Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KEMAJUAN

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


FOBIA: FOrmulasi BIodeodorAn Ekstrak Bunga Kecombrang sebagai
Pencegah Bau Badan dan Antikanker

BIDANG KEGIATAN
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:
Toni Okta Fiyansah 061740421455 2017
Tri Mawarni 061740421455 2017
Destri Mentari 061630500388 2016

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
2019

i
ii
RINGKASAN

Masalah radikal bebas yang ada dikulit dan bau badan yang timbul dapat
diatasi dengan memakai deodoran. Yang mengandung antioksidan dan
antibakteri. Namun deodoran yang dijual dipasaran umumnya berbahan dasar
aluminium klorohidrat, propilen glikol, sodium stearat, triklosan, parfum,
aluminum zirconium klorohidrat, alkohol, dan pengawet (Flick, 2001).
Adanya kandungan aluminum klorohidrat dan aluminium zirconium
klorohidrat pada sediaan antirespiran atau deodoran akan menyebabkan
tersumbatnya pori-pori pada kulit. Penggunaan bahan ini dapat memicu iritasi
jika digunakan pada kulit yang terluka (Badan POM RI, 2009). Dan
kandungan aluminium klorohidrat yang menumpuk dipori-pori akan
menyebabkan kanker kulit jika menumpuk terus-menerus.
Untuk itulah perlu diatasi dengan Biodeodoran yang berbahan dasar
alami, yang tidak hanya mengatasi bau badan karena bakteri tetapi juga dapat
menangkal radikal bebas. Solusi dari itu semua adalah biodeodoran dari
ekstrak bunga kecombrang. Ekstrak bunga kecombrang memilki banyak
manfaat bagi kulit, kandungan bahan aktif yang terdapat dalam tanaman
adalah saponin,flavonoid, polifenol dan minyak atsiri (Warta,
2008).Didalamnya dapat berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, dan
antibakteri. Tentunya ini dapat menjadi inovasi produk yang sangat
bermanfaat bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pembuatan biodeodorant dimulai dari pemilihan ekstrak bunga
kecombrang dengan variasi pelarut dan bahan yang terbaik yaitu perbandingan
1 bahan : 4 pelarut . Dari ekstrak yang dihasilkan kemudian dicampurkan
sebagai bahan utama yaitu antimikroba dan sebagai antioksidan pada kulit.
Dari analisa yang dilakukan di dapatkan bahwa ekstrak bunga kecombrang
positif mengandung polifenol, saponin dan flavonoid. Dengan %aktivitas
antioksidan tertinggi terdapat pada sampel 4 yaitu sebesar 80%.B iodeodoran
yang dihasilkan di bagikan secara acak dan meminta respon setelah beberapa
hari. Dari respon pemakai, 80% tanggapan responden sangat baik terhadap
produk ini

iii
AFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................ Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2
1.4 Kegunaan ....................................................................................................... 2
1.5 Luaran ............................................................................................................ 2
BAB 2. TARGET LUARAN .................................................................................. 3
BAB 3. METODE PENELITIAN........................................................................... 4
3.1 Alat dan Bahan .............................................................................................. 4
3.2 Prosedur Penelitian ....................................... Error! Bookmark not defined.
3.2.1 Pembuatan Ekstrak Bunga Kecombrang ................................................ 5
3.2.2 Pembuatan Biodeodoran dari ekstrak bunga kecombrang ...................... 5
3.2 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data serta Penarikan Kesimpulan ......... 5
3.4 Diagram Alir .................................................................................................. 6
BAB 4. HASIL YANG DICAPAI .......................................................................... 7
BAB 5. POTENSI HASIL ...................................................................................... 8
BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10
Lampiran-lampiran ................................................................................................ 11
Lampiran 1. Penggunaan Dana ......................................................................... 11

iv
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit adalah selubung elastik pelindung tubuh dari pengaruh lingkungan,
gangguan dan rangsangan luar. Kulit yang terkontak dengan lingkungan dapat
menyebabkan penumpukkan zat-zat radikal bebas. Senyawa radikal bebas
merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan DNA di samping penyebab
lain seperti virus, bila kerusakan tidak terlalu parah, masih dapat diperbaiki
oleh sistem perbaikan DNA. Namun bila sudah menyebabkan rantai DNA
terputus di berbagai tempat, kerusakan ini tidak dapat diperbaiki lagi sehingga
pembelahan sel akan terganggu. Bahkan terjadi perubahan abnormal yang
mengenai gen tertentu dalam tubuh yang dapat menimbulkan penyakit kanker
(Suryo,2008:451) dan dapat menempelnya mikroorganisme sehingga
menghasilkan bau badan.
Selain radikal bebas, mikroorganisme yang menempel di kulit juga dapat
menghasilkan bau badan. Menurut Wijayakusuma (2008), bau badan dapat
terjadi karena kurang menjaga kebersihan badan dan ada nya bakteri yang
menguraikan keringat menjadi zat yang berbau kurang sedap. Bau badan juga
dipengaruhi oleh hormon dan makanan yang dikonsumsi.Diantara berbagai
jenis kelenjar kulit, bau badan manusia berasaldari kelenjar apokrin. Kelenjar
apokrin mengeluarkan sebagian besarsenyawa kimia yang diperlukan flora
kulit sehingga menghasilkan bau (Lundstrom dan Olsson, 2010). Bau yang
dihasilkan disebabkan olehadanya aktivitas beberapa bakteri seperti kelompok
Corynebacterium,kelompok Propionibacteria, dan Staphylococcus epidermidis
(Buckman,2003).
Masalah radikal bebas yang ada dikulit dan bau badan yang timbul dapat
diatasi dengan memakai deodoran. Yang mengandung antioksidan dan
antibakteri. Namun deodoran yang dijual dipasaran umumnya berbahan dasar
aluminium klorohidrat, propilen glikol, sodium stearat, triklosan, parfum,
aluminum zirconium klorohidrat, alkohol, dan pengawet (Flick, 2001).
Adanya kandungan aluminum klorohidrat dan aluminium zirconium
klorohidrat pada sediaan antirespiran atau deodoran akan menyebabkan
tersumbatnya pori-pori pada kulit. Penggunaan bahan ini dapat memicu iritasi
jika digunakan pada kulit yang terluka (Badan POM RI, 2009). Dan
kandungan aluminium klorohidrat yang menumpuk dipori-pori akan
menyebabkan kanker kulit jika menumpuk terus-menerus.
Untuk itulah perlu diatasi dengan Biodeodoran yang berbahan dasar
alami, yang tidak hanya mengatasi bau badan karena bakteri tetapi juga dapat
menangkal radikal bebas. Solusi dari itu semua adalah biodeodoran dari
ekstrak bunga kecombrang. Ekstrak bunga kecombrang memilki banyak
manfaat bagi kulit, kandungan bahan aktif yang terdapat dalam tanaman
adalah saponin,flavonoid, polifenol dan minyak atsiri (Warta,
2

2008).Didalamnya dapat berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba, dan


antibakteri. Tentunya ini dapat menjadi inovasi produk yang sangat
bermanfaat bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, perumusan masalah yang akan dibahas
dalam hal ini adalah:
1. Bagaimana proses mengekstrak bunga kecombrang dengan metode
maserasi untuk menghasilkan ekstrak yang murni ?
2. Bagaimana proses pembuatan biodeodoran berbahan dasar ekstrak bunga
kecombrang sebagai biodeodoranroll on ?
3. Apa saja manfaat menggunakan biodeodoran ekstrak bunga kecombrang
bagi kesehatan dan apa saja kandungan uji ekstrak bunga kecombrang ?

1.3 Tujuan
1. Membuat ekstrak bunga kecombrang yang kemudian digunakan untuk
membuat biodeodoran
2. Membuat formulasi biodeodoran ekstrak bunga kecombrang yang tepat
dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
3. Melakukan uji ekstrak dan uji biodeodoran dari bunga kecombrang dalam
proses kimia dan dari segi kesehatan.

1.4 Kegunaan
Kegunaan yang dapat diambil dari penelitian ini:
1. Bagi pemerintah, bias mengurangi penyakit kanker yang disebabkan
penggunaan bahan kimia, dan meningkatkan gaya hidup sehat masyarakat
2. Bagi masyarakat, bisa menggunakan produk biodeodrant ekstrak bunga
kecombrang sehingga mengurangi konsumsi terhadap deodoran kimia
3. Bagi mahasiswa, dapat membuat produk biodeodoran sendiri yang ramah
lingkungan

1.5 Luaran
1. Hasil Ekstrak bunga kecombrang
2. Produk biodeodoran ekstrak bunga kecombrang
3. Analisa kimia, mikrobiologi dan kesehatan pada produk
4. Jurnal/Artikel ilmiah tentang proses pembuatan biodedorant ekstrak bunga
kecombrang
5. Laporan kemajuan dan laporan akhir
3

BAB 2. TARGET LUARAN

Target luaran dari penelitian dengan judul “FOBIA: FOrmulasi BIodeodorAn


Ekstrak Bunga Kecombrang sebagai Pencegah Bau Badan dan Antikanker” ini
diuraikan sebagai berikut. :
Tabel 1. Target Luaran Dari Kegiatan
No. Luaran Target Luaran
1. Produk  Produk yang telah siap pakai
 Produk yang telah di analisa secara
kimia, mikrobiologi dan respon
pengguna
 Produk yang terstandardisasi
 Produk yang tersertifikasi
 Peningkatan kualitas produk
hingga batas maksimum
 Peningkatan kuantitas produk yang
dihasilkan
2. Jurnal  Membuat jurnal dengan analisanya
 Publikasi ilmiah di jurnal
nasional/prosiding
 Publikasi pada jurnal Internasional
 Publikasi jurnal di media massa
 Pemakalah jurnal di forum ilmiah
3. Mitra  Mencari mitra yang tertarik untuk
produk ini
 Menjalin kerja sama dengan mitra
untuk mengembangkan produk
 Peningkatan kesejahteraan
masyarkat dengan sosialisasi
4. HAKI (Hak Kekayaan  paten sederhana
Intelektual)  Hak cipta
 Merek produk
4

BAB 3. METODE

3.1 Alat dan Bahan


a. Alat
1. Timbangan Analitis 12. Kertas Saring
2. Oven 13. Pipet Ukur
3. Spatula 14. Rubber Bulb
4. Beker Gelas 15. Hot Plate
5. Loyang Aluminium 16. Erlenmeyer
6. Aluminium Foil 17. Tisu
7. Pisau 18. Kaca Arloji
8. Pengaduk Kaca 19. Termometer
9. Rotary Evaporator 20. Labu Ukur
10. Corong Buncher 21. Kemasan
11. Tabung Reaksi DeodoranRoll On

b. Bahan
1. Bunga kecombrang
2. Etanol 96 %
3. VCO wet-milled
4. Shea butter
5. Soda kue
6. Tepung pati jagung
7. Minyak atsiri lavender
8. Tawas
9. Lilin Lebah

3.2.1 Tahapan Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tahap I : Pembuatan ekstrak bunga kecombrang dengan
perbandingan bahan dan pelarut
Tahap II : Melakukan Identifikasi senyawa, analisa kimia dan
mikrobiologi
Tahap III : Pembuatan Biodeodoran dari ekstrak bunga kecombrang
Tahap IV : Pemberian sampel pada masyarakat dan meminta
tanggapan setelah 7 hari dengan kuesioner singkat
5

3.2.2. Prosedur Penelitian


Bunga Merendam dengan etanol 96% Simpan selama 3 hari
Kecombrang, di .dengan perbandingan bahan dan pada suhu kamar dan
iris kecil-kecil pelarut: (1:1), (1:2), (1:3), (1:4), (1:5) ruang gelap Proses
pembuata
n ekstrak
Didapatkan ekstrak dengan 5 Saring ekstrak,
perbandingan bahan:pelarut : Dan evaporasi 5 sampel
(1:1), (1:2), (1:3), (1:4), (1:5 ) selama 90 menit , secara
terpisah

ANALISA I ANALISA II ANALISA III


(Identifikasi Zat) (Aktivitas Antioksidan ) (Daya hambat terhadap bakteri)

a. Uji Flavonoid 1. Membuat larutan DPPH 40 1. Pembuatan Media


 Pipet 10 ml sampel ke ppm dalam 100 ml  Mensterilkan alat
tabung reaksi 2. Blanko  Mencampurkan NaCl,
 Tambahkan 1 ml HCl  5ml DPPH 40 ppm + 5 pepton, Ekstrak Daging,
pekat + 1ml amyl ml metanol, homogenkan Aquades , dan bacto
alkohol + 0,1 gram Mg  Ukur absorbansi pada  Didihkan , dan cetak di
 Kocok hingga panjang gelombang 517 cawan petri
homogen nm 2. Isolasi bakteri
 Hasil positif terbentuk 3. Sampel  Bakteri di dapatkan dari
warna merah  5 ml sampel + 5 ml tanah tempat tumbuh
b. Uji Fenol DPPH 40 ppm, tanaman berumbi
1ml sampel + 2 tets homogenkan  Isolasi bakteri dan pilih
FeCl3 5%  Ukur absorbansi pada koloni S. Aureus
Hasil positif berubah panjang gelombang 517  Iolasi koloni S.aureus di
warna menjadi hijau nm cawan baru, agar di dapatkan
atau hijau kebiruan koloni yang murni
c. Uji Saponin 4. Menghitung % aktivitas  Isolasi dilakukan terus
 7 ml sampel di antioksidan menerus hingga hanya
panaskan hingga tersisa koloni S. Aureus
mendidih %𝑎𝑛𝑡𝑖𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎𝑛 3. Daya Hambat Ekstrak
 Kocok selama 2 menit 𝐴. 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 − 𝐴. 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑟𝑙
=  Masing-masing sampel di
 Tambahkan 5 ml HCL 𝐴. 𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜
teteskan pada media
2M  Kemudian goreskan S.aureus
 Kocok hingga terbentuk memenuhi permukaan media
buih  Tunggu 1-3 hari
 Hasil positif jika  Maka akan terlihat
terbentuk buih yang
diameter hambat ekstrak
stabil terhadap pertumbuhan
S.aureus

Di dapatkan ekstrak terbaik Pencampuran sampel dengan Cairkan lilin lebah dan
yaitu sampel 4 (1:4) VCO, Shea butter cair, soda tambahakn ke campuran + 0,1
kue, Pati jagung, Tawas, ml atsiri lavender
homogenkan

Membagikan sampel, dan Biodeodoran Siap di pakai Tuang Campuran dalam


meminta tanggapan setelah cetakan dan tunggu hingga
pemakaian 1 minggu. Dengan dingin
kuesioner singkat

Gambar 1. Daigram alir pembuatan produk


6

BAB 4. HASIL YANG DICAPAI

Dari ekstraksi bahan dan pelarut organik berupa etanol


dengan variasi perbandingan antara keduanya di dapatkan
hasil sebagai berikut. Dapat dilihat bahwa semakin dikit
pelarut maka semakin pekat ekstrak yang dihasilkan.
Setelah mendapatkan ekstrak dilanjutkan dengan
Gambar 2. Hasil Ekstraksi identifikasi senyawa
Hasil uji flavonoid untuk masing-masing sampel
dinyatakan positif, karena pengujian serbuk ekstrak 1:5
menggunakan HCl pekat dan serbuk magnesium akan
menghasilkan warna merah pada lapisan amil alkohol. Hasil
Gambar 3. Uji Flavonoid
uji ditunjukkan pada gambar samping.
Hasil uji fenol menunjukan 4 sampel positif
mengandung fenol, namun sampel 5 memiliki warna hijau
yang pekat, yang menandakan konsentrasi fenol yang tinggi.
Dan sampel ke 1 tidak mengalami perubahan warna
Gambar 4. Uji Fenol Pengujian senyawa saponin dilakukan dengan
memanaskan sampel hingga mendidih selama 5 menit,
setelah dingin sampel di kocok dengan kuat sehingga
terbentuk busa, ditambahkan HCl 2M. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa sampel terbentuk busa yang stabil.

Gambar 5. Uji saponin

Tabel 2. Identifikasi senyawa Aktivitas antioksidan dihitung


Jenis Senyawa
sampel
dengan mengukur %inhibisi,
flavonoid polifenol saponin
pengukuran aktivitas antioksidan
Sampel 1 + - +
dilakukan dengan larutan blanko
Sampel 2 + + +
DPPH dengan mengukur pada
Sampel 3 + + +
panjang gelombang maksimum 517
Sampel 4 + + +
nm. Dengan alat spektofotometri UV-
Sampel 5 + + +
Vis di dapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 3. Aktivitas Antioksidan


Sampel Absorbansi % aktivitas
antioksidan
Sampel 1 0.46005 22.57
Sampel 1 0.46005 22.57
Sampel 2 0.17281 70.91
Sampel 3 0.11942 79.90
Sampel 4 0.11562 80.54
Sampel 5 0.12082 79.66
Gambar 6. Hasil Spektofotometri
7

Dari Tabel dapat diketahui bahwa semakin kecil absorbansi sampel yang
digunakan maka aktivitas antioksidan juga semakin besar, ditandai dengan
berkurangnya intensitas warna menggambarkan penurunan konsentrasi DPPH
yang diberi sampel maupun pembanding. Semakin besar aktivitas peredaman
radikal DPPH maka konsentrasi DPPH yang masih ada semakin kecil, sehingga
nilai absorbansi yang dihasilkan semakin turun. Adapun reaksi senyawa yang
bersifat sebagai antioksidan dengan molekul DPPH dapat dilihat pada Gambar 3.
Daya hambat terhadap bakteri staphylococcus Aureus. Pada hasil
percobaan dapat dilihat bahwa diameter hambat sample 4 adalah yang paling
besar, hal ini menandakan bahwa sample 4 memiliki kandungan
saponin(antibakteri ) yang tinggi. Saponin melakukan mekanisme penghambatan
dengan cara membentuk senyawa kompleks dengan membran sel melalui ikatan
hidrogen, sehingga dapat menghancurkan sifat permeabilitas dinding sel bakteri
dan menimbulkan kematian sel bakteri.

Maka dari itu sample 4 dengan perbandingan 1 kg bahan : 4 L pelarut.


Digunakan sebagai bahan uatama dalam pembuatan biodeodorant.
Setelah melakukan pembuatan biodeodoran, sample dibagikan kepada 5
responden, dan setelah 1 minggu kami meminta respon balik dengan hasil
kuesioner sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Kuesioner responden
Frekuensi responden
Karakteristik Responden
SB B TB STB
Produk a. Bau 3 2
b. Tekstur 5
c. Warna 1 4
Respon di kulit a. Dapat mengurangi kuantitas 3 2
keringat
b. Dapat mengurangi bau 4 1
badan
c. Menghasilkan residu 1 4
d. Dapat menghaluskan kulit 2 3
e. Dapat menyebabkan kulit 3 2
berubah warna

Lama bau badan waktu frekuensi


hilang 2 jam -
3 jam 2
4 jam 1
8

5 jam 2

BAB 5. POTENSI HASIL

Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan selama 3 bulan


dengan melihat indikator keberhasilan jangka pendek dan jangka panjang. Potensi
hasil yang diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 4. Potensi Hasil
No Ruang Lingkup Potensi Hasil Penelitian
 Mencegah potensi terkena kanker yang
disebabkan penggunaan deodorant berbahan
1 Kesehatan
kimia
 Membantu peningkatan regenerasi kulit

 Meningkatkan gaya hidup sehat dengan


menggunakan bahan alami dalam deodoran
Sosial dan
2  Meningkatkan peluan usaha masyarkat sekitar
masyarakat
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan
sosialisasi produk

 Menjalin mitra kerja dengan perusahaan yang


mengembangkan produk deodoran
3 Ekonomi
 Memasarkan produk dan mengembangkan nya
menjadi peluang usaha

 Publikasi jurnal di media massa baik nasional


maupun internasional
4 Ilmiah  Memparkan jurnal di forum ilmiah
 Identifikasi hasil penelitian yang berpotensi
untuk proses hak paten dan kepemilkan HKI
9

BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA


Dari penelitian yang telah dilakukan, di dapatkan beberpa hasil yang dapat
berpotensi mengembangkan beberapa ruang lingkup kehidupan. Adapun
rencanapengembangan kegiatan penelitian ini pada tahap berikutnya adalah
sebagai berikut :
1. Mengembangkan produk yang dihasilkan menjadi produk yang dapat di
pasarkan
2. Mendapatkan standardisasi dan sertifikasi produk
3. Mencari mitra untuk bekerja sama dalam mengembangkan produk dan
memasarkannya
4. Mempublikasikan jurnal ilmiah
5. Memaparkan jurnal di forum ilmiah atau seminar nasional
6. Memberikan sosialisasi masyarakat sekitar tentang pembuatan produk
biodeodoran alami yang ramah untuk kesehatan
7. Membuka peluang bisnis dalam bentuk industri rumahan
10

DAFTAR PUSTAKA

Boerhendhry, I., 2009..Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia


Vol. 31 No. 5

BPOM RI, 2009, Bahan-Bahan Kosmetik Sebagai Anti Acne, Majalah Natura
Kos, 4 (10)

Buckman, R. 2003. Human Wildlife: The Life That Lives On Us. The Johns
Hopkins University

Flick, E.W. 2001. Cosmetic and Toiletry Formulations Second Edition Volume 8.
Noyes Publications, New York. Halaman 3-5.

Lundström, J.N. dan Olsson, M.J. 2010.Functional neuronal processing of human


body odors

Suryo.2008. Genetika Manusia. Yogyakarrta: Universitas Gajah Mada

Wijayakusuma H., 2008. Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit. Jakarta :


Pustaka Bunda
11

Lampiran-lampiran

Lampiran 1. Penggunaan Dana

1. Biaya Penunjang
Justifikasi
Material Volume Harga Satuan Jumlah Biaya
Pemakaian

Alat
Aluminium Foil 3 Pcs Rp 92.000 Rp 276.000
Pembungkus

Gelas ukur 25 ml Alat Pengukur 2 Pcs Rp 87.000 Rp 174.000

Gelas ukur
Alat Pengukur 1 Pc Rp 250.000 Rp 250.000
100ml

Tisu Alat Pembersih 1 Pc Rp 24.000 Rp 24.000

Kemasan
Alat Pengemas 10 Pcs Rp 9.000 Rp 90.000
deodorant

Labu ukur 500ml Alat Pengukur 2 Pcs Rp 279.000 Rp 558.000

Kertas Saring Alat Penyaring 3 Pcs Rp 26.000 Rp 78.000

Wadah
B. Pot 20CC Penampung 6 Pcs Rp 8.000 Rp 48.000
Sampel

Subtotal Rp 1.498.000

2. Biaya Habis Pakai


Justifikasi Jumlah
Material Volume Harga Satuan
Pemakaian Biaya

Bahan
Etanol 96% 5 Liter Rp 87.000 Rp 435.000
Pelarut

Bahan
Etanol 96% 1 Liter Rp 85.000 Rp 85.000
Pelarut

Bahan
Tawas Bubuk 1 Bks Rp 15.000 Rp 15.000
Tambahan

Bunga Bahan Baku


12 Kg Rp 73.000 Rp 876.000
Kecombrang Utama
12

VCO wet-milled Zat Aditif 2 Btl Rp 42.000 Rp 84.000

VCO wet-milled Zat Aditif 2 Btl Rp 47.500 Rp 95.000

Shea butter Zat Aditif 4 Cup Rp 80.000 Rp 320.000

Minyak atsiri Zat Aditif 4 Btl Rp 78.000 Rp 312.000

Soda Kue Zat Aditif 2 Pcs Rp 20.000 Rp 40.000

Tepung pati jagung Zat Aditif 3 Bks Rp 15.000 Rp 45.000

Bahan
Lilin lebah 2,5 Kg Rp 139.500 Rp 697.500
Penguat

Subtotal Rp 3.004.500

3. Lain-lain
Justifikasi Jumlah
Material Volume Harga Satuan
Pemakaian Biaya

Pengujian Hasil Uji


1 Rp 197.500 Rp 197.500
Penelitian antioksidan

Materi Penggunaan
3 Rp 100.000 Rp 300.000
Kepustakaan internet

Subtotal Rp 497.500

Total Rp 5.000.000
13
14
15
16

Lampiran 2. Bukti-bukti pendukung kegiatan


A. Proses Ekstraksi
17

B. Analisi I (Identifikasi Senyawa)

C. Analisis II (Spektofotometri UV-VIS)


18
19
20

D. ANALISA III (Daya Hambat Terhadap Staphylococcus Aureus)


21

E. Proses Pembuatan Biodeodoran


22
23

F. Pembagian sampel produk dan kuesioner


24