Anda di halaman 1dari 4

SOAL MANAJEMEN AGRIBISNIS

Dr. Ir. Palmarudi Mappigau, SU

Soal

1. Jelaskan perbedaan antara konsep agribisnis tradisional (Biere) dengan agribisnis modern
(Davis-Golberg)?
2. Mengapa konsep manajemen diperlukan dalam agribisnis as the collective business
activities that are performed from farm to fork ? Jelaskan
3. Apa permasalahan utama yang dihadapi untuk pengembangan agribisnis di Indonesia, dan
berikan solusinya berdasarkan pengalaman pengembangan agribisnis dari negara lain.
Jelaskan
4. Dari International Food and Agribusiness Management Review Volume 12, Issue 4, 2009 Toward
Better Defining the Field of Agribusiness Management by Desmond Ng and John W. Siebert serta
Agribusiness systems analysis: origin, evolution and research perspectives by Decio Zylbersztajn. Apa
saran mereka untuk future research pada manajemen agribisnis? Jelaskan

Jawab :
1. Secara tradisional, oleh Biere (1988) agribisnis diartikan sebagai aktivitasaktivitas
di luar pintu gerbang usahatani (beyond the farm gate, offarm) yang meliputi
kegiatan industri dan perdagangan sarana produksi usahatani, kegiatan industri
yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan beserta
perdagangannya, dan kegiatan yang menyediakan jasa yang dibutuhkan seperti
misalnya perbankan, angkutan, asuransi atau penyimpanan.
Sedangkan secara modern Davis dan Goldberg (1957) mendefinisikan agribisnis sebagai
berikut :

Agribusiness is the sum total of all operations involved in the manufacture and
distribution of-farm supplies, production activities on the farm, and storage, processing
and distribution of-farm, commodities and items from them.

Definisi di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud agribisnis mencakup keseluruhan


kegiatan mulai dari memproduksi dan distribusi input sampai dengan distribusi hasil
pertanian. Perhatikan bahwa on-farm, atau usahatani, sebagai kegiatan yang sering
disebut secara umum sebagai pertanian, hanya merupakan salah satu bagian dari
agribisnis. Jika halnya demikian, agribisnis harus melihat pertanian secara menyeluruh,
bukan hanya melihat kegiatan menghasilkan produk-produk pertanian di tingkat
usahatani.
Perlu dipahami dengan baik bahwa pengertian “sum total of all operations” tidak berarti
hanya kumpulan kegiatan tanpa makna. Jika diperhatikan dengan saksama, keseluruhan
proses yang dimaksud adalah dimulai dari pengadaan dan distribusi input, penggunaan
input dalam kegiatan proses produksi di tingkat usahatani atau on-farm, pengolahan
hasilhasil pertanian, dan diakhiri dengan distribusi produk. Keseluruhan aktivitas
tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kegiatan yang satu dengan kegiatan
yang lain dalam satu proses yang utuh. Keseluruhan proses atau aktivitas tersebut
mengikuti suatu aturan yang disebut sistem. Basis dari sistem tersebut adalah adanya
produk pertanian atau komoditas pertanian. Sistem agribisnis mengacu kepada sistem
komoditas pertanian.

Antara definisi yang diajukan oleh Davis dan Goldberg dengan pandangan tradisional
mengenai sektor agribisnis terdapat perbedaan yang sangat penting. Perbedaan
yang pertama adalah definisi Davis dan Goldberg secara eksplisit memasukkan
subsektor produksi pertanian menjadi bagian dari sektor agribisnis. Perbedaan yang
kedua, dalam definisi Davis dan Goldberg memasukkan pula konsumen sebagai
bagian dari sektor agribisnis. Salah satu alasan yang penting untuk memasukkan
konsumen dalam sektor agribisnis adalah pengakuan tentang adanya permintaan
konsumen yang selalu meningkat terhadap produkproduk baru dan dampak yang
ditimbulkannya pada produksi, pengolahan dan distribusi produk. Oleh karena itu,
keberhasilan usaha dalam sektor agribisnis membutuhkan pemahaman tentang
kebutuhan, kegunaan dan preferensi konsumen baik di pasar domestik maupun di pasar
internasional.

2. Tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam konsep manajemen :


a. Tujuan yang hendak dicapai.
b. Orang-orang yang dibutuhkan dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.
c. Bimbingan dan pengawasan terhadap kegiatan yang berjalan.

Secara pelaksanaan, terdapat lima proses yang harus diterapkan :


a. Perencanaan.
b. Pengorganisasian.
c. Pengarahan.
d. Pengkoordinasian.
e. Pengawasan.

Kelima fungsi diatas merupakan kunci sebuah keberhasilan yang ingin diwujudkan.
Sehingga begitu pentingnya sebuah manajemen, khususnya manajemen dalam
agribisnis, jika satu fungsi saja tidak berjalan, maka keberhasilan yang diharapkan bisa
kandas ditengah jalan khususnya pada agribisnis sebagai kegiatan usaha kolektif yang
dilakukan dari peternakan ke garpu (agribisnis as the collective business activities that
are performed from farm to fork).

3. Kendala pengembangan agribisnis di Indonesia antara lain :


 Secara rata-rata kurang modal
 Mudah rusaknya komoditi pertanian
 Fluktuasi harga komoditi pertanian tinggi
 Di pengaruhi oleh Iklim/ cuaca
 Tingkat pendidikan relative rendah
 Kebijakan pertanian berubah-ubah
Adapun solusi antara lain :
1. Pemerintah membantu dalam hal bantuan modal ke petani
2. Di perlukan adopsi teknologi agar komoditi pertanian tidak mudah rusak
3. Di perlukan adanya standarisasi harga agar harga tetap stabil dan cenderung
meningkat
4. Mengatur jadwal penanaman agar terhindar dari cuaca buruk
5. Di berikan pelatihan-pelatihan agar meningkatkan daya saing petani
6. Sebaiknya pemerintah konsisten dengan kebijakan yang dikeluarkannya.

4. Dari International Food and Agribusiness Management Review Volume 12, Issue 4, 2009 Toward
Better Defining the Field of Agribusiness Management by Desmond Ng and John W. Siebert
mereka berpendapat Karena bidang agribisnis beroperasi sebagian besar berkecimpung
ekonomi pertanian, maka penelitian ini berpendapat bahwa pemeriksaan atas
pertanyaan-pertanyaan penelitian dan teori manajemen yang terkait, dapat memberikan
titik referensi untuk membantu membentuk dialog tentang batas-batas penelitian
manajemen agribisnis. Secara khusus, kemajuan manajemen agribisnis menghadapi
tantangan mendasar yang tidak hanya membutuhkan upaya “lintas disiplin” ke dalam
manajemen (misalnya, Akridge dan Gunderson, 2005; Boehlje, 2005; Westgren dan
Cook, 1986),

Tetapi upaya tersebut juga membutuhkan perbedaan yang jelas dari penjelasan ekonomi
agribisnis. Perbedaan semacam itu penting untuk mengembangkan penjelasan
manajemen perusahaan agribisnis yang tidak dapat dijelaskan oleh prinsip ekonomi saja.
Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji saya tentang
pertanyaan-pertanyaan kunci dari strategi dan untuk menguraikan teori-teori terkait
yang digunakan dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dalam menangani
beberapa hal.

Pertanyaan kunci dari strategi, empat bidang strategi diperiksa yang melibatkan Coase
(1937) pengobatan pada "sifat perusahaan," Simon (1957, 1976) konsep rasionalitas
terbatas, Penrose (1959) teori pertumbuhan perusahaan, dan kemudian Barney's (1986,
1991) Resource-Based View. Relevansi dan implikasi dari masing-masing dari berbagai
penjelasan ini untuk studi tentang perusahaan agribisnis. Kami menyimpulkan dengan
kontribusi yang kecil sehingga terjadi implikasi dari penelitian ini.

Anda mungkin juga menyukai