Anda di halaman 1dari 4

Etika Bisnis

Bab 3
Globalisasi dan Etika Bisnis (kelompok 3)

Disusun Oleh :
1. Lora Doliska ( 28391 / 17 )
2. M.Naelul Aliyafi ( 28540 / 19 )
3. Galang Alam M ( 28784 / 20 )
4. Prista Rivedino P ( 28791 / 21 )
Ilustrasi : India, Negara dengan Pekerja Anak Tertinggi di Dunia
Pada tanggal 12 juni 2015, situs aljazeera.com melaporkan bahwa India
merupakan negara dengan pekerja anak-anak tertinggi di dunia, berjumlah lebih
dari 28 juta anak-anak. Di seluruh dunia saat itu terdapat lebih dari 150 juta
anak-anak berusia 5-14 tahun yang harus terlibat dalam pekerjaan. Laporan
PBB pada tahun yang sama mengatakan hampir 300 juta orang hidup dibawah
kemiskinan di India. Meskipun India sudah melaksanakan hukum peburuhan
yang melarang perusahaan mempekerjakaan anak-anak di bawah usia 14, tetapi
Perdana Menteri Narendra Modi ‘hanya’ akan mengadamandemen aturan
hukumnya dan tidak menghapusnya. Alasan penguasa India untuk tetap
mengijinkan anak-anak di bawah usia bekerja adalah suatu hal yang wajar dan
normal jika anak petani membantu keluarganya setelah jam sekolah. Jadi, merek
tidak ingin bentuk pekerjaan tertentu dilarang karena pelakunya anak-anak.
The Bachpan Bachao Andolan (BBA), sebuah lembaga swadaya
masyarakat (LSM) yang dipimpin oleh pemenang Nobel Perdamaian 2014
Kailash Satyarthi mengomentri amandemen RUU yang akan diterapkan oleh
PM India, “saat ini anak-anak di bawah usia 14 tidak diizinkan untuk 18 jenis
pekerjaan dan 65 jenis dalam proses karena dianggap berbahaya. Harus
dipahami juga, ada perbedaan jelas antara anak-anak yang bekerja bagi keluarga
dan pekerja anak di perusahaan keuarga. Pekerja anak perlu di definisikan
secara jelas dalam undang-undang agar anak-anak tidak dieksploitasi atas nama
pekerja berbasis keluarga. Sesungguhnya, memperdagangkan anak-anak untuk
bekerja telah menjadi salah satu kejahatan terorganisasi terbesar di dunia dan
hal tersebut akan terus dilakukan atas nama perusahaan keluarga. “Menurut
Satyarthi, hal terpenting yang harus dilakukan oleh pemerintah India adalah
mengawasi pelaksanaan UU tersebut terhadap pekerjaan anak-anak di bawah
usia karena terbuka atas penyalhgunaan. Dalam 35 tahun berdirinya, BBA telah
menyalamatkan lebih dari 83.500 anak yang bekerja di seluruh 18 negara bagian
di India.
Suber : www.zonalima.com/artikel/3626/India-Negara-Pekerja-Anak-Tertinggi-
Dunia/#sthash.uYusp82u.dpuf
Pembahasan Ilustrasi
Berdasarkan ilustrasi diatas kebijakan negara India yang mengijinkan anak-anak
dibawah usia 14 tahun bekerja untuk beberapa jenis pekerjaan yang diatur
dalam RUU oleh PM India sangatlah tidak etis dari segi praktik ketenagakerjaan
dimana anak-anak pada usia tersebut seharusnya menempuh pendidikan yang
layak tanpa harus bekerja, namun jika kita meninjau dari teori deontologi
dimana teori tersebut menentukan suatu hal disebut etis atau tidak etis
berdasarkan tujuan tanpa memperdulikan bagaimana tujuan tersebut tercapai,
maka kebijakan PM India yang mengizinkan anak-anak untuk bekerja di
beberapa jenis pekerjaan dengan alasan membantu keluarga dapat dikatakan
etis.

Refleksi 3.1
Globalisasi ditandai dengan maraknya perjanjian kerja sama regional
antarnegara, antara lain AFTA, MEA, dan UE. Hal ini memunculkan tantangan
baru di bidang bisnis dimana prosduk dan jasa buatan Indonesia harus bersaing
ketat dengan produk dan jasa dari negara-negara lain yang masuk ke Indonesia.
Nilai-nilai budaya, sikap, prilaku, dan etika yang seperti apakah yang perlu
dimiliki oleh generasi muda agar produk indonesia tetap menjadi pilihan belanja
yang utama? Nilai-nilai budaya, sikap, prilaku, dan etika seperti apakah yang
perlu dimiliki oleh generasi muda indonesia agar mereka memiliki antusiasme
untuk berwiraswasta dengan menghasilkan produk dan jasa unggul dan mampu
bersaing di negara-negara lain?
Jawab : Generasi muda harus memiliki rasa kencintaan pada produk-produk
dalam negeri walaupun dapat diakui bahwa dari segi keseluruhan produk-
produk dalam negeri belum mampu untuk bersaing dengan produk-produk luar
negeri, meskipun adanya ajakan untuk membeli produk berembel-embel ‘dalam
negeri’ yang gencar disuarakan pemerintah, namun generasi muda sekarang
tentunya sudah cerdas dalam menilai suatu produk dari sisi objektifitas bukan
dari sisi subjektifitas.
Pada dasarnya nilai-nilai budaya, sikap, perilaku, dan etika yang diajarkan dari
jenjang pendidikan dasar sampai jenjang perguruan tinggi tidak mengcerminka
ataupun mengarahkan generasi muda sekarang untuk berwiraswasta. Nilai-nilai
budaya, sikap, perilaku, dan etika yang diajarkan lebih mengarahkan seseorang
untuk menjadi karyawan. Jadi untuk membangkitkan antusiasme berwiraswasta
generasi muda jaman sekarang sistem pendidikan sejak dini harusnya diuabah
harus mengarahkan seseorang untuk berwiraswasta.
Refleksi 3.2
Globalisasi dan perkembangan teknologo informasi menyebabkan tidak
adanya batas-batas antarnegara. Hal ini menjadi salah satu pemicu makin
banyaknya tenaga kerja asing berpendidikan dan keterampilan tinggi untuk
pekerja di Indonesia yang kelak menjadi pesaing saudara. Apa saja yang
saudara lakukan untuk menyikapi dan membuat solusi dalam menghadapi
tantangan ini secara etis?
Jawab : bermunculannya banyak tenaga kerja asing berpendidikan dan
berketerampilan tinggi yang bekerja di Indonesia seharusnya bukan hambatan
untuk mencari pekerjaan pada era globalisasi ini. generasi muda Indonesia
sekarang seharusnya termotifasi untuk meningkatkan pendidikan dan
ketrampilan agar dapat bersaing dengan tenaga kerja asing.