Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KASUS

ETIK DALAM KEPERAWATAN PALIATIF


Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Menjelang Ajal & Paliatif

Disusun oleh :
Kelompok 2

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
KAMPUS II
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “MAKALAH
KASUS ETIK DALAM KEPERAWATAN PALIATIF”. Di susun untuk
memenuhi syarat salah satu tugas Keperawatan Menjelang Ajal & Paliatif Tahun
Ajaran 2019-2020.
Adapun, penyusunan makalah ini kiranya masih jauh dari kata sempurna.
Untuk itu, kami menghaturkan permohonan maaf apabila terdapat keselahan
dalam makalah ini. Kami pun berharap pembaca makalah ini dapat memberikan
kritik dan sarannya kepada kami agar di kemudian hari kami bisa menyusun
makalah yang lebih sempurna lagi.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir khususnya:
1. Ns. Nanang Saprudin., S.Kep., M.Kep selaku ketua Prodi SI Ilmu
Keperawatan kampus II STIKKU.
2. Ns. Heri Hermansyah., S.Kep., MKM selaku dosen pengampu mata
kuliah Keperawatan Menjelang Ajal & Paliatif.
3. Para Stafs Perpustakaan kampus II STIKKU.
4. Orang tua kami yang selalu mendukung kami.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

Cirebon, 17 Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1
1.3 Tujuan .................................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN TEORI .................................................................... 2
2.1 Etik Dalam Perawatan Paliatif .............................................................. 2
2.1.1 Pengertian ................................................................................. 2
2.1.2 Dasar Hukum Keperawatan Paliatif ......................................... 2
2.1.3 Kajian Etik Tentang Perawatan Paliatif .................................... 3
2.2 Kebijakan Nasional Terkait Perawatan Paliatif .................................... 5
2.2.1 Tujuan Kebijakan...................................................................... 6
2.2.2 Sasaran Kebijakan Pelayanan Paliatif ...................................... 6
2.2.3 Lingkup Kegiatan Perawatan Paliatif ....................................... 6
2.2.4 Sumber Daya Manusia .............................................................. 7
2.2.5 Tempat dan Organisasi Perawatan Paliatif ............................... 8
2.2.6 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
812/Menkes/Sk/Vii/2007 ......................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN KASUS ........................................................... 11
3.1 Dilema Etik .......................................................................................... 11
3.2 Peran Perawat Daalam Pengambilan Keputusan .................................. 11
3.3 Kebijakan Perawatan Paliatif di Indonesia ........................................... 12
BAB IV PENUTUP ................................................................................... 13
4.1 Kesimpulan ........................................................................................... 13
4.2 Saran ...................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Perawatan paliatif adalah kesehatan terpadu yang aktif dan menyeluruh,
dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Tujuannya untuk mengurangi
penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya,
juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien
meninggal, sebelum meninggal sudah siap secara psikologis dan spiritual.
Menurut WHO palliative care merupakan pendekatan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi masaah yang
berkaitan dengan masalah yang mengancam jiwa, melalui pencegahan dan
menghentikan penderitaan dengan identifikasi dan penilaian dini, penanganan
nyeri dan masalah lainnya, seperti fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
(WHO,2017)
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan etik dalam perawatan paliatif ?
2. Bagaimana kebijakan nasional terkait perawatan paliatif?
1.3. TUJUAN PENULISAN
1. Agar mahasiswa mengetahui etik dalam keperawatan paliatif
2. Agar mahasiswa mengetahui kebijakan nasional terkait perawatan paliatif

1
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Etik Dalam Perawatan Paliatif
2.1.1 Pengertian
Perawatan paliatif adalah adalah kesehatan terpadu yang aktif
dan menyeluruh, degan pendekatan multidisiplin yang terintregrasi.
Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang
umurnya, meningkatkan kualitas hidup nya,juga memberikan support
kepada keluarganya. Meski pada akhirnya
pasien meninggal, sebelum meninggal sudah siap secara psikologis dan
spiritual.
Etik adalah Kesepakatan tentang praktik moral, keyakinan,
sistem nilai standar perilaku individu dan atau kelompok tentang
penilaian terhadap apa yang benar dan apa yang salah, mana yang
baik dan mana yang buruk, apa yang merupakan kejahatan, apa yang
dikehendaki dan apa yang ditolak.
Etika Keperawatan adalah Kesepakatan / peraturan tentang penerapan
nilai moral dan keputusan keputusan yang ditetapkan untuk profesi
keperawatan (Wikipedia,2008).
Menurut WHO palliative care merupakan pendekatan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi
masalah yang berkaitan dengan masalah yang mengancam jiwa, melalui
pencegahan dan menghentikan penderitaan dengan identifikasi dan
penilaian dini, penangnanan nyeri dan masalah lainnya, seperti fisik,
psikologis, sosial dan spiritual(WHO, 2017).
2.1.2 Dasar Hukum Keperawatan Paliatif
Dasar hukum keperawatan paliatif diantanya meliputi :
1. Aspek Medikolegal dalam perawatan paliatif ( Kep. Menkes NOMOR :
812/Menkes/SK/VII/2007 )
2. Persetujuan tindakan medis/infomed consent untuk pasien paliatif.
Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan
paliatif.

2
3. Resusitasi/Tidak resisutasi pada pasien paliatif.
Keputusan dilakukan atau tidak dilakukan tindakan resusitasi dapat
dibuat oleh pasien yang kompeten atau oleh Tim perawatan paliatif.
Informasi tentang hal ini sebaiknya telah di informasikan pada saat
pasien memasuki atau memulai perawatan paliatif.
4. Perawatan pasien paliatif di ICU
Pada dasarnya perawatan paliatif pasien di ICU mengikuti ketentuan
umum yang berlaku.
5. Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif.
Tindakan yang bersifat kedokteran harus dkerjakan oleh tenaga medis,
tetapi dengan pertimbangan yang mempertimbangkan keselamatan
pasien tindakan tindakan tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga
kesehatan yang terlatih.
6. Medikolegal Euthanasia
Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk
memperpanjang hidup seseorang pasien atau sengaja melakukan
sesuatu untukmemperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang
pasien, dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri.
2.1.3 Kajian Etik Tentang Perawatan Paliatif
1. Prinsip Dasar Dari Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif terkait dengan sluruh bidang perawatan mulai dari
medis, perawatan, psikologis sosial, budaya dan spiritual, sehingga secara
praktis, prinsip dasar perawatan paliatif dapat dipersamakan dengan
prinsip pada praktek medis yang baik.
Prinsip dasar perawatan paliatif : ( Rasjidi,2010 )
a) Prinsip otonomi
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu
mampu berpikirlogis dan mampu membuat keputusan sendiri.prinsip
otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang atau dipandang
sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional.

3
b) Non maleficienci (tidak merugikan )
Prinsip ini berati tidak menimbulkan bahya / cedera fisik dan
psikologis pada klien. Prinsip tidak merugikan, bahwa kita
berkwaiban jika melakukan suatu tindakan agar jangan sampai
merugikan orang lain.
c) Veracity ( kejujuran )
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran .Nilai ini
diperlikan oleh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan
kebenaran pada setiap pasien dan untuk menyakinkan bahwa pasien
sangat mengerti.
d) Beneficienec ( berbuat baik )
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang yang baik.
Kebaikan memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan,
penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh
diri dan orang lain.Terkadang dalam situsi pelayanan kesehatan,
terjadi konflikantara prinsip ini dengan otonomi.
e) Justice ( keadilan )
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil
terhadap orang lain yang enjunjung prinsip–prinsip moral, legal dan
kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika
tim perawatan paliatif bekerja untuk terapi yang benar sesuai
hukum,standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh
kualitas pelayanan kesehatan.
f) Kerahasiaaan ( Confidentiality )
Aturan dalam prinsip kerahasiaan ini adalah bahwa informasi
tentang pasien harus dijaga privasinya. Apa yang terdapat dalam
dokumen catatan kesehatan pasien hanya boleh dibacadalam rangka
pengobatan pasien. Tak ada satu orangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali diijinkan oleh pasien dengan bukti
pesetujuannya.

4
g) Akuntabilitas (accountability )
Prinsip ini berhubungan erat dengan fidelity yang berarti bahwa
tanggung jawab pasti pada setiap tindakan dan dapat digunakan untuk
enilai orang lain.Akuntabilitas merupakan standar yang pasti yang
man tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang
tidak jelas atau tanpa terkecuali.
2.2 Kebijakan Nasional Terkait Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui
pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib
serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan
spiritual (sumber referensi WHO, 2002).
Kualitas hidup pasien adalah keadaan pasien yang dipersepsikan
terhadap keadaan pasien sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang
dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya. Dimensi dari kualitas
hidup menurut Jennifer J. Clinch, Deborah Dudgeeon dan Harvey Schipper
(1999), adalah :
a. Gejala fisik
b. Kemampuan fungsional (aktivitas)
c. Kesejahteraan keluarga
d. Spiritual
e. Fungsi sosial
f. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan)
g. Orientasi masa depan
h. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri
i. Fungsi dalam bekerja.
Palliative home care adalah pelayanan perawatan paliatif yang
dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau keluarga atas
bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif.
Hospis adalah tempat dimana pasien dengan penyakit stadium terminal
yang tidak dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang

5
harus dilakukan di rumah sakit Pelayanan yang diberikan tidak seperti di
rumah sakit, tetapi dapat memberikan pelayaan untuk mengendalikan gejala-
gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.
Sarana (fasilitas) kesehatan adalah tempat yang menyediakan layanan
kesehatan secara medis bagi masyarakat.Kompeten adalah keadaan kesehatan
mental pasien sedemikian rupa sehingga mampu menerima dan memahami
informasi yang diperlukan dan mampu membuat keputusan secara rasional
berdasarkan informasi tersebut.
2.2.1 Tujuan Kebijakan
Tujuan umum:
Sebagai payung hukum dan arahan bagi perawatan paliatif di Indonesia
Tujuan khusus:
1. Terlaksananya perawatan paliatif yang bermutu sesuai standar yang
berlaku di seluruh Indonesia
2. Tersusunnya pedoman-pedoman pelaksanaan/juklak perawatan paliatif.
3. Tersedianya tenaga medis dan non medis yang terlatih.
4. Tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan.
2.2.2 Sasaran Kebijakan Pelayanan Paliatif
1. Seluruh pasien (dewasa dan anak) dan anggota keluarga, lingkungan
yang memerlukan perawatan paliatif di mana pun pasien berada di
seluruh Indonesia
2. Pelaksana perawatan paliatif : dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya
dan tenaga terkait lainnya.
3. Institusi-institusi terkait, misalnya:
a. Dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota
b. Rumah Sakit pemerintah dan swasta
c. Puskesmas
d. Rumah perawatan/hospis
e. Fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta lain.
2.2.3 Lingkup Kegiatan Perawatan Paliatif
1. Jenis kegiatan perawatan paliatif meliputi :
a. Penatalaksanaan nyeri.

6
b. Penatalaksanaan keluhan fisik lain.
c. Asuhan keperawatan
d. Dukungan psikologis
e. Dukungan sosial
f. Dukungan kultural dan spiritual
g. Dukungan persiapan dan selama masa dukacita (bereavement).
2. Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan, dan
kunjungan/rawat rumah.
2.2.4 Sumber Daya Manusia
1. Pelaksana perawatan paliatif adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial,
rohaniawan, keluarga, relawan.
2. Kriteria pelaksana perawatan paliatif adalah telah mengikuti
pendidikan/pelatihan perawatan paliatif dan telah mendapat sertifikat.
3. Pelatihan
a. Modul pelatihan
Penyusunan modul pelatihan dilakukan dengan kerjasama antara
para pakar perawatan paliatif dengan Departemen Kesehatan (Badan
Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik). Modul-modul tersebut
terdiri dari modul untuk dokter, modul untuk perawat, modul untuk
tenaga kesehatan lainnya, modul untuk tenaga non medis.
b. Pelatih
Pakar perawatan paliatif dari RS Pendidikan dan Fakultas
Kedokteran.
c. Sertifikasi
Dari Departemen Kesehatan c.q Pusat Pelatihan dan Pendidikan
Badan PPSDM. Pada tahap pertama dilakukan sertifikasi pemutihan
untuk pelaksana perawatan paliatif di 5 (lima) propinsi yaitu :
Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makasar. Pada tahap
selanjutnya sertifikasi diberikan setelah mengikuti pelatihan.
4. Pendidikan Pendidikan formal spesialis paliatif (ilmu kedokteran
paliatif, ilmu keperawatan paliatif).

7
2.2.5 Tempat Dan Organisasi Perawatan Paliatif
Tempat untuk melakukan perawatan paliatif adalah:
1. Rumah sakit
Untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang
memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus.
2. Puskesmas
Untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.
3. Rumah singgah/panti (hospis) :
Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan
khusus atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah
karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan.
4. Rumah pasien
Untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan
khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang tidak
mungkin dilakukan oleh keluarga. Organisasi perawatan paliatif,
menurut tempat pelayanan/sarana kesehatannya adalah :
a. Kelompok Perawatan Paliatif dibentuk di tingkat puskesmas.
b. Unit Perawatan Paliatif dibentuk di rumah sakit kelas D, kelas C
dan kelas B non pendidikan.
c. Instalasi Perawatan Paliatif dibentuk di Rumah sakit kelas B
Pendidikan dan kelas A. 4.Tata kerja organisasi perawatan paliatif
bersifat koordinatif dan melibatkan semua unsur terkait.
2.2.6 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
812/Menkes/Sk/Vii/2007
Tentang Kebijakan Perawatan Paliatif Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
1. Menimbang :
a. bahwa kasus penyakit yang belum dapat disembuhkan semakin
meningkat jumlahnya baik pada pasien dewasa maupun anak;
b. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
bagi pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan selain

8
dengan perawatan kuratif dan rehabilitatif juga diperlukan perawatan
paliatif bagi pasien dengan stadium terminal;
c. bahwa sesuai dengan pertimbangan butir a dan b di atas, perlu
adanya Keputusan Menteri Kesehatan tentang Kebijakan Perawatan
Paliatif.
2. Mengingat :
a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3495);
b. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4431);
c. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
159b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit;
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik;
e. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi RS di
Lingkungan Departemen Kesehatan;
f. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 0588/YM/RSKS/SK/VI/1992
tentang Proyek Panduan Pelaksanaan Paliatif dan Bebas Nyeri
Kanker;
g. Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Nomor
319/PB/A.4/88 tentang Informed Consent;
h. Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Nomor
336/PB/A.4/88 tentang MATI.
3. Memutuskan :
a. Kesatu :keputusan menteri kesehatan tentang kebijakan perawatan
paliatif Kedua Keputusan Menteri Kesehatan mengenai Perawatan
Paliatif sebagaimana dimaksud Diktum Kesatu sebagaimana
tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.

9
b. Ketiga : Surat Persetujuan Tindakan Perawatan Paliatif sebagaimana
tercantum dalam Lampiran II Keputusan ini
c. Keempat : Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
keputusan ini dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Dinas Kesehatan
Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan fungsi dan
tugasnya masing-masing.
d. Kelima : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan;
e. Keenam : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat
keputusan ini, akan dilakukan perbaikan-perbaikan sebagaimana
mestinya.

10
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

3.1 Dilema etik


Kasus ini termasuk dalam isu etik Eutanasia. Eutanasia berasal dari
bahasa Yunani yaitu eun dan thansia yang berarti “mati yang tenang” (said,
1989). Oleh karena itu eutanasia sering disebut juga dengan mercy killing, a
good death atau enjoy death (mati dengan tenang). Bisa di artikan juga
bahwa eutanasia merupakan sesuatu tindakan yang mengakhiri kehidupan
seseorang yang masih hidup ataupun dalam keadaan sakit dan disuntik mati.
Berdasarkan kasus diatas, Euthanasia yang termasuk yaitu Euthanasia
Pasif. Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut
segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup
manusia, sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan
pertolongan dihentikan.
Eutanasia yang terjadi pada kasus diatas, ditinjau dari permintaan atau
pemberian izin, termasuk ke dalam Euthanasia involunter. Euthanasia
involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam
keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan
keinginannya. Dalam hal ini dianggap keluarga pasien yang bertanggung
jawab atas penghentian bantuan pengobatan. Perbuatan ini sulit dibedakan
dengan perbuatan kriminal.
3.2 Peran perawat dalam pengambilan keputusan
1. Memberikan pengertian kepada keluarga klien bahwa permintaannya
(Euthanasia) adalah perbuatan yang melanggar hukum dan di negara
Indonesia melarang tindakan tersebut.
2. Perawat harus memberikan semangat kepada klien agar tetap tabah
menjalani penyakitnya walau hasil akhirnya nanti ia tetap meninggal
dunia
3. Tetap melaksanakan pengobatan atau terapi sebagaimana mestinya
tanpa mempercepat kematian klien demgan berbagai alasan karena
akan melanggar hukum.

11
3.3 Kebijakan perawatan paliatif di Indonesia
Pada kasus diatas klien termasuk individu yang membutuhkan
perawatan paliatif. Perawatan paliatif adalah kesehatan terpadu yang aktif
dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi.
Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya,
meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan dukungan kepada
keluarganya.
Atas dasar ini pada tahun 2007 kementrian kesehatan mengeluarkan
keputusan No: 812/Menkes/SK/VII/2007 yang isinya meliputi pengertian,
tujuan dan sasaran kebijakan, lingkup kegiatan perawatan paliatif, aspek
medikolegal dalam keperawatan paliatif, sumber daya manusia, tempat dan
organisasi perawatan paliatif, pembinaan dan pengawasan, pengembangan
dan peningkatan mutu perawatan paliatif, serta sumber pendanaan.
Kebijakan itu dibuat demi mendukung pelayanan perawatan paliatif untuk
memenuhi hak klien yaitu mendapatkan pelayanan yang bermutu,
komprehensif dan holistik.

12
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Perawatan paliatif adalah adalah kesehatan terpadu yang aktif dan
menyeluruh, degan pendekatan multidisiplin yang terintregrasi. Tujuannya
untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya,
meningkatkan kualitas hidup nya, juga memberikan support kepada
keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, sebelum meninggal
sudah siap secara psikologis dan spiritual.
Etika Keperawatan adalah Kesepakatan / peraturan tentang penerapan nilai
moral dan keputusan keputusan yang ditetapkan untuk profesi keperawatan
4.2. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan kita tentang etika dalam keperawatan paliatif Kami selaku
penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://www.aidsindosia.or.id/uploads/20130506131833.skmenkes_Nomor_812M
ENKESSKVII2007_Tentang_Kebijakan_Perawatan_paliatif.pdf (17
Oktober 2019)

Kemp, Charles.2009. Klien Sakit Terminal, seri asuhan keperawatan. Edisi 2.


Jakarta:EGC

14