Anda di halaman 1dari 66

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

KORELASI ZONASI ENDAPAN NIKEL LATERIT BERDASARKAN DATA


MINERALOGI DAN GEOKIMIA (STUDI KASUS: PT. MANUNGGAL
SARANA SURYA PRATAMA DESA BOENAGA KECAMATAN LASOLO
KEPULAUAN KABUPATEN KONAWE UTARA PROPINSI SULAWESI
TENGGARA)

Diajukan oleh :

MUH. TAUPAN
F1G1 14 095

KENDARI
2018
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

HALAMAN TUJUAN

Proposal Kerja Praktek

Diajukan sebagai salah satu bentuk pengaplikasian ilmu yang didapatkan pada
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Universitas Halu Oleo

Diajukan oleh:

MUH. TAUPAN
F1G1 14 095

KENDARI
2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
berkah dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan proposal yang berjudul “Korelasi
Zonasi Endapan Nikel Laterit Berdasarkan Data Mineralogi Dan Geokimia
(Studi Kasus: Pt. Manunggal Sarana Surya Pratama Desa Boenaga Kecamatan
Lasolo Kepulauan Kabupaten Konawe Utara Propinsi Sulawesi Tenggara) “
dapat diselesaikan oleh penulis.

Dalam proses penyusunan proposal ini penulis memperoleh bantuan dari


berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, membimbing, dan
mengarahkan, antara lain :

1. Kedua orang tua dan saudara-saudaraku yang saya cintai atas doa restunya.
2. Bapak Erzam S Hasan S.Si.,M.Si. sebagai Ketua Jurusan Teknik Geologi
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo.
3. Bapak Ir (reg) Muh.Chaerul S.T., S.KM.,M.Sc. Selaku Dosen pembimbing
dalam penulisan dan penyusunan proposal ini.
4. Rekan - rekan mahasiswa Geologi Angkatan 2014, atas dukungan dan
bantuannya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih terdapat


banyak kekurangan. Oleh karena itu saran, kritik dan masukan sangat diharapkan dari
para pembaca demi perbaikan proposal ini.

Akhir kata, semoga penyusunan proposal penelitian ini bermanfaat bagi


semua pembaca, khususnya bagi penulis. Wassalamualaikum Wr.Wb...

Kendari, 20 Februari 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................ i

HALAMAN TUJUAN ........................................................................................ ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

I.2 Maksud dan Tujuan .......................................................................... 3

I.3 Alat, Bahan dan Fasilitas .................................................................. 4

I.4 Batasan Masalah ................................................................................ 4

I.5 Waktu dan Lokasi Penelitian ........................................................... 5

I.6 Manfaat Penelitian ............................................................................ 6

I.7 Judul Penelitian ................................................................................. 6

1.8 Mahasiswa Peneliti ............................................................................ 7

I.9 Pembimbing ....................................................................................... 7

BAB II GEOLOGI REGIONAL

II.1 Geologi Regional .............................................................................. 8

II.1.1 Geomorfologi Regional ................................................................. 10

II.1.2 Stratigrafi Reginal ........................................................................ 14

II.1.3 Struktur Regional ......................................................................... 16

iv
BAB III TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Ofiolit ............................................................................................... 19

III.2 Batuan Ultrabasa…………………………………………………..20

III.3 Genesa Endapan Nikel Laterite .................................................... 23

III.4 Definisi dan Tipe Endapan Nikel Laterit ..................................... 26

III.5 Penyebaran Horizontal Endapan Nikel Laterit........................... 27

III.6 Zonasi Profil Endapan Nikel Laterit ............................................ 29

III.7 Pelapukan Endapan Nikel Laterite .............................................. 31

III.8 Unsur-Unsur Dalam Endapan Laterit.......................................... 34

BAB IV METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN

IV.1 Metode Penelitian ........................................................................... 42

IV.2 Tahapan Penelitian ......................................................................... 42

BAB V PERENCANAAN WAKTU

V.1 Perencanaan Waktu Penelitian ....................................................... 47

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 48

Lampiran…………………………………………………………………………51

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Lokasi daerah penelitian dapat dilihat…………………………………..6

Gambar 2. Peta Geologi Regional Sulawesi ....................................................... 8

Gambar 3. Pembagian Mandala Geologi Sulawesi ............................................. 10

Gambar 4. Bagian Tenggara Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR ....................... 13

Gambar 5. Stratigrafi Lembar Lasusua- Kendari ................................................ 16

Gambar 6. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya .......................................... 18

Gambar 7. Susunan ideal ofiolit pada Lembah Limassol di bagian barat

Cyprus ................................................................................................ 20

Gambar 8. Penampang tegak endapan nikel laterit ............................................ 28

Gambar 9. Penampang kedalaman dan unsur-unsur utama penyusun nikel

laterit ................................................................................................ 41

Gambar 10. Bagan alir penelitian.....................................................................................46

vi
1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Batuan ultramafik atau yang biasa dikaitkan dengan batuan ultrabasa

adalah batuan yang kaya akan mineral-mineral mafik, berupa batuan beku atau meta-

igneous rocks dengan kandungan silika (SiO2) rendah yakni kurang dari 45%

dan memiliki indeks warna > 70%. Pada umumnya tersususn atas lebih dari 18%

MgO, kaya FeO, rendah pottasium dan umumnya tersusun dari lebih 90% mineral

mafik (warna gelap, tinggi magnesium dan kandungan besi). Mineral mafik adalah

mineral yang mengandung gugusan senyawa Fe dan Mg yang terdiri dari olivin,

piroksin, hornblende dan mika dengan warna yang gelap. Mantel bumi disusun oleh

batuan ultramafik. Batuan ultramafik yang terbentuk kemudian mengalami proses

pelapukan kimia dan mekanis menyebabkan terbentuknya endapan laterit.

Pelapukan pada batuan peridotit menyebabkan unsur-unsur yang mobile larut dan

terendapkan pada zona bagian bawah laterit, sedangkan unsur-unsur dengan

mobilitas rendah sampai immobile seperti Ni, Fe, Co, Cr, Mn, Al mengalami

pengkayaan secara residual dan sekunder ( Ahmad, 2002 ).

Smith et al (1992), mengemukakan bahwa laterite merupakan regolith atau

tubuh batuan yang mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah


mengalami pelapukan, termasuk di dalamnya profil endapan material hasil

transportasi yang masih tampak batuan asalnya. Sebagian besar endapan laterit

mempunyai kandungan logam yang tinggi dan dapat bernilai ekonomis tinggi,

sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan dan bauksit.

Penyebaran biji besi dengan menggunakan metode korelasi data bor lebih

spesifik pada penelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk

mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih tanpa ada upaya untuk

mempengaruhi variable tersebut sehingga tidak dapat manipulasi variable (Faenkel

dan Wallen, 2008:25)

Identifikasi sebaran endapan nikel leterit sangat penting untuk diketahui agar
mempermudah proses eksplorasi lanjut secara komersial dari suatu endapan. Untuk
memperoleh keakuratan dalam penentuan sebaran nikel laterit ini, maka diperlukan
suatu parameter di lapangan seperti korelasi data bor. Hal tersebutlah yang
melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian ini dengan mengambil studi
kasus pada daerah konsesi PT. Manunggal Sarana Surya Pratama yang berada di
daerah Boenaga, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara Provinsi
Sulawesi Tenggara.

Oleh karena itu, mahasiswa/mahasiswi jurusan teknik geologi yang memiliki


kemampuan menganalisis dan peka terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta
mempunyai wawasan lingkungan masih sangat dibutuhkan di dalam menghadapi era
pasar bebas maupun era otonomi daerah. Selain mempelajari teori, mahasiswa
dituntut untuk dapat mengimplementasikan teori-teori tersebut dalam kondisi riil.
Salah satu bentuk media implementasi adalah Kerja Praktek.

3
Kerja Praktek memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat melihat,

mempelajari, mengidentifikasi, menganalisa, dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan

yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan kenyataan sebenarnya di lapangan atau

dunia kerja nyata. Proses pembelajaran dilakukan dengan observasi langsung di

lapangan dan interaksi aktif dengan pihak-pihak yang terkait dalam ruang lingkup

wilayah studi.

Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas penulis sangat mengharapkan untuk

dapat kerja praktek di perusahaan PT. Manunggal Sarana Surya Pratama, Untuk dapat

menerapkan dan mengembangkan teori yang didapatkan selama perkuliahan.

I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari kerja praktek ini adalah untuk memenuhi syarat akademik pada

jurusan Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitras Halu

Oleo. Selain itu, merupakan bentuk partisipasi mahasiswa dalam pendidikan non

formal dalam penyelesaian program strata satu (S1).

Tujuan dari kerja praktik ini yaitu :

1. Membantu mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja, di dunia kerja

nyata/perusahaan yang berkaitan dengan Jurusan Teknik Geologi

2. Mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah sehingga dapat

diterapkan langsung dilapangan, yaitu dengan cara melakukan pengambilan

4
data-data lapangan kemudian menginterpretasikan bagaimana kondisi geologi

bahan galian nikel laterit

3. Mengetahui kualitas endapan nikel laterit berdasarkan batuan dasar

4. Menentukan korelasi zona laterit pada setiap lapisan


5. Mengetahui kondisi sebaran endapan nikel laterit daerah Konsesi PT.

Manunggal Sarana Surya Pratama

6. Memberi data dan informasi mengenai sebaran endapan nikel laterit pada

daerah Konsesi PT. Manunggal Sarana Surya Pratama.

I.3 Alat, Bahan Dan Fasilitas

Dalam melakukan penelitian dibutuhkan beberapa peralatan, bahan dan fasilitas

yang diharapkan kiranya dapat disediakan oleh perusahaan, yaitu :

Alat :

 Peralatan yang terkait dengan penelitian.


 Personal Computer (PC) yang menunjang penelitian.
 Perpustakaan.
Bahan :
 Data-data yang dibutuhkan.
 Laboratorium yang dibutuhkan.
Fasilitas :
 Akses ke perpustakaan.
 Akses ke internet.
 Akses untuk penggandaan data.

5
 Akomodasi, transportasi dan komsumsi.
 Tunjangan intensif untuk memperlancar penelitian.

I.4 Batasan Masalah


Dalam penelitian ada beberapa batasan masalah yang dilakukan, antara lain:

Penelitian dilakukan pada daerah Konsesi PT. Manunggal Sarana Surya Pratama,

sebagai dasar pembuatan peta geologi dan kondisi geologi daerah penelitian. Sumber

daya yang dihitung berdasarkan data pemboran eksplorasi beserta data pendukung

lainnya.

Batasan masalah dikhususkan mengenai penelitian tentang analisis sebaran

endapan nikel laterit daerah Hill pada konsesi penambangan PT. Manunggal Sarana

Surya Pratama.

Adapun karakteristik yang dibahas adalah mengenai analisis sebaran endapan

nikel laterit berdasarkan data-data yang mendukung seperti data coring di daerah

penelitian dengan tambahan material dan persentase kadar grade nikel laterit.

I.5 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan terhitung mulai tanggal

10 April 2018 sampai dengan tanggal 11 Juni 2018. Lokasi penelitian secara

administratif terletak di daerah Boenaga, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten

Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang merupakan daerah konsesi

pertambangan PT. Manunggal Sarana Surya Pratama. Secara geografis daerah

6
penelitian terletak pada 122o22’30”- 122o23’00” Bujur Timur (BT) dan 3o25’00”-

3o27’30” Lintang Selatan (LS). Lokasi daerah penelitian dapat dilihat pada Gambar I

Gambar 1 Lokasi daerah penelitian dapat dilihat

I.6 Manfaat Penelitian

Manfaat penelian yang dilakukan adalah sebagaim berikut:

1. secara akademik : penelitian ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang akan

melaksanakan kerja praktek, dalam hal pengembangan dan pengaplikasian ilmu

yang didapatkan selama mengikuti proses belajar mengajar di Jurusan Teknik

Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Halu Oleo.

2. Bagi Keilmuan : Secara teoritis penelitian ini dapat menambah referensi dalam

mengestimasi sumberdaya nikel laterit.

7
3. Bagai perusahan : Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data untuk

melakukan proses eksplorasi dan eksploitasi lebih lanjut.

I.7 Judul Penelitian

Judul yang diajukan dengan topik utama adalah ” Analisis Kualitas Endapan

Nikel Laterit Berdasarkan Jenis Batuan Dasar, di Daerah PT. Manunggal Sarana

Surya Pratama, Provinsi Sulawesi Tenggara”. Judul akan berubah sesuai kebijakan

perusahaan.

I.8 Mahasiswa Peneliti

Mahasiswa yang akan melaksanakan kerja praktek adalah sebagai berikut :

Nama : Muh. Taupan

Stambuk : F1G1 14 095

Tempat dan Tanggal Lahir : Balikpapan, 18 Mei 1995

Jurusan : Teknik Geologi

Fakultas : Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITK)

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Status : Mahasiswa

Agama : Islam

Email : Topan.geologist@gmail.com

No.Handphone : 085241909571

Alamat : Jalan Kelapa, Kel.Kambu, Kec. Poasia Kota Kendari,


Prov. Sulawesi Tenggara Kode Pos 93231

8
I.9 Pembimbing

Pembimbing dalam hal ini yaitu Pembimbing dari Jurusan Teknik Geologi,

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Halu Oleo. Selain itu, demi

kelancaran kerja praktek yang akan dilaksanakan, mahasiswa sangat mengharapkan

pembimbing lapangan dari perusahaan PT. Manunggal Sarana Surya Prata.

9
10

BAB II
GEOLOGI REGIONAL

II.1 Geologi Regional

Gambar 2. Peta Geologi Regional Sulawesi (Hamilton 1979)

Simandjuntak dalam Surono (2010), menjelaskan bahwa berdasarkan sifat

geologi regionalnya Pulau Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi menjadi beberapa
mandala geologi yakni salah satunya adalah mandala geologi Sulawesi Timur.

Mandala ini meliputi lengan Tenggara Sulawesi, Bagian Timur Sulawesi Tengah dan

Lengan Timur Sulawesi. Lengan Timur dan Lengan Tenggara Sulawesi tersusun atas

batuan malihan, batuan sedimen penutupnya dan ofiolit yang terjadi dari hasil proses

pengangkatan (obduction) selama Miosen. Sulawesi dan sekitarnya merupakan

daerah yang kompleks karena merupakan tempat pertemuan tiga lempeng besar yaitu

lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara, lempeng Pasifik yang bergerak

ke arah barat dan lempeng Eurasia yang bergerak ke arah selatan-tenggara serta

lempeng yang lebih kecil yaitu lempeng Filipina.

Geologi Regional Kabupaten Konawe Utara berdasarkan himpunan batuan dan

pencirinya, geologi Lembar Lasusua-Kendari dapat dibedakan dalam dua lajur, yaitu

Lajur Tinodo dan Lajur Hialu. Lajur Tinodo dicirikan oleh batuan endapan paparan

benua dan Lajur Hialu oleh endapan kerak samudra/ofiolit (Rusmana, dkk., 1993).

Secara garis besar kedua mendala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo.

11
Gambar 3. Pembagian Mandala Geologi Sulawesi (Surono, 2013).

II.1.1 Geomorfologi Regional

Van Bamelan (1945), dalam Geologi Lengan Tenggara Sulawesi oleh Surono,

membagi lengan Tenggara Sulawesi menjadi tiga bagian: ujung utara, bagian tengah,

12
dan ujung selatan. Lembar Kolaka menempati bagian tengah dan ujung selatan dari

lengan tenggara Sulawesi. Ada 5 satuan morfologi pada bagian tengah dan ujung

selatan lengan tenggara Sulawesi, yaitu morfologi pegunungan, morfologi perbukitan

tinggi, morfologi perbukitan rendah, morfologi pedataran dan morfologi karst.

a. Morfologi Pegunungan

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini, terdiri

atas Pegunungan Mekongga, Pegunungan Tangkelemboke, Pegunungan Mandoke

dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung Selatan Lengan Tenggara. Puncak

tertinggi pada rangkaian Pegunungan Mekongga adalah Pegunungan Mekongga yang

mempunyai ketinggian 1500 mdpl. Satuan morfologi ini mempunyai mempunyai

topografi yang kasar dengan kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam

saruan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut-tenggara. Arah ini

sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini mengindikasikan

bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat hubungannya dengan sesar

regional.

Satuan pegunungan terutama dibentuk oleh batuan malihan dan setempat oleh

batuan ofiolit. Ada perbedaan yang khas diantara kedua penyusun batuan itu.

Pegunungan yang disusun oleh batuan ofiolit mempunyai punggung gunung yang

panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta kemiringan yang tajam,

sementara itu, pegunungan yang dibentuk oleh batuan malihan, punggung gunung

terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak rata walaupun bersujud tajam.

b. Morfologi Perbukitan Tinggi

13
Morfologi perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara

Sulawesi, terutama di selatan Kendari. Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang

mencapai ketinggian 500 mdpl dengan morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi

ini berupa batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.

c. Morfologi Perbukitan Rendah

Morfologi perbukitan rendah melampar luas di utara Kendari dan ujung selatan

Lengan Tenggara Sulawesi. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan

morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama batuan sedimen

klastik Mesozoikum dan Tersier.

d. Morfologi Pedataran

Morfologi dataran rendah dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan

Tenggara Sulawesi. Tepi selatan dataran Wawotobi dan dataran Sampara berbatasan

langsung dengan morfologi pegunungan. Penyebaran morfologi ini tampak sangat

dipengaruhi oleh sesar geser mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konaweha).

Kedua sistem ini diduga masih aktif, yang ditunjukan oleh adanya torehan pada

endapakn alluvial dalam kedua dataran tersebut (Surono dkk, 1997). Sehingga sangat

mungkin kedua dataran itu terus mengalami penurunan. Akibat dari penurunan ini

tentu berdampak buruk pada dataran tersebut, diantaranya pemukiman dan pertanian

di kedua dataran itu akan mengalami banjir yang semakin parah setiap tahunnya.

e. Morfologi Karst

Morfologi Karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan ini

dicirikan perbukitan kecil dengan sungai dibawah permukaan tanah. Sebagian besar

14
batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping berumur

paleogen dan selebihnya batugamping mesozoikum. Batugamping ini merupakan

bagian Formasi Emoiko, Formasi Laonti, Formasi Buara dan bagian atas dari

Formasi Meluhu. Sebagian dari batugamping penyusun satuan morfologi ini sudah

terubah menjadi marmer. Perubahan ini erat hubungannya dengan pensesar-naikkan

ofiolit keatas kepingan benua.

15
Gambar 4. Bagian Tenggara Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR (Surono, 2013).

16
II.1.2 Statigrafi Regional

Berdasarkan peta geologi lembar Lasusua-Kendari Sulawesi dengan skala

1:250.000 yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G),

maka secara umum stratigrafi Kabupaten Konawe Utara, dapat dibagi dalam delapan

formasi batuan sebagai berikut (Penjelasan dari batuan yang tertua ke batuan yang

termuda):

a. Batuan Terobosan (PTR(g)) terdiri atas aplit kuarsa, andesit, dan latit kuarsa.

Satuan ini menerobos satuan batuan malihan paleozoikum dan diperkirakan

berumur perm.

b. Batuan Malihan Paleozoikum (Pzm). Tersusun oleh jenis batuan sekis, gneis,

filit, kuarsit, batusabak, dan sedikit pualam. Berumur Karbon sampai Perm.

c. Pualam Paleozoikum (Pzmm). Pualam Paleozoikum tersusun oleh jenis batu

gamping dan pualam. Umur satuan ini diperkirakan Karbon sampai Perm.

d. Formasi Tokala (TRJt). Tersusun oleh jenis batu gamping, serpih, kalsilutit,

napal, batusabak dan batupasir. Formasi ini diperkirakan berumur Trias-Jura

Awal dengan lingkungan pengendapan pada laut dangkal (neritik) dengan tebal

formasi diperkirakan lebih dari 1000 m.

e. Formasi Meluhu (TRJm). Jenis batuan penyusun formasi Meluhu adalah terdiri

dari batupasir, kuarsit, serpih hitam, serpih merah, filit, batusabak, batugamping,

dan lanau.

17
f. Batuan Ofiolit (Ku). Batuan ofiolit merupakan batuan beku yang tersusun oleh

jenis batuan peridotit, harzburgit, dunit, gabro, dan serpentinit. Satuan batuan ini

diperkirakan berumur Kapur.

g. Formasi Matano (Km). Tersusun atas kalsilutit yang bersisipan oleh jenis serpih

dan rijang. Formasi Matano diduga berumur kapur akhir dengan lingkungan

pengendapan pada laut dalam dengan tebal sekitar 550 m.

h. Formasi Salodik (Tems) terdiri atas kalsiludit dan batugamping oolit. Formasi

Salodik diduga berumur Eosen Akhir – Miosen Awal dengan lingkungan

pengendapan pada laut dangkal dan terbuka.

i. Formasi Pandua (Tmpp) terdiri atas konglomerat, batupasir dan batulempung

dengan sisipan lanau. Umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir sampai

Pliosen.

j. Formasi Alangga (Qpa) tersusun oleh jenis batupasir, batulempung dan

konglomerat. Umur dari formasi ini adalah Plistosen dan menindih tak selaras

formasi yang lebih tua yang masuk kedalam kelompok molasa Sulawesi.

k. Terumbu Koral Kuarter (Ql). Merupakan batugamping terumbu dengan

kandungan fosil berupa ganggang dan cangkang moluska. Umur dari satuan ini

adalah Plistosen – Holosen dan terendapkan pada lingkungan laut dangkal.

l. Endapan Aluvium (Qa). Endapan Aluvium merupakan endapan sekunder hasil

rombakan batuan di permukaan yang telah terbentuk sebelumnya. Endapan

terdiri dari material lepas batuan kerikil, kerakal, pasir dan lempung.

18
Gambar 5. Stratigrafi Lembar Lasusua- Kendari, Sulawesi Oleh E. Rusmana, Sukido,
D. Sukarna, E. Haryono, T.O. Simanjuntak, (Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi, 1993)

II.1.3 Struktur Regional

Struktur yang terbentuk di Pulau Sulawesi mempunyai berbagai skala (regional

dan lokal) meliputi penunjaman dan zona tumbukan, sesar naik, sesar dan lipatan.

Struktur geologi berskala regional yang berkembang di Sulawesi dan kawasan

sekitarnya adalah parit Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench), Sistem Sesar Palu-

Koro, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Poso, Sesar Walanae, dan pemekaran Samudra di

Selat Makassar.

19
Struktur geologi yang berkembang di lengan Tenggara Sulawesi dominasi oleh

sesar berarah Barat Laut-Tenggara, yang utama terdiri atas Sesar Matano, kelompok

Sesar Kolaka, kelompok Sesar Lawanopo dan kelompok Sesar Lainea. Berdasarkan

hasil penggambaran struktur regional Sulawesi dan daerah sekitarnya (Surono, 2013).

Daerah penelitian ini merupakan salah satu kawasan daerah yang masih mendapat

pengaruh oleh sesar diantaranya sesar Lasolo.

Sesar dan kelurusan umumnya berarah barat laut-tenggara searah dengan sesar

geser lurus mengiri Lasolo meliputi daerah Kecamatan Asera, Kecamatan Molawe,

Kecamatan Lasolo, Kecamatan Lembo, sampai Kecamatan Sawa dan memanjang

sampai ke Teluk Lasolo. Sesar Lasolo bahkan masih aktif hingga saat ini. Sesar

tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala

Oligosen (Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo sebelah

barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo, yaitu beranjaknya

Batuan Ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga, Formasi Meluhu, dan Formasi

Matano.

20
Gambar 6. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya. Disederhanakan dari Silver
dkk. (1983) dan Rehahult dkk (1991).

21
22

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Ofiolit

Ofiolit merupakan kompleks batuan dengan berbagai karakteristik dari layer

utrabasa, dengan ketebalan dari beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer

bersusun atau berlapis dengan batuan gabro dan batuan dolerit, dan pada bagian

atasnya tersusun oleh pillow lava dan breksi, sering berasosiasi dengan batuan

sedimen pelagik (Ringwood, 1975 dalam Waheed, 2000).

Ofiolit diinterpretasikan sebagai kerak samudera dan batuan tektonik mantel

bagian atas dan akhirnya membentuk daratan (Penrose, 1972 ; Coleman 1977 dalam

Clague dan Straley, 1977).

Menurut Panayiotou, 1978 dalam Hutchison, 1983, bahwa susunan ideal

ofiolit terdiri dari rangkaian beberapa karakteristik batuan pada perkembangan

lengkap ofiolit, tipe batuannya tersusun dari bawah ke atas, yaitu (Gambar IV.1) :

 Kompleks utrabasa, terdiri atas harsburgit, lerzolit dan dunit, biasanya

dengan batuan metamorfik akibat tektonik, umumnya serpentinit

 Kompleks gabro, biasanya membentuk layer - layer dengan tekstur

kumulus, berisi peridotit kumulus dan piroksenit dan lebih sedikit terubah

dibandingkan dengan kompleks utrabasa.


Kompleks dike, terdiri atas dike diabas membentuk zona pemisah pada dasar

plagiogranit sampai gabro dan saling bertampalan dengan ekstrusif lava bantal

(Kompleks dike tidak selalu hadir).

 Kompleks vulkanik mafik, umumnya terdiri dari lava bantal (pillow lava).

 Pada bagian atas dari assemblage (kumpulan batuan) tersebut, kemudiam

bersosiasi dengan batuan sedimen pelagis yang secara khas meliputi fasies

laut dalam seperti rijang, serpih dan batugamping .

Gambar 7. Susunan ideal ofiolit pada Lembah Limassol di bagian barat Cyprus
(Panayiotou, 1978 dalam Hutchison, 1983)

Batuan ultrabasa yang terdapat di daerah penelitian, merupakan kompleks

batuan utrabasa yang berasal dari sekuen ofiolit paling bawah.

23
III.2 Batuan Utrabasa

Batuan ultrabasa merupakan batuan yang kaya mineral basa (mineral

ferromagnesia) dengan komposisi utama batuannya adalah mineral olivin, piroksen,

hornblende, mika dan biotit, sehingga batuan utrabasa memiliki indeks warna > 70 %

gelap dan sebagian besar berasal dari plutonik (Waheed, 2002).

Menurut Burger (2000) dalam Nushantara (2002), Komposisi kimia penyusun

batuan utrabasa adalah sebagai berikut : SiO2 (38 – 45 %), MgO (30 – 45 %), *Fe2O3

dan *FeO ( 7 – 10 %), Al2O3 (0,3 – 5,0 %), Cr2O3 (0,2 – 1,0 %), NiO (0,2 – 0,3 %),

CaO (0,01 – 0,02 %), MnO (0,10 – 0,30 %), NaO (0,00 – 1,00 %) , H2O (10 – 14 %).

* total Fe diekspresikan dalam Fe2O3 dan FeO. Jenis-jenis batuan ultrabasa antara lain

 Peridotit

Peridotit biasanya membentuk suatu kelompok batuan ultrabasa yang disebut

ofiolit, umumnya membentuk tekstur kumulus yang terdiri atas harzburgit, lerzolit,

wehrlit, dan dunit. Peridotit tersusun atas mineral – mineral holokristalin dengan

ukuran medium – kasar dan berbentuk anhedral. Komposisinya terdiri dari olivin

dan piroksin. Mineral asesorisnya berupa plagioklas, hornblende, biotit, dan garnet

(Williams, 1954).

 Dunit

Menurut Williams (1954), bahwa dunit merupakan batuan yang hampir murni

24
olivin (90 % - 100 %). Sedangkan Waheed (2002), menyatakan bahwa dunit memiliki

komposisi mineral hampir seluruhnya adalah monomineralik olivin (umumnya

magnesia olivin), mineral asesorisnya meliputi : kromit, magnetit, ilmenit, dan spinel.

Pembentukan dunit berlangsung pada kondisi padat atau hampir padat (pada

temperatur yang tinggi) dalam larutan magma, dan sebelum mendingin pada

temperatur tersebut, batuan tersebut siap bersatu membentuk massa olivin anhedral

yang saling mengikat (Williams, 1954). Terbentuknya batuan yang terdiri dari olivin

murni (dunit) misalnya, membuktikan bahwa larutan magma (liquid) berkomposisi

olivin memisah dari larutan yang lain (Wilson, 1989).

 Serpentinit

Serpentinit merupakan batuan hasil alterasi hidrotermal dari batuan utrabasa,

dimana mineral – mineral olivin dan piroksin jika teralterasi akan membentuk mineral

serpentin. Serpentinit sangat umum memiliki komposisi batuan berupa

monomineralik serpentin, batuan tersebut dapat

terbentuk dari serpentinisasi dunit, peridotit (Waheed, 2002). Serpentinit tersusun

oleh mineral grup serpentin > 50 % (Williams, 1954).

Menurut Hess (1965) dalam Ringwood (1975), bahwa pada prinsipnya kerak

serpentinit dapat dihasilkan dari mantel oleh hidrasi dari mantel utrabasa (mantel

peridotit dan dunit) di bawah punggungan tengah samudera (Mid Ocean Ridge) pada

temperatur < 5000C. Serpentin kemudian terbawa keluar melalui migrasi litosfer.

25
Serpentinisasi pada mineral olivine menurut Waheed (2002), bahwa Serpentin

merupakan suatu pola mineral dengan komposisi H4Mg3Si2O9, terbentuk melalui

alterasi hidrothermal dari mineral feromagnesia seperti : olivin, piroksen dan amfibol.

Umumnya alterasi pada olivin dimulai pada pecahan / retakan pada kristalnya,

secepatnya keseluruhan kristal mungkin teralterasi dan mengalami pergantian.

Menurut Waheed (2002), bahwa serpentinisasi pada olivin memerlukan :

penambahan air, pelepasan magnesia atau penambahan silika, pelepasan besi (Mg,

Fe) pada olivin, konversi pelepasan besi dari bentuk ferrous (Fe2+) ke ferri (Fe3+) ke

bentuk magnetit.

III.3 Genesa Endapan Nikel Laterite

Menurut Boldt (1967), bahwa inti bumi mengandung lebih kurang 3 % nikel,

kemudian zona mantel bumi yang mempunyai ketebalan sampai 2.898 km

mempunyai kandungan nikel antara 0,1 – 0,3 % (Anonim, 1985). Ni terdapat dalam

mineral olivin, piroksen, ilmenit, magnetit (Browm dan Wager, 1967).

Ni dalam batuan utrabasa terutama terdapat dalam mineral mafik. Umumnya

proporsinya : Olivin > Orthopiroksen > Klinopiroksen. Kromit dan magnetit mungkin

juga berisi lebih sedikit Ni. Di dalam mineral mafik, nikel terutama terdapat dalam

jaringan mineral olivin yang terbentuk pada proses kristalisasi awal. Masuknya Ni ke

dalam struktur mineral olivin melalui perilaku magmatik. Olivin dapat mengandung

0,4 % NiO dan 0,322 % Ni. Olivin (mineral yang terbentuk pada temperatur tinggi)

26
sangat tidak stabil di bawah kondisi atmosfer, sehingga saat terjadi pelapukan akan

melepaskan ion Ni yang terdapat dalam ikatan atomnya (Waheed, 2002).

Umumnya hidroksidasi dari beberapa unsur kimia dijumpai berasosiasi

dengan lingkungan laterit. Ion - ion yang dilepaskan selama proses hidrolisis dari

mineral - mineral mafik, ditetapkan sebagai hidroksida (Waheed, 2002). Pada

hidrosilikat nikel (mineral garnierit), nikel menggantikan atom Mg dalam mineral

serpentin, talk dan klorit. Anggota nikel murni tidak muncul secara alami dan

kebanyakan garnierit berisi (Ni, Mg) sebagai pengganti Mg (Waheed, 2002).

Istilah garnierite telah digunakan sebagai suatu istilah yang meliputi seluruh

bentuk hidrous nikel magnesium silikat. Faust (1966) dalam Waheed (2002),

menyatakan bahwa kebanyakan garnierit terkait dengan talk dan serpentin. Kato

(1961) dalam Waheed (2002), bahwa garnierit yang ditemukan di New Caledonia,

merupakan struktur yang serupa dengan serpentin, talk dan klorit. Sedangkan

Springer (1974) dalam Waheed (2002), mengusulkan tentang definisi garnierit

sebagai “ nikel magnesium hidrosilikat”, dengan atau tanpa berisi alumina, melalui X

– Ray Diffraction menunjukan bentuk khas serpentin, talk, sepiolit, klorit, vermiculit

atau campuran / gabungan semuanya.

Bentuk mineral garnierit mempunyai anggota : wilemsite (Ni talk)

[3NiO.4SiO2. H2O], pimelit (Ni kerolit) [Ni3Si4O10(OH)2.nH2O] dan nepouit

(Ni serpentin) [Ni3Si2O5(OH)4] dan sebagainya. Garnierit terjadi dengan mengisi

27
rekahan - rekahan yang ada. Warna garnierit mencakup dari hijau (terang dan gelap)

kekuning - kuningan, biru terang - gelap. Variasi yang kaya hijau berisi lebih banyak

nikel (Waheed, 2002).

Pada daerah penelitian ini, proses pembentukannya sangat berkaitan dengan

konsentrasi sisa. Menurut Bateman (1981), endapan jenis konsentrasi sisa dapat

terbentuk jika batuan induk yang mengandung bijih mengalami proses pelapukan,

maka mineral yang mudah larut akan terusir oleh proses erosi, sedangkan mineral

bijih biasanya stabil dan mempunyai berat jenis besar akan tertinggal dan terkumpul

menjadi endapan konsentrasi sisa.

Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfir dan terkayakan kembali

oleh material – material organis di permukaan meresap ke bawah permukaan tanah

sampai pada zona pelindian, dimana fluktuasi air tanah berlangsung (Gambar IV.2).

Akibat fluktuasi ini air tanah yang kaya CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang

masih mengandung batuan asal dan melarutkan mineral – mineral yang tidak stabil

seperti olivin / serpentin dan piroksen. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai

dengan aliran air tanah dan akan memberikan mineral – mineral baru pada proses

pengendapan kembali (Hasanudin dkk, 1992).

Boldt (1967), menyatakan bahwa proses pelapukan dimulai pada batuan

utrabasa (peridotit, dunit, serpentinit), dimana batuan ini banyak mengandung mineral

olivin, magnesium silikat dan besi silikat, yang pada umumnya mengandung 0,30 %

28
nikel. Batuan tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air tanah

yang kaya CO2 berasal dari udara luar dan tumbuh – tumbuhan, akan menghancurkan

olivin. Terjadi penguraian olivin, magnesium, besi, nikel dan silika ke dalam larutan,

cederung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel – partikel silika yang

submikroskopis. Di dalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida dan

mengendapa sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan air

dengan membentuk mineral – mineral seperti karat, yaitu hematit dan kobalt dalam

jumlah kecil. Jadi, besi oksida mengendap dekat dengan permukaan tanah.

Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi, akan menyebabkan unsur Fe,

Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral – mineral

oxida / hidroksida, seperti limonit, hematit, geotit dan sebagainya (Hasanudin, 1992).

Selanjutnya pada proses pelapukan lebih lanjut magnesium (Mg), Silika (Si), dan

Nikel (Ni) akan tertinggal di dalam larutan selama air masih bersifat asam . Tetapi

jika dinetralisasi karena adanya reaksi dengan batuan dan tanah, maka zat – zat

tersebut akan cendrung mengendap sebagai mineral hidrosilikat (Ni-magnesium

hidrosilicate) yang disebut mineral garnierit [(Ni,Mg)6Si4O10(OH)8] atau mineral

pembawa Ni (Boldt, 1967).

III.4 Definisi dan Tipe Endapan Nikel Laterit

Laterit berasal dari bahasa latin yaitu later, yang artinya bata (membentuk

bongkah - bongkah yang tersusun seperti bata yang berwarna merah bata) (Guilbert

29
dan Park, 1986). Hal ini dikarenakan tanah laterit tersusun oleh fragmen - fragmen

batuan yang mengambang di antara matriks, seperti bata di antara semen.

Smith (1992), menyatakan bahwa laterit merupakan produk akhir dari

pelapukan dan dalam hal ini dibedakan oleh kehadiran dari Fe (besi) pada bagian atas

dan lapisan kaya Al (aluminium) dan bersifat keras dan oksidasi terjadi di atas lapisan

kaya silika.

Endapan nikel laterit merupakan endapan hasil proses pelapukan lateritik

batuan induk utrabasa (peridotit, dunit dan serpentinit) yang mengandung Ni dengan

kadar tinggi, agen pelapukan tersebut beruap air hujan, suhu, kelembaban, topografi,

dan lain-lain. Umumnya pembentukan endapan nikel laterit terjadi pada daerah tropis

atau sub-tropis, Contoh : Indonesia, Kaledonia Baru, Orogen (Anonim, 1985).

Endapan Ni-laterit berdasarkan komposisi bijih dibedakan menjadi 2 macam

(Anonim, 1985), yaitu : nickelliferous iron laterite dan nickel-silicate laterites.

Nickelliferous iron laterite (bijih nikel oksida) dicirikan oleh kandungan besi yang

tinggi (45-55%) dan Ni antara 0,9 - 1,5%. Dengan Ni terikat dalam mineral geothit

dan limonit. Tipe lainnya adalah nickel-silicate laterites (nikel silikat) kandungan

besinya mencapai 30 %, silika dioksida lebih dari 30 % dan kandungan nikelnya

mencapai 1,5 %. Unsur Ni tersebut terkandung dalam grup mineral garnierit, geothit.

Disebut nikel silikat karena nikel terdapat sebagai hidrosilikat garnierit. Sedangkan

30
menurut Guilbert (1986), bahwa nickel silicate laterite mengacu pada penempatan ion

nikel dalam lapisan silikat, dimana pada tipe ini mengandung Ni antara 0,8 – 1,5 %.

III.5 Penyebaran Horizontal Endapan Nikel Laterit

Penyebaran horizontal Ni tergantung dari arah aliran air tanah yang sangat

dipengaruhi oleh bentuk kemiringan lereng (topografi). Air tanah bergerak dari

daerah – daerah yang mempunyai tingkat ketinggian ke arah lereng, yang mana

sebagian besar dari air tanah pembawa Ni, Mg dan Si yang mengalir ke zona

pelindian atau zona tempat fluktuasi air tanah berlangsung (Hasanudin, 1992).

Tempat - tempat yang banyak mengandung rekahan – rekahan, Ni akan terjebak dan

terakumulasi di tempat – tempat yang dalam sesuai dengan rekahan – rekahan yang

ada, sedangkan pada lereng dengan kemiringan landai sampai sedang merupakan

tempat pengkayaan nikel. Pada dasarnya proses pelindian ini dapat dikelompokan,

yaitu proses pelindian utama yang berlansung secara horizontal di zona pelindian dan

proses pelindian yang berlangsung secara vertikal yang meliputi proses pelindian

celah di zona saprolit serta proses pelindian yang terjadi di waktu musim penghujan

di zona limonit (Golightly, 1979 dalam Hasanudin, 1992). Tanda panah (Gambar

IV.3) menunjukkan arah aliran air tanah merupakan zona pelindian sebagai larutan

pembawa Ni

31
Zona
pelindian

Lapisan laterit

insitu

Pengendapan bijih nikel Pengkayaan dangkal Pengkayaan dalam


dengan sedikit oleh retakan-
Dan larutan yang turun retakan batuan retakan batuan

Gambar 8. Penampang tegak endapan nikel laterit (Boldt, J.R., 1967)

Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat sebaran secara horizontal endapan

lateritik yaitu :

 Topografi / morfologi yang tidak curam tingkat kelerengannya, sehingga

endapan laterit masih mampu untuk ditopang oleh permukaan topografi

sehingga tidak terangkut semua oleh proses erosi ataupun ketidakstabilan

lereng.

 Adanya proses pelapukan yang relatif merata walaupun berbeda tingkat

intensitasnya, sehingga endapan lateritik terbentuk dan tersebar secara

merata.

32
 Adanya tumbuhan penutup yang berfungsi untuk mengurangi tingkat

intensitas erosi endapan laterit, sehingga endapan laterit tersebut relatif

tidak terganggu.

III.6 Zonasi Profil Endapan Nikel Laterit

Wahedd (2002), membagi profil laterit menjadi 4 zona (dari atas ke bawah),

yaitu :

 Zona Limonit Atas ( LA )

Zona ini berada paling atas pada profil dan masih dipengaruhi aktivitas

permukaan dengan kuat. Zona ini tersusun oleh humus dan limonit. Mineral-

penyusunnya adalah goethit, hematit, yang mengindikasikan daerah yang

sudah lama tersingkap. Iron capping (Ferricrete) terbentuk akibat mobilitas

limonit yang berbentuk pada kondisi asam dekat permukaan dengan

morfologi relatif datar. Secara umum meterial – material penyusun zona ini

berukuran halus (lempung – lanau), Sering dijumpai mineral stabil seperti

spinel, magnetit dan kromit. Tekstur dan struktur dari batuan induk tidak

dapat dikenali.

 Zona Medium Grade Limonit (MGL)

Zona di bawah LA dengan sifat fisik mirip dengan LA. Ukuran material

bervariasi dari lempung – pasir. Tekstur dan struktur dari batuan induk mulai

dapat dikenali, dengan jumlah fragmen peridotit berukuran 2-3 cm (jumlah

33
sedikit). Mulai terdapat pengkayaan mineral ekonomis berupa kromit dan

kobalt. Merupakan zona transisi dari LA ke saprolit dengan ketebalan 1-5

meter. Kecendrungan kimia pada lapisan ini, terjadi pengkayaan supergen Ni

yang signifikan, Fe semakin mengecil, SiO2 semakin membesar, dan Co pada

lapisan ini paling tinggi dan mengalami kestabilan (dibanding lapisan yang

lain). Mineralisasi sama dengan zona limonit dan zona saprolit, yang

membedakan adalah hadirnya kuarsa dan opal.

 Zona Saprolit

Merupakan zona bijih (ore zone), mengandung banyak fragmen batuan dasar

yang teralterasi sehingga mineral penyusunnya, tekstur dan struktur batuan

induk dapat dengan mudah dikenali. Saprolit urat (vein) garnierit, yang

merupakan koloid nickeliferous serpentine banyak dijumpai. Kecendrungan

kimianya, yaitu mempunyai kandungan Ni yang paling tinggi. Ketebalan

berkisar antara 2 - 14 meter. Hasanudin dkk, (1992), menyatakan bahwa

derajat serpentinisasi batuan asal laterit akan mempengaruhi pembentukan

zona saprolit, dimana batuan induk yang sedikit terserpentinisasi akan

memberikan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras, pengisian celah

oleh mineral garnierit, kalsedon - nikel dan kuarsa, sedangkan serpentinit akan

menghasilkan zona saprolit yang relatif homogen dengan sedikit kuarsa atau

garnierit.

 Zona batuan induk (Bedrock zone)

34
Zona batuan induk berada pada bagian paling bawah dari profil laterit.

Tersusun atas bongkah lebih besar dari 75 cm dan blok batuan dasar dan

secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis lagi. Zona ini

terfrakturisasi kuat, kadang - kadang membuka, terisi oleh mineral garnierit

dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab muncul atau

adanya root zone of weathering (zona akar – akar pelapukan), yaitu high

grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi. Batuan induk umumnya berupa

peridotit, dunit, serpentinit.

III.7 Pelapukan Endapan Nikel Laterite

Pelapukan adalah proses perubahan fisik dan kimia pada batuan atau mineral

yang berlangsung di atau dekat permukaan bumi (Waheed, 2002). Sedangkan Pearl

(1988), menyatakan bahwa ketika batuan terangkat ke permukaan akibat proses

tektonik, batuan secara perlahan -lahan akan pecah (retak). Retakan pada batuan

inilah yang merupakan akses yang baik untuk terjadinya proses pelapukan.

Pelapukan disebabkan oleh kontak batuan dengan air, udara dan organisme.

Menurut Pearl (1988), terdapat 2 macam pelapukan, yaitu : pelapukan

mekanis dan pelapukan kimia. Walaupun kenyataannya di alam, kedua proses

pelapukan tersebut sering terjadi bersama – sama.

 Pelapukan Mekanis

35
Pelapukan mekanis menyebabkan batuan menjadi pecah - pecah melalui berbagai

kekuatan. Proses tersebut tanpa merubah komposisi kimia dari materialnya (Pearl,

1988). Batuan yang mengalami proses pelapukan mekanik akan pecah menjadi

bagian-bagian yang kecil. Hasil akhir proses ini ialah material kecil yang berasal

dari batuan yang besar. Perombakan menjadi material kecil mengakibatkan

bertambahnya luas permukaan material, sehingga menambah efektifitas pelapukan

kimia.

 Pelapukan Kimia

Menurut Waheed (2002), bahwa pelapukan kimia merupakan proses dimana

batuan bereaksi dengan agen - agen atmosfir, hidrosfer dan aktifitas biologi untuk

membentuk fase mineral yang lebih stabil. Batuan terurai melalui proses kimia.

Pelapukan kimia (yang berhubungan dengan proses lateritisasi) terjadi dalam 4

macam (Waheed, 2002), yaitu :

 Hidrolisis

Merupakan proses kimia oleh adanya penguraian mineral menjadi komponen

– komponen yang lebih stabil di bawah pengaruh pelapukan kimia.

Sedangkan Ollier (1969), menyatakan bahwa hidrolisis merupakan reaksi

antara mineral dengan air, yaitu antara ion H+ dan ion OH- air dengan ion-ion

mineral.

 Oksidasi

36
Agen oksidasi pada lingkungan tanah adalah oksigen yang larut dalam air

hujan dan air tanah. Kondisi oksidasi hanya berada diatas permukaan air

tanah, sedangkan di bawah muka air tanah merupakan lingkungan reduksi.

Oksidasi dan reduksi, merupakan proses yang akan membentuk mineral-

mineral oksida akibat reaksi antara mineral dengan oksigen, atau jika

mengikutsertakan air akan menjadi mineral hidroksida.

 Hidrasi

Kehadiran ion hidroksil (OH), banyaknya oksidasi dihasilkan melalui

penguraian mineral kemudian diubah menjadi hidroksida. Hidrasi merupakan

proses penyerapan molekul-molekul air oleh mineral, sehingga membentuk

mineral hidrous. Contoh : hematit menjadi limonit.

 Larutan (solution)

Ketika pelapukan kimia berlanjut, hal ini menjadi lebih penting karena semua

unsur akan terurai dari mineral – mineral utamanya yang pindah (hilang) dari

lingkungan dimana proses larutan terjadi.

Proses kimia yang umumnya berlangsung pada perlapisan batuan utrabasa

adalah hidrolisis dan oksidasi. Hidrolisis merupakan tipe dari reaksi kimia antara

mineral dan air selanjutnya menghasilkan suatu kelebihan ion H+ atau OH- di dalam

larutan (Krauskopf dan Bird, 1995).

Menurut Krauskopf dan Bird (1995), proses hidrolisis adalah proses primer

pada pelapukan silikat. Reaksi hidrolisis yang dialami olivin adalah :

37
A2SiO4 + 4H2CO3 2A2+ + 4HCO3- + H4SiO4

Olivin

Keterangan : A = (Mg, Fe)

Proses oksidasi terjadi pada kation Fe2+ mengalami oksidasi dan menghasilkan

oksidasi besi dengan reaksi (Krauskopf dan Bird, 1995) :

2Fe2+ + 4HCO-3 + 1/2O2 + 2H2O Fe2O3 + 4H2CO3

Hematit

Hematit (Fe2O3) yang terbentuk kemudian mengalami hidrasi, reaksi

penambahan air pada mineral (Krauskopf dan Bird, 1995), sehingga oksidasi besi ini

berubah menjadi oksidasi besi terhidrasi yang merupakan penyusun utama limonit

(2Fe2O3.3H2O) dan geotit (Fe2O3.H2O) (Waheed, 2002).

III.8 Unsur-unsur dalam Endapan Laterit

Batuan ultramafik dan endapan laterit yang dihasilkan merupakan sistem

multikomponen yang terkena proses terus menerus dari pelapukan kimia dan

fisika. Pembentukan mineral baru dan fase kimia terus terbentuk dalam

lingkungan yang berubah.

Perilaku berbagai elemen selama proses laterisasi dikendalikan oleh dua

faktor yakni sifat kimia khusus dari unsur-unsur itu sendiri dan kondisi

lingkungan yang berlaku (suhu, curah hujan, kondisi batuan, pH dan Eh, dan lain-

lain). Berikut ini penjelasan sifat-sifat kimia dari beberapa unsur yang umumnya

38
terdapat dalam endapan laterit dan sangat dipengaruhi oleh proses kimia selama

pembentukan endapan laterit (Ahmad, 2006).

- Kalsium (Ca)

Kalsium hadir dalam batuan ultramafik terutama dalam klinopiroksin, olivin

memiliki sedikit kalsium dan sangat sedikit dalam ortopiroksin. CaO di olivin jarang

melebihi 1%. Kandungan CaO dari ortopiroksin jarang melebihi 2%. Dalam

klinopiroksin, kalsium tergantung pada jumlah larutan padat. Kalsium sangat

mudah larut dalam air tanah pada daerah tropis dan mudah masuk ke dalam

larutan dan dengan cepat dihapus dari lingkungan laterisasi.

- Alkali (Na dan K)

Natrium dan kalium yang hadir dalam batuan ultramafik dalam jumlah sangat

kecil, rata-rata biasanya kurang dari 0,1%. Keduanya sangat larut dalam air tanah

dan cepat untuk tercuci keluar dari mineral ferromagnesia. Meskipun isi rata-rata

natrium dan kalium dalam batuan sangat mirip (Na2O = 3,89%, K2O = 3,13%),

konsentrasi kalium dalam air laut hanya sepersepuluh dari konsentrasi natrium.

Hal ini karena kalium tetap berada dalam berbagai mineral lempung setelah

pencucian dari mineral primer.

- Magnesium (Mg)

Magnesium adalah bagian yang sangat penting dari olivin dan piroksin, yang

membentuk hampir 30 - 40% dari batuan ultrabasa. Magensium juga sangat larut

dalam air tanah sehingga sangat mudah tercuci keluar dari profil laterit pada tahap

39
awal dari pelapukan kimia. Dalam kondisi tropis, magnesium dengan cepat keluar

dari profil laterit.

- Silika (Si)

Sekitar 40 - 50% unsur kimia dalam ultrabasa terdiri dari silika, pada

dasarnya sebagai olivin primer dan mineral piroksin, atau sebagai serpentin

sekunder. Sebagai obligasi kation yang dipecah dalam struktur silikat, silikon

tetrahedral dibebaskan. Meskipun kelarutan silika dalam air tanah jauh lebih rendah

dibandingkan unsur bergerak lain, kelarutan silika yang tinggi dalam bentuk silika

amorf atau sebagai silika pecahan dari ferromagnesian silikat. Sebagai

perbandingan, kelarutan silika sebagai kuarsa hanya sepersepuluh. Tingkat

pelepasan silika dari pemecahan mineral ferromagnesian dapat melebihi

tingkat di mana dapat diambil ke dalam larutan. Dalam kasus tersebut, silika

berlebih dapat bergabung dengan Mg, K, Fe dan Al untuk membentuk mineral

lempung. Jenis mineral lempung yang akan dibentuk akan tergantung pada beberapa

faktor, termasuk rasio SiO2 untuk Al2O3 dan Fe2O3, pH medium, dan kehadiran

dalam larutan kation lain seperti Ca, Mg, dan K. Karena kelarutan yang lebih rendah

dari magnesia, silika sering diendapkan di zona saprolit dari profil laterit di mana

magnesia akan menjadi larutan. Dalam kondisi tersebut, silika sering akan

membentuk vein dan urat kuarsa yang dalam proses limonitisasi dari saprolit dan

mengakibatkan pembentukan boxwork silika.

- Besi (Fe)

40
Besi hadir dalam ultramafik dalam bentuk primer di dalam magnetit, kromit,

crysolit, ortopiroksin, klinopiroksin atau dalam bentuk sekunder setelah mengalami

proses serpentinisasi. Jumlah kandungan Fe dalam peridotit umumnya dalam kisaran

2 - 7% tergantung pada jenis mineral ferromagnesian yang hadir. Besi dalam

mineral feromagnesian dengan cepat dioksidasi menjadi ferri dengan adanya

oksigen yang hadir di ruang pori, terutama di atas zona water table. Oksidasi besi

menjadi ferri sangat merusak struktur kristal mineral. Karena netralitas elektrostatik

dari kristal, oksidasi besi menjadi besi ferri harus disertai dengan pelepasan kation

lainnya. Pelepasan tersebut meninggalkan ruang kosong dalam struktur

kristal dan mempercepat

- Alumina (Al)

Alumina dalam batuan ultramafik hadir dalam piroksin (2 - 4%), alumina dari

olivin umumnya jauh di bawah 1%. Kandungan alumina dari ultramafik dapat

meningkat secara substansial jika dijumpai intrusi dike atau sill gabro. Alumina

merupakan salah satu elemen yang paling bergerak dalam profil laterit dengan

air tanah berada dalam kisaran pH 4,5 sampai 9,5. Alumina yang dilepaskan dari

dekomposisi mineral ferromagnesian dapat menggabungkan silika dan kation lain

untuk membentuk mineral lempung. Mineral lempung dipecah di bawah pengaruh

iklim tropis basah meninggalkan residu mineral bauksit (oksida alumina hidro).

Lempung yang terbentuk selama proses pelapukan kimia umumnya tinggi dalam

komponen leachable (silika, magnesium, alkali, kalsium).

41
- Kromit (Cr)

Kromit terjadi di batuan ultramafik sebagai kromit aksesori (FeO.Cr2O3) dan

sebagai pengganti ion Mg dan Fe di olivin dan piroksin. Kromit dalam olivin

umumnya terbatas kurang dari 0,2% sementara itu dapat mencapai sekitar 1%

di klinopiroksin. Ion kromit tidak larut dalam air tanah dan sangat stabil, sehingga

menjadi kromit di zona limonit dari laterit. Cr yang hadir dalam olivin dan

piroksin dalam bentuk divalen. Pada pelepasan dari mineral ferromagnesian,

beberapa Cr dapat dioksidasi menjadi kromit trivalen (dan dengan demikian stabil)

sementara beberapa Cr dapat dioksidasi menjadi oksida hexavalen (CrO3) atau

heksavalen kromit radikal (CrO4) yang sangat larut dalam air tanah dan beracun

terhadap manusia.

- Nikel (Ni)

Nikel terjadi pada batuan ultramafik sebagai pengganti ion ion Mg dan Fe di olivin

dan piroksin (dan juga di serpentin). Konsentrasi nikel tertinggi dalam mineral

olivin, diikuti oleh orthopiroksin dan klinopiroksin. Konsentrasi Nikel dalam

serpentin berasal dari mineral utama setelah serpentin terbentuk. Nikel awalnya larut

dalam air tanah asam yang meresap ke profil laterit dan setelah air mencapai zona

saprolit, magnesium yang lebih mudah larut memasuki air tanah dengan nikel yang

kurang larut diendapkan keluar. Nikel diendapkan di zona saprolit membentuk

hydrosilika nikel yang mengisi retak dan celah dan permukaan kekar. Dalam kasus

peridotit serpentinised, mineral serpentin membawa porositas yang cukup dan

42
memungkinkan untuk menembus struktur mineral nikeliferous. Beberapa Mg dalam

struktur serpentin digantikan oleh Ni menimbulkan nikeliferous serpentin. Nikel juga

hadir dalam mineral gutit/limonit di zona yang mengandung besi. Dalam profil

laterit, air tanah terus bergerak dan memcuci sebagian besar dari nikel hidroksida

yang berhubungan dengan besi dan endapan itu ke bawah zona saprolit sebagai

pengayaan sekunder. Dalam laterit nikel konsentrasi dalam gutit/limonit mineral

dapat tetap tinggi. Partisi nikel antara hidroksida (gutit, limonit, dan lain-lain) dan

silikat (serpentin, klorit, saponit, sepiolit, nontronit, smektit, dan lain-lain) dapat

bervariasi, tergantung pada komposisi batuan induk dan kondisi lingkungan selama

pelapukan. Sementara konsentrasi nikel umumnya rendah di zona limonit,

ketebalan keseluruhan zona ini umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan saprholit.

Menurut Schellmann (1978) dalam Ahmad (2006), hampir 80% dari nikel total

profil pelapukan dikaitkan dengan gutit dan mineral limonit di zona limonit.

Nikel terjadi di lingkungan ultrabasa/laterit dalam bentuk berikut:

Sebagai silikat olivin, piroksin dan serpentin di batuan dasar ultramafik.

Sebagai pengganti ion Fe dalam magnetit nikeliferous atau sebagai nikel

spinel trevorit (NiO.Fe2O3), dalam batuan ultramafik.

Sebagai nikel teradsorpsi di gutit, limonit asbolit dan lithiophorit di zona

limonit.

Sebagai nikeliferous serpentin, nikeliferous bedak, dan klorit nikeliferous

di zona saprolit, bersama dengan pengendapan tinggi nikel mineral garnierit.

43
Sebagai pengganti dari Mg dan Fe dalam mineral tanah liat (sepiolit, saponit,

smektit, nontronit, dan lain-lain).

- Mangan (Mn) dan Cobalt (Co)

Mangan dan kobalt yang hadir dalam batuan ultramafik hanya sebagai

komponen minor dengan kandungan Mn 0,2% dan Co 0,005%. Sebagian besar

mangan dan kobalt dalam ultramafik adalah dalam struktur olivin dan piroksin. Pada

pemecahan mineral ferromagnesia, mangan dan kobalt dilepaskan

Perilaku mangan dan kobalt dalam profil pelapukan sangat mirip seperti yang

tercermin oleh kenyataan bahwa hampir 90% dari kobalt yang terkandung

dalam batuan dasar yang tergabung dalam mineral oksida mangan asbolit,

lithiophorit dan gumpalan (Kuhnel et al, 1978 dalam Ahmad 2006). Umumnya

konsentrasi kobalt tertinggi ditemukan pada mineral mangan dengan

kristalinitas terendah. Kedua mangan dan kobalt juga dapat terserap dalam gutit

dan mineral limonit. Mn dan Co memiliki mobilitas agak rendah di cairan asam dan

cenderung bergerak turun mengikuti profil laterit. Namun mereka mencapai tingkat

stabil (dan lebih awal dari nikel) dan diendapkan baik di bagian bawah dari zona

limonit atau di bagian atas dari zona saprolit atau pada zona transisi. Konsentrasi

kobalt umumnya mengikuti mangan di profil laterit.

Pada daerah tropis dengan kelembaban suhu serta curah hujan yang sangat

tinggi, mengakibatkan proses pelapukan kimia membentuk unsur mobile dan non

44
mobile. Unsur mobile, non mobile (Ca, Na, K, Mg, Si) dipengaruhi oleh sifat

kestabilan ion kimia dan menyebabkan proses pelarutan unsur-unsur kimia dalam

batuan ultramafik akan mudah terlepas (leached out). Unsur-unsur non-mobile

akan residu dan terkonsentrasi pada sisa batuan yang lapuk, meliputi Al, Fe, Cr,

Ti, Mn and Co. Unsur-unsur semi-mobile akan terlepas di bagian atas propil laterit

dan terkonsentrasi di bagian bawah dan mengalami pengayaan (supergene

enrichment).

Menurut Golightly (1981), sifat mobile dan immobile dari unsur Ni, Co,

Fe, Mg memiliki nilai kadar yang berbeda pada tiap lapisan, yaitu : lapisan

limonit (Ni : <0,8-1,5%; Co : <0,1-0,2%; Fe : 25-50%; MgO : <0,5-15%), lapisan

saprolit (Ni : 1,8-3%; Co : <0,02-0,1%; Fe : 10-25%; MgO : <15-35%), Batuan

ultramafik (Ni : 0,3%; Co : 0,01%; Fe : 5%; MgO : <35-45%). Penampang

kedalaman dengan pola unsur-unsur utama penyusun nikel laterit diperlihatkan pada

Gambar 2.7 dibawah ini (Elias, 2003).

45
Gambar 9. Penampang kedalaman dan unsur-unsur utama penyusun nikel laterit
(Elias, 2003).

46
47

BAB IV

METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN

IV.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :

 Pengambilan sampel batuan pada daerah penelitian dan data untuk

estimasi sumberdaya nikel yaitu data sekunder hasil pemboran

eksplorasi nikel, berupa data titik kordinat pemboran, elevasi titik

pemboran, kode titik pemboran, kandungan kadar nikel, ketebalan

endapan nikel laterit dan kandungan unsur lain yang terdapat pada

hasil pemboran eksplorasi.

 Statistik dan analisa laboratorium meliputi petrografi dan sinar X

difraksi. Pelaksanaan analisa laboratorium petrografi dan sinar X

difraksi dilakukan di laboratorium PT. Manunggal Sarana Surya

Pratama, untuk mengetahui kandungan unsur dan senyawa kimia dari

hasil analisis laboratorium dalam bentuk susunan kadar unsur dan

senyawa kimia serta kadar grade nikel laterit.

IV.2 Tahapan Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap yaitu tahap pendahuluan, tahap

pengumpulan dan pembelajaran data awal, tahap pengambilan dan pengumpulan data,
tahap analisis data, dan tahap akhir berupa penyajian data akhir hasil penelitian.

Adapun Bagan alir penelitian dapat dilihat pada Gambar VI.1

 Tahap Pendahuluan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan proposal dan studi pustaka. Dimana

pada tahap penyusunan proposal dilakukan sebelum melakukan penelitian di PT.

Manunggal Sarana Surya Pratama. Sedangkan pada tahap studi pustaka

dilakukan pembacaan literatur yang menunjang penelitian mengenai geologi

regional, sub geologi lembar Lasusua Kendari dan proses serta faktor yang

berhubungan dengan lateritisasi nikel. Sebaran endapan nikel laterit.

 Tahap Pengumpulan dan Pembelajaran Data Awal

Dimana pada tahap ini dilakukan proses pengumpulan dan pembelajaran

data awal berupa data geologi regional daerah penelitian, data logging yang telah

ada sebelumnya, data hasil analisis kimia laboratorium berupa kadar grade nikel

laterit, dan data hasil analisis kandungan unsure kimia.

 Tahap Pengambilan dan Pengumpulan Data

Data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah peta dasar, foto udara,

data kandungan unsur kimia batuan dasar, data kandungan unsur kadar grade

nikel laterit, data coring dan conto batuan dasar. Data tersebut akan diproses

yang kemudian dianalisa dan diinterpretasi untuk mencapai tujuan yang

48
diharapkan. Tahap analisis data melewati beberapa tahap untuk dapat menuju ke

tujuan dari penelitian ini.

 Tahap Analisis Data

Pada tahap ini dimana dilakukan analisis data berupa data, yaitu :

 Pemerian Inti bor ( core )

Melalui data pendeskripsian inti bor, kemudian dilakukan pembagian

zona lateritnya ( zona limonit, zona saprolit, dan zona bedrock ) yang akan

digunakan untuk analisa perbandingan kandungan unsure serta penentuan

kadar grade nikel laterit.

 Analisa Unsur Kimia

Berdasarkan analisis ini akan didapatkan kandungan unsur-unsur

kimia dari batuan peridotit. Kandungan ini dihasilkan dari material hasil

pemboran yang dianalisis di Process and Technology Laboratory PT.

Manunggal Sarana Surya Pratama, dengan menggunakan metode X-Ray

Fluorescence, yang kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk persentase

kadar tiap unsur. Hasil analisa X – Ray berupa data kadar SiO2, MgO, Fe, Ni,

Al, Ca, Cr, Co, Mn. Dalam penelitian ini, data pemboran yang dianalisis

kimia sebanyak yang dibutuhkan holes dari daerah “HILL” PT. Manunggal

Sarana Surya Pratama. Data analisa unsur kimia merupakan data sekunder

yang didapat dari laboratorium.

49
Dari data tersebut diolah dengan software Interdex dan Arc View 3.2

yang akan menghasilkan peta penyebaran kandungan unsur kimia. Peta ini

digunakan untuk arahan penambangan dan sebagai salah satu parameter dalam

pengambilan conto batuan yang akan dianalisis petrografi.

Dari hasil analisis data-data tersebut diatas, maka dicari perbandingan

dan hubungannya kemudian disajikan dalam bentuk peta maupun diagram

setelah mengalami evaluasi. Setelah melalui evaluasi dan pembahasan, maka

akan didapatkan kesimpulan dari tujuan penelitian ini. Tahap ini dilakukan di

Mine Geology Exploration (MGX) PT. Manunggal Sarana Surya Pratama.

Setelah data-data telah tersedia, maka dilakukan korelasi sebaran

endapan nikel laterit menggunakan perangkat lunak Surpac versi 6.1.2.

 Pembahasan

Pada tahap ini kemudian berdasarkan hasil data yang telah diolah dan

diselesaikan kemudian dapat diketahui kualitas endapan nikel dari proses

pengolahan data mineralogy dan geokimia dari batuan dasar tersebut, yang

berada pada daerah konsesi PT. Manunggal Sarana Surya Pratama.

 Pembuatan Laporan

Setelah semua data yang dibutuhkan telah ada dan telah diolah

kemudian dianalisis maka dibuatlah suatu laporan dalam bentuk laporan kerja

praktek.

50
TAHAP PENDAHULUAN Pembuatan Proposal dan Studi Literatur

TAHAP ANALISIS DATA AWAL  Analisis Geologi


 Analisis Logging
 Analisis Unsur Kimia

TAHAP PENGAMBILAN & Pengamatan morfologi


PENGUMPULAN DATA
Pengamatan Struktur Geologi

Pengamatan litologi

Pengambilan foto sampel

Data kandungan kimia batuan

Foto udara

Loging data bor

Pengambilan conto batuan

Analisa Geologi Topografi,morfologi,


kelerengan,struktur kelurusan,
Pembuatan peta titik bor
TAHAP ANALISIS DATA
Analisa Logging Pengamatan megaskopis dan
mikroskopik ( Petrografi)

Analisa Unsur Kimia Penyebaran unsur (X ray)


KORELASI ZONA ENDAPAN
NIKEL LATERIT

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Gambar 10. Bagan alir penelitian

51
53

BAB V
JADWAL PENELITIAN

V.1. Perencanaan Waktu Penelitian

Kegiatan Mingg Mingg Mingg Mingg Mingg Mingg Mingg Mingg


u u u u u u u u

1 2 3 4 5 6 7 8

Studi
Pustaka

Pengumpul
an Data

Pengolahan
dan
Analisis
Data

Interpretasi
dan Diskusi

Presentasi
dan
Evaluasi

Catatan : Jadwal dapat disesuaikan dengan kesepakatan dan ketentuan


PT.Manunggal Sarana Surya Pratama.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, W., 2002, Nickel Laterites-A Short Course : Chemistry, Mineralogy, and
Formation of Nickel Laterites ( unpublished ), 98 p.

Ahmad, Waheed. 2006, Nickel Laterites - A Short Course On The Chemistry,


Mineralogy and Formation of Nickel Laterites, PT. Inco, Indonesia
(Unpublished).

Armstrong, M,(1998). Basic Linear Geostatistics. Springer-Verlag Berlin


Heidelberg. New York.

Anonim, 1985, Kajian Nikel, Buletin Khusus No. 2 - 85, Departemen Pertambangan
dan Energi, Dirjen Pertambangan Umum, PPTM, Bandung.

Boldt, J.R., 1967, The Winning of Nickel, The Hunter Rose Company, Longmans,
Canada.

Brown and Wagler, 1967, Rock Characterization Testing And Monitoring, ISRM
Suggested Methods, Published For The Commission On Testing Methods,
International Society For Rock Mechanics, Pergamon Press.

Elias, M, 2003, Nickel Laterite Deposit- Geological Overview, Resources, And


Exploitation, Centre for Ore Deposit Research, University of
Tasmania, Australia : 205-220.

Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. 2008. How to Design and Evaluate research in
Education. New York: McGraw-Hill.

Guilbert, J. M., and Park, C. F., 1986, Deposits Related to Weathering.

Golightly, J.P.,1979, Nickeliferous Laterites : A General Description. International


Laterit. Symposium New Orleans, Feb 19-21, 1979.

54
Golightly JP, 1981, Nickeliferous laterite Deposits, Economic Geology
75thAnniversary Volume.

Hasanuddin, D., Arifin Karim dan Apud Djajuli, 1992, Pemantauan Teknologi
Penambangan Bijih, Dirjen Pertambangan Umum, PPTM, Bandung.

Hamilton, W., 1979, Tectonics of Indonesian region. United States Government


Printing Office, Washington.

Hutchinson, C.S., 1983, Economic Deposits And Their Tectonic Setting, Macmillan,
Press L.td., London.

Herman dan Hasan Sidi, 2002, Geologi Regional Sulawesi. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi, Bandung.

Krauskopf, K. B., and Bird, D.K., 1995, Introduction to Geochemistry, 3rd Edition,
McGraw-Hill, Inc., New York.

Muhammad Amril Asy'ari,2012. Geologi Dan Estimasi Sumberdaya Nikel Laterit


Dengan Metode Idw (Inverse Distance Weight)Dan Kriging Pada Daerah
Bahodopi Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah, Jurnal
INTEKNA Tahun VII, No. 1

M. J. McFarlane, 1976, Laterite and Landscape. Academic Press London, New


York, San fransisco. A Subsidiary of Harcourt Brace Jovanovich,
publishers.

Nushantara, A. P., 2002, Profil Kimia Pelapukan bongkah Peridotit Daerah DX,
Soroako, Sulawesi Selatan, UGM, Yogyakarta (Tidak dipublikasikan).

Ollier, C.D., 1969, Weathering, Geomorphology Text 2, Pliver & Boyd, Edinburgh.

55
Pearl, R.M., 1988, Geology, 4rd Edition, A Division of Harper And Row, Publisher,
New York, Hagerstown, San Francisco, London.

Ringwood, A. E., 1975, Composition And Petrology of The Earth’s Mantle, McGraw-
Hill, Inc., The United States Of America.

Rusmana E.,Sukido,Sukarna, D., Haryanto, E.&Simanjuntak T.O., 1993, Peta


Geologi Lembar Lasusua – Kendari, Sulawesi, sekala 1 : 250.000, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Simandjuntak,T.O., Rusmana, E., Sukido, Sukarna, D., Haryono, E., 1993. Peta
Geologi Lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi (2112, 2212). Peta Geologi
Bersistem, Indonesia.

Smith, R.E., Anand, R.R., Churcward, H.M., Robertson, I.D.M., Grunsky, E.C.,
Gray, D.J., Wildan, J.E. & Pedrix, J.L., 1992, Laterite geochemistry
for detecting concealed mineral deposits, Yilgran Craton,
Western Australia - Final Report. CSIRO Division of Exploration
Geoscience, Restricted Report 236R (Reissued as Open File Report 50,
CRC LEMME, Perth, 1998).
Surono. 2013. Geologi Lengan Tenggara Sulawesi. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi
Surono, 2010,Geologi Lengan Tenggara. Badan Geologi. Bandung.
Wilson, M. 1989. Igneous Petrogenesis. Academic Division of Unwin Hyman Ltd,
London.

56
LAMPIRAN

57
58
59
CURRICULUM VITAE

IDENTITAS
Nama Muh. Taupan
Tempat &
Tanggal LahirBalikpapan, 18 Mei 1995
Jenis KelaminLaki – laki
Status Belum menikah
Kewarganegaraan
Indonesia
Agama Islam
Identitas NIM. F1G1 14 095
Email Topan.geologist@gmail.com
No. Telepon 085241909571
Jalan Kelapa, Kel.Kambu, Kec. Poasia Kota
Alamat Sementara
Kendari, Prov. Sulawesi Tenggara Kode Pos 93231
Kelurahan Anggaberi, Kecamatan Anggaberi,
Alamat Orang Tua
Kabupaten Konawe , Provinsi Sulawesi Tenggara
IPK 3,20
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
JENJANG PENDIDIKAN TEMPAT TAHUN JURUSAN

SD NEGERI 1 ANGGABERI ANGGABERI 2001-2007 -


SMP NEGERI 2 LASOLO MOLAWE 2007-2010 -
SMA NEGERI 1 LASOLO LASOLO 2010-2013 IPA
S1 UNIVERSITAS HALU TEKNIK
KENDARI 2014-sekarang
OLEO GEOLOGI
PENGALAMAN ORGANISASI
POSISI TAHUN ORGANISASI
ANGGOTA 2017-2019 HIPMI SULTRA ( BPC KOLUT )
DIVISI PENGKADERAN 2017-2019 HIPPMU KONAWE

60
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Muh. Taupan, mahasiswa Jurusan Teknik

Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

Universitas Halu Oleo. Lahir di Balikpapan pada tanggal

18 Mei 1995. Merupakan anak Ke 2 dari 3 bersaudara

dari pasangan Abdullah dan Sukartina.

Mengawali jenjang pendidikan Sekolah Dasar Negeri 1 Anggaberi pada tahun 2001

dan lulus pada tahun 2007. Kemudian meneruskan Pendidikan Sekolah Menengah

Pertama Negeri 3 Unaaha pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2010. Selanjutnya

Meneruskan Pendidikan di Sekolah Menengah Kjuruuan 1 Unaaha pada tahun 2010

dan selesai pada tahun 2013, dan kemudian Melanjutkan Pendidikan dijenjang

Perguruan Tinggi Negeri Universitas Halu Oleo pada tahun 2014 hingga sekarang,

dengan jalur masuk melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri

(SNMPTN).

61
62