Anda di halaman 1dari 50

JURNAL PRAKTIKUM FITOFARMAKA

TUGAS 2

PENENTUAN PARAMETER MUTU EKSTRAK KENCUR (Kaempferia galanga L.)

Nama : Gusti Agung Kurnia


NIM : 201510410311184
Kelas : Farmasi D
Dosen pembimbing : Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt.
Amaliya Dina Anggraeni, M.Farm., Apt
Tanggal Praktikum : Kamis, 11 Oktober 2018

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................. 2
2.1 Tanaman Kencur (Kaemferia galanga L.)................................................................................ 2
2.1.1 Sistematika dan Klasifikasi.................................................................................................. 2
2.1.2 Pemerian Kaempferia galanga L. ........................................................................................ 3
2.1.3 Morfologi Tanaman ............................................................................................................. 3
2.1.4 Khasiat Tanaman ................................................................................................................. 4
2.1.5 Kandungan Kimia ................................................................................................................ 5
2.2 Ekstrak ......................................................................................................................................... 5
2.3 Parameter mutu ekstrak kencur ............................................................................................... 7
2.4 Standardisasi ............................................................................................................................... 7
2.5 Parameter-parameter Standar Ekstrak.................................................................................... 8
BAB III PROSEDUR KERJA ................................................................................................. 13
3.1 Alat dan Bahan.......................................................................................................................... 13
3.2 Parameter Spesifik .................................................................................................................... 14
3.2.2 Organoleptik ...................................................................................................................... 14
3.3 Parameter Non-Spesifik ........................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 47

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman hayati terutama pada
tumbuh-tumbuhan. Ada lebih dari 30.000 jenis tumbuhan yang terdapat di Indonesia ini, dan
lebih dari 1000 jenis telah diketahui dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Salah satu jenis
tumbuhan yang berpotensi sebagai komoditas baru bagi Indonesia adalah kencur.
Kencur merupakan jenis tanaman obat potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku minuman untuk kesehatan, obat-obatan dan penyedap masakan, serta dapat juga
dimanfaatkan sebagai kosmetik. Tingkat keragaman tanaman kencur sangat sempit,
disebabkan oleh perbanyakan tanaman secara vegetatif, sehingga untuk memperoleh varietas
unggul melalui pemuliaan sangat terbatas (Rostiana et al., 2003).
Kencur (Kaemferia galanga L.) adalah salah satu jenis tumbuhan temu-temuan (umbi-
umbian) yang termasuk famili Zingiberaceae, yang mengandung minyak atsiri 2,4%-3,9%,
juga cinnamal, aldehide, asam motil p-cumarik, asam cinnamal, etil ester, dan pentadekan
(Rukmana,1994).
Umumnya kencur diproses dengan berbagai macam cara, seperti diambil sarinya,
dibuat tepung, bahkan langsung digunakan untuk berbagai keperluan. Hampir seluruh bagian
tanaman kencur mengandung minyak atsiri (Afriastini, 1990).

1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, makalah ini disusun dengan tujuan yaitu:
Mahasiswa mampu melakukan proses penentuan parameter mutu ekstrak Kaempferia
galanga L.
1.3 Manfaat
Berdasarkan latar belakang di atas, makalah ini disusun dengan memiliki manfaat
yaitu: Mahasiswa dapat mengetahui dan melakukan proses penentuan parameter mutu ekstrak
Kaempferia galanga L.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kencur (Kaemferia galanga L.)
2.1.1 Sistematika dan Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Infrakingdom : Streptophyta
Superdivision : Embryophyta
Division : Tracheophyta
Subdivision : Spermatophytina
Class : Magnoliopsida
Superorder : Lilianae
Order : Zingiberales
Family : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L. (www.itis.gov)

(Gambar 1. Tanaman Kaempferia galanga L.)


Nama Kaempferia galanga L. di berbagai daerah di Indonesia adalah sebagai berikut:
Sumatera : ceuku (Aceh), tekur (Gayo), kaciwer (Karo), cakue (Minangkabau)
cokur (lampung)
Jawa : kencur (jawa), cikur (Sunda), kencor (Madura)
Sulawesi : batako (Manado), watan (Minahsa), (Gorontalo), cakuru (Makasar),
ceku (Bugis)
Nusa Tenggara: cekuh (Bali), cekur (Sasak), cekur, (Sumba), sokus (Roti) Sukung
(Timor)
Maluku : suha (Seram), assuli (Ambon), onegai (Buru)

2
Irian : ukap (Irian)

2.1.2 Pemerian Kaempferia galanga L.


Bau khas aromatik kencur dan rasa pedas, hangat, agak pahit akhirnya
menimbulkan rasa tebal khas kencur (Anonim,2005)
2.1.3 Morfologi Tanaman
Kemampuan penyesuaian tanaman kencur terhadap lingkungan cukup tinggi.
Tanaman ini punya daya produksi tinggi di daerah yang punya curah hujan 1500 –
4000 mm/th, suhu udara 190C-300C dan ketinggian 100-700m dari permukaan air laut
(dpl). Tanaman ini tumbuh baik di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari
penuh, tapi memerlukan naungan ringan untuk pertumbuhan yang optimum. Hal ini
dapat diamati pada tanaman kencur yang ditanam secara monokultur daunnya melipat
(menutup pada siang hari). Sekalipun demikian, kencur yang ditanam di tempat
terlindung, justru hanya akan menghasilkan daun-daunnya saja. Tanah yang paling
baik untuk tanaman kencur adalah tanah yang memiliki struktur lempung berpasir
(Sandy loam), strukturnya lemah, dengan tata air dan udara, tanahnya baik serta
seimbang. Disamping itu kesuburan tanahnya harus juga diperkaya dengan bahan
organik, antara lain dengan pemberian pupuk kandang dan kompos. Jika pada tanah
yang kurang subur dan becek, pertumbuhan tanaman kencur juga akan kurang baik,
sedikit beranak dan pada rimpang-rimpangnya banyak bagian yang membusuk
(Rukmana, 1994).
Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang cabang
dengan induk rimpang ditengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih
berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih
kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua
ditumbuhi akar pada ruas ruas rimpang berwarna putih kekuningan. Bentuk rimpang:
kepingan; pipih, bentuk hampir bundar sampai jorong/ tidak beraturan; tebal keping 1-
4 mm; panjang 1-5 cm, lebar 0,5-3 cm; bagian terpi berombak dan berkeriput, warna
coklat sampai coklat kemerahan, bagian tengah berwarna putih sampai putih
kecoklatan
Daun kencur berbentuk bulat lebar, tumbuh mendatar diatas permukaan tanah
dengan jumlah daun tiga sampai empat helai. Permukaan daun sebelah atas berwarna
hijau sedangkan sebelah bawah berwarna hijau pucat. Panjang daun berukuran 10 –

3
12 cm dengan lebar 8 – 10 cm mempunyai sirip daun yang tipis dari pangkal daun
tanpa tulang tulang induk daun yang nyata (Backer,1986).
Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri dari empat helai daun
mahkota. Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2 – 3 cm, tidak bercabang, dapat
tumbuh lebih dari satu tangkai, panjang tangkai 5 – 7 cm berbentuk bulat dan beruas
ruas. Putik menonjol keatas berukuran 1 – 1,5 cm, tangkai sari berbentk corong
pendek.

(Gambar 2. Morfologi Kencur; (1) Rimpang kencur; (2) Daun; (3) Bunga)

Temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah/ pegunungan yang
tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Jumlah helaian daun kencur tidak
lebih dari 2-3 lembar (janrang 5) dengan susunan tumbuh diatas permukaan tanah.
Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga berjumlah antara
4 sampai 12 buah. Bibir bunga berwarna lembayung dengan warna putih lebih
dominan.
Korteks: sempit, lebar lebih kurang 2mm; warna putih; berkas pembuluh
tersebar tampak sebagai bintik-bintik berwarna kelabu/ keunguan. Silinder pusat:
lebar, banyak tersebar berkas pembuluh seperti pada korteks. Berkas patahan: rata,
berdebu, berwarna putih (Anonim,1989).
2.1.4 Khasiat Tanaman
Rimpang kencur sudah dikenal luas di masyarakat baik sebagai bumbu
makanan atau untuk pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak, bisul dan
jamur. Selain itu minuman beras kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan
tubuh, menghilangkan masuk angin, dan kelelahan, dengan dicampur minyak kelapa
atau alkohol digunakan untuk mengurut kaki keseleo atau mengencangkan urat kaki.
Komponen yang terkandung di dalamnya antara lain saponin, flavonoid, polifenol dan
minyak atsiri. Tanaman ini termasuk kelas monocotyledonae, bangsa Zingiberales,
suku Zingiberaceae dan, marga Kaempferia (Winarto 2007).

4
2.1.5 Kandungan Kimia
Kandungan minyak atsiri kencur adalah α-pinena, kampena, δ-3- carene, α-
pelandrena, limonene, p-simena, 4-isopropiltoluena, 7,8-epoksitrisiklo dodekana,
5-metiltrisiklo undek-2-en-4- one, 2-asam propenoat,3-(4-metoksifenil)-, etilester
(Assaat, 2011) dapat digunakan sebagai pelangsing.
Etilester mempunyai nama trivial etil p-metoksi sinamat. Etil sinamat dan etil
p-metoksi sinamat (EPMS) dari minyak atsiri kencur banyak digunakan didalam
industri kosmetika dan dimanfaatkan dalam bidang farmasi sebagai obat asma dan
anti jamur.

(Gambar 2. Etil p-Metoksisinamat)

EPMS adalah suatu ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi
yang bersifat nonpolar dan mengandung gugus karbonil yang mengikat etil yang
bersifat agak polar menyebabakan senyawa ini mampu larut dalam beberapa
pelarut dengan kepolaran bervariasi (Taufikhurohmah, 2008).
2.2 Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan(Depkes RI,
1995).
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara
perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara destilasi dengan
pengurangan tekanan, agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena panas
(Depkes RI, 2014).

5
Ekstrak sebagai bahan dan produk kefarmasian yang berasal dari simlisia harus
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sehingga dapat menjadi obat herbal
terstandart atau obat fitofarmaka. Salah satu parameter mutu ekstrak secara kimia
adalah kandungan senyawa aktif simplisia tersebut. Selain itu, parameter non spesifik
juga diperlukan untuk mengetahui mutu ekstrak.
Ekstrak dikategorikan menjadi:
a. Ekstrak Kering (Siccum)
Ekstrak kering adalah sediaan padat yang memiliki bentuk serbuk yang
didapatkan dari penguapan oleh pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Substansi
ekstrak kering yaitu eksipien (bahan pengisi), stabilizers (penstabil), dan
preservative (bahan pengawet). Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk.
Ekstrak kering (Extracta sicca) dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1. Ekstrak kering, yang dibuat dengan suatu cairan etanol dan karena tidak larut
sepenuhnya dalam air. Contohnya adalah Ekstraktum Granati, Ekstraktum Rhei.
2. Ekstrak kering yang dibuat dengan air. Contohnya antara lain Ekstraktum Aloes,
Ekstraktum Opii, Ekstraktum Ratanhiae (Van Duin, 1947).
b. Ekstrak Kental (Spissum)
Ekstrak Kental atau ekstrak semisolid, adalah sediaan yang memiliki tingkat
kekentalan di antara ekstrak kering dan ekstrak cair. Suatu ekstrak kental diartikan
dengan ekstrak dengan kadar air antara 20-25%; hanya pada Extractum Liquiritae
diizinkan kadar air sebanyak 35% (Van Duin, 1947).

Pada ekstrak kental, yang terpisah adalah:

1. Extractum Filicis, yang dibuat dengan perkolasi dengan eter, setelah itu eter
dihilangkan sama sekali dengan penyulingan. Dalam Farmakope dinyatakan bahwa
sebelum Ekstractum Filicis harus diaduk terlebih dahulu.
2. Extractum Cannabis indicae, yang dibuat dengan etanol 90% dan mungkin tidak
mengandung jumlah air yang berarti. Jika ekstrak ini pada waktu pengolahan harus
dilarutkan, maka untuk itu kita harus memakai etanol 90%.
Ekstrak lainnya dapat digolongkan dengan jelas dalam dua golongan:

a. Ekstrak kental yang dibuat dengan etanol 70% dan dimurnikan dengan
air, contoh: Ekstrak Belladonnae, Extractum Visci albi, Extractum Hyoscyami.
b. Ekstrak kental yang dibuat dengan air, contoh: Extractum liquiritae,

6
Extractum Gentianae, Extractum Taraxaci (Van Duin, 1947).
c. Ekstrak cair (Liquidum)
Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung etanol
sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Jika
tidak dinyatakan lain pada masing-masing monografi, tiap ml ekstrak
mengandung bahan aktif dari 1 g simplisia yang memenuhi syarat. Contoh ekstrak
cair adalah Extractum Chinae liquidum, Extractum Hepatis liquidum (Van Duin,
1947).
2.3 Parameter mutu ekstrak kencur
Menurut farmakope herbal indonesia, diantara lain :

• Susut pengeringan = tidak lebih dari 10%


• Abu total = tidak lebih dari 8,7%
• Abu tidak larut air = tidak lebih dari 2,5%
• Sari larut air = tidak kurang dari 14,2%
• Sari larut etanol = tidak kurang dari 4,2%
• Kadar minyak atsiri = tidak kuurang dari 2,40% v/b
• Kadar EPMS = tidak kurang dari 1,80%

2.4 Standardisasi
Standardisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang
hasilnya merupakan unsur-unsur terkait pradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian
memenuhi syarat standar (kimia, biologi dan farmasi), termasuk jaminan (batas-batas)
stabilitas sebagai produk kefarmasian umumnya. Dengan kata lain, pengertian
standardisasi juga berarti proses menjamin bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau
produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih
dahulu. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari
bahan asal tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat tersebut. Standardisasi
ekstrak terdiri dari parameter standar spesifik dan parameter standar non spesifik (Depkes
RI, 2000).
Standardisasi secara normatif ditujukan untuk memberikan efikasi yang terukur
secara farmakologis dan menjamin keamanan konsumen.
Standardisasi obat herbal meliputi dua aspek:

7
1. Aspek parameter spesifik: berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Analisis kimia yang dilibatkan
ditujukan untuk analisa kualitatif dan kuantitatif terhadap senyawa aktif.
2. Aspek parameter non spesifik: berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi dan fisis yang
akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas misal kadar logam berat,
aflatoksin, kadar air dan lain-lain.
2.5 Parameter-parameter Standar Ekstrak
Parameter-parameter standar ekstrak terdiri dari parameter spesifik dan parameter
non spesifik.
1. Parameter Spesifik Ekstrak
Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia kualitatif dan
aspek kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung jawab langsung terhadap
aktivitas farmakologis tertentu. Parameter spesifik ekstrak meliputi:
a) Identitas (parameter identitas esktrak)
- Deskripsi tata nama, nama ekstrak (generik, dagang, paten), nama lain tumbuhan
(sistematika botani), bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, dsb) dan
nama Indonesia tumbuhan.
- Senyawa identitas, senyawa tertentu yang menjadi petujuk spesifik dengan metode
tertentu.
b) Organoleptis: parameter organoleptik ekstrak meliputi penggunaan panca indera
mendeskripsikan bentuk (padat, serbuk-kering, kental, cair), warna (kuning, coklat,
dll), bau (aromatik,tidak berbau, dll), dan rasa (pahit, manis, ketat, dll) guna
pengenalan awal yang sederhana seobjektif mungkin.
c) Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu: melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol/
air) untuk ditentukan jumlah larutan yang identik dengan jumlah senyawa
kandungan secara gravimetrik. Dalam hal tertentu dapat diukur senyawa terlarut
dalam pelarut lain misalnya heksana, diklorometan, metanol. Tujuannya untuk
memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
• Larut air
Penetapan kadar senyawa larut air untuk mengetahui kandungan terendah
dalam suatu zat/senyawa yang larut dalam air. Pada penentuannya,
simplisia/ekstrak terlebih dahulu dimaserasi selama kurang lebih 24 jam dengan air
kloroform LP. Ketika penentuan kadar larut air, simplisia/ekstrak ditambahkan
klorform terlebih dahulu, penambahan kloroform tersebut bertujuan sebagai zat

8
antimikroba atau pengawet, karena apabila dalam maserasi hanya air saja
kemungkinan ekstrak akan rusak karena air meripakan media yang baik untuk
pertumbuhan mikroba atau dikhawatirkan terjadi proses hidrolisis yang akan
merusak ekstrak sehingga menurunkan mutu dan kualitas dari ekstrak tersebut.
• Larut etanol
Penetapan kadar senyawa larut alcohol dilakukan untuk mengetahui
kandungan terendah zat/senyawa yang larut dalam etanol tetapi tidak larut dalam
air. Maserasi ekstrak sebanyak 5 gram selama 24 jam dengan 100 mL etanol 96%,
ekstraksi terdestruksi dan menguap. Sehingga yang tersisa hanya unsur mineral dan
anorganik.
d) Uji kandungan kimia ekstrak
• Pola kromatogram
Pola kromatogram dilakukan sebagai analisis kromatografi sehingga
memberikan pola kromatogram yang khas. Bertujuan untuk memberikan
gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram
(KLT, KCKT) (Depkes RI, 2000).
• Kadar kandungan kimia tertentu
Suatu kandungan kimia yang berupa senyawa identitas atau senyawa kimia
utama ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara kromatografi instrumental
dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia tersebut. Instrumen yang dapat
digunakan adalah densitometri, kromatografi gas, KCKT atau instrumen yang
sesuai. Tujuannya memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai
senyawa identitas atau senyawa yang diduga bertanggung jawab pada efek
farmakologi (Depkes RI, 2000).

2. Parameter Non Spesifik Ekstrak


Penentuan parameter non spesifik esktrak yaitu penentuan aspek kimia, mikrobiologi
dan fisi yang akan mempengaruhi keamanan konsumen dan stabilitas (Saifudin, 2011).
Parameter non spesifik ekstrak meliputi (Depkes RI, 2000):
a) Susut pengeringan
Parameter susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai berat konstan yang dinyatakan dalam
persen. Tujuannya yaitu untuk menjaga kualitas simplisia/ekstrak karena susut
pengeringan mempunyai kaitan dengan kemungkinan pertumbuhan jamur/kapang.

9
Pemeriksaan susut pengeringan dilakukan terhadap simplisia yang tidak mengandung
minyak atsiri.
b) Bobot jenis
Parameter bobot jenis adalah massa per satuan volume yang diukur pada suhu kamar
tertentu (25 C) yang menggunakan alat khusus piknometer atau alat lainnya. Tujuannya
adalah memberikan batasan tentang besarnya massa persatuan volume yang merupakan
parameter khusus ekstrak cair sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat dituang,
bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan kontaminasi.
c) Kadar air
Parameter kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada didalam bahan
yang bertujuan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya
kandungan air dalam bahan.
Penetapan kadar tersebut bertujuan untuk menentukan batasan kadar air yang
diperbolehkan ada pada ekstrak. Nilai yang diamati adalah nilai maksimum kadar air, nilai
kontaminasi, dan nilai kemurnian.
Terdapat 3 cara penentuan kadar air dalam ekstrak, diantaranya :
• Cara titrasi
Titrasi dengan pereaksi Karl Fischer. Pertama dimasukkan methanol 20.0 mL ke
dalam labu titrasi, kemudian dititrasi dengan pereaksi Karl Fischer hingga titik akhir
titrasi. Kedua dimasukkan ekstrak dengan perkiraan kandungan air 10mg-50mg ke dalam
labu titrasi dan diaduk selama 1 menit, kemudian dititrasi dengan pereaksi Karl Fischer
hingga titik akhir titrasi. Hitung kesetaraan titrasi dengan jumlah air.
• Cara destilasi
Ekstrak yang diperkirakan mengandung air 2mL-4mL dimasukkan ke dalam labu
kering. Tambahkan kurang lebih 200mL toluene ke dalam labu kemudian hubungkan alat.
Panaskan labu dengan hati-hati selama 15 menit. Jika toluene telah mendidih, suling
dengan kecepatan 2 tetes per detik dan bila air sebagian mulai tersuling tingkatkan
kecepatan menjadi 4 tetes per detik. Jika semua air sudah tersuling, bersihkan bagian
dalam pendingin dengan toluene. Lanjutkan penyulingan selama 5 menit, biarkan tabung
pendingin mencapai suhu kamar, jika air dan toluene sudah terpisah sempurna baca
volume air yang terdapat. Hitung dalam persen.
• Cara gravimetri
Ekstrak sebanyak 10 gram dimasukkan ke dalam wadah, dikeringkan pada suhu
105oC selama 5 jam, kemudian ditimbang. Lanjutkan pengeringan dan dan timbang pada

10
jara 1 jam. Timbang hingga selisih antar penimbangan tidak lebih dari 0.25%. Metode
tersebut tidak sesuai untuk ekstrak dengan kandungan minyak atsiri yang tinggi, dan lebih
sesuai digunakan sebagai penetapan kadar susut pengeringan.
d) Kadar abu
Parameter kadar abu adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa
organik dan turunannya terdestruksi dan menguap. Sehingga tinggal unsur mineral dan
anorganik, yang memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang
berasal dari proses awal sampai terbentuknya esktrak. Parameter kadar abu ini terkait
dengan kemurnian dan kontaminasi suatu ekstrak.
e) Sisa pelarut
Parameter sisa pelarut adalah penentuan kandungan sisa pelarut tertentu yang
mungkin terdapat dalam ekstrak. Tujuannya adalah memberikan jaminan bahwa selama
proses tidak meninggalkan sisa pelarut yang memang seharusnya tidak boleh ada.
Pengujian sisa pelarut berguna dalam penyimpanan ekstrak dan kelayakan ekstrak untuk
formulasi (Putri et al., 2012).
f) Residu pestisida
Parameter residu pestisida adalah menentukan kandungan sisa pestisida yang
mungkin saja pernah ditambahkan atau mengkontaminasi pada bahan simpilia pembuatan
ekstrak.
g) Cemaran mikroba
Parameter cemaran mikroba adalah penentuan adanya mikroba yang patogen
secara analisis mikrobiologis. Tujuannya adalah memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak
boleh mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen melebihi
batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan bahaya (toksik) bagi
kesehatan.
h) Cemaran aflatoksin
Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur. Aflatoksin
sangat berbahaya karena dapat menyebabkan toksigenik (menimbulkan keracunan),
mutagenik (mutagi gen), teratogenik (penghambatan dan pertumbuhan janin) dan
karsinogenik (menimbulkan kanker pada jaringan) (Rustian, 1993). Jika ekstrak positif
mengandung aflatoksin maka pada media pertumbuhan akan menghasilkan koloni
berwarna hijau kekuningan sangat cerah (Saifudin, 2011).
i) Cemaran logam berat

11
Parameter cemaran logam berat adalah penentuan kandungan logam berat dalam
suatu ekstrak, sehingga dapat memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung
logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll) melebihi batas yang telah ditetapkan karena
berbahaya bagi kesehatan,

12
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan


Alat : Bahan :
1. Timbangan akademik 1. Ekstrak kering rimpang kencur
2. Toples 2. Aquadest
3. Batang pengaduk 3. Kloroform
4 Beaker glass 4 Etanol 96%
5 Corong pisah
6 Corong buchner
7 Cawan penguap
8 Alat destilasi
9 Labu ukr
10 Botol timbang
11 Desikator
12 Oven
13 Krus silikat
14 Kaki tiga
15 Bunsen
16 Penjepit kayu
17 Kertas saring

13
3.2 Parameter Spesifik
3.2.1 Identitas

Deskripsi Keterangan
Nama ekstrak
Nama latin tumbuhan
Bagian yang digunakan

Nama Indonesia tumbuhan

a. Deskripsi tata nama:


 Nama ekstrak (generic, dagang, paten)
 Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
 Bagian yang digunakan (rimpang, daun, dsb)
 Nama Indonesia tumbuhan
b. Senyawa identitas, senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan metode
tertentu.
3.2.2 Organoleptik

Organoleptik Keterangan
Bentuk
Warna
Bau
Rasa

Penggunaan pancaindera mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa:


a. Bentuk: padat, serbuk-kering, kental, cair.
b. Warna: kuning, cokelat, dll.
c. Bau: aromatik, tidak berbau, dll.
d. Rasa: pahit, manis, kelat, dll.

14
3.2.3 Senyawa Terlarut dalam Pelarut Tertentu
Prinsip: Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol atau air) untuk ditentukan jumlah
solut yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara gravimetri. Dalam hal
tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam pelarut lain misal heksana, diklorometan
atau metanol.
Prosedur:
a. Kadar senyawa larut air
5.0 g ekstrak dimaserasi dengan 100 ml air
kloroform LP

Saring, uapkan 20 ml filtrat hingga


kering

Panaskan residu pada suhu 105oC hingga bobot


tetap

Hitung kadar dalam persen

Ulangi sebanyak 3 kali

Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml air kloroform LP
menggunakan labu bersumbat sambal berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan
kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring, uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam
cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan residu pada suhu 105oC hingga
bobot tetap. Hitung kadar dalam persen, dihitung terhadap ekstrak awal. Percobaan
dilakukan 3 kali.
Catatan: Air-Kloroform LP adalah air suling 997,5 ml dicampur dengan 2,5 ml
kloroform.

15
b. Kadar senyawa larut etanol
5.0 g ekstrak dimaserasi dengan 100 ml etanol
(95%)

Saring cepat, uapkan 20 ml filtrat hingga


kering

Panaskan residu pada suhu 105oC hingga bobot


tetap

Hitung kadar dalam persen

Ulangi sebanyak 3 kali

Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan 100 ml etanol (95%)
menggunakan labu bersumbat sambal berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan
kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring cepat dengan menghindarkan penguapan
etanol, uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang
telah ditara, panaskan residu pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam
persen, dihitung terhadap ekstrak awal. Percobaan dilakukan 3 kali.

3.2.4 Uji Kandungan Kimia Ekstrak


Prnisip: Ekstrak ditimbang, diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian
dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang khas.
Prosedur:
Ekstrak ditimbang dan diekstraksi berturut-turut
dengan pelarut hexane, etilasetat, etanol, air

Cara ekstraksi dapat dilakukan dengan pengocokan selama 15 menit atau


dengan getaran ultrasonik atau dengan pemanasan kemudian disaring

Larutan uji: ekstrak ditimbang dan diekstraksi berturut-turut dengan pelarut hexane,
etilasetat, etanol, air. Cara ekstraksi dapat dilakukan dengan pengocokan selama 15
menit atau dengan getaran ultrasonik atau dengan pemanasan kemudian disaring untuk
mendapatkan larutan uji.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT): umumnya dibuat kromatogram pada lempeng silica
gel dengan berbagai jenis fase gerak sesuai dengan golongan kandungan kimia sebagai

16
sasaran analisis. Evaluasi dapat dilakukan dengan dokumentasi foto hasil pewarnaan
lempeng kromatografi dengan pereaksi yang sesuai atau dengan melihat kromatogram
hasil perekaman menggunakan instrumen densitometer (TLC-Scanner). Perekaman
dapat dilakukan secara absorbs-refleksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, dan
415 nm atau pada panjang gelombang lain yang spesifik untuk suatu komponen yang
telah diketahui.

Kadar Total Golongan Kandungan Kimia


Prinsip: Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri,
atau lainnya, dapat ditetapkan kadar golongan kandungan kimia. Metode harus sudah
teruji validitasnya, terutama selektivitas dan batas liniaritas.
Prosedur:
1) Penetapan kadar minyak atsiri

Timbang ekstrak, masukkan ke dalam labu

Rangkai kesuluran alat destilasi

Didihkan isi labu dengan pemanasan yang sesuai

Catat volume minyak atsiri yang dihasilkan

Hitung perbandingan volume minyak atsiri

Timbang secukupnya sejumlah ekstrak hingga diperkirakan dapat menghasilkan 1 mL –


3 mL minyak atsiri. Masukkan ekstrak yang telah ditimbang kedalam labu. Hubungkan
dengan bagian pendingin dan penampung berskala (rangkai kesuluran alat destilasi)
didihkan isi labu dengan pemanasan yang sesuai untuk menjaga agar pendidihan
berlangsung tidak terlalu kuat atau sampai minyak atsiri terdestilasi sempurna dan tidak
bertambah lagi dalam bagian penampung berskala. Catat volume minyak atsiri yang
dihasilkan dan hitung perbandingan volume minyak atsiri yang tertampung dengan
jumlah ekstrak yang ditimbang.

17
2) Penetapan kadar steroid
Larutan baku: Timbang 1 mg sitosterol larutkan dalam
etanol P hingga diperoleh kadar 5, 10 dan 20 μg/mL.

Larutan uji: 1 g ekstrak larutkan dalam 20 ml etanol, ulangi 3


kali

Labu 1: larutan baku


Labu 2: larutan uji
Labu 3: Blanko

Tambahkan 2.0 mL larutan yang dibuat dari 50 mg tetrazolium biru P


+ 10 mL etanol P. Kemudian ke dalam tetrametil ammonium
hidroksida LP (9:1), campur dan biarkan dalam gelap selama 90 menit.

Ukur serapan lpada panjang gelombang lebih kurang 525 nm.

Larutan baku: timbang seksama 1 mg sitosterol, larutkan dalam etanol P secara


bertingkat sehingga diperoleh kadar 5, 10 dan 20 μg/mL.
Larutan uji: timbang seksama 1 g ekstrak, larutkan dalam 20 ml etanol dalam labu
takar. Ulangi sampai 3 kali dengan cara yang sama. Kedalam dua labu yang masing-
masing berisi larutan uji dan larutan baku ke dalam labu ketiga berisi 20.0 mL etanol P
sebagai blanko, tambahkan 2.0 mL larutan yang dibuat dengan melarutkan 50 mg
tetrazolium biru P dalam 10 mL etanol P dan campur. Kemudian ke dalam tetrametil
ammonium hidroksida LP (9:1), campur dan biarkan dalam gelap selama 90 menit.
Ukur segera serapan larutan yang diperoleh dari larutan uji dan larutan baku pada
panjang gelombang lebih kurang 525 nm.

18
3) Penetapan kadar tanin
2 g ekstrak + 50 mL ir mendidih dipanaskan selama 30 menit sambil
diaduk

Diamkan beberapa menit lalu disaring

Ulangi penyarian beberapa kali hingga bila direaksikan dengan


besi (III) ammonium sulfat tidak menunjukkan adanya tanin.

Pipet 25 mL larutan + 750 mL air + 25 mL asam indigo


sulfonate LP

Titrasi dengan kalium permanganate 0,1 N setara dengan 0.004157 g


tanin

Lebih kurang 2 g ekstrak yang ditimbang seksama dipanaskan dengan 50 mL air


mendidih di atas penangas air selama 30 menit sambal diaduk. Diamkan selama beberapa
menit, endapkan, saring (bisa dengan kapas) ke dalam labu takar 250 mL. Larutkan
kembali residu dengan air mendidih, kemudian saring kembali ke tempat yang sama.
Ulangi penyarian beberapa kali hingga bila direaksikan dengan besi (III) ammonium
sulfat tidak menunjukkan adanya tanin. Dinginkan cairan dan tambahkan air secukupnya
hingga 240 mL. Pipet 25 mL larutan ke dalam labu 1000 mL, tambahkan 750 mL air dan
25 mL asam indigo sulfonate LP, titrasi dengan kalium permanganate 0,1 N setara
dengan 0.004157 g tanin.
Asam indigo sulfonate LP: larutkan 1 g indigo karmin P dalam 25 mL asam sulfat P,
tambahkan 25 mL asam sulfat lagi dan encerkan dengan air secukupnyya hingga 1000
mL.

19
4) Penetapan kadar flavonoid

Timbang ekstrak yang setara dengan 200 mg simplisia

Tambahkan 1.0 mL larutan 0.5% b/v heksametilentetramina + 20.0 mL aseton


+ 2.0 mL larutan 25% HCl dalam air.

Lakukan hidrolisis dengan pemanasan selama 30 menit

Campuran hasil hidrolisis ditambah 20 mL aseton lakukan 2x dan filtrat


dikumpulkan semua ke dalam labu ukur.

Setelah labu ukur dingin, maka volume diteteapkan sampai tepat 100.0 mL

20 mL filtrat hidrolisa + 20 ml H2O lakukan ekstraksi kocok, pertama


dengan 15 mL etilasetat dan kumpulkan fraksi etilasetat. Ad kan dengan
etilasetat sampai tepat 50.0 mL.

Untuk replikasi spektrofotometri lakukan prosedur ini 3 – 4 kali.

Hidrolisis: timbang ekstrak yang setara dengan 200 mg simplisia dan masukkan ke
dalam labu alas bulat. Tambahkan system hidrolisis, yaitu 1.0 mL larutan 0.5% b/v
heksametilentetramina, 20.0 mL aseton dan 2.0 mL larutan 25% HCl dalam air.
Lakukan hidrolisis dengan pemanasan sampai mendidih (gunakan pendingin air/reflux)
selama 30 menit. Campuran hasil hidrolisis ditambah 20 mL aseton untuk dididihkan
kembali sebentar, lakukan 2x dan filtrat dikumpulkan semua ke dalam labu ukur.
Setelah labu ukur dingin, maka volume diteteapkan sampai tepat 100.0 mL. Kocok ad
homogen. 20 mL filtrat hidrolisa dimasukkan corong pisah dan tambahkan 20 ml H2O,
selanjutnya lakukan ekstraksi kocok, pertama dengan 15 mL etilasetat dan kumpulkan
fraksi etilasetat ke dalam labu ukur 50.0 mL, akhirnya tambahkan etilasetat sampai
tepat 50.0 mL. Untuk replikasi spektrofotometri lakukan prosedur ini 3 – 4 kali.

20
10 mL fraksi etilasetat (hidrolisa) + 1 mL larutan 2g AgCl3 dalam 100
mL larutan asam asetat glacial 5% v/v (dalam methanol) secukupnya
sampai tepat 25.0 mL.

Hasil reaksi siap diukur pada spektrofotometer setelah 30 menit

Perhitungan kadar menggunakan bahan standar glikosida


flavonoid

Uji spektrofotometri: masukkan 10 mL larutan fraksi etilasetat (hidrolisa) ke dalam


25.0 mL, tambahkan 1 mL larutan 2g AgCl3 dalam 100 mL larutan asam asetat glacial
5% v/v (dalam methanol) secukupnya sampai tepat 25.0 mL. Hasil reaksi siap diukur
pada spektrofotometer setelah 30 menit berikutnya pada panjang gelombang
maksimum. Perhitungan kadar menggunakan bahan standar glikosida flavonoid
(hiperoksida, rutin, hesperidin), gunakan kurva baku dan nilai kadar terhitung sebagai
bahan standar tersebut. Kalu menggunakan hiperoksida dapat langsung diukur dengan
rumus:
Kadar total flavonoid = [(Ao x 1.25) berat sampel] %

21
5) Penetapan kadar alkaloid

1 g ekstak + 20 mL larutam asam sulfat P masukkan corong pisah 1 kocok


kuat selama 5 menit.

Tambahkan 20 mL eter P kocok hati-hati lalu saring lapisan asam


masukkan corong pisah 2

Kocok lapisan eter dua kali dengan 10 mL larutan asam sulfat P dan
saring tiap lapisan asam masukkan corong pisah 2

Pada ekstrak + 10 mL natrium hidroksida LP + 50 mL eter P, kocok hati-


hati, pindahkan lapisan air ke dalam corong pisah 3 yang berisi 50 mL
eter P

1 g ekstak + 20 mL larutam asam sulfat P masukkan corong pisah 1 kocok


kuat selama 5 menit.

Tambahkan 20 mL eter P kocok hati-hati lalu saring lapisan asam


masukkan corong pisah 2

Kocok lapisan eter dua kali dengan 10 mL larutan asam sulfat P dan
saring tiap lapisan asam masukkan corong pisah 2

Pada ekstrak + 10 mL natrium hidroksida LP + 50 mL eter P, kocok hati-


hati, pindahkan lapisan air ke dalam corong pisah 3 yang berisi 50 mL
eter P

Kocok corong pisah ketiga buang lapisan air, cuci dengan 20 mL air, buang
lapisan air
T
iEkstraksi kedua lapisan eter masing-masing dengan 20, 10 dan 5 mL larutan
m asam sulfat P

b
a Campurkan ekstrak asam dalam labu ukur 50.0 mL, encerkan
dengan asam sampai tanda
n
g
Lakukan hal sama terhadap 25 mg alkaloid pembanding yang
tersedia.
s
e Encerkan 5.0 mL larutan uji dan larutan pembanding dengan larutan asam
sulfat P dan tetapkan serapan tiap larutan menggunakan larutan asam sulfat
P sebagai blanko.
22
Timbang 1 g ekstrak, masukkan dalam corong pisah 125 mL pertama, kemudian
tambahkan 20 mL larutam asam sulfat P (1 dalam 350) dan kocok kuat selama 5 menit.
Tambahkan 20 mL eter P, kocok hati-hati, saring lapisan asam ke dalam corong pisah
kedua. Kocok lapisan eter dua kali, tiap kali dengan 10 mL larutan asam sulfat P (1
dalam 350), saring tiap lapisan asam ke dalam corong pisah 125 mL kedua dan buang
lapisan eter. Pada ekstrak tambahkan 10 mL natrium hidroksida LP dan 50 mL eter P,
kocok hati-hati, pindahkan lapisan air ke dalam corong pisah 125 mL ketiga berisi 50
mL eter P. Kocok corong pisah ketiga hati-hati, buang lapisan air, cuci dengan 20 mL
air, buang lapisan air. Ekstraksi kedua lapisan eter masing-masing dengan 20, 10 dan 5
mL larutan asam slfat P (1 dalam 70). Lakukan ekstraksi dengan corong pisah ketiga
lebih dahulu, setelah itu corong pisah kedua. Campurkan ekstrak asam dalam labu ukur
50.0 mL, encerkan dengan asam sampai tanda. Lakukan hal sama terhadap 25 mg
alkaloid pembanding yang tersedia. Encerkan masing-masing 5.0 mL larutan uji dan
larutan pembanding dengan larutan asam sulfat P (1 dalam 700 hingga 100.0 mL dan
tetapkan serapan tiap larutan pada panjang gelombang tertentu menggunakan larutan
asam sulfat P (1 dalam 70) sebagai blanko.
6) Penetapan kadar antrakinon
0.1 g ekstrak kocok dengan 10 mL air panas selama 5
menit, saring dalam keadaan panas

Ekstraksi dengan 10 mL
benzena

Pisahkan lapisan benzena, tambahkan pada lapisan air 10 mL larutan


ferri klorida 5% dan 5 mL asam klorida

Panaskan campuran pada penangas air selama 10 menit dalam tabung


refluks.

Dinginkan dan ekstraksi dengan 10 mL benzena

Uapkan cairan hingga habis pada cawan porselen

Larutkan residu dalam 5 mL larutan kalium hidroksida 5% dalam


methanol.

Ukur serapan pada 515 nm, hitung kadar total antrakinon


glikosida

23
Timbang 0.1 g ekstrak, kocok dengan 10 mL air panas selama 5 menit, saring dalam
keadaan panas, dinginkan filtrat dan ekstraksi dengan 10 mL benzena. Pisahkan lapisan
benzena, tambahkan pada lapisan air 10 mL larutan ferri klorida 5% dan 5 mL asam
klorida. Panaskan campuran pada penangas air selama 10 menit dalam tabung refluks.
Dinginkan dan ekstraksi dengan 10 mL benzena. Uapkan cairan hingga habis pada
cawan porselen dengan pemanasan lemah. Larutkan residu dalam 5 mL larutan kalium
hidroksida 5% dalam methanol. Ukur serapan pada 515 nm. Hitung kadar total
antrakinon glikosida berdasarkan kurva baku antrakinon pembanding.

3.3 Parameter Non-Spesifik


3.3.1 Susut Pengeringan
Prinsip : Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperature 105°C selama 30
menit atau sampai berat konstan dinyatakan dalam porsen.
Prosedur : Tara botol timbang + tutup. Kemudian panaskan botol timbang + tutup
pada suhu 105°C selama 30 menit. Timbang ekstrak 1-2 g dalam botol timbang dan
ratakan. Dinginkan ekstrak dan botol timbang dalam eksikator hingga suhu kamar.
Dimasukan dalam ruang pengering, dan keringkan pada suhu 105°C dengan tutup
terbuka hingga bobot tetap.

Tara botol timbang + Tutup

Panaskan botol timbang + tutup pada suhu 105°C selama 30 menit

Timbang ekstrak pada suhu botol timbang 1-2 g

Dinginkan ekstrak + botol timbang pada eksikator ad suhu ruang

Masukan pada ruang pengering dengan suhu 105°C dengan tutup terbuka hingga
bobot tetap

24
3.3.2 Berat Jenis
Prinsip : massa per satuan volume pada suhu kamar tertentu (25°C) yang ditentukan
dengan alat khusus piknometer atau lainnya.
Prosedur :

Bj air dihitung dengan piknometer pada suhu 25°C

Atur suhu ekstrak ± 20°C

Masukan kedalam piknometer

Atur suhu piknometer + ekstrak pada suhu 25°C

Buang kelebihan ekstrak dan timbang

Kurangkan bobot piknometer kosong dengan bobot piknometer dengan isi

Hitung Berat jenis ekstrak cair

Hitung berat jenis air pada suhu 25°C dengan menggunakan piknometer. Atur suhu
ekstrak cair ± 20°C dan masukan kedalam piknometer. Atur suhu piknometer yang
telah berisi ekstrak hingga suhu 25°C buang kelebihan ekstrak cair dan timbang.
Kurangkan bobot piknometer kosong dari berat piknometer yang telah diisi. Berat jenis
ekstrak cair adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot ekstrak dengan bobot
air dalam piknometer pada suhu 25°C.
3.3.3 Kadar Air
Prinsip : Pengukuran kandungan air yang berada didalam bahan, dilakukan dengan
cara titrasi, destilasi atau gravimetric.
Prosedur : Tabung penerima dan pendingin dibersihkan dengan asam pencuci, dibilas
dengan air, dikeringkan dalam lemari pengering. Sejumlah ekstrak herba sambiloto
dimasukan kedalam labu kering yang telah ditimbang seksama. Ke dalam labu

25
dimasukan 200 ml Toluen P, alat dihubungkan. Toluen dituang kedalam tabung
penerima melalui alat pendingin. Labu dipanaskan selama 15 menit. Setelah toluen
mulai mendidih, disuling dengan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik.
Setelah semua air tersuling, bagian dalam pendingin di cuci dengan toluene, sambil
dibersihkan dengan sikat tabung yang disambungkan pada sebuah kawat tembaga dan
dibasahii dengan toluene. Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit. Tabung penerima
dibiarkan hingga suhunya mencapai suhu kamar. Setelah air dan toluene memisah
sempurna, volume air dibaca. Dihitung kadar air dalam %.
Catatan :
Toluen P adalah toluen yang sudah dijenuhkan dengan air suling. Sebanyak 200 ml
toluene ditambah 5 ml air suling, kemudian dikocok beberapa saat, lalu lapisan air
dipisahkan.

Bersihkan tabung penerima dan pendingin dengan asam


pencuci

Bilas dengan air, keringkan dengan pengering

Masukan ekstrak dalam labu kering

Tambahkan 200 mL toluene, lalu di hubungkan dengan alat

Tuang toluene kedalam tabung penerima melalui


alat pendingin
Panaskan labu selama 15 menit

Setelah mendidih, suling dengan kecepatan 4 detik per tetes

Setelah semua tersuling, cuci bagian dalam tabung dengan toluena

Bersihkan dengan sikat tabung yang di sambungkan tembaga yg dibasahi


dengan toluena

Lanjutkan penyulingan selama 5


menit
Dinginkan tabung penerima hingga suhu kamar

Setelah air dan toluene memisah, volume air di baca


26
Hitung kadar air dalam %
27
3.3.4 Kadar Abu
Prinsip : Bahan dipanaskan pada temperature dimana senyawa organic dan turunanya
terdekstruksi dan menguap, sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik.
Prosedur :
a. Penetapan kadar abu total
Lebih kurang 2-3 gram ekstrak yang telah digerus dan ditimbang seksama, dimasukan
kedalam krus yang telah dipijarkan dan ditara, kemudian diratakan. Dipijar perlahan-
lahan hingga arang habis, didinginkan dan ditimbang. Jika cara ini arang tidak dapat
dihilangkan, ditambahkan air panas, disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa
kertas saring dipijarkan dalam krus yang sama. Filtrat dimsaukan kedalam krus,
diuapkan, dipijar hingga bobot tetap, kemudian ditimbang. Dihitung kadar terhadap
bahan yang telah dikeringkan di udara.

Gerus ekstrak, lalu timbang 2-3 g ekstrak

Masukan kedalam krus yg telah ditara dan dipijar

Dipijar krus hingga arang habis

Dinginkan lalu timbang

Apabila arang tidak hilang, tambahkan air panas

Saring dengan kertas saring bebas abu

Pijar kertas saring dalam krus yang sama

Masukan filtrate kedalam krus, diuapkan

Dipijar hingga bobot tetap

Ditimbang, hitung kadar terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara

28
b. Penetapan Kadar Abu tidak larut asam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, didihkan dengan 25 ml asam sulfat
encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring
melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas,
dipijarkan hingga bobot tetap, ditimbang. Dihitung kadar abu yang tidak larut asam
terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

Abu yang didapat dari penetapan kadar abu

Didihkan dengan 25 mL asam sulfat encer selam 5 menit

Kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam

Saring dengan krus kaca masir atau kertas saring bebas abu

Cuci dengan air panas

Pijar hingga bobot tetap, kemudian ditimbang

Hitung kadar abu yang tidak larut asam dengan bahan yang telah dikeringkan di udara

3.3.5 Sisa Pelarut


Prinsip : Menentukan kandungan sisa pelarut tertentu yang memang ditambahkan
secara umum dengan kromatografi gas. Untuk ekstrak cair berarti kandungan
pelarutnya, misalnya etanol.
Prosedur (cara destilasi) : Cara ini sesuai untuk penetapan sebagian besar ekstrak cair
dan tingtura asalkan kapasitas labu destilasi cukup (umumnya 2-4 kali cairan yang akan
dipisahkan) dan kecepatan destilasi diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh destilasi
jernih. Destilasi yang keruh dapat dijernihkan dengan pengocokan menggunakan talk P
atau kalsium karbonat P, saring, setelah itu suhu filtrate diatur dan kandungan etanol
ditetapkan dari bobot jenis. Lakukan pengerjaan dengan hati-hati untuk mengurangi
kehilangan etanol karena penguapan.
Untuk buih yang mengganggu dalam cairan selama destilasi, tambahkan asam kuat
seperti asam fosfat P, asam sulfat P atau cegah dengan penambahan larutan kalsium
klorida P sedikit berlebih atau sedikit paraffin P atau minyak silicon sebelum destilasi.

29
Cegah gejolak selama destilasi dengan penambahan keeping-keping berpori dari bahan
yang tidak larut.
Cara untuk cairan yang diperkirakan mengandung etanol ≤ 30%. Pipet 25 ml cairan uji
kedalam alat destilasi, catat destilasi hingga diperoleh destilat lebih kurang 2 ml lebih
kecil dari volume cairan yang dipipet. Atur suhu detilat hingga sama dengan suhu pada
waktu pemipetan. Tambahkan air secukupnya hingga volume sama dengan volume
cairan uji. Destilasi jernih atau keruh lemah dan hanya mengandung lebih dari sesepora
sisa zat mudah menguap lainnya. Tetapkan bobot jenis cairan pada suhu 25°C seperti
yang tertera pada penetapan Bobot Jenis. Hitung persentase dalam volume dari etanol
dalam cairan menggunakan table Bobot Jenis dan Kadar Etanol/
Untuk cairan yang diperkirakan mengandung etanol ≥ 30% Lakukan cara diatas lebih
kurang 2 kali volume cairan uji. Kumpulkan destilat hingga lebih kurang 2 ml lbehih
kecil dari 2 kali volume uji yang dipipet, atur suhu sama dengan cairan uji. Tambahkan
air secukupnya hingga volume dua kali cairan uji yang dipipet, campur, dan tetapkan
bobot jenis. Kadar etanol dalam volume destilat, sama dengan setangah kadar etanol
dalam cairan uji etanol atau kurang. Pipet 25 mL cairan uji, masukan kedalam corong
pisah, tambahkkan air volume sama. Jenuhkan campuran dengan natrium klorida P,
tambahkan 25 mL heksana P dan kocok untuk mengekstraksi zat mudah menguap lain
yang menggangggu. Pisahkan lapisan bawah dalam corong pisah kedua. Ulangi
ekstraksi dua kali, tiap kali dengan 25 mL heksana P. ekstraksi kumpulan larutan
heksana P tiga kali, tiap kali dengan 10 mL larutan jenuh natrium klorida P. Destilasi
kumpulan larutan garam, tamping destilat hingga sejumlah volume mendekati volume
larutan uji semula.
Untuk cairan yang diperkirakan mengandung etanol ≥ 50%. Encerkan larutan uji
hingga kadar etanol ±25%. Jenuhkan campuran dengan natrium klorida P, tambahkan
25 mL heksana P dan kocok untuk mengekstraksi zat mudah menguap lain yang
menggangggu. Pisahkan lapisan bawah dalam corong pisah kedua. Ulangi ekstraksi dua
kali, tiap kali dengan 25 mL heksana P. ekstraksi kumpulan larutan heksana P tiga kali,
tiap kali dengan 10 mL larutan jenuh natrium klorida P. Destilasi kumpulan larutan
garam, tamping destilat hingga sejumlah volume mendekati volume larutan uji semula.
Jika hanya mengandung sedikit minyak atsiri dan destilat keruh, perlakuan dengan
pelarut heksana P seperti diatas tidak dilakukan, destilat dapat dijernihkan dan
digunakan untuk penetapan bobot jenis dengan mengocok dengan heksana P lebih
kurang seperlima bagian volume atau dengan penyaringan melalui lapisan tipis talk.

30
Destilasi ekstrak atau kencur

Apabila destilasi keruh, dikocok dengan talk atau kalsium karbonat

Saring, suhu filtrate diatur, tetapkan kandungan etanol dari bobot jenis

Hindari penguapan etanol pada saat pengerjaan

Apabila terdapat buih pada saat destilasi

Tambahkan asam kuat seperti asam format, asam sulfat atau larutan kasium
klorida sedikit berlebih atau sedikit paraffin atau minyak silicon sebelum
destilasi

Tambahkan batu pijar untuk mencegah terjadinya bumping

Cara pada cairan yang mengandung etanol ≤ 30%

Pipet 25 mL cairan uji

Masukan ke dalam alat destilasi

Catat destilasi sampai diperoleh hasil destilat ± 2 mL lebih kecil dari


volime pemipetan

Tambahkan air sampai volume sama dengan volume uji

Tetapkan bobot jenis cairan pada suhu 25°C

Hitung persentase volume cairan dengan menggunakan table bobot jenis dan kadar etanol

31
Cara pada cairan yang mengandung etanol ≥ 30%

Lakukan lebih kurang 2 kali volume cairan uji

Kumpulkan destilat lebih kurang 2 mL lebih kecil dari volume uji yang dipipet

Atur suhu sama dengan cairan uji

Tambahkan air sampai volume 2 kali cairan uji yang dipipet

Campur dan tetapkan bobot jenis

Pipet 25 mL cairan uji

Masukan ke dalam corong pisah, tambahkan air sampai volume sama

Tambahkan 25 mL heksana dan kocok sampai terekstraksi zat mudah menguap

Pisahkan lapisan bawah kedalam corong pisah kedua

Ulangi ekstraksi dua kali, tiap kali dengan 25 mL heksana

Ekstraksi larutan heksana tiga kali, tiap kali ditambahkan 10 mL larutan jenuh
natrium klorida

Tamping destilat sampai mendekati volume cairan uji

32
3.3.6 Residu Pestisida
Prinsip : Menentukan kandungan sisa pestisida yang mungkin saja pernah
ditambahkan atau mengkontaminasi pada bahan simplisia pembuatan ekstrak.
Prosedur : Ekstrak yang diperoleh dengan pelarut etanol berkadar tinggi dan
tidak mengandung senyawa nitrogen non polar dapat dicoba menggunakan
kromatografi lapis tipis atau kromatografi gas secara langsung tanpa pembersihan. Jika
tidak dapat dilakukan karena banyak kandungan kimia pengganggu maka harus
dilakukan pengujian sesuai metode baku.

Ekstrak etanol tanpa nitrogen non polar

Dilakukan dengan KLT atau kromatografi gas

Jika tidak dapat dilakukan maka harus dilakukakan pengujian sesuai metode
baku

3.3.7 Cemaran Logam Berat


Prinsip : Menentukan kandungan logam berat secara spektroskopi serapan
atom atau lainnya yang lebih valid.
Prosedur :
Larutan baku. Pipet 2 ml larutan baku timbal (20µg Pb) kedalam tabung pembanding
warna 50 mL dan encekdan dengan air hingga 25 mL. atur pH antaea 3.0 dan 4.0
dengan asam asetat 1 N atau ammonium
Larutanhidroksida
Baku 6 N menggunakan indicator kertas
pH, encerkan air hingga 40 mL, kocok.

Pipet 25 mL larutan baku timbal (20µg Pb)

Masukan kedalam tabung pembanding 50 mL

Tambahkan air ad 25 mL

Atur pH menjadi 3.0-4.0 dengan asam asetat 1N atau ammonium


hidroksida 6N dengan kertas indicator pH

Tambahkan air ad 40 mL

33
Kocok
Larutan uji. Gunakan sejumlah zat uji, dalam g, yang dihitung dengan rumus :
2.0
1000 𝐿
L adalah batas logam berat dalam persen. Masukan sejumlah zat yang telah ditimbang
kedalam krus yang membasahi, dan pijarkan dengan hati-hati pada suhu rendah hingga
mengarang. Selama pemijaran krus tidak boleh tertutup rapat. Pada bagian yang telah
mengarang tambahkan 2 mL asam nitrat P dan 5 tetes asam sulfat P, panaskan hati-hati
hingga asam putih tidak terbentuk lagi. Pijarkan, lebih baik dalam tanur, pada suhu
500°C hingga 600°C sampai arang habis terbakar. Dinginkan tambahkan 4 mL asam
klorida 6 N, tutup, digesti diatas tangas penguap selama 15 menit, buka dan uapkan
perlahan diatas tangas uap hingga kering. Basahkan sisa denga 1 tetes asam klorida P,
tambahkan 10 mL air panas dan digesti selama 2 menit. Tambahkan ammonium
hidroksida 6N tetes demi tetes, hingga larutan menjadi basa. Encerkan dengan air
hingga 25 mL dan atur pH antara 3.0 – 4.0 dengan asam asetat 1N. Saring jika perlu,
bilas krus dalam penyaring dengan 10 mL air. Kumpulkan filtrat dan air cucian dalam
tabung pembanding warna 50 mL, encerkan dengan air hingga 40 mL dan campur.

34
Kedalam tiap tabung yang masing-masing berisi larutan baku dan larutan uji,
tambahkan 10 mL hydrogen sulfida LP yang dibuat segar, campur, diamkan selama 5
menit dan sampai permukaan dari atas pada dasar putih, warna yang terjadi pada
larutan uji tidak lebih gelap dari larutan baku

Masukan sejumlah zat kedalam krus

Pijarkan hingga mengarang

Tambahkan 2 mL asam nitrat dan 5 tetes asam sulfat

Panaskan hingga asap putih dan tidak terbentuk lagi

Pijarkan, pada suhu 500°C-600°C sampai areng habis terbakar

Dinginkan, tambahkan 4 mL asam klorida 6N, tutup

Digesti di tangas penguap 15 menit, buka dan uapkan hinggga kering

Basahkan dengan 1 tetes HCl

Tambahkan 10 mL air panas dan digesti selama 2 menit

35
Masing-masing tabung larutan baku dan uji

Tambahkna 10 mL larutan hydrogen sulfida segar

Campur, diamkan 5 menit

Sampai permukaan diatas menjadi putih, warna yang terjadi pada


larutan uji tidak lebih gelap dari warna larutan baku

Tambahkan ammonium hidroksida 6N tetes demi tetes, hingga larutan menjadi basa

Encerkan dengan air ad 25 mL dan atur pH 3.0-4.0 dengan asam asetat 1N

Saring, bilas krus dan penyaring dengan 10 mL air

Kumpulkan filtrate dalam tabung pembanding warna 50 mL, tambah air ad 40 mL dan campur

3.3.8 Cemaran Mikroba


Prinsip : Identifikasi adanya mikroba yang patogen secara analisis mikrobiologis.
Prosedur : Disiapkan 5 buah tabung yang telah diisi dengan mL pengencer PDF
(pepton dilution fluid). Dari hasil homogenisasi pada penyiapan contoh dipipet
pengencer 10-1 sebanyak 1 mL kedalam tabung yang berisi pengencer PDF pertama
hingga diperoleh pengenceran 10-2 dan dikocok hingga homogen. Dibuat pengenceran
selanjutnya hingga 10-6 atau sesuai dengan yang diperlukan. Dari setiap pengenceran
dipipet 1 mL kedalam cawan petri dan dibuat duplo. Kedalam tiap cawan petri
dituangkan 15-20 mL media PCA (45 ± 1°). Segera cawan petri digoyang dan diputar
sedemikian rupa sehingga suspensi tersebar merata. Untuk mengetahui sterilitas media
dan pengencer dibuat uji control (blanko). Pada satu cawan hanya diisi dengan
pengencer dan media. Setelah media memadat, cawan petri diinkubasi pada suhu 35-
37°C selama 24-48 jam dengan posisi terbalik. Jumlah koloni yang tumbuh diamati
dan dihitung.

36
Siapkan 5 buah tabung yang diisi dengan 9 mL pengencer PDF

dipipet pengencer 10-1 sebanyak 1 mL kedalam tabung yang berisi pengencer PDF

hingga diperoleh pengenceran 10-2 dan dikocok hingga homogen

Dibuat pengenceran selanjutnya hingga 10-6 atau sesuai dengan yang diperlukan

Setiap pengenceran dipipet 1 mL kedalam cawan petri dan dibuat duplo

Tiap cawan petri dituangkan 15-20 mL media PCA

Cawan petri digoyang hingga suspense tersebar merata

Buat blanko dengan cawan diisi 1 mL pengencer dan media agar

Pada cawan lain diisi pengencer dan media

Setelah memadat, diinkubasi pada suhu 35-37°C selama 24-48 jam dengan posisi terbalik

Amati dan hitung jumlah koloni yang tumbuh

37
BAB IV HASIL

38
39
BAB V

PEMBAHASAN

40
41
LAMPIRAN 1
→ SENYAWA TERLARUT DALAM PELARUT TERTENTU
a) Kadar senyawa larut air

Bobot cawan kosong Bobot ekstrak

Proses pengocokan Proses penyaringan

Kalibrasi 10 ml Ditampung 10 ml

Masukkan oven Bobot konstan 1

42
Bobot konstan 2 Bobot konstan 1

b) KADAR SENYAWA LARUT ETANOL

Bobot cawan kosong Bobot ekstrak

Proses pengocokan Proses penyaringan

43
Kalibrasi 10 ml Hasil penyaringan

Masukkan dalam oven Bobot konstan 1

Bobot konstan 2 Bobot konstan 3

→ SUSUT PENGERINGAN

Bobot cawan kosong Bobot ekstrak


44
Proses pengeringan Hasil setelah pengeringan

Bobot konstan 2 Bobot konstan 3

→ KADAR MC

Bobot ekstrak Kadar MC

45
→ KADAR ABU

Bobot kurs porselen Bobot ekstrak

Proses pemijaran Bobot konstan 1

Bobot konstan 2 Bobot konstan 3

46
DAFTAR PUSTAKA
Rukmana, R. 1994. Kencur. Kanisius. Yogyakarta.

Rostiana, O., W. Haryudin dan Rosita, SMD, 2003. Stabilitas hasil lima nomor harapan
kencur. Jurnal Penelitian Tanaman Indutri. Vol 12. No 4. Des 2006. hal. 140 –
145.
Afriastini. 1990. Daftar Jenis Nama Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta

https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt#null, (online)(05 Oktober 2018).

https://www.bing.com/images/search?q=kaempferia+galanga&FORM=HDRSC2,
(online)(05 Oktober 2018).

Assaat, L.D., (2011), Fraksinasi Senyawa Aktif Minyak Atsiri Kencur (Kaempferia
galanga Linn) sebagai Pelangsing Aromaterapi in Vivo, Tesis, Pascasarjana IPB:
Bogor.
Backer, C. A. R. C. B. Van den Briak. 1986. Flora of Java, Vol 2. Walters Noordhoff.
N. v. Groningen. P. 33.

Winarto, W. P., 2007. Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal, 152- 153,
Jakarta, Karyasari Herba Media.
Inayatullah, M.S. 1997. Standarisasi rimpang kencur dengan parameter etil para
metoksi sinamat. Fakultas Farmasi, Universitas Erlangga.Surabaya.

Departemen Kesehatan RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Van Duin, C.F., 1947, Buku Penuntun Ilmu Resep Dalam Praktek Dan Teori,
Penerjemah K. Satiadarma Apt., Pecenongan, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2000). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan
Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal
kesehatan. Volume VII No.2

Departemen Kesehatan RI. (2014). Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI.

47
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1989. Materia Medika Indonesia Jilid V.
Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan. p.116.
Rustian, 1993, Pemeriksaan Jumlah Total Cemaran Bakteri dan Kapang Serta
Identifikasi Aspergillus Flavus Pada Sediaan Jamu Bubuk, Di Beberapa Tempat
Penjualan Di Kotamadya Padang, Skripsi, Fakultas Farmasi, UNAND, Padang.
Saifuddin A, Rahayu V, Teruna HY, (2011), Standarisasi Bahan Obat Alam, Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Titik Taufikurohmah. (2008). Pemilihan Pelarut dan Optimasi Suhu Pada Isolasi
Senyawa Etil Para Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang Kencur Sebagai
Bahan Tabir Surya Pada Industri Kosmetik. Artikel Penelitian.
Winarto, W. P., 2007, Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal, 152- 153,
Jakarta, Karyasari Herba Media.

48