Anda di halaman 1dari 12

TUGAS FILSAFAT

TEORI EVOLUSI DARWIN

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD FAHMI AMINUDDIN

NIM : G2A019009

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

TAHUN 2019/2020
PENDAHULUAN

Mahluk hidup yang berada di bumi ini beraneka ragam yang nampak pada
struktur tubuh, fungsi-fungsi tubuh, dan perilaku setiap jenis (spesies) mahluk,
walaupun memiliki keanekaragaman, namun tetap terlihat kemiripan dalam
beberapa hal tertentu seperti antara burung unta dan burung puyuh terlihat
perbedaan ukuran dan warna bulu pada badan namun secara anatomi memiliki
kemiripan. Berdasarkan kenyataan tersebut para ilmuawan berbondong-bondong
membuktikan secara sains untuk menafsirkan berbagai jenis mahluk hidup yang
memiliki pola yang identik sehingga diduga berasal dari nenek moyang yang sama.
Dengan kata lain, antara mahluk hidup satu dengan mahluk hidup lainnya memiliki
hubungan kekerabatan. Pendapat in merupakan paham dalam teori evolusi yang
berkembang selama ini.
Apakah evolusi benar-benar terjadi? Pertanyaan ini mengundang banyak
persepsi yang sulit untuk diterima oleh semua golongan. Teori tentang evolusi
seringkali menjadi bahan perdebatan sekaligus mengundang penolakan dari
berbagai golongan terutama dari golongan agamawan. Evolusi merupakan teori
yang paling banyak menuai kontroversi pada bidang biologi. Teori ini sebenarnya
sudah menjadi perbincangan dan pembahasan sejak ilmu pengetahuan yang terus
berkembang pada zaman romawi dan yunani kuno, namun secara ilmiah teori ini
baru dikemukakan oleh Charles Robert Darwin yang ditulis dalam buku yang
berjudul : The Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation
of Favoured Races in the Struggle for Life, yang edisi pertamanya dengan judul The
Origin of Species diterbitkan 24 Nopember 1859. Secara garis besar teori ini
menyatakan bahwa makhluk hidup yang ada di dunia sampai dengan saat ini
merupakan hasil perkembangan dari makhluk yang telah ada sebelumnya, baik
yang menyangkut struktur maupun fungsi, secara turun-temurun dari generasi ke
generasi. Dengan demikian, perubahan yang merupakan hasil perkembangan itu
berlangsung dalam waktu yang amat panjang, yaitu jutaan tahun seiring dengan
evolusi alam semesta.
Darwin tidak menyatakan secara langsung tentang asal usul manusia namun
melalui teorinya,yang menyatakan bahwa manusia berasal dari bentuk-bentuk yang
bukan manusia, telah jelas bahwa yang dimaksud Darwin sebagai nenek moyang
manusia adalah makhluk sejenis kera. Teori Darwin beranggapan bahwa bentuk
awal spesies manusia berawal di Asia sejak 500.000 ribu tahun yang lalu. Penemuan
di Afrika Timur membawa tambahan informasi bahwa transisi dari bentuk tersebut
kebentuk kera yang menyerupai manusia (homonids) terjadi pada 14 juta tahun
yang lalu. Dan baru setelah melewati proses sangat lamban 11 juta tahun kemudian
muncul bentuk yang layak diklasifikasikan sebagai Homo. Jenis pertama dlm
klasifikasi ini adalah Advanced Australophitecus dari Afrika sekitar 2 juta tahun
yang lalu. Setelah sekitar 1 juta tahun baru muncul Homo Erectus dan ditambah lagi
900.000 tahun (50.000 SM) barulah muncul jenis manusia primitif pertama yaitu,
Neanderthal. Selama rentang masa perkembangan peradaban itu dan intelektualitas
berjalan dalam percepatan yang sangat lambat. Lalu secara mendadak dan tiba-tiba
35.000 tahun lalu muncul suatu species baru yaitu Homo Sapiens (manusia berfikir)
di wilayah Mediterania, setelah punahnya species Neanderthal sebab yang
diperkirakan oleh para ahli akibat kondisi iklim yang memburuk pada waktu itu.
Species baru ini yang disebut Homo Sapiens atau Cro Magnon sudah memiliki
bentuk fisik seperti kita sekarang ini, dan memiliki peradaban yang lebih maju
dibandingkan spesies sebelumnya. Mereka hidup di gua-gua, sudah mengenal
pakaian dan perkakas yang lebih halus dan fungsional yang dibuat dari kayu dan
tulang. Lukisan2 yang ditemukan di dinding2 gua tsb menunjkan bahwa mereka
sudah memiliki cita rasa seni, emosi dan religi.
Dari uraian yang telah disebutkan, teori evolusi yang diungkapkan oleh Charles
Robert Darwin cukup menimbulkan pro dan kontra dikalangan para ilmuwan
selama lebih dari seratus tahun telah diteliti dan diperdebatkan karena dalam
teorinya yang dilihat dari sudut pandang sempit dikatakan bahwa kera merupakan
nenek moyang dari asal-usul manusia yang terjadi karena adanya proses seleksi
alam.
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pandangan pro teori


Pendukung teori Darwin beranggapan bahwa semua makhluk berasal dari nenek
moyang yang sama. Secara kasar dan arti sempit, teori ini menyebutkan bahwa
nenek moyang manusia adalah kera. Pada awalnya kesimpulan itu adalah
berdasarkan penemuan tulang belulang hewan dan manusia purba termasuk kera
purba. Kera tersebut secara bertahap mengalami ‘perbaikan biologis’ selama jutaan
tahun sehingga menjadi manusia. Bila dilihat secara DNA juga dijelaskan bahwa
kera (simpanse) mempunyai DNA yang sangat mirip dengan manusia yaitu sebesar
99% kecocokan, sehingga teori ini secara Logis bisa diterima.
Terdapat bukti tentang adanya evolusi yang dapat dilihat dari dua segi yaitu dari
proses historis dan cara bagaimana proses itu terjadi. Sebagai proses historis evolusi
itu telah dipastikan secara menyeluruh dan lengkap sebagaimana yang telah
dipastikan oleh ilmu yang mempelajari kenyataan mengenai masa lalu yang tidak
dapat disaksikan oleh mata. Hal ini berarti bahwa evolusi itu ada dan merupakan
suatu kenyataan yang telah terjadi. Berikut ini merupakan bukti-bukti evolusi yang
ada. antara lain :
1. Adanya variasi antar individu dalam satu keturunan
Organisme itu bervariasi, bahkan ciri yang sangat dekat sekali pun akan
berbeda pada tingkat atau batas tertentu, tidak pernah dijumpai dua individu
yang identik sama dalam dunia ini, bahkan anak kembar sekalipun pasti punya
suatu perbedaan. Demikian pula individu yang termasuk dalam satu spesies.
Misalnya perbedaan warna, ukuran, berat, kebiasaan, dan lain-lain. Jadi antar
individu dalam satu spesies pun terdapat variasi. Variasi adalah segala macam
perbedaan yang terdapat antar individu dalam satu spesies yang disebabkan oleh
perubahan pada suhu, tanah, makanan, dan habitat. Seleksi yang dilakukan
bertahun-tahun terhadap suatu spesies akan menyebabkan munculnya spesies
baru yang berbeda dengan moyangnya. Oleh karena itu adanya variasi
merupakan bahan dasar terjadinya evolusi yang menuju ke arah terbentuknya
spesies baru.
2. Pengaruh penyebaran geografis
Makhluk hidup sifatnya dapat berubah bila mengalami penyebaran walaupun
berasal dari spesies dan tempat tinggal yang sama. Perubahan itu terjadi karena
proses adaptasi yang dilakukan untuk menyesuaikan dengan tempat baru demi
menjaga kelangsungan hidup bagi keturunannya. Adaptasi yang dilakukan
selama bertahun-tahun menyebabkan penyimpangan pada gen, organ sampai
bentuk fisiknya dibandingkan spesies semula seperti pada dua tempat yang
dipisahkan pegunungan tinggi atau samudera yang luas mempunyai flora dan
fauna yang berbeda sama sekali. Perbedaan susunan flora dan fauna di kedua
tempat itu disebabkan adanya isolasi geografis.
3. Ditemukannya fosil di berbagai lapisan batuan bumi
Fosil merupakan sisa-sisa dari tumbuhan atau hewan yang telah membatu
atau jejak-jejak yang tercetak pada batuan. Darwin menyatakan bahwa fosil yang
ditemukan pada lapisan batuan muda berbeda dengan fosil yang terdapat pada
lapisan batuan yang lebih tua, dan menunjukkan suatu bentuk perkembangan.
Darwin menyimpulkan bahwa jika ketiga pengamatan di atas merupakan
kebenaran sehingga spesies yang umum ditemukan merupakan spesies yang
mampu beradaptasi dan merupakan ciri-ciri yang dapat disukai alam sedangkan
spesies yang tidak disukai alam maka akan sedikit meninggalkan keturunan atau
akan hilang. Hal inilah yang disebut dengan seleksi alam. Menurut Darwin, evolusi
merupakan akibat dari seleksi alam. Namun demikian, seiring dengan
berkembangnya biologi, penemuan-penemuan baru termasuk penyingkapan rahasia
biologi molekuler kian akan mensahkan dan menguatkan pandangan Darwinian
mengenai kehidupan.
Darwin juga menyatakan konsep pokok teori evolusi dapat dibagi menjadi
beberapa pokok berikut ini :
1. Variasi pada tumbuhan dan hewan merupakan suatu variasi karateristik yang
muncul dalam penampakan fenotip organisasi tersebut.
2. Rasio pertambahan terjadi secara geometrik, yaitu jumlah setiap spesies relatif
tetap. Hal ini terjadi karena banyak individu yang tersingkir oleh predator,
perubahan iklim dan proses persaingan.
3. Struggle for existance (usaha yang keras untuk bertahan) merupakan suatu usaha
individu organisme untuk bertahan hidup. Individu dengan variasi yang tidak
sesuai untuk kondisi-kondisi umum di alam akan tersingkir. Adapun individu-
individu dengan variasi yang menguntungkan dapat melanjutkan kehidupannya
dan memperbanyak diri dengan berproduksi.
4. The survival of fittest, ketahanan didapat dari organisme yang memiliki kualitas
paling sesuai dengan lingkungan. Individu-individu yang dapat hidup akan
mewariskan variasi-variasi tersebut kepada generasi berikutnya.
Selain itu, terdapat contoh-contoh konsep yang mendukung teori Darwin, antara
lain :
1. Percobaan August Weismann
Percobaan ini menggunakan tikus sebagai objek penelitian dengan
memotong ekor tikus lalu dikawinkan dengan tikus yang juga dipotong ekornya
untuk membuktikan bahwa lingkungan dapat menjadi penyebab perubahan sifat
menurun ke generasi selanjutnya. Ternyata anak tikus yang dilahirkan tetap
memiliki ekor Panjang. Lalu anak tikus tersebut dipotong lagi ekornya dan
dikawinkan lagi, ternyata keturunan selanjutnya tetap berekor panjang. Langkah
itu dilakukan sampai dengan 21 generasi dan keturunan yang lahir ternyata tetap
berekor panjang. Dari penilitian Weismann tersebut, dapat diambil kesimpulan
bahwa perubahan sel tubuh karena pengaruh lingkungan tidak akan diwariskan
kepada keturunannya. Evolusi adalah proses yang menyangkut seleksi alam
terhadap faktor genetika. Individu yang memiliki variasi genetik yang sesuai
dengan lingkungan yang akan lestari dan memiliki kesempatan mewariskan gen
yang adaptif pada generasi berikut.
2. Kupu-kupu Biston betularia
Pada masa sebelum revolusi industri di Inggris berkembang, kupu Biston
memiliki warna cerah yang lebih banyak daripada berwarna gelap. Tetapi
setelah revolusi industry berlangsung, ternyata kupu yang berwarna gelap lebih
dominan daripada yang berwarna cerah. Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh
lingkungannya dimana sebelum revolusi industri masih banyak pohon sehingga
habitatnya bersih, sehingga kupu berwarna cerah lebih adaptif, akibatnya sulit
untuk dilihat predator. Ketika berlangsung revolusi industri dan sesudahnya,
pohon dan daun habitat kupu tersebut tertutup oleh jelaga. Ini berakibat kupu
berwarna gelap lebih adaptif sehingga sulit dilihat predator.
3. Seleksi alam berdasarkan resistensi
Evolusi dan adaptasi tidak selamanya membutuhkan waktu yang relatif lama.
Bakteri yang resisten terhadap penicillin misalnya, dapat terbentuk dengan cepat.
Kejadiannya juga diterangkan berdasar konsep seleksi alam. Dimana dalam suatu
koloni bakteri, hanya sedikit bakteri yang bertahan hidup ketika penicillin
diberikan. Namun beberapa lama kemudian koloni bakteri yang resisten terhadap
penicillin menjadi banyak. Pada peristiwa ini penicillin hanya merupakan faktor
pengarah terhadap perkembangan populasi bakteri yang resisten terhadap
antibiotik.
Dalam pandangan islam menurut abdul majid dalam artikel berjudul “The
muslim respons to evolution” kaum modernis menyerukan penerimaan total
terhadap evolusi dan meyakini bahwa mekanisme penciptaan mahluk hidup tidak
diciptakan secara serentak dalam satu waktu oleh Allah. Akan tetapi mereka
meyakini bahwa Allah selaku pemegang otoritatas tertinggi dalam menciptakan
makhluk hidup mengunakan mekanisme penciptaan secara gradual. Walaupun
dengan segala daya yang dimiliki-Nya tidak menutup kemungkinan Darwin mampu
menciptakan dalam waktu sekejap. Seperti yang sering kita simak dari cendekiawan
islam dalam mendasari argumennya tentang evolusi alam semesta.

B. Teori netral
Teori adalah unpaya kita untuk menjelaskan fakta-fakta dan memadukannya
dengan konsep yang mencakup semuanya. Evolusi pada bidang biologi adalah
proses perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi yang terjadi dalam
kurun waktu tertentu dengan tujuan mampu supaya bida beradaptasi dengan
lingkungan sekitar dan dapat meneruskan perubahan pada keturunan selanjutnya.
Perubahan tersebut disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi,
reproduksi, dan seleksi. Sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang
diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam
suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan memiliki sifat-
sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi atau
transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara
seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika yang
dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-
perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.
Menurut teori evolusi, makhluk hidup yang sekarang berbeda dengan makhluk
hidup jaman dahulu. Nenek moyang makhluk hidup sekarang yang bentuk dan
strukturnya (mungkin) berbeda mengalami perubahan-perubahan baik struktur
maupun genetis dalam waktu yang sangat lama, sehingga bentuknya jauh
menyimpang dari struktur aslinya dan akhirnya menghasilkan berbagai macam
spesies yang ada sekarang. Jadi tumbuhan dan hewan yang ada sekarang bukanlah
makhluk hidup yang pertamakali berada di bumi, tetapi berasal dari makhluk hidup
di masa lampau. Pada pembagian evolusi terdapat dua maca evolusi yaitu evolusi
progressif dan evolusi regressif, Evolusi progresif adalah Evolusi yang
menghasilkan spesies yang memungkinkan berkelanjutan kehidupannya sedangkan
Evoulusi Regresif adalah spesies yang tidak mungkin berkelenjutan kehidupannya
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan
genetik . Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris
yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi
lebih umum dalam suatu populasi dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi
lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang
menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak
individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan
ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil
sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara
itu, hanyutan genetik merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan
perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan genetik dihasilkan
oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu individu bertahan
hidup dan bereproduksi.
Teori atau konsep evolusi yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan akan diuji
oleh para peneliti dan seandainya fakatanya tidak konsisten dengan pengamatan
dilapangan maka teori tersebut akan dibuang.
Dalam perspektif agama islam terdapat klompok yang cenderung lebih moderat
dalam menyikapi teori evolusi Darwin. Seperti tanggapan dalam Tafsir Quraish
Sihab tentang mekanisme penciptaan sesuai dengan pakar tafsir Syaikh Muhammad
Abduh. Abduh juga menyatakan bahwa seandainya teori Darwin tentang proses
penciptaan manusia dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, maka tidak ada
alasan dari Al-Quran untuk menolaknya. Al-Quran hanya menguraikan proses
pertama, pertengahan, dan akhir. Apa yang terjadi antara proses pertama dan
pertengahan, serta antara pertengahan dan akhir, tidak dijelaskannya.

C. Pandangan anti teori


Menurut teori evolusi, makhluk hidup yang sekarang berbeda dengan makhluk
hidup jaman dahulu. Nenek moyang makhluk hidup sekarang yang bentuk dan
strukturnya (mungkin) berbeda mengalami perubahan-perubahan baik struktur
maupun genetis dalam waktu yang sangat lama, sehingga bentuknya jauh
menyimpang dari struktur aslinya dan akhirnya menghasilkan berbagai macam
spesies yang ada sekarang. Jadi tumbuhan dan hewan yang ada sekarang bukanlah
makhluk hidup yang pertamakali berada di bumi, tetapi berasal dari makhluk hidup
di masa lampau. Beberapa orang menolak Darwinisme dan menganggapnya hanya
sebuah teori. Taktik untuk menghilangkan pandangan evolusi mengenai kehidupan
ini memiliki dua kekurangan yaitu; pertama, taktik tersebut gagal untuk
memisahkan dua tuntutan Darwin, bahwa spesies modern berkembang dari bentuk
nenek moyangnya, dan bahwa seleksi alam adalah mekanisme utama untuk evolusi
ini.
Terdapat banyak peneliti yang berasumsi bahwa jika proses evolusi terjadi pada
satu spesies, otomatis seluruh spesies tersebut akan berubah menjadi spesies yang
baru. Ini asumsi yang salah. Karena teori evolusi tidak pernah menyatakan seperti
itu. Contohnya pada zaman 20.000 tahun yang lalu, tidak ada yang namanya anjing
chihuahua, retriever, bulldog, pitbull, dan lain-lain. Tidak pernah ada jejak fosil
bahwa anjing jenis tersebut dapat bertahan hidup dengan berburu di hutan rimba
20.000 tahun yang lalu. Tapi melalui penelusuran DNA, kita bisa mengetahui
bahwa seluruh varian anjing yang ada di zaman modern sekarang ini adalah
keturunan dari Canis lupus alias serigala. Spesies baru itu terus bertambah di alam
seiring berjalannya waktu.
Secara DNA juga dijelaskan bahwa kera mempunyai DNA yang sangat mirip
dengan manusia, sehingga teori ini secara Logis bisa diterima.Ada banyak fakta
yang dapat kita gunakan untuk tidak menggunakan teori evolusi Darwin salah
satunya tentang catatan fosil dan keteraturan alam yang bila teori Darwin benar
maka akan ditemukan fosil-fosil yang lengkap tentang terjadinya evolusi kera yang
menjadi manusia seperti fosil peralihan dari kera menuju manusia, akan tetapi
kenyataan yang terjadi fosil yang ditemukannya tidak dapat menjelaskan secara
keseluruhan perubahan tersebut. Dari keteraturan alam juga begitu, mengapa alam
begitu teratur jika tanpa ada pengaturnya. Seorang ahli Palontologi yang bernama
Mark Czamecki juga merupakan evolusionis yang menyatakan bahwa “Kendala
utama dalam membuktikan teori ini adalah catatan fosil. jejak spesies yang telah
terawetkan didalam perut bumi belum pernah mengungkapkan jenis-jenis peralihan
pada suatu spesies pada hipotesis Darwin, bahkan sebaliknya spesies muncul tiba-
tiba dan musnah tiba-tiba pula, yang berarti setiap spesies diciptakan oleh Tuhan”.
Mulai awal kemunculan teori evolusi Darwin telah memunculkan polemik dari
berbagai kalangan naturalis (ilmuan), akademisi maupun agamawan.
Ketidaksepakatan terhadap konsep evolusi Darwin diawali oleh Uskup Samuel
Wilberforce pada saat pertemuan British AssocDarwintion for the Advancement of
Scince (sekarang dikenal sebagai BA), diadakan di Oxford University Museum
pada 1860. Sebagian besar penganut agama samawi, termasuk Islam mempunyai
teori "sudden creation" yaitu manusia diciptakan langsung oleh Tuhan dan tidak
melalui proses evolusi sedangkan pendukung teori Darwin menolak teori sudden
creation. Respon penolakan teori evolusi dikalangan umat islam telah hadir sejak
tahun 1876 bersamaan dengan kehadiraan Napoleon yang membawa modernitas
barat. Namun penolakan terhadap teori evolusi mulai gencar dikampanyekan pada
beberapa dasawarsa ini. Penolakan teori evolusi pertama kali dikemukakan oleh
Jamaludin Al-Afghani melalui karyanya Refutation Of The Materialists (1881).
Didalam bukunya tersebut Al-Afghani mengkritik pandangan Darwin maupun para
Darwinisme tentang teori evolusi. al-Afghani menyatakan “sudah tulikah Darwin
sehingga tidak mendengar fakta bahwa orang arab dan yahudi beberapa ratus tahun
lamanya telah mempraktekkan khitan, dan sampai sekarang tak seorang pun dari
mereka yang terlahir dalam keadaan sudah dikhitan”.
KESIMPULAN

Hingga saat ini, teori Darwin masih menjadi perdebatan dikalangan agama dan
cendikiawan, namun teori ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap ilmu
pengetahuan, terutama dalam ilmu biologi pada buku “The Origin of Species by
Means of Natural Selection” banyak diartikan secara kurang tepat. Padahal bila
diruntut maka akan merujuk ke kumpulan perjalanan yang mencatat perubahan
suatu hal yang berlangsung jutaan tahun lamanya. Perubahan tersebut terjadi karena
adanya seleksi alam yang berlaku akibat pengaruh lingkungan yang ada
disekitarnya. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa Darwin tidak membuktikan
bahwa evolusi terjadi dan teori ini belum diketahui kebenarannya karena
menurutnya teori hanyalah sebuah teori. Teori ini masih perlu untuk dikritisi,
dibahas dan dikaji ulang.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N, A, dkk. (2000). Biologi jilid II. Erlanga. Jakarta Erkus.


Darwin, Charles. (2007). Penerjemah : Tim UNAS. The origin of Species – Asal-usul
Spesies. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Firman, Harry. (2019). Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Guessoum, Nidhal. (2011). Islam dan Sains Modern: Bagaimana Mempertautkan Islam
dan Sains Modern. Mizan. Bandung.
Lewin, R. (1993). Human Evolution. Blackwell Scientific Publications. New York.
Mader, S.S. & Windelspecht, M. (2018). Essentials of Biology 5th edition. McGraw-
Hill Education. New York.
Prawoto, Sudjoko, Siti Mariyam. (1987). Evolusi. Universitas Terbuka. Jakarta.
Saifuddin, A.F. (2005). Antropologi kontemporer: suatu pengantar kritis mengenai
paradigma. Kencana. Jakarta.
Shihab, M.Q. (2013). Wawasan Alquran: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat.
Mizan. Bandung.
Solomon, E.P., L.R. Berg, D.W. Martin. (2008). Biology. 8th Edition. Thomson
Brooks/Cole. Australia.
Taufik, L.M. (2019). Teori Evolusi Darwin: Dulu, Kini, dan Nanti. Jurnal Filsafat
Indonesia, Vol 2 No 3 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN: 2620-7990
The Natural History Museum. (2008). Timeline of Charles Darwin’s life. London.