Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Tindakan Operasi
Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang

menggunakan cara invasive dengan membuka atau menampilkan bagian

tubuh (Priscilla T LeMone, Karen M. Burke, 2015). Pembedahan

dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati suatu penyakit, cedera atau

cacat, serta mengobati kondisi yang sulit atau tidak mungkin

disembuhkan hanya dengan obat-obatan sederhana (Patricia Potter, Anne

Perry, 2011). Pada umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, pada

bagian tubuh yang akan ditangani, lalu dilakukan tindakan perbaikan dan

diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat, 2010).


Tindakan operasi dilakukan dengan berbagai indikasi diantaranya :
1) Diagnostik : biopsi atau laparotomy eksploitasi
2) Kuratif : eksisi tumor atau pengangkatan apendiks yang mengalami

inflamasi
3) Reparatif : memperbaiki luka multipel
4) Rekontruksif/kosmetik : mammaoplasty, atau bedah platik
5) Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki maslah,

contoh : pemasangan selang gastrotomi yang dipasang intuk

mengkompenasi ketidak mampuan menelan makanan (Brunner &

Suddarth's, 2013).
Pembedahan juga dapat diklasifikasikan sesuai tingkat urgensinya,

dengan penggunaan istilah-istilah kedaruratan, urgensi, diperlukan

elektif, dan pilihan (Brunner & Suddarth's, 2013).


Tabel 1.1 Kategori pembedahan berdasar tingkat urgensinya
menurut Brunner & Suddarth (2010)
Klasifikasi Indikasi untuk Contoh
Pembedahan

I Kedaruratan-pasien Tanpa ditunda Perdarahan hebat,


membutuhkan perhatian obstruksi kandung
segera; gangguan mungkin kemih atau usus, fraktur
mengancam jiwa tanpa tulang tengkorak, luka
ditunda tembak atau tusuk, luka
bakar sangat luas
II Urgen-pasien membutuhkan Dalam 24-30 jam Infeksi kandung kemih
perhatian segera akut, batu ginjal atau
batu pada uretra
III Diperlukan-pasien harus Dapat direncanakan Hiperplasia prostat
menjalani pembedahan dalam beberapa bulan tanpa obstruksi
atau minggu kandung kemih,
gangguan tiroid,
katarak
IV Elektif-pasien harus Pembedahan dimana Perbaikan eskar, hernia
dioperasi ketika diperlukan jika Tidak dilakukan sederhana, perbaikan
pembedahan vaginal
(penundaan) tidak
terlalu membahayakan
pasien
V Pilihan keputusan terletak Pilihan pribadi Bedah kosmetik
pada pasien

2. Tindakan Anestesi
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa

sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang

menimbulkan rasa sakit pada tubuh dan salah satu yang sangat penting

dalam anestesi adalah penentuan klasifikasi ASA (Majid, A., Judha, M.,

& Istianah, U, 2011). Menurut (Brunner & Suddarth's, 2013) anestesi

adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan hilangnya reflek.


Anestesi dibagi menjadi dua kelas : (1) anestesi yang menghambat

sensasi seluruh tubuh (anestesi umum) atau (2) yang menghambat di

sebagian tubuh (lokal, regional, epidural atau anestesi spinal) (Brunner &

Suddarth's, 2013).
a. General Anestesi
General anestesi atau anestesi umum adalah keadaan fisiologis yang

berubah ditandai dengan hilangnya kesadaran reversible, analgesia

dari seluruh tubuh, amnesia, dan beberapa derajat relaksasi otot

(Morgan, G. E., & Mikhail, M., 2013). Ketidaksadaran tersebut yang

memungkinkan pasien untuk mentolerir prosedur bedah yang akan

menimbulkan rasa sakit tak tertahankan (Adam C Adler, 2018).


Menurut Mangku & Senapathi (2010), ada 3 fase anestesi, meliputi:
1) Fase pre anestesi
Pada tahap pre anestesi, seorang perawat akan menyiapkan hal-hal

yang dibutukan selama operasi. Contoh: pre visit pasien yang akan

melakukan operasi, persiapan pasien, pasien mencukur area yang

akan dilakukan operasi, persiapan catatan rekam medik, persiapan

obat premedikasi yang harus diberikan kepada pasien.

2) Fase intra anestesi


Pada fase intra anestesi, seorang perawat anestesi akan melakukan

monitoring keadaan pasien. Perawat anestesi akan melihat

hemodinamik dan keadaan klinis pasien yang menjalani operasi.


3) Fase pasca anestesi
Pada tahap ini, perawat anestesi membantu pasien dalam

menangani respon-respon yang muncul setelah tindakan

anestesi.Respon tersebut berupa nyeri, mual muntah, hipotermi

bahkan sampai menggigil.


Menurut (Adam C Adler, 2018), seorang penyedia anestesi

bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi

kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai

atribut general anestesi, meliputi:


1) Keuntungan
a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intra operatif pasien.
b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka

waktu yang lama.


c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan nafas, pernafasan

dan sirkulasi.
d) Dapat digunakan dalam kasus-kasus kepekaan terhadap agen

anestesi lokal.
e) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang

tak terduga.
f) Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible.
2) Kekurangan
a) Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya

terkait.
b) Membutuhkan beberapa derajat persiapan pasien sebelum

operasi.
c) Dapat menyebabkan fluktuasi fisiologis.
d) Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual,

muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, mengigil (hipotermi)

dan
e) Tertunda kembali ke fungsi mental yang normal.
b. Anestesi Regional
Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang

paling tua dan paling sering dilakukan. Blokade saraf yang

dihasilkan paling efisien karena sedikit saja injeksi anestetik lokal ke

dalam ruang subarachnoid sudah menyebabkab blockade yang kuat

dan luas pada saraf spinal (Sjamsuhidajat, 2010).


Menurut (Sjamsuhidajat, 2010) Spinal anestesi dapat digunakan

untuk prosedur pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut

maupun kronik.
Indikasi Spinal anestesi menurut (Dr. Said A. Latief, SpAn K, dkk,

2009) adalah :
1) Bedah Ekstremitas bawah
2) Bedah panggul
3) Tindakan sekitar rectum perineum
4) Bedah Obstetri dan ginekologi
5) Bedah Urologi
6) Bedah abdomen bawah
7) Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasanya

dikombinasi dengan anestesi umum.


Menurut (Sjamsuhidajat, 2010) anestesi regional yang luas seperti

spinal anestesi tidak boleh diberikan pada kondisi hipovolemia yang

belum terkorelasi karena dapat mengakibatkan hipotensi berat.


Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut

(Sjamsuhidajat, 2010)
1) Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup
2) Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan dan

memerlukan bantuan napas dan jalan napas segera.


3) Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung

pada besarnya diameter dan bentuk jarum spinal yang

digunakan.
3. Komplikasi Tindakan Operasi dan Anestesi
4. Shivering/Menggigil

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, peneliti

merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana gambaran prevalensi

menggigil pada pasien operasi di IBS RSUD Ajibarang?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran prevalensi atau kejadian menggigil pada pasien

operasi di IBS RSUD Ajibarang.

2. Tujuan Khusus
a. Diketahui distribusi frekuensi karakteristik pasien operasi

( umur, jenis kelamin, Tinggi Badan dan Berat Badan ).


b. Diketahuinya distribusi frekuensi jenis anestesi ( General Endo

Tracheal Anestesi/ GETA, General anestesi TIVA, General

anestesi LMA dan Spinal Anestesi ).


c. Diketahuinya distribusi frekuensi jenis pembedahan ( Bedah

umum kasus urologi serta kasus digestif, Bedah Orthopedi,

Bedah Obstetri dan Ginekologi ).


d. Diketahui distribusi frekuensi menggigil pada pasien operasi di

IBS RSUD Ajibarang.

D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat

sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan data prevalensi

mengigil pada pasien operasi yang dapatkan digunakan untuk

pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.


2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
a. Institusi Rumah Sakit
i. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun prosedur

preventif yang berkaitan dengan pasien preoperasi.


ii. Sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan anggaran

pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan untuk

mencegah efek anestesi yang salah satunya adalah

menggigil.
b. Pelaksana lapangan
Untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menangani pasien

operasi sehingga dapat meminimalkan efek anestesi seperti post

anesthesia shivering atau mengigil pasca anestesi.


E. Keaslian Penelitian
Menurut peneliti, sejauh ini belum ada yang meneliti tentang

prevalensi mengigil pada pasien operasi di IBS RSUD Ajibarang.Tetapi ada

beberapa penelitian terdahulu yang mirip dengan penelitian ini, yaitu :

Nama Judul penelitian Tahun Metode & Persamaan


Hasil & Perbedaan
Penelitian
Nur Akbar Gambaran 2014 Deskriptif Persamaan :
Fauzi Kejadian dengan variabel
menggigil pada pendekatan yang
Pasien dengan cross dibahas
Tindakan sectional sama yaitu
operasi yang menggigil
Menggunakan ( shivering ).
Anestesi Spinal Perbedaan :
di RSUD Penelitian
Karawang terdahulu
Periode Juni meneliti
2014 pada pasien
pasca
anestesi
spinal saja,
sedangkan
penelitian
kali ini
meliputi
meliputi
pasien pasca
spinal
anestesi dan
general
anestesi.
Dewi Lama Operasi 2018 Observasional Persamaan :
Masithoh dan Kejadian analitik dan salah satu
Shivering Pada cross variabel nya
Pasien Pasca sectional sama yaitu
Spinal Anestesi shivering
( menggigil
).
Perbedaan :
penelitian
terdahulu
meneliti
hubungan
lama operasi
dengan
kejadian
menggigil
sedangkan
penelitian
kali ini
hanya
meneliti
prevalensi
menggigil
pada pasien
operasi.
Andri The Correlation 2017 Observasional Persamaan :
Susilowati Of Body Mass analitik dan salah satu
Index With cross variabel nya
Shivering Of sectional sama yaitu
Spinal shivering
Anesthesic ( menggigil
Patients In RS ).
PKU Perbedaan :
Muhammadiyah penelitian
Yogyakarta terdahulu
meneliti
hubungan
Body Mass
Index
dengan
kejadian
menggigil
sedangkan
penelitian
kali ini
hanya
meneliti
prevalensi
menggigil
pada pasien
operasi.