Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Yurisdiksi Pemajakan


Indonesia adalah negara berdaulat, mempunyai yurisdiksi (kewenangan untuk
mengatur), termasuk yurisdiksi pemajakan berkenaan dengan orang, barang atau objek yang
berada diwilayah kekuasaannya. Yurisdiksi atau jurisdiksi adalah wilayah/daerah tempat
berlakunya sebuah undang-undang yang berdasarkan hukum. Kata ini berasal dari bahasa
Latin ius, iuris artinya "hukum" dan dicere artinya "berbicara". Yurisdiksi pemajakan adalah
hak pemajakan suatu negara terhadap yang diterima atau diperoleh oleh warga negaranya
baik yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri maupun oleh warga asing yang
bersumber dari dalam negeri.
Yurisdiksi pemajakan menurut Owen (1980) dan Ongwamuhana (1991) adalah
merupakan kewenangan suatu negara untuk merumuskan dan memberlakukan ketentuan
perpajakan. Konstitusi Indonesia telah mengukuhkan yurisdiksi pemajakan negara dalam
pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang berbunyi, “Segala pajak untuk
kegunaan kas negara berdasarkan undang-undang”, dan berdasarkan ketentuan konstitusi
tersebut undang-undang perpajakan diberlakukan.
Yurisdiksi pemajakan (tax jurisdiction) sebagai kedaulatan dalam bidang perpajakan
merupakan konsekuensi dari kedaulatan wilayah suatu negara (Knechtle, 1979). Yurisdiksi
fiskal terdiri atas 3 unsur yaitu:
1. Legislative
2. Penerimaan
3. Administrative
Menurut Martha (1989) Ada empat teori justifikasi legal hak pemajakan suatu negara:
a. Realistis atau empiris
Teori realistis menyatakan bahwa yurisdiksi setara dengan kekuasaan fisik (physical
power), untuk melaksanakan yurisdiksi terhadap orang dan harta yang berada dalam
wilayah kekuasaannya. Namun, secara empiris, yurisdiksi pemajakan bukanlah semata
karena kekuasaan fisik, tetapi berdasarkan ketentuan perundangan dan tidak terbatas

1
pada wilayah kekuasaan, tetapi dapat meluas sampai kepada orang yang secara fisik
berada di luar kewenangan administrasi pengenaan pajak.
b. Etis atau retributif
Teori etis atau retributif menyatakan bahwa pemajakan merupakan kontraprestasi atau
imbalan (return) atas manfaat dan kemudahan yang diperoleh dari negara. Suatu
perusahaan yang merupakan bagian dari suatu komunitas ekonomi memberikan
kontribusi proporsional untuk tersedianya fasilitas kemerdekaan ekonomis. Kontribusi
yang dimaksud lazim disebut dengan pajak.
c. Kontraktual
Teori kontraktual menyatakan bahwa pemajakan sepertinya merupakan pembayaran
atas barang dan jasa yang diterima dari negara pemungut pajak berdasarkan anggapan
adanya kontrak (perjanjian tak tertulis) antara pemegang yurisdiksi pemajakan dengan
subjek pajak. Namun, dalam berbagai hal teori tersebut kurang tepat sehubungan
dengan tidak adanya konsensus atau kesepakatan dari kedua pihak sehingga
merupakan penyimpangan dari kebebasan atau kesukarelaan dari salah satu (kedua)
pihak dalam perjanjian kontrak tersebut.
d. Soverenitas
Teori soverenitas menyatakan bahwa pemajakan adalah merupakan suatu bentuk
pelaksanaan dari yurisdiksi ketika yurisdiksi merupakan atribut (kelengkapan) dari
soverenitas. Sumber dari hak pemajakan (right to tax) suatu negara berasal dari
soverenitas (kedaulatan) negara tersebut. Sebagai kebutuhan historis (akan adanya
suatu negara), hak, dan kewajiban utama suatu negara adalah untuk mengamankan dan
melestarikan keberadaannya.

Yurisdiksi pemajakan atas penghasilan seseorang atau entitas nexusnya


(keterkaitannya) dapat didasarkan pada tiga prinsip, yaitu :
1. Status personal atau subyek
2. Keterkaitan ekonomis yang dapat berupa menjalankan usaha atau kegiatan profesional
serta penerimaan penghasilan yang bersumber dari negara pemungut pajak
3. Adanya kepemilikan kekayaan yang terletak dinegara pemungut pajak

2
Berdasarkan ketentuan pasal 2 UU PPh Indonesia membangun yurisdiksi
pemajakannya berdasarkan 2 kaitan fiskal yaitu:
a. Subjektif berdasarkan domisili
b. Objektif berdasarkan letak sumber penghasilan

2.2 Jenis Yurisdiksi Pemajakan


Menurut Surrey (1987) dan Tillinghast (1984) serta the American Law Institute (1987)
menyatakan bahwa ada 2 yurisdiksi yaitu:
1. Yurisdiksi Domisili
Pasal 2 (3) UU PPh menegaskan ketetapan tentang yurisdiksi domisili terhadap
orang pribadi dan badan.
a. Orang pribadi
Indonesia mempunyai yurisdiksi domisili atas orang pribadi dengan status
Wajib Pajak Dalam Negeri (penduduk) yang dipakai oleh kebanyakan negara lain.
Pasal 2 (3a) UU PPh menyebutkan 3 kriteria penentu apakah seseorang merupakan
Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN), yaitu:
 Tempat tinggal
 Keberadaan / kehadiran (presensi)
 Niat untuk bertempat tinggal di Indonesia
b. Badan
Pasal 2 (3b) UU PPh menyebutkan 2 kriteria penentuan yurisdiksi domisili
Indonesia atas badan, yaitu:
 Tempat pendirian
Menurut Frommel (1987) dan Van Raad (1986) suatu badan pada umumnya dapat
dianggap memperoleh status hukum (kewarganegaraan atau nasionalitas) di
negara berdasarkan hukum siapa badan tersebut didirikan.
 Tempat kedudukan
Berdasarkan ketentuan yang berlaku (Kep 701 tahun 2001) tempat kedudukan
suatu badan dapat menunjukan pada:
 Tempat kantor pimpinan perusahaan dan pusat administrasi dan keuangan
(tercatat di Akte endirian)

3
 Tempat kantor pimpinan perusahaan
 Tempat kedudukan yang ditentukan oleh DJP
c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

2. Yurisdiksi Sumber
Secara umum fiskus suatu negara berwenang mengenakan pajak atas penghasilan
yang bersumber dari negara tersebut tanpa memperhatikan domisili wajib pajak. Dalam
praktiknya, selain menentukan apakah negara sumber berhak memajaki penghasilan
tersebut, asas sumber juga mengatur mengenai pengkreditan pajak yang telah dipotong di
luar negeri apakah bisa dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang menurut
undang-undang domestik. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi pengenaan pajak
berganda. Di Indonesia sendiri ketentuan penentuan sumber penghasilan untuk
memperhitungkan kredit pajak luar negeri ini diatur dalam Pasal 24 UU PPh pasal 24
ayat 3 dan 4.
Pasal 2 UU PPh menegaskan juridiksi sumber yang berlaku di Indonesia. Selaras
dengan norma yang diterima secara global di Indonesia mendasarkan pada 2 unsur (pasal
4 ayat 1) :
1. Menjalankan suatu aktifitas ekonomi secara signifikan
2. Menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber di negara tersebut
UU PPh menegaskan bahwa apakah seseorang WPLN telah menjalankan suatu
aktifitas ekonomi secara signifikan ditentukan dengan melalui usaha BUT atau tidak
melalui usaha BUT (Pasal 2 ayat 4). Apabila aktivitas ekonomi tersebut telah mencapai
tingkat BUT, Indonesia dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari kegiatan tersebut
(BUT – Pasal 2 ayat 5). Dalam bahasa UU PPh aktivitas ini dapat berupa :
 Menjalankan usaha (bisnis)
 Melakukan kegiatan (profesi/pekerjaan bebas)
Atas penghasilan tersebut, dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan,
disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan
pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau
perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk

4
usaha tetap, di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah
bruto (Pasal 26 ayat 1).
Dalam P3B Model OECD sebelum tahun 2000 terdapat dua konsep yang dalam
rumusan UU PPh, kedua konsep tersebut diintegrasikan dalam satu konsep BUT. Konsep
tersebut antara lain:
 Permanent establishment (untuk usaha)
 Pangkalan tetap (untuk profesi)
BUT adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam 12
bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.
BUT dalam P3B dipakai untuk menentukan hak pemajakan negara sumber atas
penghasilan dari bisnis yang dijalankan oleh bukan WPDN. Menurut William dan
Patrick, istilah Permanent Establishment (BUT) lebih merupakan sebagai ambang batas
(threshold) atau kriteria yang memungkinkan suatu negara sumber untuk secara legal
dapat memajaki penghasilan dari bisnis dan profesi transnasional. Maka, yang belum
memenuhi kriteria BUT dibebaskan dari pengenaan pajak di negara sumber tetapi
dikenakan di negara domisili karena aktivitas pemberi penghasilan tersebut secara
signifikan masih dijalankan di negaratersebut.

Aturan dasar yurisdiksi sumber menurut Prof. Mansury adalah sebagai berikut:
 Source rules (1998: 13) adalah sekumpulan ketentuan hukum yang menentukan apa
syarat-syaratnya bagi suatu jenis penghasilan agar supaya negara tempat diterimanya
atau diperolehnya penghasilan itu menjadi negara sumber yang berhak memungut
pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di negara sumber tersebut.
 Source rules (1994: 63) merupakan penegasan tentang apa yang dianggap sebagai
penghasilan yang bersumber dari Indonesia dan oleh karena itu apabila dinikmati
oleh orang dari luar Indonesia tetapi dikenakan pajak di indonesia.
 Source rules (1998: 95) adalah ketentuan undang-undang atau “Tax Treaty”yang
menentukan negara mana yang menjadi negara sumber dari suatu jenis penghasilan
tertentu.

5
Secara umum (Surrey 1987 dan American Law Institute 1987) terdapat asumsi
bahwa yuridiksi sumber dianggap lebih utama dari yuridiksi domisili. Menurut
Ongwamuhana (1991) yuridiksi mendasarkan pada suatu asumsi bahwa negara sumber
memberikan kontribusi kepada perusahaan milik bukan WPDN untuk memperoleh
penghasilan dari negara tersbut. Sedangkan menurut Bjorn Westberg (2002:93),
pendapatan dapat dikenakan pajak berdasarkan hukum pajak dari suatu negara karena
adanya hubungan antar negara dan kegiatan yang menghasilkan pendapatan.
Implikasi dari yuridiksi sumber ialah bahwa indonesia secara sah dapat memungut
pajak dari orang pribadi atau badan bukan WPDN yang menerima atau memperoleh
penghasilan dari kegiatan atau sumber yang terletak di Indonesia.
Contoh kasus penerapan yurisdiksi domisili dan yurisdiksi sumber adalah sebagai
berikut:
1. Tuan Iwan seorang warga negara indonesia (WNI) memperoleh bunga dari Tuan Hadi
di Tangerang sebesar Rp20.000.000,-. Dalam hal ini maka Indonesia berhak memajaki
Tuan Iwan menggunakan yurisdiksi domisili dan juga yurisdiksi sumber.
2. Mr. Roco warga negara Australia memperoleh bunga dari Tuan Mahpud di Bandung
sebesar Rp50.000.000,- maka Indonesia berhak memajaki Mr. Roco berdasarkan
yurisdiksi sumber dan Australia juga berhak memajaki berdasarkan yurisdiksi
domisili.
3. Mrs. Suzana warga Warga Negara Malaysia melakukan pemberian jasa konsultasi
bidang investasi keuangan pada beberapa pengusaha UKM di Indonesia. Selama tahun
2013 kegiatan dilakukan sebanyak 20 kali kegiatan, dan dibutuhkan selama 6 hari
untuk setiap satu kali kegiatan. Honor yang disepakati antara Mrs Suzana dengan
penyelenggara kegiatan adalah sebesar Rp850.000.000,-. Berdasarkan yurisdiksi
pemajakan, negara mana yang berhak memajaki dan berapa PPh terutang bila
diasumsikan tidak ada tax treaty antara Indonesia dan Malaysia.
a. Mrs Suzana merupakan Wajib Pajak Luar Negeri karena berada di Indonesia
kurang dari 183 hari (20 kali x 6 hari = 120 hari).
b. Indonesia berhak memajaki Tn. Steven berdasarkan yurisdiksi sumber dan
Singapore berhak memajaki berdasarkan yurisdiksi domisili.

6
c. PPh terutang tahun 2013 = 20% x Rp850.000.000,- (tarif pajak pasal 26) =
Rp170.000.000,-.

2.3 Kewajiban Pajak WPDN dan WPLN


Kewajiban pajak adalah seluruh kewajiban yang timbul sebagai akibat dari keterkaitan
fiskal seorang dengan negara secara umum. Kechtle (1979) menyatakan bahwa kaitan fiskal
personal (subjektif) memberikan kewajiban pajak penuh, sedangkan kaitan ekonomi
menimbulkan kewajiban terbatas. Dalam pasal 2 (2) UU PPh menyebutkan perbedaan
penting antara WPDN dan WPLN :
1. WPDN dikenakan pajak atas penghasilan global (World Wide Income), sedangkan
WPLN dikenakan pajak terbatas atas poenghasilan yang diperoleh dari sumber
Indonesia
2. WPDN dikenakan pajak dari penghasilan neto dengan tarif umum (progresif),
sedangkan WPLN dikenakan pajak dan penghasian bruto dengan tarif sepadan( flat
rate)
3. WPDN wajib menyampaikan SPT, sedangkan WPLN tidak wajib meyampaikan SPT
4. WPDN dikenakan pajak dengan assessment (ketetapan), sedangkan WPLN (kecuali
yang menjalankan usaha dengan BUT yang juga dikenakan berdasarkan SPT dan
ketetapan) pada umumnya dikenakan pajak dengan metode pemotongan pajak oleh
pihak ketiga.

Dilanjutkan Gunadi walaupun terhadap WPLN yang memperoleh penghasilan usaha


melalui BUT di Indonesia administrasi pengenaan pajak dilakukan dengan penetapan (SPT
dan skp), namun sebagai subjek pajak sui generis BUT yang dimiliki WPLN orang pribadi
tidak diberikan PTKP oleh UU PPh. Hal ini berbeda dengan perusahaan orang pribadi
WPDN yang kepadanya diberikan PTKP. Komentar (penjelasan) P3B Model OECD atas
Pasal 24, meyebutkan bahwa demi kesetaraan perlakukan (equal treatment) antarorang
pribadi WPLN dengan WPDN adalah terserah pada negara pemungut pajak apabila
berkehendak untuk juga memberikan PTKP kepada orang pribadi WPLN.

2.4 Cakupan Geografis Pemajakan

7
Yuridiksi domisili dapat berlaku atas semua orang pribadi yang bertempat tinggal,
berada (secara subtansial) atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia baik orang
tersebut warga negara Indonesia maupun orang asing. Demikian juga dengan badan yang
didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Karena hak pemajakan Indonesia
didasarkan atas pertalian personal subyek pajak maka menurut martha (1989) sesuai dengan
kelaziman internasional, negara tersebut dibenarkan untuk memperluas pengenaan pajak atas
penghasilan darimanapun diperoleh (world wide income). Karena kewajiban pajak WPDN
juga didasarkan atas kemampuan membayar (ability to pay) dari penghasilan global,
kewajiban demikian dianggap sebagai kewajiban pajak penuh atau komprehensif
(full/unlimimited/universal-fiscalliability). Kewajiban pajak penuh dianggap mampu
merefleksikan keadilan perpajakan karena apakah penghasilan itu dalam rupiah, dollar,
gulden, dan sebagainya semuanya membentuk kemampuan ekonomis dan dengan bayar
(ability to pay) dari wajib pajak dimaksud.
Sementara itu, lanjut Gunadi, yurisdiksi sumber yang merujuk pada pertalian fiskal
objektif memberikan hak pemajakan kepada negara tempat sumber penghasilan berada.
Pasal 2 (4) dan 26 UU PPh menegaskan kewenangan pemajakan terbatas (limited-tax
liability) tersebut. Hal ini menurut Knechtle (1979) adalah selaras dengan pemikiran bahwa
kewajiban pajak yang berasal dari pertalian objektif (ekonomi) terjadi karena subjek pajak
terkait pada soverenitas teritorial, bukan secara personal (sepenuhnya), tetapi hanya sebatas
pada kepentingan ekonomi subyek pajak dengan negara sumber. Sesuai dengan kewenangan
tersebut, Indonesia berhak untuk mengenakan pajak atas semua penghasilan yang berasal
dari sumber (origin principle) di Indonesia. Kalau ada suatu kategori penghasilan yang oleh
ketentuan perpajakan tidak dikenakan pajak (misalnya keuntungan kapital), walaupun
penghasilan tersebut bersumber di Indonesia, hal itu adalah karena suatu kebijakan (makro)
untuk memengaruhi perilaku sosial ekonomi seseorang yang kurang berhubungan dengan
pertimbangan yurisdiksi pemajakan.

2.5 Dimensi Internasional Aplikasi Yuridiksi


a. Pemajakan atas penghasilan dari transaksi transnasional
Transaksi transnasional dapat berupa transaksi keluar dari atau masuk ke
Indonesia atas transaksi keluar, Indonesia mengenakan pajak berdasarkan yuridiksi

8
domisili atas penghasilan dari transaksi kedalam, selain penghasilan dari usaha dan
kegiatan yang dikenakan pajak berdasarkan ambang batas (BUT), Indonesia
menerapkan yuridiksi sumber.
- Transaksi keluar dari/outbound transactions
Merujuk kepada perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diperoleh atau diterima
WPDN dari menjalankan usaha/melakukan kegiatan atau dari investasi diluar
Indonesia. Atas transaksi keluar, Indonesia mengenakan pajak berdasarkan yurisdiksi
domisili.
- Transaksi masuk ke/inbound transactions
Penghasilan dari usaha dan kegiatan yang dikenakan pajak berdasarkan kriteria
ambang batas (BUT). Penghasilan WPLN dari investasi di Indonesia dikenakan
pajak berdasarkan sistem pemotongan (withholding system) dengan basis bruto dan
tarif proporsional (20%) atau sesuai dengan tarif P3B yang berlaku.
b. Keterbatasan Jangkauan Yuridiksi
Pada dasarnya menurut knechtle (1979) setiap negara termasuk Indonesia bebas
dari pembatasan legal negara manca untuk merumuskan sistem perpajakan yang
diinginkan. Namun pemikiran demikian dibantah oleh Martha (1989) dianggap suatu
konsep yang kurang tepat.
Pembatasan dapat berasal dari hukum internasional atau supranasional atau dari
ketentuan umum dari undang-undang domestik negara yang dimaksud. Secara faktual,
pelaksanaan yuridiksi pemajakan hanya dapat berlaku efektif apabila subyek dan objek
dimaksud berada dibawah wilayah kekuasaan Indonesia. Apabila subjek dan objek
berada di luar jangkauan administrasi pajak, secara praktis pelaksanaan administrasi
perpajakan akan banyak mengalami kesulitan. Pelaksanaan kewenangan fiskal oleh
suatu negara juga terhambat oleh ketentuan umum publik internasional yang
menyatakan bahwa suatu negara hanya kompeten mengatur setiap subyek atau obyek
maupun kejadian yang mempunyai kaitan dengan wilayahnya.

2.6 Keringanan Pajak Berganda


Yurisdiksi pemajakan atas penghasilan dari orang pribadi atau badan dapat didasarkan
atas status personal wajib pajak (residence principle) atau atas sumber dari penghasilan yang

9
akan dikenakan pajak (source principle). Sementara yurisdiksi pemajakan yang dibangun
atas dasar sumber penghasilan memberikan hak pemajakan limitatif atau teritorial, yurisdiksi
berdasar status personal memberikan hak pemajakan penuh tidak terbatas atas penghasilan
global wajib pajak. Karena kebanyakan negara pemungut pajak pada umumnya membangun
yurisdiksi pemajakan berdasar kedua prinsip tersebut maka hal ini akan menimbulkan
benturan yurisdiksi antarnegara pemungut pajak.
Multisitas keterkaitan pajak dapat menyebabkan satu fakta ekonomi misalnya
penghasilan dikenakan pajak oleh negara sumber dan oleh Indonesia. Penerapan hak
pemajakan atas penghasilan global yang bernuansa pemajakan ekstratorial kepada orang
yang mempunyai pertalian pajak personal oleh Indonesia dapat menyebabkan terjadinya
pajak berganda internasional (PBI). Pajak berganda terjadi karena negara sumber (pada
umumnya) telah mengenakan (memotong) pajak atas penghasilan dari orang (WPDN) yang
dikenakan pemajakan atas penghasilan global oleh Indonesia. PBI pada umumnya dianggap
dapat menghambat mobilitas sumber daya ekonomi global karena menambah beban pajak
wajib pajak.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan mobilitas global usaha, modal dan sumber daya
manusia PBI perlu dieliminasi. Sebagai pemegang yurisdiksi domisili dengan hak
pengenaan sekunder pajak (secondary tax claim) atas penghasilan global, selaras dengan
kebiasaan internasional, Indonesia berkewajiban untuk menyediakan keringanan PBI. Untuk
tujuan itu, Pasal 24 UU PPh memberikan keringanan PBI dalam bentuk kredit pajak luar
negeri berdasarkan metode ordinary yang dihitung per country basis. Pengkreditan pajak
luar negeri ini merupakan refleksi kebijakan netralitas ekspor kapital yang secara
berkelanjutan dianut oleh Indonesia. Seperti negara berkembang lainnya, sudah selayaknya
Indonesia melindungi pasaran investasi domestik agar tidak ditinggalkan para pemodal
domestik. Kredit pajak tersebut tersedia bagi WPDN yang membayar atau terutang pajak
kepada negara selain Indonesia atas penghasilan di sana.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini tetapi
kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan
masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Gunadi. Pajak Internasional. Edisi Revisi (2007). Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas.

https://hellohall.wordpress.com/2017/04/11/yuridiksi-pemajakan/

https://bennytannawi.files.wordpress.com/2017/09/pajakinter_yurisdiksi-
pemajakan_feuiekstensi_bjt_v011.pdf

https://www.scribd.com/doc/83775705/Yuridikasi-Pemajakan-Pajak-Internasional

http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PAJA333203-M1.pdf

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang


Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Yurisdiksi

https://nasikhudinisme.com/2014/09/18/penentuan-sumber-penghasilan-dalam-yurisdiksi-
pemajakan/

12