Anda di halaman 1dari 21

MINI PROJECT

GAMBARAN PERILAKU CUCI TANGAN

SEBELUM DAN SESUDAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN

PADA SISWA KELAS SATU SDN 1 SULI

Disusun oleh :

dr. Fendi Permana

Pembimbing :

dr. Dianthi Buntang

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

PERIODE FEBRUARI 2018-FEBRUARI 2019

MALUKU

2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan kesehatan bagi anak bertujuan menambah kebiasaan hidup sehat
agar dapat bertangung jawab terhadap kesehatan diri sendiri dan lingkungannya serta
ikut aktif dalam usaha–usaha kesehatan. Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah
memberikan pengetahuan tentang prinsip dasar hidup sehat, menimbulkan sikap dan
perilaku hidup sehat, dan membentuk kebiasaan hidup sehat.
Menurut Kementrian Kesehatan RI, kondisi sehat dapat dicapai dengan
mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan
lingkungan sehat. Perilaku Hidup Bersih (PHBS) salah satunya yaitu dengan tindakan
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Perilaku seseorang dilatarbelakangi atau dipengaruhi
oleh tiga faktor pokok yakni faktor predisposisi (predisposing factor) meliputi
pengetahuan (dapat diperoleh melalui pendidikan, paparan media masa, hubungan sosial
dan pengalaman), sikap, kepercayaan, nilai, tradisi dan sebagainya. Faktor yang
mendukung (enabling factor) meliputi ketersediaan sumber-sumber/fasilitas, factor yang
memperkuat. Faktor pendorong (reinforcing factor) meliputi sikap dan perilaku petugas
atau tokoh masyakarat. Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan sebagai intervensi
kesehatan harus bisa diarahkan dalam tiga factor tersebut.
Mencuci tangan menggunakan sabun menyebabkan anak harus
mengalokasikan waktunya lebih banyak saat mencuci tangan, namun penggunaan sabun
menjadi efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan
digosok dan bergesek. Di dalam lemak dan kotoran yang menempel merupakan kuman
penyakit hidup. Di Indonesia perilaku cuci tangan memakai sabun perlu ditingkatkan
karena masih rendahnya kebiasaan cuci tangan yaitu 14,3 % sebelum makan dan 11,7%
sesudah buang air besar, setelah menceboki bayi 8,9%, sebelum menyuapi anak 7,4%
dan sebelum menyiapkan makanan hanya 6% (Data Survei Baseline Environmental
Service Program/ESP-USAID, 2016). Rerata nasional proporsi penduduk Indonesia
dalam perilaku mencuci tangan meningkat dari tahun 2007 (23,2%) menjadi 47% pada
tahun 2013 tetapi perilaku cuci tangan di provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk 10
provinsi terendah dalam berperilaku mencuci tangan yang benar dengan nilai 38,1%.

2
Tangan merupakan pembawa utama kuman penyakit. Tangan yang bersih
akan mencegah penularan penyakit seperti diare, kolera disentri, typus, kecacingan,
penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Cuci tangan dapat
menjadikan tangan bersih dan bebas dari kuman.
Perilaku cuci tangan ini pada umumnya sudah diperkenalkan kepada anak-
anak sejak kecil, tidak hanya oleh orang tua di rumah, bahkan menjadi salah satu
kegiatan rutin yang diajarkan para guru di Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah
Dasar. Kenyataannya perilaku sehat ini belum menjadi budaya masyarakat kita dan
biasanya hanya dilakukan sekedarnya. Oleh karena itu, sangat penting perilaku cuci
tangan pakai sabun dengan baik dan benar sejak dini merupakan perilaku yang sangat
efektif untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit menular.
Berdasarkan laporan survei perilaku cuci tangan di SDN 1 Suli menyatakan
bahwa siswa belum terbiasa melakukan cuci tangan setelah beraktivitas maupun sebelum
atau sesudah makan sehingga perlu diadakan penelitian mengenai gambaran perilaku
cuci tangan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti mengangkat masalah
penelitian yaitu “Bagaimana gambaran perilaku cuci tangan sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan pada siswa kelas satu SDN 1 Suli?”

1.3.Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi gambaran perilaku cuci tangan sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan pada siswa kelas satu SDN 1 Suli.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat meningkatkan pengalaman dan pemahaman peneliti mengenai
penerapan perilaku cuci tangan di lingkungan sekolah.

1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan


Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dan masukan dalam
pengembangan pendidikan dan pengajaran mengenai penerapan perilaku cuci
tangan di lingkungan sekolah.
3
1.4.3. Bagi Profesi Kesehatan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi petugas kesehatan yang
bekerja terutama dalam bidang promosi kesehatan di lingkungan sekolah
dalam memberikan intervensi yang tepat terkait penerapan perilaku cuci
tangan di lingkungan sekolah.
1.4.4. Bagi Puskesmas
Penelitian ini datpat diterapkan sebagai promosi kesehatan terhadap
masyarakat luas untuk menurunkan angka kejadian penyakit terutama penyakit
menular yang ditularkan melalui tangan.
1.4.5. Bagi Lingkungan Sekolah
Penelitian ini dapat mendorong seluruh stakeholder dalam memperhatikan
kesehatan lingkungan sekolah salah satunya dengan menyediakan sarana
mencuci tangan yang memadai dan memotivasi seluruh warga lingkungan
sekolah untuk menerapkan perilaku cuci tangan yang tepat setelah bekerja.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mencuci Tangan


2.1.1. Definisi Mencuci Tangan
Mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis melepaskan kotoran
dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air yang
mengalir dan menurut PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)-
UNPAD/Universitas Padjajaran menyatakan cuci tangan pakai sabun (CTPS)
merupakan suatu kebiasaan membersihkan tangan dari kotoran dan berfungsi
untuk membunuh kuman penyebab penyakit yang merugikan kesehatan. Mencuci
tangan yang baik membutuhkan peralatan seperti sabun, air mengalir yang bersih,
dan handuk yang bersih.
Menurut WHO (2009) terdapat 2 teknik mencuci tangan yaitu mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir dan mencuci tangan dengan larutan yang
berbahan dasar alkohol. Cuci tangan merupakan proses membuang kotoran dan
debu secara mekanis dari kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air yang
bertujuan untuk mencegah kontaminasi silang (orang ke orang atau benda
terkontaminasi ke orang) suatu penyakit atau perpindahan kuman. Perilaku
mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan cara membersihkan
tangan dan jari-jemari dengan menggunakan air atau cairan lainnya yang
bertujuan agar tangan menjadi bersih. Mencuci tangan yang baik dan benar adalah
dengan menggunakan sabun karena dengan air saja terbukti tidak efektif.
2.1.2. Tujuan Mencuci Tangan
Tujuan mencuci tangan menurut Depkes RI tahun 2007 adalah salah satu
unsur pencegahan penularan infeksi. Menurut Ananto tshun 2006 menyatakan
bahwa tujuan cuci tangan untuk mencegah kontaminasi silang (orang ke orang
atau benda terkontaminasi ke orang) suatu penyakit atau perpindahan kuman.
2.1.3. Indikasi Waktu Mencuci Tangan
Indikasi waktu untuk mencuci tangan menurut Kemenkes RI tahun 2014 adalah :
a. Setiap kali tangan kita kotor (setelah memegang uang, binatang, berkebun dll)
b. Setelah BAB (buang air besar)
c. Sebelum memegang makanan
5
d. Setelah bersin, batuk, membuang ingus
e. Setelah pulang dari bepergian
f. Setelah bermain
2.1.4. Teknik mencuci tangan yang efektif
Dalam kegiatan mencuci tangan, sangat dianjurkan untuk menggunakan
sabun dan air mengalir. Hal ini dikarenakan sabun mampu memudahkan individu
untuk menghilangkan kotoran yang tampak nyata terlihat, seperti lumpur, tanah, oli,
dan darah. Namun, lama waktu yang dibutuhkan untuk mencuci tangan menggunakan
sabun dan air mengalir lebih banyak dibandingkan mencuci tangan menggunakan
cairan antiseptik. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir membutuhkan
waktu 40-60 detik, sedangkan menggunakan cairan antiseptik membutuhkan waktu 20-
30 detik. Kegiatan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir dilakukan 40-
60 detik.
Langkah-langkah teknik mencuci tangan yang benar menurut anjuran
WHO (2009) yaitu sebagai berikut :

Gambar 1: Teknik mencuci tangan dengan menggunankan air dan sabun (WHO,2009)
1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir, lalu mengambil sabun cair
secukupnya dan mengosok telapak tangan dengan telapak tangan.
2. Menggosok punggung tangan di kedua punggung tangan.
3. Menggosok telapak tangan dan sela-sela jari pada kedua telapak tangan.

6
4. Menggosok bagian dalam jari dengan posisi kedua tangan mengunci.
5. Mengenggam ibu jari kanan dengan tangan kiri dan menggosoknya dengan
berputar dan sebaliknya.
6. Menggosok ujung-ujung jari di telapak tangan dan dilakukan pada ujung-ujung
jari tangan kanan dan kiri secara bergantian.
7. Menggosok pergelangan tangan kanan dan tangan kiri lalu membasuh dengan air
bersih dan mengeringkan dengan lap bersih.
Kategori teknik mencuci tangan.
a. Sangat buruk : Bila tidak melakukan 7 langkah cuci tangan (skor 1)
b. Buruk : bila melakukan 1-2 dari 7 langkah cuci tangan (skor 2)
c. Cukup baik : bila melakukan 3-4 dari 7 langkah cuci tangan (skor 3)
d. Baik : bila melakukan 5-6 dari 7 langkah cuci tangan (skor 4)
e. Sangat baik : bila melakukan 7 langkah cuci tangan dengan baik dan benar
(skor 5)
2.1.5. Manfaat cuci tangan
Cuci tangan dapat berguna untuk pencegahan penyakit yaitu dengan cara
membunuh kuman penyakit yang ada ditangan. Dengan mencuci tangan, maka tangan
menjadi bersih dan bebas dari kuman. Apabila tangan dalam keadaan bersih akan
mencegah penularan penyakit seperti diare, cacingan, penyakit kulit, Infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) dan flu burung.

7
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian


Desain penelitian merupakan rancangan yang digunakan dalam melakukan
prosedur penelitian. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasi yang
bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku mencuci tangan sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan pada siswa SDN 1 Suli.
Rancangan penelitian berupa quasi eksperimen dengan one group pretest
posttest design. Penelitian ini sampel di observasi terlebih dahulu sebelum diberi
perlakuan kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut di observasi kembali.
Bentuk rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pre tes Perlakuan Pos tes
Kelompok eksperimen 01 X 02
Keterangan :
01 : perilaku pada kelompok intervensi sebelum diberikan pendidikan
kesehatan
X : pemberian pendidikan kesehatan tentang mencuci tangan
02 : perilaku pada kelompok intervensi setelah diberikan pendidikan
kesehatan
Dengan demikian didapatkan dua hasil perilaku mencuci tangan sebelum dan
sesudah penyuluhan. Rancangan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh
pendidikan kesehatan tentang mencuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan pada
anak usia sekolah. Hal ini untuk menilai adanya peningkatan perilaku mencuci tangan
dengan melihat besarnya pengaruh perlakuan terhadap kelompok intervensi sebelum dan
sesudah diberikan pendidikan kesehatan.

3.2. Populasi Penelitian


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanny.. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas satu SDN 1 Suli berjumlah 47 siswa.

8
3.3. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Sampel penelitian ini sebanyak 47 orang. Oleh karena jumlah populasi
kurang dari 100 maka semua populasi dijadikan sampel.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan
sampling jenuh yaitu suatu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
dijadikan sampel. Sampel dalam penelitian ini semua siswa kelas satu SDN 1 Suli
sebanyak 47 orang. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria sampel sebagai berikut :
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakterisitik umum subyek penelitian dari suatu
populasi target dan terjangkau yang akan diteliti. Adapun criteria inklusi sampel yang
akan diteliti adalah :
1. Anak usia sekolah
2. Siswa kelas satu SDN 1 Suli
3. Bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah keadaan yang menyebabkan subjek memenuhi kriteria
inklusi namun tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian, yang meliputi :
1. Siswa SDN 1 Suli 2, 3, 4, 5, 6
2. Siswa tidak masuk sekolah saat dilakukan penelitian
3. Tidak bersedia menjadi responden penelitian

3.4. Penentuan Jumlah Sampel


Seluruh siswa yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi selama masa
penelitian dan bersedia berpartipasi dalam penelitian ini.

3.5. Variabel Penelitian


Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai cirri, sifat, atau
ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep
tertentu.Variabel dalam penelitian ini meliputi :
3.5.1. Variabel Independen
Pendidikan kesehatan tentang mencuci tangan.
9
3.5.2. Variabel Dependen
Perilaku mencuci tangan pada anak usia sekolah.

3.6. Definisi Operasional


Definisi operasional adalah definisi yang digunakan untuk membatasi ruang
lingkup atau pengertian variable-variabel yang diamati dan diteliti.

No. Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala


1. Independen : Suatu usaha
Pendidikan untuk
kesehatan menyampaikan
tentang pesan kesehatan
mencuci tentang mencuci
tangan tangan yang
dilakukan oleh
peneliti yang
diterima oleh
anak usia
sekolah
2. Dependen : Suatu aktivitas Lembar penilaian dengan a. Skor 1
Perilaku mencuci tangan scoring 1-5 : (Sangat
mencuci yang dilakukan a. Skor 1 buruk)
tangan pada pada anak Bila tidak melakukan 7 b. Skor 2
anak usia sebelum dan langkah cuci tangan (Buruk)
sekolah sesudah b. Skor 2 c. Skor 3
diberikan Bila melakukan 1-2 dari 7 (Cukup
pendidikan langkah cuci tangan baik)
kesehatan c. Skor 3 d. Skor 4
Bila melakukan 3-4 dari 7 (Baik)
langkah cuci tangan e. Skor 5
d. Skor 4 (Sangat

10
Bila melakukan 5-6 dari 7 baik)
langkah cuci tangan
e. Skor 5
Bila melakukan 7 langkah
cuci tangan dengan baik
dan benar

3.7. Prosedur Penelitian


Setelah mendapatkan perizinan untuk melakukan penelitian dari Puskesmas
Suli dan SDN 1 Suli maka pengambilan data dilakukan di kelas satu SDN 1 Suli
kemudian siswa dipilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Peneliti mengamati perilaku
cuci tangan subjek penelitian pada saat sebelum dan sesudah diberikan pendidikan
kesehatan tentang mencuci tangan. Peneliti mengisi tabel lembar penilaian sesuai dengan
perilaku cuci tangan subjek penelitian. Peneliti melanjukan hasil lembar penelitian dalam
pengolahan data.

3.8. Tempat dan Waktu Penelitian


3.8.1. Tempat penelitian
Tempat penelitian adalah rancangan tentang tempat yang akan digunakan oleh
peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya. Tempat penelitian ini
dilaksanakan di SDN 1 Suli.
3.8.2. Waktu penelitian
Waktu penelitian adalah rencana tentang waktu yang akan dilakukan oleh peneliti
dalam melaksanakan kegiatan penelitiannya. Penelitian ini dilakukan pada
tanggal14 Mei 2019.

3.9. Teknik Pengolahan Data


Menurut Arikunto, pengolahan data dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
3.9.1. Editing
Editing adalah pengecekan lembar penilaian, kelengkapan data, diantaranya
kelengkapan identitas, kelengkapan isian lembar penilaian, sehingga apabila
terdapat ketidaksesuaian dapat dilengkapi segera oleh peneliti.

11
3.9.2. Scoring
Scoring adalah pemberian nilai pada data sesuai dengan skor yang telah
ditentukan berdasarkan sumber hasil lembar observasi dari responden.
3.9.3. Coding
Coding adalah melakukan pemberian kode berupa angka untuk memudahkan
pengolahan data.
3.9.4. Data entry
Entry adalah memasukkan data yang diperoleh menggunakan fasilitas komputer
dengan menggunakan perangkat komputer.
3.9.5. Cleansing
Cleansing adalah memeriksa kembali data yang sudah dientry ada tidaknya
kesalahan dan membuang data yang sudah tidak dipakai.

12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum/ Data Geografis


SDN 1 Suli terletak di Jalan Raya Suli Atas, Kabupaten Maluku Tengah,
Provinsi Maluku. Jarak ke tempat pelayanan kesehatan terdekat adalah Puskesmas Suli
dengan jarak ± 1 km.
Secara umum, keadaan SDN 1 Suli terlihat bersih dan tertata rapi dengan luas
± 625 m2 yang terdiri dari tujuh kelas, satu ruang kantor, satu perpustakaan, empat kamar
mandi (kamar mandi guru laki-laki, kamar mandi guru wanita, kamar mandi siswa laki-
laki dan kamar mandi siswa perempuan) dan satu kantin. Jumlah keseluruhan siswa
sebanyak 309 siswa yang terdiri dari 167 siswa laki-laki dan 142 siswa perempuan.
Jumlah siswa kelas satu sebanyak 51 siswa, jumlah siswa kelas dua sebanyak 56 siswa,
jumlah siswa kelas tiga sebanyak 51 siswa, jumlah siswa kelas empat sebanyak 56 siswa,
jumlah siswa kelas satu sebanyak 52 siswa dan jumlah siswa kelas enam sebanyak 43
siswa sedangkan jumlah guru sebanyak 16 orang.
Usia anak sekolah dasar sinde kabor kurang dari 7 tahun sebanyak 1 siswa,
usia 7 sampai 12 tahun sebanyak 273 siswa dan usia diatas 12 tahun sebanyak 35 orang.
Jenis Kelamin laki-laki pada sekolah dasar ini sebanyak 167 siswa sedangkan jenis
kelamin perempuan sebanyak 142 siswa.

4.2. Hasil Penelitian


Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data secara deskriptif yang dilihat
melalui lembar penilaian sehingga secara demografi berdasarkan jenis kelamin
didapatkan hasil presentase antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Presentasse
jenis kelamin perempuan lebih besar daripada jenis kelamin laki-laki, presentase jenis
kelamin perempuan sebesar 60% sedangkan presentase jenis kelamin laki-laki sebesar
40% .

13
Jenis Kelamin

40%
Laki-Laki
60%
Perempuan

Gambar 2. Presentase jenis kelamin subjek penelitian

Berdasarkan hasil penelitian perilaku mencuci tangan sebelum dilakukan


pemberian pendidikan kesehatan menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang tidak mampu
melakukan 7 langkah cuci tangan (0%) sedangkan siswa yang mampu melakukan 1-2
langkah dari 7 langkah cuci tangan sebanyak 30 siswa (64%), siswa yang mampu
melakukan 3-4 langkah dari 7 langkah cuci tangan sebanyak 30 siswa (64%), siswa yang
mampu melakukan 5-6 langkah dari 7 langkah cuci tangan sebanyak 1 siswa (2%), dan
tidak ada siswa yang mampu melakukan 7 langkah cuci tangan (0%).

Skor Perilaku Mencuci Tangan


Sebelum Diberikan
Pendidikan Kesehatan
40
30
20
10
0
Skor 1 (Sangat Buruk) Skor 2 (Buruk) Skor 3 (Cukup Baik) Skor 4 (Baik) Skor 5 (Sangat Baik)

Gambar 3. Skor perilaku mencuci tangan sebelum diberikan pendidikan kesehatan

Berdasarkan hasil penelitian perilaku mencuci tangan sesudah dilakukan


pemberian pendidikan kesehatan menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang tidak mampu
melakukan 7 langkah cuci tangan (0%) dan tidak ada siswa yang mampu melakukan 1-2
langkah dari 7 langkah cuci tangan (0%) sedangkan siswa yang mampu melakukan 3-4
langkah dari 7 langkah cuci tangan sebanyak 4 siswa (8%), siswa yang mampu
melakukan 5-6 langkah dari 7 langkah cuci tangan sebanyak 20 siswa (43%), dan siswa
yang mampu melakukan 7 langkah cuci tangan sebanyak 23 siswa (49%).

14
Skor Perilaku Mencuci Tangan
Sesudah Diberikan
Pendidikan Kesehatan
30

20

10

0
Skor 1 (Sangat Buruk) Skor 2 (Buruk) Skor 3 (Cukup) Skor 4 (Baik) Skor 5 (Sangat Baik)

Gambar 4. Skor perilaku mencuci tangan sesudah diberikan pendidikan kesehatan

4.2. Evaluasi hasil penelitian


4.2.1. Input
Sumber Daya Manusia dalam penelitian ini terdiri atas satu orang
dokter sebagai narasumber dan peneliti, satu orang perawat dan satu orang guru
sebagai pengawas dan dokumentasi. Penyuluhan diberikan dengan menggunakan
sarana laptop, speaker, LCD proyektor.
4.2.2. Proses
Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan cara menilai perilaku
mencuci tangan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan mencuci
tangan. Sebelum dilakukan pemberian pendidikan kesehatan siswa diminta untuk
melakukan aktivitas cuci tangan yang mereka ketahui lalu dimasukkan ke dalam
lembar penilaian. Setelah menilai aktivitas cuci tangan, peneliti memberikan
pendidikan kesehatan terkait aktivitas cuci tangan kepada siswa dan
mengaplikasikan cuci tangan secara langsung dengan baik dan benar secara
bersama-sama.
Pemberian pendidikan kesehatan terkait perilaku cuci tangan dilakukan
dengan cara menyanyikan lagu agar mudah untuk mengingat langkah cara cuci
tangan dengan baik dan benar. Setelah peneliti memberi pendidikan kesehatan
terkait perilaku cuci tangan, siswa melakukan cuci tangan di wastafel dengan air
mengalir dan sabun sedangkan peneliti mengobservasi siswa saat melakukan cuci
tangan dan menilai dalam lembar penilaian.

15
4.3.3. Output
Tabel 1. Hasil Perbandingan skor pretes dan postest

No Skor
Pretest Posttest
1 2 4
2 2 3
3 2 3
4 2 4
5 2 5
6 3 5
7 2 5
8 3 4
9 3 5
10 2 5
11 2 4
12 3 5
13 2 4
14 2 4
15 3 4
16 4 4
17 3 5
18 2 5
19 3 5
20 2 5
21 3 5
22 3 5
23 2 4
24 3 4
25 2 4
26 2 5
27 3 4
28 2 3

16
29 3 5
30 2 4
31 3 5
32 2 4
33 2 5
34 2 3
35 2 4
36 2 5
37 2 5
38 2 4
39 2 5
40 3 4
41 2 5
42 3 5
43 2 4
44 2 4
45 2 5
46 3 5
47 2 4

Jumlah Nilai Responden


Nilai rata − rata =
Jumlah Responden

1 (0) + 2 (30) + 3 (16) + 4 (1) + 5 (0) = 112/47


Nilai rata-rata pre = = 2,38
47

1 (0) + 2 (0) + 3 (4) + 4 (20) + 5 (23) = 207/47


Nilai rat-rata pos = = 4,40
47

Pos Test – Pre Test


Presentase Kenaikan Nilai = x 100%
Pre Test

4,40 – 2,38 X 100 %


Presentase Kenaikan Nilai = = 85%
2,38

17
Keterangan :
Sebelum dilakukan pemberian pendidikan kesehatan mengenai
perilaku cuci tangan hasil rata- rata pretes pada 47 siswa adalah 2,38 sedangkan
setelah diberikan penddidikan kesehatan mengenai perilaku cuci tangan hasil rata-
rata pretes pada 47 siswa adalah 4,40. Hal ini menyatakan telah terjadi
peningkatan perilaku cuci tangan pada subjek penelitian sebesar 85% sehingga
pemberian pendidikan kesehatan mengenai cuci tangan telah berhasil memberikan
dampak positif berupa peningkatan perilaku cuci tangan menjadi lebih baik.

Tabel 2. Hasil perbandingan jumlah siswa berdasarkan skor perilaku mencuci tangan
Langkah cuci tangan Sebelum intervensi Sesudah intervensi
n % N %
Tidak mampu 7 0 0 0 0
langkah (skor 1)
Mampu 1- 2 langkah 30 63,8 0 0
dari 7 langkah (skor
2)
Mampu 3-4 langkah 16 34,2 4 8,5
dari 7 langkah (skor
3)
Mampu 5-6 langkah 1 2 20 42,5
dari 7 langkah (skor
4)
Mampu melakukan 7 0 0 23 49
langkah (skor 5)

Berdasarkan skor hasil penelitian langkah cuci tangan, sebelum dan


sesudah dilakukan pemberian pendidikan kesehatan menyatakan bahwa terdapat
penurunan pada skor 1 (sangat buruk), skor 2 (buruk) dan skor 3 (cukup baik)
setelah pemberian pendidikan kesehatan sedangkan terdapat peningkatan
signifikan pada skor 4 (baik) dan skor 5 (sangat baik) terkait perilaku cuci tangan.

18
4.4. Keterbatasan
4.4.1. Kendala dalam penelitian
Selama penelitian terdapat kendala yaitu sulitnya mengatur siswa kelas satu saat
melakukan cuci tangan karena antusias siswa yang begitu besar untuk melakukan
cuci tangan.
4.4.2. Kelemahan dalam penelitian
4.4..2.1. Penelitian ini memiliki kelemahan dalam pengisian lembar penilaian
karena data yang diperoleh merupakan data subjektif.
4.4.2.2. Penelitian ini merupakan data tunggal sehingga penelitian ini hanya
mendeskripsikan ada tidaknya perbedaan perilaku cuci tangan sebelum
dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan sedangkan factor-faktor
yang mempengaruhi tidak diteliti.

19
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan yang diharapkan oleh peneliti untuk mengetahui gambaran
perilaku cuci tangan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada siswa
kelas satu SDN 1 Suli pada 47 siswa maka didapatkan hasil bahwa sebelum dilakukan
pemberian pendidikan kesehatan mengenai perilaku cuci tangan hasil rata- rata pretes
pada 47 siswa adalah 2,38 sedangkan setelah diberikan penddidikan kesehatan mengenai
perilaku cuci tangan hasil rata- rata pretes pada 47 siswa adalah 4,40. Hal ini
menyatakan telah terjadi peningkatan perilaku cuci tangan pada subjek penelitian sebesar
85% sehingga pemberian pendidikan kesehatan mengenai cuci tangan telah berhasil
memberikan dampak positif berupa peningkatan perilaku cuci tangan menjadi lebih baik
maka dari itu kesimpulan dalam penelitian ini yaitu adanya pengaruh pendidikan
kesehatan tentang mencuci tangan terhadap perilaku mencuci tangan pada anak usia
sekolah.

5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran perilaku cuci tangan sebelum
dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada siswa kelas satu SDN 1 Suli maka
saran yang tepat untuk penelitian selanjutnya yaitu :
5.2.1. Bagi ilmu pengetahuan
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan metode
berbeda, mengembangkan variabel penelitian dan menggunakan kuesioner untuk
mengetahui tingkat pengetahuannya.
5.2.2. Bagi peneliti
Peneliti diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan
kesehatan, penyuluhan, pengalaman dan membaca materi khususnya mengenai
cuci tangan menggunakan sabun.
5.3.3. Bagi Institusi
Pihak sekolah diharapkan meningkatkan pengetahuan dan mengaplikasikan
perilaku siswa didiknya untuk mencuci tangan menggunakan sabun.

20
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Ananto, Purnomo. 2006. Usaha Kesehatan Sekolah. Bandung : Yrama Utama.


Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Holistik. Jakarta : Rineka Cipta.
Data survei Baseline Environmental Services Program (ESP-USAID/Depkes). 2006.
Perilaku, Keyakinan, dan Praktik Cuci Tangan Pakai Sabun. Diakses di http//
www.usaid.gov/indonesia.
Danuwirahadi, Prayoga. 2010. Efektifitas Metode Expository Teaching Terhadap Perilaku
Mencuci Tangan dengan Menggunakan Sabun. Semarang : Universitas
Katolik Soegijapranata.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Pelaksanaan Promosi
Kesehatan Daerah. Jakarta : Pusat promosi Kesehatan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Fitriani, S. 2017. Promosi Kesehatan Edisi Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Hidayat, A. 2010. Metodologi Penelitian Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pusat Data dan Informasi : Perilaku Mencuci
Tangan Pakai Sabun di Indonesia. Jakarta : Kemenkes RI 2014.
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Proverawati, A. dan Rahmawati, E. 2012. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Riskesdas. 2013. Laporan Nasional 2013. Diakses di http//www.depkes.go.id.htm. tanggal 20
Mei 2018.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
WHO. 2009. Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Library Cataloguing-in-
Publication Data.

21