Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IV

PRAKTIKUM I
HEPATITIS

Oleh:
Prana Dika Ardiyanto (161200092)
Putu Ita Yuliana Wijayanthi (161200095)
Sang Ayu Nyoman Wahyu Astika Dewi (161200097)

Dosen Pengampu: Dhyancinantyan W. D. B. P., S.Farm.,M.Farm., Apt


A1D Farmasi Klinis

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA BALI
DENPASAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

I. Tujuan Praktikum adalah :


1. Mengetahui definisi dari penyakit Hepatitis
2. Mengetahui patofisiologi dan pathogenesis penyakit Hepatitis
3. Mengetahui gejala dan faktor resiko penyakit Hepatitis
4. Mengetahui tatalaksana farmakologi dan non-farmakologi penyakit Hepatitis

II. Latar Belakang


II.1 Definisi
Hepatitis adalah keadaan radang atau cedera pada hati, sebagai reaksi terhadap
virus, obat atau alkohol (FKUI, 2006). Hepatitis adalah infeksi sistemik oleh virus
disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas. Hepatitis B adalah
peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus B (Wening Sari, 2008).
Sedangkan menurut Smeltzer dan Bare (2002) Hepatitis B adalah radang atau
cidera pada hati yang disebabkan oleh virus B. Hepatitis B adalah suatu penyakit
hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B, yaitu suatu virus yang dapat
menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang dapat berlanjut menjadi
sirosis hati atau kanker hati.

Gambar 1.1 Anatomi Hepar


Hati merupakan sistem utama yang terlibat dalam pengaturan fungsi hati. Hati
adalah salah satu organ tubuh terbesar dalam tubuh, yang terletak dibagian teratas
dalam rongga abdomen disebelah kanan dibawah diafragma dan hati secara luas
dilindungi oleh iga-iga, berat hati rata-rata sekitar 1500 gr 2,5% dari berat tubuh pada
orang deawa normal, hati dibagi menjadi 4 lobus, yaitu lobus kanan sekitar 3/4 hati,
lobus kiri 3/10 hati, sisanya 1/10 ditempati oleh ke 2 lobus caudatus dan quadatus.
Lobus hati terbungkus oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang kedalam
lobus itu sendiri dan membagi masa hati menjadi unit-unit yang kecil dan unit-unit
kecil itu disebut lobulus (Pearce, 2006).

II.2Etiologi
Penyebab hepatitis menurut Wening Sari (2008) meliputi:
1) Obat-obatan, bahan kimia, dan racun.
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan
hepatitis akut.
2) Reaksi transfusi darah yang tidak terlindungi virus hepatitis.
3) Infeksi virus.
Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda yang
memiliki ukuran 42 nm, Ditularkan melalui darah atau produk darah, saliva,
semen, sekresi vagina. Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa
menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan, Masa inkubasi 40 –
180 hari dengan rata- rata 75 hari, Faktor resiko bagi para dokter bedah,
pekerja laboratorium, dokter gigi, perawat dan terapis respiratorik, staf dan
pasien dalam unit hemodialisis, para pemakai obat yang menggunakan jarum
suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual baik heteroseksual maupun
pria homoseksual.

II.3Patofisiologi
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi
virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahanbahan kimia. Unit
fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai
darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal
pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini
menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel
hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan
digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien
yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal (Baradero, 2008).
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah
billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi
karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi
kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati, selain itu juga terjadi
kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan
melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan
regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek),
maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi icterus
yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan,
konjugasi dan eksresi bilirubin (Smeltzer dan Bare, 2002).
Virus atau bakteri yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah dan terbawa
sampai ke hati. Di sini agen infeksi menetap dan mengakibatkan peradangan dan
terjadi kerusakan sel-sel hati (hal ini dapat dilihat pada pemeriksaan SGOT dan
SGPT). akibat kerusakan ini maka terjadi penurunan penyerapan dan konjugasi
bilirubin sehingga terjadi disfungsi hepatosit dan mengakibatkan ikterik. peradangan
ini akan mengakibatkan peningkatan suhu tubuh sehinga timbul gejala tidak nafsu
makan (anoreksia). Salah satu fungsi hati adalah sebagai penetralisir toksin, jika
toksin yang masuk berlebihan atau tubuh mempunyai respon hipersensitivitas, maka
hal ini merusak hati sendiri dengan berkurangnya fungsinya sebagai kelenjar
terbesar sebagai penetral racun (Syaifuddin,2006).
Aktivitas yang berlebihan yang memerlukan energi secara cepat dapat
menghasilkan H2O2 yang berdampak pada keracunan secara lambat dan juga
merupakan hepatitis non-virus. H2O2 juga dihasilkan melalui pemasukan alkohol
yang banyak dalam waktu yang relatif lama, ini biasanya terjadi pada alkoholik.
Peradangan yang terjadi mengakibatkan hiperpermea-bilitas sehingga terjadi
pembesaran hati, dan hal ini dapat diketahui dengan meraba atau palpasi hati. Nyeri
tekan dapat terjadi pada saat gejala ikterik mulai nampak (Syaifuddin, 2006).
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu
badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman
pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual
dan nyeri di ulu hati. pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka
bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan
kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai
peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal
pada ikterus (Smeltzer dan Bare, 2002).

II.4 Klasifikasi
Tabel 1. Perbandingan Klasifikasi Hepatitis

Menurut Charlene J.Reeves (2001) klasifikasi penyakit Hepatitis ialah:


1) Hepatitis A (HAV: hepatitis infeksi)
HAV dikenal dengan hepatitis infeksiosa, rute penularan adalah
melaluikontaminasi oral-fekal, HVA terdapat dalam makanan dan air yang
terkontaminasi. Agen pembawa sangat menular sebelum kemunculan tanda
dan gejala, khususnya penyakit kuning. .Potensi penularan infeksi hepatitis
ini melalui sekret salurancerna. Umumnya terjadi didaerah kumuh berupa
endemik. Masa inkubasi: 2-6minggu, kemudian menunjukkan gejala klinis.
Populasi paling sering terinfeksi adalah anak-anak dan dewasa muda.
Pemberian “intramuscular immunoglobulin” (gamma Globulin) pada
individu yang terserang dapat menurunkan keparahan dari sakitnya individu
yang pindah ke daerah beresiko tinggi harus diimunisasi, HAV dikaitkan
dengan immunitas permanen setelah penyakit.
2) Hepatitis B
Penularan virus ini melalui rute transfuse darah, jarum suntik atau
hubungan seksual. Golongan yang beresiko tinggi adalah mereka yang sering
transfuse darah, pengguna obat injeksi, pekerja perawatan kesehatan dan
keamanan masyarakat yang terpajan terhadap darah. Masa inkubasi mulai 6
minggu sampai dengan 6 bulan sampai timbul gejala klinis.

Gambar Struktur virus Hepatitis B (Sumber: Hunt, 2011)


3) Hepatitis C
Dahulu disebut hepatitis non-A dan non-B, merupakan penyebab
terseringinfeksi hepatitis yang ditularkan melalui suplai darah komersial.
HCV ditularkandengan cara yang sama seperti HBV, tetapi terutama melalui
tranfusi darah.Populasi yang paling sering terinfeksi adalah pengguna obat
injeksi, individu yangmenerima produk darah, potensial risiko terhadap
pekerja perawatan kesehatan dan keamanan masyarakat yang terpajan pada
darah. Masa inkubasinya adalahselama 18-180 hari.
4) Hepatitis D
Virus ini melakukan koinfeksi dengan HBV sehingga infeksi
HBV bertambah parah. Infeksi oleh HDV juga dapat timbul belakangan pada
individuyang mengedap infeksi kronik HBV jadi dapat
menyebabkan infeksi hanya bilaindividu telah mempunyai HBV, dan darah
infeksius melalui infeksi HDV.Populasi yang sering terinfeksi adalah
pengguna obat injeksi, hemofili, resipientranfusi darah multipel (infeksi
hanya individu yang telah mempunyai HBV). Masa inkubasinya belum
diketahui secara pasti. HDV ini meningkatkan resikotimbulnya hepatitis
fulminan, kegagalan hati, dan kematian.
5) Hepatitis E
Virus ini adalah suatu virus RNA yang terutama ditularkan melalui
ingeti airyan tercemar. populasi yang paling sering terinfeksi adalah orang
yang hidup padaatau perjalanan pada bagian Asia, Afrika atau Meksiko
dimana sanitasi buruk, dan paling sering pada dewasa muda
hingga pertengahan.

II.5Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis hepatitis menurut FKUI (2006) terdiri dari 3 tahapan meliputi:
1) Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus
berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea,
vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal
terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu
badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri
persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.
2) Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan
disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat
pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari.
Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai
dirasakan selama 1-2 minggu.
3) Fase penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu
hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya
masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali,
namun lemas dan lekas capai.
II.6 Penatalaksanaan
A. Tujuan Terapi
1) Tujuan Utama
Untuk mengeliminasi atau menekan secara permanen virus hepatitis
sehingga dapat mengurangi patogenitas dan infektivitas, dan akhirnya
menghentikan atau mengurangi nekroinflamasi.
2) Tujuan Jangka Pendek
a. Mengurangi inflamasi hati
b. Mencegah terjadinya dekompensaasi hati
c. Menghilangkan virus hepatitis dan normalisasi ALT pada akhir atau 6-12
bulan setelah akhir pengobatan.
3) Tujuan Jangka Panjang
Mencegah terjadinya hepatitis flare yang dapat menyebabkan
dekompensasi hati, perkembangan kea rah sirosis dan/atau hepatoselular
karsinoma, dan pada akhirnya memperpanjang usia.
B. Outcome Terapi
1) Mengembalikan keadaan pasien seperti awal
2) Mencegah perkembangan menjadi infeksi kronis
3) Menurunkan morbiditas dan mortalitas
4) Memperkecil penularan infeksi
5) Menormalkan kadar aminotransferase
6) Menghentikan replikasi virus pada host
7) Membasmi virus (Dipiro et al., 2005).
C. Penatalaksanaan Hepatitis
1) Hepatitis A
a. Penanganan Hepatitis A pada penderita, adalah:
 pengobatan, tidak spesifik, utamanya meningkatkan daya tahan
tubuh (istirahat dan makan makanan yang hygienis dan bergizi),
rawat inap hanya diperlukan bila penderita tidak dapat makan dan
minum serta dehidrasi berat;
 Isolasi tidak diperlukan;
 Selain dilakukan pengobatan terhadap kasus Hepatitis A, perlu
didukung penanganan terhadap perilaku dan lingkungan, seperti:
a. disinfeksi serentak terhadap bekas cairan tubuh daripenderita;
b. imunisasi pasif pada orang yang terpajan cairan tubuh
penderita;
2) Hepatitis B
a. Penanganan kasus terpajan Hepatitis B
Selain penanganan kasus yang ditemukan pada deteksi dini
Hepatitis B, maka penanganan kasus yang ditemukan dapat juga
dilakukan pada saat orang terpajan virus Hepatitis B, yaitu
mereka yang mengalami inokulasi langsung atau kontak mukosa
langsung dengan cairan tubuh penderita Hepatitis B, maka
profilaksis yang digunakan adalah HBIG single dose 0,06 mL/kg
BB, yang diberikan sesegera mungkin. Penderita lalu harus
menerima imunisasi Hepatitis B, dimulai dari minggu pertama
setelah pajanan. Bila pajanan yang terjadi adalah kontak seksual,
maka pemberian dosis HBIG 0,06 mL/kg BB harus diberikan
sebelum 14 hari setelah pajanan, dan diikuti dengan imunisasi.
Pemberian vaksin Hepatitis B dan HBIG bisa dilakukan pada
waktu bersamaan, namun di lokasi injeksi yang berbeda.
b. Pengobatan Hepatitis B
 Pada pasien hepatitis B kronik
Pada pasien yang baru terdiagnosis, beberapa pemeriksaan
perlu dilakukan sebelum langkah terapi dipertimbangkan. Hal
ini bertujuan untuk mengoptimalkan hasil terapi, apabila
diperlukan.
 Terapi Infeksi Virus Hepatitis B Akut
Sembilan puluh lima persen pasien hepatitis akut dewasa akan
mengalami resolusi dan serokonversi spontan tanpa terapi
antiviral. Maka, pada kondisi ini terapi umumnya bersifat
tidak spesifik, utamanya meningkatkan daya tahan tubuh
(istirahat dan makan makanan yang bergizi). Rawat inap
hanya diperlukan bila pasien tidak dapat makan dan minum
serta terjadi dehidrasi berat. Pada pasien dengan hepatitis akut
fulminan, pemberian antiviral seperti lamivudine bisa
memperpendek fase simtomatik dan mempercepat perbaikan
klinis dan biokimia,namun tidak mencegah perkembangan
hepatitis B akut menjadi hepatitis B kronik.
c. Terapi Infeksi Virus Hepatitis B Kronik
 Indikasi Terapi
 Terapi pada pasien hepatitis B kronik adalah sesuatu yang
harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang. Beberapa
faktor yang diketahui mempengaruhi hasil akhir terapi dan
dijadikan indikator memulai terapi adalah Nilai DNA VHB
serum. Nilai DNA VHB merupakan salah satu indikator
mortalitas dan morbiditas yang paling kuat untuk hepatitis B.
Banyak studi telah membuktikan bahwa nilai DNA VHB
serum yang tinggi (>2.000 IU/mL) adalah prediktor sirosis
dan KHS yang kuat. Maka penggunaan kadar DNA VHB
sebagai indikasi memulai terapi dan sebagai tujuan akhir
terapi merupakan hal yang sangat penting.
 Pilihan Terapi
 Dengan pilihan yang kita miliki saat ini, eradikasi virus secara
total dari tubuh masih belum bisa dilakukan. Kalaupun virus
berhasil ditekan jumlahnya dalam darah, DNA virus masih
dapat ditemukan di dalam sel hati dalam kondisi dorman.
DNA ini bisa mengalami reaktivasi di kemudian hari. Target
serokonversi HBsAg, walau memberikan nilai prognosis yang
sangat baik, juga sangat sulit dicapai. Maka terapi pada
hepatitis B kronik ditujukan untuk menekan progresivitas
penyakit ke arah sirosis atau KHS. Dengan terapi saat ini,
walaupun eradikasi virus tidak bisa dilakukan, pasien
hepatitis B bisa bebas dari sirosis atau KHS seumur hidupnya.
Inilah mengapa terapi sebaiknya disarankan pada setiap
pasien yang memiliki indikasi. Pemilihan terapi yang paling
sesuai dengan pasien adalah hal yang perlu diperhatikan
sebelum memulai terapi. Sampai saat ini terdapat setidaknya
2 jenis obat hepatitis B yang diterima secara luas, dengan
kekurangan dan kelebihan masing-masing, yaitu:
a. Terapi Interferon
Terapi dengan interferonhanya diberikan dalam jangka
maksimal 1 tahun. Terapi dengan interferon selama 1
tahun secara umum lebih baik dalam hal serokonversi
HBeAg dan HBsAg daripada terapi analog nukleos(t)ida
yang diberikan pada durasi yang sama.
b. Terapi Analog Nukleos(t)ida
Terapi dengan analog nukleos(t)ida secara umum
memiliki efektivitas yang cukup baik, walau pada
pemakaian 1 tahun efektivitas beberapa jenis analog
nukleos(t)ida masih kurang baik daripada interferon.
Namun penggunaan analog nukleos(t)ida jangka panjang
memiliki efektivitas yang sebanding atau bahkan lebih
baik daripada interferon. Bila dibandingkan dengan
interferon, terapi analog nukleos(t)ida memiliki kelebihan
berupa ringannya efek samping dan cara pemberian yang
oral. Obat jenis ini juga bisa digunakan pada pasien yang
mengalami penyakit hati lanjut. Pada prinsipnya, terapi
analog nukleos(t)ida harus diteruskan sebelum tercapai
indikasi penghentian terapi atau timbul kemungkinan
resistensi dan gagal terapi (lihat bagian kegagalan terapi).
Namun khusus untuk pasien dengan fibrosis hati lanjut,
terapi analog nukleos(t)ida harus diberikan seumur hidup.
3) Hepatitis C
a. Tatalaksana Hepatitis Akut
Tatalaksana hepatitis C akut dapat ditunda sampai 8-16 minggu
untuk menunggu terjadinya resolusi spontan terutama pada pasien
hepatitis C akut yang simptomatik.Akan tetapi, pada pasien
dengan genotipe IL28B non-CC pemberian terapi antivirus dapat
diberikan lebih awal yaitu 12 minggu karena kemungkinan
terjadinya resolusi spontan lebih rendah.Pemberan monoterapi
dengan Peg-IFN dapat diberikan dalam tatalaksana hepatitis akut.
Durasi terapi hepatitis C akut pada genotipe 1 dilanjutkan selama
24 minggu dan pada genotipe 2 atau 3 dilanjutkan selama 12
minggu. Penambahan ribavirin tidak meningkatkan pencapaian
SVR pada pasien hepatitis C akut yang sedang diterapi dengan
Peg-IFN.
b. Terapi pada Infeksi Hepatitis C Kronik
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terapi standar untuk
hepatitis C kronik adalah kombinasi antara Pegylated Interferon-
a (Peg-IFNa) dan ribavirin (RBV). Terapi ini memberikan hasil
yang kurang memuaskan pada pasien dengan genotipe 1 karena
hanya 40-50% pasien yang berhasil mencapai sustained
virological response (SVR) sedangkan pada genotipe 2 dan 3
sekitar 80% dapat mencapai SVR. Kemajuan yang dicapai pada
terapi hepatitis C kronik adalah penemuan agen direct acting
antivirus (DAA) yaitu boceprevir (BOC), telaprevir (TVR),
simeprevir, sofosbuvir, dll. Akan tetapi sampai saat ini yang
tersedia di Indonesia adalah boceprevir. Pada pedoman ini akan
dibahas mengenai panduan terapi antivirus dan monitoringnya.
c. Mekanisme Kerja Antivirus
 Mekanisme Kerja Pegylated Interferon (Peg-IFN)
Interferon merupakan protein yang dihasilkan oleh tubuh dan
bersifat sebagai imunomodulator.Mekanisme kerja interferon
adalah menghambat berbagai tahap replikasi virus meliputi
saat virus masuk dalam sel tubuh, uncoating, sintesis mRNA
dan sintesis protein.Pegylated ditambahkan dalam formula
obat untuk membuat interferon bertahan lebih lama di dalam
tubuh.Manfaat lainnya meliputi penurunan toksisitas,
meningkatkan stabilitas obat, perlindungan terhadap
proteolisis dan memperbaiki daya larut.Pemberian Peg-IFN
1x/minggu juga membantu meningkatkan kepatuhan pasien
dan memberikan kenyaman bagi pasien.Terdapat beberapa
tipe Peg-IFN, namun yang sering digunakan dalam
pengobatan hepatitis C adalah Peg-IFN a2a dan Peg-IFN a2b.
Perbedaan antara Peg-IFN a2a dan Peg-IFN a2b selain
strukturnya adalah waktu paruh absorpsi, waktu paruh
eliminasi dan waktu konsentrasi maksimal ditemukan lebih
lama pada Peg-IFN a2b. Beberapa studi menunjukkan
keunggulan Peg-IFN a2a dibandingkan Peg-IFN a2b
meskipun ada juga studi yang menunjukkan tidak adanya
perbedaan efektifitas keduanya dalam terapi hepatitis C
kronik.
 Mekanisme Kerja Ribavirin
Mekanisme kerja ribavirin masih belum sepenuhnya
dimengerti. Saat ini terdapat beberapa hipotesis mengenai
mekanisme kerja ribavirin yaitu:
a. Menghambat langsung replikasi VHC
b. Menghambat enzim inosine monophosphatedehydrogenase
pada tubuh pasien
c. Menginduksi mutagenesis RNA virus
d. Imunomodulasi melalui induksi sel responsimun T-helper1
(Th1)
e. Ribavirin cepat diabsoprsi (waktu paruhsekitar 2 jam) dan
didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh setelah
pemberian oral, metabolisme utama terjadi di ginjal.
 Mekanisme Kerja DAA
Standar terapi dalam tatalaksana hepatitis C kronik adalah
kombinasi Peg-IFN dan Ribavirin. Seiring dengan
berkembangnya penemuan direct acting antiviral (DAA),
untuk meningkatkan angka keberhasilan pencapaian SVR
pada genotipe 1, pada tahun 2011 FDA merekomendasikan
penggunaan triple therapy menggunakan PegIFN+RBV
dengan boceprevir/telaprevir. Sampai saat ini terdapat lebih
dari 30 DAA antara lain sofosbuvir, simeprevir, daclatasvir,
ledipasvir dll Sofosbuvir (Sovaldi®) adalah suatu analog
NS5B nucleotide polymerase inhibitor.Sofosbuvir bekerja
menghambat kerja enzim RNA polymerase yang dibutuhkan
virus hepatitis C untuk bereplikasi. Dibandingkan dengan
DAA pendahulunya, sofosbuvir memiliki efek samping yang
lebih sedikit, durasi terapi yang lebih pendek, dan efektifitas
lebih baik. Gane et al. melakukan sebuah studi pada 95 pasien
hepatitis C genotipe 1, 2, 3 naïve dan genotipe 1 yang null
responders. Kemudian pasien tersebut dibagi menjadi 8
kelompok (monoterapi sofosbuvir, sofosbuvir + RBV dengan
atau tanpa Peg-IFN selama 8 atau 12 minggu). Hasil studi
tersebut menunjukkan 100% pasien genotipe 2, 3 naïve yang
diterapi dengan sofosbuvir + RBV mencapai SVR, 84%
pasien genotype 1 naïve mencapai SVR. Akan tetapi pada
pasien genotipe 1 null responders pencapaian SVR hanya
10% sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien genotipe 2, 3
naïve dapat sembuh sempurna dengan pemberian sofosbuvir
+ RBV selama 12 minggu.

 Terapi Menggunakan Sofosbuvir dan kombinasinya


Pada bulan Desember 2013, FDA menyetujui penggunaan
sofosbuvir sebagai DAA pertama yang dapat digunakan
sebagai terapi pada seluruh genotipe hepatitis C kronik.Dosis
sofosbuvir 1 x 400 mg/hari dalam kombinasinya dengan
ribavirin atau Peg-IFN. Pada gangguan ginjal ringan-sedang
tidak diperlukan penyesuaian dosis sofosbuvir akan tetapi
tidak diperbolehkan pada pasien dengan gangguan ginjal
berat (eGFR <30 ml/menit/1.73m)
Tabel 2. Penggunaan Sofosbuvir

4) Obat-obat Lainnya
a. Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat
penurunan bilirubin darah. Pemberian bila untuk menyelamatkan
nyawa dimana.
b. Berikan obat-obatan yang bersifat melindungi hati. Contoh obat:
Asam glukoronat/ asam asetat, Becompion, kortikosteroid.
c. Vitamin K pada kasus dengan kecenderungan perdarahan.
d. Obat-obatan yang memetabolisme hati hendaknya dihindari.
Karena terbatasnya pengobatan terhadap hepatitis maka
penekanan lebih dialirkan pada pencegahan hepatitis, termasuk
penyediaan makanan dan air bersih dan aman. Higien umum,
pembuangan kemih dan feses dari pasien yang terinfeksi secara
aman, pemakaian kateter, jarum suntik dan spuit sekali pakai
akan menghilangkan sumber infeksi. Semua donor darah perlu
disaring terhadap HAV, HBV, dan HCV sebelum diterima
menjadi panel donor.
D. Terapi Non Farmakologi
1. Diet
Terapi tanpa obat bagi penderita adalah diet yang seimbang,
jumlah kalori yang dibutuhkan sesuai dengan tinggi badan, berat
badan, dan aktivitas. Pada keadaan tertentu, diperlukan diet rendah
protein, banyak makan sayur dan buah serta melakukan aktivitas
sesuai kemampuan untuk mencegah sembelit, menjalankan pola
hidup yang teratur dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan.
Tujuan terapi diet pada pasien penderita penyakit hati adalah
menghindari kerusakan hati yang permanen; meningkatkan
kemampuan regenerasi jaringan hati dengan keluarnya protein yang
memadai; memperhatikan simpanan nutrisi dalam tubuh;
mengurangi gejala ketidaknyamanan yang diakibatkan penyakit ini;
dan pada penderita sirosis hati, mencegah komplikasi asites, varises
esofagus dan ensefalopati hepatik yang berlanjut ke komplikasi
hepatik hebat. Diet yang seimbang sangatlah penting. Kalori
berlebih dalam bentuk karbohidrat dapat menambah disfungsi hati
dan menyebabkan penimbunan lemak dalam hati. Jumlah kalori
dari lemak seharusnya tidak lebih dari 30% jumlah kalori secara
keseluruhan karena mbahayakan sistem kardiovaskular. Selain diet
yang seimbang, terapi tanpa obat ini harus disertai dengan terapi
tanpa obat ini harus disertai dengan terapi non farmakologi lainnya
seperti segera beristirahat bila merasa lelah dan menghindari
minuman beralkohol.
2. Terapi suportif
Penatalaksanaan hepatitis A virus sebagian besar adalah terapi
suportif, yang terdiri dari bed rest sampai dengan ikterus mereda,
diet tinggi kalori, penghentian dari pengobatan yang beresiko
hepatotoxic, dan pembatasan dari konsumsi alkohol. Sebagian
besar dari kasus hepatitis A virus tidak memerlukan rawat inap.
Rawat inap direkomendasikan untuk pasien dengan usia lanjut,
malnutrisi, kehamilan, terapi imunosupresif, pengobatan yang
mengandung obat hepatotoxic, pasien muntah berlebih tanpa
diimbangi dengan asupan cairan yang adekuat, penyakit hati
kronis/didasari oleh kondisi medis yang serius, dan apabila pada
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan gejala-
gejala dari hepatitis fulminan. Pasien dengan gagal hati fulminant,
didefinisikan dengan onset dari encephalopathy dalam waktu 8
minggu sejak timbulnya gejala. Pasien dengan gagal hati fulminant
harus dirujuk untuk pertimbangan melakukan transplantasi hati.
II.7 Evidence Based Medication Terkait Kasus
Studi gabungan IFN dan RBV menunjukkan bahwa kombinasi ini lebih
berhasil untuk mengobati HCV dibandingkan salah satunya dipakai sendiri.
Kombinasi tersebut telah disetujui oleh FDA pada 1998, dan sekarang telah
menjadi terapi HCV yang baku. Pengobatan dilanjutkan selama 12-48 minggu,
tergantung pada genotipe HCV (lihat LI 674) dan hasil terapi yang diamati dengan
pemantauan. Kombinasi IFN dan RBV adalah satu-satunya terapi saat ini disetujui
oleh FDA-AS untuk mengobati HCV. Orang yang dites positif untuk HCV
mungkin mengeluarkan HCV secara spontan (tanpa obat). Jika tidak, mereka
dinyatakan terinfeksi kronis, dan sebaiknya mulai terapi IFN/RBV dalam waktu 12
minggu setelah infeksi. Kombinasi IFN dan RBV adalah terapi HCV yang baku.
Penggunaan terapi ini dapat sulit. Kurang lebih 15% pasien HCV berhenti terapi
ini akibat beratnya efek samping. Untuk pasien koinfeksi HIV/HCV, proporsi yang
lebih tinggi mengalami efek samping yang berat. Banyak obat lain sedang diteliti
untuk mengobati HCV (Dipiro, 2009).

III. Alat dan Bahan


Alat:
1. Form SOAP.
2. Form Medication Record.
3. Catatan Minum Obat.
4. Kalkulator Scientific.
5. Laptop dan koneksi internet.
Bahan:
1. Text Book.
2. Data nilai normal laboratorium.
3. Evidence terkait (Journal, Systematic Review, Meta-Analysis).

IV. Studi Kasus


Penderita laki-laki umur 73 tahun dengan diagnosis DM+HT+post
CVA+Hepatitis C, BB 78 kg. HCV RNA kuantitatif 1,8x107. Pasien
mendapatkan terapi pegylated interferon + ribavirin sekali seminggu. Selain itu
menggunakan lantus dan exforge. Pegylated interferon mulai dosis 80 mcg sc,
setelah pemberian 3 kali penderita berdebar-debar, di cek lab Hb 7,0 SI 97 TIBC
545, hapusan darah tepi anemia hipokrom mikrositer. Tekanan darah dan suhu
normal. Oleh dokter yang merawat pegintron dikurangi 50 mcg sekali seminggu,
ribavirin diganti dengan ledipasvir, diberikan sulfas ferrous dan erytropoetin,
diberikan selang-seling. Pasien memperoleh terapi atorvastatin 40mg 1 x sehari.

BAB II

PEMBAHASAN

PHARMACEUTICAL CARE

1. Patient Profil

Tn.
Jenis Kelamin : Laki-laki Tgl. MRS :-
Usia : 73 tahun Tgl. KRS :-
Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 78 kg

Presenting Complaint : Pasien mangalami keluhan berdebar-debar setelah


pemakaian 3 kali Pegylated Interferon dengan dosis 80 mcg sc.
Diagnosa kerja : Hepatitis
Diagnosa banding: Hepatitis C

Drug Allergies : -

Relevant Past Medical History : -


Tanda-tanda Vital
Tekanan darah (mmHg) 120/80 mmHg
Suhu tubuh (oC) 36,6 oC
Heart rate (x/menit) 127 kali/menit
Respiratory Rate
20 kali /menit
(x/menit)

MEDICATION
No Nama Obat Indikasi Dosis yang Dosis Terapi (literatur)
digunakan
Seminggu
1 EPO Anemia
sekali
2 Atorvastatin Kolesterol 1 x 40 mg
3 Sulfas ferrosus Anemia 3x1
4 Exforge Hipertensi 1 x 5/80 mg
1 x 10 unit
5 Lantus DM
awal
6 Ledispavir HCV 1x1
7 PEG Inter HCV 1 x 50 mcg

FIR (Further Information Required)

No Further Information Required Jawaban Alasan


1 Apakah pasien memiliki alergi obat? Tidak Terkait pemilihan
terapi
2 Bagaimana hasil laboratorium terkait HCV Genotype 1B Untuk menentukan
genotype HCV pasien? durasi pengobatan
3 Apakah keluarga pasien memiliki Tidak ada Terkait faktor resiko
riwayat hepatitis?
4 Berapa dosis pemakaian obat yang  Lantus 1 x 10 unit Mengetahui faktor
digunakan ? awal resiko dan pemilihan
terapi
 Exforge (pagi) 1
x 5/80 mg

 EPO 1 x
seminggu
(injeksi)

 Ferros Sulfas 3 x
sehari

5 Bagaimana hasil laboratorium kadar Normal Untuk memantau


gula dan kolesterol pasien? terapi DM dan
Kolesterol

Problem List (Actual Problem)


Medical Pharmaceutical
1 Lantus + Exforge 1 P5.1 = potensi interaksi

2 PEG IFN + Ribavirin 2 P2.1.C1.4 = Treatment Safety (Terjadi


Adverse Drug Reactions akibat
ketidaksesuaian kombinasi obat yakni
PEG IFN dengan Ribavirin yang
menyebabkan terjadinya Anemia)
3 PEG IFN 3 P2.C3.2 = Treatment Safety (Dosis
terlalu tinggi yakni PEG IFN)
4 Post CVA 4 P1.3.C1.3 = Treatment Effectiveness
(Ada gejala atau indikasi yang tidak
diobati, tidak ada indikasi pengobatan
yakni post CVA)
5 EPO 5 P1.1.C1.1 : Treatment Effectiveness
(Ketidaksesuaian dosis dengan Jurnal
sebagai acuan terapi yakni pemakaian
EPO 1x seminggu)

PHARMACEUTICAL PROBLEM
Subjective (symptom)
Pasien mangalami keluhan berdebar-debar setelah pemakaian 3 kali Pegylated Interferon dengan
dosis 80 mcg sc. Dari keluhan pasien tersebut, perlu ditelusuri kembali kenapa hal tersebut bisa
muncul ketika pemberian obat sebelumnya.

Objective (signs)
Tanda-tanda Vital
Tekanan darah (mmHg) 120/80 mmHg
Suhu tubuh (oC) 36,6 oC
Heart rate (x/menit) 127 kali/menit
Respiratory Rate
20 kali /menit
(x/menit)

Hb 7,0

SI 97

TIBC 54

HCV RNA kuantitatif 1.8 x


107
Assesment (with evidence)

Plan (including primary care implications)

Problem List (Actual Problem)


Medical Pharmaceutical
1 Lantus + Exforge 1 P5.1 = potensi interaksi

2 PEG IFN + Ribavirin 2 P2.1.C1.4 = Treatment Safety (Terjadi


Adverse Drug Reactions akibat
ketidaksesuaian kombinasi obat yakni
PEG IFN dengan Ribavirin yang
menyebabkan terjadinya Anemia)
3 PEG IFN 3 P2.C3.2 = Treatment Safety (Dosis
terlalu tinggi yakni PEG IFN)

4 Post CVA 4 P1.3.C1.3 = Treatment Effectiveness


(Ada gejala atau indikasi yang tidak
diobati, tidak ada indikasi pengobatan
yakni post CVA)
5 EPO 5 P1.1.C1.1 : Treatment Effectiveness
(Ketidaksesuaian dosis dengan Jurnal
sebagai acuan terapi yakni pemakaian
EPO 1x seminggu)
Terapi Farmakologi

1. Ribavirin diganti dengan Ledispavir


2. Dosis PEG IFN diturunkan menjadi 50 mcg setiap satu kali seminggu
3. Terapi post CVA diberikan :
- Citicolin 500 mg (2 x sehari)
- Aspilet 80 mg (1 x sehari)
- Forneuro (1 x sehari)
4. Dosis EPO diberikan 11,7 ug unit tiga kali seminggu

Terapi Non Farmakologi


1. Diet
2. Terapi suportif.
Monitoring

 Monitoring Efektivitas (Goal Therapy)

1. Monitoring tekanan darah secara berkala.


2. Monitoring kadar HB
3. Monitoring lemak dalam darah
4. Monitoring Tidak terdeteksinya virus hepatitis C RNA pada 12 minggu lebih atau
setelah selesai terapi pengobata HVC

 Efek Samping

1. Exforge : 10% sakit kepala, peningkatan nilai BUN (6-17%), ansietas, diare, nausea,
abdominal pain, dll. (Medscape, 2019)
2. Sufas Ferrosus : sembelit, sakit perut, tinja berwarna hitam atau berwarna gelap atau,
pewarnaan sementara pada gigi dll. (Hallosehat, 2019)
3. EPO : Pyrexia (10-42%), Nausea (11-35%), Hypertension (14-27%), Cough (4-26%),
Vomiting (12-28%), Pruritus (12-21%), Rash (2-19%), Headache (5-18%), Arthralgias
(10-16%) dll.
4. Atorfastatin : diare, nasofaring, Arthralgia
5. Amlodipin : mual, muntah, pusing,edema
6. Valsartan : hipotensi, hiperkalemia, vertigo, muntah
7. Ledispavir : kelelahan, sakit kepala, mual, insomna

PEMBAHASAN

Citicolin
Pasien dengan stroke sedang hingga berat mungkin dapat dilakukan pengobatan
dalam 24 jam dari timbulnya gejala. Dalam salah satu penelitian tidak adanya
perbedaan yang ditemukan pada titik akhir hasil global 90 hari (OR, 1,03; 95%
CI, 0,86-1,25; P = 0,364). Beberapa uji coba GM1-ganglioside, yang juga stabil,
belum menunjukkan hasil yang membaik dengan pengobatan .(Jaunch, 2013)

Forneuro
Vitamin untuk Pencegahan Stroke (VISP) pada studi sebelumnya menyarankan
mungkin ada sub kelompok pasien dengan hyperhomocysteinemia dan serum
vitamin B12 menengah kadar yang mungkin mendapat manfaat dari terapi. Folat
dan vitamin terapi B12 terbukti mencegah patah tulang di kalangan orang
Jepang pasien dengan stroke iskemik baru-baru ini. RCT besar di pasien non-
stroke telah gagal menunjukkan manfaat untuk rutinitas suplemen dengan
vitamin B, vitamin C, vitamin E, ataubeta karoten.240 Pengecualian mungkin
asam folat. (Kernan, 2014)

Terapi Hepatitis C genotype 1B (coba cariin lagi kalo dpt ya)(biar gak sama)
Pada terapi ini digunakan golongan obat Direct Acting Antiviral Agents
second generation yakni Harvoni (Ledispavir dan Sofosbuvir). Dimana obat
Harvoni adalah tablet kombinasi dosis tetap yang mengandung ledipasvir 90 mg
dan sofosbuvir 400 mg yang diberikan satu kali sehari untuk terapi HCV.
Pengobatan dilakukan kurang lebih selama 12 minggu. (Stephen, 2018)
Terapi ini memiliki tingkat SVR yang sangat baik pada pasien lanjut
usia yang berusia 65 tahun keatas. Dimana dengan infeksi HCV genotipe 1 dari
3 uji klinis fase 3 besar: ION-1, ION-2, dan ION-3.4,5,54,55 Tingkat SVR
dengan terapi kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir tanpa ribavirin pada pasien
lansia adalah 89% (17/19), 100% (40/40), dan 97% (30/31) dalam 8 minggu, 12
minggu, dan dalam periode pengobatan 24 minggu, dimana pada pasien lanjut
usia menghasilkan tingkat SVR8, SVR12, dan SVR24 sebesar 92% (12/13),
97% (28/29), dan 100% (20/20).(Justin, 2015)
(Justin, 2015)
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Saifuddin, dkk. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepasi.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Baradero, dkk. 2008. Klien Gangguan Kardiovaskuler. Jakarta: EGC.

Bare & Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart
(Alih bahasa Agung Waluyo) Edisi 8 vol.3. Jakarta: EGC

DiPiro J. T., Wells B. G., Schwinghammer T. L., and DiPiro C. V. 2015.


Pharmacotherapy Handbook, ninth Edition. McGraw-Hill Education Companies:
Inggris.

Mubarrok, Aidil.2017. Klasifikasi Penyakit Hepatitis Danpencegahannya. Palembang: Sekolah


Tinggi Ilmu Farmasi Bhakti Pertiwi.

Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2006.

Sudoyo A, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI; 2006.

Wening Sari, L. I. (2008). Care Yourself Hepatitis. Jakarta: Penebar Plus.