Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM FITOFARMAKA

TUGAS 1
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga
Dengan Maserasi (Kinetika)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK : 5

KELAS: F

NOVIANTI (201610410311029)
AJI BAYU (201610410311037)
BELLA SINTIYA MEIRANI (201610410311201)
ANINDA FEBRIAN (201610410311219)

DOSEN PEMBIMBING:
Siti Rofida, M.Farm., Apt.
Amaliyah Dina A., M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini, Indonesia merupakan suatu negara yang terkenal akan adanya sumber
daya yang melimpah. Salah satunya adalah tanaman-tanaman obat. Tanaman obat
sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Beberapa masyarakat Indonesia
sering memanfaatkan berbagai macam tanaman yang digunakan untuk
penyembuhan penyakit, seperti tanaman kencur, temu lawak, blimbing wuluh, dan
sebagainya. Salah satu tanaman obat yang penting dan sering dikonsumsi adalah
kencur, dengan nama latin Kaempferia galanga L.
Kencur (Kaempferia galanga L) adalah salah satu jenis empon-empon atau
tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (zingiberacea). Tanaman
ini banyak tersedia di alam sehingga sejak dulu mudah didapat. Selain digunakan
sebagai bumbu masakan, tanaman tersebut telah dipercaya mempunyai banyak
khasiat bagi tubuh. Rimpang atau rizoma dari tanaman tersebut mengandung
minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan. Senyawa yang
terkandung dalam tanaman ini memiliki berbagai khasiat seperti mengatasi radang
lambung, mengatasi diare, obat anti nyeri, obat batuk, dan lain-lain. Selain itu,
menurut Depkes RI tahun 2001, rimpang dari tanaman kencur berkhasiat sebagai
obat lambung, obat mual, obat bengkak, dan obat bisul.
Dengan mengetahui banyaknya khasiat dari satu bahan alam, maka dapat
dibayangkan betapa banyak pula penyakit yang dapat disembuhkan dari ribuan
tanaman obat yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu, kita harus mengetahui
bagaimana cara membuat ekstrak rimpang Kaempferia galanga L. Diharapkan
setelah dilakukan praktikum ini, maka dapat memahami bagaimana prisip dasar
dan tekhnik dalam proses pembuatan ekstrak rimpang dari bahan alam yaitu kencur
(Kaempferia galanga L).

1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, praktikum ini bertujuan untuk :
1. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara pemisahan dan pemurnian hasil
isolasi dari tanaman kencur (Kaempferia galanga).
2. Mahasiswa dapat memahami perbedaan cara ekstraksi dari rimpang kencur
(Kaempferia galanga) melalui metode maserasi, maserasi kinetik dan
ultrasonik.

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat melakukan bagaimana proses pembuatan ekstrak yang baik
dan benar.
2. Mahasiswa dapat mengetahui ekstraksi rimpang Kaemferia galanga dengan
menggunakan berbagai jenis metode yaitu maserasi, maserasi kinetik dan
ultrasonik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur


2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kencur

Kerajaan : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia L.
Spesies : Kaempferia galanga L. (itis.gov)
Kencur (Kaempferia galanga L) merupakan tanaman tropis yang banyak
tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman
ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam
masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur
sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Bagian dari
tanaman kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal didalam tanah
yang disebut dengan rimpang kencur atau rizoma (Soeprapto,1986).
Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah
dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas
berwarna hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun
berukuran 10 – 12 cm dengan lebar 8 – 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis
dari pangkal daun tanpa tulang tulang induk daun yang nyata (Backer,1986).

2.1.2 Nama Lain Tanaman Kencur


Nama lokal dari Kaempferia galanga L adalah kencur (Indonesia, Jawa) ;
Cikur (Sunda) ; Ceuko (Aceh) ; Kencor (Madura) ; Cekuh (Bali) ; Kencur, sukung
(Minahasa) ; Asauli, sauleh, soul, umpa (Ambon) ; dan Cekir (Sumba) (Suryo,
2010).
2.1.3 Manfaat Tanaman Kencur
Efek farmakologis dari tanaman kencur adalah mempunyai aroma yang
khas dengan rasa yang pahit. Kandungan minyak aktsiri dalam kencur juga
berkhasiat sebagai analgesik (penghilang rasa sakit) dan menghangatkan badan
(Suryo, 2010).
Tanaman kencur mempunyai kegunaan tradisional dan sosial cukup luas
dalam masyarakat Indonesia. Produk utama kencur adalah rimpangnya yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan obat nabati (simplisia) tradisional, untuk bahan
industri rokok kretek sebagai saus tembakau, dan untuk bahan baku indutri
minuman penyegar serta bumbu dapur. Sebagai tanaman obat, kencur memberikan
manfaat cukup banyak terutama rimpangnya. Rimpang kencur berkhasiat untuk
obat batuk, gatal-gatal pada tenggorokan, perut kembung, rasa mual, masuk angin,
pegal-pegal, pengompresan bengkak, tetanus, penambah nafsu makan dan juga
sebagai minuman segar (Rukmana, 1994).
Kencur tumbuh subur di daerah dataran rendag atau pegunungan yang
tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak
lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. Bunganya tersusun setengah
duduk dengan mahkota bunga berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga
berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominan. Tumbuhan ini tumbuh
baik pada musim penghujan. Kencur dapat ditanam dalam pot atau di kebun yang
cukup sinar matahari, tidak terlalu basah, dan di tempat terbuka. (Agoes, 2010)

2.1.4 Kandungan Tanaman Kencur


Kandungan kimia rimpang kencur adalah pasti (14,4%), mineral (13,73%),
dan minyak atsiri (0,02%) berupa sineol, asam metil kanil dan pentadekaan, asam
cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic,
alkaloid dan gom (Joko Suryo, 2010).
Kencur (Kamferia galanga L) adalah salah satu jenis temu-temuan yang
banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga dan industri obat maupun makanan serta
minuman dan industri rokok kretek yang memiliki prospek pasar cukup baik.
Kandungan etil pmetoksisinamat (EPMS) didalam rimpang kencur menjadi bagian
yang penting didalam industri kosmetik karena bermanfaat sebagai bahan pemutih
dan juga anti eging atau penuaan jaringan kulit (Rosita,2006).
Penelitian telah membuktikan kebenaran pengalaman nenek moyang kita
bahwa dalam tanaman kencur memang mengandung senyawa tabir surya yaitu etil
p-metoksisinamat. Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil
isolasi rimpang kencur yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu
pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. Senyawa tabir surya terutama yang
berasal dari alam dirasa sangat penting saat ini dimana tidak hanya wanita saja
yang memerlukan perlindungan kulit akan tetapi pria pun memerlukan tabir surya
untuk melindungi kulit agar tidak coklat atau hitam tersengat sinar matahari. Kulit
dengan perlindungan akan tampak lebih baik dalam hal warna yaitu terlihat lebih
bersih dan putih (Barus,2009).

2.2 Ekstraksi
Ekstrak merupakan sediaan sari pekat tumbuh-tumbuhan atau hewan yang
diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan obat,
menggunakan menstrum yang cocok, uapkan semua atau hampir semua dari
pelarutnya dan sisa endapan atau serbuk diatur untuk ditetapkan standarnya (Ansel,
1989).
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai
kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi
dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan
penyaringan. Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal
untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu, ekstrak awal perlu dipisahkan
ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang sama.
(Mukhriani, 2014)
2.3 Metode Ekstraksi
Jenis-jenis metode ektraksi dapat digunakan adalah sebagai berikut :
2.3.1 Maserasi
Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan.
Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Metode ini dilakukan
dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert
yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai
kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi
dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan
penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak
waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa
senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada
suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya
senyawa-senyawa yang bersifat termolabil (Mukhriani, 2014)
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga
sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang keluar sel , maka
larutan mendesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel. Secara teknologi
maserasi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada
keseimbangan. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara
pengerjaan dan peralatan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan kerugian
maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Sudjadi,
1988)
Maserasi merupakan teknik ekstraksi dari sampel padat menggunakan
pelarut tertentu biasanya digunakan metanol atau etanol. Metanol memiliki
kelebihan memiliki titik didih yang lebih rendah sehingga mudah diuapkan pada
suhu yang lebih rendah, tetapi bersifat lebih toksik. Sedangkan etanol memiliki
kelemahan memiliki titik didih yang relatif tinggi sehingga lebih sulit diuapkan,
tetapi relatif tidak toksik dibanding metanol (Atun, 2014).
2.3.2 Ultrasound - Assisted Solvent Extraction
Merupakan metode maserasi yang dimodifikasi dengan menggunakan
bantuan ultrasound (sinyal dengan frekuensi tinggi, 20 kHz). Wadah yang berisi
serbuk sampel ditempatkan dalam wadah ultrasonic dan ultrasound. Hal ini
dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik pada sel hingga menghasilkan
rongga pada sampel. Kerusakan sel dapat menyebabkan peningkatan kelarutan
senyawa dalam pelarut dan meningkatkan hasil ekstraksi. (Mukhriani, 2014)
Salah satu kelebihan metode ekstraksi ultrasonik adalah untuk
mempercepat proses ekstraksi, dibandingkan dengan ekstraksi termal atau
ekstraksi konvensional, metode ultrasonik ini lebih aman, lebih singkat, dan
meningkatkan jumlah rendemen kasar. Ultrasonik juga dapat menurunkan suhu
operasi pada ekstrak yang tidak tahan panas, sehinga cocok untuk diterapkan pada
ekstraksi senyawa bioaktif tidak tahan panas (Handayani,dkk. 2016).

2.3.3 Maserasi Kinetik


Maserasi kinetic yaitu maserasi termodifikasi dengan pengadukan terus-
menerus menggunakan kecepatan konstan sehingga proses ekstraksi lebih efektif.
Proses maserasi dilakukan selama waktu tertentu dengan sesekali diaduk, biasanya
dibutuhkan waktu 1-6 hari. Selain methanol atau etanol pelarut yang lain yang
biasa digunakan antara lain aseton, klroform, atau sesuai dengan kebutuhan.
Setelah waktu tertentu ekstrak yang disebut maserat dipisahkan dengan cara
penyaringan. Maserasi biasanya dilakukan pengulangan dengan penambahan
pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat yang pertama yang disebut
remaserasi. Remaserasi biasanya dilakukan tiga kali atau sampai senyawa yang
diinginkan dalam sampel benar-benar sudah habis. Apabila dalam proses maserasi
dilakukan pengadukan terus menerus maka disebut juga dengan maserasi kinetik.
Sedangkan apabila dalam maserasi kinetik tersebut dilakukan di atas suhu kamar,
biasanya 40-50oC disebut digesti. Cara yang biasa dilakukan adalah dengan
menempatkan sejumlah bahan ditempatkan pada wadah tertutup, ditambah dengan
pelarut dengan perbandingan kira-kira 1:7, atau sedikitnya semua sampel tercelup.
Diamkan selama 1-6 hari pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya dengan
sesekali diaduk. Setelah itu, cairan dipisahkan, buang bagian yang mengendap.
Pada saat proses perendaman senyawa organik yang terkandung dalam sampel
berdifusi melewati dinding sel untuk melarutkan konstituen dalam sel dan juga
memacu larutan dalam sel untuk berdifusi keluar. Sistem yang digunakan dalam
metode ini adalah sistem statis, kecuali saat digojog, proses ekstraksi berjalan
dengan difusi molekuler, sehingga proses ini berlangsung secara perlahan. Setelah
ekstraksi selesai, residu dari sampel harus dipisahkan dengan pelarut dengan
didekantir atau disaring. Sejumlah filtrat kemudian dicampur dan dipekatkan
(Atun, 2014).

2.4 Macam-Macam Ekstrak


Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair yang dibuat dengan
menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang paling cocok, di luar
pengaruh cahaya matahari langsung (Departemen Kesehatan RI, 1979). Ekstrak
berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi :
1. Ekstrak encer, sediaan yang masih dapat dituang
2. Ekstrak kental, sediaan yang tidak dapat dituang dan memiliki kadar air sampai
30%
3. Ekstrak kering, sediaan yang berbentuk serbuk, dibuat dari ekstrak tumbuhan
yang diperoleh dari penguapan bahan pelarut
4. Ekstrak cair, mengandung simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai
bahan pengawet

2.5 Tinjauan Pelarut


Cairan penyari atau pelarut digunakan dalam proses pembuatan ekstrak adalah
penyari yang baik untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau aktif. Penyari
tersebut dapat dipisahkan dari bahan dan dari senyawa kandungan lainnya. Faktor
utama yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan cairan penyari adalah selektifitas,
ekonomis, kemudahan bekerja, ramah lingkungan (Depkes RI, 1986)
Pelarut yang digunakan pada praktiku ini adalah pelarut etanol 96%. Etanol
digunakan karena merupakan pelarut yang bersifat polar, universal, dan mudah
didapat. Etanol disebut juga etil alkohol atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang
mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna dan merupakan alkohol yang paling
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam alkohol
rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Senyawa ini
merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi
EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5) (Lei dkk., 2002).
Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil
dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam
ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap daripada senyawa
organik lainnya dengan massa molekul yang sama (Lei dkk, 2002).
BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
1. Toples selai 1. Serbuk rimpang kencur
2. Alat penyaring 2. Etanol 96%
3. Pipet 3. Cab-o-sil
4. Aluminium foil

5. Batang pengaduk

6. Loyang

7. Kertas saring

8. Beaker glass

3.2 Kerangka Operasional

Ditambah 1000 ml
Ditimbang 400 g Dimasukkan etanol 96%, sampai
serbuk rimpang kencur bejana maserasi serbuk terbasahi

Aduk dengan Tutup mulut


Ditambahkan 600 ml
kecepatan tertentu bejana dengan
etanol 96% aduk ad
selama 2 jam alumunium
homogen
Hasil maserasi
Catat kecepatan yang
disaring, filtrate Lakukan kembali
digunakan
ditampung maserasi kinetik
(perlakuan 2)
Lakukan kembali
Hasil maserasi
maserasi kinetik
disaring, filtrate Ditambah 1200 ml
(perlakukan 3)
ditampung etanol 96% pada
residu selama 2 jam
Hasil maserasi pada kecepatan yang
Ditambah 1200 ml sama
disaring, filtrate
etanol 96% pada residu
dikumpulkan Filtrat yang terkumpul
selama 2 jam pada
kecepatan yang sama di rotavapor ±400 ml
Taburkan sedikit demi
sedikit cab-o-sil
Homogenkan dan sebanyak 5% dari Ratakan filtrate dalam
simpan dalam wadah ekstrak (20g) ad rata loyang
serta beri label
3.3 Prosedur Operasional
Tahapan-tahapan untuk melakukan ekstraksi dengan menggunakan metode
maserasi kinetik yaitu, pertama ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur,
dimasukkan dalam bejana maserasi lalu ditambahkan 1000 ml etanol 96%, aduk
sampai serbuk terbasahi sempurna. Selanjutnya, ke dalam bejana ditambahkan 600
ml etanol 96%, aduk sampai homogen dan tutup bagian mulut bejana dengan
aluminium, lakukan pengadukan pada kecepatan tertentu dan semua serbuk
simplisia teraduk selama 2 jam, catat kecepatan yang yang digunakan.
Hasil maserasi di atas disaring, lalu tampung filtrat dan lakukan kembali
maserasi atau remaserasi dangan 1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada
kecepatan yang sama dengan kecepatan sebelumnya. Hasil dari remaserasi pertama
ditampung dan disaring. Kemudian tampung filtrat dan lakukan kembali remaserasi
kedua dengan penambahan 1200 ml etanol pada residu selama 2 jam pada kecepatan
yang sama (maserasi awal). Disaring kembali hasil remaserasi kedua dan kumpulkan
semua filtrat menjadi satu.
Tahapan selanjutnya, lakukan kalibrasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak),
berikan tanda pada volume 400 ml. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemekatan
dengan rotavapor yaitu penguapan dengan penurunan tekanan hingga volume tersisa
± 400 ml (tanda kalibrasi) dan pindahkan hasilnya kedalam loyang. Kemudian
ratakan ekstrak pada loyang. Ekstrak tersebut ditambahkan dengan cab-o-sil
sebanyak 5% dari ekstrak (20 g) dengan ditaburkan sedikit demi sedikit secara
merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering), homogenkan dan
simpan pada wadah tertutup (botol selai) serta berikan label identitas pada wadah.
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

4.1 Hasil Perhitungan


1. Jumlah serbuk kencur : 400 g
2. Jumlah hasil ekstraksi : 55,39 g
3. Jumlah cab-o-sil : 20 g
4. Bobot ekstrak yang dihasilkan :
Hasil ekstraksi – bobot cab-o-sil
 55,39 g – 20 g = 35,39 g
5. % rendemen ekstrak kencur

Bobot ekstrak tanpa cab − o − sil


bobot serbuk awal
35,39 g
 𝑥 100% = 8,85%
400 g

6. Perbandingan % rendemen berbagai metode ekstraksi


Kelompok % Rendemen

Maserasi perendaman 1 & 2 8,79 %

Maserasi perendaman 3 & 4 6,51 %

Maserasi kinetik 5 & 6 8,85 %

Maserasi kinetik 7 & 8 9,53 %

Maserasi ultrasonik 9 8,20 %

Maserasi ultrasonik 10 8,54 %

7. Kecepatan pengadukan maserasi kinetik


I : 701 rpm
II : 728 rpm
III : 715 rpm
4.2 Dokumentasi hasil Praktikum

Proses5.pengadukan menggunakan Proses penyaringan dengan Proses pemekatan ekstrak


Vskom 6. Brokfild selama 2 jam corong Buchner untuk cair dengan Rotavapor
7. 3 kali dengan kecepatan
sebanyak memisahkan filtrate dengan
8.
tertentu residu
9.

10.
11. pengeringan ekstrak
Proses Proses penghalusan ekstrak Ekstrak yang telah digerus
12. diberi cab-o-sil pada
setelah yang sudah kering menjadi halus lalu di timbang,
suhu ruang serbuk diperoleh bobot akhir
ekstrak kering (55,39 gram)
BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan pembuatan ekstrak kering rimpang kencur


dengan beberapa metode, antara lain maserasi perendaman, maserasi kinetika,
dan maserasi ultrasonik. Pada kelompok kami dilakukan maserasi dengan kietika
atau pengadukan. Maserasi kinetik merupakan maserasi termodifikasi dengan
pengadukan terus menerus menggunakan kecepatan konstan. Proses maserasi
akan menyebabkan pecahnya dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan
antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit yang ada dalam sitoplasma
akan terlarut dalam pelarut organik. Pelarut yang digunakan dalam praktikum ini
adalah etanol 96%. Pelarut ini akan masuk ke dalam sel dan menyebabkan
protoplasma membengkak dan bahan kandungan sel akan larut sesuai dengan
kelarutannya.
Tahap awal ekstraksi dilakukan dengan mencampurkan serbuk simplisia
kencur sebanyak 400 gram dan ditambahkan pelarut etanol 96%. Tujuan
penambahan etanol dengan konsentrasi tinggi adalah agar terjadi pemisahan
senyawa organik dari campurannya dan menarik seluruh senyawa secara
sempurna. Etanol merupakan pelarut yang bersifat universal yang dapat menarik
senyawa polar, semipolar maupun nonpolar dan dapat mengekstrak senyawa aktif
yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis pelarut lainnya.
Tahap selanjutnya yaitu pengadukan selama 2 jam menggunakan alat mixer
kemudian disaring dengan corong Buchner untuk memisahkan antara filtrat dan
residu rimpang kencur. Selanjutnya dilakukan pengadukan kembali atau
remaserasi pada residu yang ditambah etanol dan dilakukan penyaringan, proses
tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Remaserasi dilakukan untuk meningkatkan
efektivitas ekstraksi dan karena adanya senyawa yang masih tertinggal dalam
residu (belum terekstraksi). Adanya senyawa yang tertinggal dikarenakan pelarut
yang digunakan telah mencapai titik jenuh (Ghina, 2017) sehingga dilakukan
remaserasi agar senyawa tertarik secara sempurna.
Pengadukan dilakukan dengan rata-rata kecepatan 715 rpm, pengadukan ini
sangat berpengaruh pada kelarutan zat terlarut. Semakin banyak jumlah
pengadukan, maka zat terlarut umumnya lebih mudah larut. Pengadukan
menyebabkan partikel-partikel antara zat terlarut dan pelarut akan semakin sering
untuk bertabrakan sehingga luas permukaan menjadi lebih besar dan kelarutan
menjadi lebih cepat. Sehingga dengan adanya pengadukan, metabolit yang
terkandung dalam rimpang kencur lebih mudah larut dalam etanol.
Setelah didapatkan filtrat, filtrat dipekatkan menggunakan rotavapor
hingga pada volume 400 ml. prinsip alat rotary evaporator adalah proses
pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemansan yang dipercepat oleh
putaran dari labu, cairan penyari dapat menguap 5-10o C di bawah titik didih
pelarutnya karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum,
uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu
penampung. Prinsip ini membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut di
dalamnya tanpa pemanasan yang tinggi.
Setelah dipekatkan, hasil yang didapatkan ditambah dengan cab-o-sil
sebanyak 20 g. Cab-o-sil merupakan adsorben yang dapat menyerap partikel
fluida sehingga dapat membentuk sediaan serbuk dengan sifat yang lebih baik.
Campuran tersebut didiamkan ± 24 jam hingga menjadi serbuk kering.
Berdasarkan hasil maserasi kinetic didapatkan persen rendemen sebesar
8,83%. Hasil tersebut sudah memenuhi persyaratan persen rendemen hasil dari
ekstrak kering kencur menurut Farmakope Herbal yaitu tidak kurang dari 8,3%.
Sedangkan persen rendemen dari kelompok 7 dan 8 dengan metode ekstraksi
kinetika yaitu sebesar 9,53%, hasil tersebut juga memenuhi persyaratan.
Pada kelompok yang menggunakan metode maserasi perendaman
didapatkan hasil persen rendemen yaitu; kelompok 1 dan 2 sebesar 8,79%,
kelompok 3 dan 4 sebesar 6,51%. Hasil rendemen dari maserasi perendaman
lebih sedikit daripada hasil maserasi kinetika, hal tersebut disebabkan karena
pada maserasi kinetik dilakukan pengadukan yang dapat mempercepat
kandungan metabolit larut dalam etanol sehingga hasil yang diperoleh lebih
banyak, walaupun pada maserasi perendaman ekstrak direndam lebih lama yaitu
selama 24 jam namun karena pelarut yang digunakan sama maka titik jenuh pada
pelarut juga sama. Titik jenuh pelarut yaitu saat pelarut sudah tidak dapat
melarutkan zat terlarut.
Pada kelompok yang menggunakan metode maserasi ultrasonik,
didapatkan persen rendemen pada kelompok 9 sebsar 8,20% dan kelompok 10
sebesar 8,54%. Maserasi ultrasonik memecah dinding sel dari bahan
menggunakan getaran ultrasonik sehingga kandungan senyawa di dalamnya
dapat keluar dengan mudah. Gelombang ultrasonik adalah gelombang dengan
frekuensi lebih besar dari 20 kHz. Gelombang ultrasonik ini terbentuk dari
pembangkitan ultrason secara local dari kavitas mikro dari sekeliling bahan yang
akan diekstraksi sehingga terjadi pemanasan lokal pada ekstrak dan
meningkatkan difusi ekstrak. Ada efek ganda yang dihasilkan, yaitu pengacauan
dinding sel, pemanasan lokal pada ekstrak dan meningkatkan difusi ekstrak
(Arimpi, 2019). Hasil persen rendemen maserasi ultrasonik lebih sedikit daripada
persen rendemen maserasi kinetik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lita (2010) menunjukkan bahwa
metode ekstraksi ultrasonil lebih baik dari maserasi kinetic karena kadar
flavonoid dan fenol daun sendok yang diekstraksi menggunakan air lebih banyak
didapatkan pada metode ultrasonik. Hal tersebut menunjukkan bahwa bukan
hanya metode yang dapat mempengaruhi jumlah rendemen namun jenis pelarut,
waktu ekstraksi, dan kelarutan senyawa yang terdapat dalam simplisia juga dapat
mempengaruhi jumlah rendemen maka untuk membandingkan hasil persen
rendemen dengan penelitian lainnya harus dengan perlakuan yang sama.
Dari data persen rendemen yang didapatkan, pada praktikum kali ini
didapatkan hasil akhir ekstraksi yang lebih banyak pada maserasi kinetik. Hal
tersebut menunjukkan metode ekstraksi maserasi kinetik lebih baik dari maserasi
perendaman dan ultrasonik dan maserasi ultrasonik lebih baik dari maserasi
perendaman. Dari data tersebut juga menunjukkan bahwa persen rendemen dari
beberapa kelompok memenuhi persyaratan yaitu tidak kurang dari 8,3% namun
pada kelompok 3 dan 4 maserasi perendaman mendapatkan persen rendemen
kurang dari 8,3% yaitu sebesar 6,51% dan maserasi ultrasonik kelompok 9
sebesar 8,20%.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode
ekstraksi maserasi kinetik lebih baik dari maserasi perendaman dan ultrasonik dan
maserasi ultrasonik lebih baik dari maserasi perendaman berdasarkan hasil persen
rendemen yang didapatkan. Persen rendemen dari beberapa kelompok sudah
memenuhi syarat yang tertera pada Farmakope Herbal kecuali kelompok 9 maserasi
ultrasonik dan kelompok 3 dan 4 maserasi perendaman.

6.2 Saran
Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang digunakan
dipersiapkan terlebih dahulu, agar praktikum berjalan dengan baik. Dan untuk para
praktikan agar mempersiapkan diri dengan materi-materi yang akan dipraktikkan
agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat. Jakarta : UI Press.
Atun, Sri. 2014. Metode Isolasi dan Identifikasi Struktur Senyawa Organik Bahan
Alam. Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. urnal
Konservasi Cagar Budaya Borobudur Volume 8 Nomor 2.
Backer. C. A. R. C. B. Van den Briak.1968. Flora of Java. Vol 2. Walters
Noordhoff.N.V. Groningen.
Barus,R.2009. Amidasi Etil p-metoksisinamat yang Diisolasi Dari Kencur. Medan :
Thesis Pasca Sarjana USU.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan Galenik
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ke tiga
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Inventaris Tanaman Obat Indonesia
(I). Jilid 2.
Handayani, Hana, dkk. 2016. Ekstraksi Antioksidan Daun Sirsak Metode Ultrasonic
Bath (Kajian Rasio Bahan : Pelarut dan Lama Ekstraksi). Malang : Jurnal Pangan
dan Agroindustri FTP UB.
Http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/25449/ Diakses pada Minggu,
18 September 2019 Jam 21:04
Itis.gov Diakses pada Minggu, 18 September 2019 Jam 20:13
Lei, Z., Wang H., Zhou R., Duan Z. 2002. Influence of salt added to solvent on
extractive distillation. Chem Eng J. 87: 149-56.
Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif.
Jurnal Kesehatan Vol II. Makassar : Farmasi FIKES UIN Alauddin Makassar.
Pradipta. 2011. e-journal.uajy.ac.id/2670/3/2BL01019. Yogyakarta : Universitas Atma
Rosita. S. M. D. O. Rostiana dan W. Haryudin. 2006. Respon Kencur (Kaempferia
Galanga Linn) Terhadap Pemupukan. Prosiding Seminar Nasional dan Pemeran
Tumbuhan obat Indonesia XXVIII.
Rukmana, Rahmat. 1994. Kencur. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Soeprapto, R. 1986. Undang -Undang Pokok Agraria Dalam Praktek. Jakarta : C.V.
Mitra Sari.
Sudjadi. 1988. Metode Pemisahan. Yogyakarta: KANISIUS
Suryo, Joko. 2010. Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta : PT.
Bentang Pustaka.