Anda di halaman 1dari 113

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG

VANAME Litopenaeus vannamei

Hidayat Suryanto Suwoyo, S.Pi, M.Si


Disampaikan pada Acara Diseminasi Teknologi Budidaya Udang Vaname Ekstensif Plus
Maros, 2-7 September 2018

BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU


DAN PENYULUHAN PERIKANAN
PUSAT RISET PERIKANAN
BRSDMKP
2018
Pendahuluan
PENDAHULUAN
 Potensi Lahan Tambak : 2.963.717 ha
Pemanfaatannya : 657.346 ha
 Komoditas prioritas dalam pengembangan budidaya tambak :
Udang windu dan vaname
 Industri hulu s/d hilir sudah cukup berkembang
 Permintaan pasar ekspor yang tinggi
 Bernilai ekonomis tinggi / usaha yg mnguntungkan
 Menyerap tenaga kerja yang besar
 Proyeksi Produksi Udang (KKP 2018):
Pada tahun 2018, target produksi perikanan budidaya sebesar 24,08 juta
ton yang terdiri dari rumput laut 16,17 juta ton dan ikan (7,91 juta ton) .
Target Produksi udang nasional 2018 sebesar 800 ribu ton terdiri dari
udang Vannamei,udang windu dan udang lainnya dengan total luasan
tambak 662.650,13 Ha.
22%

78%
Dimanfaatkan
Belum dimanfaatkan
POSISI INDONESIA SEBAGAI NEGARA
PRODUSEN AKUAKULTUR DUNIA

China China 53.942.924


Indonesia 9.599.765
Indonesia
India 4.213.917
India
Vietnam 3.320.100
Vietnam
Philipines 2.541.965
Philipines
Bangladesh 1.726.066
Bangladesh
60 % Korea Rep. 1.506.730
Korea Rep. Norwegia 1.321.119
11 % Norwegia Thailand 1.233.877
Thailand Chile 1.075.547
Chile Other 9.950.094
Other Total 90.432.105
5 Sumber: FAO, Fishery &
Aquaculture Statistics, 2014
TOTAL
3.842.989
BEBERAPA PRODUK UDANG OLAHAN
Regulasi di Indonesia untuk melakukan ekspor udang cukup banyak.
Dokumen yang ditetapkan oleh KKP sebagai competent agency cukup banyak.
Dokumen-dokumen dari KKP seutuhnya untuk menjamin bahwa produk yang
dihasilkan aman dan berkualitas. Beberapa sertifi kasi yang harus dimiliki
untuk ekspor udang adalah:
(a) GAP (Good Aquaculture Practices)
(b) GHcP (Good Hacthery Pratices)
(c) RMP (Residues Monitoring Programme)
(d) CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik)
(e) CPIB (Cara Penanganan Ikan yang Baik)
(f ) HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point)
(g) HC (Health Certifi cate)
CBIB merupakan bagian dari Sistem Pengendalian Jaminan
Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan

CBIB adalah cara memelihara dan/atau membesarkan ikan serta


memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga
memberikan jaminan keamanan pangan dari pembudidayaan dengan
memperhatikan sanitasi, pakan, obat ikan dan bahan kimia serta biologis

Tujuan :
menjamin mutu & keamanan pangan hasil
pembudidayaan ikan
CBIB merupakan bagian dari Sistem Pengendalian Jaminan
Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan

Good Aquaculture Practices (GAP/CBIB) adalah semua tindakan yang


dilakukan dengan kontrol yang baik dalam memelihara dan memanen
produk perikanan budidaya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan ,
dalam rangka menghasilkan produk perikanan budidaya yang
berkualitas dan aman (Germano, 2006)

Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk


mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan
benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia
4 Aspek Prinsip Dasar CBIB dalam
Konsep Budidaya Udang

03
01 02 04
ASPEK
ASPEK ASPEK ASPEK
MANAJEMEN
KEAMANAN LINGKUNGAN
TEKNIS
PANGAN
Ruang Lingkup Cakupan Komponen
Kelayakan lokasi , konstruksi dan sumber air
Kelayakan fasilitas (gudang pakan , gudang perlatan, sarana pengemasan
Aspek Teknis Proses produksi mengacu pada SNI
Penerapan Biosecurity ( upaya pengamanan sistem budidaya dari kontaminasi
patogen
Struktur organisasi dan manajemen
Pengolahan data, dokumentasi, rekaman
Aspek Manajemen
Rekaman pembelian pakan, pengolahan kolam, kasus penyakit, pemberian pakan,
pemilihan benihmonitoring kualitas air dll
Mencegah hasil budidaya dari cemaran biologis, kimia dan benda lain
Aspek Keamanan Memenuhi persyaratan sanitasi
Pangan Kualitas air sumber tidak mengandung logam berat, pestisida, organisme patogen,
bahan kimia berbahaya
Tidak mencemari lingkungan, menerapkan sistem resirkulasi atau pergantian air
minimum(Low water exchange)

Aspek Lingkungan Melakukan upaya pengendapan bahan tersuspensi


Menggunakan biofilter, mengangkat bahan bahan terendapkan
Penanaman mangrove pada aeral pembuangan
Persyaratan penilaian kesesuaian dalam penerapan CBIB pada unit
Usaha Budidaya meliputi :
1. Lokasi
2. Suplai air
3. Tata letak dan desain
4. Kebersihan fasilitas dan perlengkapan
5. Persiapan wadah budidaya
6. Pengelolaan air
7. Benih
8. Pakan
9. Penggunaan bahan kimia, bahan biologi dan obat ikan
10. Penggunaan es dan air
11. Panen
12. Penanganan hasil
13. Pengangkutan
14. Pembuangan limbah
15. Pencatatan
16. Tindakan perbaikan
17. Pelatihan
18. Kebersihan Personil
POTENSI TAMBAK INDONESIA
Potensi Tambak 2.963.717 ha
22% Dimanfaatkan 657.346 ha
Belum dimanfaatkan 2.306.371 ha

78%

Dimanfaatkan
Belum dimanfaatkan

Potensi Lahan Tambak Berdasarkan Tingkat


Teknologi
6%
2%

92%

Intensif Semiintensif Ekstensif


 Peningkatan produksi udang dapat dilakukan dengan:
 Ekstensifikasi (perluasan areal budidaya),
 Intensifikasi (peningkatan teknologi) dan
 Diversifikasi (penambahan jenis komoditi budidaya dan
produk hasil budidaya).
 Kendala utama dilapangan :
 Masalah penyakit udang ( virus, bakteri, parasit, jamur, dll)
 Terbatasnya induk/benih SPF/SPR
 Rendahnya produksi & produktivitas lahan (degradasi lingk)
 Tingginya harga sarana produksi (pupuk, benur, pakan)
 Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya
 ± 90 % petani tambak tergolong menerapkan
teknologi sederhana.
Kelayakan Budidaya

SARANA
Tambak, Kolam, KJA
PENGARUH
MANUSIA INPUT HARA
Sikap, pasar, Kebijakan, KELAYAKAN Pakan, Pupuk
hukum, kelembagaanl
BUDIDAYA
IKAN,UDANG
SPESIES
Udang, Ikan
LINGKUNGAN
Tanah, Iklim, perairan, dll
TEKNOLOGI
Tingkat Intensitas

FAKTOR-FAKTOR INDEPENDEN FAKTOR-FAKTOR DEPENDEN


Gambar 1. Faktor-faktor dependen dan independen yang berpengaruh terhadap
kelayakan akuakultur ( Schmittou, 1991)
Tabel 1. Kategori daya dukung lahan pantai untuk pertambakan
Kategori daya dukung
No Tolok ukur
Tinggi Sedang Rendah
1 Tipe pantai Terjal, karang, berpasir Terjal, karang, berpasir, Sangat landai,
sedikit berlumpur terbuka berlumpur, siltasi,tinggi
2 Tipe garis pantai Konsisitensi tanah labil, bukan teluk/ Konsisitensi tanah labil, Konsisitensi tanah
laguna bukan laguna/teluk sangat labil, teluk/
laguna
3 Arus perairan Tinggi Sedang Lemah
Amplitudo pasang
4 > 15 dm 12-15 dm < 12 dm
surut
5 Elevasi Dapat diairi cukup saat pasang Dapat diairi cukup saat Dasar tambak pada
tinggi rataan dan dikeringkan total pasang tinggi rataan, dan surut rata rata,
pada saat surut rataan dapat dikeringkan total pada sehingga dapat diairi
saat air rendah rataan secara gravitasi pada
saat pasang.

6 Mutu tanah Tekstur tanah sandy clay, sandy clay Tekstur tanah sandy clay, Tekstur lumpur atau
loam, tidak bergambut, tidak berpirit, sandy clay loam, tidak lumpur berpasir,
kandungan logam berat rendah bergambut, kandungan pirit bergambut, kandungan
rendah pirit tinggi, kandungan
logam berat rendah

Dekat sungai tetapi


Dekat sungai dengan mutu dan Dekat sungai dengan mutu
7 Air tawar siltasi tinggi atau air
jumlah memadai dan jumlah yang memadai
gambut
8 Jalur hijau Memadai Memadai Tipis/ tanpa jalur hijau
9 Curah hujan < 2.000 mm/th 2.000– 2.500 mm/th > 2.500 mm/th
Jauh dari sumber Jauh dari sumber
10 Tata ruang Tidak ada pencemaran
pencemaran pencemaran
Sumber : Poernomo, 1989
Tingkat teknologi budidaya udang

 Tingkat teknologi budi daya udang vaname di tambak


ditentukan oleh padat penebaran dan akuainput lainnya,
ketersediaan sarana dan prasarana produksi.
 Teknologi budi daya udang vaname terdiri dari teknologi
ekstensif, teknologi ekstensif-plus, teknologi semi-
intensif, teknologi intensif, dan teknologi super intensif
 Kepadatan
Teknologi Kepadatan (ekor/m2)
Budidaya Udang Udang Windu Udang Vaname
Tradisional 2–5 <8
- Monokultur >2
- Polikultur 2–3
- Tradisional Plus 5
Semi-Intensif 6-15 15 - 25
Intensif > 15 > 50

 Saprokan

Teknologi Saprokan
Budidaya Pompa Kincir Pkn Alami Pkn Komersil
Tradisional - - +++ - (+)
Semi Intensif + + + ++
Intensif +++ +++ + +++
Tingkat teknologi budidaya udang vaname di tambak
Padat Kebutuhan
Teknologi penebaran
Budi daya (ekor/m2) Pakan Sarana Prasarana

- Ekstensif <5 Pakan alami Tanpa pompa Inlet bersatu dengan


- Ekstensif 6--8 Pakan alami+ Pompa air outlet
plus pakan komersil Pompa air, kincir Inlet dan outlet
- Semi 50--80 Pakan komersil air Terpisah
intensif Tandon air sumber
- Intensif 100--300 Pakan komersil Pompa air, kincir
- Super air, Tandon air sumber,
intensif >300--1000 Pakan komersil Pompa air, kincir, tandon air limbah
root-blower
Tandon air sumber,
IPAL
Modifikasi : Mangampa et al., 2014
Perkembangan Budidaya Ikan/udang

Ekstensif Semi-intensif Intensif Super-intensif

Subsistem Komersial

Proses Transformasi
<3 >3–6 > 10 – 30 > 100
ton/ha/th ton/ha/th ton/ha/th ton/ha/th
Teknologi Ekstensif Plus
BUDIDAYA UDANG WINDU TRADISIONAL/EKSTENSIF PLUS

 Budidaya Tradisional :
- teknologi sederhana
- padat tebar rendah
- mengandalkan pakan alami
- pasang surut
- luas tambak 3-10 ha
- produksi rendah
 Plus :
- sarana tambahan (pompa air,pompa sepak)
- pemberian pakan secukupnya
- aplikasi probiotik
Sistem Tradisonal dengan kriteria
sebagai berikut :
 Sangat tergantung pada alam (tidak ada campur tangan
manusia)
 Penerapan teknologi sangat minim (hanya mengandalkan
pakan alami, benur dari alam, tidak menggunakan pompa
dan kincir air)
 Biaya produksi rendah (± 5 – 10 juta/ha)
 Tingkat resiko masih rendah
 Padat penebaran < 10 ekor/m2
 Hasil produksi masih rendah (< 2 ton/ha)
 Jumlah SDM < 2 orang/ha
 Kualitas SDM masih rendah (setingkat SD dan SMP)
Saluran Keliling

Pelataran

Desain tambak dengan teknologi sederhana, tampak samping (atas)


dan tampak atas (bawah)
CARA PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG VANAME EKSTENSIF-PLUS

 Persiapan tambak
- Persiapan tanah dasar/petakan
- Pemberantasan hama
- Pengapuran
- Pemupukan
- Persiapan air penebaran
 Pentokolan benur vaname :
 Penebaran tokolan :
 Pemeliharaan
- Pemantauan kualitas air, dan pertumbuhan udang
- Pemupukan dan pengapuran susulan
- Aplikasi probiotik
- Pemberian pakan
 Panen
Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan
sampai aplikasi

Keberhasilan suatu budi daya tambak sangat ditentukan oleh persiapan


tambak yang baik. Persiapan tambak meliputi :
(a) persiapan tanah dasar dan perbaikan pematang, bertujuan
mengoksidasikan bahan organik dan asam belerang,
(b) Pemberantasan hama bertujuan memberantas hama serta
organisme akuatik lain yang menjadi saingan organisme yang
dibudidayakan
(c) pengapuran bertujuan untuk meningkatkan derajad keasaman
tanah,
(d) pemupukan bertujuan meningkatkan ketersediaan nutrien untuk
menumbuhkan pakan alami,
(e) pengisian air tambak.
Persiapan tanah dasar dan perbaikan petakan

Jenis tanah tambak ekstensif (tradisional)  tanah


gambut dan tanah sulfat masam (TSM) yang sudah
matang, (kawasan lahan rawa).
 Perbaikan tanah sulfat masam  Proses Remediasi.
 Remediasi meliputi tahapan pengolahan,
pengeringan, perendaman, dan pembilasan tanah
 Persiapan tanah dasar meliputi pengangkatan lumpur
dasar (keduk teplok), penambalan/peninggian
pematang, perbaikan pintu air, dan saluran pembawa
/pembuang.
Persiapan tanah dasar
 Pola tanam I
(Februari s/d Juli)
- Perbaikan pematang
- Keduk teplok
- Pengeringan

 Pola tanam II
(Agustus s/d Januari)
- Pengolahan /pembalikan
tanah (cangkul atau bajak)
- Pengeringan sempurna
- Pencucian
2. Pemberantasan Hama
• Pemberantasan hama tidak menggunakan bahan kimia yang berbahaya
dan pestisida yang terlarang
 Pemberantasan hama dianjurkan menggunakan saponin dengan cara
merendam saponin di dalam air selama 2 jam, kemudian air rendaman
saponin disebarkan secara merata ke seluruh permukaan air tambak.
Penggunaan saponin disesuaikan dengan kondisi musim.
 Dosis saponin yang digunakan tergantung pada salinitas air tambak, yaitu
apabila salinitas air kurang dari 15 ppt maka dosis yang digunakan adalah
20 ppm (100 kg saponin/ha, ketinggian air 0,5 m dari dasar) dan apabila
salinitas air lebih atau sama dengan 15 ppt digunakan dosis 15 ppm (75 kg
saponin/ha, ketinggian air 0,5 m dari dasar).
 Aplikasi saponin sebaiknya dilakukan antara pukul 09.00-12.00 pada
kondisi cuaca yang cerah sehingga penggunaan saponin efektif dan efisien.
Persiapan Tambak

Perbaikan Pematang Pengeringan Tambak

Pengolahan/pembalikan Tanah Pemberantasan hama


Kegiatan persiapan tambak untuk budidaya udang
Pengapuran
 Pada teknologi budi daya udang vaname ekstensif plus pengapuran
dapat dilakukan sebagai berikut :
 Pengapuran awal digunakan kapur karbonat (kapur pertanian) pada
saat pengolahan tanah dan sesudah pencucian tambak dengan dosis
1500 kg/ha
 Pengapuran dengan kapur oksida pada kondisi tanah yang busuk (H2S)
utamanya pada bagian caren, dan untuk menstimulir pemberantasan
hama. Kapur oksida ini memiliki reaksi cepat namun daya
netralisirnya cepat berkurang. Dosis yang digunakan 1.200 kg/ha
 Kapur dolomit digunakan pada saat menumbuhkan pakan alami dan
efektif digunakan sebagai kapur susulan (3-5 ppm)
Jenis-jenis kapur yang digunakan di tambak
Kadar
No Jenis kapur Formula
Ca2+
1 Kalsium karbonat atau kapur CaCO3 40%
kalsit atau kapur pertanian
(Kaptan)
2 Kapur Oksida atau quicklime atau CaO 71 %
kapur bakar
3 Kapur Hidrat atau slaked lime Ca(OH)2 54 %
atau kalsium hidroksida
4 Kapur Dolomit CaMg(CO3)2 Tidak ada
info
Pemupukan
 Pada budidaya udang vaname ekstensif plus disamping penggunaan pupuk
anorganik juga disarankan untuk menggunakan pupuk organik
 Dosis pupuk dasar ditentukan oleh kesuburan dari tanah tambak tanah
sulfat masam
Kesuburan tanah Kebutuhan pupuk (kg/ha)
Urea SP-36
Total-N > 0,5%; PO4 > 60 ppm 50 100
Total-N > 0,5%; PO4 30-60 ppm 50 125
Total-N > 0,5%; PO4 < 30 ppm 50 150
Total-N 0,25-0.5%; PO4 > 60 ppm 75 100
Total-N 0,25-0.5%; PO4 30-60 ppm 75 125
Total-N 0,25-0.5%; PO4 < 30 ppm 75 150
Total-N < 0,25%; PO4 > 60 ppm 100 100
Total-N < 0,25%; PO4 30-60 ppm 100 125
Total-N < 0,25%; PO4 < 30 ppm 100 150
Pengisian air
 Pemasukan dan pengeluaran air tambak dapat dilakukan
melalui pintu air .
 Pengisian air dilakukan pada saat air pasang telah stabil (1-2
jam setelah pasang) dengan ketinggian air dalam petak
tambak 60-80 cm
 Pada budidaya udang vaname ekstensif plus disarankan
menggunakan pintu air yang terbuat dari pintu kayu untuk
memperoleh kuantitas yang cukup, kualitas air yang baik,
dan efisien dalam biaya operasional.
Pengapuran Pemupukan

Pengisian Air ke petak tambak


Aplikasi Probiotik

Memperbaiki kualitas lingkungan


(Verschuere et al, 2000)

TAMBAK UDANG
Penebaran Tokolan Vaname
 Ukuran benih yang digunakan pada budi daya
udang vaname ekstensif plus adalah tokolan
berumur 15 hari dari PL-12 (PL-27)
 Bobot udang berkisar 0,15-0,20 g/ekor
 Kepadatan tokolan di pembesaran adalah
maksimal 80.000 ekor /ha (8 ekor/m2)
Teknik memilih benur yang baik yaitu:
 Benih yang ditebar dalam kondisi sehat, bebas penyakit
(deteksi PCR) dan berasal dari unit pembenihan
bersertifikat dan tidak mengandung penyakit berbahaya
maupun obat ikan
 Keseragaman ukuran; ukuran dari populasi benur yang
seragam (lebih besar dari 80%) dapat terhindar dari
kanibalisme dan pertumbuhan yang kerdil.
 Panjang PL; panjang PL udang vaname pada saat PL 10-12
yaitu sekitar 10-12 mm atau gunakan benur yang sudah
kuat (PL 25-27).
 Aktivitas renang; gerakan berenang aktif, menentang arah
arus, cenderung mendekat ke arah cahaya (fototaksis
positif) dan melonjat menjauh jika ada kejutan.
 Makanan; usus udang terlihat penuh dengan makanan.
 Warna tubuh; tubuh transparan dan berwarna kecokelatan
atau kehitaman menunjukkan vitalitas tinggi dan
pertumbuhan cepat, jangan memilih benur yang berwarna
merah atau merah muda karena menandakan benur yang
mengalami stres.
Laporan Hasil Uji Laboratorium
Keuntungan Pentokolan Vaname
 Memperbaiki vitalitas benur
 Efisien dalam penggunaan pakan
 Menjamin ketersediaan tokolan dalam kesesuaian pola tanam di
pembesaran,
 Mempersingkat waktu pemeliharaan di pembesaran
sehingga mengurangi peluang terserangnya penyakit
 Pentokolan Udang Vaname
 Wadah  Hapa waring hijau & bak fiber
 Aerator hyblow 200 GJ, aerasi
 Tinggi air tambak 1,0 -1,2 m dan
 Tinggi air dlm hapa 0,8 m
 Kepadatan benur vanamei 6000 ekor/m3
(Mangampa dan Hendradjat, 2006)
 Ukuran benih  PL12 (0,001 g/ekor), -> SPF
 Pakan komersial, dosis 50-100% BB,
Frekuensi 2 x/hari
 Lama pentokolan 15 hari (Tahe et al., 2009)
…. Lanjt pentokolan udang vaname

Pertumbuhan dan Sintasan udang vaname selama 15 hari di pentokolan

Kepadatan dalam hapa (ekor/m3)


Variabel 4000 6000 8000
Berat awal rata-rata (g/ekor) 0,001 0,001 0,001
Berat akhir rata-rata (g/ekor) 0,109 0,152 0,134
Lama pemeliharaan (hr) 15 15 15
Survival rate (%) 93,17 92,35 83,73
Sumber : Mangampa dan Hendrajat (2006)

Benur Vaname PL-12 Tokolan vaname

HAPA
0,004 g/ekor 0,152 g/ekor
Pemeliharaan/Pembesaran
Pengamatan kualitas air dan Pertumbuhan udang

Pengamatan
kualitas air
- Harian : pH, suhu (oC),
Salinitas (ppt), DO(mg/L),
kecerahan (cm), warna air

Pengamatan udang
- setiap 1 – 2 minggu :
pertumbuhan dan
kesehatan udang
Pengelolaan Air
 Dilakukan upaya filterisasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas
air yang sesuai untuk ikan/udang yang dibudidayakan
 Monitor kualitas air sumber secara rutin untuk menjamin kualitas air
yang sesuai untuk ikan/udang yang dibudidayakan

Sumber: Penerapan CBIB pada Unit Usaha Budidaya,(2010)


Parameter kualitas air yang diamati selama pemeliharaan

Parameter Kualitas Air Kisaran Optimun Keterangan


- Suhu (oC) 26 – 30 Fluktuasi < 3
- pH 7,5 - 8,5 Fluktuasi < 0,5
- Salinitas (ppt) 10 – 25 Fluktuasi < 5,0
- DO (ppm) > 4,0 Kondisi alami
- Alkalinitas > 100 Menstabilkan pH dan Plankton
- Kecerahan (cm) 30 - 40 Indikator Plankton
Beberapa parameter kualitas air untuk budidaya udang vaname
Parameter Toleransi/Optimal Pustaka
DO (ppm) 2/ >3 Clfford (1998)
16 – 36 / 28 – 31 Anonim (2003)
Temperatur (0C) 23 – 30 Wyban &Sweny (1991)
Salinitas (ppt) 1 – 40 Bray et al, 2004
0,5 – 45 Mc Graw dan Scarpa
pH 7,5 – 8,5 Anonim (2003)
7,4 – 8,9/ 8,0 Wyban &Sweny (1991)
Kecerahan (cm) 40 – 60 Adiwijaya et al (2003)
30 – 60 Anonim (2003)
Kedalaman (cm) 100 -120 Suprapto (2005)
NH3 (ppm) < 1 (Benur), 3 (Dewasa) Buwono (1993)
0,4 – 2,3 Samocha & Lawrence 1993
1,6 – 2,78 (LC 50) Lin dan Chen (2001)
NO2 (ppm) 0,01 – 0,05 Haliman & Adijaya (2005)
<1 Clifford (1994)
NO3 (ppm) 0,4 – 0,8 Clifford (1994)
0,2 – 0,9/ 0,1 – 4,5 (Algae) Effendi (2000)
H2S (ppm) < 0,050 Boyd (1991)
< 0,005 / Maks 0,05 Chien (1992)
0,002 Effendie (2000)
Alkalinitas (ppm) 20 – 200 Liu (1989)
BOT (ppm) <55 Adiwijaya (2003)
TSS (ppm) 25 - 500 Soemardjati&suriawan (2007)
 Pemberian pakan setelah memasuki bulan II
dengan dosis 2,5 - 5% dan frekuensi 2 kali
Penggunaan Pakan Ikan /Udang
1. Penggunaan pakan ikan pada proses produksi harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. mengandung nutrisi yang terdiri dari sumber kalori dan protein sesuai kebutuhan dari masing-
masing jenis dan umur ikan;
b. meningkatkan pertumbuhan atau keindahan penampilan (eksotika) ikan secara optimal;
c. tidak mengandung zat beracun, bahan pencemaran yang berbahaya bagi ikan dan/atau manusia, atau
yang mengakibatkan penurunan produksi atau menyebabkan pencemaran/kerusakan lingkungan;
d. tidak mengandung antibiotik dan hormon;
e. pakan telah terdaftar atau bersertifikat;
f. masih layak digunakan melalui proses uji mutu;
g. tidak mengalami perubahan fisik (tekstur, warna, dan bau);
h. kemasan, wadah, atau pembungkusnya tidak rusak;
i. menggunakan bahan baku, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan yang memenuhi persyaratan.

2. Pemberian pakan tidak dicampur dengan antibiotik dan hormon.


3. Bahan baku pakan, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan, tidak membahayakan ikan, manusia, dan
lingkungan, serta harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
4. Bahan baku pakan, pelengkap pakan, dan imbuhan pakan, sebelum digunakan harus dilakukan
pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap kandungan bahan asing, bahan kimia, mikro-
organisme, dan zat beracun.

Sumber : KepMen KP No. KEP.02/MEN/2007 tentang CBIB


Penyimpanan, Penimbangan dan Pemberian pakan
Panen dan Penanganan Hasil Panen
 Panen merupakan proses akhir dalam produksi hasil budidaya tambak udang vaname
dengan teknologi ekstensif plus
 Panen udang vaname pola ekstensif plus dilakukan setelah mencapai bobot konsumsi
pasar minimal 100 ekor/kg yaitu dengan umur kurang lebih ≥ 70 hari
 Pemanenan udang vaname hasil budidaya ekstensif plus umumnya dilakukan dengan
sistim panen total dengan bobot akhir individu memperlihatkan variasi yang relatif kecil
yaitu 13-14 g/ekor
 Peralatan panen yang disiapkan antara lain keranjang panen, jaring, jala lempar,
stirofoam, ember dan baskom.
 Cara panen dapat dilakukan melalui pintu panen menggunakan jaring kantong atau
dengan jala buang dan jaring arak
 Penanganan hasil panen udang vaname dilakukan dengan membersihkan udang dari
tambak dengan air bersih, kemudian diberikan es, dan sebaiknya udang mati pada saat
didalam bongkahan es.
 Pemberian es disusun secara berlapis yakni bongkahan es curah, kemudian udang
vaname selanjutnya diberikan es kembali.
KEAMANAN PANGAN PADA SAAT PANEN DAN PENANGANAN HASIL

Keamanan Pangan Pada Saat Panen (KepMen KP No. KEP.02/MEN/2007 tentang CBIB)
1. Kegiatan pembudidayaan ikan diterapkan pada saat panen, penanganan, dan pendistribusian hasil.
2. Panen meliputi peralatan dan cara panen.
3. Peralatan panen harus menggunakan bahan yang tidak merusak fisik, tidak terbuat dari bahan yang
beracun dan berbahaya serta berpotensi mencemari produk, tidak mudah korosif, dan mudah
dibersihkan.
4. Cara panen dilakukan dengan cepat dan cermat.
Keamanan Pangan Pada Penanganan Hasil
1. Penanganan hasil meliputi: pemilihan lokasi, sarana, dan prasarana, serta cara
penanganan hasil produk; bahan dan cara pengemasan hasil produk
2. Pemilihan lokasi penanganan hasil memenuhi persyaratan:
3. Sarana dan prasarana yang meliputi desain dan konstruksi bangunan, tata
letak, peralatan, dan instalasi harus memenuhi persyaratan:
4. Penanganan hasil panen
5. Es atau air yang didinginkan menggunakan air tawar atau air laut bersih dengan
mutu sesuai Peraturan yang berlaku.
6. Bahan dan cara pengemasan hasil produk, memenuhi persyaratan:
7. Pengemasan ikan hidup dapat dilakukan dengan cara basah dan cara kering.
8. Cara basah dengan menggunakan air dan oksigen yang cukup dan/atau diberi es
curah di luar kantong/plastik pembungkus.
9. Cara kering tidak menggunakan air, namun dapat menggunakan serbuk gergaji yang
diberi es dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan yang tidak menggunakan
obat dan bahan kimia terlarang.
10. Pengemasan ikan segar/mati, dengan pemberian es curah/es kering.

Sumber : KepMen KP No. KEP.02/MEN/2007 tentang CBIB


Hasil Kaji terap budidaya udang vaname ekstensif plus di Beberapa Daerah

Judul Kaji Terap Tahun Lokasi Hasil

Budidaya udang vaname 2005 Maros Pada kepadatan 8 ekor/m2 menghasilkan sintasan yang
tradisional plus (Padat tinggi dengan FCR yang rendah yaitu 60,97% dan 1,79
Penebaran optimal) berbeda dengan kepadatan 4 ekor/m2 dan 6 ekor/m2
(dengan sintasan masing-masing 55,35% dan 5244% dan
FCR masing-masing 2,49 dan 2,24. Produksi berkisar
35,96-70,09 kg/1000 m2
Riset Pengembangan 2006 Barru Hasil panen udang vaname 1050,6 kg/ha, dengan bobot
Budidaya udang vaname rata rata 11,02 g/ekor, sintasan 96,14% dan konversi
Tradisional Plus pakan 1,33
(Peningkatan padat
tebar)
Riset Pengembangan 2007 Selayar Pemeliharaan menggunakan benur vaname Pl-12 selama
Budidaya udang vaname 110 hari, menghasilkan panen udang vaname 1008 kg/ha,
Tradisional Plus dengan bobot rata rata 12,6 g/ekor, sintasan 100% dan
(Perbandingan konversi pakan 1,15. Sedangkan pemeliharaan
Penggunaan Tokolan dan menggunakan benih tokolan (Pl-27) vaname selama 90
Benur vaname) hari pemeliharaan, menghasilkan panen udang vaname
1100 kg/ha, dengan bobot rata rata 13,7 g/ekor, sintasan
100% dan konversi pakan 1,14
Lanjutan .....

Judul Kaji Terap Tahun Lokasi Hasil

Dempond DKP Sulsel 2008 Maros Selama 90 hari pemeliharaan, menghasilkan panen
untuk Budidaya udang udang vaname 850 kg/ha, dengan bobot rata rata 12,4
vaname Tradisional Plus g/ekor, dan sintasan 85,55%
(Penggunaan tokolan dan
padat tebar optimal)
Ukuran tokolan yang 2009 Maros Hasil yang diperoleh Bobot akhir udang vaname pada
optimal untuk Budidaya ukuran benih yang berbeda yakni benur (PL 12),
udang tradisional plus Tokolan 15 hari (PL 27), dan Tokolan 30 hari (PL 42)
masing-masing 12,08, 14,88 dan 14,35 g dengan
produksi 26,78; 36,65 dan 31,40 kg/500 m2 dengan
Sintasan berkisar 66,70-82,09% dan FCR 1,06-1,31.
Wadah tokolan yang 2009 Maros Produksi udang vaname dengan wadah pentokolan
optimal untuk budidaya berbeda dari Hapa , bak terkontrol dan tebar
udang vannamei langsung (PL12) masing-masing sebesar 50,29;
tradisional plus 51,68 dan 43,96 kg/500 m2, SR berkisar 78,72-
90,51%, Bobot akhir 13,96-14,64 g/ekor dan FCR
1,09-1,28
Pertumbuhan udang vannamei selama 100 hari
pemeliharaan
18

BUDIDAYA UDANG 16
14

VANAME TRADISIONAL

Berat (g/ekor)
12
4 ekor/m2
10
8 6 ekor/m2

PLUS 6 8 ekor/m2
4
2
0
0 14 28 42 56 70 84 98
Waktu pe me liharaan (hari)

Parameter Perlakuan (Treatmen)


A B C

Kepadatan (ekor/ptk) 4000 6000 8000


Waktu pemeliharaan (hari) 100 100 100
Berat awal (g/ekor) 0,001 0,001 0,001
Berat akhir (g/ekor) 16,24 15,53 14.37
Sintasan (%) 55.35 52.44 60.97
Produksi (kg/ptk) 35.96 48,l8 70.09
RKP 2.49 2.24 1.79
PERKEMBANGAN RISET BUDIDAYA UDANG TRADISIONAL PLUS

 2005: Optimalisasi padat tebar  8 ekor/m2 (uji coba


kepadatan 4, 6 , dan 8 ekor/m2)
 2006 : Riset pengembangan di kab Barru : ujicoba
kepadatan 10 ekor/m2 DO rendah 2 minggu
sebelum panen, shg memerlukan suplai oksigen (Pompa
modifikasi  Produksi : 1260 kg/1,2 ha

Parameter Kepadatan 10 ekor/m2


- Luas petakan (Ha) 1,2
- Jumlah petakan (petak) 1
- Waktu pemeliharaan (hari) 100
- Berat awal (g/ekor) 0,001
- Berat akhir (g/ekor) 11,02
- Sintasan (%) 96,14
- Produksi (Kg/petak) 1.260,8
- RKP 1,329
Tebar Benur Tokolan dari Tokolan dari
Variabel (PL 12) Hapa Bak terkontrol
Luas petakan (m2/petak) 500 500 500
Padat tebar (ekor/petak) 4000 4000 4000
Berat awal rata-rata (g/ekor) 0.004 0.224 0.09
Berat akhir rata-rata (g/ekor) 13.961+0.564a 14.87+2.729a 14.276+0.193a
Pertumbuhan mutlak (g/ekor) 13.957+0.564a 14.646+2.729a 14.186+0.193a
Survival rate (%) 78.72+2.348a 84.56+8.570 90.51+4.412a
Produksi (kg/petak) 43.960+0.301a 50.296+11.708a 51.685+2.957a
Rasio Konversi Pakan (RKP) 1.285+0.021a 1,125+0.212a 1,090+0.028a

 Petumbuhan UV setelah
pembesaran di tambak dengan
teknologi tradisional plus
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
1. Keunggulan BUV Ekstensif Plus : meningkatkan produktivitas tambak yg berdaya dukung
rendah, menguntungkan & ramah lingkungan. Budidaya udang vaname ekstensif-plus dapat
meningkatkan produktivitas tambak ekstensif mencapai 760 – 1050 kg, dengan keuntungan
Rp. 33.281.000 /ha/tahun

2. Uraian tentang keberhasilan teknologi : ditentukan oleh


- Kualitas dan ukuran benur vaname. Benur yang bebas virus hasil analisis
PCR (polimerase chain reaction) dan benih tokolan (PL-27),
- Penggunaan probiotik yang dapat menghambat berkembangnya patogen dalam tambak
- Lebih Efisiensi dalam pemanfaatan pakan komersial dengan Rasio Konversi Pakan yang
rendah (1,1-1,3)

3. Mudah diterapkan oleh pembudidaya ekstensif : tidak memerlukan peralatan yang


rumit, ukuran luas tambak disesuaikan dengan kondisi yang ada, komoditinya tersedia , sarana
yang dibutuhkan berupa pakan protein rendah. Peralatan tambahan berupa pompa rakitan
dapat menggunakan pompa dorong yang harganya relatif murah.

4. Ramah lingkungan : Teknologi budidaya udang vaname ekstensif plus menghasilkan beban
limbah budidaya yang masih dapat ditolerir oleh kemampuan lingkungan sehingga tidak
berdampak negatif bagi ekosistem pesisir.
PETUNJUK TEKNIS BPPBAP (2014)
BUKU REKOMENDASI TEKNOLOGI KP 2015

2015= Dari 31 Pengusul yang dinyatakan


lolos seleksi sebanyak 22 judul.

2015 (BPPBAP)
1.BUDIDAYA UDANG
VANAME Litopenaeus
vannamei EKSTENSIF
PLUS DI TAMBAK
MARGINAL
Tabel 1. Pertumbuhan, sintasan dan produksi udang
vaname dan rumput laut selama 75 hari pemeliharaan.

Perlakuan
Variabel
A B
Berat awal udang(g/ekor) 0,22 0,22
Berat akhir udang (g/ekor) 12,76a 12,04a
Sintasan udang (%) 35,22a 54,66a
Produksi Udang (kg/ha) 72,84a 108,6a
Berat awal R. Laut (kg/ha) - 2000
Laju Pertumbuhan R. Laut (%) - 2,3
Produksi R.Laut basah (kg/ha) - 9000
A = Udang vaname (2 ekor/m2)
B = Udang vaname (2 ekor/m2) + Rumput Laut 2000 kg/ha
Sumber: Hendrajat dan Pantajara (2010)
Teknologi Semi Intensif
Sistem Semi Intensif dengan kriteria
sebagai berikut :
 Sudah ada campur tangan manusia
 Tingkat penerapan teknologi sudah digunakan (menggunakan pakan
tambahan, benur dari hatchery, menggunakan kincir air dalam jumlah
terbatas, menggunakan sarana pompa dan menjaga kualitas air)
 Biaya produksi masih tergolong sedang (10 – 30 juta/ha)
 Tingkat resiko masih tergolong sedang
 Padat penebaran 10 – 40 ekor/m2
 Hasil produksi masih tergolong sedang (2 – 5 ton/ha)
 Jumlah SDM 2 - 3 org/ha
 Kualitas SDM masih tergolong sedang (setingkat SMA)
BUDIDAYA UDANG VANAME POLA SEMI INTENSIF

PERSIAPAN TAMBAK :
TAMBAK 0,4 HA, 6 UNIT , PENGERINGAN, PEMASANGAN SARINGAN
, PENGAPURAN, PENGISIAN AIR, TINGGI 100 CM, PEMASANGAN
KINCIR 1 PK (2 UNIT/PETAK), PEMUPUKAN

PENEBARAN
BENUR VANAME PL 10 ,
KEPADATAN 25 EKOR/m2
PAKAN 100 % - 2,5%

PERLAKUAN : A) FERMENTASI PROBIOTIK KOMERSIAL 1, 3 PPM


B) PROBIOTIK KOMERSIAL 2 SESUAI DOSIS KEMASAN
C) FERMENTASI PROBIOTIK PRODUKSI BRPBAP, 3 PPM
SINTASAN, PRODUKSI,
DAN NILAI KONVERSI PAKAN

PRLKN BERAT BERAT SINTASAN PRODUKSI LAJU NILAI


AWAL (g) AKHIR (%) UDANG TUMBUH KONVERSI
(g) (KG/4000 m2) (g/HARI) PAKAN

A 0,01 14,33 94,35 1339,1 0,12 – 0,17 1 : 1,21

B 0,01 14,99 90,99 1172,95 0,15 – 0,16 1 : 1,30

C 0,01 13,01 96,54 1221,75 0,12 – 0,14 1 : 1,25

A). Fermentasi probiotik komersial I, (bakteri Bacillus subtilis, B. cerius, B. megaterium, Pseudomonas sp dan Aerobacter sp,
B). Probiotik komersial II (bakteri B. subtillis, B. licheniformis dan B. Pumilis, dicampurkan ke pakan dosis sesuai kemasan, ).
C). Fermentasi probiotik produksi BRPBAP (bakteri laut, Pseudoalteromonas sp Edeep 1, bakteri mangrove
Pseudomonas putida Strain R dan Serratia marcens) dan bakteri tambak (Bacillus firmus dan Brevibacillus
laterosporus)
Produksi, sintasan dan konversi pakan dan kualitas air di tambak udang vanamei yang dibudidayakan dengan
pola semi intensif

Parameter jenis probiotik


A (komersial 1) B (komersial 2) C (prod. BRPBAP)
Berat awal (g) 0,01 0,01 0,01

Berat akhir (g) 12,02 – 16,65 14,41 – 15,58 11,75 – 14,28

Sintasan (%) 88,8 – 99,5 82,1 – 99,6 93,19 – 99,5

Produksi (kg/ha) 3196,5 - 3499 2734,7 – 3130 2885,7 - 3223


Konversi pakan
1: 1,12 – 1,31 1 : 1,21 – 1,40 1 : 1,15 – 1,35
BOT (ppm)
4,21 – 7,71 5,62 – 9,72 3,94 – 10,36
Amoniak (ppm)
0,002 – 0,083 0,001 – 0,176 0,005 – 0,157
Nitrit (ppm)
0,0001 – 0,0184 0,0001 – 0,0195 0,0001 – 0,035
Nitrat (ppm)
0,002 – 0,138 0,004 – 0,034 0,002 – 0,016
Fosfat (ppm)
0,0001 – 0,052 0,006 – 0,039 0,001 – 0,034
Salinitas (ppt)
45 – 36 45 – 35 45 – 36
pH air
7,5 - 8 7,5 - 8 7,5 - 8

Sumber : Gunarto dan Hendrajat, (2007)


BUDIDAYA UDANG VANAME SEMI INTENSIF MENGGUNAKAN
BENUR TEBAR LANGSUNG DAN TOKOLAN

• 3 Petak tambak :
- Tandon (0,40 ha) : 1 petak
- Pembesaran : 2 petak
> Benur tebar langsung
> benur tokolan
• Petak benur tebar langsung
- benur vanamei PL12
- padat tebar: 20 ekor/m2
- Lama pemeliharaan 100 hari
• Petak benur tokolan :
- benur vanamei PL12 (ditokol
kan selama 15 hr dlm hapa
- padat tebar: 20 ekor/m2
tokolan
- Lama pemeliharaan 100 hari
mulai dari pentokolan PL12
Pertumbuhan, sintasan, produksi dan RKP
selama 100 hari di pembesaran.

Perlakuan
Variabel Benur Tokolan Benur Tebar
Langsung
Luas Petakan (m2) 5600 4500
Kepadatan (ekor/petak) 112.000 90.000
Lama pemeliharaan (hari) 100 100
Pertumbuhan (g/ekor) 11,71 13,03
Sintasan (%) 96,24 80,47
Produksi : - kg/petak 1262,0 943.8
- kg/ha 2253,6 2097,3
Rasio Konversi Pakan (RKP) 1,248 1,497
Pertumbuhan udang vanamei
selama 100 hari pemeliharaan

Oksigen Terlarut (mg/l)


9
8
7
6 Tandon
5
4 Tebar Tokolan
3 Tebar Langsung
2
1
0

11,00

17,00

20,00

02,00

05,00

08,00
14,00

23,00
Waktu Pengamatan (jam)

Kadar Oksigen terlarut


selama 24 jam

Fluktuasi kadar garam selama


100 hari pemeliharaan
POLIKULTUR UDANG WINDU, UDANG VANAME, NILA MERAH DAN RUMPUT LAUT
SECARA SEMI INTENSIF
 Percobaan ini dilakukan di tambak Punaga, Takalar, tambak penelitian BRPBAP
Menggunakan 2 petak tambak berukuran 4000 m2 dan 3000 m2.
Hewan uji udang vaname (Litopenaeus vannamei), udang windu (Penaeus monodon), nila merah
(Oreochromis niloticus) dan rumput laut jenis cotoni (Kappaphycus alvarezii) yang dipolikultur secara
semi intensif.
Perlakuannya adalah (petak A) polikultur udang windu, nila merah, dan rumput laut, (petak B)
polikultur udang vannamei, nila merah, dan rumput laut, tanpa ulangan. Kepadatan udang windu
dan udang vaname adalah 20 ekor/m2 (semi-intensif), kepadatan nila merah 2000–2500
ekor/petak,dan rumput laut 200 kg/petak,dengan waktu pemeliharaan 105 -120 hari.
Parameter Petak A (Pond A) Petak B (Pond B)
U vaname Nila merah U windu Nila merah
Padat tebar (ekor/petak) 80.000 2.500 60.000 2000
Berat awal rata-rata (g/ekor) 0,194+0.02 23+5.18 0,143+0.04 23+5.18
Berat akhir rata-rata (g/ekor) 14,2+1.96 343,55+32.31 12,06+2.25 311,53+32.42
Pertumbuhan mutlak (g/ekor) 14,06+1.96 320,55+32.31 11,92+2.25 288,53+32.42
Survival rate (%) 77,20 59,24 81.31 66,56
Produksi (kg/petak) 877 508 581,5 414,7
Rasio Konversi Pakan (RKP) 1,57 1,32 2.17 1,51

Sumber : Mangampa et al., 2010


Teknologi Intensif
BUDIDAYA UDANG VANAME INTENSIF

Tambak 4000 m2 6 petak


Benur PL. 10 padat tebar 50 ekor/m2.
pengeringan, dibalik, kapur bakar 400 kg/ha dan
dolomit 200 kg, pengisian air 100 cm. urea (150 kg/ha),
TSP (75 kg/ha)

dosis fermentasi probiotik.


A). 1 ppm/ minggu selama masa pemeliharaan
B). 3 ppm/ minggu selama masa pemeliharaan
C). 5 ppm/ minggu selama masa pemeliharaan
Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan.

Kincir 1 pk , 3 unit per petak


Pakan : 100% - 2,5 % total biomassa.
frekuensi : 2 – 4/sehari.
Berat akhir, sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan udang
vaname yang dibudidaya kan dengan pola intensif di tambak

PRLK BRT BRT AKHIR PRODUKSI SINTASAN NILAI


AWL (G) (KG/HA) (%) KONVERSI
(G) PAKAN
A 0,005 15,26+0,23a 6165,5+1074a 85,9 + 8,6a 1,44 + 0,219a
B 0,005 14,54+0,36a 5132 + 21,21a 74,9 + 17,2a 1,69 + 0,48a
C 0,005 14,25+0,06a 5934 + 62,90a 86,5 + 4,2a 1,37 + 0,036a
A : 1 ppm, B : 3 ppm, C : 5 ppm
Produksi, sintasan konversi pakan dan kualitas air tambak pemeliharaan
udang vanamei di budidayakan pola intensif
Perlakuan
A (1 ppm) B (3 ppm) C (5 ppm)
Parameter
Berat awal (g) 0,005 0,005 0,005

Berat akhir (g) 15,1 – 15,4 14,3 – 14,8 14,2 – 14,3

Sintasan (%) 80 – 92 62,7 – 87 83,6 – 89,5

Produksi (kg/ha) 5405,4 – 6925 5117 - 5147 5879 - 5980


Konversi pakan 1 : 1,29 – 1,6 1 : 1,35 – 2,03 1,35 – 1,40
BOT (ppm) 6,27 – 39,82 6,26 – 39,63 5,67 – 38,79
Amoniak (ppm) 0,03 – 0,934 0,05 – 0,64 0,11 – 0,839
Nitrit (ppm) 0,0019 – 0,026 0,001 – 0,021 0,0009 – 0,025
Nitrat (ppm) 0,006 – 0,600 0,007 – 0,500 0,012 – 0,55
Fosfat (ppm) 0,08 – 0,268 0,08 – 0,259 0,026 – 0,293
Salinitas (ppt) 30 - 41 30 – 41 30 – 41
pH air 7-9 7,2 - 9 7-9
Sumber : Gunarto, Abdul Mansyur dan Muliani (2008)
16
Pe rtum buhan u vannam e i inte ns if
BUDIDAYA UDANG
VANAME INTENSIF
14

12
Berat (g/ekor)

10 2 unit KA

8 3 unit KA

6
4 unit KA Perlakuan jumlah kincir yang berbeda
4 yaitu : A = 2 unit kincir/petak; B = 3
2 unit kincir/petak masing-masing 2
0
0 14 28 42 56 70 84 98
ulangan dan perlakuan C sebagai
w a k t u (hari)
kontrol = 4 unit

Variabel Perlakuan (Treatment)


Variables A B C
Kepadatan (ekor/ptk) 125.000 125.000 125.000
Lama pemeliharaan (hari) 100 100 100
Berat awal (g/ekor) 0.001 0.001 0.001
Berat akhir (g/ekor) 13.63 13.64 13,07
Sintasan (%) 67.42 81.38 78.42
Produksi (kg/petak) 1148.6 1387.6 1281.4
Produktivitas (ton/ha) 4594,4 5550,4 5125,6
Rasio Kompersi Pakan 2.17 1.80 1.89

Sumber: Suwoyo et al., 2006


Budidaya udang vaname Lithopenaeus vannamei dengan teknologi bioflok

Lokasi penel:
Ds.Hanura, Pasewaran, Lampung,
Perlakuan :
- Aplikasi Bioflok (A) dan Tanpa
Bioflok (B)
- Tambak intensif 2.000 m2/petak 16
14
- Tbk dilengkapi dengan kincir air.

Pertumbuhan
12 10400

(g/ekor)

Produksi (kg/ha)
- PT 100 ekor/m2. 10
8
10000

Bioflok 9600
6
4 Tanpa bioflok 9200

2 8800
0 8400
37 44 52 59 66 73 80 87 90 95 Tanpa Bioflok Aplikasi Bioflok
Pengamatan (hari)

Produks udang vaname:


A. Aplikasi bioflok:
0.12 -Prod. 10,375 ton/ha
volume biofloks (ml/L)

0.1

0.08
A Tanpa Biofloc
-Rata-rata berat 13,8 g/ekor --FCR : 1,3
B Aplikasi Biofloc
0.06 B. Tanpa bioflok:
0.04
-Prod. 9,176 ton/ha
0.02

0
-Rata-rata berat 12,0 g/ekor
64 67 70 73 76 79 82 85 88 91 94
Pengamatan (hari)

Sumber: Pantjara,B., A .Nawang, Rachmansyah, 2011


Aplikasi bioflok dan pergiliran pakan pada budidaya udang vaname intensif
Perlakuan aplikasi bioflok dan
Peubah pergiliran pakan
Variable
Lokasi kegiatan penelitian akan dilaksanakan di A B C
tambak percobaan Punaga, di Kabupaten Takalar
Sulawesi Selatan, Kepadatan (ekor/ m2) 125 125 125
Stocking density (ind/ m2)
 Menggunakan 6 petak tambak berukuran 4000m2. Lama Pemeliharaan (hari) 112 112 112
 Hewan uji adalah pasca larva udang vaname yang Rearing period (day)
Berat Awal (g) 0,001 0,001 0,001
ditebar dengan kepadatan 150 ekor/m2. Initial weight (g)
Berat Akhir (g) 12,19 15,07 12,57
Perlakuan yang diujikan dalam penelitian ini adalah : Final weight (g)
Pertumbuhan Mutlak (g) 12,189 14,999 12,569
(A) Pergiliran Pakan dua hari protein rendah + 1 hari Absolut growth (g)
protein tinggi, (B) Protein Rendah + Penambahan Sintasan (%) 77,35 62,9 51,49
Survival rate (%)
Molase (C). Pergiliran Pakan dua hari protein rendah Rasio konversi pakan (FCR) 1,61 1,89 2,38
+ 1 hari protein tinggi + penumbuhan bioflok Food conversion ratio
Produksi (kg ) 4223,2 3444,75 2778,9
Sumber : Mansyur et al., 2012 Production (kg)

83
Kajian desain wadah budi daya udang vaname intensif, 2015

Penelitian dilaksanakan di Maranak, Maros, Instalasi


Tambak Penelitian BPPBAP,
 Tandon 4 petak berukuran 1500 m2/petak, dan 2 petak
tambak berukuran 2000 m2/petak, ,
 Desain wadah pembesaran sebagai perlakuan yaitu (A)
Wadah budidaya dengan petakan tambak menggunakan
pelapisan plastik mulsa pada slope/sisi pematang dan dasar
tambak, (B) Wadah budidaya dengan petakan tambak
menggunakan pelapisan plastik mulsa pada slope/sisi
pematang tambak.
 Hewan uji adalah Tokolan udang vaname PL-27
 Kepadatan 50 ekor/m2 (100.000 ekor/ptk)

Pertumbuhan rata2 (g/ekor


 Lama pemeliharaan 75 hari 12
A : Plst Mulsa bg sis pmtg & dasar tmbk
10 B : Plastik Mulsa hanya bg sisi pmtg
8
6
Produksi Bobot Akhir
4
Perlakuan (kg) (gr) SR (%) FCR
2

A 1192,4 13,89 85,85 1,19 0

B 1075 12,66 84,93 1,30 Waktu Pemeliharaan (hari)

Burhanuddin et al., 2015


APLIKASI PROBIOTIK RICA DAN KOMERSIAL PADA BUDIDAYA UDANG VANAME
(Litopenaeus vannamei) POLA INTENSIF

 Penelitian dilakukan di tambak percobaan BPPBAP di Desa Punaga, Kecamatan Mangngara


bombang, Kabupaten Takalar dari bulan Agustus sampai dengan November 2014.
 Dua petak tambak berukuran masing-masing 1.000 m2
 Konstruksi tambak dirancang dengan sistem pembuangan air tengah (central drain)
 Kincir air sebanyak 12 buah/petak
 Benur udang vaname PL-10 diperoleh dari unit perbenihan di Bali
 Padat penebaran benur adalah 365.840 ekor/1000 m2.
Perlakuan yang diujikan dalam penelitian ini yaitu: (A) Aplikasi Probiotik komersial dan (B)
Aplikasi Probiotik RICA 1, 2 dan 3 secara bergiliran
 Dosis probiotik 1-2 ppm
Sumber: Tahe et al., 2015
Perlakuan
Peubah
Probiotik Komersial Probiotik RICA
Luas tambak (m2) 1000 1000
Bobot awal rata-rata (g) 0,001 0,001
Padat penebaran (ekor/m2) 365.840 365.840
Lama pemeliharaan (hari) 105 105
Bobot akhir rata-rata (g) 12,1 12,0
Sintasan (%) 95,26 96,38
Produksi (kg/1000 m2) 4.250 4.300
Produktivitas (kg/m2/mt) 4,25 4,30
FCR 1,29 1,29
Pertumbuhan udang vaname pola intensif dengan aplikasi
manajemen pakan

14
Bobot / Body weight (g/pcs)

2 petak tambak berukuran 1.000 m2


12 digunakan untuk menguji pakan yang
10 berbeda kandungan nutrisinya.
Perlakuan yang diuji adalah (A) Pakan
8 berprotein 40-37, (B) Campuran pakan
6 A berprotein 40-37% (DOC 0-60) dan
B pakan berprotein 35 (DOC 61-98).
4
Pemberian pakan dilakukan secara
2 manual (DOC 1-60) dan menggunakan
automatic feeder (DOC 61-98)
0
1 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Waktu pemeliharaan / DOC
Kinerja feeding regime pada pemeliharaan udang
vaname pola super intensif
A B
Tanggal penebaran 5 Agustus 2014 5 Agustus 2014
Padat penebaran (ekr/petak) 300.000 300.000
Feeding regime
- Pakan CP 40-37% DOC 1-98 DOC 1-60
- Pakan CP 35% - DOC 61-98
DOC (hari) 98 98
Produksi (kg) 3.485 3.053
Size (ekr/kg) 82 94
Sintasan (%) 95,26 95,67
FCR 1,58 1,75
Pakan (kg) 5.501 5.340
Harga pakan (Rp) 81.911.540 67.022.010
Nilai jual udang (Rp) 212.152.860 168.731.574
Selisih produksi (kg) 432
Selisih nilai jual udang (RP) 43.421.286
Selisih harga pakan (Rp) 14.889.530
Selisih nilai jual bersih (Rp) 28.531.756
Biaya produksi udang (Rp/kg
38.525 33.826
udang)

Sumber: Makmur, et al., 2015


Teknologi Super Intensif
Akuainput prima (benih unggul, pakan
berkualitas dan efisien, probiotik, bahan
kemikalia)

Ciri tsi
 Peningkatan
1. Volume wadah kecil
2. Padat penebaran produksi
berkelanjutan
tinggi
 Daya saing
3. Produktivitas tinggi
4. Beban limbah produk tinggi
minimal
5. Basis teknologi

 Infrastruktur
 Regulasi
 Finansial / Perbankan
Spesifikasi Tambak Percobaan
Lokasi ITP-BPPBAP, Desa Punaga, Marbo, Takalar.
Prasyarat Kawasan supratidal (kelas kesesuaian
lahan tinggi)
Jumlah 8 petak
Konstruksi Full Concrete
Luas petakan 31 x 33 (≈1000 m2)
Kedalaman Maksimum 2 m (air: 1,7-1,8 m)
Central drain Model matahari
Colector drain Sebagai tempat panen dan pembuangan limbah dari 4
petak tambak
Sumber Kincir 1 PK, Ring Blower 5,5 Kw, 3 inchi sbg aerasi
Oksigen dasar
Sumber air Tandon
Pompa Submersible 8 inchi (tandon ke petak pembesaran)
Central Automatic
drain feeder

Colector drain Blower


Tandon air
bersih
Kincir Air (1 HP) Kincir Air (2 HP)

Super charge(3 HP) Root blower (5 PK)


Alat Monitoring Kualitas Air
Real time, online
Sumber : Rachmansyah et al., 2014
IPAL TAMBAK SUPERINTENSIF
Fungsi kolam unit pengolahan air limbah TSI di IPAL
No Kolam Fungsi
1 Sedimentasi Menurunkan kadar TSS dan TOM air limbah
Menaikkan pH, oksigen terlarut dan menurunkan kadar BOD
2 Aerasi 1 dan 2
air limbah tambak super intensif

Menampung hasil IPAL sekaligus memperbaiki proses secara


keseluruhan parameter kualitas air limbah TSI melalui proses
fisik (aerasi) dan biologis (fotosintesa, biokonversi,
3 Ekualisasi bioakumulasi) dengan memanfaatkan biota dalam kelompok
“low level food chain” (bandeng, nila, rumput laut, kekerangan)
untuk memanfaatkan sisa bahan organik air limbah atau sisa
nutrien air limbah sebagai sumber C, N, P.
Penanaman Rumput Laut di IPAL
Nilai parameter kunci di IPAL tambak superintensif
Outlet Outlet
Outlet Kolam Standar
Parameter Inlet IPAL Kolam Kolam
Sedimentasi effluent*)
Aerasi Ekualisasi
TSS ( ppm) 1715,41 437,11 402,78 10,14 < 70

BOT (ppm) 94,9580 65,3425 63,1178 44,5360 < 30

TAN (ppm) 6,91213 2,4194 2,1000 0,5013

Nitrit (ppm) 2,8722 2,2801 1,3528 0,2412

Nitrat (ppm) 2,3471 2,1288 1,9106 0,6891

Total N (ppm) 7,0759 2,9337 2,8512 0,2257 <4

Phosfat (ppm) 9,1900 3,6944 2,0917 0,4448 < 0,4

BOD (ppm) 19,80 12,83 10,74 7,02 < 20

Sumber :
*) Notification of the Ministry of Natural Resources and Environment ,Effluent Standard for Brackish Aquaculture published in the Royal
Government Gazette, Vol. 124 Part 84 D, dated July 13, B.E. 2550 (2007)
Notification of the Ministry of Natural Resources and Environment: Designated Brackish Aquaculture as Pollution Point Sources published
in the Royal Government Gazette, Vol. 124 Part 84 D, dated July 13, B.E. 2550 (2007)
Efisiensi kinerja IPAL tambak superintensif

Efisiensi Kolam (%)


Parameter
Sedimentasi Aerasi Ekualisasi IPAL
TSS
74,5 7,9 97,48 99,4
BOT
31,2 3,4 29,44 53,1
TAN
65,0 13,2 76,13 92,7
Nitrit
20,6 40,7 82,17 91,6
Nitrat
9,3 10,2 63,93 70,6
Total N
58,5 2,8 92,08 96,8
Phosfat
59,8 43,4 78,74 95,2
BOD
34,34 16,29 34,64 64,07
Hasil samping IPAL
Sbg Bioindikator
Panen Parsial
 Budidaya udang vaname pola super-intensif memberikan konsekuensi pada tingginya
bobot biomassa udang di tambak.
Pengendalian terhadap bobot biomassa udang agar tetap dalam batas daya dukung
lingkungan tambak menjadi suatu keharusan dalam manajemen tambak pola super-
intensif.
Panen parsial ditujukan untuk (1) mengurangi biomass udang sehingga biomass udang
yang ada di dalam tambak tidak melebihi daya dukung tambak, namun dapat
meningkatkan produktifitas tambak, dan (2) mengontrol ukuran udang sesuai dengan
permintaan pasar
pengelolaan, panen parsial dapat membantu petambak dalam menentukan (a) jumlah
padat penebaran udang yang terkait dengan daya dukung tambak, (b) waktu
panen yang tepat terkait dengan situasi harga udang di pasaran serta (c) ukuran
udang yang diharapkan terkait dengan lama waktu pemeliharaan.
Tabel 1. Keragaman hasil panen udang vaname super intensif kepadatan 500 dan 600 ekor/m2

Size
(ekor/kg)
Panen Kepadatan Min Max Avg Produksi
Petak Sd KV
Parsial (ekor/m2) (g/ekor) (g/ekor) (g/ekor) (kg/petak)

500
A 3,6 14,1 9,8 1,3 13,2 104 1.200
I
600
B 3,6 13,2 9,6 1,3 13,5 102 1.680
500
A 7,7 20,7 14,6 2,0 13,6 68 2.000
II
600
B 6,1 19,4 14,5 2,1 14,6 69 2.000
500
A 12,9 24,5 18,8 2,4 12,7 53 3.176
III
600
B 9,0 23,8 18,5 2,6 14,0 54 4.727
Kinerja produksi tambak superintensif di ITP Punaga

Luas tambak (m2) 1.000 1.000


Padat penebaran (ekor/m2) 500 600
Sintasan (%) 85,6 92,4
Produksi udang (kg/1.000 m2) 6.376 8.407
FCR 1,52 1,39
Prod. kincir (kg udang/1 HP) 425 594
Tabel 2. Keragaman hasil panen udang vaname super intensif kepadatan 750, 1.000 dan
1.250 ekor/m2

Kepadatan Produksi
(ekr/m2) (kg) Min Max Avg Size
Sd cv
(g/ekr) (g/ekr) (g/ekr) (ekr/kg)
Panen Parsial Petak
A 750 2.271 4,31 16,93 9,58 1,82 18,96 108
1 B 1000 3.191 3,2 14,56 8,99 1,90 21,20 104
C 1250 4.109 2,64 16,39 9,34 2,09 22,38 103
A 750 1.585 8,0 21,98 12,39 2,23 18,04 84
2 1000 2.645
B 8,03 20,6 13,05 2,48 19,01 73
C 1250 3.604 8,04 23,42 14,08 2,88 20,45 72
A 750 4.006 10,32 23,37 15,55 2,54 16,35 69
3 1000 4.863
B 1,68 26,26 16,30 2,89 17,74 62
C 1250 4.450 10,07 24,00 15,48 2,75 12,78 68
Kinerja produksi tambak superintensif di ITP Punaga
Luas tambak (m2) 1.000 1.000 1000 1000 1000

Padat penebaran (ekor/m2) 500 600 750 1.000 1.250

Sintasan (%) 85,6 92,4 87,3 82,9 79,1

Produksi udang (kg/1.000 6.38 8.41 7,9 10,7 12,2


m2)
Produktivitas (kg/m3/mt) 3,64 4,80 4,37 5,94 6,76

FCR 1,52 1,39 1,40 1,36 1,55

Kebutuhan listrik (kw/kg 2,82 2,37 3,2 2,5 2,4


udang)
Kebutuhan air (m3/kg 2,73 2,12 2,24 1,66 1,60
udang)
Prod. kincir (kg udang/1 425 594 562 669 640
HP)
Sumber : Rachmansyah et al., 2013 dan 2014
Analisa Biaya Produksi Udang Vaname - TSI
(2 kali MT/Th)

Kepadatan (ekr/m2) 500 600 750 1.000 1.250


1. Benur 3.529 3.212 4.293 4.206 4.625
2. Pakan 21.302 19.481 19.670 19.108 21.778
3. Listrik 3.886 3.271 4.276 3.324 3.212
4. Bahan additif lainnya 502 428 834 884 1.035

5. Tenaga kerja 1.882 1.427 1.526 1.122 987

6. Biaya lain 2 5% 2.199 1.894 2.141 1.881 1.977


Unit cost (Rp.) 33.300 29.714 32.741 30.526 33.613
Produksi (kg) 12.752 16.814 15.724 21.398 24.326

Sumber : Rachmansyah et al., 2013 dan 2014


Laba Operasional Tambak Superintensif
700,000,000
600,000,000
500,000,000
(Rp./th)

400,000,000
300,000,000
200,000,000
100,000,000
0
500 600 750 1000 125
Padat penebaran (ekr/m2)
Terpaulin 20 m3
Fibre glass 20 m3

Padat penebaran
600 1.000 1.240 1.860 2.480
(ekr/m3)
Prod (kg), DOC-80 111 148 161 203 150
Produktivitas
5,55 7,4 8,05 10,15 7,5
(kg/m3)
SR (%) 87,9 75,5 73,4 66,0 37,8
Size (ekr/kg) 100 102 113 121 125
KESIMPULAN

• Peningkatan mutu produk perikanan budidaya diarahkan untuk memberikan jaminan


keamanan pangan mulai bahan baku hingga produk akhir perikanan budidaya yang bebas dari
bahan cemaran sesuai dengan persyaratan dan tuntutan pasar. Oleh karena itu , para
pembudidaya perlu menerapkan cara budidaya ikan yang baik (CBIB)
• Tingkat teknologi budi daya udang vaname di tambak ditentukan oleh padat penebaran dan
akuainput lainnya, ketersediaan sarana dan prasarana produksi. Teknologi budi daya udang
vaname terdiri dari teknologi ekstensif, teknologi ekstensif-plus, teknologi semi-intensif,
teknologi intensif, dan teknologi super intensif
• Budidaya udang vaname di tambak dikerjakan secara teliti dan cermat di antaranya dalam
hal persiapan tambak, pemilihan dan penanganan benur, pemeliharaan (pengelolaan pakan,
air, monitoring penyakit) , panen dan penanganan hasil panen.
• Budidaya udang tradisional plus merupakan alternatif teknologi budidaya yang dapat
dijangkau oleh petani, sesuai dengan daya dukung lahan, mudah diterapkan dan ramah
lingkungan
CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN SAPROKAN :

* 1 ppm = 1 mg/L = 1 g/Ton = 1 g/M3 air


= 1 kg/1000 M3 = 1 kg/Ha, dgn air 10 cm
= 10 kg/Ha tambak kedalaman air 1 meter
= 10 Liter/Ha tambak, dgn air 1 meter
* 5 ppm = 50 kg/Ha tambak kedalaman air 1 meter
= 25 kg/Ha tambak, dgn air 50 cm (dolomit)
* 20 ppm = 20 kg/Ha tambak, dgn air 10 cm (saponin)
* 200 ppm = 3 mL formalin per 15 Liter air di baskom
(utk skrining benur)
Atmomarsono, (2014)

Anda mungkin juga menyukai