Anda di halaman 1dari 43

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................1

DAFTAR GAMBAR...............................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................4

1.1 Latar Belakang..........................................................................................4

1.2 Tujuan dan Manfaat...................................................................................6

1.3 Peraturan Perundangan yang Berlaku.......................................................8

BAB II RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN.......................................9

2.1 Idetitas dan Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL.......................................9

2.2 Uraian Rencana Usaha dan/atau Kegiatan................................................9

2.3 Alternatif-alternatif yang dikaji dalam ANDAL.....................................10

2.4 Keterkaitan Rencana Usaha dan/atau Kegiatan dengan Kegiatan lain


disekitarnya........................................................................................................12

2.4.1 Tahap Pra Kontruksi.........................................................................13

2.4.2 Tahap Kontruksi...............................................................................14

2.4.3 Tahap Operasional............................................................................15

BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP.............................................................16

3.1 Komponen Fisika....................................................................................16

3.2 Komponen Biologi..................................................................................20

3.3 Komponen Sosial....................................................................................21

3.4 Kesehatan Masyarakat.............................................................................24

BAB IV RUANGLINGKUP STUDI.....................................................................27

BAB V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING......................................................29

BAB VI EVALUASI DAMPAK PENTING.........................................................30

1
6.1 Telaahan terhadap dampak penting.........................................................30

6.2 Pemilihan Alternatif Terbaik...................................................................33

6.3 Telaahan sebagai dasar pengelolaan........................................................38

6.4 Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan.......................................41

2
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Kota Depok................................................................................12


Gambar 2.2 Peta Admistratif Kecamatan Pancoran Mas.......................................12
Gambar 3.1 Hasil Pemantauan Udara Ambien untuk SO2 (a), Partikulat (b), H2S
(c), dan Kebisingan (d) di beberapa lokasi di Kota Depok....................................18
Gambar 4.1 Peta Batas Wilayah Studi..................................................................28s

3
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan pada dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan


masyarakat dengan jalan memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam yang
dimiliki, namun disisi lain, pembangunan ini juga dapat menimbulkan dampak
negatif bagi lingkungan yang berakibat terjadinya perubahan lingkungan
biofisika, lingkungan social ekonomi dan lingkungan budaya.

Sampah menjadi persoalan Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia terutama di


daerah-daerah yang padat penduduknya, karena belum ada sistem pengolahan
sampah yang lebih baik. Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Khususnya kota Depok dalam pengelolaan sampah dengan cara konvensional
khususnya pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah
Harum Mewangi.

Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah juga merupakan salah


satu program nasional di daerah, yang berkaitan dengan penyediaan tempat
penampungan akhir sampah. Pengelolaan kebersihan di Kota Depok khusunya di
Kecamatan Pancoran Mas telah ditangani secara serius dan nyata melalui
program-program yang dibiayai oleh APBD Kota Depok. Pengelolaan sampah di
Kecamatan Pancoran Mas dimulai dari tingkat yang paling mendasar adalah
dengan membersihkan sampah-sampah dari pusat produksi sampah yang
diakibatkan oleh kegiatan manusia, seperti tempat permukiman, toko, pasar,
tempat perdagangan dan perkantoran, dan tempat kegiatan social (masjid, gereja,
rumahsakit, dan terminal). Kegiatan tersebut berupa pengumpulan pertama
(primer) yaitu pengumpulan sampah dari proses produksi ke Lokasi Pembuangan
Sementara (LPS), yang pelaksanaannya ditangai secara gotong-royong oleh warga
masyarakat melalui RT/RW dan kelurahan. Sedangkan pengumpulan tahap kedua
(sekunder) dari tempat pembuangan sampah sementara ke tempat pembuangan

4
akhir pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Depok.

Sampah-sampah yang terproduksi yang dapat diangkut dari LPS pada akhirnya
akan membutuhkan fasilitas pemusnahan (disposal) agar tercipta suatu lingkungan
yang bersih, tidak tercemar dan tidak membahayakan kehidupan manusia.
Penambahan jumlah penduduk dan perluasan pembangunan kabupaten telah
mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Sehingga dengan akan
beroperasinya TPA Harum Mewangi dapat meminimalisasi permasalahan
timbunan sampah di tempat-tempat produksi sampah. Dan permasalahan yang
paling mendasar adalah pertanahan atau tersedianya lahan yang memadai guna
menunjang pembangunan TPA tersebut serta pendanaan maupun prosedur
pembangunannya. Selain itu pembangunan TPA Harum Mewangi dengan luas
sekitar 24,18 Ha di kecamatan Pancoran Mas diharapkan tidak hanya memenuhi
sarana kehidupan saja, melainkan harus dapat menciptakan keseimbangan dengan
kelestarian lingkungan hidup di Kota Depok.

Studi ini akan menelaah seluruh tahapan rencana usaha dan atau kegiatan baik
pada tahap pra konstruksi, konstruksi dan pascaoperasi. Pada tahap pasca operasi
hendaknya tetap mengantisipasi rencana peruntukan lahan sesuai dengan dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Depok. Pembangunan TPA
serta operasionalisasinya diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap
lingkungan baik positif maupun negative. Menyadari adanya pengaruh kegiatan
ini terhadap lingkungan hidup maka pembangunan TPA berpedoman pada
Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup,
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan, dan Peraturan Menteri Negara Liongkungan Hidup Nomor 11 Tahun
2006 tentang jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi
dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hidup. Berdasarkan peraturan
perundangan tersebut, rencana kegiatan pembangunan tempat pengelolaan sampah
termasuk dalam kegiatan yang wajib dilengkapi dengan studi AMDAL.

5
Penyusunan AMDAL mengikuti standar/pedoman yang telah ditetapkan sesuai
dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah dengan mengikuti tahapan-tahapan
tertentu. Sebagai tahap awal penyusunan dokumen AMDAL, maka disusun
Kerangka Acuan ANDAL (KA-ANDAL) yang berfungsi sebagai dokumen
pengarah dalam melakukan studi AMDAL yang terkait dengan dampak yang
ditimbulkan oleh rencana kegiatan.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Maksud dari Penyusunan Kerangka Acuan Analisis dampak Lingkungan (KA-


ANDAL) Pembangunan TPA Harum Mewangi adalah untuk terciptanya
pembangunan yang berwawasan lingkungan serta pembangunan sarana pelayanan
yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus tetap memperhatikan
keseimbangan dan kelestarian lingkungannya.

Tujuan Penyusunan Kerangka Acuan Analisis dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Pembangunan TPA Harum Mewangi Depok adalah:

1. menunjukkan tingkat kepedulian pihak pemrakarsa dalam upaya


menjalankan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi
kegiatan dan pihak terkait tentang rencana kegiatan pembangunan TPA yang
bersifat spesifik untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak
terhadap lingkungan, sehingga masyarakat dapat memberikan masukan,
saran dan tanggapan atas rencana kegiatan tersebut.
3. Masyarakat berhak mengetahui setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang
wajib UKL-UPL.
4. Pemrakarsa bersama-sama Bapedalda wajib memberitahukan kepada
masyarakat setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diterbitkan
rekomendasi UKL-UPL.
5. Mengetahui kualitas/rona lingkungan di lokasi rencana pembangunan dan
sekitarnya.

6
6. Sebagai instrumen pengikat bagi pemrakarsa untuk melaksanakan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
7. Mengkaji dan memperkirakan dampak lingkungan serta mengevaluasi
dampak terhadap lingkungan hidup dari rencana kegiatan pada tahap pra
konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi terhadap komponen lingkungan
hidup serta mengidentifikasi dampak yang muncul akibat kegiatan
pembangunan.
8. Menyusun rencana pencegahan, penanggulangan dan pengendalian dampak
negatif serta mengoptimalkan dan meningkatkan dampak positif akibat
rencana usaha/kegiatan pembangunan.

Menyusun Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup yang


dituangkan dalam bentuk Dokumen UKL dan UPL.

Manfaat Penyusunan Kerangka Acuan Analisis dampak Lingkungan (KA-


ANDAL) Pembangunan TPA Harum Mewangi Depok adalah:

Manfaat teoritis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah memberikan kajian
teoritis terhadap program Pemerintah Kota Depok dalam mengelola sampah kota
dengan memberikan perlindungan atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
kepada masyarakat Kota Depok pada umumnya dan masyarakat sekitar lokasi
TPA Depok pada khususnya.
Adapun manfaat praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademisi, tentang sebuah sistem
menuju pengelolaan sampah di TPA yang sesuai dengan ketentuan AMDAL.
2. Bagi masyarakat kota maupun di sekitar lokasi TPA dapat memberikan
kontribusinya untuk menangani masalah sampah kota, sehingga nantinya
dapat tercapai sebuah sistem yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
3. Bagi pengambil kebijakaan dalam pengelolaan sampah kota dapat
memberikan
4. langkah yang tepat dengan menangani masalah sampah kota.

7
Dengan demikian arti penting yang bisa diambil dari penelitian ini adalah bahwa
kegiatan pembuangan sampah akhir cenderung akan menimbulkan dampak
terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan guna menangani dampak yang mungkin timbul dalam masa
pengoperasian TPA Mewangi Depok baik untuk sekarang maupun dikemudian
hari.

1.3 Peraturan Perundangan yang Berlaku

Sebagai landasan dalam penyusunan studi Kerangka Acuan Analisis dampak


Lingkungan (KA-ANDAL) Kegiatan Pembangunan TPA adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 11 Tahun 1974, tentang Pengairan
2. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Sistemnya.
3. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
4. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Dearah
5. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang.
6. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991, tentang Sungai
7. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999, tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan
8. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 718/MENKES/Per/XI/1987, tentang
Kebisingan yang Berhubungan dengan Kesehatan
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/Per/IX/1990, tentang
Syarat-Syarat dan pegawasan Kualitas Air Bersih.

Keputusan Meteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/Per/2002, tentang Syarat-


Syarat Pengawasan Air Minum

8
BAB II RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

2.1 Idetitas dan Pemrakarsa dan Penyusun ANDAL

1. Identitas Proyek
Nama Proyek : Studi AMDAL Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Harum
Mewangi Depok
Alamat Proyek : Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat
Luas Total Lahan : 24,18 Ha
2. Nama Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. Sukses Trisakti jaya
Alamat Kantor : Gedung Trisakti, Lantai 9 Jl. Kyai Tapa No. 1B.
Jakarta, 10110, Indonesia P.O. Box 1012 Jkt.
Telp / fax : (021) 3816570/ (021) 3521992
3. Nama dan Alamat Penanggung Jawab Kegiatan
Nama : Ir. Evin Eginer
Jabatan : General Manager Proyek Pembangunan TPA
Alamat Kantor : Gedung Trisakti, Lantai 9 Jl. Kyai Tapa No. 1B.
Jakarta, 10110, Indonesia P.O. Box 1012 Jkt.
Telp / fax : (021) 3816570/ (021) 3521992

2.2 Uraian Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

Rencana tahapan pembangunan TPA Harum Mewangi dan sarana penunjangnya


terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi, dan
pasca operasi. Ketiga tahap ini digunakan untuk memudahkan pembahasan
rencana kegiatan yang akan ditelaah karena diperkirakan dan dapat diduga akan
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan.
Tahap Pra konstruksi
1. Penetapan lahan dan perizinan peruntukkan.
2. Pengukuran lahan penyelidikan tanah.
3. Sosialisasi kepada masyarakat.

9
Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi tenaga kerja .
2. Mobilisasi materi dan alat berat.
3. Penyiapan lahan penampung urugan.
4. Transportasi tanah urug.
5. Pembuatan saluran drainase.
6. Pembukaan dan pematangan lahan.
7. Pembangunan instalasi sarana dan prasarana TPA.
8. Pembuatan jalan kerja.
Tahap Operasi
1. Mobilisasi tenaga kerja
2. Transportasi sampah
3. Pengoperasian utilitas

Tahap Pasca Operasi


1. Bioremediasi lahan

2.3 Alternatif-alternatif yang dikaji dalam ANDAL

Proses rencana kegiatan biasanya merupakan proses bertahap dimana pada setiap
tahap, pemrakarsa harus mengkaji sejumlah alternatif konsep kegiatan. Pada tahap
awal perencanaan, alternatif yang dikaji sifatnya makro (berhubungan dengan
desain dasar kegiatan) dan ditahap perencanaan seterusnya, alternatif yang
dipertimbangkan sifatnya lebih mikro atau rinci. Penjadwalan atau pentahapan
kegiatan yang terjadi meliputi :
1. Tahap pra-konstruksi, yaitu tahap yang berkaitan dengan perencanaan awal
dalam membangun TPA Harum Mewangi.
2. Tahap konstruksi, yaitu tahap pembangunan awal yang meliputi
pembangunan konstruksi dan segala fasilitas penunjang TPA Harum
Mewangi.
3. Tahap operasi, yaitu tahap dimana telah berlangsungnya kegiatan.

Secara geografis, Kota Depok berada pada posisi 06019’ – 06028’ Lintang Selatan
dan 106043’ BT-106055’ Bujur Timur, dengan ketinggian 19 m di atas permukaan
laut dan luas wilayah 20000 ha. Kota Depok terbagi menjadi 6 wilayah kecamatan
yang masing-masing terdiri dari beberapa kelurahan.

10
Kecamatan Pancoran Mas yang menjadi lokasi rencana proyek meliputi delapan
kelurahan yaitu: Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran
Mas, Kelurahan Mampang, Kelurahan Rangkepan Jaya, dan Kelurahan
Rangkapan Jaya Baru. Batas Kecamatan Pancoran Mas dengan daerah sekitarnya
adalah sebagai berikut:
 Sebelah utara : Kecamatan Beji
 Sebelah Selatan : Kecamatan Cipayung
 Sebelah Barat : Kecamatan Limo
 Sebelah Timur : Kecamatan Sukmajaya

Lokasi TPA Harum Mewangi sendiri dibatasi tiga kelurahan yaitu Kelurahan
Depok, Kelurahan Pancoran Mas dan Kelurahan Depok Jaya. Luas lahan TPA
Harum Mewangi seluruhnya adalah 108 ha yang terdiri dari lima wilayah. Luas
efektif TPA yaitu luas yang digunakan untuk menimbun sampah adalah 80% dari
seluruh luas lahan, 20% digunkaan untuk prasarana TPA seperti pintu masuk,
jalan, kantor dan instalasi pengolahan lindi.

Gambar 2.1 Peta Kota Depok

11
Gambar 2.2 Peta Admistratif Kecamatan Pancoran Mas

2.4 Keterkaitan Rencana Usaha dan/atau Kegiatan dengan Kegiatan lain


disekitarnya
Dalam mengevaluasi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh pembangunan
diperlukan suatu metode yang tepat dan runtut. Metode yang digunakan dalam
mengevaluasi dampak yang besar dan penting dalam perencanaan kegiatan ini
adalah sebagai berikut :
1. Penelurusan hubungan kausatif antara komponen kegiatan dengan
komponen lingkungan yang diduga akan terkena dampak.
2. Menggambarkan dengan jelas karakteristik dampak lingkungan yang akan
terkena dampak.
3. Kesenjangan perubahan lingkungan yang diinginkan dan perubahan
lingkungan yang mungkin akan terjadi.
4. Luas persebaran masing-masing dampak baik di dalam wilayah kajian
maupun di luar wilayah kajian.
5. Memilih alternatif pendekatan dalam rangka pengendalian dampak
lingkungan baik yang positif maupun negatif, dari aspek pendekatan
teknologi, ekonomi, dan institusi.

12
6. Perumusan arahan yang dituangkan dalam Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

Rencana kegiatan pembangunan:

2.4.1 Tahap Pra Kontruksi


Pada tahap prakonstruksi aktivitas yang akan dilakukan adalah:
1. Perolehan Lahan
Lahan rencana kegiatan merupakan bagian dari lahan kawasan Harum Mewangi
dengan berita acara surat kesepakatan sementara atas pemanfaatan lahan.
2. Perencanaan Teknis
Kegiatan perencanaan meliputi perencanaan arsitektur, perencanaan struktur,
perencanaan mekanikal elektrikal. Pihak pemrakarsa meminta bantuan konsultan
untuk perencanaan tersebut melalui proses tender.
3. Perijinan
Pengurusan perijinan mencakup Ijin Lokasi, ijin Operasional, termasuk ijin
Lingkungan (AMDAL). Setelah melakukan AMDAL maka akan dilakukan proses
perijinan selanjutnya berupa ijin Mendirikan Bangunan (IMB), dan ijin lainnya
yang menunjang operasional.
4. Sosialisasi Publik
Berkaitan dengan rencana pembangunan dan studi amdal, sesuai dengan Permen
LH No.16/2012 telah dilakukan sosialisasi rencana kegiatan, yaitu pengumuman
di surat:
a). Masyarakat sebagian besar tidak keberatan dengan pembangunan TPA dan
Fasilitas Pendukungnya, karena sudah menjadi bagian dari pengembangan
kawasan.
b). Masyarakat berharap kepada pemrakarsa dapat mempekerjakan penduduk
setempat pada tahap konstruksi maupun pada tahap operasi.
c). Masyarakat berharap pemrakarsa dapat melaksanakan program CSR untuk
membantu masyarakat sekitar.

13
2.4.2 Tahap Kontruksi
Tahapan konstruksi berlangsung terdiri dari beberapa tahap kegiatan dimulai dari
persiapan lahan, pembangunan fisik dan lanscaping. Tahap konstruksi
melibatkan :
1. Penerimaan Tenaga Kerja Kontruksi
Perkiraan kebutuhan tenaga kerja pada saat konstruksi.
2. Mobilisasi Alat dan Bahan
Untuk pelaksanaan konstruksi pembangunan fisik baik infrastruktur utama dan
penunjang lainnya diperlukan sejumlah peralatan berat. Jenis-jenis peralatan
berat dan bahan yang akan digunakan.
3. Pembukaan dan Pematangan Lahan
Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan mencakup kegiatan pembersihan
dan perataan lahan.
4. Kegiatan Kontruksi
Kegiatan Kontruksi terdiri dari kegiatan persiapan dan pelaksanaan bangunan
fisik. Berikut diuraikan tahapan kegiatan kontruksi.
a. Persiapan Kontruksi
Kegiatan persiapan kontruksi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1). Pemagaran Lokasi
2). Persiapan Penanganan Timbunan Sampah.
b. Pelaksanaan Konstruksi Bangunan TPA

2.4.3 Tahap Operasional

1. Penerimaan tenaga kerja.


2. Operasional Pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Harum
Mewangi.
3. Penaganan akhir pembuangan sampah dikawasan Harum Mewangi.
4. Pengelolaan limbah di TPA.
5. Penanganan limbah di TPA.
6. Transportasi angkutan sampah yang akan digunakan.

14
BAB III RONA LINGKUNGAN HIDUP

3.1 Komponen Fisika

1. Iklim
Hasil pengumpulan data iklim dari Stasiun Klimatologi provinsi Jawa barat
sebagai stasiun klimatologi terdekat dengan rencana lokasi proyek yang
tercatat selama 3 tahun antara 2010 - 2013, menunjukkan suhu udara rata-rata
bulanan berkisar antara 29 – 32oC. Angin yang dari arah selatan dan juga
barat daya membuat curah hujan disekitar wilayah
rencana lokasi proyek TPA menjadi cukup tinggi, hal ini menyebabkan
kelembaban rata-rata Kecamatan Pancoran Mas berkisar antara 65-96 %
dengan suhu maksimum terjadi pada bulan Agustus dan suhu minimum
terjadi pada bulan Desember sampai,Januari.
(Sumberdata:http://bmkg.go.id/bmkg_pusat/meteorologi/Prakiraan_Cuaca_Pro
pinsi.bmkg?pro).

2. Kualitas Udara Dan Kebisingan


Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengendalian lingkungan Hidup
Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa barat, konsentrasi partikulat debu (PM10) telah
melebihi ambang batas di beberapa titik pemantauan udara kota Depok.
Konsentrasi partikulat tertinggi adalah di sekitar jalan Margonda yaitu
mencapai 240 sementara batas yang ditentukan adalah 150. Sehubungan
dengan kualitas udara ambien, maka dilakukan beberapa pengukuran untuk
memantau kualitas udara ambien di beberapa lokasi di kota depok. Berikut data
lokasi dan hasil pemantauan kualitas udara ambien:
Keterangan Lokasi:

1. Jalan Jawa (kec. Limo) 6. RSUD Sawangan


2. Jalan Sadewa (kec. Beji) 7. UPS Maruyung
3. Jalan Margonda Raya 8. Jalan Nusantara (Kec.
4. Jalan Juanda
Pancoran Mas)
5. RPH Tapos

15
9. Jalan Palembang (Kec. 10. UPS Cilangkap
Cimanggis)

16
(a)

(b)

(c)
(d)

Gambar 3.3 Hasil Pemantauan Udara Ambien untuk SO2 (a), Partikulat (b), H2S (c), dan
Kebisingan (d) di beberapa lokasi di Kota Depok

3. Fisiografi dan Morfologi


Secara Geomorfologis Kecamatan Pancoran Mas sangat strategis, terletak pada
06019’ – 06028’ Lintang Selatan dan 106043’ BT-106055’ Bujur Timur yaitu
terletak ditengah jantung perkotaan Kota Depok, yang dikelilingi oleh rumah-
rumah penduduk dan pusat perbelanjaan, pertokoan serta perkantoran dan
tempat ibadah. Kecamatan Pancoran Mas mempunyai luas wilayah ± 1.919 ha,
dengan ketinggian wilayah dari permukaan air laut sekitar 50 sampai dengan
60 meter dengan permukaan tanah yang relatif datar dan berbukit. Kecamatan
Pancoran Mas terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, 106 Rukun Warga (RW) dan
627 Rukun Warga (RT) dengan jumlah penduduk 240.920 jiwa per Maret 2013
(Sumber: Pemerintah kota Depok, 2014)
4. Kualitas Air
Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) Tirta Kahuripan merupakan
penyelenggara penyedia air utama ke kota Depok termasuk kecamatan
Pancoran Mas. Tingkat pelayanan air untuk kota Depok dari PDAM Tirta
Kahuripan mencakup 49,63% dari seluruh pelayanan. Kapasitas air minum
kota depok yang dilayani oleh PDAM Tirta Kahuripan adalah 333 liter/detik
dari total produksi air minum PDAM Tirta Kahuripan di wilayah Kota Depok.
Berdasarkan data SLHD kota Depok tahun 2010 masih terdapat 15,46%
penduduk yang memanfaatkan air sumur dalam memenuhi kebutuhan air
bersihnya dan terdapat 0,70% yang menggunakan sumur tidak terlindungi.
5. Jenis Tanah
Secara umum jenis tanah yang terdapat di Kota Depok menurut RTRW Kota
Depok) terdiri dari:

a. Tanah alluvial, tanah endapan yang masih muda, terbentuk dari endapan
lempung, debu dan pasir, umumnya tersingkap di jalur-jalur sungai, tingkat
kesuburan sedang – tinggi.
b. Tanah latosol coklat kemerahan, tanah yang belum begitu lanjut
perkembangannya, terbentuk dari tufa vulkan andesitis – basaltis, tingkat
kesuburannya rendah – cukup, mudah meresapkan air, tahan terhadap erosi,
tekstur halus.
c. Asosiasi latosol merah dan laterit air tanah, tanah latosol yang
perkembangannya dipengaruhi air tanah, tingkat kesuburan sedang, kandungan
air tanah cukup banyak, sifat fisik tanah sedang – kurang baik.

6. Penggunaan Lahan
Jenis penggunan lahan di Kota Depok dapat dibedakan menjadi kawasan
lindung dan kawasan budidaya. Jenis kawasan yang perlu dilindungi terdiri
dari Cagar Alam Kampung Baru (Kelurahan Depok) area pinggir sungai dan
situ. Berdasarkan jenis kawasan lindung yang ada menggambarkan bahwa
kondisi morfologis Kota Depok relatif datar. Badan air yang terdiri dari sungai
dan situ-situ lokasinya tersebar menvcakup luasan 551,61 Ha (2,08%) dari total
luas Kota Depok.

Tabel Daftar Situ Di Kota Depok per Kecamatan


(Sumber: Bunga Rampai 2002 dalam Depok dalam Angka)

3.2 Komponen Biologi


Luas penggunaan lahan sawah di Kota Depok tahun 2008 adalah 972
Ha,sedangkan Luas penggunaan lahan bukan sawah adalah 19.057 Ha. Luas
panen tanaman padi sawah 848 ha dan produksinya 5.333,30 ton. Tanaman
palawija yang diusahakan di Kota Depok antara lain, ubi kayu, ubi jalar, jagung,
dan kacang tanah. Jenis tanaman hortikultura yang paling banyak diusahakan di
Kota Depok tahun 2008 adalah kacang panjang luas panennya 602 ha,
kemudian kangkung yang luas panennya 363 ha, dan mentimun yang luas
panennya 304 ha. Produksi buah belimbing mencapai 42.732 kwintal dari 26.805
pohon belimbing produktif. Produksi jambu biji mencapai 33.213 kwintal,
dari 17.320 tanamanjambu biji produktif. Produksi rambutan mencapai
20.252 kwintal dari 13.832 tanaman produktif. Selain itu masih banyak
buah-buahan yang diusahakan antara lain durian, dukuh/langsat, pepaya dan
lain-lain. Selain buah-buahan tanaman hias juga merupakan produk pertanian
unggulan Kota Depok. Luas panen tanaman hias anggrek 135.593 m2 dengan
produksi 427.670 tangkai.Tanaman hias Aglaonema luas panennya mencapai
59.547 pohon, dengan produksi 15.052tangkai (pot). Jenis tanaman hias lainnya
yang diusahakan masyarakat Depok antara lain: heliconia, mawar, melati, dan
palem.

Luas areal perikanan di Kota Depok Tahun 2008 untuk kolam air tenang
adalah 216,82 ha, luas kolam pembenihan 15,97 ha, kolam ikan hias 8,39 ha,
danada634unit japung. Produksi ikan pada budidaya kolam air tenang
mencapai 1.460,65 ton. Produksi ikan hias mencapai 67.697,89 ribu ekor.
Produksi ikan pada kolam pembenihan 13.239,86 ribu ekor Jenis peternakan yang
diusahakan di Kota Depok antara lain : sapi perah, sapi potong, kambing,
domba, kelinci, kerbau, kuda, anjing. Untuk jenis unggasnya
adalah ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan itik.

3.3 Komponen Sosial


1. Penduduk
Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2008 mencapai 1.503.677 jiwa,
yang terdiri dari laki-laki 780.092 jiwa dan perempuan 723.585 jiwa. Laju
pertumbuhan penduduk Kota Depok tahun 2008 3,43 persen, sedangkan
rasio jenis kelamin di Kota Depok adalah 102. Kecamatan Cimanggis paling
banyak penduduknya dibanding kecamatan lain di Kota Depok, yaitu
412.388 jiwa, Sedangkan kecamatan dengan penduduk terkecil adalah
Kecamatan Beji yaitu 143.190 jiwa. Di Tahun 2008, kepadatan penduduk
Kota Depok mencapai 7.507,50 jiwa/km2. Kecamatan Sukmajaya merupakan
kecamatan terpadat di Kota Depok dengan tingkatkepadatan 10.264,61
jiwa/km2, kemudian Kecamatan Beji dengan tingkat kepadatan10.013,29
jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk
terendah adalahKecamatan Sawangan yaitu sebesar 3.714,75 jiwa/km2.

Tabel Data Penduduk Kota Depok Tiap kecamatan


.(Sumber: Proyeksi Penduduk BPS Kota Depok dalam Kota Depok Dalam Angka)

2. Tenaga Kerja
Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2007, dapat diperoleh gambaran
bahwa pada tahun 2006, penduduk Kota Depok yang bekerja 44,63 %
sedangkan yang menganggur sekitar 7,85 %. Jadi penduduk Kota Depok yang
tergolong angkatan kerja 61,33 %, sisanyamerupakan penduduk bukan
angkatan kerja. Penduduk yang bekerja masih didominasi laki-laki dari pada
perempuan (laki-laki 69,98 % dan perempuan 37.00 %.

Tabel Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan


(Sumber: Sakernas Kota depok, 2007 dalam Kota Depok Dalam Angka)

3. Ekonomi
Dari sisi penerimaan APBD kota Depok pada tahun 2003, penerimaan daerah
yang terbesar berasal dari dana perimbangan yaitu sekitar 85% atau Rp
315.103.996.476,00 dari total nilai APBD sebesar Rp 369.678.000.000,00
sedangkan penerimaan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah menyumbang
Rp 41.165.629.524,00 atau sekitar 11%. Sedangkan penerimaan lain sebesar 13
milyar rupiah.

Tabel Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kota Depok 2009


(Sumber: Pemerintah kota Depok, 2009)
3.4 Kesehatan Masyarakat

1. Sanitasi Lingkungan
Ada banyak indikator sanitasi lingkungan yang dapat dijadikan ukuran,
namun dalam hal ini yang dijadikan pedoman pengukuran adalah saluran
pembuangan air limbah yaitu saluran yang dipakai sebagai tempat
pembuangan cairan limbah rumah tangga yang terletak di luar rumah dan
langsung menuju ke lingkungan sekitar.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota


Depok Pada Tahun 2010, dari sampling yang diperikasa sejumlah 328.183 KK
dapat digambarkan bahwa sebagian besar keluarga di Depok telah
menggunakan jamban (79,57%) meskipun baru 89,55% yang memenuhi
kriteria sehat.

Tabel Persentase keluarga Dan Prasarana Air Limbah Tiap Kecamatan di kota
Depok
(Sumber: Profil Kesehatan 2010 dalam Buku Putih kota Depok)

2. Pengelolaan Sampah
Daerah pelayanan sampah saat ini hanya pada wilayah rumah tangga, pasar,
komersial/jalan dan industri/rumah sakit dimana timbulan sampah yang
dihasilkan adalah 4.265 m3/hari. Untuk wilayah komersial dan pemukiman
masih dikelola secara konvensional.
Berikut data timbulan sampah Kota Depok Per kecamatan pada tabel 6:
Tabel Data timbulan Sampah kota Depok per Kecamatan

(Sunber: Buku Putih kota Depok, 2010)

Tabel Data Fasilitas TPS dan UPS di tiap kecamatan Kota Depok
(Sumber: DKP Kota Depok 2010 dalam Buku Putih Kota Depok)
BAB IV RUANGLINGKUP STUDI

Untuk batas wilayah studi ditentukan berdasarkan batas proyek/tapak kegiatan


rencana pembangunan TPA, batas administrative, batas sosial dan batas ekologi.
 Batas proyek
Batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana atau usaha atau kegiatan
akan melakukan aktivitas prakonstruksi, konstruksi dan operasi, dari ruang ini
lah bersumber dampak terhadap lingkungan. Batas proyek ditentukan
berdasarkan batas tapak proyek rencana tata letak kegiatan pembangunan TPA
yang mana saat ini sebagian besar masih ditanami penduduk serta sebagian
lagi merupakan lahan milik Desa Bersih Selalu.
 Batas administrative
Batas administrative pembangunan TPA ditetapkan berdasarkan status
administrasi wilayah dimana kegiatan proyek dilaksanakan yaitu di Desa
Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Depok.
 Batas sosial
Batas sosial merupakan ruang disekitar rencana kegiatan/usaha yang
merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang
mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan, sesuai dengan
proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat, yang \diperkirakan akan
mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha/kegiatan.
Untuk pembanguanan TPA Talangagung ini penduduk terkena dampak
bertempat tinggal di sepanjang jalan akses ke TPA yang berjarak sekitar 0,5
km dari lokasi TPA.
 Batas ekologis
Batas ekologis merupakan ruang persebaran dampak dari suatu rencana
usaha/kegiatan menurut media transportasi limbah, dimana proses alami
berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan
mendasar. Batas ekologi TPA Talangagung , meliputi:
a. Perubahan bentang lahan alam yang meliputi daerah tapak
pembangunan TPA
b. Batas ekologi yang terkait dengan udara yaitu komponen kebauan yang
dapat dirasakan pengaruhnya pada jarak radius 0,5 km.
c. Batas ekologi dari komponen biotis adalah persebaran vector lalat yang
kepadatannya tinggi dalam radius 0,2 km.

Gambar 4.4 Peta Batas Wilayah Studi


BAB V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING

Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting


hipotetik agar diperoleh prioritas dampak penting hipotetik lingkungan hidup.
Prioritas dampak penting hipotetik yang akan timbul pada seriap tahapan kegiatan
yaitu pada tahap pra konstruksi, konstruksi dan operasi proyek TPA Harum
Mewangi berdasarkan hasil proses pelingkupan adalah sebagai berikut:
1. Kualitas Udara.
2. Kualitas Air Tanah.
3. Kualitas Air Permukaan.
4. Lalu lintas.
5. Persepsi Masyarakat.
6. Konflik Sosial.
7. Kesehatan Masyarkat.
8. Sanitasi Lingkungan.
BAB VI EVALUASI DAMPAK PENTING

6.1 Telaahan terhadap dampak penting

Metode prakiraan dampak pada prinsipnya adalah untuk memprakirakan


besaran dampak (magnitude) dan tingkat kepentingan (important) dampak.
Tabel Ringkasan Hasil Prakiraan Besaran Dampak Rencana Kegiatan Proyek Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir
(TPA) Sampah Harum Mewangi di Kota Depok

No. Komponen Lingkungan Komponen Rencana Kegiatan


Pra Konstruksi Operasi Pasca
Konstruksi Operasi
1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 1
Geo-Fisika-Kimia
1. Kualitas udara ambien x x x x x x x
2. Kebisingan
x x x x x x x x x
3. Erosi tanah
x x x x
4. Sistem drainase dan irigasi
5. Kualitas air permukaan x x x x
6. Kualitas air laut x x x x
7. Transportasi darat x x x x x
x x x x x x x x
Biologi
1. Vegetasi x x x x x
2. Satwa liar x x x x x
3. Biota air tawar x x x x x
4. Biota air laut x x x x
Sosial-Ekonomi-Budaya
1. Kependudukan x x x x x x x
2. Pola kepemilikan lahan x x x
3. Pendapatan masyarakat x x x x
4. Kesempatan berusaha x x x x
5. Proses sosial x x x x x x x x x
6. Sikap dan persepsi masyarakat x x x x x x x
Kesehatan Masyarakat
1. Sanitasi lingkungan x x x x
2. Tingkat kesehatan x x
masyarakat
6.2 Pemilihan Alternatif Terbaik
Sifat penting dampak akan ditetapkan dengan berpedoman pada Peraturan
Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna
“dampak penting”. Hal ini berarti bahwa tidak selalu yang hanya mempunyai
dampak besar saja yang bersifat penting, tetapi dampak yang kecil pun dapat
bersifat penting. Untuk mengetahui apakah dampak-dampak tersebut mempunyai
sifat penting tertentu, maka dilakukan evaluasi terhadap faktor-faktor penentu
dampak penting untuk selanjutnya dievaluasi bersama-sama dengan besaran
dampak-dampak tersebut, untuk mengambil keputusan apakah dampak tersebut
merupakan dampak besar dan penting agar dapat disimpulkan menjadi dampak
lingkungan besar dan penting. Penentuan Tingkat kepentingan dampak dilakukan
pada semua dampak-dampak hipotesis dengan mengacu pada kriteria penentu
dampak penting sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yaitu:
 Jumlah manusia yang terkena dampak.
 Luas wilayah persebaran dampak.
 Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.
 Banyaknya komponen lain yang akan terkena dampak.
 Sifat kumulatif dampak.
 Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
Akan tetapi dalam penetapan tingkat kepentingan dampak secara umum, dalam
kajian AMDAL ini akan relatif lebih konservatif dibanding penetapan berdasarkan
SK Kep Bapedal No. 56 tahun 1994. Penetapan tingkat kepentingan dampak ini
dikelompokkan kedalam dampak penting (P) dan tidak penting (TP). Pedoman
penetapan tingkat kepentingan dampak apakah dampak tersebut penting (P) atau
tidak penting (TP) didasarkan pada kriteria sebagai berikut.
a. Untuk jumlah manusia yang terkena dampak
Kriteria P apabila terdapat > 25% manusia tidak mendapatkan
memanfaatkan hasil atau manfaat dari proyek.
Kriteria TP apabila tidak jumlah manusia terkena dampak < 25% dari
manusia yang terkena dampak.
b. Luas wilayah persebaran dampak
Kriteria P apabila luas dampak > 0,25 kali luas wilayah studi, karena
setidak-tidaknya di daerah tersebut dalam luasan 0,25 dari luas wilayah
studi pemanfaatan ruang cukup beragam sehingga tingkat kepentingannya
tinggi, sehingga dampaknya sudah dianggap penting.
Kriteria TP apabila luas dampak < 0,25 kali luas wilayah studi.
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
Kriteria P apabila intensitasnya sama atau lebih besar daripada ambang
batas baku mutu, dan atau dampak berlangsung tidak hanya sesaat.
Kriteria TP apabila intensitasnya rendah (dibawah ambang batas baku mutu
dan dampaknya berlangsung hanya sesaat).
d. Banyaknya komponen lain yang akan terkena dampak
Kriteria P apabila ada komponen lain yang terkena dampak.
Kriteria TP apabila tidak ada komponen lain yang terkena dampak.
e. Sifat kumulatif dampak
Kriteria P apabila dampak akan terakumulasi.
Kriteria TP apabila dampak tidak akan terakumulasi.
f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak
Kriteria P apabila dampak tidak berbalik.
Kriteria TP apabila dampak berbalik.
Mengingat bahwa tujuan akhir pembangunan adalah untuk kepentingan manusia,
maka dalam penetapan sifat penting dampak, parameter jumlah manusia terkena
dampak diberi bobot 3. Mendasarkan pada batasan tersebut di atas maka
pembobotan untuk setiap parameter penentu tingkat kepentingan dampak
ditetapkan seperti disajikan pada Tabel 3.10.

Tabel Pembobotan Parameter Penentu Tingkat Kepentingan Dampak


Penentuan tingkat kepentingan dampak tersebut didasarkan pada jumlah faktor
penentu dampak penting yang bersifat penting yaitu:
 Apabila P ≥ 3 maka termasuk dalam katagori penting (P)
 Apabila P ≤ 2 termasuk dalam katagori tidak penting (TP)
Ringkasan hasil proses penentuan tingkat kepentingan dampak untuk masing-
masing jenis dampak disajikan dalam Tabel “Ringkasan Hasil Penentuan Tingkat
Kepentingan Dampak Kegiatan Proyek Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir
(TPA) Sampah Harum Mewangi di Kota Depok”
No Komponen Lingkungan Komponen Rencana Kegiatan
. Pra Konstruksi Operasi Pasca
Konstruksi Operasi
1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 1
Geo-Fisika-Kimia
1. Kualitas udara ambien TP P T TP P P P
2. Kebisingan
3. Erosi tanah P
4. Sistem drainase dan irigasi P P TP P T TP P P P
5. Kualitas air permukaan P
P P P P
6. Kualitas air laut TP P P P
7. Transportasi darat P P P P

P P TP P P
P P P TP P P P TP

Biologi
1. Vegetasi
P P P TP P
2. Satwa liar
T P P P P
3. Biota air tawar
4. Biota air laut P
TP P P P P
TP P P P
Sosial-Ekonomi-Budaya
1. Kependudukan
P P P P P P P
2. Pola kepemilikan lahan
P P P
3. Pendapatan masyarakat P P P P
4. Kesempatan berusaha P P P TP
5. Proses sosial P P P P TP P P P TP
6. Sikap dan persepsi P P P P P P P
masyarakat
Kesehatan Masyarakat
1. Sanitasi lingkungan P P P P
2. Tingkat kesehatan P P
masyarakat
6.3 Telaahan sebagai dasar pengelolaan

Identifikasi dampak potensial dilakukan dengan metode matrik sederhan. Identifikasi


dampak ini dilakukan dengan mencatat semua dampak yang mungkin timbul tanpa
melihat besaran dan pentingnya dampak yang akan ditimbulkan. Identifikasi dampak
potensial dilakukan berdasarkan masukan masing-masing tenaga ahli dan pengamatan
lapangan. Hasil identifikasi dampak potensial adalah sebagai berikut:
1. Kualitas Udara (debu dan bau)
Kegiatan konstruksi yang didalamnya tercakup kegiatan pematangan lahan,
mobilisasi peralatan dan material konstruksi bangunan akan menghasilkan gas
emisi dan debu yang berpengaruh terhadap kualitas udara ambiendi sekitarnya.
Pada tahap operasi, kegiatan pengangkutan, bongkar muatan sampah dan proses
pengolahan sampah dalam TPA Harum Mewangi akan menyebabkan menurunnya
kualitas udara vakibat emisi kendaraan, debu dan bau yang ditimbulkan
2. Kebisingan dan Getaran
Kebisingan mobilisasi material konstruksi serta pelaksanaan konstruksi bangunan
dengan menggunakan peralatan berat seperti pada kegiatan pemancangan pondasi
juga akan mempengaruhi intensitas kebisingan dan getaran terutama dlam tapak
proyek. Sementara pada tahap operasi, kebisingan yang terjadi lebih diakibatkan
oleh aktifitas kendaraan pengangkut sampah
3. Kuantitas Limpasan Air Permukaan
Awal kegiatan proyek merupakan areal TPA Harum Mewangi yang berpotensi
meresapkan air. Dengan adanya kegiatan konstruksi, terjadi perubahan fungsi
lahan yang ditandai dengan meningkatnya koefisien run off lahan dan berdampak
terhadap meningkatnya volume air larian atau limpasan hujan. Jika kapasitas
tampungan badan air yang ada di sekitar lokasi proyek tidak memadai dalam
menerima air larian ini, maka air larian dapat mengakibatkan banjir ke wilayah
sekitarnya

4. Kualitas Air Permukaan


Pada tahap operasi kualitas air permukaan akan dipengaruhi oleh buangan limbah
cair dari kegiatan domestik karyawan TPA Harum Mewangi, limbah sisa kegiatan
produksi serta leacheat yang ditimbulkan oleh sampah di dalam lokasi kegiatan.
5. Kualitas Air Tanah
Limbah sisa cair kegiatan produksi maupun leacheat dari timbulan sampah yang
meresap ke dalam tanah dapat mempengaruhi kualitas air tanah setempat.
6. Sampah Padat
Sampah pada kegiatan konstruksi proyek sebagian besar akan berupa sisa/puing-
puing bahan dan material proyek. Sementara pada tahap operasi limbah padat akan
berupa ceceran sampah di badan jalan maupun residu sampah yang di hasilkan
oleh kegiatan produksi.
7. Ketersediaan Air Bersih
Meningkatnya kebutuhan air bersih, sementara ketersediaannya di lokasi kegiatan
terbatas akibat terbatasnya kemampuan distribusi PAM dan buruknya kualitas air
tanah dangkal akan mengakibatkan dampak kelangkaan air bersih.
8. Flora dan Fauna
Perubahan fungsi lahan dari lahan berumput menjadi bangunan TPA Harum
Mewangi dapat mempengaruhi keberadaan flora dan fauna darat setempat.
9. Biota Perairan
Limbah yang dibuang ke sungai dapat mempengaruhi kualitas biota perairan
setempat.
10. Kesempatan Kerja
Dampak terhadap pendapatan masyarakat merupakan dampak turunan akibat
terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha pada tahap konstruksi dan
operasional TPA Harum Mewangi.
11. Estetika Lingkungan
Dampak terhadap estetika lingkungan merupakan dampak turunan akibat ceceran
sampah padat, pengotoran badan jalan, kerusakan badan jalan serta penghijauan
yang berlangsung sejak masa konstruksi dan operasional proyek.
12. Sanitasi Lingkungan
Dampak terhadap sanitasi lingkungan merupakan dampak turunan akibat limbah
padat dan air limbah yang dihasilkan selama tahap konstruksi dan operasional
proyek.
13. Kamtibmas (Kenyamanan dan Ketertiban Masyarakat)
Dampak terhadap kamtibmas merupakan dampak turunan akibat limbah/polutan
dan gangguan lingkungan yang terjadi selama tahap konstruksi dan operasional
proyek.
14. Persepsi Masyarakat
Penetapan lokasi proyek serta dampak primer dan sekunder yang terjadi salam
tahap konstruksi dan operasi proyek, akan berpengaruh terhadap persepsi
masyarakat yang menetap di sekitar lokasi proyek.
15. Kesehatan Masyarakat
Dampak terhadap kesehatan masyarakat juga merupakan dampak turunan yang
muncul selama tahap konstruksi dan operasi proyek yang diakibatkan oleh gas
pollutan, debu, bau, kebisingan, dan timbulnya vektor penyakit.
16. Lalu Lintas
Kegiatan mobilisasi kegiatan peralatan dan material pada tahao konstruksi akan
berpengaruh terhadap kelancaran lalu lintas dan kondisi badan jalan. Pada tahap
operasi proyek, aktivitas dari kendaraan pengangkut sampah, residu sampah
maupun hasil produksi TPA Harum Mewangi juga akan berdampak terhadap
volume lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan.

6.4 Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan

Tujuan dilakukan evaluasi dampak besar dan penting lingkungan akibat dari
komponen kegiatan yang direncanakan adalah memutuskan/menentukan jenis
dampak hipotetik yang akan dikelola, jenis dampak tersebut ditelaah secara holistik,
dan memberikan arahan atau alternatif pengelolaannya. Metode evaluasi dampak
penting yang digunakan adalah non matrik yaitu dengan pendekatan deskriptif-
kualitas berdasarkan informasi besaran dan tingkat kepentingan masing-masing jenis
dampak penting hipotetik dengan bagan alir. Adapun keputusan tentang jenis dampak
hipotetik yang akan dikelola adalah jenis dampak yang termasuk kategori dampak
penting yang dikelola (PK) yang ditetapkan berdasarkan dua kriteria sederhana
berikut:
 Pada prameter linkungan yang memiliki Baku Mutu Lingkungan tertentu:
apabila tingkat kepentingannya (ΣP) > 3 dan dampak negatif yang diprakirakan
akan terjadi menyebabkan perubahan nilai pada parameter tertentu sehingga
nilai itu akan melebih baku mutu yang berlaku, maka kesimpulan dampaknya
termasuk kategori dampak penting yang dikelola (PK).
 Pada prameter linkungan yang tidak memiliki Baku Mutu Lingkungan: Apabila
(ΣP) ≥ 3 dan besaran angka prakiraan dampak ≥ (+/-) 2, maka kesimpulan
dampaknya masuk kategori dampak penting yang dikelola (PK).
 Diluar kedua kriteria tersebut di atas masuk dalam kategori dampak tidak
penting dan tidak dikelola (TPK).
Diluar kedua kriteria di atas, kesimpulan hasil evaluasi adalah dampak tidak penting
dan tidak dikelola (TPK). Bila dampak yang disimpulkan merupakan dampak penting
yang dikelola (PK), maka dampak-dampak itulah yang akan dijadikan dasar untuk
penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan
Lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Godang Jaya Tua, PT. Naviogat Organik Energy Indonesia, PT. KA-ANDAL
Pembangunan TPST Bantar Gebang-Bekasi. 2009

(Sumber: http://panmas.depok.go.id/profil/geografis) Diunduh tanggal 2 Januari 2015


/10.20WIB

(Sumber:http://www.academia.edu/4456943/Kota_Depok_Dalam_Angka_2008)
Diunduh tanggal 2 Januari 2015 /10.20 WIB
(Sumber:http://www.jbic.go.jp/wp-content/uploads/projects/2012/11/3934/1-4-
6_KA_ANDAL_BAB_2B.pdf) Diunduh tanggal 2 Januari 2015 /10.20
WIB

(Sumber:http://samowob.files.wordpress.com/2008/04/ukl-upl-talangagung.pdf)
Diunduh tanggal 2 Januari 2015 /10.20 WIB

(Sumber:http://www.academia.edu/7267999/ANALISIS_RONA_LINGKUNGAN_T
antim_Fhilia_Resti_1111015093_Dosen_Pembimbing) Diunduh tanggal 2
Januari 2015 /10.20 WIB

(Sumber: http://www.academia.edu/4304667/1_4_7_KA_ANDAL_BAB_3) Diunduh


tanggal 2 Januari 2015 /10.20 WIB

(Sumber: http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/jabar/depok.pdf) Diunduh


tanggal 2 Januari 2015 /10.20 WIB

(Sumber: http://www.damandiri.or.id/file/ronilaipbbab4.pdf) Diunduh tanggal 2


Januari 2015 /10.20 WI