Anda di halaman 1dari 26

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio)

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR


(BBPBAT) SUKABUMI - JAWA BARAT

PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir

Disusun oleh:
Alzan Budiman

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKABUMI


SMK SMK NEGERI PERTANIAN 1 SUKARAJA
AGRIBISNIS PERIKANAN AIR TAWAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul
“Teknik Pembenihan Ikan mas (Cyprinus carpio)” tepat pada waktunya. Adapun tujuan
dari penulisan proposal parktik kerja lapangan ini adalah untuk untuk mengetahui teknik
pembenihan pada ikan Ikan mas (Cyprinus carpio)” yang meliputi persiapan kolam,
seleksi induk, pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva,
pendederan. Praktek Kerja Lapangan ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi
untuk mengikuti ujian akhir di SMKN Pertanian 1 Sukaraja
Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil sehingga proposal
penelitian ini dapat selesai. Ucapan terima kasih ini penulis tujukan kepada:

1. Kedua Orang tua serta adikku yang telah memberikan doa, dorongan dan
semangat selama penyusunan proposal ini.
2. Ibu Bela Sumartina, S.Pi selaku Guru Produktif yang telah mendidik dan
memberikan bimbingan.
3. Pimpinan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi atas
kesempatan dan izin yang diberikan kepada penulis untuk melakukan praktik
kerja lapangan.
4. Teman-teman seperjuangan praktik kerja lapangan yang telah berjuang
bersama-sama penulis dalam menyelesaikan proposal ini.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan proposal praktik kerja lapangan ini sebaik
mungkin, penulis menyadari bahwa proposal praktik kerja lapangan ini masih ada
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan proposal
praktik kerja lapangan ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga proposal praktik kerja lapangan ini berguna
bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Sukabumi, 20 Desember 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


1.2 Tujuan ......................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3

2.1. Keadaan Umum ....................................................................................3


2.2. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Gurami ..............................................14

BAB III METODE PELAKSANAAN ..................................................................16

3.1. Tempat dan Waktu ............................................................................ 16


3.2. Alat dan Bahan ..................................................................................16
3.3. Prosedur Kerja ....................................................................................16
3.4. Teknik Pembenihan Ikan Mas ............................................................ 16
3.5. Analisis Data ....................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap siswa lulusan SMK dituntut untuk mempunyai suatu keahlian dan siap
kerja, karena lulusan SMK biasanya belum diakui oleh pihak dunia usaha/
industri. Oleh karena itu diadakan suatu program Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
yaitu dengan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) agar setiap siswa
SMK mempunyai pengalaman dalam dunia usaha sebelum memasuki dunia usaha
tersebut secara nyata setelah lulus sekolah. Dalam hal ini saya diberi kesempatan
untuk melakukan kegiatan PKL di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar
(BBPBAT) Sukabumi Provinsi Jawa Barat.
Ikan mas (Cyprinus carpio L) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya
perairan tawar karena nilai jualnya yang cukup baik di pasaran. Oleh karena itu budidaya
ikan mas banyak diusahakan dibeberapa daerah di Indonesia. Menurut Rukmana (2006),
ikan mas merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang ditujukan untuk
peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta pemenuhan untuk jenis ikan budidaya
air tawar di Indonesia karena memiliki daging yang putih dan lunak memungkinkan untuk
dicerna oleh semua umur. selain itu Ikan mas juga memiliki cita rasa yang sangat tinggi
dan mudah dalam pemeliharaannya. Ikan mas dapat dibudidayakan dengan berbagai sistem
antara lain: sistem air deras, keramba, jaring terapung dan lainnya. Oleh karena itu, banyak
pembudidaya ikan yang memilih memelihara ikan mas baik dalam skala kecil maupun
besar.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan protein masyarakat dengan mengkonsumsi
ikan, usaha budidaya mempunyai andil dalam menyukseskan pembangunan kelautan dan
perikanan. Budidaya ikan pada umumnya terbagi dalam pembenihan, pendederan dan
pembesaran. Pembenihan pada khususnya dimulai dari seleksi induk, persiapan kolam,
pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, dan pemanenan benih.
Usaha pembenihan ikan mas (Cyprinus carpio) dapat dilakukan dengan berbagai
cara yaitu tradisional, semi intensif dan intensif. Saat ini usaha pembenihan masih banyak
dilakukan secara tradisional. Campur tangan manusia boleh dikatakan tidak terlalu
berperan karena semua kegiatan sangat bergantung terhadap kondisi alamiah. Penyediaan
benih merupakan faktor mutlak dalam budidaya ikan. Mutu benih dipengaruhi oleh mutu
induk dan lingkungan seperti mutu air, makanan dan penyakit. Sifat-sifat induk

1
diharapkan dapat diturunkan kepada benih antara lain pertumbuhan yang cepat, tahan
terhadap serangan penyakit dan tidak cacat tubuh.
Sejalan dengan kemajuan teknologi, keberhasilan usaha pembenihan tersebut tidak
lagi banyak bergantung terhadap kondisi alam, karena manusia telah mampu
memanipulasi berbagai faktor alam yang berpengaruh di dalam budidaya ikan. Usaha
tersebut diantaranya berupa peningkatan penggunaan bibit unggul, mempercepat dan
mempermudah pemijahan ikan dengan hipofisa, peningkatan tingkat pembuahan telur
dengan teknik pembuahan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kualitas dan kuantitas air serta pemurnian varietas induk ikan dan lain-lain.
Salah satu kendala yang dialami oleh para konsumen saat ini adalah ketersediaan
benih yang terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka usaha pembenihan ikan mas yang
dilakukan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi,
Jawa Barat.merupakan suatu usaha dalam menyediakan benih secara berkesinambungan
mengingat tingginya permintaan masyarakat terhadap ikan mas yang berkualitas baik
sebagai salah satu produk ikan konsumsi perairan tawar. Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, mempunyai tempat yang strategis untuk
kegiatan pembenihan dan lokasi yang terjangkau oleh transportasi yang ada.
Berkaitan dengan berbagai keunggulan dan permasalahan yang telah
dipaparkan diatas, maka dalam Praktik Kerja lapangan (PKL) penulis tertarik
untuk mengambil praktik tentang pembenihan ikan gurami di Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

1.2. Tujuan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini bertujuan untuk mengetahui teknik
pembenihan pada ikan Gurami (Osphronemus gouramy), yang meliputi meliputi
persiapan kolam, seleksi induk, pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur
dan pemeliharaan larva, Pendederan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keadaan Umum Balai


2.1.1. Letak Geografis dan Topografi BBPBAT Sukabumi

Gambar 3. Kantor BBPBAT Sukabumi (Sumber : Dokumentasi pribadi)


Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) terletak di Jl.
Selabintana No. 37, Kelurahan Selabaru, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi,
Provinsi Jawa Barat. Secara umum lahan kompleks BBPBAT Sukabumi memilki
luas lahan 25,6 Ha yang terdiri dari 3 Ha perkantoran, 17,6 Ha perkolaman (121
kolam) dan 5 Ha perumahan, pekarangan dan sawah. Lokasi tersebut berada di
ketinggian 700 m diatas permukaan laut dengan suhu harian 220C-270 C. Adapun
batasan-batasan wilayah BBPBAT Sukabumi sebelah utara berbatasan dengan
Kecamatan Sukabumi, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cisaat,
sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Nyalindung, dan sebelah timur
berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Cireunghas.
Secara geografis, letak BBPBAT Sukabumi berada pada ketinggian
±700 meter diatas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 2500-3000
mm/tahun, dengan kisaran suhu antara 20-27oC, secara umum topografi kompleks
BBPBAT relatif landai dengan sebagian besar kemiringan kearah selatan
dengan kisaran 0%-5%. Sedangkan kemiringan 2%-5% terutama terlihat pada
lahan yang telah dimanfaatkan untuk perkolaman dan fasilitas budidaya yang

3
lain. Sumber air berasal dari sungai Panjalu, sungai Cipelang, dan sungai Cisarua
yang berasal dari kaki “Gunung Gede”.
2.1.2. Sejarah Singkat Berdirinya BBPBAT Sukabumi
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) berada di bawah
Kementrian Kelautan Perikanan. BBPBAT berdiri pada tahun 1920 sebagai
sekolah dengan nama Landbouw School (School Pertanian) atau Culture School
(Sekolah Perkebunan). Pada masa Jepang tahun 1943-1953 diubah menjadi noo
gakko. Kemudian pada tahun 1953 berganti nama menjadi Sekolah Pertanian
Menengah. Selanjutnya pada tahun 1954 diubah menjadi Pusat Latihan Perikanan.
Pada tahun 1968 menjadi Trainning Centre Perikanan. Pada tahun 1967
berkembang dan berganti nama menjadi Pangkalan Pengembangan Pola
Keterampilan Budidaya Air Tawar (P3KBAT). Peran P3KBAT ditingkatkan
ketika pada tahun (1978-2006) secara resmi menjadi Balai Budidaya Air Tawar
(BBAT), salah satu unit pelaksanaan teknis Direktorat Jenderal Perikanan
Departemen Pertanian. Untuk meningkatkan peran dan fungsi dalam pelaksanaan
tugas-tugas serta beban kerja yang juga semakin meningkat, pada tanggal 12
Januari 2006 Menteri Kelautan dan Perikanan menerbitkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan No.06/PERMEN/2006 yang menetapkan lembaga ini
menjadi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT).
Pada pertengahan Juni 2014 Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar
Sukabumi berubah nama menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar
(BBPBAT) Sukabumi sampai sekarang. Dan terjadi beberapa perubahan nama
pada bagian kepegawaian BBPBAT Sukabumi. Berdasarkan Peraturan Menteri
tersebut, kedudukan BBPBAT adalah sebagai unit pelaksana teknis dibidang
pengembangan budidaya air tawar yang berada dibawah dan bertanggung jawab
kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan
Perikanan dapat dilihat pada gambar 3.
2.1.3. Tugas dan Fungsi BBPBAT Sukabumi
BPBAT Sukabumi adalah Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Depatermen
Kelautan dan Perikanan di bidang budidaya air tawar yang berada dan
bertanggung jawab kepada Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. BBPBAT
Sukabumi mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan penerapan teknik

4
pembenihan, pembudidayaan, pengelolaan kesehatan ikan, dan pelestarian
perlindungan budidaya air tawar. Pada masing-masing kelompok budidaya terdiri
dari sarana dan prasarana yang dapat mendukung semua kegiatan balai, baik
sarana utama maupun sarana penunjang.
BBPBAT Sukabumi dalam melaksanakan tugas sebagaimana yang
dimaksud diatas, menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1. Identifikasi dan perumusan program pengembangan teknik budidaya air
tawar;
2. Pengujian standar pembenihan dan pembudidayaan ikan air tawar;
3. Pengujian alat, mesin dan teknik pembenihan serta pembudidayaan
ikan air tawar.
4. Pelaksanaan bimbingan penerapan standar pembenihan dan
pembudidayaan ikan air tawar;
5. Pelaksanaan sertifikasi mutu dan sertifikasi personil pembenihan
dan pembudidayaan ikan air tawar;
6. Pelaksanaan produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk dasar
ikan air tawar;
7. Pengawasan pembenihan, pembudidayaan ikan serta pengendalian
hama dan penyakit ikan air tawar;
8. Pengembangan teknik dan pengujian standar pengendalian
lingkungan dan sumberdaya induk dan benih ikan air tawar;
9. Pengelolaan sistem jaringan laboratorium penguji dan pengawasan
perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar;
10. Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi
pembudidayaan ikan air tawar;
11. Pengelolaan keanekaragaman hayati; Pelaksanaan urusan tata usaha dan
rumah tangga
2.1.4. Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja BBPBAT Sukabumi
Struktur Organisasi BBPBAT berdasarkan SK Menteri Kelautan dan
Perikanan No. Per.06/PERMEN-KP/2014, terdiri dari Kepala Balai, Bagian Tata
Usaha, Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama, Bidang Pengujian dan Dukungan
Teknis, serta Kelompok Jabatan Fungsional. Kelompok Jabatan Fungsional yang

5
ada di BBPBAT yaitu Perekayasa atau Litkayasa, Pengawas Benih, Pengawas dan
Pengendali Hama Penyakit, Analisis Kepegawaian, dan Pustakawan. Berikut
struktur organisasi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) dapat
dilihat pada gambar 4. Adapun komponen-komponennya terdiri dari :
1. Kepala Balai Besar BBPBAT Sukabumi
Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Balai wajib menerapkan prinsip
koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik lingkungan masing-masing maupun
antar unit kerja dilingkungan departemen perikanan dan kelautan, serta instansi
lain sesuai dengan bidangnya. Bertanggung jawab atas prestasi dan tugas-tugas
BBPBAT Sukabumi yang telah ditetapkan. Memberikan laporan evaluasi
pelaksana kerja BBPBAT Sukabumi secara menyeluruh kepada atasannya dalam
hal ini Direktur Jendral Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan.

Gambar 4. Struktur Organisasi BBPBAT Sukabumi Tahun 2018


(Sumber : BBPBAT Sukabumi 2018)

6
2. Bagian Tata Usaha
Bagian tata usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan tata usaha balai.
Bagian tata usaha tersebut melaksanakan urusan kepegawaian, surat menyurat,
ruumah tangga dan perlengkapan serta melaksanakan urusan keuangan. Bagian
tata usaha membawa sub bagian keuangan dan sub bagian umum. Sub bagian
keuangan melakukan pengolahan urusan administrasi keuangan dan barang
kekayaan milik negara serta penyusunan evaluasi dan pelaporan BBPBAT
Sukabumi. Sub bagian umum melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana,
program dan anggaran serta pengolahan administrasi kepegawaian jabatan
fungsional serta pelaksanaan urusan persuratan dan rumah tangga di lingkungan
BBPBAT Sukabumi.
3. Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama
Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama melaksanakan penyiapan dan
standar teknik, alat dan mesin pembenihan, pembudidayaan, pengendalian hama
dan penyakit ikan air tawar, pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk dan
benih ikan air tawar serta pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan.
4. Bidang Pengujian dan Dukungan Teknis
Tugas dan wewenang dari bidang pengujian dan dukungan teknis adalah
pengelolaan administrasi, desiminasi, pemasaran dan distribusi, pengembangan
sistem usaha, pelayanan masyarakat, pemeliharaan kerja, menjaga kebersihan dan
ketertiban ruang atau lingkungan kerja.
5. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional menyelenggarakan kegiatan perekayasaan,
pengujian, penerapan, dan bimbingan pelayanan standar teknik, alat dan mesin,
serta sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan, pengendalian hama dan
penyakit ikan, pengawasan benih dan pembudidayaan serta penyuluhan dan
kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional
berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku.

2.1.5. Visi dan Misi BBPBAT Sukabumi


Visi BBPBAT Sukabumi mengacu pada visi yang telah ditetapkan
kementerian kelautan yaitu: “Mewujudkan Sektor Kelautan dan Perikanan
Indonesia Yang Mandiri, Maju, Kuat dan Berbasis Kepentingan Nasional”.

7
Selanjutnya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah melakukan penyesuaian
visi yang ditetap kan sebagai berikut: “Mewujudkan Perikanan Budidaya Ikan
Air Tawar yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan Berbasiskan
Kepentingan Nasional”.
Perwujudan visi tersebut dituangkan dalam pernyataan misi BBPBAT
Sukabumi yang mengacu pada Misi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
yaitu:
a. Mewujudkan kemandirian perikanan pembudidaya melalui
pemanfaatan sumberdaya berbasis pemberdayaan masyarakat.
b. Mewujudkan produk perikanan budidaya berdaya saing melalui
peningkatan teknologi inovatif.
c. Memanfaatkan sumberdaya perikanan budidaya secara berkelanjutan.
2.1.6. Sumber Daya Manusia
Pada bulan Januari 2018 jumlah pegawai berjumlah 143 orang dan satu
orang pegawai atas nama Ir. Maskur, M. Si ditugaskan di balai sebagai
perekayasa utama, namun untuk administrasi berada di Pusat. Berdasarkan
pendidikan formal, 115 orang pegawai Balai Besar terbanyak dicapai oleh pegawai
yang berpendididkan SD (0 orang), SMP/SLTP (1 orang), SMA/SLTA (47 orang),
diikuti oleh Sarjana Muda/D3 (15 orang), Sarjana Strata I/D4(31 orang), Sarjana
S2 (20 orang), S3 (1 orang).

8
Tabel 1. Kondisi PNS BBPBAT Berdasarkan Pendidikan dan Profesi
N Profesi Pendidik Jumlah
an
S3 S2 S1/D4 D3 SLT SLTP SD

1 Struktural
Kepala Balai - 1 - - - - - 1
Bagian Tata Usaha - 1 3 4 11 3 - 22
Bidang Uji Terap - 1 3 - 2 - - 6
Teknik dan
Kerjasama
Bidang Pengujian - 1 2 1 14 - - 18
dan Dukungan
Teknis
2 Fungsional
Perekayasa 1 14 6 - - - - 21
Litkayasa - - 5 5 11 - - 21
PHPI - - 2 1 1 4
Pustakawan - - - - - - - -
Peranata Humas - - 1 - 1 - - 2
Peranata Komputer - - - 1 - - - 1
Pengawas 10 2 3 15
Jumlah 1 17 32 14 43 3 - 111

9
Tabel 2. Kondisi TKK BBPBAT Berdasarkan Pendidikan dan Profesi
No Profesi Pendidikan Jumlah
S3 S2 S1/D4 D3 SLTA SLTP SD
1 Struktural
Kepala Balai
Bagian Tata Usaha 2 1 13 1 17
Bidang Uji Terap
Teknik dan
Kerjasama
Bidang Pengujian 3 1 7 1 3 15
dan Dukungan
Teknis
2 Fungsional
Perekayasa
Litkayasa
PHPI
Pustakawan
Peranata Humas
Peranata Komputer
Pengawas
Jumlah 5 2 20 2 3 32
Sumber : BBPBAT Sukabumi 2018

2.1.7. Sarana dan Prasarana


A. Sarana Pokok
Sarana pokok yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan di Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar, terdiri dari:
1. Gedung Utama
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)

menggunakan gedung utama sebagai ruang perkantoran (2.467 m2),

perpustakaan (96 m2), (375m2), wisma tamu (580 m2), ruang pertemuan

10
atau aula dengan kapasitas 100 orang, ruang belajar A kapasitas 30 orang
dan ruang belajar B kapasitas 30 orang.
2. Hatchery
Hatchery berfungsi untuk melakukan kegiatan pembenihan ikan
yang terdiri dari divisi carp (mas, grass carp, mola, nilem), indoor hatchey
(lele, patin, baung), divisi ikan hias (koi dan mas koki), divisi NBC (gurame
dan nila), divisi kodok, dan divisi udang galah.
3. Laboratorium
Laboratorium yang ada di BBPBAT Sukabumi terbagi menjadi
laboratorium kesehatan ikan, laboratorium kualitas air, laboratorium nutrisi,
dan laboratorium karantina ikan.
4. Kolam
Kolam yang terdapat di BBPBAT Sukabumi berjumlah 126 kolam.
Memiliki luas 10 ha yang berada di Jl. Selabintana Sukabumi, Pelabuhan
Ratu Sub Unit, Kolam Air Deras (SUKAD) Cisaat, dan Karamba Jaring
Apung (KJA) di Waduk Cirata Cianjur. Kolam yang ada digunakan untuk
kegiatan pembenihan, pembesaran, pemeliharaan induk, penerapan teknik
budidaya air tawar dan perekayasaan.
5. Perpustakaan
Fasilitas perpustakaan yang ada di BBPBAT Sukabumi hanya ada satu
perpustakaan yang berisi berbagai macam informasi yang dibutuhkan untuk
meningkatkan pengetahuan karyawan, peserta KKL, magang, prakerin,
penelitian, dan umum. Informasi yang berisi tentang perairan tawar, perairan
payau, dan perairan laut. Literatur yang ditemukan umumnya dari berbagai
macam berupa buku, jurnal, leaflet, skripsi dan laporan.
6. Gudang pakan
Gudang pakan digunakan untuk menyimpan pakan pellet maupun
pakan crumble. Gudang pakan berfungsi untuk penyimpanan persediaan
pakan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
7. Energi listrik
Energi listrik yang ada di seluruh kegiatan BBPBAT Sukabumi
bersumber dari PLN distribusi Jawa Barat cabang Sukabumi dengan daya

11
sebesar 53 KVA. Sebagai sumber cadangan digunakan generator sebanyak
1 unit dengan daya 80
KVA.
8. Sumber Air
BBPBAT Sukabumi memiliki 6 sumber air yaitu dari sungai Cisarua,
Sungai Panjalu dan 4 sumur bor. Air yang berasal dari Sumur bor disedot
menggunakan pompa yang berdaya 1300 watt dengan debit 0,5 L/detik dan
dimanfaatkan untuk kegiatan pembenihan di hatchery. Sedangkan air dari
Sungai Panjalu dan sungai Cisarua yang mata airnya terdapat di kaki
Gunung Gede memiliki debit air 89,1 L/detik dan dimanfaatkan untuk
mengisi unit-unit perkolaman yang ada di BBPBAT Sukabumi. Air yang
masuk dari sumber air tidak langsung digunakan untuk budidaya, tetapi
ditampung terlebih dahulu di kolam pengendapan, setelah itu baru dialirkan
ke kolam-kolam budidaya.
9. Prasarana
Prasarana yang tersedia digunakan sebagai fasilitas untuk
menunjang segala kegiatan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar
(BBPBAT). Prasar ana yang digunakan meliputi:
1. Alat Transportasi
Sarana transportasi yang dimiliki di BBPBAT Sukabumi terdiri atas
kendaraan roda dua dan roda empat untuk memudahkan pegawai
dalam menjalankan kegiatan budidaya.
2. Sistem Komunikasi
Sistem komunikasi diperlukan dalam menjalankan suatu usaha untuk
mendapat informasi yang dibutuhkan baik dari dalam maupun dari luar
lingkup hatchery. Alat komunikasi yang digunakan di BBPBAT adalah
telepon (Hand Phone). Bahasa sehari-hari yang sering digunakan untuk
berkomunikasi adalah bahasa Indonesia, Sunda dan Jawa.
3. Rumah Jaga
Usaha pembesaran Udang galah juga didukung dengan adanya
prasarana. Tambak dan sawah BBPBAT memiliki prasarana berupa
rumah jaga dan gudang pakan. Rumah jaga berfungsi untuk menjaga

12
keamanan tambak dan sawah, selain itu juga dapat digunakan sebagai
tempat istirahat petani.
4. Aula
Aula digunakan untuk pertemuan umum, sebagai ruang rapat pegawai
dan tempat pertemuan. Aula yang ada di BBPBAT memiliki kapasitas
150 orang.
5. Rumah Pegawai
Rumah dinas pegawai di BBPBAT di bangun di daerah kawasan
BBPBAT Sukabumi. Rumah pegawai ini berfungsi sebagai tempat
tinggal pegawai yang bekerja di BBPBAT.
6. Wisma Tamu
Wisma tamu di gunakan untuk melayani tamu–tamu yang berkunjung
ke BBPBAT Sukabumi. Wisma tamu memiliki luas 3 ha yang
digunakan untuk perkantoran, laboratorium, wisma tamu dan sarana
pendukung lainnya.
7. Masjid
Mesjid di BBPBAT Sukabumi memiliki nama yaitu mesjid AT-
TAQWA. Mesjid ini digunakan sebagai tempat ibadah pagawai yang
beragama islam di BBPBAT Sukabumi.
8. Pos Jaga
Pos jaga di BBPBAT menggunakan jasa satpam dengan 24 jam
penjagaan ketat, dengan penjagaan 6 orang satpam pada hari Senin
sampai dengan hari Jum’at. Apabila hari Sabtu dan hari Minggu hanya
ada 4 orang jasa satpam saja yang digunakan untuk mengawasi di
BBPBAT Sukabumi. Total jasa satpam di BBPBAT Sukabumi
berjumlah 12 orang.
9. Koperasi
Koperasi di BBPBAT Sukabumi, menjual beragam macam kebutuhan,
mulai dari makanan, kaos peserta KKL, dan alat–alat perikanan yang
dibutuhkan pegawai untuk bekerja. Sumber dana koperasi ini
berasal dari pegawai yang menanam saham di koperasi ini yang
bekerja di BBPBAT Sukabumi. Koperasi ini bernama “koperasi Mina
karya”.

13
2.1.8. Komoditas yang Dikembangkan Di BBPBAT Sukabumi
Komoditas yang dikembangkan di BBPBAT meliputi :
1 kan nila (Oreochromis sp.), 7 Ikan gurami (ospronomus gurami),
2 Ikan mas (cyiprinus carpio), 8 Ikan hias,
Udang galah (macthrobacthium
Ikan lele (clarias gariepinus sp),
3 9 rosenbergii de man)
Ikan patin (pangasionodon
Kodok lembu (rana catesbeiana shaw).
4 hypophtalmus), 10
5 Ikan baung (mytus nemurus), 11 Cacing sutra (Tubifex s.p)
Ikan mola (hypopthalmicthys
6 molitrix),

2.2. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas (Cyprinus carpio )


Secara umum ikan mas (Cyprinus carpio ) mempunyai sifat-sifat umum
sebagai hewan omnivora (pemakan segala). Menurut Amri dan Khairuman (2002),
berdasarkan penggolongan ikan mas dapat dipaparkan sebagai berikut:
Phyllum : Chordata
Subphyllum : Vertebrata
Superclass : Pisces
Class : Osteichthyes
Subclass : Actinopterigii
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Family : Cyprinidae
Subfamily : Ciprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio

Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio L)

14
Ikan mas mempunyai ciri-ciri antara lain bentuk badan agak memanjang
pipih kesamping (compressed), mulut berada di ujung tengah (terminal) dapat
disembulkan dan lunak, memiliki kumis (barbel) dua pasang, kadang-kadang
mempunyai sungut dua pasang, jari-jari sirip punggung (dorsal) yang kedua
mengeras seperti gergaji. Sedangkan letak antara kedua sirip punggung dan perut
bersebrangan, sirip dada (pectoral) terletak dibelakang tutup insang (operculum).
Pada bibirnya yang lunak terdapat dua pasang sungut (berbel) dan tidak bergerigi.
Pada bagian dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharynreal teeth) sebanyak
tiga baris berbentuk geraham (Pribadi et al., 2002).
Tubuh ikan mas digolongkan tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor.
Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang
tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup
insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar. Seluruh bagian
tubuh ikan mas ditutupi dengan sisik yang besar, dan berjenis ctenoid. Pada bagian
itu terlihat ada garis linea lateralis, memanjang mulai dari belakang tutup insang
sampai pangkal ekor. Ikan mas memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip
dada, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip punggung panjang terletak di
bagian punggung. Sirip dada sepasang terletak di belakang tutup insang, dengan
satu jari-jari keras, dan yang lainnya berjari-jari lemah. Sirip perut hanya satu
terletak pada perut. Sirip dubur hanya terletak di belakang dubur. Sirip ekor juga
hanya satu, terletak di belakang, dengan bentuk cagak (Cahyono, 2000).
Ikan Mas ( Cyprinus carpio L ) menyukai tempat hidup berupa perairan
tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras. Ikan ini
hidup dengan baik di daerah dengan ketinggian 150-600 m dpl (di atas permukaan
laut) dengan suhu berkisar antara 25-300C. Meskipun tergolong ikan air tawar, Ikan
Mas kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai dengan salinitas 25-30
ppt. Jika dilihat dari kebiasaan makannya, Ikan Mas tergolong ikan omnivora,
karena ikan ini merupakan ikan yang bisa memakan berbagai jenis makan, baik
yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Meskipun demikian, pakan
utamanya adalah yang berasal dari tumbuhan di dasar perairan dan daerah tepian. (
Amri dan Khairuman, 2002 ).

15
BAB III
METODE PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

3.1. Waktu dan Tempat


Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan pada tanggal 07 Januari - 08 April
2020 bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
Sukabumi Jawa Barat yang beralamat di Jalan Selabintana No. 37 Cikole, Kec.
Sukabumi Provinsi Jawa Barat.

3.2. Alat dan Bahan


Alat-alat yang akan digunakan selama praktek kerja lapangan antara lain: Bak
induk terbuat dari beton, bak pemberokan berupa bak fiber, bak penetasan berupa
bak fiber, hapa, bak pemijahan dari kolam terpal/beton, timbangan digital, lamit, hi-
blow., penggaris, baskom/ember, gelas ukur, Gunting., Lap/handuk.
Bahan yang akan digunakan selama praktek kerja industri antara lain: induk
gurami, pakan induk, pakan benih (cacing tubifex dan pellet), obat-obatan
(antibiotik)...

3.3. Prosedur Kerja


Praktik Kerja Lapangan ini dilakukan dengan metode pengambilan data
primer dan data sekunder. Pengambilan data primer yakni dengan mengikuti
seluruh kegiatan pembesaran ikan gurami di BBPBAT Sukabumi, melakukan
wawancara serta asistensi dengan pembimbing lapangan dan teknisi lapangan.
Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan literatur-literatur yang ada di
perpustakaan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi.
Kegiatan yang dilakukan dalam teknik pembenihan ikan gurami yaitu
sebagai berikut yaitu, pengenalan jenis ikan, pemeliharaan induk, pemijahan induk,
penetasan telur, pemeliharaan larva, pemanenan larva dan pendederan.

3.4. Pembenihan Ikan Mas


Dalam pelaksanaan teknik pembenihan ikan mas terdapat beberapa proses
yaitu persiapan kolam, seleksi induk, pemijahan dan penetasan telur, pemeliharaan
larva, dan pemanenan.

16
3.4.1. Persiapan Kolam
Menurut Cahyono (2000), kolam tempat hidup ikan mas harus subur. Pada
kolam yang subur tumbuh pakan alami dengan beragam jenis, dan ukuran serta
jumlah yang melimpah. Pakan alami sangat penting untuk kelangsungan hidup dan
pertumbuhan benih, hingga kelangsungan hidupnya tinggi dan pertumbuhannya
cepat. Persiapan kolam terdiri dari pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan
tanah dasar, perbaikan kemalir, pengapuran, pemupukan, serta pengairan.

a. Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan cara membuang seluruh air kolam. Kolam
dibiarkan terjemur sinar matahari. Pengeringan dianggap cukup bila tanah
dasar sudah retak-retak. Biasanya selama 4–7 hari. Pengeringan bertujuan
untuk memberantas hama dan penyakit, memperbaiki struktur tanah dasar dan
membuang gas-gas beracun. Selain itu juga untuk mempermudah perbaikan
pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
b. Perbaikan pematang
Perbaikan pematang dilakukan dengan cara menutup seluruh permukaan
pematang dengan tanah dasar, agar semua bocoran dalam pematang tertutup.
Bila ada bocoran yang lebih besar, sebaiknya pematang dibongkar, lalu ditutup
kembali dengan tanah. Bila bocorannya banyak, sebaiknya pematang dilapisi
plastik. Perbaikan pematang bertujuan agar kolam terbebas dari bocoran,
sehingga bila diisi air, ketinggian air dan kesuburannya dapat dipertahankan.
Kondisi ini sangat baik untuk benih, karena pakan alami selalu tersedia.
c. Pengolahan tanah dasar
Pengolahan tanah dasar dilakukan dengan mencangkul seluruh bagian
dasar kolam, tapi tidak terlalu dalam. Tujuannya agar tanah dasar kedap air,
strukturnya baik dan higenis. Tanah dasar yang kedap dapat menahan air.
Struktur tanah yang baik dapat memperlancar proses penguraian bahan organik
(pupuk), sehingga pakan alami tumbuh dengan baik. Higenis artinya tanah
dasar terbebas dari gas-gas beracun, seperti amoniak, belerang dan lain-lain.
d. Pembuatan kemalir
Pembuatan kemalir dilakukan dengan cara menarik dua buah tali plastik
dari pintu pemasukan ke pintu pengeluaran. Jarak antara tali atau lebar kemalir

17
antara 40-50 cm. Tanahnya digali sedalam 5–10 cm, lalu dilemparkan ke
pelataran. Pembuatan kemalir bertujuan untuk memudahkan penangkapan
benih saat panen. Di depan lubang pengeluaran dibuak kobakan dengan
panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 20 cm. Setelah kemalir dibuat, tanah dasar
diratakan.
e. Pengapuran
Pengapuran dilakukan setelah pembuatan kemalir dengan cara
menyiramkan air kapur ke seluruh bagian tanah dasar dan pematang.
Sebelumnya ditebar atau disiram, kapur direndam terlebih dahulu dengan air.
Untuk kapur yang sudah kering, pengapuran dapat dilakukan dengan cara
menaburkan ke seluruh bagian tanah dasar dan pematang. Pengapuran
bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, terutama pH dan
alkalinitasnya. Untuk kolam yang pH-nya sudah 7, pengapuran tidak perlu
dilakukan. Dosis pengapuran yaitu 40-50 gram/m2.
f. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menebar pupuk ke seluruh tanah dasar
kolam. Dengan cara seperti itu pupuk dapat tersebar merata dan pertumbuhan
pakan alami akan merata di seluruh bagian kolam. Pemupukan dalam kolam
bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami agar kolam menjadi subur. Pakan
alami sangat berguna untuk berudu agar tumbuh lebih cepat. Setelah kolam
dipupuk, kolam diisi air selama 4 – 6 hari. Caranya dengan menutup pintu
pengeluaran air (monik) dengan 3 – 4 buah belahan papan selebar masing-
masing 10 cm, tidak terbuang. Selain cara di atas, pemupukan dapat pula
dilakukan setelah kolam diisi air, agar tidak menimbulkan bau yang tidak
sedap. Pupuk yang baik untuk kolam adalah kotoran ayam atau puyuh. Dosis
pupuknya 500-1000 gram/m².
3.4.1. Seleksi induk
Induk yang akan digunakan untuk praktek adalah induk ikan mas (Cyprinus
carpio L) yang sudah matang gonad dan siap pijah. Menurut Amri dan Khairuman
(2008), induk mas betina yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri yaitu bagian
perutnya tampak gendut dan tampak menggelambir jika dilihat dari atas. Apabila

18
diraba, perutnya terasa lembek dan disekitar lubang urogenitalinya tampak
memerah dan akan keluar telurnya jika dipijit.
Induk jantan yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri yaitu ditandai
dengan keluarnya sperma yang berwarna putih jika daerah urogenitalnya dipijit atau
diurut. Induk yang dianggap ideal untuk dipijahkan adalah yang memiliki berat
antara 6 kg sampai 12 kg/ekor.
Pakan yang diberikan berupa pellet dengan kandungan protein 25%. Dosis
pemberian pakan sebanyak 3% per bobot biomas per hari. Pakan tersebut diberikan
3 kali/hari. Induk yang digunakan dalam pemijahan harus dalam kondisi sehat, tidak
terserang penyakit, baik parasiter maupun non parasiter, tidak cacat, dan
gerakannya lincah.
3.4.2. Pemijahan dan Penetasan Telur
Pemijahan pada ikan mas diawali dengan memasukkan pasangan induk
yang sudah terseleksi. Pelepasan induk diusahakan tidak menimbulkan gangguan
fisik atau gangguan non fisik. Dalam keadaan normal dan faktor lingkungan yang
mendukung, pemijahan dapat berlangsung pada malam harinya sekitar pukul 23.00
sampai dengan menjelang subuh. Pemijahan ditandai dengan adanya suara riuh air
akibat pasangan yang berpijah saling berkejaran dan berlompatan pada saat
pelepasan telur dan sperma. Telur-telur hasil pemijahan tersebut akan menetas
setelah 3-4 hari kemudian. Larva-larva yang baru menetas tersebut tidak langsung
diberi pakan tambahan karena masih ada kandungan kuning telurnya (Djarijah,
2001).
Ikan mas tergolong ikan yang mudah melakukan pemijahan, walaupun
dibak-bak terkontrol. Apabila induk benar-benar mencapai matang gonad, maka
ikan mas sudah siap untuk dipijahkan. Pemijahan ikan mas berlangsung selama 1
hari dan bak yang digunakan untuk pemijahan sesuai dengan teknik pemijahan yang
digunakan pemijahan dilakukan secara semi intensif yaitu dengan menyuntikan
larutan ovaprim dengan dosis yang sudah ditentukan, yaitu untuk betina dosisnya
adalah 0,3-0,4 ml/kg sedangkan untuk induk jantan dosisnya adalah 0,1-0,2 ml/kg.
Cara penyuntikannya yaitu dengan menyuntikkan pada bagian sirip ketiga bagian
tubuh ikan sebelah kanan di bawah sirip punggung.

19
3.4.3. Pemeliharaan Larva
Setelah larva ikan mas dilepas atau dipelihara dalam kolam pendederan
maka selanjutnnya dilakukan tahap pemeliharaan dan perawatan antara lain dengan
mengatur air masuk dan air keluar, jangan sampai ada kebocoran pada kolam yang
dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Padat tebar telur untuk penetasan
yaitu 10.000-20.000 butir/ m² kakaban. Air kolam hendaknya diatur sedemikian
rupa jangan sampai kolam mengalami kekeringan atau kelebihan air. Tahap
berikutnya memberikan pakan berupa dedak halus yang sebelumnya dedak tersebut
harus dibasahi terlebih dahulu dengan air dan diberikan secara merata
disekelilingnya kolam ada pula pakan alami yang banyak macamnya, yaitu
Rotifera, Daphnia, Moina dan Branchionus. Waktu pemberian pakan tersebut
dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari selama satu minggu (Bachtiar,2002).
Pada minggu kedua ikan baru bisa diberi pakan dedak halus ditaburkan
disekeliling kolam tanpa dibasahi lagi, pada minggu kedua dan ketiga bisa juga
diberikan makanan tambahan berupa pellet tapi pellet tersebut harus dihancurkan
atau ditumbuk sampai halus dan ditebarkan secara merata, serta harus
memperhatikan lingkungan sekitar kolam agar usaha pemeliharaan benih ikan mas
tidak mengalami kegagalan. Setelah umur benih tiga minggu (21 hari) dapat
dilakukan panen pertama dengan ukuran sekitar 1-3 cm dan bisa dilanjutkan dengan
pemeliharaan benih untuk menjadi ukuran 3-5 cm.
3.4.4. Pemanenan
Menurut Khairuman (2002), sebelum dilakukan pemanenan benih ikan,
terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat tangkap dan sarana perlengkapannya.
Peralatan yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah
warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan
penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba
kupyak, fish bus(untuk mengangkut ikan jarak dekat), ayakan penyabetan dari
alumunium/bamboo, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk
menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan),
scoopnet. Untuk panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00
pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan
untuk menghindari terik matahari yang dapat mengganggu kesehatan benih ikan

20
tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam
pendederan sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan
tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut benih
mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam ember atau
keramba. Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang
dapat diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm
(Khairuman, 2008).

3.5. Analisa Data


Analisa data yang dilakukan terhadap laju pertumbuhan harian (10 hari) ikan
gurami (Osphronemus gouramy) adalah dengan menggunakan rumus:
3.5.1. Kelangsungan Hidup
Persentase kelangsungan hidup dihitung dengan rumus dari Wirabakti (2006)
sebagai berikut :
Nt
SR = x 100%
No

Keterangan :

SR = Kelangsungan Hidup (%)


Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)

3.5.2. Laju Pertumbuhan Ikan


Perhitungan pertumbuhan bobot dan panjang tubuh ikan berdasarkan rumus
Effendie (1979) adalah sebagai berikut :
Laju Pertumbuhan bobot
ln Wt – ln Wo
Laju Pertumbuhan bobot = x 100%
t

Keterangan :
Wt = Bobot ikan di akhir pemeliharaan (g)
Wo = Bobot ikan di awal pemeliharaan (g)

21
Laju pertumbuhan panjang:

ln Lt – ln Lo
Laju Pertumbuhan panjang = x 100%
t

Keterangan :
Lt = Panjang ikan di akhir pemeliharaan (cm)
Lo = Panjang ikan di awal pemeliharaan (cm)

3.5.3. Daya Tetas Telur


Perhitungan derajat penetasan telur dilakukan berdasarkan rumus yang
dikemukakan oleh Tahapari dkk. (2001)

Lt
HR= 𝐹𝑟 x 100%

Keterangan:
HR = Derajat penetasan telur (%)
Lt = Jumlah telur yang menetas (butir)
Fr = Jumlah seluruh telur yang dibuahi (butir)

22
DAFTAR PUSTAKA

B, Ricky. Usaha Pemeliharaan Gurami (Osphronemus gouramy). Penebar


Swadaya, Jakarta: 2008.

Bambang, S, Penggunaan Pakan Alami Untuk Percepatan Pertumbuhan Ikan


Gurami(Osphronemus gouramy). Sastra Hudaya Jakarta: 2009.

Duto, Sri, Cahyono. Pakan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Sumur


Bandung: 1981

Febriani, Dian. Dan M.J.Rietje. Peranan Probiotik Dalam Meningkatkan Hasil


Pembenihan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Skripsi Fakultas
Perikanan Politeknik Negri Lampung: 2008.

M. A. Suprayudi dan Setyawati, M. Kebutuhan Optimum Protein Dan Energi


Pakan Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Penerbit Kanisius
Yogyakarta: 1995.

Reinthal, P&J. Stegen. 2005. Ichtyology. phttp://eebweb. arizona. edu/couses/


eco1482-582/ lecture1-2005-6.pdf Sari Gendro Sasi. Budidaya
Pertanian Dan Peternakan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy).
Sastra Hudaya Jakarta: 2008.

Sari gendro sasi. Kualitas Air Sungai Maron Dengan Perlakuan Keramba Di
Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Skripsi Program
Study Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung Mangkurat
Kalimantan Selatan: 2007

Sjamsudin, A, R. Kajian Pertumbuhan Beberapa Jenis Gurami Dengan


Penggunaan Pakan Yang Berbeda. Balai Pengkajian Tknologi
Pertanian Jawa Tengah: 2008.

S, T, H, Petrus. Fariasi Fisiologi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Dalam


Menghadapi Ketersediaan Sumber Pakan. S3 Dissertations Mathematic
And Natural Sciense. ITB Central Library Bandung.1999.

Susanto, Heru. Budidaya Ikan Gurame (Jilid I). Yogyakarta: 1987.

Warintek. Budidaya Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Teknologi Tepat


Guna Mentri Negara Riset dan Teknologi. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia Jakarta: 2002.

23