 4 yang dapat dibentuk adalah
4! 4! 4!
+ +
2! 1! 1! 3! 1! 3! 1!
Pertanyaan yang menarik adalah bagaimanakah kita dapat memperoleh hasil tersebut
tanpa harus mendaftar semua kata sandi dengan panjang 4? Jelas Fungsi Pembangkit
Biasa (FPB) tidak bisa dipakai dalam hal ini. Untuk itu kita coba menggunakan Fungsi
(𝑎𝑥)𝑝
Pembangkit Eksponensial (FPE). Dalam hal ini, ekspresi Berarti banyaknya huruf 𝑎
𝑝!
(𝑏𝑥)𝑞 (𝑐𝑥)𝑟
dalam kata sandi tersebut adalah 𝑝, begitu juga ekspresi dan , secara berturut-
𝑞! 𝑟!

turut berarti banyak huruf 𝑏 dan 𝑐 dalam kata sandi tersebut adalah 𝑞 dan 𝑟.
Dengan demikian fungsi pembangkit dari permasalahan menjadi:
𝑎𝑥 𝑎2 𝑥 2 𝑎3 𝑥 3 𝑏𝑥 𝑐𝑥
𝑃(𝑥) = (1 + + + ) (1 + ) (1 + )
1! 2! 3! 1! 1!
𝑎 𝑏 𝑐 𝑎2 𝑎𝑏 𝑎𝑐 𝑏𝑐 𝑎2 𝑎𝑏𝑐 𝑎2 𝑏
= 1 + (1! + 1! + 1!) 𝑥 + ( 2! + 1!1! + 1!1! + 1!1!) 𝑥 2 + ( 3! + 1!1!1! + 2!1!1! +
𝑎3 𝑐 𝑎2 𝑏𝑐 𝑎3 𝑏 𝑎3 𝑐 𝑎3 𝑏𝑐
) 𝑥 3 + (2!1!1! + 3!1!1! + 3!1!1!) 𝑥 4 + 3!1!1! 𝑥 5
2!1!1!

Setelah a, b, dan c masing-masing diganti dengan 1, diperoleh

𝑥 𝑥2 𝑥3 1+𝑥 1+𝑥
𝑃(𝑥) = (1 + 1! + + )+( )( )
2! 3! 1! 1!

24
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
= 1 + (1! + 1! + 1!) 𝑥 + (2! + 1!1! + 1!1! + 1!1!) 𝑥 2 + (3! + 1!1!1! + 2!1!1! +
1 1 1 1 1
) 𝑥 3 + (2!1!1! + 3!1!1! + 3!1!1!) 𝑥 4 + 3!1!1! 𝑥 5
2!1!1!

Ternyata skematik ini belum merupakan skematik yang memuaskan, karena koefisien
𝑥 4 pada persamaan tersebut belum identik dengan hasil sebelumnya. Akan tetapi
skematik jalan, bila kita pikir ini sebagai fungsi pembangkit eksponensial dengan
𝑥𝑘
memperhatikan koefisien dari . Sehingga persamaan di atas dapat ditulis sebagai
𝑘!

berikut
𝑥 𝑥2 𝑥3 𝑥 𝑥
𝑃(𝑥) = (1 + 1! + + ) (1 + 1!) (1 + 1!)
2! 3!
1 1 1 1 1 1 1 𝑥2 1 1 1
= 1 + (1! + 1! + 1!) 𝑥 + (2! + 1!1! + 1!1! + 1!1!) 2! 2! + (3! + 1!1!1! + 2!1!1! +
1 𝑥3 1 1 1 𝑥4 1 𝑥5
) 3! 3! + (2!1!1! + 3!1!1! + 3!1!1!) 4! 4! + 3!1!1! 5! 5!
2!1!1!
𝑥4
Terlihat bahwa hasil sebelumnya sama dengan koefisien dalam persamaan ini.
4!
𝑥𝑘
Selanjutnya, 𝑃(𝑥) merupakan fungsi pembangkit dari permasalahan di atas. Koefisien 𝑘!

Dalam 𝑃(𝑥), menyatakan banyaknya kata sandi (permutasi) dengan panjang 𝑘 yang dapat
dibentuk dengan aturan yang telah ditetapkan.
1 1 1
Sebagai contoh, terdapat 4! (2!1!1! + 3!1! + 3!1!) = 20 kata sandi dengan panjang 4. Dan
1 1 1 1
3! (3! + 1!1!1! + 2!1! + 2!1!) = 13 kata sandi dengan panjang 3.

Sebagai generalisasi uraian di atas, diperoleh proposisi berikut.

Proposisi 2
Misal terdapat 𝑝 macam (tipe) obyek dengan 𝑛𝑖 obyek tipe-𝑖 untuk 1 ≤ 𝑖 ≤ 𝑝. Maka
banyaknya permutasi-𝑘 sedemikian hingga dalam setiap permutasi terdapat paling banyak
𝑥𝑘
𝑛𝑖 obyek tipe-𝑖 sama dengan koefisien dalam Fungsi Pembangkit Eksponensial
𝑘!

berikut:
𝑥2 𝑥 𝑛1 𝑥 𝑛2 𝑥 𝑛𝑝
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥 + +. . . + ) (1 + 𝑥+. . . + ) (1 + 𝑥+. . . + )
2! 𝑛1 ! 𝑛2 ! 𝑛𝑝 !
Proporsi berikut penting dalam pemecahan permasalahan yang melibatkan Fungsi
Pembangkit Eksponensial.
25
Proposisi 3
𝑛
𝑥2 𝑥3 𝑛2 𝑥 2 𝑛3 𝑥 3
(𝑖) (1 + 𝑥 + + +. . . ) = 1 + 𝑛𝑥 + + +. ..
2! 3! 2! 3!
𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥 𝑥2 𝑥4 𝑥6
(𝑖𝑖) =1+ + + +. ..
2 2! 4! 6!
𝑒 𝑥 −𝑒 −𝑥 𝑥3 𝑥5 𝑥7
(𝑖𝑖𝑖) =𝑥+ + + +. ..
2 3! 5! 7!

Bukti:
𝑛
𝑥2 𝑥3
(𝑖) (1 + 𝑥 + + +. . . ) = (𝑒 𝑥 )𝑛
2! 3!

= 𝑒 𝑛𝑥
(𝑛𝑥)𝑘
= ∑∞
𝑘=0 𝑘!
(𝑛𝑥)0 (𝑛𝑥)1 (𝑛𝑥)2 (𝑛𝑥)3
= + + + +⋯
0! 1! 2! 3!
𝑛2 𝑥 2 𝑛3 𝑥 3
= 1 + 𝑛𝑥 + + +⋯
2! 3!
𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥 1
(𝑖𝑖) = 2 (𝑒 𝑥 + 𝑒 −𝑥 )
2

1 𝑥2 𝑥3 (−1)2 𝑥 2 (−1)3 𝑥 3
= 2 ((1 + 𝑥 + + +. . . ) + (1 + (−1)𝑥 + + + ⋯ ))
2! 3! 2! 3!

1 𝑥2 𝑥3 𝑥2 𝑥3
= 2 ((1 + 𝑥 + + +. . . ) + (1 − 𝑥 + − + ⋯ ))
2! 3! 2! 3!

1 𝑥2 𝑥4
= 2 (2 + 2 2! + 2 4! + ⋯ )
𝑥2 𝑥4
=1+ + +⋯
2! 4!
𝑒 𝑥 −𝑒 −𝑥 1
(𝑖𝑖𝑖) = 2 (𝑒 𝑥 − 𝑒 −𝑥 )
2

1 𝑥2 𝑥3 (−1)2 𝑥 2 (−1)3 𝑥 3
= 2 ((1 + 𝑥 + + +. . . ) − (1 + (−1)𝑥 + + + ⋯ ))
2! 3! 2! 3!

1 𝑥2 𝑥3 𝑥2 𝑥3
= 2 ((1 + 𝑥 + + +. . . ) − (1 − 𝑥 + − + ⋯ ))
2! 3! 2! 3!

1 𝑥3 𝑥5
= 2 (2𝑥 + 2 3! + 2 5! + ⋯ )
𝑥3 𝑥5
=𝑥+ + +⋯
3! 5!

26
Untuk contoh selanjutnya, kita perlu definisi berikut. Barisan kuarternair adalah barisan
yang unsur-unsurnya hanya menggunakan angka-angka 0, 1, 2, 3. Barisan kuartenair 𝑟-
angka adalah barisan kuarternair dengan panjang 𝑟. Misalnya, 1200323 atau 3101121
adalah barisan kuartenair 7-angka.
Sedangkan barisan binair adalah barisan yang unsur-unsurnya hanya menggunakan angka
0 dan 1. Barisan binair r-angka adalah barisan binair dengan panjang 𝑟. Misalnya,
101001 atau 100111 adalah barisan binair 6-angka.

Contoh 5
(a) Berapakah banyaknya barisan kuantenair 𝑟-angka yang memuat paling sedikit satu 1,
paling sedikit satu 2, dan paling sedikit satu 3 ?
(b) Ada berapa barisan binair 𝑟-angka yang memuat 0 sebanyak genap dan 1 sebanyak
genap pula ?
Penyelesaian :
(a) Pada barisan kuantenair, secara umum terdapat 4 angka yang berbeda yaitu 0, 1, 2,
dan 3. Angka 0 bisa muncul 0 kali, 1 kali, 2 kali, dan seterusnya; sedangkan untuk
setiap angka 1, 2, atau 3 dapat muncul paling sedikit sekali, dan urutan angka dalam
suatu barisan diperhatikan, maka untuk menjawab permasalahan diatas kita gunakan
Fungsi Pembangkit Eksponensial berikut :
3
𝑥2 𝑥3 𝑥2 𝑥3
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥 + + + ⋯ ) (𝑥 + + +⋯)
2! 3! 2! 3!
𝑥 (𝑒 𝑥 3
=𝑒 − 1)
= 𝑒 𝑥 (𝑒 3𝑥 − 3𝑒 2𝑥 + 3𝑒 𝑥 − 1)
= 𝑒 4𝑥 − 3𝑒 3𝑥 + 3𝑒 2𝑥 − 𝑒 𝑥
(4𝑥)𝑟 (3𝑥)𝑟 (2𝑥)𝑟 𝑥𝑟
= ∑∞
𝑟=0 − 3 ∑∞
𝑟=0 + 3 ∑∞
𝑟=0 − ∑∞
𝑟=0
𝑟! 𝑟! 𝑟! 𝑟!
𝑥𝑟
Banyaknya barisan = koefisien dari dalam 𝑃(𝑥)
𝑟!

= 4𝑟 − 3 ∙ 3𝑟 + 3 ∙ 2𝑟 − 1 ;𝑟≥0
= 4𝑟 − 3𝑟+1 + 3 ∙ 2𝑟 − 1 ;𝑟≥0

27
(b) Di sini ada dua angka yang berbeda yaitu 0 dan 1. Karena 0 dan 1 muncul sebanyak
bilangan genap pada setiap barisan, maka fungsi pembangkit dari persoalan tersebut
adalah :
2
𝑥2 𝑥4 𝑥6
𝑃(𝑥) = (1 + + + +⋯)
2! 4! 6!

𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥 2
=( )
2
𝑒 𝑥 +𝑒 −2𝑥 +2
= 4
1 𝑒 2𝑥 +𝑒 −2𝑥 1
= ( )+
2 2 2
1 (2𝑥)2 (4𝑥)4 (6𝑥)6 1
= 2 (1 + + + +⋯)+2
2! 4! 6!
𝑥2 𝑥4 𝑥6
= 1 + 2 2! + 23 + 25 +⋯
4! 6!
𝑥𝑟
Barisan yang dimaksud adalah koefisien dalam 𝑃(𝑥), yaitu 𝑎𝑟 dengan
𝑟!

0 , 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑟 𝑔𝑎𝑛𝑗𝑖𝑙
𝑎𝑟 = { 1 , 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑟 = 0
2𝑟−1 , 𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑟 𝑔𝑒𝑛𝑎𝑝 𝑑𝑎𝑛 𝑟 > 0

Contoh 6
Misalkan S adalah himpunan semua barisan ternair n-angka. Jika sebuah barisan
dipilih secara acak dari S, berapakah peluang barisan yang terpilih memuat angka 0
sebanyak ganjil dan angka 1 sebanyak genap?
Penyelesaian:
𝑒 𝑥 −𝑒 −𝑥 𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥
𝑃(𝑥) = ( 2
) ( 2
) (𝑒 𝑥 )
𝑒 2𝑥 −𝑒 −2𝑥
=( 4
) (𝑒 𝑥 )
𝑒 3𝑥 −𝑒 −𝑥
=
4
1
= 4 (𝑒 3𝑥 − 𝑒 −𝑥 )

1 9𝑥 2 27𝑥 3 81𝑥 4 𝑥2 𝑥3 𝑥4
= 4 ((1 + 3𝑥 + 2!
+ 3!
+ 4!
+ ⋯ ) − (1 − 𝑥 + 2!
− 3!
+ 4!
− ⋯ ))

1 3𝑛 𝑥 𝑛 (−1)𝑛 𝑥 𝑟
= 4 ((∑∞
𝑛=0 𝑛!
)− (∑∞
𝑛=0 𝑛!
))
1 𝑥𝑛
= (∑∞ 𝑛 𝑛
𝑛=0(3 − (−1) ) )
4 𝑛!

28
Jadi, peluang yang dimaksud adalah

𝑎𝑟 = ∑(3𝑛 − (−1)𝑛 )
𝑛=0

CATATAN : Fungsi Pembangkit Eksponensial dapat digunakan untuk memecahkan


masalah pendistribusian objek-objek yang berbeda ke dalam sel-sel yang berbeda.

Contoh 7
(a) Tentukan banyaknya cara mendistribusikan 𝑟 macam objek yang berbeda ke
dalam 𝑛 sel yang berbeda jika setiap sel mendapat paling sedikit satu objek ?
(b) Tentukan banyaknya cara mendistribusikan 𝑟 macam objek yang berbeda ke
dalam 𝑛 sel yang identik, bila setiap sel mendapat paling sedikit satu objek ?
Penyelesaian :
(a) Fungsi pembangkit dari masalah ini adalah :
𝑛
𝑥 𝑥2 𝑥3
𝑃(𝑥) = (1! + + +⋯)
2! 3!

= (𝑒 𝑥 − 1)𝑟
𝑛 𝑛 𝑛 𝑛
= ( ) 𝑒 𝑥𝑛 − ( ) 𝑒 𝑥(𝑛−1) + ⋯ + (−1)𝑘 ( ) 𝑒 𝑥(𝑛−𝑘) + ⋯ + (−1)𝑛 ( )
0 1 𝑘 𝑛
𝑥𝑟
Untuk 0 ≤ 𝑘 ≤ 𝑛 koefisien dalam 𝑒 𝑥(𝑛−𝑘) adalah (𝑛 − 𝑘)𝑟 .
𝑟!
𝑥𝑟
Maka koefisien dalam 𝑃(𝑥) adalah :
𝑟!
𝑛
𝑛
∑(−1)𝑘 ( ) (𝑛 − 𝑘)𝑟
𝑘
𝑘=0

Jadi banyaknya cara yang dimaksud adalah :


𝑛
𝑛
∑(−1)𝑘 ( ) (𝑛 − 𝑘)𝑟
𝑘
𝑘=0

(b) Karena 𝑛 sel identik, maka jawaban (a) harus dibagi 𝑛!


Jadi banyak cara mendistribusikan 𝑟 macam objek yang berbeda ke dalam 𝑛 sel
yang identik sedemikian hingga setiap sel memperoleh paling sedikit satu objek
adalah

29
𝑛
1 𝑛
𝑆(𝑟, 𝑛) = ∑(−1)𝑘 ( ) (𝑛 − 𝑘)𝑟
𝑛! 𝑘
𝑘=0

𝑆(𝑟, 𝑛) dikenal sebagai “bilangan Stirling ke-dua”. Perhatikan untuk 𝑛 > 𝑟,


𝑆(𝑟, 𝑛) = 0, sebab tidak ada cara menempatkan 𝑟 macam objek ke dalam 𝑛 > 𝑟
sedemikian hingga tiap sel memperoleh paling sedikit satu macam objek.

D. Rangkuman
 Fungsi Pembangkit Eksponensial (FPE) dari (𝑎𝑛 ) didefinisikan sebagai berikut.

𝑥𝑛 𝑥2 𝑥3
𝑃(𝑥) = ∑ 𝑎𝑛 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯
𝑛! 2! 3!
𝑛=0

 Proposisi 1: Misalkan terdapat 𝑘1 objek tipe satu, 𝑘2 objek tpe dua, ...., dan 𝑘𝑛 objek
tipe 𝑛. Jika semua objek tersebut dipermutasi, maka banyak permutasi yang mungkin
(∑𝑛
𝑖=1 𝑘𝑖 )!
adalah 𝑘 .
1 !𝑘2 !…𝑘𝑛 !

 Proposisi 2: Misal terdapat 𝑝 macam (tipe) obyek dengan 𝑛𝑖 obyek tipe-𝐼 untuk 1 ≤ 𝑖 ≤
𝑝. Maka banyaknya permutasi-𝑘 sedemikian hingga dalam setiap permutasi terdapat
𝑥𝑘
paling banyak 𝑛𝑖 obyek tipe-𝐼 sama dengan koefisien Dalam Fungsi Pembangkit
𝑘!

Eksponensial berikut:
𝑥2 𝑥 𝑛1 𝑥 𝑛2 𝑥 𝑛𝑝
𝑃(𝑥) = (1 + 𝑥 + +. . . + ) (1 + 𝑥+. . . + ) (1 + 𝑥+. . . + )
2! 𝑛1 ! 𝑛2 ! 𝑛𝑝 !
 Proposisi 3:
𝑛
𝑥2 𝑥3 𝑛2 𝑥 2 𝑛3 𝑥 3
(𝑖) (1 + 𝑥 + + +. . . ) = 1 + 𝑛𝑥 + + +. ..
2! 3! 2! 3!
𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥 𝑥2 𝑥4 𝑥6
(𝑖𝑖) =1+ + + +. ..
2 2! 4! 6!
𝑒 𝑥 −𝑒 −𝑥 𝑥3 𝑥5 𝑥7
(𝑖𝑖𝑖) =𝑥+ + + +. ..
2 3! 5! 7!

 Barisan kuarternair adalah barisan yang unsur-unsurnya hanya menggunakan angka-


angka 0, 1, 2, 3.
 Barisan binair adalah barisan yang unsur-unsurnya hanya menggunakan angka 0 dan 1.

30
E. Pertanyaan untuk Diskusi
1. Tentukan banyak cara menempatkan 𝑛 orang yang berbeda di dalam 100 kamar
berbeda sedemikian hingga tidak ada kamar kosong!
2. Sebuah kata sandi yang panjangnya 𝑘 dibentuk dengan menggunakan huruf-huruf
𝑎, 𝑏, dan 𝑐 sedemikian hingga memuat paling sedikit satu 𝑎, satu 𝑏, dan satu 𝑐. Ada
berapa kata sandi yang dapat dibentuk?
3. Tentukan banyak barisan binair 𝑛-angka yang memuat angka 1 sebanyak bilangan
genap!

31
F. LAMPIRAN
Kunci Jawaban dari Pertanyaan untuk Diskusi
1. Tentukan banyak cara menempatkan 𝑛 orang yang berbeda di dalam 100 kamar
berbeda sedemikian hingga tidak ada kamar kosong!
Jawab:
100
𝑥2 𝑥3 𝑥4
𝑃(𝑥) = (𝑥 + 2!
+ 3!
+ 4!
+⋯)

= (𝑒 𝑥 − 1)100
100 100𝑥 100 99𝑥 100 98𝑥 100 (100−𝑟)𝑥
=( )𝑒 −( )𝑒 +( )𝑒 + ⋯ + (−1)𝑟 ( )𝑒 + ⋯+
0 1 2 𝑟
(−1)100 (100)
100
𝑟 100 (100
= ∑100
𝑟=0(−1) ( ) − 𝑟)𝑛
𝑟
Jadi, banyaknya cara yang dimaksud adalah
100
100
𝑎𝑟 = ∑(−1)𝑟 ( ) (100 − 𝑟)𝑛
𝑟
𝑟=0

2. Sebuah kata sandi yang panjangnya 𝑘 dibentuk dengan menggunakan huruf-huruf


𝑎, 𝑏, dan 𝑐 sedemikian hingga memuat paling sedikit satu 𝑎, satu 𝑏, dan satu 𝑐. Ada
berapa kata sandi yang dapat dibentuk?
Jawab:
3
𝑥2 𝑥3 𝑥4
𝑃(𝑥) = (𝑥 + 2!
+ 3!
+ 4!
+⋯)

= (𝑒 𝑥 − 1)3
= 𝑒 3𝑥 − 3𝑒 2𝑥 + 3𝑒 𝑥 − 1
(3𝑥)𝑘 (2𝑥)𝑘 (𝑥)𝑘
= (∑∞
𝑘=0 𝑘!
) − 3 (∑∞
𝑘=0 𝑘!
) + 3 (∑∞
𝑘=0 𝑘!
)−1
3𝑘 𝑥 𝑘 2𝑘 𝑥 𝑘 𝑥𝑘
= (∑∞
𝑘=0 𝑘!
)− 3 (∑∞
𝑘=0 𝑘!
)+ 3 (∑∞
𝑘=0 𝑘! ) − 1

Jadi, banyaknya kata sandi yang dapat dibentuk adalah


3𝑘 − 3. 2𝑘 + 3 , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘 > 0
𝑎𝑘 = {
−1 , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘 = 0

3. Tentukan banyak barisan binair 𝑛-angka yang memuat angka 1 sebanyak bilangan
genap!
32
Jawab:
𝑒 𝑥 +𝑒 −𝑥
𝑃(𝑥) = ( ) (𝑒 𝑥 )
2
𝑒 2𝑥 +𝑒 0
= 2
𝑒 2𝑥 +1
= 2
𝑒 2𝑥 1
= 2
+2
1 𝑒 2𝑥
= +
2 2
1 1 4𝑥 2 8𝑥 3 16𝑥 4
= + (1 + 2𝑥 + + + + ⋯)
2 2 2! 3! 4!
1 1 2𝑥 2 4𝑥 3 8𝑥 4
= 2 + (2 + 𝑥 + 2!
+ 3!
+ 4!
+ ⋯)
2𝑥 2 4𝑥 3 8𝑥 4
=1+𝑥+ 2!
+ 3!
+ 4!
+⋯
𝑥𝑛
= 1 + ∑∞
𝑛=1 2
𝑛−1
𝑛!

Jadi, banyaknya barisan tersebut adalah


1 , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑛 = 0
𝑎𝑛 = { 𝑛−1
2 , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑛 > 0

33

Anda mungkin juga menyukai