Anda di halaman 1dari 28

i

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan komoditas hortikultura jenis


sayuran umbi penting di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai pangan alternatif,
sebagai sumber karbohidrat kaya protein dan sebagai penunjang diversifikasi
pangan (Direktorat Perlindungan Hortikultura. 2016). Selain itu, kentang juga
dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan restoran cepat
saji, sehingga permintaan produk kentang aman konsumsi semakin meningkat.
Jumlah produksi dan luas panen tanaman kentang di Indonesia mengalami
laju penurunan dan kenaikan hingga beberapa tahun belakangan ini (Dirjen
Hortikultura, 2015), tetapi kenaikan tersebut belum dapat mengimbangi jumlah
konsumsi di Indonesia. Berikut data luas panen dan produksi tersaji pada tabel di
bawah ini.

Tabel 1. Luas Panen dan Produksi Kentang di Indonesia Tahun 2014-2018

Peningkatan/ Penurunan Terhadap


Kentang
Tahun Sebelumnya
Tahun
Luas Luas
Produktivitas Produksi Produktivitas Produksi
Panen Panen
2014 76.291 17,67 1.347.815 - - -
2015 66.983 18,20 1.219.270 -9.308 0,53 -128.545
2016 66.450 18,23 1.213.038 -533 0,03 -6.232
2017 75.611 15,40 1.164.738 9.161 -2,83 -48.300
2018 68.683 18,71 1.284.760 -6.928 3,31 120.022

Sumber: KEMENTAN RI, diakses tanggal 22 November 2019

Menurut Direktur Buah (2004) dalam hal ini khususnya adalah kentang
merupakan bagian integral dari subsistem produksi produk pertanian yang tidak
dapat dipisahkan, kentang mempunyai daya saing apabila dibarengi dengan

1
2

adanya standar mutu dan jaminan mutu terhadap kebutuhan konsumen yang harus
dipenuhi sehingga produk tersebut harus bisa terjaga dan selamat dari segala
gangguan, baik itu yang terdapat di pra tanaman, di lahan, hingga pasca panen.
Gangguan di sub sistem pertanian selain terdapat gangguan mekanis dan
fisik, terdapat juga gangguan yang disebabkan oleh biologi (baik organisme dan
mikroorganisme). Organisme pengganggu tanaman (OPT) tidak hanya merujuk
pada hama, penyakit, dan/atau gulma, tetapi salah satu diantaranya adalah
nematoda. Nematoda atau cacing mikro yang menjadi parasit tanaman disebut
dengan fitonematoda, di mana fitonematoda merupakan salah satu jenis organisme
pengganggu tumbuhan (OPT) penting yang menyerang berbagai jenis tanaman
utama di Indonesia dan negara-negara tropis lainnya.
Kehilangan hasil akibat serangan nematoda di seluruh dunia dapat mencapai
US$ 80 milyar per tahun (Price, 2000 dalam Ika Mustika, 2005). Meskipun
demikian di Indonesia, kerusakan tanaman karena nematoda parasit, kurang
disadari baik oleh para petani maupun para petugas yang bekerja di bidang
pertanian. Hal ini mungkin disebabkan oleh gejala serangan nematoda yang sulit
diamati secara visual karena ukuran nematoda yang sangat kecil. Selain itu gejala
serangan nematoda berjalan sangat lambat dan tidak spesifik, mirip atau
bercampur dengan gejala kekurangan hara dan air, kerusakan akar, dan pembuluh
batang.
Serangan nematoda dapat memengaruhi proses fotosintesa dan transpirasi
serta status hara tanaman (Melakeberhan et al., 1987 dalam Ika Mustika, 2005),
akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun kuning klorosis, dan
akhirnya tanaman mati. Selain itu serangan nematoda, juga dapat menyebabkan
tanaman lebih mudah terserang patogen atau OPT lainnya seperti jamur, bakteri,
dan virus, sehingga serangan nematoda dapat menghambat pertumbuhan tanaman,
mengurangi produktivitas, dan kualitas produksi (Ika Mustika, 2005).
Menurut Direktorat Perlindungan Hortikultura (2016), salah satu faktor risiko
dalam usaha tani kentang sejak di lapangan sampai penyimpanan akibat
fitonematoda adalah Nematoda Sista Kuning/ NSK (Globodera rostochiensis
Wollenweber). Nematoda Sista Kuning/ NSK (Globodera rostochiensis
Wollenweber) merupakan nematoda parasit utama pada tanaman kentang yang
3

baru diketahui menyerang tanaman kentang di Indonesia pada awal tahun 2003.
Potensi kehilangan hasil panen kentang akibat serangan nematoda ini mencapai
80%, oleh karena itu NSK perlu segera dikendalikan.
Nematoda Sista Kuning/ NSK (Globodera rostochiensis Wollenweber) di
luar negeri disebut Potatoes Cyst Nematode. Tercatat gejala kentang yang
terserang NSK ditandai dengan penurunan produksi sebesar 70% dari produksi
normal 25 ton/ha, turun menjadi 10 ton/ ha, bahkan sampai 5 ton/ ha (kehilangan
hasil 75%). Asumsi penurunan hasil karena NSK pada tingkat serangan rendah
(20 telur/g tanah), secara nasional menurunkan hasil 133.062 ton senilai Rp.
532.284.000.000. Saat populasi NSK di suatu daerah sangat tinggi penurunan
hasil mencapai 80% (848.644 ton) atau senilai Rp. 3.394.576.000.000,- (Achrom
2011, dalam Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2016).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang?
2. Bagaimana klasifikasi nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang?
3. Bagaimana morfologi nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang?
4. Bagaimana siklud hidup nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang?
5. Bagaimana penyebab dan gejala kerusakan yang disebabkan oleh nematoda
Globodera rostochiensis Wollenweber pada tanaman kentang?
6. Bagaimana pengendalian dan Pencegahan yang tepat untuk mengendalikan
serangan nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada tanaman
kentang?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada tanaman
kentang.
4

2. Mengetahui klasifikasi nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada


tanaman kentang.
3. Mengetahui morfologi nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang.
4. Mengetahui siklud hidup nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber
pada tanaman kentang.
5. Mengetahui penyebab dan gejala kerusakan yang disebabkan oleh nematoda
Globodera rostochiensis Wollenweber pada tanaman kentang.
6. Mengetahui pengendalian dan Pencegahan yang tepat untuk mengendalikan
serangan nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada tanaman
kentang.

1.4. Kegunaan
Kegunaan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi dan
pengetahuan mengenai nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber pada
tanaman kentang.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tanaman Kentang


Tanaman kentang (Solanum tuberosum L) merupakan suatu tanaman terna
berbatang basah dengan umbi batang pada stolonnya (Gembong dalam Laila
Hidayati, 2013) dan merupakan tanaman dikotil semusim berbentuk semak atau
herba dengan filotaksis spiral, tanaman ini umumnya ditanam dari umbi.
Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan tanaman umbi yang kaya akan
karbohidrat dan dapat digunakan sebagai bahan makanan pengganti makanan
pokok. Kentang merupakan salah satu makanan pokok dunia karena berada pada
peringkat ke tiga tanaman yang dikonsumsi masyarakat dunia setelah beras dan
gandum (International Potato Center, 2013).

2.1.1. Klasifikasi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)


Klasifikasi tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) (Gembong dalam
Hidayati, 2013)
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Tubiflorae (Solanales, Personatae)
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum tuberosum L.

5
6

Gambar 1. Buah Kentang (Sumber: https://www.rizkibio.com/2016/09/morfologi-


dan-syarat-tumbuh-tanaman.html)

2.1.2. Morfologi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)

A. Morfologi Daun Tanaman Kentang


Tanaman kentang pada umumya memiliki daun rimbun berbentuk oval dan
meruncing, serta tulang daunya menyirip. Daun merupakan dapur bagi tanaman,
dimana daun memiliki fungsi sebagai tempat pengolahan makanan melalui proses
fotosintesis. Warna daun tanaman kentang, yaitu hijau muda sampai hijau tua,
bahkan ada juga yang abu-abu. Sedangkan permukaan bawah daun kentang
berbulu.

B. Morfologi Batang Tanaman Kentang


Kentang memiliki batang berbentuk segi empat maupun segi lima, dengan
tekstur agak keras dan berwarna hijau tua berpigmen unggu. Batang tanaman ini
berdiameter kecil dengan panjang sekitar 50 – 120 cm.
Tanaman kentang memiliki tipe batang yang dibedakan menjadi tiga, yaitu
tegak, menyebar, dan menjalar. Pada batang tanaman kentang terdapat rongga dan
tidak berkayu, kecuali tanaman kentang yang sudah tua pada batang bagian bawah
dapat berubah menjadi berkayu.
Fungsi dari batang adalah sebagai lajur pengangkutan unsur hara yang
diperoleh melalui akar menuju daun. Batang juga berfungsi sebagai lajur
pengangkutan hasil fotosintesis dari daun menuju ke seluruh bagian tumbuhan.

C. Morfologi Bunga Tanaman Kentang


Bunga kentang berukuran begitu kecil dengan warna merah, ungu, atau pun
putih. Dari bunga kentang itu akan menghasilkan buah berwarna hijau atau hijau
7

keputihan, berlendir serta mengandung biji. Buah kentang mengandung solonim


yang merupakan senyawa dengan kandungan racun tinggi, sehingga tidak
dianjurkan untuk dikonsumsi.

D. Morfologi Akar Tanaman Kentang


Akar dari tanaman kentang menjalar dan berukuran kecil serta halus. Akar
tanaman ini memiliki warna agak putih dan mampu masuk ke tanah sampai
dengan kedalaman 45 cm. Tetapi pada umumnya akar kentang masuk dan
bergerombol pada kedalaman tanah 25 cm.
Fungsi dari akar yaitu untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya
tumbuhan di tempat hidupnya dan juga untuk menyerap air serta unsur hara dalam
tanah.
Bagi tanaman kentang yang dihasilkan dari perbanyakan tanaman secara
vegetatif akan menghasilkan perakaran yang kurang kuat jika dibandingkan
perbanyakan secara generatif. Hal tersebut dikarenakan perbanyakan secara
vegetatif tidak menghasilkan akar tunggang.

E. Morfologi Umbi Tanaman Kentang


Umbi kentang merupakan satu-satunya bagian dari tanaman tersebut yang
dapat dikonsumsi. Umbi kentang memiliki kulit yang tipis, ketabalan kulit
kentang dipengaruhi dari jenis varietasnya dan juga keadaan lingkunganya. Umbi
adalah organ tumbuhan yang mengalami perubahan ukuran dan bentuk sebagai
akibat perubahan fungsinya. Sedangkan fungsi dari umbi yaitu untuk menyimpan
bahan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.
Umbi kentang memiliki bentuk dan ukuran yang bermacam- macam, ada
yang bulat, bulat telur, maupun bulat memanjang. Sedangkan warna dari umbi
kentang ada yang kuning, merah, dan juga putih, semua itu tergantung dari jenis
varietasnya.
8

Gambar 2. Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)


(Sumber: https://www.anakagronomy.com/2014/12/syarat-tumbuh-
tanaman-kentang-solanum.html)

2.1.3. Syarat Tumbuh Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)

A. Tanah
Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang mempunyai
struktur cukup halus, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, aerasi
dan drainasenya baik dengan pH tanah 5,0-6,5 (Rukmana, 1997).

B. Suhu dan Kelembapan


Suhu rata-rata harian yang sesuai untuk pertumbuhan 18-200C. Proses
pembentukan umbi sangat dipengaruhi oleh suhu tanah yang rendah pada malam
hari. Suhu tanah optimum untuk pembentukan umbi yang normal berkisar antara
15-180C. Pertumbuhan umbi akan sangat terhambat apabila suhu tanah kurang
dari 100C dan lebih dari 300C. Sedangkan kelembapan udara yang sesuai bagi
pertumbuhan tanaman 80-90 %.
9

C. Intensitas Cahaya
Tanaman kentang memerlukan intensitas cahaya yang besar, semakin banyak
atau meningkat intensitas cahaya matahari yang dapat diterima tanaman semakin
mempercepat proses pembentukan umbi dan waktu pembungaan (Samadi, 2002).

D. Letak Geografis
Kentang lebih cocok ditanam di daerah dataran tinggi, dengan ketinggian
lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Akan tetapi yang paling baik ialah
tempat-tempat yang tingginya antara 1000-2000 meter di atas permukaan laut
(Sunaryono, 1987).

E. Penyinaran
Lama penyinaran yang diperlukan tanaman kentang antara 9-10 jam per hari
yang berguna untuk fotosintesis. Lama penyinaran juga berpengaruh terhadap
pembentukan umbi (Samadi, 2002).

F. Angin
Angin yang kencang berkelanjutan berpengaruh secara langsung maupun
tidak langsung terhadap pertumbuhan kentang. Pengaruh langsung adalah
tanaman dapat roboh dan rusak, sehingga berhenti pertumbuhannya. Sedangkan
secara tidak langsung angin berpengaruh nyata terhadap kondisi tanah dan laju
transpirasi. Angin kencang dapat mempercepat penguapan air tanah, akibatnya
tanah menjadi cepat kering dan mengeras. Keadaan ini menyebabkan
keseimbangan antara udara dengan air yang tersedia didalam tanah menjadi
berkurang dan tidak mencukupi kebutuhan tanaman sehingga pertumbuhannya
terhambat (samadi, 2002).

G. Curah Hujan
Kentang (Solanum tuberosum L.) sangat baik dengan curah hujan 1500 mm
per tahun, pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman adalah ketersediaan air
tanah dan keadaan iklim setempat. Curah hujan yang ideal adalah antara 200-300
mm per bulan (Rukmana, 2002).
Curah hujan yang tinggi berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan
kelembapan, penurunan suhu, berkurangnya penyinaran matahari dan peningkatan
10

air tanah. Sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasilnya.


Genangan air yang terjadi saat umbi telah terbentuk dapat menyebabkan
pembusukan (Samadi, 2002).

2.2. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis Wollenweber)


Globodera rostochiensis Wollenweber dikenal dengan nama nematoda sista
Kuning (NSK) dan merupakan nematoda parasit utama pada tanaman kentang
(Aisyah dkk, 2007 dalam Hidayati, 2013). Menurut EPPO, 2004 (dalam Hidayati,
2013), Nematoda sista kuning adalah salah satu jenis nematoda yang
menyebabkan kerugian besar pada tanaman kentang.
Larva nematoda infektif hanya bergerak maksimal sekitar 1 meter di dalam
tanah. Umumnya gerakan untuk daerah yang baru adalah dengan transportasi
pasif. Rute utama dari penyebarannya adalah melalui benih kentang dan gerakan
tanah (misalnya pada mesin pertanian) dari tanah yang terinfeksi ke wilayah
lainnya (EPPO standards, 2004 dalam Hidayati, 2013).
Menurut Skarbilovich (dalam Hidayati, 2013) G. rostochiensis Wollenweber
(yellow cyst nematode, yellow potato cyst nematode atau nematoda sista kuning)
berasal dari subgenus Globodera yang diangkat menjadi istilah umum oleh
Bahrens (1975) (CABI dan EPPO, 2007 dalam Hidayati, 2013).
Nematoda Globodera rostochiensis Wollenweber dikategorikan ke dalam
proses metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis tidak sempurna mempunyai
tige fase, diantaranya; telur, menjadi nimfa (larva), kemudian dewasa (Ditlin,
2002).

Gambar 3. Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis Wollenweber)


Sumber: http://www.padil.gov.au/pests-and-diseases/pest/main/136495/4639
11

2.2.1. Klasifikasi Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis


Wollenweber)
Klasifikasi Nematoda G. rostochiensis Wollenweber (Hadisoeganda, 2006
dalam Hidayati, 2013), sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Subkelas : Diplogasteria
Ordo : Tylenchida
Famili : Heteroderidae
Genus : Globodera
Spesies : Globodera rostochiensis Wollenweber. (yellow cyst nematode/
golden cyst nematode/ nematoda sista kuning/ NSK)

2.2.2. Morfologi Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis


Wollenweber)

A. Telur
Morfologi telur G. rostochiensis Wollenweber berbentuk oval, massa telur
berada di dalam tubuh betina yang telah berubah menjadi sista. Ukuran panjang
telur antara 98-109 μm dengan rata-rata 105 μm. Sedang lebar antara 50-59 μm,
dengan rata-rata 54,6 μm (Mulyadi et.al., 2003 dalam Hidayati, 2013).
Nematoda ini berukuran sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan
mikroskop. Pada akar halus atau akar samping, nematoda ini membentuk sista
yang dapat dilihat dengan mata (Sunarjono, 2007).

B. Larva Stadia Dua


Ketika larva masih dalam telur umumnya tubuh melipat menjadi empat
lipatan, berbentuk cacing (vermifrom) dan bentuk ekor makin keujung makin
mengecil. Kepala sedikit Offset (bagian kepala dengan bagian tubuh dibelakang
kepala “dipisahkan” oleh suatu lekukkan pada kutikula). Tipe stilet Stomatostilet,
berkembang baik, dan pangkal stilet (knob) berbentuk membulat yang merupakan
12

salah satu ciri G. Rostochiensis. Panjang tubuh antara 531-563 μm, lebar tubuh
maksimum 22-26 μm, panjang stilet antara 21-33 μm, panjang esofagus dari ujung
anterior sampai basal bulbus antara 113-161 μm, dan panjang ekor antara 54-67
μm.

C. Dewasa Betina
Tubuh berbentuk membulat (globose), tidak mempunyai vulval cone (vulva
tampak menonjol seperti kerucut terpancung), tubuh berwarna putih kemudian
pada perkembangan selanjutnya berubah menjadi kuning keemasan sehingga
disebut Golden Potato Cyst Nematode (nematoda sista kuning). Perubahan warna
pada tubuh terjadi karena adanya pengaruh pigmen tubuh.

D. Sista
Sista G. Rostochiensis berbentuk membulat berwarna coklat atau cokelat
kehitaman. Kepala dan leher relatif kecil dan tampak menonjol seperti pada
betina, tidak didapatkan vulval cone (vulva tampak menonjol seperti kerucut
terpancung). Vulval basin (pembatas antara dua “bibir” vulva) tidak ada dan
membentuk single circular venestra (vulva hanya terdiri atas satu ”bibir”
berbentuk melingkar). Pada G. Rostochiensis antara vulva dengan anus
mengandung lebih dari 12 perabungan paralel (paralel ridges).

Gambar 4. Sebuah Sista yang Pecah dengan Mengeluarkan Telur yang Banyak
pada NSK (G. rostochiensis Wollenweber) (Sumber: (Zunke, 2005)).
13

Gambar 5. Telur NSK (G. rostochiensis Wollenweber) Hasil Isolasi Telur


Nematoda dari Sista (Zunke, 2011). (Sumber: Zunke, 2005 (dalam
Hidayati, 2013)).

Gambar 6. Globodera rostochiensis


(Sumber: http://jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/download/802/742).

Gambar 7. Perbedaan Stylet dari Empat Spesies Globodera.


(Sumber: Marks and Brodie, 1998.).
14

2.2.3. Ekologi dan Tanaman Inang Nematoda Sista Kuning (Globodera


rostochiensis Wollenweber)

A. Ekologi
Secara bioekologi, nematoda G. rostochiensis (Wollenweber) termasuk
nematoda endoparasit sedentari (bersifat menetap) yang pada umumnya tetap
tinggal pada inangnya, walaupun inangnya tersebut telah rusak, sehingga pada
umumnya nematoda sedentari tinggal pada inangnya sampai mati (Triharso, 2004
dalam Hidayati, 2013).

B. Tanaman Inang
Kisaran tanaman inang dari NSK terbatas. Spesies nematoda menjadikan
tanaman kentang sebagai inangnya yang paling utama. Solanum spp. dan
hibridanya adalah contoh lain yang juga bisa sebagai tanaman inangnya (CABI
dan EPPO, 2007 dalam Hidayati, 2013). Misalnya kentang (S. tuberosum L.),
tomat (Lycopersicum esculentum Mill.), dan beberapa gulma. Sekitar 90 spesies
dari genus Solanum yang dikenal sebagai tanaman inang. Tiga tanaman inang dari
NSK adalah kentang, tomat, dan terong (Mai, 1977). Gulma yang dianggap
sebagai tanaman inang: S. dulcamara L., S. miniatum Bernh., beberapa strain dari
S. ningrum L., dan beberapa Hyoscyamus niger L (Decker, 1972 dalam Hidayati,
2013).

2.2.4. Siklus Hidup Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis


Wollenweber)
Sebuah periode 38-48 hari (tergantung pada suhu tanah) diperlukan untuk
siklus hidup lengkap dari sista nematoda kentang (Chitwood dan Buhrer, 1945;
Ferris, 2011).
Nematoda G. rostochiensis (Wollenweber) berkembang dalam umbi akar dan
stolon (Decker, 1972 dalam Hidayati, 2013). Siklus hidupnya dimulai ketika larva
stadium dua yang infektif menembus pucuk akar inang, masuk ke dalam akar
melalui ujung pertumbuhan akar atau melalui akar lateral dan menggunakan mulut
dan stiletnya untuk menembus dinding sel, kemudian menginfeksi sel korteks akar
15

dan merangsang sel-sel tersebut menjadi sinsitum yang membengkak


(Hadisoeganda, 2006 dalam Hidayati, 2013).
Isi sinsitum tersebut menjadi sumber nutrisi bagi nematoda (Hadisoeganda,
2006). Kemudian akan terbentuk sel raksasa (di dalam stolon/ di akar) yang berisi
udara. Kondisi ini pertanda bahwa larva telah jauh menembus ke dalam jaringan
pembuluh vaskular (Decker, 1972).

Gambar 8. Diagram Siklus Hidup oleh Charles S. Papp, CDFA (Ferris, 2011)
(Sumber: Charles S. Papp, CDFA (Ferris, 2011)).

Gambar 9. Siklus Hidup G. rostochiensis.


(Sumber: Hague, 1970 dalam Ditlinhor, 2003).
16

Nematoda jantan mengalami metamorfosisi sejati karena berbentuk vermifora


(cacing) di dalam tubuh larva stadium kelima berbentuk bulat, kemudian
menerobos keluar jaringan akar, hidup bebas di dalam tanah dan pada waktunya
akan mengawini nematoda betina. Nematoda betina yang berbentuk bulat tersebut
menempatkan sebagian tubuhnya berada di luar akar, menjadi semi endoparasit.
Setelah terjadi perkawinan, ketika kondisi lingkungan tidak mendukung maka
nematoda betina akan segera membentuk menjadi sista.
Nematoda jantan dewasa tidak makan (bukan parasit tanaman) tetapi
perannya dalam perbanyakan nematoda sangat besar karena sangat aktif
membuahi betina (amphimictic). Penentuan jenis kelamin NSK sangat
dipengaruhi oleh persediaan nutrisi. Apabila nutrisi cukup, banyak larva menjadi
betina, tetapi apabila suplai nutrisi kurang (investasi terlalu tinggi) atau kondisi
kurang menguntungkan sering terjadi perubahan seks (sex reversal), larva yang
akan menjadi betina berubah menjadi jantan. Setelah terjadi perkawinan, betina
akan menghasilkan sekitar 500 telur (Stone, 1973 dalam Hadisoeganda, 2006).
Telur menetas di dalam tubuh nematoda betina yang membengkak (yang
disebut sista). Sista pada awalnya berwarna putih mutiara, kemudian berubah
menjadi keemasan, jingga, dan akhirnya coklat (Departemen Perlindungan
Tanaman, 2008 dalam Hidayati, 2013). Sista dibentuk dari kutikula yang
menghitam (tanning) dari nematoda betina (Departemen Perlindungan Tanaman,
2008 dalam Hidayati, 2013) dan dapat bertahan hidup lebih dari 15 tahun dalam
tanah tanpa makanan dalam stadium istirahat (dorman) (Sunarjono, 2007).
Menurut Sunarto dkk, 2005 (dalam Hidayati, 2013), G. rostochiensis
(Wollenweber) adalah nematoda sista yang bersifat endoparasit, dan mampu
bertahan lama di dalam tanah tanpa tanaman inang, dan G. rostochiensis
(Wollenweber) ini sulit dikendalikan karena memiliki kemampuan membentuk
sista yang mampu dorman selama 20 tahun tanpa tanaman inang. Proses dormansi
(diapause) dimulai dengan terjadinya perubahan daya permeabilitas dinding sista
dan telur, diikuti dengan penurunan telur atau larva ke taraf yang sangat rendah.
Pada periode tersebut sista menjadi relung (niche) ekologi tersendiri yang sangat
resisten terhadap faktor ekologis yang suboptimal (tidak baik) (Hadisoeganda,
2006 dalam Hidayati, 2013).
17

Sebagian besar spesies Globodera sudah membentuk sista menempel dengan


bagian anterior tubuhnya menyusup dalam korteks, sedangkan bagian
posteriornya di luar jaringan akar (semi endoparasit). Bentuk sista membulat
(globular atau spheroid), warnanya sebagian besar kuning emas, sebagian lagi
putih, dan kuning tua sampai coklat (Mulyadi, 2003 dalam Hidayati, 2013).
Larva kemudian mengalami tiga kali pergantian kulit karena ukuran tubuhnya
membengkak. Pada pergantin kulit keempat nematoda betina berbentuk bulat dan
pada saatnya nanti akan menjadi sista (Hadisoeganda, 2006 dalam Hidayati,
2013).

Gambar 10. Bagian Anterior Sista yang Menyusup pada Korteks: Sista
Nematoda Betina di Akar. (Sumber: Greco dan Crozzoli, 2012 (dalam Hidayati,
2013)).

Gambar 11. Betina Dewasa dan Sista G. rostochiensis Wollenweber: Nematoda


Betina Sedang Berkembang dari Fase Putih Menuju Kuning Emas
Sebelum Menjadi Sista yang Gelap. (Sumber: Greco dan Crozzoli,
2012 (dalam Hidayati, 2013)).

Warna nematoda betina pada tahap yang tepat dapat digunakan sebagai
indikasi: betina yang berubah dari putih menjadi kuning, kemudian menjadi sista
18

coklat, adalah G. rostochiensis (Wollenweber), sementara satu yang berubah dari


putih langsung ke coklat G. pallida (EPPO, 2004 dalam Hidayati, 2013).
Menurut penelitian yang dilakukan di Belanda oleh Oosten Brink,
menyatakan bahwa sista berwarna putih terlihat kurang dari 6 minggu pada
kentang yang ditanam pada bulan April. Tahan warna kuning jelas pada sista
selama 7 minggu dan sista nampak berwarna coklat tidak lebih dari 9 minggu
(Decker, 1972 dalam Hidayati, 2013). Proses telur dan larva (dalam telur) akan
diaktifkan kembali oleh hadirnya senyawa aktif tertentu dalam eksudat akar inang
dan suhu tanah yang hangat (Hadisoeganda, 2006 dalam Hidayati, 2013).

2.2.5. Penyebab dan Gejala Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis


Wollenweber)
Menurut Spears, 1968 (dalam Hidayati, 2013) menyimpulkan bahwa sebagian
besar nematoda parasit tumbuhan hidup di dalam tanah dan mendapat sumber
bahan makanan dari perakaran tanaman. Nematoda sista kuning merupakan
endoparasit menetap, betina berkembang menjadi sista (dapat bertahan hidup
dalam tanah > 20 tahun). Sebagian besar spesies Globodera sudah membentuk
sista menempel dengan bagian anterior.
Beberapa tempat yang subur dari hasil pembukaan lahan pegunungan yang
memiliki hutan hujan tropis, bisa menjadi ancaman bagi hasil panen bila di dalam
tanah mengandung nematoda parasit tumbuhan yang hidup dengan populasi yang
tak terkendali. Kondisi ini tanah yang demikian dapat dikatakan tidak baik
walaupun memiliki kandungan nutrisi tanah yang tinggi. Sebab tumbuhan yang
hidup pada kondisi tanah seperti itu tidak akan tumbuh dengan baik, begitu pula
dengan hasil panennya. Seperti yang terjadi pada lahan pertanian kentang di
Sumber Brantas-Batu yang terserang NSK (G. rostochiensis Wollenweber) yang
merugikan hasil panen petani kentang.
Gejala diawali dengan pertumbuhan tanaman yang kerdil secara spot-spot.
Apabila infeksi NSK berkembang, maka di lapangan akan banyak spot tanaman
yang kerdil (Spears, 1967 dalam Hidayati, 2013).
Agrios, 1997 (dalam Hidayati, 2013) melaporkan bahwa nematoda yang
mengkonsumsi sel akar mampu menurunkan kemampuan tumbuhan menyerap air
19

dan hara dari tanah sehingga menyebabkan gejala seperti:


a. Kekurangan air dan hara.
b. Berkurangnya konsentrasi zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin,
sitokinin, dan giberelin yang banyak terdapat di ujung akar.
c. Berkurangnya zat pengatur tumbuh dapat terjadi karena nematoda
mengeluarkan enzim selulase dan pektinase yang mampu mendegradasi sel
sehingga ujung akar luka dan pecah, hal ini menyebabkan auksin tidak aktif.
Tidak aktifnya auksin menyebabkan pertumbuhan akar terhambat.

Gambar 12. Perbandingan Ukuran Tanaman Kentang yang Terinfeksi (kanan)


dengan Tanaman Kentang yang Sehat (kiri). (Sumber: Hogger, 2012 (dalam
Hidayati, 2013)).

2.2.6. Cara Pengendalian dan Pencegahan Nematoda Sista Kuning


(Globodera rostochiensis Wollenweber)
Menurut Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2016 (diakses tanggal 10
Desember 2017), dalam pengendalian NSK secara terpadu, dilakukan penerapan
cara/teknik dan strategi pengendalian sebagai berikut:

A. Pengendalian dengan peraturan/ kebijakan perlindungan tanaman


a. Membatasi izin impor benih kentang dari negara tertular dalam jumlah kecil
untuk tujuan pengembangan varietas baru dengan ketentuan karantina yang
ketat;
b. Impor hanya dibatasi untuk benih kentang yang dijamin sertifikasi
20

kesehatannya (Phytosanitary) dari negara asal benih dengan pernyataan bebas


dari OPTK dan area asal benih di tanaman bebas dari investasi NSK dan bersih
dari kontaminasi tanah dan bekas tumbuhan lain, sebaiknya impor kentang
tidak terjadi saat panen raya kentang;
c. Impor umbi kentang untuk konsumsi dari negara tertular harus dicuci, diberi
perlakuan benih (seed treatment) seperti perlakuan benih dengan 1% Sodium
hypoclorite dan pencucian dengan air panas dan pengeringan. Fumigasi atau
perendaman umbi kentang dengan Sodium hipoklorit atau larutan kloroks 0,5%
selama 60 menit;
d. Pelarangan peredaran benih tanpa sertifikat bebas nematoda dari daerah
terserang ke daerah bebas terserang, Perlu diperketat pencegahan penyebaran
NSK antar area sentra produksi kentang dan sayuran lainnya melalui sertifikasi
bibit kentang bebas NSK, pencegahan penyebaran umbi kentang bibit maupun
konsumsi dari area tertular ke area penanaman kentang yang masih bebas NSK
melalui tindakan karantina tumbuhan dan mengikutsertakan peran masyarakat
dan instansi terkait;
e. Keharusan perlakuan benih (fumigasi, perendaman desinfektan, dsb) dan
kentang konsumsi di daerah terserang. Fumigasi digunakan dalam industri
kentang mekanik dimana fumigan digunakan menggunakan mesin atau melalui
irigasi;
f. Pelarangan membawa tanah, bahan tanaman dan media pembawa lain dari
daerah terserang ke daerah belum terserang; dan
g. Menerapkan ketentuan kawasan karantina (jika dari semua aspek biologi,
dampak ekonomi, risiko analisis mendukung untuk ketentuan tersebut).

B. Pengendalian NSK pada saat Pratanam (Preplanting)


a. Pemilihan calon lahan kentang yang bebas atau populasi awal NSK nya di
bawah 31 sista hidup per 100 gram tanah;
b. Sanitasi kebun: lahan calon kentang dicangkul sedalam tanah olah (30 cm),
bongkahan tanah dihancurkan, semua perakaran diangkat dan dibakar.
Pekerjaan tersebut dilakukan 2 atau 3 kali dan tanah dibiarkan terkena sinar
matahari. Selain itu sanitasi gulma harus dilakukan sebersih mungkin terutama
dari famili Solanaceae;
21

c. Pemilihan bibit bebas penyakit yang terbawa tanah (soil borne disease) dan
berasal dari pembibitan yang berasal dari NSK, menanam varietas / kultivar
yang diketahui tahan/ toleran terhadap NSK seperti Hertha, Marion, Culpa,
Elvira, Gitte, Vevi, Aula, Filli, Granola, Miranda, Renema, Alexa, Cordia,
Herold, Pirola dan Dextra;
d. Pengolahan tanah yang baik disertai dengan sanitasi kebun dari sumber-sumber
inokulum NSK. Pengolahan tanah dilakukan sehingga bongkah-bongkah tanah
terpecah, NSK terekspos keluar dari pori-pori tanah dan terkena sinar matahari;
e. Solarisasi, dilakukan setelah pencangkulan pertama selama 1,5 bulan, untuk
menaikan suhu tanah ± 50°C agar OPT dalam tanah seperti nematoda mati;
f. Rotasi tanaman: menanam jenis tanaman yang tahan dan atau bukan inang
NSK, digilirkan dengan tanaman pokok, yaitu kentang, sehingga diharapkan
jumlah populasi awal NSK sangat rendah pada waktu kentang ditanam;
g. Penanaman varietas toleran, misalnya Marion, Culva, Elvira, Gitte, Vevi, Aula
dan Villi tahan terhadap NSK biotipe A dan B. Penelitian lain mencatat
varietas Granola, Miranda, Renema dan Alexa tahan terhadap NSK biotiope A.
Selain itu varietas Herold, Pirola dan Dextra tercatat tahan terhadap NSK
biotipe A;

Gambar 13. Solarisasi (Penutupan Permukaan Tanah dengan Menggunakan


Plastik Polietilin Bening). Sumber: Balitsa, 2014 (dalam Direktorat Perlindungan
Hortikultura, 2016).
22

Gambar 14. Pengaturan Jarak Tanam. (Sumber: Balitsa, 2014 (dalam Direktorat
Perlindungan Hortikultura, 2016)).

Gambar 15. Pengaturan Jarak Tanam dan Menjaga Kebersihan Kebun. Sumber:
Balitsa, 2014 (dalam Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2016).

C. Pengendalian NSK pada saat Pertanaman


a. Pemupukan berimbang sesuai rekomendasi, yaitu:
- Pupuk organik yang sudah terdekomposisi sebanyak 30 ton per ha (20-30
ton)
- Pupuk Anorganik urea: 200 Kg per ha (200-300 kg); ZA 400 kg per ha
(300-400 kg); TSP 250 Kg per ha (250-300 kg); KCL 300kg per ha (200-
300 kg).
b. Pencabutan tanaman sakit (roguing)
Pencabutan tanaman sakit disertai dengan pembongkaran perakaran tanaman
dan tanah di sekitar Rhizozfer kentang dan dilakukan pemusnahan.
23

c. Pengamatan (Monitoring)
Monitoring populasi yang sangat diperlukan untuk pengambilan keputusan
adalah monitoring populasi awal (inisial) nematoda dalam tanah pra-tanam.
Apabila populasi awal NSK dalam tanah sudah mencapai ambang kendali (31
sista hidup per 100 gr tanah) maka keputusan strategi pengendalian perlu
direkomendasikan.
d. Pengendalian Hayati
Kemampuan musuh alami sebagai pengendali hayati terhadap nematoda
masih sangat terbatas. Beberapa cendawan diketahui mampu memarasit telur dan
induk nematoda seperti Verticillium chlamydosporum, Cylindrocarpon
destructans dan Acremonium strictum.
e. Penggunaan nematisida selektif (karbofuran 3% dosis 150 – 200 kg /ha) yang
diberikan pada saat tanam.
Aplikasi nematisida, perlu memerhatikan ambang kendali NSK (31 sista
hidup/100 gram tanah). Pengolahan tanah sebelum aplikasi nematisida mutlak
diperlukan, dengan cara:
- Tanah dibajak dan dicangkul sedalam tanah olah (top soil), bonngkah –
bongkah tanah dihancurkan, sisa tanaman dibongkar, diangkat dan
dimusnahkan. Tanah harus diusahakan segembur mungkin.
- Tanah dipersiapkan seperti persiapan tanam (pematangan pupuk organik,
pembuatan guludan).
Penggunaan tanaman perangkap (tomat dan terung) yang murah dan mudah
didapat (misalnya varietas Ace, Money Maker, Maestro, dan Dona).
BAB III
KESIMPULAN

Globodera rostochiensis Wollenweber atau yang dikenal nematoda sista


kuning merupakan nematoda parasit terpenting pada kentang, karena kerugian
yang ditimbulkan dapat mencapai lebih dari 50%. Nematoda sista kuning
termasuk nematoda endoparasit sedentary dan mampu bertahan lama di dalam
tanah tanpa tanaman inang. G. rostochiensis Wollenweber sulit dikendalikan
karena memiliki kemampuan membentuk sista yang mampu dorman selama 20
tahun tanpa tanaman inang. Proses dormansi (diapause) dimulai dengan
terjadinya perubahan daya permeabilitas dinding sista dan telur, diikuti dengan
penurunan telur atau larva ke taraf yang sangat rendah. Pada periode tersebut sista
menjadi relung (niche) ekologi tersendiri yang sangat resisten terhadap faktor
ekologis yang suboptimal (tidak baik) (Hadisoeganda, 2006 dalam Hidayati,
2013).
Globodera rostochiensis dalam siklus hidupnya mengalami tahapan stadium
telur, larva, dan dewasa. Siklus hidup dari telur sampai dewasa berlangsung 38 –
48 hari. Nematoda sista kuning betina bersifat amphimictic, berbentuk bulat
(globose), sessile, dan motile (bergerak), sedangkan nematoda sista kuning jantan
berbentuk seperti cacing (vermiform). Daur hidup nematoda sista kuning antara 5
- 7 minggu tergantung kondisi lingkungan dengan produksi telur 200-500 butir.
Kemampuan bertahan hidup nematoda sista kuning pada kondisi lingkungan
kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah, suhu tinggi dan
kekeringan) membentuk sista. Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan
sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Sista dapat bertahan lebih
dari 10 tahun.
Teknik pengendalian nematoda pada beberapa tanaman penting telah
diperoleh diantaranya adalah pemanfaatan varietas tahan atau toleran, teknik
pergiliran tanaman, pengendalian hayati dengan menggunakan agen hayati dan
pestisida nabati, pencegahan penyebaran, pengendalian kimiawi, dan berbagai
teknik budidaya lainnya. Strategi pengendalian nematoda di masa depan

24
dilaksanakan dengan menerapkan sistem PHT, yaitu dengan memadukan satu atau
lebih teknik pengen-dalian yang kompatibel.

25
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Perlindungan Tanaman Hortikultura. 2013. Pengendalian Nematoda


(online). http://hortikultura.pertanian.go.id/?p=1993 (verfied 27 November
2019).

Direktorat Jenderal Hortikultura KEMENTAN. 1993. “Strategi Pengendalian


Terpadu Nematoda Sista Kentang (Globodera rostochiensis) pada Tanaman
Kentang”. Available at http://hortikultura.pertanian.go.id/?p=1993. (verfied
27 November 2019).

Dirjen Hortikultura. 2015. Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2014 (online).


(http://hortikultura.pertanian.go.idwp-contentuploads201602Statistik-
Produksi-2014.pdf) (verfied 27 November 2019).

KEMENTAN. 2018. “Data Lima Tahun Terakhir yang terkait produksi, luas
panen serta populasi sub sektor Kementerian Pertanian tahun 2014 – 2018”.
Available
at:https://www.pertanian.go.id/home/?show=page&act=view&id=61.
(verfied 27 November 2019).

Direktorat Perlindungan Hortikultura. 2016. Faktor Resiko dalam Usaha Tani


Kentang (Solanum tuberosum L). (verfied 27 November 2019).

Hartingingsih, Laila Hidayati Fajar. 2013. “Pengaruh filtrat bakteri endofit


terhadap penetasan telur nematoda sista kuning (Globodera rostochiensis
(Wollenweber))”. Skripsi. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Available at http://etheses.uin-
malang.ac.id/509/. (verfied 27 November 2019).

Sedulurtani. 2018. “Morfologi Lengkap dan Klasifikasi Tanaman Kentang


(Solanum Tuberosum L.)”.
Available at https://www.sedulurtani.com/morfologi-lengkap-dan-klasifikasi-
tanaman-kentang-solanum-tuberosum-l/. (verfied 27 November 2019).

Rizki. 2016. “Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kentang (Solanum


tuberosum)”. Available at https://www.rizkibio.com/2016/09/morfologi-dan-
syarat-tumbuh-tanaman.html. (verfied 27 November 2019).

Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura. 2015. “Budidaya Tanaman


Kentang”. Available at http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/berita-692-
Budidaya%20Tanaman%20Kentang.html. (verfied 27 November 2019).

Lisnawita. 2007. “Identifikasi, Kajian Biologi, dan Ketahanan Tanaman terhadap


Nematoda Sista Kentang (Globodera spp.) Indonesia”. Disertasi. Bogor:
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Available at
https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/2833/2007lis.pdf?se
quence=4&isAllowed=y. (verfied 27 November 2019).

26
27

Asyiah Iis Nur. 2003. “Siklus Hidup dan Morfologi Nematoda Sista Kentang
(Globodera rostochiensis)”. Available at
http://jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/view/802/742. (verfied 27 November
2019).

Suwardiwijaya Edi. “Tinjauan Pustaka NSK”. Balai Besar Peramalan Organisme


Pengganggu Tumbuhan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Available at
https://docplayer.info/41261917-Balai-besar-peramalan-organisme-
pengganggu-tumbuhan-direktorat-jenderal-tanaman-pangan.html.
(verfied 27 November 2019).

Susetyo Hendry Puguh. 2016. “Strategi Pengendalian Terpadu Nematoda Sista


Kentang (Globodera rostochiensis) pada Tanaman Kentang”. Available at
http://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/12/Strategi-
Pengendalian-Terpadu-NSK-Kentang.pdf. (verfied 27 November 2019).

Mustika Ika. 2005. “Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit


Tanaman Perkebunan di Indone sia”. (verfied 27 November 2019).