Anda di halaman 1dari 29

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pisang (Musa spp.) merupakan komoditas unggulan yang memberikan
kontribusi paling besar terhadap produksi buah-buahan nasional. Produksi pisang
Indonesia menduduki tempat ketujuh dunia dengan besaran 5,4 juta ton (BPS,
2013 dalam Nedha dkk., 2017). Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang
merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah
meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan
untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun
pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional
Indonesia. Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb
(Fauzi, 2010).
Tidak hanya pisang, jeruk (Citrus cinensis) juga merupakan salah satu buah-
buahan yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Menurut
Azzamy (2018) jeruk merupakan buah yang memiliki rasa manis, asam serta
kandungan air yang cukup banyak ini kaya akan vitamin, mineral, protein, kalori
dan serat yang baik untuk tubuh. Selain itu, buah jeruk juga mengandung beta
karoten dan thiamin. Tidak berlebihan jika jeruk menjadi komoditas buah
unggulan nasional karena memiliki nilai ekonomi tinggi, adaptasinya sangat luas,
sangat populer dan digemari hampir seluruh lapisan masyarakat, dan nilai
impornya cenderung meningkat (Al-Fansuri, 2014).
Kebutuhan masyarakan akan buah pisang dan jeruk menyebabkan permintaan
di pasaran semakin meningkat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi
pemerintah untuk meningkatkan produksi buah pisang dan jeruk. Namun,
kenyataan di lapangan, hasil produksi buah pisang maupun jeruk tidak selalu
mengalami peningkatan. Berbagai masalah yang dihadapi dalam proses produksi
buah pisang dan jeruk di lapangan yaitu selain adanya serangan hama dan
penyakit, adanya serangan nematoda parasit tanaman juga menjadi kendala yang
cukup serius.

1
2

Nematoda merupakan salah satu hewan mikroseluler yang paling banyak dan
mudah ditemukan. Banyak spesies nematoda yang diketahui hidup di tanaman dan
beberapa nematoda menyebabkan penyakit pada tanaman inangnya (Mohammed,
et al., 2008 dalam Suciyananda, 2017). Nematoda parasit tanaman dapat
menyebabkan kerusakan hampir mencapai 100%. Hal ini akan menyebabkan
tanaman puso dan petani gagal panen. Nematoda yang menyebabkan kerusakan
pada tanaman hampir semuanya hidup di dalam tanah, baik yang hidup bebas
didalam tanah bagian luar akar dan batang di dalam tanah bahkan ada beberapa
parasit yang hidupnya bersifat menetap di dalam akar dan batang (Suciyananda,
2017).
Tumbuhan yang terinfeksi nematoda mengakibatkan munculnya gejala pada
akar dan juga pada bagian tumbuhan di atas permukaan tanah. Gejala pada akar
mungkin terlihat seperti puru akar (root knot atau root gall), luka akar, akar
bercabang lebih lebat, ujung akar rusak dan akar membusuk apabila infeksi
nematoda disertai oleh bakteri dan jamur patogenik-tumbuhan atau saprofit
(Agrios, 1996 dalam Suciyananda, 2017).
Serangan nematoda dapat mempengaruhi proses fotosintesa dan transpirasi
serta status hara tanaman (Melakeberhan et al., 1987 dalam Suciyananda, 2017).
Akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun kuning klorosis dan
akhirnya tanaman mati. Selain itu serangan nematoda dapat menyebabkan
tanaman lebih mudah terserang patogen atau OPT lainnya seperti jamur, bakteri
dan virus. Akibat serangan nematoda dapat menghambat pertumbuhan tanaman,
mengurangi produktivitas, dan kualitas produksi (Mustika, 2005 dalam
Suciyananda, 2017).
Nematoda parasit di Indonesia telah dilaporkan terdapat pada berbagai jenis
tanaman, baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan (Puskara, 1994;
2000 dalam Mustika, 2005). Selama kurun waktu 50 tahun terakhir, pengendalian
nematoda dengan menggunakan nematisida kimia (sintetik) masih memegang
peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena cara-cara pengendalian
lain belum mampu memberikan hasil yang memuaskan (Mustika, 2005).
Beberapa nematoda parasit pada tanaman di antaranya yaitu Radopholus
similis dan Tylenchulus semipenetrans yang mampu membuat gejala kerusakan
3

yang cukup serius bahkan dapat menyebabkan kematian pada tanaman pisang dan
jeruk.
Adanya nematoda Radopholus semipenetrans pada akar tanaman pisang
menyebabkan tanaman pisang menjadi rebah pada bagian batang atau mudahnya
tanaman dicabut khususnya pada waktu tanaman berbuah, tetapi terdapat tingkat
berat kerusakan tersebut yaitu dari makin panjangnya pertumbuhan vegetatif
sampai barkurangnya berat tandan secara drastis.
Kehadiran nematoda Tylenchulus semipenetrans pada akar tanaman jeruk
menyebabkan tanaman jeruk pertumbuhan menjadi kerdil, daun menjadi klorose,
daun rontok, ranting yang masih kecil mati, buah hanya sedikit dan kecil, bila
kekurangan air cepat layu dan daun menggulung. Akar kelihatan ada bercak-
bercak yang cukup banyak warnanya kehitaman. Akar menjadi pendek dan tebal
permukannya kasar. Pertumbuhan akar terhambat tidak subur lagi sehingga
penghisapan zat makanan (unsur hara) akan berkurang dan terjadi penekanan atau
penurunan hasil.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai
berikut :
a. Bagaimana klasifikasi dan morfologi nematoda akar Radopholus similis pada
tanaman pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk?
b. Bagaimana siklus hidup dan cara reproduksi nematoda akar Radopholus similis
pada tanaman pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman
jeruk?
c. Bagaimana gejala serangan nematoda akar Radopholus similis pada tanaman
pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk?
d. Bagaimana cara pengendalian nematoda akar Radopholus similis pada tanaman
pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk?
4

1.3. Tujuan
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka tujuan dari pembuatan makalah
ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui klasifikasi dan morfologi nematoda akar Radopholus similis pada
tanaman pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk.
b. Mengetahui siklus hidup dan cara reproduksi nematoda akar Radopholus
similis pada tanaman pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada
tanaman jeruk.
c. Mengetahui gejala serangan nematoda akar Radopholus similis pada tanaman
pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk.
d. Mengetahui pengendalian nematoda akar Radopholus similis pada tanaman
pisang dan nematoda Tylenchulus semipenetrans pada tanaman jeruk.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Klasifikasi dan Botani Tanaman Pisang


Menurut Ngarho (2009) dalam Fauzi (2010) tanaman pisang adalah tanaman
buah berupa herba dengan klasifikasi sebagai berikut:
Kindom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Class : Monocotyledonae
Family : Musaceae
Genus : Musa
Species : Musa sp.
Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini
berpangkal pada umbi batang. Sementara pada bagian bawah bonggol terdapat
perakaran serabut yang lunak. Akar terbanyak berada dibagian bawah tanah. Akar
ini tumbuh menuju bawah sampai kedalaman 75-150cm, sedang akar yang berada
di bagian samping umbi batang tumbuh kesamping atau mendatar. Dalam per-
kembangannya akar samping bisa mencapai 4-5 m (Satuhu dan Supriyadi, 1991
dalam Fauzi, 2010).
Morfologi tanaman dapat tampak jelas melalui batangnya yang berlapis-lapis.
Lapisan pada batang ini sebenarnya dasar dari pelepah daun yang dapat
menyimpan banyak air (sukulenta) sehingga lebih dapat disebut batang semu
(pseudosterm). Batang pisang sesungguhnya terdapat di dalam tanah yaitu yang
sering disebut bonggol. Pada sepertiga bagian bonggol sebelah atas terdapat mata
calon tumbuh tunas anakan. (Sunarjono, 2004 dalam Fauzi, 2010).
Daun pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang.
Pada bagian bawahnya berlilin. Daun pisang mudah sekali robek atau terkoyak
oleh hembusan angin yang keras karena tidak mempunyai tulang-tulang pinggir
yang menguatkan daun (Satuhu dan Supriyadi, 1991 dalam Fauzi, 2010).
Bunga pisang berupa tongkol yang disebut jantung. Bunga ini muncul pada
primordia yang terbentuk pada bonggolnya. Bunga pisang terdiri dari beberapa

5
6

lapisan yang disebut dengan seludung yang umumnya berwarna merah tua.
Diantara lapisan seludung bunga tersebut terdapat bakal buah yang disebut sisiran
tandan. Setiap sisiran tandan terdiri dari beberapa buah ( Sunarjono, 2004 dalam
Fauzi, 2010).

Gambar 1. Tanaman Pisang


Sumber : dikaespero.blogspot.com

2.2. Nematoda Radopholus similis


Radopholus similis pertama kali digambarkan oleh Cobb sebagai Thylencus
similis pada tahun 1893, dari akar pisang di Fiji. Gejala serangannya telah diteliti
sejak tahun 1890. kemudian dikenal sebagai nematoda pelubang akar (burrowing
nematode) dan tercatat sebagai patogen penting hampir pada semua pertanaman
pisang (Adnan, 2003 dalam Fauzi, 2010).

2.2.1. Klasifikasi Nematoda Radopholus similis


Menurut Brown et al. (1975) dalam Fauzi (2010) nematoda Radopholus
similis diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Aschelminthes
Class : Nematoda
Ordo : Tylenchida
Family : Pratylenchidae
Genus : Radopholus
Species : Radopholus Similis Coob
7

Radhopolus similis terdapat secara luas di daerah tropik dan sub tropik ,
merupakan patogen penting pada pisang pada daerah penanaman pisang.
Nematoda ini berbentuk seperti cacing, panjang 0,65 mm dan lebar 25µm.
Nematoda ini hidup dan bereproduksi di dalam rongga korteks akar . semua larva
dan dewasa dapat menginfeksi akar (Sugiharto,1983 dalam Fauzi, 2010). Apabila
diperlakukan dengan panas secara hati-hati, maka nematoda yang mati tubuhnya
akan lurus atau sedikit melengkung pada bagian ventral. Tedapat adanya tanda
sexual dimorfisme pada bagian anterior (Lucet al., 1995 dalam Fauzi, 2010).

Gambar 2. Radopholus similis. (A) Radopholus similis setelah dibiakkan dari media
wortel. (B) Radopholus similis betina. Sumber: Marin et al. (1998)
dalam Fauzi (2010)

2.2.2. Morfologi Nematoda Radopholus similis


a. Betina
Panjang 0,52-0,88 mm. kepala lebih rendah membulat, lurus atau sedikit
berlekuk dengan kontur tubuh. Kerangka kepala mengalami skloritisasi kuat,
stylet dan esofagusnya tumbuh sempurna. Vulva terdapat pada bagian tegah tubuh
antara 50-70% biasanya 55-65% ekor memanjang dengan bentuk krucut dengan
panjang sekitar 60 µm (Siddiqi,1986 dalam Fauzi, 2010).
b. Jantan
Panjang nematoda jantan rata-rata 0,58 mm dan mengalami degenerasi,
esophagus dan styletnya tidak berkembang sempurna. Kepala nematoda jantan
berbentuk membulat dan berlekuk yang sangat berbeda dengan betina.
Mempunyai testis tunggal dan bursa meluas sampai dua per tiga ekor
(Dropkin,1992). Panjang spikula 18-22 µm berbentuk slindris dan melengkung.
8

Ekor memanjang berbentuk kerucut dan melengkung ke arah ventral dan


pembungkus bursa antara 2-3 atau lebih (Shurtleff and AverreIII, 2000 dalam
Fauzi, 2010).

Gambar 3. Nematoda Radopholus similis (a) Jantan (b, c) Betina yang di temukan
di Kalimantan Timur. Sumber : Suryadi (2011)

2.2.3. Biologi dan Siklus Hidup


Radopholus Similis adalah spesies nematoda endoparasitik yang berpindah-
pindah yang mampu menyelesaikan daur hidupnya di dalam jaringan korteks akar.
Nematoda betina bertelur untuk menghasilkan populasi baru selama melakukan
perpindahan. Nematoda ini ditemukan pada semua tingkatan perkembangan akar
tanaman dan pada tanah di sekitar perakaran pisang (Shurtleff and Averre III,
2000 dalam Fauzi, 2010).
Menurut Fauzi (2010) histopatologi akar tanaman pisang yang terserang
Radopholus similis telah diteliti oleh Blake (1961,1966) dan Loos (1962).
Penetrasi nematoda tersebut ke dalam akar, biasanya terjadi di dekat dengan ujung
akar, tetapi nematoda tersebut dapat melakukan serangan di seluruh panjang akar.
Nematoda betina dan larva merupakan stadium yang infektif, sedangkan yang
jantan secara morfologi mengalami degenerasi (tidak mempunyai stylet) dan
mungkin tidak bersifat parasitik. Setelah masuk ke dalam jaringan akar tanaman
pisang nematoda tersebut menempati ruang-ruang interseluler di parenkim dan
korteks tempat nematoda tersebut memperoleh makanannya yaitu sitoplasma, sel-
sel yang berada didekatnya dan menimbulkan rongga-rongga yang kemudian
menjadi satu membentuk saluran saluran di dalam jaringan tersebut. Invasi ke
dalam stele tidak pernah dijumpai walaupun akar terserang berat. Perpindahan dan
9

peletakkan telur dipengaruhi oleh faktor makanan, misalnya nematoda betina


berpindah tempat dari luka pada akar untuk mencari jaringan akar sehat. Di dalam
jaringan yang terinfeksi nematoda betina meletakkan telur. Daur hidupnya dari
telur ke telur generasi berikutnya membutuhkan waktu 20 sampai 25 hari pada
suhu berkisar 24°C sampai 32°C (Luc et al., 1995 dalam Fauzi, 2010)
Reproduksi pada nematoda bersifat amfimiktik (nematoda jantan dan betina
terpisah) atau partenogenetik (nematoda jantan tidak terdapat, tidak berfungsi atau
sangat sedikit). Telur nematoda diletakkan secara tunggal atau berkelompok di
dalam suatu massa gelatinus yang dikeluarkan oleh nematoda betina. Masa telur
tersebut biasanya berasosiasi pada nematoda betina yang tubuhnya
menggelembung dan menjadi menetap, walaupun pada beberapa genus nematoda
betina yang bertubuh gemuk telur-telurnya tetap berada di dalam tubuh induknya,
dan kutikula nematoda betina yang mati mengalami penyamakan menjadi kista.
Kantong telur dan kista berfungsi sebagai pelindung telur. Siklus hidup nematoda
pada umumnya terdapat empat stadium larva antara stadium telur dan dewasa
diantaranya terjadi pergantian kulit untuk mencapai ukuran yang lebih besar
(Hasanah, 2016).
Nematoda betina menghasilkan 4 – 5 butir telur setiap hari selama 10 -12
hari. Telur menetas 8 sampai 10 hari dan stadia larva secara keseluruhan me-
merlukan waktu 10 sampai 13 hari. Ada empat stadia larva, larva 1 berkembang di
dalam telur kemudian berganti kulit dan menetas menjadi larva 2, larva 2 berganti
kulit menjadi larva 3, larva 3 berganti kulit menjadi larva 4 dan larva 4 berganti
kulit menjadi nematoda dewasa (Marin et al., 1998 dalam Fauzi, 2010).
10

Gambar 4. Siklus Hidup Radopholus similis


Sumber: Marin et al (1998) dalam Fauzi (2010).

2.2.4. Gejala Serangan


Kerusakan tanaman pisang yang disebabkan nematoda ini dikenal dengan
nama yang berbeda-beda, yang paling umum disebut “busuk akar Radopholus”,
black toppling disease” dan “spread decline” (Blake, 1972 dalam Lisnawita,
1997). Gejala kerusakan yang paling jelas akibat serangan Radopholus Similis
pada pertanaman pisang ialah rebahnya batang pisang atau mudahnya tanaman
dicabut khususnya pada waktu tanaman berbuah, tetapi terdapat tingkat berat
kerusakan tersebut yaitu dari makin panjangnya pertumbuhan vegetatif sampai
barkurangnya berat tandan secara drastis. Hal tersebut menunjukkan terdapat dua
tipe kerusakan yang dapat ditimbulkan pada pertanaman pisang yaitu
mempengaruhi tegak berdirinya tanaman pisang dan yang belum diketahui dengan
pasti ialah kemampuan menyerap air dan hara (Luc et al., 1995 dalam Fauzi,
2010).
Radopholus Similis disebut nematoda penggurus sehubung dengan
perilakunya di dalam akar. Di akar masuk kedalam parenkim korteks tempat
nematoda bergerak aktif dan merusak sel-sel sambil makan. Rongga makin
berkembang dan membesar, tetapi tidak memotong endodermis. Timbul luka
berwarna coklat merah pada seluruh korteks. Pangkal akar tanaman pisang rusak
dan terjadinya kematian sel-sel pada akar (Dropkin, 1991 dalam Fauzi, 2010).
11

Gambar 5. Gejala Serangan R. similis. A. Rebahnya Batang Pisang Akibat


Serangan Radopholus similis. B. Terjadinya Diskolorisasi Akar
Akibat Serangan Radopholus similis
Sumber: Marin et al. (1998) dalam Fauzi (2010).

2.2.5. Pengendalian Nematoda Radopholus similis


Menurut Ditlin Horti (2012), Radopholus similis dapat dikendalikan dengan
cara sebagai berikut :
a. Cara kultur teknis
1) Rotasi tanaman
Pengendalian dengan cara rotasi tanaman di lakukan dengan mengganti
tanaman pisang dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inangnya yaitu
jahe, lengkuas, kunyit, kencur, temulawak, temu putih, kapulaga, teh, tebu,
tembakau, lada, krisan, kentang, kubis, tomat, pisang, jeruk, kopi.
2) Penggunaan varietas resisten
b. Cara mekanis
1) Menaikkan suhu tanah sampai 50°C selama 30 menit dengan uap panas atau
air panas.
2) Pencelupan bonggol anakan ke dalam air panas suhu 50°C selama beberapa
menit.
c. Cara kimiawi
Penggunaan nematisida Karbofuran, Etrofos dan Oksanil dengan dosis 12 gr
bahan aktif per rumpun, yang diaplikasikan pada saat tanam dan diulang tiap 6
bulan, dengan cara diaplikasikan ke dalam tanah untuk membasmi jasad
pengganggu yang terdapat dipermukaan atau di dalam tanah. Formulasi butiran
memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan formulasi lainnya diantaranya
yaitu dapat langsung digunakan, tidak perlu dilarutkan terlebih dahulu, dapat
12

mengurangi kesalahan pada waktu mencampur dan dapat digunakan dari udara
karena cukup berat dan susah ditiup angin (Sudarmo, 1988 dalam Widaningsih
dan Darmiati, 2016).

2.3. Tanaman Jeruk


Jeruk merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara, yaitu India, Cina
Selatan, dan beberapa jenis dari Florida, Australia Utara, dan Kaledonia. Akan
tetapi kini tanaman jeruk dapat dijumpai diseluruh negara di dunia, seperti halnya
di Indonesia. Terdapat banyak spesies tanaman jeruk dari enam Genus, antara lain
Citrus, Microcitrus, Fortunella, Poncitrus, Cymedia, dan Eremocirus. Dari semua
itu, yang paling terkenal adalah Citrus, Fortunella, dan Poncitrus. Sementara itu,
yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan populer hanyalah Citrus (Vingga, 2018).
Buah jeruk (Citrus Sinensis) ini kaya akan vitamin C dan antioksidan yang
dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga membantu melawan infeksi
serta flu. Kandungan phytochemicals yang terdapat pada buah jeruk berfungsi
didalam melawan agen penyebab kanker. Selain itu, mengkonsumsi buah jeruk
secara rutin bermanfaat didalam mengatur tekanan darah, meredakan sembelit,
mencegah penyakit jantung, membersihkan darah, dan masih banyak lagi.
(Vingga, 2018)

2.3.1. Klasifikasi Tanaman Jeruk


Menurut Vingga (2018) tanaman jeruk diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Super Devisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus L.
Spesies : Citrus sinensis
13

Gambar 6. Tanaman Jeruk


Sumber : www.bernas.id/55634

2.3.3. Morfologi Tanaman Jeruk


Vingga (2018) menjelaskan morfologi tanaman jeruk sebagai berikut :
a. Akar
Tanaman jeruk memiliki perakaran tunggang yang kuat, serabut dan juga akar
halus. Dimana akar tunggang dapat tumbuh mencapai kedalaman hingga 4 meter
pada kondisi tanah yang subur dan gembur. Akan tetapi akar ini akan berhenti
tumbuh jika struktur tanah keras atau tanah berada didalam air. Hal tersebut
dikarenakan pada ujung akar tanaman ini terdiri dari sel-sel muda yang senantiasa
membelah dan merupakan titik tumbuh tanaman jeruk. Dimana keadaan sel ini
sangat lembut sehingga mudah sekali rusak apabila menembus tanah yang keras
dan padat.
Kedalaman akar tanaman jeruk pada dasarnya juga bervariasi, karena semua
itu tergantung dari kondisi tanah (lingkungan tempat tumbuh) dan juga
varietasnya.
b. Daun
Daun jeruk ada yang bersayap (kelompok jeruk Aurantium) dan ada juga
yang tidak bersayap (kelompok jeruk Medica). Daun tanaman ini memiliki
panjang antara 5cm hingga 15 cm. Dengan bentuk oval dan pada ujung daun
sedikit meruncing serta pada bagian pangkal agak melingkar dan tumpul.
Tulang daun jeruk ada yang berbentuk menyirip beraturan dan ada juga yang
berbentuk berselang-seling, serta pada bagian tepi daun ada yang bergerigi dan
ada yang tidak.
14

Daun jeruk apabila diremas akan mengeluarkan bau yang spesifik karena
mengandung minyak asiri (minyak terbang). Daun jeruk memiliki warna hijau tua
dan terlihat tebal. Pada permukaan daun jika dilihat sekilas tampak mengkilap
seperti terlapisi plastik.
Hal tersebut dikarenakan pada permukaan daun jeruk dilapisi oleh lilin
yang begitu padat dan mengandung sedikit pektin, sehingga apabila kehujanan
membuat tetesan air hujan segera tergelincir jatuh.
c. Batang
Tanaman jeruk memiliki batang berbentuk bulat dan terdapat mata tunas.
Dimana batang tanaman jeruk ada yang teksturnya kasar, ada yang halus, dan ada
juga yang berduri tergantung dari varietasnya.
Apabila batang ini dibiarkan tanpa dilakukan pemangkasan, maka akan
tumbuh mencapai ketinggian 15 meter bahkan lebih. Batang tanaman ini memiliki
bermacam-macam warna, semua itu tergantung dari varietasnya.
c. Bunga
Tanaman jeruk memiliki jenis bunga majemuk dengan warna putih pucat.
Bunga tanaman jeruk merupakan bunga sempurna (hermafrodit) dimana dalam
satu bunga terdapat putik dan benang sari.
Benang sari dan putik tersebut terdapat pada mahkota bunga dengan jumlah
bervariasi antara 5-20 benang sari dan hanya 1 buah putik. Bunga jeruk biasanya
muncul pada bagian ketiak daun atau rating yang masih muda.
Selain itu, bunga ini memiliki bau yang harum dan mengandung nektar
(madu), sehingga menarik serangga seperti lebah. Pada dasarnya tanaman jeruk
dapat berbunga sepanjang tahun asalkan kondisi ekositemnya memenuhi syarat
pembungaan.
d. Buah dan Biji
Buah jeruk memiliki bentuk yang bervariasi, ada yang bulat, oval, atau
lonjong memanjang. Kulit buah jeruk ada yang tebal dan sukar dikupas, dan ada
juga yang tipis mudah dikupas. Selain itu, warna buah jeruk juga bervariasi,
antara lain kuning, hijau, dan jingga, semua itu tergantung dari varietasnya.
Biji jeruk terdapat dalam bulir buah dengan ukuran kecil berbentuk
menyerupai telur, akan tetapi pada salah satu ujungnya meruncing. Biji jeruk
15

memiliki warna putih keabu-abuan. Jumlah biji ada yang banyak dan ada juga
yang tidak berbiji tergantung dari varietasnya.

2.4. Nematoda Tylenchulus semipenetrans


Nematoda sitrus pertama kali ditemukan menginfeksi jeruk di California
(Thomas 1913 dalam Secora dan William 2012). Belakangan, Nathan Cobb
(1913) dalam Secora dan William (2012) menggambarkan nematoda ini sebagai
spesies baru, Tylenchulus semipenetrans, yang kemudian diidentifikasi sebagai
agen penyebab penurunan lambat dalam jeruk. Sejak penemuannya, Tylenchulus
semipenetrans telah ditemukan di setiap daerah tumbuh jeruk di dunia (Duncan,
2005 dalam Secora dan William 2012). Di Amerika Serikat, infestasi lapangan
melibatkan 50-90% dari kebun jeruk di Arizona, California, Florida dan Texas,
dan kebun anggur lokal di California (Van Gundy dan Meagher 1977, Heald dan
O'Bannon 1987, Duncan 2005 dalam Secora dan William 2012).

2.4.1. Klasifikasi Nematoda Tylenchulus semipenetrans


Menurut Triharso (1994) dalam Utami (2001) nematoda Tylenchulus dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelmintes
Kelas : Nematoda
Ordo : Tylenchida
Famili : Tylenchulidae
Genus : Tylenchulus
Spesies : Tylenchulus semipenetrans

2.4.2. Deskripsi dan Morfologi


Secara superfisial, Tylenchulus semipenetrans L2 tampak mirip dengan
Meloidogyne (nematoda simpul akar) karena bagian tubuh posterior mereka
yang sempit dan meruncing ( Secora dan William, 2012).
16

Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan perbedaan yang mudah terlihat


antara Tylenchulus semipenetrans dan Meloidogyne L2s. Tylenchulus
semipenetrans L2 jantan dan betina berbeda dari Meloidogyne dengan adanya
stylet yang lebih kuat, pori ekskretoris posterior dan tidak adanya tumpang tindih
faring. Sebuah band hialin yang sesuai dengan sistem reproduksi di bagian
posterior tubuh mencirikan Tylenchulus semipenetrans L2 jantan. Band ini tidak
hadir di Tylenchulus semipenetrans L2 betina, atau Meloidogyne L2 dari kedua
jenis kelamin ( Secora dan William 2012).

Gambar 7. Betina Bengkak Nematoda Jeruk Tylenchulus semipenetrans (Cobb,


1913 dalam Secora dan William 2012), dikeluarkan dari akar jeruk yang
parasit.

Gambar 8. Bagian Silang Akar Jeruk yang Terinfeksi Oleh Nematoda Jeruk Betina,
Tylenchulus semipenetrans (Cobb, 1913 dalam Secora dan William
2012). Perhatikan tubuh betina nematoda (F) menonjol dari akar
sementara kepala tertanam di korteks dan dikelilingi oleh sel perawat
(NC). Foto oleh Courtesy of N. Vovlas dalam Secora dan William (2012).
17

Gambar 9. Bagian Silang Akar Poncirus trifoliate yang Diparasit Oleh Biotipe
Poncirus dari Nematoda Sitrus, Tylenchulus semipenetrans (Cobb,
1913 dalam Secora dan William 2012). Perhatikan kepala nematoda
(N) yang dikelilingi oleh sel perawat (NC). Foto oleh Courtesy of
O'Bannon dan Esser (1985) dalam Secora dan William (2012).

Vermiform dan seluler Tylenchulus semipenetrans jantan dewasa ditemukan


di tanah atau di dalam massa telur. Betina dewasa ditemukan melekat pada akar
dan biasanya ditutupi oleh partikel tanah dan puing-puing yang menempel pada
matriks gelatin, membantu melindungi bagian tubuh dan telur mereka yang
terbuka. Bagian posterior betina dari tubuh yang menonjol dari permukaan akar
membengkak dan membesar dan berakhir dalam proyeksi seperti jari, sementara
bagian anterior tubuh yang memanjang dan tidak bengkak tetap tersembunyi
dan tertanam di parenkim kortikal (Secora dan William 2012).
Menurut Sastrahidayat (1992) dalam Utami (2001), nematoda ini bertubuh
kecil, larva dan jantannya berbentuk cacing, tetapi yang betina bagian badannya
di belakang leher menggembung secara teratur. Ukurannya berkisar antara 0,4
mm panjang dan diameter 18-80 µm.
Ukuran terbesar hanya terdapat pada betina dewasa panjangnya 375 µm,
dengan perbandingan panjang dan lebar 4 : 5. Pada kedua jenis kelamin,
kepalanya tidak berlekuk, panjang stiletnya 13 µm, dengan basal knob
berkembang baik dan membulat, kelenjar esofagusnya berada di dalam bulbus
berdekatan dengan usus. Ovariumnya tunggal dan melingkar. Lubang ekskresi
tidak dalam posisi yang biasa, yaitu sedikit di depan vulva. Ususnya tidak
mempunyai lumen (Dropkin, 1996 dalam Utami, 2001).
18

Nematoda betina dewasa, tubuh bagian anteriornya berada di dalam


jaringan akar, tidak teratur, silindris dan berkutikulas tipis. Bagian posterior
tubuhnya berada di luar jaringan akar, menggelembung, berkutikula tebal dan
bagian di belakang vulvanya meruncing, lubang eksresi dan vulvanya terletak
sangat posterior. Sel-sel ekskresiya tumbuh baik dan menghasilkan massa
gelatinus. Saluran genitalnya menggulung dan terdapat beberapa telur di
dalamnya. Nematoda jantan tubuhnya berbentuk cacing, pendek dan
silindris. Kerangka kepalanya bersklerotin, stilet dan esofagusnya mereduksi.
Spikulanya sedikit melengkung, ekornya tanpa bursa, berbentuk kerucut dan
ujunngnya meruncing (Duncan dan Cohn, 1995 dalam Utami, 2001).

Gambar 10. Morfologi T. semipenetrans


Sumber : repository.unej.ac.id/handle/123456789/75089

2.4.3. Penyebaran
Tylenchulus semipenetrans berevolusi di Timur Jauh dengan jeruk dan
disebarluaskan ke banyak daerah tumbuh jeruk di dunia dengan nematoda-
terinfeksi, bahan tanaman propagatif. Populasi yang lebih tinggi umumnya
ditemukan di kebun jeruk yang didirikan di tanah bertekstur halus atau di tanah
berpasir dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Fluktuasi dalam salinitas
tanah dari tinggi ke rendah mendukung reproduksi nematoda, sementara tanah
19

berpasir yang miskin dalam bahan organik menghambat peningkatan populasi


(Timmer et al. 2003 dalam Secora dan William 2012).

2.4.4. Siklus Hidup dan Biologi


Tylenchulus semipenetrans adalah spesies nematoda sedentary semi-
endoparasit atau endoektoparasit yang menetap. Tylenchulus semipenetrans
adalah spesies dimorfik yang menunjukkan dimorfisme seksual (individu jantan
dan betina) baik pada tahap larva maupun dewasa. Siklus hidup Tylenchulus
semipenetrans adalah tipikal nematoda tumbuhan yang dimulai dari telur, yang
mengandung larva tahap pertama (L1) (Van Gundy 1958 dalam Secora dan
William 2012). Telur diletakkan di dalam tanah dengan jumlah rata-rata 30-40
butir yang diletakkan pada bahan seperti agar-agar (Gelatinous matrix) (Pracaya,
1998 dalam Utami, 2001). Siklus hidupnya diselesaikan dalam jangka waktu 6-14
minggu pada suhu 24°C (Sastrosuwignyo, 1992 dalam Utami, 2001). Tahapan ini
berganti-ganti dalam telur menjadi larva tahap kedua (L2) yang menetas dan
mencari akar inang. Jubah motil dan vermiform L2 betina ke dalam L3 vermiform
dan L4, dan akhirnya menjadi dewasa yang tidak aktif (Van Gundy 1958 dalam
Secora dan William 2012). Larva dan dewasa jantan tidak makan dan
kelihatannya tidak memegang peranan dalam menimbulkan penyakit dan
reproduksi pathogen. Stadia infektif hanya larva betina stadia dua dan larva
tersebut tidak dapat berkembang tanpa makan, tetapi dapat bertahan hidup
selama beberapa tahun. Larva betina stadia dua, biasanya menyerang akar
penghisap yang berumur 4-5 minggu dan memakan sel pada permukaan akar
(Sastrosuwignyo, 1992 dalam Utami, 2001). Perkembangan larva betina
menjadi dewasa membutuhkan makan pada epidermis dan lapisan superfisial
parenkim kortikal akar. Betina yang belum dewasa mulai menembus permukaan
luar akar ke dalam lapisan kortikal yang dalam, biasanya tanpa mencapai silinder
pusat (atau sangat endodermis). Nematoda menetap dan membentuk tempat
makan permanen yang terdiri dari sel-sel khusus (sel perawat) yang merupakan
sumber utama nutrisi. Dengan pematangan, bagian posterior dari tubuhnya
membengkak dan menonjol dari permukaan akar sementara leher dan kepala
20

yang memanjang tetap tertanam ke dalam korteks. Betina dewasa menghasilkan


telur yang tertanam dalam matriks gelatin disekresikan melalui pori-pori
ekskretoris. Panjang siklus hidup betina dari telur hingga bertelur berkisar dari
empat hingga delapan minggu (Van Gundy 1958 dalam Secora dan William
2012).
Perkembangan jantan L2 menjadi dewasa selesai dalam tujuh hari dan tidak
memerlukan makan. Akibatnya, peralatan makan (stylet dan esophagus) jantan
dewasa kurang berkembang dan mungkin sulit untuk diamati. Tylenchulus
semipenetrans adalah spesies yang bereproduksi seksual yang kadang-kadang
dapat bereproduksi dengan parthenogenesis fakultatif tanpa membutuhkan
jantan (Secora dan William 2012).
Penyebaran nematoda lewat tanah sangat lambat yaitu kira-kira 1,5 cm tiap
bulan. Hal inipun terjadi jika akar tanaman sebelahnya memang dalam kontak
dengan akar yang sakit. Nematoda ini dapat tersebar sangat luas karena terbawa
oleh tanah yang terinfestasi nematoda yang menempel pada alat-alat pertanian,
hewan air irigasi, pada jarak yang lebih jauh lagi karena terbawa oleh bibit dan
lain-lain. Nematode ini akan mencapai populasi tinggi sesudah 3-5 tahun
menginfeksi tanaman (Sastrosuwignyo, 1992 dalam Utami, 2001).

Gambar 11. Siklus Hidup Tylenchulus semipenetrans


Sumber : http://eagri.org/eagri50/PATH172/lec07.pdf
21

Gambar 12. Reproduksi T. semipenetrans


Sumber : link.springer.com

2.4.5. Tanaman Inang


Tidak seperti banyak nematoda, Tylenchulus semipenetrans memiliki kisaran
inang yang terbatas, yang meliputi jeruk, jeruk trifoliat, anggur, kesemek, lilac dan
zaitun (Thorne 1961, Baines et al. 1969, Inserra et al. 1994 dalam Secora dan
William 2012). Sampai saat ini, belum ada laporan Tylenchulus semipenetrans
yang menginfeksi tanaman herba (Inserra et al. 1994 dalam Secora dan William
2012). Sejak Tylenchulus semipenetrans dijelaskan, beberapa biotipe dengan
preferensi host yang berbeda telah diamati dan dipisahkan sesuai dengan
kemampuan mereka untuk parasitisasi jeruk, trifoliate oranye dan zaitun. Saat ini,
tiga biotipe diterima, jeruk, poncirus dan mediterania (Inserra et al. 1980,
Gottlieb et al. 1986, Verdejo-Lucas 1992, Inserra et al. 1994 dalam Secora dan
William 2012).

2.4.6. Gejala Serangan


Gejala penurunan lambat dapat bervariasi tergantung pada tingkat infestasi
semipenetrans Tylenchulus , usia pohon dan waktu infeksi. Kebun jeruk yang baru
ditanam tidak akan menunjukkan gejala sampai populasi semipenetrans
Tylenchulus meningkat ke tingkat tinggi (pada atau di atas 2.000 individu per 100
cc tanah). Gejala lebih menonjol di kebun buah yang ditumbuhi pohon, baik oleh
kondisi pertumbuhan suboptimal, kekeringan, atau pengerdilan akar dan
pembusukan yang disebabkan oleh infeksi Tylenchulus semipenetrans . Biasanya,
22

berkurangnya ukuran daun dan buah, penipisan kanopi, adalah gejala penurunan
lambat yang paling mencolok dan menghasilkan penekanan hasil (Duncan 2005
dalam Secora dan William 2012). Tanda tanda akar yang terserang nematoda ini
adalah perakaran tidak halus, tidak rata, agak bergelombang, serta bentuk bintil-
bintil tidak teratur. penyakit ini sering disebut dengan penyakit slow decline.
Menurut Pracaya (1998) dalam Utami (2001) bahwa gejala serangan T.
semipenetrans pada tanaman jeruk yaitu pertumbuhan menjadi kerdil, daun
mennjadi klorose, daun rontok, ranting yang masih kecil mati, buah hanya sedikit
dan kecil, bila kekurangan air cepat layu dan daun menggulung. Akar kelihatan
ada bercak-bercak yang cukup banyak warnanya kehitaman. Akar menjadi pendek
dan tebal permukannya kasar. Pertumbuhan akar terhambat tidak subur lagi
sehingga penghisapan zat makanan (unsur hara) akan berkurang.
Akar yang terserang sangat berat tampak sedikit lebih gemuk daripada akar
yang sehat dan tampak lebih kotor yang disebabkan oleh butir tanah yang melekat
pada masa telur yang gelatinus pada permukaan akar. Akar pohon jeruk mudah
busuk, karena kehilangan integritas pada epidermis dan pada bagian akar tampak
nematode makan di dalam jaringan korteks yang mengakibatkan masuknya
organisme sekunder sebagai penyebab penyakit (Duncan dan Cohn, 1995 dalam
Utami, 2001)

Gambar 13. Pohon Jeruk Menunjukkan Gejala Penurunan Jeruk yang Disebabkan
Oleh Nematoda Jeruk, Tylenchulus semipenetrans (Cobb, 1913
dalam Secora dan William 2012). Perhatikan kanopi menipis dan
cabang kosong di kanopi atas. Foto oleh Nicholas S. Sekora dalam
Secora dan William (2012), Universitas Florida.
23

Gambar 14. Gejala Pada Perakaran Tanaman Citrus fibrous yang Terserang Oleh
Nematoda Tylenchulus semipenetrans : perakaran yang terserang
(kiri) ; perakaran tanaman sehat (kanan). (Crop Protection
Compendium, 2007 dalam karantina.pertanian.go.id)

2.4.7. Kepentingan Ekonomi


Florida adalah produsen jeruk terbesar kedua di dunia dan memimpin dalam
produksi grapefruit. Citrus menghasilkan lebih dari $ 9 miliar pendapatan setiap
tahun untuk negara dan mencakup 620.000 acre (Florida Citrus Mutual). Karena
invasi dan reproduksi oleh nematoda sitrus lebih lambat di tanah bertekstur kasar
dan berpasir daripada di tanah bertekstur halus dengan tanah liat dan lanau
dalam jumlah sedang, nematoda jeruk di Florida mencapai tingkat kerusakan
lebih cepat di tanah kayu datar daripada di pasir dalam dari Florida Ridge (Secora
dan William 2012).
Kerusakan akar lebih parah dalam kondisi salinitas kering dan tinggi daerah
Arizona, California dan Mediterania jeruk daripada di Florida. Hilangnya tanaman
yang disebabkan oleh nematoda di dalam hutan yang sangat terinfestasi, berkisar
10–20%, sedangkan pada kondisi salinitas kering dan tinggi dari negara bagian
barat mereka dapat mencapai 50% (Baines et al. 1962, Duncan 2005 dalam
Secora dan William 2012). Penggabungan praktik manajemen yang mengurangi
kerusakan Tylenchulus semipenetrans ke tanaman jeruk dapat sangat
meningkatkan produksi petani jeruk di seluruh dunia (Secora dan William 2012).

2.4.8. Pengendalian
Praktek pengendalian sejak dulu untuk Tylenchulus semipenetrans termasuk
pengkondisian tanah dan perawatan nematisida di kedua situasi penanaman
kembali dan kebun didirikan. Perawatan Nematisida secara luas digunakan di
24

kebun yang didirikan di masa lalu. Namun, penggunaan perawatan kimia sangat
dibatasi dan meninggalkan penanam dengan pilihan terbatas untuk mengelola
Tylenchulus semipenetrans . Saat ini, penggunaan batang akar tahan (Swingle
citrumelo) dan tanaman jeruk propagatif bersertifikat bebas dari parasit
nematoda jeruk merupakan strategi yang menjanjikan untuk mencegah
kerusakan yang disebabkan oleh Tylenchulus semipenetrans pada jeruk (Kaplan
1981, Ling et al. 2000, Galeano et al. 2003 dalam Secora dan William 2012).
Praktek ini telah sangat mengurangi penyebaran parasit ini di tanah Florida baru
bebas dari infestasi nematoda yang ada (Lee et al. 1999 dalam Secora dan
William 2012). Batang pohon anggur tahan (Ramsey) atau yang cukup tahan
(vinfera Dog Ridge) juga digunakan dengan sukses di kebun-kebun anggur
California (Edwards 1989, komunikasi pribadi McKenry dalam Secora dan William
2012). Menanam tanaman jeruk dan anggur yang bersertifikat merupakan
praktik yang sangat baik dari pertanian berkelanjutan, yang harus diadopsi juga
untuk tanaman buah lain yang rentan terhadap infeksi nematoda.
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menabur Furadan 3G,
Vapam dan Hostathion 40 EC (Suroso, 2006).
BAB III
KESIMPULAN

Radopholus similis merupakan nematoda yang dikenal sebagai nematoda


pelubang akar (burrowing nematode) dan tercatat sebagai patogen penting hampir
pada semua pertanaman pisang. Reproduksi pada nematoda bersifat amfimiktik
(nematoda jantan dan betina terpisah) atau partenogenetik (nematoda jantan tidak
terdapat, tidak berfungsi atau sangat sedikit). Termasuk nematoda endoparasit
migratory yang memiliki gejala serangan pada pertanaman pisang yaitu rebahnya
batang pisang atau mudahnya tanaman dicabut khususnya pada waktu tanaman
berbuah, tetapi terdapat tingkat berat kerusakan tersebut yaitu dari makin
panjangnya pertumbuhan vegetatif sampai barkurangnya berat tandan secara
drastis. Kerusakan tanaman pisang yang disebabkan nematoda ini dikenal dengan
nama yang berbeda-beda, yang paling umum disebut “busuk akar Radopholus”,
black toppling disease” dan “spread decline”. Pengendalian nematoda ini dapat
dilakukan baik secara kultur teknis, pengendalian secara mekanis, maupun secara
kimiawi yaitu dengan melakukan rotasi tanaman, penggenangan selama beberapa
bulan, dan penggunaan varietas resisten, menaikkan suhu tanah sampai 50°C
selama 30 menit dengan uap panas atau air panas serta pencelupan bonggol
anakan ke dalam air panas suhu 50°C selama beberapa menit, hingga dengan
penggunaan nematisida Karbofuran, Etrofos dan Oksanil dengan dosis 12 gr
bahan aktif per rumpun, yang diaplikasikan pada saat tanam dan diulang tiap 6
bulan.
Tylenchulus semipenetrans merupakan nematoda yang ditemukan menyerang
sejumlah pertanaman jeruk di dunia. Tylenchulus semipenetrans adalah spesies
yang bereproduksi seksual yang kadang-kadang dapat bereproduksi dengan
parthenogenesis fakultatif tanpa membutuhkan jantan. Nematoda ini termasuk
nematoda ektoendoparasit sedentary, menyebabkan gejala kerusakan pada
tanaman jeruk yaitu pertumbuhan menjadi kerdil, daun mennjadi klorose, daun
rontok, ranting yang masih kecil mati, buah hanya sedikit dan kecil, bila
kekurangan air cepat layu dan daun menggulung. Akar kelihatan ada bercak-
bercak yang cukup banyak warnanya kehitaman. Akar menjadi pendek dan tebal

25
26

permukannya kasar. Pertumbuhan akar terhambat tidak subur lagi sehingga


penghisapan zat makanan (unsur hara) akan berkurang. Tanda tanda akar yang
terserang nematoda ini adalah perakaran tidak halus, tidak rata, agak
bergelombang, serta bentuk bintil-bintil tidak teratur. penyakit ini sering disebut
dengan penyakit slow decline. Nematoda ini dapat dikendalikan dengan cara
penggunaan batang akar tahan (Swingle citrumelo) dan tanaman jeruk propagatif
bersertifikat bebas dari parasit nematoda jeruk merupakan strategi yang
menjanjikan untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh Tylenchulus
semipenetrans pada jeruk.
DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1994. Budidaya Tanaman Jeruk. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.


Al-Fansuri, Buyung. 2014. Panduan Budidaya Tanamn Jeruk. available at
http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/panduan-budidaya-tanaman-
jeruk/ (verified 11 November 2018)
Azzamy. 2018. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jeruk. available at
https://mitalom.com/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-jeruk/ (verified
11 November 2018)

Ditlin Horti. 2012. Nematoda Parasit Akar Pisang. Available at


http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=128&Itemid=110 (verified 29
November 2018)

Fauzi, M. Alam. 2010. Sinergi Antara Nematoda Radopholus Similis Dengan


Jamur Fusarium Oxysporum F.Sp. Cubense Terhadap Laju Serangan
Layu Fusarium Pada Beberapa Kultivar Pisang (Musa sp ) Di Lapangan.
Available at https://text-id.123dok.com./document/rz316mdy-sinergi-
antara-nematoda-radopholus-similis -dengan-jamur-oxysporum-f-sp-
cubense-terhadap-laju-serangan-layu-fusarium-pada-beberapa-kultivar-
pisang-musa-sp-di-lapangan.html (verified 11 November 2018)
Hasanah, Septia. 2016. Populasi Nematoda Radopholus Dan Pratylenchus Pada
Tanaman Kopi Robusta Berbeda Umur Di Tanggamus, Lampung.
Available at http://digilib.unila.ac.id/23750/3/SKRIPSI%20TANPA
%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf (verified 19 Desember 2018)
Lisnawita. 1998. Analisis Potensi Sinergisme Radopholus similis Cobb. Dan
Fusarium oxysporum Schlecht. F.sp. cubense (E. F. Smith) Snyd. &
Hans. Dalam Perkembangan Layu Fusarium Pada Pisang. Available at
https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/21404/1998lis.pd
f?sequence=2&isAllowed=y (verified 18 Desember 2018)
Mustika, Ika. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit
Tanaman Perkebunan di Indonesia. Jurnal Perspektif – Volume 4 Nomor
1, Juni 2005 : 20 – 32
Nedha, Sri Lestari P., dan Damanhuri. 2017. Observasi dan Karakterisasi
Morfologi Tanaman Pisang (Musa spp.) di Kecamatan Ngancar
Kabupaten Kediri. Jurnal Produksi Tanaman. Vol. 5 No. 5. Hal 822.
Secora, Nicholas S., dan William Crow. 2012. Citrus Nematode, Tylenchulus
semipenetrans (Cobb, 1913) (Nematoda: Secernentea: Tylenchida:
Tylenchulidae: Tylenchulinae). ; Department of Entomology and
Nematology; UF/IFAS Extension, Gainesville, FL 32611. Available at
https://edis.ifas.ufl.edu/pdffiles/IN/IN94100.pdf (verified 11 November
2018)

27
28

Utami, Gentur P.S.. 2001. Kajian Histopatologi Serangan Nematoda Pratylenchus


coffeae Pada Tanaman Kopi, Tylenchulus semipenetrans Pada Tanaman
Jeruk, dan Meloidogyne spp. Pada Tanaman Tembakau. Available at
repository.unej.ac.id/handle/123456789/75089 (verified 02 Desember
2018)
Suciyananda, ieka. 2017. 1 BAB I Pendahuluan Nematoda. Available at
http://eprints.umm.ac.id/35048/2/jiptummpp-gdl-irvaniekas-47931-2-
babi.pdf (Verified 5 Desember 2018)
Suroso, Imam. 2006. Nama-Nama Hama Perusak Tanaman Dan Cara
Pengendaliannya. Available at http://kuliah-
suim.blogspot.com/2009/10/dpt-agribisnis-03.html (verified 10
Desember 2018).
Vingga. 2018. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jeruk Secara Lengkap.
Available at https://www.sedulurtani.com/klasifikasi-dan-morfologi-
tanaman-jeruk-secara-lengkap/ (verified 8 Desember 2018)

Widaningsih, Dwi dan Darmiati, Ni Nengah. 2016. Paket Pengendalian Hama


Terpadu (Pht) Dalam Mengendalikan Nematoda Luka Akar Kopi
(Pratylenchus Coffeae Zimm) Pada Tanaman Kopi Arabika (Coffea
Arabica L.)”. Available at
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/0afb4d8ba508dcf
6a74d7a41fd95ee08.pdf (verified 17 Desember 2018)