Anda di halaman 1dari 5

UJIAN TENGAH SEMESTER

TUGAS PERBANDINGAN JURNAL


Matakuliah : PENELITIAN SOSIAL DAN PERILAKU
Dosen : RIA RISTI KOMALA DEWI, SKM, MPH

Disusun oleh:

NOTO SUSANTO

171511014

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

KAMPUS SINTANG

2019/2020
TUGAS PERBANDINGAN JURNAL (Matakuliah : PENELITIAN SOSIAL DAN PERILAKU)
Analisis Tingkat Kepatuhan Hand Hygiene Perawat dalam Hubungan Self Efficacy Dengan Tingkat Kepatuhan Five Moments
Pencegahan Infeksi Nosokomial di Bangsal Dahlia RSUD Hand Hygiene Perawat Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta - Eko
NO JUDUL
Wonosari Yogyakarta - Siti Marfu’ah - Fakultas Kesehatan Budi Setiyono - Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu
Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta (2018) Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (2019)
1 LATAR Rumah sakit diharuskan untuk memberikan layanan yang baik sesuai Rumah sakit sebagai instalasi penyedia pelayanan kesehatan berupaya
BELAKANG dengan standar yang diberikan. Orang yang menerima layanan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit. Solusi paling
kesehatan dihadapkan pada risiko infeksi nosokomial. Insidensi efesien dan paling mudah dilakukan adalah cuci tangan (hand hygiene)
infeksi tercatat di berbagai negara nosokomial sekitar 3,3% -9,2%. dilingkungan rumah sakit. Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan
Kebersihan tangan adalah hal terpenting untuk mencegah rumah sakit adalah rendahnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit.
penyebaran infeksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kepatuhan perawat terhadap kebersihan tangan dalam
upaya mencegah upaya nosokomial di Bangsal Dahlia RSUD
Wonosari Yogyakarta.
2 RUMUSAN Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dihadapkan pada risiko Dari hasil studi dokumenter PPI di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta data
MASALAH terjadinya infeksi baik karena perawatan atau datang berkunjung ke HAIs pada tahun 2017 diperoleh angka kejadian infeksi nosokomial yang
rumah sakit. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. tinggi.
Angka kejadian infeksi nosokomial tercatat di berbagai negara sekitar Infeksi nosokomial yang tertinggi terjadi saat pemasangan infus dan Infeksi
3,3%-9,2%, artinya sekian persen penderita yang dirawat tertular Daerah Operasi (IDO), dari Januari sampai dengan November Phlebitis 123
infeksi nosokomial dan dapat terjadi secara akut atau secara kronis angka kejadian, Infeksi Saluran Kencing (ISK) 10 angka kejadian, Ventilator
Assosiated Pneumonia (VAP) 3 angka kajadian, Infeksi Daerah Operasi
(IDO) 15 angka kejadian, Sepsis 6 angka kejadian, Hospital Acquired
Pneumonia (HAP) 1 angka kejadian, Infeksi Aliran Darah Primer (IADP)1
angka kejadian, Dekubitus 11 angka kejadian.
3 TUJUAN 1) Mengetahui SPO hand hygiene yang dilaksanakan oleh perawat Diketahuinya hubungan self efficacy dengan tingkat kepatuhan five moments
PENELITIAN Rumah sakit apakah sudah sesuai standar lembaga Internasional hand hygiene perawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
WHO; 2) Mengetahui Sarana dan prasarana pelaksanaan hand
hygiene yang tersedia apakah sudah memadai; 3) Mengetahui
Pelaksanaan hand hygiene perawat di RSUD Wonosari,
4 TINJAUAN Menurut Ernawati (2014:1) hand hygiene merupakan sebuah istilah Kepatuhan merupakan suatu bentuk perilaku yang timbul akibat adanya
PUSTAKA dari mencuci tangan menggunakan antiseptic cuci tangan. Nurjannah interaksi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga pasien mengerti
(2015:1) berpendapat hand hygiene adalah suatu tindakan yang rencana dengan segala konsekwensinya dan menyetujui rencana tersebut
dilakukan oleh perawat untuk mencuci tangan pada situasi meliputi serta melaksanakannya (Kemenkes RI, 2011). self efficacy merupakan suatu
sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur keyakinan atau kepercayaan diri individu mengenai kemampuannya untuk
bersih/aseptik, setelah kontak dengan cairan tubuh pasien, setelah mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan,
menyentuh pasien, dan setelah menyentuh peralatan di sekitar menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk mencapai
pasien sebagai salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah kecakapan tertentu. Bandura (1986) menyatakan bahwa self efficacy
infeksi mengacu pada kepercayaan individu akan kemampuannya untuk sukses
nosokomial. Sementara itu menurut Tietjen (2004, dalam Rismawati dalam melakukan sesuatu
2013:9) mengatakan proses pembuangan kotoran dan debu secara
mekanis dari kulit tangan dengan memakai air dan sabun.
Sedangkan menurut Perdalin (2010, dalam Saragih & Rumapea,
2011:5) menjelaskan bahwa hand hygiene merupakan suatu
prosedur tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan
sabun/antiseptik dibawah air mengalir atau dengan menggunakan
handrub yang bertujuan untuk menghilangkan kotoran dari kulit
secara mekanis dan mengurangi jumlah mikroorganisme sementara.
5 KERANGKA WHO (2010:26) mengatakan cuci tangan dapat memberikan Data self efficacy dalam 5 momen hand hygiene berdasarkan penelitian
TEORI keuntungan sebagai berikut: David De Wandel dan Sonia Labeau (2010) sebanyak 148 responden
1. Dapat menurunkan tingkat resiko infeksi. mengatakan, “their perception of barriers to practice proper hand washing
2. Mencegah terjadinya pasien terkena infeksi nosokomial. should also be addressed. Parents play a very important role in setting a
3.Mengurangi penyebaran organisme multiresisten pada saat good role model in hand washing practice”,
melakukan tindakan keperawatan. bahwa self efficacy perawat mempunyai sikap yang buruk terhadap cuci
4. Dari segi praktis dan hemat biaya, cuci tangan juga dapat tangan dan kurang patuh dalam hand hygiene atau cuci tangan.

3
menurukan terjadinya pembengkakan biaya yang terjadi jika pasien
terkena infeksi akibat kurangnya hand hygiene
6 Rumah Sakit wajib mempunyai SPO sebagai acuan dalam HAIs bisa di kendalikan salah satunya dengan hand hygiene, kegiatan
pelaksanaan hand hygiene yang mengacu pada lembaga perilaku hand hygiene dalam pelaksanaanya dipengaruhi oleh beberapa
internasional yaitu World Health Organization (WHO). Sarana dan faktor meliputi faktor internal mencakup pengetahuan, perilaku, motivasi dan
prasarana pada rumah sakit merupakan hal sangat mendukung baik sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, sedangkan
dalam proses maupun hasil pelayanan. faktor eksternal meliputi lingkungan sekitar contohnya fasilitas hand hygiene
yang tersedia. Ketersediaan fasilitas merupakan salah satu faktor penguat
KERANGKA
bagi seseorang untuk berperilaku, Notoatmodjo (2007, dalam Radikun,
KONSEP
2012). Fasilitas yang mendukung Hand hygiene diantaranya handrub
berbasis alkohol 70%, air mengalir dan sabun. Self-efficacy merupakan suatu
keyakinan yang harus dimiliki seseorang agar berhasil dalam proses
pembelajaran, termasuk bagi tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas
kesehatan bisa dianalisa self efficacy nya berkaitan dengan kepatuhan hand
hygiene nya.
7 DEFINISI Hand hygiene adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh Menurut Albert Bandura (1997) mengemukakan selfefficacy merupakan
OPERASIONAL perawat untuk mencuci tangan pada situasi meliputi sebelum “beliefs in one's capabilities to organize and execute the courses of action
menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur
bersih/aseptik, setelah kontak dengan cairan tubuh pasien, required to manage prospective situations”, yang berati bahwa self efficacy
setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh peralatan adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya dalam mengorganisir,
di sekitar pasien sebagai salah satu cara untuk mengurangi mengontrol, dan melaksanakan serangkaian tingkah laku untuk mencapai
atau mencegah infeksi nosokomial. Nurjannah (2015:1).
Infeksi nosokomial adalah istilah yang merujuk pada suatu suatu hasil yang diinginkan. Senada dengan pendapat Firmansyah dan Fauzi
infeksi yang berkembang di lingkungan rumah sakit (Nuryaninim, 2012) “Self-efficacy matematis didefinisikan sebagai suatu
penilaian situasional dari suatu keyakinan individu dalam kemampuannya
untuk berhasil membentuk atau menyelesaikan tugas-tugas atau
masalahmasalah matematis tertentu”. Self-efficacy membantu seseorang
dalam menentukan pilihan, usaha mereka untuk maju, kegigihan dan
ketekunan yang mereka tunjukkan dalam menghadapi kesulitan, dan derajat

4
kecemasan atau ketenangan yang mereka alami saat mereka
mempertahankan tugas-tugas yang mencakupi kehidupan mereka.

8 HIPOTESIS Adanya infeksi nosokomial tertinggi phlebitis yang terjadi di Bangsal Adanya hubungan Self Efficacy dengan Tingkat Kepatuhan Five Moments
Dahlia/ anak dimungkinkan karena ada beberapa faktor diantaranya Hand Hygiene Perawat Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
kepatuhan cuci tangan baik dari petugas, pasien serta keluarga itu
sendiri.
9 METODE Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif Korelasi dengan
PENELITIAN adalah sebanyak 15 perawat dengan total sampling, sedangkan pendekatan Cros Sectional, teknik sampling menggunakan Total Sampling
wawancara dengan kepala bangsal, perawat dan kontrol lainnya
sejumlah 49 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan
serta pencegahan infeksi menggunakan purposive sampling.
kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.
Pengumpulan data dilakukan dengan lembar daftar periksa,
wawancara, dan dokumen. Data dianalisis menggunakan Miles dan
Huberman.