Anda di halaman 1dari 8

REFLEKSI KASUS

STASE THT-KL

Disusun oleh :

Sukiswanti Andryana Sari SN

1912020024

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT-KL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PURWOKERTO
RSUD DR. SOESELO SLAWI KABUPATEN TEGAL
PERIODE 31 SEPTEMBER - 1 NOVEMBER 2019
REFLEKSI KASUS

1. Rangkuman kasus
Telah dilaporkan kasus seorang perempuan Ny. S usia 40 tahun datang
bersama keluarganya ke poliklinik THT RS Dokter Soeselo Slawi hari Senin,
30 September 2019 dengan keluhan nyeri pada telinga kiri yang dirasakan sejak
1 minggu yang lalu. Keluhan tersebut awalnya dirasakan secara mendadak
ketika bangun tidur. Pasien juga mengeluh telinga kiri keluar cairan terus
menerus sejak ± 5 bulan yang lalu. Cairan yang keluar dari telinga berwarna
bening kekuningan serta berbau dan tidak bercampur darah. Keluhan lainnya
yaitu pendengaran berkurang serta telinga kiri berdenging, demam (+), nyeri
kepala (+), batuk (+), pilek pada pasien disangkal, serta wajah kanannya terasa
tebal, mulut mencong ke kanan, namun bicara masih jelas. Keluhan kelemahan
pada anggota gerak pada pasien disangkal.
Keluhan telinga berair pernah dialami pasien beberapa tahun yang lalu.
Pasien sering mengalami batuk pilek. Pasien juga mengatakan tidak pernah
mengkomsumsi obat-obatan. Pasien biasanya membersihkan cairan yang keluar
dengan cotton bud. Pada pemeriksaan fisik telinga kiri didapatkan secret
purulent, serta membrane timpani telinga kiri tidak intak, terdapat perforasi attic
tepi rata dan pada pemeriksaan neurologi didapatkan wajah asimetris, tidak
dapat mengangkat alis kiri dan kerutan pada dahi tidak simetris. Berdasarkan
hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis berupa otitis media
supuratif kronik maligna auricula sinistra dengan parese nervus fasialis perifer.
Pada pasien menunjukkan manifestasi klinis berupa telinga
mengeluarkan cairan sejak lima bulan yang lalu serta ditemukannya perforasi
membran timpani pada telinga kiri, maka pasien dapat didiagnosis menderita
otitis media supuratif kronik.
2. Perasaan terhadap pengalaman
Perasaan terhadap pengambilan kasus ini merupakan pengalaman
aplikasi berdasarkan teori yang pernah didapat ketika pendidikan pre klinik di
masa kuliah. Pembelajaran berdasarkan kasus langsung yang ada di poliklinik
memberikan kesan yang sangat baik dan sangat bermanfaat untuk bekal menjadi
dokter umum nantinya, ditambah lagi kasus-kasus yang ada dan harus ditangani
dokter umum adalah kasus tersering yang ada di bagian THT. Keluhan pasien
yang dikeluhkan ketika datang ke poliklinik memberikan wawasan baru untuk
pengaplikasian klinis dari teori yang ada.
Contoh kasus yang diambil adalah Otitis Media Supuratif Kronik
(OMSK) dengan parese nervus fasialis perifer. Alasan untuk mengambil kasus
ini adalah karena OMSK merupakan kasus yang paling sering terjadi di
Indonesia. Hal ini disebabkan oleh faktor sosioekonomi, higiene buruk dan
kepadatan penduduk. OMSK biasanya terjadi pada sosial ekonomi rendah, area
pedesaan dengan kebersihan dan faktor nutrisi yang kurang. Faktor risiko
OMSK lainnya yaitu infeksi saluran pernafasan atas yang sering, status imun
yang buruk dan perokok pasif. Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau
yang biasa disebut “congek atau teleran” adalah radang kronis telinga tengah
dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan
riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 6-8 minggu,
baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret dapat encer, kental, bening atau
berupa nanah.

3. Evaluasi
Harapannya untuk pengambilan kasus, pemeriksaan yang dilakukan
sesuai dengan teori dilakukan semua, agar pembahasan berdasarkan teori yang
ada dapat disesuaikan dan penatalaksanaan yang didapat berdasarkan gejala
atau keparahan penyakit dapat ditentukan.
Diagnosis OMSK tidak sulit, dimana saat anamnesis biasanya pasien
selalu memiliki riwayat batuk pilek berulang. Infeksi kronik atau berulang dari
saluran napas atas (ISPA) menyebabkan terjadinya edema serta obstruksi tuba
auditoria. ISPA yang disebabkan oleh virus menyebabkan replikasi dari infeksi
bakteri dan meningkatkan inflamasi di nasofaring dan tuba auditoria. Hal ini
merupakan faktor predisposisi terjadinya kronisitas otitis media. Kondisi lain
yang dapat menjadi faktor risiko OMSK yaitu deviasi septum nasi, tuberkulosis,
tonsilitis kronik dan pembesaran adenoid.
Pasien mengeluh pendengaran berkurang. Untuk menentukan jenis tuli
dan derajat ketulian pada pasien dibutuhkan pemeriksaan garputala dan
audiometri. Kehilangan pendengaran merupakan komplikasi yang paling sering
pada OMSK. Tuli konduktif pada OMSK disebabkan oleh karena obstruksi dari
transmisi gelombang suara dari telinga tengah ke telinga dalam oleh
karena adanya cairan (pus) dan perforasi membran timpani menghilangkan
konduksi suara ke telinga dalam. Infeksi kronik dari telinga tengah
menyebabkan edema dari lapisan telingah tengah, perforasi membran
timpani dan rusaknya ossikula auditiva yang menyebabkan tuli konduktif 20-
60 dB. OMSK juga dapat menyebabkan tuli sensorineural akibat rusaknya
telinga dalam (koklea) terutama pada jalur saraf yang membawa sinyal dari
telinga dalam ke otak.
Pada pasien didapatkan mulut mencong ke kanan serta pasien tidak
dapat mengangkat alis mata kanan sehingga pada pasien dapat didiagnosis
parese nervus fasialis perifer. Parese nervus fasialis merupakan salah satu
komplikasi dari OMSK. Parese nervus fasialis yang berhubungan dengan
OMSK onsetnya bisa tiba-tiba atau bertahap. Onset yang tibatiba biasanya
disebabkan oleh eksaserbasi dari infeksi akut pada OMSK, sedangkan onset
yang bertahap terjadi karena kompresi dari kolesteatoma atau jaringan
granulasi.

4. Analisis
Pada pasien yang saya dapatkan, gejala yang dialami oleh pasien sesuai
berdasarkan teori mengenai OMSK dengan parese nervus facialis perifer,
dikarenakan pasien tersebut mengeluh nyeri pada telinga kiri yang dirasakan
sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan tersebut awalnya dirasakan secara
mendadak ketika bangun tidur. Pasien juga mengeluh telinga kiri keluar cairan
terus menerus sejak ± 5 bulan yang lalu. Cairan yang keluar dari telinga
berwarna bening kekuningan serta berbau dan tidak bercampur darah. Keluhan
lainnya yaitu pendengaran berkurang serta telinga kiri berdenging, demam (+),
nyeri kepala (+), batuk (+), pilek pada pasien disangkal, serta wajah kanannya
terasa tebal, mulut mencong ke kanan, namun bicara masih jelas. Keluhan
kelemahan pada anggota gerak pada pasien disangkal. Etiologi pasti dari parese
nervus fasialis pada infeksi telinga kronis tidak sepenuhnya diketahui, akan
tetapi keterlibatan inflamasi langsung dari nervus fasialis melalui kompresi
tuba akibat edema berpengaruh dalam patofisiologi parese nervus fasialis. Teori
lainnya mempercayai bahwa kolesteatoma dapat menyebabkan parese nervus
fasialis melalui bahan neurotoksik yang dihasilkannya atau menyebabkan
kerusakan tulang melalui berbagai aktivitas enzim.
Keluhan telinga berair pernah dialami pasien beberapa tahun yang lalu.
Pasien sering mengalami batuk pilek. Pasien juga mengatakan tidak pernah
mengkomsumsi obat-obatan. Pasien biasanya membersihkan cairan yang keluar
dengan cotton bud. Pada kasus OMSK dengan parese nervus fasialis yang
dialami oleh pasien tersebut seharusnya dilakukan terapi bedah yaitu
mastoidektomi, dikarenakan pasien sering mengalami keluar cairan yang terus
menerus dan berlasung lama yaitu 5 bulan serta memiliki riwayat pernah keluar
cairan dari telingan beberapa tahun yang lalu. Pasien tersebut pun setuju untuk
dilalukan rujukan ke RSUP Kariadi Semarang. Pasien juga diberikan
tatalaksana konservatif meliputi Ear Toilet, antibiotik topikal golongan
ofloxacin/ akilen, 2x6 tetes per hari selama 7 hari pada auricular sinistra,
antibiotik oral ciprofloxacin 2x500 mg per hari selama 7 hari, kortikosteroid
Methylprednisolon tab 2x4 mg per hari, Asam mefenamat tab 3x500 mg per
hari. Serta diberikan edukasi Menjaga kebersihan telinga dan tidak mengorek-
ngorek telinga dengan benda tajam atau cotton bud, menjaga agar telinga tidak
kemasukan air, menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan penyakit infeksi
sehingga dengan penangan yang tepat dapat disembuhkan, tetapi dikarenakan
penyakit yang diderita oleh pasien ini sudah mengakibatkan kurangnya
pendengaran serta mengarah kekomplikasi parese nervus fasialis maka
dilakukan rujuk dan istirahat

5. Kesimpulan
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah perforasi membran
timpani dengan drainase dari telinga tengah dengan waktu lebih dari 6-8
minggu. Supurasi kronis dapat terjadi dengan atau tanpa kolesteatoma. OMSK
terbagi menjadi dua yaitu OMSK tipe tubotimpani atau benigna atau tipe aman
dan OMSK tipe atticoantral atau maligna atau tipe bahaya. Pasien didiagnosis
OMSK tipe maligna dikarenakan pada pasien didapatkan sekret purulen dan
berbau busuk yang keluar pada telinga kanan dan terdapat perforasi attic dan
terdapat kolesteatoma. Kolesteatoma adalah lesi masa kistik non-kanker yang
terbentuk dari pertumbuhan abnormal dari epitel gepeng berkreatin, debris
kreatin dengan atau tanpa reaksi inflamasi pada tulang temporal. Pertumbuhan
abnormal ini progresif, invasif dan menyebabkan destruksi dari struktur tulang
di telinga tengah dan telinga dalam. Kolesteatoma dibagi menjadi dua
berdasarkan patogenesis penyakitnya yaitu kolesteatoma kongenital dan
kolesteatoma didapat. Kolesteatoma didapat terjadi sekunder dari migrasi epitel
ke telinga tengah melewati membran timpani yang perforasi oleh karena infeksi,
trauma, iatrogenesis.
Pasien didapatkan riwayat batuk pilek berulang. Infeksi kronik atau
berulang dari saluran napas atas (ISPA) menyebabkan terjadinya edema serta
obstruksi tuba auditoria. ISPA yang disebabkan oleh virus menyebabkan
replikasi dari infeksi bakteri dan meningkatkan inflamasi di nasofaring dan tuba
auditoria. Hal ini merupakan faktor predisposisi terjadinya kronisitas otitis
media. Kondisi lain yang dapat menjadi faktor risiko OMSK yaitu deviasi
septum nasi, tuberkulosis, tonsilitis kronik dan pembesaran adenoid.
Pasien mengeluh pendengaran berkurang. Untuk menentukan jenis tuli
dan derajat ketulian pada pasien dibutuhkan pemeriksaan garputala dan
audiometri. Kehilangan pendengaran merupakan komplikasi yang paling sering
pada OMSK. Tuli konduktif pada OMSK disebabkan oleh karena obstruksi dari
transmisi gelombang suara dari telinga tengah ke telinga dalam oleh karena
adanya cairan (pus) dan perforasi membran timpani menghilangkan konduksi
suara ke telinga dalam. Infeksi kronik dari telinga tengah menyebabkan edema
dari lapisan telingah tengah, perforasi membran timpani dan rusaknya ossikula
auditiva yang menyebabkan tuli konduktif 20-60 dB. OMSK juga dapat
menyebabkan tuli sensorineural akibat rusaknya telinga dalam (koklea)
terutama pada jalur saraf yang membawa sinyal dari telinga dalam ke otak.
Pada pasien didapatkan mulut mencong ke kanan serta pasien tidak
dapat mengangkat alis mata kanan sehingga pada pasien dapat didiagnosis
parese nervus fasialis perifer. Parese nervus fasialis merupakan salah satu
komplikasi dari OMSK. Parese nervus fasialis yang berhubungan dengan
OMSK onsetnya bisa tiba-tiba atau bertahap. Onset yang tibatiba biasanya
disebabkan oleh eksaserbasi dari infeksi akut pada OMSK, sedangkan onset
yang bertahap terjadi karena kompresi dari kolesteatoma atau jaringan
granulasi. Etiologi pasti dari parese nervus fasialis pada infeksi telinga kronis
tidak sepenuhnya diketahui, akan tetapi keterlibatan inflamasi langsung dari
nervus fasialis melalui kompresi tuba akibat edema berpengaruh dalam
patofisiologi parese nervus fasialis. Teori lainnya mempercayai bahwa
kolesteatoma dapat menyebabkan parese nervus fasialis melalui bahan
neurotoksik yang dihasilkannya atau menyebabkan kerusakan tulang melalui
berbagai aktivitas enzim. Tatalaksana konservatif dan operatif diperlukan pada
OMSK tipe maligna dengan komplikasi.
Diagnosis dini dan penatalaksanaan segera merupakan kunci
keberhasilan penatalaksanaan OMSK dengan komplikasi. Kombinasi
pemberian antibiotik dan tindakan bedah adalah modalitas utama dalam
penatalaksanaan OMSK dengan komplikasi. Penanganan yang cepat dan tepat
terhadap kasus OMSK dengan komplikasi dapat menurunkan morbiditas dan
mortalitas.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan telinga tengah. Dalam: Efiaty AS,
Nurbaiti I, Jenny B, Ratna DR, Editor. 2012. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala leher edisi kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. hlm. 57-69.
2. Basak B, Gayen GC, Das M, Dhar G, Ray R dan Das AK. 2014. Demographic
profile of CSOM in rural tertiary care hospital. IOSR Journal of Pharmacy.;
4(6):43-6.
3. Mahidiqbal, Adnan, Ihsanullah, Sharafat, Rehman MU dan Hussain G. 2013.
Frequency of Complication in Chronic Suppurative Otitis Media. Journal of
Saidu Medical College. 3(2):328-30.
4. Kim J, Jung GH, Park SY dan Lee WS. 2012. Facial nerve paralysis due to
chronic otitis media: prognosis in restoration of facial function after surgical
intervention. Yonsei Med J. 53(3):642-8