Anda di halaman 1dari 20

F1 http://dellasgarden.blogspot.com/2013/03/tugas-internsip-selama-1-tahun-bangilz.

html

1. Pemeberian zat bezi pada remaja


Latar belakang

Salah satu masalah gizi pada remaja dan dewasa yang masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat adalah anemia gizi zat besi. Prevalensi anemia di dunia sangat tinggi, terutama di
negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Anemia defisiensi besi merupakan
masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia.1
Perkiraan prevalensi anemia secara global adalah sekitar 51%. Angka tersebut terus
bertambah di tahun 1997 yang bergerak dari 13,4% di Thailand ke 85,5% di India.2
Tiga puluh enam persen (atau kira-kira 1400 juta orang) dari perkiraan populasi 3800
juta orang di negara sedang berkembang menderita anemia gizi, sedangkan prevalensi di
negara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200
juta orang.1 Menurut data Depkes RI, prevalensi anemia defisiensi besi pada remaja putri di
Indonesia yaitu 28%.3 Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 menyatakan
bahwa prevalensi anemia defisiensi besi pada remaja putri usia 10-18 tahun yaitu 57,1%.4

Permasalahan
Tingkat pengetahuan siswa tentang anemia

Kepedulian orang tua terhadap tumbuh kembang anak

Perencanaan & intervensi


Sosialisasi tanda klinis anemia pada anak
Pembagian zat besi
Skrining anemia

Pelaksanaan
- Menyampaikan salam
- Menjelaskan tujuan penyuluan
- Pemaparan materi
- Melakukan skrining anemia
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Latar belakang

Menurut Promkes Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2012), Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah kebiasaan/perilaku sehat yang dilakukan oleh setiap siswa, guru,
penjaga sekolah, petugas kantin atau warung sekolah, orang tua siswa, dan lain-lain yang dengan
kesadarannya untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, serta aktif dalam menjaga
lingkungan sehat di sekolah.
PHBS perlu dilakukan di sekolah agar masyarakat sekolah terlindungi dari berbagai gangguan
dan ancaman penyakit, sekolah menjadi bersih dan sehat, sehingga meningkatkan semangat proses
belajar-mengajar.
Penyuluhan PHBS merupakan salah satu kegiatan usaha peningkatan PHBS. Tujuan kegiatan ini
adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pentingnya PHBS di sekolah,
serta bagaiman penerapan PHBS yang benar di sekolah. Penyuluhan ini lebih ditekankan pada
pentingnya PHBS dan cara penerapan PHBS yang benar, seperti bagaimana langkah cuci tangan yang
benar.
Permasalahan
Tingkat pengetahuan siswa tentang PHBS
Kepedulian siswa, guru, penjaga sekolah, petugas kantin atau warung sekolah, orang tua siswa,
terhadap PHBS disekolah
Perencanaan & intervensi
- Melakukan kegiatan SMD, FGD, IDI, dan Observasi
- Melakukan wawancara mengenai kurangnya kesadaran Siswa mengenai PHBS
- Mencari materi terkait pentingnya PHBS sekolah
- Membuat desain leaflet, stiker, poster, dan mencari video mengenai pHBS
Pelaksanaan
- Koordinasi dengan dosen pembimbing akademik, kepala puskesmas pakis, dan
kepala sekolah
- Koordinasi dengan Kepala Sekolah.
- Melakukan penyuluhan
- Memberikan media promosi

Monitoring dan evaluasi

- Kepala puskesmas dan kepala sekolah


- Guru SMP PGRI
- Siswa SMP PGRI
-
3. Sosialisasi Kejang Pada Anak
Latar belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus
keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak
satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami
kejang demam.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada
anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC)
yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran
pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera.
Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat
yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga
perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu
memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien
sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan
pada kejang demam adalah : Mencegah/mengendalikan aktivitas kejang, melindungi pasien dari
trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif, memberikan
informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan penanganannya.

Permasalahan
Tingkat pengetahuan orang tua terhadap kejang pada anak
Kepedulian orang tua terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak
Perencanaan & intervensi
Sosialisasi tanda klinis kejang pada anak

Pelaksanaan
- Pembukaan
- Penyampaian materi :
1. Menjelaskan tentang pengertian kejang demam
2. Menyebutkan penyebab kejang demam
3. Menyebutkan penyebab kejang.
4. Tanda dan Gejala kejang demam
- Penutup

Monitoring dan evaluasi

1. Prosedur
a. Selama proses pembelajaran berlangsung
b. Selesai penyuluhan
2. Bentuk test
Lisan
3. Jenis test
Lisan
4. Alat-alat test
a. Tes awal
1. Apa pengertian kejang demam?
2. Apa penyebab dari kejang demam?
3. Apa saja tanda dan gejala kejang demam?
4. Apa saja klasifikasi dari kejang?
5. Apa prognosis kejang demam?
6. Bagaimana pertolongan pertama pada kejang demam?
b. Tes Akhir
Pertanyaan sama dengan tes awal

4. Cara Mencuci Tangan yang Baik


Latar belakang

Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang meliputi
kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian
dalam meningkatkan kesehatan yang optimal (Effendy, 1997).
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, dimana individu
secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit.
Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam
mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata, telinga,
gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya pemeliharaan
kebersihan diri ini, pengetahuan akan pentingnya kebersihan diri tersebut sangat diperlukan.
Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk
tindakan seseorang (Notoatmodjo,1997).
Menurut DEPKES 2007, mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis melepaskan
kotoran dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air.
Mencuci tangan adalah menggosok air dengan sabun secara bersama-sama seluruh kulit
permukaan tangan dengan kuat dan ringkas kemudian dibilas dibawah aliran air (Larsan, 1995).
Seperti halnya perilaku buang air besar sembarangan, perilaku cuci tangan, terlebih cuci
tangan pakai sabun merupakan masih merupakan sasaran penting dalam promosi kesehatan,
khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
kecamatan Nguling yang belum mengetahui pentingnya pengetahuan terhadap cara
mencuci tangan yang baik dalam prilaku hidup bersih dan sehat.
Pelaksanaan
Telah dilakukan penyuluhan di salah satu rumah warga (kader posyandu) di dusun Pering,
desa Watuprapat tanggal 13 Juni 2015. Dalam pertemuan, peserta diberikan penjelasan
mengenai hal-hal yang termasuk dalam perilaku hidup bersih dan sehat. Kemudian dijelaskan
setiap poinnya, terutama cara mencuci tangan yang baik dan benar, disertai dengan pemberian
contoh cara mencuci tangan yang baik dan meminta semua warga yang ikut dalam penyuluhan
untuk mengikuti gerakan yang telah dicontohkan. Penyuluhan ini dilakukan di salah satu rumah
warga sebagai tempat posyandu balita Dusun Pering, Desa Watuprapat mulai pukul 09.00-11.00,
dihadiri oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari peserta-peserta dan kader posyandu.
Dalam pertemuan ini, juga dilakukan diskusi dan tanya jawab. Dari penyampaian materi,
ternyata banyak pertanyaan yang mengemuka.
Kesimpulan yang bisa didapatkan dari penyuluhan ini adalah masih rendahnya tingkat
pengetahuan para peserta posyandu terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dalam
kehidupan sehari-hari.

Perencanaan & intervensi


Melakukan intervensi secara aktif.

 Penemuan penderita secara aktif


Melakukan penyuluhan didesa Watuprapat kecamatan Nguling tentang cara mencuci tangan
yang baik dengan memberikan contoh prilaku secara langsung.
Monitoring dan evaluasi
Secara keseluruhan, penyuluhan berjalan lancar dan tanpa hambatan. Tidak ada gangguan
teknis yang terjadi selama penyuluhan berlangsung. Para peserta posyandu juga merespon
dengan baik, ditandai dengan tingginya angka pertanyaan dan respon dalam mengikuti gerakan
cara mencuci tangan yang baik.

5. Cara Menggosok Gigi yang Baik dan Benar

Latar belakang

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan memberikan prioritas kepada upaya peningkatan


kesehatan,pencegahan penyakit dengan tidak mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan
kesehatan .untuk menunjang upaya kesehatan yang optimal maka upaya dibidang kesehatan gigi perlu
mendapat perhatian (Depkes RI, 1994). Kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat Indonesia masih
merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik dokter gigi
maupun perawat gigi. Hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut berada pada sepuluh besar penyakit
terbanyak yang tersebar diberbagai wilayah. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat
Indonesia adalah penyakit jaringan penyangga dan karies gigi, penyakit tersebut akibat terabaikannya
kebersihan gigi dan mulut (Depkes RI, 2004).

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa tingkat keparahan kerusakan gigi
(indeks DMF-T) pada anak usia 12 tahun sebesar 1 (satu) gigi. Kenyatannya pengalaman karies
perorangan rata-rata (DMFT = Decay Missing Filling-Teeth) adalah 4,85 yang berarti rata rata kerusakan
gigi penduduk adalah 5 gigi per orang. (Depkes RI, 2000).

Praktek kebersihan mulut oleh individu merupakan tindakan pencegahan yang paling utama
dianjurkan, juga berarti individu tadi telah melakukan tindakan pencegahan yang sesungguhnya, praktek
kebersihan mulut ini dapat dilakukan individu dengan cara menggosok gigi. Menggosok gigi berfungsi
untuk menghilangkan dan mengganggu pembentukan plak dan debris, membersihkan sisa makanan
yang menempel pada gigi, menstimulasi jaringan gigiva, menghilangkan bau mulut yang tidak
diinginkan.(Depkes RI, 2004)

Perilaku menggosok gigi pada anak harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada
perasaan terpaksa. Kemampuan menggosok gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang
cukup penting untuk perawatan kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan menggosok gigi juga
dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode menggosok gigi, serta frekuensi dan waktu
menggosok gigi yang tepat.(
Permasalahan
Kesehatan gigi dan mulut sangat penting dan perlu diperhatikan sejak dini, karena masih banyaknya
pengetahuan yang kurang mengenai penyakit gigi dan mulut. Masalah utama yang terhadi adalah
karena cara menggosok dan merawat gigi yang kurang tepat, sehingga mengakibatkan kerusakan
gigi yang terus-menerus.
Perencanaan & intervensi
Melakukan intervensi secara pasif dan aktif secara bersamaan yakni dengan melakukan edukasi
kesehatan dan pelatihan ketrampilan cara menggosok gigi yang baik dan enar kepada murid-murid
Pelaksanaan
Melakukan penyuluhan dan praktek bersama mengenai cara menggosok gigi yang baik dan benar
untu menjaga kesehatan gigi dan mulut. Acara seperti ini rutin dilakukan tiap bulannya ke beberapa
sekolah yang berbeda guna memenuhi cakupan yang ada. Target alam penyuluhan ini bukan hanya
murid-murid di sekolahan namun juga guru serta orang tua yang mendampinginya.
Monitoring dan evaluasi
Monitoring dilakukan oleh para guru sekolahan yang bekerjasama dengan para kader dan evaluasi
dengan tingkat kunjungan di poli pkm puskesmas suli untuk pemeriksaan gigi rutin.

F2:
1. PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KASUS DBD

Latar belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD/ Dengue Hemmoragic Fever) merupakan masalah kesehatan
yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis, terutama di daerah perkotaan. DBD merupakan penyakit
dengan potensi fatalitas yang cukup tinggi, yang ditemukan pertama kali pada tahun 1950an di Filipina
dan Thailand, dan saat ini dapat ditemukan di sebagian besar negara di Asia.
Pola penularan DBD dipengaruhi iklim dan kelembaban udara. Kelembaban udara yang tinggi
dan suhu panas justru membuat nyamuk Aedes aegypti bertahan lama. Sehingga kemungkinan pola
waktu terjadinya penyakit mungkin akan berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat yang lain
tergantung dari iklim dan kelembaban udara. Di Pulau Jawa kasus DBD sering ditemukan pada bulan
Januari hingga bulan Mei.
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD dilakukan secara promotif dan preventif,
dengan pemberantasan nyamuk vektor (hewan perantara penularan). Penyelidikan epidemiologi perlu
dilakukan apabila ditemukan kasus DBD pada suatu wilayah tertentu. Penyelidikan epidemiologi adalah
kegiatan pencarian penderita/tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di
rumah penderita, dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter, serta tempat-tempat umum yang
diperkirakan menjadi sumber penularan penyakit lebih lanjut.

Permasalahan
Pada tanggal 29 Agustus 2015 terdapat pelaporan kasus DBD atas nama An. S, usia 15 tahun dengan
alamat Suli bawah. Pasien mengeluhkan demam tinggi mendadak, nyeri kepala dan tulang, tanpa ada
keluhan seperti infeksi saluran pernafasan dan saluran kemih. Pasien sempat dirawat inap di RSUD Ishak
Umarella, Tulehu selama tujuh hari. Perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi pada lingkungan rumah
dan sekolah pasien untuk menjaring apakah terdapat kasus DBD

Perencanaan & intervensi


Langkah-langkah penyelidikan epidemiologi DBD di Desa Singodutan meliputi :
1. Mencatat identitas penderita/tersangka DBD di buku
2. Menyiapkan peralatan PE (tensimeter anak, senter, form dan abate)
3. Petugas datang ke Lurah atau Kades di wilayah
4. Menanyakan ada tidaknya penderita panas dalam kurun waktu 1 minggu
sebelumnya di rumah pasien. Bila ada, dilakukan uji Rumple Leeds
5. Melakukan kunjungan rumah (radius 20 rumah di sekitar kasus atau radius 100
meter dari rumah penderita) dan memeriksa jentik di tempat penampungan air di
dalam dan di luar rumah dan menanyakan ada tidaknya penderita panas dalam
kurun waktu 1 minggu sebelumnya
6. Hasil pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir Penyelidikan Epidemiologi (PE)
7. Melakukan analisis epidemiologi dan menentukan jenis tindakan penanggulangan
yang perlu dilakukan
Pelaksanaan
Penyelidikan epidemiologi kasus DBD di Desa Singodutan telah dilaksanakan pada:
Hari/ Tanggal : Selasa, 3 Juni 2019
Waktu : 08.00
Tempat : Suli Bawah
Alat : Senter, Tensimeter, Form PE, abate

Monitoring dan evaluasi


Penyelidikan epidemiologi dilakukan guna mengetahui potensi penularan dan
penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah
sekitar tempat tinggal penderita. Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi diharapkan
dapat diketahui apakah ada penderita dan tersangka DBD lainya, ada tidaknya jentik nyamuk
penular DBD dan dapat ditentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan.
Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan rumah pasien didapatkan
data data sebagai berikut :

I. INDEKS KASUS
1. Nama Penderita : An. S
2. Umur : 15 tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Nama orang tua : Tn. H
5. Alamat : Suli BAwah
6. Dirawat di : RSUD Ishak Umarella
7. Pendidikan/ pekerjaan : SMA 2 Maluku Tengah

II. Penyelidikan Epidemiologi dilakukan pada radius 20 rumah sekeliling indeks kasus dan di
sekolah penderita pada saat dilakukan PE, juga dilakukan abatisasi selektif.
Dalam waktu 3 minggu terakhir tidak ditemukan warga dengan gejala sebagai berikut :
a. Panas 2-7 hari tanpa sebab yang jelass
b. Penderita dengan tanda DBD (RL)
c. Penderita meninggal dengan tanda DBD
III. Hasil abatisasi selektif pada PE
a. Jumlah rumah yang diperiksa : 20 KK
b. Jumlah post jentik : 97
c. House Index (HI) : 4/20 x 100 = 20%
d. ABJ : 16/20 x 100 = 80 %
e. Jumlah container : 97
f. Jumlah container positif :7
g. Container Index (CI) : 7/97 x 100 = 7,2 %
h. Jumlah rumah dilarvasidasi : -

IV. Hasil analisis epidemiologi

Analisis Ya Tidak
Ada tambahan 2 atau lebih kasus DBD dalam periode 3
minggu yang lalu V
Ada tambahan kasus DBD yang meninggal dalam periode 3
minggu yang lalu V
Ada tambahan kasus DBD 1 orang dan ada 3 penderita
panas dalam periode 3 minggu serta house index > 5% V
Ada tambahan 1 kasus DBD dan house index < 5% V

Dikarenakan tidak terpenuhi kriteria nomer 1 dan 2 maka pada kasus kali ini belum perlu
dilakukan fogging. Penanggulangan dilakukan dengan penggerakkan masyarakat untuk
pembersihan sarang nyamuk (PSN) dan selanjutnya perlu dilakukan pengamatan dengan
cara PE 3 minggu yang akan datang sejak tanggal sakit indeks sakit.

2. Upaya Peningkatan Angka Bebas Jentik untuk Pencegahan Demam Berdarah

Latar belakang
Juru Pemantau Jentik (jumantik) merupakan warga masyarakat setempat yang dilatih untuk
memeriksa keberadaan jentik di tempat-tempat penampungan air. Jumantik merupakan salah satu
bentuk gerakan atau partisipasi aktif dari masyarakat dalam menanggulangi penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) yang sampai saat ini masih belum dapat diberantas tuntas. Dengan adanya jumantik yang
aktif diharapkan dapat menurunkan angka kasus DBD melalui kegiatan pemeriksaan jentik yang
berulang-ulang, pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta penyuluhan kepada
masyarakat. Dengan adanya pemberdayaan masyarakat melalui jumantik, diharapkan masyarakat dapat
secara bersama-sama mencegah dan menanggulangi penyakit DBD secara mandiri yakni dari, oleh, dan
untuk masyarakat (Depkes RI, 2010: 3).

Jumlah penderita penyakit DBD dari tahun ke tahun cenderung meningkat dan penyebarannya semakin
luas. Berdasarkan data Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), jumlah kasus DBD di
Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus. Pada tahun 2010 jumlah kematian akibat DBD di Indonesia
sekitar 1.317 orang. Indonesia menduduki urutan tertinggi kasus DBD di Association of South East Asian
Nations (ASEAN). Potensi penyebaran DBD di antara negara- 2 negara anggota ASEAN cukup tinggi
karena banyak wisatawan keluar masuk dari satu negara ke negara lain

Permasalahan
Masih banyak orang masih belum memahami bahwa hal terpenting dalam pencegahan demam
berdarah adalah memperhatikan kesehatan lingkungan sekitar yang ada, misalnya dengan
mengendalikan pertumbuhan jentik sampai ke nilai nol.

Perencanaan & intervensi


Cara yang paling mudah untuk mensosialisakan gerakan bebas jentik adalah evalusi seecara langsung
dari rumah ke rumah dan mengajarkan masyarakat cara untuk menghitung jentik.

Pelaksanaan
Diadakannya edukasi tentang cara menghitung jentik dan cara menajaga kesehatan lingkungan yang
benar dengan kunjungan rumah secara langsung agar terhindar dari jentik dan mencegah timbulnya
penyakit demam berdarah.

Monitoring dan evaluasi


Setelah dilakukan pelatihan maka warga masyarakat diberikan stiker untuk mengontrol jumlah
jentik yang ada di rumah dan dilakukan evaluasi tiap bulan secara berkala oleh kader jumantik yang
sudah dilatih oleh petugas puskesmas guna menanggulangi dan mencegah terjadinya penyakit
demam berdarah dan meningkatkan adanya kesadaran terhadap kesehatan lingkungan sekitar.
3. Upaya Kesehatan Lingkungan / Rumah Sehat
Latar belakang

Setiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut
rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepas lelah, tempat bergaul dan membina
rasa kekeluargaan diantara keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan
rumah juga merupakan status lambang sosial. Perumahan juga merupakan kebutuhan dasar
manusia dan merupakan determinan kesehatan masyarakat. Karenanya pengadaan
perumahan dan tersedianya standar perumahan merupakan isu penting. Perumahan yag layak
untuk tempat tinggal harus memenuhi syarat kesehatan sehingga penghunnya tetap sehat.
Rumah adalah struktur fisik yang terdiri dari ruangan, halaman, dan area sekitarnya yag
dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No.4 Tahun 1992).
Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana
lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan keluarga dan individu (WHO, 2001). Oleh karena itu keberadaan rumah yang
sehat, aman, dan serasi, dan teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat
terpenuhi dengan baik.
Permasalahan
Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah sebagaimana yang
tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang
Persyaratan kesehatan perumahan. meliputi 3 lingkup kelompok komponen penilaian, yaitu :
1. Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai, ventilasi, sarana
pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
2. Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, pembuangan kotoran, pembuangan
air limbah, sarana tempat pembuangan sampah.
3. Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela ruangan dirumah,
membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja ke jamban, membuang sampah pada
tempat sampah.

Perencanaan & intervensi


Tenaga kesehatan mengunjungi rumah Tn. W di Suli, kemudian meneliti, mencatat,
menilai sesuai kriteria yang ada dan kemudian memberikan masukan agar tercipta rumah yag
memenuhi syarat kesehatan.
Pelaksanaan
Tenaga kesehatan menilai rumah berdasarkan daftar tilik inspeksi rumah sehat
kemudian memberikan penilaian terdapat kriteria yang harus diperiksa. Masing-masing
kriteria diberi skor 0, 1, atau 2 sesuai kondisi yang ditemukan. Cara menghitung hasil
penilaian adalah Nilai x Bobot. Bila nilainya 1068 – 1200, maka rumah termasuk rumah
sehat, sedangkan bila skor kurang dari 1068, maka termasuk kriteria rumah tidak sehat.

Monitoring dan evaluasi


1. Melakukan penyuluhan tentang kriteria rumah sehat, dan pentingnya mempunyai
tempat tinggal yang sesuai dengan kriteria tersebut
2. Bekerjasama dengan pemerintah atau pihak swasta untuk membantu pembangunan
rumah yang memenuhi kriteria rumah sehat pada masyarakat yang tidak mampu

4. Kunjungan rumah dan edukasi pencegahan dbd dengan gerakan 3m


Latar belakang

Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam
akut yang banyak ditemukan di daerah tropis. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Aedes
Aegepty. Gejala yang muncul berupa febris sering kali dianggap sederhana, padahal
penyakit tersebut mematikan apabila tidak ditangani sesuai prosedur terapinya.
Penularan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan. Pencegahan
penyakit dapat dilakukan dengan memberantas siklus hidup nyamuk Aedes Aegypty.
Nyamuk dapat diberantas dengan melakukan 3M yaitu menguras, menutup, mendaur ulang.
Oleh karena itu kebersihan lingkungan harus diperhatikan untuk mencegah penyakit DBD.
Dikarenakan ditemukannya kasus DBD di Desa Cabean maka perlu dilakukan kunjungan
rumah untuk mengecek kebersihan lingkungan dan program 3M di rumah penderita tersebut.
Permasalahan
Permasalahan yang ditemukan yaitu terdapat seorang pasien menderita DBD.
Adanya kasus tersebut memerlukan adanya pemeriksaan epidemiologi termasuk pengecekan
kesehatan lingkungan di Desa Cabean. Kemungkinan warga belum memahami dan
melaksanakan program 3M dengan maksimal sehingga perlu adanya penyuluhan tentang
pencegahan DBD dengan gerakan 3M.
Perencanaan & intervensi
Untuk meningkatkan pengetahuan dalam pencegahan DBD dengan gerakan 3M,
maka direncanakan kunjukan rumah dan pemberian edukasi pencegahan DBD dengan
gerakan 3M, pada:
Tanggal : 22 Maret 2019
Waktu : 10.00 WIB – selesai
Tempat : Desa Suli
Kegiatan yang dilakukan:
1. Memberikan pengertian tentang DBD
2. Memberikan edukasi tentang cara 3M
3. Melakukan pengecekan jentik pada kamar mandi dan tempat penampungan air
Pelaksanaan
Proses intervensi berupa kunjungan rumah dan edukasi 3M berjalan dengan lancar,
pada:
Tanggal : 22 Maret 2019
Waktu : 10.00 - selesai
Tempat : Desa Suli
Pada pelaksanaan ditemukan bahwa air kamar mandi keruh dan ditemukan jentik-
jentik yang menempel di dinding bak kamar mandi. Tempat penampungan air sudah ditutup
dengan baik. Namun beberapa barang yang tidak dibutuhkan masih menumpuk sehingga
dimungkinkan menjadi sarang nyamuk.

Monitoring dan evaluasi


Proses monitoring dan evaluasi yang diperlukan setelah dilakukan penyuluhan, yaitu:
1. Sebaiknya setiap kader mengingatkan tentang pentingnya 3M di lingkungan
rumah
2. Perlu adanya evaluasi secara berkala tentang pelaksanaan 3M

5.Sanitasi Rumah Ibadah

Latar belakang
Tempat-tempat Umum (TTU) adalah suatu tempat di mana umum (semua
orang) dapat masuk ke tempat tersebut untuk berkumpul mengadakan kegiatan baik secara
insidentil maupun terus menerus. TTU juga dapat didefinisikan sebagai tempat kegiatan bagi
umum yang mempunyai tempat, sarana dan kegiatan tetap yang diselenggarakan oleh badan
pemerintah, swasta, dan atau perorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat.
Oleh karena TTU merupakan sarana yang dikunjungi banyak orang, maka tempat atau sarana
umum tersebut sangat berpotensi dalam penyebaran berbagai macam penyakit dan pencemaran
lingkungan.
Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan
terhadap berbagai faktor lingkungan sehingga munculnya penyakit dapat dihindari. Sanitasi
merupakan suatu usaha pengendalian faktor-faktor lingkungan untuk mencegah timbulnya suatu
penyakit dan penularannya yang disebabkan oleh faktor lingkungan tersebut yang bertujuan
mengoptimalkan derajat kesehatan masyarakat. Sanitasi tempattempat umum adalah suatu usaha
untuk mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tempat-tempat umum terutama yang erat
hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit dan mencegah akibat yang
dapat timbul dari tempat-tempat umum.
Salah satu tempat umum yang perlu diperhatikan kebersihan dan sanitasi lingkungannya
adalah tempat peribadatan atau tempat ibadah. Tempat-tempat ibadah merupakan salah satu
sarana tempat-tempat umum yang dipergunakan untuk berkumpulnya masyarakat guna
melaksanakan kegiatan ibadah, termasuk masjid. Di mana, dasar pelaksanaan Penyehatan
Lingkungan Masjid adalah Kep. Menkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan
Sarana dan Bangunan Umum.

Permasalahan
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi
kegiatan yang berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat
hubungannya dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit sehingga
kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat dicegah. Sanitasi
tempat-tempat umum merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup
mendesak. Tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam
masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat
Perencanaan & intervensi
Tenaga kesehatan mengunjungi Masjid di Suli, kemudian meneliti, mencatat, menilai sesuai
kriteria yang ada dan kemudian memberikan masukan agar tercipta masjid yang memenuhi
syarat kesehatan.
Pelaksanaan
Tenaga kesehatan menilai Masjid Al Mathhar berdasarkan daftar tilik inspeksi sanitasi masjid,
kemudian memberikan penilaian baik, cukup atau kurang (nilai disesuaikan pada setiap indikator
di daftar inspeksi). Nilai dari setiap indikator kemudian dijumlahkan sehingga didapatkan nilai
total dengan kriteria: baik (nilai 700-1000), cukup (nilai 500-699), dan kurang ( nilai 5-
499).
Monitoring dan evaluasi
Masjid di Suli ini termasuk ke dalam kriteria tempat umum yang baik, namun belum dapat
mencapai kriteria masjid atau tempat umum yang sehat.
Masih terdapat beberapa indikator yang belum dimiliki oleh Masjid di Suli, diantaranya tempat
pembuangan sampah, fasilitas PPPK, dan upaya pemeriksaan kesehatan bagi pengurus masjid.
Jumlah tempat sampah yang tersedia di kawasan masjid masih terbatas dan sampah yang
terkumpul hanya dibuang di kebun belakang Masjid tanpa dibuatkan lubang tempat pembuangan
sampah, sehingga sampah-sampah cukup berserakan.
Diharapkan nantinya, para pengurus takmir Masjid bekerja sama dengan warga sekitar dan
perangkat desa, dapat semakin meningkatkan upaya perawatan sarana dan prasarana masjid,
serta dapat melengkapi beberapa indikator yang belum terpenuhi tersebut sehingga dapat
terwujud tempat peribadatan yang sehat dan tidak mencemari lingkungan. Selain itu diharapkan
warga sekitar yang ikut memanfaatkan fasilitas masjid untuk MCK sehari-hari, dapat membantu
menjaga kebersihan lingkungan masjid.

F3.
1. PENYULUHAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD), KEHAMILAN RISIKO TINGGI DAN UPAYA
PENCEGAHAN KOMPLIKASI

Latar belakang

Derajat kesehatan masyarakat yang baik ditandai dengan rendahnya Angka Kematian
ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dan peningkatan status gizi masyarakat. Saat ini
kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu prioritas dari program kesehatan nasional.
Diharapkan nantinya terdapat penurunan AKI dan AKB sesuai dengan target nasional MDGs
2015.
Pemahaman dan pengetahuan yang baik mengenai kehamilan risiko tinggi dan IMD
sangat diperlukan bagi wanita usia subur mengingat pengetahuan yang baik akan mengarahkan
pada tindakan dan kebiasaan-kebiasaan baik yang secara tidak langsung dapat menurunkan AKI
dan AKB. Masyarakat harus memahami pentingnya merencanakan kehamilan dan persalinan
agar ibu selamat dan bayi lahir sehat. Selain itu perlu ditumbuhkan motivasi untuk
melaksanakan berbagai cara untuk merencanakan kehamilan tanpa komplikasi. Terkait dengan
IMD dan ASI Eksklusif, penting bagi masyarakat untuk memahami apa manfaat dari IMD dan
memahami cara serta termotivasi melaksanakan IMD dan ASI Eksklusif untuk bayinya.

Permasalahan

Permasalahan yang ditemukan di masyarakat yaitu masih kurangnya tingkat pengetahuan


masyarakat mengenai manfaat dan petingnya IMD. Selain itu juga masih kurang pemahaman
mengenai kehamilan risiko tinggi dan bagaimana melakukan perencanaan persalinan yang baik
sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi kehamilan dan komplikasi persalinan.
Pemberian penyuluhan IMD dan kehamilan risiko tinggi perlu dilakukan secara rutin dan berkala
agar menjadi edukasi yang baik bagi masyarakat khususnya wanita usia subur dan juga ibu
hamil.
Perencanaan & intervensi
Penyampaian informasi kepada sasaran yang tepat dan dengan metode yang baik dapat
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Penyuluhan pada
masyarakat luas merupakan salah satu metode yang sering digunakan. Penyuluhan kali ini
dilakukan pada sasaran seluruh ibu hamil dan ibu dengan balita di daerah Singodutan.
Kerjasama perlu dilakukan dengan ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), ibu-ibu
kader Desa Singodutan dan pengurus Desa Singodutan sehingga tercipta kerjasama yang sinergis
antar sektoral.
Media yang diberikan berupa slide berisi informasi penting dan juga pemutaran video
mengenai IMD sehingga dapat menarik perhatian para peserta dan informasi dapat
tersampaikan dengan lebih baik. Materi IMD yang diberikan pada penyuluhan kali ini antara lain
mengenai :
1. Apa yang dimaksud dengan IMD?
2. Bagaimana cara melaksanakan IMD?
3. Apa manfaat IMD bagi bayi?
4. Apa manfaat IMD bagi ibu?
1. Sedangkan materi mengenai kehamilan risiko tinggi dan upaya pencegahan
komplikasi antara lai mengenai : Siapkan perencanaan persalinan sejak awal
kehamilan dibantu oleh kader PKK dan Dasawisma.
2. Lakukan minimal empat kali kunjungan pemeriksaan ke bidan selama masa
kehamilan
3. Perhatikan gizi dan kesehatan selama kehamilan
4. Ikuti kelas ibu hamil
5. Pahami cara dan manfaat IMD danASI eksklusif
6. Jaga kebersihan pribadi dan lingkungan
7. Kenali tanda-tanda persalinan
8. Kenali tanda-tanda bahaya kehamilan dan persalinan
9. Rencanakan KB yang akan digunakan setelah persalinan
10. Dapatkan buku KIA

Pelaksanaan
Penyuluhan mengenai IMD dan Kehamilan risiko tinggi dan upaya pencegahan
komplikasi telah berjalan lancar pada :
Hari/ Tanggal : Jumat, 28 Agustus 2019
Waktu : 10.00 WIB
Tempat : suli
Kegiatan : Penyuluhan IMD, Kehamilan Risiko Tinggi dan Upaya Pencegahan
Komplikasi

Monitoring dan evaluasi


Kegiatan penyuluhan berjalan dengan lancar dan tampak antusiasme dari peserta
penyuluhan. Penyuluhan dilakukan oleh dua pemateri yaitu dokter internship dan juga bidan
dari bagian KIA Puskesmas Selogiri. Peserta tampak antusias terutama ketika pemutaran video
mengenai IMD. Dalam video itu diceritakan bagaimana proses IMD yang benar dan apa saja
manfaat IMD baik bagi ibu dan bayinya. Media yang lebih atraktif seperti video atau pemutaran
film dapat meberikan informasi yang lebih mudah ditangkap oleh peserta.
Dalam penyuluhan kali ini masih ditemukan beberapa kekurangan, antara lain :
1. Penyuluhan dilakukan pada hari jum’at sehingga waktu penyuluhan relatif lebih
pendek.
2. Suasana penyuluhan kurang kondusif di separuh akhir penyuluhan karena banyak
balita yang menangis.
3. Akan lebih baik apabila peserta dibekali leaflet yang dapat dibawa pulang sehingga
info mengenai materi penyuluhan dapat lebih dipahami dan dapat menjadi media
penyampaian informasi pada kerabat peserta di lingkungan tempat tinggalnya.

2. Pemeriksaan Dini Kanker Payudara


Latar belakang
Kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua akibat kanker pada wanita setelah kanker mulut
rahim dan merupakan kanker yang paling banyak terjadi pada wanita (Kemenkes, 2010). Tingginya
angka kematian akibat kanker payudara dikarenakan para penderita datang ke pelayanan kesehatan
sudah dalam stadium lanjut atau sudah sulit disembuhkan, padahal pemeriksaan secara dini terhadap
kemungkinan adanya gejala kanker payudara dapat dilakukan sendiri dan tanpa biaya (Rasjidi, 2009).
Kanker payudara yang termasuk penyakit tidak menular, saat ini menjadi masalah kesehatan utama baik
di dunia maupun di Indonesia. Menurut WHO (2012) kejadian kanker payudara sebanyak 1.677.000
kasus. Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak di derita oleh kaum wanita dengan
jumlah 883.000 kasus. Di negara berkembang dan terdapat 794.000 kasus. Kanker payudara merupakan
penyebab kematian pada wanita di negara berkembang sebanyak 324.000 kasus. Insidennya semakin
tinggi diseluruh dunia (Houghton, 2012).
Pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) dilakukan untuk mendeteksi atau mengindentifikasi secara dini
kemungkinan adanya kanker payudara. Pemeriksaan sadari dapat dimulai sejak seorang wanita sudah
masuk pada masa pubertas. Hal ini perlu dilakukan agar dapat mengetahui kelainan yang terjadi pada
payudara. Dengan pemeriksaan payudara sedini mungkin maka penanganan kanker dapat ditangani
dengan tepat sehingga meningkatkan umur harapan hidup. tindakan ini sangat penting karena hampir
85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri
Untuk mendeteksi adanya kanker payudara dapat dilakukan dengan SADARI (Pemeriksaan Payudara
Sendiri). Tindakan ini sangat penting karena hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita
sendiri. Pada wanita normal, American Cancer Society menganjurkan wanita berusia diatas 20 tahun
untuk melakukan SADARI setiap satu bulan, usia 35-40 tahun melakukan mamografi, diatas 40 tahun
melakukan check up pada dokter ahli,
lebih dari 50 tahun check up rutin dan mamografi setiap tahun, dan wanita yang beresiko tinggi
pemeriksaan dokter lebih sering dan rutin. Tujuan dari program deteksi dini kanker payudara yaitu
untuk menurunkan angka kematian pada penderita, karena kanker yang diketemukan pada stadium
awal tentu memberikan harapan hidup lebih lama daripada apabila diketemukan pada stadium lanjut
Permasalahan
Masih banyak ibu-ibu yang masih belum memahami cara pemeriksaan dini kanker payudara dan masih
blm bisa memahami apa itu kanker payudara
Perencanaan & intervensi
Melakukan intervensi secara pasif dan aktif secara bersamaan yakni dengan melakukan edukasi
kesehatan dan pelatihan ketrampilan kader – kader serta menggalakkan pemeriksaan sadari
Pelaksanaan
Melakukan penyuluhan tentang penyakit kanker payudara dan membedakannya dengan mastitis pada
ibu menyusui serta bagaimana cara melakukan pemeriksaan sadari dirumah dan pemeriksaan-
pemeriksaan khusus apa saja yang bisa dilakukan jika dicurigai suatu kanker
Monitoring dan evaluasi
Secara Keseluruhan kegiatan penyuluhan ini berjalan cukup lancer. Banyak ibu-ibu yang merespon
dengan bertanya-tanya seputar pemeriksaan sadari dan para kader tidak kalah ingin tau agar bisa
mengajari atau member informasi kepada ibu-ibu yang tidak ikut dalam penyuluhan hari ini.
Latar belakang

Permasalahan
Perencanaan & intervensi
Pelaksanaan
Monitoring dan evaluasi

3. Penyuluhan tanda-tanda persalinan, masa nifas, dan pemilihan alat kontrasespsi


Latar belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Tengah masih tergolong tinggi. Kejadian ini
terjadi karena ibu mengalami kegawatdaruratan di masa melahirkan hingga nifas. Beberapa
ibu belum memahami tanda-tanda bahaya saat hamil dan persalinan. Selepas melahirkan pun
beberapa ibu kurang paham cara merawat diri sehingga dapat menimbulkan risiko tingginya
angka kematian ibu.
Selain itu pemilihan kontrasepsi setelah melahirkan juga menjadi problem tersendiri.
Cukup banyak terjadi masalah kegagalan kontrasepsi dan kehamilan yang tidak diinginkan
pada pasangan usia subur yang tidak memakai kontasepsi walaupun sebetulnya belum ingin
memiliki anak lagi. Kegagalan kontrasepsi ini sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat
memiliki pengetahuan yang cukup tentang jenis kontrasepsi yang tersedia beserta
kekurangan dan kelebihannya. Sehingga masyarakat dapat memilih alat kontasepsi yang
sesuai dengan kebutuhannya.
Untuk itu perlu dilakukan konseling tentang tanda-tanda persalinan, masa nifas, dan pemilihian
kontrasepsi pada masyarakat umum dan wanita usia subur, khususnya agar AKI dapat
diturunkan dan kegagalan kontrasepsi dapat dicegah

Permasalahan
Masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda persalinan, perawatan
masa nifas, dan jenis kontrasepsi beserta kelebihan dan kekurangannya.

Perencanaan & intervensi


Penyuluhan dilaksanakan pada ibu hamil dan menghadiri kelas ibu hamil di Desa
Cabean pada:
Tanggal : 14 Maret 2019
Waktu : 08.00 – selesai
Tempat : Suli

Pelaksanaan
Proses pelaksanaan penyuluhan berjalan dengan lancar pada:
Tempat : 14 Maret 2019
Waktu : 08.00 – selesai
Tempat : Suli
Pada pelaksanaan ada beberapa ibu hamil yang belum mengetahui tanda-tanda
persalinan, termasuk perawatan saat nifas, dan alternatif memilih kontrasepsi setelah masa
nifas.
Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan bertanya kepada peserta tentang apa yang
dijelaskan sebelumnya.