Anda di halaman 1dari 24

PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

MODUL : PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA


ANAEROB
PEMBIMBING : Dianty Rosirda Dewi Kurnia, ST.,MT.

Oleh

Kelompok : VIII
Oki Andri Oktaviana 171411056
Weldy Putera 171411063
Yasir Mohammad Naufal A. 171411064

KELAS : 3B - D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Anggraini (2014), limbah cair atau air limbah adalah air yang tidak terpakai lagi
dan merupakan hasil dari berbagai kegiatan manusia sehari-hari. Dengan semakin bertambah
dan meningkatnya jumlah penduduk dengan segala kegiatannya, maka jumlah air limbah
juga mengalami peningkatan. Limbah banyak dihasilkan di berbagai kegiatan industri,
pelayanan kesehatan, restoran hingga rumah tangga. Limbah yang dihasilkan harus ditangani
secara benar agar tidak memberikan dampak negatif baik bagi lingkungan, manusia, maupun
mahluk hidup yang lain. Pengolahan limbah cair yang memiliki kandungan organik tinggi
(diatas 2000 mg/L) biasanya dilakukan dengan menggunakan metode anaerobik. Metode ini
memiliki banyak kelebihan, yaitu efisiensi yang tinggi, mudah dalam konstruksi dan
pengoperasiannya, hanya membutuhkan lahan/ruang yang tidak luas dan energi yang sedikit,
menghasilkan lumpur yang sedikit, serta hanya membutuhkan nutrien dan bahan kimia yang
sedikit.

1.2 Tujuan
Setelah melaksanakan praktikum ini mahasiswa mampu:
1. Menentukan konsentrasi effluent awal kandungan organik (COD) dan konsentrasi
effluent akhir kandungan organik (COD).
2. Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang
mewakili kandungan mikroorganisme dalam reaktor;
3. Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen kandungan bahan
organik yang didekomposisi oleh mikroorganisme dalam reaktor terhadap kandungan
bahan organik awal
4. Menghitung total gas yang dihasilkan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pengolahan Limbah Secara Anaerob

Pengolahan air limbah secara biologi anaerob merupakan pengolahan air limbah
dengan mikroorganisme tanpa injeksi udara/oksigen kedalam proses pengolahan. Pengolahan
air limbah secara biologi anaerob bertujuan untuk merombak bahan organik dalam air limbah
menjadi bahan yang lebih sederhana yang tidak berbahaya. Disamping itu pada proses
pengolahan air limbah secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti gas CH4 dan
CO2. Proses ini dapat diaplikasikan untuk air limbah organik dengan beban bahan organik
(COD) yang tinggi (Anggraini, 2014).

2.2 Proses Reaksi Anaerob

Pada proses pengolahan secara biologi anaerob terjadi empat (4) tahapan proses yang
terlibat diantaranya :

1. Proses hydrolysis : suatu proses yang memecah molekul organik komplek menjadi
molekul organik yang sederhana
2. Proses Acidogenisis : suatu proses yang merubah molekul organik sederhana menjadi
asam lemak
3. Proses Acetogenisis : suatu proses yang merubah asam lemak menjadi asam asetat dan
terbentuk gas-gas seperti gas H2, CO2, NH4 dan S
4. Proses Methanogenisis : suatu proses yang merubah asam asetat dan gas-gas yang
dihasilkan pada proses acetogenisis menjadi gas methane CH4 dan CO2
Berdasarkan jumlah tahapan reaksi dalam pengolahan secara anaerobik terdapat dua macam
sistem pengolahan yaitu pengolahan satu tahap dan pengolahan dua tahap. Dalam Pengolahan
satu tahap semua reaksi pengolahan secara anaerobik yakni hidrolisis, asetogenesis, dan
metanogenesis berlangsung dalam satu reaktor. Dalam pengolahan dua tahap reaksi hidrolisis
berlangsung dalam reaktor pertama dan reaksi asetogenesis dan metanogenesis berlangsung
dalam reaktor kedua. Reaksi hidrolisis dijaga pada pH 6,5-7, reaksi asetogenesis dan
metanognesis dijaga pada rentang pH 4,5-6. Dengan pemisahan tahapan reaksi yang berlangsung
pada rentang pH yang berbeda maka Pengolahan Dua Tahap diharapkan akan terjadi pengolahan
air limbah dengan efisiensi yang lebih tinggi.
Secara skematis, empat tahapan reaksi dalam pendegrasian air limbah secara anaerobik dapat
ditunjukkan oleh gambar 1.

Gambar 1. Skematis empat tahapan reaksi degradasi air limbah secara anaerobik.

(Mahida,1993)

2.3 Chemical Oxygen Demand (COD)

COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat
organik yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai
sumber oksigen (oxidizing agent) ( Alerts & Santika, 1987).

Reaksinya sebagai berikut :

HaHbOc + Cr2O72- + H+ → CO-2 + H2O + Cr3+


Jika pada perairan terdapat bahan organik yang resisten terhadap degradasi biologis,
misalnya tannin, fenol, polisacharida dansebagainya, maka lebih cocok dilakukan pengukuran
COD daripada BOD. Kenyataannya hampir semua zat organik dapat dioksidasi oleh oksidator
kuat seperti kalium permanganat dalam suasana asam, diperkirakan 95% - 100% bahan organik
dapat dioksidasi.

Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan
perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20
mg/L, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah industri
dapat mencapai 60.000 mg/ (UNESCO,WHO/UNEP, 1992 yang dikutip dalam Effendi, 2000).

2.4 Analisis COD

Prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat


(K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan
asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya,
kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang
terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat
ditentukan (Nurdin dkk, 2009).

2.5 Metoda Analisa Chemical Oxygen Demand (COD)

Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi atau Chemical Oxygen Demand
(COD) yang digunakan saat ini adalah metoda yang melibatkan penggunaan oksidator kuat
kalium bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai katalis. Kepedulian akan aspek
kesehatan lingkungan mendorong perlunya peninjauan kritis metoda standar penentuan COD
tersebut, karena adanya keterlibatan bahan-bahan berbahaya dan beracun dalam proses
analisisnya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mencari metoda alternatif yang lebih baik dan
ramah lingkungan. Perkembangan metoda-metoda penentuan COD dapat diklasifikasikan
menjadi dua kategori. Pertama, metoda yang didasarkan pada prinsip oksidasi kimia secara
konvensional dan sederhana dalam proses analisisnya. Kedua, metoda yang berdasarkan pada
oksidasi elektrokatalitik pada bahan organik dan disertai pengukuran secara elektrokimia (Nurdin
dkk, 2009).
2.6 MLVSS

Air limbah beserta mikroba tersuspensi dalam air limbah tersebut biasa disebut dengan
mixed liquor. Untuk mengetahui kuantitas mikroba tersuspensi pendekomposisi atau
pendegradasi air limbah maka ditentukan dengan mengukur kandungan padatan tersuspensi yang
mudah menguap (mixed liquor volatile suspended solids/MLVSS) dalam reaktor. (Ananda,
2017)
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1. Peralatan Analisis dan Peralatan Pendukung

 2 buah Labu erlemeyer 250 mL


 2 buah Corong gelas
 2 buah Cawan porselin
 1 buah Desikator
 1 buah Neraca analitis
 1 buah Oven
 1 buah Furnace
 1 buah Hach COD digester
 2 buah Tabung Hach
 1 buah buret lengkap dengan klem dan statip

3.1.2. Bahan Kimia yang digunakan

 Glukosa 2,0 g/L


 NH4HCO3 0,15 g/L
 KH2PO4 0,15 g/L
 NaHCO3 0,5 g/L
 K2HPO4 0,5 g’L
 Trace Metal Solution A: sebanyak 1 mL
 MgSO4.7H2O 0,5 g/L
 Trace Metal Solution B: sebanyak 1 mL
 FeCl3 5,0 g/L
 CaCl2 5,0 g/L
 KCl 5,0 g/L
 CoCl2 1,0 g/L
 NiCl2 1,0 g/L
 FAS
 Indikator ferroin
 Kertas saring
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1. Tahapan Percobaan
1. Menentukan konsentrasi organik (COD), pH dan konsentrasi gas awal dalam reaktor 1
sebelum penambahan umpan/nutrisi bagi mikroorganisme dalam tangki tersebut.
2. Menentukan konsentrasi organik (COD) dari umpan.
3. Menentukan kandungan mikroorganisme dalam reaktor 1 dengan cara menentukan
Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) secara gravimetri.
4. Menentukan konsentrasi organik (COD) dari efluen reaktor 1 setelah proses berjalan
selama satu hari (keesokan harinya) untuk mengetahui efisiensi pengolahan.
5. Mencatat total gas yang terbentuk pada reaktor setelah proses berjalan selama + 3 jam
untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas.

Gambar 2. Skema Alat Pengolahan Limbah Secara Anaerob Dua Tahap

3.2.2. Penentuan kandungan organik (Chemical Oxygen Demand/COD) dari sampel


1. Memasukkan 2,5 ml sampel kedalam tabung Hatch yang telah diencerkan sebanyak 25x,
kemudian menambahkan 1,5 mL pereaksi kalium bikromat dan 3,5 mL pereaksi asam
sulfat pekat yang sudah ditambah Ag.
2. Memasukkan tabung Hatch pada Hatch COD Digester dan memanaskan pada suhu 150
o
C selama 2 jam.
3. Mengeluarkan tabung hatch dari digester dan mebiarkan dingin pada udara terbuka.
Setelah tabung menjadi dingin mentitrasi dengan larutan Ferro Amonium (FAS) 0,1 N
menggunakan indikaror ferroin (sekitar 2 atau 3 tetes). Titrasi dihentikan jika terjadi
perubakan warna dari hijau menjadi coklat.
4. Melakukan pekerjaan diatas untuk aquadest sebagai blanko.
Perhitungan :
(𝑎−𝑏)𝑐 𝑥 1000 𝑥 𝑑 𝑥 𝑝
COD (mg O2 / l) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Dimana :
a = ml FAS untuk blanko
b = ml FAS untuk sampel
c = normalitas FAS
d = berat equivalen oksigen (8)
p = pengenceran
3.2.4. Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)
1. Memanaskan cawan pijar selama 1 jam dalam furnace pada suhu 600 oC dan
memanaskan kertas saring selama 1 jam dalam oven pada suhu 105 oC.
2. Menimbang cawan pijar (a gram) maupun kertas saring (b gram). Gunakan desikator
untuk menurunkan suhu cawan pijar maupun kertas saring selama penimbangan.
3. Menyaring 40 ml air limbah sampel dengan menggunakan kertas saring yang telah
diketahui beratnya.
4. Memasukkan kertas saring yang berisi endapan ke dalam cawan cawan pijar dan
memanaskan dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam atau hingga kering.
5. Menimbang cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan sampai didapat berat
konstan (c gram).
6. Memasukkan cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan ke dalam furnace pada
600 oC selama 2 jam atau hingga menjadi abu.
7. Menimbang sampai didapat berat konstan (d gram)

(𝑐−𝑎)
TSS (mg/L) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 106

(𝑐−𝑑)
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

FSS (mg/L) = TSS – VSS

Dimana
TSS : total padatan tersuspensi
VSS : Padatan tersuspensi yang mudal menguap. Dalam hal ini VSS = MLVSS
FSS : padatan tersuspensi yang tidak menguap.
3.2.5. Diagram blok flow proses penentuan COD awal dan COD akhir
3.2.6. Diagram blok flow proses penentuan MLV
BAB IV
DATA PENGAMATAN
Tabel 4.1 Data Pengamatan Praktikum

Hasil Percobaan
No. Data Percobaan Satuan
Awal Akhir

1. MLVSS mg/L 27177,5

2. COD mgO2/L 2847.6 2034

3. Efisiensi Pengolahan % 28.57


Kecepatan Pembentukan 1,05 ml/menit
4. mL
Gas

Grafik 4.1. Kadar COD terhadap waktu dengan data pengamatan kelompok lain

Kurva kadar COD terhadap waktu


3000

2500

2000
COD (ppm)

1500

1000

500

0
0 2 4 6 8 10
Pengukuran Ke

Tabel 4.2 Data Pengamatan COD dari kelompok sebelumnya

COD (ppm) Hari-Ke


Umpan 1166.4 0
3E 1360.8 1
777.6 2
3B 777.6 3
388.6 4
3E 1627.2 5
406.8 6
3B 2847.6 7
2034 8
BAB V
PEMBAHASAN

OKI ANDRI OKTAVIANA (NIM 171411056)

Pengolahan air limbah secara anaerob adalah pengolahan air tanpa membutuhkan udara
menggunakan mikroba anaerob. Metode ini dapat dilakukan secara terlekat atau pun tersuspensi
dan juga satu tahap atau dua tahap. Dan telah dilakukan pengolahan air limbah secara tersuspensi
(mikroba tercampur dengan cairan limbah) dengan satu tahap. Perbedaan satu tahap dan dua
tahap adalah perbedaan efisiensi secara teoritis karena dengan dua tahap memungkinkan kita
menggunakan pH yang berbeda di setiap reaktor. Namun, dalam praktikum digunkan pH dalam
tangki 1 sebesar 6.

Pengolahan limbah air secara anaerob tidak bisa diukur kinerjanya (efisiensi) secara kasat
mata, tapi harus dilakukan pengujian COD awal dan akhir. Kemudian untuk mengetahui jumlah
mikroba yang tersuspensi dapat dilakukan pengujian MLVSS (mixed liquor volatile suspended
solid). Pengujian MLVSS dilakukan saat awal pengolahan dan didapatkan data TSS, VSS dan
FSS secara berturut-turt 28042,5 mg/L,27177,5 mg/L dan 865 mg/L.

COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk
mengoksidasi senyawa organik secara kimiawi. (G & Santika, 1984). COD berbanding lurus
dengan DO (dissolved oxygen) dalam air, semakin kecil COD dalam air limbah berarti air
semakin sedikit mengandung senyawa organik kompleks.

Prinsip analisa COD adalah semua senyawa organik dapat dioksidasi secara sempurna
menjadi karbon dioksida dengan menggunakan oksidator kuat pada kondisi asam. Sampel
air diinkubasi pada kondisi tertutup dengan oksidan kimia yang kuat dalam suhu dan jangka
waktu tertentu. Oksidator yang sering digunakan dalam tes COD adalah kalium dikromat
(K2Cr2O7) yang digunakan dalam kombinasi dengan asam sulfat pekat (H2SO4).

Oksidan kimia kuat (Cr2O7-), berfungsi untuk mengoksidasi senyawa organik menjadi
karbon dioksida dan air pada kondisi asam. Pada saat analisa juga ditambahkan senyawa perak
(Ag2SO4) untuk mendorong oksidasi senyawa organik tertentu atau katalis. (Saifulloh, 2017)
Dilakukan pengukuran COD awal dan COD akhir ( setelah 1 hari ) untuk mengetahui
berapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi kandungan organic dalam sampel.
Dari hasil praktikum, didapatkan nilai COD awal yaitu sebesar 2847,6mg/L dan nilai COD akhir
setelah didegradasi oleh mikroba selama 1 hari sebesar 2034 mg/L. Kandungan COD setelah
didegradasi selama 1 hari mengalami penurunan yang berarti kandungan organiknya telah
terdekomposisi, namun efisiensi pengolahan limbah yang dihasilkan hanya sebesar 28,57 %.
Dapat dikatakan bahwa nilai efisiensi pengolahan yang didapat tergolong rendah. Rendahnya
nilai efisiensi pengolahan yang didapat bisa disebabkan oleh kualitas mikroorganisme yang
kurang bagus, waktu tinggal yang kurang lama karena menurut literatur waktu tinggal untuk
reaktor anaerobik berkisar antara 10-20 hari, serta kondisi lingkungan yang kurang tepat.
Pembentukan gelembung pada pengolahan anaerobik mengindikasikan adanya
pembentukan gas metana (CH4) dari hasil pengolahan.Volume gas metana yang terbentuk dari
proses pengolahan limbah tersebut dapat ditentukan dengan mengukur volume air yang keluar
dari tabung gas. Gas metana yang terbentuk tersebut akan mendorong air keluar dari tabung gas
sehingga volume air yang keluar dari tabung gas tersebut sama dengan volume gas metana yang
terbentuk. Namun saat praktikum tidak menghasilkan gas metana yang kemungkinan terjadi
karena adanya pembentukan gas NH4+ akibat pengolahan limbah dalam keadaan basa
menyebabkan mikroba pendegradasi sekaligus pembentuk gas metana terhambat. Hal ini juga
dapat berdampak pada efisiensi pengolahan COD yang pada saat dipraktikum diperoleh efisiensi
yang rendah.Kecepatan pembentukan gas selama proses degradasi diperoleh sebesar 0,0161 𝐿/
𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

WELDY PUTERA (NIM 171411063)

Praktikum pengolahan limbah secara anaerob bertujuan untuk mempelajari pengolahan


limbah dengan bantuan mikroba yang bersifat anaerob. Mikroba anaerob merupakan mikroba
yang tidak membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya sehingga dalam pengoperasian
pada pengolahan limbah, oksigen atau udara luar harus terisolasi. Pada reaktor Anaerobic
Fluidized Bed , terdapat jalur/aliran pada selang untuk memasukkan umpan atau nutrisi ke
reaktor. Nutrisi atau umpan yang tidak dimasukkan lagi ke reaktor melalui selang dapat dimasuki
oleh udara luar sehingga di dalam reaktor akan terdapat udara/oksigen. Untuk menangani hal
tersebut, selang tersebut dicelupkan ke air secukupnya agar udara tidak dapat masuk melalui
selang ke reaktor. Pengujian yang dilakukan yaitu penentuan COD, MLVSS, pH, dan banyaknya
gas yang dihasilkan.

Penentuan COD dilakukan dengan cara menambahkan oksidator kuat dan sebagai sumber
oksigen pada sampel yaitu kalium bikromat dengan penambahan asam pekat. Tujuan
penambahan asam pekat yaitu untuk membuat suana asam karena pada pH asam akan
mempercepat proses oksidator sampel. Sampel yang akan diuji dengan COD pada effluent
reaktor harus diencerkan sebanyak 25 kali untuk memudahkan pengujian selanjutnya yaitu
pemanasan suhu 150oC selama 2 jam dan titrasi menggunakan FAS. Jika tidak diencerkan, beban
pemanasan akan berlebih sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengoksidasi
sampel serta volume titran FAS nantinya akan banyak yang digunakan. Penambahan kromat dan
asam sulfat pekat dilakukan dalam ruang asam khususnya saat penambahan asam sulfat karena
dapat menghasilkan uap serta menggunakan sarung tangan karena reaksinya bersifat eksotermis.
Sampel tersebut ditambahkan menggunakan tabung hach. Sampel yang sudah ditambahkan
kromat dan sulfat pekat selanjutnya dipanaskan pada hach digester untuk proses oksidasi bahan
organik dengan kromat berlebih yang sudah ditambahkan sebelumnya selama 2 jam pada suhu
150oC.

Kelebihan kromat ini selanjutnya dititrasi dengan larutan FAS yang sudah distandarisasi
atau konsentrasinya sudah diketahui secara pasti. Pada praktikum yang dilakukan, pelaksanaan
standarisasi FAS tidak dilakukan. Namun, standarisasi FAS telah dilakukan oleh kelompok
sebelumnya sehingga dianggap sudah pasti nilainya. Indikator yang digunakan pada titrasi yaitu
ferroin sehingga kelebihan tetesan pertama pada FAS akan mengubah larutan dari hijau tua ke
coklat. Hasil penentuan COD pada effluen awal (sebelum penambahan nutrisi) sebesar 2847,6
ppm mg/L O2. Kemudian, pengecekan lagi COD pada effluen keesokan harinya yang
sebelumnya dilakukan penambahan nutrisi ke dalam reaktor Anaerobic Fluidized Bed. Tujuan
penambahan nutrisi agar mikroba anaerob mempunyai energi untuk mendekomposisi limbah
organik dengan melalui selang umpan menggunakan pompa peristaltik. Pada effluen akhir, nilai
COD yang didapat sebesar 2034 mg/L O2. Terjadi penurunan nilai COD, hal ini membuktikan
bahwa proses dekomposisi limbah organik berjalan sesuai dengan teori yaitu mengalami
penurunan nilai COD karena bahan organik telah di dekomposisi. Efisiensi COD yang didapat
pada saat itu sebesar 28,57 % dalam satu hari tersebut.
Menurut UNESCO, WHO/UNEP, 1992, Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar +
20 mg/L. Pada perairan tercemar nilainya melebihi 200 mg/L sedangkan pada limbah industri
mencapai 60.000 mg/L. Dari hasil praktikum analisis COD yang didapat disimpulkan bahwa air
sampel tersebut termasuk kedalam air yang tercemar karena nilai masih diatas 200 mg/L. Agar
kadar COD-nya dapat turun sesuai dengan ketentuan, maka pengoperasiannya dilakukan dengan
tambahan waktu yang lebih lama lagi sehingga mikroa anaerob dapat terus mendekomposisi
limbah organik.

Kurva COD terhadap waktu


3000

2500

2000
COD

1500

1000

500

0
0 2 4 6 8 10
Pengukuran ke

Pada perbandingan nilai COD dengan kelompok lain, nilainya berfluktuasi terhadap data
kelompok lain. Namun, tiap kelompok tersebut pengukuran antara effluent awal dan akhirnya
sesuai dengan teori yaitu turun kadar CODnya. Seharusnya, dari awal kelompok praktikum
hingga sekarang nilai CODnya terus berkurang. Dimungkinkan penyebabnya yaitu ada saat
penambahan umpan sehingga nilai CODnya pada waktu itu meningkat lagi. Penyebab kedua
yaitu pengukuran tiap praktikan berbeda tingkat akurasi dan presisinya sehingga menghasilkan
perbedaaan pengukuran.

Pada penentuan MLVSS, disini ditentukan seberapa banyak suspensi pada reaktor
tersebut yang mudah menguap pada mixed liquor. Nilai ini setara dengan banyaknya mikroba
yang mendekomposisi limbah organik. Prinsip pengukurannya yaitu metode gravimetri, dimana
pengukuran yang dilakukan berdasarkan selisih berat yang dihasilkan. Ketika melakukan
pengukuran MLVSS, secara tidak langsung juga dapat menentukan kadar TSS pada limbah
organik tersebut. Perbedaannya yaitu kadar TSS merupakan banyaknya suspensi pada limbah
tersebut baik yang mudah menguap maupun yang tidak. Sedangkan, VSS atau MLVSS adalah
suspensi yang mudah menguapnya sehingga dalam pengukurannya perlu di furnance hingga
suhu 600oC. Selama proses pengolahan anaerobik pada reaktor, juga dihasilkan gas sebagai hasil
reaksi samping dari mikroba. Gas ini biasanya merupakan gas metana dan CO2 serta sedikit gas
H2S. Banyaknya gas yang terbentuk dapat ditentukan menggunakan gas collector. Hasil gas
tersebut akan mendorong air yang keluar pada gas collector sehingga volume air tersebut akan
tergantikan oleh volume gas tiap berjalannya waktu. Dari hal ini, dapat ditentukan kecepatan
pembentukan gas dengan melihat lamanya volume gas yang mengisi gas collector. Pada
percobaan, di dapat besarnya kecepatan gas sebesar 0,0161 𝐿/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡. Secara keseluruhan,
proses pengolahan secara anaerobik berlangsung sesuai teori.

YASIR MOHAMMAD NAUFAL ATTAMIMI (NIM 171411064)

Pengolahan air limbah secara anaerob dilakukan dalam suatu sistem analisis sampel pada
effluent untuk menentukan nilai COD dilakukan sebelum dan setelah diberi nutrisi. Pengukuran
COD ini dilakukan dengan penambahan 1,5 ml kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator
pada sampel yang telah ditambahkan 3,5 ml asam sulfat (H2SO4) pekat, kemudian dipanaskan
selama 1 jam. Kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium
bikormat yang tidak terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan
nilai COD dapat ditentukan. Nilai COD sebelum diberi nutrisi yaitu sebesar 2847,6 mg O2/L
sedang nilai COD setelah diberi nutrisi yaitu sebesar 2034 mg O2/L. Menurut UNESCO,
WHO/UNEP, 1992, Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/L,
sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah industri dapat
mencapai 60.000 mg/L. Dari data hasil analisis COD dapat disimpulkan bahwa air ini termasuk
kedalam air yang tercemar karena nilai COD-nya masih diatas 200 mr/L. Namun, dari perbedaan
nilai COD ini dapat dikatakan mikroba pendegradasi zat organik tersebut sudah mulai bekerja
setelah diberikan nutrisi.
Berikut merupakan kurva analisis COD selama 2 minggu :

Kurva COD terhadap waktu


3000

2500

2000
COD

1500

1000

500

0
0 2 4 6 8 10
Pengukuran ke

Dari kurva diatas dapat di perhatikan, selama pendegradasian zat organik nilai COD
sebelum diberi nutrisi mengalami peningkatan dari pengambilan sampel sebelumnya. Yang
awalnya sekitar 1360,8 mg O2/L meningkat menjadi 1627,2 mg O2/L dan kembali meningkat
menjadi 2847,6 mg O2/L. Peningkatan ini bisa disebabkan karena adanya penambahan bahan
organik atau akibat dari pengukuran oleh orang yang berbeda sehingga hasil analisisnya pun
tidak akan sama. Nilai COD menentukan banyak oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi
senyawa organik. Nilai COD yang meningkat menunjukan bahwa dalam pendegradasian
dibutuhkan lebih banyak bahan kimia untuk mendegradasi limbah organik yang lebih banyak
juga.

Selanjutnya analisis sampel pada effluent untuk menentukan kandungan Mixed Liquor
Volatile Suspended Solid (MLVSS) untuk mengetahui kandungan mikroorganisme yang berada
dalam reaktor. Pengujian nilai MLVSS dilakukan sebelum pemberian nutrisi. Dari hasil
percobaan nilai TSS, VSS, dan FSS berturut turut 28042,5 mg/L, 27177,5 mg/L, dan 865 mg/L.
Nilai VSS sama dengan nilai MLVSS. Nilai VSS ini menggambarkan jumlah atau banyaknya
mikroba yang terkandung setelah diuapkan dengan furnace dengan suhu 600 0C.

Efisiensi pengolahan air limbah dapat ditentukan dari banyaknya bahan organik yang
terdekomposisi oleh mikroorganisme. Efisiensi proses yang diperoleh yaitu hanya sebesar
28,57%. Efisiensi ini masih rendah karena pengujian COD akhir dilakukan terlalu dekat dengan
pemberian nutrisi sehingga bahan organik masih banyak yang belum terdegradasi seluruhnya.

Proses degradasi dengan oksidasi ini menghasilkan pembentukan gas berupa metana dan
CO2. Banyaknya gas yang terbentuk dapat diukur dengan menggunakan tabung yang berisikan
sejumlah air. Kemudian gas tersebut dialirkan kedalamnya. Pengurangan air akibat masuknya
gas kedalam tabung menunjukan banyaknya gas yang terbentuk. Dari hasil pengukuran, gas yang
terbentuk selama proses degradasi yaitu sebanyak 0,0161 𝐿/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
BAB VI
KESIMPULAN
1. Konsentrasi COD sampe awal sebesar 2847,6 mgO2/liter dan COD sampel akhir
sebesar 2034 mgO2/L.
2. Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang di dapat
sebesar 27177,5 mgO2/L.
3. Efisiensi pengolahan yang didapat sebesar 28,57%.
4. Total gas yang di produksi sebesar 0,0161 L/menit.
DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G dan Santika, SS. 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya.
Ananda, Rizki Amalia. 2017. Seeding dan Aklimitisasi pada Proses Anaerob Two Stage
System menggunakan Reactor Fixed Bed. Bandung: Institut Teknologi
Nasional.
Anggraini, dkk. 2014. Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob menggunakan
Sistem Batch. Bandung: Institut Teknologi Nasional.
Budiastuti, Herawati. Pengolahan Air Limbah secara Anaerobik. Jobsheet Praktikum
Pengolahan Limbah Industri. Bandung: Politeknik Negeri Bandung
Effendie, H. 2000. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan. Buku Materi Kuliah pada Jurusan Manajemen Sumber Daya
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Mahida, U.N. 1993. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Edisi
Keempat.Jakarta.: PT. Rajawali Grafindo
Nurdin, dkk. 2009. Pengembangan Metode Baru Penentuan Chemical Oxygen Demand
Berbasis Sel Foto Elektrokimia : Karakterisasi Elektroda Kerja Lapis Tipis TiO2
atau ITO.
LAMPIRAN
1. Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)
 Konsentrasi FAS : 0,1017 N
 Pengenceran Sampel : 25 kali
 Berat Ekivalen Oksigen (O2) : 8 gram/ekivalen
 Volume Sampel : 2,5 mL
Tabel 1. Data Pengamatan Kandungan Bahan Organik (COD)

Volume Titrasi Volume Titrasi


Volume Titrasi Volume Titrasi
Sampel awal Sampel akhir
Blanko (mL) Umpan (mL)
(mL) (mL)
No. ke-1 Ke-2 ke-1 Ke-2 ke-1 Ke-2 ke-1 Ke-2
Rata- 2.5 2.4 0.7 0.8 1.8 1.7 1.9 1.9
rata 2.45 0.75 1.75 1.9

2. Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)


Tabel 2. Data Pengamatan MLVSS

Berat (gram)

Cawan pijar (a gram) 35.1064

Kertas saring (b gram) 1.1193

Cawan pijar + Kertas saring +


36.2281
Endapan setelah di oven (c gram)
Cawan pijar + Kertas saring +
35.1410
Endapan setelah di furnace (d gram)

3. Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)


Rumus :
(a−b)x c x 1000 x d x p
COD (mg O2 / L) = mL sampel
Ket :
a = mL FAS untuk blanko
b = mL FAS untuk sampel
c = Normlitas FAS
d = Berat ekivalen Oksigen (8)
p = Pengenceran
(a−b)x c x 1000 x d x p
COD awal (mg O2 / L) = mL sampel
(2,45 − 2,10)x 0,1017 x 1000 x 8 x 25
= 2,5

= 2847,6 mg O2/L

(a−b)x c x 1000 x d x p
COD akhir (mg O2 / L) = mL sampel

(2,45−2,20 )x 0,1017 x 1000 x 8 x 25


= 2,5

= 2034 mg O2/L

𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


Efisiensi Pengolahan = 𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑤𝑎𝑙
𝑥 100%

2847,6 − 2034
= 𝑥 100%
2847,6

= 28,57 %

4. Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

FSS (mg/L) = TSS – VSS

 MLVSS
𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

36,2281 − 35,1064
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 28042,5 mg/L

𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

36,2281 − 35,1410
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 27177,5 mg/L
FSS (mg/L) = TSS – VSS
= 28042,5 – 27177,5
= 865 mg/L

5. Penentuan Jumlah Gas yang Terbentuk


Diameter Reaktor = 14 cm
Ketinggian awal gas = 300 mm (13:14)
Ketinggian akhir gas = 90 mm (16:34)
1 𝑐𝑚
Perubahan ketinggian gas (h) = 300 – 90 = 210 mm 𝑥 = 21 𝑐𝑚
10 𝑚𝑚

1𝜋𝑑2 1.3,14.142
Volume gas yang terbentuk = 𝑥ℎ= 𝑥 21 = 3231,06 cm3
4 4

= 3,23106 L
Perubahan waktu = 200 menit
3,23106 𝐿
Kecepatan Jumlah Pembentukan gas = 200 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 0,0161 𝐿/𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡