Anda di halaman 1dari 10

ROLEPLAY KEPERAWATAN JIWA

HALUSINASI

Kelompok 1

Kelas 5B

Disusun oleh :

Alfia Ellyka Choirrotunnissa’ 201702053


Farid Muhammad Nur 201702065

Reka Riesta Ardiyanti 201702089


Riski Dwi Tanti 201702090

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2019
Roleplay Halusinasi

Pada suatu ketika di RSUD Dr Soeroto kabupaten ngawi ada klien yang mengalami
halusinasi. Klien tampak gelisah, sendiri, dan histeris, dan seakan-akan klien tersebut di bisiki
untuk bunuh diri. Sehingga klien tersebut di diagnosa gangguan persepsi sensori: halusinasi
(pendengaran) dan perawat pun langsung bertemu dengan pasien untuk menanyakan keadaan
dan memberikan intervensi pada pasien tersebut, pada setiap pertemuan dengan klien.

SP 1- Klien : Mengidentifikasi halusinasi, dan menjelaskan serta melatih cara mengontrol


halusinasi dengan menghardik.
Perawat. :“Selamat pagi/siang/sore, mbak.”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore.”
Perawat : “Saya F, perawat di RSUD Dr Soeroto ini. Tujuan saya kesini ingin
membantu mengidentifikasi halusinasi mbak, dan menjelaskan serta melatih
cara mengontrol halusinasi dengan menghardik. Kalau boleh tahu nama
mbak siapa? Senang di panggil apa?”
Pasien : “nama saya A, senang dipanggil mba A ”
Perawat : “Dimana kita akan bicara mbak? Diruangan ini?”
Pasien : “iya mas di ruangan ini saja”
Perawat : “Baiklah, kita akan berbincang-bincang selama kurang lebih 20 menit ya
mbak.”
Pasien : “iya mas”(sambil menutupi telinga)
Perawat : “Baik, mari kita mulai pembicaraannya ya mbak. Nah untuk saat ini apa
yang mbak keluhankan?”
Pasien : “iya mas, Saya takut. Dari tadi ada orang yang terus membisik-bisikan saya.
Dia menyuruh saya untuk bunuh diri. Saya takut mas”
Perawat : “iya mbak tenang dulu, sekarang mbak sudah sama saya dan tidak ada yang
mengganggu mbak, ”
Pasien : “tapi saya takut mas, karna sura itu mengikuti saya”
Perawat : “Kalau boleh tau mbak, apa yang dikatakan suara itu?”
Pasien : “Mati Kamu, Mati! Begitu mas yang saya dengar. Saya jadi takut mas.
Tolong saya!”
Perawat : “mbak, Apakah suara itu terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu?”
Pasien : “Suara itu sering datang mengganggu saya mas. Saya jadi takut. Mati Kamu,
Mati! Begitulah yang saya dengar mas!”
Perawat : “Kapan mbak sering mendengar suara itu?”
Pasien : “Suara itu sering datang ketika saya lagi sendiri mas”
Perawat : “Biasanya berapa kali sehari mbak mendengar suara-suara itu?”
Pasien : “Biasanya, sering mas. Lebih dari lima kali”
Perawat : “Lebih dari lima kali sehari ya? Kalau begitu, pada keadaan apa suara itu
terdengar? Apakah pada waktu sendiri?”
Pasien : “Iya mas. Suara-suara itu datang pas saya lagi sendiri mas, pas lagi sepi-
sepinya suara itu juga pasti datang!”
Perawat : “Apa yang mbak lakukan saat mendengar suara itu?”
Pasien : “Saya teriak mas. “Tidak! Tidak! Saya Tidak Mau Mati!” Begitu saya bilang
mas”
Perawat : “Baiklah mbak, mbak harus tenang sekarang ya! Bagaimana kalau kita belajar
cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?”
Pasien : “Bagaimana caranya mas?”
Perawat : “Begini mbak, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul.
Pertama, dengan menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara minum obat
dengan teratur. Ketiga, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain, dan yang
keempat melakukan kegiatan sehari-hari yang sudah terjadwal.”
Pasien : “Ada empat ya mas?”
Perawat : “Iya mbak. Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan
menghardik. Caranya adalah saat suara-suara itu muncul, langsung mbak bilang,
“Pergi! Saya tidak mau dengar! Saya tidak mau dengar, kamu suara palsu!”
sambil mbak menutup kedua telinganya, begitu diulang-ulang sampai suara itu
tidak terdengar lagi. Coba mbak A peragakan!”
Pasien : “(sambil menutup kedua telinganya) “Pergi! Saya tidak mau dengar! Saya
tidak mau dengar, kamu suara palsu!” Begitu ya mas?”
Perawat : “Iya mbak. Nah begitu… bagus! Coba lagi mbak!”
Pasien : “(sambil menutup kedua telinganya) “Pergi! Saya tidak mau dengar! Saya
tidak mau dengar, kamu suara palsu!”
Perawat : “Nah iya bagus mbak, mbak sudah bisa melakukan yang saya ajakan, dan
bagaimana perasaan mbak setelah memeragakan latihan tadi?”
Pasien : “Saya sudah lega. Dan saya sudah tidak takut lagi mas”
Perawat : “Baguslah kalau begitu bu, nanti kalau suara-suara itu muncul lagi, silahkan
coba cara tersebut ya mbak!”
Pasien : “Iya mas, nanti saya coba lakukan”
Perawat : “Baiklah mbak, besok pagi saya akan kesini lagi untuk melatih mengontrol
halusinasi mbak dengan obat. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,
Selamat pagi/siang/sore.”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore.”

SP 2- Klien : Melatih cara mengontrol halusinasi dengan obat.


Perawat : “Selamat pagi/siang/sore mbak. Bagaimana perasaannya hari ini?”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore sus. Saya baik sus!”
Perawat : “Apakah mbak masih mendengar suara yang membisiki mbak?”
Pasien : “Masih sus, saya masih mendengarnya.”
Perawat : “Apakah mbak telah melakukan apa yang telah kita pelajari kemarin?”
Pasien : “Sudah, saya sudah melakukannya”
Perawat : “Apakah dengan menghardik suara-suara yang mbak dengar berkurang?”
Pasien : “Ya, suara sudah berkurang”
Perawat : “Bagus mbak. Sekarang coba ibu praktekkan pada saya bagaimana mbak
melakukannya.”
Pasien : “Jika saya mendengar suara itu, saya katakan “Pergi.. pergi saya tidak mau dengar..
Kamu suara palsu” (sambil menutup kedua telinganya)”
Perawat : “Bagus sekali mbak. Coba kita lihat jadwal kegiatan hariannya ya mbak”
Pasien : (mengeluarkan catatan harian dan memberikan kepada Perawat)
Perawat : “Bagus sekali mbak. Mbak sudah bisa melakukan kegiatan menghardik secara
mandiri mbak walaupun masih ada diingatkan oleh keluarga.”
Pasien : “Baik sus”
Perawat : “Mbak mau berbincang-bincang dimana?”
Pasien : “Disini saja sus”
Perawat : “Baiklah mbak. Mbak sudah dapat obat dari Perawat?””
Pasien : “Sudah sus.”
Perawat : “Mbak perlu meminum obat ini secara teratur agar pikiran jadi tenang, dan tidurnya
juga menjadi nyenyak. Obatnya ada tiga macam, yang warnanya orange namanya
CPZ minum 3 kali sehari gunanya supaya tenang dan berkurang rasa marah dan
mondar mandirnya, yang warnanya putih namanya THP minum 3 kali sehari
supaya relaks dan tidak kaku, yang warnanya merah jambu ini namanya HLP
gunanya untuk menghilangkan suara-suara yang mbak dengar. Semuanya ini
harus mbak minum 3 kali sehari yaitu jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam.
Bila nanti mulut mbak terasa kering, untuk membantu mengatasinya mbak bisa
menghisap es batu yang bisa diminta pada Perawat. Bila mbak merasa mata
berkunang-kunang, mbak sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu. Jangan
pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya mbak.
Sampai disini, apakah mbak mengerti ?”
Pasien : “Ya, saya mengerti (sambil menggangguk)”
Perawat : “Baiklah mbak, kita lanjutkan ya. Sebelum mbak meminum obat lihat dulu label
yang menempel di bungkus obat, apakah benar nama mbak yang tertulis disitu.
Selain itu mbak perlu memperhatikan jenis obatnya, berapa dosis, satu atau dua
butir obat yang harus diminum, jam berapa saja obatnya harus diminum, dan cara
meminum obatnya. mbak harus meminum obat secara teratur dan tidak
menghentikannya tanpa konsultasi dengan dokter. Sekarang kita memasukan
waktu meminum obat kedalam jadwal ya mbak. Cara mengisi jadwalnya adalah
jika mbak minum obatnya sendiri tanpa diingatkan oleh Perawat atau teman maka
di isi dengan M artinya mandiri, jika mbak meminum obatnya diingatkan oleh
Perawat atau oleh teman maka di isi B artinya dibantu, jika mbak tidak meminum
obatnya maka di isi T artinya tidak melakukannya. Mengerti mbak?”
Pasien : “Saya mengerti”
Perawat : “Coba ibuk ulangi kembali cara mengisi jadwal kegiatan?”
Pasien : “Jika saya meminum obat tanpa diingatkan maka saya isi di kolom M artinya mandiri,
jika saya minum obat diingatkan oleh keluarga/ Perawat/ teman saya buat di kolom B, jika saya
tidak melakukannya saya buat di kolom T.”
Perawat : “Nah bagus, mbak sudah mengerti. Bagaimana perasaan mbak setelah kita
berbincang-bincang tentang obat?”
Pasien : “Saya sekarang mengerti cara minum obat yang baik mbak”
Perawat : “Sudah berapa cara yang kita latih untuk mengontrol suara-suara? Coba mbak
sebutkan?”
Pasien : “Menghardik dan minum obat”
Perawat : “Wah, mbak benar sekali. Jadwal minum obatnya sudah kita buat yaitu 07:00,
13:00 dan 19:00 pada jadwal kegiatan mbak. Nah sekarang kita masukan
kedalam jadwal minum obat yang telah kita buat tadi ya ibuk. jangan lupa
lakukan semua dengan teratur ya mbak”
Pasien : “Baik sus”
Perawat: “Baik lah mbak. Bagaimana kalau petemuan selanjutnya kita bertemu lagi untuk
melihat manfaat minum obat dan berlatih cara untuk mengontrol halusinasi yang
ketiga yaitu bercakap-cakap dengan orang lain. apakah mbak bersedia?”
Pasien : “ Ya, saya bersedia sus”
Perawat : “Baiklah mbak, besok pagi saya akan kesini lagi menjelaskan cara menangani
masalah sindrom pasca trauma yang mbak alami. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,
Selamat pagi/siang/sore.”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore.”

SP 3- Klien : Melatih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakapan.


Perawat : “Selamat pagi/siang/sore mbak. Bagaimana perasaannya hari ini?”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore sus. Saya baik sus!”
Perawat : “Apakah suara-suara masih muncul?”
Pasien : “Masih sus, tapi sudah berkurang”
Perawat : “Apakah mbak telah melakukan dua cara yang telah kita pelajari untuk
menghilangkan suara-suara yang menganggu?”
Pasien : “Sudah sus”
Perawat : “Coba saya lihat jadwal kegiatan harian mbak?”
Pasien : (mengeluarkan catatan harian dan memberikan kepada Perawat)
Perawat : “Bagus sekali mbak, sekarang coba lihat obatnya. Ya bagus, mbak sudah
minum obat dengan teratur jam 07:00, 13:00 dan 19:00 dan latihan menghardik
suara-suara juga dilakukan dengan teratur. Sekarang coba ceritakan pada saya
apakah dengan dua cara tadi suara-suara yang mbak dengarkan berkurang?”
Pasien : “Ya, suara sudah mulai berkurang”
Perawat : Coba sekarang praktekkan cara menghardik suara-suara yang telah kita
pelajari.
Pasien : Jika saya mendengar suara itu, saya katakan “Pergi.. pergi saya tidak mau
dengar.. Kamu suara palsu” (sambil menutup kedua telinganya)
Perawat : “Coba mbak jelaskan kembali pada saya cara minum obat dengan benar.”
Pasien : “Sebelum saya meminum obat lihat dulu label yang menempel di bungkus
obat, apakah benar nama saya yang tertulis disitu, perhatikan jenis obatnya,
berapa dosis, satu atau dua butir obat yang harus diminum, jam berapa saja
obatnya harus diminum, dan cara meminum obatnya.”
Perawat : “Bagus sekali mbak. Baiklah mbak sesuai janji kita kemaren hari ini kita
akan belajar cara ketiga dari empat cara mengendalikan suara-suara yang
muncul yaitu bercakap-cakap dengan orang lain, Apakah mbak bersedia? ”
Pasien : “Saya bersedia sus.”
Perawat : “Berapa lama mbak mau berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit,
mbak? mbak mau berbincang-bincang dimana? “
Pasien : “Baik sus. Disini saja sus.”
Perawat : “Baiklah mbak.”
Perawat : “Caranya adalah jika mbak mulai mendengar suara-suara, langsung saja
mbak cari teman atau perawat untuk diajak berbicara. Mbak bisa memulainya
dengan salam setelah itu mbak memperkenalkan diri mbak, selanjutnya mbak
menanyakan hobi teman mbak dan memberitahukan hobi mbak juga kepada
teman mbak. Contohnya begini mbak, selamat pagi/siang/sore, permisi mbak
perkenalkan nama saya R, nama mbak siapa? Mbak hobinya apa? Kalau saya
hobinya menulis.
Sekarang coba mbak praktekkan!”
Pasien : “Jika saya mendengar suara itu, saya cari teman atau perawat untuk berbicara
dengan saya. Selamat pagi/siang/sore, permisi mbak perkenalkan nama saya
A, mbak namanya siapa? mbak hobinya apa? Kalau saya hobinya menulis.”
Perawat : “Bagus sekali mbak. Nah, bagaimana perasaan mbak setelah kita berlatih
tentang cara mengontrol suara-suara dengan bercakap-cakap?.”
Pasien : “Merasa baik sus.”
Perawat : “Jadi sudah berapa cara yang kita latih untuk mengontrol suara-suara?”
Pasien : “Sudah 3 cara”
Perawat : “Coba mbak sebutkan”
Pasien : “Menghardik, minum obat dan bercakap- cakap dengan teman atau perawat”
Perawat : ”Bagus sekali mbak. mari kita masukan kedalam jadwal kegiatan harian ya
mbak”
Perawat : “Berapa kali mbak akan latihan bercakap-cakap.”
Pasien : “Dua kali sus”
Perawat : “Baiklah mbak dua kali saja. Jam berapa saja mbak?”
Pasien : “Jam 08.00 dan 19.00”
Perawat : “Baiklah mbak jam 08:00 dan 19:00. Jangan lupa mbak lakukan cara yang
ketiga agar suara-suara yang mbak dengarkan tidak mengganggu mbak lagi.
Baik lah mbak, Bagaimana kalau besok kita berlatih cara keempat untuk
mengontrol suara-suara yang mbak dengar dengan cara melakukan kegiatan
aktivitas fisik, apakah mbak bersedia?”
Pasien : “Ya, saya bersedia” (sambil mengangguk-anggukan kepala)
Perawat : “Besok saya akan datang lagi, di ruangan ini ya mbak. Baiklah kalau begitu
saya permisi dulu, Selamat pagi/siang/sore.”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore.”

SP 4- Klien : Melatih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian di rumah
sakit.
Perawat : “Selamat pagi/siang/sore mbak. Bagaimana perasaannya hari ini?”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore sus. Saya baik sus!”
Perawat : “Apakah suara-suara masih muncul?”
Pasien : “Suaranya sudah jarang saya dengar”
Perawat : “Apakah mbak telah melakukan tiga cara yang telah dipelajari untuk
menghilangkan suara-suara yang menganggu? “
Pasien : “Ya , saya sudah melakukannya”
Perawat : “Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya?”
Pasien : (mengambil buku kegiatan harian dan memberikannya pada perawat)
Perawat : “Bagus sekali mbak, mbak minum obatnya dengan teratur, latihan bercakap-
cakap dengan teman dan perawat juga dilakukan dengan teratur. Sekarang coba
ceritakan pada saya apakah dengan ketiga cara tadi suara-suara yang mbak
dengarkan berkurang?”
Pasien : “Iya sus, suaranya berkurang”
Perawat : “Bagus sekali mbak, dengan cara tersebut suara-suara itu sudah tidak akan
menganggu ibuk lagi. Coba sekarang mbak praktekkan lagi bagaimana cara
menghardik suara-suara yang telah kita pelajari dan jelaskan kembali pada
saya 6 cara minum obat yang benar dan dengan siapa mbak bisa bercakap-
cakap?”
Pasien : “Jika saya mendengar suara itu lagi, saya katakan “Pergi.. pergi saya tidak
mau dengar.. Kamu suara palsu” (sambil menutup kedua telinganya). Sebelum
saya meminum obat saya lihat dulu label yang menempel di bungkus obat,
apakah benar nama saya yang tertulis disitu, perhatikan jenis obatnya, berapa
dosis, satu atau dua butir obat yang harus diminum, jam berapa saja obatnya
harus diminum, dan cara meminum obatnya. Dan yang terakhir saya harus
bercakap cakap dengan teman atau perawat jika suara itu terdengar.”
Perawat : “Bagus sekali mbak! mbak sudah bisa mempraktekkannya.”
Perawat : “Baiklah mbak sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan latihan cara yang
muncul yaitu melakukan aktivitas fisik yaitu membersih kamar tujuannya
kalau mbak sibuk maka kesempatan muncul suara-suara akan berkurang.
Apakah mbak bersedia?”
Pasien : “Saya bersedia”
Perawat : “Berapa lama waktu kita berbincang-bincang mbak? Bagaimana kalau 20
menit?”
Pasien : “Baiklah sus”
Perawat : “Baiklah mari kita merapikan tempat tidur. Tujuan nya agar mbak dapat
mengalihkan suara yang didengar. Dimana kamar tidur mbak?”
Pasien : “Disana sus.”
Perawat : (di kamar) “Baiklah mbak sekarang kita merapikan tempat tidur mbak ya.
Kalau kita akan merapikan tempat tidur, kita pindahkan dulu bantal, guling
dan selimutnya. Lalu kita pasang sepraynya lagi, kita mulai dari arah atas ya
sekarang bagian kaki, tarik dan masukkan, lalu bagian pinggir dimasukkan.
Sekarang ambil bantal dan letakkan dibagian atas kepala. Selanjutnya kita lipat
dan rapikan selimutnya dan letakan dibawah kaki.”
Pasien : (mempraktekkan)
Perawat : “Bagus sekali mbak. mbak dapat melakukannya dengan baik dan rapi.”
Perawat : “Bagaimana perasaan mbak setelah kita membereskan tempat tidur apakah
selama kegiatan berlangsung suara-suara itu datang?
Pasien : “Saya senang sus dan suara itu sudah tidak terdengar lagi.”
Perawat : “Bagus sekali buk. Jadi selama latihan suara-suara itu tidak ada ya mbak.
Mbak dapat melakukan kegiatan untuk menghilangkan suara-suara dengan
sering bekerja. Apakah mbak bisa menjelaskan kembali langkah-langkah
merapikan tempat tidur?”
Pasien : “Pindahkan dulu bantal, guling dan selimutnya. Lalu pasang sepraynya,mulai
dari arah atas lalu bagian kaki, tarik dan masukkan, lalu bagian pinggir
dimasukkan. Kemudian letakkan bantal dibagian atas kepala. Selanjutnya lipat
dan rapikan selimutnya dan letakan dibawah kaki.”
Perawat : “Bagus sekali mbak sekarang masukan kedalam jadwal kegiatan harian.”
Pasien : “Baik sus” ( sambil membuka buku jadwal harian)
Perawat : “Mbak kita telah melakukan keempat cara untuk menghilangkan suara-suara
yang mbak dengar. Jadi mbak harus melakukannya setiap hari agar suara-
suara itu tidak mengganggu mbak lagi. Bagaimana mbak? Apakah mbak
mengerti?
Pasien : “Ya saya mengerti”
Perawat : “Baiklah sus, saya akan menemui mbak besok untuk melihat apakah mbak
melakukan keempat kegiatan tersebut atau tidak. Baiklah kalau begitu saya
permisi dulu, Selamat pagi/siang/sore.”
Pasien : “Selamat pagi/siang/sore.”

Nama anggota kelompok :


SP ke-1 = sebagai perawat : farid
sebagai pasien : alfia
SP ke-2 = sebagai perawat : alfia
sebagai pasien : farid
SP ke-3 = sebagai perawat : reka
sebagai pasien : riski
SP ke-4 = sebagai perawat : riski
sebagai pasien : reka