Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan YME, sebagai pencipta atas segala kehidupan yang
senantiasa memberikan rahmat sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini.

Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih dengan hati yang tulus
kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini semoga Tuhan
senantiasa membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna perbaikan di
masa yang akan datang. Harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Baubau 06 januari 2020


Daftar Isi

JUDUL ...............................................................................................................
KATA PENGANTAR ............................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................
A. Latar belakang .............................................................................................................
B. Rumusan masalah .......................................................................................................
C. Tujuan penulisan .........................................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................................


2.1 pengertian Teori Kontingensi.....................................................................................
2.2 akuntansi keperilakuan dan kontigensi dalam perspektif sejarah .............................
2.3 munculnya perumusan kontinjensi ............................................................................
2.4 variable variable dasar kontingensi dan hubunganya ................................................
2.5 Isi teori kontingensi .....................................................................................................
2.6 Implikasi untuk riset ....................................................................................................
2.7 aspek keperilakuan pada desentralisasi .....................................................................

BAB 3 PENUTUP ........................................................................................................


3.1 Kesimpulan

Bab 4 Daftar Pustaka .................................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Teori Contingency dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh


pendekatan sistem. Teori Contingency melihat teori organisasi sudah seharusnya berlandaskan
pada konsep system yang terbuka (open system concept). Ini merupakan pandangan yang
berbeda dari pandangan para ahli teori klasik yang melihat organisasi merupakan suatu system
yang tertutup.

Inti dari Teori Contingency ini pada dasarnya terletak pada pandangannya dalam melihat
hubungan antar organisasi dan hubungan antara organisasi dengan lingkungannya. Menurut
teori ini, hubungan antara satu organisasi dengan lainnya maupun dengan lingkungannya
secara keseluruhan, sangat tergantung pada situasi (depens on the situations). Pandangan yang
demikian menuntut baik para ahli teori organisasi maupun para praktisi atau manajer untuk
lebih mengembangkan kemampuan beradaptasi, lebih luwes dan lebih sederhana dalam
proses pengambilan keputusan yang dibuatnya. Teori Contingency ini menolak prinsip-prinsip
yang dikembangkan oleh para ahli teori klasik dan menggantinya dengan pandangan yang lebih
adaptif dalam memahami organisasi.

Pendekatan kontingensi dipengaruhi oleh dua program penelitian sebelumnya yang berusaha
menunjukkan perilaku kepemimpinan yang efektif. Selama tahun 1950-an, para peneliti di Ohio
State University memberikan kuesioner untuk mengukur berbagai kemungkinan perilaku
pemimpin dalam berbagai konteks organisasi. Hasilnya adalah dua jenis perilaku pemimpin
yang terbukti efektif adalah :

1. perilaku pemimpin pertimbangan ( consideration leader behaviors) dimana pemimpin


membangun hubungan baik dan hubungan interpersonal dan menunjukkan dukungan dan
kepedulian terhadap bawahan dan
2. perilaku pemimpin struktural ( initiating structure leader behaviors) dimana seorang
pemimpin mengembangkan struktur organisasi (misalnya, tugas peran, perencanaan,
penjadwalan) untuk memastikan penyelesaian tugas dan pencapaian tujuan.
Rumusan masalah
1. Apa Pengertian teori kontingensi dan pandangan kontinjensi menurut para ahli?
2. Bagaimana Akuntansi Keperilakuan dan Kontinjensi dalam Perspektif Sejarah ?
3. Apa yang menyebabkan Munculnya Perumusan Kontinjensi ?
4. Apa saja Variabel-variabel Dasar Kontinjensi dan Hubungannya ?
5. Apa Isi Teori Kontinjensi ?
6. Apa saja implikasi untuk riset ?
7. Apa itu aspek keperilakuan pada desentralisasi ?

Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui teori kontingensi dan pandangan kontinjensi menurut para ahli
2. Untuk memahami Akuntansi Keperilakuan dan Kontinjensi dalam Perspektif Sejarah
3. Untuk mengetahui Munculnya Perumusan Kontinjensi
4. Untuk mengetahui Variabel-variabel Dasar Kontinjensi
5. Untuk mempelajari isi teori kontigensi
6. Untuk memahami implikasi untuk riset
7. Untuk mengetahui aspek keperilakuan pada desentralisasi
BAB II
Pembahasan

2.1 Pengertian Teori Kontingensi

Teori kontinjensi merupakan alat pertama dan yang paling terkenal untuk menjelaskan
berbagai variasi dalam struktur organisasi. Manfaat dari teori ini yang dapat dirasakan adalah
dalam mendesain suatu organisasi berdasarkan ketidak pastian lingkungan dan ukuran
organisasi
Menurut teori kontingensi, ciri-ciri lingkungan mempengaruhi kemampuan satu organisasi
untuk mencapai sumber-sumber daya dan untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan
sumber-sumber daya maka para manager harus mengijinkan departemen-departemennya
untuk mengorganisasi dan mengendalikan kegiatan-kegiatan mereka dengan cara sedemikian
rupa hingga memungkinkan mereka mencapai sumber daya dalam batas-batas kendala-kendala
yang ada pada lingkungan dimana mereka berada

Tokoh utama yang memberikan dorongan besar bagi perkembangan teori organisasi pada
pendekatan atau teori Contingency adalah Joan Woodward, terutama melalui studinya
mengenai efek atau dampak dari teknologi terhadap organisasi. Hasil studi yang dilakukan
Woodward menunjukkan bahwa berbagai organisasi perusahaan atau firma yang dibangun atas
dasar prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh para ahli teori organisasi kalsik, tidak selalu
mengalami keberhasilan dari sudut pandang komersial. Woodward menyatakan bahwa variasi
dalam hal struktur organisasi berkaitan erat dengan perbedaanperbedaan teknis dalam
proses produksi. Menurut Woodward, penggunaan teknologi menuntut adanya kesesuaian baik
pada tingkat individu maupun organisasi, dimana kesesuaian ini hanya dapat dilakukan melalui
penyusunan struktur organisasi. Menurut Woodward, suatu organisasi perusahaan atau firma
secara komersial berhasil jika antara fungsi dan bentuk dari organisasi itu bersifat saling
melengkapi.

Dalam studi yang dilakukannya, Woodward melihat bahwa dalam prakteknya, prinsip-
prinsip yang dikemukakan oleh para ahli teori organisasi klasik tidak selalu bisa dilaksanakan.
Struktur organisasi merupakan hasil dari berbagai variabel, tidak sesederhana seperti yang
dipikirkan para ahli teori organisasi klasik. Menurut Woodward, pengetahuan sudah seharusnya
menggantikan kepercayaan dan hal itu hanya bisa dilakukan melalui penelitian dan penelaahan
secara ilmiah. Gagasan Woodward merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi
perkembangan teori organisasi sejak masa itu sampai sekarang, terutama pengetahuan
mengenai bagaimana suatu organisasi bekerja. Penjelasan mengenai hubungan secara langsung
antara teknologi dengan struktur sosial dari organisasi merupakan temuan utama dari studi
yang dilakukan oleh Woodward. Organisasi yang menerapkan teknologi yang makin canggih,
cenderung untuk secara langsung mengembangkan sesuai dengan kecanggihan teknologi itu
suatu struktur organisasi yang sesuai pula, misalnya dalam bentuk panjangnya rantai perintah,
lingkup pengawasan dari pemimpin tertinggi suatu organisasi. rasio perbandingan antara
para manajer dengan pekerja dan sebagainya.

Selain Woodward, Jay Galbraith juga dapat dipandang sebagai ahli yang memberikan
sumbangan besar dan penting bagi perkembangan teori organisasi yang ada dewasa ini. Jay
Galbraith memberikan perhatiannya pada masalah kepastian dari kegiatan atau aktifitas
organisasi dalam hubungannya dengan aspek perencanaan dan kebutuhan akan informasi
dalam organisasi. Dalam pandangan Jay Galbraith, organisasi dilihat sebagai tempat dimana
proses pemilihan atau seleksi informasi berlangsung. kordinasi diantara berbagai komponen
organisasi yang dilakukan jika lingkungan aktifitas organisasi memerlukan. Perubahan pada
tingkat lingkungan mengharuskan penambahan lebih banyak aktifitas koordinasi yang dilakukan
untuk memproses informasi dalam organisasi sebagai suatu usaha untuk melakukan
penyesuaian terhadap perubahan lingkungan. Struktur organisasi dipandang sebagai alat untuk
memproses informasi yang disusun untuk mencapai koordinasi dan integrasi diantara bagian-
bagian atau komponen-komponen suatu organisasi. Gagasan dari Jay Galbraith yang demikian
ini merupakan sesuatu yang dewasa ini telah sangat dapat diterima dikalangan pemikiran dan
teori organisasi kontemporer.

Terdapat ahli-ahli teori organisasi yang lain yang juga memberikan sumbangan bagi
perkembangan teori Contingency. Salah satu diantaranya adalah James D. Thomson, yang
memberikan perhatian utamanya pada dampak atau efek dari teknologi terhadap organisasi,
yang tidak hanya terbatas pada organisasi bisnis saja, tetapi juga berbagai organisasi lainnya.
Thomson melihat bahwa pada organisasi-organisasi yang memiliki masalah-masalah teknologis
dan lingkungan yang kurang lebih sama, akan memiliki perilaku yang kurang lebih sama pula.
Menurut Thomson, dalam situasi yang demikian akan ditemukan pola=pola pengorganisasian
yang sama diantara organisasioeganisasi yang ada. Ini merupakan sumbangan yang cukup
penting bagi studi organisasi, karena ketika organisasi berhadapan dengan dorongan kekuatan
teknologi dan lingkungannya, organisasi tersebut akan melakukan adaptasi, terutama dalam
bentuk perubahan strukturnya guna mengakomodasi dorongan kekuatan tersebut.

Sumbangan penting lain dari James D. Thomson adalah rintisannya untuk memberikan
penekanan akan perlunya melakukan analisis terhadap organisasi sebagai suatu system yang
terbuka (open system). Meskipun gagasan Thomson untuk melihat organisasi sebagai
suatu system yang terbuka itu saat ini sudah menjadi hal yang biasa. tetapi dalam
perkembangan teori organisasi pada masa itu merupakan sumbangan yang sangat berarti. Jadi
sumbangan terpenting dari Thomson terhadap perkembangan teori organisasi terutama dalam
memahami bagaimana kekuatan teknologi dan lingkungan sebagai sistem yang melingkupi
organisasi, berpengaruh terhadap organisasi.

Ahli lain yang juga memberikan sumbangan bagi perkembangan teori Contingency adalah Jay
W. Lorsch dan Paul L. Lawrence. Pusat perhatian dari Lorsch dan Lawrence adalah pada
hubungan Contingency antara suatu organisasi dengan lingkungannya. Hsil studi Lorsch dan
Lawrence secara jelas menunjukkan bahwa organisasi-organisasi yang sukses selalu disusun
strukturnya dalam pola yang konsistem dengan tuntutan lingkungannya. Pola hubungan yang
demikian dibuktikan oleh Lorsch dan Lawrence melalui pengujian terhadap empat komponen
atau variabel dasar:

 Tingkat formalitas dari struktur.


 Orientasi tujuan organisasi.
 Orientasi waktu.
 Orientasi hubungan interpersonal.

Dengan empat komponen dasar atau variabel utama itu, studi dari Lorsch dan Lawrence
menunjukkan bahwa organisasi-organisasi yang secara teknologis dapat berjalan dengan baik,
pada umumnya memiliki :

 struktur organisasi yang tingkat formalitasnya minimal,


 lebih berorientasi pada tujuan yang bersifat ilmiah dari pada berorientasi pada pasar,
 keberadaan para manajer yang berorientasi pada pemikiran jangka panjang,
 lebih mengutamakan pelaksanaan tugas pekerjaan dari pada mengutamakan hubungan-
hubungan sosial yang bersifat interpersonal.

Kondisi-kondisi yang demikian menurut Lorsch dan Lawrence merupakan kondisi yang terbaik
bagi suatu organisasi untuk bergerak dalam lingkungan kerja teknologis yang amat tinggi.
Sebaliknya, menurut Lorsch dan Lawrence, suatu organisasi adalah :

 lebih menyerupai sebuah perkumpulan sosial, yang karenanya mengutamakan formalitas dalam
berbagai bentuk ritualnya,
 tujuannya lebih berorientasi pada pasar dari pada orientasi tujuan-tujuan yang ilmiah,
 memiliki perspektif jangka pendek,
 lebih mementingkan hubungan interpersonal dari pada pengutamaan pada orinetasi
pelaksanaan tugas pekerjaan, merupakan kondisi yang tidak mendukung bagi suatu organisasi
untuk bergerak dalam lingkungan teknologis yang amat tinggi.

Organisasi yang dapat berjalan dengan baik dan sukses menurut Lorsch dan Lawrence
merumuskan tujuannya dengan mempertimbangkan fasilitas lingkungan secara konsisten.
Dengan kata lain, dalam pandangan Lorsch dan Lawrence, terdapat hubungan ketergantungan
antarasuatu organisasi dengan bagaimana struktur organisasi tersebut disusun untuk
beraktivitas dalam suatu kondisi lingkungan yang dihadapinya. Sebagai hasil dari hubungan
ketergantungan tersebut adalah terjadinya diferensiasi dari berbagai bagian dari organisasi.
Jadi, kondisi lingkungan menjadi faktor yang menentukan dalam pengambilan
keputusan mengenai bagaimana struktur suatu organisasi akan disusun.

Pada waktu berbagai komponen dari suatu organisasi mengalami diferensiasi, maka pada saat
itu pula diperlukan adanya suatu ikatan dari berbagai komponen yang mengalami diferensiasi
itu, kedalam suatu kesatuan dan keseluruhan yang efektif. Ini berkaitan dengan fungsi integrasi,
yang diperlukan untuk mempersatukan atau mengintegrasikan berbagai komponen yang
terdiferensiasi itu. Tingkat diferensiasi yang tinggi dari struktur suatu organisasi, mengharuskan
organisasi itu untuk mengembangkan secara serius suatu bentuk kerangka kerja koordinatif
diantara bagian-bagian atau sub unit-sub unit dalam struktur tersebut. Disini nampak jelas
adanya upaya perubahan pada tingkat manajemen, yang ditujukan untuk mencapai suatu
kondisi yang seimbang dan suatu pola integrasi diantara bagian- bagian yang mengalami
diferensiasi.

2.2 Akuntansi keperilakuan dan kontigensi dalam perspektif sejarah

Lahirnya konsentrasi akuntansi keperilakuan dalam dinamika keilmuan akuntansi


tidak terlepas dari evolusi bidang perilaku organisasi. Perilaku organisasi lahir sebagai
fenomena keilmuan dalam kerangka menjawab tantangan begaimana mendesain sebuah
organisasi yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan dan kinerja yang diharapkan.
Lahirnya teori perilaku organisasi diawali dengan wacana desain operasional sebuah
organisasi (baca: perusahaan) yang bergerak dibidang manufaktur. Pengaruh revolusi
industri diduga kuat memberi dampak dalam menciptakan produk dengan sumber daya
yang efektif dan efisien. Sejarah mencatat, kalkulasi efektif dan efisien waktu itu belum
menyentuh pada aspek pemanfaatan sumber daya manusia dan bahkan, lingkungan.

Dapat dipahami bahwa gejolak pemikiran terhadap desain organisasi waktu itu masih
Sementara itu, akuntansi berkepentingan terhadap pencatatan, pengakuan, dan
pengukuran penggunaan sumber daya yang ada dan kemudian melaporkan penggunaan
sumber daya tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan
keputusan organisasi. Sinergi hubungan konsep perilaku organisasi dengan akuntansi
menemukan sebuah sosok yang evolusioner ketika desain sebuah sistem organisasi
mengkaitkan persoalan human resourches dalam wacana keilmuannya. Hubungan sinergi
itu adalah bagaimana memahami, mengukur, menjelaskan dan memprediksi pengaruh
perilaku manusia dalam desain sistem organisasi. Dalam kapasitasnya sebagai bidang
melahirkan sebuah simbol perekayasaan baru dibidang akuntansi: akuntansi
keperilakuan.

Sejarah selanjutnya mencatat, gagasan-gagasan yang muncul dalam akuntansi


keperilakuan tidak dapat terlepas dari evlousi teori organisasi yang akhirnya melahirkan
konsep kontinjensi. Dengan demikian sinergitas akuntansi keperilakuan sekarang sejalan
paralel dengan perilaku organisasi. Dinamika keilmuan yang terjadi dalam perilaku
organisasi akan diikuti oleh perkembangan dinamika akuntansi keperilakuan itu sendiri.
Perilaku organisasi merupakan sebuah studi tentang dinamika kelompok atau individu
dalam setting atau lingkungan organisasi. Kapan saja manusia bekerja bersama, beberapa
faktor dan persoalan akan muncul memegang peranan. Perilaku organisasi berusaha
memahami dan men-set faktor-faktor tersebut.

Perilaku manusia umumnya mempertimbangkan terhadap masalah fungsi internal dan


eksternal sebuah perilaku. Tindakan manusia dalam perspektif internal dipahami sebagai
akibat dari munculnya gagasan-gagasan, perasaan dan kebutuhan-kebutuhan individual.
Dalam perspektif ini juga, tindakan indinvidual dapat dijelaskan sebagai akibat dari masa
lalu individu. Sementara itu, dalam perspektif eksternal, perilaku manusia dipandang
sebagai akibat dari keberadaan lingkungan individu tersebut. Dorongan eksternal diakui
merupakan salah satu faktor penyebab munculnya perilaku manusia.

2.3 Munculnya Perumusan Kontinjensi

Alasan untuk mempertimbangkan adopsi terhadap teori kontinjensi akuntansi


manajemen adalah untuk digunakan sebagai alat yang dibutuhkan dalam menginterpretasikan
hasil riset empiris. Hal ini disebabkan keterbatasan dalam meninjau dan memahami jenis
hipotesis yang telah dikemukakan untuk menjelaskan penemuan yang berlawanan. Hal ini juga
menyatakan bahwa pekerjaan jenis ini tidak dengan sendirinya mencakup perumusan
kontinjensi yang semakin cepat, dan bahwa diperlukan pengembangan paralel dalam teori
organisasi guna mengembangkan suatu penjelasan penting.

Pengaruh Hasil Empiris

Apabila diperoleh hasil yang tidak memuaskan maka masalah tersebut harus dipecahkan dalam
kerangka universal yang telah menjadi sumber stimulus bagi pengembangan perumusan
kontinjensi. Konsep, seperti teknologi, struktur organisasi, dan lingkungan telah dilibatkan
untuk menjelaskan mengapa sistem akuntansi membedakan antara satu situasi dengan situasi
yang lain.

Efek Teknologi

Variabel kontinjensi terpanjang dan yang paling sederhana digunakan dalam akuntansi
manajemen adalah teknologi produksi. Jenis teknik dan proses produksi yang berbeda telah
memengaruhi desain sistem akuntansi internal walaupun harus dicatat hal tersebut muncul
sebagai alat untuk menjelaskan perbedaan dengan apa yang dianggap sebagai konfirmasi
empiris dari teori organisasi klasik. Sifat alami dari proses produksilah yang menentukan jumlah
alokasi biaya dan biaya tidak didistribusikan langsung secara merata. Teknologi produksi
memiliki pengaruh yang penting terhadap jenis informasi akuntansi yang disajikan. Hal ini
memunculkan aspek selain teknologi yang berpengaruh atas informasi yang harus disediakan
untuk mencapai efektivitas. Sebagai contoh, kompleksitas dari tugas yang dihadapi oleh suatu
organisasi berkaitan dengan struktur pengendalian biaya yang sesuai.

Efek dari Struktur Organisasi

Ada bukti menyatakan bahwa struktur organisasi memengaruhi cara dengan mana informasi
penganggaran digunakan paling baik. Hopwood membedakan antara batasan anggaran
(budgeti-condtrained), yaitu situasi dimana penggunaan informasi akuntansi dalam anggaran
menjadi satu-satunya faktor yang paling penting dalam evaluasi atasan terhadap para bawahan,
dan kesadaran laba (profit-conscius), yaitu gaya yang juga mempertimbangkan efektivitas dan
jangka waktu yang lebih panjang. Studi Hopwood menunjukan bahwa gaya batasan anggaran
bersifat kaku.

Studi Hopwood didasarkan pada pusat tanggung jawab (biaya) di pabrik baja terintegritas,
sehingga mempunyai saling ketergantungan yang luas antara bagian yang satu dengan yang
lainnya. Studi Otley melibatkan pusat tanggung jawab (laba) pada industri penambangan batu
bara, yang karena alasan yang praktis, tidak saling tergantung satu sama lain. Studi awal
menunjukan bahwa penggunaan yang kaku dari ukuran pencapaian tidaklah sesuai jika terdapat
saling ketergantungan yang luas. Penggunaan gaya anggaran yang sesuai bergantung pada
derajat tingkat saling ketergantungan yang ada diantara pusat tanggung jawab yang terlibat.

Efek Lingkungan

Faktor lingkungan juga dilibatkan untuk menjelaskan perbedaan dalam penggunaan informasi
akuntansi. Pengaruh persaingan yang dihadapi oleh perusahaan yang memakai manajemen
pengendalian menyimpulkan bahwa kesempurnaan akuntansi dan sistem pengendalian
dipengaruhi oleh intensitas persaingan yang dihadapi. Lebih lanjut lagi, jenis persaingan yang
berbeda mempunyai dampak sangat berbeda terhadap penggunaan pengendalian akuntansi
dalam perusahaan manufaktur. Dengan membedakan antara operasi (lingkungan dimana
adalah sulit bagi seseorang manajer unit untuk menunjukanlaba akuntansi) dan operasi liberal
(lingkungan yang relatof lebih mudah untuk memelihara operasi yang menguuntungkan) dapat
ditunjukan bahwa para manajer senior menggunakan informasi anggaran untuk mengevaluasi
pencapaian manajerial yang sangat berbeda dalam kedua situasi tersebut.jika ketelitian
anggaran dianggap sebagai suatu corak yang diinginkan dari sistem akuntansi, maka gaya
penggunaan anggaran yang berbeda diperlukan untuk mencapai anggaran akurat terhadap
lingkungan.

Pengaruh Teori Organisasi

Ketiga contoh terdahulu telah mengindikasikan sebagian dari variabel yang mengakibatkan
perbedaan dalam penggunaan dan desain dari sistem akuntansi. Ketiga variabel kontinjensi
adalah teknologi umum, struktur organisasi, dan lingkungan telah digunakan sebagai contoh
ilustratiif karena ketiganya telah mengembangkan teori kontinjensi akuntansi manajemen
teoretis. Gerakan ini merupakan pendekatan universalistis terhadap pendekatan akuntansi
manajemen yang menjadi mode pada tahun 1970an. Kelebihan dari pendekatan ini tidak dapat
dijelaskan hanya oleh tekanan penemuan empiris yang berusaha untuk menemukan teori yang
bersifat menjelaskan. Faktor utama lain yang memengaruhi teori kontinjensi akuntansi
manajemen yang terjadi lebih dahulu.

2.4 Variable variable dasar kontingensi dan hubunganya

 Variabel Sosial

Perdebatan para ahli dalam kerangka teoretis yang mendasari riset komparatif tentang
akuntansi internasional berada dalam perspektif kontinjensi. Pada umumnya, studi ini lebih
banyak menggunakan bentuk pengujian atas perbedaan perbedaan dalam praktik pelaporan
keuangan tertentu diantara berbagai negara atau atas sistem akuntansi nasional. Dalam kedua
kasus tersebut, hasil yang umumnya diperoleh dalam suatu kesimpulan yang menghubungkan
perbedaan atau persamaan, baik dalam hal sosial, politik maupun ekonomi. Teori dalam praktik
pelaporan disetiap negara dipengaruhi oleh variabel-variabel sosial tertentu.Variabel-variabel
sosial terdiri dari beberapa faktor yang terutama terdapat di semua perusahaan dalam suatu
negara yang merupakan hal pokok yang bervariasi pada setiap negara.

 Lingkungan

Lingkungan perusahaan merupakan konsep dalam hubungannya dengan ketidakpastian.


Karakteristik tersebut mempunyai sedikitnya dua dimensi yang terdiri atas: a) dimensi stabil-
dinamis, dan b) dimensi homogen dan heterogen. Hal ini sesuai dengan struktur organisasi dan
aplikasinya adalam akuntansi manajemen. Dimensi stabil dan dinamis ditandai dengan tingkat
keputusan faktor perubahan lingkungan internaldan eksternal yang pada dasarnya sama dari
waktu ke waktu dalam proses yang berkesinambungan. Adapun dimensi homogen-heterogen
daoat digambarkan dalam hubungannya dengan tingkat keputusan di mana faktor lingkungan
sebagai alternatif dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar. Faktor-faktor yang ada di
dalam lingkungan perusahaan dapat dibedakan dalam suatu rangkaian ketidakpastian dari yang
dapat diramalkan sampai yang tidak dapat diramalkan.

Hal yang diperlukan dalam suatu riset adalah pertimbangan yang menyatakan bahwa
ketidakpastian lingkungan tertentu memengaruhi struktur organisasi dan desain sistem
akuntansi manajemen.

 Atribut Organisasi

Terdapat beberapa konsep yang membingungkan dalam literatur teori kontinjensi terutama
mengenai perbedaan antara variabel lingkungan dan atribut organisasi. Hal ini dapat
menimbulkan berbagai kesulitan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendefinisikan atau
menjelaskan suatu organisasi. Pembahasan ini tidak bertujuan untuk memberikan suatu
penyelesaian suatu masalah. Atribut organisasi tetap merupakan konsep yang berkaitan dengan
penyediaan dan pengorganisasian sumberdaya perusahaan meliputi ukuran organisasi,
teknologi dan lain sebagainya.

Besaran suatu organisasi merupakan konsep dari ukuran yang ada didalamnya, seperti jumlah
karyawan, tingkat perputaran penjualan, nilai aset bersih atau modal yang digunakan, dan lain
sebagainya yang pada umumnya saling berhubungan. Teknologi telah menjadi konsep penting.
Terdapat tiga skala penggunaan teknologi dalam meningkatkan kompleks teknis yaitu unit dan
kelompok kecil, kelompok besar dan massa, dan proses produksi.

 Karakteristik Pengguna

Para pengguna dapart digambarkan sebagai individu yang menggunakan data yang terdapat
dalam laporan perusahaan, dan memiliki suatu kepentingan atau sedang dalam pengambilan
keputusan keuangan. Suatu bukti riset yang harus dipertimbangkan oleh para pengguna adalah
alternatif yang berbeda untuk informasi dan kemampuan proses yang ditimbulkan oleh
perbedaan dalam model keputusan, gaya pengambilan keputusan, dan sifat yang
diturunkannya.

Pada kenyataannya , dalam literatur mengenai pengolahan informasi manusia dalam rangka
pengambilan keputusan menyatakan bahwa setiap individu mempunyai model keputusan yang
berbeda. Konsep gaya pengambilan keputusan mempunyai enam dimensi berikut: a) analisis
keputusan berbeda dengan pengambilan keputusan intuitif, perbedaan dalam horizon waktu, c)
bentuk pengulangan yang mengacu banyak faktor dalam pertimbangan pengambilan
keputusan, d) kemampuan untuk beradaptasi dalam keadaan yang berubah-ubah, e) proaktif vs
reaktif, dan f) kemampuan strategis dalam hubungannya dengan pertimbangan di antara
keputusan yang sesuai dengan tujuan dan strategi perusahaan.

2.5 Isi Teori Kontinjensi

 Studi Empiris

Terdapat studi empiris dalam area akuntansi yang dengan tegas mengadopsi pendekatan
kontinjensi sebelum mengumpulkan data. Lebih lanjut lagi, dua di antara dari studi utama
menggunakan faktor metodologi analisis yang memandang permasalahan dalam penafsiran dan
perbandingan. Penafsiram sulit dilakukan karena faktor dari variabel asli yang mendasari
konsep teoretis dalam lompatan intuitif yang dibuat oleh peneliti tersebut. Tentu saja,
perbedaan yang sangat kecil dalam kesalahan acak pada pengukuran mengakibatkan
diperolehnya faktor yang sangat berbeda, sehingga membuat perbandingan antar studi yang
berbeda hampir mustahil. Walaupun analisis faktor adalah metode yang bermanfaat sebagai
dasar dimensi bahwa penggunaan kritik akan terbatas pada akumulasi pengetahuan lebih
lanjut.
Bruns dan Watrehouse membantah bahwa perilaku manajer berkaitan dengan anggaran
merupakan kontinjensi atas berbagai aspek struktur organisasi, seperti pemusatan, otonomi,
dan derajat tingkay aktivitas yang tersusun. tulisan ini menyimpulkan bahwa pengendalian
strategi yang berbeda bergantung pada jenis organisasinya.

 Perumusan Teoretis

Sebagai tambahan terhadap pekerjaan yang berdasarkan spekulasi teoretis menyangkut sifat
alami dari teori kontinjensi sistem informasi akuntansi, Gordon dan Milner berusaha untuk
menyediakan kerangka menyeluruh bagi perencanaan Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang
mempertimbangkan kebutuhan spesifikasi organisasi yang luas dalam teori organisasi.
Kebijakan manajemen dan akuntansi untuk mengidentifikasi variabel adalah penting bagi
pencapaian organisasi. Lingkungan, gaya pengambilan keputusan dan karakteristik organisasi
diusulkan sebagai variabel kontinjensi yang terpenting. Masing-masing variabel kontinjenti
tersebut dihubungkan dengan kondisi-kondisi yang sesuai dengan variabel SIA. Walaupun
pertanyaan SIA didesain untuk menghadapi lingkungan, organisasi dan kondisi-kondisi gaya
pengambilan keputusan, perlu dicatat bahwa terdapat tiga pola dasar perusahaan dan
pengelompokan variabel kontinjensi yang khas. Bagaimanapun dua contoh tersebut
mempunyai usulan mengenai karakteristik yang tidak diinginkan yang dapat diperbaiki dengan
pemanfaatan sesuai SIA. Tidak terdapat pertimbangan eksplisit dari efektivitas dan sasaran
tujuan organisasi dan keunggulan yang nampak sepertinya didasarkan pada akal sehat dan
bukannya kerangka teoretis eksplisit.

Suatu pendekatan lebih lanjut sedikit berbeda secara alami karena ditulis oleh mahasiswa yang
belum lulus sistem perencanaan dan pengendalian manajemen. Tidak ada formula yang
diberikan, melainkan hanya pendekatan kearah desai sistem yang direkomendasikan dan
berbagai kontinjensi yang dikenali. Argumentasinya bahwa desain apapun dari sistem
perencanaan dan pengendalian khususnya bergantung pada :

a) Sasaran khusus yang dicapai dalam konteks sasaran tujuan organisasi.


b) Format tingkat dan perbedaan desentralisasi tertentu yang dipilih (yaitu struktur
organisasi).
c) Proses tunggal dan gabungan yang dikendalikan oleh sub unit-sub unit dan derajatnya,
apakah tidak tersusun atau tersusun (yaitu jenis teknologi)
d) Jenis gaya manajerial yang digunakan oleh para manajer senior.
2.6 Implikasi untuk riset

Akuntansi sebagai Bagian dari Sistem Pengendalian

Studi efektivitas sistem informasi akuntansi manajemen berhubungan dengan studi dari
berbagai mekanisme pengendalian yang digunakan oleh organisasi untuk memengaruhi
perilaku anggota mereka dan hubungan mereka dengan lingkungan eksternal. Sulit untuk
memisahkan efek dari SIA dari pengendalian lainnya. Semuanya bertindak sebagai suatu paket
dan harus ditaksir bersama-sama. Fakta ini memperluas lingkup tentang penyelidikan dan
pengindikasian cakupan aktivitas kendali dalam daftar penyusunan pengendalian. Sistem
imbalan adalah suatu penghilang terkemuka. Selain itu jenis pengendalian berbeda dapat
digunakan untuk mencapai tujuan yang berbeda. Mekanisme pengendalian untuk berbagai
tujuan akan menjadi sulit, jika tidak mungkin, untuk mengisolasi efekdari alat pengendalian
spesifik. Mungkin, riset awal dari strategi untuk mengidentifikasi kombinasi pengendalian
terutama sekali ditujukan untuk keadaan tertentu.

Jadi, variabel kontinjensi yang terkait dengan desain organisasi dalam akuntansi manajemen
adalah penting. Klarifikasi konseptual lebih berada pada pemanfaatan kerangkasistem kontrol.
Walaupun model mekanik kendali sederhana tidak dapat secara langsung deberlakukan bagi
organisasi,terdapat empat karakteristik proses yang penting bagi pengendalian organisasi
efektif yaitu :

1. Spesifikasi suatu sasaran.


2. Pengukuran tingkat pencapaian sasaran.
3. Model yang bersifat prediktif terhadap kemungkinan tindakan hasil pengendalian.
4. Kemampuan dan motivasi untuk bertindak.

Efektivitas Organisatoris

Penggunaan kerangka pengendalian menguatkan peran efektivitas organisasi dan perhatian


pada sasaran hasil organisasi. Sasaran hasil adalah suatu bagian penting dari kerangka
kontinjensi disamping satu variabel kontinjensi yang mungkin memenuhi sifat alami sistem
akuntansi yang membentuk ukuran perbandingan dengan efek dalam bentuk pengendalian
berbeda yang harus dievaluasi. Dalam rangka mengasosiasikan sistem akuntansi dan kontinjensi
tertentu harus dibuat pedoman mengenai dampak sistem akuntansi dalam membantu
pencapaian organisasi.

Metodologi Riset

Pendekatan kontinjensi berhadapan dengan struktur alat pengendalian yang sangat


berhubungan, dimana SIA merupakan satu kesatuan,membenuk satu pengendalian organisasi
yang teratur.banyak dari dibuat hipotesis variabel yang memengaruhi desain SIA untuk
menjelaskan perbedaan struktur organisasi. Keadaan ini tidaklah realistis untuk metode analisis
statistik yang tidak menguraikan pola teladan interaksi secara kompleks. Peneliti harus
mempunyai keterlibatan semakin dekat dalam pengembangan hipotesis seperti hubungan
organisasi. Selain itu hubungan sebab akibat menjadi jauh lebih penting dibandingkan dengan
asosiasi,dimana interaksi variabel diamati dari waktu ke waktu, sehingga menjadi lebih dihargai
dibandingkan studi lintas bagian. Studi longitudinal juga mampu menjelaskan proses dengan
mana sistem akuntansi dikembangkan dan diubah sebagai jawaban atas tekanan organisasi.

Campbell mengambil pelajaran dari riset mengenai efektivitas organisasi dan


menyimpulkan bahwa: 1) adalah kontra-produktif untuk mengikuti pendekatan multivariasi
dalam pengembangan ukuran efektivitas, 2) untuk sasaran dari efektivitas organisasi adalah
suatu tugas yang hampir pasti gagal, dan 3) kekeliruan dalam memusatkan perhatian pada riset
terhadap sumber daya yang langka guna mengembangkan ukuran berorientasi hasil yang
berfungsi dalam organisasi, seoerti rasio modal laba, produktivitas dan semacamnya.

2.7 ASPEK KEPERILAKUAN PADA DESENTRALISASI

Definisi yang paling popular dari desentralisasi adalah definisi yang diberikan oleh H. A.
Simon : Suatu organisasi administratif adalah tersentralisasi sejauh keputusan dibuat pada
tingkatan yang relative tinggi dalam organisasi tersebut; terdesentralisasi sejauh keputusan itu
didelegasikan oleh manajemen puncak kepada tingkatan wewenang eksekutif yang lebih
rendah.

Lingkungan Sebagai Faktor Penentu Desentralisas


Pembahasan umum mengenai alasan-alasan dibutuhkannya desentralisasi mencakup hal-hal
berikut ini :

1. Desentralisasi membebaskan manajemen puncak untuk focus pada keputusan-


keputusan strategis jangka panjang dan bukannya terlibat dalam keputusan-keputusan
operasi. Hal ini berarti penggunaan yang lebih baik atas waktu manajerial yang sangat
berharga.
2. Desentralisasi memungkinkan organisasi untuk memberikan respon secara cepat dan
efektif terhadap masalah.
3. System yang terdesentralisasi tidak mampu menangani semua informasi rumit yang
diperlukan untuk membuat keputusan yang optimal.
4. Desentralisasi menyediakan dasar pelatihan yang baik bagi manajemen puncak masa
depan.
5. Desentralisasi memenuhi kebutuhan akan otonomi dan dengan demikian merupakan
suatu alat motivasional yang kuat bagi para manajer.
BAB III

Kesimpulan

Perkembangan akutansi keperilakuan sekarang ini telah meluas hingga meliputi


berbagai dimensi ilmu. Arah perkembangan akuntansi keperilakuan sejalan paralel
dengan perkembangan teori perilaku organisasi sebagai induk evolusi akuntansi
keperilakuan itu sendiri. Pada akhir perkembangannya, akuntansi keperilakuan
mengakses berbagai disiplin ilmu dan teori, namun tampaknya teori kontinjensi memberi
pengaruh yang dominan dalam disiplin ilmu dan riset-riset akuntansi keperilakuan.
Berbagai fakta empiris menunjukkan, riset-riset akuntansi keperilakuan yang
berbasis kontinjensi telah memberikan hasil-hasil yang berbeda dalam menjelaskan
fenomena hubungan antar variabel dalam riset. Investigas atas riset-riset terdahulu
menunjukkan bahwa perbedaan hasil-hasil riset tersebut disebabkan oleh setting riset
dalam hal pemahaman logis atas konstruksi hubungan antar variabel dan aspek
metodologi.
Hubungan antar variabel dapat dipahami melalui sejumlah fenomena sosial,
terutama berkaitan dengan psikologi periluku manusia.
Daftar Pustaka

Anthony, Robert N. dan Govindarajan, Vijay. 2009. Manajemen Control System 12th edition, Penerjemah
Drs. F.X. Kurniawan Tjakrawala, Jilid 1. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Arief, Suadi. 1999. Sistem Pengendalian Manajemen. Yogyakarta : BPFE.
Fisher, G Joseph. 1998. Contingency Theory, Management Control System and Firm Outcomes: Past
Results and Future Directions, Behavioural Research in Accunting Vol. 10.