Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA

DISUSUN OLEH:

Miftahul Mei Saputri

1711293

PRODI DIII KEPERAWATAN

AKADEMI KESEHATAN ASIH HUSADA SEMARANG

2019
1. Pengertian

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi
seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing (Ngastiyah.2014)

Pneumonia sebagai akibat infeksi mungkin didapatkan secara transplasenta, perinatal,


atau pasca lahir. (Nelson,2015)

Pneumonia adalah infeksi akut paru-paru oleh bakteri dan virus (Biddulph, 20).Menurut
Ngastiyah (2014) Pneumonia adalah suatu radang paru-paru yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing. Adapun
pneumonia menerut Tucker (2013) adalah proses inflamasi paru-paru yang
diklasifikasikan oleh area yang terlibat dan atau agen penyebab. Bronkopneumonia
adalah peradangan paru yang biasanya mulai di broncioli terminal, tersumbat oleh
sekunder mukopurulent yang membentuk bercak-bercak konsolidasi dilobuli yang
terdekat (Dorland,2014).

Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian


Bronkopneumonia adalah suatu peradangan pada paru-paru dimana peradangan tidak
hanya terjadi pada paru-paru , tetapi juga pada broncioli.

2. Etiologi
a. Bakteri
Streptococcus pneumoniae, streptokokus grup A, Haemophilus Influenza dan
staphilococcus aureus.
b. Jamur
Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Aspergillus, Blastomcyes
dermatitis, Cryptococcus, dan Candida sp.
c. Virus

Respiratorik Sensitisial Virus (RSV), Virus Parainfluenza, Adenovirus,


Rhinovirus, Virus Influenza, Virus Varisela dan rubella, Chlamydia trachomatis,
Mycoplasma Pneumoniae, Pneumocystis carinii.
d. Kimiawi
e. Aspirasi hidrokarbon alifatik.(Rudolph.2017)

3. Manifestasi Klinik

Pneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratoris bagian atas selama
beberapa hari suhu tubuh naik sangat mendadak sampai 39-40 derajat celcius dan
kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.Anak sangat gelisah, dispnea
pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar
hidung dan mulut, kadang juga disertai muntah dan diare.Batuk biasanya tidak
ditemukan pada permulaan penyakit tapi setelah beberapa hari mula-mula kering
kemudian menjadi produktif.Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan
pemeriksaan fisik tetapi dengan adanya nafas dangkal dan cepat, pernafasan cuping
hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dapat diduga adanya pneumonia.Hasil
pemeriksaan fisik tergantung luas daerah auskultasi yang terkena, pada perkusi sering
tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronchi basah
nyaring halus dan sedang. (Ngastiyah, 2015)

4. Patofisiologi

Umumnya bakteri penyebab terhisap keparu perifer melalui saluran nafas.Mula-


mula terjadi edema karena reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi dan
penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya.Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi yaitu terjadi serbukan sel polimorfonuklear, fibrin, eritrosit, cairan udema
dan ditemukannya kuman di alveoli.Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah.
Selanjutnya terjadi deposisi fibrin ke permukaan pleura, terdapatnya fibrin dan
leukosit polimorfonuklear di alveoli dan terjadinya proses fagositosis yang cepat.
Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Akhirnya jumlah sel makrofag di
alveoli meningkat, sel akan berdegenerasi dan fibrin menipis, kuman dan debris
menghilang. Stadium ini disebut stadium resolusi. 3 Sistem bronkopulmoner jaringan
paru yang tidak terkena akan tetap normal. Antiobiotik yang diberikan sedini mungkin
dapat memotong perjalanan penyakit hingga stadium khas yang diuraikan di atas tidak
terlihat lagi. Beberapa bakteri tertentu lebih sering menimbulkan gejala tertentu bila
dibandingkan dengan bakteri lain. Demikian pula bakteri tertentu lebih sering
ditemukan pada kelompok umur tertentu.Misalnya Streptococus Pnemoniae biasanya
bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata diseluruh lapangan paru,
namun pada anak besar atau remaja dapat berupa konsolidasi pada satu lobus
(pneumonia lobaris).Pneumatokel atau abses-abses kecil sering disebabkan oleh
streptokokus aureus pada neonatus atau bayi kecil karena streptokokus aureus
menghasilkan berbagai toksin dan enzim seperti hemolizin, leukosidin, stafilokinase,
dan koagulase.Toksin dan enxim ini menyebabkan nekrosis, perdarahan dan kavitasi,
koagulase berinteraksi dengan faktor plasma dan menghasilkan bahan aktif yang
mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin hingga terjadi eksudat
fibrinopurulen.Terdapat korelasi antara produksi koagulase dan virulensi kuman
stafilokokus yang tidak menghasilkan koagulase jarang menimbulkan penyakit yang
serius.Pneumatokel dapat menetap sampai ber bulan-bulan tetapi biasanya tidak
memerlukan terapi lebih lanjut. Mikrobakterium Pneumoniae menimbulkan
peradangan dengan gambaran baragam pada paru dan lebih sering mengenai anak usia
sekolah atau remaja. Mikrobakterium pneumoniae cenderung berkembang biak pada
permukaan sel mukosa saluran nafas. Akibat terbentuknya H2O2 pada
metabolismenya maka 4 yang terjadi adalah deskuamasi dan ulserasi lapisan mukosa,
udema dinding bronkus dan timbulnya sekret yang memenuhi saluran nafas dan
alveoli.Kerusakan ini timbul dalam waktu relatif singkat antara 24 – 28 jam dan dapat
terjadi pada bagian paru yang cukup luas (Noenoeng, 2014).
5. Pathway

Bahan-bahan allergen dan infeksius

Masuk kedalam tubuh melalui

Saluran pernapaan

Kuman terakumulasi di alveoli

Kerusakan endotel kapiler alveoli

Inflamasi di alveoli

Edema di alveoli infeksi pada alveoli dirawat di


RS

Konsolidasi pada paru infeksi meluas cemas

Penurunan kapasitas vital paru macropag akan mengeluarkan sekresi mucus di alveoli
pirogen dan endogen

Ketidak seimbangan ventilasi hipotalamus akumulasi muncul di


alveoli

Dan perfusi jaringan paru hipertermi bersihan jalan napas tidak

efektif

hipoksemia gangguan pengaturan suhu tubuh

hipertemi

gangguan pertukaran gas mempengaruhi syaraf


fagus

peningkatan asam
lambung

badan lemas mual muntah

intoleransi aktifitas gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan

(Noenoeng, 2014)
6. Pemeriksaan Penunjang
Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat melalui beberapa pemeriksaan
penunjang, sebagai berikut:
a. Pemeriksaan radiologi yaitu pada foto thoraks, konsolidasi ssatu atau beberapa lobus
yang berbercak-bercak infiltrate.

b. Pemeriksan laboratorium didapati lekositosit antara 15000 sampai 40000 /mm3.

c. Hitung sel darah putih biasanya meningkat kecuali apabila pasien mengalami
imunodefiensi.

d. Pemeriksaan AGD (analisa gas darah), untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigen.

e. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi jarum, untuk
mengetahui mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok untuk menanganinya
(Wijayaningsih K.S, 2015).

7. Komplikasi

Komplikasi dari pneumonia adalah:


a. Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru
yang merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau reflek batuk hilang
b. Empyema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalm rongga
pleura yang terdapat disatu tempat atau seluruh rongga pleura.
c. Abses paru adalah pengumpulan pus pada jaringan paru yang meradang.
d. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
e. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak. (Wong, 2016)
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pneumonia menurut Wijayaningsih (2013 : 25)
a. Farmakologi
1. Pemberian antibiotik misalnya penisilin G, streptomisin, ampicilin,
gentamicin.
2. Pemilihan jenis antibiotik didasarkan atas umur, keadaan umum penderita,
dan dugaan kuman penyebab:
a. Umur 3 bulan-5 tahun, bila toksis disebabkan oleh streptokokus
pneumonia, hemofilus influenza atau stafilokokus. Pada umumnya tidak
diketahui penyebabnya, maka seca praktis dipakai kombinasi: penisilin
prokai 50.000-100.000 KI/kg/24 jam IM, 12 kali sehari dan kloramfenikos
50-100 mg/kg/24jam IM/IV, 4 kali sehari dan kloksasilin 50 mg/kg/24
jam, oral 4 kali sehari dan kloramfenikol (dosis sama dengan di atas).

b) Anak-anak < 5tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh:


streptokokus pneumonia: pensilin prokain IM atau fenoksimetilpenisilin
25.000-50.000 KI/24 jam oral, 4 kali sehari, eritromisin atau
kotrimoksazol 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari. Oksigen 1-2 L/m.
IVFD dekstrose 5% ½ Nacl O.225% 350cc/24 jam. ASI/Pasi 8x20 cc per
sonde B. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan
penyebabnya.

b. Non farmakologi:
1. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah.
2. Simptomatik terhadap batuk.
3. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif.
4. Bila terdapat obsturksi jalan nafas, dan lendir serta ada febris, diberikan
bronkodilator.
5. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat.
9. Konsep Tumbang Dan Hospitalisasi
A .Berdasarkan Markum (1991: 24), Konsep tumbuh kembang anak:

1. Menurut Sigmun Freud


Pada usia 1-3 tahun disebut faseanal yang dicirikan:
sifat fisik keakuan menonjol, mulai belajar mengenal organ tubuhnya sendiri dan
mendapat kepuasan dengan autoerotiknya. Tugas utama anak dalam fasen ini adalah
toilet training, latihan kebersihan, mersa nikmat pada saat 10 menahan atau
mengeluarkan tinja, rasa kepuasan bersifat egosentrik. Bila latihan kebersihan
dilakukan secara berlebihan, misal dengan kemarahan dan hukuman, anak akan
meretensi tinja atau membuang tinja sembarangan.
Sisa konflik pada fase ini adalah kepribadian dengan: anak retensif yaitu berpandangan
sempit, introvet, pelit.
Anak esklusive yaitu sifat ekstrofet, impulsif, tidak rapih dan kurang pengendalian
diri.

2 .Menurut Erik Erikson

Pada usia 1-3 tahun merupakan masa otonomi vs rasa malu dan ragu, yang bercirikan:
Pada masa ini alat gerak dan rasa telah matang dan rasa percaya terhadap ibu dan
lingkungan, perkembanagan otonomi selama periode tolder berfokus pada kemampuan
anak untuk mengontrol tubuhnya dan lingkungannya, kepuasan untuk berjalan dan
memanjat, selain itu anak menggunakan kemampuan mentalnya untuk menolak,
menerima, atau mengambil keputusan.Rasa otomi ini perlu dikembangkan, penting
untuk pembentukan rasa percaya diri dan harga diri. Bila anak kurang mendapat suport
dari keluarga dan lingkungan, misal: orngtua terlalu mengontrol, dan anak merasa tidak
mampu mengatasi tindakan yang diambilnya, timbul perasaan negatif(rasa malu dan
ragu). Masalah gangguan yang dapat timbul: rasa malu dan ragu, pengekangan diri
yang berlebihan, tempertantrum, keras kepala, menentang dan sadistik.
3. Menurut Jean Piaget

Masa perkembangan antara usia 0-24 bulan adalah seorang anak mempunyai sikap
egosentrik dan sangat terpusat pada diri sendiri. Kebutuhan pada fase ini kebanyakan
bersifat fisik.Maka yang berkembang dengan pesat adalah kemampuan sensorik
motorik.Anak belajar melakukan kegiatan yang semakin terkoordinasi, terarah dan
bertujuan.Kepuasan yang didapat dari fungsi sensorik motoriknya menyebutkan sianak
menguasainya.

4 .Menurut Robert Sears

Masa bayi berkisar antara umur 0-2 tahun.

Pada masa ini bayi masih sibuk dengan dirinya sendiri. Bayi mementingkan
kebutuhannya sendiri dan belajar dengan berbagai cara untuk memenuhinya. Bayi
sebenarnya banyak menuntut dan menguasai lingkungan.Pada masa inilah kepribadian
dasar seseorang dibangun.

B.Konsep Hospitalisasi
Konsep hospitalisasi menurut Wong dan Whelley’s (1996; 1056).Hospitalisasi adalah
suatu keadaan sakit dan harus dirawat di rumah sakit yang terjadi pada anak maupun
pada keluarganya dimana menimbulkan suatu kondisi baik bagi anak maupun bagi
keluarganya. Bagaimana anak memahaminya, beradaptasi dengan hospitalisasi dan
metode koping yang digunakan saat sakit sangat dipengaruhi oleh stresor utama selama
12 hospitalisasi.Hal tersebut berupa perpisahan, kehilangan kontrol, trauma pada tubuh
dan nyeri, serta reaksi perilaku pada anak.
a. respon kecemasan karena perpisahan pada anak yang dirawat tergantung pada
tingkat usia perkembangan pada anak.
b. Toddler (1-3 tahun)
Pada masa ini anak sudah melibatakan diri pada kebiasaan atau aktivitas dan
beramain. Pada waktu terjadi pembatasan kebiasaab rutin ini, akan
mengakibatkan terjadinya regresi bahkan gangguan dari kebiasan tersebut.
Respon perilaku yang ditunjukan dapat langsung atau spontan
c. Respon kehilangan kendali pada anak yang dirawat menurut usia tumbang.
Toddler (1-3 tahun)
Merupakan masa dimana anak mencari otonomi yang ditampakan dengan
tingkahlaku antaralain: ketrampilan motorik, permainan, hubungan
interpersonal, aktivitas sehari-hari dan komunikasi. Tetapi mereka
sebaliknyamenunjukan reaksi negatifisme seperti tempertantrum karena sikap
egosentris anak.Anak merasa gagal dan kehilangan kendali jika ketrampilan
yang disukainya tidak dapat dilakukan. Hal ini akan menurunkan rasa percaya
diri pada anak. Anak yang sedang meningkata 13 aktivitas motoriknya akan
merasa cemas jika harus dan diikat kaki dan tangannya.
d. Mekanisme koping anak pada hospitalisasi

Toddler (1-3 tahun)


Memberikan toddler bersama obyek yang memberi rasa aman bagi mereka.
Seperti: selimut, boneka, atau obyek lain. Hal tersebut penting selama
tindakan prosedur.Seringkali poto ibu dipergunakan anak-anak sebagai
pelindung saat melakukan tindakan prosedur atau harus minum obat atau
injeksi.Mereka kemudian menjadi lebih tenang dan mau bekerjasama dengan
perawat jika memegangi natau memeluk poto ibunya.
10. FOKUS PENGKAJIAN
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: Kelemahan, kelelahan, insomnia.
Tanda: Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
2. Sirkulasi
Gejala: Riwayat adany/GJK kronis.
Tanda: Takikardia, penampilan kemerahan atau pucat.
3. Integritas ego
Gejala: Banyaknya stresor, masalah finansial.
4. Makanan/cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, riwayat diabetes melitus.
Tanda: Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor buruk,
penampilan kakeksia (malnutrisi).
5. Neurosensori
Gejala: Sakit kepala daerah frontal (influenza).
Tanda: Perubahan mental (bingung, somnolen).
6. Nyeri/keamanan
Gejala: Sakit kepala, nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk; nyeri dada
substernal (influenza), mialgia, artralgia.
Tanda: Melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada sisi yang sakit untuk
membatasi gerakan).
7. Pernapasan
Gejala: Riwayat adanya/ISK kronis, PPOM, merokok sigaret, takpnea, dispnea
progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal.
Tanda: Sputum: merah muda, berkarat, atau purulen, perkusi: pekak di atas area yang
konsolidasi, fremitus: taktil dan vokal bertahap meningkat dengan konsolidasi,
gesekan friksi pleural, bunyi napas: menurun atau tak ada di atas area yang terlibat,
atau napas bronkial, warna: pucat atau sianosis bibir/kuku.
8. Keamanan
Gejala: Riwayat gangguan sistem imun, mis: SLE, AIDS, penggunaan steroid atau
kemoterapi, institusionalisasi, ketidakmampuan umum, demam (mis: 38, 5-39,6oC).
Tanda: Berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan mungkin ada pada
kasus rubeola atau varisela.
9. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Riwayat mengalami pembedahan; penggunaan alkohol kronis.
Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 6,8 hari.
Rencana pemulangan: Bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah,
oksigen mungkin diperlukan bila ada kondisi pencetus.
10. Fokus Intervensi
1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan terjadinya obstruksi, inflamasi,
peningkatan sekresi, nyeri (Wong,2015) .
Tujuan : - Memelihara jalan nafas yang baik - Pengeluaran secret secara adekuat
Intervensi:
a. Berikan posisi yang sesuai untuk mempermudah pengeluaran sekret.
b. Lakukan suction pada saluran nafas jika diperlukan.
c. Posisikan badan terlentang dengan posisi kepala agak terangkat sedikit 30derajat.
d. Bantu anak mengeluarkan spuntum.
e. Melakukan fisioterapi dada.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik.

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan kehilangan nafsu makan, masukan nutrisi tidak adekuat (Wong and
Whaley’s, 2015:453)
Tujuan : - Akan menerima asupan nutrisi optimal Intervensi :
a. Berikan diit nutrisi
b. Daftarkan bantuan untuk anak, keluarga dan formula diit nutrisi optimum akibat
kehilangan nafsu makan
c. Berikan lingkungan yang tenang bersih, dan nyaman selama anak makan sehingga
anak mau makan.
d. Berikan makanan yang menarik dan bervariasi sehingga merand. Berikan
makanan yang menarik dan bervariasi sehingga merangsang nafsu makan anak e.
Lihat juga rencana keperawatan anak dengan kebutuhan nutrisi kusus.

3. Gangguan pengaturan suhu tubuh: hipertermiberhubungan dengan proses


peradangan pada alveoli (carpenito, 2016:195)
Tujuan : - Gangguan pengaturan suhu tubuh tidak terjadi Intervensi :
a. Kaji faktor-faktor penyebab
b. Pantau tanda-tanda vital tiap jam
c. Pantau elektrolit glukosa
d. Pantau adanya takikardi, takipnea
e. Pertahankan cairan parenteral sesuai indikasi
f. Lakukan pengompresan yang sesuai sesuai program
g. Kolaborasi dengan dokter, dalam pemberian antibiotik dan antipiretik

11. CEMAS berhubungan dengan kesulitan bernafas, prosedur yang belum dikenal dan
lingkungan yang tidak nyaman (Wong, 2015:1348)
Tujuan : Akan beradaptasi dengan kecemasan Intervensi :

a. Jelaskan prosedur tindakan yang belum dipahami oleh orangtua dan anak

b. Berikan penjelasan tentang setiap tindakan yang akan dilakukan pada anak dan
orangtua

c. Berikan suasana dan lingkungan yang tenang

d. Berikan teerapi bermain sesuai umur

e. Hindari tindakan yang membuat anak bertambah cemas 9

f. Hindari prosdur yang menyakitkan anak

g. Atur jadwal tidur anak dalam setiap rencana keperawatan.

h. Berikan aktivitas`sesuai kondisi dan kemampuan klien

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen, kelemahan umum, batuk berlebihan, dan dispneu (Dongoes,
2014;170)

 Tujuan : - Menunjukan toleransi aktivitas yang dapat diukur Intervensi :


a. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
b. Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung yang datang
c. Berikan aktivitasn yang menyenangkan sesuai umur, kondisi, kemampuan,
dan ketertarikan anak
d. Berikan terapi aktivitas bermain yang bermain yang tidak mengganggu
istirahat e. Penuhi kebutuhan istirahat bila merasa lelah
f. Jaga keseimbangan istirahat dan aktivitas
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz. A. A. (2015). Pengantar ilmu kepeerawatan anak.(Edisi


pertam).Jakarta : Salemba medika

Marni. (2014). Asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan


pernafasan.Yogyakarta : Gosyen Publishing

Ngastiyah. (2014). Perawatan Anak sakit.Jakarta : EGC

Nursalam. (2014). Buku pengkajian keperawatan. Jakarta: EGC

Suriadi, Yuliani, R. (2016). Asuhan keperawatan pada anak.Jakarta : EGC

Wijayaningsih, K. S. (2013). Asuhan keperawatan anak.Jakarta : TIM

Wong, D. L. (2015). Buku ajar keperawatan pediatrik.(Edisi 6). Jakarta: EGC

Wong, D. L. (2015). Pedoman klinis keperawatan pediatrik.Jakarta : EGC