Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MANDIRI

MAKALAH TERKAIT DENGAN PROGRAM KIE


DALAM PELAYANAN KESPRO DAN KB
BUATLAH KASUS TENTANG ISSUE KESPRO
DAN KB TERKINI

DISUSUN OLEH:
Nama :Risma Hutajulu

Nim :1701031570
Kelas :A Eksekutif

Dosen : Novi Ramini Harahap ,SST,M.Keb

Mata Kuliah : Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga


Berencana

PROGRAM STUDI D4 KEBIDANAN

FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN UMUM

INSTITUT KESEHATAN HELVETIA


MEDAN
2018
MAKALAH

KB DI INDONESIA DAN KIE DALAM PELAYANAN KB

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar,
serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai “KB Di
Indonesia Dan KIE Dalam Pelayanan KB”.

Makalah ini telah dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rentang tahun 1800-1900 jumlah penduduk Indonesia bertambah tiga kali lipatnya.
Sedangkan 1900 -2000 terjadi pertambahan penduduk lima kali lipat dari 40,2 juta orang
menjadi 205,8 juta orang. Selama rentang 1900-2000, progran Keluarga Berencana (KB)
berhasil mencegah kelahiran 80 juta orang. Tanpa program KB jumlah penduduk hingga
tahun 2000 diprediksi 285 juta orang.

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling
dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan dan
perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami
oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya
karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu
mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan
individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Depkes RI,
1998).

1.2 Rumusan Masalah

Apa yang pengertian dari keluarga berencana?

Apa saja macam-macam keluarga berencana ?

Bagaimana hukum negara terhadap keluarga berencana?

Apa pengertian KIE?

Bagaimana Tujuan KIE dalam pelayanan KB?

Apa saja Jenis kegiatan KIE dalam pelayanan KB?

Bagaimana Prinsip langkah langkah KIE dalam pelayanan KB?


1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Kesehatan Reproduksi sekaligus
menambah pengetahuan tentang KB di Indonesia Dan KIE Dalam Pelayanan KB.

BAB II

PEMBAHASAN

KIE

1. Pengertian KIE

Komunikasi adalah penyampaian pesan secara langsung/tidak langsung melalui saluran


komunikasi kepada penerima pesan untuk mendapatkan efek.

Komunikasi kesehatan adalah usaha sistematis untuk mempengaruhi perilaku positif


dimasyarakat, dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi pribadi maupun
komunikasi massa.

Informasi adalah keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui masyarakat
(pesan yang disampaikan)

Edukasi adalah proses perubahan perilaku kearah yang positif. Pendidikan kesehatan
merupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena merupakan salah satu
peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan.

TUJUAN KIE

Tujuan dilaksanakannya Program KIE, yaitu :

v Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek KB sehingga tercapai penambahan peserta


baru

v Membina kelestarian peserta KB

v Meletakkan dasar bagi mekanisme sosio-kultural yang dapat menjamin berlangsungnya


proses penerimaan

v Mendorong terjadinya proses perubahan perilaku ke arah yang positif, peningkatan


pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat (klien) secara wajar sehingga masyarakat
melaksanakannya secara mantap sebagai perilaku yang sehat dan bertanggung jawab
3. JENIS-JENIS KEGIATAN DALAM KIE

a. KIE Individu : Suatu proses KIE timbul secara langsung antara petugas KIE dengan
individu sasaran program KB.

b. KIE Kelompok : Suatu proses KIE timbul secara langsung antara petugas KIE dengan
kelompok (2-15 orang)

c. KIE Massa : Suatu proses KIE tentang program KB yang dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat dalam jumlah besar.

4. PRINSIP KIE : Prinsip yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan KIE adalah:

a. Memperlakukan klien dengan sopan, baik dan ramah


b. Memahami, menghargai dan menerima keadaan ibu sebagaimana adanya
c. Memberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
d. Menggunakan alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari
e. Menyesuaikan isi penyuluhan dengan keadaaan dan resiko yang dimiliki ibu

5. KONSELING KELUARGA BERENCANA

a. DEFINISI

proses yang berjalan dan menyatu dengan semua aspek pelayanan KB dan bukan hanya
informasi yang diberikan dan dibicarakan pada satu kali kesempatan yakni pada saat
pemberian pelayanan

b. TUJUAN

1) Meningkatkan penerimaan

Informasi yang benar, diskusi bebas dengan cara mendengarkan, berbicara dan komunikasi
non-verbal meningkatkan penerimaan informasi mengenai KB oleh klien

2) Menjamin pilihan yg cocok

Menjamin petugas dank lien memilih cara terbaik yang sesuai dengan keadaan kesehatan dan
kondisi klien

3) Menjamin penggunaan yg efektif


Konseling efektif diperlukan agar klien mengetahui bagaimana menggunakan KB dengan
benar dan mengatasi informasi yang keliru tentang cara tersebut

4) Menjamin kelangsungan yang lebih lama

Kelangsungan pemakaian cara KB akan lebih baik bila klien ikut memilih cara tersebut,
mengetahui cara kerjanya dan mengatasi efeksampingya.

c. JENIS KONSELING KB

Komponen penting dalam pelayanan KB dibagi 3 tahapan yaitu :

1) Konseling Awal

– Bertujuan menentukan metode apa yg diambil

– Bila dilakukan dengan objektif langkah ini akan membentu klien untuk memilih jenis KB
yang cocok untuknya

– Yang perlu diperhatikan dalam langkah ini :

• Menanyakan langkah yg disukai klien

• Apa yg diketahui tentang cara kerjanya, kelebihan dan kekurangannya

2) Konseling Khusus

– Memberi kesempatan k/ untuk bertanya ttg cara KB dan membicarakan pengalamannya

– Mendapatkan informasi lebih rinci tentang KB yg diinginkannya

– Mendapatkan bantuan untuk memilih metoda KB yang cocok dan mendapatkan


penerangan lebih jauh tentang penggunaannya

3) Konseling Tindak Lanjut

– Konseling lebih bervariasi dari konseling awal

– Pemberi pelayanan harus dapat membedakan masalah yg serius yang memerlukan


rujukan dan masalah yang ringan yang dapat diatasi di tempat
d. LANGKAH KONSELING

1) GATHER

G : Greet : Berikan salam, kenalkan diri dan buka komunikasi

A : Ask: Tanya keluhan/kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan/ kebutuhan sesuai
dengan kondisi yang dihadapi?

T : Tell :Beritahukan persoalan pokok yg dihadapi pasien dari hasil tukar informasi dan
carikan upaya penyelesaiannya

H : Help : Bantu klien memahami & menyelesaikan masalahnya

E : Explai : Jelaskan cara terpilih telah dianjurkan dan hasil yang diharapkan mungkin dapat
segera terlihat/ diobservasi)

R : Refer/Return visi : Rujuk bila fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang
sesuai. Buat jadwal kunjungan Ulang).

2) Langkah Konseling KB SATU TUJU

Langka SATU TUJU ini tidak perlu dilakukan berurutan karena menyesuaikan dengan
kebutuhan klien.

SA : Sapa dan salam

v Sapa klien secara terbuka dan sopan

v Beri perhatian sepenuhnya, jaga privasi pasien

v Bangun percaya diri pasien

v Tanyakan apa yang perlu dibantu dan jelaskan pelayanan apa yang dapat diperolehnya.

T : Tanya

v Tanyakan informasi tentang dirinya

· Bantu klien pengalaman tentang KB dan kesehatan reproduksi

· Tanyakan kontrasepsi yang ingin digunakan

U : Uraiakan

· Uraikan pada klien mengenai pilihannya

· Bantu klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingini serta jelaskan jenis yang lain
TU : Bantu

· Bantu klien berfikir apa yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya

· Tanyakan apakah pasangan mendukung pilihannya

J : Jelaskan

· Jelaskan secara lengkap bagaiman menggunakan kontrasepsi pilihannya setelah klien


memilih jenis kontrasepsinya.

· Jelaskan bagaimana penggunaannya

· Jelaskan manfaat ganda dari kontrasepsi

U : Kunjungan Ulang

· Perlu dilakukan kunjungan ulang untuk dilakukan pemeriksaan atau permintaan


kontrasepsi jika dibutuhkan.

e. Tahapan konseling dalam pelayanan KB

Tindak lanjut yan. Kontrasepsi  KIP/K  Rujukan  Bimbingan • Tahapan Konseling


dalam pelayanan KB dapat dirinci dalam tahapan sebagai berikut : KIE Motivasi

1) KEGIATAN KIE

a) Sumber informasi pertama tentang jenis alat/ metode KB dari petugas lapangan KB

b) Pesan yang disampaikan :

• Pengertian dan manfaat KB bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga

• Proses terjadinya kehamilan pada wanita (yang kaitannya dengan cara kerja dan metode
kontrasepsi)

• Jenis alat/metode kontrasepsi, cara pemakaian, cara kerjanya serta lama pemakaian

2) Kegiatan Bimbingan

a) Tindak lanjut dari kegiatan KIE dengan menjaring calon peserta KB

b) Tugas penjaringan : memberikan informasi tentang jenis kontrasepsi lebih objektif,


benar dan jujur sekaligus meneliti apakah calon peserta memenuhi syarat
rujuk ke KIP/Kc) Bila iya

3) Kegiatan Rujukan

a) Rujukan calon peserta KB, utk mendapatkan pelayanan KB

b) Rujukan peserta KB, untuk menindaklanjuti komplikasi

4) Kegiatan KIPK/K

v Tahapan dalam KIP/K

a) Menjajaki alasan pemilihan alat

b) Menjajaki klien sudah mengetahui/ paham ttg alat kontrasepsi tsb

c) Menjajaki klien tahu/tdk alat kontrasepsi lain

d) Bila belum, berikan informasi

e) Beri klien kesempatan untuk mempertimbangkan pilihannya kembali

f) Bantu klien mengambil keputusan

g) Beri klien informasi, apapun pilihannya, klien akan diperiksa kesehatannya

h) Hasil pembicaraan akan dicatat pada lembar konseling

5) Kegiatan Pelayanan Kontrasepsi

a) Pemeriksaan kesehatan : anamnesis dan Px. Fisik

pelayanan kontrasepsi dapat diberikanb) Bila tidak ada kontra indikasi

c) Untuk kontrasepsi jangka panjang perlu inform consent

6) Kegiatan Tindak Lanjut

a) Petugas melakukan pemantauan keadaan peserta KB dan diserahkan kembali kepada


PLKB
f. INFORMED CONSENT

1) Persetujuan yang diberikan oleh klien atau keluarga atas informasi dan penjelasan
mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien

2) Setiap tindakan medis yang beresiko harus persetujuan tertulisi ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan (klien) dlm keadaan sadar dan sehat

g. Prinsip langkah langkah KIE dalam pelayanan KB

Prinsip yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan KIE adalah :

1. Memperlakukan klien dengan sopan, baik dan ramah.

2. Memahami, menghargai dan menerima keadaan ibu ( status pendidikan, social ekonomi
dan emosi) sebagaimana adanya.

3. Memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

4. Menggunakan alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari kehidupan sehari –
hari.

5. Menyesuaikan isi penyuluhan dengan keadaan dan risiko yang dimiliki ibu.

6. Pemantapan kelestarian ber_KB dengan metode kontrasepsi efektif terpilih.

7. Mengarahkan gerakan KB nasional kepada gerakan yang menuntut partisipasi dari


seluruh masyarakat.

8. Menumbuhkan lingkungan yang mendukung terhadap peningkatan penggunaan


kontrasepsi.

9. Meningkatkan kualitas pelayanan KIE melalui analisa sasaran yang semakin tajam
,kesepakatan pengelola program, perkembangan isi pesan yang berkaitan dengan reproduksi
sehat.

© Langkah-Langkah yang diLakukan sbb:

· Menentukan sasaran

· Srategi
· Isi pesan

· Indikator Keberhasilan

· Waktu

· Tempat

Beberapa tahap dalam proses penerimaan atau penolakan seseorang terhadap keluarga
berencana dalam kegiatan penerangan dan motivasi Keluarga Berencana adalah sbb:

1. Tahu Secara Sepintas (awarenest)

Individu mengetahui adanya KB ,tetapi ia belum mempunyai informasi yang mendalam


tentang sifat dan kegunaan gagasan tersebut.Ia mengetahui adanya KB dari berbagai sumber
surat kabar ,radio ,TV dan lain-lain.

2. Tertarik (interest )

Individu mulai menaruh perhatian terhadap persoalan KB ,dalam taraf ini individu ingin
mengetahui lebih banyak tentang KB dengan sungguh-sungguh keterangan-keterangan atau
penjelasan-penjelasan yang diperolehnya dari berbagai sumber.

3. Penilaian (Evaluation)

Setelah individu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang KB ,ia akan menilai untung
ruginya KB bagi dirinya dan keluarganya.

4. Percobaan (Trial)

Dalam tahap ini individu mencoba menjalankan metoda atau cara KB yang diinginkannya.

Hasil dari percobaan ini ada dua kemungkinan:

1. Menerima dan melaksanakan KB (adopsi)

2. Menolak Keluarga Berencana (KB)

© Adopsi (Menerima atau Melaksanakan sesuatu yang baru)

a. Terus Adopsi
b. Kalau individu terus merasa puas ,baik dari segi alat atau obat pencegah kehamilan
maupun dari segi pelayanan petugas KB ,ia akan terus menerima dan melaksanakan KB.

c. Kemudian Menolak

d. Kalau individu merasa sudah menerima dan melaksanakan KB kemudian merasa tidak
puas ,baik karena obat /akibat pencegah kahamilan yang dipakai maupun akibat pelayanan
petugas KB yang mengecewakannya,maka ia menolak yang berarti berhenti menerima dan
melaksanakan KB.Keadaan ini bisa kita kenal sebagai” drop out”.

Apabila dalam tahap tahap percobaan (trial) individu merasa tidak puas atau tidak senang ,ia
akan menolak KB.Dalam hal ini petugas KB hendaknya dapat memberikan bimbingan dan
pembinaan terus-menerus ,serta tidak merasa kecewa karena individu seperti ini masih
mempunyai 2 kemungkinan yaitu sbb:

1) Terus Menolak

Kalau individu tersebut merasa tidak puas dan tidak senang maka ia akan menolak

2) Kemungkinan Menolak

Kalau kemudian ternyata ia merasa puas dan senang ,sesudah mendapat bantuan petugas
KB,maka ia akan menerima

A. Pengertian KB

· Keluarga Berencana adalah upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam


mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

· Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk


menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

· WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:


Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindarikelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantarakehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

B. Tujuan Program KB

Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan


sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh
suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain
meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan
kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan


ibu, anak,keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup
rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang
berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta
penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:

1. Keluarga dengan anak ideal

2. Keluarga sehat

3. Keluarga berpendidikan

4. Keluarga sejahtera

5. Keluarga berketahanan Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya Penduduk


tumbuh seimbang (PTS)

C. Sasaran Program KB

1. Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:

2. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per
tahun.

3. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.

4. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin
menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need)
menjadi 6%.

5. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.

6. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.

7. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.

8. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.

9. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif.

10. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam


penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.
D. Ruang Lingkup KB

Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan
dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas;
Keserasian kebijakankependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan
kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

E. Strategi Program KB

Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:

· Strategi dasar

· Strategi pendekatan

Strategi Dasar

· Meneguhkan kembali program di daerah

· Menjamin kesinambungan program

· Strategi operasional

· Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional

· Peningkatan kualitas dan prioritas program

· Penggalangan dan pemantapan komitmen

· Dukungan regulasi dan kebijakan

· Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

Strategi pendekatan

1. Pendekatan kemasyarakatan (community approach).

Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat (kepedulian) yang
dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.

2. Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach)


Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan keluarga sejahtera
sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai kekuatan yang sinergik dalam mencapai
tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar.

3. Pendekatan integrative (integrative approach)

Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong dan menggerakkan


potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga dapat menguntungkan dan memberi
manfaat pada semua pihak.

4. Pendekatan kualitas (quality approach)

Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan (provider) dan penerima
pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi.

5. Pendekatan kemandirian (self rellant approach).

Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat yang telah mampu
untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab dalam pelaksanaan
program KB nasional.

6. Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach)

Strategi tiga dimensi program KB sebagai pendekatan program KB nasional, dimana program
tersebut atas dasar survey pasangan usia subur di Indonesia terhadap ajakan KIE yang terbagi
menjadi tiga kelompok, yaitu :

a. 15% PUS langsung merespon “ya” untuk ber-KB

b. 15-55% PUS merespon ragu-ragu“ untuk ber-KB

c. 30 % PUS merespon "tidak“ untuk ber-KB

v Strategi tiga dimensi dibagi dalam tiga tahap pengelolaan program KB sebagai berikut :

a. Tahap perluasan jangkauan

Pola tahap ini penggarapan program lebih difokuskan lebih kepada sasaran :

1) Coverage wilayah

Penggarapan wilayah adalah penggarapan program KB lebih diutamakan pada penggarapan


wilayah potensial, seperti wilayah Jawa, Bali dengan kondisi jumlah penduduk dan laju
pertumbuhan yang besar

2) Coverage khalayak
Mengarah kepada upaya menjadi akseptor KB sebanyak-banyaknya. Pada tahap ini
pendekatan pelayanan KB didasarkan pada pendekatan klinik

b. Tahap pelembagaan

Tahap ini untuk mengantisipasi keberhasilan pada tahap potensi yaitu tahap perluasan
jangkauan. Tahap coverage wilayah diperluas jangkauan propinsi luar Jawa Bali. Tahap ini
inkator kuantitatif kesertaan ber-KB pada kisaran 45-65 % dengan prioritas pelayanan
kontrasepsi dengan metode jangka panjang, dengan memanfaatkan momentum-momentum
besar

c. Tahap pembudayaan program KB

Pada tahap coverage wilayah diperluas jangkauan propinsi seluruh Indonesia. Sedangkan
tahap coverage khalayak diperluas jangkauan sisa PUS yang menolak, oleh sebab itu
pendekatan program KB dilengkapi dengan pendekatan Takesra dan Kukesra.

5. Pelayanan Keluarga Berencana

Adapun kegiatan / cara operasional pelayanan KB adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)

Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan dengan memberikan penerangan


konseling, advokasi, penerangan kelompok (penyuluhan) dan penerangan massa melalui
media cetak, elektronik. Dengan penerangan, motivasi diharapkan meningkat sehingga terjadi
peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam berKB, melalui
pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga sehingga tercapai Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS)

2. Pelayanan kontrasepsi dan pengayoman peserta KB

Dikembangkan program reproduksi keluarga sejahtera. Para wanita baik sebagai calon ibu
atau ibu, merupakan anggota keluarga yang paling rentan mempunyai potensi yang besar
untuk mendapatkan KIE dan pelayanan KB yang tepat dan benar dalam mempertahankan
fungsi reproduksi.

Reproduksi sehat sejahtera adalah suatu keadaan sehat baik fisk, mental
dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan
fungsi serta proses reproduksi. Bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan
serta dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup
spiritual dan material, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras
dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan lingkungan.Dalam mencapai sasaran
reproduksi sehat, dikembangkan 2 gerakan yaitu: pengembangan gerakan KB yang makin
mandiri dan gerakan keluarga sehat sejahtera dan gerakan keluarga sadar HIV/AIDS.
Pengayoman, melalui program ASKABI (Asuransi Keluarga Berencana Indonesia), tujuan
agar merasa aman dan terlindung apabila terjadi komplikasi dan kegagalan.

3. Peran serta masyarakat dan institusi pemerintah

PSM ditonjolkan (pendekatan masyarakat) serta kerjasama institusi pemerintah (Dinas


Kesehatan, BKKBN, Depag, RS, Puskesmas).

4. Pendidikan KB

Melalui jalur pendidikan (sekolah) dan pelatihan, baik petugas KB, bidan, dokter berupa
pelatihan konseling dan keterampilan.

6. Hak Konsumen dalam Menggunakan Keluarga Berencana

Hak-hak konsumen KB

1. Hak atas informasi

Hak untuk mengetahui segala manfaat dan keterbatasan pilihan metode perencanaan
keluarga.

2. Hak akses.

Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan tanpa membedakan jenis kelamin, agama dan
kepercayaan, suku, status sosial, status perkawinan dan lokasi.

3. Hak pilihan.

Hak untuk memutuskan secara bebas tanpa paksaan dalam memilih dan menerapkan
metode KB.

4. Hak keamanan

Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan yang aman dan efektif.

5. Hak privasi

Setiap konsumen KB berhak untuk mendapatkan privasi atau bebas dari gangguan atau
campur tangan orang lain dalam konseling dan pelayanan KB.

6. Hak kerahasiaan

Hak untuk mendapatkan jaminan bahwa informasi pribadi yang diberikan akan dirahasiakan.
7. Hak harkat

Yaitu hak untuk mendapatkan pelayanan secara manusiawi, penuh penghargaan dan
perhatian.

8. Hak kenyamanan

Setiap konsumen KB berhak untuk memperoleh kenyamanan dalam pelayanan.

9. Hak berpendapat

Hak untuk menyatakan pendapat secara bebas terhadap pelayanan yang ditawarkan.

10. Hak keberlangsungan

Yaitu hak untuk mendapatkan jaminan ketersediaan metode KB secara lengkap dan
pelayanan yang berkesinambungan selama diperlukan.

11. Hak ganti rugi

Hak untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi pelanggaran terhadap hak konsumen.

7. Metode Kontrasepsi di Indonesia

Macam Metode Kontrasepsi yang Ada Dalam Program KB Di Indonesia

1. Metode Kontrasepsi Sederhana

Metode kontrasepsi sederhana ini terdiri dari 2 yaitu metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
dan metode kontrasepsi dengan alat.

Metode kontrasepsi tanpa alat antara lain : Metode Amenorhoe Laktasi (MAL), Coitus
Interuptus, metode Kalender, Metode Lendir Serviks (MOB), Metode Suhu Basal Badan, dan
Simptotermal yaitu perpaduan antara suhu basal dan lendir servik.

Sedangkan metode kontrasepsi sederhana dengan alat yaitu kondom, diafragma, dan
spermisida.

2. Metode Kontrasepsi Hormonal

Metode kontrasepsi hormonal pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu kombinasi (mengandung
hormon progesteron dan estrogen sintetik) dan yang hanya berisi progesteron saja.

Kontrasepsi hormonal kombinasi terdapat pada pil dan suntikan/injeksi. Sedangkan


kontrasepsi hormon yang berisi progesteron terdapat pada pil, suntik dan implant.
3. Metode Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Metode kontrasepsi ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu AKDR yang mengandung
hormon (sintetik progesteron) dan yang tidak mengandung hormon.

4. Metode Kontrasepsi Mantap

Metode kontrasepsi mantap terdiri dari 2 macam yaitu Metode Operatif Wanita (MOW) dan
Metode Operatif Pria (MOP). MOW sering dikenal dengan tubektomi karena prinsip metode
ini adalah memotong atau mengikat saluran tuba/tuba falopii sehingga mencegah pertemuan
antara ovum dan sperma. Sedangkan MOP sering dikenal dengan Vasektomi yaitu memotong
atau mengikat saluran vas deferens sehingga cairan sperma tidak diejakulasikan.

5. Metode Kontrasepsi Darurat

Metode kontrasepsi yang dipakai dalam kondisi darurat ada 2 macam yaitu pil dan AKDR.

8. Cara Penyimpanan Alat Kontrasepsi

Jenis Kontrasepsi Kondisi Penyimpanan Masa


Kedaluwarsa

1. Pil Simpan di tempat kering, dan jauhkan 5 tahun


dari sinar matahari langsung

2. Kondom Simpan di tempat kering, yaitu suhu > 3-5 tahun


40°C dan jauhkan dari sinar matahari
langsung, bahan kimia, dan bahan yang
mudah rusak

3. AKDR Lindungi dari kelembabab, sinar 7 tahun


matahari langsung, suhu 15-30°C

4. Spermisida Simpan pada ruang bersuhu 15-30°C, 3-5 tahun


jauhkan dari temperatur tinggi

5. Implant Simpan di tempat kering, suhu > 30°C 5 tahun

6. Suntik KB Simpan pada suhu 15-30°C posisi vials 5 tahun


tegak lurus menghadap ke atas, jauhkan
dari sinar matahari langsung
9. Penapisan Calon Akseptor KB

Penapisan metode kontrasepsi hormonal (pil, suntik, implant)

No Pertanyaan Ya Tidak

1. Hari pertama haid terakhir 7 hari atau lebih

2. Menyusui dan kurang dari 6 minggu pasca salin

3. Perdarahan/perdarahan bercak antara haid setelah


senggama

4. Ikterus pada kulit atau sklera mata

5. Nyeri kepala hebat atau gangguan visual

6. Nyeri hebat pada betis, paha atau dada, atau tungkai


bengkak (oedem)

7. Tekanan darah di atas 160 mmHg (sistolik) atau 90


mmHg (diastolik)

8. Massa atau benjolan pada payudara

9. Sedang minum obat-obatan epilepsy

Penapisan metode kontrasepsi AKDR

No Pertanyaan Ya Tidak

1. Hari pertama haid terakhir 7 hari atau lebih

2. Klien (atau pasangan) mempunyai pasangan seks lain

3. Infeksi Menular Seksual (IMS)

4. Penyakit radang panggul atau kehamilan ektopik

5. Haid banyak (> 1-2 pembalut tiap 4 jam)


6. Haid lama (> 8 hari)

7. Dismenorhoe berat yang membutuhkan analgetika


dan/atau istirahat baring

8. Perdarahan/perdarahan bercak antara haid atau setelah


senggama

9. Gejala penyakit jantung valvular atau kongenital

K. Penapisan metode kontrasepsi mantap

a. Tubektomi

No. Keadaan Klien Fasilitas Rawat Fasilitas Rujukan


Jalan

1. Keadaan umum (anamnesi K U baik, tidak ada DM tidak terkontrol,


dan pemeriksaan fisik tanda penyakit riwayat gangguan
jantung, paru, ginjal pembekuan darah,
ada tanda penyakit
jantung, paru atau
ginjal

2. Keadaan emosi Tenang Cemas, takut

3. Tekanan darah < 160/100 mmHg ≥ 160/100 mmHg

4. Berat badan 35-85 kg > 85 kg ; < 35 kg

5. Riwayat operasi Bekas SC (tanpa Op abdomen lainnya,


abdomen/panggul perlekatan) perlekatan atau
terdapat kelainan
pada px panggul

6. Riwayat radang Pemeriksaan dalam Pemeriksaan dalam


panggul, kehamilanektopik, normal ada kelainan
Apendiksitis

7. Anemia Hb ≥ 8 gr% Hb < 8 gr %

b. Vasektomi

No. Keadaan Klien Fasilitas Rawat Fasilitas Rujukan


Jalan

1. Keadaan umum K U baik, tidak DM tidak


(anamnesi dan ada tanda penyakit terkontrol, riwayat
pemeriksaan fisik jantung, paru, gangguan
ginjal pembekuan darah,
ada tanda penyakit
jantung, paru atau
ginjal

2. Keadaan emosi Tenang Cemas, takut

3. Tekanan darah < 160/100 mmHg ≥ 160/100 mmHg

4. Infeksi atau Normal Tanda-tanda infeksi


kelainan atau ada kelainan
scrotum/inguinal

7. Anemia Hb ≥ 8 gr% Hb < 8 gr %

L. Dampak Program KB

Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian


ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan
kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajatkesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-
KR; Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan
fungsi manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

Dampak Program KB terhadap Pencegahan Kelahiran

1. Untuk Ibu, dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran maka manfaatnya :

a. Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam
jangka waktu yang terlalu pendek

b. Peningkatan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang
cuku untuk mengasuh anak, beristirahat dan menikmati waktu luang serta melakukan
kegiatan lainnya

2. Untuk anak-anak yang dilahirkan, manfaatnya :

a. Anak dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya dalam keadaan
sehat
b. Sesudah lahir, anak mendapat perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup
karena kehadiran anak tersebut memang diinginkan dan direncanakan

3. Untuk anak-anak yang lain, manfaatnya :

a. Memberi kesempatan kepada anak agar perkembangan fisiknya lebih baik karena
setiap anak memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia dalam keluarga

b. Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena pemeliharaan yang lebih
baik dan lebih banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak

c. Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena sumber-sumber


pendapatan keluarga tidak habis untuk mempertahankan hidup semata-mata

4. Untuk ayah, memberikan kesempatan kepadanya agar dapat :

a. Memperbaiki kesehatan fisiknya

b. Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta lebih
banyak waktu terluang untuk keluarganya

5. Untuk seluruh keluarga, manfaatnya :

Kesehatan fisik, mental dan sosial setiap anggota keluarga tergantung dari kesehatan seluruh
keluarga. Setiap anggota keluarga mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk
memperoleh pendidikan

KIE DALAM PELAYANAN KB

1. DEFINISI KIE

Komunikasi adalah penyampaian pesan secara langsung/tidak langsung melalui saluran


komunikasi kpd penerima pesan u/ mendapatkan efek.
Komunikasi kesehatan adalah usaha sistematis untuk mempengaruhi perilaku
positif dimasyarakat, dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi baik
menggunakan komunikasi pribadi maupun komunikasi massa.

Informasi adalah keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui masy (pesan
yang disampaikan).

Edukasi adalah proses perubahan perilaku ke arah yang positif. Pendidikan


kesehatanmerupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena merupakan salah
satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan.

BAB III

PENUTUPAN

Kesimpulan

Komunikasi Informasi dan Edukasi dalam pelayanan kebidanan mempunyai tujuan antara
lain mendorong dan meningkatkan pengetahuan,sikap dan praktek KB pada masyarakat
sehingga tercapai penambahan peserta baru, dan kelestarian peserta KB.

Adapun jenis-jenis kegiatan dalam KIE antara lain KIE massa, KIE kelompok KIE
perorangan. Prinsip yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan KIE dalam memperlakukan
klier dengan sopan, baik dan ramah; memahami, menghargai dan menerima keadaan ibu;
memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami; menggunakan
alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari dan menyesuikan
isi penyuluhan dengan keadaan dan risiko yang dimiliki ibu.

Saran

Adapun saran penulis khususnya kepada para pembaca

1. Untuk bidan

Bidan lebih menngkatkan kualitas pelayanan KIE dalam program KB


2. Untuk mahasiswa

Mahasiswa bisa mengaplikasikan program KIE dalam pelayanan KB

3. Untuk Institut Pendidikan

Mengembangkan teori baru dan memonitori mahasiswa dalam praktek

4. Untuk masyarakat

Bagi masyarakat khususnyya para ibu,memberikan informasi tentang KB sehingga


masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang KB