Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KETERAMPILAN KIMIA
PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

Disusun oleh:

1. Adilah Robbaniyah (18312244001)


2. Latifah Dwi Kustantri (18312244016)
3. Alfani Nabila ‘Izza (18312244020)
4. Dynar Palupi Rahmaningrum (18312244021)
5. Reni Tri Sundari (18312244031)
6. Rizal Catur Nugroho (18312244038)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
November, 2019
A. JUDUL
Pembuatan Sabun Transparan
B. TUJUAN
Mengetahui cara membuat sabun transparan melalui reaksi saponifikasi.
C. DASAR TEORI
Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah
trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan
gliserol. Masing-masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai
karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak jenuh
dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun
melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida membebaskan gliserol
(Baysinger, 2004: 124).
Sabun adalah hasil reaksi dari asam lemak dengan logam alkali. Hasil penyabunan
tersebut diperoleh suatu campuran sabun, gliserol, dan sisa alkali atau asam lemak yang
berasal dari lemak yang telah terhidrolisis oleh alkali. Campuran tersebut berupa masa
yang kental, masa tersebut dapat dipisahkan dari sabun dengan cara penggaraman, bila
sabunnya adalah sabun natrium, proses penggaraman dapat dilakukan dengan
menambahkan larutan garam NaCl jenuh. Setelah penggaraman larutan sabun naik ke
permukaan larutan garam NaCl, sehingga dapat dipisahkan dari gliserol dan larutan
garam dengan cara menyaring dari larutan garam. Masa sabun yang kental tersebut dicuci
dengan air dingin untuk menetralkan alkali berlebih atau memisahkan garam NaCl yang
masih tercampur. Sabun kental kemudian dicetak menjadi sabun tangan atau kepingan
dan kepingan. Gliserol dapat dipisahkan dari sisa larutan garam NaCl dengan jalan
destilasi vakum.Garam NaCl dapat diperoleh kembali dengan jalan pengkristalan dan
dapat digunakan lagi (Fessenden, 1992: 203).
Sabun merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak
dengan alkali. Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam karboksilat
dengan rumus umumnya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis) panjang dengan jumlah
atom C bervariasi, yaitu antara C12 – C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau
ion amonium (Austin, 1984: 113). Sifat-sifat sabun menurut Respati (2000:17) antara
lain:
- Sabun larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak.
- Sabun + air → larutan koloid
Dalam air terlarut secara kolodial dan bersifat surfaktan yang terdiri dari molekul
yang suka air (hidrofil) dan tidak suka air (hidrofob). Dalam air sadah (mengandung
Ca dan Mg berlebih) mengendap sebagai sabun kalsium/ natrium.
- Dalam asam, sabun akan terhidrolisa menjadi asam lemak kembali.
RCOONa + HCl → RCOOH + NaCl
Larutan encer sabun terionkan membentuk anion dari alkil karboksilat, yang aktif
sebagai pencuci (ZAP).
Hidrolisis dalam air bersifat alkali dan terbentuk molekul RCOONa, RCOOH,
dan ion-ion RCOO-, OH-, dan Na+. Panjang rantai alkil akan mempengaruhi sifat fisik
sabun seperti derajat hidrolisis, suhu titer, dan titik keruh. Untuk sabun jumlah C-nya
14,15, dan 17.
Bahan Pembuatan Sabun
Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun.
Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan
mentah untuk membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan
sabun antara lain (Fessenden, 1992: 125).
Minyak atau Lemak
Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester
dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan
adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah
wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur
ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat (Fessenden, 1992: 90).
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus
dibatasi karena berbagai alasan, seperti: kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun
tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain.
Menurut (Fessenden, 1992: 90), beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa
dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya:
1. Tallow (Lemak Sapi)
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan
daging sebagai hasil samping. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam
pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam
pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak
terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0%. Titer point
pada tallow umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer point di bawah 40°C dikenal
dengan nama grease. Kandungan utama dari tallow yaitu: asam oleat 40-45%, asam
palmitat 24-37%, asam stearat 14-19%, asam miristat 2-8%, asam linoleat 3-4%, dan
asam laurat 0,2%.
2. Lard (Lemak Babi)
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak
jenuh seperti asam oleat (60-65%) dan asam lemak jenuh seperti asam stearat
(35-40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial
terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard
berwarna putih dan mudah berbusa.
3. Palm Oil (Minyak Sawit)
Minyak sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna
karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus
dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak sawit akan bersifat
keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan sabun, minyak sawit harus dicampur dengan bahan lainnya. Kandungan
asam lemaknya yaitu asam palmitat 42-44%, asam oleat 35-40%, asam linoleat 10%,
asam linolenat 0,3%, asam arachidonat 0,3%, asam laurat 0,3%, dan asam miristat
0,5-1%.
4. Coconut Oil (Minyak Kelapa)
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri
pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui
ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan
asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat sekitar 44-52%, sehingga minyak
kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik.
5. Palm Kernel Oil (Minyak Inti Sawit)
Minyak inti sawit diperoleh dari biji buah sawit. Minyak inti sawit memiliki
kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan
sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak
tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak
kelapa. Kandungan asam lemak yang terdapat pada palm kernel oil yaitu : asam laurat
40-52%, asam miristat 14-18%, asam oleat 11-19%, asam palmitat 7-9%, asam kaprat
3-7%, asam kaprilat 3-5%, asam stearat 1-3%, dan asam linoleat 2%.
6. Palm Oil Stearine (Minyak Sawit Stearin)
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam
lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak
terbesar dalam minyak ini adalah asam palmitat 52-58% dan asam oleat 27-32%.
Selain itu juga terdapat asam linoleat 6,6-8,2%, asam stearat 4,8-5,3%, asam miristat
1,2-1,3%, asam laurat 0,1- 0,4%
7. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki
kandungan asam lemak tak jenuh (asam oleat) yang cukup tinggi, sehingga harus
dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
8. Castor Oil (Minyak Jarak)
Minyak jarak berwarna bening dan dapat dimanfaatkan sebagai kosmetika, bahan
baku pembuatan biodiesel dan sabun. Minyak jarak mempunyai massa jenis
0,957-0,963 kg/liter, bilangan iodium 82-88 g I2/100 g, bilangan penyabunan 176-181
mg KOH/g. Minyak jarak mengandung komponen gliserida atau dikenal sebagai
senyawa ester. Komposisi asam lemak minyak jarak terdiri dari asam riccinoleat
sebanyak 86%, asam oleat 8,5%, asam linoleat 3,5%, asam stearat 0,5-2,0%, asam
dihidroksi stearat 1-2% (G. Brown, 1973).
9. Olive Oil (Minyak Zaitun)
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas
tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki
sifat yang keras tapi lembut bagi kulit. Zaitun secara alami mengandung beberapa
senyawa yang tak tersabunkan seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, dan squalen.
Minyak zaitun juga mengandung triasil gliserol yang sebagian besar diantaranya
berupa asam lemak tidak jenuh tunggal jenis oleat. Kandungan asam oleat tersebut
dapat mencapai 55-83 persen dari total asam lemak dalam minyak zaitun.
10. Campuran Minyak dan Lemak
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran
minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow
karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan
asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan
berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan
memperkeras struktur sabun.
Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH,
KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines (sinonim: 2-Aminoethanol,
monoethanolamine, dengan rumus kimia C2H7NO, dan formulasi kimia
NH2CH2CH2OH). NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri
sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras.
KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut
dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat
menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida dari minyak atau
lemak (Fessenden, 1992).
Bahan Pendukung
1. NaCl
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan
NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di
dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya
berbentuk air garam (brine) atau padatan (Kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan
produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena
kelarutannya sangat tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari
besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas (Hard, 1982: 99).
2. Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang
bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen.
Bahan-bahan aditif tersebut antara lain: builders, fillers inert, antioksidan, pewarna,
dan parfum (Hard, 1982: 99).
Sabun pada umumnya dikenal dalam 2 wujud, sabun cair dan sabun padat.
Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi
pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium Hidroksida/soda kaustik (NaOH),
sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu,
jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak
kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak
kacang, dan minyak biji katun (Livenia, 2013: 87).
Dalam pembuatan sabun, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Adapun
faktor – faktor yang mempengaruhi proses pembuatan sabun adalah
1. Konsentrasi larutan Alkali
Konsentrasi alkali yang digunakan dihitung berdasarkan stoikiometri reaksi,
dimana penambahan minyak harus sedikit berlebih agar sabun yang terbentuk tidak
memiliki nilai alkali bebas berlebih. Alkali terlalu pekat akan menyebabkan ter
pecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak homogen, sedangkan jika alkali
yang digunakan terlalu encer, maka reaksi akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

2. Suhu
Ditinjau dari segi termodinamika, kenaikan suhu akan menurunkan rendemen
sabun, hal ini dikarena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (ΔH negatif),
maka dengan kenaikan suhu akan dapat memperkecil harga K (konstanta
keseimbangan), tetapi jika ditinjau dari segi kinetika, kenaikan suhu akan menaikan
kecepatan reaksi.
3. Pengadukan
Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas interaksi
molekul-molekul reaktan yang bereaksi. Jika interaksi antar molekul reaktan semakin
besar, maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar pula. Hal ini sesuai dengan
persamaan Arhenius dimana konstanta kecepatan reaksi k akan semakin besar dengan
semakin sering terjadinya interaksi yang disimbolkan dengan konstanta A.
4. Waktu
Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula minyak yang
dapat tersabunkan, berarti hasil yang didapat juga semakin tinggi, tetapi jika reaksi
telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan meningkatkan
jumlah minyak yang tersabunkan.
(B. Risni Maripa, 2014).
D. METODOLOGI PERCOBAAN
1. Waktu dan tempat percobaan
Hari, Tanggal : Jum’at, 22 November 2019
Tempat : Laboratorium IPA FMIPA UNY
Waktu : 11.10 s.d 12.30 WIB
2. Alat dan bahan

a. Alat b. Bahan

1) Beaker glass 250 ML 1) VCO 10 g

2) Erlenmeyer 2) NaOH 30% 5 ml

3) Batang Pengaduk 3) Gliserin 8 ml

4) Kaca arloji 4) Etanol 95% 8 g

5) Gelas ukur 5) Asam Stearat 5 g

6) Pipet Tetes 6) Gula Pasir 8 g

7) Termometer 7) NaCl 0,04 g

8) Cetakan Sabun 8) Asam Sitrat 0,04 g

9) Kaki tiga 9) Pewarna Kosmetik 0,02 g

10) Bunsen 10) Pewangi 0,4 ml

11) Pembakar Spiritus

3. Prosedur percobaan

Memanaskan VCO dalam erlenmeyer sampai suhu 60-65℃

Memanaskan asam stearat ke dalam minyak yang sudah dipanaskan

Memasukkan asam stearat ke dalam minyak yang sudah dipanaskan, diaduk


terus menerus dan dijaga pada suhu 70℃

Memasukkan NaOH sambil terbentuk reaksi saponifikasi (sampai kalis)

Memasukkan etanol sambil diaduk terus menerus sampai larut dan bening

Menambahkan asam sitat, gula, gliserin, dan NaCl kemudian diaduk pada suhu
70℃ sampai homogen

Menambahkan pewarna dan parfum secukupnya

Menuangkan dalam cetakan dan didinginkan 24 jam

E. DATA HASIL PERCOBAAN


1. Organoleptik
a. Warna : Lapisan atas putih dan lapisan bawah hijau transparan
b. Tekstur : Lunak
c. Perabaan : Halus
d. Bau : Wangi
2. Rendemen berat sabun

F. Analisis Data

G. PEMBAHASAN
Percobaan keterampilan kimia ini berjudul “Pembuatan Sabun Transparan”
dengan tujuan mengetahui cara membuat sabun transparan melalui reaksi saponifikasi.
Percobaan dilaksanakan pada Jumat, 22 November 2019 di Laboratorium IPA FMIPA
UNY .
Alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah kaca arloji, beaker
glass 250 ml, erlenmeyer, statif, batang pengaduk, gelas ukur, pipet tetes, thermometer,
cetakan sabun, dan kaki tiga. Sedangkan bahan yang digunakan pada pembuatan sabun
adalah VCO 10 gr, NaOH 30% 5ml, gliserin 8 ml, gula pasir 8 gr, etanol 95% 8 gr, asam
stearat 5 gr, NaCl 0,04 gr, asam sitrat 0,04 gr, dan pewarna makanan 0,02 gram.
Langkah selanjutnya adalah praktikan memanaskan VCO ( minyak kelapa) yang
merupakan bahan utama dalam pembuatan sabun transparan. VCO yang digunakan
sebanyak 10 gram dan dipanaskan dalam erlenmeyer hingga mencapai suhu 60-65 ℃.
Kemudian memanaskan asam stearat sebanyak 5 gram yang fungsinya adalah membantu
mengeraskan dan mengatur busa sabun. Asam stearat dipanaskan pada suhu 60 ℃, lalu
memasukkannya dalam erlenmeyer yang berisi VCO (minyak kelapa) yang telah
dipanaskan. Campuran VCO ( minyak kelapa) dan asam stearat diaduk terus menerus dan
dijaga suhunya pada suhu 70 ℃.
Pembuatan sabun transparan dilakukan pengadukaan secara konstan agar produk
sabun yang dihasilkan tidak menggumpal dan homogen. Kemudian menambahkan NaOH
sebagai katalis hingga reaksi saponifikasi terjadi yang ditunjukkan oleh adanya buih atau
gelembung. Selanjutnya menambahkan etanol dengan terus mengaduknya hingga
campuran terlihat bening. Etanol berfungsi untuk melarutkan sabun agar sabun menjadi
bening atau transparan. Kemudian menambahkan asam sitrat yang berfungsi sebagai agen
pengleat dan juga penurun pH. Gula berfungsi untuk membantu terbentuknya
transparansi pada sabun. Gliserin berfungsi sebagai pelembab pada kulit, dan NaCl.
Semua bahan diaduk pada suhu 70°C sampai homogen. Selanjutnya menambahkan
pewarna hijau secukupnya untuk memperindah penampilan serta penambahan parfum
secukupnya untuk memberikan aroma wangi pada sabun, kemudian diaduk. Setelah
semua bahan tercampur secara homogen, lalu menuangkannya ke dalam cetakan dan
mendinginkannya selama 24 jam. Berikut ini reaksi saponifikasi yang terjadi:

Berdasarkan hasil percobaan didapatkan massa akhir produk 34 gram, dan yang
telah diketahui massa awal produk ialah 44,10 gram sehingga dapat dihitung presentase
rendemen produk dengan cara membagi massa produk akhir dengan massa produk awal
dikali 100%. Pada percobaan ini didapatkan hasil presentase rendemen ialah 77,09 %.
Sabun yang diperoleh memiliki 2 lapisan, lapisan bawah berwarna hijau
transparan serta bertekstur lunak dan lapisan atas berwarna putih susu. Melalui perabaan
pada bagian atas sabun merupakan lemak yang menggumpal, sedangkan pada bagian
bawah sabun bertekstur halus dan licin. Jika dilihat dari tekstur maupun perabaannya,
pada bagian bawah dan samping sabun sangatlah halus dan licin. Hal ini disebabkan
karena penambahan bahan baku khususnya aquades yang memberikan pengaruh yang
signifikan pada tekstur produk akhir sabun ini. Dengan ditambahkan aquades maka
bahan-bahan yang digunakan akan tercampur secara homogen sehingga tekstur yang
dihasilkan sangatlah lembut. Kemudian tekstur pada sabun tersebut ditimbulkan dari
kandungan lemak yang terdapat pada minyak kelapa. Pada bagian atas tampak seperti
lemak yang menggumpal. Hal ini disebabkan karena pada proses pemanasan kurang
stabil pada kisaran 70℃ akan tetapi kadang kala mencapai lebih dari suhu tersebut,
sehingga menyebabkan minyak terdenaturasi yang ditunjukan dengan menggumpalnya
lemak pada lapisan atas sabun. kenaikan suhu tersebut juga akan menurunkan rendemen
sabun, hal ini dikarena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis. Selanjutnya
apabila sabun dicium baunya, tercium bau wangi. Bau wangi tersebut muncul karena saat
akhir pembuatan sebelum sabun dicetak, sabun diberi parfum atau cairan pewangi.
Sehingga sabun menjadi wangi.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa cara
membuat sabun transparan melalui reaksi saponifikasi, yakni menyiapkan semua alat dan
bahan yang dibutuhkan, selanjutnya memanaskan VCO (minyak kelapa) sebanyak 10 gr
dalam erlenmeyer sampai suhu 60-65°C, kemudian memanaskan asam stearat pada suhu
60°C, lalu memasukkan asam stearate ke dalam minyak kelapa yang sudah dipanaskan,
diaduk terus menerus dan dijaga pada suhu 70°C. Selanjutnya memasukkan NaOH
sampai terbentuk reaksi saponifikasi (sampai kalis). Kemudian memasukkan etanol
sambil terus diaduk sampai larut dan bening. Langkah selanjutnya adalah
menambahkan asam sitrat, gula, gliserin, dan NaCl dan diaduk pada suhu 70°C sampai
homogen. Setelah itu, menambahkan pewarna dan parfum secukupnya dan terakhir
menuangkan dalam cetakan dan didinginkan 24 jam.
I. DAFTAR PUSTAKA
Austin. Gorge T. 1984. Shereve’s Chemical Process Industries 5th ed. Singapura:
McGra-Hill Book Co.
Baysinger, Grace, et all. 2004. ​CRC Handbook Of Chemistry and Physics. 85th ed.
B. Risni Maripa. 2014 . ​Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Kualitas Sabun Padat
dari Minyak Kelapa yang Ditambahkan Sari Bunga Mawar,​ Skripsi. Mataram:
IKIP Mataram.
Fessenden, R. J. and Fessenden, J.S. 1990. ​Kimia Organik 3rd Edition.​ Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Hard, Harold. 1982. ​Kimia Organik Jilid 2.​ Jakarta: Erlangga.
Livenia. 2013. ​Pembuatan Sabun.​ Jakarta: Erlangga.
Respati. 2000. ​Pengantar Kimia Organik .​ Jakarta: Erlangga.
J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Bisa terbentuk sabun karena hasil reaksi dari asam lemak dengan logam
alkali.Hasil penyabunan tersebut diperoleh suatu campuran sabun, gliserol, dan
sisa alkali atau asam lemak yang berasal dari lemak yang telah terhidrolisa oleh
alkali. Campuran tersebut berupa massa yang kental, masa tersebut dapat
dipisahkan dari sabun dengan cara penggaraman, bila sabunnya adalah sabun
natrium, proses penggaraman dapat dilakukan dengan menambahkan larutan
garam NaCl jenuh. Setelah penggaraman larutan sabun naik ke permukaan larutan
garam NaCl, sehingga dapat dipisahkan dari gliserol dan larutan garam dengan
cara menyaring dari larutan garam. Masa sabun yang kental tersebut dicuci
dengan air dingin untuk menetralkan alkali berlebih atau memisahkan garam
NaCl yang masih tercampur. Sabun kental kemudian dicetak menjadi sabun
tangan atau kepingan dan kepingan. Gliserol dapat dipisahkan dari sisa larutan
garam NaCl dengan jalan destilasi vakum. Garam NaCl dapat diperoleh kembali
dengan jalan pengkristalan dan dapat digunakan lagi
2. Fungsi penambahan masing-masing bahan yaitu:
a. VCO (minyak kelapa) untuk mengeraskan tekstur sabun.
b. Alkohol 98%untuk melarutkan sabun agar sabun menjadi transparan.
c. Gula untuk membantu pembusaan sabun.
d. Gliserin untuk melembabkan kulit.
e. Asam stearate membantu untuk mengeraskan sabun.
f. NaCl untuk memisahkan produk sabun dan gliserin.
g. Pewarna dan parfum untuk mempertinggi kualitas produk sabun
sehingga menarik konsumen.
3. Apabila VCO (minyak kelapa) diganti dengan minyak lain seperti minyak jagung,
minyak sawit, atau minyak zaitun maka akan terjadi reaksi saponifikasi. Jenis
minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan.
Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak
kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun.
LAMPIRAN

Gambar 1. Memasukkan asam stearat Gambar 2. Pemanasan campuran VCO


Sumber : Dokumentasi pribadi dan asam stearat
Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 3. Pengukuran suhu Gambar 4. Sabun transparan


Sumber : Dokumentasi pribadi Sumber : Dokumentasi pribadi