Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TERSTRUKTUR

Mata Kuliah Manajemen Resiko


Dosen Pembimbing : Defia Riski Anggarini, S.E., M.Si

RESIKO LEMBAGA PEMBIAYAAN PT. SNP FINANCE

NAMA MAHASISWA
RENA DELIYANA 17411267

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
BANDARLAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya
panjatkan puja dan puji syukur atas Kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya kepada kami, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah mengenai resiko
perusahan ini.

Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah
selanjutnya yang lebih baik lagi.

Bandar Lampung, 17 Desember 2016

Rena Deliyana
DAFTAR ISI
JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 PT. SUNPRIMA NUSANTARA PEMBIAYAN (SNP FINANCE)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan PT. SNP FINANCE


2.2 Analisis Permasalahan Risiko PT. SNP FINANCE
2.3 Langkah Penyelesaian dari Risiko PT. SNP FINANCE

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Memahami kondisi saat ini dan masa depan, dimana bisnis akan semakin kompetitif dan
risikonya semakin meningkat, sehingga memerlukan pemahaman untuk dapat mengidentifikasi
dan melakukan penilaian terhadap risiko-risiko. Serta mampu meilhat prospek pasar yang
pontensial untuk diberikan pembiayaan berupa kredit dan memberikan solusi tentang upaya
mengambil keputusan secara cepat dan tepat dengan mempertimbangkan risiko-risiko yang akan
di hadapi bila terjadi masalah. Bank memberikan kredit berupa join financing atau memberikan
langsung ke SNP Finance dan SNP Finance yang meneruskannya kepada pengguna. Pada
dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para kreditornya (bank) tersebut
adalah kerjasama yang sifatnya mutualistik. SNP Finance membutuhkan dana, bank juga butuh
menyalurkan kredit. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata bisnis retail Columbia yang
merupakan induk dari SNP Finance mengalami kemunduran. Kita bisa melihat bahwa perilaku
pembelian customer telah berubah, konsumen saat ini tidak lagi belanja produk furniture dan
elektronik dengan datang ke toko, melainkan mereka lebih suka membeli secara online melalui
perangkat gadgetnya. Mulai dari survey harga, survey spesifikasi produk, sampai dengan
pembelian, semua dilakukan secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan
fasilitas kredit tanpa bunga (bunga 0%) untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan. Kondisi
perubahan perilaku pembelian customer inilah yang memukul pangsa pasar dari Columbia, dan
tentunya juga berdampak pada SNP Finance. Buntutnya adalah kredit SNP Finance kepada para
bank – bank/krediturnya tersebut menjadi bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non
Performing Loan (NPL)

1.2 PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan ( SNP FINANCE )

Sunprima Nusantara Pembiayaan sering disingkat menjadi SNP adalah perusahaan pembiayaan
yang berdiri sejak tahun 2000, sempat vacum selama 2 tahun dan kemudian Columbia Group
mengambil alih kepemilikannya pada tahun 2002, tetapi PT.SNP baru beroperasi secara penuh
pada tahun 2004. SNP terutama bergerak dalam bidang consumer finance yang disebut Prima
Finance, dan dealer utama yang 100% pembiayaannya di support oleh PT. SNP adalah semua
konsumen Columbia Retail. Produk yang dibiayai adalah semua kebutuhan rumah tangga, seperti
semua produk elektronik, furniture, hand phone, komputer, motor roda dua. Selain produk
tersebut PT. SNP juga melakukan pembiayaan untuk produk2 produktif seperti hand tractor, dan
motor roda 3.Principal yang bekerja sama sampai dengan hari ini seperti, Nozomi, Yanmar,
Olympic, Modena, Fujitec, Sanken, Galeri musik jakarta. Selain membiayai seluruh outlet
Columbia PT.SNP juga membiayai dealer yang lain, baik tradisional market maupun modern
market, melalui divisi Prima Finance. Saat ini melalui Columbia Group berada di 72 kota, dan
melalui divisi Prima Finance kami berada di 10 kota
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan PT. SNP Finance

Permasalahan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) yaitu terkait kasus dugaan
tindak pidana pemalsuan dokumen, penggelapan, penipuan, dan pencucian uang dalam aktivitas
usahanya sebagai perusahaan pembiayaan (multifinance). SNP Finance diketahui menerima
fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank. Salah satu dan yang paling besar berasal dari PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk. SNP Finance sendiri telah 20 tahun menjadi nasabah Bank Mandiri.
Namun, pada 2016, perusahaan mengajukan restrukturisasi kredit. Saat itu, Bank Mandiri
memasukkan SNP Finance dalam kelompok kolektibilitas 2 (kol 2) atau dalam perhatian khusus.
Restrukturisasi kredit diperlukan bukan karena perusahaan menunggak pembayaran, melainkan
agar perusahaan bisa mendapat kucuran dana dari bank lain. Alih-alih membaik, Sekretaris
Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan SNP Finance malah menunjukkan itikad
buruk. Dalam beberapa bulan terakhir, kreditnya mulai macet dan manajemen perusahaan
mengajukan pailit sukarela. Padahal, kredit macetnya saat itu mencapai Rp1,2 triliun.
Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan Bank Panin pada awal Agustus 2018 lalu. SNP
Finance mengajukan pinjaman fasilitas kredit modal kerja dan rekening koran kepada Bank Panin
periode Mei 2016 sampai 2017 dengan plafon kepada debitur sebesar Rp425 miliar.Salah satu
tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit macetnya adalah menerbitkan
surat utang berbentuk Medium Term Notes (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo, lembaga
pemeringkat, berdasarkan laporan keuangan yang diaudit oleh KAP DeLoitte.

Kemenkeu menyebut dua akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan SNP Finance, yakni
Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul melanggar standar audit profesional. Mengutip
data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam mengaudit SNP Finance tahun
buku 2012 - 2016, mereka belum sepenuhnya menerapkan pengendalian sistem informasi terkait
data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan. Akuntan publik tersebut juga belum
menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun piutang pembiayaan
konsumen dan melaksanakan prosedur memadai terkait proses deteksi risiko kecurangan, serta
respons atas risiko kecurangan. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi
keuangan yang sebenarnya besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat
yang ditimbulkan atas opini kedua Akuntan Publik tersebut atas Laporan Keuangan Tahunan
Audit (LKTA) SNP Finance.Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan
akibat dari kualitas penyajian oleh akuntan publik.
2.2 Analisis Permasalahan Risiko PT. SNP FINANCE

Pada penerapan Manajemen Resiko Pembiayaan OJK menetapkan bahwa perusahaan lembaga
pembiayaan wajib menerapkan manajemen resiko untuk: Risiko strategi, Risiko operasional,
Risiko aset dan liabilitas. Risiko kepengurusan. Risiko tata kelola, Risiko dukungan dana, Risiko
Pembiayaan
 Risiko Strategi
Seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut mengalami
permasalahan dan menjadi NPL. Kondisi itu telah diantisipasi oleh perbankan dengan
melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun yang sudah lewat, sehingga perbankan dapat
meng-absorb risiko gagal bayar.Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance
untuk mengatasi kredit bermasalah tersebut adalah melalui penerbitan MTN (Medium
Term Notes). MTN ini sifatnya hampir mirip dengan obligasi, hanya saja jangka
waktunya. Dalam hal ini SNP finance menjadi gagal bayar dan melakukan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.
 Risiko Tata kelola
terkait kasus dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, penggelapan, penipuan, dan
pencucian uang dalam aktivitas usahanya sebagai perusahaan pembiayaan (multifinance).
SNP Finance diketahui menerima fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank.
 Risiko Pembiayaan
awalnya pembayaran dari SNP Finance lancar, dan para kreditur tersebut juga
menganalisis kesehatan keuangan SNP Finance melalui laporan keuangannya, yang
diaudit oleh kantor akuntan publik ternama, yaitu Deloitte. Namun ternyata terjadi
pemalsuan data dan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh manajemen SNP
Finance. Diantaranya adalah membuat piutang fiktif melalui penjualan fiktif. Piutang
itulah yang dijaminkan kepada para krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti ketika
piutang tersebut ditagih uangnya akan digunakan untuk membayar utang kepada kreditor.
Untuk mendukung aksinya tersebut, SNP Finance memberikan dokumen fiktif yang
berisi data customer Columbia.
2.3 Langkah Penyelesaian dari Risiko PT. SNP FINANCE

Bank harus semakin selektif dalam menyalurkan kredit kepada multifinance serta segera
mendorong multifinance agar melakukan merger atau akuisisi. Hal itu penting dan mendesak
untuk dilakukan demi mengurangi jumlah multifinance sekaligus mempermudah pengawasan.
Makin sedikit multifinance, makin efektif bagi OJK untuk mengawasi multifinance.Selain itu,
OJK dituntut untuk melakukan sosialisasi dan edukasi tentang investasi, baik dari sisi madu
(manfaat) maupun racun (potensi kerugian). Hal ini bertujuan menaikkan tingkat literasi
keuangan (financial literacy) dan inklusi keuangan (financial inclusion). Serta pemerintah juga
harus ikut andil yaitu untuk membentuk lembaga perlindungan investor di pasar modal seperti
halnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjamin simpanan di industri perbankan
nasional.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam permasalahan perusahaan ini telah memberikan opini yang tidak mencerminkan
kondisi keuangan yang sebenarnya besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan
dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini kedua Akuntan Publik tersebut atas Laporan
Keuangan Tahunan Audit (LKTA) SNP Finance.Menurunnya kepercayaan masyarakat
terhadap sektor jasa keuangan akibat dari kualitas penyajian oleh akuntan publik. Dalam
hal ini juga membawa potensi risiko bagi beberapa bank sebagai kreditur. Inilah 14 bank
yang merupakan kreditur SNP Finance, yakni Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA),
Bank Panin, Bank Resona Perdania, Bank J-Trust, Bank Nusantara Parahyangan, Bank
Victoria, Bank China Trust, Bank Internasional Nobu, Bank Woori Saudara, Bank BJB,
Bank Sinarmas, Bank Capital, dan Bank Ganesha.Kemungkinan besar kredit yang telah
terkucurkan ke SNP Finance itu terancam menjadi kredit bermasalah ( non performing
loan atau NPL) bagi bank tersebut. Dalam permasalahan ini juga membuat kita untuk
lebih berhati-hati terhadap multifinance atau berhati-hati dalam pemberian kredit.

3.2 Daftar Pustaka


 CNN Indonesia
 Liputan6.com
 Kumparan.com