Anda di halaman 1dari 24

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa negara
dan sumber pendapatan petani. Luas areal perkebunan kopi Indonesia 1.235.802
ha dengan produksi 666.046 ton. Berdasarkan luasan tersebut 96 % merupakan
perkebunan rakyat, yang meliputi kopi Robusta (79,21%) dan sisanya adalah jenis
kopi Arabika. Produktivitas kopi Indonesia yaitu 776 kg/ha, produktivitas ini
masih lebih rendah jika dibandingkan produktivitas potensial varietas / klon
unggul kopi yang mencapai 1,5-2 ton/ha (Ditjenbun, 2012).
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi di Indonesia adalah
serangan nematoda parasit tumbuhan yaitu Pratylenchus coffeae. Serangan
nematoda ini menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu dan menurunkan
produksi baik kuantitas maupun kualitas. Serangan P. coffeae pada kopi Robusta
dapat menurunkan produksi sampai 57% (Wiryadiputra dan Atmawinata, 1998)
penurunan produksi akibat serangan P. coffeae pada kopi robusta berkisar antara
28,7% - 78,4%. Pada kopi arabika, biasanya tanaman yang terserang nematoda
hanya bisa bertahan 2 hidup selama 2 tahun. Nematoda P. coffeae merupakan
nematoda endoparasit berpindah yang menyerang akar tanaman kopi dan
menyebabkan terjadinya luka akar (root lesion) sehingga pengangkutan hara
tanaman terganggu. Luka akibat serangan nematoda juga merupakan jalan masuk
bagi patogen lain, seperti jamur dan bakteri (Harni dan Khaerati, 2013).
Kopi merupakan salah satu komoditi dari subsektor perkebunan yang
memegang peranan penting bagi perekonomian nasional karena ekspor kopi
meningkatkan devisa negara dalam jumlah besar maupun dalam hal penyedia
lapangan pekerjaan. Peningkatan skala produksi yang semakin besar
menyebabkan terjadinya perubahan ekosistem lahan yang sangat menguntungkan
bagi perkembangan populasi hama dan penyakit kopi. Salah satu hama yang
menyerang tanaman kopi adalah Nematoda pada akar kopi. Serangan Nematoda
pada akar kopi sudah diteliti di Jawa sejak akhir abad-19. Jenis nematoda yang

4
5

banyak di temukan ada 2 yaitu Radopholus sp. dan Pratylenchus coffeae


(Widaningsih & Darmiati 2016)
Salah satu Nematoda parasit tumbuhan merupakan kendala utama produksi
kopi di Indonesia, terutama untuk jenis Arabika. Spesies nematoda penting yang
dijumpai di Indonesia adalah P. coffeae, R. similis, dan Meloidogyne spp.
(Wiryadiputra, 1992). Nematoda ini merupakan jenis nematoda endoparasit yang
masuk melalui ujung akar, makan jaringan korteks atau kulit akar sehingga
menyebabkan kulit akar serabut luka berwarna coklat, dan membusuk. Akibatnya,
akar serabut tidak dapat menyerap unsur hara dan suplai nutrisi pada tanaman
kopi terganggu. Kerusakan akar serabut yang parah akan mengakibatkan tanaman
kopi tidak mampu lagi menyerap unsur hara sehingga tanaman dapat mati (Nur et
al., 2000). Dalam makalah ini akan mengkaji mengenai Pratylenchus coffeae yang
mengganggu pada tanaman kopi yang mana tanaman yang diserang merupakan
tanaman yang sangat sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana klasifikasi dan morfologi nematoda Pratylenchus coffeae pada
tanaman kopi?
2. Bagaimana siklus hidup dan cara reproduksi nematoda Pratylenchus coffeae
pada tanaman kopi?
3. Bagaimana gejala serangan dan cara penyerangan nematoda Pratylenchus
coffeae pada tanaman kopi?
4. Bagaimana pengendalian nematoda Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi?

1.3. Tujuan
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi dan morfologi nematoda
Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi? .
6

2. Untuk mengetahui bagaimana siklus hidup dan cara reproduksi nematoda


Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi.
3. Untuk mengetahui bagaimana gejala serangan dan cara penyerangannya
nematoda Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengendalian nematoda Pratylenchus coffeae
pada tanaman kopi.
7

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tanaman Kopi (Coffea L.)


Tanaman kopi adalah tanaman tahunan berbentuk pohon yang termasuk dalam
famili Rubiceae dan genus Coffeae. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang, dan
bila dibiarkan tumbuh dapat mencapai tinggi 12 m. Daunnya bulat telur dengan
ujung agak meruncing. Daun tumbuh berhadapan pada batang, cabang, dan
rantingnya (Najiyati & Danarti, 2001).
Menurut Campos et al. (1995), seksi Cryptocoffea dalah spesies yang paling
banyak dibudidayakan. Seksi Cryptocoffea dibagi menjadi subseksi Cryptocoffea
yang meliputi spesies Coffea arabica, C. canephora, C. congensis; dan subseksi
Pachycoffea yang meliputi C. liberica dan C. excelsia; subseksi Mozambica
meliputi C. racemosa, dan C. salvatrix; dan subseksi Melanocoffeae meliputi C.
stenophylla; dan Nanocoffeae meliputi C. montana.

2.1.1. Klasifikasi dan Botani Tanaman kopi


Menurut Rahardjo (2012). Klasifikasi Tanaman Kopi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Coffea L.
Species : Coffea sp. ( Cofffea arabica L., Coffea canephora,
Coffea liberica, Coffea excels).
8

Gambar 1. Tanaman Kopi


Sumber: https://manado.tribunnews.com/2019/08/14/mengenal-4-jenis-tanaman-
kopi-di-indonesia

Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai
ekonomis yang cukup tinggi diantara tanaman perkebunan lainnya dan berperan
penting sebagai sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai
sumber devisa melainkan juga merupakan sumber penghasilan tidak kurang dari
satu setengah juta jiwa petani kopi di Indonesia (Rahardjo, 2012).

2.1.2. Morfologi Tanaman Kopi


Tanaman Kopi mempunyai bagian morfologi diantaranya:
1. Daun
Tanaman kopi tersusun dari tangkai daun dan helaian daun. Daun tanaman
kopi berbentuk jorong, tumbuh pada bagian cabang, batang, dan ranting dengan
posisi tersusun berdampingan pada ketiak daun.
Daun tanaman ini memiliki warna hijau dengan tepi berombak dan licin
tergantung dari varietasnya. Pada bagian ujung daun meruncing, sedangkan pada
pangkal daun memiliki tepi yang tidak pernah bertemu karena terpisah oleh
pangkal ujung daun yang tumpul.
Daun kopi berwarna hijau dan memiliki tulang daun yang menyirip. Daun
tanaman ini memliki satu ibu tulang yang terbentang sampai ujung dan merupakan
terusan tangkai daun.
9

2. Batang
Tanaman kopi memliki batang yang tegak, bercabang, dan tingginya bisa
mencapai 12 m. Tanaman ini memiliki percabangan yang berbeda dengan
tanaman lain. Tanaman kopi memliki beberapa jenis cabang yang sifat dan
fungsinya berbeda. Berikut adalah cabang-cabang dari tanaman kopi :
a. Cabang reproduksi merupakan cabang yang tumbuh tegak dan lurus. Cabang ini
berasal dari tunas reproduksi yang terdapat disetiap ketiak daun pada cabang
utama. Apabila batang utama pada tanaman mati, maka fungsinya dapat
digantikan oleh batang reproduksi.
b. Cabang utama atau disebut juga dengan cabang primer merupakan cabang yang
tumbuh dari cabang utama dan berasal dari tunas primer. Pada setiap ketiak
daun hanya memiliki satu tunas primer. Apabila batang mati, maka pada
tempat tersebut tidak dapat tumbuh cabang primer lagi.
c. Cabang sekunder merupakan cabang yang tumbuh dari cabang primer dan
asalnya dari tunas sekunder. Cabang sekunder memiliki sifat seperti cabang
primer, sehingga dapat menghasilkan bunga.
d. Cabang kipas merupakan cabang reproduksi yang tumbuh kuat pada cabang
primer karena pohon sudah tua. Cabang ini biasanya terletak pada ujung batang
dan pertumbuhanya cepat, sehingga mata repproduksi tumbuh pesat menjadi
cabang reproduksi. Selanjutnya, cabang kipas yang tidak mampu membentuk
cabang primer meskipun tumbuhnya cukup kuat disebut cabang pecut.

3. Akar
Kopi merupakan tanaman biji berkeping dua (dikotil), sehingga kopi
memiliki perakaran tunggang. Dimana akar tunggang pada tanaman kopi tumbuh
dari akar lembaga yang tumbuh secara terus-menerus, kemudian menjadi akar
pokok yang bercabang-cabang dan pada akhirnya menjadi akar yang lebih kecil
lagi.
Pada akar tunggang terdapat akar-akar lebar yang tumbuh kesamping dengan
ukuran kecil. Bagian akar lebar ini terdapat rambut-rambut akar dan tudung akar.
Rambut akar ini berguna untuk memeperlebar penyerapan air dan nutrisi oleh
10

tanaman. Sedangkan fungsi dari tudung akar, yaitu melindungi akar ketika
menyerap unsur hara dalam tanah.
Perlu kita ketahui bahwa akar tunggang hanya dimiliki tanaman kopi yang
berasal dari bibit semai atau okulasi yang batang bawahnya berasal dari bibit
semai. Bibit tanaman kopi yang berasal dari perbanyakan vegetatif, seperti halnya
cangkok, setek, maupun okulasi yang batang bawahnya dari setek, tidak memiliki
akar tunggang sehingga tanaman akan mudah rebah.

3. Bunga
Tanaman kopi mulai berbunga setelah berumur kurang lebih dua tahun. Pada
awalan bunga tanaman kopi keluar dari ketiak daun yang terletak pada batang
utama atau cabang reproduksi. Biasanya bunga pertama tanaman kopi tidak akan
berkembang menjadi buah dan jumlahnya pun terbatas.
Sedangkan tanaman kopi yang sudah dewasa dan dipelihara dengan baik akan
dapat menghasilkan bunga. Bunga tanaman ini tersusun dalam kelompok dan
masing-masing terdiri dari 4-6 kuntum. Dalam setiap ketiak daun dapat
menghasilkan 2-3 kelompok bunga.
Kopi merupakan tanaman yang tergolong monoceus (berumah satu), artinya
bunga jantan dan betina terdapat pada satu batang tumbuh. Bunga berukuran kecil
dan memiliki mahkota berwarna putih yang berbau harum. Benang sari terdiri dari
5-7 tangkai dengan ukuran yang pendek. Kelopak bunga berwarna hijau, dan
kelopak tersebut akan membuka bersamaan dengan mahkota ketika bunga telah
dewasa.

4. Buah
Buah kopi yang masih muda memiliki warna hijau, kemudian setelah tua
menjadi kuning dan pada akhirnya merah. Waktu yang diperlukan sejak
terbentuknya bunga hingga menjadi matang sekitar 6-11 bulan, tergantung dari
jenis dan faktor lingkungan.
Biji kopi berukuran 12-18 mm untuk jenis arabika, dan 8-16 mm untuk
robusta. Biji kopi diselimuti oleh tiga lapis kulit, yaitu kulit luar, kulit tengah, dan
11

kulit dalam. Daging buah kopi yang sudah matang mengandung lendir dan
glukosa, sehingga rasanya agak manis.

5. Biji
Kopi tergolong tumbuhan dengan biji tertutup, atau disebut juga dengan
tumbuhan Angiospermae. Lapisan pertama disebut dengan kulit luar yang berupa
lapisan keras seperti kayu. Lapisan tersebut berfungsi untuk melindungi biji kopi
yang ada didalamnya.
Lapisan kedua adalah kulit dalam, yaitu berupa salaput tipis yang biasanya
disebut dengan kulit ari. Di dalam lapisan itu terdapat inti biji yang terdiri dari dua
bagian, yaitu lembaga dan putih lembaga. Lembaga atau disebut endosperm
merupakan bagian untuk membuat minuman kopi.

2.1.3. Kesesuaian Lingkungan Tanaman Kopi


Menurut Najiyati & Danarti (2001), tanaman kopi sangat dipengaruhi oleh
lingkungan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman kopi
mempunyai sifat yang sangat khusus karena masing-masing jenis kopi
menghendaki lingkungan yang agak berbeda. Faktor-faktor lingkungan yang
sangat berpengaruh terhadap tanaman kopi antara lain, tinggi tempat, curah hujan,
penyinaran, angin dan tanah.
a. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat sebenarnya tidak berpengaruh langsung
terhadap tanaman kopi, tetapi berpengaruh terhadap tinggi dan rendahnya suhu.
Faktor suhu inilah yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman
kopi, terutama pembentukan bunga dan buah serta kepekaannya terhadap
serangan penyakit. Kopi robusta tumbuh optimum pada ketinggian 400-700 m
dpl, tetapi beberapa di 9 antaranya juga masih tumbuh baik dan ekonomis pada
ketinggian 0-1.000 m dpl. Kopi arabika dapat tumbuh pada ketinggian tempat
antara 500-1.700 m dpl, untuk kopi arabika yang ditanam di dataran rendah < 500
m dpl biasanya berproduksi dan bermutu rendah serta mudah terserang penyakit
HV.
b. Hujan Hujan merupakan faktor iklim terpenting setelah ketinggian tempat.
Faktor ini dilihat dari curah hujannya dan waktu turunnya hujan. Curah hujan
12

akan mempengaruhi ketersediaan air yang sangat dibutuhkan oleh tanaman,


sedangkan waktu jatuhnya hujan terutama mempengaruhi proses pembentukan
bunga dan buah. Kopi robusta dan arabika sangat peka terhadap pengaruh hujan.
Kopi umumnya tumbuh optimum di daerah yang curah hujannya 2.000-3.000
mm/tahun, namun kopi masih dapat tumbuh baik pada daerah bercurah hujan
1.300-2.000 mm/tahun. Di daerah bercurah hujan 1.000-1.300 mm/tahun, kopi
mampu tumbuh baik, tetapi harus ada usaha mengatasi kekeringan, misalnya
dengan pemberian mulsa dan irigasi yang intensif, sehingga kadang-kadang
kurang ekonomis.
c. Penyinaran Kopi umunya tidak menyukai sinar matahari langsung dalam
jumlah banyak, tetapi menghendaki sinar matahari yang teratur. Sengatan
matahari langsung dalam jumlah banyak akan meningkatkan penguapan dari tanah
maupun daun, sehingga dapat menggangu keseimbangan proses fotosintesa
terutama pada musim kemarau. Selain itu, sinar matahari juga mempengaruhi
proses pembentukan pucuk bunga. Adanya sinar matahari yang cukup banyak
akan 10 merangsang terbentuknya kuncup bunga. Tanaman kopi umumnya
menghendaki sinar matahari dalam jumlah banyak pada awal musim kemarau atau
akhir musim hujan. Pada saat itu tanaman sedang bersiap-siap menghasilkan
kuncup bunga sehingga perlu dirangsang oleh sinar matahari. Untuk mengatur
datangnya sinar matahari, biasanya ditanam tanaman pelindung di antara tanaman
kopi.
d. Angin berpengaruh sangat besar terhadap jenis kopi yang bersifat self steril.
Peranan angin adalah membantu berpindahnya serbuk sari bunga dari tanaman
kopi yang satu ke putik bunga kopi lain yang klon atau jenisnya berbeda sehingga
terjadi penyerbukan yang dapat menghasilkan buah. Angin yang bertiup terlalu
kencang juga tidak baik, karena dapat merusak tajuk tanaman atau dapat
menggugurkan bunga. e. Tanah Pada umumnya tanaman kopi menghendaki tanah
yang gembur, subur, dan kaya bahan organik. Oleh karena itu, tanah di sekitar
tanaman harus sering ditambah dengan pupuk organik agar sistem perakarannya
tetap tumbuh baik dan dapat mengambil unsur hara sebagaimana mestinya dan
selain itu kopi juga menyukai tanah yang agak masam, yaitu antara pH 4,5-6,5
untuk kopi robusta dan pH 5-6,5 arabika.
13

2.2. Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Pratylenchus coffeae merupakan nematoda endoparasit berpindah yang
mempunyai kisaran inang sangat luas mulai dari tanaman serealia, rumput-
rumputan, hortikultura, pangan, perkebunan dan kehutanan. Pratylenchus spp
merupakan parasite terpenting kedua setelah Meloidogyne. Pratylenchus
coffeae menyerang jaringan korteks akar serabut terutama akar-akar serabut yang
aktif menyerap unsur hara dan air. Akibatnya akar serabut menjadi rusak,
berwarna coklat dan terdapat luka-luka nekrotik. Luka-luka tersebut secara
bertahap meluas, sehingga akhirnya seluruh akar serabut membusuk. Gejala
kerusakan oleh nematoda pada bagian tanaman di atas permukaan tanah umumnya
tidak spesifik. Tanaman tampak kerdil, pertumbuhan terhambat, ukuran daun dan
cabang primer mengecil, daun tua berwarna kuning yang secara perlahan akhirnya
rontok dan tanaman mati. Akar tanaman kopi yang terserang oleh P.
coffeae warnanya berubah menjadi kuning, selanjutnya berwarna coklat dan
kebanyakan akar lateralnya busuk. Luka yang terjadi pada akar berakibat merusak
seluruh sistem perakaran dan kematian tanaman (Nugroharini, 2012)

2.2.1. Klasifikasi Akar Pratylenchus coffeae


Menurut Agrios (1998) dalam Septia Hasanah (2016) Pratylenchus coffeae
diklasifikasi ke dalam :
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Subclass : Diplogasteria
Ordo : Tylenchida
Superfamily : Tylenchoidea
Family : Pratylenchidae
Subfamily : Pratylenchinae
Genus : Pratylenchus
Species : Pratylenchus coffeae.
14

2.2.2. Morfologi Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Nematoda Pratylenchus bertubuh kecil (panjangnya kurang dari 1 mm).
Apabila mati karena diperlakukan dengan panas secara berhati-hati, maka
tubuhnya sedikit bengkok pada bagian ventral (Gambar 2). Nematoda tidak
mempunyai tandatanda seksual dimorfisme pada bagian anterior tubuhnya. Bagian
kepalanya rendah dan datar, apabila diamati di bawah mikroskop stereoskopis
tampak ujung anterior tersebut seperti topi hitam yang datar. Stiletnya mempunyai
panjang 17 yaitu 20 μm atau kurang dan mengalami sklerotinisasi sedang, dengan
basal knob berbentuk bulat serta bagian anteriornya berbentuk cekung, dan
ekornya tumpul. Bagian tubuh nematoda yaitu kepala, esofagus, ekor, dan saluran
genital (Luc et al., 1995).

Gambar 2 Pratylenchus sp. A. Betina dewasa, 460 X. B. Bagian depan betina,


1220 X. C dan D. Dilihat dari bagian lateral ekor jantan, 825 X. E.
Dewasa betina, 460 X. a. Esofagus yang saling tumpang tindih (Mai et
al, 1975). Sumber:http://digilib.unila.ac.id
15

2.2.3. Siklus hidup dan Reproduksi Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Siklus hidup P. coffeae sangat sederhana yaitu: telur, larva, dan dewasa. P.
coffeae bertelur di dalam jaringan akar. Pergantian kulit pertama terjadi di dalam
telur dan tiga kali pergantian kulit berikutnya terjadi di luar telur (setelah
nematoda menetas). Lama siklus hidup P. coffeae 45-48 hari. Waktu tersebut
masing-masing diperlukan untuk inkubasi telur 15-17 hari, perkembangan larva
hingga menjadi dewasa 15-16 hari dan perkembangan nematoda dewasa hingga
meletakkan telur sekitar 15 hari. Telur yang dihasilkan dalam sistem reproduksi
nematoda betina diletakkan satu persatu atau berkelompok pada bagian tanaman
yang diparasitir. Jumlah telur yang diletakkan bervariasi tergantung dari habitat
dan jenis makanan (Widaningsih & Darmiati 2016). Menurut Agrios (1979)
waktu yang diperlukan saat mulai meletakkan telur sampai larva stadia pertama
berkisar 14-15 hari dan setelah melakukan pergantian kulit pertama menjadi larva
stadia ke dua.
Perkembangan nematoda P. coffeae dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu:
tanaman inang, suhu dan keadaan tanah di samping juga curah hujan dan suhu
tanah. Dalam keadaan tidak ada tanaman inang P. coffeae mampu bertahan hidup
selama delapan bulan tanah yang lembab (Anonimus 1995). P. coffeae tidak tahan
pada suhu tinggi dan akan mati pada suhu diatas 38 0C. P. coffeae lebih mudah
menyebar pada kopi-kopi dalam baris dibandingkan yang diluar baris dan pada
bagian yang miring tanaman yang berada di bagian bawah lebih cepat tertular.
Pemencaran dan penyebaran nematoda terutama ditentukan oleh pergerakannya
secara pasif yaitu terbawa melalui alat-alat pertanian aliran air baik yang
dipermukaan maupun yang di dalam tanah, sepatu petugas, hewan dan sebagainya
(Widaningsih & Darmiati 2016).
16

Gambar 3. Siklus Hidup Nematoda Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Sumber : https://www.researchgate.net/figure/Life-cycle-of-root-
lesion nematode-Pratylenchus-coffeae

2.2.4. Mekanisme Penyakit Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Nematoda lesi akar menginfeksi sejumlah besar inang. Pratylenchus coffeae
sendiri memiliki lebih dari 350 tanaman inang. Mereka termasuk tanaman
pertanian seperti kedelai, kentang, jagung, pisang, dan gandum. Genus paling
sering ditemukan yaitu pada tanaman kopi. Tanda-tanda penyakitnya mirip pada
sebagian besar tanaman dan umumnya termasuk lesi nekrotik pada akar. Lesi juga
dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri dan jamur patogen, yang menghasilkan
infeksi sekunder. Di atas tanah tanaman menjadi kerdil, klorosis, layu, dan mati.
Ladang tanaman mungkin tidak merata karena tanaman layu dan mati. Nematoda
17

lesi akar dapat menyebabkan kehilangan hasil yang signifikan. Nematoda yang
menyerang akar tanaman hingga dapat menimbulkan kerusakan mekanis.
Nematoda yang menyebabkan kerusakan pada tanaman hampir semuanya
hidup didalam tanah, baik yang hidup bebas didalam tanah bagian luar akar dan
batang didalam tanah bahkan ada beberapa parasit yang hidupnya bersifat
menetap didalam akar dan batang. Konsentrasi hidup nematoda lebih besar
terdapat didalam perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju
reproduksinya yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup dan
tertariknya nematoda oleh zat yang dilepaskan dalam rizosfir awalnya, telurtelur
nematoda diletakan pada akar - akar tumbuhan di dalam tanah yang kemudian
telur akan berkembang menjadi larva dan nematoda dewasa. Berkumpulnya
populasi nematoda disekitar perakaran ini mendorong nematoda menyerang akar
dengan jalan menusuk dinding sel. Nematoda dewasa terus-menerus bergerak tiap
detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar akar, dalam gerakan - gerakan
tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan air ludah pada bagian akar
tumbuhan, menyebabkan sel tumbuhan menjadi rusak. Gejala kerusakan pada akar
akibat gigitan nematoda ditandai dengan adanya puru akar (gall). Luka akar, ujung
akar rusak dan akar akan membusuk apabila infeksi nematoda tersebut disertai
oleh bakteri dan jamur patogen. Gejala kerusakan pada akar biasanya selalu
diikuti oleh pertumbuhan tanaman yang lambat dikarenakan terhambatnya
penyerapan unsur hara oleh akar yang akhirnya terjadi defisiensi hara seperti daun
menguning, layu pada cuaca kering dan panas, sehingga produktifitas dan
kuantitas hasil panen menurun bahkan untuk tanaman-tanaman tertentu
mengakibatkan tanaman tidak dapat panen sama sekali (puso), menurun dan
kualitasnya jelek.
18

Gambar 4. Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Pratylenchus_coffeae

2.2.5. Mekanisme dan Gejala Serangan Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


Pratylenchus coffeae merupakan nematoda endoparasit berpindah yang
mempunyai kisaran inang sangat luas mulai dari tanaman serealia, rumput-
rumputan, hortikultura, pangan, perkebunan dan kehutanan. Pratylenchus spp
merupakan parasite terpenting kedua setelah Meloidogyne. Pratylenchus
coffeae menyerang jaringan korteks akar serabut terutama akar-akar serabut yang
aktif menyerap unsur hara dan air. Akibatnya akar serabut menjadi rusak,
berwarna coklat dan terdapat luka-luka nekrotik. Luka-luka tersebut secara
bertahap meluas, sehingga akhirnya seluruh akar serabut membusuk. Gejala
kerusakan oleh nematoda pada bagian tanaman di atas permukaan tanah umumnya
tidak spesifik. Tanaman tampak kerdil, pertumbuhan terhambat, ukuran daun dan
cabang primer mengecil, daun tua berwarna kuning yang secara perlahan akhirnya
rontok dan tanaman mati. Akar tanaman kopi yang terserang oleh P.
coffeae warnanya berubah menjadi kuning, selanjutnya berwarna coklat dan
kebanyakan akar lateralnya busuk. Luka yang terjadi pada akar berakibat merusak
seluruh sistem perakaran dan kematian tanaman (Nugroharini, 2012)
19

Gambar 5.Gejala Serangan Nematoda Akar Pratylenchus coffeae Pada


Tanaman Kopi. Sumber http://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/nematoda-
luka-akar

Gambar 6. Gejala Serangan Nematoda Akar Pratylenchus coffeae Pada Tanaman


Kopi.Sumber:https://www.slideshare.net/novayantisimamora/nematoda-
pelubang-akar-radopholus-similis
20

Gambar 7. Gejala Serangan Nematoda Akar Pratylenchus coffeae Pada Tanaman


Kopi. Sumber : http://fliphtml5.com/lwih/qeub/basic

2.2.6. Cara Pengendalian Nematoda Akar Pratylenchus coffeae


1. Benih/Bibit yang Sehat
Melakukan monitoring dan screening sebagai early warning system terhadap
bibit yang akan di tanam di lapangan. Bibit yang akan di tanam harus sesuai
dengan standar kelayakan yaitu pertumbuhannya baik dan bebas hama dan
penyakit. Bibit yang terindikasi terserang penyakit sebaiknya di eradikasi supaya
tidak menyebar di lapangan.
2. Jenis Kultivar dan Varietas Tahan
Menanam klon yang tahan atau resisten terhadap serangan nematoda
Pratylenchus coffeae sangat dianjurkan karena dapat menekan perkembangan
populasi nematoda parasit tumbuhan. Klon yangh rentan akan mendorong
perkembangan nematoda parasit dan mikroorganisme lainnya (Munif , 2003) .
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia telah berhasil menemukan anjuran
klon kopi Robusta BP 308 tahan nematoda yang telah diuji di berbagai daerah
endemik serangan nematoda dengan hasil yang memuaskan. Selain tahan
serangan nematoda parasit, klon BP 308 juga tahan kekeringan.
3. Rotasi Tanaman
Tujuan rotasi tanaman adalah untuk mengurangi kepadatan populasi nematoda
di dalam tanah. Rotasi tanaman dilakukan dengan menanam tanaman lain yang
bukan dari inang nematoda parasit tumbuhan. Hal ini memang sulit dilakukan
mengingat kopi bukan tanaman semusim.
4. Tanaman Perangkap (Trap cropping)
21

Tanaman perangkap sangat bermanfaat dalam mengurangi kepadatan populasi


nematoda parasit tumbuhan pada tanah yang sudah terinfestasi. Hal ini pernah dan
berhasil dilakukan untuk mengurangi populasi nematoda sista pada kentang
5. Solarisasi tanah
Solarisasi dengan menggunakan plastik gelap maupun terang adalah upaya
untuk meningkatkan suhu tanah pada level tertentu sehingga dapat menekan
populasi nematoda maupun patogen tanah.
6. Penggenangan Tanah
Penggenangan tanah yang terinfestasi selama beberapa bulan dapat mengurangi
populasi nematoda. Penggenangan telah terbukti menurunkan populasi nematoda.
Penggenangan Meloidogyne pada pertanaman telah terbukti secara signifikan
menurunkan populasi. Cara ini juga telah digunakan untuk mengurangi serangan
nematoda Radopholus similis yang menyerang tanaman pisang di Amerika
Tengah dan Selatan (Munif, 2003).
7. Nematisida Nabati, Tanaman Paitan (Tithonia tagetiflora).
Tanaman Paitan (Tithonia tagetiflora) merupakan salah satu jenis tanaman
yang memiliki potensi sebagai bahan nematisida botani. Arsadja dkk., (1996)
menyatakan bahwa peningkatan penggunaan dosis ekstrak daun paitan cenderung
memberikan nilai penurunan populasi P. coffeae lebih baik dalam tanah.
8. Tanaman Antagonis, Kenikir (Tagetes )
Merupakan salah satu jenis tanaman yang bersifat antagonis terhadap
nematoda Pratylenchus spp. dan dapat menurunkan populasi nematoda dalam
jumlah yang besar, karena diduga memiliki kandungan senyawa kimia yang dapat
menekan populasi nematoda (Dropkin, 1991).
9. Pupuk Kandang (Bahan Organik)
Efektifitas bahan organik untuk mengendalikan nematoda parasit tanaman telah
banyak terbukti dimana mekanisme penekanan populasi nematoda oleh bahan
organik disebabkan oleh: meningkatnya jumlah jenis predator yang mamakan
parasit nematoda, hasil penguraian bahan organik secara langsung bersifat
meracuni terhadap nematoda parasit, meningkatkan jumlah jamur yang dapat
membunuh nematoda dan terjadinya perubahan pH, suhu dan status oksigen atau
22

nitrogen dalam tanah sehingga mengakibatkan keadaan yang tidak sesuai bagi
aktifitas nematoda.
10. Nematisida Kimiawi (Carbofuran)
Carbofuran merupakan insektisida yang berbentuk butiran (Granular) yang
sifatnya sistemik yang diaplikasikan kedalam tanah untuk membasmi jasad
pengganggu yang terdapat dipermukaan atau di dalam tanah.
11. Pengendalian secara Biologi
Beberapa contoh agen pengendali yang sudah teruji seperti bakteri parasit.
Pengendalian secara biologi Pasteuria penetrans, maupun bakteri saprofit yang
berasal dari rizosfer seperti Bacillus subtilis, Pasteuria fluorescens,
Agrobacterium radiobacter. Demikian juga agen pengendali dari kelompok
cendawan seperti Paecilomyces lilacinus, Arthrobotrys oligospora, Dactilella.
23

BAB III
KESIMPULAN

Pratylenchus coffeae merupakan nematoda endoparasit berpindah yang


mempunyai kisaran inang sangat luas mulai dari tanaman serealia, rumput-
rumputan, hortikultura, pangan, perkebunan dan kehutanan. Pratylenchus
coffeae menyerang jaringan korteks akar serabut terutama akar-akar serabut yang
aktif menyerap unsur hara dan air.
Siklus hidup P. coffeae sangat sederhana yaitu: telur, larva, dan dewasa. P.
coffeae bertelur di dalam jaringan akar. Pergantian kulit pertama terjadi di dalam
telur dan tiga kali pergantian kulit berikutnya terjadi di luar telur (setelah
nematoda menetas). Lama siklus hidup P. coffeae 45-48 hari. Waktu tersebut
masing-masing diperlukan untuk inkubasi telur 15-17 hari, perkembangan larva
hingga menjadi dewasa 15-16 hari dan perkembangan nematoda dewasa hingga
meletakkan telur sekitar 15 hari. Telur yang dihasilkan dalam sistem reproduksi
nematoda betina diletakkan satu persatu atau berkelompok pada bagian tanaman
yang diparasitir. Jumlah telur yang diletakkan bervariasi tergantung dari habitat
dan jenis makanan waktu yang diperlukan saat mulai meletakkan telur sampai
larva stadia pertama berkisar 14-15 hari dan setelah melakukan pergantian kulit
pertama menjadi larva stadia ke dua.
Perkembangan nematoda P. coffeae dipengaruhi oleh faktor lingkungan
yaitu: tanaman inang, suhu dan keadaan tanah di samping juga curah hujan dan
suhu tanah. Dalam keadaan tidak ada tanaman inang P. coffeae mampu bertahan
hidup selama delapan bulan dalam tanah yang lembab. P. coffeae tidak tahan
pada suhu tinggi dan akan mati pada suhu diatas 38 0C. P.
Cara pengendalian Pratylenchus coffeae :
1. Benih/Bibit yang Sehat
2. Jenis Kultivar dan Varietas Tahan
3. Rotasi Tanaman
4. Tanaman Perangkap (Trap cropping)
5. Solarisasi tanah
6. Penggenangan Tanah
24

7. Nematisida Nabati, Tanaman Paitan (Tithonia tagetiflora).


8. Tanaman Antagonis, Kenikir (Tagetes )
9. Pupuk Kandang (Bahan Organik)
10. Nematisida Kimiawi (Carbofuran)
11. Pengendalian secara Biologi
25

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 1995. Buku Operasional Pengendalian Hama Terpadu (BO-PHT)
Nematoda Luka Akar pada Kopi (Pratylenchus coffeae) Dirjenbun. Direktorat
Bina Dirjenbun. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. Jakarta. 19 hal.
(Diakses pada 28 November 2019).

Arsadja, N.; K. Jinantra; dan M. Sudarta. 1996. Uji Lapang Pengendalian


Nematoda Luka Akar (Pratylenchus coffeae Zimm)Pada Tanaman Kopi
Arabika Secara Terpadu. Proseding Seminar Hasil-Hasil Uji Coba UPT
Lab/Perlintan Dinas Perkebunan Dati I Bali. 4 Maret 1996. Denpasar. 11 hal.
(Diakses pada 25 November 2019).

Cabi. 2018. Pratylenchus coffeae. https://www.cabi.org/isc/datasheet/43895


(Diakses pada 28 November 2019).

Dropkin, V.H. 1991. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Diterjemahkan Oleh


Supratoyo. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Edisi Kedua. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta 336 hal. (Diakses pada 30 November
2019).

Luc. M, D.J, Hun, & J. E. Machon. 1995. Morfologi, Anatomi dan Biologi
Nematoda Parasitik Tumbuhan-Sinopsis. (dalam; Nematoda Parasitik
Tumbuhan di Pertanian Subtropik dan Tropik. Editor: M. Luc, R.A. Sikora, &
J. Bridge). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diakses pada 6
Desember 2019).

Munif, A. 2003. Prinsip-prinsip Pengelolaan Nematoda Parasit Tumbuhan Di


Lapangan. Makalah pada ”Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Nematoda
Parasit Utama Tumbuhan”. Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu
(PKPHT)-HPT, Institut Pertanian Bogor, 26-29 Agustus 2009.10 h. (Diakses
pada 9 Desember 2019).

Mustika, I. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman


di Indonesia. Pusat Pengendalian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.
(Diakses pada 9 Desember 2019).

Nugroharini (2012). Nematoda Parasit Tanaman. Penerbit UPN Press, Surabaya.


(Diakses pada 9 Desember 2019).

Nur, A.M.; Zaenudin & S. Wiryadiputra. 2000. Morfologi dan Sebaran Akar Kopi
Robusta Klon BP 308 pada Lahan Endemic Nematoda Parasit, Pratylenchus
coffeae. Pelita Perkebunan, 16: 121– 131. (Diakses pada Desember 2019).

Rahardjo P. 2012. Panduan Budi Daya dan Pengolahan Kopi Arabika dan
Robusta. Trias QD, editor. Jakarta(ID): Penerbar Swadaya. (Diakses pada 10
Desember 2019).
26

Swibawa, I G. 2014. Komunitas Nematoda pada Tanaman Kopi (Coffea


Canephora Var. Robusta) Muda di Kabupaten Tanggamus Lampung.
Agrotrop 4 (2): 141-150. (Diakses pada 10 Desember 2019).

Trinh, P.Q., C.N. Nguyen, L. Waeyenberge, S.A Subbotin, G. Karssen & M.


Moens. 2004. Radopholus arabecoffeae sp.n. (Nematoda: Pratylenchidae) a
nematode pathogenic to Coffeae arabica in Vietnam, and edditional data on R.
duriophilus. (Diakses pada 4 Desember 2019).

Van Noordwijk, M. & M.J. Swift. 1999.Belowground biodiversity and


sustainability of complex agroecosystems. In: Gafur, A.,F.X. Susilo, M.
Utomo, & M. van Noordwijk, eds.Proceedings of Workshop Management
ofAgrobiodiversity in Indonesia for Sustainable LandUse and Global
Environmental Benefits. ASB ReportNo. 9. Agency for Agricultural 40
Research andDevelopment Ministry of Agriculture and Universityof
Lampung, Bogor. Pages 8-27. (Diakses pada 3 Desember 2019).

Widaningsih D, Darmiati NN. 2016. Pake Pengendalian Hama Terpadu dalam


Mengendalikan Nematoda Luka Akar Kopi (Pratylenchus coffeae Zimm
pada Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) (Diakses pada 4 Desember
2019).

Wiryadiputra, S. dan O. Atmawinata. 1998. Kopi (Coffea spp.). Dalam: Pedoman


Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Perkebunan. Puslitbang Tanaman
Industri Badan Litbang Pertanian. Deptan. Hal. 53-5 (Diakses pada 12
Desember 2019).