Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH KUALITAS AIR DANAU TOBA DAN AIR SUNGAI TERHADAP

HILANG TEKAN PADA SISTEM PERPIPAAN


Dandi Sinaga1, Resty Lestari2, Johan Bastian3, Hanna Gretty4

Teknik Bioproses, Fakultas Bioteknologi, Sitoluama, Laguboti, Toba Samosir, 22381, Indonesia

bps16011@del.ac.id, bps16013@del.ac.id, bps16024@del.ac.id, bps16028@del.ac.id

Abstrak

Hilang tekan (Head Loss) merupakan hilangnya tekanan dari satu titik ke titik lainnya yang saat fluida mengalir yang dapat
disebabkan oleh gesekan, sambungan, kerangan, maupun hambatan (pipa kasar). Fluida dapat berwujud gas maupun cair. Pada
praktikum ini digunakan fluida dalam bentuk cairan yaitu air danau toba dan air sungai. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk
memberikan gambaran secara eksperimental tentang analisa aliran fluida pada suatu sistem perpipaan dan untuk menghitung
friction loss. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi nilai hilang tekan yaitu laju alir fluida, diameter pipa, friksi, koefisien K
dan koifisien C. Dalam percobaan ini faktor yang dianalisa dalam mempengaruhi hilang tekan yaitu senyawa atau komponen yang
terdapat dalam air danau toba dan air sungai.
Praktikum ini menggunakan peralatan Edibon dengan kode AFT/P. Nilai koefisien friksi rata-rata yang paling rendah diperoleh
untuk pipa halus diameter16.5 mm adalah 0.0149, pipa halus diameter 26.5 mm adalah 0.0539.

Kata kunci : Head loss, friksi, air danau toba, air sungai
Abstract
Press loss (Head Loss) is the loss of pressure from one point to another when the fluid flows which can be caused by friction, joints,
shells or obstacles (rough pipes). Fluid can be either gas or liquid. In this lab fluid is used in the form of liquids, namely Toba Lake
water and river water. The purpose of this experiment is to provide an experimental description of fluid flow analysis in a piping
system and to calculate friction loss. Factors that can influence the value of compressive loss are fluid flow rate, pipe diameter,
friction, K coefficient and coefficient C. In this experiment the factors analyzed in influencing the loss of press are compounds or
components contained in Toba Lake water and river water.
This practicum uses Edibon equipment with AFT / P code. The results obtained are the average friction coefficient for fine pipes
diameter 16.5 mm is 0.0149, fine pipes diameter 26.5 mm is 0.0539.

Keywords: Head loss, friction, toba lake water, river water

Pendahuluan

Fluida merupakan istilah yang digunakan merupakan sarana transportasi fluida yang paling
untuk menyebut segala jenis zat yang dapat mengalir diminati dalam dunia industri. Pipa memiliki peranan
baik dalam bentuk gas maupun cair. Aliran fluida penting dalam suatu sistem transfer fluida. Pipa
merupakan fenomena yang sering dijumpai dalam memiliki berbagai macam ukuran dan bentuk
kehidupan sehari-hari. Contoh fluida yang paling penampang serta material yang bervariasi. Dari segi
sering dijumpai adalah air. Untuk dapat mengalirkan bentuk penampangnya, pipa dengan penampang
fluida khususnya fluida cair, maka dibutuhkan suatu lingkaran atau bulat adalah yang paling banyak
rangkaian alat seperti perpipaan. Perpipaan
diminati dalam industri dan dari segi material, pipa Teori
PVC lebih sering digunakan dalam dunia industri.
Fluida atau zat cair (termasuk uap air dan gas)
Suatu fluida agar dapat mengalir harus dibedakan dari benda padat karena kemampuannya
memenuhi syarat, seperti pada fluida cair. Fluida cair untuk mengalir. Aliran dalam pipa dipengaruhi oleh
mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke gaya momentum fluida yang membuat fluida bergerak
permukaan yang lebih rendah. Jika tidak memenuhi di dalam pipa, gaya viscous atau gaya gesek yang
syarat tersebut, maka harus dilakukan rekayasa seperti menahan aliran pada dinding pipa dan gesekan internal
memberikan tenaga dari luar. Alat yang digunakan pada fluida. Aliran fluida dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
biasanya yaitu pompa pada fluida cair dan fan maupun aliran laminer, aliran turbulen dan aliran transisi. Jenis
blower pada fluida gas. aliran fluida dapat ditentukan dari sebuah bilangan tak
berdimensi yaitu bilangan Reynold. Untuk aliran
Dalam suatu sistem perpipaan aliran fluida
laminar, bilangan reynold bernilai lebih kecil dari
pasti akan mengalami penurunan tekanan seiring
2100.
dengan panjang pipa yang dilalui oleh aliran fluida
tersebut. Dalam mekanika fluida penurunan tekanan
tersebut dikarenakan fluida yang mengalir mengalami
berbagi macam kerugian sepanjang aliran fluida
seperti panjang pipa, besar kecilnya diameter pipa,
kekasaran permukaan, dan viskositas dari fluida
tersebut. Dalam menggunakan pipa yang harus
diperhatikan adalah karakteristik dari fluida yang
digunakan misalnya, sifat korosi, explosive, suhu, dan Untuk aliran transisi bilang reynold berada diantara
tekanan. Di dalam aliran fluida ini akan terdapat 2300 sampai 4000. Aliran transisi ini merupakan
berbagai maam jenis pipa, ukuran ID pipa yang peralihan dari aliran laminar ke aliran turbulen.
bervariasi, bahkan kemungkinan adanya perubahan Keadaan peralihan ini tergantung pada viskositas
ukuran ID pipa seperti pelebaran dan penyempitan. fluida, kecepatan dan lain-lain yang menyangkut
geometri aliran.
Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk
mengetahui sistem aliran fluida yang terjadi di dalam
sistem perpipaan dengan jenis fluida yang berbeda.

Aliran turbulen memiliki bilangan reynold lebih besar


dari 4000. Aliran ini didefinisikan sebagai aliran yang
pergerakan partikelnya sangat tidak menentu
dikarenakan partikel mengalami pencampuran serta seng, kadmium, timbal, raksa, arsen, barium, tembaga,
tukar-menukar momentum dari satu bagian fluida ke kobalt, selenium, kromium valensi 6, khlor bebas,
bagian fluida yang lain dalam skala yang besar. amoniak, fluorida, pospat, sulfat dan nitrat. Adapun
unsur yang terkandung dalam sungai dari pegunungan
yaitu aluminium, mangan, dan silikon.

Aliran fluida yang mengalir pada pipa akan


mempengaruhi penurunan tekanan suatu fluida yang
mengalir. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penurunan tekanan suatu fluida yang mengalir pada
pipa: viskositas, kecepatan aliran, panjang pipa,
diameter dalam pipa dan kekerasan permukaan
Adapun rumus untuk memperoleh bilangan Reynold
dinding dalam pipa. Hubungan tekanan dalam pipa
adalah sebagai berikut.
dengan panjang pipa yaitu semakin panjang pipa,
𝜌𝑣𝑑 maka penurunan tekanan aliran dalam pipa semakin
𝑁𝑅𝑒 =
𝜇
besar, tekanan juga berbanding lurus dengan laju
dengan: 𝜌 = Densitas fluida (kg/m3)
aliran. Penurunan tekanan dapat dihitung dengan dua
𝑣 = Kecepatan fluida (m/s) cara yaitu dengan bilangan Reynold (menentukan
aliran laminer atau aliran turbulen), dan kekasaran
𝑑 = Diameter pipa (m)
relatif pipa.
𝜇 = Viskositas fluida (kg/m.s) Persamaan umum yang digunakan untuk
menggambarkan hilang energi akibat gesekan, yaitu:
Sistem perpipaan adalah suatu sistem yang digunakan
untuk melakukan transportasi fluida kerja antar
peralatan (equipment) dalam suatu pabrik. Menurut
Kresta (1993), berdasarkan kegunaannya, pipa dibagi
menjadi 4 jenis yaitu carbon steel pipe, pipa baja, dan
pipa galvanized.
Metodologi Penelitian
Danau Toba merupakan danau yang terletak di daerah
Provinsi Sumatera Utara. Masyarakat sekitar danau Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan metode

ini, memanfaatkan Danau Toba dalam kehidupan eksperimental yaitu melakukan pengukuran langsung

sehari-harinya untuk dijadikan sebagai sumber baku dan tak langsung. Peralatan yang digunakan seperti

minuman. Air yang masuk ke Danau Toba berasal dari ditunjukan pada gambar 5. Alat-alat yang digunakan

air hujan yang langsung jatuh ke danau, air yang pada percobaan ini, yaitu sistem perpipaan dan

berasal dari sungai-sungai yang masuk ke danau, air kelengkapannya seperti kerangan/sambungan, valve

yang berasal dari saluran pembuangan rumah sakit dan dan pompa. Bahan yang digunakan, yaitu air keran, air

rumah masyarakat di sekitar Danau Toba. Air Danau sungai, air danau toba. Percobaan diawali dengan

Toba mengandung unsur kimia seperti besi, mangan,


Gambar III.1 Skema unit dasar perangkat percobaan aliran fluida EdibonTM

melakukan persiapan dan mengecek kondisi pompa diameter 16.5 mm dan diameter 26.5 mm yang kemudian
dan sistem perpipaan. Setelah memastikan semua dialirkan melewati flowmeter dengan laju alir 800 L/h.
peralatan dalam kondisi yang baik, langkah pertama
Pengambilan data dilakukan sebanyak delapan kali
yang dilakukan yaitu mengisi bak dengan air keran
setiap 30 menit dengan variasi diameter pipa halus.
sampai penuh lalu menghidupkan pompa dan
Dilakukan kalibrasi pada manometer dengan
mengalirkannya ke seluruh sistem perpipaan. Hal ini
menyuntik pipa agar tinggi fluida yang ada pada
dilakukan berulang dengan jenis air yang berbeda.
manometer sama sehingga diperoleh data yang lebih
Selanjutnya, yaitu mengkalibrasi flowmeter dan
akurat.
manometer. Variasi yang digunakan yaitu variasi
Pengukuran hilang tekan (∆𝐻) dilakukan dengan
diameter pada pipa halus.
menghubungkan LP 1 dan LP 2 pada pipa halus dengan
Pembahasan
diameter berbeda sehingga diperoleh data hilang tekan
Pada praktikum ini dapat dianalisa tentang pengaruh
pada air keran, air danau toba dan air sungai.
jenis fluida, diameter pipa dengan laju alirnya
terhadap hilang tekan (head loss). Terdapat tiga jenis Pengaruh Diameter Pipa terhadap Friction Loss
fluida yang digunakan pada praktikum ini yaitu air
Pada percobaan ini dilakukan perhitungan friction loss
keran, air danau toba dan air sungai. Air keran
baik teori maupun actual berdasarkan diameter
digunakan sebagai pembanding uuntuk analisis hilang
terhadap besar friction loss yang dihasilkan. Data yang
tekan air danau toba dan air sungai. Untuk menghitung
dihasilkan:
hilang tekan digunakan manometer. Manometer dapat
digunakan untuk mengukur beda tekan dengan laju alir
maksimum 2300 L/h, bila laju alir lebih dari 2300 L/h
maka harus menggunakan barometer. Jalur pipa yang
digunakan pada kalibrasi ini adalah pipa halus dengan
1. Air keran Gambar 1,2 dan 3 menunjukan bahwa baik teori
maupun actual memiliki nilai friction loss yang
Air Keran
60 semakin kecil seiring dengan bertambahnya diameter
50
40 pipa. Data tersebut telah sesuai dengan teori yang ada
30 bahwa nilai Friction berbanding terbalik dengan
Friksi

20
10 diameter. Sehingga semakin besar diameter maka
0 friction akan semakin kecil dan sebaliknya, persamaan
-10 0 100 200 300
tersebut dapat dituliskan:
Waktu (Menit)
Smooth Pipe 16.5 mm
Smooth Pipe 26.5 mm

Gambar 1. Diagram nilai friksi vs waktu pada air keran Sehingga :

2. Air Danau Toba

Air Danau Dari grafik juga diperoleh bahwa semakin lama waktu
0.1
yang digunakan dalam mengalirkan fluida pada pipa
maka friksinya akan semakin menurun.
Friksi

0.05
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan fluida
apakah yang lebih baik digunakan dalam
0
pendistribusian air ke lingkungan masyarakat baik
0 100 200 300
Waktu (Menit) untuk mandi, masak, minum, dll yang terlebih dahulu
Smooth Pipe 16.5 mm dimurnikan oleh suatu pabrik. Untuk mengetahui
Smooth Pipe 26.5 mm
fluida apa yang lebih baik dialirkan maka digunakan
Gambar 2. Diagram nilai friksi vs waktu pada air grafik berikut
danau Toba
Dari Gambar 4 diperoleh bahwa fluida yang lebih baik
3. Air Sungai
dialirkan melalui pipa untuk pemurnian adalah air
sungai daripada air danau, hal ini dikarenakan air
Air Sungai
0.025 sungai mengandung senyawa atau logam-logam yang
0.02 lebih ringan seperti yang tertera di dasar teori
0.015
Friksi

dibandingkan air danau sehingga menghasilkan friksi


0.01
yang lebih rendah.
0.005
0 Kesimpulan
0 100 200 300
Waktu (Menit) Dari hasil percobaan aliran fluida dapat disimpulkan
Smooth Pipe 16.5 mm
bahwa sifat-sifat fluida adalah densitas, viskositas,
Smooth Pipe 26.5 mm
laju alir serta friction loss. Semakin besar diameter
Gambar 3. Diagram nilai friksi vs waktu pada air
pipa akan memperkecil nilai frictionnya. Semakin
sungai
lama waktu yang digunakan dalam mengalirkan fluida
maka nilai friksinya akan semakin menurun. Untuk
pengaruh jenis fluida semakin banyaknya logam-
logam dan senyawa berat yang terkandung didalam
fluida akan menyebabkan nilai friction semakin besar.

Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Meiyer


Marthen Kinda S.T, M. T untuk arahan dan bimbingan
sehingga artikel ini dapat ditulis. Terima kasih juga
kepada Dedy Anwar, ST. M.T sebagai koordinator
LABTEK sehingga projek ini dapat dilaksanakan.

Daftar Pustaka

Geankoplis, Christie J. 2003. Transport Processes and


Separation Process Principles. Pearson Education,
Inc.
Streeter, VL & Wylie, EB. 1985. Mekanika Fluida
Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Fox, Robert W. dan Alan T. Mc Donald. 1995.
Introduction to Fluid Mechanics 3rd edition. John
Willey & Sons. USA