Anda di halaman 1dari 16

PEMASARAN DAN MASYARAKAT

TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN ETIKA


PEMASARAN
DISUSUN OLEH
TUGAS KELOMPOK 9
Nicolas Tampubolon
Puspa
Nurul Annisa
Putri Simamora
Pani Ardian

Kelas :K4/E Manajemen Pagi


Dosen :Rusmewahni, SE, M.Si
Mata kuliah :Manajemen Pemasaran

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) BINA KARYA

TEBING TINGGI

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,


atas berkatdan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah Konsep Kebidanan yang berjudul “PEMASARAN DAN MASYARAKAT
TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN ETIKA PEMASARAN” dalam penyusunan
makalah ini, kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan dan kekeliruan serta jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang kita
harapkann oleh karena itu, dengan senang hati kami senantiasa mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini di
kemudian harid emikianlah makalah ini disusun, semoga dapat bermanfaat bagi
kita semua dan semoga jerih payah kita mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha
Esa,amin.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i

KATA PENGHANTAR ........................................................................... ii

DAFTAR ISI ............................................................................................. iii

BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................... ..1

1.1 Latar Belakang ........................................................................ ..1

BAB II. Pembahasan ................................................................................. ..2


2.1.PEMAHAMAN KONSEP ...................................................... ..2

2.2 KRITIK SOSIAL PEMASARAN .......................................... ..3

2.3WARGA NEGARA DAN PUBLIKASI YANG DAPAT


MENGATUR PEMASARAN .............................................. ..8

2.4 TINDAKAN BISNIS MENUJU PEMASARAN YANG


BERTANGGUNG JAWAB SECARA SOSIAL........................9

BAB III PENUTUP ................................................................................... . 12

A.Kesimpulan................................................................................12
B.Saran..........................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Etika pemasaran dan tanggung jawab sosial akhir – akhir ini sudah menjadi
suatu hal yang sangat penting dalam kegiatan dan alur hidup suatu perusahaan. Peran
dari etika pemasaran dan tanggung jawab sosial menjadi semakin penting ketika
perusahaan akhirnya menyadari bahwa reputasi dan usaha pemasarannya dapat
seketika hancur berantakan ketika menghadapi masalah dalam area ini. Kegagalan
akan menjaga etika dalam dunia bisnis tentu saja berdampak pada rusaknya
kepercayaan dan hubungan perusahaan dengan konsumen maupun stakeholder,
dimana hal tersebut merupakan salah satu kunci dari keberhasilan perusahaan.
Perwujudan etika pemasaran dan tanggung jawab sosial tidak dapat langsung
terjadi hanya dengan merekrut sumber daya yang beretika namun juga harus disertai
dengan pelaksanaan sistem yang berkesinambungan dan disiplin sehingga usaha
perwujudan etika dan tanggung jawab sosial ini dapat berjalan efektif. Karena selain
dapat meningkatkan keuntungan dari sisi non-material (goodwill) yang tak ternilai
harganya, juga dalam jangka menengah hingga panjang dapat meningkatkan
keuntungan secara finansial.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemahanan Konsep


Kotler dan Amtsrong mendefinisikan pemasaran (marketing) sebagai
proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun
hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari
pelanggan sebagai imbalannya.
Ada tiga kata kunci yang kuat dari konsep Kotler dan Amstrong mengenai
pemasaran:
1. Pemasar harus memahami dan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
2. Menciptakan hubungan yang kuat dengan pelanggannya; dan
3. Akhirnya mendapatkan imbalan dari pelanggan sebagai gantinya.
Dalam kenyataannya tidak pernah ada hubungan yang langgeng dari
pelanggan terhadap pemasar kalau pembeli tidak untungsehingga kemungkinan
besar merugikan pemasar juga. Dulu kita memahami kata bijak ini: satu
konsumen yang tidak puas akan bercerita pada sembilan orang lainnya. Namun di
zaman informasi saat ini, ternyata satu konsumen bisa cerita kemana-mana
melalui blogs, facebook ataupun media lainnya sehingga diperlukan adanya suatu
pembentukan kesan yang baik dari konsumen terhadap produsen.
Masyarakat dan konsumen saat sekarang, terlebih lagi pada masa depan,
akan peduli terhadap kualitas dan mulai memperhatikan sisi moralitas dan
tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam situasi dimana persaingan menjadi
lebih ketat dan reputasi perusahaan menjadi modal penting, maka setiap kebijakan
dan keputusan haruslah didasarkan pada kode etik yang berlaku dan ditetapkan
oleh perusahaan maupun asosiasi profesional. Salah satu kasus yang kita angkat
ini mengenai pelanggaran etika pemasaran dalam konteks promosi. Dalam hal ini,
promosi berbentuk iklan.

5
2.2 KRITIK SOSIAL PEMASARAN

Kritik social menyatakan bahwa praktek pemasaran tertentu melukai


konsumen individual, masyarakat secara keseluruhan, dan perusahaan lain.

Dampak pemasaraan pada konsumen individual

Survey biasanya memperlihatkan bahwa konsumen mempunyai sikap yang


baur atau sedikit tidak menyenangkan terhadap praktek pemasaran. Beberapa oknum
menuduh pemasaran merugikan konsumen melalui harga tinggi, praktek curang,
penjualan dengan tekanan, produk yang ceroboh atau tidak aman, pengabaian yang
direncanakan, dan layanan yang buruk pada konsumen yang lemah.

 Harga tinggi

Ada tiga faktor yang menyebabkan harga tinggi dalam hal pemasaran, yaitu :

- Biaya distribusi yang tinggi

Para kritikus menuduhh adanya terlalu banyak perantara, tidak efisiennya


perantara sehingga mengakibatkan biaya distribusi yang tinggi dan konsumen
membayar biaya yang berlebihan ini dalam wujud harga yang lebih tinggi.

- Biaya iklan dan promosi yang tinggi

Para kritikus juga menuduh pemasaran menaikkan harga untuk mendanai


promosi penjualan dan iklan besar-besaran. Pemasaran merespon tuduhan ini
bahwa iklan memang menambah biaya produk, tetapi iklan juga menambah
nilai dengan member tahu pembeli potensial tentang ketersediaan suatu
produk.

- Markup secara berlebihan

6
Pemasar mengatakan bahwa sebagian besar bisnis berusaha
memperlakukan konsumen dengan adil karena mereka ingin membangun
hubungan dan mengulangi bisnis

 Praktek menyesatkan

Pemasar terkadang dituduh melakukan praktek pemasaran yang menyesatkan.


Praktek menyesatkan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :

- Penetapan harga, penetapan harga dapat mengelabui konsumen melalui


praktek pemasangan harga pabrik atau grosir yang menipu atau
pengurangan harga yang gila-gilaan dari daftar eceran tinggi yang palsu.
- Promosi, promosi dapat menyesatkan melalui praktek berbohongtentang
fitur atau kinerja produk
- Kemasan, kemasan yang menyesatkan dapat berupa melebih-lebihkan isi
kemasan melalui desain yang cerdik
 Pemaksaan penjualan

Wiraniaga dilatih untuk memberikan presentasi yang lancar dan mudah


dimengerti untuk menarik pembelian. Mereka berusaha keras menjual karena
konteks penjualan menjanjikan hadiah besar bagi yang menjual paling banyak,
sehingga mereka kadang-kadang dituduh melakukan pemaksaan penjualan dalam
artian membujuk orang untuk membeli barang yang tidak pernah mereka pikirkan
untuk mereka beli.

 Produk yang tidak bermoral Berbahaya / tidak aman

Suatu keluhan yang umum terkait kualitas atau fungsi produk yang buruk
yaitu produk tidak dibuat dengan baik dan pelayan tidak dilakukan dengan baik.

Keluhan kedua adalah bahwa banyak produk yang hanya mengantarkan


sedikit manfaat atau produk itu mungkin berbahaya. Kritikan ketiga menyangkut

7
keamanan produk. Masalahnya adalah terkadang perusahaan tidak peduli terhadap
keamanan, meningkatnya kompleksitas produk dan buruknya pengendalian
kualitas.

Sebagian besar produsen ingin menghasilkan barang yang berkualitas. Cara


perusahaan menangani kualitas produk dan keamanan biasa merusak, tapi juga
bisa meningkatkan reputasinya.

 Pengusangan yang disengaja

Para kritikus juga menuduh bahwa beberapa produsen mengikuti program


pengusangan yang disengaja, membuat produk mereka ketinggalan zaman
sebelum produk itu benar-benar memerlukan penggantian. Beberapa dari mereka
menyatakan taktik pengusangan yang disengaja terjadi dalam industri elektronik.

Mengenai hal tersebut, pemasar melakukan pembelaan dengan menyatakan


bahwa konsumen menyukai perubahan gaya, mereka bosan dengan gaya lama dan
menginginkan penampilan baru.

 Pelayanan buruk pada konsumen lemah

Tuduhan melayani konsumen yang lemah dan buruk tergambar dengan


adanya toko kecil yang menarget konsumen miskin, namum menjual barang
inverior dengan harga yang tinggi. Dalam praktek ini pemasar banyak
mendapatkan laba.

Dampak Pemasaran pada Masyarakat Secara Keseluruhan

 Keinginan palsu dan materialisme yang berlebihan.

Sistem pemasaran mendorong orang bersikap matre, dimana orang dinilai dari
apa yang dia miliki dan bukan dari siapa diri mereka. Kritikus tidak memandang
segala sesuatu yang dihasilkan pemasaran sebagai keinginan yang muncul secara

8
alamiah, tetapi sebagai keinginan semu yang diciptakan oleh pemasaran.
Sehingga pemasaran dipandang sebagai penciptaan keinginan semu yang
menguntungkan industry, melebihi manfaat industry bagi konsumen.

 Terlalu sedikitnya barang-barang sosial.

Dewasa ini bisnis dituduh menjual barang-barang pribadi dan mengorbankan


barang publik. Ketika barang pribadi meningkat, maka diperlukan lebih banyak
layanan public yang sebelumnya tidak tersedia.

Harus ditemukan cara untuk menjaga keseimbangan antara barang pribadi dan
barang public. Salah satu opsinya adalah dengan cara membuat produsen
menganggung keseluruhan biaya social operasi mereka. Opsi lain adalah
membuat konsumen membayar biaya sosial

 Polusi budaya
Sistem pemasaran dituduh menimbulkan polusi budaya. Indera masyarakat
dibombardir oleh pemasaran dan iklan, iklan mengganggu acara-acara serius,
halaman iklan memenuhi majalah, papan menghalangi pemandangan indah, spam
memenuhi kotak email kita. Gangguan ini akan mencemari pikiran masyarakat
dengan pesan-pesan materialisme.
Pemasar menjawab tuduhan tersebut dengan dua argument. Pertama, mereka
berharap bahwa iklan mereka menjangkau pemirsa sasaran. Tetapi karena saluran
komunikasinya bukan individual, melainkan massal, beberapa iklan akhirnya
sampai pada orang-orang yang tidak tertarik dengan produk tersebut dan karena
itu merasa bosan atau terganggu. Kedua, iklan membuat televise dan radio dapat
dinikmati secara gratis oleh pengguna dan menurukan biaya majalah dan surat
kabar.
 Telalu Banyak Kekuatan Politik
Kritik lainnya aadalah bahwa bisnis (korporasi) memanipulasi terlalu banyak
kekuatan politik. Senator minyak, tembakau, mobil, dan farmasi lebih memihak

9
kepentingan industri daripada kepentingan public. Periklanan dituduh memegang
terlalu banyak kekuasaan atas media massa, sehingga membatasi kebebasan
media melaporkan berita secara mandiri dan objektif.

 Dampak Pemasaran pada Bisnis Lain


Kritikus juga menuduh bahwa praktek pemasaran perusahaan dapat
merugikan perusahaan lain dan mengurangi kompetisi. Ada tiga masalah di sini
yaitu akuisisi kritikus juga menuduh bahwa praktek pemasaran perusahaan dapat
merugikan perusahaan lain dan mengurangi kompetisi. Ada tiga masalah di sini
yaitu akuisisi pesaing, praktek pemasaran yang menciptakan hambatan untuk
masuk, dan praktek pemasaran kompetitif yang tidak adil.
Kritik mengklaim bahwa sejumlah perusahaan merugi dan persaingan akan
berkurang ketika sebuah perusahaan berekspansi dengan mengakuisisi pesaing
dan tidak mengembangkan produk bari mereka sendiri.
Akuisis adalah subjek yang rumit. Akuisisi kadang-kadang bisa berdampak
baik masyarakat. Perusahaan yang melakukan akuisisi bisa mendapat skala
ekonomis yang menyebabkan penghematan biaya dan penurunan harga.
Kritikus juga menuduh bahwa praktek pemasaran menghalangi perusahaan
baru yang ingin memasuki industri. Perusahaaan pemasaran besar dapat
menggunakan hak paten dan melakukan promosi besar-besaran, dan mereka dapat
mengikat pemasok atau penyalur untuk menyingkirkan atau tidak melayani
pesaing.
Terakhir berapa perusahaan sebenarnya menggunakan praktek pemasaran
kompetitif yang tidak adil dengan maksud merugikan atau menghancurkan
perusahaan lain. Mereka mungkin menetapkan harga mereka di bawah biaya,
mengancam menghentikan bisnis dengan pemasok, atau mencegah pembelian
produk pesaing.

10
2.3 WARGA NEGARA DAN PUBLIKASI YANG DAPAT MENGATUR
PEMASARAN
Konsumerisme
Gerakan warga Negara dan badan pemerintah yang terorganisasi untuk
meningkatkan hak dan kekuatan pembeli dalam hubungannya dengan penjual.
Banyak pihak meyakini bahwa keseimbangan kekuasaan ada di sisi penjual. Benar,
pembeli dapat menolak membeli, tetapi kritikus merasa bahwa pembeli hanya
mempunyai sedikit informasi, edukasi, dan proteksi untuk membuat keputusan yang
bijaksana ketika menghadapi penjual yang cerdik. Lembaga advokasi konsumen
akhirnya menekankan perlu ditambahkannya hak konsumen berikut:
 Hak mendapatkan pemberitahuan sebaik-baiknya tentang aspek penting produk
 Hak mendapatkan perlindungan atas produk dan praktek pemasaran yang
mencurigakan.
 Hak mempengaruhi produk dan praktek pemasaran dengan cara yang
meningkatkan “kualitas kehidupan”.
Kosumen tidak hanya mempunyai hak. Mereka juga mempunyai kewajiban untuk
melindungi diri mereka sendiri dan tidak menyerahkan fungsi ini kepada orang lain.
Environmentalisme
Gerakan terorhanisasi dari warga Negara dan badan pemerintah yang peduli
terhadap perlindungan dan perbaikan lingkungan hidup masyarakat. Para pendukung
gerakan lingkungan (environmentalis) tidak menentang pemasaran dan konsumsi;
mereka hanya ingin masyarakat dan organisasi beroperasi dengan kepedulian yang
lebih besar terhadap lingkungan. Tujuan sistem pemasaran, mereka menekankan,
bukanlah memaksimalakan konsumsi, pilihan konsumen, atau kepuasan konsumen,
tetapi juga kualitas lingkungan. Para envirinmentalis ingin agar biaya lingkungan
dimasukkan dalam pengambilan keputusan produsen dan konsumen.

11
2.4 TINDAKAN BISNIS MENUJU PEMASARAN YANG
BERTANGGUNG JAWAB SECARA SOSIAL
Perusahaan mengakui hak konsumen untuk mendapat informasi dan
perlindungan. Banyak cara untuk menciptakan nilai pelanggan yang lebih besar dan
memperkuat hubungan pelanggan.
Pemasaran yang tercerahkan
Pemasaran tercerahkan terdiri dari lima prinsip: pemasaran yang berorientasi
pada konsumen, pemasaran nilai pelanggan, pemasaran inovatif, pemasaran
mengemban misi, dan pemasaran berwawasan social.
Pemasaran yang berorientasi Konsumen
Perusahaan harus memandang dan mengatur kegiatan pemasarannya dari
sudut pandang konsumen. Perusahaan harus bekerja keras untuk merasakan,
melayani, dan memuaskan kebutuhan kelompok pelanggan tertentu. Hanya dengan
melihat dunia melalui mata pelanggannyalah, perusahaan dapat membangun
hubungan pelanggan yang menguntungkan dan langgeng.
Pemasaran Nilai Pelanggan
Perusahaan harus menempatkan sebagian besar sumber daya untuk
berinvestasi dalam pemasaran yang membangun nilai pelanggan. Pemasaran
tercerahkan harus membangun loyalitas dan hubungan konsumen jangka panjang
dengan terus meningkatkan nilai yang diterima konsumen dari penawaran pasar
perusahaan. Dengan menciptakan nilai bagi konsumen, perusahaan dapat menangkap
nilai dari konsumen sebagai imbalannya.
Pemasaran Inovatif
Perusahaan terus mencari perbaikan produk dan pemasaran yang
sesungguhnya. Perusahaan yang gagal menemukan cara baru dan cara yang lebih baik
untuk melakukan segala sesuatu pada akhirnya akan kehilangan pelanggan yang
beralih ke perusahaan lain yang menemukan cara yang lebih baik.

12
Pemasaran Mengemban Misi
Perusaahaan harus mendefinisikan misinya dalam istilah social yang luas dan
bukan dalam istilah produk yang sempit. Jika perusahaan mendefinisikan misi
sosialnya, karyawan akan meraasa lebih baik tentang pekerjaan mereka dan
mempunyai arah yang jelas. Mereka terhubung dengan misi yang luas dapat melayani
kepentingan jangka panjang merek dan konsumen.
Pemasaran Berwawasan Sosial
Perusahaan yang tercerahkan membuat keputusan pemasaran dengan
mempertimbangkan keinginan dan kepentingan konsumen, kebutuhan perusahaan,
dan kepentingan jangka panjang masyarakat. Perusahaan menyadari bahwa jika
mereka mengabaikan kepentingan jangka panjang konsumen dan masyarakat, mereka
merusak konsumen dan masyarakat.
Perusahaan yang sadar memandang masalah sebagai peluang. Pemasaran yang
berorientasi social ingin merancang produk yang tidak hanya menyenangkan, tetapi
juga bermanfaat. Produk dapat digolongkan menurut tingkat kecepatan kepuasan
konsumen dan manfaat bagi kensumen pada jangka panjang. Produk cacat, seperti
obat yang tidak enak dan tidak efektif, tidak mempunyai daya tarik seketika maupun
manfaat jangka panjang. Produk menyenangkan memberikan kepuasan seketika yang
tinggi tetapi mungkin merugikan konsumen dalam jangka panjang.
Produk bermanfaat mempunyai daya tarik rendah tetapi mungkin
menguntungkan konsumen dalam jangka panjang. Produk yang diinginkan
memberikan kepuasan seketika yang tinggi dan manfaat jangka panjang yang tinggi
pula.
Etika Pemasaran
Perusahaan harus mengembangkan kebijakan etika pemasaran perusahaan-
panduan luas yang harus diikuti semua orang di dalam perusahaan. Kebijakan ini
harus mencakup hubungan distributor, standar iklan, layanan pelanggan, penetapan
harga, pengembangan produk, dan standar etika umum. Ada beberapa prinsip yang
dapat dipilh pemasar yakni prinsip yang menyatakan bahwa isu harus diputuskan oleh

13
pasar bebas dan siostem huikum. Prinsip yang kedua yakni yang lebih berkesadaran,
tidak menempatkan tanggung jawab pada sistem, tetapi oleh perusahaan individual
dan manajer. Setiap perusahaan dan manajer pemasaran harus melaksanakan filosofi
perilaku berwawasan social dan etika. Konsep pemasaran berwawasan social yakni
manajer harus memandang jauh melampaui apa yang legal dan diizinkan serta
mengengembangkan standar berdasarkan integritas pribadi, kesadaran perusahaan,
kesejahteraan konsumen dalam jangka panjang.

14
BAB I II
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
a. Akhir - Akhir ini sangat marak iklan iklan yang saling menjatuhkan dan
merendahkan antara sesama produk sejenis.
b. Hal ini melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh EPI (Etika Pariwara
Indonesia).
c. Dinyatakan bahwa pelanggaran etika periklanan adalah pelanggaran.
d. Sejauh ini belum ada pihak yang menuntut ke pihak yang berwajib.
e. Pelanggaran etika bisnis itu dapat melemahkan daya saing hasil industry di
pasar internasional. Ini bias terjadi sikap para pengusaha kita. Lebih extreme
bila pengusaha Indonesia menganggap remeh etika bisnis yang berlaku secara
umum dan tidak mengikat itu. Kencendrungan makin banyaknya pelanggaran
etika bisnis membuat ke prihatinan banyak pihak. Pengabdian etika bisnis
dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat masyarakat, tetapi juga
bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak
memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan
Negara.
3.2 Saran
a. Sebaiknya perusahaan/orang yang akan membuat iklan dapat memikirkan ide
yang lebih kreatif untuk mempromosikan produk/jasa mereka tanpa harus
menjatuhkan produk/jasa saingannya.
b. Diberikan Penghargaan kepada iklan-iklan kreatif tanpa menjatuhkan ikklan
lainnya, hal ini agar dapat memotifasi insan periklanan agar lebib baik lagi
kedepannya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari, 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Cetakan ke-6,
CV. Alfabeta. Bandung.
Arikunto, Suharsimi, 2003. Manajemen penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.
Band, Oliver. 1991. Membangun Kepuasan Pelanggan. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Keraf, Sony A, 1998. Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya. Kanisius, Yogyakarta,
Edisi Baru.
Muslich, 1998. Etika Bisnis Pendekatan Substantif dan Fungsional. Edisi Pertama.
Graha Ilmu. Yogyakarta.

16