Anda di halaman 1dari 22

PENGKAJIAN dan

MANAJEMEN TRAUMA
BY ARDHILES WK
Latar Belakang
• Trauma bentuk lain dari cidera (injury)
• Trauma menyebabkan 73% dari seluruh kematian di
usia 15-24 tahun (US, 2012)
• Survival (bertahan hidup) pasien trauma berkaitan
seberapa cepat pertolongan diberikan sejak
dilapangan sampai ke RS, so it is crucial that you
know how to assess and manage the critical trauma
patient in the most efficient way.
• Tujuannya untuk mengajarkan the most rapid and
practical method to assess and manage critical trauma
patients.
Pengkajian Trauma
Oleh : ITLS (International Trauma Life Support)
• Primary Survey : - Scene Size Up
- Initial assesment
- Rapid Trauma Survey atau fokus exam
- Intervensi dan keputusan transportasi
- Hubungi tempat rujukan

• Secondary Survey : - Initial assesment ulang


- Monitor TTV
- Pmx head to toe
- Pmx neurologi

• On-going exam : - Initial assesment ulang


- Monitor TTV
- Cek cidera dan intervensi
Primary Survey Pengkajian awal dan segera pada korban untuk menemukan ancaman
nyawa atau potensi berbahaya
(Survey Primer)
I SCENE SIZE-UP

II INITIAL ASSESSMENT
Keadaan umum
Kesadaran
Airway, Breathing, Circulation

IV a Tidak stabil, tidak diketahui IV b Stabil, cidera lokal


penyebab, cidera umum.

Va RAPID TRAUMA SURVEY Vb FOKUS EXAM

LOAD & GO (Bawa ke RS)


I. Scene Size Up (Tahap Persiapan)
Tanpa persiapan yang baik berarti merencanakan kegagalan

1. Universal Precaution (Sarung tangan, masker, dll sesuai


kondisi lingkungan)
2. Antisipasi lingkungan korban (aman atau berbahaya)
3. Jumlah korban & Penolong yang diperlukan
4. Peralatan yang dibutuhkan
5. Mekanisme Cidera
1. Antisipasi lingkungan korban
(Prinsip..jangan mendekati korban sebelum aman)

• Area kebakaran, gas beracun, kadar oksigen rendah, aliran


listrik, bangunan yang mudah runtuh, area longsor, banjir.
Jangan dimasuki penolong...!!!!! (sampai peralatan
pelindung sudah siap dan ada rekan lain yang siap backup)
• Area kerusuhan, pertikaian, kriminal, kontak senjata. Jangan
dimasuki penolong...!!!!! (sampai dinyatakan aman oleh
petugas keamanan)
• Area ledakan bom, ledakan zat kimia, zat biologi berbahaya,
radiasi nuklir. Jangan dimasuki penolong...!!!!! (sampai
dinyatakan aman oleh petugas berwenang dan sampai
peralatan pelindung sudah siap )
2. Jumlah Korban & Jumlah Penolong

• Jumlah korban dan kasus korban berkaitan dengan


jumlah penolong, ambulan yang diperlukan, dan tim
back up.
• Ingat !!!!!.... Korban cidera berat dan gawat memerlukan
1 ambulan dan beberapa penolong.
3. Peralatan Penting dan tambahan lain

Yang harus ada dan sering dibutuhkan pada trauma :


• Peralatan pelindung (safety)
• Long back board (Tandu keras.... Jangan tandu kain)
• Cervikal colar
• Oksigen dan peralatan airway (termasuk suction dan ambubag)
• Trauma box ( alat TTV, bebat-balutan, antiseptik, hemostatik agen, bidai, cairan)
4. Mekanisme Cidera
• Benturan dari depan (Tabrakan dari depan)
• Cervical-spine fracture
• Flail chest
• Myocardial contusion
• Pneumothorax
• Aortic disruption
• Spleen or liver laceration
• Posterior hip dislocation
• Benturan samping • Knee dislocation
• Contralateral neck sprain
• Cervical-spine fracture
• Lateral flail chest
• Pneumothorax
• Aortic disruption
• Diaphragmatic rupture
• Laceration of spleen, liver, kidney
• Pelvic fracture

• Benturan belakang • Cervical-spine injury


Mekanisme Cidera
• Jatuh : Ditentukan oleh : • Jarak ketinggian
• Area benturan

■ Fraktur kaki atau tangan


Jatuh sering menyebabkan cidera berikut : ■ Hip / pelvis (panggul)
■ Tulang belakang mulai lumbal
sd cervical
■ Vertical deceleration ke organ
■ Cidera kepala

• Cidera Penetrasi : Senjata tajam, peluru


Penetrasi senjata tajam paling banyak di
thorak dan abdomen.
Peran utama di lapangan adalah tidak
mencabut, tetapi menjaga stabilitas
benda yang menancap itu.
Cidera Penetrasi : Peluru
• Senjata api dengan kecepatan peluru < 2000 kaki ( < 610
meter/detik) kategori low velocity. Contoh pistol dan sebagian
besar senjata api polisi.
Peluru low velocity tidak banyak merusak jaringan, bersifat
melumpuhkan.
• Senjata api dengan kecepatan peluru > 2000 kaki ( > 610
meter/detik) kategori high velocity. Contoh senjata api militer.
Peluru high velocity merusak jaringan dan mematikan.
• Selain itu ditentukan kaliber (diameter peluru) serta sifat dari
pecahan peluru bermacam-macam

• Penetrasi peluru pada kepala, dada, dan abdomen harus


dirujuk ke RS segera

High Velocity
Cidera Bom
• Korban sesuai paparan ledakan, yaitu :
1. Primer : terkena dampak langsung
yaitu telinga, paru, mata dan saluran
cerna (karena tekanan ledakan)
2. Sekunder : terkena material pecahan
bom seperti logam. Pada bom teroris
sering ditambah paku, mur, baut, dll
3. Tersier : dampak benturan dengan
objek lain setelah korban terlempar
4. Quarter : luka bakar dan inhalasi pada
pernafasan
5. Quiner : kontaminasi kimia, biologi,
radiasi paska ledakan
II. Initial Asessment
• Keadaan umum : Jenis kelamin, tampilan umum, posisi korban
• Kesadaran : Menggunakan AVPU (Alert, Verbal, Pain, Un Respond)
• (A) Airway : Periksa jalan nafas dengan 3M (2L+F). Apakah ada bunyi abnormal
seperti snoring, gurgling, stridor?
Jika ada hambatan airway lakukan head tilt & chin lift, pada cidera
kepala dan leher menggunakan jaw trust. Lalu finger swab atau
suction.
• (B) Breathing : RR 

Kaji frekuensi nafas, kedalaman, dan usaha nafas tambahan


Pada dewasa RR < 8 x/mnit lakukan baging dengan ambubag sehingga nafas 10x/mnit
RR > 24 x/mnit tanda sesak nafas, beri oksigen sesuai kebutuhan.
(sebaiknya cek saturasi O2 dengan oksimetri atau kadar CO2 dengan
capnograf)
• (C) Circulation : Palpasi nadi radialis/ carotis, kaji frekuensi, ritme, kualitas.
Apakah ada perdarahan terbuka atau tertutup?
Kaji akral, CRT, warna kulit (akral dingin, >2 detik, pucat,
tidak teraba nadi radialis, HR meningkat dan TD mulai
turun. Jika terdapat tanda-tanda tersebut  merupakan
indikasi menuju shock hemoragik yang menjadi dasar
kecurigaan bila ada perdarahan tertutup) akibat trauma.
Jika ada perdarahan terbuka segera hentikan dengan bebat tekan, torniket,
obat hemostasis.
IV. Pilih  RTS (RAPID TRAUMA SURVEY)
atau FOCUS EXAM

• Jika trauma bersifat multipel diberbagai tempat, atau penolong


tidak tahu lokasi pasti gangguan, atau pada pemeriksaan Initial
assesment (ABC) tidak stabil  maka lakukan pemeriksaan RTS
(Rapid Trauma Survey).
• Jika diketahui trauma fokus di satu tempat, kondisi pasien ABC
stabil  maka lakukan pemeriksaan Focus Exam.
Va. RAPID TRAUMA SURVEY
Yaitu pemeriksaan Head to Toe (Kepala sampai Kaki)
Lakukan Inspeksi (DECAPBLS), Palpasi (TIK), pada Dada & Abdomen (Auskultasi, Perkusi)
• KEPALA & LEHER (Ada luka, kondisi tulang, distensi vena juguaris, deviasi
trakea?)
• DADA (Simetris, contusio, penetrasi, tendernes, instability,
crepitasi. Suara nafas abnormal. Bunyi jantung)
• ABDOMEN (Contusio, penetrasi /eviscerasi; tenderness, rigidity, distensi)
• PELVIS (Tenderness, instability, crepitasi)
• EKSTRIMITAS ATAS DAN BAWAH (Bengkak, deformitas. Motorik and sensorik)
• POSTERIOR (Ada luka, tendernes, deformitas)
• TANDA TANDA VITAL (TTV)
• PUPILS (Ukuran, reaksi, isokor)
• GLASGOW COMA SCALE (Eyes (E), Verbal (V), Motorik (M))
Vb. Focus Exam
yaitu fokus pada satu area cidera yang ditemukan atau cidera lokal.
Syarat ABC pasien stabil dan tidak ada gangguan di tempat lain.

• Jangan
lupa...pada saat fokus exam juga memeriksa
kemungkinan cidera tulang belakang.
Kondisi Kritis yang harus segera dibawa
ambulan ke RS setelah Primary Survey
• Penurunan kesadaran
• Abnormal breathing
• Abnormal circulation (shock atau perdarahan besar)
• Kondisi yang ditemukan berpotensi menuju shock
• Cidera penetrasi : benda menancap
• Dada abnormal (flail chest, open pneumotorak, tension pneumothorak, hemothorak)
• Tendernes & distensi abdomen karena perdarahan
• Pelvis tidak stabil  fraktur pelvis
• Fraktur femur bilateral

Intervensi ...... seperti balut bidai, pasang infus, atau intubasi ETT dilakukan
dilapangan jika pasien tidak kritis. Namun bila pasien kritis...prosedur tersebut
dilakukan dalam ambulan.
Secondary Survey
1. Ulangi initial assessment.
2. Gunakan monitor (cardiac, oximeteri, CO2 ). Sangat diperlukan saat transport untuk
mengetahui perkembangan pasien. Kuasai nilai normalnya !!
3. Pantau ulang vital sign. HR, RR, TD. Kuasai nilai normalnya !!
4. Pemeriksaan neurologis
a. Level of consciousness: If she has an altered mental status, record her level of coma (for
Glasgow Coma Scale score). If there is altered mental status, check finger-stick blood
glucose (if not already done) and check the oxygen saturation level.
If there is any chance of narcotic overdose, give 2 mg of Naloxone IV.
For elderly or other special-needs patients, try to determine from a caretaker if the
patient is at the usual baseline level of alertness and responsiveness.
b. Pupil: Note the size of the pupils and whether they are equal or unequal. Do they
respond to light?
• c. Motor: Can the patient move fingers and toes?
d. Sensasi: Apakah korban dapat merasakan sentuhan pada jari dan kaki?
5. Lakukan pemeriksaan lengkap (head-to-toe).
Pemeriksaan ulang meliputi Inspeksi (DECAPBLS), Palpasi (TIK), pada
Dada & Abdomen (Auskultasi, Perkusi) , serta PMS (Pulse, Motorik,
Sensorik) pada ekstrimitas bagian distal
• Transportasi dengan ambulan menuju RS segera dilakukan setelah
secondary survey