Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Dalam rangka menghadapi perkembangan perekonomian duniakhususnya perdagangan


bebas maka masalah standardisasi, sertifikasi danakreditasi memegang peranan penting dalam
menjamin kepercayaan mutuproduk yang diperdagangkan. Demikian juga yang berlaku pada
produkperikanan budidaya, dalam perdagangan dunia memerlukan suatu pengakuan sistem
jaminan mutu pada masing-masing negara berdasarkan transparansi, objektivitas
dan kepercayaan.Disamping persyaratan mutu produk maka produk perikanan
budidayadiharapkan aman untuk dikonsumsi serta ramah lingkungan. Terkait denganhal tersebut,
di bidang industri perbenihan berupaya untuk meningkatkan produk benih ikan bermutu dalam
memenuhi persyaratan yang diinginkan oleh
pembudidaya dengan melakukan penerapan standar produksi perbenihan yang baik dan
benar sesuai kaidah Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB).
Agar pelaku usaha dan pihak-pihak terkait dapat menerapkan kaidah Cara Pembenihan
Ikan yang Baik, maka diperlukan suatu pedoman. Dengandemikian keamanan produk perikanan
budidaya mulai dari proses pembenihan,pembesaran sampai dengan pengolahannya dapat
dipertanggungjawabkankeamanannya dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing
produkperikanan budidaya.Kami sangat mengharapkan bahwa Pedoman Cara Pembenihan
Ikanyang Baik yang telah disusun ini dapat diterapkan oleh para pelaku usahapembenihan ikan,
sehingga benih ikan yang dihasilkan memenuhi persayaratanmutu bagi usaha pembudidayaan.
Kritik dan saran membangun sangat kamiharapkan untuk penyempurnaan Pedoman ini.

Jakarta, Januari 2008


Direktur Jenderal Perikanan Budidaya

DR. Ir. Made L. Nurdjana


NIP. 080 032 270
I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Potensi untuk pengembangan usaha perikanan budidaya di Indonesiasangat besar. Bila potensi ini dikelola dengan baik,
akan dapat menjadi andalansumber pertumbuhan ekonomi. Pada saat ini teknologi pembenihan danpembesaran berbagai
komoditas ikan budidaya bernilai ekonomis telah dapatdikembangkan dengan baik, antara lain adalah udang, kerapu, kakap,
nila,bandeng, patin, lele, gurame dan ikan mas. Agar kegiatan usaha budidayaikan dapat berlangsung sepanjang tahun dengan
produksi maksimal,diperlukan kontinuitas benih ikan baik dalam jumlah maupun mutu. Dengandemikian produksi budidaya ikan
dapat lebih terjamin dalam memenuhikebutuhan pasar domestik maupun internasional.Memasuki era globalisasi dan perdagangan
bebas serta berkembangnyaisu-isu internasional akhir-akhir ini, menimbulkan tantangan multi dimensi yangharus dihadapi dalam
pengembangan usaha perikanan budidaya, antara lain :(1) perdaganganan global yang sangat kompetitif, (2) ketatnya
persyaratanmutu dan keamanan pangan yang ditetapkan oleh negara-negara pengimpor,(3) tuntutan konsumen dalam dan
luar negeri terhadap mutu,penganekaragaman jenis, bentuk produk dan cara penyajian, dan (4) tuntutanuntuk melaksanakan
tatacara budidaya ikan yang bertanggung jawab danberkelanjutan (responsible and sustainable aquaculture).Untuk melaksanakan
kegiatan usaha perikanan budidaya yangberkelanjutan, maka penerapan tata cara budidaya yang bertanggung jawabharus dimulai
dari kegiatan pembenihan sampai dengan pembesarannya.Dalam hal ini, selain jumlah yang mencukupi, mutu benih juga
merupakansalah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya. Benih yang bermutudicirikan antara lain: pertumbuhan
cepat, seragam, sintasan tinggi, adaptifterhadap lingkungan pembesaran, bebas parasit dan tahan terhadap penyakit,efisien
dalam menggunakan pakan serta tidak mengandung residu bahan kimiadan obat-obatan yang dapat merugikan manusia dan
lingkungan. Agardihasilkan benih yang bermutu dan layak edar, maka dalam kegiatan usahapembenihan harus menerapkan teknik
pembenihan sesuai dengan standar danprosedur pembenihan yang baik. Untuk itu perlu dibuat suatu pedoman tentang

Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB,Good Hatchery Practices) yang dapatdigunakan sebagai acuan bagi para pelaku
usaha pembenihan ikan dalammenghasilkan benih yang bermutu.

1.2 Maksud

Pedoman CPIB disusun dengan maksud sebagai :a. Pedoman bagi para pelaku usaha pembenihan
dalam memproduksibenih ikan bermutu;b. Pedoman bagi pembina dan auditor dalam melakukan pembinaan

dan penilaian penerapan CPIB di unit pembenihan.

1.3 Tujuan

Pedoman CPIB disusun dengan tujuan untuk:a. Membantu pelaku usaha pembenihan dalam meningkatkan dayasaing
produk benih ikan yang dihasilkan;b. Menjamin keberlangsungan usaha pembenihan ikan.

1.4 Pengertian dan Istilah

 Bahan Kimia
adalah bahan anorganik maupun organik reaktif yangdigunakan untuk usaha pembenihan ikan.
 Benih Ikan
adalah ikan dalam umur, bentuk dan ukuran tertentu yangbelum dewasa, termasuk telur, larva, dan biakan
murni alga.
 Benih Bermutu
adalah benih yang dihasilkan melalui proses produksi yangbaik dan benar, yang dicirikan oleh beberapa karakteristik
antara lain pertumbuhan cepat, seragam, sintasan tinggi, adaptif terhadap lingkunganpembesaran, bebas parasit dan
tahan terhadap penyakit, efisien dalammenggunakan pakan serta tidak mengandung residu bahan kimia dan obat-obatan
yang dapat merugikan bagi manusia dan lingkungan.
 Biosecurity
adalah upaya pengamanan sistem budidaya dari kontaminasiorganisme pathogen dari luar dan mencegah
berkembangnya organismepathogen ke lingkungan.
 Cara Pembenihan Ikan yang Baik
adalah cara mengembangbiakan ikandengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan
telur,pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol, melaluipenerapan teknologi yang meenuhi persyaratan
biosecurity Mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).Ikanadalah segala jenis organisme
yang seluruh atau sebagian dari siklushidupnya berada di dalam lingkungan perairan.
 M a m p u t e l u s u r ( T r a c e a b i l i t y )dalam pembenihan ikan
 adalah kemampuandalam menelusuri asal usul lokasi, sarana produksi, proses produksi dandistribusi benih/induk
berdasarkan rekaman yang dibuat selama prosespembenihan, sebagai jaminan untuk pelanggan bahwa semua
tahapandalam proses produksi dilakukan sesuai dengan standar lingkungan, sosialdan keamanan pangan.
 K o n t a m i n a n dalam pembenihan ikan adalah suatu bahan (organisme,bahan kimia, obat-obatan dan lain-lain) yang
masuk dan atau keluar darilingkungan pembenihan yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadapbenih ikan dan
lingkungan.
 Manager Pengendali Mutu (MPM)
dalam CPIB adalah personil bersertifikatyang ditunjuk oleh pimpinan unit pembenihan untuk mengemban
tugas,wewenang dan tanggung jawab mulai dari tahap perencanaan, penerapan,dan konsistensi penerapan CPIB.
 Obat Ikan
adalah bahan atau zat kimia yang digunakan dalam upayapencegahan penyakit dan atau mengembalikan kondisi
kesehatan ikan.
 PembenihIkan
adalah pelaku usaha yang melakukan kegiatanmenghasilkan benih ikan.
 Pembenihan Ikan
adalah proses menghasilkan benih ikan dengan cara
melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol;
 Perbenihan Perikananselanjutnya disingkat
Perbenihanadalah segalasesuatu yang berhubungan dengan pengadaan, pengelolaan, peredarandan pengawasan
benih ikan
 Polymerase Chain Reaction (PCR)
Adalah teknik analisis melalui suatuamplifikasi (penguatan) sebagian segmen DNA/RNA secara spesifik agardapat
dibandingkan dengan DNA penciri (primer) yang hasilnya dapatmenunjukkan keberadaan materi atau sisa materi
kehidupan suatuorganisme;

 Residu ObatIkan
adalah akumulasi sisa obat atau bahan kimia danderivatnya (turunannya) di dalam jaringan atau organ tubuh ikan;
 Sanitasi Lingkungan Pembenihan
Adalah upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan tumbuh dan berkembangbiaknya organismepathogen dalam
lingkungan unit pembenihan ikan yang dapatmembahayakan manusia.
 Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan olehBadan Standardisasi Nasional (BSN) dan
berlaku secara nasional.
 Uji Stres (s t r e s s t e s t )
adalah kegiatan menguji ketahanan ikan yang belumdiketahui status kesehatannya terhadap perubahan lingkungan yang
dapat
 menyebabkan stres ikan di bawah kondisi normal.
Uji Sanding (cohabitation test)
adalah kegiatan memberikan air mediapemeliharaan ikan atau jaringan ikan atau kotoran ikan yang belumdiketahui status
kesehatannya pada ikan sejenis atau lain jenis yang bebaspenyakit hingga dihinggapi penyakit dari ikan pertama.

1.5 Dasar Hukum


Dasar hukum perangkat perundangan penyusunan Pedoman UmumCPIB ini adalah :
 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan;
 Keputusan Menteri Pertanian No. 26/Kpts/OT.210/1/98 tentang PedomanPengembangan Perbenihan
Perikanan Nasional;
 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.01/MEN/2007 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan
Keamanan Hasil Perikanan;
 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.02/MEN/2007 tentangMonitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan
Biologi dan Kontaminan pada Pembudidayaan Ikan;
 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.02/MEN/2007 tentangCara Budidaya Ikan yang Baik;
II. PERSYARATAN PEMBENIHAN IKAN

2. Persyaratan pembenihan Ikan


Faktor Penentu dari keberlanjutan usaha pembenihan ikan adalah kondisi unit pembenihan
yang memenuhi kelayakan bioteknis yang meliputi lokasi, sumber air, tenaga kerja dan kelayakan
fasilitas. Faktor tersebut diatas merupakan persyaratan opersional serta menghindarai resiko
kegagalan usaha pembenihan.
2.1. Lokasi
Lokasi untuk unit usaha pembenihan ikan, harus berada di daerah yang terbebas dari terhindar dari
cemaran limbah industri, pertanian, pertambangan dan pemukiman. Menghindari resiko kerugian
dan kegagalan operasional suatu unit pembenihan akibat adanya kontaminasi cemaran dari
lingkungan sekitar
Pembenihan ikan sebaiknya tidak terletak di dekat kawasan budidaya. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari resiko terjainya infeksi penyakit pada induk ikan dan benih di unit pembenihan
apabila di kawasan budidaya tersebut terjadi wabah penyakit yang berdekatan dengan kawasan
budidaya harus memiliki sarana pengolahan dan sterilisasi air
2.2. Sumber Air
Persyaratan air yang digunakan dalam proses produksi benih harus layak dan sesuai dengan
kebutuhan hidup dan pertumbuhan ikan yang dipelihara (Sesuai SNI) Kualitas dan kecukuPan
sumber aira akan berdampak langsung terhadap mutu benih dan keberlangsungan usaha
pembenihan
Sumber air yang digunakan untuk proses produksi benih ikan harus tersedia sepanjang tahun serta
bebas cemaran mikroorganisme pathogen, bahan organik dan bahan kimia. Bagi unit pembenihan
yang memperoleh air dari sumber air yang keruh, maka unit pembenihan tersebut harus memiliki
sarana filtrasi/Pengendapan air
2.3. Tenaga Kerja
Untuk menjamin keberhasilan dalam pembenihan ikan maka unit pembenihan harus memilki tenaga
kerja yang kompeten, berdidekasi tinggi serta jumlah sesuai dengan kebutuhan. Pengalokasian
tenaga kerja harus disesuaikan dengan pembagian kegiatan dalam unit pembenihan tersebut
2.4. Kelayakan Fasilitas
Kelayakan fasilitas suatu unit pembenihan ikan menjadi faktor yang cukup penting dalam
penerapan CPIB, karena kelayakan fasilitas akan mempengaruhi operasioanl unit pembenihan
secara optimal. Kelayakan fasilitas dimaksud adalah kesesuaian ketersediaan fasilitas/sarana
pembenihan yang mencakup jumlah, kondisi dan kemampuan (daya dukung)
2.4.1. Bagunan
Kelayakan fasilitas bagunana bagi unit pembenihan ikan dalam rangka penerapan CPIB antara
Laian
A. Ruang Laboratorium
Ruang Laboratorium pada unit Pembenihan Ikan berfungsi sebagai tempat untuk melakukan
kegiatan pengukuran kualitas air dan untuk pengamatan biologi. Keberadaannya harus terpisah
dengan ruangan lain serta terjaga kebersihannya
B. Ruang Mesin
Ruang Mesin (Pompa, genset, Blower) pada unit pembenihan ikan berfungsi untuk melindungi
peralatan-peralatan dari pengaruh negatif udara pantai (sifat korosif), serta melindungi dari tindakan
orang yang tidak bertanggunggungjawab. Ruang tersebut dibuat terpisah anatara satu peralatan
mesin yang ainnya
C. Bangsal Panen
Bangsal Panen dan Pengemasan pada unit pembenihan ikan berfungsi untuk melakukan kegiatan
pemanenan dan pengemasan benih. Bangsal Panen harus terpisah dari ruang kegiatan proses
produksi serta dijaga kebersihannya.
D. Tempat Penyimpanan Pakan
Tempat Penyimpanan pakan pada unit pembenihan ikan berfungsi untuk menjaga agar kualitas
pakan tetap baik serta terhindar dari kontaminan. Tempat penyimpanan pakan harus terpisah dengan
tempat penyimpanan barang lainnya seperti obat-obatan, bahan kimia, maupun perlatan serta terjaga
kebersihannya. Tempat Penyimpanan pakan harus tertutup serta terkontrol kondisinya.
E. Tempat Penyimpanana Bahan Kimia dan Obat-Obatan
Tempat penyimpanan bahan kimia dan obat-obatan pada unit pembenihan ikan berfungsi untuk
menjaga agar kualitas obat-obatan dan bahan kimia tetap baik, srta menghindari kontaminasi
dengan sarana dan prasaranan produksi lainnya. Tempat penyimpanan obat-obatan dan bahan kimia
harus terpisah dari tempat penyimpanan barang lainnya, terjaga kebersihannya serta terkontrol
kondisinya.
F. Tempat Penyimpanan Peralatan
Tempat penyimpanan peralatan harus terpisah dengan tempat penyimpanan barang lain serti obat,
bahan kimia, dan pakan air yang bermutu, dalam jumlah yang cukup, Tempat penyimpanan
peralatan pada
G. Kantor Ruang/Administrasi
Kantor atau ruang administrasi pada unit pembenihan ikan berfungsi untuk melakukan kegiatan
pencataan administrasi dan penyimpanan dokumen serta transaksi jual beli atau menerima tamu
2.4.2. Sarana Filtrasi, Pengendapan dan bak tandon
Unit Pembenihan ikan yang memperoleh air dari perairan umum (Laut) sungai, saluran irigasi)
diharuskan memiliki sarana pengendapan filtarasi dan bak tandon (sesuia SNI) yang berfungsi
untuk mengendapkan, menyaring dan menyimpan air sehingga diperoleh air yang bermutu dalam
jumlah yang cukup. Unit pembenihan ikan yang memperoleh air dari sumur dan mata air langsung
tidak diharuskan memiliki sarana filtrasi

2.4.3. Bak Karantina


Bak Karantina berfungsi sebagai tempat pemeliharaan sementara induk baru yang akan digunakan
guna menvegah masuknya penyakit bawaan induk baru yang berasal dari luar. Bak Karantina
ditempatkan pada ruang yang terpisah dari bak untuk proses produksi. Bak Karantina harus terbuat
dari material yang kokoh, kedap air dan mudah dibersihkan. Jumlah dan volume bak karantina
disesuaikan dengan kebutuhan unit pembenihan

2.4.4. Bak/Kolam Pemeliharaan Induk


Bak/Kolam pemeliharaan induk berfungsi sebai tempat untuk memelihara induk guna
Penetasanproses pematangan gonad yang pada beberapa spesies ikan juga berfungsi sebagai bak
pemijahan. Bak/Kolam pemeliharaan induk tersebut dari material yang kokoh kedap air, mudah
dibersihkan. Bnetuk, Jumlah volume bak/Kolam induk harus disesuaikan dengan sifat biologi dan
persyaratan sebagaimana SNI masing-Masing Komditas

2.4.5 Wadah Pemijahan dan Penetasan


Wadah pemijahan dan penetasan berfungsi sebagai tempat untuk memijahnya indk dan menetaskan
telur. Wadah harus ditempatkan pada ruang khusus yang terkontrol kondisinya. Wadah harus
terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan serta mempunyai kontruksi/bentuk yang memudahkan
pemanenan.

2.4.6. Bak/Kolam Pemeliharaan Benih


Bak/Kolam pemeliharaan benih benrfungsi sebagai tempat untuk memelihara larva sampai menjadi
benih ukuran siap tebar. Bak atau kolam pemeliharaan harus terbuat dari bahan yang mudah
dibersihkan,tahan terhadap bahan kimia pembersihserta mempunyai kontruksi atau bentuk yang
memudahkan pemanenan.
2.4.7. Bak Kultur Pakan Hidup
Bak kultur pakan hidup berfungsi sebagai tempat pengembangbiakan pakan hidup(plankton)dalam
jumlah massal.bak harus ditempatkan terpisah,tidak mudah terkontaminasi,mudah dibersihkan serta
mempunyai kontruksi atau bentuk yang memudahkan pemanenan.

2.4.8. Wadah Penampungan Benih


Berfungsi sebagai tempat penampungan sementara benih dalam jumlah banyak untuk dikemaslebih
lanjut,dengan media air yang bersih dan cukup oksigen serta memudahkan dalam pemanenan dan
pengemasan

2.4.9. Sarana Pengolah Limbah


Tersedianya sarana prngolah lmbah fiunit pembenihan merupakan suatu keharuan,dalam rangka
menetralkan limbah yang berasal dari unit karantina,unit produksi dan unit laboraturium.saana
pengolah limbah dapat berupa bak,kolam peresapan maupun saluran.sarana pengolah limbah
merupakan tempak perlakuan terakhir dari proses penetralan limbah sebelum dibuang keluar
lingkungan unit pembenihan

2.5. Mesin dan Peralatan Kerja


Kelayakan fasilitas mesin/peralatan kerja yang ada diunit pembenihan ikan,merupakan suatu
keharusan dalam rangka menunjang keberhasilan operasional unit pembenihan.kelayakan fasilitas
tersebut antara lain :
A. Peralatan produksi
Peralatan produksi disetiap ruang pemeliharaan harus tersedia dalan jumlah yang cukup sesuai
kebutuhan.material peralatan produksi tidak membahayakan/menimbulkan dampak negatif terhadap
benih yang dielihara,terjaga kebersihannya serta mudah dioperasionalkan

B.Bahan dan peralatan panen


Bahan dan peralatan panen untuk pemanenan dan pengemasan benih harus tersedia dalam jumlah
banyak yang cukup sesuai kebutuhan.peralatan panen harus dibuat dari bahan yang tidak
membahayakan/menimbulkan dampak negatif terhadap benih yang dipanen.mudah dibersihkan
serrta didapatan
C.peralatan mesin
Peralatan mesin harus tersedia dalam jumlah dan daya yang cukup sesuai kebutuhan unit
pembenihan.peralatan mesin harus selalu dirawat secara berkala dan terjaga kebersihannya.mesin
harus diletakkan pada tempat yang tepat agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi benih ikan
yang dipelihara
D.Peralatan laboratorium
Peralatan laboratorium harus tersedia dalamu jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pengamatan
minimal unit pembenihan.peralatan laboratorium harus selalu dirawat dan di kalibrasi secara
berkala.peralatan laboratorium harus diletakkan/disimoan ditempat yang aman dan terhindar dari
kontaminasi bakteri pathogen

2.6. Sarana Biosecurity


Kelayaka sarana biosecurity merupakan keharusan dalam penerapan keharusan dalam pernerapan
CPIB diunit pembenihan ikan,khususnya guna mendukung proses produksi.benih bermutu diunit
pembenihan tersebut.sarana yang diperlukan untuk penerapan Biosecurity antara lain ;
A.pagar
Pagar pada unit pembenihan bertujuan untuk secara fisik membatasi keluar masuknya
mansia,hewan dan kendaraan yang dapat membawa organisme pathogen kedalam lingkungan unit
pembenihan. Pagar dapat terbuat dari material seperti besi, tembok, bambu atau material lainnya
yang kokok dan rapat.
2. Sekat antar unit Produksi
Untuk menghindari kontaminasi maka antar unit produksi harus terpisah secara fisik, baik meluli
penyekatan maupun ruangan/bangunantersendiri. Sekat antar ruang dapat terbuat dari tembok,
paapn triplek atau anyaman bambu yang dilapisi plastik
3. Sarana sterilisasi kendaraan di pintu masuk unit pembenihan
Pada pintu masuk unit pembenihan, harus disediakan sarana streilisasi bagi roda kendaraan yang
akan masuk ke dalam lingkungan unit pembenihan. Sarana celup roda umumnya terbaut dari
semen/beton dengan ukuran luas dan kedalaman disesuaikan dengan lebarnya jalan serta kendaraan.
Sarana celup dibuat di bagian dalam atau dibelakang pagar pintu gerbang lingkungan unit
pembenihan. Bahan sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah kalium permanganat,
Timsen atau Kloramin T (Halamid)
4. Sarana Sterilisasi alas kaki
Sarana alas kakit (foot bath) merupakan tempat untuk sterilisasi alas kaki personil yang akan masuk
kedalam ruang produksi.sarana sterilisasi alas kaki dapat terbuat dari bak semen maupun bahan lain
dengan ukuran.sarana sterilisasi yang aman digunakan antara lain adalah cairan klorin,kalium
permanganat (KmnO4) timsen atau khloramin T (HALAMID) pengguna bahan sterilisasi
disesuaikan dengan spesifikasi bahan.
5.sarana sterilisai tangan
Sarana sterilisasi tangan merupakan tempat untuk sterilisai tangan personil yang akan masuk
keruang produksi.sarana sterilisasi tangan dapat berupa wastafel atau alat penyemprot yang
ditempatkan di depan pintu masuk ruang reproduksi.bahan sterilisasi yang dipakai adalah cairan
alkohol 70% atau sabukup sesui n dalam jumlah yang cus tersedianti septik

6. Pakaian dan perlengkapan kerja personil unit produksi


Pakaian dan perlengkapan dperlengkapan kerja ini haruan dann perlengkapan kerja personil
unit produksi merupakan pakaian dan perlengkapan yang khusus digunakan oleh personil diruang
produksi.pakaian dan perlengkapanini harus tersedia dalam jumlah cukup sesuai jumlah
personil.pakaian dan perlengkapan kerja harus terbuat dari bahan yang tidak membahayakan
pemaakainya dan harus selalu bersih
III .PROSES PRODUKSI

Persyaratan proses produksi pada pembenihan ikan harus mengacu pada SNI pembenihan yang
digunakan dalam pembenihan/Juknis/pedoman,antara lain : (1) manajemen induk (2) manajemen
benih (3)manajemen air(4)pengemasan dan distribusi hasil panen

3.1 Manajemen induk


Tujuan manajemen induk adalah untuk menghasilkan benih ikan yang bermutu.induk yang
digunakan dalam pembenihan ikan harus merupakan induk yang memenuhi syarat sesuai dengan
SNI.
Beberapa tahapankegiatan yang harus dilakukan dalam manajemen induk adalah
1.pemilihan induk 2.karantina induk 3.pemeliharaan induk
3.1.1 Pemilihan induk
Induk yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
A.umur dan ukuran siap pijah sesuai SNI
B.bebas penyakit dan tidak cacat
C.merupakan induk unggul hasil pemulihan atau domestikasi
D.Kejelasan asal usul induk.yang berasal dari dalam negri harus dibuktikan dengan surat keterangan
sedangkan untuk induk yang berasal dari luar negri harus dibuktikan dengan surat keterangan bebas
pathogen berdasarkan uji kesehatan oleh pihak karantina dan dilengkapi dengan dokumen
1.rekomendasi dari direktorat jendreral perikanan budidaya 2.certificate of origin dari negara asal
3.1.2 Karantina induk
Induk yang berasal dari tempat lain atau yang berasal dari luar negeri harus dilakukan tindakan
karantina terlebih dahulu sebelum digunakan dalam proses produksi benih dengan cara melakukan
pengamatan terhadap kondisi dan kesehatan induk. Tujuan perlakuan karantina adalah untuk
menemukan dan mengidentifikasi pathogen potensial yang dibawa oleh induk baru tersebut.
Perlakuan karantina dapat dilakukan dengan cara uji stress dan uji sanding. Apabila ditemukan
penyakit/pathogen yang dapat disembuhkan, maka induk harus diberi perlakuan pengobatan
dengan cara dan bahan yang direkomendasikan. Sedangkan apabila ditemukan penyakit/Pathogen
yang tidak dapat disembuhkan maka induk harus dimusnahkan

3.1.3 Pemeliharaan Induk


Beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam melakukan penanganan dan pemeliharaan induk
antara lain :
Kondiisi ruangan dan wadah pemeliharaan harus disesuaikan dengan persyaratan teknis bagi induk,
dengan tujuan agar gonad induk dapat berkembang serta dapat terjadi perkawinan dan fertilisasi
dengan baik
Selama pemeliharaan induk, harus dilakukan pengelolaaan air dengan baik yang bertujuan agar air
media dalam bak pemeliharaan memenuhi ersyaratan mutu air bagi pemeliharaan induk
Pakan yang diberikan kepada induk harus sesuai dengan kebutuhan induk baik dalam jenis, dosis
frekuensi pemberian, serta kandungan nutrisi yang sesuai bagi perkembangan gonad dan kualitas
telur. Pakan harus bebas bahan kimia dan obat-obatan yang dilarang serta bebas kontaminan.
Penggunaan pakan induk yang berupa pakan buatan harus memperhatikan aturan pakai dan tanggal
kedaluarsa sebagaimana tercantum pada label pengemas ikan. Pakan induk harus disimpan dalam
wadah/tempat yang bersih, terhindar dari kontaminan serta pengaruh sekitar yang mempercepat
pembeusukan
Induk yang terinfeksi suatu penyakit dapat diobati dengan bahan kimia dan obat-obatan yang
direkomendasikan dan atau terdaftar di DKP, dengan memperhatikan aturan pakai serta tanggal
kedaluarsa sebagaimana tercantum pada label pengemas obat. Bahan Kimia dan obat-obatan harus
disimpan di tempat yang bersih dan terhindar dari pengaruh yang mempercepat kerusakan
Pengamatan terhadap perkembangan gonad dan kesehatan induk harus dilakukan dengan baik
secara periodik
Selama proses pemijahan dan penetasan telur harus dilakukan penenaganan dengan baik

3.2. Manajemen Benih


Unit Pembenihan yang hanya melakukan pemeliharaan larva/nauplius menjadi benih/poslarva maka
larva/nauplius harus diperoleh dari UPT Lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam setiap tahapan pemeliharaan benih adalah :
Aklimatisasi benih harus dilakukan sebelum benih ditebar ke dalam wadah pada tahapan
pemeliharaan benih berikutnya
Selama pemeliharaan benih harus dilakukan manajemen air dengan baik agar media pemeliharaan
memenuhi persyaratan mutu air bagi pemeliharaan benih.
Pakan yang diberikan kepada benih baik pakan hidup maupun pakan buatan harus sesuai
dengan jenis, dosis dan frekwensi pemberian pakanserta kandungan nutrisi yang diperlukan
untuk pertumbuhan dan kesehatan. Pakan tersebut harus bebas dari bahan kimia dan obat-obatan
yang dilarang serta kontaminan. Penggunaan pakan buatan harus memperhatikan aturan pakai dan
tanggal kedaluarsa sebagaimana tercantum pada label pengemas pakan. Pakan buatan harus
disimpan di tempat khusus sebagaimana petunjuk pada label pengemas atau petunjuk teknis guna
menghindari kontaminan serta terjaga kualitasnya.
Benih yang terinfeksi satu penyakit dapat diobati dengan bahan kimia dan obat-obatan yang
direkomendasikan dan atau terdaftar di DKP, dengan memperhatikan aturan pakai serta tanggal
kedaluarsa sebagaimana tercantum dalam label pengemas obat. Bahan Kimia dan obat-obatan harus
disimpan di tempat yang bersih dan terhindar dari pengaruh yang mempercepat kerusakan.
Perkembangan, aktivitas dan kesehatan benih harus dimonitor secara rutin baik melalui pengamatan
visual maupun mukroskopis
3.3. Manajemen Air
Air sebagai media hidup ikan merupakan sarana yang vital dalam proses produksi benih. Oleh
karena itu air yang akan digunakan untuk media pemeliharaan induk, penetasan telur, pemeliharaan
benih, dan kultur pakan alami, harus memnuhi standar baku mutu air yaitu bersih, bebas hama dan
parasit serta organisme pathogen. Untuk mmeperoleh standar baku air tersebut dapat dilakukan
melalui proses pengendapan, filtrasi dan perakuan air (water treatment) baik secara fisik, kimia,
maupun biologi. Pada pembenihan yang sumber airnya berasal dari perairan umum yang keruh,
pengendapan air mutlak diperlukan, kemudian dilakukan filtrasi dan perlakuan air antara klorin,
ozon, karbonakti, , EDTA, HCL, dan Natrium tiosulfat (Na2(S2O3).5H2O)

3.4. Panen pengemasan dan distribusi benih


3.4.1. Panen
Beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam pemanenan benih adalah :
Benih yang dipanen haru spada umur dan ukuran sesuai dengan SNI
Panen dilakukan dengan hati-hati, cepat dan cermat
Peralatan panen yang digunakan harus bersih, steril, dan sesuai dengan kebutuhan panen
Sebelum benih dipanen, harus dilakukan pengecekan mutu benih terlebih dahulu antara lain melalui
: 1). Pemeriksaan visual, 2). Pemeriksaan mikroskopis, 3) Pengecekan infeksi Organisme Pathogen,
4) Khusus udang dilakukan PCR untuk mendeteksi adanya virus, 5) Khusus untuk komoditas
ekspor, perlu dilakukan pengecekan residu antibiotik
3.4.2. Pengemasan dan distribusi benih
Setelah benih dipanen dan ditampung, selanjutnya dilakukan pengemasan benih. Kemasan benih
ikan harus menjamin bahwa benih dapat sampai di tempat tujuan dengan aman., terhindar dari
kontaminan dan mempertahankan sintasan benih yang tinggi. Unruk itu beberapa hal yang harus
dilakukan dalam pengemasan benih adalah sebagai berikut :
Peralatan untuk pengemasan yang digunakan harus bersih dan streil dengan ukuran dan jumlah
yang sesuai dengan jumlah benih yang akan dipanen. Kepadatan benih yang dikemas tergantung
dari jenis ikan, umur, ukuran dan waktu tempuh
Bahan pengemasan yang dapat dipakai adalah kantong plastik sebagai wadah benih, air dan
oksigen., kardus atau styrofoam sebagai pengaman bagi transportasi jarak jauh. Untuk menurunkan
metabolisme benih dan mengurangi aktivitas benih dapat dilakukan dengan cara pemberian es batu
maupun bahan anestesi yang direkomendasikan
Distribusi benih dapat dilakukan melalui darat, air maupun udara
IV. PENERAPAN BIOSECURITY

Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha pembenihan iakn adlah
pembenihan tersebut. Hal ini hanya dapat dipenuhi melalui penerapan biosecuryty yang sistematis
dan konsisten. Penerapan biosecuryty dapat dilakukan secara fisik melalui
1. Pengaturan tata letak,
2) Pengaturan akses masuk ke lokasi pembenihan
3) sterilisasi lingkungan,
4) Sanitasi lingkungan dan
6) pengolahan limbah hasil kegiatan pemebenihan

4.1. Pengaturan Tata Letak


Pengaturan tata letak yang baik di suatu unit pembenihan dapat mencegah Menyebarnya organisme
pathogen dan kontaminasi bahan kimia yang tidak diinginkan dari suatu area ke area lainnya. Oleh
karena itu harus dilakukan pengaturan tata letak sub unit pembenihan ikan berdasarkan alur
produksi dilakukan pemagaran, penyekatan dan pengaturan penyimpanan sarana produksi pada
tempat yang sesuai dengan fungsinya masing-masing
4.1.1 Pengaturan Berdasarkan alur produksi
Yang dimaksud dengan pengaturan tata letak berdasarkan alur produksi adalah menata tata letak
serta aliran input di masing-masing sub unit secara berurutan mulai sub unit karantina, induk,
pemijahan dan penetasan, pemeliharaan benih, penyediaan pakan hidup, sampai pemanenenan
benih sehingga mencegah kontaminasi pathogen antar sub unit
4.1.2. Pemagaran dan Penyekatan
Untuk membatasi masuknya orang yang tidak berkepentinagn dan hewan yang berpotensi
membawa organisme pathogen dan pencemar ke dalam unit pembenihan, maka harus dilakukan
pemagaran keliling pada bagian erluar dari batas lokasi unit pembenihan tersebut. Demikian pula
pemagaran atau penyekatan antara arena sub unit produksi yang satu dengan lainnya mutlak
dperlukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang
4.1.3 Penyimpanan
Penurunan mutu bahan biologi dan bahan kimia akibat penyimpanan yang tidak baik dapat
mengakibatkan proses pembenihan yang dilakukan tidak efektif. Oleh karena itu pakan, bahan
kimia dan obat-obatan harus disimpan di tempat yang terpisah dengan kondisi sesuai petunjuk
teknis. Demikian pula peralatan prodksi harus disimpan dengan baik di tempat yang terpisah, bersih
dan siap pakai sesuai dengan peruntukkannya
4.1.4 Pengaturan aksas masuk ke lokasi
Masuknya personil, kendaraan, bahan dan pembenihan dapat menjadi ke lokasi unit

4.2 Pengaturan akses masuk ke lokasi

Masuknya personil, kendaraan, bahan dan peralatan ke lokasi unitpembenihan dapat menjadi
sumber transmisi organisme pathogen masuk keunit pembenihan. Pengaturan akses masuk ke lokasi
unit pembenihan dapatdilakukan dengan membatasi akses masuk hanya satu pintu dan
menyediakansarana sterilisasi. Demikian pula untuk masing-masing sub unit
produksisebaiknya melalui satu pintu dengan menyediakan sarana sterilisasi.

4.3 Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan


Selain melakukan pengaturan tata letak dan akses masuk dari luar kelokasi unit pembenihan, hal yang sangat penting
dalam penerapan
biosecurity
adalah dengan melakukan sterilisasi lingkungan dalam unit pembenihan yangmeliputi sterilisasi, wadah
pemeliharaan, peralatan kerja dan ruangan/bangsaltempat bekerja. Tujuan sterilisasi ini adalah untuk
mengeliminasi semuaorganisme pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit yang dapatmerugikan usaha
pembenihan.

4.1.3 Penyimpanan
Penurunan mutu bahan biologi dan bahan kimia akibat penyimpanan yangtidak baik dapat mengakibatkan proses
pembenihan yang dilakukan tidakefektif. Oleh karena itu pakan, bahan kimia dan obat-obatan harus disimpan
ditempat yang terpisah dengan kondisi sesuai petunjuk teknis. Demikian pulaperalatan produksi harus disimpan
dengan baik di tempat yang terpisah, bersihdan siap pakai sesuai dengan peruntukannya.
4.2 Pengaturan akses masuk ke lokasi
Masuknya personil, kendaraan, bahan dan peralatan ke lokasi unitpembenihan dapat menjadi sumber transmisi
organisme pathogen masuk keunit pembenihan. Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan dapatdilakukan
dengan membatasi akses masuk hanya satu pintu dan menyediakansarana sterilisasi. Demikian pula untuk masing-
masing sub unit produksisebaiknya melalui satu pintu dengan menyediakan sarana sterilisasi.

4.3 Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan


Selain melakukan pengaturan tata letak dan akses masuk dari luar kelokasi unit pembenihan, hal yang sangat penting
dalam penerapan
biosecurity
adalah dengan melakukan sterilisasi lingkungan dalam unit pembenihan yangmeliputi sterilisasi, wadah
pemeliharaan, peralatan kerja dan ruangan/bangsaltempat bekerja. Tujuan sterilisasi ini adalah untuk
mengeliminasi semuaorganisme pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit yang dapatmerugikan usaha
pembenihan.

4.3.1 Desinfeksi wadah pemeliharaan


Pemakaian wadah pemeliharaan yang terus menerus tanpa perlakuandesinfeksi akan menjadi sumber penyakit yang
dapat berkembang dari sikluspemeliharaan yang satu ke siklus pemeliharaan berikutnya. Pencucian
wadahpemeliharaan dengan desinfektan harus dilakukan setelah digunakan dansetiap memulai pemeliharaan baru
untuk memastikan bahwa sumber penyakittidak berkembang dari siklus pemeliharaan sebelumnya. Jenis desinfektan
ang digunakan harus berupa bahan yang direkomendasikan danmemperhatikan prosedur penggunaan dan
penetralannya.
4.3.2 Desinfeksi peralatan dan sarana produksi
Peralatan dan sarana yang digunakan dan berhubungan langsungdengan air media pemeliharan dapat menjadi media
berkembangnyaorganisme pathogen. Oleh karena itu peralatan operasional yang digunakanharus didesinfeksi baik
sebelum maupun setelah digunakan dalam operasionalpembenihan. Sedangkan sarana pipa pengairan dan aerasi
harus diberidesinfektan dan dikeringkan setiap selesai satu siklus produksi. Selainmenggunakan bahan desinfektan
dapat dibantu dengan penjemuran sinarmatahari
4.3.3 Sterilisasi ruangan produksi
Sterilisasi ruangan atau bangsal pembenihan bertujuan memutus siklushidup organisme yang
tidak dikehendaki, dilakukan pada lantai, dinding, atapdan sudut-sudut ruangan yang sulit dibersihkan dengan cara
fumigasi ataupenyemprotan bahan desinfektan oksidatif yang direkomendasikan.
4.4 Sanitasi Lingkungan Pembenihan
Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang baik dapat memperkecilpeluang berkembangnya organisme pathogen.
Upaya sanitasi lingkunganpembenihan ini harus didukung oleh tersedianya fasilitas pendukungkebersihan yang
memadai, antara lain: peralatan kebersihan, tempat sampahdan toilet. Di masing-masing sub unit produksi harus
tersedia tempat sampah tertutup dan selalu dibersihkan setiap hari. Toilet ditempatkan terpisah dari unit
produksi benih dengan
septic tank berjarak minimal 10 meter dari sumber air.Toilet harus dilengkapi dengan sabun antiseptik.

4.5 Pengolahan limbah


Air yang digunakan untuk pemeliharaan induk dan benih, setelah tidakdipakai dan dibuang akan
membawa bahan kimia atau bahan biologi yangdipakai dalam proses produksi yang berpotensi mencemari
lingkungan perairan sekitarnya. Oleh karena itu, air buangan dari proses produksi ini sebelumsampai ke perairan
umum atau lingkungan sekitarnya harus diolah terlebihdahulu agar menjadi netral kembali. Untuk maksud ini maka
setiap unitpembenihan harus mempunyai bak/petak pengolah limbah untuk bahan organik,mikroorganisme dan
bahan kimia.

4.6 Pengaturan personil/karyawan


Dalam penerapanbiosecurity di suatu unit pembenihan, pengaturanpersonil/karyawan menjadi sangat
penting agar penerapanbiosecurity dapatberjalan efektif dan aman bagi personil/karyawan yang terlibat di dalamnya
danberkomitmen untuk melaksanakannya. Upaya pengaturan dimulai denganpemahaman bahwa personil/karyawan
yang terlibat dalam prosespemeliharaan/produksi mempunyai potensi menjadi pembawa organismepathogen. Cara
yang dapat dilakukan dalam pengaturan personil/karyawantersebut antara lain adalah sebagai berikut :

4.6.1 Pakaian dan perlengkapan kerja


Pakaian dan perlengkapan kerja personil/karyawan yang tidak bersihdapat menjadi sumber kontaminan atau agen
transmisi organisme pathogenbagi benih ikan yang dipeliharanya, dan dapat pula mempengaruhi
kesehatanpersonil/karyawan yang memakainya. Untuk sterilisasi dan melindungikesehatan personil/karyawan maka
pemakaian sepatu
boot merupakan keharusan selama dalam bekerja. Setiap personil/karyawan sebaiknyamenggunakan
sarung tangan dan menggunakan penutup hidung bila bekerjadengan bahan kimia dan obat-obatan.

4.6.2 Sterilisasi alas kaki dan tangan


Pada saat memasuki sub unit produksi, karyawan sebaiknya untukmelakukan sterilisasi alas kaki dan
tangannya sebelum dan setelah melakukanpekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan di unit pembenihan seringkali
digunakanbahan kimia, bahan biologi dan obat obatan yang dapat berpotensi berbahayabagi personil/karyawan yang
terlibat di dalamnya. Agar bahan tersebut tidakmeracuni personil/karyawan maka sebaiknya bagi personil/karyawan
untuk cucitangan/kaki segera setelah selesai melakukan pekerjaan.

V. MANAJEMEN PERSONIL

Sumberdaya manusia merupakan elemen organisasi yang sangatpenting karena menjadi pilar penyangga utama
sekaligus penggerak rodaorganisasi dalam usaha mewujudkan visi, misi dan tujuannya. Untuk itu suatuunit usaha
pembenihan harus menetapkan personil dengankompetensi/kualifikasi atas dasar pendidikan,
pelatihan,ketrampilan/pengaturan teknik dan pengalaman yang diperlukan
dalammelaksanakan fungsi unit pembenihan tersebut yang antara lain terdiri atas:(1) Pimpinan Unit /Ketua
Kelompok (2) Pengendali mutu produksi, (3)Pelaksana produksi, dan (4) Pelaksana administrasi

5.1 Pimpinan unit/ketua kelompok


Pimpinan unit pembenihan skala besar atau ketua kelompok pembenihanskala kecil adalah orang yang bertanggung
jawab terhadap seluruh prosespengelolaan unit pembenihan.

5.2 Pengendali mutu produksi


Untuk menangani, mengendalikan dan mengkoordinasikan mutu produksidalam menerapkan CPIB pada suatu unit
pembenihan skala besar ataukelompok unit pembenihan skala kecil, diperlukan seorang Manajer PengendaliMutu
(MPM) yang bersertifikat yang dikeluarkan oleh Direktorat JenderalPerikanan Budidaya. Dalam melaksanakan
tugasnya MPM tidak bolehmerangkap sebagai manajer produksi. Tugas MPM adalah sebagai
berikut :a. Bertanggung jawab pada perencanaan dan harus memastikan bahwa unitpembenihan memenuhi
persyaratan CPIB;

b. Bertanggung jawab memberikan pemahaman dan memastikan semuapersonil unit pembenihan dapat
melaksanakan CPIB;c. Bertanggung jawab dalam melaksanakan CPIB secara konsisten;

5.3 Pelaksana produksi


Pelaksana Produksi yaitu personil yang menangani proses produksi diunit pembenihan skala besar atau kelompok
pembenihan skala kecil, yangsebaiknya terdiri atas:a. Personil yang menangani manajemen induk;b. Personil
yang menangani manajemen benih;c. Personil yang menangani analisa kualitas air;d. Personil
yang menangani produksi pakan hidup;e. Personil yang menangani manajemen kesehatan ikan;f. Personil yang
menangani mekanik (permesinan, perlistrikan danperbengkelan)

5.4 Pelaksana administrasi


Pelaksana administrasi merupakan personil yang bertugas sebagaiberikut
:a. Pembelian bahan;b. Keuangan dan pembukuan; danc. Persuratan dan kearsipan.

5.5 Pelaksana pemasaran


Pelaksana pemasaran merupakan personil yang bertanggung jawabdalam mempromosikan dan memasarkan hasil
produksi benih.
VI. DOKUMEN DAN REKAMAN

6.1 Pengertian, fungsi dan manfaat dokumentasi


Dokumentasi merupakan dasar penerapan CPIB untuk menjaminkonsistensi mutu benih yang dihasilkan.
Dokumentasi adalah prosespengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan informasi yangberhubungan
dengan CPIB. Jumlah dokumentasi yang dibutuhkan bersifatfleksibel artinya sesuai dengan besar kecilnya unit
pembenihan dan tingkatkerumitan proses serta kompetensi sumberdaya. Fungsi dokumentasi adalah sebagai acuan
dalam penerapan danpengembangan CPIB, menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadapkonsistensi mutu benih
yang dihasilkan dan keamanan penggunaan bahandalam proses produksi.Manfaat utama dari dokumentasi
adalah :
a. Kemudahan dalam mengakses informasi tentang proses produksi danmutu benih yang dihasilkan;
b. Dapat diperoleh bukti objektif kesesuaian pelaksanaan proses produksibenih terhadap persyaratan-persyaratan
CPIB;
c. Kemudahan dalam melakukan ketertelusuran (traceability).
Persyaratan dokumentasi yang baik dalam CPIB adalah sebagaiberikut :
a. Sederhana, ringkas, jelas dan langsung mengenai sasaran;
b. Sesuai dengan tingkat keahlian dan pengalaman dari pengguna;
c. Data dan informasi mudah diakses;
d. Memungkinkan orang lain untuk meneruskan pekerjaan yang belum selesai;
e. Menerangkan persyaratan yang harus dipenuhi;
f. Membantu melatih orang yang belum berpengalaman; Jenis dokumentasi CPIB yang dipersyaratkan terdiri atas
Standar Prosedur Operasional (SPO), formulir dan rekaman.

6.2.1. Standar prosedur operasional


Standar Prosedur Operasional dalam CPIB adalah dokumen yangmemberikan petunjuk baku tentang
pengoperasian suatu proses kerja yangdilakukan oleh satu atau beberapa orang dalam satu unit pembenihan
yangfungsi tugasnya dapat mempengaruhi kegiatan efektivitas produksi.Tujuan pembuatan prosedur adalah untuk
memastikan proses berjalansecara terkendali dan sistem pengendalian dijalankan secara konsisten.Dengan adanya
SPO, siapapun yang melaksanakan proses produksi akanmemperoleh hasil yang sama.Standar Prosedur Operasional
yang dimiliki dan diterapkan di unitpembenihan ikan antara lain terdiri atas:
a. Manajemen induk;
b. Manajemen benih;
c. Manajemen air;
d. Manajemen pakan hidup;
e. Manajemen pemberian pakan;
f. Manajemen penggunaan obat ikan;
g. Manajemen penggunaan bahan kimia;
h. Pemeriksaan kualitas air (logam berat dan parameter kualitas airlainnya)
;i. Pemeriksaan kesehatan induk dan benih;
j. Manajemen biosecurity
k. Sanitasi lingkungan pembenihan
;l. Manajemen pemanenan benih;
m.Manajemen pengemasan dan distribusi benih

6.2.2. Formulir
Formulir adalah sarana yang digunakan untuk merekam data penerapanCPIB. Fungsi formulir adalah untuk
mengumpulkan dan mengkomunikasikan
data dan informasi dalam format tertentu. Manfaat penggunaan formulir adalahsebagai berikut
:a. Menjamin semua data yang dibutuhkan dapat ditampilkan;
b. Menjaga konsistensi data yang dihasilkan;
c. Memberikan petunjuk data yang harus dimasukkan.Dalam pembuatan formulir, beberapa hal yang harus
diperhatikanadalahsebagaiberikut:
a. Identitas formulir (nama, nomor, status revisi)
b. Format formulir didesain sesuai dengan kebutuhan informasic. Cara pengisian dan ruang isian data :
•Gunakan keterangan yang jelas dan deskriptif;
• Tulis instruksi yang jelas dan singkat;
• Ditulis tangan atau diketik;
• Sediakan ruang yang cukup untuk menulisinformasi.

d. Formulir dapat diperbanyak dengan mutu yang tetap baik;


e. Formulir yang tidak dapat dipakai lagi harus dimusnahkan;
f. Jumlah formulir yang dibuat sesuai dengan jumlah rekaman yangdibutuhkan.

6.2.3 Rekaman
Rekaman sebagai salah satu dokumen yang merupakan bukti objektifdari suatu unit pembenihan untuk
menunjukkan efektivitas implementasi CPIB.Rekaman dapat berupa arsip surat menyurat, formulir yang
sudah diisi, daftarperiksa, hasil uji, dan laporan. Manfaat rekaman adalah untuk memudahkandalam ketertelusuran
penerapan CPIB.Beberapa catatan/rekaman yang harus dikendalikan, yaitu :a. Pengadaan sarana produksi benih;
b. Manajemen induk;
c. Manajemen benih;
d. Manajemen air;
e. Manajemen pakan hidup;
f. Manajemen pemberian pakan;
g. Manajemen penggunaan obat ikan;
h. Manajemen penggunaan bahan kimia
;i. Pemeriksaan kualitas air (Cd, Pb , Hg dan parameter kualitas airlainnya);
j. Pemeriksaan kesehatan induk dan benih;
k. Manajemen biosecurity
;l. Sanitasi lingkungan pembenihan;
m. Manajemen pemanenan benih;
n. Manajemen pengemasan dan distribusi benih.
Unit pembenihan bebas mengembangkan catatan-catatan/rekaman lainyang mungkin diperlukan untuk
menunjukkan kesesuaian dari proses-proses,produk dan persyaratan CPIB.
VII. PENUTUP

Pedoman umum CPIB ini merupakan acuan dasar bagi pelaku usahapembenihan dalam memproduksi
benih ikan sesuai prinsip-prinsip pembenihanikan yang benar, sehingga produk benih ikan yang dihasilkan sesuai
dengantuntutan pasar global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan, tidak mengandung residu antibiotik
dan bahan kimia serta mampu telusur.Disamping itu pedoman CPIB ini juga dapat menjadi pedoman bagi
pembinadan auditor dalam melakukan pembinaan dan penilaian penerapan CPIB di unitpembenihan ikan.