Anda di halaman 1dari 36

TUGAS MANDIRI

PENDIDIKAN PANCASILA
Rangkuman Dari Kelompok 1 - 11
DISUSUN OLEH
Nama :Tio Vanessa Purba
Kelas :K3/E Manajemen Pagi
Dosen : Ponaha Hulu, SH.M,Kn
Mata kuliah : Pendidikan Pancasila

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) BINA KARYA

TEBING TINGGI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,


atas berkatdan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
Konsep Kebidanan yang berjudul “Rangkuman Dari Kelompok 1 - 11” dalam
penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih
terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan serta jauh dari kesempurnaan
sebagaimana yang kita harapkann oleh karena itu, dengan senang hati kami
senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah ini di kemudian harid emikianlah makalah ini disusun,
semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dan semoga jerih payah kita mendapat
berkah dari Tuhan Yang Maha Esa,amin.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ 1
KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 4
C. Tujuan .................................................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Landasan Pendidikan Pancasila ........................................................... 6
2.2 Tujuan Pendidikan Pancasila ............................................................... 12
2.3 Pancasila Sebagai Filsafat .................................................................... 16
2.4 Pengertian Pancasila Sebagai filsafat ................................................... 16
2.5 Pancasila Sebagai Etika Politik. ........................................................... 17
2.6 Nilai Moral dan Norma ........................................................................ 18
2.7 Pancasila Sebagai Ideologi Nasional ................................................... 19
2.8 Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia ....... 19
2.9 Pancasila dalam Konteks Ketatanegaraan Republik Indonesia ............ 26
2.10Dinamika Pelaksanaan UUD 1945 Pada Masa Orde Lama ................ 27
2.11 Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Bermasyarakat,
Berbangsa dan Bernegara ........................................................................... 29

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 35
3.2 Saran ..................................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang secara resmi
disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam Berita Republik Indonesia tahun II
No.7 bersama-sama batang tubuh UUD 1945. Sebagai dasar filsafat negara
Republik Indonesia, Pancasila mengalami berbagai macam interpretasi dan
manipulasi politik.Karena hal tersebut Pancasila tidak lagi diletakkan sebagai
dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia melainkan
direduksi, dibatasi dan dimanipulasi demi kepentingan politik penguasa pada saat
itu. Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem
nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir, atau jelasnya sebagai
sistem nilai yang dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus
kerangka arah atau tujuan bagi yang menyandangnya diantaranya bidang politik,
bidang ekonomi, bidang sosial budaya, bidang hukum, bidang kehidupan antar
umat beragama.
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara telah
berhasil menyusun Pedoman Umum Implementasi Pancasila Dalam Kehidupan
Bernegara, namun masih perlu dirumuskan ke dalam Paradigma yang secara
operasional dapat digunakan sebagai pedoman dan model baik dalam
merumuskan kebijakan publik maupun sebagai acuan kritik, untuk menentukan
mana yang sesuai atau yang tidak sesuai dengan Pancasila.

.2 RUMUSAN MASALAH
 Bagaimanakah Landasan Pendidikan Pancasila ?
 Bagaimanakah Tujuan Pendidikan Pancasila?
 Bagaimanakah Pancasila Sebagai Filsafat?
 Bagaimanakah Pengertian Pancasila Sebagai filsafat?
 Bagaimanakah Pancasila Sebagai Etika Politik?

4
 Bagaimanakah Nilai Moral dan Norma?
 Bagaimanakah Pancasila Sebagai Ideologi Nasional?
 Bagaimanakah Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa
Indonesia?
 Bagaimanakah Pancasila dalam Konteks Ketatanegaraan Republik
Indonesia?
 Bagaimanakah Dinamika Pelaksanaan UUD 1945 Pada Masa Orde
Lama?
 Bagaimanakah Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam
Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

1.3 TUJUAN
makalah ini bertujuan agar para pembaca bisa mengetahui tentang
Pancasila Indonesia yang sesungguhnya, dan dengan adanya makalah ini
juga di harapkan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Pendidikan Pancasila
Pancasila adalah dasar falsafah Negara Indonesia sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, setiap warga Negara Indonesia
harus mempelajari, mendalami, menghayati, dan mengamalkannya dalam segala
bidang kehidupan.Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD
1945 dalam perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia telah mengalami
persepsi dan intrepetasi sesuai dengan kepentingan rezim yang berkuasa.
Pancasila telah digunakan sebagai alat untuk memaksa rakyat setia kepada
pemerintah yang berkuasa dengan menempatkan pancasila sebagai satu-satunya
asas dalam kehidupan bermasyarakat.
Nampak pemerintahan Orde Baru berupaya menyeragamkan paham dan
ideologi bermasyarakat dan bernegara dalam kehidupan masyarakat Indonesia
yang bersifat pluralistik. Oleh sebab itu, MPR melalui sidang Istimewa tahun
1998 dengan Tap. No.XVII/MPR/1998tentang Pencabutan Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila (P4) dan menetapkan Pancasila sebagai dasar Negara.
Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 adalah dasar
Negara dari Negara kesatuan RI harus dilaksanakan secara konsisten dalam
kehidupan bernegara

1. Landasan Historis
Berdasarkan landasan historis, pancasila dirumuskan dan memiliki tujuan yang
dipakai sebagai dasar Negara Indonesia. Proses perumusannya diambil dari nilai-
nilai pandangan hidup masyarakat.
Setiap bangsa mempunyai ideology dan pandangan hidup berbeda-beda yang
diambil dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam bangsa itu sendiri.
Pancasila digali dari bangsa Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang
semenjak lahirnya bangsa Indonesia.

6
& Majapahit, pada masa ini nilai-nilai ketuhanan, seperti kepercayaan kepada
Tuhan telah berkembang dan sikap toleransi juga telah lahir, begitupula nilai
kemanusiaan yang adil dan beradap dan sila lainnya.

2. Landasan Kultural
Pancasila merupakan salah satu pencerminan budaya bangsa, sehingga
harus diwariskan kegenerasi penerus. Secara kultural unsur-unsur pancasila
terdapat pada adat istiadat, tulisan, bahasa, slogan, kesenian, kepercayaan, agama,
dan kebudayaan pada negara Indonesia secara umum.
Pandangan hidup pada suatu bangsa adalah sesuatu hal yang tidak dapat
dipisahkan dengan kehidupan bangsa itu sendiri. Suatu bangsa yang tidak
mempunyai pandangan hidup adalah bangsa yang tidak mempunyai kepribadian
dan jati diri sehingga bangsa itu mudah terombang ambing dari pengaruh yang
berkembang dari luar negerinya.

3. Landasan Yuridis
Pancasila secara yuridis konstitusional telah secara formal menjadi dasar
negara sejak dituangkannya rumusan Pancasila dalam pembukaan UUD 1945.
Didalam UU No. 2 Th 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional digunakan
sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi, Pasal 39 ayat (2) menyebutkan
bahwa isi kurikulum pada setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat
Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan →
Kurikulum Bersifat Nasioanal.

4. Landasan Filosofis
Pembahasan di dalam Pancasila berwujud dan bersifat filosofis secara
praktis nilai-nilai tersebut berupa pandangan hidup (filsafat hidup) berbangsa.
Mempengaruhi alam pikiran manusia berupa filsafat hidup, filsafat negara, etika,
logika dan sebagainya, sehingga memberikan watak (kepribadian dan identitas)
bangsa. Berdasarkan filosofis dan objektif, nilai-nilai yang tertuang pada sila-sila
Pancasila merupakan Filosofi bangsa Indonesia sebelum mendirikan Negara

7
Republik Indonesia. Pancasila yang merupakan filsafat Negara harus menjadi
sumber bagi segala tindakan para penyelenggara Negara, menjadi jiwa dari
perundang-undangan yang berlaku bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh
sebab itu dalam menghadapi tantangan kehidupan bangsa yang memasuki
globalisasi, bangsa Indonesia harus tetap mempunyai nilai-nilai, yaitu Pancasila
sebagai sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan yang menjiwai pembangunan
nasional dalam bidang politik, ekonomi, social-budaya dan pertahanan serta
keamanan.
1.2 Tujuan Pancasila
Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia dan merupakan pedoman
pedoman bagi bangsa ini. Sebelum kita mengetahui tujuan pancasila, kita harus
tau isi yang tertera dari pancasila tersebut. Berikut adalah bunyi atau isi yang
tertera pada pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Inidonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
Berdasarkan bunyi dari ayat ayat diatas kita sebagai rakyat Indonesia perlu
memahami dan mengamalkan pancasila sebab semua ayat-ayat yang terkandung
diatas sangat baik dilakukan sebagai petunjut diri ini untuk melakukan semua
kebaikan. Dengan mempelajari pendidikan pancasila seseorang akan
memndapatkan ketenangan hidup yang mengikuti perkembangan jaman saat ini
yang semakin maju dan berkembang. Melalui Pendidikan Pancasila warga
negara Indonesia diharapkan mampu memahami, menganalisa dan menjawab
masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat bangsanya secara
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional
1. Tujuan Pendidikan Pancasila
Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya menyatakan, bahwa pendidikan
nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan

8
kebudayaa bangsa Indonesia, diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta
harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan
mandiri, sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya,
serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab
atas pembangunan bangsa.
Pendidikan Pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman
dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas
berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan
beradab, perilaku kebudayaan, dan beraneka ragam kepentingan perilaku yang
mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan perorangan dan golongan. Dengan demikian, perbedaan pemikiran,
pendapat, atau kepentingan diatasi melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
1. Tujuan Nasional
Tujuan sebagaimana ditegaskan pembukaan tersebut diwujudkan melalui
pelaksanaan penyelenggaraan Negara yang berkedaulatan rakyat dan demokratis
dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, berdasarkan pancasila dan
undang-undang dasar 1945.
1. Tujuan pendidikan nasional
Berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan
nasional.
1. Misi dan visi pendidikan pengembanganal
2. in, pendapat, atau kepentingan diatasi melalui keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesiaan berane kepribadian
Pendidikan pancasila sebagai salah satu dari mata kuliah pengembangan
kepribadian, memiliki misi dan visi yang sama dengan mata dengan lainnya, yaitu
sebagai berikut.
1. Misi pendidikan pancasila

9
Misi pendidikan pancasila menjadi sumber nilai dan pedoman bagi
penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan
kepribadiannya.
1. Visi pendidikan pancasila
Bertujuan agar mahasiswa mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaa
serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam menenrapkan ilmu pengetahuan,
teknologi.
1. Kompetensi pendidikan Pancasila
Mencakup unsur filsafat pancasila, dengan kompetnsinnya bertujuan menguasai
kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas. Adapun
kompetensi yang diharapkan adalah sebagai berikut.
1. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengambil sikap
yang bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya.
2. Mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengenali masalah
hidup dan kesejahteraan, serta cara pemecahannya.
Melalui pendidikan pancasila , warga Negara Indonesia diharapkan mampu
memahami, menganalisis, dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh
masyarakat bangsanya sevara berkesinabungan dan konsisten dengan cita-cita dan
tujuan nasional, seperti yang digariskan dalam pembukaan UUD 1945, sehingga
dapat menghayati filsafat dan ideology pancasila, serta menjiwai tingkah lakunya
selaku warga negar republik Indonesia dala melaksanakan profesinya.
1. Dasar substansi kajian pendidikan Pancasila
Berdasarkan landasan pendidikan pancasila sebagaimna yang diuraikan di atas,
maka substansi kajian pendidikan pancasila meliputi pokok-pokok bahasan
sebagai berikut.
1. Pancasila sebagai filsafat
2. Pancasila sebagai etika politk
3. Pancasila sebagai ideologi pancasila
4. Pancasila dalam konteks sejarah perjuangan bangsa indonesia.
1.3 Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

10
Mahasiswa dapat memahami latar belakang historis kuliah pendidikan
pancasila, dengan memahami fakta budaya dan filsafat hidup bersama dalam suatu
negara, dengan cara mendiskusikannya diantara mereka, untuk itu harus didasari
dengan pemahaman dasar-dasar yuridis tujuan pendidikan nasional, pendidikan
pancasila serta kompetensi yang diharapkan dari perkuliahan pendidikan
pancasila.
 Pancasila Dalam Kontek Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia
Mahasiwa mengetahui kronologis sejarah perjuangan bangsa Indonesia,
yang meliputi kejayaan zaman Sriwijaya Majapahit dan kerajaan lainnya.
Menghayati perjuangan bangsa melawan penjajah sebelum abad XX, serta
perjuangan nasional. Memahami proses perumusan dan pengesahan Pancasila
dasar Negara Indonesia yang meliputi, kronologis perumusan Pancasila dan UUD
1945, kronologi pengesahan Pancasila dan UUD 1945. Memahami dinamika
aktualisasi pancasila sebagai dasar negara, serta dinamika pelaksdanaan UUD
1945.
1. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Memberikan dasar-dasar ilmiah pancasila sebagai suatu kesatuan sistematis dan
logis. Untuk memahami dasar kesatuan perlu didasari oleh pengertian teori sistem.
2. Pancasila Sebagai Etika bangsa
Proses pembelajaran mahasiswa diharappkan untuk memahami dan mengahayati
pengertian etika sebagai salah satu cabang filsafat praktis. Berikutnya
menjelaskan pengetian etika politik dan berdasarkan rincian nilai-nilai yang
bterkandung di dalam pancasila, agar mahasiswa diharapkan memiliki
kemampuan untuk menerapkan norma-norma etika yang terkandung dalam
pancasila dalam kehidupan keraryaan, kemasyarakatan, kenegaraan.
3. Pancasila Sebagai Ideologi Nasional
Mahasiswa dapat menjelaskan ideologi umum menjelaskan makna ideology bagi
bangsa dan negara. Menjelaskan pengertian macam-macam ideologi yang
meliputi ideologi terbuka, ideologi tertutup, ideologi komperehensif dan ideologi
partikular.
4. Pancasila Dalam Konteks Ketatanegaraan Indonesia

11
Mahasiswa juga diharapkan juga untuk memiliki kemampuan untuk menjelaskan
isi pembukaan UUD 1945, pembukaan sebagai “staasfundamentalnom”,
menjelaskan hubungan UUD 1945 dengan pancasila dan pasal-pasal UUD 1945.

2.2 Tujuan Pendidikan Pancasila

Menghadapi era globalisasi ekonomi, ancaman bahaya laten terorisme,


komunisme dan fundamentalisme merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi
bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia patut mewaspadai
pengelompokan suku bangsa di Indonesia yang kini semakin kuat, yaitu ketika
bangsa ini kembali dicoba oleh pengaruh asing untuk di kotak-kotakan tidak saja
oleh konflik vertikal tetapi juga oleh pandangan terhadap ke Tuhanan Yang Maha
Esa.
Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia merupakan karya besar
bangsa Indonesia dan merupakan lambang ideologi bangsa Indonesia yang
setingkat dengan ideologi besar di dunia lainnya. Bangsa Indonesia menggunakan
Pancasila sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Pancasila juga dijadikan pedoman dalam pelaksaan
pemerintahan.
Dengan demikian Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia
bertujuan agar warga negara Indonesia menghormati, menghargai, menjaga dan
menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya
pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia.
Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar
negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa dan negara Indonesia.
Untuk itu dalam hal memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan
negara Indonesia, Pancasila mempunyai 3 Tujuan Pokok yang Mencangkup :
Tujuan Nasional
Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan Pendidikan Pancasila

Tujuan Nasional

Tujuan nasional bangsa Indonesia tertuang dalam pembukaan UUD 1945:

1. Membentuk suatu pemerintahan Negara Republik Indonesia yang melindungi


segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
2. Memajukan kesejahteraan umum atau bersama.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
4. Ikut berperan aktif dan ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang
berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kedilan sosial.

12
Tujuan nasional bangsa Indonesia seperti yang ada dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 adalah untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut diselenggarakan
pembangunan nasional secara berencana, meyeluruh, terpadu, terarah, dan
berkesinambungan. Adapun tujuan pembangunan nasional adalah untuk
mewujudkam masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat,
bersatu, dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang
aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang
merdeka, bersahabat, tertib dan damai
. Untuk tercapainya tujuan pembangunan nasional tersebut dibutuhkan
antara lain tersedianya sumber daya manusia yang tangguh, mandiri serta
berkualitas.
Untuk mencapai tujuan nasionanal bangsa Indonesia pemerintah telah melakukan
beberapa kebijakan antara lain: memberikan dana BLT (Bantuan Langsung
Tunai), penyelenggaran sekolah wajib minimal 9 tahun, pemberian dana BOS
(Bantuan Operasional Sekolah), ikut berperan aktif dalam organisasi-organisasi
internasional seperti PBB,ASEAN, mengadakan PEMILU setiap lima tahun
sekali, melaksanakan otonomi daerah, dll.
Dalam Tap. MPR no. IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara
tahun 1999-2004, dinyatakan:
“Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia
dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan
kemampuan nasional dengan memanfaatkan kemajuan iptek, serta memperhatikan
tantangan perkembangan global”.
Pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai-nilai luhur yang
universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri,
berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etikanya

Sedangkan kita sebagai Mahasiswa, kita juga dapat berperan aktif dalam
mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia antara lain dengan menambah
wawasan nusantara agar kita dapat lebih mengenal dan mencintai negara kita,
serta menghargai keanekaragamaan budaya dan etnis.Dengan begitu Negara
Indonesia akan terus berdiri kokoh sampai terwujudlah cita-cita nasional bangsa
Indonesia.

13
Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan UUD


negara Indonesia tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan
nasional Indonesia Serta tangga terhadap tuntutan perubahan zaman. Untuk
mewujudkan cita-cita ini diperlukan perjuangan seluruh lapisan masyarakat.
Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa. Melalui pendidikan bangsa akan
tegak mampu menjaga martabat.
Menurut Plato, tugas pendidikan adalah membebaskan dan
memperbaharui, lepas dari belenggu ketidak tahuan dan ketidak benaran,
sedangkan menurut Aristoteles, tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan
negara. Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan
akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama
pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama
konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia.
Jabaran UUD”45 tentang pendidikan dituangkan dalam UU no.20 th 2003
Bab II pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
UU no.2 th 1989 pasal 4, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan. Pada pasal 15 pasal yang sama tertulis “…untuk melanjutkan dan
meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan hubungan timbal balik dengan lingkungan
sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih
lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi”.

Hal di atas sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 3:


“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-
undang.”

14
Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional dan pengamalan Pancasila di
bidang pendidikan, maka pendidikan nasional mengusahakan:
1. Pembentukan manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi
kualitasnya dan mampu mandiri.
2. Pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa, dan Negara
Indonesia yang terwujud dalam ketahanan nasional yang tangguh (mampu
menangkal setiap ajaran, paham, dan ideologi yang bertentangan dengan
Pancasila).

Tujuan Pendidikan Pancasila

Dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang system Pendidikan Nasional dan juga
termuat dalam SK Dirjen Dikti. No.38/DIKTI/Kep/2003, dijelaskan bahwa tujuan
Pendidikan Pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan
terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan iman
dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas
berbagai golongan agama, kebudayaan, dan beraneka ragam kepentingan, perilaku
yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran diarahkan
pada perilaku yang mendukung upaya terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menghasilkan Masyarakat Indonesia


yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan sikap dan
perilaku:

1. Memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang bertanggungjawab sesuai


dengan hati nuraninya.
2. Memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta
cara-cara pemecahannya.
3. Mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.
4. Memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai
budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia.
5 Perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

15
kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan.

Melalui Pendidikan Pancasila, warga negara Republik Indonesia diharapkan


mampu memahami, menganilisis dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi
oleh masyarakat bangsanya secara berkesinambungan dan konsisten berdasarkan
cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia.

2.3 Pancasila Sebagai Filsafat


Definisi pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu satu kesatuan yang
saling berhubungan untuk satu tujuan tertentu, dan saling berkualifikasi yang
tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi pancasila pada dasarnya satu
bagian atau unit-unit yang berkaitan satu sama lain, dan memiliki fungsi serta
tugas masing-masing.

2.4 Pengertian Pancasila Sebagai filsafat


Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia : philo/philos/philen
yang artinya cinta/pencinta/mencintai. Jadi filsafat adalah cinta akan kebijakan
atau hakekat kebenaran. Berfilsafat artinya berfikir sedalam-dalamnya (merenung)
terhadap suatu metodik, sistematis, menyeluruh, dan universal untuk mencari
hakikat sesuatu.
Nilai-Nilai Pancasila Berwujud dan Bersifat Filosofis.
Hakikat dan pokok-pokok yang terkandung dalam pancasila adalah :
1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-ilai
yang terkandung dalam pancasila itu dijadikan tuntutan dan
pegangan dalam mengatur sikap dan tingkat laku manusia
indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, masyarakat dan alam
semester
2. Pancasila sebagai dasar negara, berarti bahwa nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila itu dijadikan dasar dan pedoman
dalam mengatur tata kehidupan bernegara seperti diatur dalam
UUD 1945

16
3. Filsafat pancasila yang abstrak tercermin dalam pembukaan UUD
1945
4. Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945
merupakan suatu kebulatan yang utuh.
5. kesatuan tafsir sila-sila pancasila harus bersumber dan berdasrkan
pembukaan dan batang tubuh UUD 1945

2.5 Pancasila Sebagai Etika Politik


Etika adalah kelompok filsafat praktis yang membahas tentang bagaimana
dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita
harus mengambil sikap yang bertanggung jawab dengan berbagai ajaran moral.
Pengertian politik berasal dari kata “Politics”, yang memiliki makna bermacam –
macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses
penentuan tujuan – tujuan.
Etika politik adalah cabang dari filsafat politik yang membicarakan
perilaku atau perbuatan-perbuatan politik untuk dinilai dari segi baik atau
buruknya.Filsafat politik adalah seperangkat keyakinan masyarakat, berbangsa,
dan bernegara yang dibela dan diperjuangkan oleh para penganutnya, seperti
komunisme dan demokrasi.
Secara substantif pengertian etika politik tidak dapat dipisahkan dengan
subjeksebagai pelaku etika yaitu manusia.Oleh karena itu, etika politik berkaitan
eratdengan bidang pembahasan moral.hal ini berdasarkan kenyataan bahwa
pengertianmoral senantiasa menunjuk kepada manusia sebagai subjek etika.Maka
kewajibanmoral dibedakan dengan pengertian kewajiban-kewajiban lainnya,
karena yangdimaksud adalah kewajiban manusia sebagai manusia, walaupun
dalam hubungannyadengan masyarakat, bangsa maupun negara etika politik tetap
meletakkan dasarfundamental manusia sebagai manusia.Dasar ini lebih
meneguhkan akar etika politikbahwa kebaikan senantiasa didasarkan kepada
hakikat manusia sebagai makhluk yangberadab dan berbudaya berdasarkan suatu
kenyataan bahwa masyarakat, bangsamaupun negara bisa berkembang ke arah
keadaan yang tidak baik dalam arti moral.

17
Tujuan etika politik adalah mengarahkan kehidupan politik yang lebih
baik, baik bersama dan untuk orang lain, dalam rangka membangun institusi-
institusi politik yang adil.Etika politik membantu untuk menganalisa korelasi
antara tindakan individual, tindakan kolektif, dan struktur-struktur politik yang
ada.Penekanan adanya korelasi ini menghindarkan pemahaman etika politik yang
diredusir menjadi hanya sekadar etika individual perilaku individu dalam
bernegara.Nilai-nilai Pancasila Sebagai Sumber Etika Politik. Dalam pelaksanaan
dan penyelenggaraan Negara, etika politik menuntut agar kekuasaan dalam
Negara dijalankan sesuai dengan:
1. Legitimasi hukum
2. Legitimasi demokratis
3. Legitimasi moral

2.6 Nilai,Moral dan Norma


Pengertian nilai, menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan
pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan
teori, sehingga bermakna secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk
mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai
dijadikan standar perilaku. Sedangkan menurut Dictionary dalam Winataputra
(1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap
memiliki nilai apabila sesuatu tersebut secara instrinsik memang berharga.
Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya
seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga
negara. Sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadaikan anak
manusia bermoral dan manusiawi. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan
(1997), moral adalah prinsip baik-buruk yang ada dan melekat dalam diri
individu/seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri individu, tetapi moral
berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan moralitas memiliki
sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk sedangkan moralitas
merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, hakekat dan

18
makna moralitas bisa dilihat dari cara individu yang memiliki moral dalam
mematuhi maupun menjalankan aturan.
Pengertian norma adalah tolok ukur/alat untuk mengukur benar salahnya
suatu sikap dan tindakan manusia. Normal juga bisa diartikan sebagai aturan yang
berisi rambu-rambu yang menggambarkan ukuran tertentu, yang di dalamnya
terkandung nilai benar/salah. Norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia ada
lima, yaitu (1) norma agama, (2) norma susila, (3) norma kesopanan, (4) norma
kebiasan, dan (5) norma hukum, disamping adanya norma-norma lainnya.

2.7 Pancasila Sebagai Ideologi Nasional


Ideologi Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara juga sekaligus ideologi
nasional. Makna Pancasila sebagai ideologi nasional bangsa Indonesia adalah
bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila itu menjadi cita-cita
normatif bagi penyelenggaraan bernegara. Dengan kata lain, visi atau arah dari
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah
terwujudnya kehidupan yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang bersatu,
yang berkerakyatan, dan yang berkeadilan.

Dalam Pancasila terkandung nilai-nilai luhur dan cita-cita bangsa


Indonesia. Pancasila diangkat dari nilai-nilai, adat istiadat, kebudayaan, nilai-nilai
moralitas yang terdapat dalam pandangan hidup bangsa Indonesia. Dengan
demikian, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berakar dari
pandangan hidup dan budaya bangsa. Pancasila tidak mengadopsi dari ideologi
yang berasal dari luar.

2.8 Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara republik Indonesia disahkan oleh PPKI


pada tanggal 18 agustus 1945, nilai-nilai yang terkandung sudah sudah ada dalam
kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup masyarakat. Pancasila secara
komprehensif dan integral dalam kaitanya dengan pembentukan watak bangsa
yang akhir ini adanya penurunan kadar nilai maka guna untuk menumbuhkan
lagai ras nasionalisme, heroic dan patriotik. Dasar-dasar pembentukan
nasionalisme modern baru dirintis oleh para pejuang bangsa yang dimulai dari
pergerakan nasional yaitu kebnagkitan nasional pada tahun 1908 (lahirnya Boedi
Oetomo)dan diikrakan sumpah pemuda pad tanggal 28 oktober 1928 dan akhirnya
bangsa indonesia mewujudkan pada tanggal 17 agustus 1945 bahwa bangsa

19
Indonesia merdeka dantanggal 18 agustus 1945 resmi menjadi negara, baim secara
defacto (factual) maupun dejure (yuridis). Proses terjadinya bangsa pun terjadi

sejak jaman kerjaaan telah nampak-nampak di Indonesia.

2. Zaman Kerajaan-Kerajaan dan Zaman Penjajah yang ada di Indonesia :

Zaman kerajaan dan zaman penjajah tidak bisa kita lepaskan dari beridirnya
bangsa indonesia, kerjaan yang ada di indonesia seperti kerjaaan Kutai, Sriwijaya,
dan Majapahit. Negara yang menjajah indonesia terdiri dari negara Belanda dan
Jepang. Berikut kerjaan dan negara penjajah yang tidak bisa dilepaskan dari
negara indonesia.

a. Kerajaan Kutai
Kerjaan dibangun pada tahun 400 M, dengan raja yang pertama Kudungga
lalu digantikan oleh Mularwarman dan Aswawarman. Kerujaan kutai adalah
kerjaan pertama yang membuka sejarah bangsa Indonesia dengan mengenalkan
nilai sosial dan agama budha.

b. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan sriwijaya dibangun pada tahun 600-1400 M. didirikan oleh
Balaputra Dewa dari Wangsa Syailendra. Menurut Moh.Yamin berdiri negara
indoensia tidak dappat dipisahkan oleh zaman kerjaan, negara kebangsaan
indoensia tebentuk dari tiga tahap yaitu:
– Kerajaan Sriwijaya yang bercirikan kedatuan
– Kerajaan Majapahit yang bercirikan keprabuan
– Negara kebangsaan modern yaitu inodnesia yang merdeka tanggal 18
agustus 1945 menjadi sebuah negara.

Nilai-nilai yang bisa dipetik dari kerajaan sriwijaya:


a. Nilai nasionalisme yang berhubungan dengan kerajaan kedatuan
b. Kerajaan sriwijaya adalah kerjaan maritim yang mengandalkan laut sebagai
kekuatan berperangnya mulai dari selat sunda sampai selat malaka.
c. Sistem pemerintahanya sudah ada pengurus pajak, kerohanian dan harta benda
kerjaan.
d. Kerajaan sriwijaya memiliki cita-cita agar sejahtera bersama dalam suatu
negara.
c. Kerajaan Majapahit
Kerjaan majapahit dibangun pada tahun 1923, Rajanya yaitu Hayam Wuruk
dengan patihnya adalah Gajah Mada kerjaan majapahit sudah telah mencapai

20
zaman keemasan, batas wilaya kerjaanya dari semenanjung melayu sampai
Kalimantan utara. Terdapat dua penulis pada zaman kerajaan majapahit serta
istilah dilamnya.
– Mpu Prapanca menulis kitab Negarakertagam ditemukan istilah pancasila.
– Mpu Tantular menulis buku Sutasoma yang didalamnya ditemukan seloka
persatuan nasional yaitu Bhineka Tunggal Ika yangb berbunyi “ Bhineka Tunggal
Ika Tan Hana Dharma Mangrua “ artinya walapun berbeda namun satu jiwa”.
Patih Gajah Mada mempunyai cita-cita ingin mempersatuka Nusantara Raya
dengan sumpahnya (sumpah palapa ) “ saya tidak akan makan buah palapa
(kelapa) jikalau belum suluruh nusantara bertakluk dibawah kekuasaan negara,
jikalau gurun, seram, tanjung, haru, Pahang, dempo, bali, sunda, Palembang dan
tumasik belum dikalahkan.”
d. Zaman Penjajah
Awalnya bangsa asing (potugis dan belanda) datang di Indonesia hanya
untuk berdagang yang kemudia berubah menjadi praktek menjajah. Belanda
menghindari persaingan dengan mengadakan perkumpulan yang bernama VOC
(Verenigde Ost Indische Compagnie ) dikalangan rakyat dikenal dengan kompeni.
Praktek VOC sudah denga paksaan-paksaan dalam bertindak bukan lagi pedagang
tapi sudah jadi penjajah, Indonesia di jajah oleh belanda selama 3,5 abad sehingga
rakyat indoneis amenjadi sengsara. Banyak pemberontakan daribangsa Indonesia
betujuan untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara. Belanda menggunakan
strategi politik adu domba, monopoli, penyempitan gerak dan tanam paksa.

e. Kebangkitan Nasional
Gerkana nasional ditanah air dilator belakangi adanya pergolakan kebangkitan di
dunia timur, yaitu munculnya kesadaran akan kekuatannya sendiri, antara lain :
– Filipina (1898) dipimpin oleh Jose Rizal
– Jepang (1905) kemenangan atas Rusia di Tunisia
– China (1911) dipimpin oleh Sun Yat Zen, china melawan jepang
– India yang dipelopori oleh Nehru dan mahatma Gandhi melawan inggris
– Indonesia 2 mei 1908 dipelopori oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin
Soediro Hoesodo (Boedi Oetomo), pergerakan bangsa nasional yang merupakan
kebangkitan akan kesadaran kebangsaan (nasional).
Mulanya pergerakan-pergerakan yang didirikan berasakan kooperatif,
namun perkembangan jaman berubah menjadi non kooperatif dan awalnya
bertujuan untuk perdangan, sosial, agama, dan pendidikan namun meningkat
menjadi sebuah tuntutan politik yaitu Indonesia merdeka.
Tujuan merdeka kata-katanya dipelopori oleh kaum muda dari seluruh nusantara,
mulai dari :
– Jawa jong Java – Sulawesi Jong Celebes

21
– Ambon Jong Ambon – Sumatra Jong Sumatra
Sedangkan untuk tokoh-tokoh pemudanya anatra lain :
– Moh. Yamin
– Wongsonegoro
– Kuncoro Probopranoto
Kongres ke II pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar tersebut diwujudkan dalam
sumpah pemuda “ berbangsa satu, bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa
indonesia, dan bertanah air satu tanah air indoneisa “ bersamaan dikumandangkan
lagu indoneisa raya ciptaan W.R. supratman.

f. Zaman Penjajahan Jepang


Jepang masuka ke Indonesia dengan propaganda tiga A, yaitu Nippon
cahaya asia, Nippon pelindung asia dan Nippon pelindung asia, dan mengaku
sebagai saudara dari Indonesia. Perang melawan sekutu (Amerika, Inggris, Rusia,
Prancis, dan Belanda ) karena jepang mulai terdesak mka dia mengambil simpatik
bangsa indoensia dengan menjanjikan kemerdekaan.
Realisasi janji kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, dibentukanya suatu
badan yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan indonesia diberi nama
(BPUPKI) Badan Penyelidik Usaha-Usaha Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia.
a) Sidang BPUPKI Pertama

Sidang BPUPKI dilaksanakan selama 4 hari berturut-turut mulai dari tanggal 29


juni sampai 1 juli 1945, agenda pertamanya adalah pemaparan rumusan calon
dasar negara.

Rumusan Moh. Yamin (29 juni 1945)

Berisikan lima dasar Negara Indonesia merdeka, yakni:

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan

Selesai berpidato mengemukakan rumusan calon dasar negara indonesia merdeka


beliau juga mengusulkan rancangan UUD RI, dari rancangan UUD tersebut
tercantum rumusan lima asas dasar negara , sebagai berikut:

22
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusia Yang adil dan beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
atau perwakilan
5. Keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.

b) Prof. Dr. Soepomo (31 Mei 1945)


Berbeda dengan Moh Yamin, beliau tidak mengemukakan rumusan calon
dasar negara, tetapi hanya mengemukakan teori-teori negara sebagai berikut:
– Teori Negara Perorangan (Individualis)

Negara adalah masyarakat hukum (legal society) yang disusun atas kontra antara
seluruh individu dengan pemerintah atau penguasa. Tokoh-tokoh yang
mengajarkan teori negara perorangan yaitu :

• Thomas Hobbes (abad 17)


• JJ Ressouau (abad 18)
• Hebert Spencer (abad 19)
• H.J Laski (abad 20)

– Paham negara Kelas atau teori Golongan (Class Theory)


Negara adalah alat dari suatu golongan ata kelas untuk menindas kelas yang lain
(Protelar). Negara kapitalis adalah alat kaum borjunis. Teori ini diajarkan oleh
Karl Max, Engel, dan Lenin.

– Paham Negara Integralistik

Menurutnya negara bukan menjamin perseorangan dan golongan, tetapi menjamin


seluruh kepentingan masyarakat. Negara adalah susunan masyarakat integral,
segala golongan, bangian yang seluruh anggotanya saling berhubungan dan
merupakan suatu organis. Took yang mengajarkanny adalah Spinoza, Adam
Muller dan Hegel.

c) Ir Soekarno (1 Juni 1945)

Dalam Pidatonya Ir Soekarno mengajukan calon dasar negra dengan lima asa
yang diberi nama PANCASILA adapun rumusanya sebagai berikut:
1. Nasionalisme atau Kebangsaan

23
2. Internasionalisme atau Perikamunisaan

3. Mufkat atau demokrasi


4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhunan Yang berkebudayaan

Sidang BPUPKI kedua (10 juli – 16 juli 1945)

Mengahsasilkan bebrapa keputusan-keputusan yang lain, adalah :


– Membentuk pantia perancangan UUD yang diketahui oleh Ir. Soekarno
– Membentuk panitia ekonomi dan keuangan yang diketahui oleh Drs. Moh. Hatta
– Membentuk panitia pembelaan tanah air diketahui oleh Abikusno Tjokrosoejoso
– Panitia perancangan UUD pada tangga 14 juli 1945 melaporkan bahwa susunan
UUD terdiri dari 3 bagian yaitu:

• Pernyataan indonesia merdeka, berupa dakwaan dimuka dunia atas penjajahan


belanda
• Pembukaan berisi dasar negara pancasila

• Pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945.

Sidang PPKI pada tanggal 18 agustus 1945 yang pertama kali dihadiri oleh 27
orang daan menghasilkan keputusan sebgai berikut.
– Mengesashkan berlakunya UUD 1945
– Memilih presiden dan wakil presidan
– Menetapkan berdirinya komite nasional indonesia pusat (KNIP) sebagai badan
musyawarah darurat.
3. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Proklamasi kemerdekaan secara ilmiah mengandung pengertian sebagai berikut :
– Dari sudut pandang ilmu hokum (yuridis). Proklamasi merupakan saat todak
berlakunya tertib hokum colonial dn saat itu berlakunya hokum nasional
– Secara politis ideologis. Proklamasi mengandung arti bangsa indonesia terbebas
dari penjajah bangsa asing dan memiliki kedaulatan untuk menentukan nasib
sendiri.
4. Pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
Konferensi meja bundar di den hag tanggal 27 desember 1949 merupakan suatu
persetujuan yang ditandatangani antara ratu belanda yulina dan pemerin tahan
indoensia yang menghasilkan keputusan antara lain:
1. Konstitusi rIS menentukan negara serikat yang memebagi negara indonesia

24
terdiri dari 16 negara bagian

2. Konstitusi RIS menentukan sifat pemerintah berdasarkan asas demokrasi liberal


3. Mukadimah konstitusi RIS mengapuskan jiwa dari isi pembukaan UUD 1945.
4. Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Hasil pemilu 1959 dalam kenyataan tidak memenuhi keinginan masyarakat


bahkan mengakibatkan ketidakstabilan pada bidang poleksosbudhankam, keadaan
ini disebabkan oleh keadaan sebagi berikut:

1. Makin berkuasa modal-modal raksasa di perekonomian indonesia


2. Akibatnya sering berganti sistem cabinet

3. Sistem liberal pada UUD sementara 1950 mengakibtakan jatuh bangunya


pemerintahan.
4. DPR hasil pemilu 1955 tidak mampu mencerminkan perimbangan kekuatan
politik yang ada

5. Factor yang menentukan adanya dekrit presiden adalah gagalnya konstituante


untuk pembentukan UUD yang baru.

Kegagalan tersebut mengakibatkan presiden mengelurkan dekrit 5 juli 1059 yang


isinya.
– Membubarkan konstituante

– Menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950
– Dibentuknya MPRS dan PAS dalaam waktu sesingkat-singkatnya.
Dengan berlakunya kembali UUD 1945 selanjutnya terjadi pelaksanan pemerintah
Orde Lam sampai tahun 1966 akibat adanya pemberontakan PKI September 1965
atau dikenal dengan G.30 S/PKI. Pemberontakan dapat dikuasai oleh letjen
Suharto maka pemerintah melaksanakan ketentuan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen. Pemerintahan disebut pemerintahan orde baru yang berkuasa sampai
1998 dan kemudian berganti dengan pemerintahan reformasi sampai sekarang.

25
2.9 Pancasila dalam Konteks Ketatanegaraan Republik Indonesia

Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan suatu asas kerokhanian yang


dalam ilmu kenegaraan popular disebut sebagai dasae filsafat Negara
(Philosofische Grondslag). Dalam kedudukan ini Pancasila merupakan sumber
nilai dan sumber norma, kaidah baik moral dalam setiap aspek penyelenggaraan
negara, termasuk sebagai sumber tertib hukum di negara Republik Indonesia.
Negara Indonesia adalah negara demokrasi yang berdasarkan atas hokum,
oleh karena itu segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara di
atur dalam suatu system peraturan perundang-undangan. Dalam pengertian inilah
maka negara dilaksanaka berdasarkan pada suatu konstitusi atau Undang-Undang
Dasar Negara. Pembagian kekuasaan, lembaga-lemaga tinggi negara, hak dan
kewajiban warga negara, keadilan social dan lainya di atur dalam suatu Undang-
Undang Dasar negara.
1. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Pembukaan UUD 1945 bersamaan dengan pasal-pasal UUD 1945, disahkan
oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, dan diundangkan dalam Berita
Republik Indonesia Tahun II No.7.
Pembukaan UUD 1945 terdiri atas empat alinea, dan setiap alinea memiliki
spesifikasi jikalau ditinjau berdasarkan isisnya. Alinea pertama, kedua dan ketiga
memuat pernyataan yang menjelaskan peristiwa yang mendahului terbentuknya
negara Indonesia. Alinea ke empat memuat fundamental negara, yaitu: tujuan
negara, ketentuan UUD negara, bentuk negara dan dasar filsafat negara Pancasila.
a. Pembukaan UUD 1945 sebagai Tertin Hukum Tertinggi
Kedudukan Pembukaan UUD 1945 dlam kaitannya dengan tertib hokum
Indonesia memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu: pertama, memberikan
faktor-faktor mutlak bagi terwujudnya tertib hokum Indonesia. Kedua,
memasukan diri dalam tertib hukum Indonesia sebagai tertib humuk tertinggi.
Berdasarkan penjeasan isi Pembukaan UUD 1945 dalam Berita Republik
Indonesia Tahun II No. 7 dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD 1945 adalah
sebagai sumber hokum positif Indonesia.
b. Pembukaan UUD 1945 Memenuhi Syarat Adanya Tertib Hukum Indonesia

26
Syarat-syarat tertib hukum yang dimaksud meliputi empat hal, yaitu :
1) Adanya kesatuan subyek,
2) Adanya kesatuan asas kerokhahian,
3) Adanya kesatuan daerah,
4) Adanya kesatuan waktu.
Dengan demikian maka seluruh peraturan hukum yang ada di dalam
wilayah Republik Indonesia sejak ditetapkan telah memenuhi syarat sebagai suatu
tertib hukum negara.
c. Pembukaan UUD 1945 sebagai Pokok Kaidah yang Fundamental
Pokok Kaidah yang Fundamental menurut ilu hukum ketatanegaraan
memiliki beberapa unsur mutlak, antara lain dapat dirinci sebagai berikut:
1) Dari segi terjadinya:
Ditentukan oleh Pembentuk Negara dan terjelma dalam suatu pernyataan lahir
sebagai penjelmaan kehendak Pembentuk negara, untu menjadikan hal-hal
tertentu sebagai dasar-dasar negara yang dibentuknya.
2) Dari segi isinya:
a) Dasar tujuan negara, (baik tujuan umum maupun tujuan khusus)
b) Ketentuan diadakannya UUD Negara
c) Bentuk negara
d) Dasar filsafat negara (asas kerokhanian negara)

2.10 Dinamika Pelaksanaan UUD 1945 Pada Masa Orde Lama


Sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 juli 1959 itu maka UUD
1945 berlaku kembali di Negara Republik Indonesia. Sekalipun UUD
1945 secara yuridis formal sebagai hukum dasar tertulis yang berlaku di
Indonesia namun realisasi ketatanegaraan Indonesia tidak melaksanakan
makna dari UUD 1945 itu sendiri. Sejak itu mulai berkuasa kekuasaan
Orde Lama yang secara ideologis banyak dipengaruhi oleh paham
komunisme. Hal ini nampak adanya berbagai macam penyimpangan
ideologis yang dituangkan dalam berbagai bidang kebijaksanaan dalam
negara.

27
Dikukuhkannya ideologi Nasakom, dipaksakannya doktrin Negara
dalam keadaan revolusi. Oleh karena revolusi adalah permanen maka
Presiden sebagai Kepala Negara yang sekaligus juga sebagai Pemimpin
Besar Revolusi, diangkat menjadi Pemimpin Besar Revolusi, sehingga
Presiden masa jabatannya seumur hidup.Penyimpangan ideologis maupun
konstitusional ini berakibat pada penyimpangan-penyimpangan
konstitusional lainnya sebagai berikut :
1. Demokrasi di Indonesia diarahkan menjadi demokrasi terpimpin,
yang dipimpin oleh presiden, sehingga praktis bersifat otoriter. pada
sebenarnya di negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila berazas-
kan kerakyatan,sehingga seharusnya rakyatlah sebagai pemegang
serta asal mula kekuasaan negara, demikian juga sebagaimana yang
tercantum dalam UUD 1945.
2. Oleh karena Presiden sebagai pemimpin besar revolusi maka
memiliki wewenang yang melebihi sebagaimana yang sudah di
tentukan oleh Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mengeluarkan
produk hukum yang setingkat denganUndang-Undang tanpa melalui
persetujuan DPR dalam bentuk penetapan presiden.
3. Dalam tahun 1960, karena DPR tidak dapat menyetujui rancangan
pendapatan dan Belanja Negara yang di ajukan oleh pemerintah.
Kemudian presiden waktu itu membubarkan DPR hasil pemilu 1955
dan kemudian membentuk DPR gotong royong. Hal ini jelas-jelas
sebagai pelanggaran konstitusional yaitu kekuasaan eksekutif di atas
kekuasaan legislatif.
4. Pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara dijadikan menteri
negara, yang berarti sebagai pembantu presiden. Selain
penyimpangan-penyimpangan tersebut masih banyak penyimpangan-
penyimpangan dalam pelaksanaan ketatanegaraan yang seharusnya
berdasarkan pada UUD 1945. Karena pelaksanaan yang
inskonstitusional itulah maka berakibat pada ketidak stabilan dalam
bidang politik, ekonomi terutama dalam bidang keamanan. Puncak

28
dari kekuasaan Orde Lama tersebut ditandai dengan pemberontakan
G30S.PKI. dan pemberontakan tersebut dapat digagalkan oleh rakyat
Indonesia terutama oleh generasi muda. Dengan dipelopori oleh
pemuda, pelajar, dan mahasiswa rakyat Indonesia menyampaikan
Tritula (Tri Tuntutan Rakyat) yang meliputi :
a. Bubarkan PKI.
b. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur KPI.
c. Turunkan harga/perbaikan ekonomi.

Gelombang gerakan rakyat semakin besar, sehingga presiden tidak


mampu lagi mengembalikannya ,maka keluarlah surat perintah 11 maret
1966 yangmemberikan kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil
langkah-langkah dalam mengembalikan keamanan negara. Sejak peristiwa
inilah sejarah ketatanegaraan Indonesia dikuasai oleh kekuasaan Orde
Baru.

2.11 Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Bermasyarakat, Berbangsa


dan Bernegara
1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan
Tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang
rinciannya adalah sebagai berikut : “melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpahdarah indonesia” hal ini dalam kapasitasnya tujuan negara
hukum formal ataupun rumusan “memajukan kesejahteraan umum
mencerdaskan kehidupan bangsa“ hal ini dalam pengertian negara hukum
material, yang secara keseluruhan sebagai manifestasi tujuan
khusus/nasional.

Adapun tujuan internasional (tujuan umum) “ikut melaksanakan


ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamain abadi dan
keadilan sosial”.

29
Secara filsofis hakikat kedudukan pancasila sebagai pradigma
pembangunnan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembangunan nasional kita harus mendasarkan pada hakikat
nilai-nilai sila-sila pancasila.

Unsur-unsur hakikat manusia “monopluralisasi” meliputi susunan kodrat


manusia, rokhani (jiwa) dan raga, sifat kodrat manusia makhluk individu
dan makhluk sosial serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk
pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa.

a. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Iptek


Ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakikatnya merupakan suatu
hasil kreativitas rokhani manusia. Akal merupakan potensi rokhaniah
manusia dalam hubungan dengan intelektualitas, rasa dalam bidang
estetis dan kehendak dalam bidang moral(etika). Tujuan yang esensial
dari iptek adalah demi kesejahteraan umat manusia, sehingga iptek
pada hakikatnya tidak bebas nilai namun terikatoleh nilai.
Pengembangan iptek sebagai hasil budaya manusia harus didasakan
pada moral Ketuhana dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

b. Pancasilasebagaiparadigma pembangunanPoleksosbudhankam
Pembangunan yang merupakan realisasi praksis dalam negara untuk
mencapai tujuan seluruh warga harus mendasarkan pada hakikat
manusia sebagai subjek pelaksanaan sekaligus tujuan pembangunnya.

Pembangunan yang merupakan realisasi praksis dalam Negara harus


berdasarkan pada hakikat manusia.Hakikat manusia adalah
‘monopoluralis’ artinya meliputi berbagai unsur yaitu rokhani-
jasmani,individu-makhluk sosial serta manusia sebagai pribadi-
makhluk Tuhan yang Maha Esa.

30
1) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Bidang Politik
Drs. Moh.Hatta, menyatakan bahwa negara berdasarkan atas
Ketuhanan yang Maha Esa, atas dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan politik
negara terutama dalam proses reformasi dewasa ini harus
mendasarkan pada moralitas sebagaimana tertuang dalam sila-sila
pancasila sehingga. Praktek-praktek politik yang menghalalkan
segala cara dengan memfitnah, memprovokasi menghasut rakyat
yang tidak berdosa untuk diadu domba harus segera diakhiri.
Pancasila dalam pengembangan kehidupan politik dapat dilakukan
dengan cara :
a) Mewujudkan tujuan negara demi peningkatan harkat dan
martabat manusia
b) Memposisikan rakyat Indonesia sebagai subjek dalam
kehidupan politik, bukan hanya sebagai objek politik penguasa
semata.
c) Sistem politik negara harus mendasar pada tuntutan hak dasar
kemanusiaan
d) Para penyelengggara dan politisi negara senantiasa memegang
budi pekerti kemanusiaan serta memegang teguh cita-cita moral
rakyat Indonesia

2) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ekonomi


Perkembangan ilmu ekonomi pada akhir abad ke-18
menumbuhkan ekonomi kapitalis. Atas dasar kenyataan objektif
inilah maka di Eropa pada awal abad ke-19 munculah pemikiran
sebagai reaksi atas perkelimbangan ekonomi tersebut yaitu
sosialisme komunisme yang memperjuangkan nasib kaum proletar
yag di tindas oleh kaum kapitalis.

31
Mubyarto mengembangkan ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi
yang humanistik yang mendasarkan pada tujuan demi
kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan ekonomi adalah untuk
memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih
sejahtera.Maka sistem ekonomi Indonesia mendasarkan atas
kekeluargaan seluruh bangsa.

Perwujudan pancasila sebagai paradigm pembangunan bidang


ekonomi dapat dilakukan dengan cara :
a) Sistem ekonomi negara senantiasa mendasar pada pemikiran
untuk mengembangkan ekonomi atas dasar moralitas
kemanusiaan dan ketuhanan
b) Menghindari pengembangan ekonomi yang mengarah pada
sistem monopoli persaingan bebas
c) Mengembangkan sisitem ekonomi kerakyatan dan
kekeluargaan yang ditujukan untuk mencapai kesejahteraan
rakyat secara luas

3) Pancasila Sebagai Paradigma Pengembangan Sosial Budaya


Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik,
artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai yang
bersumber pada harkat dan martabat manusia sebagi mahkluk yang
berbudaya. Terdapat rumusan dalam sila kedua pancasila yaitu
“kemanusiaan yang adil dan beradab”. Pancasila merupakan
sumber normatif bagi peningkatan humanisasi
dalam bidang sosial budaya. Sebagai kerangka kesadaran pancasila
dapat merupakan dorongan untuk :
a) Universalisasi yaitu melepaskan simbol-simbol dari keterkaitan
struktur, dan
b) Transendentalisasi yaitu meningkatkan derajat kemerdekaan
manusia,dan kebebasan spiritual(koentowijoyo,1986).

32
Perwujudan Pancasila sebagai paradigma
pengembangan bidang sosial budaya dapat dilakukan dengan
cara:
a) Senantiasa berdasarkan sistem nilai yang sesuai dengan nilai-
nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia
b) Pembangunan ditujukan untuk meningkatkan derajat
kemerdekaan manusia dan kebebasan spiritual
c) Menciptakan sistem sosial budaya yang beradab
melaluipendkatan kemanusiaan secara universal

4) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan HanKam


Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu
masyarakat hukum. Demi tegaknya hak-hak warga negara maka
diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik dalam
rangka mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka
melindungi hak-hak warganya. Oleh karena itu pertahana dan
keamanan negara harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila. Pertahanan dan keamanan negara
harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung
dalam pancasila.
Pertahanan dan keamanan negara harus mendasarkan pada
tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai
makhluk Tuhan yang Maha Esa(sila I dan ll). Pertahanan dan
keamanan negara haruslah mendasarkan pada tujuan demi
kepentingan warga dalam seluruh warga sebagai warga negara (sila
lll). Pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak-hak
dasar, persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan (sila IV )
dan akhirnya pertahanan dan keamanan haruslah diperuntukan
demi terwujudnya keadilan dalam hidup masyarakat (terwujudnya
suatu keadilan sosial) agar benar-benar negara meletakan pada

33
fungsi yang sebenarnya sebagai suatu negara hukum dan bukannya
suatu negara yang berdasarkan atas kekuasaan.
Perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam pembangunan
bidang hankam dapat dilakukan dengan cara:
a) Pertahanan dan keamanan negara harus berdasarkan kepada tujuan
demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk
Tuhan.
b) Pertahanan dan keamanan negara harus berdasarkan pada tujuan
demi tercapainya kepentingan seluruh warga Negara Indonesia.
c) Pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak asasi
manusia .persamaan derajat serta kebebasan manusia.
d) Pertahanan dan keamanan negara harus diperuntukan demi
terwujudnya keadilan dalam kehidupan masyarakat.

5) Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Kehidupan


Beragama
Dalam hal ini Negara menegaskan dalam pokok pikiran IV
bahwa”negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa,atas asas
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Hal ini berarti bahwa
kehidupan dalam negara mendasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.
Negara memberikan kebebasan pada warganya untuk memeluk
agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
negara indonesia memberikan kebebasan atas kehidupan
beragama/dengan lain perkataan menjamin atas demokrasi di
bidang agama. Dasar-dasar ajaran-ajaran sesuai dengan keyakinan
masing-masing maka dalam pergaulan hidup negara kehidupan
beragama hubungan antara pemeluk agama didasarkan atas nilai-
nilai kemanusiaan yang beraab hal ini berdasarkan pada nilai
bahwa semua pemeluk agama adalah sebagai bagian dari umat
manusia di dunia.

34
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut pancasila sebagai dasar negara mempunyai
sifat imperatif atau memaksa serta memiliki nilai – nilai luhur yang terkandung
dalam pancasila yang bersifat obyektif – subyektif. Bagi bangsa indonesia hakikat
yang sesungguhnya dari pancasila adalah sebagai pandangan hidup bangsa dan
sebagai dasar negara. Kedua pengertian tersebut sudah selayaknya kita pahami
akan hakikatnya. Selain dari pengertian tersebut, pancasila memiliki beberapa
sebutan yang berbeda.
Menurut pendapat Harol H.Titus defenisi dari ideologi adalah suatu istilah yang
digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai berbagai macam masalah politik
ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang
sistematis tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh sekelompok atau lapisan
masyarakat Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem
pemikiran terbuka yang dimana memiliki ciri-ciri ideologi dan fungsi ideologi
sesuai bidangnya. Pancasila sebagai ideologi memiliki dua ciri yaitu ideologi
terbuka dan ideologi tertutup.

3.2 SARAN
Makalah yang kami susun semoga bisa membantu kita lebih memahami
tentang pancasila sebagai ideologi negara yang lebih mendalam.Mohon
permakluman dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat
banyak kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman.Karena tiadalah
sesuatu yang sempurna yang bisa manusia ciptakan.

35
DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT.


Gramedia.
Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pancoran Tujuh.
Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pantjoran Tujuh.
Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta

36