Anda di halaman 1dari 28

RANCANGAN

PEDOMAN CO-PROCESSING LIMBAH


DI INDUSTRI SEMEN DI INDONESIA

Aspek Hukum dan Sosial

Center for Research of Human Resources and The Environment-


Postgraduated Programme University of Indonesia (CRHRE PP-UI)

Jakarta, 20 Oktober 2008

21.10.2008 Page 1
Seite
Outline
Definisi Hukum Co-Processing
5. Aspek Hukum dan Kelembagaan
5.1. Prinsip-prinsip Dasar
5.2. Kerangka Hukum
5.3. Kerangka Kelembagaan
5.4. Proses Perizinan
5.5 AMDAL
5.6. Persyaratan Limbah, Proses, Emisi, Produk
5.7. Manajemen Penaatan

6. Aspek Komunikasi dan Tanggungjawab Sosial


6.1. Prinsip-prinsip Dasar
6.2. Akses Informasi
6.3. Partisipasi Publik
6.4. Tanggungjawab Sosial

21.10.2008 Page 2
Seite
Definisi Hukum Co-Processing

ƒ Co-processing dalam pedoman ini, adalah suatu metode


pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dan/atau bahan bakar
alternatif dengan metode recovery pada proses produksi semen.
Sebagai sebuah proses recovery energi dan/atau bahan dari
limbah maka ketiadaan suplai limbah tidak boleh menyebabkan
terganggungnya proses produksi semen dengan menggunakan
bahan baku dan/atau bahan bakar konvensional.
ƒ Yang dimaksud dengan limbah dalam pedoman ini adalah
sisa suatu usaha dan/atau proses produksi dan/atau kegiatan
dan/atau kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam
yang berbentuk padat, cair atau bentuk lainnya. Dengan
demikian, pengertian limbah dalam pedoman ini termasuk pula
di dalamnya pengertian sampah berdasarkan Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

21.10.2008 Page 3
Seite
Proses Produksi Semen

Bagan Pengertian Hukum Co-Processing


Memasukan tidak
Limbah Dalam Proses Produksi Semen Secara
Sistem Konvensional
Pembakaran ?

ya

Co-Incineration

Limbah yang
tidak
Dimasukan
Tergolong B3 ?

ya

tidak Tujuan Utama tidak


Tujuan Utama
Pengolahan Untuk Recovery
Untuk Recovery
Pengolahan atau
Pemusnahan Limbah B3
Energi dan/atau
atau Material ?
Energi dan/atau
Material ?
pemusnahan
limbah/sampah
ya

Pemanfaatan Limbah B3
Secara Recovery
ya

Co-Processing

21.10.2008 Page 4
Seite
5. Aspek Hukum dan Kelembagaan

5.1. Prinsip-prinsip Dasar


1. Prinsip Kehati-hatian Dini (Precautionary Principle)
ƒ Kegiatan co-processing limbah dilakukan dengan mengutamakan perlindungan
terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta perlindungan kelestarian
lingkungan hidup dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.
ƒ Berdasarkan prinsip kehati-hatian dini (precautionary principle) maka apabila
terdapat ancaman bahaya yang serius dan tidak dapat dipulihkan lagi, maka
tidak adanya kepastian ilmiah tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda
dilakukannya tindakan untuk mencegah kerusakan lingkungan.
2. Integrasi Co-Processing Dalam Peraturan Perundang-undangan
ƒ Sebagai Salah Satu Alternatif Dalam Pengelolaan Limbah, Co-Processing
Harus Dilihat Secara Menyeluruh Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
yang Berlaku
ƒ Peraturan Perundang-undangan dan Standar yang Mengikat Secara Hukum
(legally binding) serta penegakan hukum yang konsisten merupakan prasyarat
penting bagi pelaksanaan Co-Processing

21.10.2008 Page 5
Seite
3. Analisis Dampak Lingkungan
ƒ Industri semen yang melakukan co-processing harus melakukan analisis Input,
Proses, Output (produk) dan Emisi sebelum pengoperasian pabrik semen dengan
menggunakan limbah sebagai bahan baku dan/atau bahan bakar alternatif.
ƒ Analisis Dampak Lingkungan sesuai standar yang berlaku harus dilakukan
sebelum kegiatan co-processing dijalankan untuk mengetahui dan mengantisipasi
potensi dampak pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dan/atau bahan bakar
alternatif
4. Perizinan
ƒ Lembaga-lembaga terkait dan masyarakat harus dilibatkan dalam proses
perizinan co-processing
ƒ Industri semen harus membagung komunikasi yang terbuka, jujur dan transparan
dengan regulator dan masyarakat dalam proses perizinan serta menerapkan
teknologi terbaik yang tersedia (BAT).
5. Pengendalian dan Pemantauan Dampak Lingkungan
ƒ Industri semen yang melakukan co-processing harus mengendalikan dan
memantau Input, Proses, Output (produk) dan Emisi selama pengoperasian
pabrik semen dengan menggunakan limbah sebagai bahan baku dan/atau bahan
bakar alternatif.
6. Prinsip Kedekatan (Proximity Principle).
ƒ Untuk menghindari dan mengurangi risiko lingkungan dari transportasi limbah,
pabrik semen harus memprioritaskan pemanfaatan limbah dari sumber limbah
yang paling dekat.

21.10.2008 Page 6
Seite
5.2. Kerangka Hukum

ƒ Pelaksanaan co-processing limbah di industri semen harus sesuai dengan ketentuan


hukum dan peraturan perundang-undangan lingkungan yang berlaku di Indonesia.
ƒ Industri semen yang akan melakukan co-processing limbah harus mengidentifikasi
peraturan perundang-undangan lingkungan yang harus ditaati yang terkait dengan
kegiatan co-processing dan melakukan upaya untuk memastikan penaatannya.
ƒ Lembaga-lembaga pemerintah, termasuk pemerintah daerah, sesuai dengan
kewenangannya, harus menyusun persyaratan-persyaratan perlindungan lingkungan
yang mengikat secara hukum terkait dengan kegiatan co-processing limbah di industri
semen.
ƒ Peraturan Perundang - Undangan Yang Terkait Dengan Kegiatan Co-Processing Limbah Di
Indonesia
ƒ Undang-undang Nomor 23 tahun 1997
ƒ Peraturan-peraturan tentang pengelolaan limbah B3
ƒ Peraturan-peraturan tentang pengendalian pencemaran udara
ƒ Peraturan-peraturan tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

21.10.2008 Page 7
Seite
5.3. Kerangka Kelembagaan

Kelembagaan Kewenangan Terkait Dasar Hukum


Co-Processing Limbah

KLH Menetapkan kebijakan pengelolaan limbah B3 UPLH 23/1997; PP AMDAL 27/1999; PP PLB3
(mulai dari proses perizinan, pengawasan 18/1999; Kepmen LH 342/2000; Permen LH
hingga penegakan hukumnya) Pemanfaatan Limbah B3 2/2008.
Dep. Memfasilitasi teknologi pengelolaan limbah UPLH 23/1997; PP AMDAL 27/1999; UU
Perindustrian B3 dan kerjasama antar industri dalam Perindustrian 5/1984; Permen Pemberlakuan SNI
pemanfaatan limbah B3 35/2007; Nota Kesepakatan antara Meneg LH
dengan Menteri Perindustrian tentang
Pengelolaan Limbah B3 pada sector industri
pengolahan.
Dep. Mengeluarkan izin transportasi UUPLH 23/1997; PP 18/1999.
Perhubungan (pengangkutan limbah B3)
Departemen Bertanggungjawab terhadap kebijakan K3 UPLH 23/1997; PP AMDAL 27/1999; PP PLB3
Tenaga Kerja pada sektor industri 18/1999.

Dep. Melakukan pengawasan terhadap jaminan UPLH 23/1997; PP AMDAL 27/1999; PP PLB3
Kesehatan kesehatan kerja dan kesehatan lingkungan. 18/1999.

21.10.2008 Page 8
Seite
Instansi-instansi pemerintah provinsi terkait kegiatan co-processing limbah
Kelembagaan Kewenangan Terkait Dasar Hukum
Co-Processing Limbah
Bapedalda/ Melakukan pengawasan pelaksanaan • UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Dinas LH pengelolaan limbah B3 skala provinsi 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Bertangungjawab terhadap aktivitas industri • UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Perindustrian di daerah provinsi 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Peda.
Dinas Bertanggung jawab terhadap lalu lintas • UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Perhubungan limbah B3 lintas kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Tenaga Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan K3 • UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Kerja di wilayah provinsi 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Memberikan jaminan kesehatan kerja dan • UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Kesehatan lingkungan pada wilayah kegiatan industri 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.

21.10.2008 Page 9
Seite
Instansi-instansi pemerintah kabupaten/kota terkait kegiatan co-processing limbah
Kelembagaan Kewenangan Terkait Dasar Hukum
Co-Processing Limbah

Bapedalda/ Melakukan pengawasan pelaksanaan pengelolaan UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Dinas LH limbah B3 skala kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Bertanggung jawab terhadap aktivitas industri di UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Perindustrian daerah kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Bertanggung jawab terhadap lalu lintas limbah B3 UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Perhubungan lintas kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Peda.
Dinas Tenaga Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan K3 di UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Kerja wilayah kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.
Dinas Memberikan jaminan kesehatan kerja dan lingkungan UUPLH 23/1997; PP Pembagian Urusan Pemerintahan
Kesehatan pada wilayah kegiatan industri kabupaten/kota 38/2007; PP Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di
Daerah 6/1998; PP AMDAL 27/1999; PPPLB3 18/1999;
Kepmen LH 342/2000; Permen LH 2/2008; Perda.

21.10.2008 Page 10
Seite
5.4. Proses Perizinan
No Jenis Izin Pejabat Penerbit Izin Dasar Hukum

1 Izin Pengangkutan Menteri Perhubungan dengan Pasal 40 (1) PP


Limbah B3 Rekomendasi Kementerian Lingkungan 18/1999
Hidup
2 Izin Pengumpulan limbah B3 Menteri Lingkungan Hidup Pasal 40 (1) PP
18/1999
3 Izin Pemanfaatan Menteri Lingkungan Hidup Pasal 40 (1) PP
limbah B3 sebagai bahan baku 18/1999
dan/atau bahan bakar
alternatif
4 Izin operasi alat pengolahan Menteri Lingkungan Hidup Pasal 40 (3) PP
limbah B3 18/1999
5 Izin Pembuangan Emisi Gubernur Perda Provinsi Jawa Barat
Nomor 11/2006
6 Izin Usaha Pengelolaan Kepala Daerah Pasal 17 UU Nomor 18
Sampah tahun 2008

21.10.2008 Page 11
Seite
Standar Prosedur Proses Perizinan Co-Processing Limbah
1. Pra-pengajuan/Konsultasi

• Prosedur perizinan
2. Pengajuan dan Penerimaan harus dilakukan
Berkas/Dokumen Resmi dengan memperhatikan
jangka waktu
penerbitan izin sesuai
3. Verifikasi Administrasi peraturan perundang-
undangan (mis;
maksimal 45 hari kerja
4. Verifikasi Teknis dan Lapangan untu izin di bidang
limbah B3)
• Pemberian izin
5.a Konsultasi Instansi Terkait 5.b. Peer Review Ahli Teknis 5.c. Konsultasi Publik dilakukan dengan
mempertimbangkan
pendapat masyarakat
6 Rapat Penilaian Akhir dan rekomendasi hasil
studi AMDAL

7 Keputusan Akhir

21.10.2008 Page 12
Seite
5.5. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

ƒ Perubahan bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan
menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda.
ƒ Jumlah dan jenis limbah yang digunakan dalam kegiatan co-processing di masing - masing
industri semen berbeda - beda kondisinya.
ƒ Analisis Dampak Lingkungan sesuai standar dan prosedur yang berlaku harus dilakukan
sebelum kegiatan co-processing dijalankan untuk mengetahui dan mengantisipasi potensi
dampak pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dan/atau bahan bakar alternatif.
ƒ Pelaksanaan analisis dampak lingkungan sebelum kegiatan co-processing dijalankan juga
bermanfaat untuk memastikan penaatan (compliance) terhadap standar keselamatan
lingkungan.
ƒ Sebagai bagian dari proses untuk mendapatkan izin co-processing limbah, industri semen
yang akan melakukan kegiatan co-processing harus berkonsultasi dengan komisi AMDAL
yang berwenang.
ƒ Sesuai keputusan Komisi AMDAL yang berwenang, pabrik semen yang akan melakukan
kegiatan co-processing harus memperbaharui dokumen-dokumen AMDAL yang
dipersyaratkan oleh Komisi AMDAL.
ƒ Dokumen-dokumen AMDAL yang telah diperbaharui sesuai keputusan komisi AMDAL
menjadi bahan pertimbangan pejabat yang berwenang untuk memberikan izin co-processing
limbah.
21.10.2008 Page 13
Seite
5.6. Persyaratan Limbah, Proses, Emisi dan Produk

ƒ Persyaratan Limbah sebagai Bahan Baku dan/atau Bahan Bakar Alternatif


(AFR)
ƒ Limbah yang digunakan sebagai AFR harus memenuhi kriteria
pemanfaatan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang
mengikat secara hukum dan tidak termasuk dalam kategori negatif list.
ƒ Persyaratan Proses
ƒ Proses pemanfaatan limbah sebagai AFR di pabrik semen harus
menerapkan teknik terbaik yang tersedia (BAT) dan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan dan persyaratan izin yang berlaku
ƒ Persyaratan Emisi
ƒ Industri semen yang melakukan co-processing limbah harus mematuhi
baku mutu emisi yang dipersyaratakan dalam peraturan perundang-
undangan dan/atau dokumen izin yang berlaku
ƒ Persyaratan Produk
ƒ Produk semen dengan praktek co-processing limbah harus sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku dan telah diuji kandungan
toksisitasnya berdasarkan metode pengujian yang standar (TCLP, LD50)
minimal satu kali

21.10.2008 Page 14
Seite
Limbah B3
Tahapan Penentuan Jenis Limbah
yang Dapat Digunakan/Tidak Dapat Digunakan
Sebagai Bahan Baku dan/atau Apakah limbah B3 tersebut masih
Bahan Bakar Alternatif di Industri Semen dapat dimanfaatkan dengan cara ya Tolak
reuse ?

tidak

Apakah limbah B3 tersebut masih


dapat dimanfaatkan dengan cara ya
Tolak
recycle ?

Kriteria negative list: tidak


Apakah limbah B3 tersebut masuk
- Kadar Emisi dalam negatif list co-processing ya Tolak
- Kesehatan dan limbah?
Keselamatan kerja
- Negatif terhadap tidak
Operasi Kiln
Apakah limbah B3 tersebut
- Mempengaruhi kualitas
sesuai dengan kriteria teknis
klinker ya
pemanfaatan (kesamaan, Terima
- Dll.
kandungan kalor/mineral,
kandungan pengotor dll)?

Melalui Proses Pengolahan Terlebih


tidak Dahulu
(Pre-Processing/
Pre-reatment)

Metode lain (dll)

21.10.2008 Page 15
Seite
Bagan Skema Co- Processing Dalam Kerangka Pemanfaatan Limbah B3

Komponen Limbah Pemanfaat limbah


tidak sesuai dengan B3 sebagai kegiatan
Kriteria utama
Pemanfaatan
Penghasil
limbah B3 Pengumpul
Komponen limbah limbah B3 Pemanfaat limbah
(Proses pre-
Konsisten
sesuai dengan

Kriteria
treatment) B3 bukan sebagai
Pemanfaatan kegiatan utama
(Pabrik semen)

21.10.2008 Page 16
Seite
5.7. Manajemen Penaatan

ƒ Manajemen penaatan Oleh Pemerintah


ƒ Instansi pemerintah yang terkait , khususnya instansi pengelolaan
lingkungan hidup menerapkan program-program penaatan (pemantauan
dan pengawasan) terhadap industri semen yang melakukan co-processing
limbah dan pelaku usaha/kegiatan di bidang pengelolaan limbah secara
konsisten dan terkoordinasi.
ƒ Instansi pemerintah yang terkait,dan masyarakat melakukan upaya
penegakan hukum administrasi, Penegakan Hukum Pidana dan
Penegakan Hukum Perdata terhadap pelanggaran hukum di bidang
pengelolaan limbah secara tegas, konsisten, adil dan proporsional.
ƒ Manajemen Penaatan Oleh Industri
ƒ Industri semen dan pelaku usaha/kegiatan di bidang pengelolaan limbah
lainnya harus menerapkan manajemen penaatan untuk memastikan
penaatan terhadap peraturan perundang-undangan dan perizinan yang
berlaku dan mengelola risiko hukum

21.10.2008 Page 17
Seite
Manajemen penaatan yang dapat dijalankan
oleh industri semen dalam rangka kegiatan co-
processing limbah:
• Melaksanakan fungsi pengawasan internal secara konsisten untuk
memastikan bahwa semua aktivitas operasi telah sesuai dengan
peraturan dan izin yang berlaku.
• Membuat kebijakan internal yang mengacu kepada peraturan dan izin
yang berlaku.
• Melakukan sosialisasi atau pelatihan segala peraturan dan izin yang
berlaku beserta risiko sanksinya kepada seluruh karyawan yang
terkait.
• Melakukan pengkinian atas informasi peraturan dan izin yang masih
berlaku maupun yang telah dicabut.
• Melaksanakan fungsi kontrol terhadap pelaksanaan kepatuhan melalui
fungsi internal audit (prasyarat lingkungan).
• Melakukan upaya pemantauan dan pelaporan mandiri (self monitoring
dan self reporting) secara berkala, tepat waktu dan akurat.

21.10.2008 Page 18
Seite
6. Aspek Komunikasi dan tanggungjawab Sosial

6.1. Prinsip-prinsip Dasar


ƒ Prinsip Pemenuhan Hak Atas Informasi. Dalam pelaksanaan kegiatan co-
processing di industri semen akses informasi harus senantiasa dibuka bagi
masyarakat terutama mengenai pengajuan izin baru untuk pelaksanaan kegiatan
co-processing terhadap limbah tertentu
ƒ Prinsip Keterbukaan. Industri semen yang melakukan kegiatan co-processing
harus menyediakan informasi yang diperlukan untuk membantu pihak-pihak yang
berkepentingan untuk memahami tujuan kegiatan co-processing, memahami
proses kegiatan co-processing, memahai fungsi dari pihak-pihak yang terkait
dengan kegiatan co-processing dan membantu pengambilan keputusan oleh pihak-
pihak yang terkait.
ƒ Prinsip Transparansi. Industri semen yang melakukan co-processing limbah harus
bersikap terbuka dalam melakukan diskusi mengenai pengalaman dan praktek
positif dan negatif dari kegiatan co-processing kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
ƒ Prinsip Kredibilitas dan Konsistensi. Industri semen yang melakukan co-
processing harus membangun kredibilitas dengan bersikap terbuka, jujur dan
konsisten. Informasi yang disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait harus
sesuai dengan kkenyataan di lapangan. Kesenjangan antara informasi yang
disampaikan dengan kenyataan di lapangan harus dihindari.

21.10.2008 Page 19
Seite
6.1. Prinsip-prinsip Dasar ….

ƒ Prinsip Saling Menghormati dan Percaya. Industri semen yang melakukan co-
processing harus mengintegrasikan pandangan publik dalam pengambilan
keputusan terkait kegiatan co-processing. Sementara itu, pihak yang
berkepentingan harus memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pandangannya
dengan bebas tanpa rasa takut dan tanpa tekanan.

ƒ Prinsip Sensitivitas Budaya. Industri semen yang melakukan co-processing harus


memperhatikan kondisi sosial budaya di mana pabrik semen beroperasi.

ƒ Prinsip Keberlanjutan. Upaya komunikasi, partisipasi publik dan pelaksanaan


tanggung jawab sosial dalam rangka kegiatan co-processing di Industri semen
harus dilakukan sedini mungkin dan berkelanjutan.

21.10.2008 Page 20
Seite
6.2. Akses Informasi
ƒ Jaminan Hukum
ƒ Akses Informasi Perizinan
ƒ Akses Informasi Pemantauan Kualitas Udara
ƒ Akses Informasi Keadaan Darurat

6.3. Partisipasi Publik


ƒ Jaminan Hukum
ƒ Partisipasi Dalam Pengambilan Keputusan
ƒ Partisipasi Dalam Pemantauan dan Pengawasan
ƒ Partisipasi Dalam Penanggulangan Keadaan Darurat
ƒ Metode Partisipasi

21.10.2008 Page 21
Seite
Mobilisasi dgn kemauan sendiri Masyarakat mengambil inisiatip sendiri, jika perlu dengan bimbingan dan bantuan pihak luar.
(self-mobilization) Mereka memegang kontrol atas keputusan dan pemanfaatan sumber daya; pihak luar
memfasilitasi mereka

Kemitraan Masyarakat mengikuti seluruh proses pengambilan keputusan bersama dengan pihak luar, seperti
(partnership) studi kelayakan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dll. Partisipasi merupakan hak mereka dan
bukan kewajiban untuk mencapai sesuatu. Ini disebut “partisipasi interaktif.”

Masyarakat ikut dalam proses pengambilan keputusan yang biasanya sudah diputuskan
Plakasi/konsiliasi
sebelumnya oleh pihak luar, terutama menyangkut hal-hal penting. Mereka mungkin terbujuk oleh
(placation/conciliation)
insentif berupa uang, barang, dll.

Perundingan
Pihak luar berkonsultasi dan berunding dengan masyarakat melalui pertemuan atau public hearing
(consultation)
dan sebagainya. Komunikasi dua arah, tetapi masyarakat tidak ikut serta dalam menganalisis atau
mengambil keputusan.

Pengumpulan informasi
(information gathering)
Masyarakat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang luar. Komunikasi searah dari
masyarakat ke luar.

Pemberitahuan Hasil yang diputuskan oleh orang luar (pakar, pejabat, dll.) diberitahukan kepada masyarakar.
(informing) Komunikasi terjadi satu arah dari luar ke masyarakat setempat.

21.10.2008 Page 22
Seite
Tanggung Jawab Pemerintah dan Industri
untuk Memenuhi Hak Masyarakat atas Informasi dalam Kegiatan Co-processing

Aspek Perizinan Aspek Pencemaran Udara Aspek Tanggap


Darurat
1.Menginformasikan 1.Informasi kualitas udara ambien 1.Informasi terjadinya
dokumen izin yang (Indeks Standar Pencemar Udara) di keadaan darurat
dikeluarkan lokasi tertentu dan waktu tertentu (Pemerintah)
(Pemerintah) (Pemerintah) 2.Informasi sistem
2.Menginformasikan 2.Hasil inventarisasi dan pemantauan tanggap darurat
ringkasan dokumen baku mutu udara ambien, baku mutu (Industri)
permohonan izin emisi, baku tingkat gangguan dan
(Industri) ISPU yang dilakukan pejabat
pengawas (Pemerintah)
3.Hal-hal terkait dengan upaya
pengendalian pencemaran udara
(penaatan baku mutu, upaya
pencegahan dan upaya
penanggulangan) (Industri)

Sumber: Diolah dari UU23/1997, PP 18/1999 dan PP 41/1999


21.10.2008 Page 23
Seite
6.4. Tanggung Jawab Sosial

ƒ Akuntabilitas. Bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya


terhadap masyarakat dan lingkungan.
ƒ Transparansi. Menerapkan prinsip keterbukaan dalam keputusan
dan aktivitasnya yang memiliki dampak terhadap pihak lain.
ƒ Perilaku beretika. Menerapkan perilaku yang beretika kapanpun dan
dimanapun yang didasarkan pada integritas, kejujuran, kesamaan,
dan pelayanan.
ƒ Pemangku kepentingan (stakeholder). Memperhatikan kepentingan
dari para stakeholder yang terlibat dalam kegiatan co-processing.
ƒ Kepatuhan hukum. Mematuhi hukum yang berlaku
ƒ Kepatuhan pada norma internasional. Mematuhi nilai-nilai dan
norma-norma dan standar minimum internasional.
ƒ Hak asasi manusia. Menghormati hak atas lingkungan hidup yang
baik dan sehat bagi hak asasi manusia

21.10.2008 Page 24
Seite
Komponen Tanggung Jawab Sosial

Sumber: DRAFT ISO 26000

21.10.2008 Page 25
Seite
Komponen Tanggung Jawab Sosial
ƒ Organizational Governance. Proses atau mekanisme pengambilan
keputusan secara transparan, dengan memperhatikan kepentingan dan
melibatkan para stakeholder.
ƒ Hak Asasi Manusia. Kepatuhan terhadap hukum nasional yang berlaku,
dimana diharapkan dengan adanya kepatuhan, hak asasi dapat terjamin
dan terlindungi.
ƒ Praktek Perburuhan. Melakukan pengolahan limbah adalah hubungan
hak dan kewajiban antara industri semen dengan para pekerjanya,
kondisi keamanan dan keselamatan di tempat kerja, perlindungan sosial
bagi pekerja, kesejahteraan pekerja, komunikasi sosial, dan
pengembangan kapasitas pekerja.
ƒ Lingkungan. Industri semen harus memperhatikan polusi yang mungkin
dihasilkan (sedapat mungkin dicegah), penggunaan sumber daya alam
yang terbarukan, dampak terhadap perubahan iklim, dan perlindungan
dan perbaikan atas lingkungan

21.10.2008 Page 26
Seite
Lanjutan…
ƒ Fair Operating Practices. Tidak adanya tindak korupsi, keterlibatan
dalam politik yang bertanggung jawab, persaingan usaha yang adil,
mempromosikan tanggung jawab sosial secara lebih luas, dan
menghargai hak kepemilikan (hak kekayaan intelektual).
ƒ Isu Konsumen. Memberikan keterangan dalam penjualan dan
pemasaran produk semen hasil co-processing secara jelas dan
transparan, mengutamakan keamanan produk dan melindungi
kesehatan konsumen.
ƒ Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat. Industri semen harus
melibatkan masyarakat dalam skema pengolahan limbah,
mengembangkan struktur sosial masyarakat, penyerapan tenaga
kerja, pengembangan teknologi, peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat, pengembangan pendidikan dan budaya,
dan peningkatan kesehatan.

21.10.2008 Page 27
Seite
21.10.2008 Page 28
Seite