Anda di halaman 1dari 11

STRATEGI BK

(MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA

PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BK)

A. Pengertian Permasalahan Siswa di Sekolah

Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang


melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang
mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985)
mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya,
menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu
dihilangkan.

Adapun ciri-ciri masalah sebagai berikut :

1. Masalah muncul karena adanya kesenjangan antara harapan (das sollen) dan
kenyataan (das sein).
2. Semakin besar kesenjanagan, maka masalah semakin berat.
3. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda–
beda.
4. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh indidvidu itu
sendiri maupun oleh lingkungan.
5. Masalah timbul akibat dari prose belajar yang keliru.
6. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar (basic question) yang perlu
di jawab.
7. Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok.

 Masalah – Masalah Siswa di Sekolah


Menurut Nurihsan (2006: 15-17) mengemukakan bahwa jenis masalah,
antara lain:
1) Masalah Akademik
Akademik adalah pembelajaran tentang disiplin ilmu yang
mencakup teknologi dan atau seni yang pelaksanaannya di lakukan di
sekolah. Masalah akademik adalah masalah yang berkaitan dengan
akademik siswa terutama di kelas. Yang termasuk masalah-masalah
akademik, yaitu pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi,
cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, cara siswa
memahami materi yang diberikan.
2) Masalah Sosial Pribadi
Sosial pribadi, masalah yang terjadi antara individu itu sendiri
dengan orang lain yang terlibat dalam lingkungan sekitar dimana
individu itu berada. Yang tergolong dalam masalah social pribadi
adalah masalah hubungan dengan teman, guru, staf, dan penyesuaian
diri dengan lingkungan.
3) Masalah Karier
Masalah Karier adalah Masalah yang berkaitan dengan
perencanaan dan pengembangan masalah-masalah pekerjaan,seperti
pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman
kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan,
perencanaan dan pengembangan karier.

4) Masalah Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan terkecil dalam
kehidupan. Dalam keluarga dibutuhkan keharmonisan agar semua
anggota keluarga dapat merasakan kenyamanan. Masalah keluarga
merupakan salahsatu masalah yang dapat berpengaruh buruk terhadap
kegiatan lainnya.

B. Pendekatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Nurihsan (2006:21-22), mengemukakan bahwa pendekatan umum


dalam Bimbingan dan Konseling atas empat pendekatan, antara lain:
1) Pendekatan Kritis
Pendekatan krisis disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya
bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau
masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisis atau masalah –
masalah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing
menunggu individu yang datang. Selanjutnya, mereka memberikan
bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.

2) Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang
diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan.
Tujuan bimbingan ini adalah untuk membantu memperbaiki
kekurangan/kelemahan yang dialami individu.
Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada
kelemahan – kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk
memperbaikinya.

3) Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang diarahkan pada
antisipasi masalah – masalah umum individu, mencegah jangan sampai
masalah tersebut menimpa individu. Pembimbing memberikan beberapa
upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah
tersebut.
Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi,
kenakalan, merokok, membolos, menyontek, mengutil, bermain game on
line/internet dan sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat
terjadi pada peserta didik secara umum. Model preventif ini, didasarkan
pada pemikiran bahwa jika guru dapat mendidik peserta didik untuk
menyadaribahaya dariberbagaikegiatan dan menguasai metode untuk
menghindari terjadinya masalah itu, maka guru akan dapat mencegah
peserta didik dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut.

4) Pendekatan Perkembangan
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan
potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Setiap
individu memiliki potensi dan kekuatan – kekuatan tertentu melalui
penerapan berbagai teknik bimbingan potensi, kemudian kekuatan –
kekuatan tersebut dikembangkan. Dalam pendekatan ini, layanan
bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu
yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat
dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui
layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta
penyaluran bakat dan minat.

C. Metode Bimbingan Kelompok (Group Guidance)

Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah


melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dipecahkan bersifat kelompok, yaitu
yang disarankan bersama oleh kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat
individual atau perorangan, yaitu masalah yang disarankan oleh individu (seorang
siswa) sebagai anggota kelompok.

Penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk


mengatasi masalah bersama atau individu yang menghadapi masalah dengan
menempatkanya dalaam kehidupan kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan
kelompok adalah:

Metode-metode diatas biasanya sering dilakukan dalam pelaksanaan


kegiatan bimbingan dan konseling dimana terdapat pemimpin
kelompok(leader) dan anggota kelompok yang menggunakan dinamika kelompok.

Adapun beberapa jenis metode kelompok yang dapat diterpakan di


kehidupan kelompok, diantaranya :

1) Program Home Room

Program ini dilakukan dilakukan di luar jam pelajaran dengan menciptakan


kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah sehingga tercipta kondisi yang bebas
dan menyenangkan. Dengan kondisi tersebut siswa dapat mengutarakan
perasaannya seperti di rumah sehingga timbul suasana keakraban. Tujuan utama
program ini adalah agar guru dapat mengenal siswanya secara lebih dekat sehingga
dapat membantunya secara efesien dalam bentuk bimbingan kelompok. Dalam
praktiknya, guru mengadakan tanya jawab dengan para siswa, menampung
pendapat, merencanakan suatu solusi dan sebagainya.

2) Karyawisata

Karyawisata dilaksanakan dengan mengunjungi dan mengadakan peninjauan


pada objek-objek yang menarik yang berkaitan dengan pelajaran tertentu. Mereka
mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini akan mendorong aktivitas
penyesuaian diri, kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri serta
mengembangkan bakat dan cita-cita.
3) Diskusi kelompok

Diskusi kelompok merupakan suatu cara di mana siswa memperoleh


kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa
memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pikirannya masing-masing dalam
memecahkan suatu masalah. Dalam melakukan diskusi siswa diberi peran-peran
tertentu seperti pemimpin diskusi dan notulis dan siswa lain menjadi peserta atau
anggota. Dengan demikian akan timbul rasa tanggung jawab dan harga diri.

4) Organisasi Siswa

Organisasi siswa khususnya di lingkungan sekolah dan madrasah dapat menjadi


salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. melalui organisasi siswa banyak
masalah-masalah siswa yang baik sifatnya individual maupun kelompok dapat
dipecahkan. Melalui organisasi siswa, para siswa memperoleh kesempatan
mengenal berbagai aspek kehidupan sosial. Mengaktifkan siswa dalam organisasi
siswa dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan memupuk rasa tanggung
jawab serta harga diri siswa.

5) Sosiodrama dan Psikodrama

Sosiodrama dapat digunakan sebagai salah satu cara bimbingan kelompok.


Sosiodrama merupakan suatu cara membantu memecahkan masalah siswa melalui
drama. Masalah yang didramakan adalah masalah-masalah sosial. Sedangkan
Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama yang berkaitan
dengan psikis yang dialami individu. Perbedaannya terletak pada masalah yang
dibawakan.

Pemecahan masalah individu diperoleh melalui penghayatan peran tentang


situasi masalah yang dihadapinya. Dari pementasan peran tersebut kemudian
diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalah.

6) Pengajaran Remedial

Pengajaran remedial (remedial teaching) merupakan suatu bentuk pembelajaran


yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa untuk membantu
kesulitan belajar yang dihadapinya. Pengajaran remedial merupakan salah satu
teknik pemberian bimbingan yang dapat dilakukan secara individu maupun
kelompok tergantung kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.

D. Metode Bimbingan Individual

Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individual dan
langsung bertatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing (konselor ) dengan
siswa (klien). Dengan perkataan lain pemberian bantuan diberikan dilakukan
melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata),
yang dilaksanakan dengan wawancara antara (pembimbing) konselor dengan siswa
(klien). Masalah – masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah
masalah – masalah yang bersifat pribadi.4

Dalam konseling individual, konselor dituntut untuk mampu bersikap penuh


simpati dan empati. Simpati ditunjukan oleh konselor melalui sikap turut
merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien (siswa). Sedangkan empari adalah
usaha konselor menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah –
masalah yang dihadapinya. Keberhasilan konselor bersimpati dan berempati akan
memberikan kepercayaan yang sepenuhnya kepada konselor. Keberhasilan
bersimpati dan berempati dari konselor juga akan sangat membantu keberhasilan
proses konseling.

Setidaknya ada tiga cara konseling dalam metode individual yang biasa
dilakukan, yaitu 5

1) Konseling Direktif (Directive counselling)

Konseling dengan metode ini, dalam prosesnya yang aktif atau yang paling
berperan adalah konselor. Dalam praktiknya konselor berusaha mengarahkan klien
sesuai dengan masalahnya. Selain itu, konselor juga memberikan saran, anjuran dan
nasihat kepada klien secara langsung tanpa melalui perantara apapun.

2) Konseling Non-Direktif (Non-Directive Counselling)

Konseling nondirektif dikembangkan berdasarkan teori client


centered (Konseling yang berpusat pada klien atau siswa). Dalam praktiknya,
konselor hanya menampung pembicaraan dan mengarahkan. Klien atau konseli
bebas berbicara tanpa ada paksaan dari siapapun. Metode ini tentu sulit di terapkan
untuk siswa yang berkepribadian tertutup (introvet), karena siswa dengan
kepribadian tertutup biasanya pendiam akan sulit diajak bicara.

Dalam metode ini, proses komunikasi (wawancara konseling) terjadi atas


kehendak atau inisiatif klien sendiri untuk konsultasi dan dalam prosesnya klien
yang berperan lebih aktif.

3) Konseling Ekletif (Ecletive Counselling)

Penerapan metode dalam konseling adalah dalam keadaan tertentu konselor


menasehati dan mengarahkan konseli (siswa) sesuai dengan masalahnya, dan dalam
keadaan yang lain konselor memberikan kebeasan kepada konseli (siswa) untuk
berbicara sedangkan konselor mengarahkan saja. Berdasarkan pernyataan diatas,
itulah yang disebut metode elektif yaitu penggapungan kedua metode antara metode
direktif dan metode nondirektif.

E. Strategi Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terkait dengan


empat komponen program yaitu: (1) layanan dasar; (2) layanan responsif; (3)
perencanaan individual; dan (4) dukungan sistem.

1. Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan


a. Bimbingan Klasikal

Layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa
dalam peluncuran program yang telah dirancang menuntut konselor untuk
melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor
memberikan layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan
melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang
dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan
pada awal pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki
pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Kepada siswa
diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan sekolah, seperti :
kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi), jadwal pelajaran,
perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk SLTA), kegiatan
ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan informasi
merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai
aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui komunikasi
langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti
: buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan informasi untuk bimbingan
klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan diri. Agar semua siswa
terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan secara pasti untuk semua
kelas.

b. Bimbingan Kelompok

Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui kelompok-


kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon
kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan
kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak
rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan
mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk mengembangkan
keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.

c. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas


Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh
semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali
kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka
memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan
pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-
aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu
di antaranya :

 menciptakan sekolah dengan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif


bagi belajar siswa;
 memahami karakteristik siswa yang unik dan beragam;
 menandai siswa yang diduga bermasalah;
 membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui
program remedial teaching;
 mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan
dan konseling kepada guru pembimbing;
 memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja
yang diminati siswa;
 memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat
memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan
keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja);
 menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial,
maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur
central” bagi siswa);
 memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang
diberikannya secara efektif.

d. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan,


konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini
penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah,
tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan
terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar
konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau
memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama
dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti : (1) kepala sekolah
atau komite sekolah mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal
satu semester satu kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian
rapor, (2) sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang
kemajuan belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan
keadaan anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan
perilaku sehari-harinya.

2. Strategi untuk Layanan Responsif


a. Konsultasi

Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau


pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam
memberikan bimbingan kepada para siswa.

b. Konseling Individual atau Kelompok

Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa


yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Melalui konseling, siswa (klien) dibantu untuk mengidentifikasi
masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan
pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara
individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan untuk membantu
siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok. Dalam konseling kelompok ini,
masing-masing siswa mengemukakan masalah yang dialaminya, kemudian satu
sama lain saling memberikan masukan atau pendapat untuk memecahkan masalah
tersebut.

c. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)

Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani


masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien kepada
pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian.
Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti
depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.

d. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)

Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa
terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya
diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing
berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu
dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara
memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang
perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

3. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual


a. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-
group Appraisal)

Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa


menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar
siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis
kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.

b. Individual or Small-Group Advicement

Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau


memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi,
sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan
merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan
dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2)
melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah
ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

4. Strategi untuk Dukungan Sistem


a. Pengembangan Professional

Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update” pengetahuan


dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam organisasi
profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan workshop
(lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi
(Pascasarjana).

b. Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi

Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang


tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan
swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan
yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang
kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas
program bimbingan dan konseling. Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan
upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang
dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama
ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3)
organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia),
(4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter,
dan orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling),
dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
c. Manajemen Program

Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan


tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas,
sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981)
mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of
planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members and
of using all other organizational resources to achieve stated organizational goals”.