Anda di halaman 1dari 59

BAB 3

TINJAUAN LAHAN

3.1 Analisa Situasi Berdasarkan Fungsi Manajemen Ruang Perawatan


3.1.1 Input
3.1.1.1 Tenaga dan Pasien (M1 / Man)
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan
tergantung pada jumlah tempat tidur dan derajat ketergantungan
pasien. Berdasarkan perhitungan standar kebutuhan perawat menurut
PPNI dengan mengkategorikan jenis penyakit dalam, bedah, gawat,
anak dan kebidanan.

Tenaga perawat di Ruang Syaraf ( An-Nuur ) berjumlah 14 orang,


sudah termasuk kepala ruangan, katim, supervisor dan perawat
pelaksana.

1) Jumlah perawat yang berada di Ruang Syaraf ( An-Nuur )


berdasarkan tingkat. pendidikan meliputi:
Magister : 0 orang
Sarjana Keperawatan Ners : 4 orang
Sarjana Keperawatan : 0 orang
DIII Keperawatan : 10 orang

2) Jumlah perawat yang berada di Ruang Syaraf ( An-Nuur )


berdasarkan status kepegawaian meliputi :
PNS : 5 orang
Non PNS : 9 orang

66
67

3) Tenaga Perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD Brigjend H.


Hasan Baseri Kandangan.
Tabel 3.1 Tenaga perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD
Brigjend H. Hasan Baseri Kandangan.
PNS/
Pendidik
No Nama Non Jabatan Masa Kerja
an
PNS
Medis
1
2
Keperawatan
1 Herlina Astuti, S. Kep. Ns PNS Karu Ns 10 tahun 11 bulan
2 Ahya’ul Hasanah, AMK PNS Katim 2 D3 14 tahun 8 bulan
3 Hinni Arsundari, S,Kep,Ns PNS Katim 1 Ns 12 tahun 5 bulan
4 Siti Atiqah, AMK Pelaksana D3 15 tahun 8 bulan
5 Ronna Abdiyati, AMK PNS Pelaksana D3 16 Tahun
6 Mahyuni, AM. Kep PNS Pelaksana D3 9 tahun 12 bulan
7 Khairunnida, Amd. Kep Non Pelaksana D3 6 Tahun 9 bulan
PNS
8 Laily Wahdinie, S.Kep. Ns Non Pelaksana Ns 6 Tahun
PNS
9 IKha Maulida Wijaya, Non Pelaksana Ns 3 Tahun 10 bulan
Amd. Kep PNS
10 Taufik Rahman, Amd. Kep Non Pelaksana D3 6 Tahun 11 bulan
PNS
11 Octaviamy Rusma, Non Pelaksana Ns 4 Tahun 8 bulan
S.Kep.Ns PNS
12 Mita Risqi Astalita, Amd. Non Pelaksana D3 7 Tahun 10 bulan
Kep PNS
13 Nurliani, Amd. Kep Non Pelaksana D3 2 Tahun 4 bulan
PNS
14 Herma Fermamita, Amd. Non Pelaksana D3 5 tahun 2 bulan
Kep PNS
Non Medis
1 Muhammad Hamdie, S. Pd Non Admin S1
PNS

4) Tenaga Perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD Brigjend H.


Hasan Baseri Kandangan Berdasarkan Jenjang Karir.
Tabel 4.1 Tenaga perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD
Brigjend H. Hasan Baseri Kandangan Berdasarkan
Jenjang Karir.
No Jenis Tenaga Jumlah %
1 Perawat Klinis I 2 14,3 %
2 Perawat Klinis II 8 57,2 %
3 Perawat Klinis III 4 28,5 %
4 Perawat Klinis IV 0 0%
Total 14 100 %
68

5) Tenaga Perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD Brigjend H.


Hasan Baseri Kandangan Berdasarkan Pelatihan Yang Diikuti.
Tabel 5.1 Tenaga perawat di Ruang Syaraf ( An - Nuur ) RSUD
Brigjend H. Hasan Baseri Kandangan Berdasarkan
Pelatihan yang diikuti.
No Jenis Pelatihan Jumlah %
1 PPGD 1 7,1%
2 Pelatihan Management 1 7,1%
3 Managemen Bangsal Keperawatan 1 7,1%
4 Pelatihn Preseptor Mentor 1 7,1%
5 Pelatihan Perseptorshif 1 7,1%
6 MPP ( Case Manager Bagi Perawat di RS ) 3 21,4%
7 CPR Training 8 57,1%
8 Komunikasi Efektif 7 50%
9 Simulasi Penanganan Kebakaran dan evakuasi 5 35,7%
10 Pelatihan EEG Dokter dan Perawat 1 7,1%
11 BTCLS 2 14,2%
12 K3 RS 9 OHSH 1 7,1%
13 Pelatihan Keterampilan Perawatan Stroke 1 7,1%
14 Kegawat daruratan anak dan ibu 3 21,4%
15 Hand Hygiegine 2 14,2%
16 Hiperkes dan Keselamatan Kerja 1 7,1%
17 BTLS 1 7,1%

6) Sepuluh Penyakit Terbanyak 3 bulan terakhir di Ruang Syaraf (An-


NUUR ) pada bulan Oktober - Desember 2019

7) Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi 3 bulan


terakhir di Ruang Syaraf (An-NUUR ) pada bulan Oktober -
Desember 2019 didapatkan penyakit terbanyak adalah Intracerebral
Haemorrhage In Hemisphere 51 orang. Hal ini menunjukkan bahwa
penyakit Intracerebral Haemorrhage In Hemisphere merupakan
penyakit yang terbanyak di Ruang Syaraf (An – NUUR ) RSUD Ulin
Banjarmasin.

Tabel 3.1 Sepuluh Penyakit Terbanyak di Ruang Seruni 3 bulan


terakhir pada bulan Oktober - Desember 2018
No. 10 Penyakit Terbanyak Jumlah
1 Intracerebral Haemorrhage In Hemisphere 51
2 Cerebral Infarction Due To Thrombosis Of Cerebral 48
3 Cerebral Infarction, Unspecified 15
4 Benign Neoplasm Of Brain Unspecifield 15
5 Other Peripheral Vertigo 11
6 Epilepsi unspecified 7
7 Tetraplegia 7
8 LBP 6
69

9 Transient Cerebral Ischemic Attack 5


10 Cerebral Infarction Due to Embolism 2

3.1.1.2 Sarana dan Prasarana (M2 / Material)


1) Material
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1 Januari 2019, didapatkan
bahwa lingkungan Ruang Syaraf RSUD Ulin Banjarmasin bisa
dikategorikan bersih namun kurang rapi, dari beberapa macam daftar
kebutuhan logistik yang diminta sudah ada dan sudah terpenuhi.

2) Kapasitas Unit Ruangan


Gambaran umum jumlah tempat tidur di Ruang Syaraf dijabarkan
sebagai berikut :
1. Ruang II A : 2 tempat tidur
2. Ruang II B : 2 tempat tidur
3. Ruang II C : 2 tempat tidur
4. Ruang II D : 2 tempat tidur
5. Ruang III : 7 tempat tidur

Total jumlah tempat tidur di Ruang Syaraf berjumlah 15 tempat


tidur, namun ada 1 tempat tidur yang kondisinya kurang baik yaitu
putaran bed tidak berfungsi dengan baik sedangkan tempat tidur
lainnya dalam kondisi yang masih bagus/terawat, Ruang Syaraf juga
sudah mempunyai APAR yang tersedia di ruangan dan sudah
memenuhi syarat.

3) Fasilitas dan Alat Kesehatan Ruang Syaraf RSUD Ulin Banjarmasin.


Tabel 3.7 Daftar Fasilitas dan Alat Kesehatan Ruang Syaraf RSUD
Ulin Banjarmasin
Keadaan Barang
No. Jenis Barang Jumlah Kurang
Baik Rusak
Baik
70

1. Ranjang Pasien 15 Buah 15 0 0


2. Kasur Pasien 15 Buah 15 0 0
3. Kasur Decubitus 2 Buah 2 0 0
4. Suction 2 Buah 2 0 0
5. EKG 1 Buah 1 0 0
7. Lampu Baca Rontgen 1 Buah 1 0 0
8. Glucotest 1 Buah 1 0 0
9. Blood Pressure 1 Buah 1 0 0
10. Regulator 7 Buah 7 0 0
12. Kursi Roda 2 Buah 1 0 0
13. Brankard Pasien 2 Buah 2 0 0
14. Tiang Infus 15 Buah 15 0 0
15. Nebulizer 1 Buah 1 0 0
16. Ambu Bag Adult 1 Buah 1 0 0
17. Bed Side Cabinat 15 Buah 15 0 0
18. Lemari Obat 1 Buah 1 0 0
Emergency
19. Komputer Set + 2 Buah 2 0 0
Printer
20. Meja Kerja 5 Buah 5 0 0
21. Kursi Besi Lipat 1 Buah 1 0 0
22. Kursi Busa Berputar 2 Buah 2 0 0
23. Kursi Besi 6 Buah 6 0 0
24. Kursi Panjang 3 Buah 3 0 0

4) Daftar Alat Rumah Tangga


Tabel 3.8 Daftar Alat Rumah Tangga Ruang Syaraf

No Nama Barang Jumlah Ratio


1 Printer 2 1/ruangan
2 Kipas angin 9 1/ruangan
4 Kulkas 2 1/ruangan
5 Komputer PC 2 1/ruangan
6 Monitor PC 2 1/ruangan
7 TV 2 2/ruangan
8 Jam Dinding 4 2/ruangan
11 AC 4 3/ruangan
12 Rak Tempat Obat Klien 15 1/bed
13 Wastafel 1 2/ruangan
14 Lemari Linen 1 1/ruangan
15 Bak sampah besar 4 2/ ruangan
16 Bak sampah medis 6 3/ruangan
17 APAR 1 1/ruangan
18 Brankar 2 1/ruangan
19 Kursi roda 1 1/ ruangan
18 Standar infuse 15 1/bed
20 Lemari Obat High Alert 1 1/ruangan
21 Lemari Pasien 15 1/bed
22 Safety box 1 1/ruangan
23 Lampu rontgen 1 1/ruangan
24 Lemari loker 2 1/ruangan
71

25 Kotak saran 1 1/ruangan


26 Troli Dresing 1 1/ ruangan
27 Troli Injeksi 1 1/ ruangan

Alat rumah tangga sebagian besar sudah terpenuhi. Untuk tempat


sampah medis dan non medis sudah dibedakan, pantry sudah
digunakan untuk persediaan makanan. Adanya ruangan untuk
diskusi, penerangan ruangan sudah bagus.

5) Daftar Alat Kantor


Tabel 3.9 Daftar Alat Kantor
No Nama Barang Jumlah Alat Ratio Ideal
1 Loker perawat 1 1/ Ruangan
2 Lemari arsip besi 2 1/ Ruangan
3 Lemari obat 15 1/ Ruangan
4 Lemari RM 2 1/Ruangan
4 Telepon 1 1/ Ruangan
5 Papan tulis putih 2 1/ Ruangan
6 Lemari kayu 7 1/ Ruangan
7 Meja kerja 5 2/ Ruangan
8 Printer 2 1/ Ruangan
9 Komputer 2 1/ Ruangan

Kelengkapan alat kantor seperti telepon, papan tulis dan kursi


tersedia, kulkas obat sudah ada.

6) Adminitrasi Penunjang
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1 Januari 2019, diketahui
bahwa sarana dan prasarana di Daftar Alat Rumah Tangga Ruang
Syaraf sudah cukup baik. Fasilitas penunjang seperti kamar
mandi/WC kondisinya cukup baik. Setiap pagi ruangan dibersikan
oleh petugas CS dan kondisi ruangan cukup tenang. Kondisi
administrasi penunjang cukup baik, terdiri atas : buku laporan harian,
buku tanda-tanda vital, buku visit dokter, buku konsul, buku injeksi
dan obat oral.
72

7) Denah Ruangan
1. Ruang Syaraf merupakan bangunan lama yang bertempat di
belakang SMF yang terdiri dari Ruang Seruni dan Ruang Stroke
Center. Ruang Seruni memiliki beberapa ruangan di dalamnya
ada 4 ruangan kelas 2 dan 1 ruangan kelas 3 yang berisi 7 bed, 1
ruang ners station dan administrasi, 1 kamar perawat, 9 wc untuk
karyawan dan pasien dan 1 dapur.
73

2. Denah Ruang Syaraf (Seruni)

1 2

13

3 4

13

8 5 13

6 13

7 13

13 13

13 10 9

11 12

Gambar 3.1 Denah Ruangan Seruni

Keterangan:
1. Ruang nurse 6. Ruang rawat inap 9. Ruang kepala
stasion kelas II C ruangan
2. Ruang perawat 7. Ruang rawat inap 10. Ruang obat
3. Ruang mahasiswa kelas II D (isolasi) 11. Dapur
4. Ruang rawat inap 8. Ruang rawat inap 12. Gudang
kelas II A kelas III 13. WC
5. Ruang rawat inap
kelas II B
74

3.1.1.3 Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (M3 / Methode)


1) Metode Asuhan Keperawatan / SP2KP
Ruang Syaraf RSUD Ulin Banjarmasin menerapkan Model asuhan
keperawatan SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Profesional).

SP2KP merupakan suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai


professional) yang memungkinkan perawat professional mengatur
pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk
menopang pemberian asuhan keperawatan (Hoffart & Woods, 1996).

Hasil observasi pada tanggal 1 Januari 2019, didapatkan bahwa


model asuhan keperawatan SP2KP yang diterapkan pada Ruang
Seruni dengan metode tim dan adanya supervisor dalam metode ini.
Terjalin kerjasama yang baik antara Katim dan Perawat Pelaksana.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Syaraf, Ruang
Syaraf memiliki 1 orang kepala ruangan, 1 orang supervisor, 1 orang
ketua tim yang memiliki 9 sampai 10 orang anggota perawat
pelaksana (PP) masing-masing tim, dengan adanya pembagian tim
berdasarkan jumlah pasien sehingga beban kerja perawat terbagi
merata.
75

2) Struktur Organisasi

DIREKTUR

WADIR YANMED DAN KEPERAWATAN

KEPALA BIDANG KEPERAWATAN

KEPALA IRNA NON BEDAH

KEPALA RUANG SERUNI

Fahruddin, S.Kep., Ns.

SUPERVISOR

Rahima F.H, S.Kep., Ns

KATIM SERUNI

RICCA D.W.P, S.Kep.,Ns

PP
1. Irma Raya, Amk
2. Qoriyanti, M. Amk
3. Rukyat Kipling, Amk
4. Agus Eka R, Amk
5. Heny P , Amk
6. Imelda S.S, S.Kep
7. Wita Ramadhani, Amk
8. Nisya Andesita, S.Kep.,Ns
9. Eka Putri Yuliani, Amk
10. M. Hasan Fadillah, Amk
11. Malikah
12. linda

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Ruang Syaraf

3) Timbang Terima (Operan)


Timbang terima (Operan) adalah metode untuk mengkomunikasikan
informasi keperawatan dan merupakan fasilitas untuk
menyampaikan informasi penting tentang pasien dalam memberikan
asuhan keperawatan sehari-hari. Timbang terima harus dilaksanakan
seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat tentang
76

keadaan pasien saat itu, tindakan keperawatan yang sudah dan belum
dilaksanakan, masalah keperawatan yang mungkin muncul,
intervensi kolaboratif dan perkembangan pasien saat itu. Mekanisme
laporan dikerjakan ketika pergantian shift sebagai kesatuan proses
komunikasi dalam menyampaikan informasi tentang kondisi pasien
saat itu, sebagai wujud profesional perawat dan bentuk tanggung
jawab perawat kepada pasien. Timbang terima dilakukan di nurse
station yang diikuti oleh perawat dari kedua shift dinas, kemudian
dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke pasien untuk validasi
data dan memantau kondisi pasien secara langsung. Ada klarifikasi,
tanya jawab dan validasi terhadap semua yang dioverkan pada saat
timbang terima disamping bed pasien.

Pelaksanaan timbang terima di Ruang Seruni adalah timbang terima


dilaksanakan oleh Kepala ruangan langsung di shift malam dan pagi
dengan ke 2 Tim kumpul dalam satu meja di ners station dan seluruh
staf perawat pelaksana yang berganti shift namun tidak melakukan
timbang terima di ruang pasien dan tidak memberitahukan perawat
yang berdinas dan yang bertanggung jawab yang mengganti shift
selanjutnya. Begitu juga dengan timbang terima untuk shift pagi ke
siang dan shift siang ke shift malam tidak maksimal dilaksanakan.
Timbang terima wajib diikuti oleh mahasiswa yang berdinas di ruang
Seruni.
ALUR TIMBANG TERIMA (OVERAN)

PASIEN

DIAGNOSA MEDIS, DIAGNOSIS KEPERAWATAN


MASALAH, KOLABORASI (Didukung Data)

TINDAKAN

TELAH DILAKUKAN BELUM DILAKUKAN

PERKEMBANGAN/KEADAAN PASIEN

MASALAH :
1. TERATASI
2. BELUM TERATASI
3. TERATASI SEBAGIAN
4. MASALAH BARU

Gambar 3.3 Alur Timbang Terima Operan


77

4) Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan metode untuk menggali dan
membahas secara mendalam masalah keperawatan yang terjadi pada
pasien dengan melibatkan tim keperawatan, kepala ruangan, dokter,
ahli gizi, farmasi dan melibatkan pasien secara langsung sebagai
fokus kegiatan.

Ronde keperawatan dilakukan 1 orang kepala ruangan, kadang-


kadang dilakukan tapi tidak terstruktur dan tidak terdokumentasi,
misalnya hanya dilakukan pada saat ketika ada pasien yang berada
diruangan dengan melebihi batas perawatan dan didiskusikan hanya
dengan salah satu staf keperawatan misalnya ada kepala ruangan,
atau dokter atau ahli gizi yang kebetulan berada di ruangan.
Pelaksanaan ronde keperawatan tidak pernah terjadwal secara pasti,
misalnya waktu, tempat, dan orang – orang yang harus menghadiri
nya.

Ronde keperawatan dilakukan di Ruangan Seruni namun tidak


maksimal karena hanya dilakukan pada saat ketika ada pasien yang
berada diruangan dengan melebihi batas perawatan dan didiskusikan
hanya dengan salah satu staf keperawatan misalnya ada kepala
ruangan, atau dokter atau ahli gizi yang kebetulan berada diruangan.
Pelaksanaan ronde keperawatan tidak pernah terjadwal secara pasti,
misalnya waktu, tempat, dan orang-orang yang harus menghadirinya.
78

Tahap Pra................................ Perawat Pelaksana

Penetapan pasien

Persiapan pasien :
- Informed consent
- Hasil pengkajian/validasi data

Tahap Pelaksanaan.......... Penyajian masalah - Pengkajian masalah


- Diagnosa keperawatan
Di Nurse Station - Data pendukung
- Intervensi yang sudah
dilakukan
- Hambatan yang
ditemukan
- Perkembangan pasien

Tahap pelaksanaan............. Validasi data

Di kamar pasien
Diskusi Perawat Pelaksana,
Katim, KARU, dan Tenaga
Kesehatan lainnya

Pasca Ronde...................... Lanjutan diskusi di


Nurse Station

Kesimpulan dan
rekomendasi solusi
masalah

Gambar 3.4 Alur Ronde Keperawatan

5) Desentralisasi Obat
Berdasarkan hasil wawancara alur obat diresepkan oleh Dokter
kemudian bagian Depo Farmasi sudah terjadwal setiap hari paling
lambat pukul 14.00 WITA, mengambil resep obat pasien ke ruangan
kemudian kembali lagi mengantarkan resep obat ke ruangan. Ini
berlaku untuk pasien dengan jaminan BPJS mandiri dan BPJS PBI,
dan lainnya. Pengantaran berlaku disaat jam kerja, diluar jam kerja
keluarga mengambil sendiri ke Depo Farmasi. Kemudian khusus
pembayaran UMUM resep obat diambil sendiri oleh keluarga pasien
ke Depo Farmasi. Setelah obat sampai ke ruangan, diterima oleh
perawat dan dimasukkan ke locker – locker pasien.
79

6) Discharge Planning
Perencanaan pulang merupakan bagian penting dari program
keperawatan pasien yang dimulai segera setelah pasien masuk rumah
sakit. Hal ini merupakan suatu proses yang menggambarkan usaha
kerjasama antar tim kesehatan, pasien dan keluarga pasien
(Nursalam, 2011). Discharge planning sebaiknya segera setelah
pasien masuk, bukan hanya pasien saat ingin pulang. Isi dari
discharge planning dapat membantu pasien pasca perawatan untuk
dapat menambah pengetahuan pasien dan keluarga karena meliputi
pemberian informasi tentang waktu kontrol dan obat yang harus
diminum dan adanya leaflet yang berguna bagi pasien sebelum
pulang namun pemberian leaflet tergantung pada ketersediaan yang
ada sehingga tidak semua pasien pulang mendapatkan leaflet. Leaflet
berguna untuk pasien ketika sudah dirumah sehingga bisa melihat
kembali leaflet jika pasien lupa dengan informasi yang diberikan
perawat, untuk di Ruangan Seruni discharge planning belum
maksimal dijalankan, dan tidak diberikan leaflet, hanya dengan
komunikasi tanya jawab, itu pun dilakukan saat pasian mau pulang
saja. Blanko dischage planning yang ada belum lengkap dan hanya
tersedia satu lembar, jadi saat pulang tidak diberikan pada pasien.

7) Dokumentasi Keperawatan
Sesuai kesepakatan di RSUD Ulin Banjarmasin dokumentasi
keperawatan dilakukan pada 2 lembar format, yaitu lembar
pengkajian sekaligus lembar penegakkan diagnose dan lembar
catatan keperawatan yang terdiri atas isian subjektif, objektif,
assement, planning dan evaluasi. Untuk implementasi keperawatan
sesuai kesepakatan rumah sakit dapat dilihat dari format pengobatan
harian. Asuhan keperawatan dengan chek list untuk pengkajian dan
penegakkan diagnosa, serta lembar keperawatan dengan menulis
SOAP.

3.1.1.4 Pembiayaan (M4 / Money)


Sumber pendapatan ruangan berasal dari dana rumah sakit, sumbangan
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Badan layanan umum
80

daerah (BLUD) dibawah pengawasan Provinsi Kalimantan Selatan,


Mayoritas pembiayaan pasien menggunakan BPJS (Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial) dan hanya sedikit pasien dengan status
umum (biaya sendiri).

Hasil wawancara dengan kepala ruangan, pengadaan alat di ruangan di


bawah 1 juta dapat dilakukan dengan membeli alatnya lebih dahulu,
lalu kwitansinya diberikan ke Ruang IRNA, dengan kwitansi untuk
pencairan dana. Pembelian alat <1 juta bisa juga dilakukan dengan
membuat rencana pembelian, membuat surat yang ditujukan kepada
kepala instalasi IRNA, setelah itu ke bidang keperawatan, jika disetujui
bidang keperawatan langsung diberikan lewat pengadaan barang.

Pengadaan alat di ruangan di atas 1 juta dilakukan dengan cara


memberikan surat telaah yang ditunjukan kepada direktur rumah sakit,
dengan mendapatkan disposisi dari kepala seksi sarana keperawatan,
kepala bidang keperawatan, wakil direktur pelayanan medik, kepala
bagian keuangan dan pejabat keuangan. Misalnya penyediaan alat
kesehatan, kepala ruangan meminta disposisi kepada bagian penunjang
medik dan untuk kebutuhan alat rumah tangga surat disposisi diberikan
kepada bagian umum dan perlengkapan yang akhirnya disetujui oleh
direktur untuk pengadaan alat tersebut.

Adapun pendanaan kepegawaian PNS, BLUD dan kontrak di Ruang


Syaraf, untuk PNS digajih dari pemerintah provinsi, dan digajih atau
upah ditentukan dari golongan, pangkat, dan tunjangan yang didapatkan
dari Jasa Intensif, Jasa Umum, dan Jasa BPJS, misalnya menjadi Kepala
Ruangan, Supervisor, dan Ketua tim dengan jasa intensif yang sudah
ditentukn oleh rumah sakit. Untuk tenaga BLUD dan tenaga kontrak
digajih atau upah oleh pihak rumah sakit dengan anggaran dana APBD
dengan upah berdasarkan jenjang karir dari masing-masing individu
perawatnya, dan mendapatkan jasa intensif, jasa umum, dan jasa BPJS.
Gajih atau upah biasanya diberikan pada tanggal 1 setiap bulannya.

Sistem permintaan untuk pindah kelas rawat inap di Ruang Syaraf


menggunakan INA-CBG. INA-CBG (Indonesia-Case Base Grups) yang
81

merupakan sistem pembayaran dengan sistem paket, berdasarkan


penyakit yang diderita pasien (Kemenkes RI, 2015).

Tabel 3.10 Daftar Tarif Restribusi Biaya Pelayanan Menurut Peraturan


Gubernur Nomor 094 Tahun 2014 pada Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin Banjarmasin
No. Jenis Pelayanan Tarif (Rupiah)
A. Akomodasi
1 Rawat Kelas III Rp.75.000
2 Rawat Kelas II Rp.125.000
B. Visite
3 Pasien Umum Kelas III Rp.42.000
4 Pasien Umum Kelas II Rp.90.000
5 Pasien BPJS Kelas III Rp.37.500
6 Pasien BPJS Kelas II Rp.90.000
C. Tarif Tindakan Insidentil Keperawatan
7 RJP Rp.680.625
8 Memasang NGT Rp.27.000
9 Irigasi Lambung Rp.27.000
10 Pasang/Lepas Kateter/Kondom Urine Rp.21.600
11 Bledder Trainning Rp.21.600
12 ROM Rp.37.800
13 Pemasangan Kondom Kateter Rp.60.000
14 Pemasangan OPA Rp.42.600
15 Pemasangan Infus/Venflon Rp.207.600
16 Suction Jalan Napas Rp.49.200
17 Injeksi IM/SC/IC/IV tanpa Infus Rp.42.000
18 Pengambilan Darah Vena Rp.42.000
19 Dressing Luka Rp.49.800
20 Kasur Dekubitus Rp.50.000
21 Elektrokardiogram (EKG) Rp.182.400

3.1.1.5 Mutu / Pemasaran (M5 / Marketing)


Keselamatan Pasien
1) Sasaran I : ketetapan identifikasi pasien
Di Ruangan Seruni pasien menggunakan nomor bed pasien masing-
masing, pasien menggunakan identitas yang berisi nama pasien,
tanggal lahir dan nomor RM yang ditulis pada gelang identitas
pasien. Perawat memastikan kembali identitas pasien saat perawat
akan memberikan obat oral, obat suntikan intra vena, mengambil
darah dan melakukan tindakan, perawat terlebih dahulu menanyakan
82

identitas pasien untuk pencocokan data dengan menggunakan


pertanyaan terbuka.
2) Sasaran II : peningkatan komunikasi yang efektif
Perawat di Ruang Seruni sebagian besar sudah melakukan
komunikasi kepada pasien saat akan melakukan tindakan
keperawatan, seperti memasang infus dan tindakan yang lainnya
yang berhubungan langsung dengan pasien. Perawat di Ruang
Seruni melakukan komunikasi dengan rekan perawat lain saat
melakukan timbang terima setiap pergantian shif.
Timbang terima menggunakan SBAR dari hasil observasi 3 orang
perawat, 2 orang menggunakan SBAR dan panduan SBAR
diletakkan di nurstation.
3) Sasaran III : peningkatan keamaanan obat yang perlu diwaspadai
Pada Ruang Seruni penyimpanan obat injeksi dan oral sudah
disediakan ditempat penyimpanan yang memadai, dengan kondisi
tempat penyimpanan obat yang dingin dan berAC yang dilengkapi
dengan pengaturan suhu ruangan. Perawat sudah berhati-hati dalam
memberikan obat-obatan yaitu memvalidasi kembali obat yang
diberikan untuk pasien, tempat penyimpanan obat oral dan injeksi
dijadikan satu loker yang sudah diberi identitas pasien dan no kamar
namun, penyimpanan obat-obatan high alert masih belum dipisah.
4) Sasaran IV : Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien.
Perawat menggunakan APD seperti handscone saat memberikan
tindakan keperawatan. Di Ruang Seruni pengadaan wastafel untuk
hand hygiene disediakan oleh Rumah Sakit, perawat ruangan
terlihat melakukan cuci tangan pada saat akan dan setelah
melakukan tindakan, perawat menggunakan hand srub sebelum
masuk ke kamar pasien. Rumah Sakit sudah menggalakkan di
semua ruangan untuk membudayakan cuci tangan 6 langkah yang
sudah disosialisasikan oleh Tim PPI (Pengendalian dan Pencegahan
Infeksi) dan kepala ruangan setelah melakukakan timbang terima.
Jadi menurut kami perawat Ruang Seruni sudah melaksnanakan dan
menerapkan 5 moment cuci tangan.
5) Sasaran V : Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan
Setiap perawat di Ruang Seruni pada pasien yang terpasang infus,
NGT maupun DC dan yang mengalami post operasi selalu
memperhatikan tanda-tanda infeksi yang mungkin terjadi dan
83

apabila NGT dan DC sudah lama terpasang selama ± 10 hari akan


dilepas kemudian diganti dan dipasang lagi dengan alat yang baru
kalau memungkinkan, untuk pemasangan infus sudah terlihat
penanggalan tertulis diplester pasien jadi apabila sudah melebihi 3
hari dan apabila terjadi flebitis atau bengkak langsung dilakukan
pemasangan ulang dan untuk perawatan luka dilakukan setiap 2 hari
sekali dengan menggunakan alat yang disterilkan di CSSD.
6) Sasaran VI : Pengurangan resiko pasien jatuh
Semua tempat tidur yang ada di Ruang Seruni dalam kondisi baik,
pagar masih terpasang dengan kuat dan setiap pasien baru selalu
dikaji terkait resiko jatuh. Namun kenyataannya diruangan tidak
mengkaji resiko jatuh yang ada hanya dari Ruang IGD, di ruangan
sudah memiliki acuan di status pasien pada format pengkajian
asuhan keperawatan. Pasien yang terindikasi memiliki resiko tinggi
jatuh, belum terpasang gelang dan penandaan berwarna kuning.
7) Sasaran VII : Tenaga Kesehatan/Keunggulan RS
Dari segi tenaga keperawatan secara umum perawat sudah
mengikuti pelatihan-pelatihan khusus tentang neurologi. Pelatihan-
pelatihan tersebut diikuti untuk menambah pengetahuan tentang
penyakit syaraf dan juga untuk memenuhi syarat memperpanjang
STR (surat tanda registrasi).

3.1.2 Proses
3.1.2.1 Fungsi Perencanaan
a. Visi Ruangan Seruni
Terwujud tenaga perawat yang professional menuju pelayanan yang
optimal dan terbaik tahun 2015.

b. Misi
1. Memberikan kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk IPTEK
secara berkesinambungan agar terwujud SDM yang professional.
2. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat pada pasien
dengan gangguan sistem persyarafan
3. Mengupayakan dengan harapan dapat meminimalkan angka
kesakitan, kecacatan, dan kematian khususnya di bidang neurologi.
84

c. Tujuan
Tujuan Perawatan Ruang Seruni
Meminimalkan terjadinya kacacatan fisik akibat dari kerusakan pada
sistem saraf sensorik maupun motorik dan mengembalikan fungsi
seoptimal mungkin.

Tujuan Khusus Keperawatan


1. Memberikan pelayanan yang sesuai dengan SOP
2. Memberikan pelayanan cepat dan tepat
3. Meminimalkan infeksi nasokomial
4. Mencegah terjadinya decubitus
5. Mencegah terjadinya kontraktur
6. Mempertahankan kepatenan jalan napas
7. Menurunkan angka kematian
8. Mempersiapkan pasien terminal dengan tenang dan damai
9. Memberikan pendidikan kesehatan pasca rawat inap

d. Standar Operasional Prosedur


Standar Operasional Prosedur (SOP) Ruang Seruni:
1) SOP pemeriksaan tanda-tanda vital
2) SOP pemeriksaan sistem neurologi
3) SOP pemasangan infus
4) SOP menghitung tetesan infus
5) SOP pemasangan venflon
6) SOP oral hygine
7) SOP pemasangan kateter
8) SOP bladder training
9) SOP inhalasi oksigen
10) SOP pemeriksaan EKG
11) SOP interprestasi EKG
12) SOP pemasangan tranfusi darah
13) SOP mengukur intake output cairan
14) SOP postural drainage
15) SOP pemasangan NGT
16) SOP pemberian nutrisi lewat NGT
85

17) SOP batuk efektif


18) SOP napas dalam
19) SOP penatalaksanaan suction
20) SOP membantu menggunakan pispot
21) SOP melatih rentang gerak ROM
22) SOP mengganti alat tenun dengan pasien diatasnya
23) SOP vulva hygine
24) SOP penis hygine
25) SOP perawatan luka dekubitus
26) SOP menyiapkan obat dari ampul
27) SOP menyiapkan obat dari vial
28) SOP injeksi subcutaneous
29) SOP injeksi intramuscular
30) SOP pemberian terapi intravena
31) SOP injeksi interdermal
32) SOP pemberian obat kemoterapi
33) SOP penanganan ekstravasasi akibat obat sitostatika
34) SOP penggunaan syiring pump

e. Standar Asuhan Keperawatan


1) SAK Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan otak
2) SAK Hambatan Mobilitas fISIK
3) SAK Defisit perawatan Diri Mandi
4) SAK Defisit Perawtan Diri : Berpakaian
5) SAK Defisit perawatan diri : Makan
6) SAK Defisit Perawtan diri : Eliminasi
7) SAK Hipertermia
8) SAK Nyeri Akut
9) SAK Ketidakefektifan Pola nafas
10) SAK Intoleransi Aktivitas
11) SAK Resiko Ketidakefektifan perfusi Ginjal
12) SAK Resiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa darah
13) SAK Resiko Dekubitus
14) SAK Resiko OInfeksi
15) SAK Konstipasi
16) SAK Gangguan Eliminasi Urine
17) SAK Distress Spiritual
86

18) SAK Hipotermia


19) SAK Gangguan Volume Cairan
20) SAK Ketidakefektifan Elektrolit
21) SAK Resiko Jatuh

Berdasarkan hasil wawancara kepada Kepala Ruang Syaraf pada


tanggal 2 Januari 2019. Ruang Seruni sudah mempunyai SOP dan SAK.
Ruang Seruni sudah memiliki SOP berjumlah 34 buah dan SAK
berjumlah 21 buah. Persepsi perawat pelaksana tentang SOP dan SAK
sudah baik.

Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 11 orang perawat


yang melaksanakan Asuhan keperawatan sesuai SAK, yang menjawab
Selalu 4 orang (36,4%), Sering 5 orang (45,4%) Kadang-kadang 2
orang (18,2%).

Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 11 orang perawat


yang melaksanakan Asuhan keperawatan sesuai SOP, yang menjawab
Selalu 4 orang (36,4%), Sering 5 orang (45,4%), Kadang-kadang 2
orang (18,2%).

f. Standar Kinerja
Menurut wawancara pada tanggal 2 Januari 2019 kepada Kepala
Ruangan di Ruang Seruni tidak memiliki kebijakan toleransi untuk
kehadiran apabila ada kejadian yang tidak diinginkan. Karena melalui
finger print sehingga pihak rumah sakit yang memberikan sanksi oleh
komisi disiplin, dan yang disiplin diberikan reward oleh pihak rumah
sakit.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dari tanggal 1-3 Januari


2019 Ruang Seruni tidak mempunyai kebijakan khusus untuk perawat
yang tidak disiplin. Namun hanya peraturan yang sudah ditetapkan oleh
rumah sakit, misalnya seperti pengaturan jam kerja, pengaturan
penggunaan pakaian dinas harian, namun belum adanya sanksi
keterlambatan jam dinas.
87

Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 11 orang perawat


didapatkan bahwa yang menjawab Selalu 5 orang (45,4%), Sering 5
orang (45,4%), Kadang-kadang 1 orang (9,1%) terhadap standar kinerja

3.1.2.2 Fungsi Pengorganisasian


1) Struktur Organisasi
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan, didapatkan
bahwa sudah terdapat struktur organisasi yang dibuat meliputi, Kepala
Ruangan, Supervisor, Katim dan perawat pelaksana.

Dari hasil observasi didapatkan kalau struktur organisasi di Ruang


Seruni sudah terpampang dalam bentuk banner.

Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan tentang struktur organisasi


kepada 11 orang perawat ada 5 orang (45,4%) sudah sangat
memahami, 4 orang (36,4%) memahami, dan 2 orang (18,2%) cukup
memahami.

2) Uraian Tugas
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan, diketahui bahwa
pembagian tugas ruangan berdasarkan dengan jenjang karir dan uraian
tugas yang dibuat oleh Rumah Sakit dan ruangan secara tertulis.

Dari hasil observasi didapatkan kalau pembagian tugas di Ruang Seruni


sesuai dengan status dan jabatan yang dimiliki perawat dan sudah
terdokumentasi dengan baik dalam uraian tugas.

Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 11 orang perawat


tentang pembagian tugas, yang menjawab Selalu 4 orang (36,4%),
Sering 5 orang (45,4%), Kadang-kadang 2 orang (18,2%).

3) Pengaturan Daftar Pasien


Berdasarkan wawancara tanggal 2 Januari 2019 dengan kepala ruangan,
pengaturan pengorganisasian pasien berdasarakan jumlah pasien yang
harus seimbang antar tim Seruni dan Stroke Center, dimana jika pada
perawatan yang minimal dan partial diletakkan di Seruni sedangkan
dengan pasien perawatan total care diletakkan di Stroke Center.
88

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1-3 Januari 2019 bahwa


pengaturan pengorganisasian perawatan pasien dilakukan sudah baik, di
bagi berdasarkan jumlah pasien kelolaan antar tim. Kamar-kamar bagi
pasien sudah diatur seperti pengklasifikasian kamar antara kelas II dan
III serta adanya kamar isolasi untuk pasien dengan kasus khusus atau
diagnosa seperti penyakit menular, pasien dengan resiko infeksi tinggi
dan lain-lain.

Dari hasil kuisioner 11 perawat tentang pengorganisasian pasien


didapatkan perawat yang memahami 8 orang (72,8%), Cukup
memahami 3 orang (37,5%).

3.1.2.3 Ketenagaan
a. Sistem Perhitungan Tenaga
Pada saat pengkajian hari tanggal 1-3 Januari 2019 di Ruang Seruni
RSUD Ulin Banjarmasin. Di Ruang Seruni memiliki 1 tim kerja yang
terdiri dari 12 orang perawat pelaksana.
1) Tenaga Mahasiswa Praktik
Mahasiswa yang saat ini berpraktik di Ruang Seruni diikuti oleh
beberapa institusi, institusi yang berpraktik saat ini yaitu mahasiswa
STIKES Cahaya Bangsa Profesi Ners A stase KMB berjumlah 3
orang.

2) Kebutuhan Tenaga Keperawatan


Kebutuhan tenaga perawat di Ruang Seruni RSUD Ulin Banjarmasin
dari hasil pengkajian tanggal 1-3 Januari 2019 adalah sebagai
berikut:
Menurut Douglas klasifikasi pasien berdasarkan tingkat
ketergantungan :

Tabel 3.11 Klasifikasi Pasien


KLASIFIKASI DAN KRITERIA
Minimal Care (1-2 jam)
a. Dapat melakukan kebersihan diri sendiri, mandi, ganti pakaian dan minum.
b. Pengawasan dalam ambulasi atau gerakan.
c. Observasi Tanda vital setiap shift.
89

KLASIFIKASI DAN KRITERIA


d. Pengobatan minimal, status psikologi stabil.
e. Persiapan prosedur pengobatan

Intermediate Care (3-4 jam)


a. Dibantu dalam kebersihan diri, makan dan minum, ambulasi.
b. Observasi tanda vital tiap 4 jam.
c. Pengobatan lebih dari 1 kali.
d. Pakai foley kateter.
e. Pasang infuse, intake out-put dicatat.
f. Pengobatan perlu prosedur.
Total Care (5-6 jam)
a. Dibantu segala sesuatunya.
b. Posisi diatur.
c. Observasi tanda vital tiap 2 jam.
d. Pakai NGT.
e. Terapi intravena, pakai suction.
f. Kondisi gelisah/disorientasi/tidak sadar.

Tabel 3.12 Perhitungan Tenaga Menurut Douglas


Rata-rata jumlah pasien Februari 2018
Klasifikasi
P S M
Minimal Care 0.68 x 4 = 2.72 0.56 x 4 = 2.24 0.28 x 4=1.12

Partial Care 0.27 x 1 =0.27 0.15 x 1 = 0.15 0.10 x 1= 0.10

Total Care 0.72 x 2 = 1.44 0.60 x 2= 1.2 0.40 x 2 = 0.8

Jumlah 4.43 3.59 2.02

Berdasarkan hasil perhitungan menurut Douglas maka :


Jumlah Perawat : 4.43 + 3.59 + 2.02 = 10 (10.04) orang
Penambahan untuk loss day : 1/3 x 10 orang = 3 orang
Kepala Ruangan : 1 orang
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan adalah = 10 + 3 + 1 = 14 orang

3.13 Perhitungan tenaga menurut Depkes 2002


a. Berdasarkan klasifikasi pasien:
Cara perhitungan berdasarkan :
 Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis
kasus
90

 Rata-rata pasien perhari


 Jam perawatan yang diperlukan /hari/pasien
 Jam perawatan yang diperlukan /ruangan/hari
 Jam kerja efektif setiap perawat/7 jam perhari

Perhitungan kebutuhan tenaga dalam satu ruangan


No Jenis/Kategori Rata-rata Rata-rata jam Jumlah
pasien/hari perawatan jam
pasien /hari perawatan
/hari
1 Seruni/saraf 10 3.5 35

Jumlah 10 35

Keterangan :
Jumlah jam perawatan/hari = 35 = 5
Jam kerja efektif per shift 7
Untuk perhitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambahkan
dengan faktor koreksi, yang meliputi :
(1) Hari libur/cuti/hari besar (loos day)

Jumlah hari minggu dalam 1 tahun + cuti + hari besar x jumlah perawat yang tersedia
jumlah hari kerja efektif
52+12+14=78 hari
x 5 = 1,4 orang
286

(2) Jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas-tugas


non keperawatan
Jumlah tenaga keperawatan+loss day x 25
=
100

5 +1,4 x 25 =0,4
100
Jumlah tenaga : yang tersedia + faktor risiko
6,4 + 0,4 = 7 orang perawat
91

Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan kebutuhan tenaga


perawat di Ruang seruni yaitu 7 orang. Ruang seruni saat ini
memiliki 13 orang tenaga perawat yang sudah terhitung karu
dan 1 supervisor, itu berarti di ruangan ini sudah sesuai dengan
tenaga jumlah perawat.

Hasil observasi pada tanggal 1-3 Januari 2019 didapatkan bahwa


tidak semua tempat tidur klien terisi penuh hanya ada 7 dari 15
tempat tidur yang ada ditempati klien dan tingkat
ketergantungan klien rata - rata adalah partial care.

b. Pengaturan Jadwal Dinas


Di Ruangan Syaraf, pengaturan jadwal dinas dilakukan oleh Supervisor
dengan menempatkan Kepala Ruangan, Katim pada shift pagi dan
perawat pelaksana paling banyak yang dinas pada shift pagi. Pembagian
perawat yang berdinas setiap harinya seimbang antara shift pagi, siang,
dan malam, selalu ada perawat penanggung jawab disetiap shift.
Apabila shift pagi, maka perawat penanggung jawab adalah Katim, dan
untuk shift siang dan malam yang bertanggung jawab adalah perawat
yang berdinas dan diserahi tanggung jawab oleh Katim.

3.1.2.4 Fungsi Pengarahan


a. Operan
Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala ruangan, tanggal 2 Januari
2019 timbang terima dilakukan pada pergantian shift dinas malam ke
dinas pagi yang dipimpin oleh kepala ruangan dengan metode
komunikasi SBAR, sedangkan pergantian shift dari pagi ke sore
dipimpin oleh ketua tim. Kemudian untuk timbang terima pada
pergantian dinas sore ke dinas malam dilakukan oleh perawat pelaksana
yang berdinas. Timbang terima pada shift dinas malam ke dinas pagi
dilakukan di nurse station, kemudian dilakukan dengan melihat
langsung kondisi pasien namun perawat tidak ada menyebutkan
nama/memperkenalkan diri dengan pasien nama perawat yang
bertanggung jawab berikutnya, setelah itu perawat kembali ke nurse
station untuk mendiskusikan hasil validasi data atau terkait hal-hal yang
hendak diklarifikasi ulang secara langsung. Pada timbang terima dari
92

shift pagi ke shif sore dan shift sore ke shif malam hanya dilakukan di
nurse station saja tanpa keliling ke ruangan pasien.

Hasil observasi tanggal 1-3 Januari 2019, timbang terima di Ruang


Seruni dilakukan setiap pergantian shift malam ke pagi (pukul 08.00
Wita) yang diikuti oleh perawat shif malam dan shif pagi serta
mahasiswa yang bertugas di Ruang Seruni (Syaraf). Beberapa kelebihan
pelaksanaan timbang terima di Ruang Seruni (Syaraf) adalah timbang
terima dipimpin langsung oleh kepala ruangan. Isi timbang terima
sudah meliputi S-BAR, meliputi nama dan ruang pasien, diagnosa
medis dan kondisi pasien. Untuk masalah keperawatan, intervensi yang
telah dan belum dilakukan sudah dilaporkan secara detail. Timbang
terima di Ruang Seruni dilaksanakan oleh Kepala ruangan langsung di
shift malam dan pagi dengan ke 2 Tim kumpul dalam satu meja di nurse
station dan seluruh staf perawat pelaksana yang berganti shift namun
tidak melakukan timbang terima di ruang pasien. Begitu juga dengan
timbang terima untuk shif pagi ke siang dan shift siang ke shif malam
tidak maksimal dilaksanakan. Timbang terima wajib diikuti oleh
mahasiswa yang berdinas di Ruang Seruni.
Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 8 orang perawat
yang menjawab Selalu mengikuti kegiatan timbang terima 4 orang
(50,0%), Sering 2 orang (25,0%), Kadang-kadang 2 orang (25,0%).

b. Preconferen dan Postconferen


1) Preconferen
Berdasarakan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2
Januari 2019 Preconference sudah dilakukan.

Berdasarkan hasil observasi, kepala ruangan dan perawat melakukan


preconference mengenai kondisi pasien, yang ada di Ruang Seruni
namun masih belum maksimal.

Hasil kuesioner dari 11 orang perawat tentang prekonferen yang


menyatakan Sering dilakukan 3 orang (27,3%), Kadang-kadang 4
orang (36,4%), Jarang 1 orang (9,1%) .

2) Postconferen
93

Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2


Januari 2019 Postconferen hanya kadang-kadang dilakukan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 1-3 Januari


2019, didapatkan bahwa postconference sudah dilakukan namun
tidak optimal

Hasil kuesioner dari 11 orang perawat tentang postconferen yang


menyatakan Sering dilakukan 2 orang (18,2%), Kadang-kadang 5
orang (45,5%), Jarang 1 orang (9,1%)

c. Motivasi
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2 Januari
2019 motivasi kepada perawat sudah dilakukan namun hanya secara
lisan saja dan peningkatan motivasi sebenarnya sudah dilakukan oleh
rumah sakit baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya,
adanya pelatihan-pelatihan yang diikuti dan pemberian reward kepada
perawat teladan setiap tahunnya untuk memotivasi perawat untuk
memberikan pelayanan kepada pasien dengan lebih baik.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1-3 Januari2019, didapatkan


bahwa motivasi selalu dilakukan oleh kepala ruangan dan ketua tim
secara lisan.

Hasil kuesioner dari 11 perawat menunjukkan bahwa hanya 1 orang


(9,1%) perawat yang belum mendapatkan motivasi berupa pelatihan
yang dibutuhkan untuk perawatan pasien di ruangan.

d. Pendelegasian
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 1 Januari
2019 pendelegasian dari kepala ruangan kepada staf di Ruang Seruni
hanya secara lisan dan tidak tertulis.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1-3 Januari 2019, format


pendelegasian secara khusus belum ada.

e. Supervisi
94

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Seruni pada


tanggal 2 Januari 2019, di Ruang Seruni sudah ada supervisi sendiri
yang dilaksanakan oleh supervisor ruangan dan ada juga supervisi
harian dari perawat-perawat senior yang di tunjuk secara resmi oleh
pihak rumah sakit.

Dari hasil obsevasi didapatkan bahwa kegiatan supervisi ruangan


dilakukan setiap hari oleh supervisor ruangan tetapi hanya secara in
formal dan langsung ke ketua tim atau pun perawat pelaksana yang
berdinas

Hasil kuesioner dari 11 orang perawat tentang pelaksanaan supervisi,


yang menyatakan Sering 5 orang (45,5%), Kadang-kadang 3 orang
(27,3%).

f. Ronde Keperawatan
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2
Januari 2019, pelaksanaan ronde keperawatan hanya kadang-kadang
dan tidak terjadwal dengan baik.

Hasil observasi tanggal 1-3 Januari 2019 bahwa hanya timbang terima
antara kepala ruangan dengan perawat jaga setiap pagi yang dilakukan,
selebihnya visite bersama dokter spesialis, dan ada tapi jarang
dilakukan dan tidak terjadwal.

Berdasarkan hasil kuesioner dari 11 orang perawat tentang kegiatan


ronde keperawatan, perawat yang menyatakan Sering 1 orang (9,1%),
Kadang-kadang 6 orang (54,5%), Jarang 1 orang (9,1%).

3.1.2.5 Fungsi Pengendalian


a. Indikator Mutu
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2 Januari
2019, menurut kepala Ruang Seruni untuk indikator mutu seperti pasien
infeksi nosokomial, kejadian dekubitus dan kejadian jatuh sebagai tolak
ukur untuk meningkatkan mutu pelayanan Ruang Seruni masih belum
optimal.
95

Berdasarkan hasil observasi, belum ada sistem pelaporan, format


pengendalian dan pencacatan kegiatan pengendalian mutu di ruangan,
sudah terdapat sasaran peningkatan mutu yang ditempel di ruangan
tetapi tidak terdapat indikator peningkatan mutu.

b. Audit Dokumentasi Keperawatan


Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2 Januari
2019, menurut kepala Ruang Seruni sosialisasi audit dokumentasi
keperawatan sudah terlaksana.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 1-3 Januari 2019, didapatkan


bahwa dokumentasi keperawatan di Ruang Seruni meliputi pengkajian,
penetapan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan
evaluasi keperawatan sudah terdokumentasi

c. Survei Kepuasan pasien


Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2
Januari 2019 menurut kepala Ruang Seruni survey kepuasan pasien
direkapitulasi setiap 6 bulan oleh bidang pelayanan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 1-3 Januari


2019, survei kepuasan pasien belum dilakukan sendiri di Ruang Seruni.

Dari hasil kuisioner dengan 25 item pertanyaan didapatkan bahwa 80%


menyatakan puas terhadap pelayanan yang diberikan di Ruang Seruni
dan (20%) menyatakan tidak puas.

d. Survey Masalah Pasien


Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 2 Januari
2019, rumah sakit sudah memiliki tim untuk rekapitulasi tentang
pelayanan di rumah sakit, Ruang Seruni belum memiliki rekapitulasi
komplain pasien, menurut kepala Ruang Seruni rekapitulasi komplain
pasien dilakukan 6 bulan sekali oleh bagian pelayanan.
96

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 2 Januari 2019, didapatkan


bahwa rekapitulasi komplain pasien khusus untuk Ruang Seruni sudah
ada di depan ruangan seruni tetapi belum optimal.

3.1.3 Output
3.1.3.1 Efisiensi Ruang Rawat
a. BOR (Bed Occupancy Ratio / Angka penggunaan tempat tidur) :
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat
pemanfaatan tempat tidur rumah sakit ideal BOR adalah antara 60% -
85% (Depkes RI, 2005).
Rumus :
BOR = ((Jumlah hari perawatan rumah sakit) / (Jumlah tempat
tidur X Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%

288
=
15 x 31
288
= x x 100 = 62%
465

b. AVLOS (Average Length of Stay / Rata-rata jam pasien dirawat) :


Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayana, apabila diterapkan
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang
lebih lanjut dengan rentang nilai ideal antara 6-9 hari (Depkes RI, 2005)
Rumus :
AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

173
= = 4 Hari
41

c. TOI (Trun Over Interval / Tenggang perputaran) : Indikator ini


memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Ideal
tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari (Depkes RI, 2005)
Rumus :
97

TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah


pasien keluar (hidup + mati)

(15 x 31) - 173 292


= = = 7 hari
41 41

d. BTO (Bed Turn Over / Angka perputaran tempat tidur) : frekuensi


pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur
dipakai dalam satu-satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun,
satu tempat tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali (Depkes RI, 2005)
Rumus :
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur

41
= 15

= 3 Kali

e. NDR (Net Death Rate) : angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk
tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indicator ini memberikan gambaran
mutu pelayanan dirumah sakit (Depkes RI, 2005)
Rumus :
NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar (hidup
+ mati)) X 1000 permil

4
= x 1000
41

= 10 Permil

f. GDR (Gross Death Rate) : angka kematian umum untuk setiap 100
penderita keluar (Depkes RI, 2005).
Rumus :
GDR = (Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar
(hidup + mati)) X 1000 permil

8
98

= x 1000 = 195%
41

3.1.3.2 Hasil Evaluasi penerapan SAK (Instrumen ABC)


a. Instrumen Dokumentasi
Studi dokumentasi pada pengkajian tanggal 1-3 Januari 2019, 5 status
pasien di Ruang Seruni Berdasarkan tabel dibawah ini tentang hasil
status pasien terhadap format evaluasi standar Asuhan Keperawatan
dengan instrument A diketahui bahwa Asuhan Keperawatan di Ruang
Seruni di RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan hasil evaluasi
pendokumentasian cukup baik pada pengkajian, dan baik pada diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi dan cukup baik catatan
keperawatan.

Tabel 3.13 Instrumen Dokumnetasi


N Status 1 Status 2 Status 3 Status 4 Status 5 Persentasi
Item Penilaian
O (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 Pengkajian 70 80 70 70 70 72%
2 Diagnosa 80 85 80 80 80 81%
Keperawatan
3 Perencanaan 80 85 80 80 80 81%
4 Implementasi 80 85 80 80 80 81%
5 Evaluasi 80 85 80 80 80 81%
6 Catatan 75 80 75 80 80 78%
Keperawatan
Total 79%

b. Instrumen Kepuasan
Kepuasan Pasien
Tabel 3.14 Kepuasan Pasien
JAWABAN TOTAL
NO DAFTAR PERTANYAAN
Y % T % %
1 Apakah perawat selalu memperkenalkan
3 42,9 4 57,1 100
diri?
2 Apakah perawat melarang
anda/pengunjung merokok diruangan? 7 100 0 0 100
3 Apakah perawat selalu menanyakan
bagaimana nafsu makan anda/keluarga 7 100 0 0 100
anda?
4 Apakah perawat pernah menanyakan
pantangan dalam hal makanan 7 100 0 0 100
anda/keluarga anda?
5 Apakah perawat
menanyakan/memperhatikan berapa
7 100 0 0 100
jumlah makanan dan minuman yang
biasa anda/keluarga anda habiskan?
6 Apabila anda/keluarga anda tidak mampu
makan sendiri apakah perawat membantu 3 42,9 4 57,1 100
menyuapinya?
99

7 Pada saat anda/keluarga anda dipasng


infus. Apakah perawat selalu memeriksa
cairan/tetesannya dan area sekitar 7 100 0 0 100
pemasangan jarum infus?
8 Apabila anda/keluarga anda mengalami
kesulitan buang air besar. Apakah
perawat menganjurkan makan buah- 7 100 0 0 100
buahan, sayuran, minum yang cukup dan
banyak bergerak?
9 Pada saat perawat membantu
anda/keluarga anda waktu buang air
besar – buang air kecil, Apakah perawat,
3 42,9 4 57,1 100
memasang sampiran/selimut, menutup
pintu jendela, mempersilakahkan
pengunjung keluar ruangan?
10 Apakah ruangan tidur anda/keluarga anda
selalu dijaga kebersihannya dengan 7 100 0 0 100
disapu dan dipel setiap hari?
11 Apakah lantai kamar mandi/WC selalu :
bersih, tidak licin, tidak berbau, dan 5 71,4 2 28,6 100
cukup terang?
12 Selama anda/keluarga anda belum
mampu mandi (dalam keadaan istirahat 2 28,6 5 71,4 100
total) apakah dimandikan perawat?
13 Apakah anda/keluarga anda dibantu oleh
perawat jika tidak mampu : menggosok
gigi, membersihkan mulut atau 3 42,9 4 57,1 100
mengganti pakaian atau menyisir
rambut?
14 Apakah alat-alat tenun seperti sprei,
selimut dll diganti setiap kotor? 6 85,7 1 14,3 100
15 Apakah perawat pernah memberikan
penjelasan akibat dari : kurang bergerak, 6 85,7 1 14,3 100
berbaring terlalu lama?
16 Pada saat anda/keluarga anda masuk
rumah sakit apakah perawat memberikan
penjelasan tentang fasilitas yang tersedia 5 71,4 2 28,6 100
dan cara penggunaanya, peraturan/tata
tertib yang berlaku dirumah sakit?
17 Selama anda/keluarga anda dalam
perawatan, apakah perawat : memanggil 7 100 0 0 100
nama anda dengan benar?
18 Selama anda/keluarga anda dalam
perawatan apakah perawat mengawasi
7 100 0 0 100
keadaan anda secara teratur pada pagi,
sore maupun malam hari.
19 Selama anda/keluarga anda dalam
perawatan , apakah perawat segera 7 100 0 0 100
memberi bantuan bila diperlukan?
20 Apakah perawat bersikap sopan dan
7 100 0 0 100
ramah?
21 Apakah anda/keluarga anda mengetahui
perawat yang bertanggung jawab setiap 5 71,4 2 28,6 100
kali pergantian dinas?
22 Apakah perawat selalu memberi
penjelasan sebelum melakukan tindakan 7 100 0 0 100
perawatan/pengobatan?
23 Apakah perawat selalu bersedia
mendengarkan dan memperhatikan setiap 7 100 0 0 100
keluhanan anda/keluarga anda?
24 Dalam hal memberikan obat apakah
perawat membantu 6 85,7 1 14,3 100
100

menyiapkan/meminumkan obat?

25 Selama anda/keluarga anda dirawat


apakah diberikan penjelasan tentang
Perawatan/pengobatan/pemeriksaan 2 28,6 5 71,2 100
lanjutan setelah anda/keluarga anda
diperbolehkan pulang.
TOTAL 100

Keterangan:
Nilai Range
38-50 : Puas
25-37,5 : Tidak Puas

Berdasarkan hasil evaluasi melalui kuesioner pada 7 klien/keluarga


yang telah dilakukan pada tanggal 1 sampai 2 Januari 2019 didapatkan
kesimpulan bahwa sebagian pasien mengatakan puas (80%). Dan yang
mengatakan tidak puas (20%)

Kepuasan Perawat
Tabel 3.15 Kepuasan Perawat

No Pertanyaan SP P CP TP STP
1 Jumlah gaji yang diterima
dibandingkan pekerjaan yang saudara 0% 41,7% 25% 33,3% 0
lakukan
2 Sistem pengkajiaan yang dilakukan
institusi tempat saudara bekerja 0% 0% 66,6% 33,3% 0

3 Jumlah gaji yang diterima


dibandingkan pendidikan saudara 0% 33,3% 33,3% 33,3% 0

4 Pemberian insentif tambahan atas suatu


prestasi atau kerja ekstra 0 0% 66,6% 33,3% 0

5 Tersedianya peralatan dan


perlengkapan yang mendukung 0 0% 66,6% 33,3% 0%
pekerjaan
6 Tersedianya fasilitas penunjang seperti
kamar mandi, kantin, parker 0 0% 91,6% 8,3% 0%

7 Kondisi ruangan kerja terutama


berkaitan dengan ventilasi udara, 0 0% 75%% 25% 0%
kebersihan dan kebisingan
8 Adanya jaminan atas kesehatan atau
keselamatan kerja 0 50% 8,3% 41,6 0

9 Perhatian institusi rumah sakit terhadap


saudara 0 0% 66,6% 33,3% 0%

10 Hubungan antara karyawan dalam


kelompok kerja 0% 50% 41,6% 0 0

11 Kemampuan dalam bekerja sama antar


karyawan 0% 50% 41,6% 8,3% 0
101

12 Sikap teman-teman sekerja terhadap


saudara 0% 58,3% 33% 8,3% 0

13 Kesesuaian antara pekerjaan dan


latarbelakang pendidikan saudara 0% 58,3% 33% 8,3% 0

14 Kemampuan dalam menggunakan


waktu bekerja dengan penugasan yang 0% 0% 100% 0 0
diberikan
15 Kemampuan supervise/pengawas
dalam membuat keputusan 0% 0% 41,6% 58,3% 0

16 Perlakuan atasan selama bekerja di sini


0 58,3% 33% 8,3% 0

17 Kebebasan dalam melakukan suatu


metode sendiri dalam menyelesaikan 0% 58,3% 41,6% 0 0
pekerjaan
18 Kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan 0% 8,3% 0% 75% 16,6%
atau pendidikan tambahan
19 Kesempatan untuk mendapatkan posisi
lebih tinggi 0% 8,3% 50% 41,6% 0

20 Kesempatan membuat suatu prestasi


dan mendapatkan kenaikan pangkat 0% 0% 91,6% 8,3 0

Keterangan:
Nilai Range
85-100 : Sangat Puas
69-84 : Puas
53-68 : Cukup Puas
37-52 : Tidak Puas
20-36 : Sangat tidak puas

Hasil kuesioner pada perawat di Ruang Seruni RSUD Ulin Banjarmasin


menyatakan bahwa dari 11 orang perawat, yang menyatakan Sangat
Puas = 0, Puas = 8 orang, Cukup Puas 11 orang, Tidak Puas 11 dan
Sangat Tidak Puas = 0.

c. Instrumen SOP
Tabel 3.16 Instrumen SOP

No Judul SOP Persentase (%)


1 Pemasangan Infus 94 %
2 Pemasangan Keteter 82 %
3 Pemasangan O2 100 %
4 Pemasangan NGT 91,3 %
5 Dressing Dekubitus 100 %
102

Rata-rata 90,8 %

Hasil evaluasi tindakan pemasangan Infus melalui observasi pada


tanggal 1-3 Januari 2019, didapatkan dari 18 item yang dinilai, terdapat
17 item yang dilakukan yaitu 94%, dengan tindakan yang terbanyak
tidak dilakukan adalah membentangkan pengalas dibawah anggota
badan yang akan dipasang infus.

Hasil evaluasi tindakan pemasangan Kateter melalui observasi pada


tanggal 1-3 Januari 2019, dari 11 item yang dinilai didapatkan ada 9
item yang dilakukan yaitu 82 %, dengan tindakan yang terbanyak tidak
dilakukan adalah pemasangan pengalas, vulva atau penis hygiene

Hasil evaluasi pemasangan NGT melalui observasi pada tanggal 1-3


Januari 2019, dari 23 item yang dinilai didapatkan ada 21 item yang
dilakukan, yaitu 91,3 %, dengan 2 tindakan yang tidak dilakukan antara
lain tidak menaruh handuk didada klien dan tidak mengoleskan alkohol
di ujung hidung klien.

Hasil evaluasi perawatan pemasangan O2 melalui observasi pada


tanggal 1-3 Jaauari 2019, dari 8 item yang dinilai terdapat 8 item yang
dilakukan yaitu 100%.

Hasil evaluasi Dressing dekubitus melalui observasi pada tanggal 1-3


Januari 2019, dari 17 item yang dinilai 17 item yang dilakukan (100%).

3.1.4 Identifikasi Masalah


3.1.4.1 Strength / Kekuatan
M1 (Ketenagaan)
a. Jenis ketenagaan di ruangan:
Magister : 0 orang
Sarjana Keperawatan Ners : 1 orang
Sarjana Keperawatan : 1 orang
D III Keperawatan : 9 orang
1. Perawat mengatakan untuk sasaran keselamatan pasien hanya
melanjutkan skrining form yang dari IGD hal tersebut dilakukan
kadang-kadang tergantung yang berdina.
103

2. Perawat mengatakan kadang penandaan risiko jatuh antara perawat


ruangan dan perawat IGD berbeda tergantung kondisi pasien.
3. Keluarga pasien mengatakan tidak ada penjelasan mengenai risiko
jatuh secara terperinci oleh petugas IGD dan oleh perawatruangan.
4. Keluarga pasien me3ngatakan hanya inisiatif sendiri memberi
pengamanan dengan memakai pagar bed.

Wawancara :
1. Menurut perawat pengkajian keselamatan pasien kadang-kadang
dilakukakan pengkajian ulang tergantung perawat yang bertugas saat
itu
Observasi:

1. Berdasarkan data terdapat 15 bed yang dalam keadaan kondisi baik,


bed sesuai dengan standar akreditasi.
2. Masih tidak adaadanya form dalam rekam medik penjelasan tentang
tindakan invasif.
3. Tidak adanya penandaan tanggal pemsangan infus pada pasien
4. Berdasarkan hasil kuesioner dengan perawat tentang audit mutu
kejadian pasien risko jatuh, 4 perawat (36,4%) menyatakan jarang
dilakukan audit mutu kejadian risiko jatuh, 7 atau (63,6%) perawat
menyatakan kadang-kadang.

M2 (Sarana Dan Prasarana)


a. Ruang Seruni memiliki fasilitas yang memadai.
b. Fasilitas yang didapatkan di Ruang Seruni seperti WC klien sudah
mencukupi, terdapat WC pada setiap blok ruangan.
c. Mempunyai peralatan oksigen dan semua perawat ruangan mampu
menggunakannya.
d. Buku kelengkapan administrasi yang terdapat di Ruang Seruni meliputi
arsip pembayaran, buku sensus dan status pasien, buku penyerahan
status MR, buku penyerahan BPJS, buku harian dan visite dokter, buku
panduan SPO, dan SAK, buku injeksi dan pemeriksaan vital sign, dan
buku pelayanan gizi klien sudah terlihat bagus dan sudah digunakan.
104

M3 Method (MPKP)
Penerapan Model
a. Sudah ada model asuhan keperawatan yang digunakan yaitu metode
tim.
b. Model yang digunakan sesuai dengan visi dan misi ruangan.
c. Hampir semua perawat mengerti/memahami model yang digunakan dan
menyatakan cocok dengan model yang ada.
d. Memiliki standar asuhan keperawatan.
e. Model yang digunakan cukup efisien.
f. Terlaksananya komunikasi yang cukup baik antar profesi.

Dokumentasi Keperawatan
a. Tersedianya sarana dan prasarana (administrasi penunjang).
b. Sudah ada sistem pendokumentasian terintegrasi.
c. Dokumentasi keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian
menggunakan sistem Head to Toe serta diagnosis keperawatan sampai
dengan evaluasi dengan menggunakan SOAP.
d. Format pengkajian sudah ada dan dapat memudahkan perawat dalam
pengkajian dan pengisiannya.
e. Kebanyakan/hampir semua perawat mengerti cara pengisian format
dokumentasi yang digunakan dengan benar dan tepat.
f. Perawat melakukan dokumentasi segera setelah melakukan tindakan.
g. Format yang digunakan sangat membantu dalam melakukan pengkajian
pada pasien.

Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan perrnah dilakukan pada saat mahasiswa melakukan
praktek

Desentralisasi Obat
a. Semua perawat mengerti tentang desentralisasi obat
b. Di ruangan tersebut ada desentralisasi obat. Ini dilihat dari adanya
lemari khusus obat
c. Sebagian besar perawat pernah mengurusi desentralisasi obat.

Supervisi
105

a. RSUD Ulin Banjarmasin merupakan RS pendidikan tipe A yang


menjadi RS rujukan bagi wilayah setempat
b. Adanya kemauan perawat untuk berubah.
c. Kepala ruangan mendukung kegiatan supervisi demi mutu pelayanan
keperawatan

Timbang Terima
a. Timbang terima merupakan kegiatan rutin, yaitu dilaksanakan 3x sehari
b. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas
c. Dipimpin oleh kepala ruangan setiap pagi
d. Adanya klarifikasi tanya jawab dan validasi terhadap semua yang
ditimbang terima
e. Semua perawat tahu hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam timbang
terima
f. Selalu ada interaksi dengan pasien selama timbang terima
g. Semua perawat mengetahui prinsip-prinsip tentang teknik penyampaian
timbang terima dihadapan pasien
h. Ada buku khusus untuk pelaporan.
i. Setelah dilaporkan, laporan ditandatangani oleh yang bersangkutan

Discharge Planning
a. Perawat menggunakan bahasa yang mudah dimengerti saat perencanaan
pulang
b. Adanya pemahaman tentang perencanaan pulang oleh perawat
c. Discharge planning sudah dilakukan di awal pasien masuk dan saat
pasien pulang.

M4 (Money)
a. Dana operasional ruangan diperoleh dari rumah sakit
b. Dana fasilitas kesehatan diperoleh dari rumah sakit
c. Mayoritas pembiayaan pasien menggunakan BPJS (Badan
Penyelanggara Jaminan Sosial)

M5 (Marketing)
a. Adanya SAK, SPO dan Crinical Pathway sebagai pedoman dalam
melaksanakan tindakan keperawatan
106

b. Sebagai tempat praktik mahasiswa keperawatan D3 maupun S1


Keperawatan

3.1.4.2 Weakness/Kelemahan
M1 (Ketenagaan)
a. Tenaga kerja di ruangan masih kurang sehingga pelaksanaan MPKP
masih belum maksimal.
b. Belum semua tenaga perawat mendapatkan pelatihan perawatan luka
dan pelatihan cidera kepala.
c. Masih ada sebagian perawat yang melakukan tindakan keperawatan
tidak sesuai dengan SOP yang sudah ditetapkan.

M2 (Sarana Dan Prasarana)


a. Belum terpakainya sarana dan prasarana secara optimal.
b. Wastafel disediakan 1 buah.
c. Handscrub sudah disediakan di ruangan pasien.
1. Perawat mengatakan kadang-kadang mengaplikasikan 5 moment
2. Perawat mengatakan jarang mengaplikasikan 5 moment karena
terbatasnya pengadaan handsoap dan handscrub

Wawancara:
1. Dari hasil wawancara perawat mengatkan terbatasnya pengadaan
handsoap dan handscrub
Observasi:
1. Perawat tidak meaplikasikan 5 moment karena terbatasnya handsoap,
handscrub dan beban kerja yang banyak

M3 Method (MPKP)
Penerapan Model
a. Menurut KEMENKES tenaga kerja diruangan masih kurang sehingga
pelaksanaan MPKP masih belum maksimal
b. Job kadang-kadang tidak sesuai dengan lulusan akademik yang berbeda
tingkatannya (kurang jelas)

Dokumentasi Keperawatan
Sistem pendokumentasian masih dilakukan secara manual (belum ada
komputerisasi)

Ronde Keperawatan
107

a. Ronde keperawatan yang kurang sesuai dengan teori.


b. Tidak adanya pembentukan tim dalam pelaksanaan ronde keperawatan.

Desentralisasi Obat
Sudah ada tersedianya format serah terima desentralisasi obat untuk pasien
Perawat mengatakan sebgaian rekannya menerapkan prinsip 12 benar obat dan
sebgiannya kadang-kadang melakukan dan kadang-kadang tidak.

Wawancara :
Dari 11 perawat ruangan terdapat 7 atau (63,4%) orang yang rutin
menerapkan 12 benar obat dan 4 atau (36, 4%) oarang yang kadang-
kadang menerapkan 12 benar obat.
Observasi:
Saat memebri obat masih adapetugas yang tidak menerapkan 12 benar
obat misalnya dalam benar waktu dan benar reaksi dengan obat lain.
Supervisi
Belum adanya format penilaian supervisi

Timbang Terima
Timbang terima hanya dilakukan di Ners Station menggunakan
komunikasi SBAR, tidak dilanjutkan timbang terima ke ruang pasien dan
tidak ada serah terima perawat yang dinas.
Kepala ruangan mengatakan timbang terima dilakukan saatpergantian dari
shift malam ke pagi
Perawat mengatkan timbang terima rutin dilakukan waktu dinas pagi saja
Observasi :
1. Timbang terima dilakukan saat pergantian dari shift malam ke pagi
Wawancara:
1. Timbang terima masih kurang optimal dilakukan pada pergantian
shift, setiap pergantian shift baik dari shift siang dan shift malam.

Discharge Planning
a. Pelaksanaan perencanaan pulang belum optimal
b. Leafleat sudah tersedia tapi belum optimal
108

c. Keterbatasan waktu perawat dalam pemberian penkes


d. Belum optimalnya pendokumentasian perencanaan pulang
e. Perawat mengatakan pelaksanaan discard planning kadang-kadang
dilakukan.
f. Pasien dan keluarga mengatakan kadang ada perawat yang menjelaskan
hal-hal yang harus dipersiapkan saat pasien pulang
g. Pasien dan keluarga mengatakan hanya diberikan penjelasan secara
optimal tanpa diberikan leaflet.

Wawancara :
1. Form discard planning sudah tersedia dalam rekam medic tapi kadang
masih adaperawat yang tidak melaksanakan saat pasien baru masuk
2. Menurut pasien dan keluarga penjelasan persiapan pasien pulang
dijelaskan setelah beberapa hari dirawat tidak ada saatpasien baru
masuk.
Observasi:
1. Form discard planning sudah ada didalam recam medik
2. Form discard planning sebagian ada yang tidak terisi
3. Leaflet tentang discard planning tidak ada
Dari hasil hasil kuesioner :
Dari 7 pasien, 5 keluarga pasien (71,4%) menyatakan tidak diberikan
penjelasan tentang persiapan pasien pulang.

M4 (Money)
Kebutuhan dana untuk pembelian alat kesehatan dengan biaya > Rp.
1.000.000,- harus mengajukan surat terlebih dahulu ke Direktur sehingga
membutuhkan waktu yang lama untuk pencairan dana.

M5 (Marketing)
1. Perawat mengatakan sudah memberikan penjelasan kepada keluarga
pasien bilajam tamu sesuai aturan rumah sakit
2. Perawat mengatakan sudah menjelaskan bahwa penunggu pasien
hanya 2 orang
3. Keluarga pasien mengatakan sudah ada dijelaskan tentang jam
kunjungan dan jumlah penunggu pasien.
109

4. Keluarga pasien mengatakan sudah menjaga kebersihan.

Wawancara:
1. Perawat : sudah optimal melaksanakan tatatertib
2. Keluarga : keluarga pasien mengtakan terkendala karena berasal dari
jauh tidak adatempat tinggal/ tidak ada saudara di BJM.
3. Keluarga atau tamu beralasan tidak mengetahui jam tamu

Observasi:
1. Ruang pasien pintu masuk tidak dikunci
2. Tidak pernah satpam keliling atau menegur bila belum jam tamu atau
menegur penunggu pasien yang lebih dari 2 orang
3. Tidak tegasnya petugas untuk menegur keluarga pasien untuk menjaga
kebersihan.

3.1.4.3 Opportunity/Peluang:
M1 (Ketenagaan)
a. Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisasi perawat
b. Rumah sakit memberikan kebijakan untuk pelatihan bagi perawat
ruangan
c. Rumah Sakit memberikan kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan dan meningkatkan pendidikan
d. Adanya SOP yang membantu pekerjaan perawat ruangan

M2 (Sarana Dan Prasarana)


a. Kebijakan pemerintah untuk menambah sarana dan pra sarana di
Rumah Sakit
b. Diharapkan adanya selalu perbaikan baik sarana, dan prasarana yang
menunjang terhadap perawatan klien seperti penambahan alat dan
barang-barang kesehatan yang diperlukan klien
c. Diharapakan selalu adanya perbaikan penyusunan alat-alat dan buku-
buku di ners station agar terlihat rapi dan nyaman

M3 Method (MPKP)
Penerapan Model
a. Kepercayaan dari pasien dan masyarakat cukup baik
b. Adanya kerjasama dengan institusi klinik-klinik independen
110

c. Adanya kebijakan pemerintah tentag profesionalisme

Dokumentasi Keperawatan
a. Adanya mahasiswa praktik Manajemen Keperawatan
b. Adanya program pelatihan tentang program pendokumentasian
keperawatan
c. Peluang perawat untuk meningkatkan pendidikan (SDM)
d. Adanya kerjasama yang baik antara mahasiswa dan perawat ruangan

Ronde Keperawatan
Adanya kasus yang memerlukan perhatian khusus oleh perawat ruangan
dan kepala ruangan

Desentralisasi Obat
a. Kerjasama yang baik antara perawat dan mahasiswa
b. Kerjasama antara ruangan dan petugas apotik terutama untuk pasien
BPJS
c. Adanya mahasiswa yang praktik manajemen keperawatan

Supervisi
a. Adanya mahasiswa yang praktik manajemen keperawatan
b. Terbuka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan atau magang

Timbang Terima
a. Adanya mahasiswa yang praktik di ruangan
b. Adanya kerjasama yang baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan
c. Bersedianya keluarga pasien untuk memberikan informasi pada
kegiatan timbang terima

Discharge Planning
a. Adanya mahasiswa yang melakukan praktik
b. Adanya kerjasama yang baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan
c. Kemauan pasien atau keluarga terhadap anjuran perawat

M4 (Money)
a. Status RSUD Ulin sebagai Rujukan Bertipe A
111

b. Adanya kerjasama dengan pihak ketiga dalam hal pembiayaan Sebagai


tempat praktik mahasiswa keperawatan D3 maupun S1.

M5 (Marketing)
a. Adanya mahasiswa yang berpraktik manajemen
b. Adanya kebijakan untuk menerapkan MPKP

3.1.4.4 Threatened/Ancaman:
M1 (Ketenagaan)
a. Adanya tuntutan tinggi dari masyarakat untuk pelayanan yang lebih
professional.
b. Makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan
c. Makin tingginya kesadaran masyarakat atas hukum
d. Adanya pertanggungjawaban legalitas bagi pasien
e. Adanya RS Swasta bersaing yang sudah bekerja sama dengan BPJS

M2 (Sarana Dan Prasarana)


a. Adanya tuntutan yang tinggi dari masyarakat untuk melengkapi sarana
dan prasarana
b. Adanya keluhan dan tuntutan dari klien dan keluarga tentang
ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai
c. Adanya tuntutan dari klien dan keluarga tentang ketersediaan sarana
dan prasarana

M3 Method (MPKP)
Penerapan Model
a. Persaingan dengan rumah sakit lain
b. Tuntutan masyarakat akan pelayanan yang maksimal
c. Kebebasan Pers mengakibatkan mudahnya penyebaran informasi di
dalam ruangan ke masyarakat

Dokumentasi Keperawatan
a. Adanya kesadaran pasien adanya tanggung jawab dan tanggung gugat
b. Akreditasi rumah sakit tentang sistem dokumentasi

Ronde Keperawatan
112

Adanya tuntutan yang lebih tingi dari pasien dan keluarga pasien untuk
mendapatkan pelayanan yang lebih professional

Desentralisasi Obat
Adanya tuntutan akan pelayanan yang profesional

Supervisi
Tuntutan pasien sebagai konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang
profesional dan bermutu sesuai dengan peningkatan biaya perawatan

Timbang Terima
a. Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan keperawatan yang profesional
b. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab dan
tanggung gugat perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan

Discharge Planning
a. Adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
keperawatan yang profesional
b. Makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan

M4 (Money)
a. Adanya tuntutan dari masyarakat untuk pelayanan yang lebih
professional dengan harga terjangkau
b. Alokasi dana untuk penunjang kesehatan belum optimal

M5 (Marketing)
Adanya standar masyarakat yang harus dipenuhi
113

I. Analisa Masalah
No Data Masalah
1 DS : Kurang optimalnya sasaran
3.1.4.5 Perawat mengatakan untuk sasaran keselamatan pasien resiko injury
keselamatan pasien hanya melanjutkan skrining
form yang dari IGD hal tersebut dilakukan
kadang-kadang tergantung yang berdina.
3.1.4.6 Perawat mengatakan kadang penandaan
risiko jatuh antara perawat ruangan dan perawat
IGD berbeda tergantung kondisi pasien.
3.1.4.7 Keluarga pasien mengatakan tidak ada
penjelasan mengenai risiko jatuh secara
terperinci oleh petugas IGD dan oleh
perawatruangan.
3.1.4.8 Keluarga pasien me3ngatakan hanya
inisiatif sendiri memberi pengamanan dengan
memakai pagar bed.

DO :
Wawancara :
1. Menurut perawat pengkajian keselamatan
pasien kadang-kadang dilakukakan pengkajian
ulang tergantung perawat yang bertugas saat itu
Observasi:

5. Berdasarkan data terdapat 15 bed yang dalam


keadaan kondisi baik, bed sesuai dengan
standar akreditasi.
6. Masih tidak adaadanya form dalam rekam
medik penjelasan tentang tindakan invasif.
7. Tidak adanya penandaan tanggal pemsangan
infus pada pasien
8. Berdasarkan hasil kuesioner dengan perawat
tentang audit mutu kejadian pasien risko jatuh,
4 perawat (36,4%) menyatakan jarang
114

dilakukan audit mutu kejadian risiko jatuh, 7


atau (63,6%) perawat menyatakan kadang-
kadang.
2 DS : Kurang optimalan pelaksanaan
1. Perawat mengatakan pelaksanaan discard discharge planning
planning kadang-kadang dilakukan.
2. Pasien dan keluarga mengatakan kadang ada
perawat yang menjelaskan hal-hal yang harus
dipersiapkan saat pasien pulang.
3. Pasien dan keluarga mengatakan hanya
diberikan penjelasan secara optimal tanpa
diberikan leaflet.

DO :
Wawancara :
3. Form discard planning sudah tersedia dalam
rekam medic tapi kadang masih adaperawat
yang tidak melaksanakan saat pasien baru
masuk
4. Menurut pasien dan keluarga penjelasan
persiapan pasien pulang dijelaskan setelah
beberapa hari dirawat tidak ada saatpasien baru
masuk.
Observasi:
4. Form discard planning sudah ada didalam
recam medik
5. Form discard planning sebagian ada yang tidak
terisi
6. Leaflet tentang discard planning tidak ada
Dari hasil hasil kuesioner :
1. Dari 7 pasien, 5 keluarga pasien (71,4%)
menyatakan tidak diberikan penjelasan tentang
persiapan pasien pulang.

3 DS : Kurang optimalnya timbang


1. Kepala ruangan mengatakan timbang terima terima di Ruang Seruni
dilakukan saatpergantian dari shift malam ke
pagi
2. Perawat mengatkan timbang terima rutin
dilakukan waktu dinas pagi saja

DO :
Observasi :
2. Timbang terima dilakukan saat pergantian dari
shift malam ke pagi
Wawancara:
2. Timbang terima masih kurang optimal
dilakukan pada pergantian shift, setiap
pergantian shift baik dari shift siang dan shift
malam.
4 DS: Kuarng optimalnya penerapan 12
1. Perawat mengatakan sebgaian rekannya benar obat
menerapkan prinsip 12 benar obat dan
sebgiannya kadang-kadang melakukan dan
kadang-kadang tidak.
115

DO:
Wawancara :
1. Dari 11 perawat ruangan terdapat 7 atau
(63,4%) orang yang rutin menerapkan 12 benar
obat dan 4 atau (36, 4%) oarang yang kadang-
kadang menerapkan 12 benar obat.
Observasi:
1. Saat memebri obat masih adapetugas yang
tidak menerapkan 12 benar obat misalnya
dalam benar waktu dan benar reaksi dengan
obat lain.
5 DS: Kuarang optimalnya pelaksanaan
3. Perawat mengatakan kadang-kadang hand hygine diruang seruni
mengaplikasikan 5 moment berkaitan dengan kurangnya
4. Perawat mengatakan jarang mengaplikasikan 5 kesadaran perawat dalam
moment karena terbatasnya pengadaan mengaplikasikan 5 moment
handsoap dan handscrub

D0:
Wawancara:
2. Dari hasil wawancara perawat mengatkan
terbatasnya pengadaan handsoap dan handscrub
Observasi:
2. Perawat tidak meaplikasikan 5 moment karena
terbatasnya handsoap, handscrub dan beban
kerja yang banyak
6 DS: Kurang tertibnya keluarga pasien
5. Perawat mengatakan sudah memberikan dalam kunjungan, penunggudan
penjelasan kepada keluarga pasien bilajam kebersihan ruangan
tamu sesuai aturan rumah sakit
6. Perawat mengatakan sudah menjelaskan bahwa
penunggu pasien hanya 2 orang
7. Keluarga pasien mengatakan sudah ada
dijelaskan tentang jam kunjungan dan jumlah
penunggu pasien.
8. Keluarga pasien mengatakan sudah menjaga
kebersihan.

DO:
Wawancara:
4. Perawat : sudah optimal melaksanakan
tatatertib
5. Keluarga : keluarga pasien mengtakan
terkendala karena berasal dari jauh tidak
adatempat tinggal/ tidak ada saudara di BJM.
6. Keluarga atau tamu beralasan tidak mengetahui
jam tamu

Observasi:
4. Ruang pasien pintu masuk tidak dikunci
5. Tidak pernah satpam keliling atau menegur bila
belum jam tamu atau menegur penunggu pasien
yang lebih dari 2 orang
6. Tidak tegasnya petugas untuk menegur
keluarga pasien untuk menjaga kebersihan.
116

II. Prioritas Masalah


Penentuan urutan masalah yang menjadi prioritas agar menjadi mudah, maka
dilakukan penghitungan dengan pembobotan pada setiap masalah yang
ditemukan Wijono (2000). Proses memprioritaskan masalah akan dilakukan
dengan pembobotan yang memperhatikan aspek sebagai berikut:
3.7.1 Magnitude(M) : Kecenderungan dan seringnya kejadian masalah.
3.7.2 Severity (S) : Besarnya kerugian yang ditimbulkan.
3.7.3 Manageable (Mn) : Bisa di pecahkan.
3.7.4 Nursing concern (Nc) : Melibatkan perhatian dan pertimbangan perawat.
3.7.5 Affordability (Af) : Ketersediaan sumber daya

Dengan rentang nilai 1 – 5 yaitu


5 = Sangat Penting
4 = Penting
3 = Cukup Penting
2 = Kurang Penting
1 = Sangat Kurang Penting

Di mana yang menjadi prioritas adalah masalah dengan jumlah nilai/ skor paling
besar. Skor akhir dirumuskan dengan cara : M x S x Mn x Nc x Af

Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan di Ruang Seruni


No Masalah M S Mn Nc Af Skor Prioritas
117

1 Kurang optimalnya sasaran 5 5 4 5 4 2000 1


keselamatan pasien risiko injury
2 Kurang optimalnya pelaksanaan 4 3 3 4 4 576 2
discharge planning
3 Kurang optimalnya timbang terima 4 3 4 3 3 432 3
di ruang seruni
4 Kurang optimalnya penerapan 12 4 4 3 3 3 432 4
benar obat
5 Kurang optimalnya pelaksanaan 3 3 3 3 2 162 5
hand hygine diruang seruni
berkaitan dengan kurangnya
kesadaran perawat dalam
meaplikasikan 5 moment
6 Kurang tertibnya keluarga pasien 3 2 3 3 2 108 6
dalam kunjungan, penunggu dan
kebersihan runagan
118
146
147
148
149

3.9 Planning Of Action


Dengan adanya berbagai macam masalah yang muncul dari hasil pengkajian yang dilakukan, maka kelompok membuat perencanaan
untuk pemecahan masalah sesuai dengan prioritas masalah sebagai berikut :
No MASALAH KEGIATAN INDIKATOR WAKTU PENANGGUNG
KEBERHASILAN JAWAB
1 Kurang optimalnya sasaran 1. Lakukan sosialisasi ulang 1. Semua perawat memahami 7-20 Reski Almarif
kepada perawat form sisialisasi form pengkajian Riswan Hadi
keselamatan pasien risiko Januari
pengkajian resiko injury risiko injury Triyulina
injury 2. Lakukan penilaian form 2. Form penilaian risiko injury 2019
penilaian risiko injury setiap setiap pergantian dinas selalu di
pergantian dinas isi
3. Sediakan alat penandaan resiko 3. Penandaan risiko injury
injury terpasang
4. Lakukan penjelasan kepada 4. Pasien tidak ada yang
keluarga tentang risiko injury terjatuhkeluargamemahami
5. Membuat lembar observasi tentang risiko injury
yang disi oleh setiap perawat 5. observasi selalu diisi oleh
penanggungjawab keselamatan petugas setiap shift dinas.
pasien risiko injury seperti
(tanggal pemasangan infus,
NGT, Kateter, Oksigen, pagar
bed, risiko dekubitus,
keketepatan pemasangan
restrain)
2 Kurang optimal 1. Lakukan sosialisasi ulang 1. Semua perawat bisa 7-20
tentang discharge planning melaksanakan perencanaan
perencanaan pasien pulang Januari
kepada semua perawat pasien pulang dari awal pasien
150

(discharge planning) 2. Lakukan discharge planning dirawat sampai pasien pulang 2019 Ajijah
dari awal pasien masuk 2. Discharge planning seslalu Seri nur Rahmalinda
sampai pasien pulang dilaksanakan baik awal masuk Nasarudinnor
3. Sediakan lembar discharge dan setelah pasien pulang
planning yang bisa dibawa 3. Lembar discharge planning
pulang oleh pasien tersedia
4. Sediakan leaflet penyakit 4. Leaflet penyakit tersedia terus
terbanyak di Ruang Seruni menerus di print di ruang
seruni.
3 Kurang optimalnya timbang 1. Menentukan penanggung 1. Timbang terima dilakukan 7-20 Triyulina
terima di Ruang Seruni jawab timbang terima dinurse station ada dan Supiati
Januari
2. Membuat contoh timbang diruangan pasien Reski Almarif
terima klien menggunakan 2. Isi timbangterimatentang 2019
SBAR masalah keperawatan
3. Melaksakan timbang terima yangsudahdan belum teratasi
setiap pergantian shift 3. Timbang terima dokumentasi
4. Melakukan dengan baik
pendokumentasian asuhan 4. Asuhan keperawatan
keperawatansecara terdokumentasi dengan baik.
komprehensif
4 Kurang optimalnya penerapan 1. Menentukan penanggung 1. Penanggung jawab obat 7-20 Yunnah
12 benar obat jawab obat bertugas sesuai dengan Rizka suci utami
Januari
2. Melakukan penyuluhan tanggungjawabnya Riswan Hadi
kepada pasien bersama 2. Penyuluhan dapat dilakukan 2019
perawat ruangan tentang 12 langsung kepada pasien secara
benar obat. rutin
3. Memastikan identifikasi 12 3. Identifikasi dilakukan
benar obat seperti identifikasi terstruktur sesuai dengan 12
nama obat, dosis, waktu, dan benar obat
151

lainnya sebelum dilakukan


tindakan.
5 Kurang optimalnya pelaksaan 1. Melakukan cuci tangan 6 1. Cuci tangan dengan 6 langkah 7-20 Yayuk lestari
hand hygiene diruang seruni langkah pada setiap kali dilakukan setiap timbang Nasarudin Noor
Januari
berkaitan dengan kurangnya
dilakukan timbang terima terima Ajijah
2. Melakukan sosialisasi tentang 2. Perawat dan petugas medis 2019
keasadaran perawat dalam
pentingnya dilakukan cuci lain memamahami apa yang
mengaplikasikan 5 moment tangan 5 moment. disampaikan
3. Memotivasi perawat untuk 3. Motivasi perawat dapat
selalu menerapkan cuci meningkat dan menerapkan
tangan 5 moment dan 6 cuci tangan 6 langkah
langkah pada saat
melaksanakan tugas di RS.
6 Kurang tertibnya keluarga pasien 1. Melakukan sosialisasi jam 1. Keluarga pasien mengetahui 7-15 Yunie Indriani
dalam kunjungan penunggu serta tamu kepada keluarga pasien jam bertamu Seri Nurahmalinda
Januari
kebersihan ruangan
yang berlaku di ruangan 2. Keluarga pasien menegtahui Yunie Indriani
2. Membuat pemberitahuan pada dan mentaati peraturan 2019
dinding diruangan tentang ruangan
jam tamu dan jumlah 3. Pintu di tutup apabila belum
penunggu. jam tamu.
3. Memasang kunci pintu
cadangan keluar masuk pintu
pasien di ruang kelas III