Anda di halaman 1dari 14

i

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Toksikologi merupakan ilmu pengetahuan yang ada sejak zaman purbakala,
yang merupakan perpaduan antara ilmu biologi dan ilmu kimia dan dapat
digunakan untuk memahami konsep aksi dan keberadaan zat toksik serta
penerapan konsep tersebut dalam permasalahan lingkungan. Secara tradisional
toksikologi merupakan pengetahuan dasar tentang aksi dan perilaku racun.
Sedangkan pengertian racun sendiri adalah bahan yang bila tertelan atau
terabsorpsi akan mampu membuat manusia sakit dan mematikan (Mukono, 2010).
Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan (adverse
effects) dari zat-zat kimia terhadap organisme hidup. Gabungan antara berbagai
efek potensial yang merugikan serta terdapatnya beraneka ragam bahan kimia di
lingkungan kita membuat toksikologi sebagai ilmu yang sangat luas
(Kusnoputranto, 1996).
Selanjutnya juga dinyatakan bahwa toksikologi lingkungan umumnya
merupakan suatu studi tentang efek dari polutan terhadap lingkungan hidup serta
bagaimana hal ini dapat mempengaruhi ekosistem. Dengan demikian pembahasan
mengenai toksikologi lingkungan merupakan bahasan yang sangat kompleks.
Salah satu yang mengakibatkan lingkungan menjadi toksik ialah pestisida,
Pestisida selain bermanfaat, juga menghasilkan dampak lingkungan. Disamping
bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian, ia juga menghasilkan dampak
buruk baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
RODENTISIDA adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun
yang digunakan untuk mmatikan berbagai jenis binatang pengerat, misalnya tikus.
Tikus juga merupakan organisme penggangu yang bnayak merugikan manusia. Di
bidang pertanian , tikus sering menyerang tanaman pangan, holtikultura, dan
tanaman perkebunan dalam waktu yang singkat dengan tingkat kerugian yang
besar.
Rodentisida brodifakum merupakan salah satu rodentisida antikoagulan
generasi II yang potensial. Efektif terhadap spesies tikus yang resisten terhadap
rodentisida jenis warfarin. Brodifakum juga merupakan produk yang hampir tidak
dapat larut dalam air. Bentuk fisik racun ini adalah blok dengan warna hijau dan

1
biru, sedangkan bentuk asli racun ini berupa bubuk putih. Brodifakum bekerja
sebagai antikoagulan yang tidak langsung mematikan tikus, termasuk juga
terhadapstrain tikus yang tahan terhadap racun antikoagulan jenis lainnya. Cara
kerja racun ini adalah dengan mengganggu kerja vitamin K dalam proses
pembekuan darah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah rodentisida brodifakum mampu menimbulkan efek toksik pada
Mencit Putih Mus musculus?
2. Berapa dosis yang toleran pada Mencit Putih (Mus musculus)?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui pengaruh toksisitas dosis bahan aktif rodentisida
brodifakum terhadap Mencit Putih (Mus musculus).
2. Untuk mengetahui dosis toleran rodentisida brodifakum terhadap makhluk
hidup.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Rodentisida
Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang
digunakan untuk mematikan berbagai jenis hewan pengerat. Rodentisida
antikoagulan mempunyai sifat sebagai berikut:
a. Tidak berbau dan tidak berasa
b. Slow acting, artinya membunuh tikus secara perlahan-lahan, tikus baru
akan mati setelah memakan beberapa kali
c. Tidak menyebabkan tikus jera terhadap umpan yang diberikan
d. Mematikan tikus dengan merusak mekanisme pembekuan darah

2.1.1 Brodifakum
Brodifakum merupakan salah satu rodentisida antikoagulan generasi II yang
potensial. Efektif terhadap spesies tikus yang resisten terhadap rodentisida jenis
warfarin. Brodifakum juga merupakan produk yang hampir tidak dapat larut
dalam air. Bentuk fisik racun ini adalah blok dengan warna hijau dan biru,
sedangkan bentuk asli racun ini berupa bubuk putih. Brodifakum bekerja sebagai
antikoagulan yang tidak langsung mematikan tikus, termasuk juga terhadapstrain
tikus yang tahan terhadap racun antikoagulan jenis lainnya. Cara kerja racun ini
adalah dengan mengganggu kerja vitamin K dalam proses pembekuan darah.

3
2.2 Mencit Putih (Mus musculus)
Mencit Putih yang memiliki nama ilmiah Mus musculus adalah hewan coba
yang sering dipakai untuk penelitian. Hewan ini termasuk hewan nokturnaldan
sosial. Salah satu faktor yang mendukung kelangsungan hidup Mencit Putih
dengan baik ditinjau dari segi lingkungan adalah temperatur dan kelembaban.
Temperatur yang baik untuk Mencit Putih yaitu 19°–23° C, sedangkan
kelembaban 40-70 % (Wolfenshon dan Lloyd, 2013)

2.2.1 Taksonomi Mencit Putih


Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Klas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus

Tikus menjadi hama yang merugikan bagi manusia. Hewan pengerat ini
bukan hanya merusak berbagai tanaman pertanian, pesawahan dan perkebunan
sehingga mengancam ketahanan pangan, tetapi juga berpotensi menjadi hama di
rumah-rumah (urban pest) (unpad.ac.id, 15/06/2017).

2.2.2 DATA FISIOLOGI MENCIT PUTIH


Nilai fisiologis Kadar
Berat tikus dewasa : Jantan 450-520 gram. Betina 250-300 gram
Kebutuhan makan : 5-10g/100g berat badan
Kebutuhan minum : 10 ml/100g berat badan
Jangka hidup : 3-4 tahun
Temperatur rektar : 36° C- 40° C
Detak jantung : 250-450 kali/ menit
Tekanan darah : Sistol84-134 mmHg. Diastol60 mmHg
Laju pernafasan : 70-115 kali/menit

4
Serum protein : (g/dl)5.6-7.6 g/dl
Albumin : (g/dl)3.8-4.8 g/dl
Globulin : (g/dl)1.8-3 g/dl
Glukosa : (mg/dl)50-135 mg/dl
Nitrogen urea darah : (mg/dl)15-21 mg/dl
Kreatinin : (mg/dl)0.2-0.8 mg/dl
Total bilirubin : (mg/dl)0.2-0.55 mg/dl
Kolesterol : (mg/dl)40-130

5
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Pertanian
Universitas Islam Nusantara pada bulan Desember 2019.

3.2 Alat dan Bahan


a. Alat
 Ember (4 Buah)
 Alat Tulis
 Masker
 Sarung Tangan Latex
 Timbangan Gram
b. Bahan
 Air
 Rodentisida Brodifakum
 Perlakuan A: 0 mg/l (Kontrol)
 Perlakuan B: 0,14 g
 Perlakuan C: 0,16 g
 Perlakuan D: 0,18 g
 Serbuk Kayu (Serbuk Gergaji)
 Mencit Putih
 Ukuran: 19 gr
 Jumlah: 8 ekor (2 ekor per ember)

3.3 Langkah Kerja


a. Persiapan Alat dan Bahan
 Mempersiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan
b. Perlakuan
 Masukan serbuk kayu pada masing-masing ember;
 Masukan 2 ekor tikus ke dalam setiap ember;
 Campurkan rodentisida brodifakum dengan air di dalam wadah

6
c. Pengamatan
 Lakukan pengamatan selama 2 jam dengan mengukur tingkat toksisitas
terhadap objek yang diuji.
d. Evaluasi dan Kesimpulan
 Membuat kesimpulan dan mengevaluasi hasil dari yang telah
dipraktikumkan.

3.4 Metode Percobaan


Percobaan ini dilakukan dengan cara 4 perlakuan, setiap perlakuan berisi 2
ekor tikus.

3.5 Parameter Pengamatan


Parameter yang digunakan adalah LD (Lethal Dosis) untuk menyatakan
hasil uji hayati yang bersifat mematikan sebagai salah satu kriteria dari toksisitas.
Ditunjukkan dengan waktu. Misalnya LD50 24 jam.
3.6 Rancangan Anggaran Biaya

NO RENCANA ANGGARAN BIAYA PERSENTASE


Bahan Habis Pakai
Harga Jumlah Persentas
Material Volume Ket.
Satuan Biaya e
Hamster
Rp. Rp. Pembelian
(Phodopus 6 ekor
10.000 60.000 ke-1
sungorus)
Mencit Rp.
Rp. Pembelian
Putih (Mus 8 ekor 10.000/
30.000 ke-2
musculus) 3 ekor
Rodentisida Rp.
100 gr Rp. 5.500
1 Brodifakum 5.500
Pakan Rp. Rp.
¼ kg 92 %
(kuaci) 15.000 15.000
Pakan Rp.
3 buah Rp. 3.000
(wortel) 1.000
1 Rp.
Pakan sayur Rp. 2.000
bungkus 2.000
Serbuk Rp.
1 pak Rp. 5.000
kayu 5.000
Masker +
14 Rp. Rp.
Sarung
pasang 1.000 14.000
Tangan

7
Latex
Rp.
Masker 2 pasang Rp. 4.100
2.050
Sub Total Rp. 138.600

8
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengamatan pertama Hamster (5 Desember 2019)


a. Pemberian dosis
b. Pengamatan perlakuan

NO WAKTU KONSENTRASI KETERANGAN


Kontrol 0,14 0,16 0,18
1 5-12-2019 - 2 buah 2 buah 2 buah Sampel awal
2 6-12-2019 - 0 3 buah 2 buah 1 hilang

4.2 Pengamatan ke-dua Mencit Putih (8 Desember 2019)


a. Pemberian dosis
b. Pengamatan perlakuan

NO WAKTU KONSENTRASI KETERANGAN


Kontrol 0,14 0,16 0,18
1 8-12-2019 2 buah 2 buah 2 buah 2 buah Sampel awal
2 9-12-2019 2 buah 3 buah 2 buah 0 1 hilang

4.3 Perhitungan dan Hasil


a. Hamster
Dosis Jumlah Hewan Jumlah Hewan Pi
Perkelompok Hidup Mati
0,18 gr 2 ekor 2 ekor 0 0
0,16 gr 2 ekor 2 ekor 0 0
0,14 gr 2 ekor 2 ekor 0 0
Kontrol 0 0 0 0

b. Mencit Putih
Dosis Jumlah Hewan Jumlah Hewan Pi
Perkelompok Hidup Mati

9
0,18 gr 2 ekor 2 ekor - 0
0,16 gr 2 ekor 2 ekor - 0
0,14 gr 2 ekor 2 ekor - 0
Kontrol 2 ekor 2 ekor - 0

c. Perhitungan
M = a – b ( Σpi-0,5)
Log LD50 = log500 – (log 500 – log 0,16) (0 – 0,5)
= 0,79588 – (-0,5) (2)
Log LD50 = 0,79588 -25
= 24,20
LD50 = Antilog 24,20
= 1,383gr/kgBB

Hasil yang didapat dari peraktikum ini mendapatkan hasil dengan hamster
maupun mencit putih tidak ada yang mati maupun pingsan di karenakan, dosis
yang di berikan tidak berefek tehadap hamster dan mencit putih dan adanya
perpindahan mencit putih dan hamster yang tidak kami sadari dan hilang nya satu
hamster dan mencit putih tanpa ada yang mengganggu ataupun
memindahkankannya ketempat yang bukan perunutukannya.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/Daftar-isi-
ToksiologiLingkungan_k1_restu.pdf

https://www.academia.edu/31259838/BAB_II_TINJAUAN_PUSTAKA_2.1_Tik
us_Putih_Ratus_novergicus

http://www.unpad.ac.id/profil/dr-ir-h-wahyu-daradjat-natawigena-m-si-ciptakan-
racun-tikus-yang-efektif-inovatif-dan-aman-bagi-manusia/

https://media.neliti.com/media/publications/114726-ID-perbandingan-pemberian-
brodifakum-ld50-d.pdf

11
Lampiran

 Hamster (05-12-2019)

12
 Mencit Putih

13